Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Maret 31, 2015

LABA @ bum1 : H1 2014 (kredibilitas AMBLE$)

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 2:02 am

belajar MEMAHAMI FLDTT lage neh🙂, + bukti2nya

JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk (BUMI), perusahaan batubara yang dikendalikan oleh Grup Bakrie, akan menuntaskan proses restrukturisasi utang senilai US$ 3,7 miliar atau sekitar Rp 48 triliun pada kuartal II-2015.

“Progres negosiasi restrukturisasi berjalan dengan baik. Kami tengah mengupayakan penyelesaian yang lebih cepat, sehingga dapat dituntaskan pada kuartal berikutnya,” kata Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivastava kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Meski demikian, Dileep belum bersedia mengungkapkan skema restrukturisasi yang akan diajukan. Yang pasti, perseroan mengkaji semua opsi termasuk penjualan aset, debt to equity swap, penurunan kupon, maupun perpanjangan masa jatuh tempo. “Kita tunggu saja penuntasannya,” ucap dia singkat.

Secara rinci, utang yang membelit Bumi Resources terdiri atas guaranteed senior secured notes yang diterbitkan oleh Bumi Capital Pte Ltd senilai US$ 300 juta, Bumi Investment Pte Ltd senilai US$ 700 juta, dan guaranteed convertible bonds oleh Enercoal Resources Pte Ltd sebanyak US$ 375 juta.

Perseroan juga memiliki utang kepada Country Forest Limited Facility 2009 senilai US$ 1,03 miliar, Credit Suisse 2010 dan 2014 Facility US$ 231,8 juta, UBS AG Facility sebanyak US$ 62,5 juta, Axis Bank Limited Facility 2011 senilai US$ 140 juta, Deutsche Bank 2011 Facility senilai US$ 54 juta, dan China Development Bank Facility US$ 600 juta.

Selanjutnya, perseroan memiliki fasilitas RBI Loan dan Castleford Investment Holdings Ltd senilai masing-masing US$ 80,6 juta dan US$ 150 juta. Semua utang ini akan jatuh tempo pada rentang periode 2014 – 2017.

Pada November 2014, pengadilan Singapura mengabulkan permohonan moratorium kewajiban pembayaran sebagian utang Bumi Resources. Hal ini dalam rangka restrukturisasi utang perseroan senilai total US$ 1,37 miliar.

Selama moratorium itu berlangsung, Bumi Resources tidak dapat melakukan sejumlah aksi korporasi yang diperlukan untuk menyelesaikan transaksi pembayaran utang lainnya. Transaksi yang ditunda meliputi pelunasan kepada China Investment Corporation (CIC) senilai US$ 1,03 miliar, rencana refinancing pinjaman US$ 275 juta, serta penjualan saham PT Fajar Bumi Sakti senilai US$ 130 juta. Direktur Bumi Resources Andrew Beckham pernah mengatakan, restrukturisasi dan negosiasi akan dilakukan secara global. Artinya, perseroan berkomitmen menyelesaikan masalah utangnya kepada semua kreditor.

“Kami tidak pilih kasih terhadap kreditor tertentu. Semua utang akan direstrukturisasi,” kata Andrew, baru-baru ini. (ID)

http://id.beritasatu.com/marketandcorporatenews/kuartal-ii-bumi-tuntaskan-restrukturisasi-utang/112103

Sumber : INVESTOR DAILY

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks harga saham emiten asal Indonesia yang diperdagangkan di bursa Amerika Serikat I Shares MSCI Indonesia ETF (EIDO) pada penutupan perdagangan Kamis (26/3/2015) atau Jumat pagi WIB kembali anjlok.

EIDO penutupan Kamis (26/3/2015) melemah 0,78% ke 26,62, dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (25/3/2015) yang anjlok 2,47% ke 26,83.

Anjloknya EIDO sejalan dengan melemahnya gerak bursa AS. Dow Jones Industrial Average yang turun 0,23% ke 17.678,23, indeks S&P500 di bursa AS bergerak melemah 0,24% ke 2.056,15.

Saham penekan indeks berdasarkan %:

BEST -6,67%
MAIN -6,50%
BUMI -5,75%
BKSL -5,04%

 Saham pendorong indeks berdasarkan %:

SCMA +3,91%
SGRO +2,44%
BHIT +2,11%
MYRX +2,03%

 Sumber: Bloomberg, 2015

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks harga saham emiten asal Indonesia yang diperdagangkan di bursa Amerika Serikat I Shares MSCI Indonesia ETF (EIDO) pada perdagangan Senin atau Selasa pagi melemah untuk hari kelima.EIDO penutupan Senin (9/3/2015) turun 0,52% ke 27, dibandingkan penutupan  perdagangan Jumat (6/3/2015) yang melemah 0,44% ke 27,14.Pelemahan EIDO berlawanan dengan bursa AS. Dow Jones malah naik 0,78% ke 17.995,72, indeks S&P500 di bursa AS bergerak menguat 0,39% ke 2.079,43.

Saham penekan indeks berdasarkan %:

BUMI -5,26%
UNTR -5,17%
LPKR -4,31%
WSKT -4,21%

Saham pendorong indeks berdasarkan %:

SILO +4,58%
VIVA +1,85%
LSIP +0,80%
MYRX +0,67%

Sumber: Bloomberg, 2015

 

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan batu bara PT Bumi Resources Tbk. mendapatkan izin ekspor selama 3 tahun bagi unit usaha PT Kaltim Prima Coal dan Arutmin dari pemerintah Indonesia.

Dileep Srivastava, Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, menjelaskan dengan izin tersebut, maka Arutmin dan Kaltim Prima Coal saat ini telah terdaftar di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai eksportir batu bara.

“Paruh pertama ini kami mengekspor batu bara sekitar 60% dari total produksi,” ujarnya, Selasa (7/10/2014).

Dia memperkirakan kebutuhan batu bara di dalam negeri pada tahun depan akan meningkat tajam. Sementara itu, untuk pasar ekspor, Dileep mengharapkan permintaan dari India dan Jepang akan bertambah dalam beberapa tahun ke depan.

Adapun, setelah sempat disuspen, harga saham emiten berkode BUMI itu ditutup melemah 16,32% pada penutupan perdagangan kemarin menuju level Rp159 dibandingkan posisi pada penutupan sebelumnya Rp190.

 

Editor : Martin Sihombing

 

JAKARTA kontan. China Investment Corporation telah resmi mengempit saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Hal ini merupakan bagian dari upaya pembayaran utang perseroan kepada kreditur asal negeri tirai bambu tersebut.

Mengutip data RTI, jumlah saham tercatat BUMI sudah 36,62 miliar saham. Artinya sudah ada tambahan sebanyak 15,85 miliar saham hasil pelaksanaan rights issue. Sebelumnya, jumlah saham tercatat BUMI sebesar 20,77 miliar saham.

Dari 15,85 miliar saham yang terserap, sebanyak 6,9 miliar atau setara dengan US$ 150 juta diambil CIC. Ini merupakan tahap lanjutan pembayaran utang perseroan yang totalnya mencapai US$ 1,3 miliar.

Pada awal Juli 2014, BUMI telah melepas kepemilikan 19% saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) milik BUMI. Nilai transaksi ini setara dengan US$ 950 juta. Berarti, total utang yang sudah terbayar sekitar US$ 1,1 miliar.

Selanjutnya, perseroan tinggal melakukan transfer aset berupa 42% saham  PT Bumi Resource Minerals Tbk (BRMS). Nilai transaksi yang disepakati sebesar US$ 257,4 juta.

Editor: Hendra Gunawan

 

Jakarta – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun hingga 11,58 persen ke 168 pada sesi pertama perdagangan pagi ini karena rencana perseroan untuk mengurangi porsi rights issue dan menjajaki pinjaman baru untuk melunasi utang.

Bumi akan menjajaki pinjaman baru sebesar US$ 275 juta untuk melunasi (refinancing) utang dalam jumlah yang sama. Perseroan sedang berdiskusi secara intensif dengan sejumlah kreditor, yaitu Axis Bank, Credit Suisse, Deutsche Bank, UBS, dan China Development Bank (CDB).

Direktur Utama Bumi Resources Ari Hudaya mengatakan, pihaknya terus berupaya melakukan negosiasi ulang terkait kesepakatan pinjaman. Hal itu dilakukan untuk menghindari gagal bayar (default).

“Kami akan jajaki opsi refinancing melalui pinjaman baru yang memiliki tingkat suku bunga lebih rendah. Kami juga akan tawarkan opsi perpanjangan tenor. Itu semua tergantung dari pembicaraan dengan para kreditor nanti,” kata Ari di sela paparan publik insidentil Bumi Resources di Jakarta, Senin (6/10).

Perusahaan batubara terbesar di Indonesia milik keluarga Bakrie tersebut semula berencana membayar utang secara tunai dari hasil penawaran umum terbatas saham (rights issue).

Perseroan juga berniat mengalokasikan sejumlah dana rights issue untuk mengembangkan konsesi Gallo Oil Ltd dan PT Gorontalo Minerals. Namun, rencana tersebut batal, karena kekurangan permintaan (undersubscription) dari para investor terhadap saham baru perseroan.

Bumi terpaksa memangkas nilai rights issue sampai dua kali. Semula, perseroan menargetkan rights issue sebesar US$ 700 juta. Perseroan kemudian menurunkannya menjadi US$ 425 juta dan kembali dipangkas menjadi US$ 314 juta.

Bumi kini hanya akan menerbitkan 15,8 miliar saham baru atau setara 43,1 persen dari modal disetor. Adapun harga pelaksanaannya tetap sebesar Rp 250 per saham.

Dana hasil rights issue yang diperoleh Bumi hanya cukup untuk beberapa keperluan perseroan. Sebanyak US$ 14 juta dialokasikan untuk modal kerja, sedangkan sebesar US$ 150 juta akan dipakai untuk pelunasan sebagian fasilitas pinjaman kepada China Investment Corporation (CIC). Sisanya US$ 150 juta bakal digunakan untuk melunasi seluruh utang perseroan kepada Castleford Investment Holdings Ltd.

Sebelumnya, pada Juni 2014, Bumi Resources berhasil menghindari status gagal bayar (default) dengan melunasi kupon obligasi. Obligasi sebesar US$ 300 juta tersebut jatuh tempo pada November 2016 dan memiliki kupon sebesar 12 persen. Kupon seharusnya dibayar pada 12 Mei 2014. Namun, perseroan meminta perpanjangan waktu hingga 11 Juni 2014.

Jika pada tanggal itu Bumi Resources belum melakukan pembayaran, pemegang obligasi berhak meminta percepatan. Perseroan juga dapat ditetapkan default. Namun, perusahaan tambang yang dikendalikan keluarga Bakrie itu berhasil melakukan pelunasan dan akhirnya terhindar dari gagal bayar.

Transaksi CIC

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivastava menambahkan, transaksi penyelesaian utang kepada CIC senilai total US$ 1,4 miliar hampir tuntas. Perseroan telah mengalihkan sebanyak 19 persen saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) senilai US$ 950 juta kepada CIC. Perseroan juga telah melepas sebanyak 18,84 persen saham senilai US$ 150 juta melalui rights issue.

“Sisanya tinggal penutupan transaksi pengalihan 42 persen saham PT Bumi Resources minerals Tbk (BRMS) senilai US$ 257 juta. Transaksi ini segera kami rampungkan dalam waktu dekat, agar utang kepada CIC bisa ditutup,” jelas Dileep.

Selanjutnya, Bumi akan fokus pada pembayaran obligasi konversi senilai total US$ 375 juta. Masa jatuh tempo obligasi tersebut telah diperpanjang hingga 2018. Adapun tingkat suku bunga telah diturunkan dari 9,25 persen menjadi 6 persen.

Jika semua rencana transaksi berjalan lancar, jumlah utang Bumi Resources sekitar US$ 4 miliar akan turun menjadi US$ 2 miliar. Dileep optimistis, pemangkasan itu dapat terealisasi pada akhir 2015.

“Penyelesaian masalah utang akan menjadi sentimen positif bagi perseroan, sehingga diharapkan dapat mengangkat harga saham Bumi Resources jauh lebih tinggi dibandingkan saat ini,” ujar Dileep.

Sementara itu, dari segi operasional, Bumi Resources berharap dapat memproduksi batubara sebanyak 90 juta ton tahun ini. Hingga Juni 2014, perseroan telah memproduksi sebanyak 45,3 juta ton batubara atau naik 10 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 41 juta ton.

Adapun pendapatan perseroan selama semester I-2014 tercatat sebesar US$ 1,5 miliar, turun 15 persen dibandingkan periode sama tahun lalu senilai US$ 1,8 miliar. Meski demikian, perseroan berhasil mencetak laba bersih sebesar US$ 130 juta, dibandingkan semester I-2013 yang membukukan rugi bersih US$ 269,7 juta. Laba bersih tersebut berasal dari keuntungan pengalihan saham KPC.

http://www.beritasatu.com/pasar-modal/215525-garagara-utang-saham-bumi-resources-turun-11.html
Sumber : BERITASATU.COM

JAKARTA kontan. Tidak mau kalah dengan manajemen PT Bumi Resoruces Tbk (BUMI) yang marah dan kecewa dengan para investor yang dinilai tidak mendukung rencana perseroan. Investor publik yang hadir dalam public expose (PE) insidentil hari ini pun membalas pernyataan manajemn BUMI.

Salman, salah satu investor publik yang hadir mengatakan, salah satu penyebab para investor publik tidak mengeksekusi haknya adalah karena pihaknya sudah tidak pecaya lagi kepada manajemen BUMI.

“Manajemen (BUMI) harus melakukan aksi korporasi yang membuat kami percaya, kalau kepercayaan publik ada, ya pasti kami akan percaya,” ujarnya, Senin (6/10).

Selain itu, harga penawaran rights issue yang ditentukan manajemen pun ada di atas harga pasar ketika itu. Menurut jadwal rights issue BUMI, eksekusi penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dilakukan Juli 2014.

Pada saat itu, rata-rata harga saham BUMI ada di kisaran Rp 189 per saham. Bahkan, sempat menyentuh level Rp 150 per saham. Sementara, harga pelaksanaan saham baru BUMI dibanderol Rp 250 per saham.

“Kalau saja kami eksekusi hak kami, kami akan rugi,” imbuh Salman.

Steven, investor publik lainnya menambahkan, saham baru yang diterbitkan BUMI dalam rangka penawaran umum terbatas (IV) kemarin adalah saham seri B. Ia khawatir ada perbedaan hak dan perlakuan antara pemegang saham seri A dan seri B.

Seperti diketahui, awalnya BUMI menawarkan sebanyak-banyaknya 32,19 miliar saham baru seri B dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Adapun, harga penawaran dibanderol Rp 250 per saham. Namun, yang terserap ternyata hanya 15,85 miliar saham.

Dari 15,85 miliar saham yang terserap, pemegang saham publik yang mengeksekusi hanya 11,41 juta. Mengutip prospektus rights issue BUMI, kepemilikan saham publik BUMI mencapai 70,82%. Jika semua mengeksekusi, maka seharusnya penyerapan oleh investor publik mencapai 22,8 miliar saham.

Jadi, penyerap saham-saham baru BUMI selain investor publik yang minim itu, adalah Long Haul Holdings Limited melalui PT Karsa Daya Rekatama dan Castleford Investment Holdings Ltd melalui PT Damar Reka Energi. Masing-masing menyerap 6,9 miliar saham yang nilainya setara dengan US$ 150 juta.

Adapun, saham-saham yang diserap digunakan unutk konversi utang BUMI kepada kreditur. Kemudian, sebanyak 2,04 miliar saham diserap oleh pembeli siaga, yakni PT Danatama Makmur. Sekitar 16,34 miliar saham yang tidak terserap dimasukkan kembali ke dalam portepel perusahaan.

Editor: Sanny Cicilia
Liputan6.com, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyatakan pembatalan penerbitan saham baru senilai US$ 275 juta atau sekitar Rp 3,1 triliun karena mengalami kekurangan permintaan.Hal itu disampaikan dalam materi publik perseroan yang disampaikan dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), yang ditulis Minggu (5/10/2014). Dalam penjelasan kepada otoritas bursa, perseroan mengalami kekurangan permintaan dalam rangka penawaran saham terbatas atau rights issue senilai US$ 275 juta.Selain itu, para kreditor tidak bersedia menerima pembayaran pinjaman dalam bentuk saham. Perseroan melihat peluang positif untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut dengan para kreditur guna menentukan langkah selanjutnya.Alhasil perseroan tidak dapat memperoleh dana tunai US$ 275 juta atau sekitar Rp 3,16 triliun dari hasil penerbitan saham baru sekitar 12,65 miliar lewat rights issue. Perseroan memasukkan kembali 12,65 miliar saham ke dalam portepel.Dana hasil rights issue antara lain digunakan untuk melunasi pinjaman antara lain kepada Axis Bank Limited 2011, Credit Suisse 2010-2012, Deutsche Bank 2011, UBS AG 2012, dan CBS 2011.Perseroan juga membatalkan rights issue untuk merealisasikan anggaran proyek Gallo dan Gorontalo Minerals. Masing-masing perolehan dana rights issue itu US$  48 juta untuk proyek Gallo Oil dan US$ 32,58 juta untuk proyek PT Gorontalo Minerals.Berdasarkan prospektus yang diterbitkan 30 Juni 2014, perseroan akan melakukan rights issue dengan melepas 32,19 miliar saham. Total dana yang diincar sekitar Rp 7,7 triliun.Dengan pembatalan rights issue senilai US$ 270 juta, pereroan hanya melepas 15,85 miliar saham dengan dana yang diraup mencapai Rp 3,61 triliun.Dana hasil rights issue antara lain digunakan untuk modal kerja perseroan mencapai US$ 14 juta. Lalu perseroan melunasi sebagian fasilitas pinjaman dari China Investment Corporation melalui Country Forest Limited sebesar US$ 150 juta. Selain itu, perseroan juga melunasi seluruh utang perseroan kepada Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$ 150 juta.Sejumlah pihak yang mengambil bagian dalam rights issue PT Bumi Resources Tbk antara lain publik sejumlah 11,53 juta saham. Lalu perusahaan milik grup Bakrie, Long Haul Holding Ltd melalui mekanisme debt to equity conversion sejumlah 6,9 miliar saham.Castleford Holding Ltd melalui mekanisme debt to equity conversion sejumlah 6,9 miliar saham dengan PT Damar Reka Energi sebagai agen fasilitas castleford. Selain itu, PT Danatama Makmur sebagai pembeli siaga menyerap sekitar 2,04 miliar saham. (Ahm/)

Credit: Agustina Melani

 

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membeberkan alasan pembatalan sebagian rencana Penawaran Umum Terbatas (PUT IV) dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue.

Dalam materi paparan publik yang dirilis Jumat (3/10), BUMI mengatakan, batalnya penerbitan 12,65 miliar saham baru lewat rights issue lantaran kekurangan permintaan (undersubscription). “Para kreditor tidak bersedia menerima pembayaran pinjaman dalam bentuk saham,” tulis manajemen BUMI.

Imbasnya, BUMI tak mampu meraih dana tunai yang seharusnya US$ 275 juta setara Rp 3,16 triliun dari rights issue. BUMI kembali memasukkan 12,65 miliar saham dalam portepel.

BUMI sudah mengalokasikan US$ 275 juta dana rights issue untuk melunasi lima fasilitas pinjaman. Kelima fasilitas itu dari utang Axis Bank Limited (2011), Credit Suisse (2010), Deutsche Bank (2011), UBS Bank AG (2012) dan China Development Bank (2011).

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI sebelumnya mengatakan, akan mencari alternatif lain yang efisien untuk melunasi utang lima kreditur.

BUMI juga membatalkan dua bagian PUT IV lainnya, yaitu US$ 48 juta setara Rp 552 miliar dan US$ 32,58 juta setara Rp 374,67 miliar.

Bagian pertama yang senilai US$ 48 juta semestinya dianggarkan untuk merealisasikan penggarapan Blok 13 dan Blok R2 dari konsesi hidrokarbon yang dimiliki anak usaha BUMI di Yaman, Gallo Oil (Jersey) Ltd.

Sementara bagian rights issue US$ 32,58 juta untuk uji kelayakan konsesi tembaga dan emas yang dimiliki PT Gorontalo Minerals, cucu usaha BUMI. Dua bagian rights issue itu dibatalkan karena kurang diminati investor.

Tiga bagian yang dibatalkan tersebut merupakan sebagian dari total rights issue BUMI 32,19 miliar saham senilai US$ 700 juta. Akibatnya, pelaksanaan PUT IV BUMI hanya 15,85 miliar saham senilai US$ 314 juta setara Rp 3,61 triliun.

Dana hasil rights issue tersebut, US$ 14 juta setara Rp 161 miliar untuk memenuhi modal kerja dan pembayaran bunga BUMI.

Kedua, US$ 150 juta setara Rp 1,73 triliun untuk melunasi sebagian utang kepada China Investment Corporation (CIC). Ketiga, US$ 150 juta atau Rp 1,73 triliun melunasi utang kepada Castleford Investment Holdings Ltd (Castleford). BUMI menjelaskan saham rights issue itu diserap empat pihak.

Perusahaan khusus milik Grup Bakrie, Long Haul Holding Ltd (Long Haul) menyerap 6,9 miliar saham rights issue BUMI. Long Haul menunjuk PT Karsa Daya Rekatama sebagai agen menyerap rights issue BUMI.

Pihak kedua adalah Castleford yang menyerap 6,9 miliar saham rights issue BUMI melalui mekanisme konversi utang menjadi ekuitas. PT Damar Reka Energi bertindak sebagai agen fasilitas yang diserap Castleford.

PT Danatama Makmur turut mengambil 2,04 miliar saham BUMI. Danatama memang telah berjanji akan menjadi pembeli siaga. Sisa saham yang dilepas yakni 11,53 miliar, diserap oleh publik.

Editor: Avanty Nurdiana

 

JAKARTA kontan. Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) menginstruksikan kepada manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk menggelar public expose (PE) insidentil. Hal ini terkait dengan kewajiban perseroan untuk memberikan keterbukaan informasi mengenai hasil penawaran saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Dileep Srivastava, Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, pihaknya akan menggelar PE insidentil pada Senin (6/10) di Kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.

“Agendanya informasi mengenai hasil pelaksanaan penawaran umum terbatas IV PT Bumi Resources Tbk,” ujarnya dalam pernyataan resmi Jumat (3/10).

Beberapa waktu lalu, BEI melakukan pemanggilan kepada manajemen BUMI terkait dengan informasi tersebut. “Kami sudah panggil untuk minta penjelasan mengenai penjatahan rights issue,” kata Hoesen, Direktur Penilaian Perusahaan BEI.

Maklum, perusahaan batubara milik Grup Bakrie ini belum juga mengumumkan informasi mengenai hasil rights issue yang telah mendapatkan persetujuan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 30 Juni 2014 lalu.

Wasit pasar saham ini pun memutuskan untuk menyetop perdagangan  saham BUMI mulai sesi pertama perdagangan Kamis (25/9). Sehari setelah suspen dilakukan, manajemen BUMI merilis informasi, pihaknya membatalkan 12,65 miliar saham yang rencananya ikut dikeluarkan pada aksi rights issue Juli 2014 lalu.

Total nilai penerbitan mencapai Rp 3,16 triliun atau Rp 250 per saham (harga rihgts). Dana ini awalnya akan digunkan perseroan untuk membayar utang kepada sejumlah kreditur. Sekadar mengingatkan, pada aksi rights issue BUMI, jumlah saham yang diterbitkan mencapai 32,19 miliar saham seri B dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Nilai aksi koporasi ini pun jumbo, yakni mencapai Rp 8,04 triliun.

Editor: Fransiska Firlana

 

JAKARTA kontan. Hanya dalam rentang waktu tiga hari, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengubah kebijakan mengenai pelaksanaan Penawaran Umum Terbatas IV (PUT IV) dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue.

Dalam pernyataan resmi ke Bursa Efek Indonesia, Sabtu (27/9), BUMI memutuskan membatalkan rencana menerbitkan 12,65 miliar saham baru lewat rights issue. Padahal, dua hari sebelumnya, BUMI menyatakan hanya akan menunda rights issue senilai Rp 3,16 triliun atau setara US$ 275 miliar itu. Jumlah itu adalah sebagian dari total rights issue BUMI yang mencapai 32,19 miliar saham dengan total nilai US$ 700 juta. Dengan pembatalan itu, BUMI akan kembali memasukkan 12,65 miliar saham itu ke dalam portepelnya.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI menuturkan, pihaknya akan menggelar paparan publik pekan ini untuk menjelaskan situasi terkini emiten batubara itu termasuk pelaksanaan rights issue yang hanya US$ 425 juta.

Meski rights issue tak dilakukan seluruhnya, Dileep bilang, BUMI akan terus berupaya mengurangi utang dengan seefisien mungkin. “Kami akan mencari opsi lain (selain rights issue) untuk memangkas utang di masa mendatang,” kata Dileep kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Berdasarkan prospektus rights issue BUMI, salah satu prioritas penggunaan dana US$ 275 juta awalnya adalah pelunasan fasilitas utang perseroan ke beberapa kreditur secara proporsional.

Beberapa kreditur yang dimaksud adalah Axis Bank Limited dengan jumlah pokok terutang US$ 135 juta. Kemudian Credit Suisse cabang Singapura senilai US$ 117 juta yang jatuh tempo pada 2013. Lalu, Deutsche Bank AG cabang Singapura dan WestLB AG cabang Singapura dengan total pokok terutang US$ 54 juta. Pinjaman ini jatuh tempo November 2014. UBS AG cabang London senilai US$ 65 juta, serta China Development Bank (CDB) sebesar US$ 600 juta.

Selain membayar utang, BUMI akan memakai saham rights issue untuk membayar biaya kontraktor di proyek Gallo Oil (Jersey) Ltd dan PT Gorontalo Minerals. Secara speksifik, dana US$ 48 juta dipakai untuk merealisasikan anggaran program Blok 13 dan blok R2 konsesi hidrokarbon Gallo Oil. Adapun pihak yang akan mendapat saham BUMI atas pembayaran jasa kontraktor proyek Gallo Oil itu berdomisili di #502 Girija Imperial, Plot No. 22, Image Hospital Road, Gafoomager, Madhapur, India.

Setelah pelaksanaan penawaran saham baru dengan HMETD, kontraktor migas ini akan mengempit 2,19 miliar saham atau sebesar 5,45% saham BUMI. Dengan penjelasan ini, Dileep berharap BEI segera membuka kembali perdagangan saham BUMI yang telah dihentikan sementara sejak Kamis (25/9).

Editor: Sandy Baskoro

 

Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memangkas nilai penawaran umum terbatas saham (rights issue) sebesar US$ 275 juta menjadi US$ 425 juta dari semula US$ 700 juta.

Perusahaan batubara terbesar di Indonesia milik keluarga Bakrie itu mengurangi penerbitan saham baru sebanyak 12,65 miliar menjadi 19,54 miliar dari semula 32,19 miliar unit. Adapun harga pelaksanaan sebesar Rp 250 per saham.

Pemangkasan tersebut tidak mengurangi upaya perseroan dalam menekan jumlah utang dan memperkuat keuangan perusahaan. “Kami akan melakukan pemaparan publik pekan depan untuk memperjelas masalah ini,” kata Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Dileep Srivastava kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (25/9).

Perseroan semula mengalokasikan dana US$ 275 juta dari hasil rights issue untuk membayar utang kepada sejumlah kreditor. Namun, perseroan melihat kemungkinan untuk bernegosiasi ulang terkait penyelesaian utang. Bumi akan bernegosiasi dengan Axis Bank Ltd, Credit Suisse, Deutsche Bank, UBS AG, dan CDB.

Pinjaman kepada Credit Suisse seharusnya jatuh tempo tahun lalu. Utang kepada UBS AG jatuh tempo pada Maret 2014, sedangkan pinjaman kepada CDB pada Februari 2016. Adapun utang kepada Deutsche Bank akan jatuh tempo pada November 2014.

Sebelumnya, Bumi Resources berniat menerbitkan 32,19 miliar saham baru senilai total Rp 8,04 triliun (US$ 700 juta). Dari aksi tersebut, dana sebesar US$ 150 juta dialokasikan untuk membayar sebagian obligasi konversi (convertible bond/CB) yang senilai total US$ 375 juta.

Perseroan juga akan menggunakan dana rights issue sebesar US$ 32,58 juta atau setara Rp 374,67 miliar untuk membiayai studi kelayakan (feasibility study) di konsesi pertambangan tembaga dan emas milik anak usaha perseroan, PT Gorontalo Minerals.

Sementara itu, untuk melunasi pinjaman kepada Country Forest Ltd (CFL), anak usaha China Investment Corporation (CIC), serta utang kepada Castleford Investment Holdings Ltd, Bumi mengalokasikan dana masing-masing sebesar US$ 150 juta.

Bumi ingin menyelesaikan utang kepada CIC sebesar US$ 1,3 miliar. Tingkat bunga pinjaman tersebut sebesar 12 persen per tahun. Dari jumlah tersebut, sebanyak US$ 600 juta akan jatuh tempo pada Oktober 2014 dan sebesar US$ 700 juta pada Oktober 2015.

Pada Juni 2014, Bumi Resources berhasil menghindari ancaman gagal bayar dengan melunasi kupon obligasi. Adapun total nilai surat utang global tersebut sebesar US$ 300 juta. Jatuh temponya pada November 2016 dan memiliki kupon sebesar 12 persen.

Kupon seharusnya dibayar pada 12 Mei 2014. Namun, perseroan meminta perpanjangan waktu hingga 11 Juni 2014. Jika pada tanggal itu Bumi Resources belum membayar, pemegang obligasi berhak meminta percepatan. Perseroan juga dapat dinyatakan dalam status default. Namun, Bumi berhasil melakukan pelunasan dan akhirnya terhindar dari ancaman gagal bayar.

http://www.beritasatu.com/pasar-modal/212911-bumi-pangkas-rights-issue-jadi-us-425-juta.html
Sumber : BERITASATU.COM

 

INILAHCOM, Jakarta – PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia telah menyepakati renegosiasi kontrak pertambangan.

Kedua perusahaan tambang Pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) generasi pertama. Dirjen Minerba Kementerian ESDM, R Sukhyar mengatakan proses renegosiasi terus dilakukan dan ditargetkan rampung pada September ini.

Sukhyar menyebut, dua PKP2B generasi pertama yakni KPC dan Arutmin telah menyepakati renegosiasi. Kesepakatan itu kemudian dituang dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) amandemen kontrak pertambangan. “KPC dan Arutmin sudah sepakat renegosiasi. Hari ini tandatangan MoU-nya,” kata Sukhyar di Jakarta, Selasa (23/9/2014).

Sementara itu, Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batubara Kementerian ESDM Bambang Tjahjono Setiabudi menambahkan, luas wilayah KPC dari 90.938 hektar menjadi 84.938 hektar. Sedangkan luas wilayah Arutmin dari 58.898,24 hektar menjadi 55.573,37 hektar. “Luas wilayah KPC berkurang 6.00 hektar dan Arutmin sekitar 3.324,87 hektar,” ujarnya.

Penandatanganan MoU itu menambah jumlah PKP2B yang sudah menandatangani hal serupa sebelumnya yakni sebanyak 51 PKP2B. Dari 73 pemegang PKP2B hanya tersisa 20 PKP2B yang masih dalam tahap finalisasi renegosiasi kontrak pertambangan. [hid]

 

Topsaham- Manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyatakan untuk menunda sisa pengeluaran saham-saham baru atau right issue sebanyak-banyaknya 12.650.000.000 saham senilai Rp3,162 triliun atau US$275 juta.
Direktur Perseroan Dileep Srivistava dalam penjelasannya kepada bursa Kamis (25/9), mengatakan bahwa semula hasil pengeluaran saham ini direncanakan untuk pembayaran utang kepada kreditur-kreditur perseroan seperti diuraikan dalam prospektus.
“Perseroan melihat peluang positif untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut dengan para kreditur guna menentukan langkah selanjutnya,” ujarnya.  http://www.topsaham.com/new1/index.php?option=com_content&view=article&id=11203:bumi-tunda-right-issue&catid=35:finansial&Itemid=55
Sumber : TOPSAHAM.COM
SINGAPURA. Rencana PT Bumi Resources Tbk (BUMI) merampingkan postur utang, menjadi pe-er utama perusahaan investasi tambang ini. Salah satu cara yang akan diusahakan saat ini adalah memangkas beban bunga utang, khususnya dari kreditur Credit Suisse.

Dileep Srivastava, Direktur BUMI mengatakan, perusahaan berencana memangkas beban bunga sebesar US$ 200 juta di akhir tahun 2015. Sampai Juni, utang perusahaan mencapai US$ 7 miliar, termasuk empat kesepakatan utang dari Credit Suisse Group AG bernilai US$ 700 juta.

“Mengurangi beban utang adalah persoalan penting, dan yang paling mahal adalah utang-utang dari Credit Suisse,” kata Dileep Srivastava pada Bloomberg di Singapura, awal bulan ini. Dia yakin, jika bisa mengurangi beban utang dan pasar puas dengan kemajuan BUMI, para kreditur akan lebih lunak melihat situasi perusahaan.

Pengurangan beban utang akan membantu BUMI di tengah harga batubara yang turun. Harga batubara di Asia yang terpangkas 50% sejak puncaknya di tahun 2008 membuat bumi ngos-ngosan memperbaiki postur utang, mencari sumber dana baru, dan menjual aset.

BUMI mencairkan semua utang dari Credit Suisse Juni lalu. Srivastava bilang, salah satu utang senilai US$ 117,5 juta, berbunga 18% di atas London Interbank Offered Rate (Libor). Sedangkan utang lainnya senilai US$ 114,3 juta, berbunga Libor plus 8%.

Dua fasilitas utang lainnya untuk PT BUmi Resources Mineral total US$ 466 juta, dibebankan bunga 6%-7% dari Libor.

Harga obligasi BUMI senilai US$ 700 juta yang jatuh tempor pada Oktober 2017 turun 21,5 sen tahun ini ke 45,57 sen dollar pada 8 September. BUMI juga turun 36% ke Rp 191, berbanding kenaikan IHSG sebesar 23%. Debt-to-capital ratio perusahaan ini mencapai US$ 107,5%.

Srivastava bilang, BUMI tercatat memiliki obligasi berdenominasi dollar senilai US$ 1,375 miliar, serta utang US$ 2,67 miliar. Utang non-obligasi ini termasuk US$ 1,04 miliar pada China Investment Corp (CIC), US$ 600 juta pada China Developtment Bank Corp dan Credit Suisse.

Pada tanggal 22 Agustus lalu, BUMI berhasil merekstrukturisasi salah satu utang obligasinya senilai US$ 375 juta sehingga bunga dipangkas menjadi 6% dan jatuh tempo 2018 mendatang. Juli lalu, Srivastava juga bilang akan menjual aset pertambangan lagi pada CIC sehingga utang akan turun menjadi US$ 632 juta.

 

http://investasi.kontan.co.id/news/bumi-lobi-credit-suisse-mengurangi-bunga-utang
Sumber : KONTAN.CO.ID

 

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengkonfirmasi telah meraih persetujuan mayoritas pemegang obligasi (bondholders) untuk melakukan restrukturisasi surat utang senilai US$ 375 juta.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI menyatakan, Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) yang digelar di Singapura, Jumat (22/8) hari ini, dihadiri sekitar 87% bondholders.

Jumlah ini sudah memenuhi persyaratan kuorum kehadiran dalam RUPO har ini yang dipatok 66,7% dari seluruh jumlah pemegang obligasi. “(Proposal restrukturisasi) hampir disetujui secara bulat, yaitu oleh sekitar 98% dari bondholder yang hadir (dalam RUPO),” kata Dileep kepada KONTAN, Jumat (22/8).

Untuk memuluskan proposal restrukturisasi itu, BUMI disyaratkan meraih kuorum pernyataan setuju minimal 75% dari seluruh bondholders yang hadir RUPO. Dileep bilang, BUMI sedang menyiapkan pengumuman lebih detail mengenai hasil RUPO tadi siang.

Seperti diketahui, melalui permohonan restrukturisasi itu, BUMI ingin memperpanjang jatuh tempo obligasi dari 5 Agustus 2014 menjadi 7 April 2018. BUMI juga meminta perubahan harga konversi obligasi dari Rp 3.366,9 menjadi Rp 250 per saham.

Sementara tingkat bunga obligasi setelah restrukturisasi diminta BUMI turun menjadi 6% per tahun dari sebelumnya yang Rp 9,25% per tahun.

 

Editor: Sanny Cicilia

kontan JAKARTA. Ketidakmampuan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membayar nilai pokok obligasi konversi senilai US$ 375 juta dinilai negatif oleh lembaga pemeringkat tersohor dunia, Standard & Poor’s CreditWire (S&P).

Peringkat (rating) utang jangka panjang emiten batubara Grup Bakrie itu dipangkas S&P dari “CC” menjadi “SD” alias Selective Default. Di saat bersamaan, S&P juga memangkas ASEAN regional scale rating BUMI dari “axCC” menjadi “SD”.
Vishal Kulkarni, Analis S&P mengatakan, berdasarkan kriteria lembaga pemeringkat itu, kegagalan BUMI melunasi pokok obligasi tepat pada jatuh tempo, yaitu 5 Agustus 2014, dianggap sebagai gagal bayar (default).
Terlebih, BUMI juga tidak mampu melunasi pokok obligasi yang senilai US$ 375 juta itu hingga berakhirnya masa tenggang (grace periode) pada 12 Agustus 2014 kemarin. S&P juga menempatkan rating “CCC-” atas senior secured notes BUMI ke dalam CreditWatch dengan implikasi negatif.
S&P menilai kegagalan melunasi obligasi konversi dapat memicu cross-default surat utang BUMI lainnya. “Dengan skenario tersebut, kami akan memangkas rating BUMI dan obligasi yang diterbitkannya menjadi “D” alias “Default”,” tulis Kulkarni dalam keterangan resmi, Rabu (13/8).
Kendati begitu, S&P tetap menunggu proses restrukturisasi obligasi konversi yang sedang diajukan BUMI.
Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI menyatakan, pihaknya telah mencapai kesepakatan secara prinsip dengan perwakilan pemegang obligasi (bondholders) untuk memperpanjang tenor surat utang konversi menjadi 7 April 2018.
BUMI tentunya tetap harus menggelar Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) pada tanggal 22 Agustus untuk mendapatkan restu dari bondholders lainnya. Adapun, ketentuan kuorum kehadiran yang disyaratkan adalah 66,7% dari seluruh jumlah pemegang obligasi.
Sedangkan, syarat kuorum pernyataan setuju adalah sebesar 75%. Kulkarni bilang, S&P berencana mendongkrak (upgrade) lagi rating utang BUMI ketika restrukturisasi obligasi konversi selesai dilaksanakan.
Tapi, syaratnya, utang-utang lain yang dimiliki BUMI tidak berstatus default. “Jika utang-utang BUMI lainnya ada yang berstatus default,” kami akami memangkas rating BUMI menjadi “D” (Default),” terang Kulkarni.
Editor: Barratut Taqiyyah

 

kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengklaim telah memenuhi kewajibannya untuk membayar bunga obligasi konversi sesuai dengan janji yaitu pada Selasa (12/8). “(Bunga obligasi) sudah dibayar secara tunai,” kata Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI kepada KONTAN, Selasa (12/8).

Namun, Dileep menolak membeberkan nilai bunga obligasi yang dibayarkan BUMI. Sekedar gambaran, per 30 Juni 2014, beban bunga yang dibayarkan atas obligasi konversi itu tercatat senilai US$ 17,34 juta. Jumlah itu lebih tinggi dari beban bunga atas obligasi konversi di semester I tahun lalu yang senilai US$ 14,97 juta.

Dalam keterbukaan informasi yang dirilis Senin (11/8) kemarin, BUMI memang mengemukakan rencana untuk membayar bunga obligasi konversi tersebut pada Selasa (12/8) hari ini. Janji ini dikemukakan di saat BUMI sedang dalam proses untuk merestrukturisasi obligasi bernilai pokok US$ 375 juta itu.

Ada tiga perubahan klausul yang diminta BUMI melalui restrukturisasi itu, pertama, jatuh tempo obligasi konversi diperpanjang dari 12 Agustus 2014 hingga 7 April 2018. BUMI juga meminta penurunan bunga obligasi dari 9,25% menjadi 6% per tahun.

Terakhir, BUMI meminta perubahan harga konversi obligasi yang diterbitkan anak usahanya, Enercoal Resources Pte. Ltd. Awalnya, obligasi itu dapat dikonversi menjadi saham biasa BUMI senilai Rp 3.366,9 per saham. Nah, BUMI meminta harga konversi diturunkan jadi hanya Rp 250 per saham saja.

Wajar saja, harga saham BUMI terus terjungkal sejak kisruh antara Grup Bakrie dengan Nathaniel Rothschild di Asia Resources Minerals Plc, mantan induk usaha emiten batubara itu. Pada Selasa (12/8), harga BUMI ditutup naik 2,2% ke level Rp 186 per saham.

BUMI berencana menggelar Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) pada 22 Agustus 2014 untuk meminta persetujuan restrukturisasi tersebut. “Kami optimistis akan mendapatkan restu dalam RUPO pada 22 Agustus nanti,” terang Dileep.

Obligasi konversi tersebut diterbitkan Enercoal pada 5 Agustus 2009 di Singapura. Credit Suisse (Singapura) bertindak sebagai Placement Agent tunggal emisi obligasi itu. BUMI menggunakan dana hasil obligasi untuk mendanai equity swap sebesar US$ 115 juta, premi atas transaksi Capped Call senilai Us$ 51,28 juta, dan sisanya untuk keperluan umum perusahaan.

Obligasi itu sejatinya bisa dikonversi menjadi saham BUMI dalam periode empat puluh satu hari setelah tanggal penerbitan hingga sepuluh hari sebelum tanggal jatuh tempo yang semestinya pada 5 Agustus 2014 lalu.

Namun, BUMI tak memiliki dana yang cukup untuk melunasi obligasi itu tepat waktu. Pasalnya, posisi kas BUMI peer 30 Juni 2014 tercatat “hanya” US$ 48,67 juta. BUMI kemudian mengajukan permohonan restrukturisasi kepada para pemegang obligasi dalam RUPO pada 20 Juni 2014.

Sayangnya, RUPO tersebut gagal mencapai kuorum sehingga tidak bisa mengambil keputusan atas permohonan restrukturisasi. BUMI kemudian mendapatkan tambahan waktu jatuh tempo hingga Selasa (12/8) hari ini.

BUMI baru berencana menggelar RUPO kedua pada tanggal 22 Agustus mendatang. Kendati ada jeda antara waktu jatuh tempo dengan pelaksanaan RUPO, BUMI mengklaim bahwa segala wanprestasi atas pembayaran pokok obligasi akan dikesampingkan hingga diambilnya keputusan mengenai restrukturisasi tersebut.

Editor: Edy Can

kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI)  masih melakukan negosiasi dengan para pemegang obligasi senilai US$ 375 juta yang diterbitkan anak usahanya, Enercoal Resources Pte. Ltd. (Enercoal).

Obligasi tersebut seharusnya jatuh tempo besok, Selasa (5/8) ini. Namun, BUMI mengajukan surat permohonan untuk merestrukturisasi obligasi tersebut. BUMI mendapatkan tambahan tenggat waktu hingga 12 Agustus 2014 mendatang untuk meraih restu dari pemegang obligasi Enercoal.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, poin utama restrukturisasi tetaplah berkaitan dengan waktu jatuh tempo dan penurunan kupon obligasi Enercoal.

BUMI meminta waktu jatuh tempo diperpanjang dari 5 Agustus 2014 menjadi April 2018. Emiten batubara milik Grup Bakrie itu juga ingin menurunkan tingkat bunga obligasi dari klausul awal yang 9,25%.

“Perseroan saat ini dalam tahap pembicaraan, dan diharapkan bunga dapat dikurangi ke bawah 7%,” kata Dileep dalam jawaban kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (4/8).

Permohonan tersebut masih sama dengan proposal yang diajukan BUMI pada 5 Juni 2014. BUMI sebenarnya sudah sempat menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) pada 20 Juni 2014 lalu.

Namun, RUPO tersebut tidak bisa memberikan keputusan lantaran gagal memenuhi persyaratan kuorum. Restrukturisasi menjadi jalan satu-satunya BUMI untuk menghindari ancaman default.

Soalnya, melihat kondisi keuangan yang morat-marit, BUMI tentu sulit untuk melunasi obligasi tersebut sesuai tanggal jatuh tempo. Merujuk pada laporan keuangan per 30 Juni 2014, BUMI memang hanya memiliki kas senilai US$ 46,67 juta. Kondisi tersebut menjadikan BUMI sebagai emiten dengan likuiditas paling seret di Indonesia.

Editor: Sanny Cicilia

INILAHCOM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) per 30 Juni 2014 meraih pendapatan mencapai US$1,5 miliar dari US$1,8 miliar pada periode yang sama 2013.

Untuk beban penjualan turun menjadi US$1,2 miliar dari US$1,4 miliar. Dengan demikian laba bruto menjadi US$314,7 juta dari US$373,9 juta. Demikian mengutip keterangan resmi perseroan, Jumat (1/8/2014).

Untuk beban usaha mencapai US$203,7 juta dari US$232,2 juta. Jadi perseroan mencatat laba usaha menjadi US$110,9 juta dari US$141,6 juta.

Untuk laba sebelum pajak mencapai US$252,2 juta dari rugi sebelum pajak sebesar US$277,6 juta. Perseroan menanggung beban pajak penghasilan sebesar US$222,7 juta dari US$7,9 juta. Hasilnya, laba bersih perseroan menjadi US$130,09 juta dari rugi bersih US$269,7 juta.

Perseroan mencatat penurunan total liabilitas menjadi US$7 miliar dari US$7,3 miliar. Sementara untuk total aset perseroan menjadi US$6,7 miliar dari US$7 miliar.

 

Bumi Resources, the most indebted coal producer in Asia, is trying to sweeten its debt-exchange offer, sending a letter to holders of its $375 million bonds ahead of a repayment deadline next week.

The Jakarta-based coal-mining group, which risks default if it doesn’t pay on Aug. 5, is offering convertible bondholders new terms that include repaying the debt in April 2018, three years sooner than its initial June 5 proposal, which wasn’t successful at a creditors meeting June 20. It’s also considering splitting the 9.25 percent debt into convertible and straight debentures, and paying a coupon on the latter of 8.5 percent, according to the letter, a copy of which was obtained by Bloomberg News. The June 5 proposal was offering a revised 7 percent coupon.

The sweetened offer may help Bumi secure a default waiver as it seeks to manage $4.7 billion of short-term liabilities at the end of 2013. The June 20 bondholders meeting in Singapore to vote on the first note restructuring plan and waiver failed because it didn’t achieve a quorum. Two other companies linked to Indonesia’s Bakrie family have missed payments on $535 million of dollar bonds since March 2013.

Andrew Beckham, Bumi’s Jakarta-based chief financial officer, declined to comment on the new terms when contacted by e-mail and phone on Thursday. Dileep Srivastava, another company director, also declined to comment when contacted by e-mail.

Subject to discussion

Bumi has held talks with some bondholders about the new terms, according to the letter. They include an ad-hoc committee representing investors Nan Fung Investment Advisors and Vervain Income Investment, as well as funds managed by Pine River Capital Management and JPMorgan Chase.

No agreement has been reached, and the latest proposed terms are still subject to discussion and may be adjusted slightly again, people familiar with the matter said, asking not to be identified because the matter is private.

The convertible notes, sold by Bumi unit Enercoal Resources in 2009, gained 0.21 cent to 40 cents on the dollar in Hong Kong on Friday, according to Bloomberg-compiled prices. They returned 14.3 percent in July, ending a six-month slide, and are down 25.6 percent since Dec. 31.

Stock slide

Under the latest proposal, the $375 million of bonds would be split into two tranches, one of which would include amended economic and conversion features and the other of which would be restructured as straight debt, according to the letter. Both tranches would share in the common security package on equal basis with Bumi’s other senior secured creditors, who have already consented to such treatment, the letter said.

Tranche one would include $225 million of April 2018 debt paying a 6 percent coupon and convertible into Bumi shares at Rp 300 (3 cents) each after Aug. 5, 2015. Tranche two would comprise $150 million of April 2018, 8.5 percent straight debt, yielding 9.25 percent.

In the initial June 5 offer to bondholders, Bumi sought to exchange the existing 9.25 percent bonds with new 7 percent convertible notes due July 2021. The stock conversion price for them was to be cut to Rp 750 from Rp 3,366.9.

Bumi’s shares are down 37 percent this year. The stock last traded at Rp 189 July 25, after which markets in Indonesia closed for a week-long holiday. The Jakarta Composite Index is up 19 percent in 2014.

Benchmark coal prices in the Southeast Asian nation have fallen 9.8 percent this year to $72.45 a metric ton on July 31, extending a two-year slump to the lowest since November 2009.

Bumi, 29.2 percent-owned by the Bakrie group, warned in June that it’s “highly likely” to default if bondholders don’t consent to a restructuring. In December, Bakrie Telecom missed a coupon on $380 million of 2015 notes, while Bakrieland Development didn’t make a put option payment on $155 million of 2015 convertible debt in March 2013.

Bumi shareholders on June 30 passed a resolution allowing the company to raise Rp 8.05 trillion by Sept. 1 via the sale of 32.2 billion new shares at Rp 250 apiece, the company said on July 1.

Standard & Poor’s upgraded Bumi to CC from selective default on July 7, after the mining company completed a separate deal with creditors including China Investment Corporation. Bumi is still at risk of being downgraded because S&P deems the convertible bond restructuring as a distressed exchange, the ratings company said.

Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bumi Resources Tbk., perusahaan tambang batubara milik Grup Bakrie, pada semester I/2014 membukukan penurunan pendapatan 15,05% menjadi US$1,58 miliar dari semester I/2013 sebesar US$1,86 miliar.

Penjualan batu bara ekspor ke pihak ketiga merosot 20,78% menjadi US$1,22 miliar pada Januari-Juni 2014.

Emiten berkode BUMI itu pada semester I tahun ini membukukan laba bersih sebesar US$168,02 juta10,55 juta.

Sedangkan, pada periode sama tahun lalu, perseroan mencatatkan rugi selisih kurs sebesar US$25,2 juta.

Laporan keuangan per Juni 2014 yang terbit pada Jumat, (25/7), menyebut kelompok usaha saat ini dalam proses finalisasi strategi reorganisasi modal, termasuk potensi penjualan aset untuk memenuhi kewajibannya.

Editor : Saeno

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: