Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

April 28, 2016

BAKR13’$ game (11) … 280416

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:54 am

BNBR dapat proyek dari McDermott

MANFAATken MOMENTUM PENUNDAAN KENAEKAN THE FED FUND RATE K 2016 dengan KEBIJAKSANAAN BI RATE DI BAWAH 7%

bird

Bakrie & Brothers Tawarkan 17,45% Saham ke Kreditor
Rabu, 27 April 2016 | 19:46

JAKARTA id – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) akan merestrukturisasi utang senilai Rp 990,69 miliar dengan cara menerbitkan obligasi wajib konversi (OWK). Perusahaan investasi milik keluarga Bakrie tersebut siap menawarkan sebanyak 17,45% saham kepada lima kreditor.

Lima kreditor Bakrie & Brothers tersebut adalah Daley Capital Ltd dengan pokok utang senilai Rp 430,36 miliar, Interventures Capital Ltd senilai Rp 373,75 miliar, Smart Treasure Ltd senilai Rp 90,83 miliar, Harus Capital Ltd senilai US$ 6 juta atau setara Rp 81 miliar, dan PT Maybank Kim Eng Securities senilai Rp 14,73 miliar.

Bakrie & Brothers bersama Daley Capital, Interventures Capital, dan Smart Treasure telah menandatangangi perjanjian utang pada 29-30 Maret. Berdasarkan perjanjian tersebut, ketiga kreditor menyatakan utang lama perseroan telah diselesaikan.

Sementara itu, perseroan melakukan perjanjian penyelesaian dengan Harus Capital dan perjanjian penyelesaian surat sanggup dengan Maybank Kim Eng. Perjanjian diteken pada 31 Maret 2016. “Perseroan akan membayar utang kepada para kreditor melalui penerbitan OWK, dengan nilai sebagaimana telah diuraikan,” ungkap manajeman Bakrie & Brothers dalam pengumuman resmi, Selasa (26/4).

Sesuai rencana, OWK senilai Rp 990,69 miliar akan dikonversi menjadi saham baru sebanyak 19,81 miliar saham dengan harga pelaksanaan Rp 50 per saham. Jangka waktu OWK tersebut lima tahun. Pemegang OWK dapat melakukan konversi atas OWK pada setiap 15 Juni atau 15 Desember setiap tahun. Adapun cara perhitungan formula konversi atas OWK menjadi saham baru, yakni jumlah saham baru sama dengan jumlah utang dibagi harga saham perseroan, yakni Rp 50 per saham.

Setelah rencana transaksi, kepemilikan pemegang saham lama akan mengalami delusi 17,45%. Kepemilikan Credit Suisse AG dalam Bakrie & Brothers akan menjadi 17,84%, dari 21,61%, Mackenzie Cundill Recovery menjadi 7,71% dari 9,34%, Interventures Capital Pte Ltd menjadi 4,24% dari 5,14%, dan masyarakat menjadi 52,76%, dari 63,92%.

Sementara itu, Harus Capital akan memiliki 1,43% saham Bakrie & Brothers, Smart Treasure 1,60%, Daley Capital 7,58%, Interventures Capital 6,58%, dan Maybak Kim Eng 0,26%. Guna memuluskan aksinya, perseroann akan meminta izin kepada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 2 Juni 2016.

Pemilihan OWK

Manajeman Bakrie & Brothers mengaku dengan kondisi keuangan yang tidak sehat, perseroan harus melakukan restrukturisasi terhadap utang yang dimiliki. “Dengan kondisi yang demikian, perseroan tidak mempunyai kemampuan membayar seluruh kewajiban terhadap kreditur, maka harus dilakukan restruktrisasi atas utang-utang dengan cara konversi utang menjadi modal saham,” jelas manajemen.

Per 31 Maret 2016, ekuitas bersih negatif perseroan mencapai Rp 3,8 triliun, modal kerja negatif Rp 9 triliun, dan rasio total utang terhadap total aset 141%. Kinerja yang tidak sehat ini bermula saat perseroan mencatat saldo negatif Rp 27,7 triliun pada 30 Juni 2011. Saldo ini merupakan akumulasi defisit dari dua krisis finansial yang menimpa Indonesia pada 1998 dan 2008.

“Mayoritas defisit ini merupakan akumulasi dari kerugian bersih perusahaan sebesar Rp 16,5 triliun di 2008, Rp 1,7 triliun pada 2009, dan Rp 7,6 triliun pada 2010,” kata manajeman.

Untuk mengeliminasi defisit, perseroan melakukan kuasi-reorganisasi dengan menggunakan laporan keuangan 30 Juni 2010. Di akhir tahun kedua perseroan melaksanakan kuasi reorganisiasi, kinerja keuangan perseroan membaik dengan mencatatkan laba ditahan Rp 497,98 juta.

Namun, pada akhir 2012 terjadi penurunan harga pasar portofolio saham publik, yang dimiliki perseroan dicatat sebagai investasi jangka pendek yang tersedia untuk dijual. Hal ini mengakibatkan terjadi penurunan nilai aset secara signifikan mulai mempengaruhi struktur ekuitas perseroan.

Pada 2013, terjadi penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi Rp 12.189 per dolar AS. Dampaknya, perseroan mengalami kerugian Rp 12,37 triliun. Pada 2015, penurunan nilai tukar rupiah berlanjut menjadi Rp 13.795 per dolar AS. Sehingga, perseroan kembali membukukan kerugian sebesar Rp 1,75 triliun, dan akumulasi kerugian perseroan menjadi Rp 13,82 triliun.

rose KECIL

Jakarta -Saham PT Bumi Resources Tbk (BMRS) akhirnya bergerak setelah sekian lama mati suri. Belakangan ini, saham milik Grup Bakrie ini sesekali bergerak, meski akhirnya kembali stagnan.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip detikFinance, Jumat (1/4/2016), saham tambang Bakrie ini betah bertengger di level Rp 50 alias gocap terhitung sejak 7 Agustus 2015.

Hari ini, saham BRMS bergerak dari level gocap.

Hingga pukul 14.10 waktu JATS, saham BRMS naik 2,00% atau 1 poin ke Rp 51. Saham BRMS sempat menyentuh level tertingginya di Rp 52 dan terendahnya di Rp 50.

Frekuensi saham yang ditransaksikan mencapai 915 kali dengan total volume perdagangan sebanyak 932.965 saham senilai Rp 4,7 miliar.
Tak lama berselang, saham BRMS kembali stagnan di level Rp 50.

Hingga pukul 14.27 waktu JATS, saham BRMS kembali bergerak dan melesat 4,00% atau 1 poin ke Rp 51. Frekuensi saham yang ditransaksikan sebanyak 992 kali, dengan total volume perdagangan sebanyak 1.006.587 saham, senilai Rp 5,1 miliar. Hingga pukul 14.42 waktu JATS, saham BRMS ditransaksikan hingga mencapai Rp 5,3 miliar.

Bergeraknya saham BRMS ini bersamaan dengan isu pengambilalihan PT Newmont Nusa Tenggara oleh pengusaha nasional pemilik PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) Arifin Panigoro.

Emiten berkode saham BRMS tersebut masuk ke Newmont melalui perusahaan patungan yang didirikan bersama PT Daerah Maju Bersaing. Perusahaan patungan yang diberi nama Multi Daerah Bersaing alias MDB ini diketahui memiliki 24% saham Newmont.

(drk/ang)

rose KECIL

Jakarta ID -PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) sepanjang 2015 membukukan penjualan sebesar Rp 2 triliun ditopang komoditas sawit dengan nilai penjualan Rp 1,5 triliun dan karet Rp 500 miliar. Program revitalisasi perkebunan, dan kemampuan produksi kebun inti sawit dan karet menjadi pemicu raihan kinerja tersebut.

Produksi inti dua komoditas itu tetap stabil di tengah pelemahan harga komoditas di pasar global, diskon harga domestik CPO (Crude Palm Oil) akibat kebijakan pungutan CPO Fund US$ 50 per ton untuk mendukung program biodiesel, dan El-Nino yaitu kurangnya curah hujan yang menyebabkan kemarau panjang dan kekeringan.

“Perseroan mengikuti protokol RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) and ISPO(Indonesian Sustainable Palm Oil) yang menjunjung tinggi prinsip ramah lingkungan dan keberlanjutan. Kita mempunyai kebijakan ‘zero-burning’ (tanpa membakar) dalam melakukan kegiatan perkebunan khususnya aktivitas land clearing sehingga tidak ada kebakaran lahan yang berasal dari kebun Bakrie,” kata Direktur Investor Relations UNSP, Andi W. Setianto dalam keterangan tertulisnya, Selasa (29/3).

Menurut Andi, pada tahun 2014 lalu, nilai penjualan UNSP masih tumbuh 27 persen di tengah melemahnya harga komoditas sawit utama yaitu CPO. Tetapi berkat kerja keras, kata Andi, perseroan masih mampu membukukan nilai penjualan sebesar Rp 2 triliun dan laba kotor Rp 514 miliar sepanjang 2015.

“Kami bekerja keras mengatasi kondisi air di kebun akibat kemarau panjang tahun lalu dengan sebaik-baiknya dan berhasil mempertahankan produksi kebun inti sawit dan karet. Optimalisasi produktivitas pabrik, juga dilakukan dengan pembelian sawit dan karet dari petani yang tidak memiliki pabrik sekaligus membantu kesejahteraan mereka,” paparnya.

Melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia (ASD-BSP), perseroan telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luasan lahan kebun yang sama. Saat ini dengan luas pertanaman sawit nasional kurang lebih 10 juta hektar, total produksi hanya sekitar 30 juta ton CPO per tahun. Dengan bibit unggul, maka potensi produktivitas bisa meningkat menjadi 80 juta ton CPO per tahun setelah program replanting.

Yosi Winosa/WBP

BeritaSatu.com

dollar small

JAKARTA, KOMPAS.com – Perusahaan milik Grup Bakrie, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) membukukan kerugian bersih sebesar Rp 1,75 triliun sepanjang tahun 2015.

Pada tahun sebelumnya, BNBR masih mencatatkan keuntungan sebesar Rp 151,75 miliar. Dalam laporan keuangan yang dilaporkan ke Bursa Efek Indonesia, Senin (29/3/2016), kerugian tersebut lantaran pendapatan perseroan yang mengalami penurunan dari 2014.

Tercatat, pendapatan yang dibukukan Bakrie sepanjang tahun 2015 sebesar Rp 4,66 triliun atau turun sebesar 26,8 persen dari periode 2014 sebesar Rp 6,37 triliun.

Selain itu, rugi kurs akibat melemahnya rupiah terhadap dollar ASjuga menyebabkan kinerja perusahaan ini jeblok.

Rugi kurs yang dicatatkan BNBR pada akhir 2015 mencapai Rp 722,17 miliar, atau membengkak 343 persen dari periode tahun sebelumnya Rp 162,76 miliar.

Di sisi lain, total kewajiban atau liabilitas perusahaan milik Keluarga Bakrie ini menurun dari tahun sebelumnya. Aksi jual aset yang dilakukan di waktu sebelumnya sedikit banyak berpengaruh terhadap beban utang yang ditanggung perusahaan ini.

Dalam laporan keuangan tersebut dijelaskan, beban bunga pada akhir 2015 adalah sebesar Rp 543,5 miliar atau turun 9,25 persen.

Bakrie & Brothers hingga saat ini masih mengandalkan komoditas sebagai penopang kinerja perusahaan. Namun, rendahnya harga batu bara dan minyak kelapa sawit membuat kinerja keuangan perusahaan cukup berat.

Editor : Bambang Priyo Jatmiko

dollar small

JAKARTA, KOMPAS.com – Emiten telekomunikasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mengalami kesulitan keuangan dengan memposting nilai kerugian hingga Rp 3,65 triliun di kuartal III 2015.

Akibatnya, perseroan terpaksa menjelma menjadi pemain aplikasi Esia Talk. Perseroan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena ingin fokus bermain di aplikasi.

Kabarnya, perseroan hanya mempertahankan 50 karyawannya dari semula sekitar 500 karyawannya untuk menjalankan Esia Talk. Sayangnya, proses PHK yang berjalan mulus dinodai dengan kasus pembayaran pesangon yang belum tuntas.

Banjir keluhan korban PHK Bakrie Telecom memadati akun Facebook dan Twitter pribadi milik Komisaris Utama Bakrie Telecom, Anindya Bakrie. Di Twitter, keluhan eks karyawan perseroan ini menggunakan tagar #bakrietelecom.

long jump iconJakarta detik -PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mencatatkan rugi sebesar Rp 3,66 triliun hingga kuartal III-2015. Pada periode yang sama tahun lalu, emiten provider Esia ini membukukan kerugian Rp 2,29 triliun.

Beban perusahaan serta rugi dari selisih kurs jadi penyebab utama semakin membengkaknya kerugian perseroan. Tak hanya itu, pendapatan usaha BTEL yang merosot ikut berkontribusi pada pada kerugian perusahaan.

Dikutip dari laporan keuangan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (24/12/2015), beban usaha BTEL mengalami kenaikan menjadi Rp 2,41 triliun, dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,39 triliun.

Pendapatan usaha emiten berkode BTEL ini di kuartal III-2015 mencapai Rp 478,84 miliar. Perolehan pendapatan ini merosot drastis, jika dibandingkan dengan pendapatan usaha tahun lalu, yaitu Rp 1,22 triliun.

Laporan keuangan BTEL semakin berdarah-darah dengan kerugian selisih kurs yang dialami perusahaan yang per September 2015, yang mencapai Rp 1,32 triliun. Naik 468% dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 232,93 miliar.

Mayoritas saham operator seluler ini dipegang oleh 69,6% oleh publik, sementara pengendali saham terbanyak kedua yaitu PT Bakrie and Brother Tbk, dan sisanya dimiliki Raiffeisen Bank International AG 7,2%, dan PT Bakrie Global Ventura 6,9%.

(dnl/dnl)

reaction_1

Jakarta detik -PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) mencatat utang sebesar Rp 8,69 triliun di kuartal III-2015. Utangnya turun 1,9% dibandingkan posisi akhir tahun lalu Rp 8,86 triliun.

Seperti dikutip dari bahan paparan publik perseroan, Jumat (4/12/2015), utang tersebut terdiri dari jangka pendek Rp 6,44 triliun dan jangka panjang Rp 2,25 triliun. Akhir tahun lalu, utang jangka pendek induk usaha Grup Bakrie itu tercatat Rp 6,64 triliun dengan jangka panjang Rp 2,22 triliun.

Jumlah utang dalam mata uang rupiah turun Rp 50 miliar atau setara 8,7%, yaitu dari Rp 575 miliar menjadi hanya Rp 525 miliar.

Sedangkan jumlah utang berbentuk dolar AS turun 16,2% atau setara Rp 108 miliar, yaitu dari US$ 666 juta (Rp 8,6 triliun) menjadi hanya US$ 558 juta (Rp 7,25 triliun).

(ang/hen)

rose KECIL

Jakarta beritasatu – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), perusahaan migas milik keluarga Bakrie, menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 150 juta tahun depan. Nilai tersebut turun 24,6% dibandingkan tahun ini yang mencapai US$ 187 juta.

Chief Commercial Officer Energi Mega Didit A Ratam mengatakan, penurunan capex dipicu oleh harga minyak dunia yang diperkirakan belum bertumbuh. Dengan demikian, perseroan berencana untuk lebih banyak mengembangkan produksi gas, ketimbang minyak.

“Ada sejumlah blok yang tidak membutuhkan capex yang besar lagi, seperti Blok Kangean PSC. Kecuali ada eksplorasi di beberapa sumur. Mungkin kita hanya akan menghabiskan US$ 30-40 juta di Blok Kangean,” kata Didit di Jakarta, baru-baru ini.

Didit menegaskan, selain Blok Kangean, perseroan akan lebih intensif mengembangkan Blok Bentu PSC di Riau. Blok tersebut telah memperoleh persetujuan plan of further development dari SKK Migas untuk pengembangan lapangan gas Seng dan Segat.

Sesuai rencana, pengembangan Blok Bentu tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi blok tersebut lebih dari 50 juta kaki kubik gas per hari. Produksi akan dimulai pada 2017.

“Saat ini, Blok Bentu menyalurkan 56 juta kaki kubik gas per hari. Lalu kami mendapatkan izin mengembangkan 57 juta kaki kubik tambahan,” jelas Didit.

Adapun produksi gas tersebut saat ini dijual kepada PLN Pekan Baru (US$5,5 per mmbtu), Riau Andalan Pulp & Paper (US$ 5,2 per mmbtu) dan Perusda Pelalawan (US$ 4,7 mmbtu).

Sementara itu, Energi Mega juga telah mendapatkan perpanjangan kontrak kerja sama untuk mengelola blok migas Gebang, Sumatera Utara, untuk 20 tahun ke depan pada 16 November 2015.

Dalam perpanjangan kontrak tersebut, Energi Mega, memiliki 100% hak partisipasi di blok Gebang. Sebelumnya, blok Gebang dioperasikan oleh Pertamina Hulu Energi dan EMP melalui Joint Operating Body (JOB).

Energi Mega berencana untuk segera mengembangkan dua lapangan gas di dalam blok tersebut. Lapangan Anggor telah mendapatkan persetujuan plan of development (rencana pengembangan) dari pemerintah. Sedangkan lapangan Secanggang telah di uji positif untuk dapat mengalirkan gas.

“ Lapangan gas ini mempunyai potensi yang cukup baik, dari sisi lokasi, kami dapat menyalurkan gas ke wilayah terdekat Sumatera Utara, seperti Media,” terang Didit.

Didit memperkirakan, produksi minyak tahun ini diperkirakan mencapai 54.ribu barel ekuivalen minyak per hari (boepd). Hanya minyak diperkirakan masih bertengger di bawah US$ 50 per barel sampai akhir tahun. Sementara itu, target produksi tesebut pun diperkirakan sama pada tahun depan.

“Produksi paling banyak akan dari lapangan Kangean sekitar 25 ribu boepd. Sisanya, ada yang dari blok Offshore North West Java (ONWJ) ,” jelas dia.

Energi Mega mencatatkan pendapatan hingga kuartal III-2015 sebesar US$ 465,1 juta, lebih rendah dari raihan periode sama tahun lalu sebesar US$ 603 juta. Energi Mega juga mencatatkan EBITDAsebesar US$ 236 juta hingga September 2015.

 

Farid Nurfaizi/MHD

Investor Daily

bird

JAKARTA. PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) masih berupaya mengurangi utang. Hingga Kuartal III 2015, UNSP memiliki pinjaman bank jangka pendek sekitar Rp 77,58 miliar.

Lalu, utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu setahun Rp 4,3 triliun dan utang jangka panjang Rp 6,1 triliun.

Direktur Hubungan Investor UNSP Andi W. Setianto mengatakan, tahun ini belum ada utang yang jatuh tempo. Tapi, tahun depan, ada utang jatuh tempo dari Credit Suisse senilai Rp 3,3 triliun, Verdant Capital Pte Ltd senilai Rp 934,2 miliar dan Bank Capital Indonesia Rp 1,8 miliar.

Sejauh ini belum ada opsi spesifik pelunasan utang tersebut. Andi mengaku, berupaya menjaga komunikasi dengan para kreditur, sehingga, perseroan berharap bisa memperpanjang utang jatuh tempo.

“Jadi, kalau jatuh tempo saya yakin kami bisa memperpanjang utang tersebut,” kata Andi, Selasa (17/11). Ia tidak merinci utang dan opsi restrukturisasi itu. Yang jelas, UNSP sudah tidak bisa menjual aset untuk dipakai membayar utang.

“Penjualan aset sudah tidak menjadi opsi lagi,” imbuhnya. Ia mengatakan, saat ini tengah mencari mitra kerja untuk menggarap bisnis hilir.

Bisnis hilir UNSP memiliki dua lokasi, yakni Tanjung Morawa dan Kuala Tanjung, Sumatra. Pengembangan Kuala Tanjung ditaksir membutuhkan belanja modal sekitar US$ 50,27 juta.

“Dengan pengembangan hilir juga, kreditur diharapkan percaya dengan bisnis jangka panjang,” ujarnya. UNSP berupaya mengembangkan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luas lahan kebun yang sama.

Ini dilakukan melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia. Saat ini dengan luas pertanaman sawit nasional kurang lebih 10 juta hektare, total produksi sekitar 30 juta ton CPO per tahun.

Menurut Andy, dengan bibit unggul yang dikembangkan, potensi produktivitas bisa naik menjadi 80 juta ton CPO per tahun dan produktivitas 35 ton buah sawit per hektare. Dus, luas lahan kebun tidak perlu bertambah untuk menghasilkan produksi CPO berlipat ganda.

http://investasi.kontan.co.id/news/unsp-merestrukturisasi-utang
Sumber : KONTAN.CO.ID

PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) membukukan rugi bersih pada Quarter 3 2015 sebesar 37,6 miliar. Turun bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2014 yang berhasil mencetak keuntungan sebesar  210,5 miliar. Dengan demikian, rugi bersih per saham setara dengan Rp 0.87 per lembar.

Berikut Laporan keuangan ELTY Quarter 3 2015 :

Account Quarter 3 2015
Last Price          50
Share Out 43,5 B
Market Cap. 2.176,1 B
Balance Sheet
Cash               57,4 B
Total Asset 14.734,9 B
S.T Borrowing 3.917,8 B
L.T Borrowing 1.001,4 B
Total Equity 7.192,8 B
Income Statement
Revenue           1.087,2 B
Gross Profit 595,8 B
Operating Profit 185,6 B
Net. Profit        -37,6 B
EBITDA         228,2 B
Interest Exp. 55,2 B
Ratio
EPS                 -0,87
PER                 -57,47x
BVPS                 165,27
PBV                 0,30x
ROA                 -0,26%
ROE                 -0,52%
EV/EBITDA 30,85
Debt/Equity 0,68
Debt/TotalCap 0,41
Debt/EBITDA 21,56
EBITDA/IntExp. 4,14

Sumber : IPS RESEARCH

Bisnis.com, JAKARTA – Jumlah perusahaan milik Grup Bakrie yang melantai di bursa segera bertambah seiring rencana PT Graha Andrasentra Propertindo untuk go public dengan nilai Rp300 miliar pada Januari 2016.

Graha Andrasentra Propertindo (GAP) adalah anak usaha PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY) dan induk dari PT Jungleland Asia, pengelola theme park Jungleland Bogor.

Direktur ELTY Agus Jayadi Alwie mengatakan GAP lebih banyak mengurus bisnis di segmen recurring incomealias pendapatan berulang, seperti theme park.

Perseroan berniat melepas 10% saham GAP dengan incaran dana sekitar Rp300 miliar. Saat ini, perusahaan properti itu tengah mengurus dokumen yang dibutuhkan sebelum diserahkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). GAP sudah melakukan mini ekspose ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal Oktober.

“Diharapkan 8 Januari sudah listing. Sebagian dananya untuk bayar kewajiban dan lainnya untuk pengembangan bisnis, masing-masing 50%,” papar Agus usai paparan publik, Selasa (13/10/2015).

Meski mengakui kondisi pasar kurang kondusif, dia menyatakan niatan melakukan initial public offering (IPO) akan tetap dilakukan. Alasannya, bisnis GAP berbeda dibandingkan perusahaan properti lainnya sehingga ELTY menilai ada peluang yang bisa diraih.

Beberapa waktu lalu sempat disebutkan bahwa Jungleland Asia-lah yang berniat IPO. Namun, ternyata induk usahanya yang justru memiliki rencana tersebut.

Mengacu pada laporan keuangan ELTY, pada semester I/2015 nilai aset GAP mencapai Rp4,3 triliun dan Jungleland Asia sebesar Rp1,09 triliun.

Termasuk ELTY, setidaknya terdapat sepuluh perusahaan milik Grup Bakrie yang sahamnya sudah diperdagangkan di BEI. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah PT Bakrie and Brothers Tbk. (BNBR), PT Bumi Resource Minerals Tbk. (BRMS), PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL), PT Bumi Minerals Tbk. (BUMI).

Ada pula PT Darma Henwa Tbk. (DEWA), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), PT Intermedia Capital Tbk. (MDIA), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. (UNSP), dan PT Visi Media Asia Tbk. (VIVA).

Liputan6.com, Jakarta – Manajemen PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) telah mendapatkan persetujuan Plan of Further Development dari Satuan Kerja Khusus Migas (SKK Migas) di salah satu blok yang dioperasikannya Bentu PSC di Riau untuk pengembangan lapangan gas Seng dan Segat.

Direktur Utama PT Energi Mega Persada Tbk, Imam Agustino menuturkan, pengembangan itu diharapkan dapat meningkatkan produksi blok sebesar lebih dari 50 juta kaki kubik gas per hari yang akan dimulai pada 2017.”Tambahan produksi gas itu akan dijual ke Pertamina Dumai di kisaran harga US$ 7,5-US$ 8 per mmbtu,” ujar Imam dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (12/10/2015).

Pada semester I 2015, blok Bentu telah memproduksi rata-rata 48 juta kaki kubik gas per harinya. Produksi gas itu dijual kepada PLN Pekanbaru (US$ 5,5/mmbtu), Riau Andalan Pulp and Paper (US$ 5,2/mmbtu) dan Perusda Pelalawan (US$ 4,7 per mmbtu).Hal ini merupakan pencapaian positif oleh Perseroan.

Kemampuan untuk meningkatkan produksi gas dengan harga jual yang menarik merupakan strategi tepat. Dengan adanya tambahan produksi gas itu yang akan dimulai pada 2017, maka blok Bentu PSC diharapkan dapat berproduksi di atas 90 juta kaki kubik gas per hari di masa mendatang.

Pada perdagangan saham Senin pekan ini, saham PT Energi Mega Persada Tbk naik 3,64 persen ke level Rp 57 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 5.344 kali dengan nilai transaksi harian saham Rp 64,8 miliar. (Ahm/Igw)

JAKARTA.   Perusahaan penyiaran televisi ANTV milik Grup Bakrie, PT Intermedia Capital Tbk. (MDIA) membukukan peningkatan pendapatan sebesar 27,1% pada semester I/2015 dibandingkan semester I/2014.

Pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp732,64 miliar, naik dari posisi tahun lalu Rp576,27 miliar.

Meskipun mengalami peningkatan pendapatan, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mengalami penurunan 13,1%.

Semester I/2015, MDIA membukukan laba sebesar Rp139,58 miliar, turun dari tahun lalu Rp160,69 miliar.

Penurunan laba tersebut diikuti oleh peningkatan beban dan denda pajak yang mesti ditanggung perseroan pada tahun ini.

Pada tahun lalu, MDIA hanya menanggung beban sebesar Rp6,47 miliar, sedangkan tahun ini mencapai Rp36,57 miliar.

Selain itu, beban pajak penghasilan naik 73,8%, dari Rp38,78 miliar menjadi Rp67,43 miliar.

Pada 30 Juni 2015, MDIA berhasil membukukan kas dan setara kas sebesar Rp449,59 miliar, naik signifikan dibandingkan akhir tahun lalu sebesar Rp36,57 miliar.

Pada periode ini, perseroan memiliki liabilitas sebesar Rp589,42 miliar, yang sebagian besar merupakan utang pajak sebesar Rp302,66 miliar. Sementara total ekuitas tercatat Rp1,48 triliun.

 

http://market.bisnis.com/read/20150930/192/477406/emiten-grup-bakrie-beban-meningkat-laba-antv-turun-131
Sumber : BISNIS.COM

Jakarta detik -PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mencatat laba bersih US$ 3,6 juta atau Rp 50,4 miliar (kurs Rp 14.000/dolar AS) di semester I-2015. Periode yang sama tahun sebelumnya, salah satu tambang Grup Bakrie itu masih rugi US$ 51,2 juta (Rp 716 miliar).

Pendapatan alias omzet perusahaan turun drastis dari sebelumnya US$ 9 juta menjadi hanya US$ 5,8 juta. PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) memberi kontribusi positif setelah diizinkan ekspor lagi.

Tambang tembaga dan emas di Nusa Tenggara Barat (NTB) itu menyumbang laba US$ 53 juta di paruh pertama 2015 dibandingkan sebelumnya rugi US$ 14 juta.

“Terlepas dari harga komoditi tembaga dan emas yang masih rendah, lokasi tambang di Batu Hijau (NNT) telah berhasil meningkatkan produksinya setelah mendapatkan izin ekspor dari pemerintah di akhir tahun lalu. Oleh karenanya, BRMS dapat membukukan laba bersih US$ 3,6 juta pada semester pertama tahun ini, dari rugi bersih sebesar US$ 51 juta pada periode yang sama tahun lalu,” ujar Direktur Utama BRMS, Suseno Kramadibrata, dalam siaran pers, Senin (14/9/2015).

Menurutnya, likuiditas perusahaan masih dalam kondisi cukup baik dengan rasio pinjaman bersih terhadap ekuitas di level 0,47 kali pada semester pertama tahun ini.

“Aset-aset kami lainnya di Gorontalo (tembaga & emas), Palu (emas) dan Dairi (seng & timah hitam) juga menunjukan kemajuan dalam kegiatan operasinya masing-masing,” ungkapnya.

Akhir tahun lalu, anak usaha BRMS yaitu PT Gorontalo Minerals (GM) melaporkan penambahan jumlah sumber daya mineral dan cadangan bijih kepada Kementerian Energi & Sumber Daya Mineral.

Peningkatan tersebut dikarenakan estimasi ulang yang dilakukan berdasarkan 11 data pemboran baru di Sungai Mak dan 15 data pemboran baru di Cabang Kiri.

Dengan demikian, jumlah sumberdaya GM meningkat dari sebelumnya 292 juta ton bijih di tahun 2012 menjadi 324 juta ton. Termasuk dalam jumlah sumber daya mineral tersebut adalah cadangan bijih sebesar 105 juta ton bijih dari lokasi Sungai Mak.

(ang/dnl)

Jakarta. Perusahaan telekomunikasi milik Grup Bakrie, PT Bakrie Telecom masih memproses penerbitan mandatory convertible bond dengan memperhatikan
ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan ketentuan pasar modal yang berlaku untuk menyelesaikan utang kepada pemegang Wesel Senior senilai US$
380 juta.

Selain dengan mandatory convertible bond , perusahaan juga dapat menerbitkan suatu wesel baru untuk ditukarkan (exchange offer) dengan Wesel Senior.

“Perseroan telah melakukan diskusi untuk rencana exchange offer tersebut dengan Steering Commite Pemegang Wesel Senior. Saat ini proses penerbitan
exchange offer memasuki tahap finalisasi,” ujar manajemen PT Bakrie Telecom dalam Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia, Kamis (20/8).

Asal tahu saja, penerbitan mandatory convertible bond untuk membayar 70% utang kepada pemegang Wesel Senior dan 30% pembayaran secara tunai
didasarkan pada Perjanjian Perdamaian yang telah dihomologasi oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 9 Desember 2014.

Executive Vice President PT Bakrie Telecom Tbk Teguh Anantawikrama enggan memberi komentar terkait penerbitan mandatory convertible bondtersebut. ” Kami belum bisa kasih keterangan sekarang,”ujar Teguh kepada Kontan, Jumat (21/8).

Managing Partner Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adhie Joe mengatakan emiten berkode BTEL itu memang berniart untuk membayar utang pada para pemegang Wesel Senior dalam bentuk saham setelah sebelumnya perusahaan ini melakukan right issue.

“Setelah right issue baru dikasih ke pemegang wesel senior,”tambahnya.

Dalam laporan keuangan per 30 Juni 2015, BTEL memiliki total liabilitas sebesar Rp 12,49 triliun.

Editor: Adi Wikanto

Jakarta – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) membukukan penjualan Rp 1,08 triliun dalam paruh pertama 2015.

Kata Direktur Investor Relations UNSP, Andi W Setianto, UNSP optimis dengan performance perseroan bakal terus membaik pada tahun ini. Optimisme ini didukung sejumlah upaya mengenjot produktivitas melalui serangkaian program revitalisasi, seperti perawatan kebun dan penggunaan bibit unggul.

“Berdasarkan siklus, produksi sawit biasanya mulai meningkat pada semester kedua. Dan mencapai puncaknya pada kuartal akhir. Tahun ini, kami optimis pertumbuh lebih baik di banding 2014, ” kata Andi di Jakarta, Senin (3/8/2015).

Membaiknya kinerja UNSP, kata Andi, memberikan angin segar. Bahwa perseroan berhasil sedikit keluar dari trend penurunan harga komoditas sawit yang berlangsung sejak 2011 hingga kuartal II-2015. Pada 2014, penjualan UNSP bertumbuh 27%.

Sementara harga komoditas sawit utama yaitu CPO (Crude Palm Oil) di kuartal II-2015 terus melemah ke level US$ 590 per ton di FOB Malaysia. Namun, berkat kerja keras, UNSP masih mampu membukukan penjualan Rp 1,08 triliun dan meneduk laba kotor Rp 257 miliar di semester I-2015.

“Kami bekerja keras mengatasi kondisi air di kebun akibat kemarau panjang tahun lalu dengan sebaik-baik nya. Hasilnya kami harapkan bisa terlihat di semester berikutnya. Optimalisasi produktivitas pabrik, juga dilakukan dengan pembelian sawit dan karet dari petani yang tidak memiliki pabrik sekaligus membantu kesejahteraan mereka,” kata Andi.

Selain itu, lanjut Andi, melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia (ASD-BSP), perseroan berhasil berinovasi dengan mengembangkan bibit unggul. Bibit unggul ASD-BSP ini, berpotensi menghasilkan setiap tahun nya hingga 40 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektar dibandingkan dengan umumnya 25-30 ton.

Kata Direktur Utama UNSP, M Iqbal Zainuddin, strategi peningkatan produktivitas berkelanjutan yang sedang dilakukan, bakal berdampak positif dalam jangka menengah dan panjang.

“Kami semakin optimis. Dalam jangka menengah dan panjang nanti, perusahaan ini akan kembali bangkit menemukan momentum yang terbaik. Kami yakin bisa menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki fundamental bisnis yang kuat,” kata Iqbal.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2226619/unsp-bukukan-penjualan-rp-108-triliun
Sumber : INILAH.COM

JAKARTA kontan. PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mendapat persetujuan untuk menerbitkan saham baru. Ini adalah langkah awal restrukturisasi utang berdasarkan putusan perdamaian (homologasi) dengan kreditur dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

BTEL akan merilis saham baru disesuaikan dengan jumlah obligasi wajib konversi. “Konversi utang diharapkan kinerja perusahaan lebih baik,” ujar Jastiro Abi, Direktur Utama BTEL saat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, Senin (22/6).

Tapi OJK belum memberikan izin pada BTEL untuk merilis obligasi. OJK masih menelaah proses penerbitan obligasi dan saham baru.

Obligasi wajib konversi merupakan cara pembayaran utang yang telah disepakati BTEL bersama kreditur dalam proses PKPU. Kemudian, 70% dari total utang dibayar dengan Mandatory Convertible Bond -A (MCB-A) yang bisa dikonversikan saham baru di harga Rp 200 per saham. Dan 30% dibayar bertahap.

BTEL akan mulai membayar utang 18 bulan setelah pengesahan homologasi pada 9 Desember 2014. BTEL memiliki total tagihan utang Rp 11,3 triliun. Selain restrukturisasi, BTEL mulai bertransformasi dari penyelenggara jaringan dan operator jasa telefoni menjadi penyelenggara jasa telefoni secara kemitraan.

Editor: Yudho Winarto

JAKARTA kontan. Emiten milik Grup Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berhasrat membiayai kembali (refinancing) utangnya di tahun ini senilai US$ 134 juta. Anak usaha Grup Bakrie ini memiliki utang dari dua lembaga keuangan dengan bunga yang sangat tinggi.

Didit A Ratam, Direktur ENRG mengatakan, total utang yang akan direfinancing berkisar US$ 134 juta. Untuk melunasinya, perseroan tengah mengincar utang sindikasi dari perbankan asing senilai US$ 200 juta. Proses refinancing itu ditargetkan kelar tahun ini.

Utang yang akan dibiayai kembali adalah fasilitas pinjaman dari Pro Strategic Investors Ltd. senilai US$ 102,02 juta. Pinjaman yang diperoleh anak usaha ENRG, EMP Energy Ltd. (EEL), itu dikenakan bunga tinggi yaitu 20% per tahun.

EEL menggunakan US$ 92,02 juta dari utang itu untuk membayar pinjaman anak usahanya, EMP International (BVI) Ltd., kepada ND Owen Holdings Ltd. Sementara US$ 10 juta sisanya digunakan untuk keperluan operasional umum.

ENRG juga menanggung fasilitas utang jangka pendek senilai US$ 61,95 juta dari PST Finance Ltd. Seperti halnya fasiltias dari Pro Strategic, utang ini pun dikenakan bunga sebesar 20% per tahun.

“Bunga yang tinggi itu cukup memberatkan, sehingga harus segera dibiayai kembali,” ujarnya di Jakarta, Rabu (17/6). ENRG juga akan melunasi utang jangka panjang lainnya. Lalu, dana sisa dari pinjaman baru akan digunakan untuk belanja modal tahun depan.

Dia mengatakan, pinjaman sindikasi yang baru memberikan bunga sekitar 10%, sehingga akan mengurangi beban bunga perseroan. “Dengan kondisi pasar saat ini, cukup sulit mencari pinjaman yang bunganya lebih kecil dari itu,” imbuhnya.

Tahun lalu perseroan sudah melunasi dan membiayai kembali sebagian utangnya. Beban keuangan ENRG turun dari US$ 97 juta di tahun 2013 menjadi US$ 79 juta di tahun 2014.

Debt to Equity Ratio (DER) ENRG per akhir tahun 2014 menyusut menajdi 0,57 kali dari sebelumnya 0,82 kali. Sementara net debt to equity menurun dari 0,5 kali menjadi 0,41 kali.

Narita Indrastiti

Editor: Uji Agung Santosa

Bekasi -PT Bakrie Pipe Industries, anak usaha dari PT Bakrie &‎ Brothers Tbk mendapatkan kontrak untuk memasok pipa pengeboran migas ke Amerika Serikat (AS). Sebanyak 80.000 ton pipa untuk keperluan pengeboran minyak dan gas (migas) bakal diekspor hingga 2016.

Direktur Utama PT Bakrie Pipe Industries Mas Wigrantoro Roes menuturkan, kontrak kerjasama dengan perusahaan AS sudah dilakukan pada September lalu. Disepakati perjanjian pembelian pipa casing untuk pengeboran minyak sebanyak 80.000 ton bermacam-macam ukuran.

“Jadi kan kemarin eksplorasi itu menurun, sekarang mulai naik lagi. Kami kirim casing berbagai ukuran untuk pengeboran di Amerika Serikat‎,” kata Wograntoro Roes ditemui di pabrik Bakrie Pipe Industeis, Medan Satria, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (21/5/2015).

Ia mengatakan, pengiriman akan dilakukan hingga 2016 nanti. Di tahun ini, akan dikirimkan sebanyak 9.000 ton casing pipa yang dibagi menjadi dua tahap.

“Mulai Juni ini kita kirim 4.000 ton, dan 5.000 ton. Jadi tahun ini 9.000 ton akan dikirim dua kali,” katanya.

Mas Roes menyebutkan, AS merupakan pasar pipa terbesar dunia. Meski begitu belum banyak pipa untuk migas hasil produksi Bakrie Pipe Industries yang dikirim ke Negeri Paman Sam tersebut. Ia mengatakan beroperasinya coating plant atau pabrik pelapisan baja yang baru diresmikan hari ini, jumlah ekspor akan lebih banyak lagi.

“Kami juga sedang bicara untuk line pipe. Amerika itu pasar terbesar. Selain ke Amerika kita juga ekspor ke Singapura, tapi dari Singapura mereka juga kirim ke Amerika. Jadi di Singapura itu sebagai trader, di AS sebagai stockist,” tuturnya.

Sayangnya tidak disebutkan nilai kontrak atau harga yang ditetapkan untuk penjualan pipa-pipa tersebut ke AS, karena menurutnya, harga berubah-ubah.

“Jadi biasanya harganya itu pas mau dikirim, 3 bulan sebelum dikirim dia minta notifikasi,” tutupnya.

Pabrik yang terletak di kawasan Medan Satria, Bekasi, Jawa Barat ini mampu memproduksi 800.000 meter persegi lapis baja per tahunnya, dengan menggunakan sistem fusion bonded epoxy (FBE), three layer polyethylene (3PLE) dan three layer polypropylene (3LPP). Mesin tersebut juga mampu melapisi pipa mulai dari ukuran 4 inchi hingga 48 inchi.

(zul/hen)

Bisnis.com, JAKARTA — Setelah meraup laba Rp665,04 miliar pada Januari-Maret 2015, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) harus menelan pil pahit akibat mencetak rugi bersih Rp303,2 miliar pada kuartal pertama tahun ini.

Dikutip dari laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan, Jumat (1/5/2015), disebutkan pendapatan bersih melorot 36,9% menjadi rp1,57 triliun dari sebelumnya Rp2,5 triliun pada kuartal I/2014.

Emiten berkode saham BNBR tersebut tak mampu menekan beban pada kuartal I/2015. Beban perseroan meningkat menjadi Rp1,82 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,7 triliun.

Induk usaha Group Bakrie ini harus menderita rugi sebelum pajak mencapai Rp254,3 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini. Padahal, setahun sebelumnya BNBR mengantongi laba sebelum pajak Rp801,18 miliar.

Hingga 31 Maret 2015, total aset Bakrie & Brothers mencapai Rp10,86 triliun dari akhir tahun lalu Rp11,29 triliun. Liabilitas Rp13,29 triliun dari Rp13,38 triliun dan defisiensi modal Rp2,42 triliun dari Rp2,08 triliun.

 

INILAHCOM,Jakarta – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) membukukan nilai penjualan sebesar Rp511 miliar sepanjang tiga bulan pertama tahun 2015.Direktur Investor Relations UNSP, Andi W. Setianto menuturkan UNSP optimis, kinerja Perseroan akan terus membaik pada tahun ini. Optimisme ini didukung oleh upaya-upaya peningkatan produktivitas yang terus dilakukan Perseroan melalui serangkaian program revitalisasi, seperti perawatan kebun dan penggunaan bibit unggul.”Apalagi, berdasarkan siklus, produksi sawit biasanya mulai meningkat pada kuartal kedua dan mencapai puncaknya di kuartal terakhir setiap tahun. Tahun ini kami optimis tumbuh jika dibanding tahun 2014,” kata dia di Jakarta, Kamis (30/4/2015).Membaiknya kinerja UNSP, lanjut dia terbukti perseroan keluar dari trend penurunan harga komoditas sawit yang berlangsung sejak tahun 2011 hingga kuartal I-2015. Pada tahun lalu, nilai penjualan UNSP masih tumbuh 27%.Jika dilihat, harga komoditas sawit utama yaitu CPO (Crude Palm Oil), di kuartal 1-2015 terus melemah ke level terendah USD 600 per ton FOB Malaysia. Tetapi berkat kerja keras, kata Andi Perseroan masih mampu membukukan nilai penjualan sebesar Rp511 miliar dan laba kotor Rp119 miliar di kuartal I-2015 seperti pada laporan keuangan 31 Maret 2015 yang dirilis Kamis 30 April.”Kami bekerja keras mengatasi kondisi air di kebun akibat kemarau panjang tahun lalu dengan sebaik-baik nya. Hasilnya kami harapkan bisa terlihat di kuartal-kuartal berikutnya. Optimalisasi produktivitas pabrik, juga dilakukan dengan pembelian sawit dan karet dari petani,” kata dia.Ia mengatakan melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia (“ASD-BSP”), Perseroan juga telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luasan lahan kebun yang sama. Bibit unggul ASD-BSP ini berpotensi menghasilkan setiap tahun nya hingga 40 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektar dibandingkan dengan umumnya 25-30 ton.Saat ini dengan luas pertanaman sawit nasional kurang lebih 10 juta hektar, total produksi hanya sekitar 30 juta ton CPO per tahun, dengan bibit unggul maka potensi produktivitas bisa meningkat menjadi 80 juta ton CPO per tahun.

Direktur Utama UNSP, M. Iqbal Zainuddin menambahkan, strategi fokus ke produktivitas yang sustainable akan lebih banyak lagi dirasakan dampak positifnya dalam jangka menengah dan panjang. “Kami optimis dalam jangka menengah dan panjang Perseroan akan kembali bangkit menemukan momentum yang terbaik menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki fundamental bisnis yang kuat,” katanya. [jin] – See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2200644/kuartal-i-2015-unsp-catat-penjualan-rp511-miliar#sthash.NVFUj231.dpuf

JAKARTA. Kemarin, sekitar 30 investor atau pemilik unit (unit owner) kondotel Pullman Bali Legian Nirwana menyambangi kantor PT Samudera Asia Nasional, cucu usaha PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), Selasa (14/4). Mereka menagih hak imbal hasil yang mulai mangkrak sejak awal tahun lalu.

Para investor juga geram ketika mengetahui dari iklan di sebuah harian nasional, seluruh saham Samudera Asia akan dijual kepada investor strategis yang bernama PT Mitra Maju Sukses. “Kami meminta transparansi dan kejelasan akuisisi tersebut. Para investor sama sekali tidak mendapat informasi langsung dari manajemen,” ujar Rudi Suheri, salah satu pemilik unit kondotel Pullman Bali Nirwana, kepada KONTAN.

Kabar yang beredar, nilai divestasi itu Rp 400 miliar. Bakrie menjual lantaran perusahaan itu terlilit utang  besar, sehingga harus menjual aset.

Samudera Asia merupakan pengelola Pullman Bali Legian Nirwana. Total nilai aset ini berkisar Rp 800 miliar-Rp 1 triliun. Sementara Mitra Maju merupakan perusahaan batubara yang memiliki tambang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Di tengah kegundahan tersebut, investor semakin resah saja lantaran nasibnya bakal makin tak pasti. Maklum, baru-baru ini, Direktur Mitra Maju Andrew Hidayat ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mitra Maju dianggap terlibat penyuapan terhadap politisi PDIP Adriansyah. Kini kedua orang tersebut ditahan  KPK.

Di luar urusan hukum yang melibatkan Mitra Maju Sukses, investor juga menuntut hak atas return on investment (RoI) 6% per tahun. Mereka juga menuntut bagi hasil operasi kondotel setiap tahun dan menagih penyerahan Akta Jual Beli (AJB) kondotel.

Henu Kusdaryono, Direktur Operasional Samudera Asia yang ditemui para investor belum bisa menjawab banyak terkait status akuisisi. “Yang jelas, Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) Samudera Asia dan Mitra Maju diteken 5 Maret lalu,” ujar dia.

Praktisi Hukum dari DK & Sitomorang Lawyers Veronica Situmorang mengatakan, Mitra Maju mengetahui Samudera Asia memiliki kewajiban ke pemilik  kondotel. Anehnya, Mitra Maju mencoba melobi investor membayar imbal hasil dengan haircut 40%. “Kenapa ada potongan tersebut? Ini belum jelas dan wajib transparansi,” kata Veronica.

Total tunggakan kewajibannya lebih dari Rp 50 miliar. Dari total unit Kondotel Pullman Bali Legian, 60% milik investor ritel. Kondotel ini mulai ditawarkan ke publik tahun 2006-2007.

Menurut Veronica, nilai RoI investor beragam, mulai dari  Rp 10 juta–Rp 20 juta per bulan. Total jenderal, pemilik sekitar 360 unit kondotel yang menanti bagi hasil investasi tersebut.

Rudi dan sejumlah investor lain mengaku, hingga saat ini masih ingin menyelesaikan persoalan tersebut dengan jalan kekeluargaan. Mereka juga belum berniat menempuh jalur hukum.

Pemilik unit  juga mengaku masih memiliki opsi agar segera mendapat hak mereka. “Ada beberapa opsi yang akan kamu jajaki. Namun kami masih  menunggu hasil pertemuan dengan Samudera Asia dan Mitra Maju nanti,” terang dia.

 

http://investasi.kontan.co.id/news/investor-kondotel-pullman-legian-gundah
Sumber : KONTAN.CO.ID

Bisnis.com, JAKARTA–Induk usaha Group Bakrie, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) akhirnya meraup laba bersih Rp152,87 miliar pada tahun lalu, setelah setahun sebelumnya menderita rugi bersih Rp12,72 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan Kamis (26/3/2015), disebutkan pada periode 2014 induk Group Bakrie tersebut juga membukukan laba bersih per saham dasar Rp1,63 dari tahun sebelumnya yang menderita rugi bersih Rp135,79.

Emiten berkode saham BNBR tersebut membukukan pendapatan sepanjang tahun lalu sebesar Rp6,37 triliun, lebih tinggi 22,3% dari tahun sebelumnya Rp5,21 triliun. Beban BNBR juga berhasil ditekan menjadi Rp6,1 triliun dari tahun sebelumnya Rp15,68 triliun.

Laba sebelum pajak yang berhasil diraup Bakrie & Brothers pada tahun lalu sebesar Rp272,05 miliar dari tahun sebelumnya yang mencatatkan rugi sebelum pajak Rp10,46 triliun.

Laba bersih periode berjalan sebesar Rp149,52 miliar, lebih baik ketimbang tahun sebelumnya yang membukukan rugi bersih Rp12,72 triliun. Total laba komprehensif mencapai Rp152,16 miliar dari tahun sebelumnya rugi komprehensif Rp7,51 triliun.

Hingga 31 Desember 2014, total aset Bakrie & Brothers mencapai Rp11,29 triliun lebih rendah dari tahun sebelumnya Rp11,86 triliun. Liabilitas sebesar Rp13,38 triliun dari Rp13,89 triliun dan defisiensi modal sebesar negatif Rp2,08 triliun dari sebelumnya Rp2,02 triliun.

Jakarta – Aburizal Bakrie mengenang perjuangan ayahnya dalam serangkaian kicauan di Twitter memperingati ulang tahun ke-73 Kelompok Usaha Bakrie pada Selasa (10/2) ini.

Dalam laman @aburizalbakrie, pengusaha yang juga politisi ini mengunggah foto sang ayah, dengan tulisan: “Ayah saya: Achmad Bakrie yang tepat hari ini 73 tahun yang lalu mendirikan Kelompok Usaha Bakrie.”
ARB, akronim yang dia populerkan untuk sebutan namanya pada pesta politik tahun lalu, juga me-retweet kicauan saudaranya, Anindya.

Salah satunya berbunyi: “Setiap rupiah yang dihasilkan Bakrie harus bermanfaat bagi orang banyak – Achmad Bakrie.”

Achmad Bakrie lahir pada tahun 1916 dan merintis usaha bersama kakaknya, Abuyamin, untuk mendirikan Firma Bakrie & Brothers General Merchant and Commision Agent pada 10 Februari 1942 di Teluk Bitung.

Bisnis utama perusahaan ketika itu adalah perdagangan umum dan keagenan hasil bumi seperti kopi, lada, cengkeh, tapioka dan sebagainya.

Kelompok Usaha Bakrie sekarang ini memiliki nama resmi Bakrie & Brothers (BNBR) dengan beragam usaha antara lain media, telekomunikasi, energi, pertambangan, infrastruktur dan pendidikan.

Pada semester pertama 2014, BNBR mengatakan dalam situsnya telah mencatatkan laba yang dapat diatribusikan sebesar Rp 123,12 miliar, meningkat 2.435 persen dibanding perolehan laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk pada semester pertama 2013 lalu yang hanya sebesar Rp 4,86 miliar .

Sedikitnya ada 11 unit usaha dalam group ini yang terdaftar di bursa saham Indonesia.

Penulis: Heru Andriyanto/HA/investor daily

JAKARTA. Saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) ditransaksikan di pasar negosiasi. Pada penutupan perdagangan Kamis (29/1), terjadi transaksi tutup sendiri alias crossing saham sebesar Rp 215,1 miliar.

Transaksi tersebut melibatkan 50,04 juta lot saham di harga Rp 43 per saham. Dari data RTI, transaksi terbesar difasilitasi Sinarmas Sekuritas sebagai broker pembeli dan broker penjual. Ciptadana Securities juga melakukan pembelian 40.000 lot saham.

Namun, hingga saat ini, manajemen BTEL belum menjawab panggilan telepon dari KONTAN terkait transaksi tersebut. Di sisi lain, harga saham BTEL di pasar reguler masih stagnan di level Rp 50 per saham. Di pasar negosiasi, saham BTEL memang ditransaksikan di level bawah. Bahkan pada perdagangan Rabu (28/1) kemarin, saham BTEL sempat ditransaksikan di Rp 12 per saham di pasar negosiasi.

Harga saham BTEL sulit naik lantaran kondisi fundamental BTEL yang tak kunjung membaik. Belum lama ini, BTEL digugat atas tunggakan obligasi senilai US$ 380 juta. Surat utang itu berkupon 11,5% dan jatuh tempo pada Mei 2015.

Namun belakangan, BTEL mencapai perdamaian atau homologasi dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Sebanyak 94,5% kreditur BTEL menyetujui skema pembayaran utang yang diajukan perseroan.

BTEL akan mulai melalukan pembayaran utang 18 bulan setelah pengesahan homologasi. Kemudian, sebanyak 70% dari total utang akan dibayar dengan Mandatory Convertible Bond – A (MCB-A) yang nantinya bisa dikonversikan menjadi saham baru BTEL pada harga Rp 200 per saham.

MCB-A memiliki jangka waktu 10 tahun. Sementara waktu penukarannya bisa dilakukan 3 bulan setelah rapat umum pemegang saham (RUPS). Saham baru ini setara 50% dari saham perusahaan. Sedangkan 30% sisanya akan dilakukan pembayaran secara bertahap.

BTEL memiliki total tagihan utang senilai Rp 11,3 triliun. Utang tersebut dikelompokkan menjadi utang biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi dan universal service obligation (USO) senilai Rp 1,26 triliun, utang usaha Rp 2,4 triliun, utang tower provider Rp 1,3 triliun, dan utang dana hasil wesel senior Rp 5,4 triliun.

Kemudian, BTEL juga memiliki utang afilisasi senilai Rp 73,7 miliar, utang akibat derivatif Rp 185,3 miliar, utang dengan jaminan Rp 625,4 miliar, serta pembiayaan kendaraan Rp 2,6 miliar.

 

Editor: Sanny Cicilia
 Metrotvnews.com, Jakarta: Manajemen PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengungkapkan proyek pembangunan jaringan pipa gas Kalimantan-Jawa (Kalija) tahap I (Kepodang-Tambak Lorok) akan rampung pada Agustus 2015.Kemajuan dari proyek yang dikerjakan oleh PT Kalimantan Jawa Gas (KJG) ini, pembangunan pipanya masih on schedule. Demikian disampaikan Direktur & Corporate Secretary BNBR, R.A. Sri Dharmayanti, menjawab laporannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (28/1/2015).”Dapat kami sampaikan pula, bahwa perkembangan proyek Kalija tersebut selalu dilaporkan kepada pemerintah, dalam hal ini melalui BPH Migas,” ujar dia.Sri Dharmayanti mengakui jika saat ini perseroan tidak mempunyai informasi fakta kejadian penting lainnya yang harus segera diumumkan kepada publik.Sekadar informasi, proyek pipa gas Kalija perseroan mempunyai estimasi nilai proyek sebesar Rp2,5 triliun untuk tahap 1 dengan target penyelesaian pada 2015 untuk tahap 1 dan 2019-2020 untuk tahap 2. Pada proyek ini, hambatan terletak pada kendala sumber gas dari wilayah Kalimantan Timur (Blok Mahakam).”Untuk tahap 1 proyek pipa gas Kalija, perseroan telah menemukan alternatif sumber gas lain yaitu Blok Kepodang di lepas pantai sebelah utara Jawa Tengah,” jelas Sri menjelaskan upaya penanggulangan hambatan dalam proyek ini.
AHLhttp://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/01/28/350876/proyek-pipa-gas-bakrie-brothers-rampung-agustus-2015Sumber : METROTVNEWS.COM
Minggu, 25 Januari 2015 | 07:39 WIB

 

Proyek Kalija Terancam Batal

Oleh : Ranto Rajagukguk | Rabu, 21 Januari 2015 | 18:35 WIB
INILAHCOM, Jakarta – Proyek pembangunan jaringan pipa gas Kalimantan-Jawa (Kalija) dari blok Kepodang di lepas pantai Jepara menuju ke PLTGU Tambak Lorok di Semarang sepanjang 207 km terancam batal. PT Dwisatu Mustika Bumi (DMB) mengandeng PBVJ Group SDN BHD (Malaysia) dan PT Berkah Mirza Insani sebagai konsorsium proyek.Tercatat, PT Kalimantan Jawa Gas (KJG) dan konsorsium keduanya telah menandatangani kontrak atau perjanjian pada 26 Agustus 2014. Bahkan, pihak KJG telah menerbitkan surat perintah mulai kerja (SPMK) pada 27 Agustus 2014. Namun, kontrak senilai US$85,7 yang tendernya dimenangkan DMB sebagai pimpinan konsorsium pekerjaan konstruksi pipa itu, tiba-tiba diputus sepihak PT Kalimantan Jawa Gas (KJG).”Kontrak kami untuk pengerjaan proyek Kalija telah diputus sepihak pada 27 Oktober 2014 dengan alasan wanprestasi (ingkar janji). Padahal, kami telah melakukan pekerjaan seperti, pengurusan izin pekerjaan, survei lapangan, persiapan kapal-kapal, penerbitan cover note asuransi wal car 2001 dan pemesanan kebutuhan material yang diperlukan proyek tersebut,” jelas kChairman DMB S Halim di Jakarta, Rabu (21/01/2015).Padahal, Halim mengungkapkan terjadinya wanprestasi itu bukan semata-mata akibat dari konsorsium melainkan karena adanya dokumen legalitas dari PT Kalimantan Jawa Gas yang tidak diberikan sebagai persyaratan penerbitan bank garansi untuk menjamin pengerjaan proyek tersebut.”Untuk itu pihak penjamin minta legalitas PT. Kalimantan Jawa Gas, tapi tidak diberikan. Ada apa? penyelenggara tender kok, tidak transparan,” ujar dia.Perlu diketahui, PT Bakrie & Brothers Tbk yang ditunjuk sebagai pelaksana proyek pipa transmisi Kalimantan-Jawa tahun 2006 hingga saat ini belum dapat menyelesaikan proyek tersebut. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menggandeng PT Bakrie & Brothers Tbk mengerjakan proyek tersebut dengan mendirikan PT Kalimantan Jawa Gas (KJG). Namun, itu jadi pertanyaan mengenai PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) yang akan masuk sebagai pemegang saham ke dalam PT Kalimantan Jawa Gas.”Karena berdasarkan akte pendirian PT Kalimantan Jawa Gas diketahui sahamnya masih dikuasai oleh PT Bakrie & Brothers Tbk sebesar 20% dan PT Energas Daya Pratama sebesar 80% dengan modal dasar Rp40 miliar. Sedangkan modal yang disetor sebesar Rp10 miliar,” terang dia. [aji]

Bisnis.com, JAKARTA—Pengalihan kepemilikan saham PT Bumi Resources Tbk di PT Bumi Resources Mineral Tbk masih tertunda lantaran belum ada putusan dari Pengadilan Singapura terkait restrukturisasi utang anak usahanya.

Anak usaha itu adalah Bumi Capital Pte Ltd, Bumi Investment Pte Ltd, dan Enercorp Resources Pte Ltd. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (7/1), Direktur dan Corporate Secretary Bumi Resources (BUMI) Dileep Srivastava menuturkan pihaknya masih belum bisa melakukan transaksi pengalihan saham kepada China Investment Corporation (CIC).

Alasannya, Pengadilan Singapura telah menetapkan moratorium yang melarang BUMI memindahkan aset ataupun bertransaksi sendiri-sendiri dengan individu tertentu hingga mendapat persetujuan dari mayoritas kreditur.

“Dengan adanya proses Pengadilan Singapura, perseroan harus memperlakukan semua kreditur secara adil. Perseroan akan menunggu hasil proses di pengadilan sebelum melakukan transfer saham BRMS kepada CIC,” papar Dileep.

BUMI menguasai 87,09% saham BRMS. Adapun saham yang akan dialihkan sebanyak 42%, yang nilainya setara dengan US$275 juta.

Sebelumnya, BUMI telah mengalihkan 19% sahamnya di PT Kaltim Prima Coal (KPC), yang nilainya mencapai US$950 juta, kepada CIC. Perusahaan yang bergerak di pertambangan batu bara itu memiliki kewajiban sebesar US$1,98 miliar kepada CIC.

JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) siap menukar saham perseroan minimal 30% untuk melunasi utang sebesar Rp 4,5-5,2 triliun. Nilai share swap itu setara 60-70% dari total restrukturisasi utang senilai US$ 600 juta atau sekitar Rp 7,4 triliun.

 

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno mengatakan, program debt to equity swap akan dilakukan melalui mekanisme penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non- HMETD) atau non-preemptive rights issue.

 

“Porsi saham dan utang yang akan ditukar masih dalam tahap finalisasi. Namun, melihat nilai utang yang cukup tinggi, kemungkinan jumlah saham yang akan ditukar juga bisa lebih besar dari 30%,” kata Eddy di sela paparan publik di Jakarta, Jumat (12/12).

 

Sementara itu, sisa utang sebesar Rp 2,2-2,9 triliun atau 30-40% dari total utang akan dilunasi dengan pembayaran tunai. Pelunasan ini dilakukan dengan cara memonetisasi sejumlah aset perseroan. Jika berjalan lancar, utang di tingkat holding bisa berkurang menjadi US$ 135 juta, dari posisi per September 2014 sebesar US$ 735 juta. Eddy optimistis, seluruh proses restrukturisasi dan pelunasan bisa diselesaikan pada kuartal I-2015.

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak

JAKARTA kontan. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mematangkan rencana menggelar restukturisasi utang. Eddy Soeparno, Direktur Keuangan BNBR bilang, sedang proses restrukturisasi pinjaman senilai US$ 600 juta.

BNBR menawarkan proposal menyelesaikan utang. Pertama, BNBR membayar tunai sebagian fasilitas itu melalui dana dari kas internal. Kedua, konversi utang menjadi saham kepada para kreditur.

“Kami belum menentukan porsi yang akan dibayar tunai dan dikonversi menjadi saham. Tapi, porsi yang dibayar tunai kami rencanakan lebih sedikit jumlahnya,” kata Eddy, Jumat (12/12).

Jika merujuk laporan keuangan per 30 September 2014, posisi kas dan setara kas BNBR hanya Rp 207,3 miliar. Jumlah ini tak cukup melunasi pinjaman BNBR.

Restrukturisasi ini merupakan strategi BNBR untuk efisiensi. Per 30 September 2014, BNBR menanggung utang jangka pendek Rp 6,5 triliun dan pinjaman jangka panjang Rp 2,56 triliun.

Jika diklasifikasi berdasarkan mata uang, BNBR menanggung utang dalam mata uang dollar Amerika Serikat (AS) US$ 691 juta. Sementara utang BNBR dalam mata uang rupiah tercatat Rp 615 miliar per 30 September 2014.

Tanggungan utang yang besar ini memang menjadi faktor klasik menggerus laporan keuangan emiten Grup Bakrie. Tengok saja, di sembilan bulan tahun ini, BNBR mesti membayar bunga dan menanggung beban keuangan Rp 578,84 miliar.

Jumlah ini lebih tinggi dari beban bunga BNBR di periode sama tahun lalu yang tercatat Rp 300,25 miliar. Tapi, BNBR masih mencatatkan laba bersih Rp 22,56 miliar pada sembilan di 2014. Angka ini lebih baik dibandingkan kuartal III-2013 yang masih rugi Rp 750,28 miliar.

Laba bersih bisa diperoleh lantaran pendapatan BNBR di akhir kuartal III-2014 sebesar Rp 4,74 triliun, naik 61,77%. Namun, defisiensi modal BNBR naik Rp 89,48 miliar dibanding Juni 2014 menjadi Rp 1,94 triliun. Pada pertengahan 2014, modal BNBR minus Rp 1,85 triliun.

Tjiendradjaja & Handoko Tomo, akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan kuartal III-2014 BNBR bilang, defisiensi modal tersebut mengindikasikan ketidakpastian material. Ini menyebabkan keraguan signifikan atas kemampuan perusahaan mempertahankan kelangsungan usaha.

Guna mengurangi angka defisiensi modal itu, BNBR akan memacu pendapatan dari segmen bisnis insfrastruktur. Presiden Direktur BNBR, Bobby Gafur Umar mengatakan, sedang menggarap tiga proyek. Yakni pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Tanjung Jati A yang berkapasitas 2 X 660 megawatt, pembangunan pipa gas Kalimantan-Jawa I (Kalija I) dan proyek tol Cimanggis-Cibitung.

Editor: Avanty Nurdiana

NUSA DUA kontan. Melorotnya harga saham Grup Bakrie kian menuai kekhawatiran dari investor. Kondisi ini pun langsung menarik perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Tidak ada pengawasan khusus untuk saham Grup Bakrie, karena kita akan mengawasi secara menyeluruh baik soal nilai saham yang turun dan penyebabnya,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan, Nurhaida, Sabtu (7/12).

Menurutnya, pengawasan khusus akan dilakukan sepanjang aksi korporasi yang dilakukan manajemen Grup Bakrie diduga ada indikasi terhadap pelanggaran. “Kalau sudah ada indikasi pelanggaran tentu perlu ada pengawasan khusus,” paparnya.

Kemudian soal PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang diduga gagal bayar, kata Nurhaida, pihaknya sudah mengkomunikasikan dengan manajemen BUMIdan tinggal menunggu hasilnya dan klarifikasinya.

Asal tahu saja, tercatat, beberapa saham group Bakrie saat ini berada di level Rp 50 per saham, seperti PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (UNSP), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Darma Henwa (DEWA). Sementara, saham BUMI saat ini di level Rp 78 per saham.

BUMI sejauh ini sebagai katalisator saham-saham Grup Bakrie. Harga saham BUMI di akhir 2013 berada di level Rp 300 per lembar. Sahamnya terus berada di tren melemah sampai pada penutupan perdagangan saat ini Rp 78 per lembar.

Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) melambatkan ekspansinya. Tahun depan, ELTY akan menggarap 5 proyek yang terdiri dari superblok, townships, hotel & resorts, dan theme park. Belum jelas berapa nilai dan dari mana sumber dana untuk penggarapan proyek tersebut.

Analis First Asia Capital David Sutyanto mempertanyakan penggarapan proyek tersebut. “Proyek itu benar berjalan atau janji manis saja,” ucapnya.

Pasalnya, kas dan setara kas ELTY cuma Rp 104,49 miliar. David menyebut, struktur kasnya tak memungkinkan untuk mampu membangun superblok. Maka untuk mendanai proyek, ELTY akan mencari pinjaman. Rasio utang terhadap modal atau Debt to Equity Ratio (DER) emiten properti ini masih di posisi 0,7x. Rendahnya DER ini karena ELTY yang telah melakukan restrukturisasi utang dengan menjual aset.

Lebih lanjut, ia bilang bahwa laporan keuangan ELTY perlu diwaspadai. Ini karena aset lancarnya hanya Rp 3,65 triliun. Sedangkan, kewajiban lancarnya mencapai Rp 4,4 triliun.

David mencermati, kinerja keuangan ELTY tengah mengalami penurunan. Pada kuartal ketiga, pendapatannya merosot 51,31% dari Rp 2,67 triliun menjadi Rp 1,3 triliun. Maka dari itu, ELTY ingin terus melakukan pembangunan supaya bisa meningkatkan penjualan.

KONTAN telah menghubungi manajemen ELTY untuk meminta penjelasan terkait detail penggarapan proyek tersebut. Namun tak ada jawaban. Pada 5 Desember mendatang, ELTY akan mengadakan paparan publik.

Editor: Barratut Taqiyyah

 

TEMPO.CO, Jakarta – Lembaga pemeringkat Standard & Poors (S&P) menurunkan peringkat kredit PT Bumi Resources, lini bisnis utama Grup Bakrie di sektor pertambangan. S&P menurunkan peringkat utang Bumi dari selective defaultmenjadi default atau gagal bayar. (Baca juga: Gelombang Badai Utang Bakrie)

Menurut analis dari Kredit S&P, Vishal Kulkarni, kredit korporasi Bumi dinyatakan default karena perusahaan ini dinilai tidak mampu membayar kewajibannya, setidaknya selama enam bulan ke depan. “Kami menduga Bumi akan mengalami general default (gagal bayar secara keseluruhan),” kata dia seperti dikutip dari Reuters, Rabu, 3 Desember 2014.

Penilaian ini didasarkan S&P atas beberapa catatan, salah satunya saat tiga anak usaha Bumi Resources sudah mendapat persetujuan atas restrukturisasi utang dari Pengadilan di Singapura. Tiga perusahaan itu yakni Bumi Investment Pte Ltd, Enercoal Resources Pte Ltd, dan Bumi Capital Pte Ltd yang berbasis di Singapura. Perusahaan-perusahaan itu juga dikabarkan sudah meminta perlindungan dari kreditur di Amerika, setelah menanggung utang Rp 3,7 triliun. Selain itu, Bumi gagal membayar bunga dari utang senilai US$ 700 juta.

Dalam pemaparan di Jakarta, Rabu, 26 November 2014, Direktur Keuangan Bumi Resources Andrew Christopher Beckham mengatakan jumlah utang perseroan mencapai US$ 3,73 miliar atau sekitar Rp 44,77 triliun. Utang terbesar berasal dari Country Forest Limited Facility sebesar US$ 1,03 miliar. Ini adalah utang dari lembaga keuangan milik China Investment Corporation (CIC). (Baca juga: Utang Bakrie Rp 21,4 triliun dan US$ 5,7 miliar)

Pada awalnya, kata Beckham, utang kepada CIC mencapai US$ 1,9 miliar dengan tingkat bunga 12 persen. Namun pada tahun 2013 dan 2014 perseroan telah membayar ‎masing-masing US$ 600 juta dan US$ 600 juta. “Tahun depan akan dibayar US$ 700 juta,” katanya.

Beckham yakin kinerja perusahaannya akan terus membaik tahun depan. ‎Dia menargetkan kapasitas produksi batu bara tahun depan mencapai 100 metrik ton. Selain menargetkan peningkatan kapasitas produksi, Bumi juga berencana memangkas utang dan bunga. Bahkan dia menyatakan bahwa perusahaan akan berusaha agar kembali mendapatkan laba dan mampu membagikan dividen.

FERY F. | FAIZ NASHRILLAHJAKARTA. Majelis Hakim Pengadilan Niaga (PN) Jakarta Pusat yang diketuai Jamaludin Samosir mengabulkan permohonan restrukturisasi utang atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) yang diajukan krediturnya, yakni PT Netwave Multi Media (NMM).

“Mengabulkan permohonan PKPU sementara selama 30 hari sejak tanggal yang diucapkan putusan,” kata Jamaludin saat membacakan amar putusan, di PN Jakarta Pusat, Senin (10/11) kemarin.

Majelis hakim menilai, permohonan PKPU yang diajukan PT NMM telah memenuhi persyaratan dan menemukan bukti adanya utang BTEL kepada NMM yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih sebesar Rp 4,73 miliar.

Selain itu, Jamaludin juga menunjuk Titik Tedjaningsih,  hakim di PN Jakarta Pusat,  sebagai hakim pengawas. Majelis hakim juga mengangkat William Eduard Daniel dan Imran Nating sebagai pengurus PKPU.

Kuasa hukum BTEL, Aji Wijaya mengaku terkejut atas putusan hakim yang menetapkan PKPU sementara selama 30 hari. Aji Wijaya menilai majelis hakim tidak menjelaskan pertimbangannya karena proses PKPU lazimnya diberikan waktu selama 45 hari.

“Yang telah kami sampaikan adalah ringkasan rencana perdamaian, mungkin majelis berpikir kami sudah siap, sehingga PKPU dipercepat. Tapi itu terlalu singkat,” kata Aji.

BTEL akan melihat lebih dahulu rapat kreditur yang waktunya akan ditentukam hakim pengawas nanti, yakni oleh hakim pengawas Titik Tedjaningsih. Aji bilang, dia akan bekerja keras untuk mencapai perdamaian dan untuk mendapatkan dukungan dari krediturnya, yakni NMM.

Kuasa hukum NMM, Sandra Nangoi mengataka pihaknya akan mengikuti prosedur lamjutan dan akan mempersiapkan proposal lanjutan yang lebih terperinci dalam proses PKPU tersebut.

NMM mengajukan permohonan PKPU terhadap BTEL sejak 23 Oktober 2014 lantaran BTEL tidak dapat memenuhi kewajibannya untuk membayar biaya perangkat infrastruktur telekomunikasi sebesar Rp 54 juta per bulan terhitung sejak masa sewa tahun 2012 jatuh tempo pada Mei 2014.

http://nasional.kontan.co.id/news/kini-bakrie-telecom-berstatus-dalam-pkpu
Sumber : KONTAN.CO.ID

 

JAKARTA kontan. Laba bersih PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) anjlok hingga 72,21% di kuartal III-2014. Merosotnya laba bersih ini lantaran perseroan sulit mendongkrak penghasilan usaha.

Per akhir September 2014, penghasilan usaha bersih ELTY turun tajam dari Rp 2,67 triliun menjadi Rp 1,3 triliun. Perseroan masih tertolong adanya penghasilan dari bunga dan keuangan bersih sebesar Rp 20,29 miliar.

Selain itu, ada laba dari selisih kurs yang sebesar Rp 1,79 miliar juga menahan laju penurunan laba bersih perseroan. Begitu pula mengempisnya bagian atas rugi bersih entitas asosiasi bersih pun berpengaruh.

Pada pos ini, nilai kerugian hanya Rp 2,29 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, nilai kerugian mencapai Rp 48,09 miliar.

Editor: Sanny Cicilia

 

NERACA

Jakarta- Sampai dengan sembilan bulan pertama tahun ini, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) berhasil membukukan penjualan mencapai Rp 2,028 triliun atau tumbuh 41% dibandingkan penjualan priode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,439 triliun. Peningkatan penjualan ini bertolak belakang ditengah harga jual minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dan karet yang justru terus turun sepanjang tahun ini.

Dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (3/11), Direktur PT Bakrie Sumatera Plantations, Andi W. Setianto mengatakan, peningkatan penjualan ini membuktikan bahwa fundamental bisnis perseroan sebenarnya tetap kuat untuk terus memacu kinerja.

Selain penjualan yang melonjak hingga 41%, laba operasi dan laba kotor Bakrie Sumatera juga naik cukup signifikan. Laba kotor meningkat 45% dari Rp 395 miliar di kuartal III-2013 menjadi Rp 575 miliar di kuartal III-2014. Perolehan laba operasi juga meningkat hingga 106% dari Rp 135 miliar menjadi Rp 278 miliar.

Menurut dia, kenaikan ini merupakan hasil dari strategi perseroan melakukan peningkatan produksi sawit dan karet di tengah kondisi harga pasar komoditas sawit dan karet yang masih berada di level yang rendah,”Hasilnya sudah mulai terlihat sejak awal tahun ini. Perlahan tapi pasti, kami berhasil melakukan perbaikan dan memulihkan kekuatan fundamental bisnis kami,” ujar Andi

Pada kuartal III-2014, harga komoditas sawit (CPO) turun ke level terendah US$ 670 per ton CIF Rotterdam dibandingkan harga di kuartal III-2013 yang level terendahnya saat itu tercatat US$ 810 per ton.  Kondisi serupa juga terjadi di komoditas karet. Di kuartal III-2014 harga komoditas karet turun ke level terendah US$ 1,6 per kg dibandingkan harga di kuartal III-2013 yang masih bertahan di level terendahnya US$ 2,6 per kg,“Dalam jangka pendek ini kami berhasil fokus pada optimalisasi produktivitas pabrik melalui peningkatan pembelian sawit dan karet dari petani. Kami akan melanjutkan upaya peningkatan produktivitas aset dan sustainability struktur permodalan yang tercermin di rasio hutang yang sehat, mengacu ke best practice,”kata Andi.

Di sisi lain, melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia (ASD-BSP), perseroan juga telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luasan lahan kebun yang sama. Bibit unggul ASD-BSP ini berpotensi menghasilkan hingga 40 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektare dibandingkan dengan umumnya 25-30 ton TBS per hektare.

Asal tahu saja, PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) dikabarkan terancam gagal bayar bunga obligasi senilai US$ 100 juta atau setara Rp 1,1 triliun. Alhasil dampak, gagal membayar utang obligasi, saham perseroan disuspensi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak akhir pekan lalu hingga saat ini.

Direktur Bakrie Sumatera Plantation, Balakrishnan Chandrasekaran pernah bilang, pihaknya akan bernegosiasi dengan para trustee alias pemegang obligasi. Selain itu, perseroan juga sudah menjelaskan kepada BEI bahwa jika bunga tersebut tidak dibayar, maka bisa menimbulkan event of default atas Secured Equity-linked Redeembale Notes senilai US$ 100 juta tersebut. (bani)

 

 

 

JAKARTA okezone – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) mencatatkan rugi neto yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk dari operasi yang dilanjutkan sebesar Rpp49,97 miliar pada akhir kuartal III-2014.

Kinerja keuangan ini masih membaik dibandingkan periode yang sebelumnya, di mana perseroan mencatat rugi Rp770,5 miliar.

Padahal, emiten perkebunan ini mencatat kenaikan pada penjualan menjadi Rp2,028 triliun. Perolehan tersebut naik bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,439 triliun.

“Nilai penjualan UNSP sembilan bulan pertama tahun 2014 ini mencapai Rp2,028 triliun. Ini membuktikan bahwa fundamental bisnis kami sebenarnya tetap kuat untuk terus memacu kinerja,” kata Direktur UNSP Andi W. Setianto dalam keterangan tertulis, Senin (3/11/2014).

Selain penjualan, laba operasi dan laba kotor UNSP juga naik cukup signifikan. Tercatat hingga September laba operasi naik menjadi RpRp278 miliar dibandingkan dengan sebelumnya sebesar Rp135 miliar. Sementara itu, laba kotor menjadi Rp575 miliar.

Kenaikan pada kinerja perseroan ditengah harga jual minyak kelapa sawit (crude palm oil, CPO) dan karet yang terus melorot tajam sepanjang tahun ini.

Menurut dia, catatan positif ini antara lain merupakan hasil dari strategi jitu Perseroan melakukan peningkatan produksi sawit dan karet ditengah kondisi harga pasar komoditas sawit dan karet yang masih berada di level yang rendah.

Pada kuartal III-2014 harga komoditas sawit (CPO) turun ke level terendah USD670 per ton CIF Rotterdam dibandingkan harga di kuartal III-2013 yang levelterendahnya saat itu tercatat USD810 per ton. Data Perseroan menunjukkan harga CPO pernah mencapai level tertinggi USD1.700 per ton di April 2011.

Kondisi serupa juga terjadi di komoditas karet. Di kuartal III-2014 harga komoditas karet turun ke level terendah USD1,6 per kg dibandingkan harga di kuartal III-2013 yang masih bertahan di level terendahnya USD2,6 per kg. Data Perseroan menunjukkan harga karet pernah mencapai level tertinggi USD6,2 per kg pada Februari 2011.

“Dalam jangka pendek ini kami berhasil fokus pada optimalisasi produktivitas pabrik melalui peningkatan pembelian sawit dan karet dari petani, yang juga sekaligus membantu peningkatan ekonomi mereka. Kami akan melanjutkan upaya peningkatan produktivitas aset dan sustainability struktur permodalan yang tercermin di rasio hutang yang sehat, mengacu ke best practice,” kata Andi.

(rzk)

Bisnis.com, JAKARTA–PT Smartfren Telecom Tbk. dan PT Bakrie Telecom Tbk. akhirnya memutuskan untuk menjalin kerja sama dalam bentuk sewa jaringan.

Setelah dua bulan dibendung wacana aksi merger dan tukar guling saham (share swap) penggunaan spektrum frekuensi 800 MHz, akhirnya dua emiten tersebut memutuskan untuk jalin kerja sama sewa jaringan. Kamis, (30/10/2014),

Keduanya menandatangani kerja sama untuk kolaborasi penyelenggaraan jaringan. Langkah kolaborasi ini adalah komitmen kedua operator code division multiple access (CDMA) itu untuk mendorong peralihan teknologi CDMA  menuju layanan 4G berbasis frequency division duplex long term evolution (FDD LTE).

Sumber Bisnis menyebut Smartfren Telecom (FREN) harus menggelontorkan dana sekira US$20 juta-US$30 juta untuk kolaborasi penyelenggaraan jaringan dengan Bakrie Telecom (BTEL).

“Dananya diambil dari kas internal perseroan,” ucap sumber tersebut, Senin, (3/11/2014).

Dia juga menyebut kerja saja sewa-menyewa jaringan tersebut berdurasi tiga tahun.

Ketika dikonfirmasi, Direktur Keuangan Smartfren Telecom Anthony Susilo mengatakan perjanjian kerja sama di antara BTEL dan FREN merupakan solusi yang menguntungkan kedua pihak. Yang pasti, ada tambahan dana yang dikeluarkan FREN dalam kerja sama ini.

“Efeknya ke kinerja keuangan kami adalah kami mendapatkan tambahan pendapatan dari BTEL atas sewa jaringan. Adapun, BTEL dapat melakukan efisiensi,” tutur Anthony kepada Bisnis, Senin, (3/11).

Rugi EBITDA yang menghantui FREN sejak 2008 diprediksi Anthony dapat berbalik arah ke laba EBITDA pada 2014. Per semester I/2014, EBITDA FREN mencapai Rp48 miliar.

Presiden Direktur BTEL Jastiro Abi mengatakan kerja sama ini merupakan respon dari operator CDMA atasarahan pemerintah untuk mendorong broadband society dan broadband economy di Indonesia. Dengan Perjanjian Kolaborasi tersebut, jaringan BTEL akan digabungkan dengan jaringan milik Smartfren sehingga dapat melayani pelanggan Esia.

“Kerja sama ini membuka peluang bisnis yang jauh lebih besar  bagi BTEL dan Smartfren sebagai operator yang sudah diizinkan untuk menggunakan teknologi netral pada frekuensi 800 MHz. Sehingga, pemegang saham dan seluruh stakeholders mempunyai kesempatan lebih terbuka lagi untuk mengembangkan usahanya,” kataJastiro dalam siaran pers yang diterima Bisnis, Senin, (3/11).

Ke depan, BTEL dan FREN segera menjajaki kemungkinan pengembangan jaringan menuju layanan 4G berbasis LTE FDD guna meningkatkan kualitas dan layanan bagi para pelanggannya.

 

Editor : Ismail Fahmi

Topsaham – Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara perdagangan saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) sejak sesi pertama perdagangan bursa, Rabu (29/10) ini. Demikian dikemukakan I Gede Nyoman Yetna, Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Group I BEI, dan Eko Siswanto, Kepala Divisi Operasional Perdagangan BEI dalam pengumuman di sistem keterbukaan informasi.

BEI melakukan suspensi atas dasar informasi adanya permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang diajukan oleh PT Netwave Multi Media terhadap perusahaan telekomunikasi berbasis CDMA milik grup Bakrie tersebut. Informasi tersebut disampaikan manajemen BTEL pada 28 Oktober 2014.

“Dalam rangka menjaga pasar yang teratur, wajar, dan efisien, bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek BTEL,” ujarnya.

Untuk itu, BEI meminta kepada para pemangku kepentingan atas Bakrie Telecom untuk memperhatikan setiap keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan. (Irawan)
http://www.topsaham.com/new1/index.php?option=com_content&view=article&id=11414:bei-suspensi-perdagangan-btel&catid=3:head-line-news&Itemid=61
Sumber : TOPSAHAM.COM

 

New York detik -PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dituntut investor di Amerika Serikat (AS) gara-gara dianggap gagal bayar obligasi senilai US$ 380 juta (Rp 4,1 triliun). Sudah dua kali operator Esia itu lalai bayar bunga utang.

Akibatnya, anak usaha Grup Bakrie itu terancam gagal bayar jika kembali lalai. Universal Investment Advisory SA, Vaquero Master EM Credit Fund Ltd, dan Trucharm Ltd merupakan tiga penggugat dalam kasus ini.

Sementara yang digugat adalah Bakrie Telecom Pte Ltd, BTEL, PT Bakrie Network, dan PT Bakrie Connectivity di Pengadilan New York.

Emiten berkode BTEl itu adalah induk usaha Bakrie Telecom Pte Ltd, perusahaan Singapura yang menerbitkan obligasi tersebut. Semetara Bakrie Network dan Bakrie Connectivity adalah perusahaan afiliasi BTEL.

Pihak penggugat, yang punya lebih dari 25% kepemilikan obligasi itu menyatakan surat utang tersebut akan jatuh tempo Mei 2015. Grup Bakrie dianggap dua kali gagal bayar bunga pada November 2013 dan Mei 2014.

“Tergugat telah mengakui bahwa ancaman gagal bayar ini akan terus berjalan tapi tidak ada pembayaran bunga yang dilakukan,” kata pihak penggugat dalam dokumen yang diterima Reuters, Kamis (25/9/2014).

“Dengan demikian besar kemungkinan tergugat akan mengalami gagal bayar untuk pembayaran November 2014,” tambahnya.

(ang/dnl)

JAKARTA kontan. Tanpa diketahui banyak pihak, daftar pemegang saham produsen batubara milik Keluarga Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), telah berubah. Hal ini terjadi dalam kurun waktu 5 September hingga 12 September 2014.

Mengacu data Biro Administrasi Efek Ficomindo Buana Registrar pada 16 September 2014, PT Tritunggal Sumber Utama tercatat menguasai 16,35 miliar saham atau 30,86% total saham BUMI. Mengacu harga BUMI kemarin Rp 190 per saham, nilai transaksi ini mencapai Rp 3,11 triliun.

Tritunggal beralamat di Jl Proklamasi No. 91 Menteng, Jakarta Pusat. Tapi, perusahaan ini tak punya situs resmi yang bisa menjadi rujukan.

Kepemilikan Tritunggal bahkan lebih besar dari pemegang saham terbesar BUMI sebelumnya, Long-haul Holdings Ltd. Per 30 Juni 2014, perusahaan milik Grup Bakrie ini menguasai 6,06 miliar saham atau 29,18% saham BUMI.

Tritunggal bukan satu-satunya pemegang saham baru BUMI. Sebelumnya, ada dua perusahaan yang masuk BUMI, yakni PT Damar Reka Energi dan PT Karsa Daya Rekatama. Masing-masing membeli 6,9 miliar saham atau 13,03% saham BUMI per 5 September 2014. Di periode 8 September-12 September 2014, Damar menjual 1 miliar saham BUMI, jadi kepemilikannya turun menjadi 11,14%. Seperti Tritunggal, identitas Damar Reka dan Karsa Daya juga misterius.

Damar berkantor di Menara Standard Chartered lantai 30, Jakarta. Adapun Karsa berkantor di Ruko Niaga Kalimalang Bekasi. Keduanya tak punya situs resmi yang menjadi etalase utama perusahaan kredibel. Kehadiran tiga perusahaan ini menimbulkan tanda tanya. Sebab, transaksi saham itu tak diumumkan detail ke publik, termasuk harga, skema maupun siapa penjualnya.

Manajemen BUMI enggan berkomentar. “Saya tak tahu, nanti saya cek dulu,” kata Dileep Srivastava, Direktur BUMI ke KONTAN, Rabu (24/9).

Kemungkinan tiga perusahaan itu menyerap saham BUMI lewat Penawaran Umum Terbatas IV dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu dari Juli hingga awal September. BUMI merilis saham biasa seri B maksimal 32,2 miliar unit. Harga pelaksanaannya Rp 250 per saham senilai total Rp 8,05 triliun.

Selain itu, pada 15 September 2014, ada crossing 4,46 miliar saham BUMI di pasar negosiasi. Nilainya Rp 265,5 miliar.
Editor: Sandy Baskoro

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara (suspensi) saham PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. (UNSP).

Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Group BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan suspensi tersebut dilakukan merujuk adanya event of default atau gagal bayar atas pembayaran bunga dari secured equity-linked redeemable notes senilai US$100 juta dengan tingkat bunga 8%.

“Belum ada informasi lebih lanjut dari perseroan mengenai hal tersebut. Dalam rangka menjaga pasar yang teratur, wajar, dan efisien, BEI memutuskan untuk suspen saham UNSP,” paparnya dalam keterangan tertulis, Jumat (19/9/2014).

Penghentian sementara itu dilakukan di seluruh pasar terhitung sejak sesi I perdagangan hari ini. Otoritas bursa tersebut juga meminta pemangku kepentingan untuk memperhatikan keterbukaan informasi dari perseroan, terutama pemenuhan kewajiban pembayaran bunga tersebut.

Editor : Nurbaiti

PT Bakrie Brother Tbk (BNBR) membukukan laba bersih pada Quarter 2 2014 sebesar 123,1 miliar. Naik bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2013 sebesar  4,9 miliar. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 1.31 per lembar.

 

Berikut Laporan keuangan BNBR Quarter 2 2014 :

Account Quarter 2 2014
Last Price          50
Share Out 93,7 B
Market Cap. 4.686,1 B
Balance Sheet
Cash               3.257,2 B
Total Asset 11.345,0 B
S.T Borrowing 7.967,7 B
L.T Borrowing 2.695,4 B
Total Equity -1.858,5 B
Income Statement
Revenue           3.700,1 B
Gross Profit 1.482,0 B
Operating Profit 1.118,1 B
Net. Profit        123,1 B
EBITDA         1.178,8 B
Interest Exp. 417,1 B
Ratio
EPS                 1,31
PER                 38,17x
BVPS                 -19,83
PBV                 -2,52x
ROA                 1,09%
ROE                 -6,62%
EV/EBITDA 10,26
Debt/Equity -5,74
Debt/TotalCap 1,21
Debt/EBITDA 9,05
EBITDA/IntExp. 2,83

Sumber : IPS RESEARCH

detik Jakarta -Tiga anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang bergerak di sektor bahan bangunan, onderdil otomotif, dan pabrik besi memberikan kontribusi 91,46% terhadap pendapatan perseroan. Kinerja positif ini membuat laba grup naik sangat fantantis yaitu 2400% menjadi Rp 123 miliar pada semester I-2014.

Presiden Direktur BNBR Bobby Gafur Umar, menegaskan bahwa kontribusi yg terus meningkat terhadap kinerja perseroan dalam beberapa tahun terakhir ini, adalah dari sektor manufaktur yang mereka geluti.

“Industri bahan bangunan yang dijalankan oleh PT Bakrie Building Industries (BBI), industri komponen otomotif yang dijalankan oleh PT Bakrie Autoparts dan industri metal yang dioperasikan PT Bakrie Metal Industries (BMI) kini memang menjadi primadona. Kinerja tiga unit usaha ini semakin baik, dan berkontribusi signifikan terhadap pendapatan perseroan,” kata Bobby dalam keterangan tertulisnya, Minggu (31/8/2014)

Tercatat ketiga anak usaha tersebut pada semester pertama 2014, memberikan kontribusi pendapatan sebesar Rp 2,90 triliun terhadap revenue BNBR. Angka itu mengalami kenaikan 73,2% jika dibandingkan pada semester pertama 2013. Jika semester pertama 2013 kontribusi pendapatan sebesar Rp 1,75 triliun maka pada semester pertama tahun 2014 naik menjadi Rp 3,18 triliun.

Capaian laba Rp 123,12 miliar, meningkat 2.435% dibanding perolehan laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk pada semester I-2013 lalu yang hanya sebesar Rp 4,86 miliar

Bobby menambahkan pihaknya memutuskan untuk mendorong ketiga anak usahanya menjadi perusahaan manufaktur berskala internasional. Caranya melakukan perluasan kapasitas produksi, pengembangan produk baru, menyiapkan rencana kerja sama dengan mitra strategis, serta bersiap melakukan akuisisi perusahaan lain.

“Kami sudah siapkan semua, dimulai tahun ini juga. Ini rencana lima tahun dan jangka panjang ke depan,” ujar Bobby
Bisnis.com, JAKARTA — PT Energi Mega Persada Tbk menjajaki pinjaman baru untuk melunasi utang jangka pendek sebesar US$250 juta.

Pihak perseroan menyatakan sedang mencari pinjaman baru dengan bunga rendah untuk menghemat beban yang harus ditanggung perseroan.

Direktur Utama PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), Imam Agustino menuturkan pinjaman ini diharapkan dapat diperoleh sebelum akhir tahun 2014.

Hal ini diperlukan guna menghindari beban yang semakin tinggi pada saat pergantian tahun.

“Belum tahu apakah di kuartal III atau tidak. Yang pasti sebelum akhir tahun,” ujar Imam, Rabu (27/8/2014).

Tahun lalu perseroan sudah refinancing sebesar US$203 juta dengan bunga turun dari 20% menjadi sekitar 6%, hingga hemat US$28 juta.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan semesterl I-2014, total pinjaman bank perseroan turun menjadi US$692,51 juta pada semester I 2014 dari periode 2013 sebesar US$731,41 juta.

Ekuitas perseroan naik menjadi US$ 915,39 juta pada semester I 2014.

Selama semester I 2014, perseroan mencatatkan produksi naik menjadi 13.032 barel per hari dari periode sebelumnya 12.551 barel per hari.

Produksi gas perseroan naik menjadi 223 juta kubik per hari.

Naiknya produksi itu turut mendongkrak angka penjualan perseroan sebesar 10,35% menjadi US$ 413,37 juta atau sekitar Rp 4,79 triliun (asumsi kurs Rp 11.600 terhadap dolar Amerika Serikat) selama enam bulan pertama 2014 dari periode sama tahun 2013 sebesar US$374,58 juta.

Editor : Saeno

JAKARTA – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) meraih laba bersih semester I tahun ini sebesar Rp 111,3 miliar, turun signifikan 82,4% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 707,7 miliar. Sementara pendapatan perseroan juga turun 51,3% menjadi sebesar Rp 1,1 triliun dari sebelumnya Rp 2,3 triliun.

Manajemen perseroan dalam laporan keuangannya menjelaskan, penjualan real estat dan apartemen turun cukup signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dari sektor bisnis tersebut, anak usaha perseroan, PT Superwish Perkasa menatatkan penjualan sebesar Rp 147,7 miliar, sedangkan pada periode sebelumnya sebesar Rp 1,2 triliun.

“PT Graha Andrasentra Propertindo mencatatkan penjualan sebesar Rp 345 miliar, periode sebelumnya sebesar Rp 77,9 miliar,” jelas manajemen dalam laporan keuangannya, Kamis (28/8).

sementara itu pendapatan dari sektor perkantoran dan pusat belanja turun tipis menjadi sebesar Rp 166,3 miliar dari sebelumnya sebesar Rp 183,9 miliar. Sedangkan dari bisnis perhotelan pendapatan pesroan tercatat sebesar Rp 160,1 miliar turun tipis dibandingkan dengan tahun sebelumnya senilai Rp 202,1 miliar.

Sementara itu utang bank dan lembaga keuangan jangka pendek perseroan pada semester I tahun ini tercatat sebesar Rp 799,9 miliar, turun 1,9% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 815,5 miliar. Sedangkan utang yang akan jatuh tempo tahun ini adalah sebesar Rp 135,6 miliar.

Utang bank janka panjang perseroan tercatat sebesar Rp 467,8 miliar, naik dibandingkan semester I-2013, yaitu sebesar Rp 461,9 miliar. Sedangkan total liabilitas perseroan pada semester I tahun ini adalah sebesar Rp 5,3 triliun.

Sebelumnya, Bakrieland Development melalui anak usahanya, PT Bakrie Swasakti Utama, akan mengakuisisi perusahaan properti PT Mutiara Masyhur Sejahtera, anak usaha PT Minarak Labuan Indonesia. Nilai akuisisi mencapai Rp 3,1 triliun.

Perseroan berencana membeli 750.000 atau setara 99,21% saham Mutiara Masyhur. “Perjanjian jual beli saham telah dilakukan pada 30 Juni 2014,” ungkap Manajemen Bakrieland melalui prospektus resmi, beberapa waktu lalu.

Mutiara Masyhur memiliki lahan potensial untuk dikembangkan seluas 500 hektare (ha) di Sidoarjo, Jawa Timur. Di atas lahan tersebut, Bakrieland berencana mengembangkan residensial horisontal, fasilitas penunjang seperti shopping mall retail modern, dan tempat hiburan.

Selain itu, perseroan juga berencana membangun hotel dan convention hall sebagai fasilitas pelengkap lainnya. (fik)

 

http://www.investor.co.id/marketandcorporatenews/semester-i-laba-bersih-bakrieland-turun-824/93067

Sumber : INVESTOR DAILY

JAKARTA – PT Newmont Nusa Tenggara (NTT) mencabut gugatan arbitrase yang ditujukan kepada pemerintah Indonesia. Seperti diketahui, Newmont menggugat pemerintah Indonesia sebagai protes Newmont atas penerapan Undang-Undang Mineral dan Batu Bara (Minerba) Nomor 4 Tahun 2009.

Walaupun belum ada cabutan gugatan resmi, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan hal ini akan membuka peluang bagi Newmont untuk kembali negosiasi dengan pemerintah.

“Ya intinya pencabutan gugatan arbitrase merupakan syarat dari pemerintah untuk menerima mereka bisa meneruskan perundingan kembali yang sempat terhenti,” ucap Hidayat kepada Okezone, di Jakarta, Kamis (28/8/2014).

Namun, dia belum mengetahui jadwal negosiasi kembali antara pemerintah dan Newmont. Pasalnya, negosiasi tersebut harus menunggu surat resmi. “Itu masalah waktu saja,” kata Hidayat.

Seperti dikutip dari situs resmi Newmont Mining Corporation, NNT menarik gugatan arbitrase kepada pemerintahan Indonesia. PT NTT dan Nusa Tenggara Partnership BV selaku pemegang saham mayoritas meminta untuk penghentian dan penarikan gugatan arbitrase yang diajukan kepada International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID).

Keputusan untuk menghentikan dan menarik arbitrase muncul setelah komitmen dari pejabat pemerintah untuk membuka negosiasi formal dan mengadakan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan PTNNT atas penghentian tuntutan arbitrase. (mrt)

http://economy.okezone.com/read/2014/08/28/19/1030912/gugatan-dicabut-pemerintah-baru-mau-nego-dengan-newmont

Sumber : OKEZONE.COM

detik JAKARTA. Awal pekan ini, otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) memanggil manajemen PT Bakrieland Development Tbk (ELTY). Hal ini terkait pembelian obligasi konversi milik PT Madison Global. Apa hasilnya?

Hoesen, Direktur Penilaian Perusahaan BEI mengatakan, pihaknya masih melakukan penelaahan atas penjelasan yang disampaikan oleh manajemen ELTY. Selama ini, yang menjadi pertanyaan adalah, siapakah Madison Global?.

Ternyata, Madison Global adalah semacam kendaraan investasi atau yang kerap dikenal dengan nama special purpose vehicle (SPV). SPV ini akan digunakan ELTY untuk mengakuisisi lahan. Jadi, ketika jatuh tempo, obligasi akan dikonversi menjadi kepemilkan saham Madison.

Dengan kepemilikan saham Madison, berarti ELTY berhak atas lahan yang sudah dicaplok Madison. Namun, Hoesen mengaku, ia tidak ingat dimana saja lokasi lahan yang dimaksud. Tindakan yang dilakukan ELTY ini dinilai tidak menyalahi aturan.

Hanya saja, BEI tetap akan memantau sampai dengan transaksi terlaksana.

“Yang jelas, nanti kami akan telusuri lahan yang diakuisisi dan kesiapan dana mereka (ELTY),” ujarnya, Jumat (22/8).

Saat ini, BEI masih melakukan penelaahan atas semua jawaban yang diberikan manajemen ELTY. Hoesen juga mengonfirmasi, data-data yang diperoleh KONTAN mengenai Madison benar adanya.

Berdasarkan data yang dikumpulkan KONTAN, Madison Global merupakan perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, seperti pertambangan, jasa, hingga pengembang.

Madison memiliki modal dasar sebesar Rp 1,6 miliar, dengan modal yang ditempatkan Rp 400 juta dan modal disetor Rp 4 juta. Total seluruh saham yang dimiliki perusahaan adalah 1.600 saham dengan jumlah yang ditempatkan sebesar 400 saham, bernominal Rp 1 juta

Pendiri dan pemegang saham itu bernama Hari Aprianto yang menjabat sebagai Direktur, dan Andi Ridwan Akbar selaku Komisaris. Masing-masing memegang 200 lembar saham 50% saham Madison.

Jadi, obligasi konversi ini merupakan buntut dari penandatanganan perjanjian surat utang konversi (SUK) antara anak usaha ELTY, PT Bakrie Nirwana Semesta (BNS) dan perusahaan terafiliasi, PT Bakrie Capital Indonesia (BCI) dengan Madison. Nilainya mencapai Rp 1,65 triliun.

Penandatanganan perjanjian itu dilakukan pada 7 Februari 2013. Jangka waktu surat utang adalah dua tahun, yaitu akan jatuh tempo pada 7 Februari 2015. Dengan surat utang ini, ELTY memiliki peluang untuk mengonversi surat utang itu menjadi 1,64 juta saham Madison.

Bunga dari SUK ini dibanderol 10% per tahun dihitung sejak 7 Februari 2014. Bunga dibayar setiap akhir periode enam bulan terhitung sejak 7 Februari 2014. Dalam perjanjian disebutkan, konversi bisa dilakukan apabila Madison tidak melunasi pembayaran atas total kewajiban dalam jangka waktu 14 hari kerja sejak tanggal jatuh tempo.
Editor: Sanny Cicilia

kontan JAKARTA. Perusahaan minyak dan gas bumi, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) membukukan pendapatan sebesar US$ 413,38 juta pada semester I-2014 ini atau naik 10,36% dibandingkan dengan pendapatan pada semester I-2013 sebesar US$ 374,59 juta. Sementara itu, laba bersih ENRG pada semester I-2014 sebesar US$ 30,45 juta atau anjlok 83,04% jika dibandingkan dengan laba bersih pada semester I-2013 sebesar US$ 179,59 juta.

Direktur Utama ENRG Imam Pria Agustino menyatakan, selama semester I-2014, Energi Mega Persada memproduksi minyak sebanyak 13.032 barel per hari (bph) atau naik 3,8% dari produksi minyak pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 12.551 bph. “Kenaikan produksi minyak ini karena ada penambahan produksi dari Blok Tonga di Sumatera Utara,” katanya, dalam rilis, Jumat (25/7).

Selain itu, Imam mengklaim produksi gas Energi Mega juga meningkat tipis, dari 221 juta kaki kubik per hari pada semester I-2013, menjadi 223 juta kaki kubik per hari pada semester I-2014. Kenaikan produksi gas disumbangkan oleh produksi gas dari Blok Bentu, Riau.

Dia menjelaskan, kenaikan pendapatan perusahaan ditopang dari harga jual gas, pada semester I tahun 2014 harga jual gas perusahaan naik, dari US$ 5,7 per mmbtu pada semester I-2013 menjadi US$ 5,9 per mmbtu. pada semester ini juga beban keuangan ENRG juga sudah turun 30%.

Head of Investor Relations ENRG Herwin Hidayat mengatakan hingga akhir tahun 2014, manajemen Energi Mega belum berencana melakukan aksi korporasi mengakuisisi blok-blok baru. “Strategi kami lebih kepada meningkatkan produksi dari blok-blok migas yang sudah ada,” tegas Herwin kepada KONTAN, Jumat (25/7).

Editor: Hendra Gunawan

 

Darma Henwa (DEWA) memperoleh dana senilai US$11,5 juta dari hasil divestasi sebanyak 93,47% saham anak usahanya, yakni PT DH Energy kepada Lennete Limited. DH Energy merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa ketenagalistrikan. Divestasi ini merupakan restrukturisasi perseroan untuk melepas aset-aset perusahaan yang tidak produktif dan diharapkan dapat menciptakan struktur perusahaan yang lebih efisien dan fokus. Divestasi ditempuh bersamaan dengan rencana pengurangan utang kepada sejumlah bank yang bernilai US$135 miliar atau sekitar US$11,31 juta. Perseroan akan menyicil US$4 juta setiap tahunnya. (Investor Daily)
Sumber : IPS RESEARCH

 

JAKARTA – PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), perusahaan media milik Grup Bakrie, akan menjual 10% saham PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), induk usaha stasiun televisi ANTV. Visi Media menargetkan perolehan dana sebesar US$ 105 juta atau sekitar Rp 1,25 triliun.

Penjualan saham Intermedia akan menempuh mekanisme penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD). “Kami akan roadshow ke beberapa negara di Asia dan Eropa pada Oktober tahun ini,” kata Direktur Visi Media Robertus Bismakara di Jakarta, Kamis (3/7).

Visi Media akan menggunakan dana hasil divestasi tersebut untuk mempercepat pelunasan utang kepada Credit Suisse senilai US$ 220 juta. Perseroan meraih utang tersebut pada 1 November 2013, dengan tingkat suku bunga sebesar Libor plus 7,75% per tahun.

Pada April 2014, Visi Media telah mendivestasi 2,5% saham miliknya melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham Intermedia Capital. Nilai divestasi tersebut mencapai Rp 130,2 miliar. Adapun dana hasil divestasi saham Intermedia tersebut
telah digunakan untuk membayar sebagian utang kepada Credit Suisse.

“Tentu kami tidak mau lepas terlalu banyak saham Intermedia. Saat ini, kepemilikan kami masih di atas 90%,” ujar Robert.

 

http://www.investor.co.id/marketandcorporatenews/grup-bakrie-akan-jual-saham-induk-antv-rp-12-t/88875
Sumber : INVESTOR DAILY

kontan JAKARTA. PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) merombak jajaran direksinya. Anindya Novyan Bakrie didapuk sebagai Presiden Direktur VIVA menggantikan Erick Thohir. Hal ini telah disetujui oleh para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) yang digelar Selasa (3/7).

Selain itu pemegang saham VIVA juga menunjuk Rachmat Gobel, yang sebelumnya menjabat sebagai komisaris independen VIVA, menjadi komisaris utama menggantikan Anindya Novyan Bakrie. Berikut adalah susunan direksi dan komisaris VIVA yang baru:

Direksi:

Presiden Direktur: Anindya Novyan Bakrie

Wakil Presiden Direktur: Robertus Bismarka Kurniawan

Direktur: A. Ardiansyah Bakrie

Direktur: Otis Hahijari

Direktur: M.Sahid Mahudie

Direktur: Neil R. Tobing

Direktur: Dudi Hendrakusuma Syahlani
Komisaris:

Presiden Komisaris: Rachmat Gobel

Wakil Presiden Komisaris: Erick Thohir

Komisaris: Omar Luthfi Anwar

Komisaris: Rosan Perkasa Roeslani

Komisaris Independen: Setyanto Prawira Santosa

Komisaris Independen: RM. Djoko Setiotomo

Editor: Uji Agung Santosa

 

kontan JAKARTA. Setelah mendapat restu dari pemegang saham, PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP) akhirnya mengubah haluan bisnis dari produsen berbasis non-woven menjadi perusahaan batubara. Perseroan pun melakukan perombakan manajamen.

Rennier Abdul Rachman Latief menduduki jabatan sebagai Komisaris Utama SIAP. Chandra Purwanto dan Erry Firmansyah, masing-masing menjadi Komisaris Independen SIAP yang baru. Lalu, Yuli Soedargo menjadi Direktur Independen. Sedangkan Direktur Utama, untuk sementara masih dijabat Onny Soendjaja.

Nama Rennier A.R. Latief dan Yuli Soedargo sangat akrab dengan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Rennier pernah menjadi pemegang saham sekaligus Direktur Utama ENRG. Sedangkan, Yuli pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan perusahaan minyak dan gas (mitas) milik Grup Bakrie tersebut.

Apakah bisnis baru SIAP terafiliasi dengan Grup Bakrie? Rennier menegaskan, sejak 2005, ia sudah tidak lagi menjalin bisnis dengan Keluarga Bakrie.

“Saya masih jadi temannya Pak Ical (Aburizal Bakrie), Nirwan (Bakrie), dan Indra (Bakrie), tapi dalam bisnis, kami sudah tidak ada kaitannya, perusahaan saya tidak ada Bakrie-nya, dan perusahaan Bakrie nya tidak ada saya-nya,” jelasnya.

Maklum saja, setelah lama tidak terdengar, Rennier yang merupakan mantan petinggi PT Lapindo Brantas Inc ini kembali muncul melalui aksi backdoor listing RITS Ventures Limited melalui SIAP.

SIAP menerbitkan  23,4 miliar saham dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 200 per saham. Dengan demikian, aksi korporasi ini bernilai Rp 4,68 triliun. Pemegang saham utama SIAP , PT Graha Sakti Cemerlang (GSC) dan PT Graha Sakti Prima (GSP) tidak akan mengeksekusi saham baru SIAP itu.

Seluruh dana rights issue, setelah dikurangi biaya administrasi digunakan untuk mengakuisisi saham RITS.

Editor: Barratut Taqiyyah

JAKARTA – China Nonferrous Metal Industry’s Foreign Engineering & Construction Co Ltd (NFC) siap mengucurkan dana senilai US$ 340 juta (Rp 4 triliun) untuk mendanai proyek milik PT Dairi Prima Mineral (DPM), anak usaha PT Bumi Resoures Minerals Tbk (BRMS). Hal ini merupakan kesepakatan antara NFC dan Bumi Minerals terkait pembangunan cadangan seng dan timah hitam di Sumatera.

Dalam perjanjian tersebut, NFC berkomitmen menyediakan 85% dana proyek Dairi senilai total US$ 400 juta. Adapun sisa 15% atau sebesar US$ 60 juta akan disiapkan oleh Bumi Minerals.

Komisaris Bumi Minerals Ari Hudaya mengungkapkan, pihaknya tengah mempertimbangkan dua alternatif cara untuk menyiapkan kebutuhan dana proyek Dairi.  “Cara pertama, kami bisa mencari pinjaman untuk project financing. Kedua, kami bisa mencari dana lewat ekuitas Dairi Prima,” kata Ari saat dijumpai usai paparan publik Bumi Minerals, Senin (30/6).

Untuk bisa menjalankan project financing, kata Ari, Bumi Minerals harus menekan jumlah utangnya terlebih dahulu. Karena itu, Bumi Minerals berniat menawarkan sebanyak 29% saham Dairi Prima kepada NFC. Perseroan bakal menggunakan dana hasil penjualan untuk membayar utang sebesar US$ 100 juta.  “Jika sudah bayar utang, Dairi bisa lebih leluasa mencari pinjaman baru untuk proyeknya,” tutur Ari.

Saat ini, sebesar 80% saham blok Dairi Prima dikendalikan oleh Bumi Minerals. Sementara, sisa 20% dimiliki oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Jika NFC menerima tawaran Bumi Minerals, peseroan tetap akan menjadi pemegang mayoritas saham Dairi sebesar 51%.

Cara kedua, lanjut Ari, yakni dengan melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) atau private placement saham Dairi Prima. Dia mengaku, pihaknya tidak segan-segan menawarkan saham Dairi kepada investor asing selain NFC.

“Kami bisa tawarkan ke Taiwan, Bangladesh, Pakistan, India, atau siapapun yang membutuhkan produk seng. Penawaran kami tidak terbatas kepada NFC saja,” ujar Ari.

Meski demikian, Ari belum mau mengungkapkan total target dana yang bisa diperoleh dari pelepasan saham Dairi Prima. Pasalnya, hal itu tergantung valuasi perusahaan yang belum dihitung secara rinci. “Jika nilai proyek Dairi saja US$ 400 juta, valuasi perusahaan bisa jauh lebih tinggi. Mungkin bisa mencapai US$ 800 juta atau bahkan US$ 1 miliar,” ujar dia.

Menurut catatan Investor Daily, Bumi Minerals meneken kontrak kerjasama dengan NFC pada 17 April 2014. Dalam kontrak itu, NFC bersedia membantu Bumi Minerals untuk membangun infrastruktur dan fasilitas pengolah 1 juta ton bijih besi per tahun. Pembangunan fasilitas diharapkan selesai pada akhir 2017.

NFC juga telah menggandeng perusahaan kontraktor asal Rusia, yakni Metals of Eastern Siberia Corporation (MBC) untuk menggarap proyek Dairi. Kontrak antara NFC dan MBC tersebut senilai US$ 1,4 miliar atau setara Rp 15 triliun.

Blok Dairi Prima
Blok Dairi Prima yang terletak di wilayah Sumatera Utara itu memiliki cadangan sebesar 11 juta ton bijih dan sumberdaya sebesar 25 juta ton bijih. Cadangan seng memiliki kadar 11,5%, sementara, cadangan timah berkadar 6,8%.

Hingga kuartal pertama 2014, Bumi Minerals membukukan pendapatan sebesar US$ 4,89 juta atau turun 22,3% dibandingkan US$ 6,3 juta pada periode sama tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan Bumi Minerals hanya ditopang oleh jasa pemasaran batubara yang dilakukan oleh Bumi Resources Japan Company Limited dan Mitsubishi Corporation Rtm Japan Ltd. Sementara, aset-aset tambang Bumi Minerals di Indonesia belum mulai berproduksi.

Adapun rugi bersih tercatat sebesar US$ 13,1 juta atau meningkat 65,8% dibandingkan US$ 7,9 juta pada periode sama 2013.

Terkait belanja modal 2014, Direktur Keuangan Bumi Resources Fuad Helmy mengatakan, perseroan menganggarkan sebesar US$ 60 juta berbagai pengembangan infrastruktur tambang. “Alokasinya sebesar US$ 10 – 20 juta untuk infrastruktur Dairi, kemudian sebanyak US$ 30 – 35 juta untuk Gorontalo, dan US$ 5 – 8 juta untuk Citra Palu,” kata Fuad, pada kesempatan yang sama.

Dia menyatakan, dana belanja modal akan bersumber dari kemitraan strategis serta cash flow.

http://www.investor.co.id/home/nfc-siap-danai-proyek-bumi-minerals-us-340-juta/88533
Sumber : INVESTOR DAILY

 

INILAHCOM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) membukukan rugi bersih sepanjang 2013 sebanyak Rp231,08 miliar.

Presiden Direktur dan CEO Bakrieland Development Tbk, Ambono Janurianto mengatakan pemicu kerugian bersih 2013 karena adanya penurunan investasi dan karena ada divestasi. “Dengan adanya rugi penurunan nilai investasi dan rugi divestasi,” kata Ambono di Jakarta, Jumat (27/6/2014).

“Ini menyebabkan perusahaan pada tahun 2013 membukukan rugi bersih sebesar Rp231,08 miliar atau mengalami perbaikan bila dibandingkan dengan rugi tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,20 triliun,” jelasnya.

Padahal perseroan mencatatkan kinerja operasional sepanjang tahun 2013 dengan memperoleh laba usaha sebesar Rp1,17 triliun atau tumbuh 49,18%. Hal ini bila membandingkan periode yang sama pada tahun 2012 sebesar Rp783,47 miliar.

Kenaikan laba usaha tersebut disebabkan oleh kegiatan operasional usaha di tahun 2013 mengalami perbaikan yang cukup baik, dimana Perusahaan berhasil menurunkan beban usahanya.

“Kegiatan operasional usaha pada tahun 2013 positif dimana perusahaan berhasil menurunkan beban usaha pada tahun 2013 menjadi Rp679,01 miliar dibandingkan periode yang sama pada tahun 2012 sebesar Rp824,36 miliar,” jelas Ambono.

Ambono mengatakan sepanjang tahun 2013 penghasilan usaha sebesar 13,6% menjadi Rp3,32 triliun pada tahun 2013, dibandingkan sebesar Rp2,93 triliun pada tahun 2012.

Kenaikan penghasilan usaha ini mendorong laba kotor Perusahaan tumbuh sebesar 14,9% menjadi Rp1,85 triliun pada tahun 2013 dibandingkan sebesar Rp1,61 triliun pada tahun 2012. [hid]

Hasil Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan

PT. Bakrie Telecom Tbk (BTEL)

RUPS Tahunan

Rapat Umum Pemegang Saham Telah memenuhi korum karena dihadiri oleh pemegang saham yang mewakili 19.852.250.759 saham atau 64,91 % dari seluruh saham dengan hak suara yang sah yang telah dikeluarkan oleh Perseroan, sesuai dengan Anggaran Dasar Perseroan.

Hasil RUPS tahunan:

1. Menyetujui dan menerima baik laporan direksi mengenai jalannya Perseroan serta tata usaha keuangan dan laporan tugas pengawasan dewan komisaris pada Tahun Buku 2013;
2. Menyetujui dan mengesahkan neraca serta perhitungan laba/rugi untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013 dan memberikan pelunasan serta pembebasan tanggung jawab sepenuhnya kepada para anggota Direksi dan para anggota Dewan Komisaris Perseroan atas pengurusan dan pengawasan yang telah dijalankan dalam Tahun Buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013, sejauh tindakan pengurusan dan pengawasan tersebut tercermin dalam neraca dan perhitungan laba/rugi serta laporan akuntan publik mengenai tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013;
3. Menyetujui tidak terdapatnya pembagian keuntungan saham atau dividen kepada Pemegang Saham karena Perseroan mengalami kerugian bersih pada tahun buku 2013;
4. Menyetujui pemberian kewenangan penuh kepada Direksi Perseroan untuk menunjuk dan menetapkan Kantor Akuntan Publik yang akan mengaudit buku Perseroan tahun buku 2014 dan menetapkan honorariumnya.
Sumber : IPS RESEARCH

detik Jakarta -PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) selama ini identik dengan Grup Bakrie, begitu pula dengan perusahaan-perusahaannya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Nama besar Bakrie melekat di perusahaannya meski tak lagi memegang peran besar.

Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, selama ini investor dan masyarakat melihat para emiten di Bakrie Tujuh masih dikendalikan oleh Grup Bakrie. Padahal, kepemilikan Bakrie di emiten-emitennya itu sudah sangat kecil sekali bahkan ada yang sudah hilang sama sekali.

“Jadi begini, sejak awal namanya kan ada embel-embel Bakrie. Sewaktu mereka repo (gadai saham) dan kepemilikan sahamnya berkurang, tidak banyak yang tahu,” katanya kepada detikFinance, Senin (16/6/2014).

Ia menambahkan, masyarakat melihatnya Bakrie Tujuh itu masih punya Bakrie, karena nama perusahaan masih ada embel-embel Bakrie. Citra ini bisa diubah jika perusahaan memutuskan untuk mengubah nama.

“Kalau misalnya nanti namanya berubah, mungkin lain lagi ceritanya. Tapi kalau masih namanya Bakrie, pasti orang akan menyangka ini perusahaan Bakrie walaupun sahamnya sudah tidak dikuasai Bakrie lagi.

Seperti dikutip dari data perdagangan BEI, terlihat bahwa nama Bakrie hanya ada di sebagian kecil eks Bakrie Tujuh. Berikut selengkapnya.

– Bakrie and Brothers
Credit Suisse AG Singapore Branch S/A Bright Ventures Pte Ltd 21,81%
Mellon Bank NA S/A For Mackenzie Cundill Recovery Fund 9,34%
Armansyah Yamin 0,01%
Nugroho I Purbowinoto 0,01%
Publik 69,06%

– PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
Credit Suisse AG Singapore Branch 23,09%
Raiffeisen Bank International AG Singapore Branch/Long Haul Holding Ltd 6,09%
Publik 70,82%

– PT Bakrieland Development Tbk (ELTY)
CGMI Client Safekeeping Account 10,41%
PT Asuransi Jiwa Sinarmas 6,32%
Publik 83,28%

– PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (UNSP)
Credit Suisse AG Singapore Branch/Long Haul Holding Ltd 3,13%
PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG 3,06%
Meivel Holdings Corporation 2,34%
JP Morgan Bank Luxembourg SA1,76%
PT Danatama Makmur 1,75%
Nomura PB Nominees Ltd 1,69%
Reksa Dana Penyertaan Terbatas Syailendra Multi Strategy Fund II 1,42%
Citibank New York S/A Dimensional Emerging Markets Value Fund 1,33%
The Wenas Panwell 1,05%
Bakrie and Brothers 0,02%
Publik 82,45%

– PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)
Mellon Bank NA S/A for Mackenzie Cundill Recovery 7,76%
UBS AG Singapore Non-Treaty Omnibus Account 20,09%
Didit Hidayat Agripinanto 0,01%
Publik 72,16%

– PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL)
Bakrie and Brothers 16,35%
Bakrie Global Ventura 6,87%
Raiffeisen Bank International AG Singapore Branch 7,24%
Publik 69,54%

– PT Darma Henwa (DEWA)
Zurich Asset International Ltd 21,61%
Goldwave Capital Limited 17,68%
Publik 60,71%

investor daily JAKARTA – Perusahaan Pemeringkat global, Fitch Ratings memangkas peringkat utang PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Hal itu menyusul gagal bayar (default) kupon obligasi sejak November 2013. Di sisi lain, perseroan belum menyampaikan Keterbukaan informasi soal perkembangan restrukturisasi surat utang tersebut.

Berdasarkan keterangan tertulis, Jumat (30/5), Fitch menurunkan peringkat utang jangka panjang berdenominasi rupiah dan mata uang asing Bakrie Telecom menjadi RD (restricted default) dari sebelumnya C.

Adapun surat utang perseroan senilai US$ 380 juta yang jatuh tempo pada Mei 2015 tetap pada peringkat C. “Namun, recovery rating diturunkan menjadi RR5 dari RR4,” ungkap Fitch dalam laporannya.

Peringkat RD menunjukkan suatu entitas yang telah gagal pada satu atau lebih dari komitmen keuangan, meskipun masih terus memenuhi kewajiban keuangan lainnya.

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php
kontan JAKARTA. Perusahaan pemeringkat rating kredit Fitch Ratings kembali memangkas peringkat utang PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Kali ini, peringkat utang BTEL melorot dari C ke restricted default (RD).

Dalam siaran persnya, Jumat (30/5), Fitch menyatakan anak usaha Bakrie Grup ini telah gagal membayar kupon obligasi sejak November 2013 lalu. Menurut Fitch, perseroan tak membuat pembayaran kupon berikutnya dan tak memberi pengumuman publik tentang progres dari perombakan dengan kreditur.

BTEL kini tertekan pada utang yang tak mampu dibayar dan menyebabkan kerugian yang signifikan bagi pemegang obligasi sebesar US$ 380 juta.

Asal tahu saja, rating RD diberikan ketika perusahaan yang dinilai telah gagal pada isu spesifik atau klasifikasi obligasinya tetapi terus memenuhi kewajiban pembayaran pada isu lainnya pada waktu yang tepat.
Editor: Edy Can
kontan JAKARTA. Seperti sudah diduga sebelumnya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gagal memenuhi kewajiban untuk melunasi dua fasilitas utang kepada Credit Suisse AG sesuai tanggal jatuh tempo.

BRMS memiliki utang jangka pendek senilai US$ 116,56 juta dan fasilitas jangka panjang US$ 333,03 juta kepada Credit Suisse. Kedua fasilitas itu jatuh tempo pada 19 April 2014 lalu.

Muhammad Sulthon, Sekretaris Perusahaan BRMS dalam jawaban kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), akhir pekan lalu, bilang, pihaknya tengah memproses perpanjangan masa jatuh tempo utang tersebut dengan Credit Suisse.

Terkait hal itu, ada dua klausul yang akan diubah dalam perjanjian utang yang baru. Pertama, BRMS dan Credit Suisse akan mengubah definisi pokok pinjaman. Nantinya, nilai pokok pinjaman akan meliputi pula bunga yang masih harus dibayar.

Kedua, “Tanggal jatuh tempo yang baru,” kata Sulthon. Strategi kedua adalah kembali meminta perpanjangan utang yang bakal jatuh tempo. Jika dicermati, BRMS telah beberapa kali mengakali utang Credit Suisse itu.

Awalnya, perjanjian pinjaman bernilai pokok US$ 100 juta itu ditandatangani kedua belah pihak pada 14 Juni 2012. Masa jatuh tempo pun relatif singkat, yaitu 12 bulan sejak penarikan dana dan dapat diperpanjang maksimal hingga 19 September 2013.

Seperti sudah diperkirakan sebelumnya, BRMS mengambil opsi untuk memperpanjang jatuh tempo hingga 19 September 2013. BRMS ternyata tidak mampu melunasi utang itu sesuai dengan jatuh tempo.

Pada 25 September 2013, Credit Suisse menyetujui untuk memperpanjang jatuh tempo selama tiga bulan sampai dengan 19 Desember 2013. Perpanjangan tidak hanya berhenti hingga di situ.

Kedua belah pihak kembali setuju untuk memperpanjang jangka waktu pinjaman hingga tanggal 19 April 2014. Bersamaan dengan itu, beberapa klausul pinjaman telah diubah terutama terkait nilai pokok dan bunga yang harus dibayar BRMS.

Fasilitas itu dikenakan bunga sebesar London Interbank Offered Rate (LIBOR) ditambah 6% per tahun dan dibayarkan setiap triwulan. Pada 2012 dan 2013, BRMS telah membayar bunga pinjaman masing-masing US$ 26,84 juta dan US$ 3,63 juta.
Editor: Hendra Gunawan
Tribunnews.com, Jakarta — Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, menyatakan masih banyak pengembang di DKI Jakarta yang berhutang membangun fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos dan fasum). Tidak terkecuali Bakrie Land yang membangun kawasan Rasuna Said Kuningan.

Pria yang biasa disapa Ahok ini mengatakan, Bakrie Land harus segera lunasi utang fasos fasum sebelum pemilik perusahaan tersebut, Aburizal Bakrie, menjadi Calon Presiden (Cawapres).

“Sebelum keduluan mereka jadi presiden bayar lah, kalau geng-geng presiden susah nagihnya lagi loh,” ujar Ahok ini di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (9/5).

Ahok mengatakan, Pemprov DKI akan melakukan sejumlah cara agar pengusaha mau membangun fasos dan fasum. Cara itu antara lain dengan tidak memberi izin pembangunan untuk proyek baru yang akan dibangun.

“Kalau mereka masih utang, kita nggak kasih izin baru. Kita kan tahu mereka PT-nya banyak, tapi grup yang sama,” ungkapnya.

Salah satu perusahaan yang mulai membangun fasos dan fasum kepada warga DKI menurut versi Ahok adalah Agung Sedayu Group dan Agung Podomoro. Kendati sudah mencicil sebagian hutangnya, Ahok berharap dua perusahaan properti ini konsisten membangun fasos dan fasum lainnya di Jakarta. Fasos Fasum tersebut yakni rumah susun di Muara Baru dan Daan Mogot, Jakarta Barat.
Jum’at, 09 Mei 2014 | 13:36 WIB TEMPO.CO, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi pada Kamis, 8 Mei 2014, menetapkan Bupati Bogor Rachmat Yasin sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengurusan izin tukar-menukar kawasan hutan seluas 2.754 hektare di Bogor, Jawa Barat. KPK juga menetapkan status tersangka kepada M. Zairin, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor; dan Fransiscus Xaverius Yohan Yap dari PT Bukit Jonggol Asri.

“Telah terjadi peristiwa tindak pidana penyuapan. Dalam operasi tangkap tangan, tim KPK menyita barang bukti uang Rp 1,5 miliar,” kata Ketua KPK Abraham Samad di gedung kantornya, Kamis malam itu.

Berdasarkan penelusuran, situs website dengan alamat http://www.sentulnirwana.com mencantumkan bahwa PT Bukit Jonggol Asri (BJA) didirikan pada tahun 1994. Pada Januari 2010, PT Sentul City Tbk mengambil alih 88 persen saham BJA guna percepatan proyek kota baru mandiri. Tepat pada bulan Juli 2010, Sentul City menggandeng PT Bakrieland Development Tbk dengan kepemilikan saham masing-masing 50 persen.

Pada 23 Juli 2011, BJA mengumumkan dimulainya proyek Sentul Nirwana yang akan memaksimalkan lahan seluas 12 ribu hektare di wilayah Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kemudian, pada April 2013, PT Sentul City Tbk meningkatkan kepemilikan saham di BJA menjadi 65 persen, sedangkan saham Bakrieland berkurang menjadi 35 persen.

Situs itu juga menyebutkan bahwa Sentul Nirwana merupakan kota mandiri dengan pembangunan tahap I seluas 600 hektare. Di tempat ini akan dibangun theme park, hotel dan resort, lapangan golf, pusat perdagangan dan perkantoran, sekolah-sekolah dan universitas bertaraf internasional, serta cluster-cluster perumahan.

Manajemen PT Sentul City Tbk (BKSL) membantah bahwa Johan Yhap merupakan karyawan Bukit Jonggol Asri (BJA). “Sudah kami cek, dan memang bukan karyawan kami,” kata Investor Relation BKSL Michael Tene saat dihubungi, Jumat, 9 Mei 2014.

EFRI RITONGA
JAKARTA, KOMPAS.com – Nama keluarga Bakrie disangkutpautkan terkait kasus korupsi alih fungsi lahan yang melibatkan Bupati Bogor Rachmat Yasin melalui salah satu asetnya PT Bukit Jonggol Asri atau Sentul Nirwana. Namun, pihak Bakrie Group menegaskan bahwa asetnya tersebut sudah bukan miliknya lagi.

PT Bukit Jonggol Asri sejak tahun lalu sudah tidak melibatkan keluarga Bakrie dalam manajemen tersebut.

“Saya sudah konfirmasi ke Pak Ambono Janurianto, Presiden Direktur Bakrieland Tbk confirm sudah kepemilikan Bakrieland di sana sudah dijual tahun lalu,” kata Juru Bicara Keluarga Bakrie, Lalu Mara Satriawangsa seperti dikutip Tribunnews, Jumat (9/5/2014).

Lalu Mara membenarkan PT Bukit Jonggol Asri atau Sentul Nirwana termasuk satu dari sejumlah aset kelompok Bakrie yang dijual kepada pihak ketiga (MNC Group), untuk membayar transaksi dalam sengketa dengan pengusaha Inggris, Nathaniel Roschild, sebagai konsekuensi keluarnya atau ditariknya saham Bakrie di Bumi Plc (perusahaan investasi patungan Bakrie dan Roschield) agar Bakrie tetap bisa mengontrol mayoritas saham di PT Bumi Resources Tbk.

“Dan sudah memberikan keterbukaan informasi juga ke BEJ. Dan confirm juga Bakrieland tidak ada dalam manajemen tersebut,” ujar Lalu Mara.

Untuk diketahui Bupati Rachmat Yasin diduga menerima suap terkait dengan izin alih fungsi lahan seluas 2.754 hektare. Izin tersebut diajukan PT Bukit Jonggol Asri kepada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor.

“Kasusnya rekomendasi tukar menukar hutan di bogor. Yang meminta rekomendasi atas kawasan hutan seluas 2.754 hektare,” kata Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto di KPK, Kamis (8/5/2014) malam.

Meski begitu, Bambang belum tahu berada di mana lokasi hutan yang ingin dikonversi itu. Namun, Bambang menyebut, KPK curiga salah satu hutan diiinginkan adalah hutan lindung.

beritasatu Jakarta- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengeluarkan surat perintah cegah bepergian ke luar negeri terhadap Komisaris Utama PT Bukit Jonggol Asri Cahyadi Kumala Kwee dan Komisaris PT Bukit Jonggol Asri lainnya, yaitu Haryadi Kumala. Cegah tersebut terkait dengan penyelidikan terkait perizinan pemanfaatan lahan tanah pada tahun 2014.

“Perlu diinformasikan, terkait dengan penyelidikan dugaan TPK (Tindak Pidaan Korupsi) terkait perizinan pemanfaatan lahan tanah tahun 2014, KPK telah mengirimkan permintaan pencegahan bepergian ke luar negeri kepada Dirjen Imigrasi atas nama Haryadi Kumala dan Cahyadi Kumala Kwee dari swasta,” kata Juru Bicara KPK Johan Budi SP, Jumat (9/5).

Johan menjelaskan cegah bepergian ke luar negeri itu berlaku sejak kemarin hingga enam bulan ke depan. PT Bukit Jonggol Asri diketahui merupakan perusahaan pengembang. Perusahaan ini, sebanyak 35 sahamnya dimiliki oleh PT Bakrieland Development.

Sebelumnya, PT Bukit Jonggol Asri terlibat dalam kasus dugaan suap berkaitan dengan pemberian rekomendasi tukar-menukar kawasan hutan di Bogor. Kasus itu telah menjadikan BUpati Bogor rachmat Yasin sebagai tersangka. Rachmat disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau b atau pasal 5 atau pasaal 11 Undang-Undang No.31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

Bersama Rachmat, KPK juga menjadikan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor Muhammad Zairin sebagai tersangka. Kepada Zairin, KPK menyangkakan adanya pelanggaran terhadap pasal 12 a atau b atau pasal 5 ayat 2 atau pasal 11 Undang-Undang No.31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

Adapun dari pihak pemberi, KPK menjadikan FX Yohan Yap, Wakil dari PT Bukit Jonggol Asri sebagai tersangka. KPK menyangkakan Yohan dengan pasal 5 ayat 1 a atau b atau pasal 13 Undang-Undang No.31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

KPK menemukan bahwa Rachmat menerima Rp4,5 miliar dari PT Bukit Jonggol Asri. Uang tersebut diberikan kepada Rachmat secara bertahap, yaitu Rp1 miliar, Rp2 miliar dan Rp1,5 miliar. Luas hutan yang bakal digunakan untuk suatu proyek adalah 2754 hektar.

Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka usai tertangkap tangan tengah melakukan transaksi suap pada Rabu (7/5). Para tersangka dibawa ke KPK dan dilakukan pemeriksaan secara intensif.

Penulis: Rizky Amelia/MUT

kontan
BKSL dan ELTY masih nego soal Bukit Jonggol
Oleh Narita Indrastiti – Selasa, 28 Januari 2014 | 18:03 WIB
JAKARTA. Rencana PT Sentul City Tbk (BKSL) mengambil alih sisa saham PT Bukit Jonggol Asri milik PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) belum mencapai titik temu. Hingga kini, keduanya masih melakukan negosiasi tentang harga dan opsi pembayarannya.

BKSL berencana mengambil sisa 35% saham Bukit Jonggol milik ELTY secara bertahap. Namun belum ada kepastian kapan tepatnya negosiasi ini akan berakhir.

“Kami membahas opsi pembayarannya dan valuasi harganya. Sekarang masih negosiasi,” kata Michael Tene, Investor Relation BKSL.

BKSL setidaknya menyiapkan beberapa alternatif yang mungkin diambil untuk memuluskan akuisisi BJA, misalnya saja membayar dengan aset dan uang tunai. BKSL juga menyiapkan opsi untuk mencari pinjaman demi menuntaskan akuisisi tersebut.

Di sisi lain, manajemen ELTY sebenarnya pernah mengungkapkan kalau ELTY meminta pembayaran Bukit Jonggol dengan aset berupa tanah. Namun Michael mengatakan, opsi itu belum final. “Memang menjadi salah satu pilihan tetapi belum final,” ujarnya.

ELTY memerlukan sejumlah lahan yang bisa digunakan untuk jaminan kepada pemegang obligasinya. ELTY harus menyiapkan jaminan berupa tanah yang nilainya setara dengan US$ 120 juta. Jumlah itu diperkirakan setara dengan lahan seluas 600 hektare (ha).

Sebagai catatan, pada April 2013, BKSL telah mengakuisisi 15% saham BJA senilai Rp 300 miliar. Transaksi ini mendongkrak kepemilikan BKSL di BJA menjadi 65%.
Editor: Hendra Gunawan

Minggu, 09 Maret 2014, 17:40 WIB Bisnis.com, JAKARTA—Pengembang properti PT Sentul City Tbk. (BKSL) optimistis dapat mencapai target pendapatan tahun ini sebesar Rp1,3 triliun setelah target tahun lalu Rp900 miliar tercapai.

Michael Tene, Investor Relation Sentul City mengatakan, pihaknya telah memperhitungkan, target perseroan pada tahun lalu tercapai. Hal itu salah satunya karena target pra penjualan (marketing sales) sepanjang tahun lalu sebesar Rp2 triliun telah tercapai, bahkan terlampaui.

“Target marketing sales kami pada tahun lalu terlampaui, dan mencetak sekitar Rp2,1 triliun,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (7/3/2014).

Dia menjelaskan, kontribusi penjualan tersebut paling banyak berasal dari proyek Sentul City yang ditopang unit Sentul Nirwana dan Serpon Natura. Adapun, pihaknya menargetkan penjualan pada tahun ini mampu mencapai Rp2,5 triliun.

“Nantinya, kontribusi terbesar dari nilai penjualan tahun ini kami perkirakan dari Sentul City dan penjualan proyek CBD kami di Sentul,” ungkapnya.

Perseroan berencana mengembangkan CBD baru di kawasan Sentul City, Kabupaten Bogor. Proyek yang akan dikerjakan tersebut bakal terdiri atas apartemen, kondotel, hotel, perkantoran, mal dan pusat hiburan.

“Secara total, belanja modal kami untuk semua proyek mencapai Rp1 triliun pada tahun ini. Jumlah itu naik tahun lalu yang besarnya sekitar Rp800 miliar,” kata Michael.

Dia mengatakan, belanja modal tersebut bakal berasal dari kas internal perseroan dan opsi pinjaman bank. Namun, ketika ditanya terkait dana untuk menuntaskan akuisisi PT Bukit Jonggol Asri dari PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY), ternyata tidak berasal dari belanja modal.

Editor : Rustam Agus
(Vibiznews – Stock Mon, 28 October 2013, 2:00 PM) PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menyatakan telah melakukan penjualan tanah PT Bukit Jonggol Asri kepada PT Sentul City Tbk (BKSL). Transaksi tersebut dilakukan dengan cara tukar tanah antara kedua perseroan. Menurut ELTY, nilai yang berada di lokasi tersebut memiliki nilai Rp 1 triliun.

Luas tanah yang dimiliki ELTY di BJA sebesar 2.400 hektar. Penjualan tanah anak perusahaan ELTY ke Sentul City ini diperkirakan akan terealisasi pada akhir tahun 2013 ini.

BKSL sebelumnya memang berencana menambah kepemilikan sahamnya di PT Bukit Jonggol Asri menjadi 100 persen. Tercatat, sekarang BKSL memiliki 65 persen saham dan akan membeli sisanya yang sebesar 35 persen.

Sementara itu, nilai akuisisi PT Bukit Jonggol Asri ini masih dalam tahap penjajakan. Untuk nilai investasi, saat ini sedang tahap penghitungan. Sebelumnya BKSL menyatakan sedang mengembangkan lokasi pusat kuliner yang terletak di kawasan Sentul City.

Menurut perseroan, lokasi tersebut yaitu pasar Ah Poong II yang dibangun dengan nilai investasi sebesar Rp 35 miliar. Pasar Ah Pooh tersebut saat ini sudah beroperasi dan akan diperluas lokasinya. Di mana, pasar ini ke depan akan memiliki dua ribu tempat duduk dan mendapat penambahan lahan parkir yang akan terintegrasi dengan eco park. Pengembangan pasar Ah Poong II disebutkan menggunakan dana capex tahun anggaran 2013 yang sebesar Rp 350 miliar.

Secara fundamental hingga kuartal III tahun ini, ELTY menyatakan telah mencatat penjualan (marketing sales) sebesar Rp 980 miliar. Pencapaiaan tersebut menurun hingga 10,9 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,1 triliun. Menurut perseroan, kontribusi marketing sales paling besar berasal dari Epicentrum dengan persentase 80 persen. Sementara sisanya berasal dari proyek yang ada di Bogor.

Perseroan sebelumnya menargetkan marketing sales sepanjang tahun 2013 sebesar Rp 1,3 triliun. Meskipun ada aturan Bank Indonesia yang mengetatkan uang muka untuk pembelian rumah kedua, perseroan optimis dapat mencapainya target tersebut

Untuk pergerakan harga saham sampai dengan perdagangan iang ini (28/10), ELTY berada di posisi harga saham terendah Rp.50 dimana setelah suspensi ELTY dibuka 19 Oktober lalu harga saham masih belum mengalami pergerakan. Analis mengemukakan bahwa update teknikal terhadap kinerja saham ditinjau pada major pattern, saham ini menunjukkan tren bergerak sideways dan secara teknikal menunjukkan momentum yang lambat.

Untuk volume saham yang diperdagangkan sampai siang ini hanya terjadi penjualan saham sebesar 19 lot saja. Investor masih belum memiliki kepercayaan penuh dengan saham ini.

(RA/JA/VBN)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: