Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

November 24, 2016

bumi DITEKAN utang melulu, investor :)) … 040610_221116

Filed under: Utang Bumi & Grup — bumi2009fans @ 12:35 am

rose KECIL

catatan rekor harga saham bumi YTD 2016

Jakarta – Sebanyak sembilan pihak berpotensi masuk sebagai pemegang saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terkait rencana perdamaian penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) perseroan. Di antara para kreditor, China Investment Corporation (CIC) berpeluang menguasai saham paling besar, yakni menjadi 22,6%.

Berdasarkan verifikasi Tim Pengurus Bumi Resources, jumlah kreditor yang mengajukan tagihan sebanyak 162 pihak dengan nilai Rp 135,78 triliun. Dari jumlah tersebut, kreditor konkruen sebanyak 146 pihak dengan nilai Rp 82,92 triliun. Sedangkan kreditor separatis sebanyak 16 pihak dengan nilai Rp 52,85 triliun.

Isi rencana perdamaian salah satunya adalah debt to equity conversion, yaitu sebagian utang Bumi diusulkan ditukar menjadi saham perseroan pada harga Rp 926,16 per saham. Selain itu, perseroan juga mengusulkan penerbitan mandatory convertible bonds (MCB), pemberian employee stock option program (MSOP), dan penerbitan saham kepada kreditor konkuren.

Jika seluruh rencana tersebut dieksekusi, maka komposisi pemegang saham perseroan akan menjadi CIC sebesar 22,6% dari sebelumnya 16,9% dan delapan pihak lain merupakan pemegang saham baru, yang sebelumnya nihil atau belum memiliki saham Bumi.

Mereka adala pemegang senior notes 2016 dengan potensi kepemilikan saham 4,6%, pemegang senior notes 2017 sebesar 10,6%, Credit Suisse selaku pemberi fasilitas pinjaman I sebesar 2%, UBS sebesar 0,8%, Axis Bank sebesar 0,8%, Deutsche Bank 0,7%, Raiffeisen Bank International 1,2%, Credit Suisse selaku pemberi fasilitas pinjaman 2 sebesar 1,6%.

“Transaksi tersebut juga akan membuat kepemilikan publik terdilusi menjadi 55,2% dari sebelumnya 83,1%,” ungkap Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivastava dalam penjelasan resmi, kemarin.

Dalam klausul restrukturisasi utang dengan skema konversi utang menjadi saham, penerbitan saham baru Bumi Resources akan dilakukan pada atau sebelum 30 Juni 2016. Adapun, pada klausul penerbitan MCB senilai US$ 639 juta, kupon yang ditetapkan sekitar 6% per tahun dan jatuh tempo tujuh tahun sejak tanggal efektif.

Klausul restrukturisasi lain yang disepakati adalah penerbitan contingent value rights (CVR) yang dapat diperdagangkan senilai US$ 100 juta. Instrumen ini akan diterbitkan kepada kreditor new senior secured Bumi Resources. CVR tersebut jatuh tempo lima tahun sejak terbit.

Selanjutnya, terdapat klausul restrukturisasi utang ke China Development Bank (CDB), yang mengusulkan Bumi Resources untuk mengganti 32,24% utang dengan new senior secured facility dan/atau new note 2021 dan sisanya diganti tranche C facility.

Sebelumnya, Bumi telah melunasi sebagian pinjaman Axis sebesar US$ 90 juta. Dana itu berasal dari penjualan anak usahanya. Sisa kewajiban yang masih tersisa kepada Axis Bank sebesar US$ 61,56 juta. Total pinjaman perseroan ke Axis sebesar US$ 142,72 juta.

Saat ini, perseroan masih menunggu putusan pengesahan dari pengadilan pada sidang yang dijadwalkan pada 28 November 2016 atas perdamaian yang telah disetujui dalam rapat kreditor pada 9 November 2016.

Sementara itu, hingga kuartal III-2016, Bumi Resources mencatatkan penjualan batubara sebanyak 64,6 juta ton, meningkat 10,7% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 58,4 juta ton.

Dileep Srivastava mengungkapkan, penjualan Arutmin meningkat sebesar 37,5% menjadi 7,9 juta ton pada kuartal III – 2016 dibandingkan dengan kuartal III – 2015 sebesar 5,7 juta ton. “Sama halnya dengan KPC, penjualan meningkat sebesar 16,2% menjadi 14,8 juta ton di kuartal III 2016 dibandingkan dengan 12,7 juta ton pada kuartal III tahun lalu,” jelas Dileep, baru-baru ini.

Perseroan meningkatkan jumlah batubara yang ditambang sebesar 4,5% menjadi 62,7 juta ton hingga September 2016, dari 60 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Secara khusus, Arutmin meningkatkan jumlah batubara yang ditambang sebesar 43,9% menjadi 8 juta ton pada kuartal – III 2016 dibandingkan dengan periode sama tahun lalu sebesar 5,5 juta ton.

Realisasi harga rata-rata perseroan adalah US$ 40,1 per ton dibandingkan dengan tahun lalu US$ 45,7 per ton. Nilai tersebut berkurang sebesear 12,4%, disebabkan oleh kondisi pasar dan pelaksanaan kontrak-kontrak sebelumnya. Namun demikian, harga Jual rata-rata tersebut mulai menunjukkan tren peningkatan sejak kuartal II – 2016.

Biaya kas produksi turun secara tajam menjadi sebesar US$ 26,8 per ton pada semester I – 2016 dibandingkan sebesar US$ 34,6 per ton pada 2014 dan US$ 30,2 per ton di tahun 2015 atau sebesar US$ 7,8 per ton sejak Desember 2014.

Perseroan berharap untuk mampu melebihi target penjualan batubara lebih dari 85 juta ton untuk tahun ini dengan harga jual rata-tata yang lebih tinggi pada kuartal – IV 2016.

 

 

Farid Nurfaizi/MHD

Investor Daily

 

 ets-small

Liputan6.com, Jakarta – Penyelesaian utang PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kepada kreditornya menemui titik terang. Penyelesaian utang perseroan akan dilakukan secara damai dengan kreditornya.

Penyelesaian utang tersebut disampaikan kepada manajemen PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam keterbukaan informasi ke BEI seperti ditulis Selasa (22/11/2016).

Salah satu penyelesaian utang dengan mengkonversi saham menjadi PT Bumi Resources Tbk. Konversi utang BUMI dengan harga Rp 926,16 per saham. Hal itu berdasarkan perhitungan ekuitas bersih US$ 4,6 miliar.

Dalam rencana perjanjian damai juga merestrukturisasi utang dengan menerbitkan mandatory convertible bonds (MCB). MCB itu bertenor 7 tahun dan tidak ada utang bunga yang akan dikonversi menjadi saham perseroan.

Dengan penerbitan saham tersebut maka pemegang saham lama akan memiliki 55,7 persen kepemilikan saham perseroan sehingga dampak dilusi dari penerbitan saham baru itu diperkirakan mencapai 44,3 persen.

Direktur PT Bumi Resources Tbk Dileep Srivastava menuturkan, bila pemegang MCB tidak melaksanakan konversi MCB maka 100 persen pokok utang akan dikonversi menjadi saham perseroan pada harga konversi yang berlaku pada tanggal jatuh tempo MCB (obligasi wajib konversi).

Perseroan juga akan melaksanakan konversi utang dengan menerbitkan saham baru atau rights issue. Rencananya dilakukan pada atau sebelum 30 Juni 2017.

“Penerbitan saham baru akan dilakukan Perseroan pada atau sebelum 30 Juni 2017 dengan mematuhi peraturan pasar modal di Indonesia dan ketentuan-ketentuan hukum terkait lainnya, termasuk namun tidak terbatas pada persetujuan rapat umum pemegang saham perseroan, dan persetujuan dari pihak otoritas pasar modal,” ujar dia.

Perseroan juga akan menerbitkan management share option plan (MSOP) kepada manajemen senilai US$ 25 Juta. MSOP itu akan dikonversi menggunakan harga yang sama dengan kreditor lain senilai Rp 926,16 per saham. Hal ini juga masuk dalam rencana perdamaian. Pelaksanaannya juga dilakukan sebelum 30 Juni 2017 bersama dengan penerbitan saham (share issuance).

Selain itu, ada juga rencana menerbitkan saham kepada kreditor konkuren senilai US$ 200 juta dengan harga pelaksanaan Rp 926,16. Kreditor konkuren tersebut yang bersedia dan telah mengajukan permohonan untuk konversikan tagihannya menjadi kepemilikan saham di PT Bumi Resources Tbk.

Untuk mengajukan utang untuk dikonversi menjadi saham, perseroan menyatakan kalau kreditor bersangkutan harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari perseroan. Dalam hal ini telah diperoleh melalui proses PKPU.

Dengan ada skema debt to equity conversion, penerbitan MCB, pemberian MSOP, dan penerbitan saham kepada kreditor konkuren maka daftar pemegang saham perseroan antara lain CIC dari kepemilikan saham 16,9 persen menjadi 22,6 persen, 2016 senior notes dari nihil menjadi 4,6 persen, 2017 senior notes menjadi 10,6 persen.

Kemudian CS facility 1 sebesar dua persen,UBS facility sebesar 0,8 persen,  Axis Bank facility jadi 0,8 persen,DB facility sebesar 0,7 persen, RBI faciliy sebesar 1,2 persen, CS facility 2 sebesar1,6 persen dan publik dari 83,1 persen menjadi 55,2 persen.

Para kreditor PT Bumi Resources Tbk juga telah menyepakati pembatalan utang denda yang masuk dalam rencana perdamaian. Perseroan memiliki utang denda sekitar US$ 214 juta.

PT Bumi Resources Tbk juga menyatakan kalau pihaknya telah melunasi sebagian pinjaman Axis sebesar US$ 90juta. Dana itu berasal dari penjualan anak usahanya. Sisa kewajiban yang masih tersisa kepada Axis Bank sebesar US$ 61,56 juta. Total pinjaman perseroan ke Axis sebesar US$ 142,72 juta.

Saat ini perseroan masih menunggu putusan pengesahan dari pengadilan pada sidang yang dijadwalkan pada 28 November 2016  atas perdamaian yang telah disetujui dalam rapat kreditor pada 9 November 2016.

buttrock

 

JAKARTA kontan. Proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berakhir damai. Mayoritas kreditur merestui proposal BUMI, yang sebagian besar akan mengubah utang BUMI menjadi saham.

Dalam pemungutan suara (voting) di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Rabu (9/11), 100% kreditur konkuren dan 99,84% kreditur separatis menyetujui rencana perdamaian. Jumlah kreditur yang hadir mencapai 142 kreditur dengan nilai tagihan Rp 39,26 triliun.

Lalu 98 kreditur separatis hadir mewakili tagihan sebesar Rp 47,07 triliun. Proses PKPU BUMI berakhir damai (homologasi) lantaran sudah memenuhi Pasal 281 UU No 37/2004 tentang Kepailitan dan PKPU.

Hasil voting ini akan disahkan majelis hakim pada 28 November. Di rencana perdamaian itu, BUMI menawarkan skema konversi utang menjadi saham (debt to equity swap).

Skema ini melibatkan 11 kreditur, antara lain Country Forest Limited (CFL), Castleford Investment dan Axis Bank. Nilai total utangnya US$ 1,81 miliar. Sehingga, nilai konversi utang itu setara 39,39% saham BUMI.

Penerbitan saham BUMI dijadwalkan 30 Juni 2017. Klausul lain yang disepakati adalah penerbitan contingent value rights (CVR) yang dapat diperdagangkan, senilai US$ 100 juta.

Instrumen ini akan diterbitkan kepada kreditur New Senior Secured BUMI. CVR tersebut jatuh tempo lima tahun sejak terbit. Klausul berikutnya, penerbitan mandatory convertible bonds (MCB) senilai US$ 639 juta.

Krediturnya antara lain CFL, Axis, UBS dan DBS. MCB ini memiliki kupon 6% per tahun dan jatuh tempo tujuh tahun sejak tanggal efektif. Sementara rencana restrukturisasi ke China Development Bank (CDB) akan dilakukan dengan mengganti 32,24% utang dengan new senior secured facility dan/atau new note2021, dan sisanya diganti tranche C facility.

Harga saham konversi utang ke saham disepakati Rp 926,16 per saham. Harga itu turun dari penawaran awal Rp 1.149 per saham. Kesepakatan lain juga soal rencana penerbitan saham baru (rights issue) yang selambat-lambatnya dilakukan 30 Juni 2017.

Manajemen BUMI akan menunggu pengesahan hasil voting sebelum memberi keterangan resmi, termasuk rencana teknis yang akan mempengaruhi saham BUMI.

“Efeknya positif terhadap kinerja BUMI. Bukan hanya soal penurunan utang. Tetapi akan ada dampak positif dari industri batubara yang mulai membaik,” ujar Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI, Dileep Srivastava kepada KONTAN, kemarin.

Seiring restrukturisasi, saham BUMI bergerak positif. Harga BUMI kemarin ditutup naik 5,07% ke Rp 290 per saham. Analis Samuel Sekuritas, Sharlita Malik menilai, restrukturisasi utang BUMI menjadi kunci untuk mengerek kinerja jangka panjang.

Jika restrukturisasi berhasil, ia memberi estimasi harga intrinsik BUMI Rp 608 atau berpotensi naik 122%. Hitungan ini dilihat dari EBITDA di level historis ketika harga batubara US$ 70 per juta ton dan rata-rata enterprise value (EV) per EBITDA mengacu rata-rata industri.

Utang BUMI akan berkurang menjadi US$ 1.7 miliar jika proses restrukturisasi berhasil. “Hal ini akan mengurangi beban bunga BUMI,” ujar Sharlita.

Analis Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya mengatakan, secara teknikal saham BUMI masih berpotensi naik. Harga penukaran saham yang cukup tinggi berpotensi membuat BUMI terkerek. “Restrukturisasi ini menjadi jalan keluar yang ditunggu-tungu,” ujar dia.

 ets-small

 

Bisnis.com, JAKARTA – Restrukturisasi utang emiten milik Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), menghasilkan konversi menjadi saham Rp926,16 per lembar.

Berdasarkan dokumen resmi Tim Pengurus PT Bumi Resources Tbk., yang diterima Bisnis.com akhir pekan lalu, menyebutkan bahwa jumlah kreditur yang mengajukan tagihan sebanyak 207 pihak dengan nilai Rp135,78 triliun.

Kreditur kongkruen sebanyak 146 pihak dengan nilai Rp82,92 triliun. Sedangkan, kreditur separatis sebanyak 61 pihak dengan nilai Rp52,85 triliun.

“Isi rencana perdamaian antara lain adanya debt to equity conversion yaitu sebagian utang kreditur perseroan diusulkan untuk menjadi saham dalam perseroan dengan harga Rp926,16 per lembar,” tulis dokumen resmi tersebut.

Emiten bersandi saham BUMI tersebut juga telah sepakat untuk melakukan rencana rights issueterkait hal tersebut paling lambat 30 Juni 2017.

Berdasarkan hasil rapat kreditur, yang terdiri dari China Investment Corporation Limited (CIC), Trustee Bondholder, dan Trustee Noteholder, bersama tim pengurus, sebanyak 80% kreditur telah setuju.

Voting atas rencana perdamaian tersebut akan diadakan pada 9 November 2016 pada pukul 10.00 WIB di Pengadilan Niaga, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Direktur & Corporate Secretary BUMI Dileep Srivastava menuturkan perseroan terus mengikuti Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Batas waktu PKPU diperpanjang menjadi 9-10 November dari 27 Oktober 2016.

“Sejauh ini tidak ada penambahan atau perubahan dari proposal sebelumnya,” katanya kepada Bisnis.com, belum lama ini.

Sementara itu, anak usaha BUMI, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) melaporkan kepemilikan saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) melalui PT Multi Daerah Bersaing (MDB) telah resmi dijual senilai US$400 juta.

Divestasi 24% saham Newmont kepada PT Amman Mineral Internasional.Sebagai bagian dari kondisi perjanjian tersebut, BRMS akan mengurangi total fasilitas pinjaman baik di anak perusahaan maupun di BRMS. Akibatnya, likuiditas perseroan ditargetkan dapat meningkat.

Chief Executive Officers BRMS Suseno Kramadibrata mengatakan kelanjutan perjanjian divestasi saham NNT akan digunakan untuk membayar sebagian besar fasilitas pinjaman. Oleh karena itu, dia mengharapkan utang konsolidasi perseroan terhadap ekuitas menunjukkan peningkatan yang signifikan.

“Kami juga terus mengembangkan proyek kami yang lain seperti emas, tembaga, seng, dan memimpin proyek di Citra Palu Minerals, Gorontalo Minerals dan Dairi Prima Mineral,” katanya.

 ets-small

Bisnis.com, JAKARTA–Menumpuknya utang emiten Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), membuat manajemen memangkas belanja modal tahun ini lebih rendah 50% dari tahun lalu.

Bumi Resources menjadi emiten dengan pemangkasan belanja modal (capital expenditure/Capex) terbesar hingga 50% dari tahun lalu. Manajemen BUMI menganggarkan belanja modal US$50 juta pada tahun ini dari sebelumnya US$100 juta.

Direktur dan Corporate Secretary PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) Dileep Srivastava mengatakan perseroan belum mengumumkan target produksi batu bara pada tahun ini. Namun, dia memerkirakan produksi batu bara bakal sama dengan tahun lalu sebanyak 80 juta ton.

“Belanja modal kami untuk sustainance dan perawatan sekitar US$50 juta,” katanya kepadaBisnis.com, Rabu (3/2/2016).

Dileep menegaskan, perseroan tidak memiliki utang dari bank di Indonesia. Utang BUMI berasal dari China Investment Corporation (CIC), pemegang obligasi secured dan unsecured asing, serta dari sejumlah perbankan.

Menurutnya, selama lebih dari setahun, BUMI telah melakukan dialog intesif dengan para pemegang obligasi. Manajemen BUMI berharap menemukan solusi terbaik bagi perjanjian restrukturisasi utang perseroan.

Dalam laporan keuangan Bumi Resources per kuartal III/2015, pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam setahun mencapai US$3,63 miliar, melonjak tipis 1,42% dari akhir tahun sebelumnya senilai US$3,58 miliar. Obligasi konversi tidak mengalami perubahan mencapai US$375 juta.

Bumi Resources tercatat tidak memiliki pinjaman jangka panjang, lantaran jatuh tempo dalam waktu setahun. Total liabilitas Bumi Resources mencapai US$5,79 miliar per 30 September 2015, naik 8,4% dari akhir tahun sebelumnya US$5,34 miliar.

rose KECIL

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berharap bisa segera mendapat keputusan dari kreditur soal proposal restrukturisasi utang pada akhir bulan ini.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, banyak pihak yang dilibatkan atas restrukturisasi utang senilai US$ 3,98 miliar itu.

Total estimasi bunga yang dikapitalisasi dan masuk usulan restrukturisasi mencapai US$ 397 juta.

Setidaknya ada 12 fasilitas utang yang harus direstrukturisasi perusahaan batubara miliki Bakrie ini.

“Ini memang memakan waktu, karena jumlah pihak yang terlibat dalam restrukturisasi cukup banyak. Tapi kami berharap kesepakatan dengan sebagian besar kreditur disetujui pada akhir bulan,” ujar Dilesep kepada KONTAN, Jumat (20/11).

Ia menegaskan proposal utang yang diberikan kepada kreditur bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kesepakatan.

Ia menilai, kesepakatan harus cepat dicapai sebelum kondisi industri batubara makin memburuk.

“Karena kami perkirakan, dalam setahun ke depan, pasar batubara masih tidak berubah dan masih akan tertekan,” kata dia.

Chris Fong, Juru Bicara Bakrie Grup mengatakan, saat ini, kreditur dan perseroan masih dalam negosiasi.

“Semua pihak sepertinya akan segera mengarah ke kesepakatan,” imbuhnya.

Dalam rencana restrukturisasi itu, utang sebesar US$ 1,49 miliar akan dikonversi menjadi 32,5% saham BUMI berdasarkan valuasi ekuitas bersih tersirat sebesar US$ 4,6 miliar.

Utang itu sebagian besar berasal dari utang China Investment Corporation (CIC) dan China Development Bank Corporation (CDB).

Selain itu, ada pula sebagian surat utang senior BUMI dan pinjaman dari Castleford yang akan diubah menjadi saham.

Lalu, senilai US$ 1,2 miliar atau 42,3% dari pokok utang akan tetap menjadi utang di BUMI dalam bentuk Fasilitas Bergaransi Senior Baru.

Fasilitas ini terbagi menjadi dua trance. Trance 1 senilai US$ 600 juta dengan bunga 6% per tahun.

Lalu trance 2 juga bernilai US$ 600 juta dengan bunga Payment in Kind (PIK) sebesar 9% per tahun akan dibayar atau dikapitalisasi sesuai dengan prinsip Cash Waterfall atau pada saat jatuh tempo.

Bunga PIK merupakan bunga terutang yang dapat ditangguhkan pembayarannya dengan alasan likuiditas, konsekuensinya, bisa terhindar dari gagal bayar.

Sebelumnya, BUMI sudah tidak lagi memperpanjang status perlindungan utang (moratorium) yang berakhir pada 24 Oktober 2015 lalu.

 

ets-small

JAKARTA. Kelesuan ekonomi dan bisnis, serta pelemahan kurs rupiah menekan keuangan korporasi lokal. Kemampuan membayar utang jatuh tempo ikut melemah, utamanya perusahaan yang merilis obligasi valuta asing. Alhasil, jalan restrukturisasi utang ditempuh demi menyiasati tekanan beban utang.

Pilihan itu pula  yang kini ditempuh PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO). Lewat pengumumannya di Bursa Singapura, TRIO akan merestrukturisasi dua obligasi Trikomsel Pte Ltd, anak usaha TRIO. Pertama, obligasi S$ 115 juta berbunga 5,25% yang terbit Mei 2013. Kedua, obligasi S$ 100 juta berbunga 7,87% yang terbit Juni 2014. Kedua obligasi itu bertenor tiga tahun.

Jalan restrukturisasi utang adalah pilihan logis bagi TRIO. Maklum, per Juni 2015, nilai kas dan setara kas TRIO sekitar Rp 516,87 miliar. Padahal selain utang obligasi, emiten ini memiliki utang bank jangka pendek senilai sekitar Rp 2,99 triliun.

Manajemen TRIO akan bertemu dengan para pemegang obligasi pada 26 Oktober 2015 terkait agenda restrukturisasi. Dalam pertemuan itu pula TRIO akan membeberkan detil proposal restrukturisasi utang anak usahanya.

Sayang, TRIO belum  bersedia menjelaskan detil restrukturisasi utang tersebut. “Saya tidak bisa komentar sekarang, tolong ditunggu dulu, nanti kami umumkan secara resmi,” ujar Juliana Samudro, Direktur Trikomsel, kepada KONTAN, Selasa (20/10).

Selain TRIO, sejumlah emiten lain juga memiliki obligasi valas dan patut dicermati (lihat tabel). Berau Coal Energy Tbk (BRAU), misalnya, sedang merestrukturisasi utang obligasi sekitar US$ 900 juta.

Sementara Bumi Resources Tbk (BUMI) juga tengah melakukan hal serupa. Masa perpanjangan penangguhan utang BUMI akan kedaluwarsa pada 24 Oktober 2015.

BUMI memiliki total utang US$ 3,9 miliar. Emiten ini menargetkan para kreditur bisa menyetujui restrukturisasi pada 22 Oktober 2015.

Nah, Xavier Jean, Analis Kredit Standard & Poor’s (S&P), menyatakan, tergerusnya neraca keuangan saat pertumbuhan melambat, bisa memicu gagal bayar atau restrukturisasi utang di pasar obligasi Singapura pada 12-18 bulan mendatang. “Gagal bayar obligasi korporasi dollar Singapura sangat jarang,” ungkap dia dalam penjelasan tertulisnya. Hitungan S&P, ongkos kupon obligasi S$ 115 juta TRIO sekitar dua lipat di atas kupon penerbitan obligasi lokal di Indonesia atau pendanaan lewat bank domestik.

Reza Priyambada, Kepala Riset NH Korindo Securities, menilai, kemampuan korporasi Indonesia membayar utang valas bergantung kemampuan dan klasifikasi emiten. Sejauh ini kasus default tak banyak terjadi pada emiten Indonesia. “Mayoritas emiten bisa survive,” kata Reza.

Reporter Widiyanto Purnomo
Editor Yudho Winarto

Jakarta detik -PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih mencatat kinerja negatif di awal tahun ini. Pergerakan sahamnya juga tidak menggembirakan, terus turun hingga nyaris jadi sahamgocap.

Saham gocap adalah istilah untuk saham perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menyentuh titik terendahnya, yaitu Rp 50 per lembar. Setelah sampai di titik ini, harga saham tidak bisa turun lagi.

Pilihannya hanya dua, stagnan di harga tersebut atau bergerak ke atas. Nah, saham tambang Grup Bakrie ini sudah sempat menyentuh titik terendahnya di Rp 51 per lembar alias nyaris gocap.

Pada perdagangan hari ini, Rabu (22/7/2015), hingga pukul 11.50 waktu JATS harga saham BUMIdiperdagangkan di Rp 53 per lembar, stagnan dari posisi pada perdagangan sebelum hari Lebaran.

Hari ini sahamnya sempat naik ke titik tertinggi di Rp 54 per lembar dengan titik terendah di Rp 52 per lembar. Sahamnya cukup aktif diperdagangkan dengan volume 174.701 lot sebanyak 527 kali dengan nilai Rp 925,4 juta.

Dalam tiga bulan pertama tahun ini, tambang Grup Bakrie itu mencatat rugi US$ 345,7 juta (Rp 4,49 triliun). Tahun lalu masih mencatat laba US$ 349,5 juta (Rp 4,54 triliun).

(ang/dnl)

Bisnis.com, JAKARTA – Pengadilan Singapura telah mengabulkan perpanjangan penangguhan utang atau moratorium kepada Bumi Capital Pte. Ltd., Bumi Investment Pte. Ltd. dan Enercoal Resources Pte. Ltd. dalam upaya memfasilitasi restrukturisasi.

Dileep Srivastava, Direktur & Sekretaris Perusahaan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), mengatakan tiga anak usaha perseroan di Singapura telah mendapatkan moratorium utang selama lima bulan ke depan dari pengadilan Singapura.

Perlindungan utang tersebut yakni dari segala upaya hukum atau upaya paksa yang dapat dilakukan kreditor yang sedianya diperoleh perseroan pada 24 November 2014 dan berakhir pada 24 Mei 2015.

“Telah diperpanjang hingga 24 Oktober 2015,” ungkapnya dalam keterbukaan informasi di PT Bursa Efek Indonesia, Selasa (25/5/2015).

Dia mengatakan, perpanjangan waktu moratorium tersebut diharapkan mampu memfasilitasi upaya yang tengah berjalan dalam rangka merestrukturisasi kewajiban utang BUMI dan beberapa anak perusahaannya.

Tiga anak usaha BUMI yang berbasis di Singapura memang sahamnya dimiliki seluruhnya oleh perseroan. Bumi Capital Pte. Ltd. merupakan penerbit surat berharga bergaransi senior (guaranteed senior secured notes) senilai US$300 juta dengan kupon 12%.

Kemudian, Bumi Investment Pte. Ltd. yang merupakan penerbit surat berharga bergaransi senior senilai US$700 juta dengan kupon 10,75%. Terakhir, Enercoal Resources Pte. Ltd. sebagai penerbit obligasi konversi bergaransi senilai US$375 juta berkupon 9,25%.

Jakarta -Penangguhan utang PT Bumi Resources Tbk (BUMI) diperpanjang lima bulan oleh Pengadilan Singapura. Jumlah utang yang harus dibereskan oleh tambang milik Grup Bakrie itu sebesar US$ 1,37 miliar atau sekitar Rp 17 triliun (kurs Rp 13.000/US$).

Seperti dikutip dari Reuters, Jumat (22/5/2015), perpanjang utang ini melanjutkan moratorium utang yang sebelumnya dijatuhkan oleh Pengadilan Singapura. Moratorium enam bulan ini akan habis pekan depan.

Dengan perpanjangan waktu, pemilik tambang di Kalimantan Timur ini bisa mendapatkan waktu lebih untuk mengurus utang-utangnya.

Utang sebesar itu dimiliki anak usaha Bumi Resources yang berdomisili di Singapura. Berikut tiga anak usahanya bersama total utangnya masing-masing:

  • Bumi Capital Pte. Ltd. penerbit Surat Berharga Bergaransi Senior (Guaranteed Senior Secured Notes) senilai US4 300 juta berkupon 12%,
  • Bumi Investment Pte. Ltd. penerbit Surat Berharga Bergaransi Senior (Guaranteed Senior Secured Notes) senilai US$ 700 juta berkupon 10,75%,
  • Enercoal Resources Pte. Ltd. penerbit Obligasi Konversi Bergaransi (Guaranteed Convertible Bonds) senilai US$ 375 juta berkupon 9,25%

Pada perdagangan hari ini, harga saham BUMI naik 2 poin (2,27%) ke level Rp 90 per lembar. Sahamnya diperdagangkan 2.654 kali dengan volume 2.121.862 lot senilai Rp 19,5 miliar.

Investor domestik membeli Rp 18,4 miliar dan jual Rp 16,8 miliar. Sementara investor asing hanya membeli Rp 964,2 juta dan jual Rp 2,6 miliar.

(ang/dnl)

 

Jumat, 04 Juni 2010 | 10:51

CUPLIKAN HARIAN KONTAN

Kas BUMI Merosot 57,4 % di Akhir Maret 2010

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) masih menunggu penjelasan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sehubungan rencana mereka melepas saham baru tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Maklum, BUMI belum menjelaskan siapa yang akan membeli saham ini.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito mengaku sudah bertemu manajemen BUMI Selasa lalu (2/6). Tapi, sampai saat itu mereka belum bisa menjelaskan siapa pembeli saham ini. “Mereka masih memfinalisasi aksi ini,” kata dia, kemarin (3/6).Tak hanya itu, Eddy juga akan meminta penjelasan tentang penggunaan dana hasil penerbitan saham baru tersebut.

Seperti kita ketahui, BUMI akan menerbitkan saham baru sebanyak 1,9 milir saham atau setara 10% modal disetor. Sebelumnya, Presiden Direktur BUMI Ari S. Hudaya pernah berujar BUMI akan memakai dana hasil penerbitan saham baru itu untuk menambal utang senilai US$ 1 miliar, setahun ke depan. Padahal, menurut Eddy, dana penerbitan saham baru sebetulnya tidak boleh dipakai untuk membayar utang. “Penerbitan saham baru harus mendatangkan value bagi perusahaan,” ungkap dia.

Walau begitu, ada ketentuan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) yang memberikan pengecualian. Merujuk peraturan Bapepam-LK IX.D.4 Pasal 2 ayat 2 c, dana hasil penerbitan saham baru tanpa HMETD bisa dipakai membayar utang apabila perusahaan tidak mampu menghindari kegagalan atas kewajibannya kepada pemberi pinjaman yang tidak terafiliasi. Syaratnya, si pemberi utang setuju menerima saham atau obligasi konversi perusahaan untuk menyelesaikan pinjaman tersebut.

Eddy juga menyoroti posisi kas BUMI yang merosot tajam. Per Maret lalu, posisi kas emiten pentolan Grup Bakrie ini mengempis 57,4% dibandingkan dengan posisi per kuartal pertama 2009, persisnya anjlok dari US$ 140,06 juta menjadi US$ 59,6 juta. Belum jelas apa penyebabnya. BEI berniat menyelidiki laporan keuangan BUMI ini. “Kami akan telaah laporan keuangannya,” janji Eddy.

Kempisnya kas BUMI yang terjadi berbarengan dengan rencana penerbitan saham baru ini segera memancing spekulasi di pasar. Ada dugaan, BUMI sengaja mengembosi kasnya demi memuluskan rencana membayar utang dengan dana hasil penerbitan saham baru. Namun Senior Vice President Investor Relations BUMI Dileep Srivastava tidak mau menanggapi spekulasi ini. “Ini posisi kas pada 31 Maret, posisinya memang bisa berubah-ubah,” kilah dia.

Menurut pengamat pasar modal Arif Budi Satria, sebenarnya sah-sah saja BUMI melakukan hal tersebut. Namun, dia menyayangkan manajemen BUMI yang lebih banyak menjual berita aksi korporasi ketimbang menjalankan bisnis inti. “Saat ini BUMI cenderung bermain di berita korporasi. Ini sangat berbahaya bagi investor institusi,” jelas dia.Kemarin, harga saham BUMI ditutup naik 3,8% dari hari sebelumnya menjadi Rp 1.910 per saham

Abdul Wahid Fauzie, Sofyan Nur Hidayat, Anna Suci
Jumat, 04/06/2010
Saham Bumi digadai lagi
bisnis indonesia
JAKARTA: Perusahaan induk Grup Bakrie PT Bakrie & Brothers Tbk kembali menjaminkan sebagian saham produsen batu bara terbesar PT Bumi Resources Tbk, anak usahanya, kepada kreditur dalam perjanjian utang yang baru disepakati.

Seorang eksekutif yang mengetahui transaksi itu mengatakan dalam perjanjian baru itu, tidak menutup kemungkinan saham unit usaha Bakrie lain juga digadaikan.

“Ada bebarapa pembiayaan baru yang diambil Bakrie. Itulah mengapa kepemilikan Bakrie & Brothers di Bumi menyusut 3,88% menjadi 9,79% [1,85 miliar saham pada 31 Maret 2010] dari 13,67% [2,58 miliar saham pada 31 Desember 2009],” ujarnya di Jakarta kemarin.

Dia menjelaskan kreditur pinjaman kali ini tidak jauh berbeda dengan kreditur yang biasa mengucurkan pinjaman ke Bakrie. Namun, dia tidak memerinci jumlah saham Bumi yang dijaminkan. Pinjaman disepakati pada Januari-Maret.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno menolak berkomentar. “Tunggu saja laporan keuangan [kuartal I/2010] kami yang akan kami terbitkan besok [hari ini],” ujarnya.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2009, Bakrie & Brothers memiliki pinjaman jangka pendek Rp2,64 triliun, dan pinjaman jangka panjang Rp6,43 triliun. Jumlah itu belum termasuk pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam 1 tahun, Rp314,88 miliar.

Untuk pinjaman jangka pendek rupiah yang sebesar Rp1,17 triliun, beberapa kreditur terbesar yang disebutkan a.l. PT Sinarmas Sekuritas dengan pinjaman Rp685,42 miliar, PT Recapital Securities Rp140,00 miliar, dan Brentwood Ventures Pte Ltd senilai Rp122,11 miliar.

Adapun, pinjaman jangka pendek dalam mata uang asing berasal dari a.l. Bank Sarasin-rabo (Asia) Limited Rp432,70 miliar, Brentwood Rp267,90 miliar, dan Credit Suisse AG Singapura Rp235,00 miliar.

Secara lebih rinci, untuk pinjaman rupiah dari Recapital, Bakrie & Brothers menjaminkan saham Bumi, dan juga saham unit lainnya yakni PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk serta PT Bakrieland Development Tbk. Untuk utang berjatuh tempo kuartal I/2010, jumlah saham Bumi yang telah dijaminkan 28,39 juta lembar.

Eddy Soeparno menambahkan perseroan menunda emisi obligasi tukar yang semula direncanakan kuartal I/2010. “Pasar sedang tidak kondusif. Kami tidak ingin obligasi itu membuat kami lebih terikat. Kami akan tunggu pasar membaik.”

Oleh Pudji Lestari
Bisnis Indonesia

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: