Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Maret 27, 2014

bakriE OUT of bumi PLC … 230713_27032014

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:45 am

Bakrie Pisah dari Asia Resources, Rothschild Bilang Pemegang Saham dan Ditjen Pajak Rugi, Puji Samin Tan

Maftuh Ihsan   –   Rabu, 26 Maret 2014, 08:26 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Ada-ada saja kelakuan Nathaniel Rothschild. Pengusaha Inggris ini berkicau keras di media sosial twitter terkait perpisahaan grup Bakrie dari Asia Resources Mineral Plc.

Perang kicauan di twitter tak bisa dihindari karena salah satu anggota keluarga Bakrie yaitu Aga Bakrie dengan akun @agabakrie7 membalas Nat Rothschild yang memakai akun @NatRothschild1, pada Selasa (25/3) malam.

Setelah memuji Nirwan Bakrie dan menyinggung lumpur Lapindo, Nat malah menyindir Dirjen Pajak dan kembali menjelekkan saham grup Bakrie. Di akhir kicauannya, dia memuji Samin Tan yang telah memuluskan perpisahan grup Bakrie dari Asia Resources Mineral Plc.

Berikut kicauan keduanya:

@NatRothschild1: @agabakrie7 please explain why 2mt of coal being illegally mined from Arutmin every single month. Losers are shareholders and Indo tax dept (Tolong jelaskan mengapa 2 juta ton batu bara ditambang secara ilegal dari Arutmin setiap bulannya. Para pecundang adalah pemegang saham dan Dirjen Pajak Indonesia).

@agabakrie7: @NatRothschild1 since they are all public company listed in Indonesian exchange, please buy 1 shares and address all question to management (Karena mereka semua perusahaan publik yang terdaftar di PT Bursa Efek Indonesia, silakan membeli selembar saham dan alamatkan semua pertanyaan tersebut kepada manajemen).

@NatRothschild1: @agabakrie7 pls explain where the infrastructure assets of bumi Tbk disappeared to, and who benefitted from their recapitalization??? (Coba jelaskan mengapa aset infrastruktur dari BUMI lenyap, dan siapa yang diuntungkan dari proses rekapitalisasi???)

@NatRothschild1: @agabakrie7 all WORTHLESS public companies. Worth ZERO, NADA,NOTHING (Semuanya adalah perusahaan terbuka yang tak BERHARGA. Bernilai NOL, TAK PENTING, TIDAK ADA).

@agabakrie7: @NatRothschild1 anyways i would like  to say congrats on the separation, all the best for you as we indonesian say selamat malam pak Nat (Anyway, saya ingin mengucapkan selamat atas perpisahan tersebut, yang terbaik untuk Anda, karena kami orang Indonesia mengucapkan selamat malam pak Nat).

@NatRothschild1: @agabakrie7 long live Samin Tan (Panjang umur Samin Tan)

Editor : Nurbaiti

26. March 2014, 10:04:15 SGT
Asia Resource Minerals Resmi Cerai dengan Bakrie
wsj
LONDON—Asia Resource Minerals pada Selasa menyelesaikan perjanjian pecah kongsi senilai $501 juta dengan Bakrie Group. Hal ini mengakhiri drama panjang masalah tata kelola perusahaan yang dialamatkan kepada perusahaan tambang batubara Indonesia tersebut.

Dalam kesepakatan yang awalnya disetujui Desember lalu, Asia Resource Minerals—sebelumnya dikenal sebagai Bumi PLC—akan melepas 29,2% saham di PT Bumi Resources kepada Bakrie Group, kendaraan investasi salah satu taipan Indonesia. Kesepakatan itu sejak Januari lalu telah mengalami beberapa penundaan guna memungkinkan keluarga Bakrie menggalang dana.

Sebagai bagian dari transaksi, Direktur Komisaris Asia Resource Minerals, Samin Tan, telah melipatgandakan 23,8% sahamnya di perusahaan dengan membeli kepemilikan Bakrie Group.

Asia Resource Minerals dibentuk pada 2011 dengan nama Bumi, setelah keluarga Bakrie menggabungkan aset batubara milik mereka ke perusahaan cangkang yang dibentuk oleh Nathaniel Rothschild.

Perusahaan itu menjadi objek perpecahan di antara direksi. Bumi juga dirundung anjloknya harga batubara dan penyelidikan atas penyimpangan laporan keuangan pada aset batubara di Indonesia. Harga saham perusahaan terjun bebas hingga 80% sejak konflik internal mencapai puncak pada 2011.

Direktur utama Asia Resource Minerals, Nick von Schirnding, mengatakan bahwa perusahaan akan berfokus untuk memulihkan kembali aset tersisa, yakni 85% saham di PT Berau Coal Energy, dengan mengambil tindakan efisiensi biaya.

Para pemegang saham minoritas menyambut baik rampungnya kesepakatan. Namun, dua pemegang saham meminta perusahaan untuk menimbang rencana keluar dari Indonesia. Caranya dengan membagikan saham yang terdaftar di bursa Jakarta kepada pemegang saham atau menjual seluruh saham demi mendapatkan dana. Pilihan terakhir sedang dipertimbangkan perusahaan.

Asia Resource Minerals menyatakan berencana mengembalikan $400 juta kepada para pemegang saham sebagai dividen khusus dalam waktu yang belum ditentukan. Hampir sebagian dari angka itu akan mengalir ke kantung Samin Tan, yang akan meninggalkan posisinya sebagai direktur.

—Dengan kontribusi dari Ian Walker di London.
Fund Lokal Incar BUMI dan ENRG
Kamis, 27 Maret 2014 | 1:11
investor daily
Fund lokal dikabarkan agresif membeli saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Kabarnya, pembelian tersebut terkait pemisahan Bumi dengan Asia Resource Minerals (ARMS) sehingga Bakrie dapat kembali leluasa untuk mengontrol saham mereka. Hal ini dianggap momen yang tepat untuk Bakrie Group membeli dan meyakinkan investor lokal. (ely)
Hari ini, Grup Bakrie akan menuntaskan transaksi pembelian kembali (buyback) 29,2% saham
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari Asia Resource Minerals Plc (dahulu Bumi Plc). Grup Bakrie
siap mentransfer dana ke Asia Resource sebesar US$ 451 juta dari total transaksi US$ 501 juta.

Dengan seluruh pembayaran tersebut, Grup Bakrie dan Asia Resource resmi berpisah. Grup
Bakrie bisa kembali menguasai Bumi secara langsung, sedangkan Asia Resource hanya akan
memiliki PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).(investor/hla)

BUMI minta kuorum diturunkan menjadi 40%
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Kamis, 13 Maret 2014 | 18:33 WIB

kontan

JAKARTA. Manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) telah mengajukan permohonan pengurangan jumlah minimum kuorum untuk setiap agenda rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) ke tiga.
Nurhaida, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK mengatakan, pihaknya sudah menerima proposal tersebut. “Kami sudah terima (permohonan BUMI),” ujarnya kepada KONTAN.
Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) nomor IX.J.1 tentang Anggaran Dasar (AD), disebutkan, jika pada RUPS pertama dan ke dua tidak mencapai kuorum kehadiran pemegang saham, maka emiten bisa mengajukan keringanan.
Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, pihaknya telah mengajukan agenda yang sama seperti RUPSLB sebelumnya. “Ada perubahan minimum kuorum yaitu 40% untuk setiap agenda,” tuturnya.
Sekadar mengingatkan, BUMI kembali mengajukan tiga agenda pada RUPSLB ke tiga yang rencananya akan digelar 3 April 2014 mendatang. Agenda pertama, tersebut adalah persetujuan pengalihan saham-saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) milik BUMI.
Agenda ini erat kaitannya dengan rencana pelunasan utang perusahaan kepada China Investment Corporation (CIC).
Agenda ke dua, menjaminkan dan mengalihkan sebagian besar harta kekayaan perseroan. Terakhir, terkait dengan perubahan struktur modal saham dan perubahan serta penegasan seluruh anggaran dasar BUMI. Masing-masing agenda memerlukan kehadiran 50%, 65%, dan 75% dari total pemegang saham untuk memperoleh kuorum.
Berdasarkan POJK, kuorum untuk agenda persetujuan atas transaksi material adalah 50% pemegang saham harus hadir. Adapun, persetujuan harus diberikan sedikitnya lebih dari 50% dari jumlah pemegang saham yang hadir.
Jika pada RUPSLB pertama tidak terpenuhi, maka pada RUPSLB ke dua, sedikitnya 33,3% dari total kepemilikan saham. Selanjutnya, bagi perusahaan yang ingin mengalihkan kekayaan atau menjadikan jaminan utang kekayaan dengan nilai lebih 50% dari total kekayaan bersih dalam satu transaksi atau lebih, maka RUPSLB harus dihadiri minimal 75% dari total pemegang saham.
Agar lolos, suara setuju harus diperoleh 75% dari total peserta RUPSLB yang hadir. Jika kuorum kehadiran tidak terpenuhi, maka di RUPSLB ke dua mendapat keringanan menjadi 66,67%. Sedangkan persetujuan harus diperoleh dari 75% peserta yang hadir.
Sementara kuorum kehadiran dan suara setuju yang harus dicapai untuk perubahan AD, maka RUPSLB harus dihadiri sedikitnya 2/3 atau 66,67% dari total kepemilikan saham. Jika pada RUPSLB pertama gagal, maka di RUPSLB ke dua perseroan harus mendatangkan sedikitnya 60% dari total pemegang saham.
Adapun, suara setuju harus diberikan oleh lebih dari 50% peserta yang hadir. Nah, jika pada RUPSLB ke dua semua agenda belum memperoleh kuorum kehadiran, maka kuorum di RUPSLB ke tiga akan ditentukan oleh OJK atas permintaan perusahaan.
Editor: Asnil Bambani Amri
Tenggat Waktu Pemisahan BUMI Molor Lagi Jadi 21 Februari
Vega Aulia Pradipta – Selasa, 21 Januari 2014, 19:06 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Pemisahan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dengan Bumi Plc terus molor dari seharusnya 15 Januari menjadi 17 Januari, kemudian mundur ke 20 Januari dan kini tertunda lagi hingga 1 bulan ke depan yakni 21 Februari 2014.

Meski terus molor, Direktur Bumi Resources R.A. Sri Dharmayanti mengatakan perpanjangan waktu ini tinggal masalah administrasi saja.

“Kami masih negosiasikan, administrasi saja itu,” katanya kepada Bisnis ketika ditemui di sela-sela Indonesia Investor Forum 3, Selasa (21/1/2014).

Sebelumnya, Asia Resource Minerals Plc (dahulu Bumi Plc) dalam keterangan resminya pada 20 Januari 2014 menyatakan pihaknya telah menyepakati jadwal baru terkait penyelesaian transaksi pemisahan Bumi Resources dengan Bumi Plc.

“Tenggat waktu penyelesaian transaksi akan diundur selama 4 minggu menjadi 21 Februari 2014,” tulis pengumuman itu.

Sebagai bukti dari komitmennya, Grup Bakrie telah setuju dana US$50 juta yang saat ini berada di escrow account akan ditransfer ke Bumi Plc pada 23 Januari 2014.

Uang itu hanya akan dibayar kembali jika Bumi Plc melakukan pelanggaran material terhadap kewajibannya yang diatur dalam amandemen Perjanjian Jual Beli saham Bumi Resources (Sale and Purchase Agreement/SPA).

Sementara itu, pembiayaan dari RACL untuk transaksi pemisahan ini berlaku hingga 21 Februari 2014.

Di dalam SPA yang diamandemen, ada poin yang menyatakan tenggat waktu penyelesaian transaksi pemisahan memungkinkan untuk diperpanjang satu bulan, jika terjadi pengecualian.

Sayangnya, tidak jelas pengecualian apa yang dimaksud, sehingga tenggat waktu penyelesaian transaksi bisa diundur.
Lagi, Grup Bakrie Gagal Penuhi Janji
Selasa, 21 Januari 2014 | 10:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Setelah dua kali mundur dari jadwal semula, transaksi perceraian antara Grup Bakrie dan Asia Resources Minerals Plc (ARMS) kembali molor. Transaksi ini diperkirakan baru akan kelar bulan depan.

Dalam pernyataan resminya, manajemen ARMS mengumumkan, pihaknya telah menyepakati ketentuan baru terkait penyelesaian transaksi perpisahannya dengan Bakrie. “Batas waktu akan diperpanjang empat minggu, yaitu hingga 21 Februari 2014,” demikian bunyi pernyataan resmi Asia Resources, Senin (20/1/2014) waktu setempat.

Menyusul molornya transaksi, Bakrie sepakat untuk mentransfer dana yang ada di rekening escrow (escrow account) ke rekening ARMS. Hal ini akan dilakukan pada 23 Januari 2014.

Dalam ketentuan anyar ini, kedua belah pihak sepakat bahwa, dana akan dikembalikan jika Asia Resources melanggar perjanjian jual beli saham (share sale and purchase agreement) yang dinilai material.

Sekadar mengingatkan, pada perjanjian sebelumnya, ARMS baru bisa menarik dana escrow ketika transaksi selesai. Jumlahnya sebesar 50 juta dollar AS. Dana ini merupakan dana awal yang harus disetor Bakrie sebagai jaminan.

Jika transaksi batal, maka dana akan dikembalikan. Adapun, bank yang ditunjuk untuk menyimpan dana tersebut adalah Deutsche Bank AG, cabang Singapura.

Selain itu, disepakati pula, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tidak menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) sebelum transaksi pemisahan selesai. Termasuk, seperti RUPS yang digelar BUMI pada 20 Desember 2013 dan 10 Januari 2014.

Penundaan penyelesaian transaksi ini turut mempengaruhi perjanjian antara Samin Tan melalui Ravenwood Acquisition Company Limited (RACL) dan Raiffeisen Bank International AG (RBI).

“RACL dan RBI tengah dalam pembicaraan untuk memperpanjang ketersediaan pinjaman,” jelas manajemen ARMS.

Informasi saja, seharusnya transaksi perceraian ini sudah dilakukan pada 15 Januari 2014. Namun, tanpa menyebut alasannya, Grup Bakrie, kata manajemen ARMS tidak bisa menyelesaikan transaksi tepat waktu.

Akhirnya, transaksi ditunda hingga 17 Januari 2013. Namun, pada saat itu, transaksi belum juga bisa selesai dan kembali mundur hingga 20 Januari 2014. Ternyata, setelah diundur lagi, untuk yang ke tiga kalinya, Grup Bakrie masih juga belum mampu memenuhi janjinya. (Amailia Putri Hasniawati)
December 17, 2013 6:25 pm
Bumi to be erased from LSE as investors back split with Bakries
By James Wilson, Mining Correspondent
Bumi, the name that became synonymous with one of the UK’s most notorious boardroom tussles of recent years, is to be erased from the London Stock Exchange after the coal miner’s investors including Nat Rothschild approved a restructuring deal.
The approval raises the prospect of the newly named Asia Resource Minerals returning at least $400m to shareholders and choosing an independent chairman for a boardroom revamp. Bumi “looks forward to the opportunity to make a fresh start under a new name”, the group said on Tuesday.

Indonesia’s Bakrie family is splitting from the UK-listed miner, three years after bringing its coal mining assets into a cash shell set up by Mr Rothschild as part of a $3bn deal.
Relations between the Bakries and Mr Rothschild turned to acrimony amid a slumping share price and allegations of financial irregularities in Indonesia. Mr Rothschild failed in an attempt this year to unseat Bumi’s board while the miner’s shares were later suspended when it had to delay publishing its results.
The problems at Bumi contributed to concerns in London at the corporate governance standards of some companies that sought UK listings – particularly from the resources sector. The UK’s Financial Conduct Authority is investigating whether Bumi has breached listing and disclosure rules, the company has revealed. Bumi is also trying to recover $173m from a former executive.
Mr Rothschild decided last week to support a plan that will see Samin Tan, Bumi’s chairman, buy the Bakries’ stake in Bumi for $223m. At the same time the Bakries have agreed to pay $501m to buy Bumi’s stake in Bumi Resources, their coal mining company.
In return for supporting the deal Mr Rothschild is set to be able to nominate an independent director for Bumi’s board.
The transaction, approved by shareholders on Tuesday, will leave Mr Tan as Bumi’s largest shareholder with more than 47 per cent. It reduces the average cost of his investment in Bumi, since his first investment early in 2012 was made at a much higher price.

Mr Tan will step down as chairman and said he intended to be “a long-term holder” in the company.
The transaction now needs the Bakries to fund the deal next month. “We welcome this show of support from shareholders and look forward to completing the transaction as per the agreed terms,” said a spokesman for the Bakries.
Nick von Schirnding, chief executive, said: “Assuming a successful outcome, our priorities will then be to return at least $400m to shareholders, refresh the board, which will include the appointment of a new, independent chairman, and continue with our plans for profitable growth through cutting costs and optimising production.”
The renamed Bumi will still be substantially exposed to Indonesia. Its main asset is Berau, another Indonesian coal producer. Bumi said it would start trading as Asia Resource Minerals shortly.

Grup Bakrie Buyback Saham BUMI Rp1.002/Lembar

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Rabu, 18 Desember 2013 | 10:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Bila PT Bumi Resources Tbk (BUMI) keluar dari Bumi Plc maka akan melakukan buyback saham dengan cukup mahal sebesar Rp1.002 per lembar.

Menurut Samuel Sekuritas, berdasarkan perjanjian sebelumnya harga buyback saham BUMI dari ARMS disepakati pada Rp680/saham. Namun seiring dengan perubahan kondisi dan perubahan nilai tukar. “Kini kami melihat bahwa harga buyback 29,2% saham menjadi Rp1,002/saham dengan menggunakan kurs Rp12,125/US$ atau 178% premium dari harga penutupan kemarin,” demikian mengutip hasil riset Samuel Sekuritas, Rabu (18/12/2013). BUMI: HOLD; PBV’14E: 24.4x; EV/EBITDA’14E: 10.3x)

BUMI sudah mendapat persetujuan untuk berpisah dari Bumi Plc. Dalam RUPSLB pada tanggal 17 Desember 2013 menyetujui rencana perpisahan PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Bumi Plc juga akan mengganti nama menjadi Asia Resources Minerals Plc (ARMS).

Untuk itu, Grup Bakrie harus membayar US$501 juta untuk membeli (29,2%) seluruh saham Bumi Resources dari ARMS dan menjual 23,8% saham ARMS kepada Samin Tan senilai US$223 juta. Saham BUMI disarankan hold dengan catatan PBV’14E: 24.4x; EV/EBITDA’14E: 10.3x).
Resmi cerai, ini poin kesepakatan Bakrie-Bumi Plc
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Rabu, 18 Desember 2013 | 07:25 WIB

kontan
badai petir Jakarta 18/12/13

JAKARTA. Sesuai perkiraan, para pemegang saham Bumi Plc merestui semua agenda yang diajukan pada rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), Selasa (17/12) waktu London.

Terlebih, rival Bakrie, Nathaniel Rothschild melunak. Nick Von Shirniding, Chief Executive Bumi Plc mengaku ini adalah akhir dari proses panjang dan berliku. Setelah segala putusan RUPSLB terlaksana, pihaknya akan berkonsentrasi untuk mengembangkan bisnis batubara PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

“Penyelesaian perpisahan (dengan Grup Bakrie) akan dilakukan akhir Januari (2014),” ujarnya pada pernyataan resmi.

Setelah proses perceraian kelar, maka salah satu prioritas Bumi Plc adalah memberikan dividen kepada para pemegang saham. Nilainya mencapai US$ 400 juta.

Dividen tersebut adalah buntut dari penjualan saham BUMI milik Bumi Plc kepada Bakrie. Priorotas lainnya adalah menyusun jajaran direksi baru. Termasuk penunjukkan Chairman baru. Yang tak kalah penting, Bumi Plc akan berganti nama menjadi Asia Resources Minerals Plc.

Beberapa hal penting yang menjadi agenda RUPSLB Bumi Plc antara lain isi dokumen perpisahan Bumi Plc dengan Grup Bakrie dan kesepakatan Bumi dengan Samin Tan.

Grup Bakrie akan membeli saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang ada di Bumi Plc. Total nilainya mencapai

US$ 501 juta dan harus dibayar tunai.

Nah, sebesar US$ 223 juta dana pembayaran berasal dari penjualan saham Bumi ke Samin Tan. Sisanya, yakni US$ 278 juta dari kantong Bakrie sendiri.

Seperti diketahui, Samin Tan akan mengambilalih 23,8% saham Bumi Plc milik Bakrie lewat Ravenwood Acquisiton Company Limited (RACL). Setelah aksi ini, Samin Tan akan menguasai 47,6% saham Bumi Plc.

Menyusul adanya kepemilikan saham dengan hak suara dua pihak terafiliasi lebih dari 30%, maka Bumi membentuk perjanjian hubungan kerja (relationship agreement). Perjanjian ini dibuat antara Bumi dan RACL.

Poin-poin dalam relationship agreement berisi mengenai tanggungjawab pemegang saham utama (principal shareholders), yang antara lain meliputi;

1. Principal shareholder akan mendaulat para perwakilannya untuk menggunakan seluruh hak suaranya. Hal ini untuk memastikan bahwa sedikitnya separuh jajaran direksi diisi oleh jabatan Direktur Independen non-ekesekutif, termasuk posisi puncak perusahaan (chairman).

Misalnya, dalam jajaran direksi terdiri dari sembilan direktur. Maka, sedikitnya lima direktur merupakan direktur independen non-eksekutif. Atau, jika jabatan Chairman sudah diisi oleh seorang direktur independen non-eksekutif, maka empat direktur harus diisi posisi yang sama. Jika jajaran direksi ada 10 orang, maka direktur independen non-eksekutif harus memenuhi enam kursi direktur.

2. Pemegang saham prinsipal tidak akan membiarkan perwakilannya (yang duduk di jajaran manajemen) mempengaruhi para direksi lain untuk mengambil kebijakan yang tidak independen, terutama terkait bisnis para pemegang saham prinsipal.

3. Pemegang saham prinsipal menjamin para perwakilannya akan menggunakan hak sebagai pemegang saham untuk memastikan, perusahaan dikelola sesuai dengan tata kelola perusahaan yang berlaku di Inggris

4. Pemegang saham prinsipal bisa mengalihkan 23,5% atau lebih hak suaranya kepada RACL, Borneo Bumi Energi dan perwakilannya secara bersama-sama untuk mengambil keputusan dalam RUPS. Bisa juga dalam hal menunjuk dua direktur non-eksekutif, asal tidak menyalahi regulasi yang berlaku di negeri Ratu Elizabeth itu.

Terkait dengan relationship agreement itu, RACL sepakat untuk tidak mengalihkan hak atas sahamnya di Bumi, sekalipun kepada pihak terafiliasi.

Perjanjian ini akan berakhir jika Bumi tidak lagi menjadi emiten premium (premium listing) yang sahamnya tercatat di papan utama London Stock Exchange (LSE).

Relationship agreement ini dinilai akan lebih memberikan perlindungan lebih terhadap kepentingan pemegang saham independen. Pasalnya, tidak seperti Bakrie, Samin hanya bisa berwenang memilih direktur non-eksekutif.

Sedangkan Bakrie (ketika menguasai saham Bumi Plc) berhak menunjuk orang yang akan duduk di kursi Chairman, Chief Executive Officer (CEO) atau Chief Financial Officer (CFO). Ketiganya merupakan posisi strategis dalam perusahaan, terutama dalam hal pengambilan keputusan manajerial.
Editor: Barratut Taqiyyah
Grup Bakrie Keluar, Rothschild Kembali Masuk ke Bumi Plc
Oleh Agustina Melani
Posted: 16/12/2013 10:07

Liputan6.com, London : Manajemen Bumi Plc melakukan perjanjian dengan Nathaniel Rothschild untuk mencalonkan diri sebagai Direktur Independen Bumi Plc. Seiring rencana grup Bakrie yang akan keluar dari Bumi Plc, Rothschild telah menunjukkan keinginan untuk kembali masuk ke Bumi Plc.

Samin Tan Beri Bukti Pembiayaan, Bumi Plc Gelar RUPS 16 Desember
Ia pun mendukung langkah grup Bakrie untuk berpisah dari Bumi Plc. Dalam situs Bumi Plc, seperti ditulis Senin (16/12/2013), Rothschild mengatakan, prioritas pertamanya untuk melindungi kepentingan pemegang saham independen Bumi Plc. Pihaknya pun telah berdiskusi dengan Samin Tan dan Nick von Schirnding untuk bersatu sehingga memberikan nilai untuk semua pihak.

“Dengan pemikiran, cara terbaik yang saya dapat saat ini mempengaruhi Perseroan adalah untuk mencalonkan direktur dalam dewan independen agar dapat mewujudkan nilai. Saya telah melakukan diskusi dengan Samin Tan dan Nick Von Schirnding,” kata Rothschild.

Pencalonan direktur independen Rothschild ini menunggu evaluasi dari Komite Nominasi Perusahaan yang sesuai dengan kode tata kelola perusahaan Inggris.

Rencana ini juga memerlukan persetujuan pemegang saham pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang diselenggarakan pada 17 Desember 2013. Dalam RUPS juga akan meminta persetujuan pemisahan grup Bakrie dari Bumi Plc.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Bumi Plc, Nick von Schrinding mengatakan, dirinya sangat senang Nat Rothschild, pemegang saham pendiri telah memilih untuk mendukung pemisahan grup Bakrie.

“Kami berharap dapat bekerja sama dengan nominasi direktur independen. Perjanjian ini akan membantu kami memberikan nilai transaksi untuk kepentingan terbaik dari semua pemegang saham. Kami semua menerima direksi independen sebagai cara terbaik untuk memberikan nilai bagi pemegang saham,” kata Nick.

Adapun Rothschild memiliki 15% saham di Bumi Plc. Sementara itu, Samin Tan pemilik PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk memiliki 23,8%. Grup Bakrie memiliki 23,8% saham Bumi Plc.

Sebelumnya Samin Tan telah memperoleh pinjaman sebesar US$ 223 juta dari bank Austria Raiffesen Bank International AG. Pinjaman ini akan digunakan untuk membeli 23,8% saham Bumi Plc dari grup Bakrie.

Total transaksi grup Bakrie untuk mengambilalih saham PT Bumi Resources Tbk dari Bumi Plc senilai US$ 501 juta. Dana itu harus dibayar tunai. Grup Bakrie merogoh dana sebesar US$ 278 juta dan Samin Tan mengeluarkan kocek sekitar US$ 223 juta untuk mengambilalih saham tersebut. (Ahm)
26. November 2013, 9:44:21 SGT
Samin Tan Amankan Pinjaman untuk Bumi
OlehBen Otto
wsj
JAKARTA—Presiden Komisaris Bumi PLC Samin Tan pada Senin menyepakati pembiayaan dengan Raiffeisen Bank International. Pembiayaan berupa pinjaman $223 juta itu akan mengakhiri ketegangan panjang antara Bumi dan salah satu pemegang saham utamanya, Bakrie Group.

Samin pada Senin mengaku sudah mengantungi jutaan dolar pinjaman dari bank Austria itu, guna memborong saham Bakrie di Bumi—perusahaan yang terdaftar dalam bursa London.

Pinjaman tersebut, yang sempat ditangguhkan hingga revisi final pada akhir pekan lalu, kini “sudah disetujui komite kredit bank,” demikian keterangannya lewat surat elektronik.

Persetujuan pinjaman itu akan memudahkan pemegang saham Bumi menyepakati proses pemisahan korporasi antara Bumi dan Bakrie yang sudah berbulan-bulan lamanya.

“Saya yakin setiap orang ingin transaksi ini disetujui sebelum musim liburan akhir tahun. Saya sudah melaksanakan tanggung jawab saya,” kata Samin.

Berdasarkan permohonan pemisahan yang diajukan ke pemegang saham Bumi bulan ini, Bakrie Group akan menjual 24% saham perusahaan pertambangan itu ke Samin. Sesudah penjualan senilai $223 juta itu, Bakrie akan membeli kembali (buy back) 29% saham Bumi di Bumi Resources. Buy back saham Bumi Resources, pertambangan batu bara terbesar Indonesia, akan senilai $501 juta.

Dengan persetujuaan dari pemegang saham Bumi, Tan dapat menggandakan sahamnya di Bumi tanpa wajib mengajukan permohonan pengambilalihan, sesuai peraturan Inggris. Selain itu, pemegang saham juga akan memungut suara terkait permohonan pengubahan nama Bumi menjadi Asia Resource Minerals PLC.

Transaksi kompleks ini diharapkan berlangsung serempak. Namun, kesepakatan bisa saja gagal, jika Bakrie Group tak berhasil menyediakan dana tunai sebanyak $278 juta—utang ke Bumi sesudah menjual saham ke Tan.

Bakrie Group mesti membuktikan adanya dana itu pada masa berakhirnya kesepakatan, yang dijadwalkan dua pekan sesudah pemungutan suara pemegang saham. Bakrie Group sudah membayar jaminan $50 juta yang disimpan di pihak ketiga atau escrow.

Sebelumnya bulan ini, Bakrie Group menyatakan tidak akan membiarkan jaminan $50 juta itu menguap begitu saja. Mereka memperkirakan penundaan pemungutan suara tak bakal memengaruhi pemisahan dengan Bumi PLC.
Samin Tan ambil alih 23,8% saham Bakrie di Bumi
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Rabu, 20 November 2013 | 17:30 WIB

kontan

Direktur Bumi Plc, Samin Tan mengatakan telah memenangkan persetujuan untuk membeli saham perusahaan tambang milik Group Bakrie.
“Pendanaan untuk mengakuisisi saham Bakrie diperoleh dari pinjaman bank,” jelas Samin Tan, tanpa menyebut nama bank yang dimaksud.
Menurutnya, perjanjian pinjaman tersebut sudah disusun sesuai dengan sejumlah persyaratan komersial dan ditargetkan selesai Rabu 20 November 2013.
Tan setuju membeli saham Bakrie senilai 23,8% di Bumi dengan harga US$ 223 juta.
Saham Bumi diperdagangkan di tengah perseteruan antara Bakrie dan Nathaniel Rotschild, keturunan dari pemilik dinasti perbankan di Inggris.
MONDAY, 22 JULY, 2013 | 08:32 WIB
Rothschild Unhappy with Bumi Plc Deal

TEMPO.CO, Jakarta – Co-founder of London-listed coal company Bumi Plc., Nathaniel Rothschild, still objects to Bumi’s decision to sell 29.2 percent of its stake in Bumi Resources Tbk (BUMI). to the Bakrie Group for US$501 million in cash. Rothschild hopes that regulators would step in and “ensure the interests of independent shareholders are protected,” he said in a written statement received by Tempo on Saturday.

According to Rothschild, who owns a 14.8 percent stake in Bumi, the deal will allow Bakrie to maintain its domination over Bumi Plc. “No independent chairman in their right mind will want to be involved with a company, if this deal is allowed to stand, will continue to be controlled by the Bakrie Concert Party via Samin Tan.”

Bumi Plc said on Thursday that it had entered into a sale-and-purchase agreement to sell the company’s Bumi Resources stake to Long Haul Holdings, a Bakrie subsidiary, for $501 million. The current value of the stake, which Bumi Plc regards as an investment, is $314 million.

After the separation, the company is planning to return some of the cash to shareholders. The company will also overhaul its board of directors, including independent chairman Samin Tan.

With the agreement, Borneo Lumbung Energi Metal (IDX: BORN), a company controlled by Tan, will get the green light to purchase 23.8 percent of Bakrie’s shares in Bumi Plc. The acquisition was made by Ravenwood Plt. Ltd., an affiliate of BORN.

“The acquisition price was $223 million,” Borneo Lumbung Energi Metal President Director, Alexander Ramlie, said some time ago. Alexander said that the acquisition will be made once it is approved by the majority of BORN’s independent shareholders.

RIRIN AGUSTIA
Grup Bakrie Bayar Mahal Saham BUMI
Jumat, 19 Juli 2013 | 08:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Grup Bakrie harus merogoh kocek besar untuk memboyong kembali PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Tak kurang, 501 juta dollar AS untuk kebutuhan tersebut.
Bumi Plc, Kamis (18/7/2013), menyebutkan, Grup Bakrie melalui Long Haul Holdings Ltd telah meneken perjanjian jual beli bersyarat alias conditional sales and purchase agreement (CSPA) saham BUMI dengan anak Bumi Plc, Vallar Investment UK Limited. Isi CSPA itu adalah Vallar sepakat menjual 29,2 persen saham BUMI ke Long Haul dengan nilai 501 juta dollar AS.
Meski sudah meneken CSPA, transaksi penjualan saham BUMI milik Bumi Plc itu belum akan kelar dalam waktu dekat. Penyelesaian transaksi tersebut kemungkinan baru bisa dilakukan kuartal III atau kuartal IV 2013. Sebab, “RUPSLB Bumi Plc baru akan digelar akhir Agustus atau awal September mendatang,” kata Samin Tan, pemilik BORN kepada KONTAN, kemarin.
Hitung punya hitung, harga pembelian itu premium. Menurut Bumi Plc, nilai buku 29,2 persen saham BUMI per 31 Desember 2012 hanya 372 juta dollar AS. Bahkan saat ini nilai pasar 29,2 persen saham BUMI cuma US$ 314 juta.
Lihat saja. Dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia, kemarin, sebesar Rp 10.059 per dollar AS, Grup Bakrie sama saja membayar saham BUMI di harga Rp 831,38 per saham. Harga ini 56,86 persen di atas harga saham BUMI, kemarin, yang sebesar Rp 530 per saham.
Toh, Grup Bakrie menganggap kesepakatan ini fair. “Ini menjadi insentif pada pemegang saham Bumi Plc untuk menyetujui CSPA antara Bakrie dan Bumi Plc,” kata Chris Fong, Juru Bicara Grup Bakrie kepada KONTAN, kemarin.
Lantas dari mana dana untuk aksi pembelian ini? Chris Fong mengklaim ada dua sumber dana penyokong Bakrie untuk memboyong 19,2 persen saham BUMI. Bakrie bakal menutupi dari penjualan 23,8 persen saham Bumi Plc ke Ravenwood Pte Ltd, kendaraan PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN), senilai 223 juta dollar AS. “Sisanya sebesar 278 juta dollar AS dari kas internal,” terang Fong.
Pemegang saham Bumi Plc, Nathaniel Rothschild meradang atas kesepakatan Bumi Plc dengan Grup Bakrie tersebut. Ia menilai, skema itu tetap saja menempatkan Bumi Plc di bawah kendali kolega Grup Bakrie yakni Samin Tan. Dus, ia meminta regulator mengusut masalah ini dan menjamin kepentingan investor minoritas Bumi Plc. (Veri Nurhansyah Tragistina, Yuwono Triatmodjo)
Sumber : KONTAN
Editor : Erlangga Djumena
JUM’AT, 12 JULI 2013 | 19:53 WIB
Samin Tan Resmi Pisah dengan Bakrie

TEMPO.CO, Jakarta – Pengusaha nasional Samin Tan resmi berpisah dengan Grup Bakrie dalam kepemilikan saham bersama di Bumi Plc, perusahaan tambang yang tercatat di Bursa London, Inggris. Samin, melalui perusahaannya PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN), dan Grup Bakrie melalui PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), serta Long Haul Holding Ltd masing-masing memiliki 23,8 persen saham di Bumi Plc, atau total 47,6 persen.

Pada 11 Juli 2013, Borneo Lumbung telah mencapai kesepakatan dengan Bakrie & Brothers dan Long Haul untuk merestrukturisasi kepemilikan saham di Bumi Plc tersebut. Setelah dilakukan pemisahan, kemudian Borneo Lumbung melalui Ravenwood Pte. Ltd akan mengakuisisi 23,8 persen saham Grup Bakrie di Bumi Plc senilai US$ 223 juta (Rp 2,2 triliun).

“Akuisisi ini akan dilakukan jika telah mendapatkan persetujuan oleh mayoritas pemegang saham independen Borneo Lumbung,” ujar Presiden Direktur Borneo Lumbung, Alexander Ramlie, dalam keterangan tertulisnya kepada PT Bursa Efek Indonesia, 11 Juli 2013. Jumlah dana yang dikeluarkan setara dengan 2,60 pound sterling untuk setiap saham Bumi PLC.

Pada 2011, Borneo Lumbung telah membeli dua perusahaan Bakrie, yakni Bumi Borneo Resources Pte Ltd dan Borneo Bumi Energi & Metal Pte Ltd. Keduanya secara tidak langsung memiliki 23,8 persen saham di Bumi Plc. Setelah transaksi akuisisi selesai dilakukan, Borneo akan menjadi pemegang saham terbesar dan pengendali di Bumi Plc, yakni 47,6 persen.

Restrukturisasi kepemilikan saham ini dilakukan Borneo Lumbung dengan mentransfer kepemilikan sahamnya di Bumi Borneo kepada Grup Bakrie. Kemudian Grup Bakrie mentransfer kepemilikannya di Borneo Bumi kepada Borneo Lumbung. Bumi Borneo mentransfer sekitar 3 juta hak suara yang ditangguhkan di Bumi Plc ke Borneo Bumi.

“Namun, restrukturisasi ini baru bisa berlanjut apabila pemegang saham independen Bumi Plc menyetujui penjualan saham PT Bumi Resources Tbk kepada Grup Bakrie sebesar 29,2 persen,” ujar Alexander.

Setelah semua proses itu, Borneo Lumbung dapat menguasai 85 persen saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), yang juga merupakan anak usaha Bumi Plc. Jika transaksi ini berhasil dilakukan, hal itu akan menjawab teka-teki siapa yang akan memiliki saham Grup Bakrie di Bumi Plc setelah rencana tukar guling saham Bumi Resources terlaksana.

Pada 7 Juli lalu, Reuters melaporkan bahwa bekas Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra dikabarkan tertarik membeli 23,8 persen saham Grup Bakrie di Bumi Plc. Harian Inggris, The Sunday Times, melaporkan Thaksin telah menyiapkan sejumlah dana untuk membeli saham tersebut. Namun belum jelas berapa nilai akuisisi yang disepakati oleh Thaksin.

Manajemen Bumi Plc di London, pada 10 Juli, mengatakan proses negosiasi pemisahan Grup Bakrie dari Bumi Plc sedang dalam tahap finalisasi. Bumi Plc akan mendapat uang tunai US$ 500 juta atas transaksi tersebut. “Grup Bakrie akan membeli 29,2 pelan saham kami di Bumi Resources dengan nilai lebih dari US$ 500 juta yang akan dibayar secara tunai,” ujar manajemen Bumi Plc dalam keterangan tertulisnya.

Manajemen Bumi Plc sudah mengetahui diskusi yang berlangsung antara Grup Bakrie dan Grup Borneo. Namun manajemen Bumi Plc tidak ikut campur dalam pembicaraan tersebut. Terkait dengan potensi terjadinya konflik kepentingan, para direktur Bumi Plc yang terafiliasi dengan Borneo Lumbung sudah menyatakan mereka secara sukarela akan mengundurkan diri.

RIRIN AGUSTIA | AMRI MAHBUB
Ingin ‘Cerai’ dengan Grup Bakrie, Borneo Bayar Rp 2,1 Triliun
Angga Aliya – detikfinance
Jumat, 12/07/2013 11:15 WIB

Jakarta – PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN) akan memisahkan diri dari Grup Bakrie dengan membeli sisa kepemilikan saham di perusahaan patungan mereka, Bumi PLC. Grup Bakrie akan keluar selamanya dari Bumi PLC.

Seperti dikutip dari keterbukaan informasi Borneo, Jumat (12/7/2013), perusahaan afiliasi Borneo, Ravenwood Pte. Ltd. akan mengakuisisi sisa kepemilikan 23,8% saham Bakrie di Bumi PLC. Nilai transaksi pembelian saham ini mencapai 223 juta (Rp 2,1 triliun).

Jumlah US$ 223 juta tersebut setara dengan £2,60 untuk setiap lembar saham Bumi PLC. Rencana akuisisi ini akan terlaksana setelah disetujui oleh mayoritas pemegang saham independen BORN.

Seperti diketahui, Bumi PLC awalnya merupakan perusahaan patungan antara Grup Bakrie dengan taipan asal Inggris, Nathaniel Rothschild. Namun seiring berjalan waktu, hubungan keduanya semakin merenggang.

Muncul kabar bahwa Rothschild ingin menguasai aset-aset Bumi PLC yang kebanyakan berada di Indonesia, seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Tbk (BRAU).

Rothschild pun menuduh Grup Bakrie gagal bayar utang. Berita itu membuat harga saham Bumi PLC di Bursa London anjlok sehingga para pemegang saham harus menyetor modal tambahan supaya tidak default.

Rothschild berharap Grup Bakrie tidak punya dana untuk tambahan modal, dan pada saat itu lah investor kawakan dari Inggris itu akan menguasai seluruh saham Bumi PLC. Namun, Grup Bakrie ternyata mengajak Grup Borneo untuk menambah kepemilikan saham.

Pemilik Grup Borneo, Samin Tan, masuk sebagai investor di Bumi PLC pada Januari 2012 lalu. Ia mengucurkan dana sekitar US$ 1 miliar untuk mendapatkan setengah dari 29,9% saham Bumi PLC milik Grup Bakrie.

Setelah itu hubungan antara Bakrie-Rothschild terus memburuk sampai akhirnya mereka bercerai. Drama antara Bakrie-Rothschild selengkapnya di sini dan di sini.

(ang/dnl)
BORN Beli Saham Bumi Plc Milik Bakrie US$223Jt

Oleh:
pasarmodal – Kamis, 11 Juli 2013 | 15:30 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN) telah menandatangani perjanjian dengan Long Haul Holdings dan PT Bakrie&Brothers Tbk (BNBR) melakukan restrukrisasi untuk memisahkan kepemilikan bersama mereka sekitar 47,6% dari Bumi Plc.

Untuk menguasai 47,6% saham Bumi Plc, maka PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk melakukan restrukrisasi dan akuisisi. Melalui perusahaan afiliasi PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk yaitu Ravenwood Pte Ltd menandatangani perjanjian untuk membeli saham grup Bakrie di Bumi Plc sekitar US$223 juta.

Manajemen PT Borneo Lumbung Energi Tbk akan meningkatkan saham di Bumi Plc menjadi 47,6% melalui akuisisi saham Ravenwood. Demikian seperti disampaikan manajemen PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk, dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (11/7/2013).

Transaksi ini dinilai sebagai kesempatan untuk mengurangi rata-rata biaya dalam mengakuisisi Bumi Plc dengan investasi menjadi 6,75 poundsterling per saham. Transaksi ini juga dapat mengkonsolidasikan PT Borneo Bumi Energi Tbk dengan Bumi Plc. Dengan langkah tersebut maka perseroan dapat memiliki sekitar 85% di PT Berau Coal Energy Tbk. Selain itu, manajemen PT Borneo Lumbung Energi Tbk akan melanjutkan untuk mengurangi utang dengan berbagai macam inisiatif.

Pada 24 Juni 2013 lalu, perseroan telah membayar voluntary prepayment sekitar US$50 juta yang berhubungan dengan fasilitas pinjaman perseroan sektiar US$1 miliar. Langkah lain mengurangi utang yang dilakukan perseroan juga dari distribusi dividen oleh Bumi Plc. Perseroan juga masih melanjutkan diskusi untuk menjual saham PT Asmin Koalindo Tuhup sekitar 20% kepada investor. Penjualan sekitar 20% saham PT Asmin Koalindo Tuhup ini diharapkan dapat mengurangi utang perseroan.

Sesuai kondisi pasar, perseroan juga akan mempertimbangkan menerbitkan obligasi untuk merefinancing utang yang ada. Hal itu dilakukan apabila restrukrisasi dan akuisisi telah lengkap.

Saat ini, manajemen PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk dan grup Bakrie masing-masing secara tidak langsung memiliki saham 23,8% dalam Bumi Plc. BORN dan grup Bakrie bergabung memiliki saham Bumi Plc lewat dua special purpose vehicle (SPV). Kedua SPV itu Borneo Bumi Energi Pte Ltd dan Bumi Borneo Resources Pte Ltd. Demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (11/7/2013).

Borneo Bumi Energi Pte Ltd saat ini memegang 54.154.285 saham voting di Bumi Plc dan Bumi Borneo Resources Pte Ltd saat ini memegang 60.442.782 saham voting ditangguhkan di Bumi Plc. Adapun restukrisasi tersebut akan memerlukan antara lain PT Borneo Lumbung Energi Tbk mentransfer kepemilikannya di Bumi Borneo Resources Pte Ltd dengan grup Bakrie.

Grup Bakrie akan mentransfer kepemilikannya di Borneo Bumi Energi and Metal Pte Ltd untuk BORN, dan Bumi Borneo Resources akan mentransfer sekitar 3 juta hak suara yang ditangguhkan di Bumi Plc ke Borneo Bumi Energi and Metal Pte Ltd. Restrukrisasi ini juga akan terjadi dengan syarat pemegang saham independen Bumi Plc menyetujui penjualan saham Bumi di Bumi Plc kepada grup Bakrie. Saat ini Bumi Plc memiliki sekitar 29,2% saham PT Bumi Resources Tbk dan sekitar 85% saham PT Berau Coal Energy Tbk. [mel]
Samin dan Bakrie akhirnya berpisah
Oleh Yuwono Triatmodjo, Agustinus Beo Da Costa, Veri Nurhansyah Tragistina – Kamis, 11 Juli 2013 | 08:00 WIB

kontan

JAKARTA. Skema perpisahan Grup Bakrie dengan Samin Tan di Bumi Plc akhirnya kian benderang. Samin Tan mengatakan akan membeli 23,8% saham Bumi Plc milik Grup Bakrie. Perpisahan ini adalah prasyarat agar proposal Grup Bakrie untuk berpisah dengan Bumi Plc bisa dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bumi Plc.
Selama ini, Grup Bakrie (PT Bakrie & Brothers Tbk dan Long Haul Holding) tergabung bersama PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) memiliki 47,6% saham Bumi Plc lewat dua special purpose vehicle (SPV) sejak akhir 2011. Kedua SPV itu adalah Borneo Bumi Energi & Metal Pte Ltd (BBEM) dan Bumi Borneo Resources Pte. Ltd (BER). Grup Bakrie memiliki 51% saham BER dan 49% saham BBEM. Sebaliknya, BORN mengapit 51% saham BBEM dan 49% saham BER.
Masing-masing pihak lantas menguasai 23,8% saham Bumi Plc, lewat dua SPV itu. Apa yang dilakukan Samin Tan sebagai pemilik BORN, menjadi jalan keluar bagi Grup Bakrie untuk hengkang dari Bumi Plc.
Samin Tan akan membeli 23,8% saham Bumi Plc milik Grup Bakrie. “Saya akan bayar,” terang Samin dalam pesan singkatnya kepada KONTAN, kemarin (10/7). Samin bilang, dengan transaksi itu, dirinya kelak akan menguasai 47,6% saham Bumi Plc.
Di saat yang sama, Bumi Plc di situsnya menyebut transaksi tersebut adalah transaksi pemisahan (separation transaction) antara Borneo dan Grup Bakrie. Tapi, Bumi Plc tak menyebut nilai transaksi itu dan hanya mengatakan kemungkinan Grup Bakrie akan memboyong kembali 29,2% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dalam bentuk tunai, senilai kurang lebih US$ 500 juta.
Jumlah itu terdiri dari US$ 278 juta untuk membayar 18,9% saham BUMI milik Bumi Plc. Sisanya, untuk menebus 10,3% saham BUMI yang semula akan ditukar dengan 23,8% saham Bumi Plc.
Direktur Eksekutif Non Independen Bumi Plc, Amir Sambodo membenarkan kabar ini. “Sudah disampaikan (rencana itu) kepada board Bumi Plc. Pak Samin akan memakai Borneo Group yang merupakan afiliasi BORN,” terang Amir kepada KONTAN.
Nathaniel Rothschild menyebut, transaksi itu melanggar peraturan pengambil alihan perusahaan.
Pemisahan Bumi Plc-Bakrie Masih Sesuai Jalur

Oleh:
pasarmodal – Rabu, 10 Juli 2013 | 17:48 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Manajemen Bumi Plc menyatakan proses pemisahan perusahaan dari Bakrie Group dan PT Bumi Resources Tbk tetap dilanjutkan sesuai rencana yang disepakati pada Oktober 2012.

Demikian disampaikan Bumi Plc dalam keterangan tertulisnya, Rabu (10/7/2013). “Proses pemisahan itu tengah difinalisasi yakni Bakrie Group akan membeli saham Bumi Plc di Bumi Resources senilai US$500 juta tunai,” demikian bunyi keterangan tersebut.

Pernyataan Bumi Plc itu disampaikan menanggapi pemberitaan media terkait pemisahaan Bumi Plc dari Bakrie Group dan Bumi Resources Tbk. Pemberitaan itu antara lain menyebutkan bahwa transaksi ini akan dilakukan dengan cara Bakrie Group mengakuisisi 29,2% saham Bumi Plc di Bumi Resources secara tunai dan Bakrie Gorup akan menjual saham di Bumi Plc kepada perusahaan afiliasi PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (Borneo Group).

Sebelumnya, beredar pula pemberitaan yang menyangkutpautkan mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra. Reuters misalnya menulis bahwa Thaksin berminat membeli 23,8% saham Grup Bakrie di di Bumi Plc. Bahkan, The Sunday Times menyebutkan Thaksin bekerjasama dengan UBS untuk memuluskan rencana transaksi itu.

Dalam keterangan pers tersebut, Bumi Plc menyatakan bahwa pihaknya tahu bahwa Bakrie Group tengah bernegosiasi dengan Borneo Group terkait dengan pembelian saham Bakrie oleh Borneo. Namun, Bumi Plc menegaskan tidak terlibat dalam pembicaraan itu, melainkan hanya diberikan informasi bahwa transaksi ini akan bagian dari rencana Bumi menjual sahamnya di Bumi Resources kepada Bakrie.

Bumi diberitahu bahwa jika Borneo Group akan mengakuisisi saham Bakrie Group di Bumi Plc, maka akusisi itu akan menjadi prasyarat bagi pemegang saham Bumi Plc untuk menyetujui ketentuan penawaran umum sesuai ketentuan yang berlaku.

Sebelumnya, Bumi Plc mengumumkan bahwa penandatanganan Heads of Terms Agreement mengenai rencana pemisahan dari Grup Bakrie dan Bumi Resources telah ditandatangani pada 12 Februari 2013. Dalam syarat-syarat perjanjian itu di antaranya disebutkan bahwa Bumi Plc dapat mendivestasikan seluruh kepemilikan sahamnya di Bumi Resources dan memisahkan Grup Bakrie dari perseroan. [tjs]
Bumi Plc Buka Lowongan Direktur Keuangan
Vega Aulia Pradipta – Rabu, 17 April 2013, 20:06 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA—Bumi Plc, induk usaha PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) yang tercatat di bursa efek London, kini membuka lowongan Direktur Keuangan.

Seperti dikutip dari keterangan resmi Bumi Plc, Rabu (17/4/2013), CEO Bumi Plc Nick von Schirnding mengatakan pencarian Direktur Keuangan yang baru ini sejalan dengan niat perusahaan untuk melakukan restrukturisasi manajemen.

“Pengumuman pencarian direktur keuangan yang baru ini konsisten dengan komitmen kami untuk merestrukturisasi manajemen,” ujarnya, Rabu (17/4/2013).

Direktur Keuangan Bumi Plc saat ini, Scott Merrillees difokuskan pada jabatan lainnya sebagai Direktur Keuangan di Berau. Scott juga tidak akan mencalonkan diri lagi sebagai Direktur Keuangan dalam RUPS Tahunan Bumi Plc pada 26 Juni mendatang.

“Pada saat RUPS Tahunan nanti, Scott akan mengundurkan diri,” ujar Nick.

Scott terpilih menjadi Direktur Keuangan Bumi Plc pada 26 Maret 2012, menggantikan Andrew Beckham. Sebelumnya, Scott pernah menjadi Direktur Keuangan dan Hubungan Investor PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN).

Dia juga pernah menjabat sebagai Head of Natural Resources South East Asia ANZ Bank, Presiden Direktur BNP Paribas Securities Indonesia, Direktur Riset UBS Securities Ltd di Indonesia, dan Direktur Riset Morgan Grenfell di Indonesia.

Editor : Fajar Sidik
Perceraian Bakrie dan Bumi Resources Molor Lagi, Ada Apa?
Vega Aulia Pradipta – Jumat, 28 Juni 2013, 06:38 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA—Pemisahan Grup Bakrie dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari Bumi Plc lagi-lagi kembali molor, meski RUPS Tahunan Bumi Plc telah selesai digelar.

RUPS Tahunan yang digelar Rabu (26/6/2013) waktu London itu merupakan tenggat waktu bagi Grup Bakrie untuk membayar US$278 juta tunai kepada Bumi Plc untuk menebus Bumi Resources, yang sebelumnya sudah diperpanjang dari semula 30 Mei 2013.

CEO Bumi Plc Nick von Schirnding mengatakan pemisahan dengan Grup Bakrie dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) cukup kompleks. Menurutnya, perseroan dihadapkan dengan situasi yang sulit karena proses ini melibatkan sejumlah entitas, termasuk regulator yang relevan.

“Saya yakin kami mendekati akhir dari proses pemisahan ini. Grup Bakrie juga sudah memberitahu mereka sudah memiliki uang tunai yang sebesar US$278 juta, termasuk US$50 juta di akun escrow,” ujar Nick seperti dikutip dari keterangan resmi di website-nya, Kamis (27/6).

Dia mengatakan faktor lain yang membuat pemisahan ini semakin molor adalah ditemukannya pengeluaran hingga US$201 juta di PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) selama 2011—2012 yang ternyata tidak memiliki tujuan bisnis yang jelas.

“Tidak akan ada pemisahan sebelum pengeluaran tersebut dikembalikan,” tegas Nick.

Namun, Nick menambahkan, perseroan telah menandatangani perjanjian penyelesaian dengan mantan Presiden Direktur Berau Rosan Roeslani, yang mengambil tanggung jawab untuk memastikan sebagian besar dari pengeluaran tersebut akan dikembalikan.

Menurutnya, Rosan sudah setuju untuk mengembalikan atau mengganti pengeluaran Berau Energy yang tidak jelas senilai US$201 juta itu dengan kombinasi aset dan dana tunai US$173 juta. “Kami akan meletakkan hal ini dalam voting, bersamaan dengan transaksi pemisahan dengan Bakrie.”

Amir Sambodo, Direktur Independen NonEksekutif Bumi Plc menambahkan pemisahan antara Grup Bakrie dengan Bumi Plc tetap direncanakan untuk dijalan
kan. “Nanti akan diajukan dalam RUPS Luar Biasa yang akan diagendakan kemudian,” ujarnya, Kamis (27/6/2013).
BEI Pertanyakan kepemilikan Saham BUMI di BRMS
Jumat, 8 Maret 2013 | 15:56
investor daily

JAKARTA- Bursa Efek Indonesia mempertanyakan kepemilikan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

“Kalau ada perubahan kepemilikan, sahamnya pindah ke mana. Hal itu ada dua kemungkinan, dan yang tahu hanya kedua perusahaan itu,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen saat ditemui wartawan di Jakarta, Jumat.

Ia mengemukakan, kemungkinan pertama tidak ada perubahan pengendali. Kedua, BUMI mengalihkan saham BRMS ke pihak lain yang artinya mengurangi aset BUMI.

Hoesen menambahkan dugaan yang ada di pasar, BUMI menggadaikan saham (repo) BRMS. Pihak Bursa akan menguji apakah terjadi Repo atau tidak. “Kami menguji apakah benar repo atau tidak, jual putus atau colaterall,” kata dia.

Hoesen mengatakan jika terjadi Repo dan berlangsung antar investor, transaksi itu tidak perlu dilaporkan. Namun jika Repo dilakukan melalui broker maka wajib dilaporkan. “Kalau sudah masuk level investor, Bursa tidak dapat berbuat apa-apa,” kata dia.

Hoesen mengatakan sejauh ini pihak BUMI dan BRMS menyatakan tidak ada perubahan kepemilikan. Namun dari laporan Biro Administrasi Efek Sinartama Gunita per 22 Februari 2013, BUMI hanya memiliki 11,55 miliar lembar saham atau setara dengan 45,19% saham BRMS.

Sementara, dalam laporan keuangan PT Bumi Resources periode kuartal III 2012, kepemilikan saham di BRMS tercatat sebesar 87,09%.

Selain BUMI, pemegang saham dengan kepemilikan di atas lima persen di BRMS adalah perusahaan afiliasi dengan Grup Bakrie, Long Haul Indonesia. (ant/gor)
Bumi Plc sudah terima US$ 50 juta dari Bakrie
Oleh Dyah Megasari – Kamis, 07 Maret 2013 | 20:39 WIB

kontan

JAKARTA. Bumi Plc meyakini proses pembelian kembali (buy back) saham atas saham BUMI akan segera tuntas. Bumi Plc mengaku sudah mendapatkan dana sebesar US$ 50 juta dari Bakrie.

CEO Bumi Plc Nick Von Schirnding yang menjelaskan, uang muka pemisahan grup Bakrie dengan Bumi Plc tersebut telah di-escrow account melalui JP Morgan Amerika Serikat (AS). Pihaknya akan memulai finalisasi kesepakatan pemisahan grup Bakrie dengan Bumi Plc.

“Ada kemajuan nanti dalam waktu beberapa minggu. Kami akan mendapatkan tahap akhir kesepakatan dan melanjutkan negosiasi,” kata Nick usai acara RUPSLB PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), Kamis (7/3).

Menurut dia, transaksi grup Bakrie menukar 23,8% saham Bumi Plc miliknya dengan 10,3% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) milik Bumi Plc dengan transaksi sekitar US$ 278 juta tidak menjadi masalah bagi direksi Bumi Plc.

Hal ini karena menurutnya dalam agenda mengenai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPSB) Bumi Plc pada April mendatang untuk menyetujui pemisahan Bumi Plc dengan grup Bakrie, hampir mayoritas pemegang saham akan menyetujui untuk berpisah dengan grup Bakrie.

Pihaknya juga mengakui akan mengembangkan PT Berau Coal Energy Tbk. Nick mengatakan, PT Berau Coal Energy menjadi salah satu kunci perusahaannya. “Kami fokus kepada anak usaha kami. Banyak pekerjaan yang harus dilakukan, melanjutkan efisiensi operasional dan ekspansi,” tutur Nick. (TribunNews)
KISRUH SAHAM BUMI
BUMI ditinggalkan 10 top eksekutif
Oleh Issa Almawadi – Kamis, 07 Maret 2013 | 16:41 WIB

kontan

JAKARTA. Dua perusahaan pertambangan milik Grup Bakrie kembali ditinggalkan para petingginya. Jika sebelumnya, 3 jajaran direksi meninggalkan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), kali ini 10 orang dari jajaran manajemen yang terdiri dari 7 komisaris dan 3 direksi mengangkat kaki dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Dalam keterangan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (7/3), Direktur sekaligus Corporate Secretary BUMI, Dileep Sirvastava menjelaskan, BUMI telah menerima surat pengunduran diri dari 10 jajaran manajemen.

Satu nama yang disebut adalah Samin Tan yang berposisi sebagai Presiden Komisaris. Samin juga baru saja mengajukan pengunduran diri dari jabatan di BRMS sebagai Presiden Direktur.

Selain Samin, ada beberapa nama yang juga menyatakan mundur dari perusahaan batubara Grup Bakrie dan Vallar Invesment atau yang lebih dikenal dengan nama Bumi Plc. Berikut nama-nama yang dimaksud:

1. Pengunduran diri Alexander Ramlie sebagai Komisaris

2. Pengunduran diri Scott Merrillees sebagai Komisaris

3. Pengunduran diri Edison Mawikere sebagai Komisaris

4. Pengunduran diri Veronica Tampubolon sebagai Komisaris

5. Pengunduran diri Eva Novita Tarigan sebagai Komisaris

6. Pengunduran diri Nenie Afwani sebagai Komisaris

7. Pengunduran diri John S.A Slack sebagai Wakil Presiden Direktur

8. Pengunduran diri Stefan White sebagai Direktur

9. Pengunduran diri Kenneth Raymond Allan sebagai Direktur

Dileep menjelaskan, sebagai proses lebih lanjut dari pengunduran diri anggota dewan komisaris dan direksi, BUMI akan melaksanakan proses sebagaimana yang diatur dalam Anggaran Dasar BUMI dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Rothschild: Harusnya Samin Tan yang Mengundurkan Diri
Rizkie Fauzian – Okezone
Selasa, 5 Maret 2013 10:43 wib

JAKARTA – Nat Rothschild menyatakan, seharusnya sejumlah manajemen Bumi Plc lainnya mengundurkan diri, termasuk chairman Bumi Plc Samin Tan. Pernyataan Rothschild ini terkait pengunduran diri dua direksi Bumi Plc, yakni Philip Yeo dan Sony Harsono.

“Dewan ini memerlukan perubahan dari dominasi Samin Tan dan Bakrie. Samin Tan juga didukung oleh Alex Ramlie, Scott Merreilles, dan Graham Holdaway. Mereka membentuk blok voting di dewan Bumi Plc,” kata Rothschild kepada Okezone melalui pesan tertulisnya, Selasa (5/3/2013).

Selain itu, Rothschild juga mempertanyakan status direktrur independen dari Graham Holdaway. Rothschild pun mendesak Holdaway untuk mundur. “Dengan menyesal, kami juga juga mempertanyakan independensi dari Amir Sambodo itu,” tegas dia.

Sebelumnya, Bumi Plc menyatakan jika Philip Yeo dan Sony Harsono telah mengajukan surat pengunduran diri sebagai direktur.

Pengunduran diri ini dilakukan dua orang tersebut lantaran adanya tekanan dari sejumlah pihak. Pengunduran diri tersebut akan sah pada 15 Maret 2013 mendatang.

“Manajemen mengucapkan terima kasih kepada Philip Yeo dan Sony Harsono atas kontribusinya yang telah diberikan sebagai direktur independen non eksekutif di perseroan,” jelas Bumi Plc.

Dengan demikian, maka susunan manajemen perseroan akan menjadi seperti di bawah ini.

Samin Tan, Chairman.
Nick von Schirnding, Chief Executive Officer & Executive Director.
Scott Merrillees, Chief Financial Officer & Executive Director.
Alexander Ramlie, Non-Executive Director.
Sir Julian Horn-Smith, Deputy Chairman & Senior Independent Director.
Lord Renwick, Independent Non-Executive Director.
Steven Shapiro, Independent Non-Executive Director.
Sir Graham Hearne, CBE, Independent Non-Executive Director.
Amir Sambodo, Independent Non-Executive Director.
Graham Holdaway, Independent Non-Executive Director.
Sir Richard Gozney.
Paul Vickers, General Counsel and Company Secretary.
(wdi)
Nat: Prematur berasumsi BUMI keluar dari Bumi Plc
Oleh Agustinus Beo Da Costa – Sabtu, 02 Maret 2013 | 06:03 WIB

kontan

JAKARTA. Jumlah kepemilikan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) diam-diam menyusut. Berdasarkan laporan Biro Administrasi Efek Sinartama Gunita per 22 Februari 2013, BUMI hanya memiliki 11,55 miliar lembar saham atau setara dengan 45,19% saham BRMS.

Sementara Long Haul Indonesia mengantongi 12,8% atau 3,27 miliar lembar saham BRMS. Dengan begitu, total kepemilikan saham BRMS yang jumlahnya di atas 5% mencapai 57,99%.
Penelusuran data yang dilakukan KONTAN memperlihatkan kepemilikan BUMI pada BRMS terus menyusut sejak Agustus 2012. Per 16 Agustus 2012, kepemilikan BUMI pada BRMS berjumlah 74,04% dan beberapa kali mengalami perubahan.

Misalnya pada laporan registrasi bulan kepemilikan saham BRMS yang dirilis 30 September 2012,
BUMI memiliki 60,9% saham BRMS dan Long Haul memiliki 14,83% saham BRMS. Pihak Bumi Resources sendiri sudah membantah penyusutan saham BUMI di Bumi Resources Mineral ini. Tetapi kepada Kontan, salah satu pemegang saham Bumi Plc, perusahaan induk BUMI Nathaniel Rothschild lewat sambungan telepon internasional Kamis (28/2) kepada Kontan, mengatakan bahwa dirinya sudah mengetahui dirinya sejak lama adanya penjualan saham BUMI di BRMS ini.

Selain berbicara soal penyusutan kepemilikan BUMI di BRMS, Nat Rothschild juga berbicara tentang posisinya pasca kekalahan di RUPS Luar Biasa Bumi Plc pada 21 Februari lalu dan hubungannya dengan pengusaha Indonesia Hasyim Djojohadikusumo.

Kontan: Bagaimana tanggapan Anda soal penjualan dan penyusutan saham Bumi Resources di Bumi Resources Mineral dari 87 % menjadi 54 %?

Nat : Sudah sangat jelas bagi kami. Seorang whistle blower sudah memberikan dokumen. Dokumen itu menyatakan bahwa Bumi Resources sudah menjual kepemilikannya kepada keluarga Bakrie, lewat Long Haul Indonesia. Kami punya bukti yang jelas dari dokumen yang kami terima pada Juni dan Juli tahun lalu sebuah proposal di Bumi Resources untuk menjual kepemilikan Bumi Resources di Bumi Resource Minerals. Kami dan Bumi Plc tahu hal itu.

Sementara itu laporan keuangan Bumi Resources dan Bumi Resources dan Minerals pada Juni 2012 dan September 2012 Bumi Resource mengklaim bahwa Bumi memiliki 87 % saham di Bumi Resources Mineral , itu tidak benar. Kami tahu bahwa antara bulan Mei 2012 sampai September 2012 Bumi Resource telah menjual sahamnya dari 87 % hingga tersisa 54 %.

Kami bertanya mengapa OJK (Otoritas Jasa Keuangan ) tidak melakukan penyelidikan atas hal ini. Mengapa OJK tidak berusaha menyelidiki dan mencari tahu pengurangan kepemilikan saham BUMI di BRMS yang tidak diungkap ke publik? Padahal ini kan merupakan prioritas utama mereka.

Samin Tan sebagai CEO tidak melakukan apa pun. Hanya seseorang yang mengetahui hal itu membocorkannya kepemilikan Bumi Resources di Bumi Resources Mineral yang sudah turun dari 87 % menjadi 54 %.

Kami punya banyak contoh yang menunjukkan bahwa Samin Tan memang membiarkan semua penyimpangan ini terjadi. Samin Tan telah membiarkan keluarga Bakrie mengalihkan dana hasil initial public offering (IPO) Bumi Resources dan Mineral pada tahun 2010 kepada Bank UOB sebesar US $ 110 juta. Dana yang disimpan di Bank UOB itu, kemudian dipinjamkan kembali kepada keluarga Bakrie pada bulan Mei 2012.

Selain itu, pihak Samin Tan juga membiarkan penggunaan dana sebesar US$ 100 juta untuk membayar bunga utang Bumi Resource kepada Credit Swiss m pada September hingga Oktober 2012. Padahal , dana itu awalnya akan digunakan untuk konstruksi proyek pertambangan seng bawah tanah di Sumatra Utara dan Nangroe Aceh Darussalam, Dairi Prima. Akibatnya tidak ada sama sekali proyek konstruksi di Dairi Prima.

Kontan: Kalau Anda sudah tahu sejak lama mengapa tidak memprotesnya sejak awal ?

Nat: Kami tidak dapat membuktikan penjualan itu. Kami mengetahui beberapa data atau file terkait kasus ini, tetapi tidak punya bukti kuat menengahi hal ini sampai seseorang mengumumkannya.

Bumi Resources sendiri sudah membantah adanya pengurangan jumlah saham BUMI di Bumi Resources Mineral. Tetapi pengumuman di keterbukaan informasi BEI sudah menujukan bahwa mereka sudah menjual saham mereka. Pasti ada korupsi disini. Mengapa otoritas keuangan di Indonesia membiarkan hal seperti ini terjadi? Otoritas keuangan Indonesia telah gagal menginvestigasi hal ini. Pasti ada korupsi di sini.

Kontan: Apa yang akan Anda lakukan?
Nat: Kami akan berbicara dengan otoritas di Indonesia.

Kontan: Bagaimana sikap dan posisi Anda terkait kekalahan Anda di RUPS Luar Biasa Pada Tanggal 21 Februari 2013?

Nat: Pertama-tama , saya tegaskan kami tidak kalah. Kami memenangkan dua per tiga dari suara pemegang saham. Karena Take Over Panel tidak mengizinkan tiga pemegang saham yang memiliki kaitan dengan Grup Bakrie untuk mewakili suara mereka. Kami setuju dengan putusan

Kami juga saat ini sedang menyiapkan informasi bagi Take Over Panel terkait dengan pemegang saham lain yang kemungkinan punya kaitan dengan Grup Bakrie. Kami akan mempertimbangkan langkah hukum yang mungkin diambil.

Kami tahu bahwa salah satu investor yang membeli saham Bukit Mutiara menjelang RUPS Luar Biasa, yaitu Avenue (Avenue Luxemburg S.A.R.L ) merupakan pihak yang memiliki keterkaitan dengan Grup Bakrie. Avenue juga merupakan pemegang saham di Bakrieland (ELTY).

Selain itu, Avenue pernah meminjamkan uang kepada Grup Bakrie sebesar US $ 200 juta untuk membeli Berau lewat Bukit Mutiara, dan Bakrie gagal membayar utang ini, jadi Avenue mendapatkan saham di Bumi Plc ketika Bukit Mutiara dan Recapital menjual saham mereka menjelang RUPS Luar Biasa.

Kontan: Apa langkah Anda selanjutnya dengan Berau jika keluarga Bakrie nantinya berhasil memboyong keluar Bumi Resources dari Bumi Plc?

Nat: Saya salah satu pemegang saham di Bumi Plc. Saya masih akan di Bumi Plc. Saya tahu keluarga Bakrie tidak mempunyai uang untuk memboyong Bumi Resource keluar dari Bumi Plc. Dari mana mereka mendapatkan uangnya? Tidak ada bukti bahwa mereka memiliki uang. Bahkan mereka tidak punya uang untuk membayar deposit di escrow account senilai US $ 50 juta . Jadi sangat prematur untuk mengatakan bahwa mereka bisa melanjutkan proposal pemisahan dari Bumi plc. Mengapa Anda percaya pada Bakrie? Tidak ada satu pun bukti yang menunjukkan bahwa mereka jujur. Kami hanya akan melihat dan menunggu .

Kontan: Mengapa Anda sepertinya ngotot untuk berkonflik dengan keluarga Bakrie di Bumi Plc ? Berapa kerugian Anda?

Nat: Sangat sederhana. Saya tidak suka ditipu. Keluarga saya adalah keluarga yang jujur dan pekerja keras. Kami tidak suka dengan penipuan. Mereka telah menyalahgunakan uang . Di awal mereka berjanji untuk tunduk pada aturan corporate governance Inggris. Tetapi mereka telah menyelewengkan jutaan dollar.

Kontan: Kami mendapatkan informasi bahwa semua konflik ini Anda desain sejak awal untuk menguasai aset batubara Indonesia lewat apa yang disebut dengan Archipelago Project?

Nat: Sama sekali tidak benar. Saya hanya menolong pemegang saham minoritas baik di Bumi Resources dan dengan sendirinya di Bumi Plc juga. Selama ini hanya keluarga Bakrie yang diuntungkan.

Kontan: Apa langkah Anda selanjutnya dengan dugaan penyimpangan keuangan tersebut?

Nat: Itu urusan perusahaan (Bumi Plc). Mereka sudah menanganinya. CEO Bumi plc sudah melaporkan ke otoritas Indonesia OJK. Saya sendiri, sudah pernah meminta Bumi Plc untuk menginvestigasi kebenarannya. Tetapi mereka tidak mampu untuk mendapatkan akses ke dalam Bumi Resources.

Mereka ditolak oleh Bumi Resources. Saya akan berbicara dengan pemegang saham lainnya terkait hal ini. Tentu saya akan mengambil tindakan yang ekstra. Tetapi untuk saat ini, saya masih menunggu bagaimana respons Bumi Plc dan otoritas Indonesia OJK tentang penyimpangan keuangan ini. Pasti akan butuh banyak waktu untuk melakukan penyelidikan terhadap Rosan Roeslani dan Grup Bakrie.

Kontan: Bagaimana hubungan Anda dengan Hasyim Djojohadikusumo dalam konteks bisnis? Apakah Anda akan menggunakan Hasyim sebagai tangan Anda di Indonesia dan meredam isu
nasionalisme Indonesia?

Nat: Kami adalah sahabat yang luar biasa. Saat ini kami sama-sama pemegang saham di Bumi Plc. Hasyim adalah seorang pengusaha yang hebat dan sangat sukses. Kalau bicara nasionalisme, keluarga Hasyim sudah kehilangan empat anggota keluarga mereka demi nasionalisme Indonesia. Sedangkan keluarga Bakrie tidak melakukan apa pun untuk Indonesia. Keluarga Hasyim adalah pahlawan besar bagi Indonesia. Mereka telah mencurahkan darah mereka untuk Indonesia

LONDON – Kisruh antara Nathaniel Philip Rothschild dengan keluarga Bakrie usai sudah, setelah dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) para pemegang saham Bumi Plc lebih memilih proposal keluarga Bakrie. Dengan demikian, rencana Bakrie keluar dari Bumi bakal segera terlaksana.

Meski demikian, Samin Tan tetap mengundurkan diri sebagai ketua Perseroan sekaligus ketua independen baru. Namun, Samin Tan akan mengisi posisi Dewan sebagai wakil dari pemegang saham utama Perseroan dan sebagai mitra bisnis komitmen Bumi di Indonesia.

“Perekrutan ketua baru, yang memiliki pengalaman dalam, dan akrab bagi pasar London sedang berlangsung dan akan berlangsung dalam konsultasi dengan pemegang saham terbesar perusahaan independen,” jelas Bumi Plc dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/2/2013).

Sekadar informasi, Samin Tan masuk sebagai investor di Bumi Plc pada Januari lalu. Kala itu, dia mengucurkan dana sekira USD1 miliar (620 juta pondsterling) bagi keluarga Bakrie untuk menghindarkan dari ancaman default. Samin Tan dan keluarga Bakrie, memiliki 29,9 persen dari hak suara di Bumi.

Dia ditunjuk sebagai ketua Ketua Dewan Bumi Plc pada Maret lalu, tetapi Tan bersama dengan sebagian besar direktur saat ini, telah dituduh gagal lantaran dianggap membela kepentingan investor minoritas oleh Rothschild.

Dengan usainya konflik ini, maka dewan Bumi Plc akan kembali pada struktur lamanya, dan akan mempertahankan sebagian besar direktur independen. Selain itu, Dewan akan terus fokus pada perbaikan operasional dan penguatan lebih lanjut dari manajemen di Berau.

Selain itu, para dewan berjanji akan terus mengejar klaim potensial di mana ada prospek yang realistis, menyusul penyelidikan yang dilakukan oleh Macfarlanes LLP. Dewan akan terus memprioritaskan menjaga kepercayaan pemegang saham.

http://economy.okezone.com/read/2013/02/22/278/765704/pengganti-samin-tan-harus-akrab-dengan-pasar-london

Sumber : OKEZONE.COM
JAKARTA – Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bumi Plc telah menolak rencana Philip Rothschild dan lebih memilih proposal keluarga Bakrie. Dengan demikian, usul Bakrie untuk keluar dari Bumi Plc dapat terealisasi.

Seperti diketahui, Bakrie telah memberikan beberapa opsi terkait dengan kisruh yang terjadi antara dia dengan Nat di Bumi Plc. Adapun usulan tersebut, yakni tahap pertama, Bakrie akan melepas kepemilikan di Bumi Plc sebesar 23,8 persen untuk ditukar dengan 10 persen kepemilikan di Bumi Resources.

Pada proposal tahap kedua, Grup Bakrie akan membeli 18,9 persen sisa saham Bumi PLC di unit usaha Indonesia senilai USD278 juta atau setara Rp2,6 triliun (Rp9.600 per USD). Bakrie kemudian dapat mengendalikan 29 persen saham Bumi Resources dan tidak perlu berhubungan dengan Bumi PLC.

Dalam proposal tahap ketiga, Bakrie akan membeli aset tambang lain milik Bumi PLC, yakni 85 persen saham di PT Berau Coal Energy senilai USD950 juta (Rp9,1 triliun).

Untuk memuluskan rencananya, ini Bumi Plc meminta Grup Bakrie menyediakan ‘uang muka’ senilai USD50 juta. Dengan demikian, Bakrie masih membutuhkan dana segar mencapai USD228 juta atau setara Rp2,2 triliun (dengan kurs Rp9.650 per USD). Bakrie pun diberikan waktu lima hari untuk menyetorkan dana segar tersebut ke escrow account.

Padahal, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) punya total utang senilai USD3,79 miliar atau setara Rp 36 triliun sampai 2017. utang-utang itu akan jatuh tempo setiap tahunnya dengan nilai yang berbeda. Pada tahun ini, utang yang harus dilunasi mencapai USD254,5 juta.

Sementara di 2014 dan 2015, nilai utang yang harus dibayarkan cukup tinggi, yaitu masing-masing senilai USD1,23 miliar dan USD1,062 miliar. Sedangkan di 2016 kembali turun dan menjadi hanya USD530 juta. Di 2017 nanti, sebesar USD700 juta. Moodys dan S&P sudah menurunkan outlook utang BUMI itu dari BB- menjadi B+.

Akibatnya, ada beberapa aset Bakrie yang bakal di lego untuk melunasi utangnya melalui anak usahanya PT Bakrie Swastika Utama (BSU), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), akan melepas sebagian kepemilikannya untuk membayar utang.

Sebagian saham PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS), anak usaha Grup Bakrie ini berencana melepas sebagian kepemilikan sahamnya untuk membiayai proyek besarnya. Setidaknya ada tiga proyek besar yang akan dikerjakan salah satu tambang Grup Bakrie tersebut.

Selain itu, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), melalui anak usahanya, PT Bakrie Toll Road (BTR), melepas lima ruas tol ke Grup MNC senilai Rp 2 triliun. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) juga berencana melepas kepemilikan saham di anak usahanya, PT Bakrie Pipe Industries.

Dan yang terakhir, adalah saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) Induk usaha TvOne dan ANTV ini disebut-sebut akan dijual untuk mengurangi utang-utang Grup Bakrie. Namun, kabar tersebut dibantah pemilik Grup Bakrie yaitu Aburizal Bakrie.

Bakrie memang menang dalam perseteruan dengan Rothschild di Bumi Plc, tapi apa langkah selanjutnya untuk kemajuan perusahaan ?

http://economy.okezone.com/read/2013/02/22/278/765712/usai-menang-bakrie-masih-harus-bayar-upeti

Sumber : OKEZONE.COM

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: