Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Agustus 9, 2017

LABA (RUG1) @bum1 … 08072014_090817

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:05 am
MANFAATken MOMENTUM PENUNDAAN KENAEKAN THE FED FUND RATE K 2016 dengan KEBIJAKSANAAN BI RATE DI BAWAH 7%

KEBIJAKAN BI RATE TINGGI telah MENJAJAH PERTUMBUHAN EKONOMI kita

TURUNken BI RATE skarang JUGA

MENJADI SERAKAH, kok mengada-ada

JAKARTA ID- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencetak laba bersih sebesar US$ 162,3 juta pada semester I-2017, melonjak signifikan dibandingkan periode sama tahun lalu yang membukukan rugi bersih US$ 20,8 juta. Pendapatan perseroan turut meningkat hingga US$ 2,3 juta menjadi US$ 15,6 juta atau naik 2% dibandingkan tahun sebelumnya US$ 12,8 juta.

 

“Kenaikan signifikan tersebut disebabkan peningkatan harga komoditas batubara hingga 37,6% sejak akhir tahun lalu. Perseroan mulai mengurangi jumlah utang hingga US$ 2,6 miliar sampai saat ini,” ungkap manajemen Bumi Resouces dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (3/8).

 

Perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan tersebut kembali mengalami perbaikan bisnisnya sehingga terjadi penambahan pada beban usaha menjadi US$ 17,7 juta atau naik 22% dibandingkan sebelumnya US$ 14,5 juta.

 

Adapun volume penjualan komoditas batubara cukup stabil pada 41,5 juta ton pada 2017 dibandingkan dengan tahun lalu. “Meski demikian, kenaikan harga batubara menjadi penyebab utama kenaikan laba bersih perusahaan,” jelas manajemen.

 

Harga batubara tahun ini naik menjadi US$ 54,8 per ton atau naik 37,6% dari harga tahun lalu US$ 39,8 per ton. Pada kuartal II-2017 harga tersebut naik menjadi US$ 55,8 per ton sehingga dibandingkan tahun lalu total kenaikan menjadi 40,3%.

 

Tahun ini, perseroan memperkirakan adanya indikasi tren kenaikan harga batubara yang masih berlanjut, sehingga dampak positif berimbas pada kinerja perseoan hingga akhir 2017 mendatang.

 

Sejak tahun lalu perseroan menambah produksi dan masih akan menambah volume pengapalan batubara pada semester II-2017.Pihak perseroan memroyeksikan kenaikan coal mined hingga 5% dan setidaknya terjadi 30% peningkatan harga batubara dibandingkan sepanjang 2016.

 

Sebelumnya, perseroan melakukan restrukturisasi utang dengan menukarkan empat plafon utang yang ada dengan efek baru. Bumi mengedarkan nota pertukaran (Exchange Offer Memorandum/EOM) kepada kreditur separatis.

 

Adapun tanggal jatuh tempo nota pertukaran dengan total nilai US$ 3,8 miliar tersebut diperpanjang hingga 4 Agustus 2017.Menurut keterangan resminya, mana-jemen mengharapkan aksi korporasi tersebut akan berdampak pada kinerja perusahaan pada kuartal III-2017. Rilis OWK Rp 8,46 Triliun

 

Sebelumnya, Bumi Resources menyatakan segera merilis obligasi wajib konversi (mandatory convertible bond/MCB) sebesar Rp 8,46 triliun. Saat ini perseroan telah merampungkan masa penawaran awal (bookbuilding), dan menetapkan tingkat bunga untuk surat utang tersebut sebesar 6%.

 

Emisi obligasi tahun 2017 tersesbut memiliki kode BUMI01CB dan sudah dinformasikan kepada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Adapun, untuk surat utang yang dapat dikonfir-masi menjadi saham itu Bumi Resources menetapkan masa tenor tujuh tahun.

 

“Tanggal distribusi elektronik (OWK tahun 2017) akan jatuh pada 26 Juli 2017. Sementara itu, pembayaran bunga per-tama dilakukan pada 1 Agustus 2017,” ungkap Manajemen Bumi Resources dalam keterangan resmi di Jakarta, baru-baru ini. (c01)

ets-small

INILAHCOM, Jakarta – Tren kenaikan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sudah terpatahkan. Akan tetapi, sentimen lonjakan laba bersih diharapkan mampu dongkrak harga saham ‘sejuta umat’ ini.

Secara teknikal, Reza Priyambada, analis senior Binaartha Sekuritas menjelaskan, tren kenaikan yang dibentuk saham BUMI terpatahkan dengan adanya penurunan volume beli dan pergerakan beberapa indikator teknikal yang berbalik turun.

Di tengah tren pergerakan sahamnya, emiten mencatatkan kenaikan laba bersih pada kuartal I-2017. Laba bersih emiten sejuta umat ini naik US$65,571 juta atau Rp873,47 miliar jika mengacu kurs Rp13.321 per dolar AS. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan mencapai 291,73%.

Melansir dari keterbukaan informasi yang diterbitkan perseroan di situs Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (18/7/2017), laba bersih perseroan pada kuartal I-2017 tercatat sebesar US$88,04 juta dari sebelumnya US$22,47 juta. Dengan demikian, laba bersih per saham mengalami kenaikan menjadi US$2,44 dari sebelumnya US$0,62.

Selain itu, perseroan juga mencatatkan kenaikan penjualan dan pendapatan usaha menjadi US$10,3 juta dari sebelumnya US$6,47 juta. BUMI juga mencatatkan adanya penurunan rugi selisih kurs menjadi US$36.000 dari sebelumnya US$1,44 juta.

Adapun aset perseroan, tercatat mengalami peningkatan menjadi US$3,11 miliar dari sebelumnya US$3,1 miliar. Aset tersebut terdiri dari aset lancar sebesar US$536,46 juta dan aset tidak lancar sebesar US$2,57 miliar.

Di sisi lain, utang perseroan tercatat mengalami penurunan. Adapun total utang perseroan tercatat sebesar USD5,81 miliar dari sebelumnya US$5,88 miliar, dengan komposisi utang jangka pendek sebesar US$694,53 juta dan utang jangka panjang sebesar US$5,11 miliar.

Adanya berita positif dari lonjakan laba bersih tersebut, menurut Reza, diharapkan dapat menahan potensi penurunan tersebut agar pergerakan BUMI masih dapat bertahan di atas batas middle bollinger band-nya.

Jika volume beli dapat terangkat, dia memberikan rekomendasi trading buy untuk transaksi harian. Dia menyarankan masuk saham BUMI di level entry point Rp342-346. “Sementara itu, support saham ini berada di Rp338-342 dan resisten Rp350-354,” imbuhnya. [jin]

ets-small

Bisnis.com, JAKARTA – Laba PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) diproyeksikan melonjak setidaknya lima kali lipat tahun ini, ditopang oleh harga bahan bakar yang lebih tinggi serta restrukturisasi utang yang membantu memangkas biaya bunga.

Seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (11/7/2017), Direktur & Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava memproyeksi laba bersih perusahaan dapat melonjak menjadi setidaknya US$350 juta tahun ini, dari hanya US$67,7 juta pada tahun 2016.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bloomberg, nilai tersebut akan menjadi laba tertinggi sejak 2008. “Harga batu bara pada tahun 2017 terlihat rata-rata sekitar 30% lebih besar dari tahun 2016,” ujar Srivastava.

BUMI disebutkan sedang dalam proses menyelesaikan restrukturisasi utang yang mencakup rights issue senilai US$2 miliar.

Menurut Srivastava, utang perusahaan akan menyusut menjadi US$1,6 miliar dari sekitar US$4,2 miliar, sehingga membuka jalan untuk penghematan sebesar US$250 juta dalam biaya bunga tahunan saja.

Produksi batu bara BUMI pada paruh pertama tahun ini mencapai total sekitar 43% dari target tahun ini sebesar 89 juta metrik ton. Perusahaan berharap untuk meningkatkan aktivitas pertambangan di paruh kedua dengan kondisi cuaca yang kering.

Harga batu bara pun diprediksi dapat mencapai kisaran US$70 dan US$85 per ton selama dua tahun ke depan.

“BUMI akan bebas dari utang dalam sekitar 3–4 tahun begitu restrukturisasi itu berhasil diselesaikan dan apabila harga batu bara terus bergerak lebih tinggi,” lanjutnya.

“Begitu restrukturisasi utang selesai, tidak akan ada lagi yang tertinggal dalam neraca keuangan yang bisa menjadi kejutan. Kami telah mengambil beberapa langkah termasuk mencalonkan direktur independen ke dewan direksi dan komisaris perusahaan, serta menunjuk konsultan untuk mengatasi masalah tata kelola perusahaan,” ungkapnya.

Pekan lalu, BUMI mencalonkan Wayne Yao dan Haiyong Yu dari China Investment Corp., berikut Xuefeng Ruan dari China Development Bank kepada dewan direksi. Pada saat yang sama, emiten batu bara tersebut menunjuk Jinping Ma dan Benjamin Bao ke dewan komisaris perusahaan.

Perusahaan yang dimiliki Grup Bakrie itu juga menunjuk KPMG LLP sebagai auditor independen untuk memantau pengelolaan kas dan restrukturisasi utang.

“Perubahan-perubahan itu adalah langkah ke arah yang tepat untuk memperbaiki kekhawatiran investor terhadap tata kelola perusahaan BUMI,” kata Sharlita Malik, seorang analis di PT Samuel Sekuritas Indonesia.

Namun, tambah Malik, masyarakat tidak bisa mengubah persepsi perusahaan berdasarkan apa yang perusahaan lakukan dalam satu atau dua bulan terakhir. Dibutuhkan track record selama enam bulan hingga setahun sebelum investor mengubah persepsi mereka.

Sumber : Bloomberg

ets-small

JAKARTA kontan. Kinerja PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terangkat oleh prospek batubara yang lebih baik sepanjang Kuartal I-2017. Pada periode itu, BUMI mencetak kenaikan pendapatan 59% year on year (yoy) menjadi US$ 10,3 juta.

Beban usaha yang tinggi sejatinya membuat perseroan mencetak rugi usaha sebesar US$ 4,5 juta dari sebelumnya untung US$ 841.845. Namun, margin laba bersih BUMI tertolong oleh adanya laba entitas asosiasi yang naik 214% menjadi US$ 27,6 juta dan penyusutan beban bunga dan keuangan sebesar 73% menjadi US$ 44,53 juta.

Karena itu, laba bersih BUMI pun melonjak 291,81% menjadi US$ 88,04 juta. Pada periode yang sama tahun lalu, laba bersih BUMI hanya sebesar US$ 22,46 juta. Laba per 1.000 saham perseroan sebesar US$ 2,44 per saham naik dari sebelumnya US$ 0,62 per saham.

“Volume penjualan di Kuartal I 2017 sama seperti periode yang sama tahun lalu karena curah hujan yang tinggi. Namun, hal itu dikompensasi dengan kenaikan harga rata-rata sebesar 35,7% menjadi US$ 54,2 per ton,” ujar Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI kepada KONTAN, Sabtu (29/4).

Perseroan masih yakin, hingga akhir tahun ini BUMI masih akan dapat mencapai target volume penjualan sebesar 90 juta ton dengan harga rata-rata yang naik sekitar 30% dibandingkan tahun lalu.

Di sisi lain, BUMI masih mencatatkan defisiensi modal sebesar US$ 2,7 miliar. Hal ini karena liabilitas perseroan masih tinggi, yakni sebesar US$ 5,8 miliar. Sementara itu, total aset BUMI mencapai US$ 3,11 miliar. Di sisi lain, total kas BUMI hanya tercatat sebesar US$ 8,6 juta.

Dalam waktu dekat, BUMI akan menggelar rights issue dengan melepas 28,75 miliar saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Nilainya mencapai US$ 2,01 miliar atau setara dengan Rp 26,62 triliun.

Bersamaan dengan itu, BUMI juga akan menerbitkan Obligasi Wajib Konversi (OWK) sebanyak 9,1 miliar unit dengan jumlah pokok US$ 639 juta atau setara Rp 8,45 triliun. Sehingga, total aksi korporasi Grup Bakrie itu mencapai Rp 35,07 triliun.

Nantinya, setiap 100 saham akan memperoleh 78 HMETD seri A. Setiap satu HMETD Seri A memberikan hak pada pemegangnya untuk membeli satu saham baru seri B dengan harga pelaksanaan Rp 926,16. Lalu, setiap 100 saham akan memperoleh 25 HMETD Seri B yang bisa ditukar dengan OWK di harga yang sama.

BUMI juga sudah menentukan pembeli siaga yang akan menyerap HMETD apabila tidak diserap oleh pemegang saham. Bertindak sebagai pembeli siaga adalah PT Samuel International sebesar US$ 1,9 miliar atau Rp 26,36 triliun. Samuel akan memberikan komitmen penuh dalam rights issue ini di harga yang sama.

Pembeli siaga lainnya adalah PT Danatama Capital Group dengan komitmen penuh sebesar US$ 19,9 juta. Sementara itu, yang bertindak sebagai pembeli siaga sehubungan dengan sisa OWK adalah kreditor konversi OWK dengan jumlah US$ 639 juta.

Pada perdagangan Jumat (28/4), harga saham BUMI turun 1,32% menjadi Rp 448 per saham.

ets-small

Bisnis.com, JAKARTA – Sepanjang kuartal I/2017, kinerja PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) naik pesat dengan membukukan lonjakan laba yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar 291,68% menjadi US$88,05 juta dari US$22,48 juta pada kuartal I/2016.

Dalam laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia, Jumat (28/4/2017) menunjukkan pendapatan sepanjang kuartal I/2017 hanya naik 59,19% menjadi US$10,3 juta dari US$6,47 juta pada kuartal I/2017. Sementara, beban usaha juga melonjak 162,88% dari US$5,63 juta pada kuartal I/2016 menjadi US$14,8 juta.

Pada akhirnya, tingginya laju penaikan beban usaha ketimbang penaikan pendapatan mendorong perseroan mencatatkan rugi usaha sebesar US$4,5 juta pada kuartal I/2017, sedangkan pada kuartal I/2016, perseroan masih mencatatkan laba usaha sebesar US$841.845.

Kendati demikian, pada kuartal I/2017, perseroan mencatatkan kenaikan bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar 214,71% menjadi US$27,6 juta dari US$8,77 juta pada kuartal I/2016. Selain itu, penghasilan bunga dan pendapatan lain-lain juga meningkat masing-masing 98,57% dan 161,89%.

Beban bunga dan keuangan juga terpangkas 73,49% menjadi US$44,53 juta pada kuartal I/2017 dari US$168,02 pada kuartal I/2016. Selain itu, rugi selisih kurs juga menciut menjadi US$36.465 pada kuartal I/2017 dari US$1,44 juta pada kuartal I/2016. Laba tahun berjalan akhirnya naik sebesar 113,59% dari US$40,38 juta pada kuartal I/2016 menjadi US$88,25 pada kuartal I/2017.

ets-small

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) sukses membalikkan keadaan dengan meraup laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar US$67,69 juta pada 2016, dari rugi sebesar US$1,92 miliar pada 2015.

Dalam laporan keuangan 2016 yang telah diaudit dan dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (21/3/2017), menunjukkan sepanjang tahun lalu perseroan membukukan pendapatan sebesar US$23,37 juta. Perolehan pendapatan tersebut turun 42,31% dari pencapaian pada 2015 yang mencatatkan sebesar US$40,51 juta.

Sementara itu, beban usaha terpangkas sebesar 42,34% dari US$49,88 juta pada 2015 menjadi US$28,76 juta. Akhirnya, rugi usaha juga ikut tergerus 42,58% menjadi US$5,38 juta pada 2016 dari US$9,37 pada 2015.

Hanya saja, pada pos beban lain-lain untuk penurunan nilai aset serta rugi atas penghapusan piutang telah nihil pada 2016. Padahal, pada 2015, penurunan nilai aset sebesar US$885,55 juta, sedangkan rugi atas penghapusan piutang sebesar US$522,55 juta.

Selain itu, perseroan juga sukses memangkas beban bunga dan keuangan sebesar 43,77% dari US$453,22 juta pada 2015 menjadi US$254,82 juta pada 2016. Perseroan juga mencatatkan bagian ats laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar US$84,25 juta pada 2016, atau meningkat 93,01% dari US$43,65 juta pada 2015 Perseroan juga sukses mencatatkan penghasilan lain-lain sebesar US$213,21.

Kendati demikian, perseroan masih mencatatkan rugi sebelum pajak penghasilan sebesar US$9,38 juta pada 2016 atau terpangkas 99,54% dari US$2,04 miliar pada 2015. Hanya saja, pada 2016, BUMI memperoleh manfaat pajak penghasilan sebesar US$129,64 juta yang akhirnya mampu mencetak laba tahun berjalan sebesar US$120,55 juta

Sementara itu, Sharlita Malik, analis dari Samuel Sekuritas Indonesia mengungkapkan laba bersih BUMI pada 2016 positif tetapi dibawah estimasi yang diperkirakan olehnya. Secara keseluruhan, lanjutnya, BUMI mencatatkan kinerja yang positif didukung efisiensi dalam bahan bakar, biaya operasional yang lebih rendah yaitu turun 28% y-o-y menjadi US$27 per ton, dan manfaat beban pajak yang naik signifikan.

Dia menilai harga jual rata-rata batu bara pada 2016 turun, tetapi volume penjualan tercatat naik. BUMI mencatatkan penurunan harga jual rata-rata batubara sebesar 6% y-o-y menjadi US$42,1 per ton. Namun, volume penjualan batubara gabungan BUMI tercatat naik kurang lebih 10,6% y-o-y menjadi 87,7 juta ton. Menurutnya, secara umum penjualan Arutmin meningkat sebesar 15,3% menjadi 28,6 juta ton dan KPC meningkat sebesar 8,4% y-o-y menjadi 59,1 juta ton.

Adapun, lanjutnya, untuk pendorong kinerja BUMI pada tahun ini, perseroan berencana meningkatkan penjualan sebesar 5% – 7% y-o-y, mengurangi beban utang dan bunga secara signifikan serta mengembalikan kondisi keuangan yang sehat. Sharlita juga mengungkapkan dukungan dari harga batubara yang lebih tinggi 30% y-o-y serta efisiensi yang meningkat menjadi pendorong kinerja untuk BUMI kedepannya. Oleh karena itu, dia menyarankan BUY.

“BUMI berpeluang membukukan kinerja positif untuk fullyear 2017. Dengan asumsi meningkatnya harga jual rata-rata dan volume penjualan yang lebih tinggi. Kami tetap merekomendasi Buy saat ini. Valuasi terhadap BUMI masih mungkin berubah, tergantung dari kestabilan harga batubara dan perbaikan neraca keuangan BUMI,” katanya dalam risetnya, Selasa (21/3/2017).

ets-small

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sepakat untuk melakukan right issue dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Selain itu, perseroan juga memutuskan untuk tidak memberikan dividen.

Melansir keterbukaan yang diterbitkan perseroan di Jakarta, Kamis (9/2/2017), manajemen Bumi mengatakan bahwa sehubungan dengan rugi yang dialami perseroan pada tahun buku yang berakhir 31 Desember 2015, maka perseroan tidak dapat membagikan dividen kepada seluruh pemegang saham perseroan.

Sekadar informasi, PT BUMI Resources Tbk (BUMI) berencana melakukan restrukturisasi utangnya dengan melakukan right issue. Rencana tersebut akan mengurangi utang BUMI dari USD4,2 miliar atau setara dengan RP55,9 triliun menjadi USD1,6 miliar atau setara dengan Rp21,3 triliun (mengacu kepada kurs Rp13.320).

Selain itu, perseroan RUPS juga menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan dengan persetujuan dewan komisaris perseroan, untuk mengeluarkan saham-saham baru perseroan dalam rangka pelaksanaan PUT V dan obligasi wajib konversi.

RUPIS juga menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan sehubungan dengan pelaksanaan PUT V dan obligasi wajib konversi.

http://economy.okezone.com/read/2017/02/09/278/1613455/masih-rugi-bumi-resources-tidak-sebar-dividen
Sumber : OKEZONE.COM

 ets-small

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) semakin terseok. Emiten Grup Bakrie ini mencatatkan kerugian bersih senilai US$ 630,27 juta dalam sembilan bulan pertama tahun ini.

Pada periode yang sama tahun lalu, BUMI masih mencetak laba bersih US$ 12,52 juta.

Pendapatan BUMI juga menyusut dari US$ 49,4 juta pada kuartal III-2014 menjadi US$ 33,49 juta di kuartal III-2015. Beban bunga dan keuangan BUMI mencapai US$ 405,4 juta.

Mengacu laporan keuangan yang dirilis Jumat (30/10), BUMI juga masih menanggung ekuitas negatif alias defisiensi modal sebesar US$ 1,3 miliar. Beban ini jauh lebih berat daripada total defisiensi modal BUMI per akhir tahun lalu sebesar US$ 733 juta.

Total kewajiban BUMI yang tercatat di kuartal III-2015 mencapai US$ 5,7 miliar. BUMI masih harus membayar pinjaman jangka pendek senilai US$ 220,7 juta.

Bahkan BUMI memiliki pinjaman jangka panjang yang harus dibayar dalam jangka waktu setahun ke depan sebesar US$ 3,6 miliar.

Belum lagi ada obligasi konversi yang harus dilunasi dalam jangka pendek senilai US$ 375 juta.

Jakarta infobank–PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengaku tidak akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau pemotongan gaji kepada para karyawannya di tengah anjloknya harga batu bara dunia.

“Kalau dari sisi apakah kita ada rencana PHK, sampai detik ini kami masih komitmen tidak akan merumahkan atau PHK karyawan,” kata Direktur Legal BUMI Yanti Sinaga di Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2015.

Yanti sendiri merasa masih optimis dengan kondisi kedepan dan bisa survive meski kinerja perseroan tengah mengalami penurunan.

Oleh sebab itu BUMI berkomitmen untuk mempertahankan karyawannya dengan membuat struktur perencanaan dari managemen.

“Jika dibandingkan perusahan lain yang sejenis, kami yakin masih bisa survive. Semoga ke depannya masih bisa mempertahankan. Kita berusaha semua karyawan diberikan pengertian,” tuturnya.

Seperti diketahui, sebelumnya Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mengungkapkan bahwa saat ini industri tambang banyak yang merumahkan karyawannya lantaran harga komoditas kurang bersahabat.

Hal tersebut menjadi solusi untuk menekan beban perusahaan yang besar, namun pendapatannya berkurang. (*)

 

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memprediksi masih belum akan ekspansi di tahun depan.

BUMI bakal fokus ke penyelesaian utangnya yang mencapai US$ 3,98 miliar.

Tahun depan, BUMI hanya akan menganggarkan belanja modal US$ 50 juta hingga US$ 100 juta, sama dengan tahun ini.

Dana belanja modal itu akan diperoleh dari kas internal BUMI.

“Belanja modal masih akan digunakan untuk maintanance dan operasional. Belum ada ekspansi,” ujar Direktur Keuangan BUMI, Andrew Beckham di Jakarta, Jumat (2/10).

BUMI harus berhemat lantaran perlu menyediakan arus kas yang lancar. Andrew berharap harga batubara bisa pulih di tahun depan.

Tahun depan, BUMI berencana mengurangi utangnya dari US$ 3,98 miliar menjadi US$ 1,2 miliar.

Mayoritas utang tersebut akan dibayar dengan new senior secured facility, konversi ke saham dan obligasi wajib konversi.

“Kalau berjalan lancar, kami akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Desember,” imbuh Andrew.

Sehingga, perseroan berharap proses restrukturisasi bisa selesai pada Januari mendatang.

BUMI juga masih belum bisa memastikan kepastian penjualan saham anak usahanya PT Bumi Resources Minerals Tbk (BUMI) kepada China Investment Corporation (CIC).

“Kami masih harus menunggu proposal ini disetujui,” ujarnya.

Perseroan juga berencana mengkonversi sebagian utang senior notes yang senilai total US$ 1,61 miliar dari kreditur bilateral.

Restrukturisasi utang BUMI harus segera dilakukan untuk menghindari gagal bayar alias default.

Apalagi, kondisi komoditas batubara terus melorot. Tahun lalu BUMI sudah mengurangi utang sebesar US$ 950 juta.

Sebagai informasi, pada laporan keuangan Semester I-2015, BUMI mencetak rugi bersih mencapai US$ 566,24 juta.

Pada periode yang sama tahun lalu, BUMI masih bisa membukukan laba bersih sebesar US$ 130 juta karena ada laba dari penjualan aset.

Editor: Adi Wikanto.

 

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana merestrukturisasi sebagian besar utangnya. Perusahaan milik Grup Bakrie ini memiliki total utang senilai US$ 3,9 miliar. Perseroan mengajukan revisi proposal untuk merestrukturisasi utangnya tersebut.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, BUMI sudah melakukan rapat dengan para kreditur di Singapura pada Senin (28/9) ini. Dalam pertemuan itu, BUMI meminta persetujuan untuk restrukturisasi utangnya yang akan disetujui pada 22 Oktober mendatang.

Dalam proporsal itu, berkaca dari arus kas BUMI, perseroan akan tetap mempertahankan utang senilai US$ 1,2 miliar atau setara dengan 42,3% dari total utang pokok BUMI. Opsi restrukturisasi itu antara lain dengan mengkonversi utang dari China Investment Corporation (CIC) menjadi saham BUMI.

BUMI memiliki utang dari lima kreditur utama. Pertama, adalah utang dari Axis Bank senilai US$ 141 juta. Sebagian besar utang Axis bakal dibayarkan dengan menjual aset BUMI di Fajar Bumi Sakti (FBS). Lalu sisanya juga akan dibayarkan.

Nah, utang dari CIC dan CDB mencapai US$ 1,76 miliar. Sebesar US$ 407 juta akan dibayarkan dengan menukar utang dengan saham BUMI. Lalu, BUMI memiliki utang obligasi dari anak usahanya di Singapura, nilainya mencapai US$ 1,6 miliar. Utang ini juga akan dikonversi menjadi saham.

Lalu, convertible bond BUMI senilai US$ 410 juta, sebelumnya sudah mendapat perpanjangan penangguhan utang selama lima bulan oleh Pengadilan Singapura.

Dileep bilang, restrukturisasi utang BUMI harus segera dilakukan untuk menghindari gagal bayar alias default. Apalagi, kondisi komoditas batubara terus melorot. Sebelumnya, Dileep mengklaim, tahun lalu BUMI sudah mengurangi utang sebesar US$ 950 juta. Harapannya, jika restrukturisasi ini tuntas, utang BUMI bisa berkurang setengahnya.

Sebagai informasi, pada laporan keuangan Semester I-2015, BUMI mencetak rugi bersih mencapai US$ 566,24 juta. Pada periode yang sama tahun lalu, BUMI masih bisa membukukan laba bersih sebesar US$ 130 juta karena ada laba dari penjualan aset.

Kerugian BUMI di medio pertama tahun ini bermula dari anjloknya pendapatan sebesar 41,26% year on year (yoy) menjadi US$ 21,49 juta. Beban pokok pendapatan BUMI memang menurun. Tetapi, BUMI masih membukukan beban bunga dan keuangan akibat utang sebesar US$ 279,8 juta. Belum lagi, ada pos penurunan nilai aset sebesar US$ 212,32 juta yang membuat bottom line BUMI mengkerut.

Editor: Yudho Winarto.

 

JAKARTA. Laporan keuangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih berdarah-darah.

Kerugian produsen batubara milik Grup Bakrie ini makin besar saja. Pada laporan keuangan Semester I-2015, BUMI mencetak rugi bersih mencapai US$ 566,24 juta.

Pada periode yang sama tahun lalu, BUMI masih bisa membukukan laba bersih sebesar US$ 130 juta karena ada laba dari penjualan aset.

Kerugian BUMI di medio pertama tahun ini bermula dari anjloknya pendapatan sebesar 41,26% year on year (yoy) menjadi US$ 21,49 juta.

Beban pokok pendapatan BUMI memang menurun. Tetapi, BUMI masih membukukan beban bunga dan keuangan akibat utang sebesar US$ 279,8 juta.

Belum lagi, ada pos penurunan nilai aset sebesar US$ 212,32 juta yang membuat bottom line BUMI mengkerut. Lalu, ada beban lain-lain senilai US$ 166,8 juta.

Beban ini berasal dari utang dollar pihak berelasi. Utang tersebut merupakan utang tanpa bunga dan tidak memiliki jangka waktu pembayaran tetap.

Nilainya sebesar US$ 521 juta atau 9,16% dari total liabilitas BUMI.

Sampai laporan keuangan ini diterbitkan, BUMI memang belum berhasil merestrukturisasi utang-utangnya.

Tahun lalu, BUMI sempat menjual beberapa asetnya demi mencicil pembayaran utang. Namun, sampai sekarang total liabilitas BUMI belum juga berkurang.

Per Juni 2015, ada liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam jangka waktu satu tahun senilai US$ 3,5 miliar.

Jika ditotal, liabilitas BUMI malah naik menjadi US$ 5,6 miliar, dari akhir tahun lalu sebesar US$ 5,3 miliar.

Sementara total aset BUMI sebesar US$ 4,3 miliar. Kinerja ini, membuat BUMI membukukan ekuitas negatif atau defisiensi modal sebesar US$ 1,3 miliar.

Defisiensi modal itu membengkak dari sebelumnya US$ 733 juta.

Sebelumnya, BUMI berharap bisa mengurangi utang senilai US$ 2 miliar di tahun ini. Namun, niat itu belum juga direalisasikan.

BUMI masih melakukan negosiasi dengan bond holder atas utang obligasi BUMI yang diterbitkan tiga anak usahanya di Singapura.

Khusus untuk restrukturisasi obligasi, BUMI memperoleh perpanjangan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) alias moratorium dari pengadilan Singapura. Perpanjangan PKPU ini akan berakhir 24 Oktober mendatang.

Sebelumnya, Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, salah satu opsi restrukturisasi yang tengah dikaji BUMI adalah dengan mencari investor strategis untuk membantu BUMI menyelesaikan utang.

BUMI juga membuka peluang untuk kembali melakukan penukaran saham dengan utang dengan kreditur. Sementara penjualan aset masih belum menjadi opsi utama BUMI untuk menuntaskan utangnya.

Saham BUMI masih tak berkutik dari level Rp 50 per saham.

Editor: Adi Wikanto.

JAKARTA. PT Trada Maritime Tbk (TRAM) menjadi emiten dengan penurunan harga saham terdalam secara year-to-date (ytd) hingga Juni 2015. Saham perusahaan perkapalan ini anjlok 76,3% ke posisi harga saham terendah, yakni Rp 50 per saham.

Berikut 10 saham top loser hingga Juni 2015:
1. TRAM
2. PT Buana Listya Tama Tbk (BULL): turun 76,25% ke Rp 95 per saham
3. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS); turun 71,11% ke Rp 91 per saham
4. PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN): turun 66,83% ke Rp 69 per saham
5. PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU): turun 63,91% ke Rp 415 per saham
6. PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD); turun 62,61% ke Rp 265 per saham
7. PT Wintermar Offshore Marine Tbk WINS): turun 60,24% ke Rp 328 per saham
8. PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID): turun 58,55% ke Rp 80 per saham
9. PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP): turun 58,49% ke Rp 193 per saham
10. PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO): turun 54,84% ke Rp 70 per saham.

Editor: Hendra Gunawan

 

TEMPO.CO , Jakarta – Harga batu bara yang kian anjlok menyebabkan sebagian besar perusahaan tambang menghentikan produksi dan terancam gulung tikar. Deputi Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia, Hendra Sinadia, mengatakan hingga bulan ini sudah 80 persen perusahaan tambang batu bara yang menyetop produksi dan tutup sementara. “Margin sudah negatif. Buat apa lagi beroperasi?” kata Hendra kepada Tempo, Selasa, 4 Agustus 2015.

Menurut Hendra, dari 3.000 perusahaan pemegang izin usaha pertambangan, saat ini hanya 500 yang masih beroperasi. Sebagian besar yang tutup adalah perusahaan kecil di daerah pertambangan, seperti Kalimantan.

Meski begitu, dia menjamin produksi batu bara untuk memenuhi kebutuhan nasional masih terjaga karena beberapa perusahaan mempunyai cadangan besar dan teknologi tinggi. “Mereka masih bisa beroperasi secara efisien,” ujarnya.

Pada Juni lalu, harga batu bara dunia rata-rata berada di angka US$ 59,19 per ton, sedangkan harga batu bara acuan (HBA) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral US$ 59,59 per ton. Harga itu anjlok bila dibandingkan dengan Juni 2014, saat batu bara dihargai rata-rata US$ 72,45 per ton. Pada Juli lalu, HBA kembali turun menjadi US$ 59,19 per ton.

Akibatnya, kata Hendra, banyak perusahaan batu bara merugi karena biaya produksi batu bara berada di atas harga jual. Hendra mengatakan gencarnya proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap tidak berhasil menopang harga karena tidak ada peningkatan dari penambang ke operator.

ROBBY IRFANI

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Konglomerasi asal India, Tata Power, memutuskan untuk mengurangi kepemilikan saham di Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha Bumi Resources (BUMI).

Berdasarkan keterbukaan informasi ke Bursa Saham Bombay (BSE), Jumat (4/7/2014), Tata Power menyatakan telah meneken kesepakatan (option agreements) untuk menjual 5 persen saham KPC ke salah satu entitas Grup Bakrie.

Nilai transaksi jual-beli itu ditaksir 250 juta dollar AS. Anil Sardana, Managing Director Tata Power mengatakan, opsi divestasi 5 persen saham KPC ini bagian dari strategi mencari dana tambahan untuk mengurangi utang. “Jika opsi divestasi ini terwujud, pasokan batubara ke pembangkit listrik kami tak akan terpengaruh karena kami masih punya 25 persen saham KPC,” tulis Anil dalam keterangan resmi, Jumat.

Sejak Maret 2007, Tata Power memiliki 30 persen  saham di KPC dan anak usaha BUMI lainnya, PT Arutmin Indonesia (Arutmin). Nilai akuisisi dua anak usaha BUMI itu mencapai 1,1 miliar dollar AS.

Pada Februari lalu, Tata Power menjual 30 persen saham Arutmin senilai 500 juta  dollar AS ke salah satu entitas Grup Bakrie. Transaksi ini semula hendak diselesaikan Mei lalu. Tapi hingga kini, Tata Power dan Grup Bakrie belum memfinalisasi transaksi itu. Tata Power menargetkan penjualan saham Arutmin rampung bersama divestasi saham Mitratama Perkasa (PTMP) tahun ini.

PTMP adalah unit usaha PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA), anak usaha Tata Power. Pada Februari, Tata Power meneken perjanjian jual beli bersyarat untuk menjual 3.600 saham PTMP senilai 120 juta dollar AS. Tata Power menunjuk unit Grup Bakrie, Long Haul Holdings Ltd (LHH), sebagai broker divestasi saham PTMP. LHH akan menunjuk pembeli saham PTMP.

Kiswoyo Adi Joe, analis Investa Saran Mandiri menilai, langkah Tata Power menjual 5 persen  saham KPC ke Grup Bakrie tak berefek langsung ke BUMI. Yang pasti, Grup Bakrie ingin mempertahankan porsi mayoritas di KPC.

Awalnya, Grup Bakrie melalui BUMI, menguasai 65 persen saham KPC. Tapi Kamis (3/7/2014) lalu, BUMI mengalihkan 19 persen  saham KPC ke China Investment Corporation (CIC) lewat skema utang dikonversi ke saham (debt-for-equity swap). Ini adalah bagian dari pembayaran utang BUMI senilai 1,99 miliar dollar AS ke CIC. Selepas pengalihan, kepemilikan BUMI di KPC semestinya turun menjadi 46 persen.

Namun BUMI tetap menjadi pengendali dengan porsi 51 persen . Tambahan 5 persen  saham di KPC berasal dari perjanjian piutang dengan Recapital Asset Management. BUMI punya piutang lain dari reklasifikasi aset keuangan tersedia untuk dijual dari Recapital ke PT Kutai Timur Sejahtera (KTS). BUMI punya hak mengonversi piutang itu menjadi 100 persen kepemilikan saham KTS dengan penerbitan medium term notes. KTS memiliki 5 persen  saham KPC.

Di sisi lain, Standard & Poor Ratings Services, Jumat lalu, menurunkan peringkat kredit korporasi jangka panjang dan peringkat skala regional ASEAN milik BUMI, masing-masing menjadi selective default (SD) dari sebelumnya CC dan axCC.

Peringkat itu menyusut setelah BUMI mengalihkan 19 persen  saham KPC ke CIC. “Kami menilai transaksi ini sebagai pertukaran yang penuh tekanan,” tutur Vishal Kulkarni, analis kredit Standard & Poor’s, kutip Bloomberg. (Sandy Baskoro, Veri Nurhansyah Tragistina)

 


JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tetap berupaya untuk merestrukturisasi obligasi senilai US$ 375 juta yang diterbitkan anak usaha, Enercoal Resources Pte. Ltd. (Enercoal).

Restrukturisasi itu sempat terhambat lantaran BUMI gagal memenuhi persyaratan kuorum dalam Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) yang digelar Jumat (20/6) lalu.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, pihaknya terus melanjutkan pembicaraan dengan pemegang obligasi terutama terkait restrukturisasi obligasi Enercoal.

“Perseroan kembali berencana menggelar RUPO Enercoal pada pertengahan Juli 2014 untuk memperoleh persetujuan terkait refinancing obligasi dari pemegang obligasi Enercoal,” tulis Dileep dalam keterangan resmi, Jumat (4/7).

BUMI memang tengah berpacu dengan waktu untuk segera meraih restu pemegang obligasi. Pasalnya, masa jatuh tempo obligasi senilai US$ 350 juta itu kian dekat, yakni pada 5 Agustus 2014 mendatang.

Dalam proposal pengajuan restrukturisasi yang dirilis pada 6 Juni 2014 lalu, BUMI mengajukan permohonan untuk mengubah harga konversi dan kupon obligasi yang senilai US$ 375 juta.

Deutsche Bank AG  bertindak sebagai Agen Solisitasi tunggal, sementara The Bank of New York Mellon bereran sebagai Tabulation Agent untuk mengadakan persetujuan tersebut.

Satu poin lain yang menarik adalah BUMI pun meminta konversi wajib berdasarkan opsi yang dimiliki penerbit obligasi senilai maksimum US$ 125 juta. Poin ini menarik dicermati terutama jika mengacu pada klausul awal obligasi konversi tersebut.

Awalnya, obligasi tersebut dapat dikonversi menjadi saham biasa BUMI dengan nilai Rp. 3.366,9 per saham. Konversi obligasi bisa dilakukan setiap saat dalam periode 41 hari setelah tanggal penerbitan obligasi sampai dengan 10 hari sebelum tanggal jatuh tempo.

Klausul ini tentu susah untuk diwujudkan lantaran harga saham BUMI sudah jauh di bawah itu.  Pada penutupan perdagangan Jumat (6/6), harga BUMI ditutup turun 2,02% menhadi Rp 194 per saham.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2014,  Enercoal menerbitkan obligasi konversi senilai US$ 375 juta pada 5 Agustus 2009. Obligasi itu akan jatuh tempo pada 5 Agustus 2014 berkupon 9,25% per tahun.

Melihat kondisi keuangan yang morat-marit, BUMI tentu sulit untuk melunasi obligasi tersebut sesuai tanggal jatuh tempo. Bayangkan, BUMI hanya memiliki kas dan setara kas senilai US$ 27,68 juta per 31 Maret 2014.

Minimnya kas internal ini juga yang menjadi penyebab BUMI gagal membayar kupon obligasi valas yang telah jatuh tempo pada 12 Mei 2014. Nilai obligasi  yang diterbitkan anak usaha BUMI, Bumi Capital Pte Ltd, itu sebesar US$ 300 juta.

Namun, menurut manajemen BUMI, perseroan memiliki waktu tenggang hingga 11 Juni 2014. Jika pada tanggal itu BUMI tidak juga memenuhi kewajibannya, maka pemegang obligasi berhak meminta percepatan pembayaran.

Bank of New York selaku administrator sistem akan meminta pemegang obligasi untuk memutuskan secara voting terkait wanprestasi (default). Jika mayoritas suara menyetujui, maka BUMI wajib membayar obligasi berbunga 12% per tahun itu. Adapun, obligasi ini memiliki waktu jatuh tempo 10 November 2016.

Pada Jumat (4/7), harga BUMI ditutup turun 2,73% ke level Rp 178 per saham.

Editor: Barratut Taqiyyah

NERACA

Jakarta – Berbagai macam cara dilakukan manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk melunasi utang, kali ini perseroan melepas sebanyak 19% saham perseroan di Kaltim Prima Coal (KPC) senilai US$ 950 juta atau sekitar Rp11,31 triliun ke China Investment Corporation (CIC). Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (3/7).

Direktur Utama PT Bumi Resources Tbk, Ari Hudaya mengatakan, pengalihan saham ini merupakan langkah awal perseroan memperbaiki struktur keuangan dan komitmen perusahaan mengurangi utang,”Kami menyambut CIC sebagai mitra (equity partner) utama kami dan ke depan bersama-sama mengembangkan aset kami dengan kekuatan yang terus meningkat,”ujarnya.

Menurutnya, secara fundamental BUMI memiliki kekuatan, di mana perseroan mampu meningkatkan kapasitas tahunan batu bara lebih dari 90 juta ton sekaligus melakukan efisiensi operasi dan biaya secara signifikan,”Kami percaya struktur permodalan yang baru disertai pemulihan harga batu bara akan mampu membuat kami memperoleh kembali kekuatan, sehingga menghasilkan keuntungan seperti semula,” tandasnya.

Asal tahu saja, kesepakatan perseroan melepas 19% saham Kaltim Prima Coal kepada perusahaan tambang asal Tingkok tersebut merupakan bagian perjanjian penyelesaian utang pada 9 Oktober tahun lalu. Dengan demikian, utang BUMI kepada CIC berhasil dipangkas sebesar US$ 1,039 miliar atau sekitar Rp12,36 triliun.

 

http://www.neraca.co.id/article/43134/BUMI-Lepas-19-Saham-KPC-Ke-Tiongkok
Sumber : NERACA.CO.ID

Hasil Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa

PT. Bumi Resources Tbk (BUMI)

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan:

Agenda Pertama

1. Menyetujui dan Menerima dengan baik laporan keuangan tahunan perseroan sebagaimana pokok-pokoknya telah disampaikan oleh Direksi Perseroan dan telah ditelaah oleh dewan komisaris perseroan mengenaikeadaan dan jalannya perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013.

2.a.Menyetujui dan mengesahkan laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik Tjiendradjaja & Handoko Tomo dengan pendapat wajar tanpa pengecualian sebagaimana tertera dari laporannya no.2014/T2/03.28.04 tanggal 28 Maret 2014.

b.Memberikan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya kepada direksi dan dewan komisaris atas tindakan pengurusan dan pengawasan yang mereka lakukan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 (Acquit et de charge) sepanjang tindakan-tindakan mereka tersebut tercermin dalam laporan tahunan dan laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 dan tidak bertentengan dengan peraturan perundang-undangan.

Agenda Kedua:

1.Menetapkan bahwa sehubungan dengan rugi yang dialami perseroan maka untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 ini perseroan tidak dapat membagikan dividen kepada seluruh pemegang saham perseroan.

2.memberikan kuasa dan wewenang kepada direksi perseroan untuk melakukan segala tindakan yang di perlukan sehubungan dengan keputusan tersebut.

Agenda Ketiga:

Menyetujui dan memberikan kuasa serta wewenang kepada dewan komisaris perseroan untuk melakukan penunjukkan akuntan publik untuk mengaudit laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2014 dan/atau untuk periode tertentu sepanjang tahun 2014, serta memberikan kuasa dan wewenang kepada direksi perseroan untuk menetapkan jumlah honorarium akuntan publik serta persyaratan lanin penunjukkannya.

Agenda Keempat:

1.Mengangkat dan menetapkan kembali susunan anggota dewan komisaris dan direksi perseroan sebagaimana diuraikan di bawag ini, dengan masa jabatan terhitung sejak ditutupnya rapat ini, adalah sebagai berikut:

Dewan Komisaris

Kusuma A.Martoredjo : Presiden Komisaris dan Komisaris Independen
Suryo B. Sulisto : Komisaris Independen
Iman Taufik : Komisaris Independen
Fuad Hasan Masyhur : Komisaris Independen
Nalinkant A.Rathod : Komisaris
Anton Setianto Soedarsono : Komisaris
Sulaiman Zuhdi Pane : Komisaris

Direksi

Saptari Hoedaja : Presiden Direktur
Andrew C.Beckham : Direktur
Dileep Srivastava : Direktur Independen
Kenneth P.Farrell : Direktur
Eddie J.Subari : Direktur
R.A.Sri Dharmayanti : Direktur

2.Memberikan wewenang dan kuasa penuh dengan hak substitusi kepada direksi perseroan baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan berkaitan dengan keputusan-keputusan sebagaimana diambil dan/atau diputuskan dalam rapat ini, termasuk tetapi tidak terbatas untuk menyatakan pengangkatan anggota dewan komisaris dan direksi perseroan ini dalam akta notaris dan mendaftarkan susunan dewan komisaris dan direksi perseroan sebagaimana disebutkan di atas dalam daftar perseroan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

3.Menyetujui pemberian kewenangan kepada dewan komisaris perseroan untuk menentukan gaji, uang jasa dan tunjangan lainnya (bila ada) serta pembagian tugas dan wewenang setiap anggota direksi.

4.Menyetujui pemberian kewenangan kepada direksi bersama-sama dewan komisaris untuk menentukan uang jasa dan tunjangan lainnya (Bila ada) serta pembagian tugas dan wewenang setiap anggota direksi.

RapatUmum Pemegang Saham Luar Biasa:

1. Menyetujui rencana perseroan untuk melakukan penawaran umum terbatas IV kepada para pemegang saham dalam rangka penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu sesuai dengan peraturan bapepam no.IX.D.1 (“PUT IV”) dengan jumlah sebanyak-banyaknya 32.198.770.000 saham biasa atas nama seri B dengan nilai nominal Rp.100,- setiap saham yang di tawarkan dengan harga Rp.250,- per saham sehingga seluruhnya bernilai sebanyak-banyaknya Rp.8.049.692.500.000,- termasuk perubahan struktur permodalan sehubungan dengan PUT IV.

2.Menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan dengan persetujuan dewan komisaris perseroan untuk mengeluarkan saham-saham baru perseroan dalam rangka pelaksanaan PUT IV.

3.Menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan sehubungan dengan pelaksanaan PUT IV tersebut sesuai ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tanpa ada yang dikecualikan.
Sumber : IPS RESEARCH

DETIK Jakarta -Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang digelar pukul 20.00 WIB malam ini membuahkan hasil persetujuan rencana penerbitan saham baru atau rights issue untuk membayar utang. RUPSLB ini sempat ramai.

Salah satu pemegang saham bernama M. Saladdin menyebutkan, suasana RUPSLB yang dilakukan tertutup selama 45 menit ini berlangsung cukup tegang. Lantaran sebagian pemegang saham mempertanyakan alasan BUMI menerbitkan saham baru seri B untuk menutup utang.

Keberatan pemegang saham tersebut dilakukan dengan aksi walk out (WO) alias ‘angkat kaki’ dari ruang rapat.

“Tadi sempat ramai. Ada yang tanya terbitikan saham baru masa untuk bayar utang saja? Mereka ngotot dan bikin ramai. Akhirnya ada yang WO (walk out/meninggalkan ruang rapat),” tutur Saladin usai menghadiri RUPSLB yang digelar di Hotel Gran Melia, Jakarta, Senin (30/6/2014).

Saladin mengaku pasrah menerima keputusan tersebut, karena memang tidak ada jalan lain bagi BUMI untuk melunasi utang-utangnya.

“Memang buat bayar utang, ya bagaimana lagi. Apalagi memang harga batu bara lagi rendah cuma US$ 70 dari awalnya US$ 85 per ton,” tuturnya.

Sebelumnya disebutkan, dana hasil rights issue ini akan digunakan untuk membayar utang. Perusahaan akan fokus kepada pemangkasan utang tahun ini, terutama pembayaran utang pokok kepada China Investment Corp (CIC) yang nilainya mencapai US $1,3 miliar.
Utang tersebut diperoleh melalui Country Forest Limited (CFL) pada 18 September 2009. Pinjaman yang tersisa sebesar US$ 1,3 miliar, dari jumlah itu, US$ 600 juta di antaranya akan jatuh tempo 18 September tahun ini. Sedangkan US$ 700 juta sisanya harus dilunasi sebelum 18 September 2015.

Utang lainnya yang akan dilunasi perseroan adalah ke Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$ 150 juta. Pinjaman ini diperoleh pada 14 November 2013.

Utang ketiga yang akan dibayar sebesar US$ 225 juta untuk membayar sebagian guaranteed convertible bond due 2014 serta beberapa fasilitas utang BUMI kepada para kreditur lain. Surat utang tadi diterbitkan pada 5 Agustus 2009.

Rabu lalu BUMI hampir saja gagal bayar bunga obligasi senilai US$ 18 juta yang masuk tenggat waktu terakhirnya. Namun manajemen berhasil menyelesaikan pembayaran utang tepat di batas terakhir hari pembayaran.

Direktur BUMI Sri Dharmayanti pada kesempatan itu mengatakan, eksekusi hasil keputusan ini rencananya akan dilaksanakan selambat-lambatnya September 2014.

“Harga yang disetujui RUPSLB ini Rp 250 dikalikan dengan 32,2 miliar lembar, jadi sekitar Rp 8,05 triliun,” papar dia.

Dana yang diperoleh dari hasil penerbitan saham baru ini sedianya akan dipergunakan untuk membayar utang perusahaan. Sayang dirinya tak merinci berapa besar utang yang akan dilunasi.

“Saya tidak hafal detilnya, tapi teknisnya masih sama dengan prospektus. Tidak ada perubahan,” kata dia.
Jakarta -Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang merupakan perusahaan tambang grup Bakrie, resmi digelar pukul 20.00 WIB. RUPSLB ini menyetujui rencana penerbitan saham baru atau rights issue.

Direktur BUMI Sri Dharmayanti mengatakan, sebagian besar pemegang saham yang hadir dalam RUPSLB yang digelar di Hotel Gran Melia ini menyetujui rencana tersebut. “Lebih dari 99% setuju usulan kita untuk menerbitkan saham baru,” ujarnya usai menggelar rapat tersebut, Senin (30/6/2014).

Dalam kesempatan yang sama, Komisaris BUMI Anton Setianto Soedarsono menjelaskan, dengan persetujuan ini, maka perusahaan dapat menjalankan rencana perusahaan untuk menerbitkan saham baru yang ditargetkan dapat menggalang dana segar dari publik hingga sebesar Rp 8,05 triliun.

Dana hasil rights issue ini akan digunakan untuk membayar utang. Perusahaan akan fokus kepada pemangkasan utang tahun ini, terutama pembayaran utang pokok kepada China Investment Corp (CIC) yang nilainya mencapai US $1,3 miliar.

Utang tersebut diperoleh melalui Country Forest Limited (CFL) pada 18 September 2009. Pinjaman yang tersisa sebesar US$ 1,3 miliar, dari jumlah itu, US$ 600 juta di antaranya akan jatuh tempo 18 September tahun ini. Sedangkan US$ 700 juta sisanya harus dilunasi sebelum 18 September 2015.

Utang lainnya yang akan dilunasi perseroan adalah ke Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$ 150 juta. Pinjaman ini diperoleh pada 14 November 2013.

Utang ketiga yang akan dibayar sebesar US$ 225 juta untuk membayar sebagian guaranteed convertible bond due 2014 serta beberapa fasilitas utang BUMI kepada para kreditur lain. Surat utang tadi diterbitkan pada 5 Agustus 2009.

Rabu lalu BUMI hampir saja gagal bayar bunga obligasi senilai US$ 18 juta yang masuk tenggat waktu terakhirnya. Namun manajemen berhasil menyelesaikan pembayaran utang tepat di batas terakhir hari pembayaran.

Terkait rights issue, Sri mengatakan, eksekusi hasil keputusan ini rencananya akan dilaksanakan selambat-lambatnya September 2014.

“Harga yang disetujui RUPSLB ini

Rp 250 dikalikan dengan 32,2 miliar lembar, jadi sekitar Rp 8,05 triliun

,” papar dia.

Dana yang diperoleh dari hasil penerbitan saham baru ini sedianya akan dipergunakan untuk membayar utang perusahaan. Sayang dirinya tak merinci berapa besar utang yang akan dilunasi.

“Saya tidak hafal detilnya, tapi teknisnya masih sama dengan prospektus. Tidak ada perubahan,” kata dia.

 

Bp6LzoUCEAAytSN.jpg large

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.