Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Juni 27, 2014

RUGI @bumi … 3006-2509/2013-27062014

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:10 am

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali mengoreksi target perolehan dana dari rights issue alias Penawaran Umum Terbatas IV dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Kali ini, berdasarkan prospektus yang dipublikasikan kemarin (26/6), BUMI akan merilis saham biasa seri B maksimal 32,2 miliar unit.

Jumlah ini lebih banyak dari rencana awal dalam prospektus 6 Mei 2014 sebanyak 26,17 miliar saham. Harga pelaksanaan rights issue tetap sama, yakni Rp 250 per saham.
Perubahan ini mengerek target dana rights issue BUMI menjadi Rp 8,05 triliun. Di prospektus awal, nilai rights issue Rp 6,54 triliun.

Satu hal baru yang menarik adalah poin tentang penyerapan rights issue. BUMI menyatakan, jika ada saham yang tak terserap, sebanyak 13,8 miliar saham baru akan dialokasikan ke beberapa pihak. Salah satunya ke unit Grup Bakrie, Long Haul Holdings Limited, yang akan mengambil 6,9 miliar saham atau setara senilai US$ 150 juta.

Dana dari Long Haul ini akan dipakai untuk melunasi sebagian utang BUMI ke Country Forest Limited (CFL), anak usaha China Investment Corporation (CIC).

Dalam penjelasan resmi ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 Oktober 2013, BUMI menyatakan memiliki utang ke CIC senilai total US$ 1,78 miliar. Utang itu terbagi menjadi tiga bagian, yaitu pokok pinjaman US$ 1,3 miliar, penalti atas keputusan BUMI mempercepat pembayaran utang US$ 425 juta dan bunga pinjaman US$ 62 juta.

Selain memakai dana rights issue, pokok utang BUMI senilai US$ 1,3 miliar akan ditukar dengan saham dua anak usahanya. CIC akan meraih 19% saham Kaltim Prima Coal (KPC) senilai US$ 950 juta. BUMI juga akan menyerahkan 42% saham Bumi Resources Mineral (BRMS) senilai
US$ 257,4 juta ke CIC.

Selain untuk melunasi utang ke CIC, BUMI mengalokasikan 6,9 miliar saham baru untuk membayar utang US$ 150 juta ke Castleford Investment Holdings Ltd. BUMI mengklaim, skema konversi utang menjadi saham itu telah diteken pada 10 Juni 2014.

Kelak, Castleford menguasai 18,84% saham BUMI setelah rights issue. “CIC dan Castleford telah setuju mengkonversi utang menjadi ekuitas,” tulis Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI kepada KONTAN, Kamis (26/6).
Menurut dia, skema ini bertujuan memperbaiki kondisi keuangan BUMI di tengah meredupnya harga batubara. BUMI menunjuk Danatama Makmur sebagai pembeli siaga rights issue. Danatama akan menyerap maksimal 2,04 miliar saham. Jika mengeksekusi haknya, Danatama akan memiliki 5,58% saham BUMI.Dengan skenario baru ini, rights issue BUMI akan memberikan efek dilusi 55,75% terhadap porsi publik.

Kiswoyo Adi Joe, analis Investa Saran Mandiri, menilai, perubahaan ketentuan rights issue ini kian merugikan investor publik yang memiliki saham BUMI. Soalnya, skema baru yang menjadikan Long Haul dan Danatama sebagai pembeli siaga rights issue BUMI, tak memberi nilai positif. “Semuanya terafiliasi Grup Bakrie, ini hanya keluar dari kantong kanan, masuk ke kantong kiri,” katanya. Kiswoyo menyarankan, investor menjauhi saham BUMI.

http://investasi.kontan.co.id/news/bumi-bidik-rp-8-triliun-dari-rights-issue

Sumber : KONTAN.CO.ID
JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali merevisi ketentuan penerbitan saham baru guna mendulang fulus. Dalam prospektus terbaru, perusahaan batubara milik Grup Bakrie ini berencana melepas 32,19 miliar saham seri B. Nilai per saham dibanderol Rp 250 per saham.

Dengan demikian, total dana hasil rights issue ini mencapai Rp 8,04 triliun. Angka ini lebih besar dari rencana semula yang sebanyak 25,17 miliar saham di harga yang sama. Sehingga dana yang kana dihimpun ketika itu sekitar Rp 6,5 triliun.

Kali ini, Long Haul Holdings Limited (LHH), Castleford Investment Holdings Ltd, dan PT Danatama Makmur akan menjadi pembeli siaga BUMI. LHH akan mengeksekusi 6,9 miliar saham baru atau sekitar Rp 1,725 triliun. Angka ini setara dengan US$ 150 juta.

Saham yang diserap LHH ini nantinya akan digunakan untuk pelunasan sebagian utang BUMI kepada Country Forest Limited (CFL). Seperti diketahui, salah satu mekanisme penyelesaian utang BUMI kepada CFL adalah membayarnya dengan saham baru.

Selanjutnya, Castleford juga akan mengeksekusi 6,9 miliar saham BUMI. Ini merupakan bagian dari perjanjian penyelesaian utang (debt settlement agreement) yang disepakti 10 Juni 2014.

Kemudian, sebanyak 2,04 miliar saham akan diambil oleh Danatama. Adapun, rasio rights issue kali ini adalah setiap 20 pemegang saham seri A berhak atas 31 HMETD yang nantinya setiap HMETD bisa digunakan untuk memmbeli satu saham baru seri B.

Sebagai perbandingan, rasio rights issue BUMI sebelumnya adalah 50:63. Selain untuk menyelesaikan utang kepada CFC dan Castleford, dana hasil rights issue ini juga akan digunakan untuk membayar utang kepada CDB, Axis Bank L 2011, Credit Suissse 2010-2 Deutsche Bank 2011, UBS AG 2012-1 sebesar US$ 150 juta atau Rp 1,72 triliun. Kurs yang digunakan adalah Rp 11.500 per saham.

Kemudian, US$ 15,8 juta atau setara dengan Rp 182 miliar untuk memenuhi kebutuhan operasional dan pembayaran bunga. BUMI juga akan menggunakan dana seebsar US$ 48 juta ata Rp 552 miliar untuk Gallo Oil (Jersey) Ltd.

Sebesar US$ 32,58 juta atau Rp 374,67 miliar akan dialokasikan untuk studi kelayakan konsesi tembaga dan emas milik anak usaha perseroan, PT Gorontalo Minerals. BUMI pun akan menggunakan dana hasil penerbitan saham baru ini untuk menyelesaikan sebagian utang obligasi dollar Enercoal Resources Pte. Ltd.

Nilai alokasi dananya sebesar US$ 150 juta. Adapun, total utang yang akan jatuh tempo Agustus 2014 ini mencapai US$ 375 juta. Namun, hasil rights issue hanya dieksekusi oleh pembeli siaga, maka BUMI hanya akan mengantongi dana sekitar Rp 3,96 triliun.

Manajemen BUMI pun sudah mengantisipasi hal ini. Perseroan hanya akan menggunakan dana itu untuk menyelesaikan utang anak usaha China Investment Corporation, CFL dan Caslteford. Masing-masing nilainya setar dengan US$ 150 juta. Sisanya, sekitar US$ 15,8 juta akan dipakai untuk biaya opearsional dan pembayaran bunga.

Kini, pemegang saham BUMI adalah Credit Suisse AG SG Branch S/A CSAGSING-LHH (LHHL-130M)2023334064 sebesar 23,09%. Raiffeisen Bank International AG, Singapore Branch S/A Long Haul Holdings Ltd sebesar 6,09%. Keduanya merupakan representasi dari kepemilikan Grup Bakrie. Adapun, sebesar 70,82% adalah miilk publik.
Editor: Sanny Cicilia

Bumi Warns of Default If Restructuring Consent Not Won

PT Bumi Resources (BUMI) is “highly likely” to miss payment on $375 million of convertible bonds in August if holders don’t agree to a proposal to delay the debt’s maturity, it said in a memorandum to noteholders.

The Indonesian coal miner is seeking consent to amend the terms of the bonds, including extending the debt’s maturity to July 2021 from Aug. 5 and cutting the annual coupon to 7 percent from 9.25 percent, according to a June 5 consent solicitation memorandum obtained by Bloomberg News. It hasn’t paid the coupon that came due on June 5, the document shows.

“The delay in bond maturity will give them some breathing space to repay bondholders,” Amit Jain, a credit analyst in Bangalore at SJS Markets Ltd. said by phone. “The trouble is, they’re already finding it difficult to pay some bond coupons” and there will continue to be “liquidity pressure without any recovery in coal prices,” he said.

The bond restructuring represents another obstacle to the miner that’s trying to ease its financial burden after coal prices extended a two-year slump to the lowest level since 2009. The group is negotiating with lenders including Deutsche Bank AG and China Development Bank Corp. to help ease $4.7 billion of short-term liabilities.

Dileep Srivastava, a Bumi director in Jakarta, declined to comment on the contents of the memorandum when reached by phone today.

Coal Slide

The convertible notes were little changed at 38.653 cents on the dollar as of 6 p.m. in Hong Kong after earlier falling 3.3 cents, according to Bloomberg-compiled prices. They’ve lost 30 percent this year through yesterday, while the stock has slumped 35 percent in Jakarta over the same period.

Bumi, controlled by Indonesia’s Bakrie family, posted losses in the past two years as benchmark coal prices in the Southeast Asian nation slid 8.4 percent this year through last month to the lowest level since 2009. It avoided a default yesterday by paying an overdue 12 percent coupon on its $300 million November 2016 bonds, according to a filing to the Indonesian stock exchange.

The group refinancing plans also entail selling as many as 26.17 billion of new shares to repay $1.3 billion to China Investment Corp., according to statement last month. That comes after the completion of a $501 million breakup in March from a venture with U.K. financier Nathaniel Rothschild.

Conversion Price

Lenders have consented to a plan to reorganize its debt with China Investment Corp., Srivastava said in the exchange filing yesterday. Bumi has a $600 million credit line with China Development Bank, and a combined $542.5 million of facilities with Axis Bank Ltd., Deutsche Bank, Credit Suisse Group AG, WestLB AG and UBS AG, according to the June 5 memorandum.

Among proposed changes to its convertible debt, Bumi is also seeking to change the conversion price of stock to 750 rupiah per share ($0.06) from 3,366.9 rupiah, the document shows. Bumi is also planning to reduce the amount of convertible notes outstanding to $250 million, via an option that requires mandatory conversion into shares from a rights offering, it said.

Holders of the convertible bonds have until June 18 to give their consent to the amendments, according to the company. The resolution will require at least 75 percent of votes cast at a bondholders meeting to be held on June 20 in Singapore, according to the document.

Standard & Poor’s ranks Bumi’s debt at CC, a level that’s deemed highly vulnerable to non-payment and two steps away from outright default. It said in October there was a realistic possibility of a conventional default within 12 months.

As Bumi reorganizes, other parts of the Bakrie group are also facing financial strain. Fitch Ratings Ltd. cut PT Bakrie Telecom to ‘restricted default’ on May 30. The phone operator in December defaulted on a coupon payment on $380 million of 11.5 percent notes due May 2015, Fitch said.

Bareksa.com – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berhasil menghindari ancaman gagal bayar (default) setelah melunasi kupon obligasi sebesar USD 18 Juta.

BUMI telah mencapai kesepakatan dengan China Investment Corporation (CIC) selaku kreditor utama dari utang tersebut. Penyelesaian kupon serta utang sebesar USD1,3 miliar dilakukan dengan beberapa cara.

Salah satunya dengan transfer aset PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 19 persen dari total kepemilikan dan aset PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) sebesar 42 persen dari total kepemilikan (dilansir dari Investor Daily).

BUMI juga merencanakan penerbitan saham baru melalui right issue dengan target dana sebesar Rp6,5 triliun

“Kapitalisasi pasar BUMI per 12 Juni 2014 sebesar Rp4 triliun, artinya target dana right issue melebihi nilai kapitalisasi pasarnya. Tentu ini akan merugikan investor terkait dampak dilusinya. Prosentase kepemilikan investor lama akan berkurang hingga lebih dari setengah nilai saat ini” menurut Lanang Trihadian, Analis PT Syailendra Capital.

Kemudian terkait transfer aset, Lanang juga mempertanyakan hal tersebut. KPC merupakan kontributor utama pendapatan BUMI, dengan kepemilikan saat ini kurang lebih sekitar 50 persen. Jika KPC dialihkan lagi maka BUMI akan menjadi pemegang saham minoritas di KPC, lalu bagaimana dengan pendapatan selanjutnya?

Lanang menyampaikan cadangan batubara yang dimiliki BUMI terbesar di Indonesia. Didukung juga dengan infrastruktur yang mumpuni karena memiliki conveyor belt sendiri serta akses lokasi yang strategis dimana dekat dengan laut dan sungai.

Dari segi kualitas aset, BUMI mengungguli produsen batubara lain di Indonesia, tetapi dari segi kinerja keuangan berada jauh dibawah.

 

Grafik Perbandingan Pinjaman Jangka Pendek dengan Laba Usaha Periode September 2011-2013 (In million USD)

keu BUMI 2014

Sumber : Bareksa.com, diolah

Dari laporan keuangan dari kuartal III-2011, total pinjaman jangka pendek tercatat melonjak akibat utang CIC yang jatuh tempo pada tahun ini.

Laba usaha BUMI pun terus mengalami penurunan dari tahun 2011 hingga tahun 2013 sebagai imbas dari pelemahan harga batu bara dan tingginya beban usaha.  Selain itu, kerugian yang dialami BUMI dalam dua tahun terakhir menyebabkan total ekuitas perseroan tercatat USD -492,65 juta.

Investor masih menunggu siapakah yang akan menjadi standby buyer (pembeli) dari right issue BUMI nantinya, apakah pemegang saham mayoritas sebelumnya atau akan ada investor baru ? (NP)

 

Grafik Perbandingan Laba (Rugi) Bersih dengan Ekuitas Periode September 2011-2013 (In million USD)

keu BUMI 2014B

Sumber : Bareksa.com, diolah

INILAHCOM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengajukan permohonan persetujuan penjamin Obligasi Konversi Berjamin senilai US$375 juta pada 5 Juni 2014.

Obligasi tersebut merupakan milik anak perusahaan Enercoal Resources Pte, Ltd. Obligasi konversi berjamin ini, menurut Direktur BUMI Dileep Srivastava, memiliki kupon 9,25% dan berjatuh tempo Agustus 2014.

Permohonan tersebut melalui Rapat Para Pemegang Obligasi Konversi yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Juni 2014. Demikian mengutip keterbukaan informasi BEI, Jumat (6/6/2014).

RUPS tersebut mengagendakan memperpanjang jatuh tempo Obligasi Konversi. Perseroan akan mengubah harga konversi dan kupon obligasi

Perseroan akan mempertimbangkan konversi wajib berdasarkan opsi yang dimiliki oleh penerbit obligasi hingga nilai maksimum sebesar US$125 juta. Selain itu rencana untuk menempatkan obligasi konversi tersebut pada posisi sederajat (pari passu) dengan utang senior berjamin lain.

Perseroan menunjuk Deutsche Bank AG akan bertindak sebagai agen. Sedangkan The Bank of New York Mellon akan bertindak sebagai Tabulation Agent untuk memberikan persetujuan tersebut.
INILAHCOM, Jakarta – Gali lubang tutup empang. Mungkin plesetan paribahasa ini cocok dengan langkah korpo
rasi PT Bumi Resources, Tbk Rabu (7/5/2014) ini.

Betapa tidak, perusahaan milik keluarga Aburizal Bakrie (Ical) ini tiba-tiba saja mengumumkan akan menerbitkan saham baru melalui mekanisme hak pemesanan efek terlebih dahulu (HMETD) alias right issue sebanyak 26,17 miliar lembar saham. Rencananya, saham baru itu akan dilego pada harga Rp250/lembar. Jika langkah ini sukses, emiten berkode BUMI ini akan mendulang fulus Rp6,54 triliun!

Bakal punya banyak duit, dong? Tidak juga. Pasalnya, sebagian besar duit publik yang bakal diraup itu akan digunakan untuk membayar utang-utang BUMI yang segede gajah bunting berpenyakit beri-beri, dan disengat tawon pula. Itulah sebabnya, plesetan peribahasa yang aslinya berbunyi ‘gali lubang tutup lubang’ tadi, seperti pas untuk menggambarkan corporate action BUMI.

Menurut prospektus yang dirilis, perusahaan tambang batubara itu akan menggunakan dana hasil right issue-nya untuk membayar utang kepada tiga perusahaan. Pertama, utang kepada China Investment Corporation (CIC), sebesar US$150 juta. Jumlah ini setara dengan Rp1,72 triliun.

Asal tahu saja, utang tersebut diperoleh melalui Country Forest Limited (CFL) pada 18 September 2009. Seiring berjalannya waktu, total sisa pinjaman masih tersisa US$1,3 miliar. Dari jumlah itu, US$600 juta di antaranya akan jatuh tempo 18 September tahun ini. Sedangkan US$700 juta sisanya harus dilunasi sebelum 18 September tahun depan.

Berdasarkan tabiatnya, BUMI memang doyan ekspansi. Sayangnya langkah ini dilakukan tidak dengan kas sendiri, melainkan lewat menjala utang. Contohnya, pinjaman dari CIC tersebut digunakan untuk membayar saldo utang yang timbul dari akuisisi tidak langsung atas kepemilikan saham BUMI di PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Fajar Bumi Sakti, dan PT Pendopo Energi Batu bara. Nah sisa pinjaman itu, digunakan juga untuk pembayaran utang-utang sebagian anak usaha. Sisanya baru buat modal kerja dan keperluan operasional umum BUMI.

Kembali ke hasil right issue kali ini, jika BUMI membayar US$150 juta dari US$1,3 miliar utangnya ke CIC, maka masih ada US$1,150 miliar lagi sisanya. Dengan kurs kurs tengah Bank Indonesia (BI) hari ini yang Rp11.527 per dolar AS, sisa utang itu setara dengan Rp13,256 triliun! Sekadar mengingatkan saja, utang ke CIC yang masih US$1,3 miliar itu sudah turun dibandingkan dengan posisi akhir 2013 yang mencapai US$1,78 miliar. Bisa jadi dalam rentang waktu itu, BUMI sudah membayar US$480 juta.

Kedua, utang lainnya yang akan dilunasi adalah kepada Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$150 juta atau setara Rp1,72 triliun. Dulu, pinjaman ini diperoleh pada 14 November 2013, yang, lagi-lagi, digunakan untuk ekspansi anak usaha.

Sedangkan yang ketiga, sebesar US$225 juta atau senilai Rp2,58 triliun untuk membayar sebagian guaranteed convertible bond due 2014 serta beberapa fasilitas utang BUMI kepada para kreditur lain. Surat utang tadi diterbitkan pada 5 Agustus 2009.

Jika ada sisa dana dari hasil rights issue, sekali lagi; jika ada sisa, manajemen akan menggunakannya untuk modal kerja.

Paska right issue kali ini, jika sukses, utang BUMI kepada CIC saja masih sekitar Rp13,256 triliun. Jumlah ini tidak termasuk utang kepada beberapa kreditur lain dan sisa kewajiban obligasi yang diterbitkan sebelumnya.

Taruhlah kita tutup mata dengan berbagai kewajibannya terhadap pemberi utang lainnya tadi, maka dana hasil right issue yang Rp6,54 triliun itu seperti ditelan pasir saja. Gali lobang untuk menutup empang? Ehem…

Tulisan ini berkali-kali menambahkan frase ‘kalau sukses’ memang bukan tanpa dasar. Pasalnya, saham baru itu bakal dilego pada Rp250/lembar. Padahal, harga saham BUMI di pasar kemarin ditutup pada Rp196/lembar. Artinya, ada selisih harga Rp54/lembar. Sebagai perbandingan saja, pada 6 mei 2008, harga saham perusahaan yang pernah menjadi mesin uang Keluarga Bakrie ini pernah menyentuh Rp6.800/lembar.

Kinerja BUMI dalam dua tahun terakhir ini juga bisa dibilang jeblok. Pendapatan perseroan 2013 tercatat US$3.547,32 juta. Dibandingkan tahun sebelumnya yang US$3.775,52 juta, walau tipis jelas ada penurunan. Laba usaha juga menciut dari US$432,28 juta tahun 2012 jadi US$230,05 juta. Lalu, nah ini yang tidak kalah pentingnya, dalam dua tahun berturut emiten ini mengalami rugi telak, masing-masing US$666,21 juta (2012) dan US$609,01 (2013).

Awan mendung tampaknya masih tetap akan membayangi BUMI. Kinerja yang di bawah banderol itu, masih mendapat ancaman dari belum pulihnya harga batubara di pasar internasional. Penyebabnya, konsumsi batubara China masih terus menyusut. Maklum, Negeri Tirai Bambu ini adalah konsumen emas hitam yang paling rakus di dunia.

Tekanan lain juga datang dari dalam negeri. Pemerintah dikabarkan segera menerbitkan beleid pembatasan ekspor batubara. Hal paling menyeramkan dari rencana pemerintah itu adalah pembatasan ekspor batubara.

Kebijakan tersebut ditempuh lewat tiga cara. Pertama, mematok pertumbuhan produksi batubara nasional maksimal 1% per tahun. Kedua, menentukan kuota produksi setiap provinsi dan kalori. Ketiga, memberi wewenang provinsi dan kabupaten/kota untuk menetapkan kuota produksi bagi masing-masing perusahaan.

Tak pelak lagi, ke depan makin banyak hantu menyeramkan bakal mengepung batubara. Pertanyaanya, adakah investor yang mau merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli saham emiten dengan kewajiban utang segede gunung dan prospek yang aduh duh…? [*]

Tambang Grup Bakrie Masih Rugi Rp 6 Triliun
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Senin, 14/04/2014 13:44 WIB


Jakarta -PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih mencatat kinerja yang negatif di akhir 2013. Perusahaan tambang itu masih rugi US$ 609 juta (Rp 6,09 triliun).

Rugi ini sudah berkurang jika dibandingkan rugi di tahun sebelumnya US$ 666 juta (Rp 6,66 triliun). Seperti dikutip dari laporan kinerja keuangan BUMI, Senin (14/4/2014), menutup tahun 2013 pendapatan tambang milik Grup Bakrie tercatat sebesar US$ 3,54 miliar, turun tipis 6,04%, jika dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 3,77 miliar.

Beban perseroan malah naik, terutama gara-gara harga jual batu bara yang masih rendah. Beban BUMI di akhir 2013 dibukukan sebesar US$ 2,81 miliar, bandingkan dengan tahun lalu US$ 2,791.

Naiknya beban ini membuat laba kotor perseroan anjlok 30,25% menjadi US$ 686,20 juta di akhir 2013, lebih kecil dari sebelumnya US$ 983,90 juta.

Perseroan mengalami rugi selisih kurs yang bertambah banyak menjadi US$ 136,90 juta pada 2013, padahal di tahun sebelumnya hanya US$ 47,89 juta. Hal yang menyumbang kerugian perusahaan.

Berkurangnya kerugian perseroan ini berimbas kepada berkuranganya rugi per saham perusahaan, yaitu dari US$ 32,82 per 1.000 lembar saham menjadi hanya US$ 30 per 1.000 lembar saham.

(ang/dnl)
Saham Group Bakrie
Harga BUMI makin mendekati bumi
Oleh Dityasa H Forddanta – Selasa, 08 April 2014 | 19:50 WIB
kontan

JAKARTA. Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menemukan level terendahnya. Hingga penutupan perdagangan hari ini Selasa (8/4), saham BUMI anjlok 4,2% ke Rp 251 per saham.

Sebenarnya, ada beberapa hal yang seharusnya menjadi sentimen positif bagi pergerakan saham BUMI. Mulai dari soal selesainya perseteruan antara BUMI dengan Rothschild hingga lampu hijau pemegang saham atas rencana pengurangan utang senilai US$ 2 miliar tahun ini.

“Tapi, sentimen itu butuh waktu karena ini semua baru ketuk palu, belum ada pelaksanaannya secara nyata,” tandas Kiswoyo Adi Joe, Managing Partner Investa Saran Mandiri kepada KONTAN, (8/4).

Memang, soal pelunasan utang BUMI baru memperoleh persetujuan pemegang saham belum lama ini. Lampu hijau tersebut pun baru menyala setelah BUMI beberapa kali gagal menggelar RUPS. Rencana pembayaran utang ini juga belum bisa dipastikan apakah akan menyehatkan keuangan perusahaan atau justru memberatkan kinerja BUMI di masa mendatang.

Belum lagi, predikat yang telah melekat selama ini akibat semua persoalan yang dialami oleh BUMI. “Aset perusahaan ini bagus, bagus banget malah, tapi sayang GCG -nya aneh-aneh,” tambah Kiswoyo.

Bukan hanya saham BUMI yang mengalami penurunan hingga sore tadi. Saham-saham Grup Bakrie yang lain seperti saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) juga anjlok 3,44% ke level Rp 309 per saham.

Menyoal saham VIVA, Kiswoyo menilai ada keterkaitan pergerakan saham ini dengan IPO anak usahanya, yakni PT Intermedia Capital. Pelaku pasar sudah paham jika sebenarnya aset yang dimiliki oleh pemilik stasiun ini kurang baik, sehingga hal ini menjadi sentimen negatif.

“Daripada nanti enggak ada yang menyerap saham perdana sehingga semakin menambah sentimen, jadi lebih baik jual sekarang, sehingga hari ini kesannya menjadi panic selling. Kebetulan, enggak ada bandar yang mau mengerem penurunan saham ini,” tutur Kiswoyo.

Tambahan saja, beberapa saham Grup Bakrie lain yang mengalami penurunan adalah, saham ENRG yang turun 1,01% ke level Rp 98 per saham dan saham BORN turun 6,5% ke level Rp 115 per saham.

Logis saja jika tren penurunan ini juga ada kaitannya dengan penyelenggaraan pemilu legislatif besok. “Pasar pesimistis Ical bakal terpilih,” pungkas Kiswoyo.

Editor: Djumyati Partawidjaja
Bumi Resources Rugi US$58 Juta Investasi di Afrika, Simak Ulasannya
Ardhanareswari AHP – Jum’at, 04 April 2014, 07:58 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), emiten di bawah Grup Bakrie, mendivestasikan kepemilikan sahamnya pada dua perusahaan pertambangan di Afrika dan mengalami kerugian US$58 juta atau sekitar Rp655 miliar dari divestasi tersebut.

Dalam keterangan resmi yang rilis BRMS pada Kamis (3/4), manajemen perseroan menyebutkan perseroan mendivestasikan kepemilikan sahamnya pada dua aset tambang di Afrika. BRMS melepaskan seluruh kepemilikannya pada tambang bijih besi yang berlokasi di Mauritania, Afrika Utara pada perusahaan lokal bernama Rubis International Ltd.

Adapun, kepemilikan perseroan pada perusahaan tambang emas dan berlian di Liberia, Afrika Barat saat ini hanya tinggal 5%. Namun, dalam rilisnya manajemen BRMS tidak menyebutkan entitas perusahaan yang menaungi aset tambang yang didivestasikan itu.
Mengutip laporan keuangan kuartal III/2013 BRMS, perusahaan itu melakukan investasi pada perusahaan yang memiliki konsesi tambang di wilayah Afrika.

Menurut laporan tersebut, BRMS tercatat mengurangi kepemilikan sahamnya pada Konblo Bumi Inc. dari 94,10% pada Desember 2012 menjadi hanya 5% per 30 September 2013.

Konblo Bumi adalah perusahaan pemilik tambang emas dan berlian di Liberia, Afrika Barat. Perusahaan ini dimiliki oleh BRMS melalui Lemington Investments Pte. Ltd.

Pada penghujung 2012, BRMS juga ter catat berinvestasi di Tamagot Bumi S.A., sebuah perusahaan tambang bijih besi di Mauritania, Afrika Utara. BRMS memiliki saham di Tamagot melalui Sahara Resources Pte. Ltd. sebesar 89,6%.

Namun, pada Juni 2013 Sahara Resources mengalihkan seluruh kepemilikan sahamnya atas Tamagot Bumi kepada Bumi Mauritania S.A., entitas anak BRMS yang dimiliki melalui Bumi Holding S.A.

Pada 30 September 2013, seluruh aset Tamagot Bumi dan Bumi Mauritania S.A. ini digolongkan sebagai aset perusahaan yang hendak dijual oleh perseroan. Nilai total kedua aset tersebut, berdasarkan laporan keuangan 31 Desember 2012 adalah US$52,73 juta.

Tampaknya saham inilah yang pada akhirnya dilepaskan pada Rubis International Ltd. Pasalnya mengutip laporan keuangan perseroan, perusahaan tersebutlah yang bekerjasama dengan BRMS dalam pengelolaan tambang bijih besi di Maritania.

Saat dikonfirmasi ke pihak BRMS, manajemen perseroan enggan memberikan keterangan tentang nilai persis divestasi seluruh aset tambang di Afrika tersebut.

Investor Relation BRMS Herwin Hidayat hanya menyebutkan tidak ada keuntungan yang diperoleh dari divestasi itu. “Tidak ada keuntungan dari divestasi aset Mauritania dan Liberia karena harus dibukukan biaya write off atas investasi kegiatan eksplorasi yang telah dilakukan sebelumnya,” katanya melalui pesan singkat pada Bisnis.
Dalam keterangan pers nya, perseroan menyebutkan nilai kerugian sebesar US$58 juta dan telah dicatatkan da lam laporan keuanganBRMS untuk tahun buku 2013. Perseroan hanya beralasan langkah ini diambil agar dapat fokus mengembangkan aset di Indonesia dengan lebih efisien.

Source : Bisnis Indonesia (4/4/2014)
Editor : Nurbaiti
Bakrie Cari Pinjaman Bank Rp 10 Triliun
Angga Aliya – detikfinance
Selasa, 04/03/2014 07:12 WIB

Jakarta -Grup Bakrie sedang berupaya mencari dana sekitar US$ 1,07 miliar untuk aksi korporasinya tahun ini. Dana tersebut akan dihimpun dari pinjaman bank.

Dana tersebut akan digunakan untuk tiga aksi korporasi, yaitu membeli 29,2% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari Asia Resource Minerals PLC, lalu 30% saham PT Arutmin Indonesia, dan 30% saham PT Mitratama Perkasa.

Juru Bicara Grup Bakrie Chris Fong optimistis dana tersebut akan bisa terkumpul tanpa kesulitan. Pasalnya, kata Fong, Grup Bakrie punya hubungan yang baik dengan banyak bankir.

“Bakrie Group adalah perusahaan berusia 72 tahun dan kami memiliki hubungan jangka panjang dengan para bankir dan tidak pernah gagal dalam urusan transaksi yang kaitannya dengan masalah pendanaan,” katanya kepada detikFinance, Selasa (4/3/2014).

Dana tersebut digunakan untuk pemisahan Grup Bakrie dengan Asia Resource. Transaksi tersebut membutuhkan dana sekitar US$ 501 juta. Perseroan sebelumnya sudah mendapat dana sebesar US$ 228 juta.

Grup Bakrie juga akan membeli 30% saham Arutmin dari Tata Power Co Ltd, perusahaan listrik terbesar di India. Dengan nilai transaksi US$ 500 juta, Grup Bakrie akan menguasai 100% saham Arutmin.

Saat ini Grup Bakrie baru menguasai 70% saham Arutmin melalui BUMI. Transaksi tersebut ditargetkan rampung Mei 2014.

Selain itu, Grup Bakrie juga akan membeli 30% saham Mitratama Perkasa masih dari Tata Power dengan nilai transaksi sebesar US$ 120 juta. Saat ini, Tata Power menguasai saham Mitratama melalui anak usahanya yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA). Transaksi tersebut dijadwalkan rampung April 2014.
(ang/ang)
BUMI: Hak Tata Power jual saham Arutmin
Oleh Veri Nurhansyah Tragistina – Sabtu, 01 Februari 2014 | 16:37 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) enggan banyak berkomentar atas keputusan Tata Power melepas kepemilikan 30% saham PT Arutmin Indonesia (Arutmin) dan PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI menyatakan, keputusan tersebut merupakan kewenangan Tata Power sepenuhnya. “Kami tidak terlibat dan tidak ada hubungannya dengan ini (keputusan Tata Power menjual saham Arutmin dan KPC),” kata dia kepada KONTAN, Sabtu (1/2).
Seperti diberitakan sebelumnya, konglomerasi asal India itu telah mengumumkan penjualan 30% saham KPC dan Arutmin senilai US$ 500 juta.
“Kondisi harga batubara saat ini memberikan tantangan bagi sektor pertambangan batu bara,” kata Anil Sardana, managing director Tata Power seperti yang dikutip KONTAN dari Business-standard, Sabtu (1/2).
Keputusan tersebut mengakhiri kongsi BUMI – Tata Power di Arutmin dan KPC yang terjalin sejak 2007 lalu. Terkait hal itu, Dileep enggan berkomentar soal rencana BUMI dalam mengembangkan dua anak usahanya itu selepas kepergian Tata Power.
Keputusan Tata Power sebenarnya terbilang mengejutkan. Pasalnya, Tata Power membutuhkan pasokan batubara cukyp besar untuk menghidupkan pembangkit listrik sebesar 4.000 megawatt (MW) yang ada di Mundra, Gujarat, India. Walaupun menjual sahamnya di KPC dan Arutmin, Tata Power menjamin pasokan batubara tidak mempengaruhi pasokan ke pembangkitnya.
Editor: Asnil Bambani Amri
Sabtu, 01 Februari 2014, 10:29 WIB
Tata Power Jual 30% Saham Arutmin ke Grup Bakrie
Gloria Natalia Dolorosa

Bisnis.com, JAKARTA – Tata Power Co. Ltd., perusahaan pembangkit listrik asal India, sepakat untuk melego 30% kepemilikan sahamnya di perusahaan tambang batu bara PT Arutmin Indonesia kepada Grup Bakrie senilai US$500 juta.

Tata Power, anak usaha kongolomerasi Tata Group, menyatakan penjualan itu akan meningkatkan arus kas dan mengurangi utang konsolidasi, tanpa mempengaruhi penawaran batu bara ke pabriknya.

Reuters, Jumat, (31/1/2013), menulis Tata Power menandatangani perjanjian melalui unit perusahaan yang dimiliki sepenuhnya. Penjualan tersebut akan dirampungkan dalam 3 bulan mendatang.

Tata Power mengakuisisi 30% saham di PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) pada Juni 2007 senilai US$1,1 miliar.. Bumi Resources mengontrol dua perusahaan penghasil batu bara thermal, yakni PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia.

Pembelian itu bertujuan mendukung proyek pembangkit listrik Tata Power di pantai barat India sebesar 7.000 MW selama 5 tahun ke depan. Proyek-proyek ini membutuhkan sekira 21 juta ton batu bara impor.

Editor : Bambang Supriyanto
Sempat Molor, Akhirnya Perusahaan Tambang Grup Bakrie Gelar RUPSLB
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Jumat, 10/01/2014 16:55 WIB

Jakarta -Perusahaan tambang milik Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akhirnya menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) setelah sebelumnya gagal dilaksanakan karena tidak kuorum. RUPSLB ini sempat molor lebih dari 2 jam dari agenda yang dijadwalkan pukul 14.00 WIB.

Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava mengatakan, dalam RUPSLB kali ini pihaknya akan membahas 3 agenda.

“Agenda pertama yang terpenting karena menyangkut kepentingan pemegang saham, critical bagi company yaitu persetujuan pelunasan utang ke China Investment Corporation (CIC),” ujar Dileep saat ditemui disela-sela RUPSLB di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (10/1/2014).

Dia menjelaskan, pihaknya yakin agenda terkait pelunasan utang ke CIC sebesar US$ 1,787 miliar (Rp 17,8 triliun) bakal disetujui.

“Diharapkan sepertinya akan disetujui kalau kuorum. Agenda 1 bisa approval,” kata dia.

Pelunasan utang ke CIC dilakukan melalui pengalihan saham di PT Kaltim Prima Coal dan Bumi Resources Mineral sebagai bagian dari penyelesaian utang kepada China Investment Coorporation (CIC) dan pembelian saham milik Kutai Timur Sejahtera di Kaltim Prima Coal oleh perseroan atau anak usaha.

Anak usaha Grup Bakrie itu akan menjual saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 19% atau setara US$ 950 juta (Rp 9,5 triliun), menjual saham BRMS sebesar 42% atau setara US$ 257 juta (Rp 2,57 triliun), dan melakukan penerbitan saham baru atau Rights Issue BUMI yang mencapai US$ 150 juta (Rp 1,5 triliun)
Berikutya, persetujuan untuk menjaminkan dan mengalihkan sebagian besar harta kekayaan perseroan.

Terakhir, perubahan struktur modal saham perseroan dan perubahan serta pengesahan seluruh anggaran dasar dan penambahan modal tanpa HMETD diundur.

Sebelumnya, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) batal digelar karena tidak kuorum. Investor pun kecewa karena sudah menunggu sejak tengah hari tadi.

Rapat tersebut tidak bisa dilaksanakan karena hanya 24,83% pemegang saham yang hadir. Sehingga sesuai peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rapat tidak boleh dilaksanakan.
Perusahaan Tambang Bakrie Jual Kaltim Prima Coal Buat Bayar Utang
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Jumat, 10/01/2014 17:55 WIB

Jakarta -Para pemegang saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyetujui pelunasan utang perseroan ke China Investment Coorporation US$ 1,787 miliar.

Pelunasan utang ke CIC dilakukan dengan menjual saham anak usaha perseroan PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 19% atau setara US$ 950 juta dan menjual saham BRMS sebesar 42% atau setara US$ 257 juta.

“Agenda pelunasan utang ke CIC sudah disetujui tadi dalam RUPS,” ujar Head of Investor Relation BUMI Ahmad Reza Wijaya usai RUPSLB BUMI di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (10/1/2014).

Reza mengatakan, dalam agenda pelunasan utang ke CIC tersebut, sedikitnya 97% dari 33,33% jumlah pemegang saham yang hadir menyetujui skema pelunasan utang tersebut.

“Menurut AD/ART kami dan aturan OJK, jumlah 33,33% pemegang saham yang hadir dalam agenda tersebut sudah dinyatakan kuorum,” terang dia.

Selain itu, agenda kedua dan ketiga akan digelar pada RUPS berikutnya yang jadwalnya belum direncanakan.

Reza menyebutkan, setelah ini pihaknya akan melaporkan agenda RUPS berikutnya ke OJK. Biasanya, kata dia, RUPS bakal digelar setelah 3 minggu atau 21 hari dari pelaporan.

“Agenda 2 dan 3 syaratnya untuk bisa kuorum 60% pemegang saham harus hadir. Habis ini lapor nanti ke OJK, yang menentukan mereka kapan RUPS, bisa 3 bulan biasanya 21 hari setelah lapor,” jelasnya.

Dia menyebutkan, agenda kedua akan membahas mengenai persetujuan untuk menjaminkan dan mengalihkan sebagian besar harta kekayaan perseroan.

Terakhir, perubahan struktur modal saham perseroan dan perubahan serta pengesahan seluruh anggaran dasar dan penambahan modal tanpa HMETD diundur.
(drk/dru)
BUMI Fokus Bayar Utang ke CIC US$1,3 M

Oleh: Seno Tri Sulistiyono
pasarmodal – Jumat, 20 Desember 2013 | 18:06 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada tahun depan akan fokus melunasi sejumlah utangnya kepada China Investment Corporation (CIC) sekitar US$1,3 miliar.

Direktur Utama PT Bumi Resources Tbk, Ari S. Hudaya mengatakan, pada 2014 perseroan tidak meningkatkan produksi batubara karena harganya diperkirakan mengalami penurunan.

“Harganya yang turun membuat kita tidak fokus untuk tingkatkan produksi. Kita lebih restrukturisasi utang dengan cara refinancing. Jadi beban bunganya akan berkurang, karena bunga saat ini tinggi,” kata Ari setelah ditundanya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Jumat (20/12/2013).

Lebih lanjut dia mengatakan, permintaan batubara dari negara China dan India juga mengalami penurunan, sehingga perseroan menyiasatinya tidak mendongkrak produksi.

“Coal price turun karena growth pertumbuhan industri seperti negara-negara India stop, ruppe-nya sudah terdepresiasi 40 persen, China akan stop, yang akan tetap Jepang dan Korea,” ujar Ari.

Pada hari ini Jumat (20/12/2013) perseroan gagal menggelar RUPSLB karena tidak mencapai kuorum. Pemegang saham BUMI yang hadir hanya mewakili 24,38% dari total pemegang saham yang sah. Adapun agenda RUPSLB BUMI di antaranya :

1. Persetujuan untuk pengalihan saham-saham milik Perseroan di dalam PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk sebagai bagian dari penyelesaian pelunasan utang perseroan kepada CIC dan pembelian saham-saham milik PT Kutai Timur Sejahtera di KPC oleh perusahaan atau anak perusahaan perseroan yang akan dilaksanakan sesuai dengan peraturan Bapepam-LK No. IX.E.2.

2. Persetujuan untuk menjaminkan atau mengangunkan dan mengalihkan sebagian besar harta kekayaan perseroan.

3. Perubahan struktur modal saham perseroan dan perubahan serta penegasan seluruh anggaran dasar perseroan. [hid]
Bos Tambang Grup Bakrie Dikerubuti Pemegang Saham
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Jumat, 20/12/2013 15:41 WIB

Jakarta -Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) batal digelar karena tidak kuorum. Investor yang kecewa pun langsung mengerubuti Direktur Utama BUMI Ari Hudaya.

Setelah manajemen mengumumkan batalnya rapat, investor pun sempat kecewa dan bertanya-tanya alasan batalnya rapat tersebut. Ari yang memang berada di dalam ruang rapat pun langsung jadi sasaran.

Ari pun dikelilingi sekitar dua puluhan investor yang banyak melempar pertanyaan, seperti mengapa rapat batal, mengapa BUMI masih rugi, langkah-langkah apa yang dilakukan manajemen untuk atasi utang dan lain-lain.

“Tenang-tenang. Ayo kita duduk bareng sambil diskusi,” kata Ari kepada para investor di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (20/12/2013).

Namun para investor memilih untuk tidak duduk supaya bisa cepat dapat penjelasan dari Ari. Ia pun menjawab pertanyaan investor satu-persatu.

Sementara sebagian besar investor yang kecewa karena rapat batal digelar pun memilih tinggalkan ruangan. Seusia peraturan, BUMI harus mengadakan RUPSLB lagi dalam jangka waktu tiga pekan ke depan.

(ang/dnl)
BUMI private placement Rp 5,8 triliun
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Kamis, 05 Desember 2013 | 19:56 WIB
kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akhirnya memutuskan untuk melakukan private placement ketimbang rights issue. Jumlah saham yang akan diterbitkan terbilang fantastis, 65,78% dari total ditempatkan dan disetor penuh perseroan saat ini.
Berdasarkan prospektus yang terbit hari ini, manajemen BUMI menjelaskan, total saham baru yang akan diterbitkan sebanyak-banyaknya mencapai 13,66 miliar. Jumlah ini jauh lebih besar dari yang ditentukan semula, yakni 10%-15%.
Saham baru tersebut memiliki nilai nominal lebih rendah dari saham BUMI saat ini. Nilai nominal saham BUMI sebesar Rp 500 per saham. Namun, pada saham baru ini, harga nominal saham hanya Rp 200 per saham.
Oleh karena itu, saham ini memiliki seri berbeda, yakni saham seri B. Harga saham baru yang akan ditransaksikan Rp 425 per saham. Dengan demikian, total transaksi penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non HMETD) ini mencapai Rp 5,8 triliun.
Saham baru ini tidak hanya ditawarkan kepada China Investment Corporation (CIC). Tapi, juga beberapa kreditur yang berminat setuju mengonversi pinjaman yang diberikan dengan saham BUMI.
Seperti diketahui, penerbitan saham baru ini merupakan salah satu mekanisme penyelesaian saham perseroan menyelesaikan utang kepada CIC. Untuk CIC, BUMI akan memberikan kepemilikan saham setara dengan nilai US$ 150 juta.
Misal, dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia (BI), 1US$ = Rp 12.018. Maka US$ 150 juta setara dengan Rp 1,8 triliun. Berarti, saham yang akan dialihkan ke CIC sebanyak 4,24 miliar. Jumlah ini setara dengan 12,31% dari total saham beredar BUMI setelah non HMETD.
Selain CIC, ada beberapa kreditur yang memiliki sangkutan dengan BUMI. Mereka adalah China Development Bank (CDB), Credit Suisse, Axis Bank Limited, Deutsche Bank, UBS AG, dan Nomura. Selain itu, perseroan juga memiliki utang berupa guaranteed senior notes I dan II.
Setelah non HMETD, porsi kepemilikan saham BUMI para kreditur akan menjadi 39,68%. Sedangkan, Vallar Investments UK Ltd akan menciut dari 29,18% menjadi 17,6%. Begitu juga porsi publik di bawah 5% akan jauh berkurang dari 70,82% menjadi 42,72%.
Editor: Asnil Bambani Amri
BUMI private placement Rp 5,8 triliun Oleh Amailia Putri Hasniawati – Kamis, 05 Desember 2013 | 19:56 WIB kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akhirnya memutuskan untuk melakukan private placement ketimbang rights issue. Jumlah saham yang akan diterbitkan terbilang fantastis, 65,78% dari total ditempatkan dan disetor penuh perseroan saat ini. Berdasarkan prospektus yang terbit hari ini, manajemen BUMI menjelaskan, total saham baru yang akan diterbitkan sebanyak-banyaknya mencapai 13,66 miliar. Jumlah ini jauh lebih besar dari yang ditentukan semula, yakni 10%-15%. Saham baru tersebut memiliki nilai nominal lebih rendah dari saham BUMI saat ini. Nilai nominal saham BUMI sebesar Rp 500 per saham. Namun, pada saham baru ini, harga nominal saham hanya Rp 200 per saham. Oleh karena itu, saham ini memiliki seri berbeda, yakni saham seri B. Harga saham baru yang akan ditransaksikan Rp 425 per saham. Dengan demikian, total transaksi penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non HMETD) ini mencapai Rp 5,8 triliun. Saham baru ini tidak hanya ditawarkan kepada China Investment Corporation (CIC). Tapi, juga beberapa kreditur yang berminat setuju mengonversi pinjaman yang diberikan dengan saham BUMI. Seperti diketahui, penerbitan saham baru ini merupakan salah satu mekanisme penyelesaian saham perseroan menyelesaikan utang kepada CIC. Untuk CIC, BUMI akan memberikan kepemilikan saham setara dengan nilai US$ 150 juta. Misal, dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia (BI), 1US$ = Rp 12.018. Maka US$ 150 juta setara dengan Rp 1,8 triliun. Berarti, saham yang akan dialihkan ke CIC sebanyak 4,24 miliar. Jumlah ini setara dengan 12,31% dari total saham beredar BUMI setelah non HMETD. Selain CIC, ada beberapa kreditur yang memiliki sangkutan dengan BUMI. Mereka adalah China Development Bank (CDB), Credit Suisse, Axis Bank Limited, Deutsche Bank, UBS AG, dan Nomura. Selain itu, perseroan juga memiliki utang berupa guaranteed senior notes I dan II. Setelah non HMETD, porsi kepemilikan saham BUMI para kreditur akan menjadi 39,68%. Sedangkan, Vallar Investments UK Ltd akan menciut dari 29,18% menjadi 17,6%. Begitu juga porsi publik di bawah 5% akan jauh berkurang dari 70,82% menjadi 42,72%. Editor: Asnil Bambani Amri Rupiah Jeblok Bikin Utang Bakrie Makin Menumpuk Maikel Jefriando – detikfinance Jumat, 22/11/2013 13:58 WIB Jakarta -PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) punya utang Rp 6,7 triliun hingga triwulan III-2013. Utang ini naik dari sebelumnya yang hanya Rp 5,7 triliun. Peningkatan utang itu disebabkan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir. “Utang jangka panjang dan pendek naik dari Rp 5,7 triliun ke Rp 6,7 triliun. Karena depresiasi rupiah,” ujar Presiden Direktur BNBR Bobby Gafur dalam paparan publik tahun 2014, di Bakrie Tower, Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Jumat (22/11/2013). Ia mengatakan, pergeseran nilai mata uang yang cukup mendalam ini berpengaruh buruk pada utang perseroan. Apalagi mayoritas utang perseroan dalam posisi dolar AS. Awal tahun 2013, dolar AS berada di kisaran antara Rp 9.500 per dolar AS dan saat ini melambung tinggi hingga berputar di kisaran Rp 11.600 per dolar AS. “Kenaikan utang terjadi akibat pelemahah rupiah dari dolar. Kurs dolar awalnya Rp 9.500-an, sekarang Rp 11.600-an. Maka dari itu rasio utang tercatat kenaikan. Karena banyak simpanan dalam bentuk dolar,” jelasnya. Selain utang, Bobby mengatakan pelemahan rupiah juga berdampak buruk pada penurunan pendapatan dan kerugian. Ini terjadi hampir di seluruh perusahaan. Ia menilai itu tidak bisa dihindarkan oleh perusahaan manapun. “Ini tidak bisa dihindarkan. Ini berdampak kepada seluruh perusahaan yang memiliki utang dalam bentuk dolar,” terangnya. (mkl/ang) BUMI Tekan Beban Utang, Coba Lunasi Kewajiban CIC Oleh: Seno Tri Sulistiyono pasarmodal – Rabu, 20 November 2013 | 20:08 WIB INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berupaya menekan biaya beban utangnya sekitar US$216 juta atau sekitar Rp2,51 triliun pada tahun ini. Penghematan ini bisa dilakukan jika perseroan melunasi kewajiban utangnya kepada China Investment Corporation (CIC) sebesar US$1,78 miliar. “Bila transaksi ke CIC sudah selesai BUMI dapat save interest cost sebesar US$216 juta,” kata Direktur BUMI, Andrew Beckham seusai Public Expose di Jakarta, Rabu (20/11/2013). Sebelumnya perseroan menyampaikan penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam transaksi CIC. BUMI akan menyelesaikan utang pokok senilai US$1,3 miliar dengan menyerahkan beberapa asetnya. Yakni, 19% saham PT Kaltim Prima Coal (KPC), 42%saham PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) dan juga melakukan penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue) senilai US$150 juta. Namun, aksi ini masih menunggu persetujuan pemegang saham dan jika diberikan lampu hijau maka BUMI hanya memiliki utang kepada CIC sebesar US$430 miliar. Dengan sisa utang tersebut, kata Andrew, perseroan berupaya mencari pinjaman baru dari CIC dengan nilai sebesar sisa utang yakni US$430 juta. Diharapkan, utang baru nantinya memiliki tenor tiga tahun dengan bunga suku bunga antar bank London alias London Interbank Offered Rate (LIBOR) +6,7% per tahun. Recapital bayar duit BUMI dengan saham KPC Oleh Amailia Putri Hasniawati – Rabu, 20 November 2013 | 18:31 WIB kontan JAKARTA. Terjawab sudah misteri dana investasi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada Recapital Asset Management (RAM). Keduanya telah sepakat untuk melakukan jual beli saham PT Kaltim Prima Coal (KPC). Andrew Christopher Beckham, Direktur Keuangan BUMI menjelaskan, adanya rights issue KPC akan mendilusi kepemilikan BUMI di perusahaan batubara itu. “Kami akan jual 19% saham KPC ke CIC, saham kami akan menjadi 46%, nanti Recapital akan mentransfer 5% saham KPC ke kami,” ujarnya, Rabu (20/11). Sehingga, lanjut dia, BUMI akan tetap menjadi pemegang mayoritas saham KPC, yakni sebesar 51%. Ia tidak menjelaskan, siapa saja sebenarnya pemilik saham KPC. Ia hanya memastikan nilai 5% saham KPC setara dengan dana investasi yang ada di Recapital. Sekadar mengingatkan, BUMI menginvestasikan dananya sebesar US$ 400 juta dalam bentuk kontrak pengelolaan dana (KPD). Namun, sudah sempat dicairkan dan tersisa sekitar US$$ 252,26 juta. Dana ini tak kunjung cair sebelum akhirnya dibuat kesepakatan mengenai pembayaran saham dengan saham KPC. Inilah Agenda RUPS Bumi Plc Oleh: pasarmodal – Senin, 11 November 2013 | 00:04 WIB INILAH.COM, Jakarta – Bumi Plc akan menggelar rapat pemegang saham pada 4 Desember 2013 mendatang. Beberapa agenda telah siap dan termasuk langkah strategis. Salah satu diantaranya adalah perseroan akan memisahkan keluarga Bakrie dalam daftar pemegang saham. Perseroan menyiapkan US$501 juta untuk 29,2 persen. Demikian mengolah rilis perseroan pada akhir pekan kemarin. Agenda lain dalam rapat tersebut adalah perubahan nama menjadi Asia Resources Mineral Plc. Bumi Plc juga akan mengembalikan dana US$400 juta kepada pemegang saham lainnya. [hid] Perceraian Bakrie-Bumi PLC Molor, Dibahas Lagi 4 Desember Angga Aliya – detikfinance Jumat, 08/11/2013 11:20 WIB London -Perusahaan tambang asal London Bumi PLC membuka kembali pembahasan untuk memisahkan diri dari Grup Bakrie setelah molor beberapa bulan. Rencana ‘perceraian’ ini akan dibahas dalam rapat pemegang saham pada 4 Desember mendatang. Pemegang saham akan diminta voting terkait keputusan tersebut, yaitu menjual 29,2% kepemilikan Bumi PLC di perusahaan tambang batubara terbesar di Indonesia, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang dikuasai Grup Bakrie. Seperti dikutip dari Wall Street Journal, Jumat (8/11/2013), jika pemegang saham sepakat maka Grup Bakrie harus membeli saham-sahamnya itu dengan nilai US$ 501 juta (Rp 5 triliun) guna memutuskan hubungan dengan perusahaan hasil kongsinya dengan pebisnis Nathaniel Rothschild tersebut. Masih dalam rencana perceraian itu, komisaris Bumi PLC Samin Tan, melalui perusahaan miliknya PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) berniat membeli sisa saham minoritas Grup Bakrie di Bumi PLC senilai US$ 223 juta (Rp 2,23 triliun). Jika itu terlaksana, maka Samin akan menguasai lebih dari 50% saham Bumi PLC. Seperti diketahui Grup Bakrie sudah memenangkan pertarungan dengan Nathaniel Rothschild atas Bumi PLC dalam RUPSLB yang digelar di Inggris, London, Februari lalu. Atas kemenangan itu, Bakrie Group harus menyiapkan dana untuk membeli kembali (buyback) seluruh saham BUMI yang dipegang Bumi PLC. Oktober tahun lalu, Grup Bakrie sudah memutuskan untuk putus hubungan dengan Rothschild dan Bumi PLC. Namun kesepakatan perceraiannya sudah banyak berubah sejak RUPSLB yang digelar di Inggris awal tahun ini Perceraian Bakrie-Bumi PLC Molor, Dibahas Lagi 4 Desember Angga Aliya – detikfinance Jumat, 08/11/2013 11:20 WIB Halaman 2 dari 2 Kesepakatan terakhir adalah BORN, yang dikendalikan Samin Tan, membeli 24% saham Bumi PLC dari Grup Bakrie senilai US$ 223 juta. Setelah itu Grup Bakrie akan membeli 29% saham BUMI yang dipegang Bumi PLC senilai US$ 501 juta. Hal ini membuat para analis pesimistis Grup Bakrie bisa menyediakan uang sebanyak itu dalam waktu dekat. Semua berawal pada November 2010 silam, Vallar Plc, perusahaan raksasa milik keluarga Rothschild mengambil alih 75% saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan 25% saham BUMI senilai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 27 triliun. Vallar Plc merupakan perusahaan investasi milik keluarga Rothschild yang merupakan bankir terkaya di dunia. Kala itu, Vallar baru saja menggelar IPO raksasa di Bursa London senilai US$ 1,07 miliar atau Rp 9 triliun pada Juli 2010. BNBR menandatangani perjanjian jual beli dengan Vallar Plc untuk melepaskan 5,2 miliar saham BUMI di Rp 2.500 untuk mendapatkan 90,1 juta saham baru Vallar, di mana BNBR akan menerima 50,5 juta saham baru di Vallar seharga 10 poundsterling per saham. Setelah transaksi itu, BNBR menjadi induk usaha Vallar Plc, sedangkan Vallar Plc akan menjadi pemegang 25% saham BUMI. Vallar Plc pun berganti nama menjadi Bumi Plc. Rothschild Sindir Bumi Atas Pembelian Inter Milan Gloria Natalia Dolorosa – Sabtu, 19 Oktober 2013, 17:10 WIB catatan INVESTASI SUPERJANGKAPANJANG sejak 2000-2013, sebagai indikator imbal hasil REKSA DANA SAHAM kita Bisnis.com, JAKARTA – Nathaniel Rothschild menyatakan investasi di klub sepakbola Inter Milan senilai US$173 juta yang dilakukan mantan direktur Bumi Plc menunjukkan Bumi Plc tidak bertindak dalam memulihkan dana yang hilang. Pada Juni lalu Bumi menyatakan telah menandatangani perjanjian dengan Rosan. Isinya, Rosan akan memulihkan kerugian sebesar US$173 juta. Rosan adalah mantan anggota dewan dan eks-CEO PT Berau Coal Energy Tbk. (BRAU), anak usaha Bumi Plc. Sebuah kelompok yang berisi tiga pengusaha terkemuka Indonesia, yakni Erick Thohir, Rosan Roeslani, dan Handy Soetedjo, pada pekan ini membeli 70% kepemilikan saham di Liga Italia Seri A, F.C. Internazionale Milano S.p.A. “Roeslani hanya memiliki dana dan kebebasan untuk melakukan ini karena dewan Bumi telah gagal untuk mengambil tindakan hukum apapun hingga saat ini menghadapinya,” kata Rothschild seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (19/10/2013). Rothschild memiliki 21% hak suara di Bumi. Dia, keturunan dinasti perbankan Inggris, berhenti dari dewan Bumi pada Oktober 2012 di tengah perselisihan dengan sesama pendiri, yakni keluarga Bakrie. ROeslani mengundurkan diri pada Desember dan turun dari Berau Coal pada Januari. Surat kabar Italia Corriere Della Sera melaporkan pada bulan lalu bahwa penjualan saham Inter Milan telah disepakati sekitar US$300 juta euro atau setara US$411 juta. “Tidak logis membuat hubungan antara investasi Inter Milan dengan situasi di Bumi karena keduanya benar-benar berbeda,” tulis Roslan dalam surat elektroniknya kepada Bloomberg News. Menurutnya, pihaknya memiliki komite investasi independen untuk mengidentifikasi peluang investasi serta risiko. “Masalah Bumi adalah topik lama yang sudah dibahas dengan transparansi penuh dan tentu saja komitmen penuh,” tulis Roslan. Bumi dalam surat elektroniknya, 18 Oktober 2013, menyatakan Roslan pada Juni silam setuju untuk mengembalikan uang dan aset pada 26 Desember. “Nilai riil akan diperoleh kembali untuk Berau melalui penerapan perjanjian ini. Perusahaan telah bekerja secepat mungkin,” tulis Bumi Plc. Edoardo Caldara, juru bicara Inter Milan, mengatakan Inter Milan tidak akan berkomentar atas perjanjian 15 Oktober yang mengumumkan penjualan Inter Milan kepada investor Indonesia. Menurut Bumi Plc, perjanjian antara Bumi dengan Roeslani untuk pengembalian aset menyatakan Roslan tidak membuat pengakuan atas kesalahah atau kewajiban. Pada Mei, Berau Coal menemukan pengeluaran sebesar US$201 juta dalam hasil audit kinerja keuangan perseroan pada 2012. Dana tersebut keluar tanpa tujuan usaha yang jelas. Sebulan kemudian Roslan sepakat untuk mentransfer kas dan setara kas senilai US$173 Juta ke Bumi dalam sengketa yang dibawa ke UK’s Serious Fraud Office itu. Saham BUMI, BRMS dan ELTY Aktif Lagi Oleh: Wahid Ma’ruf pasarmodal – Jumat, 18 Oktober 2013 | 11:09 WIB INILAH.COM, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut penghentian sementara saham BUMI, BRMS dan saham ELTY di seluruh pasar per sesi I hari ini. Untuk saham PT Bakrieland Devepopment Tbk (ELTY), BEI beralasan dengan telah disampaikannya keterbukaan informasi atas penolakan permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) perseroan oleh Pengadilan Niaga berserta langkah yang akan ditempuh perseroan. Demikian mengutip keterangan resmi BEI, Jumat (18/10/2013). Sedangkan untuk saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) setelah BEI menerima penjelasan perseroan soal skema konversi utang menjadi saham dengan CIC. BUMI telah mengirim surat tersebut pada 16 Oktober 2013 lalu. Demikian juga terhadap saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menjadi satu keterangan dengan PT Bumi Resources pada 16 Oktober 2013 lalu. BUMI Utang Ke CIC, Ini Rincian Tahapan Pelunasannya Gita Arwana Cakti – Rabu, 16 Oktober 2013, 16:01 WIB Bisnis.com, JAKARTA – Belum lama ini, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyampaikan rencananya untuk mengembalikan pinjaman senilai US$1,3 miliar kepada China Investment Corporation (CIC) dalam bentuk penukaran (swap) kepemilikan saham di empat anak usaha BUMI. Direktur dan Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivasta menyebutkan empat anak usaha tersebut adalah PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Kaltim Prima Coal (KPC), Indocoal Resources (Cayman) Ltd, dan PT Indocoal Kaltim Resources. Pada hari ini, Rabu (16/10/2013), perseroan melengkapi penjelasan rencana aksi korporasi itu dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Berikur rincian tahapan penyelesaian utang emiten berkode saham BUMI kepada CIC: a. Pengalihan 42% saham milik BUMI di BRMS. Pengalihan itu dilakukan berdasarkan perjanjian jual beli bersyarat dengan harga penjualan saham BRMS ditetapkan pada level Rp268 per saham. Pada tahap penyelesaian (closing date), seluruh saham dialihkan melalui crossing di pasar negosiasi dan pemindahbukuan saham-saham dari sub rekening atas nama Bumi Reources ke sub rekening atas nama CIC atau afiliasi. Seiring proses tersebut, CIC juga akan menerbitkan surat pelunasan dan pembebasan utang senilai US$257 juta. Perseroan berharap transaksi penjualan saham BRMS itu selesai pada akhir November 2013. b. Pengalihan 19% saham BRMS di Kaltim Prima Coal (KPC). KPC berencana menerbitkan saham baru (rights issue) yang ditawarkan kepada seluruh pemegang saham KPC. Adapun 19% saham KPC setelah rights issue akan diambil oleh perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh perseroan (Newco), Bhira Investments Limited (afiliasi Tata Power) dan PT Kutai Timur Sejahtera. Bersamaan dengan rights issue KPC, seluruh saham milik Kalimantan Coal Ltd dan Sangatta Holding Ltd di KPC akan dialihkan kepada Bumi Resources. Ini merupakan transaksi internal. Setelah seluruh proses dilakukan, maka kepemilikan saham Bumi Resources di KPC secara langsung dan tidak langsung tercatat 51%. Setelah rights issue KPC dan transaksi internal tuntas, perseroan akan mengalihkan seluruh saham Newco ke CIC atau afiliasinya dengan nilai transaksi penjualan sekitar US$950 juta. Selain persetujuan RUPS, seluruh aksi korporasi itu juga akan meminta persetujuan lebih dulu dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Koordinasi Penanaman Modal, dan para kreditur perseroan. Perseroan berharap seluruh rangkaian transaksi penyelesaian utang CIC dengan pengalihan secara tak langsung 19% saham di KPC tuntas akhir November 2013. Dileep juga menyebutkan selain transaksi penukaran saham di empat anak usahanya, perseroan juga akan melakukan rights issue dalam rangka penyelesaian urang CIC. Perseroan akan mendaftarkan ke Otoritas Jasa Keuangan pada akhir bulan ini. Dalam aksi korporasi tersebut, CIC atau afiliasinya akan bertindah menjadi pembeli siaga (standby buyer). “Seluruh atau sebagian besar dana hasil rights issue akan digunakan untuk menyelesaikan utang ke CIC senilai US$150 juta. Jika sisa saham tidak diambil pemegang saham, maka standby buyer akan melaksanakan pembelian sisa saham itu dengan cara debt to equity swap,” paparnya. Saham KPC Dihargai US$ 950 Juta, Bumi Minerals US$ 257,4 Juta Oleh Jauhari Mahardhika | Senin, 14 Oktober 2013 | 11:21 JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membanderol 19% saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) senilai US$ 950 juta, sedangkan 42% saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar US$ 257,4 juta. Bumi akan menyerahkan saham anak usahanya tersebut kepada China Investment Corporation (CIC) sebagai bagian dari penyelesaian utang. Bumi juga akan menerbitkan saham baru kepada CIC melalui penawaran umum terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue) senilai US$ 150 juta. Selain itu, Bumi siap menyerahkan 19% saham Indocoal Resources (Cayman) Ltd dan 19% saham PT Indocoal Kaltim Resources kepada perusahaan investasi milik Pemerintah Tiongkok tersebut. Bumi akan menukar saham perseroan, KPC, Bumi Minerals, dan Indocoal untuk menyelesaikan utang pokok kepada CIC sebesar US$ 1,3 miliar. Perjanjian pertukaran utang dengan saham (debt to equity swap) tersebut telah ditandatangani oleh Bumi dan CIC. Meski demikian, Bumi masih memiliki sisa utang sekitar US$ 430 juta. Sebab, total utang perusahaan batubara terbesar di Indonesia milik keluarga Bakrie itu mencapai US$ 1,78 miliar.

Bumi Resources Masih Utang US$1,9 Miliar, Mau Bayar Pakai Apa Lagi?

Sutarno   –   Kamis, 10 Oktober 2013, 14:36 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk. kembali menjadi berita  setelah otoritas bursa BEI mensuspensi saham berkode BUMI tersebut hari ini, Kamis (10/10/2013). Kemarin, Rabu (9/10/2013), BUMI menjadi buah bibir ketika mengumumkan konversi  pinjaman senilai US$1,3 miliar kepada China Investment Corporation (CIC) dalam bentuk penukaran (swap) kepemilikan saham di empat anak usaha BUMI. Empat perusahaan yang di-swap sahamnya adalah PT Bumi Resources Minerals (sebesar 42%), PT Kaltim Prima Coal (19%), Indocoal Resources (Cayman) Ltd (19%), dan PT Indocoal Kaltim Resources (19%). Berdasarkan laporan keuangan BUMI, perusahaan itu masih memiliki utang jangka panjang US$3,2 miliar (lihat tabel). Pembayaran utang CIC itu merupakan pelunasan utang  Country Forest Limited 2009. Country Forest merupakan anak perusahaan CIC. Dengan demikian, masih ada sisa utang jangka panjang sebesar US$1,9 miliar. Mau melego anak perusahaan mana lagi untuk melunasinya? Daftar Utang Jangka Panjang BUMI per 31 Maret 2013

Kreditur Pokok pinjaman
Dalam dolar AS
Fasilitas Country Forest Limited 2009 (CIC)

US$1.300.000.000

Guaranteed Senior Secured Note II

US$700.000.000

Fasilitas China Development Bank

US$600.000.000

Fasilitas Credit Suisse 2010-1

US$246.972.121

Guaranteed Senior Secured Notes

US$300.000.000

Fasilitas Axis Bank Limited 2011

US$170.000.000

Fasilitas Credit Suisse 2010-2

US$150.000.000

Fasilitas Deutsche Bank 2011

US$114.000.000

Fasilitas UBS AG 2012-1

US$75.000.000

Fasilitas Pinjaman Nomura

US$11.696.179

Dalam rupiah   
Fasilitas Bank Mualamat

US$1.408.912

Fasilitas Bank Bukopin

US$752.370

Total

US$3.669.829.582

Dikurangi Bagian jangka pendek

(US$478.472.121)

Utang Jangka Panjang

US$3.191.357.461

Sumber: Laporan Keuangan Kuartal I/2013

Editor : Sutarno

Tambang Grup Bakrie Bayar Utang Rp 13 Triliun Pakai Saham Angga Aliya – detikfinance Rabu, 09/10/2013 17:33 WIB Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan menyelesaikan utangnya kepada China Investment Corporation (CIC) senilai US$ 1,3 miliar (Rp 13 triliun). Utangnya tidak semuanya dibayar lunas tapi ada yang dikonversi menjadi kepemilikan saham. “BUMI percaya bahwa penyelesaian sisa utang akan mengembalikan dan meningkatkan nilai perusahaan dan para pemangku kepentingan,” kata Sekretaris Perusahaan BUMI, Dileep Srivastava dalam siaran pers, Rabu (9/10/2013). Sebagian dari jumlah utang itu akan ditukar dengan 42% kepemilikan saham di anak usaha perseroan, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), 19% kepemilikan saham PT Kaltim Prima Coal (KPC), Indocoal Resources (Cayman) Ltd. dan PT Indocoal Kaltim Resources. Selain itu akan ada penerbitan saham baru BUMI senilai US$ 150 juta (Rp 1,5 triliun). Sedangkan untuk sisa pinjaman dua tahap yang diterima tambang Grup Bakrie itu akan dikonversi menjadi pinjaman berjangka waktu 3 tahun dengan suku bunga kompetitif. Atas rencana ini perseroan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk dapat persetujuan sesuai ketentuan perundangan-undangan yang berlaku sehingga bisa selesai akhir tahun ini. (ang/dnl) Bagaimana BUMI akan melunasi utangnya? Oleh Amailia Putri Hasniawati – Kamis, 03 Oktober 2013 | 16:10 WIB kontan JAKARTA. Melempemnya kinerja membuat fulus PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kian mengempis. Ditambah, perseroan gagal mencairkan dana investasinya di PT Recapital Asset Management (RAM). Lalu bagaimana nasib utang-utang BUMI? Berdasarkan laporan keuangan sepanjang semester I-2013, BUMI masih mencatatkan rugi bersih US$ 248,59 juta. Pendapatannya pun menyusut dari US$ 1,94 miliar menjadi US$ 1,85 miliar. BUMI juga mencatatkan defisit untuk laba yang belum dicadangkan dengan nilai mencapai US$ 1,09 miliar. Di saat yang sama, kas perseroan hanya tersisa US$ 89,16 juta. Sementara itu, BUMI masih harus membayar pinjaman jangka pendek dan jangka panjang yang totalnya mencapai US$ 3,21 miliar. Perinciannya, pinjaman jangka pendek senilai US$ 100 juta, sedangkan pinjaman jangka panjang totalnya mencapai US$ 3,11 miliar. Utang jangka pendek yang dimaksud adalah utang milik anak usaha, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Utang ini seharusnya jatuh tempo pada 19 September 2013. Namun, pihak kreditur, Credit Suisse AG melunak dan memberikan tenggat tiga bulan sejak jatuh tempo kepada BRMS untuk dilunasi. Sedangkan utang jangka panjang BUMI yang terbesar adalah sangkutan kepada Country Forest Limited (CFL) yang merupakan anak usaha China Investment Corporation (CIC). Dari total US$ 1,9 miliar yang ditarik, kini masih tersisa US$ 1,3 miliar. Sebesar US$ 600 juta akan jatuh tempo kuartal tiga tahun depan, dan US$ 700 juta harus dibayar September 2015. Kendati utang ini baru jatuh tempo tahun depan, namun, beban bunga yang tinggi mencekik keuangan perusahaan batubara milik Keluarga Bakrie ini. Bunga dari pinjaman ini sebesar 12% per tahun dan harus dibayar setiap bulan. Sebelumnya, manajemen BUMI gembar gembor akan mempercepat pembayaran utang ini. Namun, hingga saat ini, hal itu tidak juga terlaksana. Selain itu, salah satu utang jangka panjang BUMI, yakni fasilitas Credit Suisse 2010-2 yang ditarik pada 19 Agustus 2010 jatuh tempo tahun ini. Nilai pinjaman mencapai US$ 150 juta dan dibebankan bunga seebsar LIBOR ditambah 11% per tahun. Namun, pada 9 Agsutus 2013 kemarin, BUMI, entitas anak usaha yakni PY Sitrade Coal, Kalimantan Coal Ltd, Sangatta Holdings Limited, dan Forerunner International Pte. Ltd (bertindak sebagai original guarantors) serta Credit Suisse cabang singapura (sebagai facility agent) mendatangani supplemental agreement yang mengubah beberapa ketentuan di dalam pernjanjian kredit ini. Isinya, jatuh tempo pinjaman mundur dan harus dilunasi dengan mengangsurnya selama lima belas bulan sejak Oktober 2013 hingga November 2014. Konsekuensi dari pemunduran waktu jatuh tempo ini adalah kreditur membebankan bunga yang lebih tinggi menjadi LIBOR ditambah 18% per tahun dan efektif sejak 7 Agustus 2013. Dari mana BUMI bisa memperoleh dana untuk membayar semua kewajiban tersebut? Sebenarnya, BUMI memiliki sejumlah piutang yang sekiranya bisa digunakan untuk membayar cicilan pinjaman yang menggunung. Misalnya, piutang milik PT Bukit Mutiara dan Candice Invesments Pte. Ltd. Total nilainya mencapai US$ 398,9 juta. Namun, sejak tahun lalu, BUMI tidak kunjung berhasil menarik piutang dari Bukit Mutiara. Parahnya, dana investasi BUMI di Recapital Asset Management (RAM) pun sudah dipastikan tidak akan cair. Pasalnya, pada 26 Agustus 2013 lalu, perseroan dan Recapital Asset Management (RAM) telah menyepakati bahwa dana investasi BUMI yang ada di RAM akan diselesaikan secara non-tunai. BUMI akan mengambil bagian atas saham-saham RAM sebagai pelunasan secara penuh atas kewajiban RAM kepada BUMI. Nah, kalau sudah begini, langkah apa yang akan dilakukan BUMI untuk melunasi utang-utangnya? Benakat Amankan Kontrak Jangka Panjang Kamis, 3 Oktober 2013 indofinanz PT Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPI) mengganti identitas perseroan menjadi PT Benakat Integra Tbk mengklaim telah mengamankan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$300 juta sampai per tahun hingga tahun 2012. Direktur Keuangan BIPI, Michael Wong, dalam keterangannya usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Rabu (3/10), mengatakan, perseroan mendapatkan kontrak mengelola proses logistik dari PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia. Kontrak jangka panjang diraih anak perusahaan PT Astrindo Mahakarya Indonesia. Benakat Integra juga membidik kontrak jangka panjang di bidang jasa infrastruktur pertambangan di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Likuiditas BUMI Kritis 3-6 Bulan ke Depan. Ada Apa? Editor – Rabu, 25 September 2013, 06:46 WIB Bisnis.com, JAKARTA – Likuiditas PT.Bumi Resources Tbk (BUMI) diperkirakan hanya mampu bertahan dalam periode waktu 3-6 bulan ke depan, sehingga emiten milik Grup Bakrie berpotensi menjual aset atau melakukan restrukturisasi modal sebelum akhir tahun ini. Dalam laporan Moody’s Investor Service bertajuk Liquidity Is Vital for Asian Coal Producers amid Oversupply and High Leverage yang dirilis Selasa (24/9/2013) disebutkan opsi yang sangat mungkin dilakukan BUMI adalah menjual non-core assetsnya seperti Bumi Resources Minerals. Moody’s juga merevisi harga rata-rata pada 2013 untuk batu bara termal Newcastle menjadi US$80-85 per ton dan US$150 per ton untuk batu bara hard coking Queensland. “Kami memperkirakan harga batu bara termal dan coking tidak pulih pada 2014,” tulis Moody’s dalam laporannya yang diterima Bisnis, Selasa (24/9/2013). Hal inilah yang akan membuat kinerja Bumi serta emiten batu bara lainnya akan menjadi lebih sulit. Namun, untuk saat ini, tiga emiten batu bara lainnya yakni PT Berau Coal Energy Tbk, PT Indika Energy Tbk dan PT Adaro Indonesia Tbk dinilai masih memiliki kas yang cukup untuk mendanai kegiatan operasional dan biaya bunga. Ketika dimintai konfirmasi soal laporan Moody’s tersebut, Direktur dan Sekretaris Korporasi Bumi Resources Dileep Srivastava enggan berkomentar karena belum membaca laporan. Dia hanya menyatakan tujuan BUMI adalah mengurangi utang US$1,5 miliar hingga US$2 miliar dari cost debt yang lebih tinggi dengan berbagai langkah strategis. Secara operasional, BUMI telah menghasilkan 40,5 juta ton dan menjual 39,6 juta ton batu bara pada Januari hingga Juni 2013. Angka penjualan ini meningkat 20% dibandingkan dengan penjualan pada semester I tahun lalu Selengkapnya baca: http://epaper.bisnis.com/index.php/ePreview?IdCateg=201309253313# Source : Bisnis Indonesia (25/9/2013) Editor : Yusran Yunus BUMI Targetkan Penjualan Batubara 78 juta ton Oleh: Seno pasarmodal – Jumat, 28 Juni 2013 | 21:54 WIB INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memprediksikan penjualan pada tahun ini sebanyak 78 juta ton, walau harga batubara sedang tertekan. Pada semester pertama tahun ini, perseroan sudah memperoleh kontrak sebesar 38 juta ton. Tekanan terhadap harga batubara, diakibatkan adanya pembatasan impor batubara yang dilakukan oleh negeri tirai bambu, yakni China. “Harga batubara dunia, masih berada di level rendah, di kisaran US$70 per metrik ton,” kata Direktur dan Seketaris Perusahaan PT Bumi Resources Tbk, Dileep Srivastava seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Jumat (28/6/2013). Lebih lanjut dia mengtakan, harga jual batubara pada 2012 mengalami penurunan menjadi US$81,5 per meterik ton dari US$92,3 juta metrik ton. Sehingga, pendapatan perseroan tergerus 5% menjadi US$3,8 miliar dari US$4 miliar. Perseroan juga menderita rugi akumulatif akibat transaksi derivatif senilai US$344,86 juta dari sebelumnya untung US$66,06 juta. BUMI targetkan kontrak penjualan naik tipis Oleh Dityasa H Forddanta – Jumat, 28 Juni 2013 | 20:30 WIB kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memperkirakan, harga batubara global belum bisa pulih tahun ini. Itu sebabnya, BUMI tidak berani menargetkan target tinggi terkait kontrak penjualan batubaranya. Hingga akhir tahun nanti, manajemen memproyeksikan bakal meraih kontrak penjualan batubara seberat 78 juta ton. Angka ini hanya naik tipis, sebesar 4%, dibanding angka tahun lalu seberat 75 juta ton. Dileep Srivastava selaku Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI menilai, selama pembatasan impor batubara yang dilakukan oleh China masih berlaku, maka harga batubara belum bisa naik ke level yang lebih menguntungkan. “Tahun ini mungkin masih ada di level terendah, sekitar US$ 70 per metrik ton,” imbuhnya, Jumat (26/6). Lebih jauh Dileep menjelaskan, pihaknya optimistis mampu merealisasikan proyeksinya tersebut. Bahkan, bisa dibilang itu merupakan target yang sangat mungkin dicapai oleh perusahaan. Pasalnya, BUMI merupakan perusahaan yang memiliki cadangan batubara terbesar di Asia Tenggara. Terlepas masalah utang, kinerja BUMI yang melorot sepanjang 2012 lalu itu disebabkan oleh penurunan harga batubara menjadi US$ 81,5 per metrik ton dari sebelumnya US$ 92,3 juta per metrik ton. Akibatnya, pendapatan BUMI tahun lalu turun 5% menjadi US$ 3,8 miliar dari sebelumnya US$ 4 miliar. Selain itu, anjloknya kinerja BUMI juga dipicu oleh rugi akumulatif akibat transaksi derivatif senilai US$ 344,86 juta dari sebelumnya untung US$ 66,06 juta. “Kami memang mengalami net loss yang cukup besar, tapi sebenarnya kami memiliki fundamental yang kuat,” pungkas Dileep. BUMI jamin utang jangka pendeknya bakal lunas Oleh Dityasa H Forddanta – Jumat, 28 Juni 2013 | 21:47 WIB kontan JAKARTA. Beberapa waktu lalu, Moody’s Investor Service menurunkan peringkat senior secures bond Bumi Resources Tbk (BUMI) dari B2 untuk menjadi B3. Moody’s meragukan kemampuan BUMI untuk membiayai utang kupon obligasinya yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat, yaitu US$ 150 juta per Agustus. Cuma, Direktur & Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava menilai, penurunan rating itu irasional. Pasalnya, tidak ada utang jatuh tempo sebelum dua atau tiga bulan ke depan. Selain itu, BUMI juga memiliki jangka waktu yang cukup untuk mempertimbangkan langkah refinancing atau langsung menyelesaikan utang dengan opsi monetisasi aset. Usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BUMI hari ini, Jumat (28/6), Dileep mengatakan, dengan posisi Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) BUMI saat ini sebenarnya sudah cukup untuk membiayai mulai dari belanja modal hingga masalah utang sekalipun. “Jadi, apa yang harus anda khawatirkan?,” ujarnya. Meski enggan merinci ketersediaan dana untuk membayar tagihan tersebut, namun Dileep memastikan jika pihaknya bakal melunasi tagihan tersebut. Manajemen memiliki opsi mulai dari pendanaan dari kas internal, mengkonversi utang menjadi saham atau debt to equity swap, refinancing, hingga melakukan monetisasi aset. Terkait opsi mana yang bakal diambil, BUMI masih mengkajinya dengan para pengendali BUMI. Tapi, melihat kondisi harga batubara yang sedang seperti ini, manajemen memastikan tidak akan mengambil porsi yang besar dari kas internal untuk membayar utangnya. “Jadi, opsi yang diutamakan adalah ketiga opsi diluar kas internal. Terkait DES, akan kami kaji lebih dalam sehingga eksekusinya bisa saling menguntungkan,” jelas Dileep. Rugi, Bumi Resources Tak Bagi Dividen Jum’at, 28 Juni 2013 20:09 wibRizkie Fauzian – Okezone JAKARTA – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyetujui tidak membagikan dividen dari laba bersih tahun buku 2012. Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava mengatakan, pemegang saham setuju terkait dengan kinerja laporan keuangan 2012 perseroan tidak akan dibagikan menjadi dividen karena masih mengalami kerugian dan adanya penurunan harga jual batu bara dunia di sepanjang tahun lalu. “Perseroan masih mencatatkan rugi sebesar USD666,209 juta dari sebelumnya mendapatkan laba USD216,290 juta di 2011,” kata dia, Kamis (28/6/2013). Seperti diketahui, harga jual batu bara dunia di 2012 memang mengalami penurunan menjadi USD81,5 per metrik ton dari USD92,3 juta metrik ton. Selain itu, pendapatan perusahaan juga turun lima persen menjadi USD3,8 miliar dari USD4 miliar. Perseroan juga menderita rugi akumulatif akibat transaksi derivatif senilai USD344,86 juta dari sebelumnya untung USD66,06 juta. (wdi) BUMI tak khawatir penurunan rating Moody’s Oleh Dityasa H Forddanta – Senin, 17 Juni 2013 | 10:49 WIB kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) rupanya tak mau ambil pusing atas langkah Moody’s Investor Service yang baru saja menurunkan peringkat senior secures bond milik BUMI beberapa waktu lalu. Pada waktu itu, Moody’s menurunkan rating obligasi BUMI tersebut dari B2 untuk menjadi B3. Apesnya lagi, Moody’s masih menelaah ulang rating ini untuk penurunan lebih lanjut. Senior secured bond ini diterbitkan oleh dua anak usaha BUMI, yaitu Bumi Capital Pte Ltd dan Bumi Investment Pte Ltd, senilai US$ 150 juta dan bakal jatuh tempo Agustus mendatang. Kala itu Moody’s beranggapan, rating yang merefleksikan ketidakmampuan BUMI dalam membayar utang dipicu oleh proses pemisahan Bumi Resources Tbk dari Bumi Plc dan pemberhentian penambangan oleh kontraktor di tambang Arutmin di akhir April. Dileep Srivastava, Director and Corporate Secretary BUMI, membantah penilaian Moody’s. Dia menegaskan, hingga saat ini, tidak ada perubahan pada laporan keuangan BUMI dalam enam bulan terakhir. “Jadi, itu pernyataan yang menghakimi dan irasional,” tegasnya kepada KONTAN, akhir pekan lalu. Dileep menambahkan, tidak ada utang jatuh tempo sebelum dua atau tiga bulan ke depan. Selain itu, BUMI juga memiliki jangka waktu yang cukup untuk mempertimbangkan langkah refinancing atau langsung menyelesaikan utang dengan opsi monetisasi aset. “Jadi, tunggu saja pengumuman kami berikutnya,” tukas Dileep. Sayang, Dileep enggan merinci baik porsi pendanaan maupun dana yang sudah tersedia hingga saat ini. Dirinya hanya menjelaskan, selain monetisasi aset, sumber pendanaan atas pembayaran utang BUMI nantinya juga bakal dikombinasikan dari kas internal. Tapi, Dileep mengatakan, kalau kas internal porsinya pasti kecil mengingat harga batubara yang belum membaik. Lebih lanjut dia memastikan, BUMI telah memiliki ketersediaan dana untuk refinancing utang jangka pendeknya. “Jadi, kami tidak mengkhawatirkan rating itu,” pungkasnya. RATING MOODY’S: BUMI Turun dari B2 Jadi B3 Vega Aulia Pradipta – Jumat, 07 Juni 2013, 18:54 WIB BISNIS.COM, JAKARTA—Moody’s Investors Service telah menurunkan rating obligasi senior PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari B2 menjadi B3. Seperti dikutip dari keterangan resmi Moody’s, Jumat (7/6/2013), Moody’s juga sedang mengkaji penurunan rating BUMI yang lebih jauh. Obligasi senior diterbitkan oleh Bumi Capital Pte Ltd dan Bumi Investment Pte Ltd, keduanya dimiliki oleh Bumi Resources. Simon Wong, Moody’s Vice President and Senior Analyst and the Lead Analyst untuk Bumi Resources mengatakan penurunan rating ini mencerminkan concern Moody’s terhadap kemampuan BUMI untuk membiayai kembali utang-utangnya yang akan jatuh tempo. “Concern ini seiring adanya keterlambatan dalam proses pemisahan BUMI dari Bumi Plc, serta adanya penghentian kerja sementara di tambang Arutmin sejak akhir April lalu,” tulis Simon, Jumat (7/6/2013). Seperti diketahui, pada Februari 2013, Bumi Plc telah menandatangani perjanjian untuk mendivestasikan seluruh 29,2% saham miliknya di Bumi Resources kepada Grup Bakrie. Namun transaksi tersebut–yang telah diajukan Grup Bakrie sejak Oktober 2012–masih pending karena menunggu persetujuan para pemegang saham Bumi Plc. “Ketidakpastian struktur pemegang saham Bumi Resources akan membuat refinancing utang BUMI yang jatuh tempo pada kuartal III/2013 jadi tertunda,” tulis Simon. Simon menuturkan kajian Moody’s yang lebih jauh terhadap BUMI akan fokus pada tiga hal. Pertama, melihat kemampuan BUMI melakukan refinancing pinjaman sekitar US$150 juta yang akan jatuh tempo pada Agustus 2013. Kedua, kemampuan BUMI mengurangi jumlah utangnya melalui penjualan aset. Ketiga, kemampuan BUMI untuk memulai lagi operasi di tambang Senakin dan Satui secepat mungkin dan menghindari kemungkinan adanya dampak material terhadap target produksi batu bara tahun ini serta terhadap cash flow perusahaan. “Moody’s akan kembali menurunkan rating perseroan, jika perseroan tidak mampu melakukan refinancing yang jatuh tempo Agustus itu, pada akhir Juni ini,” tulis Simon. Per akhir 2012, Bumi Resources diketahui memiliki utang konsolidasi sebesar US$4,28 miliar. Perseroan perlu melakukan refinance sebesar US$634 juta dari total utang tersebut, yang akan jatuh tempo dalam jangka waktu 12 bulan. Selain itu, pinjaman anak usaha yakni PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar US$406 juta (di mana BUMI memiliki 87,09% saham di sana), akan jatuh tempo pada September mendatang. Adapun per akhir 2012, Bumi Resources tercatat memiliki cash on hand sebesar US$45,1 juta dan US$100 juta restricted cash di bank. Editor : Martin Sihombing FRIDAY, 07 JUNE, 2013 | 02:21 WIB BUMI Regrets Thiess’ Decision to Stop Mining Operations TEMPO.CO, Jakarta – PT Thiess Contractors Indonesia, the subsidiary of Australian mining contractor Leighton Holdings, ceased their activities at two mines owned by PT Arutmin Indonesia, a subsidiary of PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Thiess’ termination was done because they said there are a number of unpaid arrears by Arutmin. Director and Corporate Secretary of Bumi Resources, Dileep Srivastava, dismissed allegations that the arrears are not paid by Arutmin. According to Dileep, Arutmin have continued to paying Thiess’ bills in accordance with the agreed contract. Dileep regrets Thiess’ way of addressing the problem, which he said is not in accordance with the mechanism set out in the contract, “but instead unilaterally suspending their mining activities and ignoring their obligations,” said Dileep in a written statement Thursday, June 6, 2013. “This termination by Thiess will greatly harm the local economy,” he said. He also emphasized that, to date, both Arutmin and KPC have no disputes with any mining contractor. GUSTIDHA BUDIARTIE BUMI: Kami Sudah Bayar Sesuai Kontrak Kamis, 06 Juni 2013 18:00 wibRizkie Fauzian – Okezone JAKARTA – Kabar kembali datang dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI), sebelumnya muncul pernyataan dari perusahaan kontraktor Leighton Holdings, PT Thiess Contractors Indonesia (Thiess) yang menyatakan bahwa dua pertambangan milik BUMI dihentikan lantaran pembayaran yang tidak beres. Kini muncul tanggapan dari BUMI terhadap pernyataan tersebut. “Sebetulnya Thiess yang menghentikan operasi di dua tambang kami yaitu PT Arutmin Indonesia dan perusahaan Indonesia Tata Power Co Ltd, pihak kami selalu membayar sejumlah biaya sesuai dengan persyaratan yang ada dikontrak,” ungkap Director & Corporate Secretary BUMI, Dileep Srivastava dalam siaran persnya, Kamis (6/6/2013). Lebih lanjut, menurut Dileep pihaknya selalu mengikuti kontrak yang sudah dibuat sejak 12 tahun lalu tersebut, namun pihak Thiess dengan secara sepihak menghentikan kontrak tersebut. “Kami sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Thiess, padahal kita telah bekerjasama selama 12 tahun, pihak kami tidak pernah bersengketa dengan kontraktor pertambangan lainnya,” jelasnya. Menurut Dileep, apa yang dilakukan Thiess tersebut telah menyebabkan perekonomian lokal terganggu. Dileep menambahkan, saat ini pihaknya sudah memproses kasus ini ke Mahkamah Agung di Queensland pada 2 April 2013 untuk memperjelas kontrak jasa pertambangan dengan Thiess, karena adanya perubahan UUD mengenai pertambangan (Minerba) yang berlaku mulai 1 Oktober 2012. Seperti diketahui, PT Arutmin Indonesia saat ini memiliki kapasitas produksi batu bara dua juta ton per bulan, dengan dihentikannya dua tambang miliknya, tidak terjadi perubahan pada produksi batu bara. Saat ini produksi batu bara menjadi 74 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya 68 juta ton. (wan) (wdi) Thiess Hentikan Penambangan, Ini Penjelasan Bumi Resources Bumi membantah anak usahanya, Arutmin, tak bayar kewajiban ke Thiess. ddd Kamis, 6 Juni 2013, 18:03 Arinto Tri Wibowo VIVAnews – PT Bumi Resources Tbk mengonfirmasi bahwa PT Thiess Contractors Indonesia telah menghentikan sementara kegiatan penambangan di tambang Senakin dan Satui milik PT Arutmin Indonesia. Namun, manajemen Bumi Resources membantah penghentian sementara penambangan sejak 26 April 2013 itu, karena Arutmin belum membayar kewajiban kepada Thiess. “Arutmin Indonesia menegaskan bahwa perusahaan telah membayar kepada Thiess atas semua haknya berdasarkan persyaratan kontrak,” kata Direktur Bumi Resources, Dileep Srivastava, dalam penjelasan tertulis yang diterima VIVAnews di Jakarta, Kamis 6 Juni 2013. Arutmin Indonesia adalah salah satu anak perusahaan Bumi Resources yang di antaranya memiliki areal penambangan di Senakin dan Satui. Sementara itu, Thiess Contractors Indonesia adalah anak perusahaan kontraktor pertambangan asal Australia, Leighton Holdings. Dileep mengatakan, alih-alih mematuhi mekanisme penyelesaian sengketa, Thiess secara sepihak justru menangguhkan kewajibannya dalam kontrak yang telah dibuat kedua pihak. Arutmin sangat kecewa bahwa Thiess telah memutuskan untuk menempuh tindakan itu, mengingat kedua pihak telah bekerja sama selama 12 tahun hingga saat ini. “Kami juga telah mampu menyelesaikan semua perselisihan sebelumnya, tanpa beralih ke tindakan drastis seperti itu,” tutur Dileep. Ganggu Ekonomi Saat ini, selain dengan Thiess, Arutmin dan PT Kaltim Prima Coal tidak dalam sengketa dengan salah satu kontraktor pertambangan lainnya. Tindakan Thiess tersebut, Dileep menjelaskan, bisa mengganggu perekonomian di dalam negeri. Arutmin Indonesia sendiri telah memulai proses hukum di Mahkamah Agung Queensland pada 2 April 2013. Upaya itu dilakukan untuk memperjelas legalitas kontrak jasa pertambangan dengan Thiess Contractors Indonesia, karena perubahan aturan dalam hukum pertambangan di Indonesia yang mulai berlaku pada 1 Oktober 2012. Referensi untuk kegiatan pertambangan di Indonesia mengacu pada Undang-Undang Minerba Nomor 4 Tahun 2009 dan peraturan pelaksanaannya, termasuk Peraturan Menteri Nomor 28 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Nomor 24 Tahun 2012. Arutmin Indonesia saat ini memproduksi sekitar 2 juta ton batu bara per bulan, setelah Thiess menghentikan sementara kegiatan penambangan di Senakin dan Satui. Namun, Bumi menegaskan bahwa perseroan tidak akan mengubah target penjualan 74 juta ton batu bara pada 2013, dibanding 68 juta ton tahun lalu. (ren) KAMIS, 06 JUNI 2013 | 17:34 WIB BUMI Sesalkan Penghentian Penambangan Thiess TEMPO.CO, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menampik bahwa anak usaha mereka, yaitu PT Arutmin Indonesia, belum membayar tunggakan yang ditagihkan oleh PT Thiess Contractors Indonesia, anak usaha dari kontraktor penambangan asal Australia, Leighton Holdings. Direktur dan Sekretaris Korporat Bumi Resources, Dileep Srivastava, memaparkan bahwa selama ini Arutmin telah berusaha untuk terus membayar tagihan dari Thiess sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Ia sangat menyayangkan Thiess yang tidak menempuh penyelesaian masalah sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam kontrak,”Tapi malah menghentikan aktivitas pertambangan secara sepihak dan mengabaikan kewajiban mereka,” kata Dileep, dalam keterangan tertulisnya, Kamis 6 Juni 2013. Thiess menghentikan aktivitas mereka di dua tambang milik Arutmin, yaitu Senakin dan Satui dengan alasan terdapatnya sejumlah tunggakan yang belum dibayar oleh anak usaha Grup Bakrie tersebut. Menurut Dileep, tindakan Thiess tersebut tidak profesional mengingat kontrak yang sudah terjalin selama 12 tahun lebih dan apabila terdapat masalah selalu bisa diselesaikan sesuai dengan mekanisme kontrak tanpa ada pihak yang dirugikan. “Aksi penghentian oleh Thiess ini akan sangat merugikan ekonomi lokal,” kata dia. Ia juga menegaskan, hingga saat ini baik Arutmin maupun KPC tidak memiliki sengketa dengan kontraktor tambang manapun. Saat ini produksi batu bara Arutmin masih berada di kisaran 2 juta ton per tahun, meski produksi di tambang Senakin dan Satui telah dihentikan oleh Thiess sejak 26 April lalu. BUMI, kata dia, juga belum merevisi target penjualan tahun ini yang mencapai 74 juta ton. Lebih tinggi ketimbang tahun lalu yang sebanyak 68 juta ton. “BUMI akan berupaya mengoptimalkan produksi dari tambang lainnya, seperti milik KPC,” tegasnya. GUSTIDHA BUDIARTIE

Nunggak, 2 Tambang Bumi Resources Setop Produksi! Widi Agustian – Okezone Senin, 3 Juni 2013 08:37 wib MELBOURNE –

Perusahaan kontraktor tambang asal Australia, Leighton Holdings menghentikan aktivitas di dua pertambangan milik PT Bumi Resources Tbk (BUMI) selama lebih dari sebulan akibat pembayaran yang tidak beres dari pihak BUMI. Seperti dilansir dari Reuters, Senin (3/6/2013), Leighton menyatakan aktivitas tambang Senakin dan Satui di Kalimantan Tenggara telah dihentikan. Dua tambang tersebut adalah milik anak usaha BUMI, PT Arutmin Indonesia dan perusahaan Indonesia Tata Power Co Ltd. “Suspensi ini dilakukan karena adanya tunggakan pembayaran, dan Leighton tidak mungkin kembali bekerja sebelum dibayar,” kata Leighton dalam pernyataannya. Dua tambang yang terkena berhenti operasionalnya tersebut menghasilkan 8,9 juta ton batu bara yang digunakan dalam pembangkit listrik, atau sekitar sepertiga dari produksi Arutmin di 2012. Kedua tambang menyumbang 345 juta dolar Australia. atau sekitar 1,5 persen dari pendapatan Leighton pada tahun 2012. Leighton mengatakan akan melanjutkan pekerjaannya ketika tagihan yang ada telah dibayar. (wdi) Inilah Agenda RUPS Tahunan Bumi Resources Oleh: Wahid Ma’ruf pasarmodal – Jumat, 24 Mei 2013 | 06:38 WIB INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan meminta persetujuan pemegang saham untuk pengesahan neraca dan perhitungan laba/rugi untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2012. Permintaan tersebut akan dilakukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan. Rencananya RUPS Tahunan akan dilakukan pada Jumat (28/6/2013). Namun perseroan belum mengumumkan rencana tempat yang akan digunakan untuk acara tersebut. Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Kamis (23/5/2013). Sementara agenda lain dalam RUPS Tahunan tersebut adalah permintaan persetujuan terhadap pertanggungjawaban direksi selama tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2012. Perseroan juga meminta persetujuan rencana penggunaan laba/rugi perseroan untuk tahun buku 2012. Agenda lainnya seperti rencana penunjukkan Akuntan Publik untuk mengaudit laporan keuangan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2013. Perseroan juga merencanakan perubahan susunan pengurus. Pada tahun 2012, BUMI alami kerugian di US$666 juta akibat transaksi valuta asing dan derivatif. Listing badly Kazakh and Indonesian miners battle shareholders in London Apr 27th 2013 |From the print edition the economist EMPIRE-BUILDERS of old claimed they were spreading Britain’s civilising influence. Similar explanations were offered when the London Stock Exchange (LSE) started welcoming mining firms from emerging economies. Listing in London would spur them to adopt British corporate-governance standards, investors were told. The firms would find it easier to raise the vast amounts of capital needed to develop big mines. And punters would be able to bet on a booming industry without worrying about the weaker protections for investors in the wilder parts of the world. Alas, it didn’t work that way, as the latest upheavals at two London-listed firms show. Mehmet Dalman, brought in as chairman 15 months ago to sort out ENRC, a Kazakh mining firm that listed in London in 2007, quit on April 23rd. Other managers recently left in a furore over the firm’s decision to dismiss an investigator looking at its iron-ore division and an American law firm probing allegations of fraud, which it denies. A battle rages between managers, board members and the firm’s three founding oligarchs. Shares in Bumi, a London-listed firm that owns stakes in Indonesian coal mines, were suspended on April 22nd. This followed the widening of a probe into questionable financial arrangements. One of Bumi’s co-founders, Nat Rothschild, a British financier, accuses his Indonesian partners, the politically powerful Bakrie family, of misusing funds. (Some of Mr Rothschild’s relatives are shareholders of The Economist.) Shares in both firms have plummeted, though ENRC’s rallied after the oligarchs said that they might take the firm private again if the other big investors, Kazakhstan’s government and Kazakhmys, another miner, agree. Minority investors are appalled. Those who bought Bumi at the start have lost a bundle. Those who hold ENRC shares could be left with only one plausible buyer. Whom to blame? Investors should have paused before piling in. And the London Stock Exchange should have paused before making its standards more flexible. Desperate to attract business away from rival exchanges, it waived a rule for ENRC requiring a 25% free float for listed firms. Bumi entered by a back door: an Indonesian miner merged with an LSE-listed “cash shell”. Such shenanigans tarnish London’s reputation. From the print edition:

Business Rapor BUMI makin merah terbakar Oleh Dyah Megasari – Selasa, 02 April 2013 | 20:33 WIB kontan JAKARTA.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat kenaikan rugi bersih lebih dari 300% di kuartal ke empat 2012. Eksportir batubara terbesar di Asia tersebut kembali menelan kerugian akibat transaksi derivatif dan pembayaran bunga utang yang lebih tinggi. Rincian kinerja keuangan BUMI, rugi bersih kuartal empat 2012 adalah US$ 34,21 juta, melonjak signifikan dari kerugian periode yang sama tahun sebelumnya yakni US$ 8,3 juta Dengan hasil tersebut, maka rugi bersih akumulatif sepanjang 2012 adalah sebesar US$ 666,21 juta, kinerja yang jauh lebih buruk karena pada tahun sebelumnya sempat untung US$ 216,29 juta. Berdasarkan paparan kinerja keuangan yang dirilis hari ini, kerugian akumulatif akibat transaksi derivatif adalah US$ 344,86 juta, berkebalikan dari untung yang pernah diraup pada 2011 sebesar US$ 66,06 juta. Jumlah pendapatan perusahaan yang berbasis di Jakarta tersebut turun 5% dari US$ 4 miliar menjadi US$ 3,8 miliar. Perlu diketahui, Bumi yang memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$ 1,5 miliar dikendalikan oleh Group Bakrie dan bergabung dengan pemilik dinasti perbankan yakni Rothschild melalui Bumi Plc. Namun saat ini, keduanya berseteru hebat hingga membuat saham BUMI bergerak liar. Harga batubara turun, Bumi Plc tunda ekspansi Oleh Barratut Taqiyyah – Senin, 07 Januari 2013 | 16:39 WIB | Sumber Bloomberg kontan LONDON. Penurunan harga batubara menyebabkan Bumi Plc harus memangkas anggaran belanjanya. Dalam pernyataan yang dirilis hari ini (7/1), Bumi Plc menulis, harga rata-rata batubara pada tahun 2012 adalah US$ 70 per ton. Angka tersebut lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai US$ 81,40 per ton. Terkait hal itu, perusahaan telah menunda sejumlah rencana ekspansi seiring penurunan harga batubara. “Strategi jangka pendek kami sangat jelas. Melakukan pemisahan dengan Bumi Resources (BUMI) dan memaksimalkan nilai dari subsidari operasional, Berau,” jelas CEO Bumi Plc Von Schirnding. BUMI RESOURCES: Kuartal III/2012 bukukan rugi US$33,64 juta Achmad Aris Rabu, 02 Januari 2013 | 15:56 WIB bisnis indonesia JAKARTA: Emiten tambang di bawah kendali Grup Bakrie PT Bumi Resources Minerals Tbk membukukan rugi bersih US$33,64 juta pada kurtal III/2012. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, emiten berkode BRMS itu masih membukukan laba bersih sebesar US$67,48 juta. Berdasarkan laporan keuangan perseroan per 30 September 2012 yang dirilis pada Rabu (2/1), kerugian tersebut dipicu oleh penurunan bagian atas laba bersih dari entitas asosiasi yang membukukan rugi US$6,7 juta. Padahal pada periode yang sama 2011, perseroan mengantongi bagian laba bersih sebesar US$100,77 juta. Akun ini merupakan investasi kelompok usaha perseroan pada PT Newmont Nusa Tenggara (NTT) dengan kepemilikan sebesar 24%. Investasi pada NTT tersebut dicatatkan perseroan melalui anak usahanya yakni PT Multi Daerah Bersaing. Meski merugi, perseroan yang 87,09% sahamnya dimiliki oleh PT Bumi Resources Tbk itu membukukan peningkatan pendapatan sebesar 19,21% menjadi US$17,44 miliar dari kinerja periode yang sama 2011 sebesar US$14,63 miliar.

Perseroan kini memiliki 7 konsesi pertambangan mineral yang mana empat di antaranya berada di Indonesia dan sisanya berlokasi di Afrika. Aset tambangnya yang lain adalah PT Citra palu Minerals, PT Gorontalo Minerals, PT Newmont Nusa Tenggara, Tamagot Bumi SA, Bumi Mauritasnia SA, dan Konblo Bumi Inc.

(ra) Kinerja Keuangan Bumi Resources Hancur-hancuran Widi Agustian – Okezone Rabu, 2 Januari 2013 16:23 wib JAKARTA – Kinerja keuangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) patut disebut hancur-hancuran. Pada akhir September 2012, BUMI mencetak rugi neto yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD632,49 juta. Demikian terungkap dalam laporan keuangan yang ditandatangani oleh Direktur Utama BUMI Ari Hudaya dan diserahkan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (2/1/2013). Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan mencetak laba sebesar USD175,55 juta. Artinya, kinerja keuangannya melorot lebih dari empat kali lipat. Pendapatan perseroan memang turun menjadi USD2,77 miliar dari sebelumnya USD2,86 miliar. Tapi, beban pokok pendapatan juga naik signifikan menjadi USD2,02 miliar dari sebelumnya USD1,76 miliar. Alhasil, laba bruto perseroan turun menjadi USD750,35 juta dari sebelumnya USD1,097 miliar. Selanjutnya, kenaikan total beban usaha menjadi USD437,93 juta dari sebelumnya USD317,08 juta menggerus laba usaha. Laba usaha BUMI pun mengalami penurunan menjadi USD312,42 juta dari sebelumnya USD780,04 juta. Di sisi lain, perseroan juga mencatatkan rugi atas transaksi derivatif sebesar USD422,04 juta dari sebelumnya yang untung USD124,98 juta. Tak hanya itu, perseroan juga mencatatkan rugi kurs sebesar USD24,84 juta dari sebelumnya untung USD44,96 juta. Tekanan juga datang dari rugi atas pelepasan investasi pada entitas asosiasi sebesar USD26,67 juta. Jumlah aset BUMI juga turun menjadi USD7,16 miliar dari sebelumnya USD7,49 miliar. Selain itu, posisi kas dan setara kas perseroan tercatat cuma USD57,07 juta dari sebelumnya USD87,8 juta. Sebelumnya, Grup Bakrie tengah memperjuangkan untuk mengambil alih kembali saham BUMI dari Bumi Plc. Walau demikian, proposal yang diajukannya ke Bumi Plc belum dapat diputuskan. Pemicu keinginan cerai Bakrie dari Bumi Plc lantaran konflik antara Bakrie dengan pemegang saham Bumi Plc, Nat Rothschild. Rothschild menuding adanya penyelewengan keuangan yang dilakukan Bakrie di BUMI. Selain itu manajemen Bumi Resources pun telat dalam untuk menyampaikan laporan keuangan ini. Seharusnya, laporan keuangan ini diserahkan ke pihak bursa efek sebelum tutup tahun. Bursa pun telah menjatuhkan sanksi peringatan tertulis kepada BUMI. (wdi) September 2012, BUMI cetak rugi US$ 655,42 juta Oleh Issa Almawadi, Dyah Megasari – Rabu, 02 Januari 2013 | 16:41 WIB kontan JAKARTA. Sembilan bulan pertama tahun 2012, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) harus mencatat kerugian hingga US$ 655,42 juta. Padahal di periode yang sama tahun sebelumnya, BUMI mencatat laba sebesar US$ 184,07 juta. Dalam keterbukaan informasi kepada bursa pada Rabu (2/1), di periode tersebut, pendapatan BUMI juga turun menjadi US$ 2,77 miliar dari sebelumnya US$ 2,86 miliar. Penurunan pendapatan BUMI terjadi akibat naiknya beban pokok pendapatan yang mencapai US$ 2,02 miliar dari US$ 1,76 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan juga terjadi di sisi laba bruto yang menjadi hanya US$ 750,35 juta. Padahal di periode yang sama tahun sebelumnya, laba bruto BUMI mencapai US$ 1,09 miliar. Begitu juga dengan laba usaha yang menjadi US$ 312,42 juta dari US$ 780,04 juta. Dengan begitu, BUMI mencatatkan rugi per 1.000 saham dasar dan dilusian hingga US$ 31,16 dari sebelumnya laba US$ 8,65. Namun pergerakan harga saham BUMI di hari pertama perdagangan tahun ini ditutup naik 30 poin atau 5,08% ke level Rp 620 per saham. Perlu diketahui, pada semester I-2012 saham salah satu anggota Group Bakrie ini mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 334,11 juta. Aksi jual BUMI mengerek turun IHSG di sesi II Oleh Barratut Taqiyyah – Selasa, 04 September 2012 | 16:14 WIB Komentar Telah dibaca sebanyak 615 kali Komentar Aksi jual BUMI mengerek turun IHSG di sesi II Berita Terkait 3 big cap penyokong indeks pasca gerak liar sesi I IHSG flat setelah berayun antara naik dan turun Analis: Level 4.100 menjadi support penting IHSG Saat yang lain merah, IHSG bisa menanjak Analis: Ruang kenaikan IHSG masih lebar JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya tak kuat menahan tekanan. Pada pukul 16.00, indeks tercatat kehilangan 12,70 poin menjadi 4.105,25. Aksi jual saham-saham big cap menjadi penggerus kinerja indeks sore. Tiga di antaranya yaitu: – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Saham BUMI menurun 90 poin menjadi Rp 650 di sesi II. Tiga sekuritas yang paling gencar menjual saham ini adalah UoB Kay Hian Securities senilai Rp 13,681 miliar, Valbury Asia Securities senilai Rp 8,136 miliar, dan Phillip Securities senilai Rp 7,018 miliar. – PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) Saham BRAU menurun 36 poin menjadi Rp 199 di sesi II. Tiga sekuritas yang paling gencar menjual saham ini adalah CIMB Securities senilai Rp 3,944 miliar, eTrading Securities senilai Rp 731,454 miliar, dan Danpac Sekuritas senilai Rp 424,500 miliar. – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Saham BBRI menurun 50 poin menjadi Rp 7.050 di sesi II. Tiga sekuritas yang paling gencar menjual saham ini adalah Deutsche Securities senilai Rp 76,062 miliar, UBS Securities senilai Rp 50,991 miliar, dan Credit Suisse Securities senilai Rp 14,864 miliar. Investor mulai mengoleksi saham BUMI Oleh Barratut Taqiyyah – Kamis, 30 Agustus 2012 | 11:58 WIB kontan JAKARTA. Setelah terpuruk hingga ke level Rp 630 pagi tadi, investor mulai mengoleksi saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Pada pukul 11.51, saham BUMI tercatat naik 1,49% menjadi Rp 680. Bahkan pada transaksi sebelumnya, saham produsen batubara ini sempat menembus level Rp 730. Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, tiga sekuritas yang paling gencar memburu saham ini antara lain: eTrading Securities senilai Rp 13,957 miliar, Credit Suisse Securities senilai Rp 7,710 miliar, dan Indo Premier Securities senilai Rp 7,381 miliar. Perlu diketahui, saham BUMI mencapai titik tertinggi sejak awal 2012 di level 2.600. Aksi jual yang terjadi beberapa hari terakhir membuat sahamnya berada di bawah nilai rata-rata yakni 1.840. Inilah Pembelaan Manajemen BUMI Oleh: Ahmad Munjin & Agustina Melani pasarmodal – Rabu, 29 Agustus 2012 | 16:36 WIB INILAH.COM, Jakarta – Manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) optimistis penjualan aset akan membantu mengurangi utang perseroan dengan harga yang tepat. Hal itu disampaikan Direktur PT Bumi Resources Tbk Dileep Srivastava, lewat pesan singkat yang diterima INILAH.COM, Rabu (29/8/2012) menanggapi kabar beredar mengenai fundamental keuangan BUMI yang kurang baik. “Dengan sekitar cadangan batu bara 3 miliar ton dan aset likuid non batu bara seperti NNT, Dairi sulit untuk memvisualisasikan skenario soal kebangkrutan keuangan BUMI,” tutur Dileep. Lebih lanjut Dileep menuturkan, pihaknya enggan berkomentar mengenai rumor dan spekulasi mengenai kebangkrutan BUMI. “Bagaimana bisa dikatakan sebagai BUMI bangkrut karena hasil operasional kami selalu kuat setiap kuartal. Pendapatan kami hampir 9% dan penjualan lebih dari 10% dibandingkan tahun lalu,” tegas Dileep. Sebelumnya Analis PT Panin Sekuritas Tbk Fajar Indra memproyeksikan kebangkrutan finansial BUMI. Berdasarkan hitungannya koefisien Z dalam metode Altman untuk industri non-manufaktur. Dia menjelaskan, Altman mendeskripsikan interval skor Z adalah sebagai berikut: jika koefisien Z lebih besar dari 2,6, maka perusahaan berada dalam zona aman; Jika koefisien Z lebih kecil dari 2,6, namun Z lebih besar dari 1,1, perusahaan berada dalam zona abu-abu (antara aman dan tidak aman); Jika koefisien Z lebih kecil dari 1,1, maka perusahaan berada dalam zona tidak aman atau menuju kebangkrutan. Menurut perhitungan Fajar, terlihat bahwa koefisien Z BUMI sangat kecil yakni 0,0982 saja. “Maka dapat disimpulkan bahwa BUMI saat ini berada dalam zona tidak aman atau menuju kebangkrutan finansial,” timpal dia. Selain itu, Laporan keuangan BUMI mencatat bahkan jumlah beban keuangan yang harus dibayar lebih tinggi dari laba usahanya sendiri. BUMI mencatatkan kerugian sebesar US$322 juta pada semester I-2012 setelah mencatatkan keuntungan sebesar US$232 juta pada semester I-2011. “Hal ini tentunya memperlihatkan betapa buruknya solvabilitas BUMI dalam membayar hutang-hutangnya,” tutur Fajar. Sementara itu, dalam riset PT eTrading Securities menyatakan, meski BUMI mengalami kerugian hingga US$322 juta, namun mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 14,12% year on year menjadi US$1,94 miliar. Dengan melihat arus kas pada semester pertama tahun 2012, perseroan mencatatkan pendapatan arus kas operasi positif setelah membayar semua kewajiban termasuk bunga pinjaman. Perseroan juga meningkatkan pendapatan kas aktivitas operasi secara signifikan sebesar 169% dari US$53,31 juta ke level US$143,55 juta. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, BUMI dinilai masih memiliki kinerja yang mampu mendorong perusahaan dapat membukukan keuntungan di periode berikutnya. Saham induk usaha Bumi Resources melorot 4,9% Oleh Edy Can – Rabu, 29 Agustus 2012 | 17:55 WIB kontan JAKARTA. Harga saham Bumi Plc juga terjun menurun di London Stock Exchange. Hingga pukul 11.00 waktu London, harga saham induk usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sudah bertengger di level 335,10 sen poundsterling per saham. Harga saham Bumi Plc ini telah turun 4,9% dibandingkan harga penutupan Selasa (28/8) lalu. Ketika itu, harga saham Bumi Plc berada sebesar 340 sen poundsterling per saham. Sekedar berkilas balik, Bumi Plc yang dulunya bernama Vallar Plc merupakan induk usaha Bumi Resources dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Bumi Plc dibentuk pada 28 Juni 2011 lalu. Perubahan nama ini terkait transaksi antara Vallar dengan Bumi Plc. Dalam transaksi ini, Vallar melalui anak usahanya Vallar Investment UK Limited menguasai 25% saham Bumi Resources dari tangan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Sebaliknya, Vallar menyerahkan 90,07 juta saham baru kepada Grup Bakrie. Bakrie and Brothers mendapatkan 49,38 juta saham baru Vallar itu. Pada 29 Juni 2011 lalu, nilai saham Bumi Plc berada di level 1.174 sen poundsterling per saham. Ini artinya, hingga saat ini, harga saham Bumi Plc telah melorot 71%. Chief Executive Officer Bumi Plc, Nalinkant Amratlal Rathod, mengungkapkan, kinerja keuangan Bumi Plc dipengaruhi kerugian anak usaha karena pembayaran bunga yang cukup tinggi dan kerugian turunan dari Bumi Resources. Pada semester pertama lalu, kinerja Bumi Plc sendiri masih merah. Perusahaan ini menderita kerugian sebesar US$ 117 juta. Harga saham BUMI sendiri ditutup melemah 11,84% menjadi Rp 670 per saham dibandingkan penutupan kemarin (28/8). Begitu juga dengan saham anak usaha Bumi Plc, BRAU yang anjlok 14,29% menjadi Rp 240 per saham saat penutupan pasar. Saham Bumi Resources mendekati terendah sejarah Oleh Dyah Megasari – Rabu, 29 Agustus 2012 | 16:36 WIB kontan JAKARTA. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mendekati titik terendah sepanjang sejarah. Di hitung sejak awal tahun di harga 2.450, setidaknya saham BUMI sudah terperosok sebanyak 72,65%. Hari ini, BUMI ditutup pada titik 670. Dibandingkan dengan penutupan sehari sebelumnya, saham perusahaan batubara yang konon terbesar di tanah air itu sudah mundur 90 poin atau 11,84% dari 760. Hari ini, Panin Sekuritas merilis riset bahwa kondisi keuangan salah satu anak Group Bakrie ini berada di ambang kebangkrutan. Hari ini juga, BUMI menduduki top losers Bursa Efek Indonesia (BEI). Perlu diketahui, saham BUMI mencapai titik tertinggi sejak awal 2012 di level 2.600. Aksi jual yang terjadi beberapa hari terakhir membuat sahamnya berada di bawah nilai rata-rata yakni 1.840. Bumi Falls to 41-Month Low; Director Says Drop ‘Irrational’ By Gan Yen Kuan and Yudith Ho – Aug 28, 2012 5:33 PM GMT+0700 bloomberg PT Bumi Resources (BUMI), Asia’s biggest power-station coal exporter, sank to the lowest level in more than three years after posting a first-half loss and an investment company failed to repay $231 million due yesterday. Shares of Jakarta-based Bumi sank 14.6 percent to 760 rupiah at the 4 p.m. Jakarta time close, the lowest since March 20, 2009. The drop was the biggest on the 820-member MSCI Emerging Markets Index (MXEF), which fell 0.2 percent. Bumi shares have fallen 18 percent the past two days after the company reported Aug. 26 a first-half loss of $322 million, compared with a restated net gain of $232 million a year earlier. PT Recapital Asset Management, an investment fund management group, didn’t repay Bumi $231 million that was due Aug. 27, London-listed Bumi Plc (BUMI), which owns 29.2 percent of Bumi Resources, said in a statement today. “The loss that they had is not what the market expected,” Fadlul Imansyah, who helps manage about $170 million at PT CIMB Principal Asset Management, said by phone from Jakarta today. “The market has very negative sentiments on this group. Once they release something negative, everybody is giving more discount to the share price.” CIMB Group Holdings Bhd., Southeast Asia’s top-ranked investment bank, cut the stock to underperform, equivalent to sell, from neutral. The drop is “irrational but understandable in today’s charged, speculative, wired environment and trading,” Director Dileep Srivastava said in an e-mailed response to questions today. “Our first-half results are operationally sound on sales and growth. I also suspect there may be margin calls and a higher market expectation which is proving unreal in today’s uncertain sector and economic environment.” Coal prices at Australia’s Newcastle port, an Asian benchmark, have fallen 21 percent this year as the Chinese economy slowed and after U.S. and South African producers shifted coal sales to Asia amid a debt crisis in Europe. Bumi has tumbled 65 percent this year, underperforming the 8.3 percent gain in the benchmark Jakarta Composite Index. (JCI) Kisah Saham BUMI, Sempat Tembus Rp 8.750 Kini Tinggal Rp 760 Angga Aliya – detikfinance Rabu, 29/08/2012 13:17 WIB Jakarta – Para pemain lama di pasar modal tidak asing lagi dengan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Perusahaan tambang milik grup Bakrie ini bisa dibilang sebagai penggerak pasar modal pada masa jayanya. Saking populernya saham ini, para pelaku pasar kadang menghubung-hubungkan kejadian di pasar modal dengan saham BUMI. Seperti contohnya, kejadian eror di transaksi Bursa Efek Indonesia (BEI) awal pekan ini, beredar rumor saham BUMI punya peran. Rumor seperti ini tidak terjadi sekali saja, bahkan pada masa krisis, ketika bursa terpaksa ditutup akibat koreksi tajam. Banyak pihak menilai bursa saham sengaja tidak dibuka karena nanti saham BUMI bisa terjun bebas. Pergerakan saham BUMI juga sangat fluktuatif, sejak IPO di tahun 1990 lalu di harga 4.500 per lembar, sahamnya sempat naik turun dalam rentang yang sangat lebar. Seperti dikutip dari data perdagangan bursa, Rabu (29/8/2012), saham BUMI sempat menyentuh posisi intraday tertinggi sepanjang sejarah di level Rp 8.750 per lembar pada 10 Juni 2008 sebelum akhirnya ditutup di Rp 8.150 sore harinya. Sebelum krisis ekonomi global akhir 2008 terjadi, saham BUMI memang menjadi primadona di pasar modal dalam negeri, bersama enam perusahaan Bakrie lainnya atau biasa disebut Bakrie 7. Bakrie 7 selain BUMI antara lain, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Darma Henwa (DEWA), dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Saham-saham ini sempat menguasai pasar modal sebelum krisis ekonomi, namun belakangan ini kinerja keuangan mereka melempem dan berujung pada koreksi di harga saham-sahamnya. Kini, harga saham BUMI pada penutupan perdagangan kemarin ditutup di level Rp 760 per lembar dengan volume perdagangan sebesar 740.939 juta lembar saham. Sejak awal tahun ini, tren melemah sudah menempel terhadap saham BUMI, terutama diakibatkan isu kondisi finansialnya yang tidak terlalu sehat. Penjualan yang dilakukan kepada Vallar Plc (yang kini bernama Bumi Plc) pun tidak bisa memberikan sentimen positif. Pasalnya, kongsi grup Bakrie dan grup Rothschild itu tidak bertahan lama, bahkan kabarnya keduanya saling menjatuhkan untuk mengambil alih Bumi Plc yang tercatat sahamnya di bursa London tersebut. Kini, dengan adanya riset dari Panin Sekuritas, BUMI diprediksi terancam bangkrut gara-gara beban utang yang terlalu tinggi. Salah satu indikasi lain bangkrutnya perusahaan tambang Grup Bakrie itu adalah kerugian Rp 3 triliun di semester I-2012. Emiten berkode BUMI itu mencatat kerugian sebesar US$ 322 juta pada semester I-2012 dibandingkan keuntungan US$ 232 di tahun lalu pada periode yang sama. (ang/dnl) Bumi Resources Indikasikan Kebangkrutan Finansial Widi Agustian – Okezone Rabu, 29 Agustus 2012 10:59 wib okezone JAKARTA – Performa Keuangan semester I-2012 PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sangat buruk dan solvabilitas sangat lemah. BUMI mencatatkan kerugian sebesar USD322 juta pada semester I-2012 setelah mencatatkan keuntungan sebesar USD232 juta pada semester I-2011. Ada beberapa faktor yang disinyalir menyebabkan jatuhnya performa BUMI pada semester I-2012. Faktor pertama adalah tergerusnya marjin laba BUMI diakibatkan melonjaknya biaya produksi per ton sebesar 9,2 persen yang tidak diimbangi oleh naiknya harga jual. Hal ini terjadi hampir di seluruh perusahaan batu bara di Indonesia karena memburuknya harga batu bara dunia. Faktor kedua adalah tingginya beban keuangan yang harus dibayar serta kerugian atas transaksi derivatif. Laporan keuangan BUMI mencatat bahkan jumlah beban keuangan yang harus dibayar lebih tinggi dari laba usahanya sendiri. Hal ini tentunya memperlihatkan betapa buruknya solvabilitas BUMI dalam membayar utang-utangnya. Equity Analyst, Metal & Mining Sectors Panin Sekuritas Fajar Indra menjelaskan, berdasarkan metode Altman score, terlihat bahwa koefisien Z BUMI sangat kecil yakni 0.0982 saja. “Maka dapat disimpulkan bahwa BUMI saat ini berada dalam zona tidak aman atau menuju kebangkrutan finansial,” jelas dia dalam risetnya di Jakarta, Rabu (29/8/2012). Terlebih, BUMI disebut memperpanjang masa investasi dana senilai USD231 juta di PT Recapital Asset Management. Dengan kata lain, BUMI gagal mencairkan investasinya untuk melakukan refinancing. Terlebih dalam dua tahun, BUMI memiliki tanggal jatuh tempo untuk utangnya kepada CIC masing-masing sebesar USD600 juta untuk trance kedua dan USD700 juta untuk trance berikutnnya. Pada pukul 11.02 waktu JATS, harga saham BUMI ini turun Rp10 menjadi Rp760. Harga saham andalan Grup Bakrie ini terus mengalami pelemahan. Jika dihitung dari posisi tertinggi harga saham ini di bulan Agustus 2012, Rp1.140 (8 Agustus), maka harga saham BUMI ini sudah terkoreksi sampai 33,3 persen. (wdi) Pencairan dana investasi BUMI di Recapital mundur Oleh Rika Theo – Selasa, 28 Agustus 2012 | 18:32 WIB kontan JAKARTA. PT Bumi Resources (BUMI) gagal lagi mencairkan dana investasinya di PT Recapital Bumi Plc mengumumkan bahwa PT Recapital Asset Management senilai US$ 231 juta. Pemberitahuan ini disampaikan Bumi Plc di situs perusahaan hari ini (28/8). Sedianya, pencairan investasi BUMI dari Recapital diterima kemarin (27/8), namun ternyata harapan itu meleset. “Diskusi antara Bumi Resources dan Recapital masih berlangsung untuk penjadwalan ulang pencairan itu,” tulis Bumi Plc dalam pernyataannya. Bumi Plc memegang 29,2% saham BUMI. Induk usaha BUMI itu terdaftar di bursa saham London. Semestinya, jika pencairan utang ini terlaksana, Bumi dapat menggunakan dana hasil investasi tersebut untuk mempercepat penyelesaian utang senilai US$ 600 juta kepada China Investment Corp (CIC). Kewajiban itu akan dibayarkan pada Oktober 2012. Utang tersebut adalah bagian dari kewajiban BUMI terhadap CIC senilai US$ 1,9 miliar. Tahun lalu perseroan telah membayar utang tahap pertama senilai US$ 600 juta. Sudah mundur tiga kali Untuk mengingatkan lagi, utang Recapital ini terkait penempatan dana BUMI dalam kontrak pengelolaan dana milik Recapital yang diteken pada tahun 2008. Pengelola BUMI memberi kewenangan kepada Recapital untuk mengelola dana sampai dengan US$ 350 juta. Jangka waktu pengelolaan dana hanya sampai enam bulan. Tapi pada 2 September 2009, BUMI menandantangani kontrak pengelolaan dana kedua dengan tenor enam bulan. Dalam kontrak ini, perseroan memberikan wewenang kepada Recapital untuk mengelola dana hingga mencapai US$ 50 juta. Selanjutnya, pada 28 Februari 2011, perjanjian tersebut diperpanjang sampai 27 Agustus 2012. Jadwal penarikan dana investasi ini mengalami dua kali kemunduran. Semula manajemen BUMI berniat menarik dana dari Recapital pada kuartal I-2012. Tapi rencana itu tidak terealiasasi. Manajemen beralasan penarikan disesuaikan dengan kebutuhan dana, yaitu Juni 2012. Tapi pada Juni 2012 pun tidak ada pencairan dana. BUMI berkilah penarikan belum terlaksana lantaran kondisi pasar tidak menentu. Hal itu bisa menyebabkan pengembalian dana tidak maksimal. Di awal Juli 2012, Bumi Plc, pernah mengumumkan pencairan dana investasi itu akan dilaksanakan pada 27 Agustus 2012. Ini sesuai berakhirnya masa pengelolaan dana. Juli lalu, BEI sempat bertanya kepada manajemen Bumi, apakah perseroan terkena penalti jika menarik dana investasi di Recapital sebelum berakhirnya perjanjian. Pada waktu itu, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Dileep Srivastava menjawab dalam keterbukaan ifnormasi, “Tidak ada penalti yang harus dibayar dalam pencairan dana,” kata Dileep. Dengan rapor keuangan yang merah plus mundurnya pencairan dana investasi ini, tak ayal harga saham Bumi hari ini anjlok 14,61% menjadi Rp 760 per saham. Bumi menuntaskan penjualan Mitratama Oleh Wahyu Satriani – Selasa, 28 Agustus 2012 | 07:09 WIB kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk terus melakukan konsolidasi internal. Kabar terakhir, emiten Grup Bakrie ini telah menjual seluruh sahamnya di PT Mitratama Perkasa. Bumi menjual aset itu kepada PT Sumber Energi Andalan Tbk. Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, Dileep Srivastava menjelaskan, perseroan ini menandatangani akta jual beli atas 30% saham Mitratama Perkasa pada 16 Agustus 2012. Mitratama selama ini menjalankan usaha jasa pertambangan. Setelah kedua pihak meneken akta jual beli saham, “Maka pengalihan kepemilikan atas 30% saham Mitratama Perkasa menjadi efektif dan perseroan telah melepas seluruh kepemilikannya atas Mitratama,” kata Dileep, dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia, Minggu (26/8). Manajemen Bumi beralasan, perseroan melaksanakan transaksi itu dengan maksud agar lebih fokus pada kegiatan usaha pertambangan saja. Sekadar informasi, total nilai investasi Bumi di Mitratama per akhir Maret 2012 senilai US$ 22,85 juta. Sedangkan nilai total aset Mitratama sebelum eliminasi mencapai US$ 354,86 juta. Mengacu ke laporan keuangan Bumi, nilai transaksi penjualan 30% saham Mitratama adalah US$ 1. Padahal, pada 2010 lalu Bumi memperoleh dana senilai US$ 190 juta dari hasil penjualan 69,83% saham Mitratama. Pada Maret 2010, Bumi juga mejual saham 69,83% Mitratama kepada PT Cahaya Pratama Lestari (CPL). Dari aksi itu, kepemilikan Bumi di Mitratama tersisa 30%, sebelum akhirnya dilego ke Sumber Energi Andalan pada 16 Agustus 2012. Sumber KONTAN yang dekat dengan manajemen Bumi menyebutkan, penjualan saham Mitratama bertujuan efisiensi. Valuasi Mitratama adalah US$ 26,7 juta dan dilego seharga US$ 1. Tapi sebagai gantinya, Bumi dapat pembatalan Technical Assistance Contract dimana net present value-nya US$ 45 juta, yang berlaku sampai 2021. “Jadi dalam transaksi ini Bumi bisa menghemat cukup besar,” tutur si sumber. Tekanan jual melanda saham BUMI belakangan ini, puncaknya setelah perseroan merilis laporan keuangan di semester I-2012. Di periode ini, Bumi menderita kerugian US$ 322 juta. Di semester I-2011, Bumi masih mencetak laba US$ 232 juta. Harga BUMI, Senin (27/8), merosot 5,32% menjadi Rp 890 per saham. Jika dihitung sejak awal tahun, maka harga BUMI sudah anjlok 59%. Emiten pertambangan batubara, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan rugi bersih menjadi USD 334,11 juta pada semester pertama 2012 dari untung USD 226,73 juta pada semester pertama 2011. Demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (26/8). Pendapatan perseroan naik menjadi USD 1,94 miliar pada 30 Juni 2012 dari semester pertama 2011 sebesar USD 1,79 miliar. Beban pokok pendapatan perseroan naik menjadi USD 1,39 miliar pada semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 sebesar USD 1,14 miliar. (financeroll/dk) Ekspor Batubara BUMI ke Amerika Serikat Drop Whery Enggo Prayogi – detikfinance Minggu, 26/08/2012 15:12 WIB Jakarta – Perusahaan tambang batubara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tidak lagi mengirim batubara ke Amerika Serikat (AS) sepanjang semester I-2012. Sebagai gantinya, BUMI fokus menjual ’emas hitam’ ini ke Asia dan Eropa. Berdasarkan laporan keuangan BUMI yang dipublikasikan, Minggu (26/8/2012), tahun lalu AS mampu mengkontribusi penjualan batubara masing-masing US$ 3,419 juta. Namun tahun ini nihil, meski manajemen tidak disebutkan alasan penurunan tersebut. Sebagai gantinya, BUMI fokus menjual hasil tambangnya ke dua wilayah, Asia dan Eropa. Penjualan ke Asia diketahui US$ 1,215 miliar, sedikit menurun dari tahun lalu US$ 1,356 miliar. Sementara penjualan ke Eropa justru naik dari US$ 136,076 juta di 2011 menjadi US$ 419,515 juta. Sedangkan penjualan ke dalam negeri masih minim atau setara US$ 299,209 juta dari total penjualan batubara BUMI di semester I-2012 US$ 1,934 miliar. Sebelumnya diketahui, BUMI sepanjang Januari-Juni menghasilkan total pendapatan US$ 1,946 miliar, atau naik US$ 154 juta dari periode yang sama tahun lalu US$ 1,792 miliar. Namun akibat rugi kurs dan rugi transaksi derivatif, kinerja BUMI meredup dengan mencatat rugi bersih US$ 334,111 juta (US$ 15,87 per lembar) hingga Juni 2012. Padahal periode sebelumnya BUMI menghasilkan laba US$ 226,73 juta (US$ 11,41 per lembar). Bumi Resources merupakan salah satu anak usaha kelompok bisnis Bakrie secara tidak langsung, melalui Vallar Investments UK Limited. Vallar memegang 29,18% saham BUMI, dan sisanya dimiliki publik. (wep/hen) Hold Untuk Saham BUMI Oleh: pasarmodal – Selasa, 14 Agustus 2012 | 13:07 WIB INILAH.COM, Jakarta – Peringkat utang PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dipangkas oleh S&P, dan peringkat saham diturunkan menjadi jual oleh UBS AS. Namun, masih ada rekomendasi hold untuk emiten ini. Yualdo Yudoprawiro dari Samuel Sekuritas menyarankan investor untuk tidak langsung membuang saham BUMI, melainkan menunggu hingga target harga terpenuhi, baru melakukan aksi jual. Saat ini, BUMI diperdagangkan dengan PE 2012 sebesar 10 kali dan EV/EBITDA sebesar 3,3 kali. “Saya masih merekomendasikan hold untuk BUMI,”katanya. Rekomendasi ini diberikan, meskipun Standard & Poor’s Rating Services (S&P) menurunkan peringkat utang BUMI menjadi BB- dari sebelumnya BB dengan prospek negatif. S&P menilai bahwa poisisi kas BUMI akan semakin melemah dalam 12-18 bulan ke depan akibat perlemahan pertumbuhan produksi dengan tingginya beban keuangan. S&P juga kemungkinan akan menurunkan rating BUMI lagi jika perseroan gagal mengurangi utang paling sedikit US$500 juta. BUMI masih mempertahankan target produksi batu bara sebesar 75 juta ton dimana manajemen mengatakan bahwa 90% dari jumlah tersebut telah terkontrak dengan harga US$85/ton. Sedangkan Andreas Bokkenheuser dari UBS AG menurunkan rekomendasi saham BUMI menjadi jual dari sebelumnya beli. Target harga pun dipangkas 70% menjadi Rp800 dari sebelumnya Rp2.650. Menurut Andreas, hal ini tak lepas dari melemahnya permintaan batu bara termal untuk pembangkit tenaga uap di China akibat tekanan krisis global. Alhasil, harga batu bara di Newcastle Australia turun 23% sepanjang tahun ini. “Kami perkirakan permintaan batu bara dari China akan menurun, dan BUMI akan melanjutkan kerugiannya pada kuartal pertama 2012 hingga 2013, dengan penurunan harga batu bara tersebut,” kata Andreas, yang dikutip dari bloomberg.com. [ast] Senin, 13 Agustus 2012 | 05:35 WIB Bumi Rugi, Investor Ragu TEMPO.CO , Jakarta: Bumi Plc, induk usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk, merugi (yang diatribusikan pemilik entitas) sebesar US$ 117 juta sepanjang semester satu tahun ini. Kerugian ini disebabkan kerugian anak usaha, terutama karena pembayaran bunga yang tinggi dan kerugian turunan dari Bumi Resources. Pengamat pasar modal, Steve Susanto, mengatakan kerugian yang masih dialami Bumi Plc akan mempengaruhi minat investor dalam negeri dalam melihat saham anak usahanya yang tercatat di bursa. “Mungkin produksi batu bara mereka bagus, tetapi investor ragu kepada jumlah utang yang terlalu besar,” ujarnya kepada Tempo. Dia menilai, kinerja operasional Bumi Resources dan Berau Coal terbilang bagus. Meski menurun 3,61 persen, harga rata-rata penjualan batu bara Bumi Resources yang mencapai US$ 88 per ton dia nilai masih baik. Sedangkan harga rata-rata penjualan batu bara Berau Coal meningkat 2,68 persen menjadi US$ 76,6 per ton. “Harga Bumi Resources saat ini berarti masih ada di grade 6-7,” kata Steve. Sampai sekarang, saham BUMI belum terlalu dilirik asing. Ini disebabkan ada masalah dalam balance sheet perusahaan. “Kalau sampai tidak dilirik asing, berarti ada sesuatu yang tidak bagus di dalamnya. Bukan karena profit loss, tetapi karena balance sheet,” ujarnya. Chief Executive Officer Bumi Plc, Nalinkant Amratlal Rathod, mengakui kerugian yang dialami perusahaan dipengaruhi oleh kerugian anak usaha. Kehilangan utamanya karena pembayaran bunga yang tinggi dan kerugian turunan dari BUMI. Selain itu, harga batu bara thermal yang jatuh secara signifikan selama beberapa bulan terakhir, bersama dengan harga logam mineral lainnya, turut menyumbang kerugian perusahaan kali ini. “Ini menjadi tantangan ekonomi global. Jelas ini menjadi perhatian kami karena jika berkepanjangan akan sangat mempengaruhi tingkat profitabilitas perusahaan,” katanya. Untuk itu, menurut dia, perusahaan berupaya mengurangi biaya produksi dan meningkatkan efisiensi di pos mana pun. Anak usahanya, Bumi, juga berupaya menurunkan tingkat utang dengan cara mencairkan investasi dan aset-aset non-inti. SUTJI DECILYA | SETIAWAN Keluarga Penulis Lumpur Lapindo Diduga Turut Menghilang Penulis : Aditya Revianur | Rabu, 25 Juli 2012 | 04:52 WIB JAKARTA, KOMPAS.com – Ali Azhar Akbar, penulis buku “Lapindo File: Konspirasi SBY-Bakrie” hingga saat ini masih dinyatakan hilang. Bahkan, diduga keluarga penulis buku kontroversial tersebut juga turut menghilang mengingat Ali Azhar dan keluarga tidak dapat dihubungi oleh kuasa hukumnya, Taufik Budiman. “Sampai saat ini klien (Ali Azhar Akbar) kami belum dapat dihubungi. Keluarga yang bersangkutan juga turut tidak pernah menghubungi (Taufik Budiman, red) lagi. Ada kemungkinan keluarga yang bersangkutan juga turut menghilang. Ini baru sebatas dugaan,” ujar Taufik Budiman ketika dihubungi wartawan, Jakarta, Selasa (24/07/2012). Taufik mengaku kontak terakhir dengan Akbar terjadi pada pertengahan Juni ketika keduanya sedang berkonsentrasi pada sidang uji materiil UU APBNP tahun 2012 di Mahkamah Konstitusi. “Terakhir kami bertemu ya pertengahan Juni. Saat itu kami masih berkonsentrasi pada sidang di MK,” terangnya. Sebelumnya, sejak 19 Juni 2012, Ali Azhar Akbar, penulis buku “Lumpur Lapindo File: Konspirasi SBY-Bakrie” dinyatakan menghilang. Tidak ada yang tahu keberadaan aktivis dan penulis buku Lapindo File tersebut. Ada dugaan Akbar sengaja menghilangkan diri atau justru dihilangkan oleh pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh tulisan Akbar sendiri. Namun, seperti yang telah diberitakan oleh beberapa media, Ali Azhar Akbar sering mendapatkan teror via sms dan telepon setelah bukunya diterbitkan dan upayanya menggugat penggunaan uang rakyat di APBN untuk mengatasi kasus Lapindo didaftarkan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Editor : Farid Assifa Uang Rakyat 1,5 Triliun untuk Lapindo Bakrie Penulis : Aditya Revianur | Rabu, 25 Juli 2012 | 05:21 WIB JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Indonesia mengucurkan dana sebesar Rp 1,5 triliun untuk mengatasi dampak semburan lumpur Lapindo yang telah menenggelamkan beberapa desa di Porong, Sidoarjo. Dana milik rakyat itu digunakan untuk membiayai operasional Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS). “BPLS merupakan badan yang dibentuk pemerintah yang bertugas menangani upaya penanggulangan semburan lumpur, luapan lumpur, serta menangani masalah sosial dan infrastruktur akibat luapan lumpur di Sidoarjo. Untuk melaksanakan tugasnya, BPLS dibiayai APBN, dimana untuk Tahun Anggaran 2012 ditetapkan sebesar Rp1,5 triliun,” ujar Dirjen Anggaran Kemenkeu, Harry Purnomo di gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Selasa (24/07/2012). Herry menuturkan, dana Rp 1,5 triliun tersebut akan digunakan untuk membayar ganti rugi korban semburan lumpur di luar peta area terdampak dengan cara pembelian tanah. Menurutnya, di dalam Pasal 18 UU APBN-P 2012 ditetapkan bahwa alokasi dana pada BPLS dapat digunakan untuk pelunasan pembayaran pembelian tanah dan bangunan di luar peta area terdampak pada tiga desa, yakni Desa Besuki, Desa Kedungcangkring dan Desa Pejarakan. Di bagian lain, saat dihubungi usai persidangan, kuasa hukum pemohon uji materi Pasal 18 UU APBNP Tahun 2012, Taufik Budiman menilai bahwa semburan lumpur Lapindo merupakan peristiwa yang disebabkan oleh kelalaian perusahaan keluarga Bakrie dalam melakukan pengeboran. Dirinya menuturkan bahwa persoalan lumpur Lapindo bukan termasuk dalam persoalan yang disebabkan bencana alam. Menurut analisis Taufik, kerugian yang diakibatkan oleh semburan lumpur Lapindo seharusnya ditanggung secara personal oleh PT Lapindo Brantas yang dimiliki Aburizal Bakrie. “Lapindo atau keluarga Bakrie harus merogoh koceknya sendiri. Jadi, mereka tidak bisa menggunakan uang rakyat. Itu kan tidak adil jika uang rakyat Rp 1 triliun lebih dipakai untuk mensubsidi Lapindo atau Bakrie, sehingga tanggung jawab mereka dalam membayar ganti rugi untuk warga korban Lapindo diringankan,” tegasnya. Editor : Farid Assifa PT Bumi Resources Tbk mencatat kerugian bersih hingga sebesar US$ 107,16 juta, pada kuartal I-2012. Kerugian ini terutama disebabkan oleh anjloknya pos transaksi derivatif dan rugi selisih kurs. Ditambah beban usaha yang semakin melejit akibat kenaikan biaya eksplorasi. Namun, pengelola perusahaan milik pengusaha-politisi Aburizal Bakrie ini masih tetap optimistis kinerja perseroan akan membaik. “Kami optimistis bisa mendapatkan kontrak pembelian jangka panjang dengan harga bagus,” jelas Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi.(kontan/az) JAKARTA. Pergerakan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menarik untuk dicermati. Pada pukul 10.50, saham BUMI terjungkal 4% menjadi Rp 1.160. Ini merupakan penurunan pertama dalam lima hari terakhir. Aksi jual investor terhadap saham perusahaan tambang ini disinyalir berkaitan dengan kinerja perusahaan. Asal tahu saja, Bumi Resources membukukan rugi bersih mencapai US$ 100,36 juta di sepanjang kuartal pertama 2012. Padahal, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, BUMI berhasil mengantongi laba bersih sebesar SU$ 108,2 juta. http://investasi.kontan.co.id/news/bukukan-rugi-bersih-investor-melepas-saham-bumi/2012/07/05 Sumber : KONTAN.CO.ID PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membukukan rugi bersih pada Quarter 1 2012 sebesar 921,3 miliar. Hal ini kurang baik bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2011 yang berhasil mencetak keuntungan sebesar 1,07 triliun. Dengan demikian, rugi bersih per saham setara dengan Rp 45.35 per lembar. Berikut Laporan keuangan BUMI Quarter 1 2012 : Last Price 1,170 Share Out. 20.8 B Market Cap. 24304.9 B Balance Sheet Cash 2723.0 B Total Asset 67847.2 B S.T. Borrowing 1191.3 B L.T. Borrowing 37219.6 B Total Equity 6509.8 B Income Statement Revenue 9252.1 B Gross Profit 2949.7 B Operating Profit 1368.9 B Net. Profit -921.3 B EBITDA 1499.1 B Interest Expense 1319.0 B Ratio EPS -45.35 PER -25.80x BVPS 313.37 PBV 3.73x ROA -1.36% ROE -14.15% EV/EBITDA 40.02 Debt/Equity 5.9 Debt/TotalCap 0.86 Debt/EBITDA 25.62 EBITDA/IntExps 1.14 Sumber : IPS RESEARCH

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: