Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Agustus 10, 2017

Bakr1e’s GAME (12)

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 12:13 am

inves + trading cara maen saham @ warteg (EXCEL FILE)

dollar small

JAKARTA kontan. Menyusul tuntasnya restrukturisasi utang PT Bumi Resources Tbk (BUMI), entitas Grup Bakrie lainnya bakal menjalankan rencana serupa guna mengurangi beban utangnya yang menggunung.

Ada PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), ada juga PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) serta sejumlah emiten Grup Bakrie lainnya. Polanya hampir sama.

Emiten-emiten ini bakal menggelar rights issue dengan skema penerbitan saham tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) untuk kemudian dilanjutkan dengan konversi utang per saham.

Lantas, akankan proses restrukturisasi itu bakal sepenuhnya lancar hingga akhir? Sepertinya tidak.

Seperti biasa, sebelum melakukan restrukturisasi, emiten-emiten itu kebanyakan terlebih dahulu menggelar reverse stock. ENRG reverse stock dengan rasio 8:1. UNSP reverse stock 10:1.

Memang pada akhirnya rencana reverse stock disetujui oleh para pemegang saham. Tapi, persetujuannya baru diperoleh pada RUPSLB ketiga lantaran yang pertama dan keduanya tidak kuorum. Maklum, banyak investor terutama ritel yang ogah dengan saham reverse stock karena risikonya bisa meningkat drastis.

Proses reverse stock kelar, tinggal tahap menuju rights issue. Dalam tahap ini, prosesnya juga belum tentu lancar, apalagi jika skemanya menggunakan skema non-HMETD.

Para kreditur pada akhirnya lebih memilih konversi utang dari pada perusahaan debiturnya pailit. Dengan kata lain, seiring dengan negosiasi yang terus berjalan, mereka akan setuju, tentu dengan sejumlah persyaratan. “Jika ingin berjalan lancar, setidaknya harus ada standby buyer saat menggunakan skema non-HMETD,” ujar analis Oso Sekuritas Riska Afriani kepada KONTAN, Rabu (9/8).

Hal ini setidaknya untuk mengantisipasi tidak terserapnya seluruh saham rights issue. Sebab, potensi ini pasti ada, apalagi ketika harga pelaksanaan rights issue berada diatas harga pasar.

Hal ini sudah terbukti saat restrukturisasi utang BUMI. “Semua bisa berjalan lancar karena sudah ada penjaminnya,” imbuh Riska.

Anggaplah sampai proses itu kelar. Sekarang pertanyaannya, apakah saham-saham Grup Bakrie masih layak dikoleksi?

Hans Kwee, analis Investa Saran Mandiri bilang, bisnis Grup Bakrie itu ada. “Tapi, leverage-nya tidak oke,” ujarnya.

Jadi, butuh waktu yang cukup panjang untuk mengembalikan posisi terbaiknya. Untuk mengembalikan kepercayaan investor juga butuh waktu lama.

Riska menambahkan, dari sejumlah emiten Grup Bakrie yang tengah memproses restrukturisasi, ENRG menjadi salah satu yang masih paling layak dikoleksi.

Upaya ENRG untuk merestrukturisasi utangnya sudah terlihat bahkan sebelum memulai proses reverse stock. Hal ini tercermin dari kinerja keuangan ENRG kuartal I 2017 dimana ENRG mampu mencetak laba seiring dengan turunnya beban bunga. “Net profit margin ENRG sekarang juga tinggi hampir 60%,” tambah Riska.

Ini menjadi dasar ia merekomendasikan buy saham ENRG dengan target harga Rp 230 per saham.

Yudi Ilhamsyah, analis Samuel Sekuritas dalam riset 4 Agustus menjelaskan, utang ENRG menjadi minor jika disandingkan dengan portofolio aset ENRG di Blok Kangean, Bentu, Buzi, dan Gebang. Blok Buzi dan Gebang saja memiliki cadangan gas setara dengan 50 Mmboe dan 150 Mmboe. Justru karena sentimen utang, valuasi saham ENRG menjadi murah, padahal nilai perusahaannya tidak semurah itu.

Kondisi ini membuat potensi upside saham ENRG cukup lebar. “Potensi upside-nya 51%, buy dengan target harga Rp 209 per saham,” tulis Yudi.

whispering

JAKARTA kontan. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) belum juga keluar dari jerat kerugian. Total rugi bersih BNBR tahun 2016 membengkak 105% menjadi Rp 3,6 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.

Pendapatan BNBR turun 37,81% menjadi Rp 2 triliun. Sementara laba bruto turun dari Rp 626 miliar menjadi menjadi Rp 96 miliar. Penurunan beban yang tidak sebanding dengan penurunan pendapatan membuat BNBR membukukan rugi usaha Rp 443,9 miliar.

Meski sudah membukukan laba selisih kurs sebesar Rp 212 miliar, BNBR memiliki rugi bersih pada entitas asosiasi dan pengendalian bersama sebesar Rp 1,5 triliun. Selain itu, ada beban penyisihan penurunan nilai investasi sebesar Rp 1 triliun.

Dalam laporan keuangan, Selasa (28/3), BNBR menyebutkan penurunan nilai (impairment) itu berasal dari entitas PT Kalimantan Prima Power sebesar Rp 921,3 miliar dan PT Guruh Agung sebesar Rp 102,4 miliar.

Entitas asosiasi BNBR di Singapura, Bakrie Petroleum International Pte Ltd dengan kepemilikan 41% saham, mengalami rugi bersih Rp 4,5 triliun pada tahun 2016. Padahal di tahun 2015, entitas ini mencetak laba Rp 1,4 triliun.

Kinerja BNBR di akhir 2016 berubah drastis dari kinerja pada Kuartal III 2016 yang masih mencatatkan laba bersih Rp 20 miliar. Hingga berita ini diturunkan, KONTAN belum mendapat respons dari manajemen BNBR terkait laporan keuangan perseroan tahun lalu.

William Suryawijaya, Kepala Riset Asjaya Indosurya Securities mengatakan, melihat kinerja perseroan yang masih tertekan, ia menilai masih banyak risiko pada kinerja jangka panjang BNBR. “Selain harus fokus mengurangi utangnya, BNBR perlu memperbaiki tata kelola perusahaan,” tandas William.

smoke chimney SMALL

Bisnis.com,  JAKARTA – Belum dimulainya operasi produksi pada tiga aset pertambangan utama, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) mencatatkan peningkatan rugi bersih yang cukup signifikan sepanjang tahun lalu.

Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tersebut, sepanjang 2016 mencatatkan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$315,45 juta atau meningkat 632,75% dari US$43,05 juta pada 2015.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia, Selasa (21/3/2017), menunjukkan pendapatan perseroan juga tergerus signifikan, yakni terpangkas 82,65% menjadi US$2,17 juta pada 2016 dari US$12,51 juta pada 2015.

Manajemen perseroan menjelaskan dalam laporan tersebut, pos pendapatan tersebut diperoleh dari jasa penasehat pemasaran yang dilakukan oleh anak usaha mereka Bumi Resources Japan Company Limited terhadap Mitsubishi Corporation RtM Japan Ltd.

Dari jasa pemasaran batubara untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2016 perseroan meraup pendapatan sebesar sebesar US$1,17 juta. Sementara, jasa pemasaran batu bara tersebut pada 2015 menghasilkan pendapatan sebesar US$12,51.

Namun, pada 2016, BRMS memperoleh tambahan pos pendapatan dari jasa penasehat pemasaran yang dilakukan perseroan terhadap PT Petromine Energy Trading untuk memasarkan produknya. Melalui jasa penasehat pemasaran tersebut, perseroan meraup pendapatan sebesar US$1 juta.

Padahal, perseroan telah mampu menekan beban usaha sebesar 62,71% dari US$13,89 juta pada 2015 menjadi US$5,18 pada 2016. Hanya saja, minimnya pendapatan usaha membuat rugi usaha perseroan pada 2016 tercatat sebesar US$3,01 juta.

Pada pos beban lain-lain dalam laporan keuangan 2017 terdapat penurunan nilai aset sebesar US$660,26 juta, sedangkan pada 2015 pos ini nihil. Pos ini pada akhirnya mendorong rugi sebelum pajak melonjak 557,09% menjadi US$515,88 juta pada 2016 dari US$78,51 juta pada 2015.

Pos itu termasuk dalam Catatan 8 yang dalam laporan keuangan 2016 dijelaskan sebagai penjualan kepemilikan PT Multi Daerah Bersaing di PT Newmont Nusa Tenggara yang dijual pada 2 November 2016.

Dalam keterangan terpisah di Bursa Efek Indonesia yang dipublikasikan Selasa (21/3/2017), Direktur BRMS Fuad Helmy mengungkapkan perubahan lebih dari 20% atas pos total aset dan pos kewajiban pada laporan tahunan 2016, terutama disebabkan oleh realisasi pengalihan saham pada entitas anak serta penurunan pinjaman perseroan.

Kendati kinerja pada 2016 merosot, Bisnis mencatat induk usaha mereka yakni BUMI kini tengah menjajaki pembicaraan dengan dua investor dari Australia dan Afrika Selatan untuk mengembangkan aset BRMS di Gorontalo dan Palu.

Direktur Utama BUMI Ari S. Hudaya mengatakan anak usaha BUMI yakni BRMS saat ini tengah melakukan fase persiapan pengembangan tambang di ketiga aset utama mereka. Dia mengungkapkan saat ini perizinan sudah hampir selesai dan tinggal menunggu izin kontruksi dari pemerintah.

Setelah proses perizinan selesai, lanjutnya, kontruksi ditargetkan dimulai pada semester II tahun ini, atau usai Juni, khususnya untuk di dua aset BRMS yakni PT Gorontalo Minerals dan PT Citra Palu Minerals.

Namun demikian, pihaknya hingga kini masih berdiskusi dengan sejumlah investor terkait metode penambangan yang akan diterapkan, karena besarnya belanja modal akan sangat tergantung dari metode tersebut.

“Untuk copper dan gold kita masih diskusi dengan investor dari Australia, dan satu dari Afrika Selatan. Ada dua scheme, melalui epc, jadi mereka yang akan build dan operate, atau melalui joint financing,” katanya.

Skema inilah yang saat ini dibahas bersama investor. Skema dan kebutuhan pendanaan sangat bergantung dari pemilihan metode panambangan. Dari data cadangan, lanjutnya, aset Gorontalo Minerals lebih cocok untuk dikembangkan menggunakan tambang terbuka, sedangkan untuk aset Citra Palu dan PT Dairi Prima Mineral lebih cocok untuk dikembangkan menggunakan tambang bawah tanah.

valentineEVERYsmall

per tgl 24 Februari 2017:

JAKARTA ID– Pemegang saham PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) merestui aksi penggabungan saham (reverse stock) perseroan dengan rasio 10:1. Dengan demikian, nilai nominal saham perseroan yang awalnya sebesar Rp 100 menjadi sebesar Rp 1.000 per saham.

 

Sebanyak 20,3% pemegang saham Bakrie Plantation hadir dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang agendanya meminta persetujuan reverse stock. Sebanyak 87,1% pemegang saham yang hadir memberi restu perseroan untuk melangsungkan reverse stock.

 

Disetujuinya rencana reverse stock tersebut membuka jalan Bakrie Plantation untuk memulai proses restrukturisasi utang dengan kreditor. Sejumlah kreditor perseroan memang mensyaratkan reverse stock sebelum memulai negosiasi restrukturisasi utang, karena lender ingin melihat harga wajar saham perseroan terlebih dahulu.

 

Direktur dan Investor Relation Bakrie Sumatera Plantation Andi Setianto mengatakan, untuk tahap awal perseroan akan merestrukturisasi utang wesel bayar senilai Rp 1 triliun. Perseroan menargetkan restrukturisasi utang tuntas pada semester I tahun ini.

 

“Utang wesel bayar biaya bunganya paling mahal,” jelas Andi di Jakarta, senin (20/2).

 

Sejatinya, utang wesel bayar perseroan pada 2010 senilai US$ 77,5 juta dengan tingkat bunga sebesar 8% per tahun. Kemudian pada 4 Februari 2014 wesel bayar tersebut diamandemen dengan fasilitas baru hingga sebesar US$ 100 juta dan akan jatuh tempo tahun ini.

 

Perseroan telah mengalami gagal bayar bunga wesel bayar sejak 4 September 2014. Namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut dari pemegang wesel terhadap gagal bayar tersebut. Utang wesel bayar merupakan utang yang pelunasannya dijamin dengan harga saham. Jadi, biaya bunga akan sangat tergantung pada pergerakan harga saham perseroan.

 

Dia juga mengungkapkan bahwa restrukturisasi utang terbuka bagi semua kreditor. Terdapat dua utang lain yang menjadi fokus restrukturisasi utang perseroan, yakni utang sindikasi Credit Suisse dan utang kepada Bank Mandiri. Besarnya utang Bakrie Plantation membuat biaya bunga yang perlu ditanggung setiap tahun cukup tinggi. Setiap tahun, perseroan perlu membayar biaya bunga utang mencapai Rp 600 miliar.

 

Sejak 2015, biaya bunga utang perseroan lebih tinggi dibandingkan dengan perolehan laba bruto. Sepanjang 2015, biaya keuangan yang ditanggung perseroan sebesar Rp 611,6 miliar sementara laba bruto sebesar Rp 513,6 miliar. Sementara hingga kuartal III – 2016, biaya keuangan perseroan mencapai Rp 563,9 miliar dan laba bruto sebesar Rp 301,2 miliar.

 

“Biaya bunga perseroan lebih tinggi dari laba bruto, itu tidak sehat,” katanya.

 

Melalui restrukturisasi utang, perseroan menargetkan biaya bunga setiap tahun dapat terpangkas sebesar 50%. Berkurangnya biaya bunga bisa membuat perseroan memperoleh laba bersih. Perseroan tengah mendiskusikan sejumlah mekanisme restrukturisasi utang. Satu di antara opsi restrukturisasi utang perseroan adalah mengonversi utang menjadi ekuitas melalui penambahan modal hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD /rights issue) atau non-HMETD (non-preemptive rights issue).

 

Andi menjelaskan bahwa proses restrukturisasi utang akan berdampak positif karena berkurangnya beban keuangan, memperkuat arus kas operasional dan lebih sehatnya struktur permodalan perseraon.

 

“Lebih banyaknya ketersediaan dana untuk kegiatan operasional kebun dan pabrik akan meningkatkan lagi produksi sawit  dan karet perseroan,” katanya. (fik)

whispering

per tgl 09 Februari 2017, tinggal 2 saham Bakrie 9 yang lom menunjukkan pertanda bangkit dari gocap (Rp50):

Jakarta detik- Ketika krisis moneter melanda pada 2008 saham-saham dari perusahaan yang terafiliasi Bakrie Group tumbang hingga level terendah Rp 50. Sejak saat ini para pelaku pasar modal memandang miring saham-saham Bakrie.

Sebenarnya saham-saham Grup Bakrie sebelum dihempas oleh badai krisis tersebut sempat berada di harga yang fantastis. Seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang pernah mencapai titik tertinggi di level Rp 8.300 per saham pada 16 Juni 2008.

Namun di tahun yang sama saham-saham Bakrie mulai berguguran. Saham BUMI juga ikut terseret ke level Rp 50 per lembar pada 28 Juli 2015.

Begitu pula dengan saham-saham Grup Bakrie yang total berjumlah 9 emiten. Seperti PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) dan PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN).

Namun pada 10 Juni 2016 saham BUMI mulai merangkak naik dan ditutup di level Rp 67 per saham. Kemudian kembali bergeliat, pada 20 Oktober 2016 BUMI berhasil naik ke level Rp 123.

Kenaikan saham BUMI lantaran adanya sentimen positif dari rencana perseroan yang ingin melakukan restrukturisasi utang dengan melakukan konversi utang menjadi saham. Sejak saat itu saham BUMI terus melejit hingga posisi Rp 505 pada 27 Januari 2017.

Demikianlah data perdagangan yang dikutip detikFinance, Kamis (9/2/2017).

Kendati begitu, saham BUMI dijuluki sebagai saham zombie. Menurut Analis Saham Ellen May, saham ‘Zombie’ adalah sebutan untuk saham yang sudah tidur lama di liang kubur kemudian bangkit tiba-tiba. Namun ada kemungkinan bisa kembali ke liang kubur.

Namun sejak menyentuh level tertingginya, saham BUMI perlahan turun dan bergerak di atas level Rp 400. Hari ini hingga pukul 10.15 WIB saham BUMI berada di level Rp 440 menguat 10 poin dari pembukaan pagi tadi di level Rp 430.

Sementara saham BRMS mulai meninggalkan julukan saham ‘gocap’ sejak 19 Oktober 2016 dan terus bergerak hingga level tertinggi Rp 149 di 2 Februari 2017. Sedangkan DEWA bangkit sejak 6 Januari 2017 dan menyentuh level tertinggi di level Rp 95 pada 31 Januari 2017.

Lalu ELTY mulai menguat pada 26 Januari 2017 ke level Rp 52 dan menyentuh level tertinggi hingga hari ini yang sudah tembus diatas Rp100. ENRG juga menguat sejak 26 Januari dan menyentuh level tertinggi pada 30 Januari 2017 di level 82. Sedangkan UNSP dan MFTN masing-masing hari ini beradi di level Rp 81 dan Rp 58. Sementara hanya saham BNBR dan BTEL yang masih betah di level Rp 50.

(mkj/mkj)

whispering

per tgl 27 Januari 2017, wow, 5 dari Bakrie 9 mulai MENGGELIAT, bahkan MENEMPATI POSISI TERATAS TRANSAKSI TERTINGGI BEI :

5-of-bakrie9-jan-2017

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berambisi mengangkat kinerja keuangannya secara signifikan pada tahun ini. Selain berharap pada kenaikan harga komoditas, BUMI juga mengandalkan peningkatan kinerja dua anak usahanya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA).

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI, menyebut, BRMS tengah menantikan penyelesaian utang senilai US$ 600 juta, yang ditargetkan tuntas tahun ini. Pelunasan utang BRMS ini akan membantu BUMI mengurangi jumlah utang sebesar US$ 3,2 miliar.

Restrukturisasi utang BRMS akan dilakukan usai BUMI mendapat persetujuan rights issue senilai Rp 35,1 triliun. BRMS akan membayar utang dengan hasil penjualan 24% saham di PT Newmont Nusa Tenggara.

Sebagai catatan, hari ini (7/2), BUMI akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk meminta persetujuan rights issue tersebut. “Restrukturisasi BRMS ini menjadi salah satu prioritas strategis. BRMS juga akan mendorong produksi tambangnya,” ujar Dileep pada KONTAN, Jumat (3/2).

Ia menjelaskan, BRMS akan mendorong produksi seng dan timbal dari PT Dairi Prima Mineral. BRMS juga akan mengerek produksi emas serta tembaga dari PT Gorontalo Minerals dan PT Citra Palu di Sulawesi.

BUMI akan menukar utang dengan saham melalui proses rights issue. Aksi korporasi ini bakal memangkas utang sekitar US$ 2,6 miliar dan memotong beban bunga lebih dari US$ 250 juta.

Bukan cuma dari BRMS, BUMI juga mengandalkan pertumbuhan bisnis dari DEWA. Dileep bilang, DEWA ditargetkan bisa mendapatkan laba bersih di tahun 2016. Tahun ini, laba ditargetkan naik. DEWA menargetkan produksi batubara 29,1 juta ton, atau naik hampir dua kali lipat ketimbang proyeksi capaian tahun 2016 sebesar 15,1 juta ton.

Tahun ini, BUMI menargetkan penjualan 94 juta ton batubara dari tambang KPC dan Arutmin. Target itu naik dari proyeksi tahun 2016 sebesar 88 juta ton.

Reza Priyambada, Analis Binaartha Parama Sekuritas, menilai, investor cenderung melihat harga BUMI di kisaran Rp 926 per saham sesuai indikasi rights issue. Ini dilihat dari dari volume transaksi, sentimen pasar.

Meski demikian, Reza melihat bahwa jika terjadi, harga Rp 900 ini bakal makan waktu. RUPS menentukan pemegang saham setuju atau tidak menyerap saham yang lebih tinggi. “Jika pemegang saham besar setuju, mau tak mau pemegang saham publik lainnya akan mengikuti,” kata Reza kepada KONTAN, kemarin.

Kalau dilihat dari momentumnya, saham BUMI sedang berada dalam tahap konsolidasi. Dengan asumsi harga rights issue di atas harga pasar dan disetujui oleh RUPS, harga akan naik.

Kalau dalam sebulan saham BUMI bisa menyentuh Rp 600-Rp 700, harga berpeluang menuju Rp 900. Tapi, pelaku pasar juga harus mencermati potensi profit taking dari saham BUMI.

 

 ets-small

JAKARTA okezone– Lantaran terjadi peningkatan harga kumulatif yang cukup tinggi pada saham PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS), PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pun memutuskan untuk melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan saham BRMS.

Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI Irvan Susandy mengatakan, informasi terakhir yang dipublikasikan emiten adalah pada 11 Januari 2017. Dalam keterangannya, Bui Resources melaporkan aktivitas eksplorasi bulanannya.

“Sehubungan dengan terjadinya UMA atas Saham BRMS perlu kami sampaikan bahwa Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini,” imbuhnya seperti dilansir dari keterangan tertulis di BEI.

Selain itu, BEI juga meminta mencermati kinerja perusahaan tercatat dan keterbukaan informasinya, mengkaji kembali rencana corporate action perusahaan tercatat apabila rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan RUPS, dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi.

Meski demikian, pengumuman UMA ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di pasar modal.

(mrt)

ets-small

 

Merdeka.com – Saham pertambangan milik Grup Bakrie menarik perhatian pemegang saham dalam sebulan terakhir. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan anak usahanya PT Bumi Resources Minerals TBk (BRMS) meroket lebih 100 persen selama Januari 2017 saja.

Mengutip data perdagangan perusahaan, saham BUMI pada awal Januari lalu hanya bernilai Rp 280 per lembar. Namun, di 26 Januari kemarin, nilai saham perusahaan ini naik menjadi Rp 492 per lembar. Saham BUMI pernah menyentuh level tertinggi yaitu pada 25 Januari 2017 yang mencapai Rp 496 per lembar.

Tak hanya BUMI, saham BRMS juga meroket sepanjang Januari 2017. Nilai saham perusahaan ini meninggalkan level Rp 50 per lembar.

Di awal Januari lalu, nilai saham BRMS hanya Rp 67 per lembar. Namun, di 26 Januari 2016, nilai saham perusahaan naik menjadi Rp 125 per lembar. Ini adalah angka tertinggi sepanjang Januari 2017.

 whispering

Jakarta – Selamat pagi, Selamat Hari Sumpah Pemuda!

Bagaimana perdagangan saham hari ini?

Indeks Dow Jones pagi hari tadi ditutup di 18,169.68 atau melemah -0.16%. Bursa Amerika bergerak mixed disebabkan mixednya berbagai data ekonomi, seperti laporan keuangan perusahaan yang baik, tingkat pengangguran per minggu yang di atas ekspektasi, turunnya pesanan untuk “durable goods”.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin menguat 0.31% di level 5,416.83 .

Saham-saham Zombie

Sekitar tujuh tahun lalu, saham yang terafiliasi Grup Bakrie menguasai perdagangan bursa sehingga saham-saham tersebut sangat populer di kalangan investor. Namun saham -saham tersebut di lain hari justru mengalami penurunan signifikan, hingga ke level Rp 50 (Level terendah untuk perdagangan di pasar reguler BEI).

Kemarin saham bakrie kembali mendominasi perdagangan di BEI, namun hal tersebut tidak bertahan lama, karena pada sesi berikutnya saham tersebut kembali ke level 50an.

Kenapa pada bangun dari tidurnya ya?

Majelis hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat kemarin membacakan penetapan atas hasil rapat kreditur PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Adapun hasilnya, baik para kreditur dan debitur sepakat untuk menunda voting proposal perdamaian hingga 9 November 2016.

Tim pengurus PKPU BUMI mengatakan ada beberapa surat yang datang dari para kreditur untuk menunda voting atas proposal perdamaian BUMI. Kreditur meminta penundaan voting proposal lantaran masih perlu adanya diskusi baik secara internal ataupun dengan BUMI.

Bisa saja saham zombie-zombie ini bangun karena info di atas. Namun kenaikan saham ini sangat menggiurkan, bisa naik sampai AR kanan. Siapa yang tidak tertarik? Namun jangan asal beli saham zombie ini.

Salam Profit,

Ellen May (ang/ang)

Baca Juga

Review Paket Kebijakan Ekonomi ke-1 Hingga ke-13

Bahana Securities: IHSG dan Rupiah Cenderung Menguat

Akankah BUMI Lanjut Terbang Setelah Lepas dari Sangkar?

Kiwoom Securities: IHSG Akan Bergerak Negatif

Mandiri Sekuritas: IHSG Masih Akan Bergerak Datar

Saham Pilihan CPO

Kiwoom Securities: IHSG Akan Bergerak Negatif

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
NEWS FEED
  • BUMI, Saham ‘Zombie’ yang Bikin Geger

    Jumat, 28 Okt 2016 11:45 WIBSaham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengalami lonjakan beberapa kali sampai mentok batas atas (Auto Reject Atas), yang artinya ia menguat lebih dari 30% sehari.

  • Review Paket Kebijakan Ekonomi ke-1 Hingga ke-13

    Jumat, 28 Okt 2016 11:22 WIBTren perlambatan ekonomi global diperkirakan masih bakal terus berlangsung, setidaknya hingga tahun ini berakhir.

  • Aneh, Bangunan Ini Berdiri di Tengah Jalan Tol Cijago Seksi II

    Jumat, 28 Okt 2016 11:22 WIBDi tengah lalu-lalang pekerja dan alat berat yang melakukan pekerjaan jalan tol Cijago Seksi II, detikFinance menemukan pemandangan unik.

  • PLN Pakai Solar Rp 190 Miliar/Tahun Demi Terangi Pelosok Papua

    Jumat, 28 Okt 2016 11:15 WIBPT PLN (Persero) menargetkan bisa menerangi semua kabupaten di pegunungan Papua di akhir tahun 2017.

  • Kondisi Terkini Proyek Tol Cijago Seksi II

    Jumat, 28 Okt 2016 11:02 WIBPengerjaan proyek seksi II Tol Cijago telah dilakukan hingga perempatan jalan Margonda, kota Depok, begini perkembangannya.

  • Cerita Dirut PTDI, Bikin Pesawat Perintis Tanpa Bantuan Tenaga Asing

    Jumat, 28 Okt 2016 10:47 WIBPengerjaan N219 menjadi langkah PTDI dalam melakukan regenerasi kepercayaan kepada para penerus, untuk bisa diberi kepercayaan dalam pengambilan keputusan.

  • Kebangkitan Saham ‘Zombie’

    Jumat, 28 Okt 2016 10:42 WIBSekitar tujuh tahun lalu, saham yang terafiliasi Grup Bakrie menguasai perdagangan bursa sehingga saham-saham tersebut sangat populer di kalangan investor.

  • Pagi-pagi Rini Ajak Dirut BUMN Naik Bukit di Pulau Padar

    Jumat, 28 Okt 2016 10:30 WIBMenteri BUMN Rini Soemarno dan ratusan direksi BUMN tengah merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) sejumlah BUMN di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

  • Cara PLN Agar Lampung 100% Dialiri Listrik

    Jumat, 28 Okt 2016 10:10 WIBPLN menargetkan rasio elektrifikasi di Lampung bisa mencapai 100% pada tahun 2019. PLN juga bakal menambah keandalan pasokan listrik di Lampung.

  • Hebat! Pesawat Buatan RI Dipakai Thailand, Senegal, Hingga Arab

    Jumat, 28 Okt 2016 10:00 WIBHingga akhir tahun ini, PTDI menargetkan akan mengeksor pesawat untuk tiga negara, yaitu Thailand, Senegal, dan Filipina. Selain itu dengan Uni Emirat Arab.

  • Peringati Sumpah Pemuda, Rini dan Bos-bos BUMN Upacara di Pulau Padar

    Jumat, 28 Okt 2016 09:44 WIBDalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari ini, Menteri BUMN Rini Soemarno mengadakan upacara di Pulau Padar, NTT.

  • Harga Emas Antam Naik Rp 1.000/Gram

    Jumat, 28 Okt 2016 09:35 WIBHarga Logam Mulia milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) hari ini dibuka naik Rp 1.000/gram. Sementara harga buyback dibuka naik Rp 2.000/gram.

BERITA TERBARU+

  • Review Paket Kebijakan Ekonomi ke-1 Hingga ke-13Jumat, 28 Okt 2016 11:22 WIB

  • Aneh, Bangunan Ini Berdiri di Tengah Jalan Tol Cijago Seksi IIJumat, 28 Okt 2016 11:22 WIB

  • PLN Pakai Solar Rp 190 Miliar/Tahun Demi Terangi Pelosok PapuaJumat, 28 Okt 2016 11:15 WIB

  • Kondisi Terkini Proyek Tol Cijago Seksi IIJumat, 28 Okt 2016 11:02 WIB

  • 01

    Hebat! Pesawat Buatan RI Dipakai Thailand, Senegal, Hingga Arab

  • 02

    Kebangkitan Saham ‘Zombie’

  • 03

    Cerita Dirut PTDI, Bikin Pesawat Perintis Tanpa Bantuan Tenaga Asing

  • 04

    Kondisi Terkini Proyek Tol Cijago Seksi II

  • 05

    Pagi-pagi Rini Ajak Dirut BUMN Naik Bukit di Pulau Padar

  • 06

    Mau Cari Usaha yang Mudah Tapi Menguntungkan

  • 07

    Pria Ini Banting Setir, dari Asisten Direktur Jadi Penjual Roti Beromzet Rp 270 Juta/Bulan

  • 08

    Peringati Sumpah Pemuda, Rini dan Bos-bos BUMN Upacara di Pulau Padar

  • 09

    Fatwa MUI: Mencuri Listrik Itu Haram

  • 10

    Tidak Ada yang Salah Dengan Gaji Anda

  • 01

    Hebat! Pesawat Buatan RI Dipakai Thailand, Senegal, Hingga Arab

  • 02

    Kebangkitan Saham ‘Zombie’

  • 03

    Cerita Dirut PTDI, Bikin Pesawat Perintis Tanpa Bantuan Tenaga Asing

  • 04

    Kondisi Terkini Proyek Tol Cijago Seksi II

  • 05

    Pagi-pagi Rini Ajak Dirut BUMN Naik Bukit di Pulau Padar

  • 06

    Mau Cari Usaha yang Mudah Tapi Menguntungkan

  • 07

    Pria Ini Banting Setir, dari Asisten Direktur Jadi Penjual Roti Beromzet Rp 270 Juta/Bulan

  • 08

    Peringati Sumpah Pemuda, Rini dan Bos-bos BUMN Upacara di Pulau Padar

  • 09

    Fatwa MUI: Mencuri Listrik Itu Haram

  • 10

    Tidak Ada yang Salah Dengan Gaji Anda

 

JAKARTA kontan. Saham Grup Bakrie di sektor komoditas melambung beberapa hari terakhir. Misalnya, saham Bumi Resources Minerals (BRMS) yang menyentuh level tertinggi Rp 72 per saham kemarin. Angka ini naik 20% dibandingkan sehari sebelumnya.

BRMS ditransaksikan dengan volume besar, mencapai 3,15 miliar saham, jauh di atas volume rata-ratanya sekitar 135,8 juta saham. Saham Energi Mega Persada (ENRG), meski harganya tetap Rp 50 per saham, juga cukup kencang ditransaksikan.

Induk BRMS, Bumi Resources (BUMI) sempat menyentuh level tertinggi pada Senin (24/10) di Rp 150 per saham. Harga BUMI sudah naik 94,8% sejak suspensi sahamnya dibuka 5 Oktober lalu. Volume perdagangan BUMI juga cukup tinggi, 1,7 miliar saham.

Kenaikan BUMI yang cukup liar membuat saham ini masuk radar pengawasan Bursa Efek Indonesia sebagai unusual market activity (UMA) pada 21 Oktober lalu. Setelah masuk UMA, BUMI dikenai suspensi pada Selasa (25/10).

BEI bilang, suspensi BUMI di pasar reguler dan pasar tunai untuk cooling down. BEI mengingatkan investor mempertimbangkan secara matang di setiap pengambilan keputusan investasinya di BUMI. Kenaikan saham ini bermula sejak BUMI merilis laporan keuangan kuartal I dan kuartal II-2016.

Kerugian BUMI di paruh pertama tahun ini memang menyusut ke US$ 11,8 juta dari sebelumnya US$ 566,24 juta. BUMI juga masih terus berupaya melanjutkan proses restrukturisasi utang.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI dalam jawaban ke BEI, Selasa bilang, kenaikan harga BUMI mungkin karena pasar batubara mulai menggeliat. “Selain proses PKPU yang masih berlangsung, kami tak punya informasi penting dan material lainnya,” ujar Dileep.

Analis Asjaya Indosurya Securities Wiliam Surya Wijaya menilai, kenaikan saham BRMS diperkirakan mengekor saham BUMI. Saham BRMS memanas sejak ada rencana divestasi saham Newmont Nusa Tenggara (NNT) pada akhir Oktober ini.

Dana dari divestasi saham bakal dipakai untuk membayar utang. Sehingga, banyak investor berspekulasi kinerja BRMS bisa membaik.

Analis Danareksa Sekuritas, Lucky Bayu Purnomo mengingatkan trader berhati-hati melihat saham Grup bakrie. “Yang paling pertama dilihat adalah risikonya. Trader yang masuk harus siap jika saham ini kembali ke level bawah karena kinerjanya belum bagus,” ujar dia.

Lucky menilai, saham-saham ini banyak ditransaksikan jangka pendek dan berisiko kembali turun jika terkena sentimen berita negatif. Lucky pun menyarankan menghindari saham tersebut.

ets-small

Jakarta berita1- PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk berencana mengurangi jumlah saham dengan cara menggabungkan (reverse stock) dengan rasio 1 banding 10. Aksi korporasi ini akan meningkatkan harga saham emiten berkode UNSP ini yang sejak Agustus 2013 di level terendah Rp 50 per saham.

“Setiap 10 saham nominal Rp 100 per saham menjadi 1 saham nominal Rp 1.000 per saham,” kata Direktur Bakrie Sumatera Plantation Andi W. Setianto dalam paparan publik insidentil perseroan di Jakarta, Selasa (18/10).

Dia mengatakan, reverse stock merupakan upaya komunikasi perseroan dengan kreditur dalam rangka restrukturisasi utang. Aksi korporasi ini untuk kepentingan perseroan dan investor. Perseroan memperhatikan kepentingan 16.795 pemegang saham publik, dengan komposisi 83 persen pemegang saham lokal, di lebih dari 120 perusahaan sekuritas dan wali amanat.

“Paling lambat kuartal I-2017 sudah bisa restrukturisasi utang, setahun US$ 350 juta. Kita juga berupaya memangkas biaya bunga pinjaman yang hingga semester I-2016 tersisa Rp 353 miliar, turun dibandingkan tahun 2015 sebesar Rp 611 miliar,” kata dia.

Andi menjelaskan, penggabungan saham ini diharapkan dapat memperbaiki likuiditas perdagangan saham UNSP sekaligus mendapatkan harga wajar saham di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI). Selama ini pemegang saham UNSP tidak bisa menjual sahamnya yang sejak Agustus 2013 di posisi Rp 50 per saham. “Yang sell banyak, tapi tidak ada yang nge-bid,kalau pun ada, transaksi di pasar negosiasi, harganya bisa Rp 20 per saham,” kata Andi.

Direktur Utama Bakrie Sumatera Plantations Iqbal Zainuddin mengatakan, struktur permodalan yang lebih baik akan mengurangi beban keuangan dan memperbaiki fundamental perseroan, yang diharapkan dapat meningkatkan nilai perseroan dan pemegang saham. “Kami optimistis, aksi korporasi ini akan menjadi langkah awal yang positif dalam mencapai kinerja yang lebih baik,” katanya.

Dia mengatakan, penggabungan saham ini juga tidak mengubah jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh maupun modal dasar, serta tidak mengubah persentase kepemilikan pemegang saham.

Aksi korporasi ini akan diagendakan untuk mendapat persetujuan dengan pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Senin 31 Oktober 2016.

Kinerja Bakrie Sumatra Plantations pada semester I-2016 tidak terlalu menggembirakan. Perseroan merugi sebesar Rp 61,83 miliar. Pendapatan perusahaan juga turun 28,63 persen menjadi Rp 770,53 miliar dari sebelumnya Rp 1,08 triliun.

 

Whisnu Bagus Prasetyo/WBP

BeritaSatu.com

lol

Merdeka.com – PT Visi Media Asia Tbk ( VIVA) induk perusahaan PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), ANTV, tvOne dan VIVA.CO.ID mencatat pendapatan sepanjang semester I 2016 sebesar Rp 1,219 triliun atau tumbuh 9,6 persen. Pertumbuhan pendapatan VIVA di semester I 2016, lebih tinggi dari pertumbuhan industri yang diperkirakan sebesar 3,8 persen year on year (YoY).

Presiden Direktur VIVA, Anindya N. Bakrie, mengatakan pertumbuhan tersebut didukung oleh pendapatan ANTV yang mencapai Rp 858 miliar atau tumbuh 14,6 persen YoY.

“Pertumbuhan pendapatan VIVA, khususnya ANTV, adalah hasil dari penerapan strategi yang tepat dan konsisten sehingga ANTV berhasil menyiarkan program-program yang tepat bagi para pemirsanya dan pengiklan. Diharapkan VIVA dan seluruh Entitas Anak dapat melanjutkan kinerja yang baik di masa yang akan mendatang,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (5/8).

Selain mampu meningkatkan pendapatan, VIVA juga berhasil meningkatkan EBITDA semester I 2016 mencapai Rp 409 miliar atau tumbuh 13,9 persen YoY. Anindya N. Bakrie menambahkan dengan peningkatan EBITDA tersebut, maka marjin EBITDA juga mengalami peningkatan menjadi 33,5 persen dibandingkan pencapaian semester I 2015 yang mencapai 32,3 persen.

“Kami menargetkan untuk terus meningkatkan marjin EBITDA sehingga setara dengan rata-rata industri.”

Sejauh ini, dirinya mencatat ANTV meraih peringkat ke-2 dengan TV Share rata-rata 13,4 untuk periode semester I 2016, atau naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di peringkat ke-4 dengan TV Share rata-rata 11,5.

lol

we: PT Bakrie Construction mulai mengerjakan fisik pemotongan pertama konstruksi pembangunan dua “kaki jaket weelhead platform” senilai 107 juta dolar AS untuk mendukung pengeboran eksplorasi gas bumi di Blok Selat Madura.

“Adanya proyek ini membuktikan bahwa walaupun saat ini harga migas melemah di pasar internasional namun perusahaan masih eksis dan mendapat kepercayaan untuk menjalankannya,” kata Direktur Utama PT Bakrie and Brother Tbk (BNBR) Bobby Gafur Umar kepada pers usai acara itu di Merak, Cilegon, Banten, Selasa (9/8/2016).

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian pendukung pengeboran atau eksplorasi gas bumi milik Husky-CNOOC Madura Ltd (HCML) di Blok Selat Madura.

Dikatakan, proyek pembangunan dua unit “wellhead platform” itu dikerjakan konsorsium PT Bakrie Construction dengan PT Timas Suplindo, sebuah perusahaan kontraktor struktur bangunan dan komponen baja.

Penunjukan untuk mengerjakan proyek sebesar itu, katanya, membuktikan bahwa perusahaan lokal ternyata mampu dan dipercaya sehingga dinilai mampu menyerap teknologi dengan baik.

“Ini bukti bahwa di tengah lesunya sektor migas, namun bisnis manufaktur perusahaan masih bergerak dengan baik,” kata Bobby.

HCML berencana akan membangun fasilitas pengolahan gas berkapasitas 175 Juta Standar Kaki Kubik per Hari (mmscfd ) di Selat Madura.

Fasilitas pengolahan tersebut berlokasi di anjungan lepas pantai sekitar 200 kilometer timur Kota Surabaya atau 75 kilometer sebelah Tenggara Pulau Madura. Nantinya gas yang sudah diolah tersebut akan dijual untuk memenuhi kebutuhan pembeli gas di Pulau Jawa.

PT Bakrie Construction (BCons) merupakan unit usaha PT Bakrie and Brother Tbk yang memiliki pengalaman dalam fabrikasi dan proyek sektor migas.Sebanyak 70 persen proyek BCons berasal dari proyek migas, dan produk fabrikasi sudah diekspor ke sejumlah negara seperti Srilanka, Singapura, dan Australia.

Belum lama ini perusahaan menyelesaikan proyek menara tambat (konstruksi besi baja) untuk konstruksi EPC-3 Proyek Banyu Urip pesanan Mobil Cepu Ltd. (ant)

lol

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTAPT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) sepanjang semester I 2016 membukukan penjualan sebesar Rp 770 miliar.

Kebijakan Crude Palm Oil (CPO) Fund dan dampak El Nino dinilai menjadi pemicu perolehan kinerja perseroan.

“Penjualan enam bulan pertama tahun ini ditopang komoditas sawit senilai Rp 571 miliar dan karet Rp 199 miliar,” kata Direktur Investor Relations UNSP, Andi W Setianto, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (2/8/2016).

Dia mengatakan, perseroan terus melakukan program revitalisasi perkebunan dan fasilitas produksi untuk menjaga produktivitas kebun inti sawit dan karet, di tengah diskon harga jual CPO domestik akibat kebijakan CPO Fund yang memungut 50 dolar AS per ton CPO untuk subsidi program biodiesel nasional.

“Pajak Ekspor CPO yang kembali dipungut pemerintah Mei dan Juni 2016 ini, juga menambah diskon harga jual CPO dan FFB domestik yang diterima perseroan dan petani,” kata Andi.

Program revitalisasi juga dilakukan mengantisipasi dampak El-Nino yaitu kondisi cuaca ekstrim udara kering dan kurangnya curah hujan yang menyebabkan kemarau panjang dan kekeringan.

Lebih lanjut, Andi menyebut, El Nino tahun 2015 dan program biodiesel domestik menyebabkan berkurangnya ekspor pasokan sawit dunia untuk tahun 2016.

“Kondisi itu menjadi katalis perbaikan harga CPO yang mulai terlihat di akhir kuartal I 2016,” kata dia.

Menurut Andi, harga komoditas sawit utama yaitu CPO membaik dari level bulanan terendah 530 dolar AS per ton FOB Malaysia di Januari ke level tertinggi 680 dolar AS di April 2016.

lol

Pada bagian lain, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) tengah memfinalisasi penjualan saham miliknya dalam PT Newmont Nusa Tenggara (NTT) kepada pihak ketiga.

Sebelumnya, pemilik Medco, Arifin Panigoro beserta konsorsium Projosasmito dikabarkan berniat menguasai sepenuhnya saham perusahaan tambang emas tersebut.

Investor Relation Bumi Resources Minerals Herwin Hidayat mengakui, beberapa institusi telah menunjukkan keinginannya untuk membeli saham di NTT. Namun, jumlah saham yang akan dibeli, skema pembayaran, berikut nilai transaksinya masih dimatangkan.

Bumi Minerals melalui PT Multi Daerah Bersaing (MDB) mengantongi kepemilikan efektif sebesar 18% pada NTT. Adapun, pemilik saham Newmont yang lain yakni Nusa Tenggara Partnership BV (NTP) sebesar 56%, PT Pukuafu Indah sebesar 17,8%, dan PT Indonesia Masbaga Investama sebesar 2,2%.

Pertengahan April lalu, Arifin Panigoro sempat menyatakan proses negosiasi saham NTT telah masuk proses pembahasan akhir. Prosesnya diperkirakan selesai dalam waktu dekat. Selain itu, konsorsium investor Indonesia yang dikepalai mantan investment banker Agus Projosasmito pun menyatakan siap mengalokasikan dana hingga US$ 2 miliar untuk mengakuisisi saham NTT. (ID/gor)

http://id.beritasatu.com/home/bumi-resources-finalisasi-penjualan-sahamnya-di-newmont/144875
Sumber : INVESTOR DAILY

bird

Bisnis.com, JAKARTA— PT Bakrie Nirwana Semesta, anak usaha PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY) telah melakukan konversi atas piutangnya kepada PT Madison Global.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dipublikasikan Selasa (17/5/2016) dinyatakan bahwa PT Bakrie Nirwana Semesta telah melakukan konversi piutang kepada PT Madison Global (MDG) dalam bentuk surat utang konversi (SUK) berdasarkan perjanjian penerbitan pada 7 Februari 2013, menjadi saham-saham dalam (MDG).

Sekretaris Perusahaan Bakrieland Development Erry Zul Amri Djaelani menyatakan nilai piutang yang dikonversi sekitar Rp1,64 triliun menjadi 1,64 juta saham yang mewakili 82,36% dari total saham yang telah dikeluarkan oleh MDG.

Dengan demikian, pemegang saham PT Madison Global saat ini adalah Djuni Prasetya dengan 200 saham, Aprilia Yoko 200 saham dan PT Bakrie Nirwana Semesta 1,64 juta saham. Piutang Bakrie Nirwana dianggap telah diselesaikan oleh MDG, dan Bakrie Nirwana menjadi pemegang saham mayoritas dan pengendali langsung dalam MDG.

rose KECIL

Jakarta detik-PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) membukukan laba bersih Rp 148 miliar d kuartal I-2016. Periode yang sama tahun sebelumnya masih rugi Rp 88 miliar.

Sementara nilai penjualan dicatat Rp 334 miliar sepanjang tiga bulan pertama tahun 2016. Penjualan ini ditopang dari komoditas sawit dengan nilai penjualan Rp 245 miliar dan komoditas karet Rp 89 miliar.

Perseroan merevitalisasi perkebunan dan fasilitas produksi untuk menjaga produktivitas kebun inti sawit dan karet, di tengah masih lemahnya harga komoditas CPO (Crude Palm Oil) dan karet dunia di kuartal 1-2016, diskon harga domestik CPO akibat kebijakan pungutan CPO Fund US$ 50 per ton untuk mendukung program biodiesel, dan El-Nino yaitu kondisi cuaca ekstrim udara kering dan kurangnya curah hujan yang menyebabkan kemarau panjang dan kekeringan.

“Kami bekerja keras dengan sebaik-baiknya mengatasi kondisi air di kebun akibat kondisi cuaca ekstrim El-Nino tahun lalu, untuk menjaga produktivitas kebun inti sawit dan karet. Kuartal pertama semester pertama umumnya memang siklus produksi rendah, biasanya mulai meningkat pada kuartal kedua dan mencapai puncaknya di kuartal terakhir setiap tahun. Optimalisasi produktivitas pabrik, juga dilakukan dengan pembelian sawit dan karet dari petani yang tidak memiliki pabrik sekaligus membantu kesejahteraan mereka,” ujar Direktur Investor Relations UNSP, Andi W. Setianto, dalam keterangan tertulis, Selasa (10/5/2016).

Menurut Andi, harga komoditas sawit utama yaitu CPO masih berada di level bulanan rendah US$ 530 per ton FOB Malaysia di Januari yang membaik ke level US$ 630 di Maret 2016. Data pasar mencatat, trend penurunan harga CPO dari level tertinggi US$ 1.240 di Februari 2011 hingga ke level terendah US$ 480 di Agustus 2015.

Lebih lanjut, Andi menyebut, kondisi El-Nino ditahun 2015 dan program biodiesel domestik menyebabkan berkurangnya ekspor pasokan sawit dunia untuk tahun 2016, dan kondisi itu menjadi katalis perbaikan harga CPO yang mulai terlihat di akhir kuartal 1-2016.

Di sisi lain, kebijakan pungutan CPO Fund US$ 50 per ton untuk mendukung program biodiesel domestik menyebabkan diskon harga domestik CPO yang diterima Perseroan dan petani dari menjual CPO dan FFB (Fresh Fruit Bunch) di pasar lokal.

Bea Keluar CPO yang kembali dipungut Pemerintah mulai Mei 2016 ini, berpotensi menyebabkan berkurangnya pendapatan penjualan produk sawit Perseroan dan petani di pasar lokal.

“Perseroan mengikuti protokol RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) and ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) yang menjunjung tinggi prinsip ramah lingkungan dan keberlanjutan. Kita mempunyai kebijakan “zero-burning” (tanpa membakar) dalam melakukan kegiatan perkebunan khususnya aktifitas land clearing sehingga tidak ada kebakaran lahan yang berasal dari kebun Bakrie,” paparnya.

Melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia (“ASD-BSP”), Perseroan juga telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luasan lahan kebun yang sama.

Saat ini, dengan luas pertanaman sawit nasional kurang lebih 10 juta hektar, total produksi hanya sekitar 30 juta ton CPO per tahun, dengan bibit unggul maka potensi produktivitas bisa meningkat menjadi 80 juta ton CPO per tahun setelah program replanting.

Produktivitas bibit unggul ASD-BSP bisa menghasilkan 35 ton buah sawit per hektar dan ekstraksi CPO nya 23%, atau sekitar 8 ton CPO per hektar per tahun, sesuai hasil lapangan bibit unggul ASD-BSP yang sudah disertifikasi.

Dengan bibit unggul, luas lahan kebun tidak perlu bertambah menghasilkan produksi CPO berlipat ganda meningkatkan lagi produksi biodiesel untuk ketahanan energi nasional.

Perseroan melihat bibit unggul dan pendampingan petani pemilik lahan pertanaman sawit nasional kurang lebih 4 juta hektar adalah kunci produktivitas berkelanjutan sawit sebagai komoditas strategis nasional.

Direktur Utama UNSP, M. Iqbal Zainuddin menambahkan, strategi peningkatan produktivitas berkelanjutan yang sedang dilakukan akan lebih banyak lagi dirasakan dampak positifnya dalam jangka menengah dan panjang.

“Melanjuti fokus peningkatan produktivitas kebun dan pabrik, kami akan lanjutkan dengan langkah konkrit peningkatan produktivitas aset lainnya dan perbaikan struktur permodalan. Kami optimis, dalam jangka menengah dan panjang nanti perusahaan ini akan kembali bangkit menemukan momentum yang terbaik menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki fundamental bisnis yang kuat,” katanya.

(ang/drk)

Iklan

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.