Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

April 4, 2017

mo CUS maen saham ala warteg saham gw (cari UNTUNG sesaat)

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 2:21 am

inves + trading cara maen saham @ warteg (EXCEL FILE)

ikon gejolak

rose KECIL

Berapa sih BOTTOMnya IHSG secara teknikal, per November 2016…

saat IHSG rontok dari 5470 k 5231, aye SUKSES mengendalikan LABA saham2 gw, termasuk BUMI lah 🙂

INI ALASAN UTAMA Sri Mulyani KEMBALI menjadi MENKEU

Setengah TAON (Des 2015-Juli 2016) yang SUKSES @ warteg saham gw

2016: evaluasi imbal hasil @ warteg saham gw, DOUBLE DIGIT PERCENTAGES HIKE (JAN-JUN 2016), bo, 🙂

dollar small

imbal hasil INVESTASI REKSA DANA gw SEJAK 2002, 2003, 2005, n 2007 SUKSES menundukkan BUNGA MAJEMUK DEPOSITO BANK

long jump iconTREN HARGA SAHAM PROPERTI yang bisa + double digit percentages 2016 ini

cari untung sesaat SAAT KETIDAKPASTIAN 2015

15 hari inves @ harga saham ELSA @+75% GAIN

Edy Joenardi c1u$ maen saham BUMI RESOURCES dari 62 jt k 5 T

elnusa, ELSA tuh mampu MEMBERI UNTUNG dalam JANGKA WAKTU PENDEK (CUS)

INDY, saham yang sedang DIGORENG-goreng NEh

UNILEVER, unvr, memberi setidaknya 2 kali DIVIDEN / taon, itu SEBABNYA selalu TERJADI KENAEKAN harga saham pada AWAL TAON sejak 2010 (dibanding AWAL taon sebelumnya)

opt1m1$me TIDAK ADA PADA SAHAM-SAham bakrie et al, bumi apalagi…

pasca krisis 2008, tren harga saham kita ADA YANG + 1000% LEBE

 

per tgl 04 April 2017, analisis teknikal sederhana ala warteg gw menunjukkan bahwa ekspektasi harga saham bumi balek k 500 lage, mungkin akan terjadi pada 2017 ini:

bumi 410_040417_tren

 

Jakarta detik – Saham-saham Grup Bakrie mulai ‘bangkit dari kubur’. Namun dari sembilan perusahan Grup Bakrie yang tercatat di pasar modal, dua di antaranya masih menjadi saham tidur di level Rp 50 alias gocap.

Kedua emiten tersebut yakni PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Padahal, tujuh saham Bakrie lainnya sudah lama meninggalkan zona ‘gocap’ dan menjadi saham ‘zombie’ yang bergerak liar.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang menunjukan penguatan paling tinggi, pada ada 10 Juni 2016 saham BUMI mulai merangkak naik dan ditutup di level Rp 67 per saham. Sejak saat itu saham BUMI terus melejit hingga posisi Rp 505 pada 27 Januari 2017.

Lonjakan saham BUMI ini disusul penguatan saham-saham Grup Bakrie lainnya. Saham apa saja yang ikut naik tinggi?

Baca juga: Pergerakan Saham ‘Zombie’ Grup Bakrie yang Tak Lagi Gocap

Menurut Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada, saham BNBR dan BTEL tak ikut terkerek naik lantara keduanya tak terpengaruh atas sentimen positif dari rencana BUMI yang ingin melakukan restrukturisasi utang.

Pada RUPS BUMI beberapa hari yang lalu, sebanyak 99,96% pemegang saham sepakat atas rencana tersebut. Harga pelaksanaan rights issue dipatok pada level Rp 926, sehingga maksimal dana yang akan diraih lewat HMETD sebesat Rp 35,1 triliun.

Lewat rights issue tersebut, maka jumlah utang yang akan dikonversi melalui penerbitan saham baru atau rights issue sebesar US$ 2,01 miliar. Sementara untuk konversi melalui OWK senilai US$ 639 juta.

“Sentimen yang ini lebih menyasar ke emiten Bakrie yang komoditas dulu. Kebetulan harga komoditas banyak pihak memperkirakan akan naik,” terangnya saat dihubungi detikFinance, Kamis (9/2/2017).

Menurutnya untuk BTEL yang bergerak di sektor telekomunikasi tak terpengaruh juga lantaran tidak ada sentimen positif dari sektor tersebut.

“Sedangkan BNBR hanya sebagai holding, pasar tidak melihat holding-nya,” tambahnya.

Sementara menurut Analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee, saham BNBR berpotensi untuk ikut bergerak. Namun masih menunggu waktu. Sebab, para pelaku pasar yang masuk ke saham BUMI akan melakukan profit taking dan masuk ke saham Bakrie lainnya dengan harapan akan ikut terkerek naik.

“BTEL punya masih punya masalah dan karena sentimennya tidak begitu bagus. Kalau BNBR menunggu waktu untuk bergerak, karena dia holding,” tuturnya. (ang/ang)

ets-small

JAKARTA kontan. Menyambut Tahun Ayam Api, investor yang mendekap saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memperoleh angpao besar. Maklum, dalam tujuh bulan terakhir, harga saham BUMI naik hingga lebih dari 10 kali lipat.

Setelah terus-terusan reli, harga saham BUMI akhirnya menembus posisi Rp 500 per saham. Pada perdagangan hari ini, Jumat (27/1), harga saham BUMI ditutup di posisi Rp 505 per saham. Dengan begitu, saham BUMI kini memasuki kelompok harga saham Rp 500-Rp 2.000 per saham dengan fraksi harga Rp 5 per saham.

Bukan cuma harga yang naik tinggi. Transaksi saham BUMI juga meningkat drastis. Saban hari, nilai transaksi perdagangan saham BUMI mencapai ratusan miliar rupiah. Dihitung selama sebulan terakhir, nilai transaksi perdagangan saham BUMI mencapai Rp 8,1 triliun. Tidak salah jika pelaku pasar menyebut saham BUMI kembali menyandang julukan saham sejuta umat.

Padahal, sejak Juli 2015 hingga Juni 2016, harga saham BUMI tiarap di harga Rp 50 per saham. Malah, di pasar negosiasi, saham bumi diperdagangkan dengan harga di bawah 50 perak. Perdagangan saham BUMI juga sepi sejak harganya terdampar di Rp 50 per saham. Dalam sehari, nilai trasaksi perdagangan saham BUMI hanya ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah.

Jauh-jauh hari sebelum anjlok di titik terendah, BUMI memang menjadi saham sejuta umat lantaran peminat bejibun. Transaksi perdagangan saham BUMI tak pernah sepi. Sebelum merosot, harga saham BUMI pada lima tahun lalu masih di kisaran Rp 2.500 per saham.

Tentu, saham BUMI tidak anjlok begitu saja menjadi gocap tanpa alasan. Isu paling utama pada saat itu adalah beban utang yang begitu besar hingga membikin perusahaan kesulitan untuk membayar. Ditambah lagi, harga batubara dunia terus menurun  hingga mencapai titik terendah di kisaran US$ 41 per metrik ton pada Januari 2016.

Nah, arah angin mulai berbalik arah saat tren harga batubara kembali menguat. Pada saat hampir bersamaan, BUMI berhasil menyelesaikan proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Pada November tahun lalu, para kreditur BUMI telah menyepakati proposal perdamaian berupa konversi utang menjadi saham.

Melalui tukar guling itu, utang komersial BUMI senilai US$ 4,2 miliar akan berkurang menjadi US$ 1,6 miliar. Beban bunga utang BUMI juga akan berkurang lebih dari US$ 250 juta setiap tahun. Yang menarik, konversi utang menjadi saham BUMI akan dilakukan di harga Rp 926,16 per saham.

Dua katalis positif inilah yang mendorong harga saham BUMI naik kencang dan transaksi perdagangan tak pernah sepi dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun, secara fundamental, kinerja keuangan BUMI belum benar-benar membaik.

BUMI baru mulai membukukan keuntungan pada September 2016 lalu. Namun, ekuitas BUMI masih tercatat negatif. Jika dihitung, nilai buku per saham alias book value per share BUMI sebesar minus US$ 0,078.  Tanpa adanya restrukturisasi utang dan kenaikan harga batubara, barangkali harga saham BUMI masih anteng di Rp 50 per saham. Transaksi perdagangan juga tak seramai sekarang.

Bisa jadi, tak banyak orang menyangka harga saham BUMI bisa kembali naik hingga mencapai Rp 500 per saham. Hanya sedikit investor yang berani membeli saham BUMI saat harganya masih Rp 50 per saham.

Mereka yang mengakumulasi saham BUMI di harga Rp 50 per saham tentu mendapat angpao dalam jumlah besar dari BUMI. Salah satunya adalah Lo Kheng Hong. Investor kawakan yang populer dijuluki Warren Buffet Indonesia ini mengaku mengoleksi saham BUMI di harga Rp 50 per saham dalam jumlah banyak.

Tentu, menjadi pertanyaan mengapa pria yang akrab disapa LKH ini mau mengakumulasi saham BUMI saat beban utang begitu besar dan ekuitasnya negatif. Maklum, Lo dikenal sebagai value investor yang selalu membeli saham berdasarkan fundamental emiten.

Lo mengatakan, pemilihan suatu saham tidak hanya berdasarkan pada rasio harga saham terhadap laba bersih per saham (PER) maupun rasio harga saham terhadap nilai buku per saham (PBV).

Dalam pertimbangannya, investor yang bulan depan genap berusia 58 tahun ini  juga melihat berdasarkan nilai wajar perusahaan tersebut. Menurut Lo, BUMImemiliki cadangan batubara yang terbukti sebanyak 3 miliar ton. “Berapa nilainya?” tanya Lo.

Kalau dihitung berdasarkan harga batubara saat ini di kisaran US$ 80 per metrik ton, nilai cadangan batubara BUMI bisa sebesar US$ 240 miliar. Nah, jika kita menghitung secara konservatif dengan asumsi harga rata-rata batubara periode 2015-2016 di kisaran US$ 40 per metrik ton, nilai cadangan batubara BUMImasih sebesar US$ 120 miliar.

Menurut Lo, harga pasar saham BUMI Rp 50 per saham jelas salah harga. Sebab, dengan jumlah saham beredar sebanyak 36,6 miliar, nilai perusahaan BUMI hanya sebesar Rp 1,83 triliun. Dengan asumsi kurs rupiah sebesar  Rp 13.300 per dollar, nilai perusahaan BUMI saat harga sahamnya Rp 50 per saham adalah US$ 137 juta. “Padahal, cadangan batubara BUMI 3 miliar ton. Murah, kan?” kata Lo.

Lalu, berapa sebetulnya nilai perusahaan BUMI? Lo memberikan rumus harga wajar BUMI, yakni harga batubara dikurangi ongkos produksi lalu dikurangi lagi royalti ke pemerintah. Hasilnya perhitungan tersebut dikalikan dengan cadangan batubara yang BUMI miliki lalu dikurangi utang perusahaan. “Ini perhitungan fundamental,” ujar Lo.

Berdasarkan keterangan manajemen BUMI, Lo bilang, nilai wajar BUMI adalah US$ 4,6 miliar. Karena itulah, harga saham BUMI Rp 50 per saham merupakan kesalahan pasar dalam menghargai nilai perusahaan BUMI. Makanya, “Sebagai seorang value investor, saya harus membelinya,” ujar Lo.

Sayang Lo enggan menyebutkan jumlah pasti kepemilikan saham BUMI.  Dia hanya mengatakan, kemungkinan ia memiliki saham BUMI terbesar kedua setelah Bakrie. Yang jelas, Lo dan juga investor saham BUMI lainnya memperoleh angpao besar di Tahun Baru Imlek kali ini.

 

 

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: