Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Mei 6, 2014

Bakrie’s GAM3 (10) … 06052014

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 12:24 am

Gambaran Kinerja Keuangan Grup Bakrie di Lantai Bursa

Angga Aliya – detikfinance
Selasa, 06/05/2014 17:15 WIB
Jakarta -Induk usaha Grup Bakrie, PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), meraup laba Rp 665 milar dalam tiga bulan pertama 2014, melonjak 15.267%. Kinerja positif itu berkat sokongan anak-anak usahanya yang tidak terdaftar di pasar modal.Kinerja ini disumbang dari anak-anak usahanya yang rata-rata sudah tumbuh positif di awal tahun ini. Anak-anak usaha non listed yang membukukan kinerja positif berasal dari berbagai industri.

Mereka di antaranya adalah PT Bakrie Building Industries (BBI) yang memproduksi aneka bahan bangunan untuk kebutuhan usaha properti dan konstruksi, PT Bakrie Autoparts (dahulu bernama PT Bakrie Tosanjaya) yang memproduksi komponen otomotif.

Selain itu ada PT Bakrie Metal Industries (BMI) yang meliputi PT Bakrie Pipe Industries (BPI) yang memproduksi pipa berbahan baku besi dan baja. Selain pipa baja, BMI juga menangani bisnis konstruksi baja dan fabrikasi di bawah unit PT Bakrie Construction (BCons). Di bidang infrastruktur, ada PT Bakrie Oil & Gas Infrastucture dan PT Bakrie Toll Indonesia.

Lalu bagaimana dengan kinerja anak usaha Grup Bakrie yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI)? Simak infografis di bawah ini seperti dirangkum detikFinance, Selasa (6/5/2014).

(ang/hen)

JAKARTA. Meski tengah berkutat dengan defisiensi modal, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tetap ‘berani’ menjanjikan bunga utang tinggi bagi krediturnya. Berdasarkan laporan keuangan kuartal I 2014, utang BNBR berdenominasi rupiah saat ini memberikan bunga antara 7,5%-20,5%. Pada periode yang sama tahun 2013, angkanya ada di rentang 12,5% hingga 20%.

Sementara untuk pinjaman berdenominasi dollar AS, BNBR menjanjikan bunga antara 3%-20%. Tahun lalu, batasnya ada di kisaran 7%-17%.

Dari data tersebut terlihat, perusahaan investasi Grup Bakrie ini memberikan bunga utang dengan rentang yang kian lebar. Batas bawah dari rentang bunga utang memang bisa diturunkan. Namun disaat yang sama, batas atas bunga utang justru semakin tinggi.

Masih dari laporan keuangan BNBR kuartal I 2014, pinjaman jangka pendek BNBR di di tiga bulan pertama tahun ini kini tercatat Rp 4,33 triliun. Angka itu tumbuh 21,97% year on year (yoy) dari sebelumnya Rp 3,55 triliun.

Sekedar mengigatkan, BNBR hingga 31 Maret 2014 membukukan defisiensi modal senilai Rp 1,41 triliun. Akhir tahun lalu, angkanya berada di posisi Rp 2,02 triliun.

Akibat pencatatan defisiensi modal itu, Mazars sebagai auditor independen mempertanyakan prospek kelangsungan usaha BNBR. Mazars menyebut BNBR memiliki indikasi ketidak pastian material. “(Hal itu) dapat menyebabkan keraguan yang signifikan atas kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan usahanya,” tulis Mazars, dalam laporan keuangan BNBR tahun buku 2013.
Editor: Yuwono Tri
JAKARTA. PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk masih mencatatkan rapor merah pada tahun lalu. Bahkan, dapat dikatakan, kinerja UNSP semakin memburuk. Hal ini dapat dilihat dari kerugian yang dialami emiten dengan kode saham UNSP tersebut.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi 2013, UNSP membukukan kerugian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp 2,7 triliun. Jumlah kerugian tersebut membengkak hingga 159,3% dari kerugian tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 1,065 triliun.

Salah satu faktor yang menyebabkan memburuknya kinerja UNSP adalah naiknya kerugian selisih kurs yang mencapai Rp 1,101 triliun. Padahal, tahun 2012, kerugian kurs yang dialami UNSP hanya sebesar Rp 201,297 miliar.

Ada pula rugi penurunan nilai goodwill dan pesangon pemutusan hubungan kerja di 2013 yang mencapai Rp 51,090 miliar dan Rp 22,166 miliar. Sementara di tahun 2012, UNSP tidak membukukan kerugian pada kedua pos ini. UNSP juga membukukan lonjakan kerugian lain-lain menjadi Rp 1,233 triliun di 2013 dari sebelumnya Rp 53,625 miliar.

http://investasi.kontan.co.id/news/kerugian-unsp-capai-rp-27-triliun-di-2013

Sumber : KONTAN.CO.ID
Wednesday, Apr 30, 2014
Bakrie & Brothers Kembali Bangkit
by Investor Daily
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) kembali bangkit setelah berhasil meraih lonjakan laba bersih sebesar 15.394% menjadi Rp665 miliar, pada kuartal I-2014, dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 4,3 milair.

Pendapatan melonjak hingga 291% menjadi Rp2,5 triliun dari Rp 860,9 miliar. Adapun laba bersih persaham meningkat dari Rp 0,05 menjadi Rp7,1. Saat ini harga saham BNBR diperdagangkan pada level Rp50 persaham. Direktur Utama Bakrie & Brothers Bobby Gafur Umar mengatakan, lonjakan kinerja keuangan tersebut ditopang bidang usaha berbasis manufaktur dan pengembangan infrastruktur.

“Kedua usaha tersebut menyumbang hingga 82% terhadap total pendapatan dan sebanyak 72% terhadap laba bersih perseroan higga kuartal I-2014,” ujarnya, dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (29/4). Pendapatan dari bisnis manufaktur dan infrastruktur berasal dari kontribusi anak usaha perseroan yaitu PT Bakrie Metal Industries (BMI) dengan pendapatan Rp1,3 triliun, atau tumbuh 277 %, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba bersihnya juga meningkat hingga 1.836% menjadi Rp181,5 miliar.

Lonjakan kinerja tersebut juga disumbangkan anak usaha perseroan lainnya, PT Bakrie Autoparts, berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp 207,6 miliar atau naik 4%, dibandingkan periode sama 2013 sebesar Rp 199,1 miliar. Bakrie Autoparts mencetak laba bersih sebesar Rp 2,7 miliar. Sedangkan PT Bakrie Building Industries (BBI) mencetak pendapatan sebesar Rp 147,5 miliar dan laba bersih sebesar Rp 10,7 miliar. Bahkan, laba tersebut sudah mencerminkan 85% dari target sepanjang tahun 2014.

Kuatnya ekspektasi pertumbuhan bisnis manufaktur dan infrastruktur, menurut dia, mendorong perseroan untuk memfokuskan pengembangan kedua bisnis tersebut dengan harapkan kontribusinya meningkat dalam beberapa tahun ke depan. pihaknya juga akan memfokuskan pengembangan kedua bisnis tersebut ke pasar domestik dan regional, seiring belum pulihnya harga komoditas global. “Fundamental bisnis perseroan, terbukti kuat di sektor tersebut,” ungkap Bobby.

Bobby menambahkan, bisnis manufaktur yang masih menjanjikan adalah industri otomotif, seiring gencarnya pabrikasi otomotif global menambah infestasi di Indonesia. sedangkan pada bidang infrastruktur, perseroan melalui anak usahanya PT Bakrie Oil 7 Gas Infrastructure, telah membangun jaringan pipa tahap pertama di jalur sumur gas Kepodang ke Tambak Lorok, Jawa Tengah.

Perseroan melalui anak usahanya, PT Bakrie Toll Indonesia, juga memperkuat bisnis jalan tol dengan memulai tahapan pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol ruas Cimanggis-Cibitung. Bakrie & Brothers melalui anak usahanya PT Bakrie Power juga mengembangkan pembangkit listrik. Proyek yang sedang digarap adalah PLTU Tanjung Jati A.
Transaksi tinggi, tapi saham Grup Bakrie bergeming
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Rabu, 23 April 2014 | 20:31 WIB

JAKARTA. Hari ini, tiga saham Grup Bakrie masuk ke dalam 10 saham dengan volume transaksi terbesar. Namun, harga sahamnya bergeming, bahkan ada yang turun.
Ketiga saham itu adalah PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI). BNBR menduduki posisi pertama dengan total volume transaksi sebanyak 1,18 miliar saham. Jumlah ini mewakili 22,8% dari total volume transaksi saham hari ini.
Lalu, BTEL ada di posisi ke lima dengan 134 juta saham atau 2,6% dari total volume transaksi. Adapun, saham BUMI ditransaksikan dengan volume sebanyak 99 juta saham. Namun, ketiga saham itu tidak berubah.
Bahkan, BUMI justru anjlok 2,84% dari Rp 211 ke harga Rp 205 per saham. Sedangkan saham BNBR dan BTEL tidak bergerak dari batas terendah harga perdagangan saham, yakni Rp 50 per saham.
Editor: Asnil Bambani Amri
Kinerja Triwulan I/2014, BTEL Raih Laba Bersih Rp210,7 Miliar
Gloria Natalia Dolorosa – Rabu, 23 April 2014, 20:47 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Dulang keuntungan dari selisih kurs, PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL) raih laba bersih sebesar Rp210,7 miliar pada triwulan I/2014.

Adapun, pada triwulan I/2013 emiten jasa telekomunikasi code division multiple access (CDMA) itu mendulang rugi bersih Rp97,5 miliar. Menilik laporan keuangan sepanjang Januari-Maret 2014, laba bersih dikantongi BTEL karena perseroan memperoleh laba selisih kurs sebesar Rp440,12 miliar. Pada periode sama tahun sebelumnya, perseroan mendapat rugi selisih kurs Rp23 miliar.

Selain karena dulang keuntungan dari selisih kurs, perseroan meraih laba bersih lantaran mampu menekan beban usaha sebesar 14,26% menjadi Rp456,26 miliar dari beban usaha triwulan I/2013 sebesar Rp532,12 miliar.

Kondisi perolehan bottom line tidak seiring dengan perolehan pendapatan. Sepanjang Januari hingga Maret 2014, BTEL meraih pendapatan usaha sebesar Rp471,13 miliar, merosot 31,12% dari pendapatan usaha Januari-Maret 2013 senilai Rp683,94 miliar. Kinerja perseroan yang merosot terlihat dari rugi usaha yang didapat sebesar Rp65,76 miliar, sedangkan pada triwulan I/2013 perseroan memperoleh laba usaha Rp50,38 miliar. Jumlah pelanggan ESIA per Maret 2014 sebanyak 12,258 juta.

“Peningkatan performa kinerja BTEL tidak terlepas dari efisiensi operasional dan optimalisasi jaringan yang efektif di daerah potensial yang telah kami lakukan dalam program revitalisasi sejak 2012,” kata Bachder Bachtarudin, Director & Chief Financial Officer Bakrie Telecom, dalam siaran pers yang diterima Bisnis, Rabu, (23/4).

Perseroan berencana meningkatkan layanan melalui program-program inovatif. Sebelumnya, BTEL menjalin kerja sama dengan media sosial global, PATH, untuk pengguna ESIA.

Editor : Martin Sihombing
Anak Bumi Resources Teken Kontrak dengan Perusahaan China
Ardhanareswari AHP – Minggu, 20 April 2014, 19:25 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—PT Dairi Prima Mineral, anak perusahaan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), telah meneken kontrak membangun cadangan seng dan timah hitam dengan China Nonferrous Metal Industry’s Foreign Engineering & Construction Co. Ltd. (NFC).

Dalam keterangan resmi dari perseroan yang diterima Bisnis, Minggu (20/4/2014), manajemen BRMS mengatakan kontrak dalam bentuk engineering, procurement, & construction (EPC) tersebut adalah kelanjutan dari kerja sama kedua belah pihak yang diinisiasi Oktober 2013.

Nantinya pertambangan tersebut akan dioperasikan oleh Dairi dari Sumatra Utara. “NFC akan membantu untuk mendapatkan 85% dari pendanaan yang diperlukan untuk membangun lokasi tambang seng dan timah tersebut,” kata manajemen.

Namun, perseroan belum memaparkan besar dana yang diperlukan dalam proyek tersebut. Menurut manajemen jumlah dana yang dibutuhkan akan disampaikan ke publik dalam waktu dekat ini.

NFC berencana membangun infrastruktur dan fasilitas untuk mengolah hingga 1 juta ton bijih per tahun. Rencananya pembangunan fasilitas itu selesai dalam 42 bulan yaitu sekitar penghujung 2017.

Direktur Utama BRMS Suseno Kramadibrata berharap hal ini bisa menjadi nilai tambah. “Kami berahdap untuk dapat memproduksi cadangan seng dan timah hitam yang dioperasikan oleh Dairi pada akhir 2017 sehingga dapat menambah nilai bagi para pemegang saham,” katanya.

Sebagai catatan, saat ini perusahaan di bawah naungan Grup Bakrie itu memiliki 80% saham Dairi. Sementara itu 20% saham lainnya dimiliki oleh PT Aneka Tambang (Perseroan) Tbk. (ANTM).

Editor : Hery Lazuardi
Auditor Meragukan Kelanggengan Usaha BNBR
Oleh Yuwono Triatmodjo – Sabtu, 12 April 2014 | 00:03 WIB

kontan

JAKARTA. Lantaran membukukan defisiensi modal senilai Rp 2,02 triliun hingga 31 Desember 2013, kelangsungan hidup PT Bakrie & Brother Tbk (BNBR) ke depan kini dipertanyakan. Defisiensi modal terjadi lantaran total kewajiban BNBR yang senilai Rp 13,89 triliun, sudah melebihi total aset yang sebesar Rp 11,87 triliun.

Mazars, auditor independen yang memriksa laporan keuangan BNBR tahun 2013, menyatakan perusahaan investasi grup Bakrie itu memiliki indikasi ketidakpastian material. “(hal itu) dapat menyebabkan keraguan yang signifikan atas kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan usahanya,” tulis Mazars, dalam laporan keuangan BNBR tahun 2013 yang dirilis Jumat (11/4).

Dalam laporan keuangannya, BNBR menyatakan defisiensi modal terjadi karena rugi penurunan nilai investasi jangka pendek dan perubahan nilai wajar derivatif. Rinciannya, BNBR mencetak rugi penurunan nilai investasi jangka pendek senilai Rp 5,39 triliun di tahun 2013. Padahal pada tahun sebelumnya, pos tersebut bahkan tidak ada.
Sedangkan perubahan nilai wajar derivatif BNBR tahun lalu tercatat minus Rp 2,77 triliun. Pada tahun 2012, angka perubahan nilai wajar derivatif hanya tercatat minus Rp 6,79 miliar.

Sehubungan dengan rangkaian persoalan diatas, BNBR berniat melakukan sejumlah upaya pembenahan. Pertama, BNBR akan merestrukturisasi utang dan mengkonversinya menjadi saham. Kedua, meningkatkan modal melalui penerbitan saham dan penjualan aset.

Ketiga, manajemen BNBR akan mengurangi investasi dalam bentuk saham. Sedangkan upaya keempat adalah fokus mengembangkan kegiatan usaha manufaktur. Dan terakhir, BNBR akan mengembangkan proyek infrastruktur utama untuk mendapatkan sumber pendanaan yang berkelanjutan.
Editor: Yuwono Tri
Indonesia’s Bakrie Vows Protectionism for Natural Resources
By Berni Moestafa and Neil Chatterjee Mar 6, 2014 6:34 PM GMT+0700
Indonesia should keep more resources such as natural gas at home to bolster its domestic industries, according to Aburizal Bakrie, who rates himself the favorite to win a presidential election to be held in July.

Bakrie, chairman of the nation’s second-biggest political party Golkar and whose family coal business has faced financial probes, said Indonesia’s leaders must focus on building infrastructure and deepening the industrial sector.

Indonesia needs “the courage to face and negotiate with parties overseas and the courage to explain to the public about the problems we face,” Bakrie said in an interview with Bloomberg TV Indonesia as he met voters in central Java. “We say thank you for buying our gas. But going forward, I will use this gas first and will only export the rest.”

Bakrie, who dropped out of the Forbes list of the 40 richest Indonesians in 2012, is tapping into a protectionist mood as Southeast Asia’s biggest economy seeks to cut dependence on imports. That may earn him votes in the presidential poll, with another candidate, Prabowo Subianto, calling for a “face off” with foreign investors to “hammer out fair prices and fair terms.”

Golkar is the only one of the country’s three major parties to declare a candidate so far for July. Bakrie led ex-general Subianto, who represents the smaller Gerindra party, and lagged behind Jakarta Governor Joko Widodo, who hasn’t announced plans to run, in a January poll by the Indonesian Survey Circle.

LNG, Coal

“If we are combining both the electability factor and eligibility, then ARB is number one,” Bakrie said in the Feb. 9 interview, referring to his initials. The 67-year-old grandfather said he is fit to contest the election. “I’m used to walking six kilometers (3.7 miles), that’s circling a soccer field 15 times.”

Indonesia, a former Organization of Petroleum Exporting Countries member, was the world’s largest exporter of liquefied natural gas until 2006. Declining output and increasing domestic demand lowered it to the fifth-biggest shipper of the cooled gas by 2012. The country is the largest exporter of thermal coal for power stations, nickel ore and refined tin.

Indonesia’s LNG output is sold mostly under long-term contracts to overseas buyers, mainly Japan and South Korea. Because of the decline in gas production, domestic buyers in the world’s fourth most-populous nation can struggle for supplies.

Red and White

The government of President Susilo Bambang Yudhoyono has made a series of moves to limit exports of resources in a drive to turn the nation from an exporter of raw materials into a producer of higher-value manufactured goods. Indonesia banned exports of raw mineral ores on Jan. 12, and lawmakers on Feb. 11 passed a trade bill that enables the government to restrict exports and imports to protect local industries.

Indonesia will cap coal output this year at about 5 percent less than the level for 2013, to stem declining prices and to control production because the fuel is not a renewable resource, Edi Prasodjo, a director for coal at the energy ministry, said on Feb. 7.

Bakrie’s comments signal a government he led would probably continue Yudhoyono’s policies. He said Indonesia should resist any pressure from foreign trading partners to interfere in policy making.

“The mood pendulum is not exactly moving toward free markets,” said Wellian Wiranto, a Singapore-based economist at Oversea-Chinese Banking Corp. “Whoever comes to power will have to offer enough nationalist shades of red and white,” he said, referring to the colors of Indonesia’s flag.

Infrastructure

Yudhoyono’s government has reduced state debt, winning the country an investment-grade sovereign credit rating in his second term, while struggling to build the roads, ports and airports needed to attract more investors. The rupiah fell 21 percent last year to be Asia’s worst-performing currency on investor concerns with a trade deficit and persistent inflation.

Yudhoyono is barred by law from seeking a third term.

Economic growth this year may slow to the least since 2009, to between 5.5 percent and 5.8 percent, as the government reins in the current-account deficit, Finance Minister Chatib Basri said Feb. 23. That compares 5.8 percent growth in 2013.

The Southeast Asian nation must spend money to develop infrastructure, including oil refineries, and take a more “aggressive” fiscal stance, said Bakrie, the nation’s coordinating minister for economic affairs from 2004 to 2005. Bakrie said he would focus on rural development and making the country’s fuel and food subsidies more targeted.

Debt

As a minister Bakrie favored free-market policies and was opposed to continuing energy subsidies, fighting to achieve two rises in fuel prices, said Keith Loveard, head of risk analysis at Jakarta-based Concord Consulting.

“The major concern is that he would run the country for its business groups, not for the average Indonesian,” Loveard said in an e-mail today. “A Bakrie presidency would be in some ways similar to his businesses, particularly in the willingness to take on debt that then turns out to be a major weight on performance.”

Stoking nationalist sentiment may benefit Bakrie’s businesses, said Dodi Ambardi, a political analyst at Gadjah Mada University. Protectionism would benefit industries such as steel producers while hurting others such as commodity exporters, he said.

‘Bad Image’

The Bakrie family, a palm oil-to-property empire founded in Sumatra in 1942, rose from collapse in the 1998 Asian financial crisis with the purchase of coal mines from BHP Billiton Ltd, Rio Tinto Plc and BP Plc. That created PT Bumi Resources (BUMI), Indonesia’s largest coal producer.

In 2010, the Bakrie Group and U.K. financier Nathaniel Rothschild struck a $3 billion deal to set up a London-listed coal company, only to see the venture unravel three years later amid boardroom infighting, debt concerns and financial probes in the U.K. and Indonesia. Bumi Resources shares have fallen 96 percent from their 2008 record to 319 rupiah ($0.03) today.

“I am not worried about the bad image that people have of me,” said Bakrie, pointing to his popularity in east Java being highest in the town of Sidoarjo, where in 2006 a gas field run at the time by family company PT Energi Mega Persada spewed mud that covered homes and schools, leading the government to pay compensation.
BSD Akuisisi Epiwalk dari Bakrieland
Oleh Jauhari Mahardhika | Selasa, 11 Februari 2014 | 7:40
investor daily
JAKARTA – PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), unit usaha Grup Sinar Mas, mengakuisisi Epicentrum Walk (Epiwalk) dari PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), perusahaan properti milik Grup Bakrie. Nilai akuisisi mal ritel tersebut sebesar Rp 297 miliar.

Epiwalk berlokasi di kompleks Rasuna Epicentrum, kawasan superblok seluas 53,5 hektare (ha) di Kuningan, Jakar ta Selatan. Sebelumnya, Bumi Serpong Damai atau BSD juga mengakuisisi lahan seluas tiga hektare di Rasuna Epicentrum dari Bakrieland. Nilai akuisisi mencapai Rp 868,9 miliar. BSD akan membangun gedung bertingkat kelas premium di lahan tersebut.

Sementara itu, Epiwalk telah beroperasi sejak 2010. Luas bangunan mal tersebut sebesar 14.850 per meter persegi. Dari luas tersebut, ruang yang bisa disewa sekitar 10.722 per meter persegi. Adapun tingkat okupansi mencapai 85%. “Akuisisi ini sejalan dengan strategi BSD untuk meningkatkan porsi pendapatan berkelanjutan (recurring income) menjadi 20:80 dalam lima tahun ke depan,” jelas manajemen BSD dalam keterangan resmi, Senin (10/2).

Sementara itu, berdasarkan catatan Investor Daily, BSD menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp 3 triliun atau sama dengan tahun lalu.
Owen Holdings, dari Bakrie ke Capitalinc
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Kamis, 06 Februari 2014 | 10:00 WIB

kontan

JAKARTA. Ada yang menarik dari aksi korporasi PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN). Perusahaan minyak dan gas (migas) ini berniat melakukan rights issue. Potensi dana yang bakal diraup mencapai Rp 2,78 triliun.
Berdasarkan prospektus ringkas perusahaan, 93,48% atau Rp 2,52 triliun hasil rights issue akan digunakan untuk mengakuisisi 100% saham Owen Hodlings. Masih segar dalam ingatan, nama Owen muncul pada prospektus rights issue PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
Namun, aksi pasar modal itu urung dilakukan. Alasannya, pasar tidak kondusif. Namun, seperti yang pernah ditulis KONTAN sebelumnya, salah satu pemilik Owen, yaitu Densel Venture Ltd (DVL), dikendarai oleh PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Namun, manajemen BNBR ketika itu pun mengelak.
Nah, MTFN ini pun kerap dikaitkan dengan keluarga Bakrie. Pasalnya, ketika perusahaan mengubah haluan bisnis dari perusahaan pembiayaan ke perusahaan minyak dan gas (migas), Seng Hoo Ong didapuk menjadi presiden direktur.
Seng adalah menantu keluarga Bakrie. Ia adalah suami dari Adinda Bakrie, putri Indra Bakrie. Namun, kini posisi puncak manajemen ini diisi oleh Srinivasa Bhat Vinayaka Bandagadde. Tambahan informasi, Capitalinc merupakan bagian dari Grup Recapital.
Namun, manajemen MTFN menjelaskan, transaksi ini bukan transaksi terafiliasi. Lebih lanjut, dari prospektus MTFN diketahui telah terjadi perubahan kepemilikan atas Owen. Jika sebelumnya pemegang saham Owen adalah DVL dan ND Owen Holdings Limited, kini posisi ND diganti oleh OG Resources Limited (OGR).
DVL menguasai 69,39%, sedangkan OGR sebesar 30,61%. Asal tahu saja, penilaian atas 100% saham Owen adalah US$ 228,81 juta. Namun, MTFN akan mengeluarkan US$ 225 juta untuk mengakuisisinya.
Disebutkan pula, DVL melakukan pelunasan utang kepada Owen sebesar US$ 80,24 juta atau sekitar Rp 962,27 miliar (1 US$= Rp 12.000). Dana ini akan digunakan untuk melunasi utang Owen yang akan jatuh tempo akhir 2014 dan 2015.
Manajemen MTFN mengatakan, akuisisi Owen bisa meningkatkan investasi dan pendapatan perseroan di sektor migas. Selain itu, “meningkatkan keuangan perseroan, memberi nilai tambah kepada pemegang saham”.
Owen merupakan pemilik 49% saham EMP International Ltd (EIBL). EIBL memiliki 100% saham EMP ONWJ Ltd (EON) yang merupakan pemilik 36,72% working interest di Blok Offshore North-West Java (ONWJ) PSC. Adapun penandatanganan perjanjian jual beli bersyarat (CSPA) dengan pemilik Owen telah dilakukan pada 30 Januari 2014.
Editor: Asnil Bambani Amri
Bakrie Pangripta Loka Tambah 5 Tower di Sentra Timur
Oktaviano DB Hana – Rabu, 29 Januari 2014, 19:38 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bakrie Pangripta Loka, anak usaha dari PT Bakrieland Development Tbk., berencana memulai pengembangan lanjutan hunian vertikal pada proyek Superblok Sentra Timur dengan membangun lima tower apartemen pada pertengahan 2014.

Direktur Utama PT Bakrie Pangripta Loka Dicky Setiawan mengungkapkan pengembangan lanjutan tersebut akan menyediakan sekitar 2.000 unit apartemen. Menurutnya, hunian tersebut akan terdiri dari tiga tipe, yakni dari tipe studio atau satu kamar hingga dua kamar.

“Kita rencana pertengahan atau akhir tahun launching 5 tower, sekitar 2.000 unit,” ungkapnya di sela-sela media gathering, Rabu (29/1/2014).

Untuk pembangunan lima tower tersebut, dia menyatakan pihaknya telah menyiapkan invesatsi sekitar Rp300 miliar. Sementara itu, dia mengatakan unit apartemen tersebut akan dipasarkan pada kisaran harga Rp300 juta-Rp400 juta.

Dicky menambahkan pengembangan tersebut merupakan bagian dari rencana pembangunan 14 tower apartemen di kawasan Superblok Sentra Timur yang digagas bersama Perum Perumnas di atas lahan seluas 40 hektare.

“Sejak 2008, kami telah mengembangkan lima tower apartemen dengan total unit mencapai 2.150,” imbuhnya.

Adapun, proyek Superblok Sentra Timur rencananya dikembangkan menjadi sebuah kawasan pusat bisnis (central business district) hingga 7 tahun ke depan.

Dalam kawasan tersebut telah dikembangkan Sentra Timur Commercial, perumahan Mutiara Platinum dan Mutiara Sanggaha, serta hotel, convention centre dan tower perkantoran yang masih dalam perencanaan.
Fitch: Rating BTEL paling rendah
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Rabu, 29 Januari 2014 | 15:51 WIB

kontan

JAKARTA. PT Fitch Ratings Indonesia memberikan outlook positif bagi tiga perusahaan perkebunan. Ketiga perusahaan tersebut merupakan afiliasi dari Grup Sinarmas.
Eddy Handali, Direktur Rating Fitch Ratings Indonesia bilang, dari total 78 perusahaan yang diberi peringkat, hanya tiga yang memiliki outlook positif.
“Ketiganya adalah perusahaan perkebunan yang terkait SMART (PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk),” ujarnya, Rabu (29/1).
Alasannya, lanjut Eddy, pihaknya melihat ada sentimen positif dari pasar terhadap kemampuan perusahaan jika ingin menerbitkan obligasi. Selain itu, dukungan dari induk usaha yang mumpuni semakin mengokohkan posisi Sinar Mas.
Adapun, peringkat terendah untuk obligasi dari total perusahaan yang diberi peringkat oleh Fitch adalah PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Pada November 2013 lalu, Fitch menurunkan peringkat obligasi BTEL dari CC ke C
Hal ini lantaran perusahaan dinilai tidak mampu membayar kupon obligasi senilai US$ 21,8 juta. Adapun, total utang obligasi itu mencapai US$ 380 juta.
Editor: Asnil Bambani Amri
Bakrieland Setuju Tanah 600 Hektar Jadi Jaminan Utang ke Bank of New York
Herdaru Purnomo – detikfinance
Minggu, 08/12/2013 14:25 WIB

Jakarta -Para pemegang obligasi (Bondholders) PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) melalui Bank of New York Mellon, London, UK (selaku Trustee) mencabut permohonan kasasi perihal Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Hal ini merupakan kasus lanjutan dari Bakrieland telah memenangkan gugatan PKPU di Pengadilan Niaga Jakarta oleh Bank of New York. Bakrieland memiliki total utang obligasi senilai US$ 155 juta (Rp 1,5 triliun) kepada Bank of New York Mellon cabang London, Inggris.

Utang tersebut akan jatuh tempo pada 2015 mendatang. Namun, pihak bondolders meminta kepada Bakrieland untuk mempercepat pembayaran utang tersebut di tahun 2013. Oleh sebab itu, PKPU berlanjut di tingkat kasasi yang pada akhirnya permohonan kasasi dicabut Bank of New York Mellon.

PKPU tersebut diinisiasi oleh Bondholders setelah dianggap upaya restrukturisasi atas obligasi terkait tidak mencapai kesepakatan di antara Bakrieland dan Bondholders.

Dalam keterangan persnya, Minggu (8/12/2013), Chief Corporate Affairs Officer ELTY, Yudy Rizard Hakim menjelaskan Bakrieland telah menyampaikan negosiasi untuk restrukturisasi tidak akan dilakukan kecuali setelah Permohonan Kasasi tersebut dicabut.

“Sebagai langkah awal dengan niat baik, Bondholders setuju untuk mencabut Permohonan Kasasi sehingga dapat duduk bersama kembali guna melakukan negosiasi dengan Bakrieland,” kata Yudi.

Para Pihak memahami bahwa pencabutan atas Permohonan Kasasi tersebut adalah guna memfasilitasi penyelesaian yang baik bagi kedua belah pihak dan tidak diartikan sebagai pengakuan Bondholders atas Putusan Pengadilan Niaga tersebut
“Dalam proses negosiasi, Bakrieland secara prinsip menyetujui untuk menjaminkan asetnya berupa tanah dengan luas sekitar 600 hektar di kawasan Sentul dan atau Bogor yang dinilai cukup menjadi jaminan kepada Bondholders dalam proses restrukturisasi,” kata Yudi lagi.

Serta akan melakukan upaya maksimal untuk menjaga nilai dari aset tersebut hingga finalisasi penyelesaian restrukturisasi obligasi secara komprehensif dalam jangka waktu 2 bulan kedepan dengan catatan jangka waktu tersebut dapat diperpanjang bila diperlukan dan disepakati oleh kedua belah pihak.

Untuk sementara waktu, Bakrieland dan Bondholders akan mengupayakan untuk menyepakati kondisi standstill pada tanggal 19 Desember 2013,termasuk sepakat untuk tidak mengeluarkan pernyataan publik apapun atau disclosure tentang Obligasi terkait dengan pihak manapun kecuali
bila diharuskan oleh Peraturan dan Undang–Undang yang berlaku di Indonesia dan atau telah disepakati bersama sebelumnya oleh kedua belah pihak.

“Telah disepakati bersama pula bahwa kedua belah pihak dapat mencari opsi lain, dalam hal restrukturisasi tidak tercapai,” kata Yudi.
Terlilit Utang, BNBR Gencar Jual Anak Usaha
Editor – Senin, 25 November 2013, 08:02 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Untuk dapat mengurangi jumlah utangnya yang mencapai US$490 juta (atau setara Rp5,39 triliun) dan Rp978 miliar per akhir kuartal III/2013, PT Bakrie & Brothers Tbk diperkirakan akan kembali menjual anak usahanya, selain PT.Bakrie Pipe Industries BPI) yang kini tengah dilego.

Reza Nugraha, analis MNC Securities, memprediksi anak usaha yang akan dilepas kemudian adalah yang tidak tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Adapun, Direktur Utama dan CEO Bakrie & Brothers (BNBR) Bobby Gafur Umar mengatakan perseroan mulai berusaha mengurangi utang sekitar Rp6,7 triliun sejak pertengahan tahun ini.

“Kami berencana menjual aset. Sebanyak 60%-70% utang jangka pendek akan kami perpanjang. Pada tahun depan, kami akan pangkas total utang kami 50% dari jumlah saat ini,” katanya.

BNBR akan menempuh beberapa cara untuk menekan jumlah utangnya yang membengkak. Perseroan bakal menjual kepemilikan sahamnya di BPI, anak usaha yang memproduksi pipa baja untuk sektor minyak dan gas.

Hingga akhir September 2013, pinjaman jangka pendek BNBR ke Credit Suisse AG cabang Singapura sebesar Rp2,25 triliun. Ini nilai pinjaman paling besar dari total pinjaman jangka pendek Rp4,1 triliun. Dana hasil divestasi BPI diprediksi tidak cukup untuk melunasi utang ke Credit Suisse.

BNBR butuh pendapatan besar agar dapat melunasi pinjaman. Untuk itu, perseroan akan menggenjot investasi di sektor manufaktur untuk jangka pendek dan sektor infrastruktur untuk jangka panjang.

Perseroan memiliki proyek raksasa di bawah PT Bakrie Indo Infrastructure, yakni pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Tanjung Jati 2×660 MW di Cirebon, Jawa Barat. Proyek sekitar US$2 miliar itu akan beroperasi 4 tahun mendatang.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: