Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Agustus 16, 2016

maseh kaya lho (10 orang terkaya indon ) … 300510_160816

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 2:39 am

butterfly

Berikut ini daftar sepuluh orang terkaya Indonesia per 14 Agustus 2016.
1.    Keluarga Hartono  US$ 15,4  miliar
2.    Susilo Wonowidjojo US$   5,5 miliar
3.    Anthoni Salim  US$ 5.4  miliar
4.    Eka Tjipta Widjaja  US$   5,3  miliar
5.    Chairul Tanjung  US$ 4,8    miliar
6.    Sri Prakash Lohia US$ 4,7 miliar
7.    Bachtiar Karim US$  3,3  miliar
8.    Bonjamin Setiawan US$ 3 miliar
9.    Mochtar Riady US$  2,2 miliar
10.   Tahir  US$ 2     miliar

Sumber: Forbes, diolah. tempo.com

lol

JAKARTA okezone – Sebagai kepala biro The Wall Street Journal di Jakarta selama lebih lebih dari sepuluh tahun, Rick Borsuk secara luas dipandang sebagai koresponden asing penting di Indonesia. Buku yang turut ditulis oleh istrinya, Nancy Chng, mengingatkan kita mengenai capaian itu.

Karya itu berisi kisah tentang Liem Sioe Liong, dikenal pula dengan nama Sudono Salim, yang pada 1938 merantau dari kampung halamannya di Cina bagian selatan ke Jawa tanpa uang sepeser pun. Dalam waktu kurang dari lima dasawarsa, kelompok usaha Salim Group menjadi konglomerasi bisnis terbesar di Asia Tenggara serta menghasilkan pelbagai barang dan jasa. Jaringan bisnisnya mencakup pabrik pembuatan tepung dan mi terbesar dunia, selain perbankan, petrokimia, agrobisnis, real estate, pengapalan, dan lain-lain.

Kedua pengarang menggambarkan Liem sebagai pria yang memiliki naluri bisnis tajam, kehendak untuk menempuh risiko, dan kemampuan meramalkan tren usaha serta memilih rekan. Ia tak henti bekerja keras dan terhubung dengan banyak pemain usaha etnis Cina di Asia Tenggara. Ia pun dikenal sebagai cukong utama Presiden Suharto. Dengan hati-hati, para penulis buku menghindari stereotip. Mereka menekankan jelasnya kecocokan antara Liem dan Suharto, termasuk kepercayaan dan kepedulian yang terbangun selama berpuluh-puluh tahun. Kedua penulis juga menunjukkan bagaimana Salim Group berhasil selamat dari krisis ekonomi dan politik serius pada 1997-1999 dan, setelah Liem meninggal pada 2012, bagaimana generasi kedua kini meneruskan kemakmuran yang diwariskan ayahnya dalam iklim politik yang sama sekali berbeda dari zaman Suharto.

Bab-bab awal buku menelusuri kebangkitan Liem dari dekade akhir 1930-an hingga pertengahan 1960-an. Kisah ini cukup dikenal luas, namun para penulis buku berhasil mendapatkan materi yang lebih orisinal. Kala itu, hubungan pokok Liem terpusat pada Suharto, yang kala itu seorang figur penting tentara pada periode revolusi fisik 1940-an. Liem bersimpati dengan gerakan merebut kemerdekaan, dan ia menjadi pemasok tepercaya urusan kebutuhan harian Suharto dan pasukannya.

Ketika Suharto naik ke tahta kepresidenan, Liem adalah satu dari sedikit pengusaha yang ia kenal dan percaya. Kekompakan keduanya tidak terpatahkan, hal yang membuat mereka menguasai lanskap usaha Indonesia dalam tiga dasawarsa. Liem mendapatkan prioritas usaha dan izin impor serta akses khusus ke lembaga keuangan milik negara. Sebagai ganti, Suharto meminta dua hal: pembangunan basis industri modern, dan percikan laba, yang kemudian disalurkan ke sejumlah yayasan milik Suharto. Dana itu itu kelak dialokasikan untuk menopang basis politis sang presiden.

Kesepakatan itu berjalan baik. Mereka berhasil selamat dari periode protes anti-Cina, kecaman pedas dari para loyalis Suharto, dan bahkan munculnya kepentingan bisnis anak-anak Suharto mulai pertengahan 1980-an.

Ketika Suharto akhirnya dilengserkan dari kursi presiden pada Mei 1998, dibarengi ambruknya perekonomian Indonesia, semua pihak yang dekat dengannya disinyalir akan tumbang. Liem, saat itu baru menginjak usia awal 80 tahunan, menjadi target utama. Rumahnya dilabrak massa dan ia terpaksa terbang ke Singapura. Sebagian besar imperium bisnis Liem roboh. Namun, Salim Group segera bangkit dengan digawangi Liem dan putranya, Anthony. Kini, kelompok itu kembali menjadi konglomerasi bisnis Indonesia yang unggul dan memiliki beragam usaha. Dalam daftar terbaru orang terkaya Indonesia oleh Forbes, keluarga Salim menduduki peringkat ketiga dengan jumlah kekayaan bersih USD5,9 miliar.

Buku ini ditulis dengan sedemikian rupa sehingga siapapun akan terbetot untuk membacanya. Meski demikian, dengan tebal 600 halaman, kedua pengarang sebetulnya bisa saja meringkas beberapa bagian untuk memperkaya analisis. Contohnya, sebagai negara berpenghasilan menengah-bawah, wajar jika Indonesia tidak mencatat prestasi gemilang dalam indikator korupsi atau kelembagaan dan semacamnya. Namun, terdapat tiga hal yang patut disorot: perekonomiannya tumbuh lebih pesat dari negara lain dalam setengah abad belakangan; peralihan kekuasaan yang berlangsung tiba-tiba namun sukses, dari kekuasaan otoriter ke pemerintahan demokratis pada 1998-99, serta berlanjutnya dominasi usaha etnis minoritas Cina yang jumlahnya mencapai 3 persen dari total penduduk. Perbandingan dengan negara lain yang juga berkembang di bawah dominasi kelompok bisnis seperti Korea Selatan (dengan chaebol) dan Jepang (keiretsu) akan membantu.

Perdebatan pun meruap: apakah figur dunia usaha itu pemburu rente atau kapitalis sejati?

Namun, kesemua itu remeh-temeh. Buku itu adalah sejarah bisnis dan politik dalam bentuk terbaiknya: kajian dengan kedalaman luar biasa. (Oleh Hal Hill)

buttrock

Minggu, 30/05/2010 21:40 WIB
Bos Djarum dan BCA Masih Terkaya se-Indonesia
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Pemilik perusahaan rokok Djarum dan juga BCA, Budi Hartono masih menempati peringkat pertama orang terkaya di Indonesia versi majalah GlobeAsia. Nilai kekayaan Budi Hartono juga meningkat pesat, bersama dengan para milyarder Indonesia lainnya.

Majalah Globe Asia melansir, nilai kekayaan para taipan-taipan tersebut meningkat seiring membaiknya pasar modal dan juga pertumbuhan ekonomi Indonesia setelah sempat terkena dampak krisis.

“Dengan melihat fakta bahwa kekayaan para jutawan tersebut terkunci pada sumber daya alam, maka sekarang ini telah menjadi waktu yang menyenangkan bagi para pebisnis. Dan daftar 150 orang terkaya GlobeAsia membuktikan, kekayaan telah tercipta dengan cepat,” ujar Tanri Abeng, publisher Globe Asia.

Total kekayaan 150 jutawan dalam daftar GlobeAsia mencapai US$ 61,5 miliar pada tahun 2010 ini, atau berarti meningkat 22% dibandingkan tahun 2009. Kenaikan nilai kekayaan itu terutama karena berbagai faktor seperti penguatan nilai tukar rupiah, kenaikan IHSG hingga 60% dan kuatnya harga komoditas.

Berikut daftar 10 orang terkaya Indonesia versi GlobeAsia, seperti dikutip dari siaran persnya, Minggu (30/5/2010).

Budi Hartono US$ 4,8 miliar
Eka Tjipta Wijaya US$ 4 miliar
Anthony Salim US$ 3,6 miliar
Aburizal Bakrie US$ 3 miliar
Martua Sitorus US$ 2,5 miliar
Putra Sampoerna US$ 2,4 miliar
Sukanto Tanato US$ 1,8 miliar
Dato Low Tuck Kwong US$ 1,4 miliar.
Peter Sondakh US$ 1,3 billion
Eddy William Katuari US$ 1,3 billion.

Daftar ini berarti hanya sedikit berbeda dari daftar yang dirilis majalah Forbes akhir 2009 lalu yakni:

R. Budi & Michael Hartono US$ 7 miliar
Martua Sitorus US$ 3 miliar
Susilo Wonowidjojo US$ 2,6 miliar
Aburizal Bakrie US$ 2,5 miliar
Eka Tjipta Widjaja U$S 2,4 miliar
Peter Sondakh US$ 2,1 miliar
Putera Sampoerna US$ 2 miliar
Sukanto Tanoto US$ 1,9 miliar
Anthoni Salim US$ 1,4 miliar
Soegiharto Sosrodjojo US$ 1,2 miliar.

(qom/qom)

bird smallest

The year of super deals

Written by Administrator
Thursday, 27 May 2010 05:57
A roaring stock market and easy access to credit have helped raise the net worth of the country’s super-rich to new highs. This trend will likely continue as the creation of wealth in Indonesia now takes on a new dimension.

A year can make a huge difference in the life of a corporate owner, especially when markets are booming and the economy is growing. Opportunities abound and deal flows pick up as business owners seek ways to expand and unlock value.

Over the past 12 months, a perfect confluence of factors has produced conditions for wealth creation that may be unprecedented. The Indonesian rupiah has strengthened by nearly 10% while the stock market has risen by more than 60% and commodity prices have remained strong.

The Indonesian stock market has been one of the best performers in the region, boosted by strong commodity prices and inflowing foreign funds. The Indonesian Stock Exchange Composite Index (ICI) rose from 1,751 on May 15, 2009, to 2,800 this year. It reached a high of 2,971 at the end of April.

Given that much of Indonesia’s wealth is locked in its natural resources, it has been an exciting time for business owners. As GlobeAsia’s 150 Richest Indonesians list proves, wealth is being created at a rapid pace.

The total net worth of the 150 rose to $61.5 billion this year, a 22% increase over 2009. Wealth was created both from the rising stock market as well as the fast-expanding economy.

“The fundamentals of Indonesia have never looked so good,” notes Rajiv Louis, executive director of investment banking at UBS Indonesia. “There was exuberance for Indonesia in the 1990s but at that time the fundamentals were very different.”

Today’s Indonesia enjoys macro-economic and political stability, strong micro-level corporate growth and healthy balance sheets. Plus, of course, there is a lot of liquidity in the banking sector, which escaped relatively unscathed from the 2008 global financial crisis.

“There is sufficient liquidity around and people are getting good access to money,” says Rajiv. “Interest rates are also no longer prohibitive to prevent people from doing deals.”

As a result, business owners are positioning themselves to take advantage of the conditions. Corporate players such as Aburizal Bakrie and Chairul Tanjung are expanding their businesses at a rapid rate by either borrowing or listing their companies to raise cash as they seek to enlarge their presence in the domestic market.

Bakrie, for example, is looking to raise some $600 million this year by listing Bumi Minerals while Chairul, who owns the Para Group, recently acquired a 40% stake in French retailer Carrefour for between $300 million and $400 million. He funded his acquisition by borrowing from four international heavyweight banks such as Credit Suisse, Citibank, JP Morgan and ING.

Access to funds is key
Chairul is only of the many tycoons who has borrowed heavily to grow his business. In fact, say market analysts and investment banks, the ability to access cheap funds has become a major competitive advantage for Indonesian business owners.

“Access to funding is quite well spread among the top 40 business owners in the country,” says Lin Che Wei, founder of Independent Research Indonesia. “Its an equal playing field but some people are able to borrow more cheaply than others and that makes a big difference.”

He adds that most deals with good rates of return have been snapped up so, looking ahead, an ability to borrow cheaply will determine how profitable an acquisition will be. Business owners who have a good reputation in the market can therefore command much more competitive borrowing rates compared with people who have defaulted on loans in the past.

Apart from just borrowing cheaply, the creation of complex financing structures is also becoming increasingly important. As Indonesia’s capital markets expand, business owners must also become more financially savvy and those who can grasp the complexities will get a head start.

“Capitals markets are now critical to wealth creation and more businesspeople are realizing this,” notes a senior banker. “Today, having a solid business is no longer enough, as you have to know how to unlock the value of your asset.”

He estimates that new listing this year will total $5 billion, raising the market capitalization of the stock market to around $260 billion. “If the index continues to rise, we might see values rising too and wealth growing in tandem.”

Competition for the country’s wealth will only grow keener in the coming years as more business players fight for control over natural resources. Most of the wealth created over the past few years has been in financial services, natural resources and consumer retail. This trend is expected to continue as it plays on Indonesia’s comparative strengths.

“This will be a good year for wealth creation,” says Rajiv from UBS. “But it is too early to tell if it will be stellar.”

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: