Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Agustus 30, 2017

mo CIUS MAEN SAHAm, pake CARA gw d (2): RAK$A$A v wong c1l1k …TX EJ!!!

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:12 am

Edy Joenardi oleh SWA DIGELENG-GELENG KEPALAin @5T dengan modal cuma 62 jt

MENJADI MISKIN kok diajak

MENJADI SERAKAH, kok mengada-ada

BUDAYA SESAT: uang DISALAHARTIKAN

 

per tgl 01 Februari 2017, gw itung2 apa imbal hasil (gain%) dari BERBURU SAHAM BUMI sejak 17 Januari 2017… gw sebenernya dah punya sedikit saham bumi sejak kapan-kapan (bahkan pada saat berharga gocap)… namun karna tren harga saham bumi bergerak kuat kembali sejak sekira November 2016, maka gw berusaha mulai mengejar lage, apalage harganya relatif terjangkau (gw ga tau Lo Kheng Hong dah mulai duluan beli @ Rp 50) … nah gw malah mulai beli sejak sekira Rp 420 (17 Januari 2017), ekh persentase laba gw + 4K% bo :

fldtn-bumi-jan-2017

ets-small

JAKARTA kontan. Sepanjang perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini (24/1), harga saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) boleh dibilang terus menerus mengalami kenaikan. Sejak dibuka pada harga Rp 450 per saham, tak sekali pun harga BUMI turun ke bawah harga pembukaan.

Ketika perdagangan ditutup, harga BUMI sudah bertengger di Rp 480 per saham.

Sampai perdagangan usai, kebanyakan pemilik saham BUMI masih menjajagi peruntungan dengan menawarkan sahamnya pada harga Rp 490 per saham. Sebaliknya, sebagian besar peminat BUMI cuma berani memasang harga permintaan di Rp 474-Rp 478 per saham.

Sebagian besar transaksi saham BUMI terjadi di harga Rp 470 per saham dan Rp 480 per saham, baik dilihat dari frekuensi transaksi maupun volume. Hari ini investor asing mencatatkan net sell saham BUMI hingga 18,83 miliar saham.

Dengan kinerja hari ini, berarti selama seminggu terakhir harga BUMI naik sebesar 14%. Jika dihitung sejak awal tahun, harga saham tambang batubara ini sudah melompat setinggi 76,47%. Adapun dibandingkan dengan kondisi setahun lalu, sampai hari ini harga BUMI sudah terbang hingga 860%.

Setinggi apa saham BUMI akan terbang? Hanya market yang tahu.

whispering

MASALAH UTAMA KITA: PERTUMBUHAN EKONOMI bukan RUPIAH

BERTRADING saat GENT1NG, saat KRISIS DUN1A
pasar PANIK 070815 ketidakpastian THE FED FUND RATE

 

 

+160 REBU PERSEN in LABA @WIKA in 8 MONTHS only 🙂 … well, cius, gw BERTERIMAKASIH PADA EDI DJOENARDI (Edy Joenardi/EJ) yang MENGINSPIRASI gw BAHWA INVES ITU MESTI + TRAD1NG juga, dan MEM1LIH SAHAM YANG BAGUS sesuai MASAnya

+160 REBU PERSEN in LABA @WIKA in 8 MONTHS only 🙂 … well, cius, gw BERTERIMAKASIH PADA EDI DJOENARDI (Edy Joenardi/EJ) yang MENGINSPIRASI gw BAHWA INVES ITU MESTI + TRAD1NG juga, dan MEM1LIH SAHAM YANG BAGUS sesuai MASAnya

NEH TEORI INVES+TRADING SAHAM ala EDY JOENARDI yang gw PAHAMI sebagai TEROBOSAN PENTING SEKALE dalam MAEN SAHAM NEH TEORI INVES+TRADING SAHAM ala EDY JOENARDI yang gw PAHAMI sebagai TEROBOSAN PENTING SEKALE dalam MAEN SAHAM
bobo@saham 030315MAEN SAHAM SEMI-RUTIN, yaitu PANTAU SEMUA INFO TERKAIT SAHAM-SAHAM gw, DAN TETAP BISA JALAN-JALAN bareng kawan2, URUS KELUARGA, INVES PRODUK-PRODUK YANG LAEN (termasuk properti)… dan tentu aza BERBAGI LEWAT MEDIA SOSIAL neh
BACAAN gw SOAL NA$1B Rupiah KITA

AHOK, gw GA MAU JADI GUBERNUR DKI, cukup KALO ELO DENGARKAN USUL gw YANG UDA LAMA gw AJUKAN, yaitu JADIKAN JAKARTA KOTA DI BAWAH AIR

tren ihsg jelang OVER-BULLISHNESS, para analis bursa malah berekspektasi BEARISHNESS, well, gw maseh meliat ekspektasi bull jangka pendek seh 🙂
gw makin sulit memastikan ihsg k 5500 neh, karena 5457 itu RESISTENSI TERKUAT SEPANJANG SEJARAH ihsg

HARGA M1NYAK REBOUND, tren harga energi IKUTAN, biasanyAAAAA 🙂

teknikal Money Flow Index sudah semakin DEKAT 90an, berarti akselerasi tren ihsg akan menuju 5500, 5600, n 6K pada 2015, well, let’s see 🙂
tren IHSG jauh di atas TREN 2 EKONOMI MAKRO KITA YANG PALING PENTING
IHSG 6K bo…
TAKUT MENJADI INVESTOR, well, gw uda BUKTIKAN INVESTASI KEUANGAN ITU MENGUNTUNGKAN
… per tgl 14 Januari 2015, harga saham bumi melesat +33% TERHADAP AVG (RERATA HARGA BELI) saham bumi @ warteg saham gw neh :
fldtt @bumi REBOUND+33% 140115
RESOLUSI MAEN SAHAM 2015

ADU EKSPEKTASI : MANDIRI SEKURITAS v WARTEG saham gw @ IHSG akhir 2014
INDIKASI potential gain% @ warteg saham gw + 25% dalam 2 minggu, pasca kenaekan bbm

$81 Miliar digelontorkan pemerintah Tiongkok menstimuli perbankan mereka, well, ekspektasi gw : 7K @ ihsg dalam setidaknya 2 taon lage… 🙂

per tgl 02 Januari 2015, harga saham bumi @ 85, well, pas dengan AVG / rerata harga beli saham bumi yang gw usahakan … jadi begitu lah, FLDTT terbukti lage ya :

FLDTT BUMI 020115 @85
susp bumi dibuka n anjlok 071014 @166

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia membuka gembok saham PT Bumi Resources TBk (BUMI). Saham milik grup Bakrie ini merosot setelah boleh diperdagangkan kembali pagi ini, Selasa (7/10).

Mengutip Bloomberg, saham BUMI berada di Rp 169 pada pukul 10.16 WIB. Harga tersebut merosot 21 poin atau 11% dari harga terakhir Rp 190 per saham, yang tercatat 24 September lalu.

BEI melepas gembok saham BUMI setelah emiten investasi tambang batubara itu menggelar public expose insidentil kemarin. Dalam kesempatan itu, BUMI mengumumkan, penyerapan rights issue sekitar Rp 3,61 triliun atau hanya 45% dari target awalnya Rp 8 triliun.

Manajemen BUMI juga mengungkapkan niatnya menggali ladang minyak Gallo Oil dan mencari pendanaan US$ 50 juta untuk proyek minyak ini. Tak hanya itu, BUMI juga mengatakan ingin membiayai kembali (refinancing) utangnya sebesar US$ 275 juta.

http://investasi.kontan.co.id/news/gembok-dibuka-saham-bumi-merosot-11
Sumber : KONTAN.CO.ID

JAKARTA. Menjelang rights issue, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melonjak hingga 14,7%. Bahkan, saham perusahaan batubara milik Grup Bakrie ini menjadi salah satu yang menduduki top gainer hari ini.

Saham BUMI ada di posisi ke dua yang mengalami peningkatan harga paling tinggi pada perdagangan Jumat (27/6). Saham BUMI melonjak dari Rp 150 per saham menjadi Rp 172 per saham.

per tgl 30 Juni 2014 sbb:

FLDTT BUMI 300614 @179

 

per tgl 27 Juni 2014 sbb:
FLDTT BUMI 270614 @172+3% pasca gw terapkan F(okus)L(aba)D(dalam)T(ren)T(urun) @ tren harga saham bumi yang AMBLES jelang RIGHTissue
Senin lalu (23/6) BUMI berada di Rp 131 per saham, harga terendahnya selama tahun ini. Jika dihitung sejak awal pekan, saham BUMI melompat 31,3%.

BUMI berencana melepas 32,19 miliar saham seri B. Nilai per saham dibanderol Rp 250 per saham. Dengan demikian, total dana hasil rights issue ini mencapai Rp 8,04 triliun. Angka ini lebih besar dari rencana semula yang sebanyak 25,17 miliar saham di harga yang sama.

Sehingga dana yang kana dihimpun ketika itu sekitar Rp 6,5 triliun. Jika mendapat izin efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Senin (30/6) mendatang.
Editor: Sanny Cicilia

…neh gw share lage TREN BULLISH JANGKA MENENGAH @ harga saham ELSA, serta ekspektasi dari 400 ke 500 lalu ke 600 : quo vadis elsa, gw mo tambah volume @harga saham elsa guna mengejar ekspektasi yang positif @ tren jangka menengah harga saham elsa
TRIPLE DIGIT POTENTIAL GAIN% @harga saham ELSA, uda gw RAUP, malah tambah volume n potential gain% @ 2 online trading yang gw jalani juga 🙂

TRIPLE DIGIT POTENTIAL GAIN% @harga saham ELSA, uda gw RAUP, malah tambah volume n potential gain% @ 2 online trading yang gw jalani juga 🙂

BELAJAR INVESTASI DARI ORANG SUPERKAYA AMRIK, juragan investor TULEN 🙂

BELAJAR INVESTASI DARI ORANG SUPERKAYA AMRIK, juragan investor TULEN 🙂

sejak sekira 1 taon (Januari 2013)gw BOBO INVES @harga saham elsa, n per tgl 07 Januari 2014 telah +107% 🙂
… gw amati bahwa per tgl 25 Oktober 2013, harga saham elsa telah memberikan +63%, ekh, kebetulan sekira September 2013 gw uda lebe dulu mulai inves lage @ warteg yang laen (warung tegar saham gw juga) @0T B n per tgl 07 Januari 2013: +30% … coba baca2 posting2nya terkait tren harga saham tersebut ya … bwat belajar lah 🙂

… inves @elsa maseh berlanjut neh:
nah berikut gw kasi link untuk baca posting gw soal tren harga saham elsa yang naek +111% dalam lebe dari 1 taon @warteg KBSU: cek sendiri +111% nya ya 🙂

Iklan

Agustus 29, 2017

mo CUS maen saham ala warteg saham gw (cari UNTUNG sesaat)

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 2:21 am

inves + trading cara maen saham @ warteg (EXCEL FILE)

ikon gejolak

rose KECIL

Berapa sih BOTTOMnya IHSG secara teknikal, per November 2016…

saat IHSG rontok dari 5470 k 5231, aye SUKSES mengendalikan LABA saham2 gw, termasuk BUMI lah 🙂

INI ALASAN UTAMA Sri Mulyani KEMBALI menjadi MENKEU

Setengah TAON (Des 2015-Juli 2016) yang SUKSES @ warteg saham gw

2016: evaluasi imbal hasil @ warteg saham gw, DOUBLE DIGIT PERCENTAGES HIKE (JAN-JUN 2016), bo, 🙂

dollar small

imbal hasil INVESTASI REKSA DANA gw SEJAK 2002, 2003, 2005, n 2007 SUKSES menundukkan BUNGA MAJEMUK DEPOSITO BANK

long jump iconTREN HARGA SAHAM PROPERTI yang bisa + double digit percentages 2016 ini

cari untung sesaat SAAT KETIDAKPASTIAN 2015

15 hari inves @ harga saham ELSA @+75% GAIN

Edy Joenardi c1u$ maen saham BUMI RESOURCES dari 62 jt k 5 T

elnusa, ELSA tuh mampu MEMBERI UNTUNG dalam JANGKA WAKTU PENDEK (CUS)

INDY, saham yang sedang DIGORENG-goreng NEh

UNILEVER, unvr, memberi setidaknya 2 kali DIVIDEN / taon, itu SEBABNYA selalu TERJADI KENAEKAN harga saham pada AWAL TAON sejak 2010 (dibanding AWAL taon sebelumnya)

opt1m1$me TIDAK ADA PADA SAHAM-SAham bakrie et al, bumi apalagi…

pasca krisis 2008, tren harga saham kita ADA YANG + 1000% LEBE

MENJADI SERAKAH, kok mengada-ada

per tgl 04 April 2017, analisis teknikal sederhana ala warteg gw menunjukkan bahwa ekspektasi harga saham bumi balek k 500 lage, mungkin akan terjadi pada 2017 ini:

bumi 410_040417_tren

 

dalam menghadapi KETIDAKPASTIAN investasi saham, yang pasti gw tenang aza 🙂

bentuk ketenangan gw berimbas @ strategi maen saham gw

nah, salah satunya dalam MENGHADAPI VOLATILITAS KETIDAKPASTIAN HARGA SAHAM GORENGAN, sbb:

gw pernah maen saham GORENGAN kok, BERLABA bo 🙂

 

+14K% @ tren kenaekan LABA maen saham UNVR ala warteg saham gw (2010-2017)

Jakarta detik – Saham-saham Grup Bakrie mulai ‘bangkit dari kubur’. Namun dari sembilan perusahan Grup Bakrie yang tercatat di pasar modal, dua di antaranya masih menjadi saham tidur di level Rp 50 alias gocap.

Kedua emiten tersebut yakni PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Padahal, tujuh saham Bakrie lainnya sudah lama meninggalkan zona ‘gocap’ dan menjadi saham ‘zombie’ yang bergerak liar.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang menunjukan penguatan paling tinggi, pada ada 10 Juni 2016 saham BUMI mulai merangkak naik dan ditutup di level Rp 67 per saham. Sejak saat itu saham BUMI terus melejit hingga posisi Rp 505 pada 27 Januari 2017.

Lonjakan saham BUMI ini disusul penguatan saham-saham Grup Bakrie lainnya. Saham apa saja yang ikut naik tinggi?

Baca juga: Pergerakan Saham ‘Zombie’ Grup Bakrie yang Tak Lagi Gocap

Menurut Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada, saham BNBR dan BTEL tak ikut terkerek naik lantara keduanya tak terpengaruh atas sentimen positif dari rencana BUMI yang ingin melakukan restrukturisasi utang.

Pada RUPS BUMI beberapa hari yang lalu, sebanyak 99,96% pemegang saham sepakat atas rencana tersebut. Harga pelaksanaan rights issue dipatok pada level Rp 926, sehingga maksimal dana yang akan diraih lewat HMETD sebesat Rp 35,1 triliun.

Lewat rights issue tersebut, maka jumlah utang yang akan dikonversi melalui penerbitan saham baru atau rights issue sebesar US$ 2,01 miliar. Sementara untuk konversi melalui OWK senilai US$ 639 juta.

“Sentimen yang ini lebih menyasar ke emiten Bakrie yang komoditas dulu. Kebetulan harga komoditas banyak pihak memperkirakan akan naik,” terangnya saat dihubungi detikFinance, Kamis (9/2/2017).

Menurutnya untuk BTEL yang bergerak di sektor telekomunikasi tak terpengaruh juga lantaran tidak ada sentimen positif dari sektor tersebut.

“Sedangkan BNBR hanya sebagai holding, pasar tidak melihat holding-nya,” tambahnya.

Sementara menurut Analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee, saham BNBR berpotensi untuk ikut bergerak. Namun masih menunggu waktu. Sebab, para pelaku pasar yang masuk ke saham BUMI akan melakukan profit taking dan masuk ke saham Bakrie lainnya dengan harapan akan ikut terkerek naik.

“BTEL punya masih punya masalah dan karena sentimennya tidak begitu bagus. Kalau BNBR menunggu waktu untuk bergerak, karena dia holding,” tuturnya. (ang/ang)

ets-small

JAKARTA kontan. Menyambut Tahun Ayam Api, investor yang mendekap saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memperoleh angpao besar. Maklum, dalam tujuh bulan terakhir, harga saham BUMI naik hingga lebih dari 10 kali lipat.

Setelah terus-terusan reli, harga saham BUMI akhirnya menembus posisi Rp 500 per saham. Pada perdagangan hari ini, Jumat (27/1), harga saham BUMI ditutup di posisi Rp 505 per saham. Dengan begitu, saham BUMI kini memasuki kelompok harga saham Rp 500-Rp 2.000 per saham dengan fraksi harga Rp 5 per saham.

Bukan cuma harga yang naik tinggi. Transaksi saham BUMI juga meningkat drastis. Saban hari, nilai transaksi perdagangan saham BUMI mencapai ratusan miliar rupiah. Dihitung selama sebulan terakhir, nilai transaksi perdagangan saham BUMI mencapai Rp 8,1 triliun. Tidak salah jika pelaku pasar menyebut saham BUMI kembali menyandang julukan saham sejuta umat.

Padahal, sejak Juli 2015 hingga Juni 2016, harga saham BUMI tiarap di harga Rp 50 per saham. Malah, di pasar negosiasi, saham bumi diperdagangkan dengan harga di bawah 50 perak. Perdagangan saham BUMI juga sepi sejak harganya terdampar di Rp 50 per saham. Dalam sehari, nilai trasaksi perdagangan saham BUMI hanya ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah.

Jauh-jauh hari sebelum anjlok di titik terendah, BUMI memang menjadi saham sejuta umat lantaran peminat bejibun. Transaksi perdagangan saham BUMI tak pernah sepi. Sebelum merosot, harga saham BUMI pada lima tahun lalu masih di kisaran Rp 2.500 per saham.

Tentu, saham BUMI tidak anjlok begitu saja menjadi gocap tanpa alasan. Isu paling utama pada saat itu adalah beban utang yang begitu besar hingga membikin perusahaan kesulitan untuk membayar. Ditambah lagi, harga batubara dunia terus menurun  hingga mencapai titik terendah di kisaran US$ 41 per metrik ton pada Januari 2016.

Nah, arah angin mulai berbalik arah saat tren harga batubara kembali menguat. Pada saat hampir bersamaan, BUMI berhasil menyelesaikan proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Pada November tahun lalu, para kreditur BUMI telah menyepakati proposal perdamaian berupa konversi utang menjadi saham.

Melalui tukar guling itu, utang komersial BUMI senilai US$ 4,2 miliar akan berkurang menjadi US$ 1,6 miliar. Beban bunga utang BUMI juga akan berkurang lebih dari US$ 250 juta setiap tahun. Yang menarik, konversi utang menjadi saham BUMI akan dilakukan di harga Rp 926,16 per saham.

Dua katalis positif inilah yang mendorong harga saham BUMI naik kencang dan transaksi perdagangan tak pernah sepi dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun, secara fundamental, kinerja keuangan BUMI belum benar-benar membaik.

BUMI baru mulai membukukan keuntungan pada September 2016 lalu. Namun, ekuitas BUMI masih tercatat negatif. Jika dihitung, nilai buku per saham alias book value per share BUMI sebesar minus US$ 0,078.  Tanpa adanya restrukturisasi utang dan kenaikan harga batubara, barangkali harga saham BUMI masih anteng di Rp 50 per saham. Transaksi perdagangan juga tak seramai sekarang.

Bisa jadi, tak banyak orang menyangka harga saham BUMI bisa kembali naik hingga mencapai Rp 500 per saham. Hanya sedikit investor yang berani membeli saham BUMI saat harganya masih Rp 50 per saham.

Mereka yang mengakumulasi saham BUMI di harga Rp 50 per saham tentu mendapat angpao dalam jumlah besar dari BUMI. Salah satunya adalah Lo Kheng Hong. Investor kawakan yang populer dijuluki Warren Buffet Indonesia ini mengaku mengoleksi saham BUMI di harga Rp 50 per saham dalam jumlah banyak.

Tentu, menjadi pertanyaan mengapa pria yang akrab disapa LKH ini mau mengakumulasi saham BUMI saat beban utang begitu besar dan ekuitasnya negatif. Maklum, Lo dikenal sebagai value investor yang selalu membeli saham berdasarkan fundamental emiten.

Lo mengatakan, pemilihan suatu saham tidak hanya berdasarkan pada rasio harga saham terhadap laba bersih per saham (PER) maupun rasio harga saham terhadap nilai buku per saham (PBV).

Dalam pertimbangannya, investor yang bulan depan genap berusia 58 tahun ini  juga melihat berdasarkan nilai wajar perusahaan tersebut. Menurut Lo, BUMImemiliki cadangan batubara yang terbukti sebanyak 3 miliar ton. “Berapa nilainya?” tanya Lo.

Kalau dihitung berdasarkan harga batubara saat ini di kisaran US$ 80 per metrik ton, nilai cadangan batubara BUMI bisa sebesar US$ 240 miliar. Nah, jika kita menghitung secara konservatif dengan asumsi harga rata-rata batubara periode 2015-2016 di kisaran US$ 40 per metrik ton, nilai cadangan batubara BUMImasih sebesar US$ 120 miliar.

Menurut Lo, harga pasar saham BUMI Rp 50 per saham jelas salah harga. Sebab, dengan jumlah saham beredar sebanyak 36,6 miliar, nilai perusahaan BUMI hanya sebesar Rp 1,83 triliun. Dengan asumsi kurs rupiah sebesar  Rp 13.300 per dollar, nilai perusahaan BUMI saat harga sahamnya Rp 50 per saham adalah US$ 137 juta. “Padahal, cadangan batubara BUMI 3 miliar ton. Murah, kan?” kata Lo.

Lalu, berapa sebetulnya nilai perusahaan BUMI? Lo memberikan rumus harga wajar BUMI, yakni harga batubara dikurangi ongkos produksi lalu dikurangi lagi royalti ke pemerintah. Hasilnya perhitungan tersebut dikalikan dengan cadangan batubara yang BUMI miliki lalu dikurangi utang perusahaan. “Ini perhitungan fundamental,” ujar Lo.

Berdasarkan keterangan manajemen BUMI, Lo bilang, nilai wajar BUMI adalah US$ 4,6 miliar. Karena itulah, harga saham BUMI Rp 50 per saham merupakan kesalahan pasar dalam menghargai nilai perusahaan BUMI. Makanya, “Sebagai seorang value investor, saya harus membelinya,” ujar Lo.

Sayang Lo enggan menyebutkan jumlah pasti kepemilikan saham BUMI.  Dia hanya mengatakan, kemungkinan ia memiliki saham BUMI terbesar kedua setelah Bakrie. Yang jelas, Lo dan juga investor saham BUMI lainnya memperoleh angpao besar di Tahun Baru Imlek kali ini.

 

 

Agustus 16, 2017

musim DINGIN @bumi, BATUBARA DIMINTA … 281212_160817

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:50 am

 

pengekspor tambang Indonesia MULAI NAEK HARGANYA, saat INDEKS BURSA SAHAM SHANGHAI juga MENGGELIAT naek

… sila KLIK LINK DI ATAS, KE POSTING ANALISIS TEKNIKAL gw soal perbandingan tren IHSG dan BURSA SHANGHAI 🙂

$101/ metrik ton BATUBARA, tertinggi lage @ 2016

harga batubara diekspektasikan @ BUMI, tren harganya juga ya

spiral

JAKARTA kontan. Saham PT Bumi Resurces Tbk (BUMI) terkerek seiring melonjaknya harga batubara. Saham BUMI pada perdagangan Selasa (15/8) melompat 5% ke level Rp 294 per saham.

Kenaikan itu seiring harga batubara global yang kembali mencetak rekor tertinggi sejak Februari 2013. Senin (14/8), harga batubara kontrak pengiriman September 2017 di ICE Futures sempat terkerek 0,48% ke level US$ 93,55 per metrik ton. Dalam sepekan, harganya sudah melambung 2,12%.

Sentimen positif bagi batubara datang dari China. Harga komoditas ini menguat lantaran hasil produksi batubara China Juli lalu susut 7,9% menjadi 9,5 juta ton per hari. Ini jadi penurunan tertinggi dalam 19 bulan terakhir.

Lantas, apakah sentimen tersebut bakal mampu membuat harga saham BUMI terbang tinggi?

Dileep Srivastava, Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, secara fundamental, BUMI sangat kuat. Kinerja operasionalnya juga diatas rata-rata.

Fundamental bakal kian kuat seiring dengan berkurangnya utang BUMI menjadi US$ 1,6 miliar dari sebelumnya US$ 4,2 miliar. Laba semesetr I 2017 juga mencapai US$ 162,3 juta. “Semester kedua sepertinya akan lebih baik lagi,” ujar Dileep.

Memang, untuk beberapa waktu ke depan, tren kenaikan harga batubara masih cukup logis. Sebab, China juga memberlakukan inspeksi keselamatan pertambangan serta pemeriksaan dampak lingkungan pertambangan terhadap alam sekitar. Sejumlah tambang lama yang tidak efisien dan melanggar regulasi pun ditutup.

Menurut National Energy Administration (NEA), hingga Juli 2017, China telah menutup lima tambang batubara. Hingga akhir tahun, bakal ada menutup tujuh tambang lagi di Provinsi Heilongjiang. Hal ini berpotensi mengurangi suplai batubara.

valentineEVERYsmall

JAKARTA kontan. Outlook kinerja PT Bumi Resource Tbk (BUMI) masih diprediksi mulus tahun ini. Hanya saja kinerjanya sangat sensitif pergerakan harga batubara.

Menurut Analis NH Korindo Bima Setiaji dalam pandangannya secara operasional tahun ini belum ada masalah yang signifikan dapat mengganggu kinerja. Sehingga pembayaran utang dan bunga utang BUMI diprediksi tidak akan mengalami kendala.

“Adanya restrukturisasi utang maka interest cost dia juga semakin berkurang, sehingga arus kas lebih positif,” kata Bima kepada KONTAN, Senin (13/2).

Menurut catatan Bima, sepertinya laba bersih 2016 BUMI terindikasi sebesar US$ 101,6 juta. dimana penjualan batu bara naik 10,6%. Serta harga jual rata-rata yang diperkirakan naik 30%. Sehingga kinerja 2016 BUMI dianggap masih cukup baik.

Melihat ekspektasi harga batubara masih berada dikisaran US$ 70 per metric ton, dianggap juga masih terbilang cukup aman bagi kinerja BUMI. Dan seharusnya ada lonjakan sebelum beban depresiasi dan amortisasi (EBITDA) di tahun ini.

Secara fundamental, Bima belum bisa merekomendasikan saham BUMI. Tapi melihat pergerakan teknikal Bima merekomendasikan buy di target harga Rp 500 per saham.

Asal tahu saja, BUMI memiliki 2,2 miliar metric ton cadangan batu bara dan 12,4 miliar metric ton sumber daya di luar cadangan. Tambang KPC dan Arutmin memiliki perjanjian kontrak batubara yang akan berakhir di tahun 2021 dan 2019. Jangkauan pasar BUMI paling besar 40% domestik, 31% India, 12% Jepang, sisanya Filipina, China, Thailand.

doraemon

Bumi Resources (BUMI). PT Bumi Resources Tbk. (http://www.bumiresources.com/) mengestimasi dapat meraih laba bersih US$101,6 juta pada 2016, dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatatkan rugi bersih sebesar US$2 miliar. (Bisnis Indonesia)

kontan:

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memperkirakan pendapatan bersih sepanjang tahun lalu mencapai US$ 101,6 juta. Jumlah tersebut naik 151% dibandingkan pendapatan selama 2015 yang sebesar US$ 40,5 juta dengan kerugian bersih US$ 2 miliar.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI, mengemukakan, pada tahun 2016, volume penjualan batubara gabungan meningkat 10,6% year-on-year (yoy) menjadi 87,7 juta ton dibandingkan volume penjualan pada 2015 yang sebesar 79,3 juta ton.

Penjualan tersebut terdiri dari penjualan dari tambang Arutmin yang tumbuh 15,3% (yoy) menjadi 28,6 juta ton dan penjualan dari tambang Kaltim Prima Coal (KPC) yang naik 8,4% (yoy) menjadi 59,1 juta ton.

Sepanjang tahun lalu, BUMI meningkatkan volume batubara yang ditambang sebesar 6,5% (yoy) menjadi 86,5 juta ton. Khusus pada kuartal IV-2016, volume batubara yang ditambang meningkat 12,3% menjadi 23,8 juta ton.

Realisasi harga rata-rata batubara selama 2016 mencapai US$ 42,1 per ton. Harga itu menyusut 6% dibandingkan realisasi sepanjang 2015 yang sebesar US$ 44,8 per ton. Penurunan harga dipicu kondisi pasar dan eksekusi beberapa kontrak yang telah dibuat sebelumnya. Tetapi, harga jual rata-rata batubara mulai mengalami tren meningkat pada kuartal IV-2016.

“Pada tahun ini, kami memperkirakan harga patokan batubara berkisar US$ 80 per ton,” ujar Dileep, Kamis (9/2). BUMI bakal meningkatkan produksi batubara antara 5% hingga 7% dengan perkiraan kenaikan harga jual rata-rata sebesar 30%. Ia menyebut, BUMI juga tengah memfinalisasi beberapa kontrak tambahan dengan pihak Jepang.

Seperti diketahui, pada tengah tahun ini, BUMI bakal mengurangi utangnya yang sebesar US$ 4,2 miliar menjadi US$ 1,6 miliar melalui konversi saham dengan jalan rights issue sebesar US$ 2 miliar dan obligasi wajib konversi senilai US$ 639 juta. Harga konversi itu disepakati sebesar Rp 926,16 per saham.

Harga saham BUMI kemarin Rp 434 per saham.

doraemon

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Belakangan saham-saham yang terafiliasi dengan grup Bakrie mulai bergerak aktif. Salah satu yang bahkan menjadi penggerak indeks bursa adalah saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Dalam empat bulan, harga saham emiten produsen batubara tersebut naik sembilan kali lipat dari Rp 50 per lembar menjadi di atas Rp 470 per lembar pada penutupan perdagangan kemarin Kamis (26/1/2017).

Sejumlah analis pasar memperkirakan akan terjadi tren kenaikan harga saham BUMI. Ada beberapa sentimen positif yang masih menjadi daya dorong kenaikan harga saham BUMI ke depan.

Pertama, dengan adanya kesepakatan restrukturisasi dengan kreditur, maka tahun ini ada harapan saving 250 juta dollar AS dari interest payment. Sehingga, nantinya dana itu dapat masuk ke bottom line alias laba bersih BUMI.

Kedua, tahun ini produksi BUMI diperkirakan mencapai 100 juta metrik ton (MT), naik dari produksi 2016 sebanyak 80 juta MT. Kenaikan produksi diyakini akan memberikan tambahan penerimaan BUMI. Ketiga, harga acuan rata-rata batubara tahun ini diprediksikan lebih baik ketimbang 2016.

“Nah, dari ketiga alasan itu, diperkirakan akan ada perbaikan kinerja di tahun 2017 ini,” kata Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang kepada Kompas.com, Jakarta, Jumat (27/1/2017).

Mengenai restrukturisasi utang, sebagaimana diketahui, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah mengesahkan hasil perdamaian di kasus restrukturisasi utang BUMI dengan para krediturnya. Atas pengesahan ini pun, BUMI diharuskan tunduk dan menjalani perjanjian perdamaian yang telah disepakati.

Dikutip dari Kontan, Senin (28/11/2016) salah satu pengurus PKPU William E. Daniel dalam sidang mengatakan, klausul yang telah disepakati itu antara lain, utang BUMI akan dikonversi menjadi saham dan surat utang baru.

Penerbitan saham baru (right issue) dijadwalkan paling lambat pada 30 Juni 2017. Adapun harga saham sebagai debt to equity convertion itu pun disepakati sebesar Rp 926,16 per lembar, turun dari penawaran awal Rp 1.149.

Sejak pengesahan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat itu, saham BUMI terus naik. Bahkan kenaikannya juga diikuti oleh emiten lain yang masih terafiliasi dengan grup Bakrie antara lain PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).

Adapun harga batubara pada tahun ini diproyeksikan meningkat. Kenaikan harga komoditas ini sebenarnya sudah terjadi sejak paruh kedua tahun lalu.

Kenaikan signifikan terjadi pada kuartal terakhir, di mana harga batubara acuan pada Oktober 2016 sekitar 69,07 dollar AS per ton dan pada November 2016 melonjak menjadi 84,89 dollar AS per ton.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan harga batubara acuan pada Januari 2017 di level 86,23 dollar AS per ton. Bila dibandingkan Januari 2016 yang sebesar 53,2 dollar AS per ton, maka harganya sudah naik 62 persen.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio beberapa waktu lalu mengatakan, saham-saham grup Bakrie mengalami kenaikan signifikan didorong dua hal, utamanya restrukturisasi utang dan membaiknya harga komoditas seperti batubara dan CPO.

Saham BUMI yang semakin likuid hingga tercatat masuk dalam indeks LQ45 juga dinilai atraktif bagi investor.

whispering

JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berhasil mencetak kenaikan penjualan batubara sebesar 10,7% menjadi 64,6 juta ton hingga September 2016, bandingkan dengan realisasi periode sama tahun lalu 58,4 juta ton.

Pertumbuhan penjualan terbesar berasal dari tambang perseroan, yaitu PT Kaltim Prima Coal (KPC) sekitar 11,6% dari 39,8 juta ton menjadi 44,5 juta ton batubara. Sedangkan penjualan batubara dari tambang PT Arutmin Indonesia dengan pertumbuhan sekitar 8,6% dari 18,6 juta ton menjadi 20,2 juta ton.

Director & Corporate Secretary Bumi Dileep Srivastava Manajemen mengatakan Bumi Resoures disebutkan bahwa volume batubara yang berhasil ditambang perseroan juga mengalami peningkatan sekitar 4,5% menjadi 62,7 juta ton, bandingkan dengan Januari-September 2015 sebanyak 60 juta ton.

Sedangkan nisbah penguasan tanah (overburden) turun sekitar 2,5% menjadi 7,1 hingga September 2016, bandingkan dengan 7,3 pada periode sama tahun lalu. “Penurunan nisbah pengupasan disebabkan oleh pengurangan untuk KPC. Hal ini juga mencerminkan efisiensi biaya,” tuturnya melalui penjelasan resmi di Jakarta, Rabu (2/11).

 

 

 

Parluhutan/PAR

BeritaSatu.com

ets-small

Musim Dingin Membuat Permintaan Batubara Naik
Oleh Muhammad Yazid – Rabu, 12 Desember 2012 | 09:00 WIB

kontan

Lihat saja produksi batubara selama November lalu yang mencapai 46 juta ton. Produksi ini naik 39,4% dibandingkan dengan produksi pada September yang hanya sebanyak 33 juta ton. Edi Prasodjo, Direktur Pengusahaan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan, dengan tambahan produksi pada bulan lalu, maka jumlah produksi batubara selama periode Januari-November 2012 mencapai 356 juta ton.
“Melihat besaran realisasi tersebut, dan perbandingan dari rencana produksi 2012, yakni sebanyak 332 juta ton hingga 386 juta ton, bisa dikatakan tidak ada hambatan yang cukup berarti pada produksi batubara di tahun ini,” kata dia ke KONTAN, Selasa (11/12).

Menurut Edi, dari total produksi Januari-November, sebanyak 260 juta ton diekspor. Selain itu, sebanyak 88 juta ton dijual di dalam negeri, dan sisanya sebanyak 8 juta adalah total stok perusahaan batubara.

Kalau diperinci lagi, pasokan batubara domestik, sebanyak 51 juta ton untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), baik milik PT PLN maupun swasta. Sedangkan sisanya diserap industri pupuk, petrokimia, maupun trader batubara.

Edi berharap, musim dingin di belahan bumi utara akan meningkatkan ekspor batubara. Karena itu, harga batubara pun mulai merangkak naik. “Kenaikan harga saat ini memang pengaruh musim dingin, tapi belum terlalu signifikan kenaikan harganya,” ujarnya.

Berdasarkan harga batubara acuan (HBA) yang diterbitkan Ditjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, pada Desember 2012 ini, HBA yang ditetapkan mencapai

US$ 81,75 per ton

, atau naik tipis dibanding harga acuan selama November, sebesar US$ 81,44 per ton.

Selain itu, sambung dia, peningkatan produksi batubara dalam negeri selama sebulan lalu juga didorong dari tambahan data yang baru masuk dari perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP). “Ada kekurangan data-data produksi yang belum masuk di bulan-bulan sebelumnya yang kami masukkan pada November ini,” kata Edi.

Naik US$ 100 per ton

Supriatna Sahala, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) mengatakan, selama bumi utara dilanda musim dingin, permintaan batubara masih akan terus meningkat.

Menurut dia, APBI optimistis, target atas produksi yang dipatok sebesar 382 juta ton bisa tercapai hingga akhir Desember nanti.
Ia menambahkan, sekarang ini harga batubara berkalori tinggi mencapai US$ 95 per ton, atau jauh meningkat dibandingkan dengan tiga atau empat bulan lalu yang hanya US$ 86 per ton.

Menurutnya, harga tersebut berpotensi untuk terus meningkat hingga pertengahan tahun depan. “Peningkatan harga batubara tentunya akan mendorong pertumbuhan produksi batubara nasional di akhir tahun ini,” kata dia.

Meski begitu, Supriatna menjelaskan, sejatinya stok pasokan batubara di pasar internasional masih melimpah. Nah, yang terjadi saat ini hanyalah peningkatan permintaannya saja.

Dengan demikian, ia memproyeksikan, peningkatan harga nantinya tidak dapat mencapai harga jual batubara seperti 2011 silam yang mencapai US$ 120 per ton. Supriatna memprediksi, peningkatan harga hanya akan mencapai US$ 100 per ton.

Muhammad Yazid

ets-small

Agustus 10, 2017

Bakr1e’s GAME (12)

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 12:13 am

inves + trading cara maen saham @ warteg (EXCEL FILE)

dollar small

JAKARTA kontan. Menyusul tuntasnya restrukturisasi utang PT Bumi Resources Tbk (BUMI), entitas Grup Bakrie lainnya bakal menjalankan rencana serupa guna mengurangi beban utangnya yang menggunung.

Ada PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), ada juga PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) serta sejumlah emiten Grup Bakrie lainnya. Polanya hampir sama.

Emiten-emiten ini bakal menggelar rights issue dengan skema penerbitan saham tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) untuk kemudian dilanjutkan dengan konversi utang per saham.

Lantas, akankan proses restrukturisasi itu bakal sepenuhnya lancar hingga akhir? Sepertinya tidak.

Seperti biasa, sebelum melakukan restrukturisasi, emiten-emiten itu kebanyakan terlebih dahulu menggelar reverse stock. ENRG reverse stock dengan rasio 8:1. UNSP reverse stock 10:1.

Memang pada akhirnya rencana reverse stock disetujui oleh para pemegang saham. Tapi, persetujuannya baru diperoleh pada RUPSLB ketiga lantaran yang pertama dan keduanya tidak kuorum. Maklum, banyak investor terutama ritel yang ogah dengan saham reverse stock karena risikonya bisa meningkat drastis.

Proses reverse stock kelar, tinggal tahap menuju rights issue. Dalam tahap ini, prosesnya juga belum tentu lancar, apalagi jika skemanya menggunakan skema non-HMETD.

Para kreditur pada akhirnya lebih memilih konversi utang dari pada perusahaan debiturnya pailit. Dengan kata lain, seiring dengan negosiasi yang terus berjalan, mereka akan setuju, tentu dengan sejumlah persyaratan. “Jika ingin berjalan lancar, setidaknya harus ada standby buyer saat menggunakan skema non-HMETD,” ujar analis Oso Sekuritas Riska Afriani kepada KONTAN, Rabu (9/8).

Hal ini setidaknya untuk mengantisipasi tidak terserapnya seluruh saham rights issue. Sebab, potensi ini pasti ada, apalagi ketika harga pelaksanaan rights issue berada diatas harga pasar.

Hal ini sudah terbukti saat restrukturisasi utang BUMI. “Semua bisa berjalan lancar karena sudah ada penjaminnya,” imbuh Riska.

Anggaplah sampai proses itu kelar. Sekarang pertanyaannya, apakah saham-saham Grup Bakrie masih layak dikoleksi?

Hans Kwee, analis Investa Saran Mandiri bilang, bisnis Grup Bakrie itu ada. “Tapi, leverage-nya tidak oke,” ujarnya.

Jadi, butuh waktu yang cukup panjang untuk mengembalikan posisi terbaiknya. Untuk mengembalikan kepercayaan investor juga butuh waktu lama.

Riska menambahkan, dari sejumlah emiten Grup Bakrie yang tengah memproses restrukturisasi, ENRG menjadi salah satu yang masih paling layak dikoleksi.

Upaya ENRG untuk merestrukturisasi utangnya sudah terlihat bahkan sebelum memulai proses reverse stock. Hal ini tercermin dari kinerja keuangan ENRG kuartal I 2017 dimana ENRG mampu mencetak laba seiring dengan turunnya beban bunga. “Net profit margin ENRG sekarang juga tinggi hampir 60%,” tambah Riska.

Ini menjadi dasar ia merekomendasikan buy saham ENRG dengan target harga Rp 230 per saham.

Yudi Ilhamsyah, analis Samuel Sekuritas dalam riset 4 Agustus menjelaskan, utang ENRG menjadi minor jika disandingkan dengan portofolio aset ENRG di Blok Kangean, Bentu, Buzi, dan Gebang. Blok Buzi dan Gebang saja memiliki cadangan gas setara dengan 50 Mmboe dan 150 Mmboe. Justru karena sentimen utang, valuasi saham ENRG menjadi murah, padahal nilai perusahaannya tidak semurah itu.

Kondisi ini membuat potensi upside saham ENRG cukup lebar. “Potensi upside-nya 51%, buy dengan target harga Rp 209 per saham,” tulis Yudi.

whispering

JAKARTA kontan. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) belum juga keluar dari jerat kerugian. Total rugi bersih BNBR tahun 2016 membengkak 105% menjadi Rp 3,6 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.

Pendapatan BNBR turun 37,81% menjadi Rp 2 triliun. Sementara laba bruto turun dari Rp 626 miliar menjadi menjadi Rp 96 miliar. Penurunan beban yang tidak sebanding dengan penurunan pendapatan membuat BNBR membukukan rugi usaha Rp 443,9 miliar.

Meski sudah membukukan laba selisih kurs sebesar Rp 212 miliar, BNBR memiliki rugi bersih pada entitas asosiasi dan pengendalian bersama sebesar Rp 1,5 triliun. Selain itu, ada beban penyisihan penurunan nilai investasi sebesar Rp 1 triliun.

Dalam laporan keuangan, Selasa (28/3), BNBR menyebutkan penurunan nilai (impairment) itu berasal dari entitas PT Kalimantan Prima Power sebesar Rp 921,3 miliar dan PT Guruh Agung sebesar Rp 102,4 miliar.

Entitas asosiasi BNBR di Singapura, Bakrie Petroleum International Pte Ltd dengan kepemilikan 41% saham, mengalami rugi bersih Rp 4,5 triliun pada tahun 2016. Padahal di tahun 2015, entitas ini mencetak laba Rp 1,4 triliun.

Kinerja BNBR di akhir 2016 berubah drastis dari kinerja pada Kuartal III 2016 yang masih mencatatkan laba bersih Rp 20 miliar. Hingga berita ini diturunkan, KONTAN belum mendapat respons dari manajemen BNBR terkait laporan keuangan perseroan tahun lalu.

William Suryawijaya, Kepala Riset Asjaya Indosurya Securities mengatakan, melihat kinerja perseroan yang masih tertekan, ia menilai masih banyak risiko pada kinerja jangka panjang BNBR. “Selain harus fokus mengurangi utangnya, BNBR perlu memperbaiki tata kelola perusahaan,” tandas William.

smoke chimney SMALL

Bisnis.com,  JAKARTA – Belum dimulainya operasi produksi pada tiga aset pertambangan utama, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) mencatatkan peningkatan rugi bersih yang cukup signifikan sepanjang tahun lalu.

Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tersebut, sepanjang 2016 mencatatkan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$315,45 juta atau meningkat 632,75% dari US$43,05 juta pada 2015.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia, Selasa (21/3/2017), menunjukkan pendapatan perseroan juga tergerus signifikan, yakni terpangkas 82,65% menjadi US$2,17 juta pada 2016 dari US$12,51 juta pada 2015.

Manajemen perseroan menjelaskan dalam laporan tersebut, pos pendapatan tersebut diperoleh dari jasa penasehat pemasaran yang dilakukan oleh anak usaha mereka Bumi Resources Japan Company Limited terhadap Mitsubishi Corporation RtM Japan Ltd.

Dari jasa pemasaran batubara untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2016 perseroan meraup pendapatan sebesar sebesar US$1,17 juta. Sementara, jasa pemasaran batu bara tersebut pada 2015 menghasilkan pendapatan sebesar US$12,51.

Namun, pada 2016, BRMS memperoleh tambahan pos pendapatan dari jasa penasehat pemasaran yang dilakukan perseroan terhadap PT Petromine Energy Trading untuk memasarkan produknya. Melalui jasa penasehat pemasaran tersebut, perseroan meraup pendapatan sebesar US$1 juta.

Padahal, perseroan telah mampu menekan beban usaha sebesar 62,71% dari US$13,89 juta pada 2015 menjadi US$5,18 pada 2016. Hanya saja, minimnya pendapatan usaha membuat rugi usaha perseroan pada 2016 tercatat sebesar US$3,01 juta.

Pada pos beban lain-lain dalam laporan keuangan 2017 terdapat penurunan nilai aset sebesar US$660,26 juta, sedangkan pada 2015 pos ini nihil. Pos ini pada akhirnya mendorong rugi sebelum pajak melonjak 557,09% menjadi US$515,88 juta pada 2016 dari US$78,51 juta pada 2015.

Pos itu termasuk dalam Catatan 8 yang dalam laporan keuangan 2016 dijelaskan sebagai penjualan kepemilikan PT Multi Daerah Bersaing di PT Newmont Nusa Tenggara yang dijual pada 2 November 2016.

Dalam keterangan terpisah di Bursa Efek Indonesia yang dipublikasikan Selasa (21/3/2017), Direktur BRMS Fuad Helmy mengungkapkan perubahan lebih dari 20% atas pos total aset dan pos kewajiban pada laporan tahunan 2016, terutama disebabkan oleh realisasi pengalihan saham pada entitas anak serta penurunan pinjaman perseroan.

Kendati kinerja pada 2016 merosot, Bisnis mencatat induk usaha mereka yakni BUMI kini tengah menjajaki pembicaraan dengan dua investor dari Australia dan Afrika Selatan untuk mengembangkan aset BRMS di Gorontalo dan Palu.

Direktur Utama BUMI Ari S. Hudaya mengatakan anak usaha BUMI yakni BRMS saat ini tengah melakukan fase persiapan pengembangan tambang di ketiga aset utama mereka. Dia mengungkapkan saat ini perizinan sudah hampir selesai dan tinggal menunggu izin kontruksi dari pemerintah.

Setelah proses perizinan selesai, lanjutnya, kontruksi ditargetkan dimulai pada semester II tahun ini, atau usai Juni, khususnya untuk di dua aset BRMS yakni PT Gorontalo Minerals dan PT Citra Palu Minerals.

Namun demikian, pihaknya hingga kini masih berdiskusi dengan sejumlah investor terkait metode penambangan yang akan diterapkan, karena besarnya belanja modal akan sangat tergantung dari metode tersebut.

“Untuk copper dan gold kita masih diskusi dengan investor dari Australia, dan satu dari Afrika Selatan. Ada dua scheme, melalui epc, jadi mereka yang akan build dan operate, atau melalui joint financing,” katanya.

Skema inilah yang saat ini dibahas bersama investor. Skema dan kebutuhan pendanaan sangat bergantung dari pemilihan metode panambangan. Dari data cadangan, lanjutnya, aset Gorontalo Minerals lebih cocok untuk dikembangkan menggunakan tambang terbuka, sedangkan untuk aset Citra Palu dan PT Dairi Prima Mineral lebih cocok untuk dikembangkan menggunakan tambang bawah tanah.

valentineEVERYsmall

per tgl 24 Februari 2017:

JAKARTA ID– Pemegang saham PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) merestui aksi penggabungan saham (reverse stock) perseroan dengan rasio 10:1. Dengan demikian, nilai nominal saham perseroan yang awalnya sebesar Rp 100 menjadi sebesar Rp 1.000 per saham.

 

Sebanyak 20,3% pemegang saham Bakrie Plantation hadir dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang agendanya meminta persetujuan reverse stock. Sebanyak 87,1% pemegang saham yang hadir memberi restu perseroan untuk melangsungkan reverse stock.

 

Disetujuinya rencana reverse stock tersebut membuka jalan Bakrie Plantation untuk memulai proses restrukturisasi utang dengan kreditor. Sejumlah kreditor perseroan memang mensyaratkan reverse stock sebelum memulai negosiasi restrukturisasi utang, karena lender ingin melihat harga wajar saham perseroan terlebih dahulu.

 

Direktur dan Investor Relation Bakrie Sumatera Plantation Andi Setianto mengatakan, untuk tahap awal perseroan akan merestrukturisasi utang wesel bayar senilai Rp 1 triliun. Perseroan menargetkan restrukturisasi utang tuntas pada semester I tahun ini.

 

“Utang wesel bayar biaya bunganya paling mahal,” jelas Andi di Jakarta, senin (20/2).

 

Sejatinya, utang wesel bayar perseroan pada 2010 senilai US$ 77,5 juta dengan tingkat bunga sebesar 8% per tahun. Kemudian pada 4 Februari 2014 wesel bayar tersebut diamandemen dengan fasilitas baru hingga sebesar US$ 100 juta dan akan jatuh tempo tahun ini.

 

Perseroan telah mengalami gagal bayar bunga wesel bayar sejak 4 September 2014. Namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut dari pemegang wesel terhadap gagal bayar tersebut. Utang wesel bayar merupakan utang yang pelunasannya dijamin dengan harga saham. Jadi, biaya bunga akan sangat tergantung pada pergerakan harga saham perseroan.

 

Dia juga mengungkapkan bahwa restrukturisasi utang terbuka bagi semua kreditor. Terdapat dua utang lain yang menjadi fokus restrukturisasi utang perseroan, yakni utang sindikasi Credit Suisse dan utang kepada Bank Mandiri. Besarnya utang Bakrie Plantation membuat biaya bunga yang perlu ditanggung setiap tahun cukup tinggi. Setiap tahun, perseroan perlu membayar biaya bunga utang mencapai Rp 600 miliar.

 

Sejak 2015, biaya bunga utang perseroan lebih tinggi dibandingkan dengan perolehan laba bruto. Sepanjang 2015, biaya keuangan yang ditanggung perseroan sebesar Rp 611,6 miliar sementara laba bruto sebesar Rp 513,6 miliar. Sementara hingga kuartal III – 2016, biaya keuangan perseroan mencapai Rp 563,9 miliar dan laba bruto sebesar Rp 301,2 miliar.

 

“Biaya bunga perseroan lebih tinggi dari laba bruto, itu tidak sehat,” katanya.

 

Melalui restrukturisasi utang, perseroan menargetkan biaya bunga setiap tahun dapat terpangkas sebesar 50%. Berkurangnya biaya bunga bisa membuat perseroan memperoleh laba bersih. Perseroan tengah mendiskusikan sejumlah mekanisme restrukturisasi utang. Satu di antara opsi restrukturisasi utang perseroan adalah mengonversi utang menjadi ekuitas melalui penambahan modal hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD /rights issue) atau non-HMETD (non-preemptive rights issue).

 

Andi menjelaskan bahwa proses restrukturisasi utang akan berdampak positif karena berkurangnya beban keuangan, memperkuat arus kas operasional dan lebih sehatnya struktur permodalan perseraon.

 

“Lebih banyaknya ketersediaan dana untuk kegiatan operasional kebun dan pabrik akan meningkatkan lagi produksi sawit  dan karet perseroan,” katanya. (fik)

whispering

per tgl 09 Februari 2017, tinggal 2 saham Bakrie 9 yang lom menunjukkan pertanda bangkit dari gocap (Rp50):

Jakarta detik- Ketika krisis moneter melanda pada 2008 saham-saham dari perusahaan yang terafiliasi Bakrie Group tumbang hingga level terendah Rp 50. Sejak saat ini para pelaku pasar modal memandang miring saham-saham Bakrie.

Sebenarnya saham-saham Grup Bakrie sebelum dihempas oleh badai krisis tersebut sempat berada di harga yang fantastis. Seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang pernah mencapai titik tertinggi di level Rp 8.300 per saham pada 16 Juni 2008.

Namun di tahun yang sama saham-saham Bakrie mulai berguguran. Saham BUMI juga ikut terseret ke level Rp 50 per lembar pada 28 Juli 2015.

Begitu pula dengan saham-saham Grup Bakrie yang total berjumlah 9 emiten. Seperti PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) dan PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN).

Namun pada 10 Juni 2016 saham BUMI mulai merangkak naik dan ditutup di level Rp 67 per saham. Kemudian kembali bergeliat, pada 20 Oktober 2016 BUMI berhasil naik ke level Rp 123.

Kenaikan saham BUMI lantaran adanya sentimen positif dari rencana perseroan yang ingin melakukan restrukturisasi utang dengan melakukan konversi utang menjadi saham. Sejak saat itu saham BUMI terus melejit hingga posisi Rp 505 pada 27 Januari 2017.

Demikianlah data perdagangan yang dikutip detikFinance, Kamis (9/2/2017).

Kendati begitu, saham BUMI dijuluki sebagai saham zombie. Menurut Analis Saham Ellen May, saham ‘Zombie’ adalah sebutan untuk saham yang sudah tidur lama di liang kubur kemudian bangkit tiba-tiba. Namun ada kemungkinan bisa kembali ke liang kubur.

Namun sejak menyentuh level tertingginya, saham BUMI perlahan turun dan bergerak di atas level Rp 400. Hari ini hingga pukul 10.15 WIB saham BUMI berada di level Rp 440 menguat 10 poin dari pembukaan pagi tadi di level Rp 430.

Sementara saham BRMS mulai meninggalkan julukan saham ‘gocap’ sejak 19 Oktober 2016 dan terus bergerak hingga level tertinggi Rp 149 di 2 Februari 2017. Sedangkan DEWA bangkit sejak 6 Januari 2017 dan menyentuh level tertinggi di level Rp 95 pada 31 Januari 2017.

Lalu ELTY mulai menguat pada 26 Januari 2017 ke level Rp 52 dan menyentuh level tertinggi hingga hari ini yang sudah tembus diatas Rp100. ENRG juga menguat sejak 26 Januari dan menyentuh level tertinggi pada 30 Januari 2017 di level 82. Sedangkan UNSP dan MFTN masing-masing hari ini beradi di level Rp 81 dan Rp 58. Sementara hanya saham BNBR dan BTEL yang masih betah di level Rp 50.

(mkj/mkj)

whispering

per tgl 27 Januari 2017, wow, 5 dari Bakrie 9 mulai MENGGELIAT, bahkan MENEMPATI POSISI TERATAS TRANSAKSI TERTINGGI BEI :

5-of-bakrie9-jan-2017

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berambisi mengangkat kinerja keuangannya secara signifikan pada tahun ini. Selain berharap pada kenaikan harga komoditas, BUMI juga mengandalkan peningkatan kinerja dua anak usahanya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA).

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI, menyebut, BRMS tengah menantikan penyelesaian utang senilai US$ 600 juta, yang ditargetkan tuntas tahun ini. Pelunasan utang BRMS ini akan membantu BUMI mengurangi jumlah utang sebesar US$ 3,2 miliar.

Restrukturisasi utang BRMS akan dilakukan usai BUMI mendapat persetujuan rights issue senilai Rp 35,1 triliun. BRMS akan membayar utang dengan hasil penjualan 24% saham di PT Newmont Nusa Tenggara.

Sebagai catatan, hari ini (7/2), BUMI akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk meminta persetujuan rights issue tersebut. “Restrukturisasi BRMS ini menjadi salah satu prioritas strategis. BRMS juga akan mendorong produksi tambangnya,” ujar Dileep pada KONTAN, Jumat (3/2).

Ia menjelaskan, BRMS akan mendorong produksi seng dan timbal dari PT Dairi Prima Mineral. BRMS juga akan mengerek produksi emas serta tembaga dari PT Gorontalo Minerals dan PT Citra Palu di Sulawesi.

BUMI akan menukar utang dengan saham melalui proses rights issue. Aksi korporasi ini bakal memangkas utang sekitar US$ 2,6 miliar dan memotong beban bunga lebih dari US$ 250 juta.

Bukan cuma dari BRMS, BUMI juga mengandalkan pertumbuhan bisnis dari DEWA. Dileep bilang, DEWA ditargetkan bisa mendapatkan laba bersih di tahun 2016. Tahun ini, laba ditargetkan naik. DEWA menargetkan produksi batubara 29,1 juta ton, atau naik hampir dua kali lipat ketimbang proyeksi capaian tahun 2016 sebesar 15,1 juta ton.

Tahun ini, BUMI menargetkan penjualan 94 juta ton batubara dari tambang KPC dan Arutmin. Target itu naik dari proyeksi tahun 2016 sebesar 88 juta ton.

Reza Priyambada, Analis Binaartha Parama Sekuritas, menilai, investor cenderung melihat harga BUMI di kisaran Rp 926 per saham sesuai indikasi rights issue. Ini dilihat dari dari volume transaksi, sentimen pasar.

Meski demikian, Reza melihat bahwa jika terjadi, harga Rp 900 ini bakal makan waktu. RUPS menentukan pemegang saham setuju atau tidak menyerap saham yang lebih tinggi. “Jika pemegang saham besar setuju, mau tak mau pemegang saham publik lainnya akan mengikuti,” kata Reza kepada KONTAN, kemarin.

Kalau dilihat dari momentumnya, saham BUMI sedang berada dalam tahap konsolidasi. Dengan asumsi harga rights issue di atas harga pasar dan disetujui oleh RUPS, harga akan naik.

Kalau dalam sebulan saham BUMI bisa menyentuh Rp 600-Rp 700, harga berpeluang menuju Rp 900. Tapi, pelaku pasar juga harus mencermati potensi profit taking dari saham BUMI.

 

 ets-small

JAKARTA okezone– Lantaran terjadi peningkatan harga kumulatif yang cukup tinggi pada saham PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS), PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pun memutuskan untuk melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan saham BRMS.

Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI Irvan Susandy mengatakan, informasi terakhir yang dipublikasikan emiten adalah pada 11 Januari 2017. Dalam keterangannya, Bui Resources melaporkan aktivitas eksplorasi bulanannya.

“Sehubungan dengan terjadinya UMA atas Saham BRMS perlu kami sampaikan bahwa Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini,” imbuhnya seperti dilansir dari keterangan tertulis di BEI.

Selain itu, BEI juga meminta mencermati kinerja perusahaan tercatat dan keterbukaan informasinya, mengkaji kembali rencana corporate action perusahaan tercatat apabila rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan RUPS, dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi.

Meski demikian, pengumuman UMA ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di pasar modal.

(mrt)

ets-small

 

Merdeka.com – Saham pertambangan milik Grup Bakrie menarik perhatian pemegang saham dalam sebulan terakhir. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan anak usahanya PT Bumi Resources Minerals TBk (BRMS) meroket lebih 100 persen selama Januari 2017 saja.

Mengutip data perdagangan perusahaan, saham BUMI pada awal Januari lalu hanya bernilai Rp 280 per lembar. Namun, di 26 Januari kemarin, nilai saham perusahaan ini naik menjadi Rp 492 per lembar. Saham BUMI pernah menyentuh level tertinggi yaitu pada 25 Januari 2017 yang mencapai Rp 496 per lembar.

Tak hanya BUMI, saham BRMS juga meroket sepanjang Januari 2017. Nilai saham perusahaan ini meninggalkan level Rp 50 per lembar.

Di awal Januari lalu, nilai saham BRMS hanya Rp 67 per lembar. Namun, di 26 Januari 2016, nilai saham perusahaan naik menjadi Rp 125 per lembar. Ini adalah angka tertinggi sepanjang Januari 2017.

 whispering

Jakarta – Selamat pagi, Selamat Hari Sumpah Pemuda!

Bagaimana perdagangan saham hari ini?

Indeks Dow Jones pagi hari tadi ditutup di 18,169.68 atau melemah -0.16%. Bursa Amerika bergerak mixed disebabkan mixednya berbagai data ekonomi, seperti laporan keuangan perusahaan yang baik, tingkat pengangguran per minggu yang di atas ekspektasi, turunnya pesanan untuk “durable goods”.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin menguat 0.31% di level 5,416.83 .

Saham-saham Zombie

Sekitar tujuh tahun lalu, saham yang terafiliasi Grup Bakrie menguasai perdagangan bursa sehingga saham-saham tersebut sangat populer di kalangan investor. Namun saham -saham tersebut di lain hari justru mengalami penurunan signifikan, hingga ke level Rp 50 (Level terendah untuk perdagangan di pasar reguler BEI).

Kemarin saham bakrie kembali mendominasi perdagangan di BEI, namun hal tersebut tidak bertahan lama, karena pada sesi berikutnya saham tersebut kembali ke level 50an.

Kenapa pada bangun dari tidurnya ya?

Majelis hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat kemarin membacakan penetapan atas hasil rapat kreditur PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Adapun hasilnya, baik para kreditur dan debitur sepakat untuk menunda voting proposal perdamaian hingga 9 November 2016.

Tim pengurus PKPU BUMI mengatakan ada beberapa surat yang datang dari para kreditur untuk menunda voting atas proposal perdamaian BUMI. Kreditur meminta penundaan voting proposal lantaran masih perlu adanya diskusi baik secara internal ataupun dengan BUMI.

Bisa saja saham zombie-zombie ini bangun karena info di atas. Namun kenaikan saham ini sangat menggiurkan, bisa naik sampai AR kanan. Siapa yang tidak tertarik? Namun jangan asal beli saham zombie ini.

Salam Profit,

Ellen May (ang/ang)

Baca Juga

Review Paket Kebijakan Ekonomi ke-1 Hingga ke-13

Bahana Securities: IHSG dan Rupiah Cenderung Menguat

Akankah BUMI Lanjut Terbang Setelah Lepas dari Sangkar?

Kiwoom Securities: IHSG Akan Bergerak Negatif

Mandiri Sekuritas: IHSG Masih Akan Bergerak Datar

Saham Pilihan CPO

Kiwoom Securities: IHSG Akan Bergerak Negatif

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
NEWS FEED
  • BUMI, Saham ‘Zombie’ yang Bikin Geger

    Jumat, 28 Okt 2016 11:45 WIBSaham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengalami lonjakan beberapa kali sampai mentok batas atas (Auto Reject Atas), yang artinya ia menguat lebih dari 30% sehari.

  • Review Paket Kebijakan Ekonomi ke-1 Hingga ke-13

    Jumat, 28 Okt 2016 11:22 WIBTren perlambatan ekonomi global diperkirakan masih bakal terus berlangsung, setidaknya hingga tahun ini berakhir.

  • Aneh, Bangunan Ini Berdiri di Tengah Jalan Tol Cijago Seksi II

    Jumat, 28 Okt 2016 11:22 WIBDi tengah lalu-lalang pekerja dan alat berat yang melakukan pekerjaan jalan tol Cijago Seksi II, detikFinance menemukan pemandangan unik.

  • PLN Pakai Solar Rp 190 Miliar/Tahun Demi Terangi Pelosok Papua

    Jumat, 28 Okt 2016 11:15 WIBPT PLN (Persero) menargetkan bisa menerangi semua kabupaten di pegunungan Papua di akhir tahun 2017.

  • Kondisi Terkini Proyek Tol Cijago Seksi II

    Jumat, 28 Okt 2016 11:02 WIBPengerjaan proyek seksi II Tol Cijago telah dilakukan hingga perempatan jalan Margonda, kota Depok, begini perkembangannya.

  • Cerita Dirut PTDI, Bikin Pesawat Perintis Tanpa Bantuan Tenaga Asing

    Jumat, 28 Okt 2016 10:47 WIBPengerjaan N219 menjadi langkah PTDI dalam melakukan regenerasi kepercayaan kepada para penerus, untuk bisa diberi kepercayaan dalam pengambilan keputusan.

  • Kebangkitan Saham ‘Zombie’

    Jumat, 28 Okt 2016 10:42 WIBSekitar tujuh tahun lalu, saham yang terafiliasi Grup Bakrie menguasai perdagangan bursa sehingga saham-saham tersebut sangat populer di kalangan investor.

  • Pagi-pagi Rini Ajak Dirut BUMN Naik Bukit di Pulau Padar

    Jumat, 28 Okt 2016 10:30 WIBMenteri BUMN Rini Soemarno dan ratusan direksi BUMN tengah merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) sejumlah BUMN di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

  • Cara PLN Agar Lampung 100% Dialiri Listrik

    Jumat, 28 Okt 2016 10:10 WIBPLN menargetkan rasio elektrifikasi di Lampung bisa mencapai 100% pada tahun 2019. PLN juga bakal menambah keandalan pasokan listrik di Lampung.

  • Hebat! Pesawat Buatan RI Dipakai Thailand, Senegal, Hingga Arab

    Jumat, 28 Okt 2016 10:00 WIBHingga akhir tahun ini, PTDI menargetkan akan mengeksor pesawat untuk tiga negara, yaitu Thailand, Senegal, dan Filipina. Selain itu dengan Uni Emirat Arab.

  • Peringati Sumpah Pemuda, Rini dan Bos-bos BUMN Upacara di Pulau Padar

    Jumat, 28 Okt 2016 09:44 WIBDalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari ini, Menteri BUMN Rini Soemarno mengadakan upacara di Pulau Padar, NTT.

  • Harga Emas Antam Naik Rp 1.000/Gram

    Jumat, 28 Okt 2016 09:35 WIBHarga Logam Mulia milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) hari ini dibuka naik Rp 1.000/gram. Sementara harga buyback dibuka naik Rp 2.000/gram.

BERITA TERBARU+

  • Review Paket Kebijakan Ekonomi ke-1 Hingga ke-13Jumat, 28 Okt 2016 11:22 WIB

  • Aneh, Bangunan Ini Berdiri di Tengah Jalan Tol Cijago Seksi IIJumat, 28 Okt 2016 11:22 WIB

  • PLN Pakai Solar Rp 190 Miliar/Tahun Demi Terangi Pelosok PapuaJumat, 28 Okt 2016 11:15 WIB

  • Kondisi Terkini Proyek Tol Cijago Seksi IIJumat, 28 Okt 2016 11:02 WIB

  • 01

    Hebat! Pesawat Buatan RI Dipakai Thailand, Senegal, Hingga Arab

  • 02

    Kebangkitan Saham ‘Zombie’

  • 03

    Cerita Dirut PTDI, Bikin Pesawat Perintis Tanpa Bantuan Tenaga Asing

  • 04

    Kondisi Terkini Proyek Tol Cijago Seksi II

  • 05

    Pagi-pagi Rini Ajak Dirut BUMN Naik Bukit di Pulau Padar

  • 06

    Mau Cari Usaha yang Mudah Tapi Menguntungkan

  • 07

    Pria Ini Banting Setir, dari Asisten Direktur Jadi Penjual Roti Beromzet Rp 270 Juta/Bulan

  • 08

    Peringati Sumpah Pemuda, Rini dan Bos-bos BUMN Upacara di Pulau Padar

  • 09

    Fatwa MUI: Mencuri Listrik Itu Haram

  • 10

    Tidak Ada yang Salah Dengan Gaji Anda

  • 01

    Hebat! Pesawat Buatan RI Dipakai Thailand, Senegal, Hingga Arab

  • 02

    Kebangkitan Saham ‘Zombie’

  • 03

    Cerita Dirut PTDI, Bikin Pesawat Perintis Tanpa Bantuan Tenaga Asing

  • 04

    Kondisi Terkini Proyek Tol Cijago Seksi II

  • 05

    Pagi-pagi Rini Ajak Dirut BUMN Naik Bukit di Pulau Padar

  • 06

    Mau Cari Usaha yang Mudah Tapi Menguntungkan

  • 07

    Pria Ini Banting Setir, dari Asisten Direktur Jadi Penjual Roti Beromzet Rp 270 Juta/Bulan

  • 08

    Peringati Sumpah Pemuda, Rini dan Bos-bos BUMN Upacara di Pulau Padar

  • 09

    Fatwa MUI: Mencuri Listrik Itu Haram

  • 10

    Tidak Ada yang Salah Dengan Gaji Anda

 

JAKARTA kontan. Saham Grup Bakrie di sektor komoditas melambung beberapa hari terakhir. Misalnya, saham Bumi Resources Minerals (BRMS) yang menyentuh level tertinggi Rp 72 per saham kemarin. Angka ini naik 20% dibandingkan sehari sebelumnya.

BRMS ditransaksikan dengan volume besar, mencapai 3,15 miliar saham, jauh di atas volume rata-ratanya sekitar 135,8 juta saham. Saham Energi Mega Persada (ENRG), meski harganya tetap Rp 50 per saham, juga cukup kencang ditransaksikan.

Induk BRMS, Bumi Resources (BUMI) sempat menyentuh level tertinggi pada Senin (24/10) di Rp 150 per saham. Harga BUMI sudah naik 94,8% sejak suspensi sahamnya dibuka 5 Oktober lalu. Volume perdagangan BUMI juga cukup tinggi, 1,7 miliar saham.

Kenaikan BUMI yang cukup liar membuat saham ini masuk radar pengawasan Bursa Efek Indonesia sebagai unusual market activity (UMA) pada 21 Oktober lalu. Setelah masuk UMA, BUMI dikenai suspensi pada Selasa (25/10).

BEI bilang, suspensi BUMI di pasar reguler dan pasar tunai untuk cooling down. BEI mengingatkan investor mempertimbangkan secara matang di setiap pengambilan keputusan investasinya di BUMI. Kenaikan saham ini bermula sejak BUMI merilis laporan keuangan kuartal I dan kuartal II-2016.

Kerugian BUMI di paruh pertama tahun ini memang menyusut ke US$ 11,8 juta dari sebelumnya US$ 566,24 juta. BUMI juga masih terus berupaya melanjutkan proses restrukturisasi utang.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI dalam jawaban ke BEI, Selasa bilang, kenaikan harga BUMI mungkin karena pasar batubara mulai menggeliat. “Selain proses PKPU yang masih berlangsung, kami tak punya informasi penting dan material lainnya,” ujar Dileep.

Analis Asjaya Indosurya Securities Wiliam Surya Wijaya menilai, kenaikan saham BRMS diperkirakan mengekor saham BUMI. Saham BRMS memanas sejak ada rencana divestasi saham Newmont Nusa Tenggara (NNT) pada akhir Oktober ini.

Dana dari divestasi saham bakal dipakai untuk membayar utang. Sehingga, banyak investor berspekulasi kinerja BRMS bisa membaik.

Analis Danareksa Sekuritas, Lucky Bayu Purnomo mengingatkan trader berhati-hati melihat saham Grup bakrie. “Yang paling pertama dilihat adalah risikonya. Trader yang masuk harus siap jika saham ini kembali ke level bawah karena kinerjanya belum bagus,” ujar dia.

Lucky menilai, saham-saham ini banyak ditransaksikan jangka pendek dan berisiko kembali turun jika terkena sentimen berita negatif. Lucky pun menyarankan menghindari saham tersebut.

ets-small

Jakarta berita1- PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk berencana mengurangi jumlah saham dengan cara menggabungkan (reverse stock) dengan rasio 1 banding 10. Aksi korporasi ini akan meningkatkan harga saham emiten berkode UNSP ini yang sejak Agustus 2013 di level terendah Rp 50 per saham.

“Setiap 10 saham nominal Rp 100 per saham menjadi 1 saham nominal Rp 1.000 per saham,” kata Direktur Bakrie Sumatera Plantation Andi W. Setianto dalam paparan publik insidentil perseroan di Jakarta, Selasa (18/10).

Dia mengatakan, reverse stock merupakan upaya komunikasi perseroan dengan kreditur dalam rangka restrukturisasi utang. Aksi korporasi ini untuk kepentingan perseroan dan investor. Perseroan memperhatikan kepentingan 16.795 pemegang saham publik, dengan komposisi 83 persen pemegang saham lokal, di lebih dari 120 perusahaan sekuritas dan wali amanat.

“Paling lambat kuartal I-2017 sudah bisa restrukturisasi utang, setahun US$ 350 juta. Kita juga berupaya memangkas biaya bunga pinjaman yang hingga semester I-2016 tersisa Rp 353 miliar, turun dibandingkan tahun 2015 sebesar Rp 611 miliar,” kata dia.

Andi menjelaskan, penggabungan saham ini diharapkan dapat memperbaiki likuiditas perdagangan saham UNSP sekaligus mendapatkan harga wajar saham di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI). Selama ini pemegang saham UNSP tidak bisa menjual sahamnya yang sejak Agustus 2013 di posisi Rp 50 per saham. “Yang sell banyak, tapi tidak ada yang nge-bid,kalau pun ada, transaksi di pasar negosiasi, harganya bisa Rp 20 per saham,” kata Andi.

Direktur Utama Bakrie Sumatera Plantations Iqbal Zainuddin mengatakan, struktur permodalan yang lebih baik akan mengurangi beban keuangan dan memperbaiki fundamental perseroan, yang diharapkan dapat meningkatkan nilai perseroan dan pemegang saham. “Kami optimistis, aksi korporasi ini akan menjadi langkah awal yang positif dalam mencapai kinerja yang lebih baik,” katanya.

Dia mengatakan, penggabungan saham ini juga tidak mengubah jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh maupun modal dasar, serta tidak mengubah persentase kepemilikan pemegang saham.

Aksi korporasi ini akan diagendakan untuk mendapat persetujuan dengan pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Senin 31 Oktober 2016.

Kinerja Bakrie Sumatra Plantations pada semester I-2016 tidak terlalu menggembirakan. Perseroan merugi sebesar Rp 61,83 miliar. Pendapatan perusahaan juga turun 28,63 persen menjadi Rp 770,53 miliar dari sebelumnya Rp 1,08 triliun.

 

Whisnu Bagus Prasetyo/WBP

BeritaSatu.com

lol

Merdeka.com – PT Visi Media Asia Tbk ( VIVA) induk perusahaan PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), ANTV, tvOne dan VIVA.CO.ID mencatat pendapatan sepanjang semester I 2016 sebesar Rp 1,219 triliun atau tumbuh 9,6 persen. Pertumbuhan pendapatan VIVA di semester I 2016, lebih tinggi dari pertumbuhan industri yang diperkirakan sebesar 3,8 persen year on year (YoY).

Presiden Direktur VIVA, Anindya N. Bakrie, mengatakan pertumbuhan tersebut didukung oleh pendapatan ANTV yang mencapai Rp 858 miliar atau tumbuh 14,6 persen YoY.

“Pertumbuhan pendapatan VIVA, khususnya ANTV, adalah hasil dari penerapan strategi yang tepat dan konsisten sehingga ANTV berhasil menyiarkan program-program yang tepat bagi para pemirsanya dan pengiklan. Diharapkan VIVA dan seluruh Entitas Anak dapat melanjutkan kinerja yang baik di masa yang akan mendatang,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (5/8).

Selain mampu meningkatkan pendapatan, VIVA juga berhasil meningkatkan EBITDA semester I 2016 mencapai Rp 409 miliar atau tumbuh 13,9 persen YoY. Anindya N. Bakrie menambahkan dengan peningkatan EBITDA tersebut, maka marjin EBITDA juga mengalami peningkatan menjadi 33,5 persen dibandingkan pencapaian semester I 2015 yang mencapai 32,3 persen.

“Kami menargetkan untuk terus meningkatkan marjin EBITDA sehingga setara dengan rata-rata industri.”

Sejauh ini, dirinya mencatat ANTV meraih peringkat ke-2 dengan TV Share rata-rata 13,4 untuk periode semester I 2016, atau naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di peringkat ke-4 dengan TV Share rata-rata 11,5.

lol

we: PT Bakrie Construction mulai mengerjakan fisik pemotongan pertama konstruksi pembangunan dua “kaki jaket weelhead platform” senilai 107 juta dolar AS untuk mendukung pengeboran eksplorasi gas bumi di Blok Selat Madura.

“Adanya proyek ini membuktikan bahwa walaupun saat ini harga migas melemah di pasar internasional namun perusahaan masih eksis dan mendapat kepercayaan untuk menjalankannya,” kata Direktur Utama PT Bakrie and Brother Tbk (BNBR) Bobby Gafur Umar kepada pers usai acara itu di Merak, Cilegon, Banten, Selasa (9/8/2016).

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian pendukung pengeboran atau eksplorasi gas bumi milik Husky-CNOOC Madura Ltd (HCML) di Blok Selat Madura.

Dikatakan, proyek pembangunan dua unit “wellhead platform” itu dikerjakan konsorsium PT Bakrie Construction dengan PT Timas Suplindo, sebuah perusahaan kontraktor struktur bangunan dan komponen baja.

Penunjukan untuk mengerjakan proyek sebesar itu, katanya, membuktikan bahwa perusahaan lokal ternyata mampu dan dipercaya sehingga dinilai mampu menyerap teknologi dengan baik.

“Ini bukti bahwa di tengah lesunya sektor migas, namun bisnis manufaktur perusahaan masih bergerak dengan baik,” kata Bobby.

HCML berencana akan membangun fasilitas pengolahan gas berkapasitas 175 Juta Standar Kaki Kubik per Hari (mmscfd ) di Selat Madura.

Fasilitas pengolahan tersebut berlokasi di anjungan lepas pantai sekitar 200 kilometer timur Kota Surabaya atau 75 kilometer sebelah Tenggara Pulau Madura. Nantinya gas yang sudah diolah tersebut akan dijual untuk memenuhi kebutuhan pembeli gas di Pulau Jawa.

PT Bakrie Construction (BCons) merupakan unit usaha PT Bakrie and Brother Tbk yang memiliki pengalaman dalam fabrikasi dan proyek sektor migas.Sebanyak 70 persen proyek BCons berasal dari proyek migas, dan produk fabrikasi sudah diekspor ke sejumlah negara seperti Srilanka, Singapura, dan Australia.

Belum lama ini perusahaan menyelesaikan proyek menara tambat (konstruksi besi baja) untuk konstruksi EPC-3 Proyek Banyu Urip pesanan Mobil Cepu Ltd. (ant)

lol

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTAPT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) sepanjang semester I 2016 membukukan penjualan sebesar Rp 770 miliar.

Kebijakan Crude Palm Oil (CPO) Fund dan dampak El Nino dinilai menjadi pemicu perolehan kinerja perseroan.

“Penjualan enam bulan pertama tahun ini ditopang komoditas sawit senilai Rp 571 miliar dan karet Rp 199 miliar,” kata Direktur Investor Relations UNSP, Andi W Setianto, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (2/8/2016).

Dia mengatakan, perseroan terus melakukan program revitalisasi perkebunan dan fasilitas produksi untuk menjaga produktivitas kebun inti sawit dan karet, di tengah diskon harga jual CPO domestik akibat kebijakan CPO Fund yang memungut 50 dolar AS per ton CPO untuk subsidi program biodiesel nasional.

“Pajak Ekspor CPO yang kembali dipungut pemerintah Mei dan Juni 2016 ini, juga menambah diskon harga jual CPO dan FFB domestik yang diterima perseroan dan petani,” kata Andi.

Program revitalisasi juga dilakukan mengantisipasi dampak El-Nino yaitu kondisi cuaca ekstrim udara kering dan kurangnya curah hujan yang menyebabkan kemarau panjang dan kekeringan.

Lebih lanjut, Andi menyebut, El Nino tahun 2015 dan program biodiesel domestik menyebabkan berkurangnya ekspor pasokan sawit dunia untuk tahun 2016.

“Kondisi itu menjadi katalis perbaikan harga CPO yang mulai terlihat di akhir kuartal I 2016,” kata dia.

Menurut Andi, harga komoditas sawit utama yaitu CPO membaik dari level bulanan terendah 530 dolar AS per ton FOB Malaysia di Januari ke level tertinggi 680 dolar AS di April 2016.

lol

Pada bagian lain, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) tengah memfinalisasi penjualan saham miliknya dalam PT Newmont Nusa Tenggara (NTT) kepada pihak ketiga.

Sebelumnya, pemilik Medco, Arifin Panigoro beserta konsorsium Projosasmito dikabarkan berniat menguasai sepenuhnya saham perusahaan tambang emas tersebut.

Investor Relation Bumi Resources Minerals Herwin Hidayat mengakui, beberapa institusi telah menunjukkan keinginannya untuk membeli saham di NTT. Namun, jumlah saham yang akan dibeli, skema pembayaran, berikut nilai transaksinya masih dimatangkan.

Bumi Minerals melalui PT Multi Daerah Bersaing (MDB) mengantongi kepemilikan efektif sebesar 18% pada NTT. Adapun, pemilik saham Newmont yang lain yakni Nusa Tenggara Partnership BV (NTP) sebesar 56%, PT Pukuafu Indah sebesar 17,8%, dan PT Indonesia Masbaga Investama sebesar 2,2%.

Pertengahan April lalu, Arifin Panigoro sempat menyatakan proses negosiasi saham NTT telah masuk proses pembahasan akhir. Prosesnya diperkirakan selesai dalam waktu dekat. Selain itu, konsorsium investor Indonesia yang dikepalai mantan investment banker Agus Projosasmito pun menyatakan siap mengalokasikan dana hingga US$ 2 miliar untuk mengakuisisi saham NTT. (ID/gor)

http://id.beritasatu.com/home/bumi-resources-finalisasi-penjualan-sahamnya-di-newmont/144875
Sumber : INVESTOR DAILY

bird

Bisnis.com, JAKARTA— PT Bakrie Nirwana Semesta, anak usaha PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY) telah melakukan konversi atas piutangnya kepada PT Madison Global.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dipublikasikan Selasa (17/5/2016) dinyatakan bahwa PT Bakrie Nirwana Semesta telah melakukan konversi piutang kepada PT Madison Global (MDG) dalam bentuk surat utang konversi (SUK) berdasarkan perjanjian penerbitan pada 7 Februari 2013, menjadi saham-saham dalam (MDG).

Sekretaris Perusahaan Bakrieland Development Erry Zul Amri Djaelani menyatakan nilai piutang yang dikonversi sekitar Rp1,64 triliun menjadi 1,64 juta saham yang mewakili 82,36% dari total saham yang telah dikeluarkan oleh MDG.

Dengan demikian, pemegang saham PT Madison Global saat ini adalah Djuni Prasetya dengan 200 saham, Aprilia Yoko 200 saham dan PT Bakrie Nirwana Semesta 1,64 juta saham. Piutang Bakrie Nirwana dianggap telah diselesaikan oleh MDG, dan Bakrie Nirwana menjadi pemegang saham mayoritas dan pengendali langsung dalam MDG.

rose KECIL

Jakarta detik-PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) membukukan laba bersih Rp 148 miliar d kuartal I-2016. Periode yang sama tahun sebelumnya masih rugi Rp 88 miliar.

Sementara nilai penjualan dicatat Rp 334 miliar sepanjang tiga bulan pertama tahun 2016. Penjualan ini ditopang dari komoditas sawit dengan nilai penjualan Rp 245 miliar dan komoditas karet Rp 89 miliar.

Perseroan merevitalisasi perkebunan dan fasilitas produksi untuk menjaga produktivitas kebun inti sawit dan karet, di tengah masih lemahnya harga komoditas CPO (Crude Palm Oil) dan karet dunia di kuartal 1-2016, diskon harga domestik CPO akibat kebijakan pungutan CPO Fund US$ 50 per ton untuk mendukung program biodiesel, dan El-Nino yaitu kondisi cuaca ekstrim udara kering dan kurangnya curah hujan yang menyebabkan kemarau panjang dan kekeringan.

“Kami bekerja keras dengan sebaik-baiknya mengatasi kondisi air di kebun akibat kondisi cuaca ekstrim El-Nino tahun lalu, untuk menjaga produktivitas kebun inti sawit dan karet. Kuartal pertama semester pertama umumnya memang siklus produksi rendah, biasanya mulai meningkat pada kuartal kedua dan mencapai puncaknya di kuartal terakhir setiap tahun. Optimalisasi produktivitas pabrik, juga dilakukan dengan pembelian sawit dan karet dari petani yang tidak memiliki pabrik sekaligus membantu kesejahteraan mereka,” ujar Direktur Investor Relations UNSP, Andi W. Setianto, dalam keterangan tertulis, Selasa (10/5/2016).

Menurut Andi, harga komoditas sawit utama yaitu CPO masih berada di level bulanan rendah US$ 530 per ton FOB Malaysia di Januari yang membaik ke level US$ 630 di Maret 2016. Data pasar mencatat, trend penurunan harga CPO dari level tertinggi US$ 1.240 di Februari 2011 hingga ke level terendah US$ 480 di Agustus 2015.

Lebih lanjut, Andi menyebut, kondisi El-Nino ditahun 2015 dan program biodiesel domestik menyebabkan berkurangnya ekspor pasokan sawit dunia untuk tahun 2016, dan kondisi itu menjadi katalis perbaikan harga CPO yang mulai terlihat di akhir kuartal 1-2016.

Di sisi lain, kebijakan pungutan CPO Fund US$ 50 per ton untuk mendukung program biodiesel domestik menyebabkan diskon harga domestik CPO yang diterima Perseroan dan petani dari menjual CPO dan FFB (Fresh Fruit Bunch) di pasar lokal.

Bea Keluar CPO yang kembali dipungut Pemerintah mulai Mei 2016 ini, berpotensi menyebabkan berkurangnya pendapatan penjualan produk sawit Perseroan dan petani di pasar lokal.

“Perseroan mengikuti protokol RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) and ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) yang menjunjung tinggi prinsip ramah lingkungan dan keberlanjutan. Kita mempunyai kebijakan “zero-burning” (tanpa membakar) dalam melakukan kegiatan perkebunan khususnya aktifitas land clearing sehingga tidak ada kebakaran lahan yang berasal dari kebun Bakrie,” paparnya.

Melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia (“ASD-BSP”), Perseroan juga telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luasan lahan kebun yang sama.

Saat ini, dengan luas pertanaman sawit nasional kurang lebih 10 juta hektar, total produksi hanya sekitar 30 juta ton CPO per tahun, dengan bibit unggul maka potensi produktivitas bisa meningkat menjadi 80 juta ton CPO per tahun setelah program replanting.

Produktivitas bibit unggul ASD-BSP bisa menghasilkan 35 ton buah sawit per hektar dan ekstraksi CPO nya 23%, atau sekitar 8 ton CPO per hektar per tahun, sesuai hasil lapangan bibit unggul ASD-BSP yang sudah disertifikasi.

Dengan bibit unggul, luas lahan kebun tidak perlu bertambah menghasilkan produksi CPO berlipat ganda meningkatkan lagi produksi biodiesel untuk ketahanan energi nasional.

Perseroan melihat bibit unggul dan pendampingan petani pemilik lahan pertanaman sawit nasional kurang lebih 4 juta hektar adalah kunci produktivitas berkelanjutan sawit sebagai komoditas strategis nasional.

Direktur Utama UNSP, M. Iqbal Zainuddin menambahkan, strategi peningkatan produktivitas berkelanjutan yang sedang dilakukan akan lebih banyak lagi dirasakan dampak positifnya dalam jangka menengah dan panjang.

“Melanjuti fokus peningkatan produktivitas kebun dan pabrik, kami akan lanjutkan dengan langkah konkrit peningkatan produktivitas aset lainnya dan perbaikan struktur permodalan. Kami optimis, dalam jangka menengah dan panjang nanti perusahaan ini akan kembali bangkit menemukan momentum yang terbaik menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki fundamental bisnis yang kuat,” katanya.

(ang/drk)

Agustus 9, 2017

LABA (RUG1) @bum1 … 08072014_090817

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:05 am
MANFAATken MOMENTUM PENUNDAAN KENAEKAN THE FED FUND RATE K 2016 dengan KEBIJAKSANAAN BI RATE DI BAWAH 7%

KEBIJAKAN BI RATE TINGGI telah MENJAJAH PERTUMBUHAN EKONOMI kita

TURUNken BI RATE skarang JUGA

MENJADI SERAKAH, kok mengada-ada

JAKARTA ID- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencetak laba bersih sebesar US$ 162,3 juta pada semester I-2017, melonjak signifikan dibandingkan periode sama tahun lalu yang membukukan rugi bersih US$ 20,8 juta. Pendapatan perseroan turut meningkat hingga US$ 2,3 juta menjadi US$ 15,6 juta atau naik 2% dibandingkan tahun sebelumnya US$ 12,8 juta.

 

“Kenaikan signifikan tersebut disebabkan peningkatan harga komoditas batubara hingga 37,6% sejak akhir tahun lalu. Perseroan mulai mengurangi jumlah utang hingga US$ 2,6 miliar sampai saat ini,” ungkap manajemen Bumi Resouces dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (3/8).

 

Perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan tersebut kembali mengalami perbaikan bisnisnya sehingga terjadi penambahan pada beban usaha menjadi US$ 17,7 juta atau naik 22% dibandingkan sebelumnya US$ 14,5 juta.

 

Adapun volume penjualan komoditas batubara cukup stabil pada 41,5 juta ton pada 2017 dibandingkan dengan tahun lalu. “Meski demikian, kenaikan harga batubara menjadi penyebab utama kenaikan laba bersih perusahaan,” jelas manajemen.

 

Harga batubara tahun ini naik menjadi US$ 54,8 per ton atau naik 37,6% dari harga tahun lalu US$ 39,8 per ton. Pada kuartal II-2017 harga tersebut naik menjadi US$ 55,8 per ton sehingga dibandingkan tahun lalu total kenaikan menjadi 40,3%.

 

Tahun ini, perseroan memperkirakan adanya indikasi tren kenaikan harga batubara yang masih berlanjut, sehingga dampak positif berimbas pada kinerja perseoan hingga akhir 2017 mendatang.

 

Sejak tahun lalu perseroan menambah produksi dan masih akan menambah volume pengapalan batubara pada semester II-2017.Pihak perseroan memroyeksikan kenaikan coal mined hingga 5% dan setidaknya terjadi 30% peningkatan harga batubara dibandingkan sepanjang 2016.

 

Sebelumnya, perseroan melakukan restrukturisasi utang dengan menukarkan empat plafon utang yang ada dengan efek baru. Bumi mengedarkan nota pertukaran (Exchange Offer Memorandum/EOM) kepada kreditur separatis.

 

Adapun tanggal jatuh tempo nota pertukaran dengan total nilai US$ 3,8 miliar tersebut diperpanjang hingga 4 Agustus 2017.Menurut keterangan resminya, mana-jemen mengharapkan aksi korporasi tersebut akan berdampak pada kinerja perusahaan pada kuartal III-2017. Rilis OWK Rp 8,46 Triliun

 

Sebelumnya, Bumi Resources menyatakan segera merilis obligasi wajib konversi (mandatory convertible bond/MCB) sebesar Rp 8,46 triliun. Saat ini perseroan telah merampungkan masa penawaran awal (bookbuilding), dan menetapkan tingkat bunga untuk surat utang tersebut sebesar 6%.

 

Emisi obligasi tahun 2017 tersesbut memiliki kode BUMI01CB dan sudah dinformasikan kepada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Adapun, untuk surat utang yang dapat dikonfir-masi menjadi saham itu Bumi Resources menetapkan masa tenor tujuh tahun.

 

“Tanggal distribusi elektronik (OWK tahun 2017) akan jatuh pada 26 Juli 2017. Sementara itu, pembayaran bunga per-tama dilakukan pada 1 Agustus 2017,” ungkap Manajemen Bumi Resources dalam keterangan resmi di Jakarta, baru-baru ini. (c01)

ets-small

INILAHCOM, Jakarta – Tren kenaikan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sudah terpatahkan. Akan tetapi, sentimen lonjakan laba bersih diharapkan mampu dongkrak harga saham ‘sejuta umat’ ini.

Secara teknikal, Reza Priyambada, analis senior Binaartha Sekuritas menjelaskan, tren kenaikan yang dibentuk saham BUMI terpatahkan dengan adanya penurunan volume beli dan pergerakan beberapa indikator teknikal yang berbalik turun.

Di tengah tren pergerakan sahamnya, emiten mencatatkan kenaikan laba bersih pada kuartal I-2017. Laba bersih emiten sejuta umat ini naik US$65,571 juta atau Rp873,47 miliar jika mengacu kurs Rp13.321 per dolar AS. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan mencapai 291,73%.

Melansir dari keterbukaan informasi yang diterbitkan perseroan di situs Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (18/7/2017), laba bersih perseroan pada kuartal I-2017 tercatat sebesar US$88,04 juta dari sebelumnya US$22,47 juta. Dengan demikian, laba bersih per saham mengalami kenaikan menjadi US$2,44 dari sebelumnya US$0,62.

Selain itu, perseroan juga mencatatkan kenaikan penjualan dan pendapatan usaha menjadi US$10,3 juta dari sebelumnya US$6,47 juta. BUMI juga mencatatkan adanya penurunan rugi selisih kurs menjadi US$36.000 dari sebelumnya US$1,44 juta.

Adapun aset perseroan, tercatat mengalami peningkatan menjadi US$3,11 miliar dari sebelumnya US$3,1 miliar. Aset tersebut terdiri dari aset lancar sebesar US$536,46 juta dan aset tidak lancar sebesar US$2,57 miliar.

Di sisi lain, utang perseroan tercatat mengalami penurunan. Adapun total utang perseroan tercatat sebesar USD5,81 miliar dari sebelumnya US$5,88 miliar, dengan komposisi utang jangka pendek sebesar US$694,53 juta dan utang jangka panjang sebesar US$5,11 miliar.

Adanya berita positif dari lonjakan laba bersih tersebut, menurut Reza, diharapkan dapat menahan potensi penurunan tersebut agar pergerakan BUMI masih dapat bertahan di atas batas middle bollinger band-nya.

Jika volume beli dapat terangkat, dia memberikan rekomendasi trading buy untuk transaksi harian. Dia menyarankan masuk saham BUMI di level entry point Rp342-346. “Sementara itu, support saham ini berada di Rp338-342 dan resisten Rp350-354,” imbuhnya. [jin]

ets-small

Bisnis.com, JAKARTA – Laba PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) diproyeksikan melonjak setidaknya lima kali lipat tahun ini, ditopang oleh harga bahan bakar yang lebih tinggi serta restrukturisasi utang yang membantu memangkas biaya bunga.

Seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (11/7/2017), Direktur & Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava memproyeksi laba bersih perusahaan dapat melonjak menjadi setidaknya US$350 juta tahun ini, dari hanya US$67,7 juta pada tahun 2016.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bloomberg, nilai tersebut akan menjadi laba tertinggi sejak 2008. “Harga batu bara pada tahun 2017 terlihat rata-rata sekitar 30% lebih besar dari tahun 2016,” ujar Srivastava.

BUMI disebutkan sedang dalam proses menyelesaikan restrukturisasi utang yang mencakup rights issue senilai US$2 miliar.

Menurut Srivastava, utang perusahaan akan menyusut menjadi US$1,6 miliar dari sekitar US$4,2 miliar, sehingga membuka jalan untuk penghematan sebesar US$250 juta dalam biaya bunga tahunan saja.

Produksi batu bara BUMI pada paruh pertama tahun ini mencapai total sekitar 43% dari target tahun ini sebesar 89 juta metrik ton. Perusahaan berharap untuk meningkatkan aktivitas pertambangan di paruh kedua dengan kondisi cuaca yang kering.

Harga batu bara pun diprediksi dapat mencapai kisaran US$70 dan US$85 per ton selama dua tahun ke depan.

“BUMI akan bebas dari utang dalam sekitar 3–4 tahun begitu restrukturisasi itu berhasil diselesaikan dan apabila harga batu bara terus bergerak lebih tinggi,” lanjutnya.

“Begitu restrukturisasi utang selesai, tidak akan ada lagi yang tertinggal dalam neraca keuangan yang bisa menjadi kejutan. Kami telah mengambil beberapa langkah termasuk mencalonkan direktur independen ke dewan direksi dan komisaris perusahaan, serta menunjuk konsultan untuk mengatasi masalah tata kelola perusahaan,” ungkapnya.

Pekan lalu, BUMI mencalonkan Wayne Yao dan Haiyong Yu dari China Investment Corp., berikut Xuefeng Ruan dari China Development Bank kepada dewan direksi. Pada saat yang sama, emiten batu bara tersebut menunjuk Jinping Ma dan Benjamin Bao ke dewan komisaris perusahaan.

Perusahaan yang dimiliki Grup Bakrie itu juga menunjuk KPMG LLP sebagai auditor independen untuk memantau pengelolaan kas dan restrukturisasi utang.

“Perubahan-perubahan itu adalah langkah ke arah yang tepat untuk memperbaiki kekhawatiran investor terhadap tata kelola perusahaan BUMI,” kata Sharlita Malik, seorang analis di PT Samuel Sekuritas Indonesia.

Namun, tambah Malik, masyarakat tidak bisa mengubah persepsi perusahaan berdasarkan apa yang perusahaan lakukan dalam satu atau dua bulan terakhir. Dibutuhkan track record selama enam bulan hingga setahun sebelum investor mengubah persepsi mereka.

Sumber : Bloomberg

ets-small

JAKARTA kontan. Kinerja PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terangkat oleh prospek batubara yang lebih baik sepanjang Kuartal I-2017. Pada periode itu, BUMI mencetak kenaikan pendapatan 59% year on year (yoy) menjadi US$ 10,3 juta.

Beban usaha yang tinggi sejatinya membuat perseroan mencetak rugi usaha sebesar US$ 4,5 juta dari sebelumnya untung US$ 841.845. Namun, margin laba bersih BUMI tertolong oleh adanya laba entitas asosiasi yang naik 214% menjadi US$ 27,6 juta dan penyusutan beban bunga dan keuangan sebesar 73% menjadi US$ 44,53 juta.

Karena itu, laba bersih BUMI pun melonjak 291,81% menjadi US$ 88,04 juta. Pada periode yang sama tahun lalu, laba bersih BUMI hanya sebesar US$ 22,46 juta. Laba per 1.000 saham perseroan sebesar US$ 2,44 per saham naik dari sebelumnya US$ 0,62 per saham.

“Volume penjualan di Kuartal I 2017 sama seperti periode yang sama tahun lalu karena curah hujan yang tinggi. Namun, hal itu dikompensasi dengan kenaikan harga rata-rata sebesar 35,7% menjadi US$ 54,2 per ton,” ujar Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI kepada KONTAN, Sabtu (29/4).

Perseroan masih yakin, hingga akhir tahun ini BUMI masih akan dapat mencapai target volume penjualan sebesar 90 juta ton dengan harga rata-rata yang naik sekitar 30% dibandingkan tahun lalu.

Di sisi lain, BUMI masih mencatatkan defisiensi modal sebesar US$ 2,7 miliar. Hal ini karena liabilitas perseroan masih tinggi, yakni sebesar US$ 5,8 miliar. Sementara itu, total aset BUMI mencapai US$ 3,11 miliar. Di sisi lain, total kas BUMI hanya tercatat sebesar US$ 8,6 juta.

Dalam waktu dekat, BUMI akan menggelar rights issue dengan melepas 28,75 miliar saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Nilainya mencapai US$ 2,01 miliar atau setara dengan Rp 26,62 triliun.

Bersamaan dengan itu, BUMI juga akan menerbitkan Obligasi Wajib Konversi (OWK) sebanyak 9,1 miliar unit dengan jumlah pokok US$ 639 juta atau setara Rp 8,45 triliun. Sehingga, total aksi korporasi Grup Bakrie itu mencapai Rp 35,07 triliun.

Nantinya, setiap 100 saham akan memperoleh 78 HMETD seri A. Setiap satu HMETD Seri A memberikan hak pada pemegangnya untuk membeli satu saham baru seri B dengan harga pelaksanaan Rp 926,16. Lalu, setiap 100 saham akan memperoleh 25 HMETD Seri B yang bisa ditukar dengan OWK di harga yang sama.

BUMI juga sudah menentukan pembeli siaga yang akan menyerap HMETD apabila tidak diserap oleh pemegang saham. Bertindak sebagai pembeli siaga adalah PT Samuel International sebesar US$ 1,9 miliar atau Rp 26,36 triliun. Samuel akan memberikan komitmen penuh dalam rights issue ini di harga yang sama.

Pembeli siaga lainnya adalah PT Danatama Capital Group dengan komitmen penuh sebesar US$ 19,9 juta. Sementara itu, yang bertindak sebagai pembeli siaga sehubungan dengan sisa OWK adalah kreditor konversi OWK dengan jumlah US$ 639 juta.

Pada perdagangan Jumat (28/4), harga saham BUMI turun 1,32% menjadi Rp 448 per saham.

ets-small

Bisnis.com, JAKARTA – Sepanjang kuartal I/2017, kinerja PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) naik pesat dengan membukukan lonjakan laba yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar 291,68% menjadi US$88,05 juta dari US$22,48 juta pada kuartal I/2016.

Dalam laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia, Jumat (28/4/2017) menunjukkan pendapatan sepanjang kuartal I/2017 hanya naik 59,19% menjadi US$10,3 juta dari US$6,47 juta pada kuartal I/2017. Sementara, beban usaha juga melonjak 162,88% dari US$5,63 juta pada kuartal I/2016 menjadi US$14,8 juta.

Pada akhirnya, tingginya laju penaikan beban usaha ketimbang penaikan pendapatan mendorong perseroan mencatatkan rugi usaha sebesar US$4,5 juta pada kuartal I/2017, sedangkan pada kuartal I/2016, perseroan masih mencatatkan laba usaha sebesar US$841.845.

Kendati demikian, pada kuartal I/2017, perseroan mencatatkan kenaikan bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar 214,71% menjadi US$27,6 juta dari US$8,77 juta pada kuartal I/2016. Selain itu, penghasilan bunga dan pendapatan lain-lain juga meningkat masing-masing 98,57% dan 161,89%.

Beban bunga dan keuangan juga terpangkas 73,49% menjadi US$44,53 juta pada kuartal I/2017 dari US$168,02 pada kuartal I/2016. Selain itu, rugi selisih kurs juga menciut menjadi US$36.465 pada kuartal I/2017 dari US$1,44 juta pada kuartal I/2016. Laba tahun berjalan akhirnya naik sebesar 113,59% dari US$40,38 juta pada kuartal I/2016 menjadi US$88,25 pada kuartal I/2017.

ets-small

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) sukses membalikkan keadaan dengan meraup laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar US$67,69 juta pada 2016, dari rugi sebesar US$1,92 miliar pada 2015.

Dalam laporan keuangan 2016 yang telah diaudit dan dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (21/3/2017), menunjukkan sepanjang tahun lalu perseroan membukukan pendapatan sebesar US$23,37 juta. Perolehan pendapatan tersebut turun 42,31% dari pencapaian pada 2015 yang mencatatkan sebesar US$40,51 juta.

Sementara itu, beban usaha terpangkas sebesar 42,34% dari US$49,88 juta pada 2015 menjadi US$28,76 juta. Akhirnya, rugi usaha juga ikut tergerus 42,58% menjadi US$5,38 juta pada 2016 dari US$9,37 pada 2015.

Hanya saja, pada pos beban lain-lain untuk penurunan nilai aset serta rugi atas penghapusan piutang telah nihil pada 2016. Padahal, pada 2015, penurunan nilai aset sebesar US$885,55 juta, sedangkan rugi atas penghapusan piutang sebesar US$522,55 juta.

Selain itu, perseroan juga sukses memangkas beban bunga dan keuangan sebesar 43,77% dari US$453,22 juta pada 2015 menjadi US$254,82 juta pada 2016. Perseroan juga mencatatkan bagian ats laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar US$84,25 juta pada 2016, atau meningkat 93,01% dari US$43,65 juta pada 2015 Perseroan juga sukses mencatatkan penghasilan lain-lain sebesar US$213,21.

Kendati demikian, perseroan masih mencatatkan rugi sebelum pajak penghasilan sebesar US$9,38 juta pada 2016 atau terpangkas 99,54% dari US$2,04 miliar pada 2015. Hanya saja, pada 2016, BUMI memperoleh manfaat pajak penghasilan sebesar US$129,64 juta yang akhirnya mampu mencetak laba tahun berjalan sebesar US$120,55 juta

Sementara itu, Sharlita Malik, analis dari Samuel Sekuritas Indonesia mengungkapkan laba bersih BUMI pada 2016 positif tetapi dibawah estimasi yang diperkirakan olehnya. Secara keseluruhan, lanjutnya, BUMI mencatatkan kinerja yang positif didukung efisiensi dalam bahan bakar, biaya operasional yang lebih rendah yaitu turun 28% y-o-y menjadi US$27 per ton, dan manfaat beban pajak yang naik signifikan.

Dia menilai harga jual rata-rata batu bara pada 2016 turun, tetapi volume penjualan tercatat naik. BUMI mencatatkan penurunan harga jual rata-rata batubara sebesar 6% y-o-y menjadi US$42,1 per ton. Namun, volume penjualan batubara gabungan BUMI tercatat naik kurang lebih 10,6% y-o-y menjadi 87,7 juta ton. Menurutnya, secara umum penjualan Arutmin meningkat sebesar 15,3% menjadi 28,6 juta ton dan KPC meningkat sebesar 8,4% y-o-y menjadi 59,1 juta ton.

Adapun, lanjutnya, untuk pendorong kinerja BUMI pada tahun ini, perseroan berencana meningkatkan penjualan sebesar 5% – 7% y-o-y, mengurangi beban utang dan bunga secara signifikan serta mengembalikan kondisi keuangan yang sehat. Sharlita juga mengungkapkan dukungan dari harga batubara yang lebih tinggi 30% y-o-y serta efisiensi yang meningkat menjadi pendorong kinerja untuk BUMI kedepannya. Oleh karena itu, dia menyarankan BUY.

“BUMI berpeluang membukukan kinerja positif untuk fullyear 2017. Dengan asumsi meningkatnya harga jual rata-rata dan volume penjualan yang lebih tinggi. Kami tetap merekomendasi Buy saat ini. Valuasi terhadap BUMI masih mungkin berubah, tergantung dari kestabilan harga batubara dan perbaikan neraca keuangan BUMI,” katanya dalam risetnya, Selasa (21/3/2017).

ets-small

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sepakat untuk melakukan right issue dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Selain itu, perseroan juga memutuskan untuk tidak memberikan dividen.

Melansir keterbukaan yang diterbitkan perseroan di Jakarta, Kamis (9/2/2017), manajemen Bumi mengatakan bahwa sehubungan dengan rugi yang dialami perseroan pada tahun buku yang berakhir 31 Desember 2015, maka perseroan tidak dapat membagikan dividen kepada seluruh pemegang saham perseroan.

Sekadar informasi, PT BUMI Resources Tbk (BUMI) berencana melakukan restrukturisasi utangnya dengan melakukan right issue. Rencana tersebut akan mengurangi utang BUMI dari USD4,2 miliar atau setara dengan RP55,9 triliun menjadi USD1,6 miliar atau setara dengan Rp21,3 triliun (mengacu kepada kurs Rp13.320).

Selain itu, perseroan RUPS juga menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan dengan persetujuan dewan komisaris perseroan, untuk mengeluarkan saham-saham baru perseroan dalam rangka pelaksanaan PUT V dan obligasi wajib konversi.

RUPIS juga menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan sehubungan dengan pelaksanaan PUT V dan obligasi wajib konversi.

http://economy.okezone.com/read/2017/02/09/278/1613455/masih-rugi-bumi-resources-tidak-sebar-dividen
Sumber : OKEZONE.COM

 ets-small

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) semakin terseok. Emiten Grup Bakrie ini mencatatkan kerugian bersih senilai US$ 630,27 juta dalam sembilan bulan pertama tahun ini.

Pada periode yang sama tahun lalu, BUMI masih mencetak laba bersih US$ 12,52 juta.

Pendapatan BUMI juga menyusut dari US$ 49,4 juta pada kuartal III-2014 menjadi US$ 33,49 juta di kuartal III-2015. Beban bunga dan keuangan BUMI mencapai US$ 405,4 juta.

Mengacu laporan keuangan yang dirilis Jumat (30/10), BUMI juga masih menanggung ekuitas negatif alias defisiensi modal sebesar US$ 1,3 miliar. Beban ini jauh lebih berat daripada total defisiensi modal BUMI per akhir tahun lalu sebesar US$ 733 juta.

Total kewajiban BUMI yang tercatat di kuartal III-2015 mencapai US$ 5,7 miliar. BUMI masih harus membayar pinjaman jangka pendek senilai US$ 220,7 juta.

Bahkan BUMI memiliki pinjaman jangka panjang yang harus dibayar dalam jangka waktu setahun ke depan sebesar US$ 3,6 miliar.

Belum lagi ada obligasi konversi yang harus dilunasi dalam jangka pendek senilai US$ 375 juta.

Jakarta infobank–PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengaku tidak akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau pemotongan gaji kepada para karyawannya di tengah anjloknya harga batu bara dunia.

“Kalau dari sisi apakah kita ada rencana PHK, sampai detik ini kami masih komitmen tidak akan merumahkan atau PHK karyawan,” kata Direktur Legal BUMI Yanti Sinaga di Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2015.

Yanti sendiri merasa masih optimis dengan kondisi kedepan dan bisa survive meski kinerja perseroan tengah mengalami penurunan.

Oleh sebab itu BUMI berkomitmen untuk mempertahankan karyawannya dengan membuat struktur perencanaan dari managemen.

“Jika dibandingkan perusahan lain yang sejenis, kami yakin masih bisa survive. Semoga ke depannya masih bisa mempertahankan. Kita berusaha semua karyawan diberikan pengertian,” tuturnya.

Seperti diketahui, sebelumnya Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mengungkapkan bahwa saat ini industri tambang banyak yang merumahkan karyawannya lantaran harga komoditas kurang bersahabat.

Hal tersebut menjadi solusi untuk menekan beban perusahaan yang besar, namun pendapatannya berkurang. (*)

 

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memprediksi masih belum akan ekspansi di tahun depan.

BUMI bakal fokus ke penyelesaian utangnya yang mencapai US$ 3,98 miliar.

Tahun depan, BUMI hanya akan menganggarkan belanja modal US$ 50 juta hingga US$ 100 juta, sama dengan tahun ini.

Dana belanja modal itu akan diperoleh dari kas internal BUMI.

“Belanja modal masih akan digunakan untuk maintanance dan operasional. Belum ada ekspansi,” ujar Direktur Keuangan BUMI, Andrew Beckham di Jakarta, Jumat (2/10).

BUMI harus berhemat lantaran perlu menyediakan arus kas yang lancar. Andrew berharap harga batubara bisa pulih di tahun depan.

Tahun depan, BUMI berencana mengurangi utangnya dari US$ 3,98 miliar menjadi US$ 1,2 miliar.

Mayoritas utang tersebut akan dibayar dengan new senior secured facility, konversi ke saham dan obligasi wajib konversi.

“Kalau berjalan lancar, kami akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Desember,” imbuh Andrew.

Sehingga, perseroan berharap proses restrukturisasi bisa selesai pada Januari mendatang.

BUMI juga masih belum bisa memastikan kepastian penjualan saham anak usahanya PT Bumi Resources Minerals Tbk (BUMI) kepada China Investment Corporation (CIC).

“Kami masih harus menunggu proposal ini disetujui,” ujarnya.

Perseroan juga berencana mengkonversi sebagian utang senior notes yang senilai total US$ 1,61 miliar dari kreditur bilateral.

Restrukturisasi utang BUMI harus segera dilakukan untuk menghindari gagal bayar alias default.

Apalagi, kondisi komoditas batubara terus melorot. Tahun lalu BUMI sudah mengurangi utang sebesar US$ 950 juta.

Sebagai informasi, pada laporan keuangan Semester I-2015, BUMI mencetak rugi bersih mencapai US$ 566,24 juta.

Pada periode yang sama tahun lalu, BUMI masih bisa membukukan laba bersih sebesar US$ 130 juta karena ada laba dari penjualan aset.

Editor: Adi Wikanto.

 

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana merestrukturisasi sebagian besar utangnya. Perusahaan milik Grup Bakrie ini memiliki total utang senilai US$ 3,9 miliar. Perseroan mengajukan revisi proposal untuk merestrukturisasi utangnya tersebut.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, BUMI sudah melakukan rapat dengan para kreditur di Singapura pada Senin (28/9) ini. Dalam pertemuan itu, BUMI meminta persetujuan untuk restrukturisasi utangnya yang akan disetujui pada 22 Oktober mendatang.

Dalam proporsal itu, berkaca dari arus kas BUMI, perseroan akan tetap mempertahankan utang senilai US$ 1,2 miliar atau setara dengan 42,3% dari total utang pokok BUMI. Opsi restrukturisasi itu antara lain dengan mengkonversi utang dari China Investment Corporation (CIC) menjadi saham BUMI.

BUMI memiliki utang dari lima kreditur utama. Pertama, adalah utang dari Axis Bank senilai US$ 141 juta. Sebagian besar utang Axis bakal dibayarkan dengan menjual aset BUMI di Fajar Bumi Sakti (FBS). Lalu sisanya juga akan dibayarkan.

Nah, utang dari CIC dan CDB mencapai US$ 1,76 miliar. Sebesar US$ 407 juta akan dibayarkan dengan menukar utang dengan saham BUMI. Lalu, BUMI memiliki utang obligasi dari anak usahanya di Singapura, nilainya mencapai US$ 1,6 miliar. Utang ini juga akan dikonversi menjadi saham.

Lalu, convertible bond BUMI senilai US$ 410 juta, sebelumnya sudah mendapat perpanjangan penangguhan utang selama lima bulan oleh Pengadilan Singapura.

Dileep bilang, restrukturisasi utang BUMI harus segera dilakukan untuk menghindari gagal bayar alias default. Apalagi, kondisi komoditas batubara terus melorot. Sebelumnya, Dileep mengklaim, tahun lalu BUMI sudah mengurangi utang sebesar US$ 950 juta. Harapannya, jika restrukturisasi ini tuntas, utang BUMI bisa berkurang setengahnya.

Sebagai informasi, pada laporan keuangan Semester I-2015, BUMI mencetak rugi bersih mencapai US$ 566,24 juta. Pada periode yang sama tahun lalu, BUMI masih bisa membukukan laba bersih sebesar US$ 130 juta karena ada laba dari penjualan aset.

Kerugian BUMI di medio pertama tahun ini bermula dari anjloknya pendapatan sebesar 41,26% year on year (yoy) menjadi US$ 21,49 juta. Beban pokok pendapatan BUMI memang menurun. Tetapi, BUMI masih membukukan beban bunga dan keuangan akibat utang sebesar US$ 279,8 juta. Belum lagi, ada pos penurunan nilai aset sebesar US$ 212,32 juta yang membuat bottom line BUMI mengkerut.

Editor: Yudho Winarto.

 

JAKARTA. Laporan keuangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih berdarah-darah.

Kerugian produsen batubara milik Grup Bakrie ini makin besar saja. Pada laporan keuangan Semester I-2015, BUMI mencetak rugi bersih mencapai US$ 566,24 juta.

Pada periode yang sama tahun lalu, BUMI masih bisa membukukan laba bersih sebesar US$ 130 juta karena ada laba dari penjualan aset.

Kerugian BUMI di medio pertama tahun ini bermula dari anjloknya pendapatan sebesar 41,26% year on year (yoy) menjadi US$ 21,49 juta.

Beban pokok pendapatan BUMI memang menurun. Tetapi, BUMI masih membukukan beban bunga dan keuangan akibat utang sebesar US$ 279,8 juta.

Belum lagi, ada pos penurunan nilai aset sebesar US$ 212,32 juta yang membuat bottom line BUMI mengkerut. Lalu, ada beban lain-lain senilai US$ 166,8 juta.

Beban ini berasal dari utang dollar pihak berelasi. Utang tersebut merupakan utang tanpa bunga dan tidak memiliki jangka waktu pembayaran tetap.

Nilainya sebesar US$ 521 juta atau 9,16% dari total liabilitas BUMI.

Sampai laporan keuangan ini diterbitkan, BUMI memang belum berhasil merestrukturisasi utang-utangnya.

Tahun lalu, BUMI sempat menjual beberapa asetnya demi mencicil pembayaran utang. Namun, sampai sekarang total liabilitas BUMI belum juga berkurang.

Per Juni 2015, ada liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam jangka waktu satu tahun senilai US$ 3,5 miliar.

Jika ditotal, liabilitas BUMI malah naik menjadi US$ 5,6 miliar, dari akhir tahun lalu sebesar US$ 5,3 miliar.

Sementara total aset BUMI sebesar US$ 4,3 miliar. Kinerja ini, membuat BUMI membukukan ekuitas negatif atau defisiensi modal sebesar US$ 1,3 miliar.

Defisiensi modal itu membengkak dari sebelumnya US$ 733 juta.

Sebelumnya, BUMI berharap bisa mengurangi utang senilai US$ 2 miliar di tahun ini. Namun, niat itu belum juga direalisasikan.

BUMI masih melakukan negosiasi dengan bond holder atas utang obligasi BUMI yang diterbitkan tiga anak usahanya di Singapura.

Khusus untuk restrukturisasi obligasi, BUMI memperoleh perpanjangan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) alias moratorium dari pengadilan Singapura. Perpanjangan PKPU ini akan berakhir 24 Oktober mendatang.

Sebelumnya, Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, salah satu opsi restrukturisasi yang tengah dikaji BUMI adalah dengan mencari investor strategis untuk membantu BUMI menyelesaikan utang.

BUMI juga membuka peluang untuk kembali melakukan penukaran saham dengan utang dengan kreditur. Sementara penjualan aset masih belum menjadi opsi utama BUMI untuk menuntaskan utangnya.

Saham BUMI masih tak berkutik dari level Rp 50 per saham.

Editor: Adi Wikanto.

JAKARTA. PT Trada Maritime Tbk (TRAM) menjadi emiten dengan penurunan harga saham terdalam secara year-to-date (ytd) hingga Juni 2015. Saham perusahaan perkapalan ini anjlok 76,3% ke posisi harga saham terendah, yakni Rp 50 per saham.

Berikut 10 saham top loser hingga Juni 2015:
1. TRAM
2. PT Buana Listya Tama Tbk (BULL): turun 76,25% ke Rp 95 per saham
3. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS); turun 71,11% ke Rp 91 per saham
4. PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN): turun 66,83% ke Rp 69 per saham
5. PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU): turun 63,91% ke Rp 415 per saham
6. PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD); turun 62,61% ke Rp 265 per saham
7. PT Wintermar Offshore Marine Tbk WINS): turun 60,24% ke Rp 328 per saham
8. PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID): turun 58,55% ke Rp 80 per saham
9. PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP): turun 58,49% ke Rp 193 per saham
10. PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO): turun 54,84% ke Rp 70 per saham.

Editor: Hendra Gunawan

 

TEMPO.CO , Jakarta – Harga batu bara yang kian anjlok menyebabkan sebagian besar perusahaan tambang menghentikan produksi dan terancam gulung tikar. Deputi Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia, Hendra Sinadia, mengatakan hingga bulan ini sudah 80 persen perusahaan tambang batu bara yang menyetop produksi dan tutup sementara. “Margin sudah negatif. Buat apa lagi beroperasi?” kata Hendra kepada Tempo, Selasa, 4 Agustus 2015.

Menurut Hendra, dari 3.000 perusahaan pemegang izin usaha pertambangan, saat ini hanya 500 yang masih beroperasi. Sebagian besar yang tutup adalah perusahaan kecil di daerah pertambangan, seperti Kalimantan.

Meski begitu, dia menjamin produksi batu bara untuk memenuhi kebutuhan nasional masih terjaga karena beberapa perusahaan mempunyai cadangan besar dan teknologi tinggi. “Mereka masih bisa beroperasi secara efisien,” ujarnya.

Pada Juni lalu, harga batu bara dunia rata-rata berada di angka US$ 59,19 per ton, sedangkan harga batu bara acuan (HBA) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral US$ 59,59 per ton. Harga itu anjlok bila dibandingkan dengan Juni 2014, saat batu bara dihargai rata-rata US$ 72,45 per ton. Pada Juli lalu, HBA kembali turun menjadi US$ 59,19 per ton.

Akibatnya, kata Hendra, banyak perusahaan batu bara merugi karena biaya produksi batu bara berada di atas harga jual. Hendra mengatakan gencarnya proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap tidak berhasil menopang harga karena tidak ada peningkatan dari penambang ke operator.

ROBBY IRFANI

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Konglomerasi asal India, Tata Power, memutuskan untuk mengurangi kepemilikan saham di Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha Bumi Resources (BUMI).

Berdasarkan keterbukaan informasi ke Bursa Saham Bombay (BSE), Jumat (4/7/2014), Tata Power menyatakan telah meneken kesepakatan (option agreements) untuk menjual 5 persen saham KPC ke salah satu entitas Grup Bakrie.

Nilai transaksi jual-beli itu ditaksir 250 juta dollar AS. Anil Sardana, Managing Director Tata Power mengatakan, opsi divestasi 5 persen saham KPC ini bagian dari strategi mencari dana tambahan untuk mengurangi utang. “Jika opsi divestasi ini terwujud, pasokan batubara ke pembangkit listrik kami tak akan terpengaruh karena kami masih punya 25 persen saham KPC,” tulis Anil dalam keterangan resmi, Jumat.

Sejak Maret 2007, Tata Power memiliki 30 persen  saham di KPC dan anak usaha BUMI lainnya, PT Arutmin Indonesia (Arutmin). Nilai akuisisi dua anak usaha BUMI itu mencapai 1,1 miliar dollar AS.

Pada Februari lalu, Tata Power menjual 30 persen saham Arutmin senilai 500 juta  dollar AS ke salah satu entitas Grup Bakrie. Transaksi ini semula hendak diselesaikan Mei lalu. Tapi hingga kini, Tata Power dan Grup Bakrie belum memfinalisasi transaksi itu. Tata Power menargetkan penjualan saham Arutmin rampung bersama divestasi saham Mitratama Perkasa (PTMP) tahun ini.

PTMP adalah unit usaha PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA), anak usaha Tata Power. Pada Februari, Tata Power meneken perjanjian jual beli bersyarat untuk menjual 3.600 saham PTMP senilai 120 juta dollar AS. Tata Power menunjuk unit Grup Bakrie, Long Haul Holdings Ltd (LHH), sebagai broker divestasi saham PTMP. LHH akan menunjuk pembeli saham PTMP.

Kiswoyo Adi Joe, analis Investa Saran Mandiri menilai, langkah Tata Power menjual 5 persen  saham KPC ke Grup Bakrie tak berefek langsung ke BUMI. Yang pasti, Grup Bakrie ingin mempertahankan porsi mayoritas di KPC.

Awalnya, Grup Bakrie melalui BUMI, menguasai 65 persen saham KPC. Tapi Kamis (3/7/2014) lalu, BUMI mengalihkan 19 persen  saham KPC ke China Investment Corporation (CIC) lewat skema utang dikonversi ke saham (debt-for-equity swap). Ini adalah bagian dari pembayaran utang BUMI senilai 1,99 miliar dollar AS ke CIC. Selepas pengalihan, kepemilikan BUMI di KPC semestinya turun menjadi 46 persen.

Namun BUMI tetap menjadi pengendali dengan porsi 51 persen . Tambahan 5 persen  saham di KPC berasal dari perjanjian piutang dengan Recapital Asset Management. BUMI punya piutang lain dari reklasifikasi aset keuangan tersedia untuk dijual dari Recapital ke PT Kutai Timur Sejahtera (KTS). BUMI punya hak mengonversi piutang itu menjadi 100 persen kepemilikan saham KTS dengan penerbitan medium term notes. KTS memiliki 5 persen  saham KPC.

Di sisi lain, Standard & Poor Ratings Services, Jumat lalu, menurunkan peringkat kredit korporasi jangka panjang dan peringkat skala regional ASEAN milik BUMI, masing-masing menjadi selective default (SD) dari sebelumnya CC dan axCC.

Peringkat itu menyusut setelah BUMI mengalihkan 19 persen  saham KPC ke CIC. “Kami menilai transaksi ini sebagai pertukaran yang penuh tekanan,” tutur Vishal Kulkarni, analis kredit Standard & Poor’s, kutip Bloomberg. (Sandy Baskoro, Veri Nurhansyah Tragistina)

 


JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tetap berupaya untuk merestrukturisasi obligasi senilai US$ 375 juta yang diterbitkan anak usaha, Enercoal Resources Pte. Ltd. (Enercoal).

Restrukturisasi itu sempat terhambat lantaran BUMI gagal memenuhi persyaratan kuorum dalam Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) yang digelar Jumat (20/6) lalu.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, pihaknya terus melanjutkan pembicaraan dengan pemegang obligasi terutama terkait restrukturisasi obligasi Enercoal.

“Perseroan kembali berencana menggelar RUPO Enercoal pada pertengahan Juli 2014 untuk memperoleh persetujuan terkait refinancing obligasi dari pemegang obligasi Enercoal,” tulis Dileep dalam keterangan resmi, Jumat (4/7).

BUMI memang tengah berpacu dengan waktu untuk segera meraih restu pemegang obligasi. Pasalnya, masa jatuh tempo obligasi senilai US$ 350 juta itu kian dekat, yakni pada 5 Agustus 2014 mendatang.

Dalam proposal pengajuan restrukturisasi yang dirilis pada 6 Juni 2014 lalu, BUMI mengajukan permohonan untuk mengubah harga konversi dan kupon obligasi yang senilai US$ 375 juta.

Deutsche Bank AG  bertindak sebagai Agen Solisitasi tunggal, sementara The Bank of New York Mellon bereran sebagai Tabulation Agent untuk mengadakan persetujuan tersebut.

Satu poin lain yang menarik adalah BUMI pun meminta konversi wajib berdasarkan opsi yang dimiliki penerbit obligasi senilai maksimum US$ 125 juta. Poin ini menarik dicermati terutama jika mengacu pada klausul awal obligasi konversi tersebut.

Awalnya, obligasi tersebut dapat dikonversi menjadi saham biasa BUMI dengan nilai Rp. 3.366,9 per saham. Konversi obligasi bisa dilakukan setiap saat dalam periode 41 hari setelah tanggal penerbitan obligasi sampai dengan 10 hari sebelum tanggal jatuh tempo.

Klausul ini tentu susah untuk diwujudkan lantaran harga saham BUMI sudah jauh di bawah itu.  Pada penutupan perdagangan Jumat (6/6), harga BUMI ditutup turun 2,02% menhadi Rp 194 per saham.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2014,  Enercoal menerbitkan obligasi konversi senilai US$ 375 juta pada 5 Agustus 2009. Obligasi itu akan jatuh tempo pada 5 Agustus 2014 berkupon 9,25% per tahun.

Melihat kondisi keuangan yang morat-marit, BUMI tentu sulit untuk melunasi obligasi tersebut sesuai tanggal jatuh tempo. Bayangkan, BUMI hanya memiliki kas dan setara kas senilai US$ 27,68 juta per 31 Maret 2014.

Minimnya kas internal ini juga yang menjadi penyebab BUMI gagal membayar kupon obligasi valas yang telah jatuh tempo pada 12 Mei 2014. Nilai obligasi  yang diterbitkan anak usaha BUMI, Bumi Capital Pte Ltd, itu sebesar US$ 300 juta.

Namun, menurut manajemen BUMI, perseroan memiliki waktu tenggang hingga 11 Juni 2014. Jika pada tanggal itu BUMI tidak juga memenuhi kewajibannya, maka pemegang obligasi berhak meminta percepatan pembayaran.

Bank of New York selaku administrator sistem akan meminta pemegang obligasi untuk memutuskan secara voting terkait wanprestasi (default). Jika mayoritas suara menyetujui, maka BUMI wajib membayar obligasi berbunga 12% per tahun itu. Adapun, obligasi ini memiliki waktu jatuh tempo 10 November 2016.

Pada Jumat (4/7), harga BUMI ditutup turun 2,73% ke level Rp 178 per saham.

Editor: Barratut Taqiyyah

NERACA

Jakarta – Berbagai macam cara dilakukan manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk melunasi utang, kali ini perseroan melepas sebanyak 19% saham perseroan di Kaltim Prima Coal (KPC) senilai US$ 950 juta atau sekitar Rp11,31 triliun ke China Investment Corporation (CIC). Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (3/7).

Direktur Utama PT Bumi Resources Tbk, Ari Hudaya mengatakan, pengalihan saham ini merupakan langkah awal perseroan memperbaiki struktur keuangan dan komitmen perusahaan mengurangi utang,”Kami menyambut CIC sebagai mitra (equity partner) utama kami dan ke depan bersama-sama mengembangkan aset kami dengan kekuatan yang terus meningkat,”ujarnya.

Menurutnya, secara fundamental BUMI memiliki kekuatan, di mana perseroan mampu meningkatkan kapasitas tahunan batu bara lebih dari 90 juta ton sekaligus melakukan efisiensi operasi dan biaya secara signifikan,”Kami percaya struktur permodalan yang baru disertai pemulihan harga batu bara akan mampu membuat kami memperoleh kembali kekuatan, sehingga menghasilkan keuntungan seperti semula,” tandasnya.

Asal tahu saja, kesepakatan perseroan melepas 19% saham Kaltim Prima Coal kepada perusahaan tambang asal Tingkok tersebut merupakan bagian perjanjian penyelesaian utang pada 9 Oktober tahun lalu. Dengan demikian, utang BUMI kepada CIC berhasil dipangkas sebesar US$ 1,039 miliar atau sekitar Rp12,36 triliun.

 

http://www.neraca.co.id/article/43134/BUMI-Lepas-19-Saham-KPC-Ke-Tiongkok
Sumber : NERACA.CO.ID

Hasil Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa

PT. Bumi Resources Tbk (BUMI)

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan:

Agenda Pertama

1. Menyetujui dan Menerima dengan baik laporan keuangan tahunan perseroan sebagaimana pokok-pokoknya telah disampaikan oleh Direksi Perseroan dan telah ditelaah oleh dewan komisaris perseroan mengenaikeadaan dan jalannya perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013.

2.a.Menyetujui dan mengesahkan laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik Tjiendradjaja & Handoko Tomo dengan pendapat wajar tanpa pengecualian sebagaimana tertera dari laporannya no.2014/T2/03.28.04 tanggal 28 Maret 2014.

b.Memberikan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya kepada direksi dan dewan komisaris atas tindakan pengurusan dan pengawasan yang mereka lakukan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 (Acquit et de charge) sepanjang tindakan-tindakan mereka tersebut tercermin dalam laporan tahunan dan laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 dan tidak bertentengan dengan peraturan perundang-undangan.

Agenda Kedua:

1.Menetapkan bahwa sehubungan dengan rugi yang dialami perseroan maka untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 ini perseroan tidak dapat membagikan dividen kepada seluruh pemegang saham perseroan.

2.memberikan kuasa dan wewenang kepada direksi perseroan untuk melakukan segala tindakan yang di perlukan sehubungan dengan keputusan tersebut.

Agenda Ketiga:

Menyetujui dan memberikan kuasa serta wewenang kepada dewan komisaris perseroan untuk melakukan penunjukkan akuntan publik untuk mengaudit laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2014 dan/atau untuk periode tertentu sepanjang tahun 2014, serta memberikan kuasa dan wewenang kepada direksi perseroan untuk menetapkan jumlah honorarium akuntan publik serta persyaratan lanin penunjukkannya.

Agenda Keempat:

1.Mengangkat dan menetapkan kembali susunan anggota dewan komisaris dan direksi perseroan sebagaimana diuraikan di bawag ini, dengan masa jabatan terhitung sejak ditutupnya rapat ini, adalah sebagai berikut:

Dewan Komisaris

Kusuma A.Martoredjo : Presiden Komisaris dan Komisaris Independen
Suryo B. Sulisto : Komisaris Independen
Iman Taufik : Komisaris Independen
Fuad Hasan Masyhur : Komisaris Independen
Nalinkant A.Rathod : Komisaris
Anton Setianto Soedarsono : Komisaris
Sulaiman Zuhdi Pane : Komisaris

Direksi

Saptari Hoedaja : Presiden Direktur
Andrew C.Beckham : Direktur
Dileep Srivastava : Direktur Independen
Kenneth P.Farrell : Direktur
Eddie J.Subari : Direktur
R.A.Sri Dharmayanti : Direktur

2.Memberikan wewenang dan kuasa penuh dengan hak substitusi kepada direksi perseroan baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan berkaitan dengan keputusan-keputusan sebagaimana diambil dan/atau diputuskan dalam rapat ini, termasuk tetapi tidak terbatas untuk menyatakan pengangkatan anggota dewan komisaris dan direksi perseroan ini dalam akta notaris dan mendaftarkan susunan dewan komisaris dan direksi perseroan sebagaimana disebutkan di atas dalam daftar perseroan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

3.Menyetujui pemberian kewenangan kepada dewan komisaris perseroan untuk menentukan gaji, uang jasa dan tunjangan lainnya (bila ada) serta pembagian tugas dan wewenang setiap anggota direksi.

4.Menyetujui pemberian kewenangan kepada direksi bersama-sama dewan komisaris untuk menentukan uang jasa dan tunjangan lainnya (Bila ada) serta pembagian tugas dan wewenang setiap anggota direksi.

RapatUmum Pemegang Saham Luar Biasa:

1. Menyetujui rencana perseroan untuk melakukan penawaran umum terbatas IV kepada para pemegang saham dalam rangka penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu sesuai dengan peraturan bapepam no.IX.D.1 (“PUT IV”) dengan jumlah sebanyak-banyaknya 32.198.770.000 saham biasa atas nama seri B dengan nilai nominal Rp.100,- setiap saham yang di tawarkan dengan harga Rp.250,- per saham sehingga seluruhnya bernilai sebanyak-banyaknya Rp.8.049.692.500.000,- termasuk perubahan struktur permodalan sehubungan dengan PUT IV.

2.Menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan dengan persetujuan dewan komisaris perseroan untuk mengeluarkan saham-saham baru perseroan dalam rangka pelaksanaan PUT IV.

3.Menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan sehubungan dengan pelaksanaan PUT IV tersebut sesuai ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tanpa ada yang dikecualikan.
Sumber : IPS RESEARCH

DETIK Jakarta -Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang digelar pukul 20.00 WIB malam ini membuahkan hasil persetujuan rencana penerbitan saham baru atau rights issue untuk membayar utang. RUPSLB ini sempat ramai.

Salah satu pemegang saham bernama M. Saladdin menyebutkan, suasana RUPSLB yang dilakukan tertutup selama 45 menit ini berlangsung cukup tegang. Lantaran sebagian pemegang saham mempertanyakan alasan BUMI menerbitkan saham baru seri B untuk menutup utang.

Keberatan pemegang saham tersebut dilakukan dengan aksi walk out (WO) alias ‘angkat kaki’ dari ruang rapat.

“Tadi sempat ramai. Ada yang tanya terbitikan saham baru masa untuk bayar utang saja? Mereka ngotot dan bikin ramai. Akhirnya ada yang WO (walk out/meninggalkan ruang rapat),” tutur Saladin usai menghadiri RUPSLB yang digelar di Hotel Gran Melia, Jakarta, Senin (30/6/2014).

Saladin mengaku pasrah menerima keputusan tersebut, karena memang tidak ada jalan lain bagi BUMI untuk melunasi utang-utangnya.

“Memang buat bayar utang, ya bagaimana lagi. Apalagi memang harga batu bara lagi rendah cuma US$ 70 dari awalnya US$ 85 per ton,” tuturnya.

Sebelumnya disebutkan, dana hasil rights issue ini akan digunakan untuk membayar utang. Perusahaan akan fokus kepada pemangkasan utang tahun ini, terutama pembayaran utang pokok kepada China Investment Corp (CIC) yang nilainya mencapai US $1,3 miliar.
Utang tersebut diperoleh melalui Country Forest Limited (CFL) pada 18 September 2009. Pinjaman yang tersisa sebesar US$ 1,3 miliar, dari jumlah itu, US$ 600 juta di antaranya akan jatuh tempo 18 September tahun ini. Sedangkan US$ 700 juta sisanya harus dilunasi sebelum 18 September 2015.

Utang lainnya yang akan dilunasi perseroan adalah ke Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$ 150 juta. Pinjaman ini diperoleh pada 14 November 2013.

Utang ketiga yang akan dibayar sebesar US$ 225 juta untuk membayar sebagian guaranteed convertible bond due 2014 serta beberapa fasilitas utang BUMI kepada para kreditur lain. Surat utang tadi diterbitkan pada 5 Agustus 2009.

Rabu lalu BUMI hampir saja gagal bayar bunga obligasi senilai US$ 18 juta yang masuk tenggat waktu terakhirnya. Namun manajemen berhasil menyelesaikan pembayaran utang tepat di batas terakhir hari pembayaran.

Direktur BUMI Sri Dharmayanti pada kesempatan itu mengatakan, eksekusi hasil keputusan ini rencananya akan dilaksanakan selambat-lambatnya September 2014.

“Harga yang disetujui RUPSLB ini Rp 250 dikalikan dengan 32,2 miliar lembar, jadi sekitar Rp 8,05 triliun,” papar dia.

Dana yang diperoleh dari hasil penerbitan saham baru ini sedianya akan dipergunakan untuk membayar utang perusahaan. Sayang dirinya tak merinci berapa besar utang yang akan dilunasi.

“Saya tidak hafal detilnya, tapi teknisnya masih sama dengan prospektus. Tidak ada perubahan,” kata dia.
Jakarta -Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang merupakan perusahaan tambang grup Bakrie, resmi digelar pukul 20.00 WIB. RUPSLB ini menyetujui rencana penerbitan saham baru atau rights issue.

Direktur BUMI Sri Dharmayanti mengatakan, sebagian besar pemegang saham yang hadir dalam RUPSLB yang digelar di Hotel Gran Melia ini menyetujui rencana tersebut. “Lebih dari 99% setuju usulan kita untuk menerbitkan saham baru,” ujarnya usai menggelar rapat tersebut, Senin (30/6/2014).

Dalam kesempatan yang sama, Komisaris BUMI Anton Setianto Soedarsono menjelaskan, dengan persetujuan ini, maka perusahaan dapat menjalankan rencana perusahaan untuk menerbitkan saham baru yang ditargetkan dapat menggalang dana segar dari publik hingga sebesar Rp 8,05 triliun.

Dana hasil rights issue ini akan digunakan untuk membayar utang. Perusahaan akan fokus kepada pemangkasan utang tahun ini, terutama pembayaran utang pokok kepada China Investment Corp (CIC) yang nilainya mencapai US $1,3 miliar.

Utang tersebut diperoleh melalui Country Forest Limited (CFL) pada 18 September 2009. Pinjaman yang tersisa sebesar US$ 1,3 miliar, dari jumlah itu, US$ 600 juta di antaranya akan jatuh tempo 18 September tahun ini. Sedangkan US$ 700 juta sisanya harus dilunasi sebelum 18 September 2015.

Utang lainnya yang akan dilunasi perseroan adalah ke Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$ 150 juta. Pinjaman ini diperoleh pada 14 November 2013.

Utang ketiga yang akan dibayar sebesar US$ 225 juta untuk membayar sebagian guaranteed convertible bond due 2014 serta beberapa fasilitas utang BUMI kepada para kreditur lain. Surat utang tadi diterbitkan pada 5 Agustus 2009.

Rabu lalu BUMI hampir saja gagal bayar bunga obligasi senilai US$ 18 juta yang masuk tenggat waktu terakhirnya. Namun manajemen berhasil menyelesaikan pembayaran utang tepat di batas terakhir hari pembayaran.

Terkait rights issue, Sri mengatakan, eksekusi hasil keputusan ini rencananya akan dilaksanakan selambat-lambatnya September 2014.

“Harga yang disetujui RUPSLB ini

Rp 250 dikalikan dengan 32,2 miliar lembar, jadi sekitar Rp 8,05 triliun

,” papar dia.

Dana yang diperoleh dari hasil penerbitan saham baru ini sedianya akan dipergunakan untuk membayar utang perusahaan. Sayang dirinya tak merinci berapa besar utang yang akan dilunasi.

“Saya tidak hafal detilnya, tapi teknisnya masih sama dengan prospektus. Tidak ada perubahan,” kata dia.

 

Bp6LzoUCEAAytSN.jpg large

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.