Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Oktober 27, 2016

TIMBUNAN DO$A bumi … 081214_271016

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:47 am

belajar MEMAHAMI FLDTT lage neh🙂, + bukti2nya

gifi

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengajukan permohonan untuk penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Permohonan tersebut dilakukan secara suka rela kepada Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Rabu 26 Oktober 2016.

Perseroan mengumumkan bahwa, permohonan PKPU tersebut telah disetujui oleh Majelis Hakim pada tanggal 27 Oktober 2016. Adapun total obligasi yang harus dibayarkan oleh perseroan sebesar USD451,05 miliar.

“Berdasarkan perundang-undangan yang berlaku, PKPU sementara Aji Wijaya & Co akan berakhir 21 hari setelah putusan PKPU sementara,” kata Direktur Bumi Resources Dileep Srivastava, dilansir dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Kamis (27/10/2016).

Pengajuan PKPU tersebut diupayakan perseroan guna menjaga agar usaha tersebut bisa tetap beroperasi seperti biasa. Perseroan pun juga telah menjalin negosiasi kepada kreditur yang terkait.

“Skema dan rencana perdamaian yang diajukan oleh Aji Wijaya & Co yang diajukan kepada para kreditor sedang disusun oleh perseroan bersama dengan pengurus yang ditunjuk dan akan dinegosiasikan dengan pad kreditur,” tandasnya.

http://economy.okezone.com/read/2016/10/27/278/1525915/bumi-resources-ajukan-penundaan-bayar-utang
Sumber : OKEZONE.COM

 ets-small

Bisnis.com, JAKARTA – Majelis hakim memberikan batas akhir perpanjangan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) terkait utang Rp54,47 triliun pada hari ini, Sabtu (22/10/2016).

Berkaitan dengan berakhirnya perpanjangan PKPU, Direktur & Corporate Secretary BUMI Dileep Srivastava belum membalas pesan singkat yang dilayangkan Bisnis.com dan belum menjawab panggilan telepon. “Kami menunggu hasil proses PKPU yang masih berlanjut,” kata Dileep saat berbincang dengan Bisnis.com, Rabu (5/10/2016).

Perusahaan yang dimiliki oleh mantan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie itu segera menyerahkan dan membahas revisi proposal perdamaian pada pertengahan Oktober ini. Revisi proposal dilakukan setelah perseroan mengantongi perpanjangan masa restrukturisasi utang.

Debitur telah meminta waktu tiga pekan sejak rapat kreditur terakhir untuk melakukan finalisasi revisi proposal perdamaian. Terakhir kali rapat kreditur dilakukan pada 20 September silam.

Pembahasan dan pemungutan suara bagi proposal perdamaian dapat dilakukan pada medio Oktober. Majelis hakim telah menentukan batas akhir perpanjangan PKPU hingga 22 Oktober 2016.

Sejumlah debitur meminta adanya perubahan skema pembayaran sehubungan dengan membaiknya harga komoditas batu bara‎. Akan tetapi, perubahan tersebut tidak perlu diatur secara spesifik karena debitur sudah memuat skema cash waterflow.

Dalam skema tersebut, nominal pembayaran utang akan mengikuti pendapatan debitur. Jika pendapatan perusahaan meningkat, nominal pembayaran utang juga akan bertambah‎.

Hingga Maret 2016, nyaris seluruh utang BUMI bakal jatuh tempo tahun ini. Pinjaman jangka pendek yang harus dibayarkan tahun ini mencapai US$4,19 miliar setara dengan Rp54,47 triliun.

Liabilitas tersebut terdiri dari pinjaman jangka pendek sebesar US$220,78 juta. Pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo tahun ini mencapai US$3,6 miliar dan obligasi konversi US$374,7 juta.

Secara keseluruhan, total liabilitas BUMI mencapai US$6,48 miliar, naik tipis 2,8% dari akhir tahun lalu US$6,29 miliar. Sisa utang jangka panjang milik BUMI hanya mencapai US$297.281. Lantas, apakah BUMI mampu terbebas dari lilitan utang?

 lol

JAKARTA. Kerugian PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di semester I-2016 menyusut 97,9% year on year (yoy). Total rugi bersih yang dibukukan pada periode tersebut US$ 11,8 juta. Di periode yang sama tahun lalu, BUMI mencetak rugi jumbo, US$ 566,24 juta.

Nilai kerugian BUMI turun lantaran emiten ini mencetak penghasilan lain-lain sebesar US$ 207,6 juta. Menilik laporan keuangan BUMI yang dirilis Rabu (5/10), penghasilan lain-lain ini berasal dari restrukturisasi dalam bentuk penjualan 24% saham Newmont Nusa Tenggara (NNT).

Hingga berita ini diturunkan, Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI, belum merespon pesan singkat dan panggilan telepon dari KONTAN, terutama terkait divestasi Newmont yang sudah dibukukan di laporan keuangan BUMI sejak periode kuartal I-2016.

Sekadar info, perjanjian jual beli saham Newmont baru diteken pada 30 Juni 2016. Kala itu, entitas anak BUMI, PT Multi Daerah Bersaing (MDB) yang memiliki saham di NNT, meneken perjanjian jual beli saham bersyarat dengan PT Amman Mineral International sebagai pembeli.

MDB akan menjual 1,6 juta saham untuk pertimbangan dengan nilai US$ 425 juta. BUMI memiliki saham MDB melalui anaknya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Pada 2009, MDB membeli 24% saham NNT di harga US$ 884,6 juta.

Di sisi lain, pendapatan BUMI masih turun. Hingga tengah tahun, pendapatan BUMI merosot 40,9% menjadi US$ 12,7 juta. BUMI juga masih mencatatkan beban bunga dan keuangan US$ 241,6 juta.

Dalam jangka waktu satu tahun mendatang, BUMI memiliki kewajiban yang akan jatuh tempo, yang terdiri dari pinjaman jangka panjang sebesar US$ 3,6 miliar. Lalu ada obligasi konversi yang kini masuk dalam kewajiban jangka pendek senilai US$ 374,7 juta.

BUMI sedang menjalani restrukturisasi utang dan penundaan kewajiban pembayaran utang. Sebagian besar utang akan ditukar dengan saham. Total liabilitas BUMI tercatat US$ 6,5 miliar, jauh lebih tinggi dari nilai asetnya. Sehingga ekuitas BUMI negatif.

Total defisiensi modal BUMI per Juni 2016 mencapai US$ 2,9 miliar.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri mengatakan, meski rugi menyusut, bukan berarti BUMI keluar dari masalah. Kinerja BUMI masih terhambat harga komoditas yang belum membaik. “Sebaiknya investor tetap cermat hingga proses restrukturisasi utang tuntas,” ujar Hans.

http://investasi.kontan.co.id/news/newmont-gagal-menutup-rugi-bumi
Sumber : KONTAN.CO.ID

 buttrock

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan perdagangan saham terhadap 14 emiten yang belum menyampaikan Laporan Keuangan Interim per 31 Maret 2016 dan/atau belum melakukan pembayaran denda atas keterlambatan penyampaian Laporan Keuangan kuartal pertama 2016.
Emiten tersebut antara lain PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN, PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Bumi Resources Tbk (BUMI). PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).
PT Global Teleshop Tbk (GLOB), PT Inovisi Infracom Tbk (INVS), PT Capitaline Investment Tbk (MTFN), PT Skybee Tbk (SKYB), PT Permata Prima Sakti Tbk (TKGA), PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO), PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP) dan PT Siwani Makmur Tbk (SIMA). BEI menghentikan sementara perdagangan efek di pasar reguler dan pasar tunai sejak sesi I perdagangan 1 Agustus 2016.
Bursa telah memberikan Peringatan Tertulis III dan tambahan denda sebesar Rp150 juta kepada Perusahaan Tercatat yang terlambat menyampaikan Laporan Keuangan dan pembayaran denda atas keterlambatan penyampaian Laporan Keuangan per 31 Maret 2016.
BEI berwenang melakukan suspensi, apabila mulai hari kalender ke-91 sejak lampaunya batas waktu penyampaian Laporan Keuangan, Perusahaan Tercatat tidak memenuhi kewajiban penyampaian Laporan Keuangan dan atau Perusahaan Tercatat telah menyampaikan Laporan Keuangan namun tidak memenuhi kewajiban untuk membayar denda seperti dalam ketentuan II.6.2. dan II.6.3. Peraturan Pencatatan Nomor I-H: Tentang Sanksi.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2313816/bei-hentikan-perdagangan-saham-14-emiten
Sumber : INILAH.COM

 Emoticons0051

Pengumuman yang kami terima dari Bursa Efek Indonesia mengenai suspen saham BUMI dikarenakan emiten belum menyampaikan Laporan Keuangan Auditan per 31 Desember 2015 dan Bursa telah memberikan Peringatan Tertulis III dan Denda sebesar Rp 150.000.000,- (seratus lima puluh juta Rupiah) kepada Perusahaan Tercatat yang terlambat menyampaikan Laporan Keuangan Auditan per 31 Desember 2015 dan belum melakukan pembayaran denda atas keterlambatan penyampaian Laporan Keuangan dimaksud.

Mengacu pada ketentuan II.6.4 Peraturan Nomor I-H tentang Sansi, Bursa melakukan suspensi apabila mulai hari kalender ke -91 sejak lampaunya batas waktu penyampaian Laporan Keuangan, Perusahaan Tercatat tidak memenuhi kewajiban penyampaian Laporan Keuangan dan atau Perusahaan Tercatat telah menyampaikan Laporan Keuangan namun tidak memenuhi kewajiban untuk membayar denda sebagaimana dimaksud dalam ketentuan II.6.2 dan II.6.3 Peraturan Pencatatan Nomor I-H tentang Sanksi.

 buttrock

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membekukan 18 emiten pada perdagangan Kamis (30/6/2016), karena belum menyampaikan laporan keuangan atau belum membayar denda atas keterlambatan.

P.H. Kepala Penilaian Perusahaan I BEI Adi Pratomo Aryanto mengatakan, otoritas bursa telah memberikan peringatan tertulis III dan denda sebesar Rp 150 juta kepada perusahaan tercatat yang terlambat menyampaikan keuangan auditan per 31 Desember 2015.

Kemudian, surat peringatan juga dilayangkan kepadaemiten yang belum melakukan pembayaran denda atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan dimaksud.

“Mengacu pada ketentuan tentang sanksi, Bursa melakukan suspensi apabila mulai hari kalender ke 91 sejak lampaunya batas waktu penyampaian laporan keuangan, perusahaan tercatat tidak memenuhi kewajiban penyampaian laporan keuangan atau sudah memenuhi namun tidak membayar denda,” tutur Adi, Jakarta, Kamis (30/6/2016).

Adapun emiten yang terkena sanksi akibat belum menyampaian laporan keuangan auditan 2015, yaitu PT Benakat Integra Tbk (BIPI), PT ‎Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).

Sementara emiten yang belum melaporkan keuangan dan belum membayar denda, di antaranya, PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN), PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), PT Buana Listya Tama Tbk (BULL), PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN).

Kemudian, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Global Teleshop Tbk (GLOB), PT Skybee Tbk (SKYB), PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO), PT Inovisi Infracom Tbk (INVS), PT Permata Prima Sakti Tbk (TKGA), PT Garda Tujuh Buana Tbk (GRBO), PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP), dan PT Siwani Makmur Tbk (SIMA).

Sedangkan emiten yang belum membayar denda yakni, ‎PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dan PT Eterindo Wahanatama Tbk (ETWA).

“Bursa melakukan penghentian sementara perdagangan efek di pasar reguler dan pasar tunai sejak sesi i perdagangan hari ini untuk 8 emiten dan memperpanjang suspensi perdagangan efek untuk 10 emiten,” tutur Adi.‎

whispering

TEMPO.CO, Jakarta – Senior analis dari LBP Enterprise, Lucky Bayu Purnomo, mengatakan nama Aburizal Bakrie masih mempengaruhi harga saham perusahaan yang ia miliki. “Nama besar Bakrie berpengaruh 20 persen,” katanya saat dihubungi, Kamis, 4 Desember 2014. (Baca: Awas, Saham Bumi Bisa Masuk Kelompok Gocap)

Faktor lainnya adalah pengaruh kinerja perusahaan. Lucky mengatakan, selama tiga tahun terakhir, saham Bakrie Group sudah tak bergerak dari harga Rp 50 per lembar. (Baca: Gagal Bayar, Saham Bumi Dihindari Investor)

Padahal, kata dia, yang diminati oleh pelaku pasar adalah margin dan dividen yang menarik. Bakrie Group tak mampu menawarkan keduanya. “Jadi tak ada yang bisa diharapkan,” ujarnya.

Saham gocap merupakan istilah yang biasa digunakan di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk saham yang nilainya Rp 50 per lembar. Saham ini biasanya sudah tidak likuid dan jarang sekali bergerak.

Sejumlah perusahaan yang bernaung di bawah bendera Bakrie Group sudah masuk dalam kategori saham gocap ini, di antaranya Bakrie Sumatra Plantation (UNSP), Darma Henwa (DEWA), Bakrieland Development (ELTY), dan Bakrie Brothers (BNBR). Bukan tak mungkin, menurut Lucky, saham perusahaan pertambangan Bakrie, yaitu PT Bumi Resources Tbk, juga masuk dalam kategori saham gocap.

Saat ini Bumi Resources sedang dililit utang dalam jumlah jumbo. Hingga September 2014, jumlah utangnya mencapai US$ 3,73 miliar atau sekitar Rp 44,77 triliun. Utang terbesar berasal dari Country Forest Limited Facility sebesar US$ 1,03 miliar, yang merupakan lembaga keuangan milik China Investment Corporation (CIC).

Direktur Keuangan BUMI Andrew Christopher Beckham mengatakan, pada awalnya, utang kepada CIC mencapai US$ 1,9 miliar dengan tingkat bunga tetap 12 persen. Namun, pada tahun 2013 dan 2014, perseroan telah membayar ‎masing-masing US$ 600 juta. “Tahun depan akan dibayar US$ 700 juta,” kata Andrew saat konferensi pers di Jakarta, Rabu, 26 November 2014.

TRI ARTINING PUTRI

Bisnis.com, JAKARTASetelah menurunkan peringkat obligasi PT Bumi Resources Tbk. senilai US$700 juta yang jatuh tempo pada 2017 menjadi D, Standard & Poors Rating Services kembali melakukan hal yang sama terhadap obligasi Bumi senilai US$300 juta.

Standard & Poors Rating Services (S&P) menurunkan peringkat obligasi dengan jatuh tempo pada 2016 yang dikeluarkan anak usaha BUMI, Bumi Capital Pte. Ltd., itu dari CCC- menjadi D. Sementara itu, peringkat obligasi senilai US$700 juta tidak berubah.

Dalam laporannya yang dirilis Selasa, (2/12/2014), S&P juga menurunkan peringkat Bumi Resources (BUMI) untuk skala Asean dari SD menjadi D.

Kami menurunkan peringkat Bumi Resources menjadi D karena kami tidak yakin perusahaan tersebut akan membayar kewajiban utangnya setidaknya dalam enam bulan, tulis analis kredit S&P Vishal Kulkarni dalam laporan tersebut.

Lepasnya kewajiban BUMI membayar utang selama enam bulan dikarenakan emiten Grup Bakrie tersebut mendapatkan moratorium untuk merestrukturisasi utangnya yang diajukan tiga anak usahanya di Singapura.

Dengan adanya moratorium tersebut, maka kami yakin BUMI tidak akan membayar bunga obligasi senilai US$300 dolar yang masa tenggangnya akan berakhir 10 Desember 2014, katanya.

Kulkarni melanjutkan, pihaknya akan meninjau kembali peringkat tersebut setelah proses restrukturisasi selesai sekaligus mempertimbangkan prospek usaha perseroan.

Editor : Saeno

 

NERACA

Jakarta– Berbagai macam cara di lakukan manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk memulihkan kepercayaan investor sebagai pemegang saham untuk meningkatkan likuiditas, kali ini perseroan fokus mengurangi beban utang dengan cara menjual 50% saham PT Fajar Bumi Sakti (FBS), perusahaan tambang batu bara di Kalimantan Timur.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, disebutkan, sesuai rencana, dana hasil penjualan akan digunakan untuk melunasi utang sebesar US$ 130 juta. Manajemen Bumi Resources mengungkapkan, saham Fajar Bumi akan dialihkan kepada Jainson Holding Hong Kong Limited. Pengalihan saham akan dilakukan melalui Bumi Resources Investment dan Leap Forward Resources Limited.

Dijelaskan, perseroan telah meneken perjanjian jual beli bersyarat (conditional sale and purchase agreement/CSPA). Perjanjian tersebut memiliki long stop date selama enam bulan untuk menyelesaikan proses transaksi. Fajar Bumi tercatat memiliki konsesi seluas 8.250 hektare (ha) ha dengan total cadangan batu bara sebesar 335 juta ton. Perseroan mengelola dua area tambang, yakni Loa Lulung dan Tabang.

Aksi penjualan aset tersebut merupakan bagian dari komitmen perseroan untuk merestrukturisasi utang. Aksi ini juga dilakukan guna mengurangi beban bunga dan memperkuat struktur keuangan perseroan. Saat ini, perusahaan yang dikendalikan keluarga Bakrie itu tengah berkutat membayar utang senilai total US$ 2 miliar. Perseroan pun melakukan sejumlah aksi korporasi guna mendapatkan dana

 

http://www.neraca.co.id/bursa-saham/47829/Lunasi-Utang-BUMI-Jual-Saham-Fajar-Bumi
Sumber : NERACA.CO.ID

JAKARTA kontan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memasang mata dengan seksama terhadap kesulitan yang dialami Grup Bakrie dalam menyelesaikan utang obligasinya. Bahkan, ancaman default kerap menyerang.

“Secara keseluruhan, kami melakukan pengawasan, kalau OJK butuh klarifikasi lebih lanjut, kami akan panggil,” ujar Nurhaida, Kepala bidang Pengawasan Pasar Modal OJK, Jumat (21/11).

Saat ini, lanjut dia, yang terpenting manajemen Grup Bakrie harus melakukan keterbukaan infromasi mengenai kesulitan keuangan yang melanda. Pihaknya selalu mengawasi lebih detil mengenai profil utang Grup Bakrie, sehingga pada saat jatuh tempo atau mendekati default, perseroan sudah menyiapkan langkah penanganan.

Belum lama ini, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melakukan penundaan pembayaran bunga obligasi yang seharusnya dilakukan Oktober 2014.  surat utang yang dimaksud adalah Guaranteed Senior Secured Notes II. Obligasi ini memberikan bunga 10,75% per tahun yang dibayar setiap enam bulan, yaitu pada bulan April dan Oktober.

Nilai pokok obligasi yang diterbitkan pada 30 September 2010 ini sebesar US$ 700 juta. Berarti, bunga yang harusnya dibayar senilai US$ 73,5 juta. Sebelumnya, BUMI terlilit utang bunga obligasi yang diterbitkan Enercoal Resources Pte.Ltd senilai US$ 375 juta. Awalnya, bunga obligasi konvesi ini dibanderol 9,25% per tahun. Adapun, harga konversi ditetapkan Rp 3.366,90 per saham.

Masa berlaku obligasi ini habis pada 5 Agustus 2014. Namun, akhirnya BUMI mendapat restu dari kreditur untuk melakukan restrukturisasi. Bunga obligasi diturunkan menjadi 6% per tahun dan harga konversi turun menjadi hanya Rp 250 per saham. Masa jatuh tempo pun diperpanjang menjadi 7 April 2018.

Sebelum itu, BUMI sempat terancam gagal bayar lantaran tidak bisa membayar bunga obligasi yang harusnya dibayar 12 Mei 2014. Namun, BUMI diberi tenggang waktu hingga 11 Juni 2014 untuk menyelesaikannya. Bunga obligasi ini datang dari surat utang terbitan Bumi Capital Pte. Ltd.

Total nilai pokok obligasi itu mencapai US$ 300 juta dan memiliki bunga 12% per tahun. Selain BUMI, perusahaan Grup Bakrie lain, yakni PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) juag kerap dilanda kesulitaan membayar utang.

Belum lama ini, emiten halo-halo tersebut mendapat gugatan atas permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)  PT Netwave Multi Media. Selain itu, BTEL ttelah menunggak pembayaran cicilan bunga sejak 7 November 2013.

BTEL telah mangkir terhadap kewajiban pembayaran bunga dua kali. Pada 7 November 2013 dan 7 Mei 2014. Posisi pemegang obligasi terbagi dalam dua kubu. Kubu pertama ada steering committee terdiri dari empat kelompok pemegang obligasi.

Steering committee yang dibentuk pada Oktober 2013 merupakan pemegang obligasi yang sepakat adanya reprofiling utang. Kubu ke dua ada pihak pemegang obligasi yang  yang menamakan diri Ad Hoc Committee.

Mereka menempuh jalur hukum karena yakin BTEL akan tetap mangkir membayar. Mereka memasukkan gugatan ke pengadilan New York pada 22 September lalu.

Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menyiapkan untuk melepas aset guna mendapat dana segar. Kali ini, aset yang akan dijual adalah PT Fajar Bumi Sakti (FBS).

Dileep Srivastava, Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, pihaknya telah meneken perjanjian jual beli saham bersyarat (CSPA) dengan Jainson Holding Hong Kong Limited atas 50% saham FBS.

CSPA dilakukan melalui kendaraan investasi BUMI, yakni Bumi Resources Investment dan Leap Forward Resources Limited. CSPA ini memiliiki batas akhir pemenuhan syarat transaksi selama enam bulan. Hal ini termasuk hasil uji tuntas (due diligence) dan pemenuhan kriteria dari aspek legal.

“Hasil penjualan transaksi ini diharapkan diharapkan bisa mengurangi utang perusahaan sebesar US$ 130 juta,” ujar Dileep dalam pernyataan resminya.

Editor: Sanny Cicilia

 

Jakarta detik -PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih mencari cara untuk melunasi utang-utangnya. Berbagai cara sudah dilakukan, mulai dari refinancing sampai menerbitkan saham baru.

Sebenarnya berapa jumlah utang salah satu perusahaan Grup Bakrie itu? Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava menyampaikan rinciannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah dikabarkan kembali telat membayar bunga salah satu utangnya.

Dalam laporannya yang dikutip detikFinance, Kamis (16/10/2014), total utang yang tercatat mencapai US$ 3,161 miliar atau jika dikalikan kurs dolar AS sebesar Rp 12.000 maka utangnya sebesar Rp 37,932 triliun.

Mengenai status pelunasan semua utang ini, perusahaan mengaku sudah mengirimkan proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien. Perseroan juga sedang dalam pembicaraan dengan para kreditur.

Berikut ini rincian utangnya:
– Country Forest Limited 2009
Fasilitas Commitment B senilai US$ 337 jatuh tempo 18 September 2014
Fasilitas Commitment C senilai US$ 700 jatuh tempo 18 September 2015

Utang ini sedang dalam proses restrukturisasi. Dengan telah dialihkannya 19% saham KPC atau setara US$ 950 juta jumlah kewajiban perseroan berkurang menjadi US$ 1,037 juta.

Sedangkan sisa utang selanjutnya akan berkurang setelah pengalihan saham BRMS sebesar 42% atau setara US$ 257 juta dan pengalihan saham senilai US$ 150 juta melalui proses rights issue BUMI selesai dilakukan

 

– Guaranted Senior Secured Notes II senilai US$ 700 juta
Jatuh tempo utang ini 6 Oktober 2017. Perseroan akan melunasi pembayaran semi annual coupon dalam masa tenggang (cure period) selama 30 hari.

– Guaranted Senior Secured Notes senilai US$ 300 juta
Jatuh tempo utang ini 10 November 2016.

– Fasilitas Axis Bank Limited 2011 senilai US$ 140 juta
Tanggal akhir jatuh tempo pembayaran pokok pada 4 Agustus 2016. Proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien saat ini sedang dalam pembicaraan dengan kreditur.

– Fasilitas Credit Suisse 2010-2 senilai US$ 117,5 juta
Utang ini jatuh tempo November 2014. Proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien saat ini sedang dalam pembicaraan dengan kreditur.

– Fasilitas Deutsche Bank 2011 senilai US$ 54 juta
Jatuh tempo utang ini November 2014. Proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien saat ini sedang dalam pembicaraan dengan kreditur.

– Fasilitas China Development Bank senilai US$ 600 juta
Utang ini jatuh tempo 6 Februari 2016. Proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien saat ini sedang dalam pembicaraan dengan kreditur.

– Fasilitas UBS AG 201-1 senilai US$ 62,5 juta
Jatuh tempo utang ini 1 April 2015. Proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien saat ini sedang dalam pembicaraan dengan kreditur.

– Fasilitas Castleford Investment Holdings Ltd 2013 senilai US$ 150 juta
Jatuh tempo utangnya 14 November 2014. Sudah dilunasi melalui mekanisme Rights Issue

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: