Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Juli 18, 2017

neh, JAWABAN @trub … 300511_180717

Filed under: Saham Trub — bumi2009fans @ 12:15 am

ets-small

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -‎ PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membekukan perdagangan enam saham di pasar reguler dan pasar tunai akibat belum membayar biaya pencatatan tahunan (annual listing fee/ALF).
P.H. Kepala Divisi Penilaian Perusahaan I, Imron Hamzah mengatakan, berdasarkan catatan Bursa hingga 14 Oktober 2016 terdapat enam emiten yang belum melakukan pembayaran angsuran terakhir biaya pencatatan tahunan tahun 2016 dan denda atas keterlambatan pembayaran ALF.

Adapun enam saham yang disuspensi atau penghentian sementara perdagangan efek, yaitu PT Bara Jaya Internasional Tbk (ATPK), PT Bakrie Development Tbk (ELTY), PT Sugih Energy Tbk (SUGI), PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB), PT Yulie Sekurindo Tbk (YULE), dan PT Graha Citrawisata Tbk (GMCW).
“Bursa melakukan suspensi sejak sesi pertama perdagangan efek pada hari ini,” ujar Imron Hamzah, Jakarta, Senin (17/10/2016).
Biaya pencatatan tahunan yang harus ditanggung emiten bervariasi, emiten dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 100 miliar ke bawah membayar Rp 50 juta.
Kemudian, emiten berkapitalasi pasar Rp 100 miliar sampai Rp 500 miliar dikenakan biaya Rp 500 ribu per Rp 1 miliar kapitalisasi pasar.
Sedangkan perusahaan berkapitalisasi pasar di atas Rp 500 miliar wajib membayar biaya pencatatan tahunan senilai Rp 250 juta.

whispering

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –‎ PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membekukan perdagangan enam saham di pasar reguler dan pasar tunai akibat belum membayar biaya pencatatan tahunan (annual listing fee/ALF).

P.H. Kepala Divisi Penilaian Perusahaan I, Imron Hamzah mengatakan, berdasarkan catatan Bursa hingga 14 Oktober 2016 terdapat enam emiten yang belum melakukan pembayaran angsuran terakhir biaya pencatatan tahunan tahun 2016 dan denda atas keterlambatan pembayaran ALF.

Adapun enam saham yang disuspensi atau penghentian sementara perdagangan efek, yaitu PT Bara Jaya Internasional Tbk (ATPK), PT Bakrie Development Tbk (ELTY), PT Sugih Energy Tbk (SUGI), PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB), PT Yulie Sekurindo Tbk (YULE), dan PT Graha Citrawisata Tbk (GMCW).

“Bursa melakukan suspensi sejak sesi pertama perdagangan efek pada hari ini,” ujar Imron Hamzah, Jakarta, Senin (17/10/2016).

Biaya pencatatan tahunan yang harus ditanggung emiten bervariasi, emiten dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 100 miliar ke bawah membayar Rp 50 juta.

Kemudian, emiten berkapitalasi pasar Rp 100 miliar sampai Rp 500 miliar dikenakan biaya Rp 500 ribu per Rp 1 miliar kapitalisasi pasar.

Sedangkan perusahaan berkapitalisasi pasar di atas Rp 500 miliar wajib membayar biaya pencatatan tahunan senilai Rp 250 juta.

ets-small

TRUB Teken Kontrak Proyek dengan INCO

Oleh: Charles MS
Pasar Modal – Senin, 30 Mei 2011 | 17:17 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) melalui anak usahanya PT Truba Jaya Engineering telah menandatangani Kontrak Pembangunan Kembali Electric Furnace dengan PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO).

Hal ini disampaikan Corporate Secretary TRUB dalam keterbukaannya ke BEI, Senin (30/5). Kontrak yang diteken tersebut berada di Unit 2 dan Ritary Kiln Unit 1 dan Unit 3 dari INCO.

Nilai kontrak proyek ini mencapai Rp63,26 miliar dan US$2,88 juta.

Garap Proyek, TRUB Gandeng Grup Rajawali
Oleh:
Pasar Modal – Kamis, 21 April 2011 | 09:04 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) dikabarkan menjalin kerjasama dengan Grup Rajawali untuk menggarap proyek energi.

Saham TRUB diperkirakan akan menuju level Rp100 dalam jangka pendek. Apalagi saat ini perseroan sedang menggarap proyek PLTU di Jawa dan Sumatera.

Saham TRUB pada perdagangan kemarin ditutup turun Rp1 ke Rp63 dengan volume perdagangan mencapai 773.554 saham senilai Rp24,6 miliar sebanyak 2.429 kali transaksi.
Erman Suparno: Juragan Setrum
JUM’AT, 08 APRIL 2011 | 12:46 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Selepas menjadi menteri tenaga kerja dan transmigrasi, Erman Suparno kembali ke habitatnya sebagai profesional di bidang pembangunan infrastruktur. Namun kali ini, dia tak lagi membangun gedung-gedung perkantoran tapi pusat pembangkit listrik.

“Saya ini kasarnya jadi juragan setrum. Kami yang bangun infrastrukturnya, Pak Dahlan (Dahlan Iskan, Dirut PLN) yang menjual listriknya,” kata Erman diiringi derai tawa saat ditemui Tempo sebelum memimpin acara ulang tahun PT Truba ke-35 di kantornya, Jumat (08/04) pagi.
PT Truba Jaya Engineering yang dikomandoinya menguasai 70 persen pembangunan pembangkit listrik di seluruh Indonesia seperti Suralaya I-VIII, Paiton I-IX, dan PLTU Buntok di Kalimantan Timur. Akhir April ini, Truba akan menyerahkan PLTG Muara Tawar. Total nilai proyek Truba di bidang kelistrikan dan pertambangan selama 2011 ini mencapai Rp 8 triliun.

“September nanti kami akan mulai mengerjakan Paiton III dengan daya 800 Megawatt (MW). Ini pembangkit terbesar sebagai bagian dari proyek 10 ribu MW tahap II yang digagas Pak Kalla (Wakil Presiden Jusuf Kalla),” kata Erman yang didampingi Direktur Operasi PT Truba MMA Gofran. Di luar negeri, Erman menambahkan, Truba juga mengerjakan proyek di Timur Tengah seperti Qatar, Bahrain, dan Arab Saudi.

Sudrajat
Rajawali Minati TRUB
PETER SONDAKH @TRUB???

PETER SONDAKH @TRUB??? who is PS: aset dan AKSI PS/Rajawali

Oleh:
Pasar Modal – Selasa, 5 April 2011 | 08:56 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Harga saham PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) akan dibawa ke atas Rp100-200 dalam jangka menengah dan panjang.

Ini menyusul berembusnya kabar masuknya Grup Rajawali ke dalam daftar kepemilikan saham perseroan.

Selain itu, perseroan dikabarkan berhasil mendapatkan proyek baru dari Grup Sinarmas dan PLN. Pada perdagangan kemarin saham TRUB ditutup naik 1 poin ke level Rp58.
Menurut surat kabar Investor Daily, Harga saham PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) akan dibawa ke atas Rp 100-200 untuk jangka pendek dan menengah. ini menyusul berembusnya kabar masuknya Grup Rajawali ke dalam daftar kepemilikan saham perseroan. Selain itu, perseroan dikabarkan berhasil mendapatkan proyek baru dari Grup Sinarmas dan PLN, sehingga harga saham bakal menguat. Kemarin, saham TRUB naik Rp 1 (1,75%) ke level Rp 58.

Author : Rumors
BUKAN APRIL MOP :
Indo Infrastructure Group Pte. Ltd (IIG), perusahaan asal Singapura kembali melepas 32.756.642 sahamnya di PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB).

Hal ini disampaikan Dirut TRUB Sidarta Sidik dalam keterbukaan informasinya ke BEI, Jumat (1/4). Dijelaskan penjualan saham tersebut dilakukan pada 25 Maret 2011. Saham sebesar 0,21% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetorkan secara penuh pada Perseroan ini dialihkan ke Credit Suisse Securities (Europe) Lte. Prime Brokerage.

Setelah transaksi pengalihan saham tersebut, kepemilikan IIG di TRUB menjadi 1.543.556.920 saham yang mewakili 9,77%. Sebelumnya IIG memiliki 9,98% saham di TRUB.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1379122/indo-infrastructure-kembali-lepas-saham-trub

Sumber : INILAH.COM
Raih Dana Segar, TRUB Menuju Rp150
Oleh:
Pasar Modal – Rabu, 16 Maret 2011 | 08:46 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) dikabarkan berhasil mendapatkan dana segar untuk proyek PLTU Buntok, Kalimantan Tengah.

Selain itu, masuknya mitra strategis asing dan perusahaan finansial asal Belanda guna mendukung ekspansi Perseroan juga ikut mendukung penguatan saham TRUB ke depan.

Sejumlah bandar yang mengetahui kabar tersebut dikabarkan tengah bersiap menggiring saham TRUB hingga menuju level Rp150 dalam waktu dekat. Pada perdagangan kemarin, saham TRUB ditutup melemah 2 poin ke level Rp59.
SAHAM PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) berpeluang menembus level Rp 100-200 dalam jangka pendek. Beberapa pelaku pasar menyatakan, saat ini perseroan sedang melakukan negoisasi kontrak proyek dengan PLN untuk dua pembangkit listrik tenaga batu baru berkapasitas 414 MW. Selain itu, kabar masuknya dana segar dari investor Tiongkok untuk mendanai pembangkit PLTU di sejumlah daerah turut menjadi sentimen positif. Pada perdagangan Selasa (22/2), TRUB tidak bergerak di level Rp 60.
… kemarin: 22/02/2011, gw maenin trub dan dapat gain +5%an :

beli @59, jual @61, 62

Author : Rumors

Bakal Raih Kontrak PLN, TRUB Menuju Rp700

Oleh: .
Pasar Modal – Rabu, 23 Februari 2011 | 08:49 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Truba Alam Manunggal Tbk (TRUB) dikabarkan tengah melakukan negosiasi kontrak proyek dengan PT PLN (Persero).

Proyek tersebut terkait dengan dua pembangkit tenaga listrik batubara berkapasitas 414 MegaWatt. Selain itu kabar lainnya menyebutkan Perseroan tengah dilirik investor asal Tiongkok untuk mendanai pembangkit PLTU di sejumlah daerah.

Berita tersebut sudah terdengar di kalangan pelaku pasar dan sejumlah bandar dikabarkan tengah bersipa untuk menggiring saham TRUB menuju Rp200 dalam jangka pendek. Pada perdagangan kemarin saham TRUB ditutup stagnan di level Rp60.

Anak usaha PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB), PT Truba Power Utama mengambialih kepemilikan di PT Central Daya Energi.

Hal ini disampaikan manajemen TRUB dalam keterbukaannya ke BEI, Rabu (23/2).

Dijelaskan, PT Central Daya Energi merupakan grup perusahaan TRUB yang semula dimiliki mayoritas oleh CDE International Pte.Ltd (anak usaha TRUB 100%), nerubah menjadi dimiliki mayoritas PT Truba Power Utama (anak usaha TRUB di atas 99%).

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1263682/truba-power-ambialih-central-daya-energi

Sumber : INILAH.COM

Maret 29, 2017

Bakr1e’s GAME (12)

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 12:13 am

inves + trading cara maen saham @ warteg (EXCEL FILE)

dollar small

JAKARTA kontan. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) belum juga keluar dari jerat kerugian. Total rugi bersih BNBR tahun 2016 membengkak 105% menjadi Rp 3,6 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.

Pendapatan BNBR turun 37,81% menjadi Rp 2 triliun. Sementara laba bruto turun dari Rp 626 miliar menjadi menjadi Rp 96 miliar. Penurunan beban yang tidak sebanding dengan penurunan pendapatan membuat BNBR membukukan rugi usaha Rp 443,9 miliar.

Meski sudah membukukan laba selisih kurs sebesar Rp 212 miliar, BNBR memiliki rugi bersih pada entitas asosiasi dan pengendalian bersama sebesar Rp 1,5 triliun. Selain itu, ada beban penyisihan penurunan nilai investasi sebesar Rp 1 triliun.

Dalam laporan keuangan, Selasa (28/3), BNBR menyebutkan penurunan nilai (impairment) itu berasal dari entitas PT Kalimantan Prima Power sebesar Rp 921,3 miliar dan PT Guruh Agung sebesar Rp 102,4 miliar.

Entitas asosiasi BNBR di Singapura, Bakrie Petroleum International Pte Ltd dengan kepemilikan 41% saham, mengalami rugi bersih Rp 4,5 triliun pada tahun 2016. Padahal di tahun 2015, entitas ini mencetak laba Rp 1,4 triliun.

Kinerja BNBR di akhir 2016 berubah drastis dari kinerja pada Kuartal III 2016 yang masih mencatatkan laba bersih Rp 20 miliar. Hingga berita ini diturunkan, KONTAN belum mendapat respons dari manajemen BNBR terkait laporan keuangan perseroan tahun lalu.

William Suryawijaya, Kepala Riset Asjaya Indosurya Securities mengatakan, melihat kinerja perseroan yang masih tertekan, ia menilai masih banyak risiko pada kinerja jangka panjang BNBR. “Selain harus fokus mengurangi utangnya, BNBR perlu memperbaiki tata kelola perusahaan,” tandas William.

smoke chimney SMALL

Bisnis.com,  JAKARTA – Belum dimulainya operasi produksi pada tiga aset pertambangan utama, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) mencatatkan peningkatan rugi bersih yang cukup signifikan sepanjang tahun lalu.

Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tersebut, sepanjang 2016 mencatatkan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$315,45 juta atau meningkat 632,75% dari US$43,05 juta pada 2015.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia, Selasa (21/3/2017), menunjukkan pendapatan perseroan juga tergerus signifikan, yakni terpangkas 82,65% menjadi US$2,17 juta pada 2016 dari US$12,51 juta pada 2015.

Manajemen perseroan menjelaskan dalam laporan tersebut, pos pendapatan tersebut diperoleh dari jasa penasehat pemasaran yang dilakukan oleh anak usaha mereka Bumi Resources Japan Company Limited terhadap Mitsubishi Corporation RtM Japan Ltd.

Dari jasa pemasaran batubara untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2016 perseroan meraup pendapatan sebesar sebesar US$1,17 juta. Sementara, jasa pemasaran batu bara tersebut pada 2015 menghasilkan pendapatan sebesar US$12,51.

Namun, pada 2016, BRMS memperoleh tambahan pos pendapatan dari jasa penasehat pemasaran yang dilakukan perseroan terhadap PT Petromine Energy Trading untuk memasarkan produknya. Melalui jasa penasehat pemasaran tersebut, perseroan meraup pendapatan sebesar US$1 juta.

Padahal, perseroan telah mampu menekan beban usaha sebesar 62,71% dari US$13,89 juta pada 2015 menjadi US$5,18 pada 2016. Hanya saja, minimnya pendapatan usaha membuat rugi usaha perseroan pada 2016 tercatat sebesar US$3,01 juta.

Pada pos beban lain-lain dalam laporan keuangan 2017 terdapat penurunan nilai aset sebesar US$660,26 juta, sedangkan pada 2015 pos ini nihil. Pos ini pada akhirnya mendorong rugi sebelum pajak melonjak 557,09% menjadi US$515,88 juta pada 2016 dari US$78,51 juta pada 2015.

Pos itu termasuk dalam Catatan 8 yang dalam laporan keuangan 2016 dijelaskan sebagai penjualan kepemilikan PT Multi Daerah Bersaing di PT Newmont Nusa Tenggara yang dijual pada 2 November 2016.

Dalam keterangan terpisah di Bursa Efek Indonesia yang dipublikasikan Selasa (21/3/2017), Direktur BRMS Fuad Helmy mengungkapkan perubahan lebih dari 20% atas pos total aset dan pos kewajiban pada laporan tahunan 2016, terutama disebabkan oleh realisasi pengalihan saham pada entitas anak serta penurunan pinjaman perseroan.

Kendati kinerja pada 2016 merosot, Bisnis mencatat induk usaha mereka yakni BUMI kini tengah menjajaki pembicaraan dengan dua investor dari Australia dan Afrika Selatan untuk mengembangkan aset BRMS di Gorontalo dan Palu.

Direktur Utama BUMI Ari S. Hudaya mengatakan anak usaha BUMI yakni BRMS saat ini tengah melakukan fase persiapan pengembangan tambang di ketiga aset utama mereka. Dia mengungkapkan saat ini perizinan sudah hampir selesai dan tinggal menunggu izin kontruksi dari pemerintah.

Setelah proses perizinan selesai, lanjutnya, kontruksi ditargetkan dimulai pada semester II tahun ini, atau usai Juni, khususnya untuk di dua aset BRMS yakni PT Gorontalo Minerals dan PT Citra Palu Minerals.

Namun demikian, pihaknya hingga kini masih berdiskusi dengan sejumlah investor terkait metode penambangan yang akan diterapkan, karena besarnya belanja modal akan sangat tergantung dari metode tersebut.

“Untuk copper dan gold kita masih diskusi dengan investor dari Australia, dan satu dari Afrika Selatan. Ada dua scheme, melalui epc, jadi mereka yang akan build dan operate, atau melalui joint financing,” katanya.

Skema inilah yang saat ini dibahas bersama investor. Skema dan kebutuhan pendanaan sangat bergantung dari pemilihan metode panambangan. Dari data cadangan, lanjutnya, aset Gorontalo Minerals lebih cocok untuk dikembangkan menggunakan tambang terbuka, sedangkan untuk aset Citra Palu dan PT Dairi Prima Mineral lebih cocok untuk dikembangkan menggunakan tambang bawah tanah.

valentineEVERYsmall

per tgl 24 Februari 2017:

JAKARTA ID– Pemegang saham PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) merestui aksi penggabungan saham (reverse stock) perseroan dengan rasio 10:1. Dengan demikian, nilai nominal saham perseroan yang awalnya sebesar Rp 100 menjadi sebesar Rp 1.000 per saham.

 

Sebanyak 20,3% pemegang saham Bakrie Plantation hadir dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang agendanya meminta persetujuan reverse stock. Sebanyak 87,1% pemegang saham yang hadir memberi restu perseroan untuk melangsungkan reverse stock.

 

Disetujuinya rencana reverse stock tersebut membuka jalan Bakrie Plantation untuk memulai proses restrukturisasi utang dengan kreditor. Sejumlah kreditor perseroan memang mensyaratkan reverse stock sebelum memulai negosiasi restrukturisasi utang, karena lender ingin melihat harga wajar saham perseroan terlebih dahulu.

 

Direktur dan Investor Relation Bakrie Sumatera Plantation Andi Setianto mengatakan, untuk tahap awal perseroan akan merestrukturisasi utang wesel bayar senilai Rp 1 triliun. Perseroan menargetkan restrukturisasi utang tuntas pada semester I tahun ini.

 

“Utang wesel bayar biaya bunganya paling mahal,” jelas Andi di Jakarta, senin (20/2).

 

Sejatinya, utang wesel bayar perseroan pada 2010 senilai US$ 77,5 juta dengan tingkat bunga sebesar 8% per tahun. Kemudian pada 4 Februari 2014 wesel bayar tersebut diamandemen dengan fasilitas baru hingga sebesar US$ 100 juta dan akan jatuh tempo tahun ini.

 

Perseroan telah mengalami gagal bayar bunga wesel bayar sejak 4 September 2014. Namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut dari pemegang wesel terhadap gagal bayar tersebut. Utang wesel bayar merupakan utang yang pelunasannya dijamin dengan harga saham. Jadi, biaya bunga akan sangat tergantung pada pergerakan harga saham perseroan.

 

Dia juga mengungkapkan bahwa restrukturisasi utang terbuka bagi semua kreditor. Terdapat dua utang lain yang menjadi fokus restrukturisasi utang perseroan, yakni utang sindikasi Credit Suisse dan utang kepada Bank Mandiri. Besarnya utang Bakrie Plantation membuat biaya bunga yang perlu ditanggung setiap tahun cukup tinggi. Setiap tahun, perseroan perlu membayar biaya bunga utang mencapai Rp 600 miliar.

 

Sejak 2015, biaya bunga utang perseroan lebih tinggi dibandingkan dengan perolehan laba bruto. Sepanjang 2015, biaya keuangan yang ditanggung perseroan sebesar Rp 611,6 miliar sementara laba bruto sebesar Rp 513,6 miliar. Sementara hingga kuartal III – 2016, biaya keuangan perseroan mencapai Rp 563,9 miliar dan laba bruto sebesar Rp 301,2 miliar.

 

“Biaya bunga perseroan lebih tinggi dari laba bruto, itu tidak sehat,” katanya.

 

Melalui restrukturisasi utang, perseroan menargetkan biaya bunga setiap tahun dapat terpangkas sebesar 50%. Berkurangnya biaya bunga bisa membuat perseroan memperoleh laba bersih. Perseroan tengah mendiskusikan sejumlah mekanisme restrukturisasi utang. Satu di antara opsi restrukturisasi utang perseroan adalah mengonversi utang menjadi ekuitas melalui penambahan modal hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD /rights issue) atau non-HMETD (non-preemptive rights issue).

 

Andi menjelaskan bahwa proses restrukturisasi utang akan berdampak positif karena berkurangnya beban keuangan, memperkuat arus kas operasional dan lebih sehatnya struktur permodalan perseraon.

 

“Lebih banyaknya ketersediaan dana untuk kegiatan operasional kebun dan pabrik akan meningkatkan lagi produksi sawit  dan karet perseroan,” katanya. (fik)

whispering

per tgl 09 Februari 2017, tinggal 2 saham Bakrie 9 yang lom menunjukkan pertanda bangkit dari gocap (Rp50):

Jakarta detik- Ketika krisis moneter melanda pada 2008 saham-saham dari perusahaan yang terafiliasi Bakrie Group tumbang hingga level terendah Rp 50. Sejak saat ini para pelaku pasar modal memandang miring saham-saham Bakrie.

Sebenarnya saham-saham Grup Bakrie sebelum dihempas oleh badai krisis tersebut sempat berada di harga yang fantastis. Seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang pernah mencapai titik tertinggi di level Rp 8.300 per saham pada 16 Juni 2008.

Namun di tahun yang sama saham-saham Bakrie mulai berguguran. Saham BUMI juga ikut terseret ke level Rp 50 per lembar pada 28 Juli 2015.

Begitu pula dengan saham-saham Grup Bakrie yang total berjumlah 9 emiten. Seperti PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) dan PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN).

Namun pada 10 Juni 2016 saham BUMI mulai merangkak naik dan ditutup di level Rp 67 per saham. Kemudian kembali bergeliat, pada 20 Oktober 2016 BUMI berhasil naik ke level Rp 123.

Kenaikan saham BUMI lantaran adanya sentimen positif dari rencana perseroan yang ingin melakukan restrukturisasi utang dengan melakukan konversi utang menjadi saham. Sejak saat itu saham BUMI terus melejit hingga posisi Rp 505 pada 27 Januari 2017.

Demikianlah data perdagangan yang dikutip detikFinance, Kamis (9/2/2017).

Kendati begitu, saham BUMI dijuluki sebagai saham zombie. Menurut Analis Saham Ellen May, saham ‘Zombie’ adalah sebutan untuk saham yang sudah tidur lama di liang kubur kemudian bangkit tiba-tiba. Namun ada kemungkinan bisa kembali ke liang kubur.

Namun sejak menyentuh level tertingginya, saham BUMI perlahan turun dan bergerak di atas level Rp 400. Hari ini hingga pukul 10.15 WIB saham BUMI berada di level Rp 440 menguat 10 poin dari pembukaan pagi tadi di level Rp 430.

Sementara saham BRMS mulai meninggalkan julukan saham ‘gocap’ sejak 19 Oktober 2016 dan terus bergerak hingga level tertinggi Rp 149 di 2 Februari 2017. Sedangkan DEWA bangkit sejak 6 Januari 2017 dan menyentuh level tertinggi di level Rp 95 pada 31 Januari 2017.

Lalu ELTY mulai menguat pada 26 Januari 2017 ke level Rp 52 dan menyentuh level tertinggi hingga hari ini yang sudah tembus diatas Rp100. ENRG juga menguat sejak 26 Januari dan menyentuh level tertinggi pada 30 Januari 2017 di level 82. Sedangkan UNSP dan MFTN masing-masing hari ini beradi di level Rp 81 dan Rp 58. Sementara hanya saham BNBR dan BTEL yang masih betah di level Rp 50.

(mkj/mkj)

whispering

per tgl 27 Januari 2017, wow, 5 dari Bakrie 9 mulai MENGGELIAT, bahkan MENEMPATI POSISI TERATAS TRANSAKSI TERTINGGI BEI :

5-of-bakrie9-jan-2017

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berambisi mengangkat kinerja keuangannya secara signifikan pada tahun ini. Selain berharap pada kenaikan harga komoditas, BUMI juga mengandalkan peningkatan kinerja dua anak usahanya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA).

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI, menyebut, BRMS tengah menantikan penyelesaian utang senilai US$ 600 juta, yang ditargetkan tuntas tahun ini. Pelunasan utang BRMS ini akan membantu BUMI mengurangi jumlah utang sebesar US$ 3,2 miliar.

Restrukturisasi utang BRMS akan dilakukan usai BUMI mendapat persetujuan rights issue senilai Rp 35,1 triliun. BRMS akan membayar utang dengan hasil penjualan 24% saham di PT Newmont Nusa Tenggara.

Sebagai catatan, hari ini (7/2), BUMI akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk meminta persetujuan rights issue tersebut. “Restrukturisasi BRMS ini menjadi salah satu prioritas strategis. BRMS juga akan mendorong produksi tambangnya,” ujar Dileep pada KONTAN, Jumat (3/2).

Ia menjelaskan, BRMS akan mendorong produksi seng dan timbal dari PT Dairi Prima Mineral. BRMS juga akan mengerek produksi emas serta tembaga dari PT Gorontalo Minerals dan PT Citra Palu di Sulawesi.

BUMI akan menukar utang dengan saham melalui proses rights issue. Aksi korporasi ini bakal memangkas utang sekitar US$ 2,6 miliar dan memotong beban bunga lebih dari US$ 250 juta.

Bukan cuma dari BRMS, BUMI juga mengandalkan pertumbuhan bisnis dari DEWA. Dileep bilang, DEWA ditargetkan bisa mendapatkan laba bersih di tahun 2016. Tahun ini, laba ditargetkan naik. DEWA menargetkan produksi batubara 29,1 juta ton, atau naik hampir dua kali lipat ketimbang proyeksi capaian tahun 2016 sebesar 15,1 juta ton.

Tahun ini, BUMI menargetkan penjualan 94 juta ton batubara dari tambang KPC dan Arutmin. Target itu naik dari proyeksi tahun 2016 sebesar 88 juta ton.

Reza Priyambada, Analis Binaartha Parama Sekuritas, menilai, investor cenderung melihat harga BUMI di kisaran Rp 926 per saham sesuai indikasi rights issue. Ini dilihat dari dari volume transaksi, sentimen pasar.

Meski demikian, Reza melihat bahwa jika terjadi, harga Rp 900 ini bakal makan waktu. RUPS menentukan pemegang saham setuju atau tidak menyerap saham yang lebih tinggi. “Jika pemegang saham besar setuju, mau tak mau pemegang saham publik lainnya akan mengikuti,” kata Reza kepada KONTAN, kemarin.

Kalau dilihat dari momentumnya, saham BUMI sedang berada dalam tahap konsolidasi. Dengan asumsi harga rights issue di atas harga pasar dan disetujui oleh RUPS, harga akan naik.

Kalau dalam sebulan saham BUMI bisa menyentuh Rp 600-Rp 700, harga berpeluang menuju Rp 900. Tapi, pelaku pasar juga harus mencermati potensi profit taking dari saham BUMI.

 

 ets-small

JAKARTA okezone– Lantaran terjadi peningkatan harga kumulatif yang cukup tinggi pada saham PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS), PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pun memutuskan untuk melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan saham BRMS.

Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI Irvan Susandy mengatakan, informasi terakhir yang dipublikasikan emiten adalah pada 11 Januari 2017. Dalam keterangannya, Bui Resources melaporkan aktivitas eksplorasi bulanannya.

“Sehubungan dengan terjadinya UMA atas Saham BRMS perlu kami sampaikan bahwa Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini,” imbuhnya seperti dilansir dari keterangan tertulis di BEI.

Selain itu, BEI juga meminta mencermati kinerja perusahaan tercatat dan keterbukaan informasinya, mengkaji kembali rencana corporate action perusahaan tercatat apabila rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan RUPS, dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi.

Meski demikian, pengumuman UMA ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di pasar modal.

(mrt)

ets-small

 

Merdeka.com – Saham pertambangan milik Grup Bakrie menarik perhatian pemegang saham dalam sebulan terakhir. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan anak usahanya PT Bumi Resources Minerals TBk (BRMS) meroket lebih 100 persen selama Januari 2017 saja.

Mengutip data perdagangan perusahaan, saham BUMI pada awal Januari lalu hanya bernilai Rp 280 per lembar. Namun, di 26 Januari kemarin, nilai saham perusahaan ini naik menjadi Rp 492 per lembar. Saham BUMI pernah menyentuh level tertinggi yaitu pada 25 Januari 2017 yang mencapai Rp 496 per lembar.

Tak hanya BUMI, saham BRMS juga meroket sepanjang Januari 2017. Nilai saham perusahaan ini meninggalkan level Rp 50 per lembar.

Di awal Januari lalu, nilai saham BRMS hanya Rp 67 per lembar. Namun, di 26 Januari 2016, nilai saham perusahaan naik menjadi Rp 125 per lembar. Ini adalah angka tertinggi sepanjang Januari 2017.

 whispering

Jakarta – Selamat pagi, Selamat Hari Sumpah Pemuda!

Bagaimana perdagangan saham hari ini?

Indeks Dow Jones pagi hari tadi ditutup di 18,169.68 atau melemah -0.16%. Bursa Amerika bergerak mixed disebabkan mixednya berbagai data ekonomi, seperti laporan keuangan perusahaan yang baik, tingkat pengangguran per minggu yang di atas ekspektasi, turunnya pesanan untuk “durable goods”.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin menguat 0.31% di level 5,416.83 .

Saham-saham Zombie

Sekitar tujuh tahun lalu, saham yang terafiliasi Grup Bakrie menguasai perdagangan bursa sehingga saham-saham tersebut sangat populer di kalangan investor. Namun saham -saham tersebut di lain hari justru mengalami penurunan signifikan, hingga ke level Rp 50 (Level terendah untuk perdagangan di pasar reguler BEI).

Kemarin saham bakrie kembali mendominasi perdagangan di BEI, namun hal tersebut tidak bertahan lama, karena pada sesi berikutnya saham tersebut kembali ke level 50an.

Kenapa pada bangun dari tidurnya ya?

Majelis hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat kemarin membacakan penetapan atas hasil rapat kreditur PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Adapun hasilnya, baik para kreditur dan debitur sepakat untuk menunda voting proposal perdamaian hingga 9 November 2016.

Tim pengurus PKPU BUMI mengatakan ada beberapa surat yang datang dari para kreditur untuk menunda voting atas proposal perdamaian BUMI. Kreditur meminta penundaan voting proposal lantaran masih perlu adanya diskusi baik secara internal ataupun dengan BUMI.

Bisa saja saham zombie-zombie ini bangun karena info di atas. Namun kenaikan saham ini sangat menggiurkan, bisa naik sampai AR kanan. Siapa yang tidak tertarik? Namun jangan asal beli saham zombie ini.

Salam Profit,

Ellen May (ang/ang)

Baca Juga

Review Paket Kebijakan Ekonomi ke-1 Hingga ke-13

Bahana Securities: IHSG dan Rupiah Cenderung Menguat

Akankah BUMI Lanjut Terbang Setelah Lepas dari Sangkar?

Kiwoom Securities: IHSG Akan Bergerak Negatif

Mandiri Sekuritas: IHSG Masih Akan Bergerak Datar

Saham Pilihan CPO

Kiwoom Securities: IHSG Akan Bergerak Negatif

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
NEWS FEED
  • BUMI, Saham ‘Zombie’ yang Bikin Geger

    Jumat, 28 Okt 2016 11:45 WIBSaham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengalami lonjakan beberapa kali sampai mentok batas atas (Auto Reject Atas), yang artinya ia menguat lebih dari 30% sehari.

  • Review Paket Kebijakan Ekonomi ke-1 Hingga ke-13

    Jumat, 28 Okt 2016 11:22 WIBTren perlambatan ekonomi global diperkirakan masih bakal terus berlangsung, setidaknya hingga tahun ini berakhir.

  • Aneh, Bangunan Ini Berdiri di Tengah Jalan Tol Cijago Seksi II

    Jumat, 28 Okt 2016 11:22 WIBDi tengah lalu-lalang pekerja dan alat berat yang melakukan pekerjaan jalan tol Cijago Seksi II, detikFinance menemukan pemandangan unik.

  • PLN Pakai Solar Rp 190 Miliar/Tahun Demi Terangi Pelosok Papua

    Jumat, 28 Okt 2016 11:15 WIBPT PLN (Persero) menargetkan bisa menerangi semua kabupaten di pegunungan Papua di akhir tahun 2017.

  • Kondisi Terkini Proyek Tol Cijago Seksi II

    Jumat, 28 Okt 2016 11:02 WIBPengerjaan proyek seksi II Tol Cijago telah dilakukan hingga perempatan jalan Margonda, kota Depok, begini perkembangannya.

  • Cerita Dirut PTDI, Bikin Pesawat Perintis Tanpa Bantuan Tenaga Asing

    Jumat, 28 Okt 2016 10:47 WIBPengerjaan N219 menjadi langkah PTDI dalam melakukan regenerasi kepercayaan kepada para penerus, untuk bisa diberi kepercayaan dalam pengambilan keputusan.

  • Kebangkitan Saham ‘Zombie’

    Jumat, 28 Okt 2016 10:42 WIBSekitar tujuh tahun lalu, saham yang terafiliasi Grup Bakrie menguasai perdagangan bursa sehingga saham-saham tersebut sangat populer di kalangan investor.

  • Pagi-pagi Rini Ajak Dirut BUMN Naik Bukit di Pulau Padar

    Jumat, 28 Okt 2016 10:30 WIBMenteri BUMN Rini Soemarno dan ratusan direksi BUMN tengah merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) sejumlah BUMN di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

  • Cara PLN Agar Lampung 100% Dialiri Listrik

    Jumat, 28 Okt 2016 10:10 WIBPLN menargetkan rasio elektrifikasi di Lampung bisa mencapai 100% pada tahun 2019. PLN juga bakal menambah keandalan pasokan listrik di Lampung.

  • Hebat! Pesawat Buatan RI Dipakai Thailand, Senegal, Hingga Arab

    Jumat, 28 Okt 2016 10:00 WIBHingga akhir tahun ini, PTDI menargetkan akan mengeksor pesawat untuk tiga negara, yaitu Thailand, Senegal, dan Filipina. Selain itu dengan Uni Emirat Arab.

  • Peringati Sumpah Pemuda, Rini dan Bos-bos BUMN Upacara di Pulau Padar

    Jumat, 28 Okt 2016 09:44 WIBDalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari ini, Menteri BUMN Rini Soemarno mengadakan upacara di Pulau Padar, NTT.

  • Harga Emas Antam Naik Rp 1.000/Gram

    Jumat, 28 Okt 2016 09:35 WIBHarga Logam Mulia milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) hari ini dibuka naik Rp 1.000/gram. Sementara harga buyback dibuka naik Rp 2.000/gram.

BERITA TERBARU+

  • Review Paket Kebijakan Ekonomi ke-1 Hingga ke-13Jumat, 28 Okt 2016 11:22 WIB

  • Aneh, Bangunan Ini Berdiri di Tengah Jalan Tol Cijago Seksi IIJumat, 28 Okt 2016 11:22 WIB

  • PLN Pakai Solar Rp 190 Miliar/Tahun Demi Terangi Pelosok PapuaJumat, 28 Okt 2016 11:15 WIB

  • Kondisi Terkini Proyek Tol Cijago Seksi IIJumat, 28 Okt 2016 11:02 WIB

  • 01

    Hebat! Pesawat Buatan RI Dipakai Thailand, Senegal, Hingga Arab

  • 02

    Kebangkitan Saham ‘Zombie’

  • 03

    Cerita Dirut PTDI, Bikin Pesawat Perintis Tanpa Bantuan Tenaga Asing

  • 04

    Kondisi Terkini Proyek Tol Cijago Seksi II

  • 05

    Pagi-pagi Rini Ajak Dirut BUMN Naik Bukit di Pulau Padar

  • 06

    Mau Cari Usaha yang Mudah Tapi Menguntungkan

  • 07

    Pria Ini Banting Setir, dari Asisten Direktur Jadi Penjual Roti Beromzet Rp 270 Juta/Bulan

  • 08

    Peringati Sumpah Pemuda, Rini dan Bos-bos BUMN Upacara di Pulau Padar

  • 09

    Fatwa MUI: Mencuri Listrik Itu Haram

  • 10

    Tidak Ada yang Salah Dengan Gaji Anda

  • 01

    Hebat! Pesawat Buatan RI Dipakai Thailand, Senegal, Hingga Arab

  • 02

    Kebangkitan Saham ‘Zombie’

  • 03

    Cerita Dirut PTDI, Bikin Pesawat Perintis Tanpa Bantuan Tenaga Asing

  • 04

    Kondisi Terkini Proyek Tol Cijago Seksi II

  • 05

    Pagi-pagi Rini Ajak Dirut BUMN Naik Bukit di Pulau Padar

  • 06

    Mau Cari Usaha yang Mudah Tapi Menguntungkan

  • 07

    Pria Ini Banting Setir, dari Asisten Direktur Jadi Penjual Roti Beromzet Rp 270 Juta/Bulan

  • 08

    Peringati Sumpah Pemuda, Rini dan Bos-bos BUMN Upacara di Pulau Padar

  • 09

    Fatwa MUI: Mencuri Listrik Itu Haram

  • 10

    Tidak Ada yang Salah Dengan Gaji Anda

 

JAKARTA kontan. Saham Grup Bakrie di sektor komoditas melambung beberapa hari terakhir. Misalnya, saham Bumi Resources Minerals (BRMS) yang menyentuh level tertinggi Rp 72 per saham kemarin. Angka ini naik 20% dibandingkan sehari sebelumnya.

BRMS ditransaksikan dengan volume besar, mencapai 3,15 miliar saham, jauh di atas volume rata-ratanya sekitar 135,8 juta saham. Saham Energi Mega Persada (ENRG), meski harganya tetap Rp 50 per saham, juga cukup kencang ditransaksikan.

Induk BRMS, Bumi Resources (BUMI) sempat menyentuh level tertinggi pada Senin (24/10) di Rp 150 per saham. Harga BUMI sudah naik 94,8% sejak suspensi sahamnya dibuka 5 Oktober lalu. Volume perdagangan BUMI juga cukup tinggi, 1,7 miliar saham.

Kenaikan BUMI yang cukup liar membuat saham ini masuk radar pengawasan Bursa Efek Indonesia sebagai unusual market activity (UMA) pada 21 Oktober lalu. Setelah masuk UMA, BUMI dikenai suspensi pada Selasa (25/10).

BEI bilang, suspensi BUMI di pasar reguler dan pasar tunai untuk cooling down. BEI mengingatkan investor mempertimbangkan secara matang di setiap pengambilan keputusan investasinya di BUMI. Kenaikan saham ini bermula sejak BUMI merilis laporan keuangan kuartal I dan kuartal II-2016.

Kerugian BUMI di paruh pertama tahun ini memang menyusut ke US$ 11,8 juta dari sebelumnya US$ 566,24 juta. BUMI juga masih terus berupaya melanjutkan proses restrukturisasi utang.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI dalam jawaban ke BEI, Selasa bilang, kenaikan harga BUMI mungkin karena pasar batubara mulai menggeliat. “Selain proses PKPU yang masih berlangsung, kami tak punya informasi penting dan material lainnya,” ujar Dileep.

Analis Asjaya Indosurya Securities Wiliam Surya Wijaya menilai, kenaikan saham BRMS diperkirakan mengekor saham BUMI. Saham BRMS memanas sejak ada rencana divestasi saham Newmont Nusa Tenggara (NNT) pada akhir Oktober ini.

Dana dari divestasi saham bakal dipakai untuk membayar utang. Sehingga, banyak investor berspekulasi kinerja BRMS bisa membaik.

Analis Danareksa Sekuritas, Lucky Bayu Purnomo mengingatkan trader berhati-hati melihat saham Grup bakrie. “Yang paling pertama dilihat adalah risikonya. Trader yang masuk harus siap jika saham ini kembali ke level bawah karena kinerjanya belum bagus,” ujar dia.

Lucky menilai, saham-saham ini banyak ditransaksikan jangka pendek dan berisiko kembali turun jika terkena sentimen berita negatif. Lucky pun menyarankan menghindari saham tersebut.

ets-small

Jakarta berita1- PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk berencana mengurangi jumlah saham dengan cara menggabungkan (reverse stock) dengan rasio 1 banding 10. Aksi korporasi ini akan meningkatkan harga saham emiten berkode UNSP ini yang sejak Agustus 2013 di level terendah Rp 50 per saham.

“Setiap 10 saham nominal Rp 100 per saham menjadi 1 saham nominal Rp 1.000 per saham,” kata Direktur Bakrie Sumatera Plantation Andi W. Setianto dalam paparan publik insidentil perseroan di Jakarta, Selasa (18/10).

Dia mengatakan, reverse stock merupakan upaya komunikasi perseroan dengan kreditur dalam rangka restrukturisasi utang. Aksi korporasi ini untuk kepentingan perseroan dan investor. Perseroan memperhatikan kepentingan 16.795 pemegang saham publik, dengan komposisi 83 persen pemegang saham lokal, di lebih dari 120 perusahaan sekuritas dan wali amanat.

“Paling lambat kuartal I-2017 sudah bisa restrukturisasi utang, setahun US$ 350 juta. Kita juga berupaya memangkas biaya bunga pinjaman yang hingga semester I-2016 tersisa Rp 353 miliar, turun dibandingkan tahun 2015 sebesar Rp 611 miliar,” kata dia.

Andi menjelaskan, penggabungan saham ini diharapkan dapat memperbaiki likuiditas perdagangan saham UNSP sekaligus mendapatkan harga wajar saham di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI). Selama ini pemegang saham UNSP tidak bisa menjual sahamnya yang sejak Agustus 2013 di posisi Rp 50 per saham. “Yang sell banyak, tapi tidak ada yang nge-bid,kalau pun ada, transaksi di pasar negosiasi, harganya bisa Rp 20 per saham,” kata Andi.

Direktur Utama Bakrie Sumatera Plantations Iqbal Zainuddin mengatakan, struktur permodalan yang lebih baik akan mengurangi beban keuangan dan memperbaiki fundamental perseroan, yang diharapkan dapat meningkatkan nilai perseroan dan pemegang saham. “Kami optimistis, aksi korporasi ini akan menjadi langkah awal yang positif dalam mencapai kinerja yang lebih baik,” katanya.

Dia mengatakan, penggabungan saham ini juga tidak mengubah jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh maupun modal dasar, serta tidak mengubah persentase kepemilikan pemegang saham.

Aksi korporasi ini akan diagendakan untuk mendapat persetujuan dengan pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Senin 31 Oktober 2016.

Kinerja Bakrie Sumatra Plantations pada semester I-2016 tidak terlalu menggembirakan. Perseroan merugi sebesar Rp 61,83 miliar. Pendapatan perusahaan juga turun 28,63 persen menjadi Rp 770,53 miliar dari sebelumnya Rp 1,08 triliun.

 

Whisnu Bagus Prasetyo/WBP

BeritaSatu.com

lol

Merdeka.com – PT Visi Media Asia Tbk ( VIVA) induk perusahaan PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), ANTV, tvOne dan VIVA.CO.ID mencatat pendapatan sepanjang semester I 2016 sebesar Rp 1,219 triliun atau tumbuh 9,6 persen. Pertumbuhan pendapatan VIVA di semester I 2016, lebih tinggi dari pertumbuhan industri yang diperkirakan sebesar 3,8 persen year on year (YoY).

Presiden Direktur VIVA, Anindya N. Bakrie, mengatakan pertumbuhan tersebut didukung oleh pendapatan ANTV yang mencapai Rp 858 miliar atau tumbuh 14,6 persen YoY.

“Pertumbuhan pendapatan VIVA, khususnya ANTV, adalah hasil dari penerapan strategi yang tepat dan konsisten sehingga ANTV berhasil menyiarkan program-program yang tepat bagi para pemirsanya dan pengiklan. Diharapkan VIVA dan seluruh Entitas Anak dapat melanjutkan kinerja yang baik di masa yang akan mendatang,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (5/8).

Selain mampu meningkatkan pendapatan, VIVA juga berhasil meningkatkan EBITDA semester I 2016 mencapai Rp 409 miliar atau tumbuh 13,9 persen YoY. Anindya N. Bakrie menambahkan dengan peningkatan EBITDA tersebut, maka marjin EBITDA juga mengalami peningkatan menjadi 33,5 persen dibandingkan pencapaian semester I 2015 yang mencapai 32,3 persen.

“Kami menargetkan untuk terus meningkatkan marjin EBITDA sehingga setara dengan rata-rata industri.”

Sejauh ini, dirinya mencatat ANTV meraih peringkat ke-2 dengan TV Share rata-rata 13,4 untuk periode semester I 2016, atau naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di peringkat ke-4 dengan TV Share rata-rata 11,5.

lol

we: PT Bakrie Construction mulai mengerjakan fisik pemotongan pertama konstruksi pembangunan dua “kaki jaket weelhead platform” senilai 107 juta dolar AS untuk mendukung pengeboran eksplorasi gas bumi di Blok Selat Madura.

“Adanya proyek ini membuktikan bahwa walaupun saat ini harga migas melemah di pasar internasional namun perusahaan masih eksis dan mendapat kepercayaan untuk menjalankannya,” kata Direktur Utama PT Bakrie and Brother Tbk (BNBR) Bobby Gafur Umar kepada pers usai acara itu di Merak, Cilegon, Banten, Selasa (9/8/2016).

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian pendukung pengeboran atau eksplorasi gas bumi milik Husky-CNOOC Madura Ltd (HCML) di Blok Selat Madura.

Dikatakan, proyek pembangunan dua unit “wellhead platform” itu dikerjakan konsorsium PT Bakrie Construction dengan PT Timas Suplindo, sebuah perusahaan kontraktor struktur bangunan dan komponen baja.

Penunjukan untuk mengerjakan proyek sebesar itu, katanya, membuktikan bahwa perusahaan lokal ternyata mampu dan dipercaya sehingga dinilai mampu menyerap teknologi dengan baik.

“Ini bukti bahwa di tengah lesunya sektor migas, namun bisnis manufaktur perusahaan masih bergerak dengan baik,” kata Bobby.

HCML berencana akan membangun fasilitas pengolahan gas berkapasitas 175 Juta Standar Kaki Kubik per Hari (mmscfd ) di Selat Madura.

Fasilitas pengolahan tersebut berlokasi di anjungan lepas pantai sekitar 200 kilometer timur Kota Surabaya atau 75 kilometer sebelah Tenggara Pulau Madura. Nantinya gas yang sudah diolah tersebut akan dijual untuk memenuhi kebutuhan pembeli gas di Pulau Jawa.

PT Bakrie Construction (BCons) merupakan unit usaha PT Bakrie and Brother Tbk yang memiliki pengalaman dalam fabrikasi dan proyek sektor migas.Sebanyak 70 persen proyek BCons berasal dari proyek migas, dan produk fabrikasi sudah diekspor ke sejumlah negara seperti Srilanka, Singapura, dan Australia.

Belum lama ini perusahaan menyelesaikan proyek menara tambat (konstruksi besi baja) untuk konstruksi EPC-3 Proyek Banyu Urip pesanan Mobil Cepu Ltd. (ant)

lol

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTAPT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) sepanjang semester I 2016 membukukan penjualan sebesar Rp 770 miliar.

Kebijakan Crude Palm Oil (CPO) Fund dan dampak El Nino dinilai menjadi pemicu perolehan kinerja perseroan.

“Penjualan enam bulan pertama tahun ini ditopang komoditas sawit senilai Rp 571 miliar dan karet Rp 199 miliar,” kata Direktur Investor Relations UNSP, Andi W Setianto, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (2/8/2016).

Dia mengatakan, perseroan terus melakukan program revitalisasi perkebunan dan fasilitas produksi untuk menjaga produktivitas kebun inti sawit dan karet, di tengah diskon harga jual CPO domestik akibat kebijakan CPO Fund yang memungut 50 dolar AS per ton CPO untuk subsidi program biodiesel nasional.

“Pajak Ekspor CPO yang kembali dipungut pemerintah Mei dan Juni 2016 ini, juga menambah diskon harga jual CPO dan FFB domestik yang diterima perseroan dan petani,” kata Andi.

Program revitalisasi juga dilakukan mengantisipasi dampak El-Nino yaitu kondisi cuaca ekstrim udara kering dan kurangnya curah hujan yang menyebabkan kemarau panjang dan kekeringan.

Lebih lanjut, Andi menyebut, El Nino tahun 2015 dan program biodiesel domestik menyebabkan berkurangnya ekspor pasokan sawit dunia untuk tahun 2016.

“Kondisi itu menjadi katalis perbaikan harga CPO yang mulai terlihat di akhir kuartal I 2016,” kata dia.

Menurut Andi, harga komoditas sawit utama yaitu CPO membaik dari level bulanan terendah 530 dolar AS per ton FOB Malaysia di Januari ke level tertinggi 680 dolar AS di April 2016.

lol

Pada bagian lain, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) tengah memfinalisasi penjualan saham miliknya dalam PT Newmont Nusa Tenggara (NTT) kepada pihak ketiga.

Sebelumnya, pemilik Medco, Arifin Panigoro beserta konsorsium Projosasmito dikabarkan berniat menguasai sepenuhnya saham perusahaan tambang emas tersebut.

Investor Relation Bumi Resources Minerals Herwin Hidayat mengakui, beberapa institusi telah menunjukkan keinginannya untuk membeli saham di NTT. Namun, jumlah saham yang akan dibeli, skema pembayaran, berikut nilai transaksinya masih dimatangkan.

Bumi Minerals melalui PT Multi Daerah Bersaing (MDB) mengantongi kepemilikan efektif sebesar 18% pada NTT. Adapun, pemilik saham Newmont yang lain yakni Nusa Tenggara Partnership BV (NTP) sebesar 56%, PT Pukuafu Indah sebesar 17,8%, dan PT Indonesia Masbaga Investama sebesar 2,2%.

Pertengahan April lalu, Arifin Panigoro sempat menyatakan proses negosiasi saham NTT telah masuk proses pembahasan akhir. Prosesnya diperkirakan selesai dalam waktu dekat. Selain itu, konsorsium investor Indonesia yang dikepalai mantan investment banker Agus Projosasmito pun menyatakan siap mengalokasikan dana hingga US$ 2 miliar untuk mengakuisisi saham NTT. (ID/gor)

http://id.beritasatu.com/home/bumi-resources-finalisasi-penjualan-sahamnya-di-newmont/144875
Sumber : INVESTOR DAILY

bird

Bisnis.com, JAKARTA— PT Bakrie Nirwana Semesta, anak usaha PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY) telah melakukan konversi atas piutangnya kepada PT Madison Global.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dipublikasikan Selasa (17/5/2016) dinyatakan bahwa PT Bakrie Nirwana Semesta telah melakukan konversi piutang kepada PT Madison Global (MDG) dalam bentuk surat utang konversi (SUK) berdasarkan perjanjian penerbitan pada 7 Februari 2013, menjadi saham-saham dalam (MDG).

Sekretaris Perusahaan Bakrieland Development Erry Zul Amri Djaelani menyatakan nilai piutang yang dikonversi sekitar Rp1,64 triliun menjadi 1,64 juta saham yang mewakili 82,36% dari total saham yang telah dikeluarkan oleh MDG.

Dengan demikian, pemegang saham PT Madison Global saat ini adalah Djuni Prasetya dengan 200 saham, Aprilia Yoko 200 saham dan PT Bakrie Nirwana Semesta 1,64 juta saham. Piutang Bakrie Nirwana dianggap telah diselesaikan oleh MDG, dan Bakrie Nirwana menjadi pemegang saham mayoritas dan pengendali langsung dalam MDG.

rose KECIL

Jakarta detik-PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) membukukan laba bersih Rp 148 miliar d kuartal I-2016. Periode yang sama tahun sebelumnya masih rugi Rp 88 miliar.

Sementara nilai penjualan dicatat Rp 334 miliar sepanjang tiga bulan pertama tahun 2016. Penjualan ini ditopang dari komoditas sawit dengan nilai penjualan Rp 245 miliar dan komoditas karet Rp 89 miliar.

Perseroan merevitalisasi perkebunan dan fasilitas produksi untuk menjaga produktivitas kebun inti sawit dan karet, di tengah masih lemahnya harga komoditas CPO (Crude Palm Oil) dan karet dunia di kuartal 1-2016, diskon harga domestik CPO akibat kebijakan pungutan CPO Fund US$ 50 per ton untuk mendukung program biodiesel, dan El-Nino yaitu kondisi cuaca ekstrim udara kering dan kurangnya curah hujan yang menyebabkan kemarau panjang dan kekeringan.

“Kami bekerja keras dengan sebaik-baiknya mengatasi kondisi air di kebun akibat kondisi cuaca ekstrim El-Nino tahun lalu, untuk menjaga produktivitas kebun inti sawit dan karet. Kuartal pertama semester pertama umumnya memang siklus produksi rendah, biasanya mulai meningkat pada kuartal kedua dan mencapai puncaknya di kuartal terakhir setiap tahun. Optimalisasi produktivitas pabrik, juga dilakukan dengan pembelian sawit dan karet dari petani yang tidak memiliki pabrik sekaligus membantu kesejahteraan mereka,” ujar Direktur Investor Relations UNSP, Andi W. Setianto, dalam keterangan tertulis, Selasa (10/5/2016).

Menurut Andi, harga komoditas sawit utama yaitu CPO masih berada di level bulanan rendah US$ 530 per ton FOB Malaysia di Januari yang membaik ke level US$ 630 di Maret 2016. Data pasar mencatat, trend penurunan harga CPO dari level tertinggi US$ 1.240 di Februari 2011 hingga ke level terendah US$ 480 di Agustus 2015.

Lebih lanjut, Andi menyebut, kondisi El-Nino ditahun 2015 dan program biodiesel domestik menyebabkan berkurangnya ekspor pasokan sawit dunia untuk tahun 2016, dan kondisi itu menjadi katalis perbaikan harga CPO yang mulai terlihat di akhir kuartal 1-2016.

Di sisi lain, kebijakan pungutan CPO Fund US$ 50 per ton untuk mendukung program biodiesel domestik menyebabkan diskon harga domestik CPO yang diterima Perseroan dan petani dari menjual CPO dan FFB (Fresh Fruit Bunch) di pasar lokal.

Bea Keluar CPO yang kembali dipungut Pemerintah mulai Mei 2016 ini, berpotensi menyebabkan berkurangnya pendapatan penjualan produk sawit Perseroan dan petani di pasar lokal.

“Perseroan mengikuti protokol RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) and ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) yang menjunjung tinggi prinsip ramah lingkungan dan keberlanjutan. Kita mempunyai kebijakan “zero-burning” (tanpa membakar) dalam melakukan kegiatan perkebunan khususnya aktifitas land clearing sehingga tidak ada kebakaran lahan yang berasal dari kebun Bakrie,” paparnya.

Melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia (“ASD-BSP”), Perseroan juga telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luasan lahan kebun yang sama.

Saat ini, dengan luas pertanaman sawit nasional kurang lebih 10 juta hektar, total produksi hanya sekitar 30 juta ton CPO per tahun, dengan bibit unggul maka potensi produktivitas bisa meningkat menjadi 80 juta ton CPO per tahun setelah program replanting.

Produktivitas bibit unggul ASD-BSP bisa menghasilkan 35 ton buah sawit per hektar dan ekstraksi CPO nya 23%, atau sekitar 8 ton CPO per hektar per tahun, sesuai hasil lapangan bibit unggul ASD-BSP yang sudah disertifikasi.

Dengan bibit unggul, luas lahan kebun tidak perlu bertambah menghasilkan produksi CPO berlipat ganda meningkatkan lagi produksi biodiesel untuk ketahanan energi nasional.

Perseroan melihat bibit unggul dan pendampingan petani pemilik lahan pertanaman sawit nasional kurang lebih 4 juta hektar adalah kunci produktivitas berkelanjutan sawit sebagai komoditas strategis nasional.

Direktur Utama UNSP, M. Iqbal Zainuddin menambahkan, strategi peningkatan produktivitas berkelanjutan yang sedang dilakukan akan lebih banyak lagi dirasakan dampak positifnya dalam jangka menengah dan panjang.

“Melanjuti fokus peningkatan produktivitas kebun dan pabrik, kami akan lanjutkan dengan langkah konkrit peningkatan produktivitas aset lainnya dan perbaikan struktur permodalan. Kami optimis, dalam jangka menengah dan panjang nanti perusahaan ini akan kembali bangkit menemukan momentum yang terbaik menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki fundamental bisnis yang kuat,” katanya.

(ang/drk)

Oktober 20, 2016

baca sendiri info resmi TRUB

Filed under: Saham Trub — bumi2009fans @ 1:02 am

neh info TRUBA ENGINEERING yang maseh berkibarrrrr

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –‎ PT Bursa Efek Indonesia (BEI)membekukan perdagangan enam saham di pasar reguler dan pasar tunai akibat belum membayar biaya pencatatan tahunan (annual listing fee/ALF).

P.H. Kepala Divisi Penilaian Perusahaan I, Imron Hamzah mengatakan, berdasarkan catatan Bursa hingga 14 Oktober 2016 terdapat enam emiten yang belum melakukan pembayaran angsuran terakhir biaya pencatatan tahunan tahun 2016 dan denda atas keterlambatan pembayaran ALF.

Adapun enam saham yang disuspensi atau penghentian sementara perdagangan efek, yaitu PT Bara Jaya Internasional Tbk (ATPK), PT Bakrie Development Tbk (ELTY), PT Sugih Energy Tbk (SUGI), PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB), PT Yulie Sekurindo Tbk (YULE), dan PT Graha Citrawisata Tbk (GMCW).

“Bursa melakukan suspensi sejak sesi pertama perdagangan efek pada hari ini,” ujar Imron Hamzah, Jakarta, Senin (17/10/2016).

Biaya pencatatan tahunan yang harus ditanggung emitenbervariasi, emiten dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 100 miliar ke bawah membayar Rp 50 juta.

Kemudian, emiten berkapitalasi pasar Rp 100 miliar sampai Rp 500 miliar dikenakan biaya Rp 500 ribu per Rp 1 miliar kapitalisasi pasar.

Sedangkan perusahaan berkapitalisasi pasar di atas Rp 500 miliar wajib membayar biaya pencatatan tahunan senilai Rp 250 juta.

lol

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) melanjutkan sanksi penghentian sementara perdagangan saham atau suspensi atas saham PT Permata Prima Sakti Tbk (TGKA), PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (e) dan Grahamas Citrawisata Tbk (GMCW).

Tiga saham tersebut sebelumnya memang telah disuspensi oleh BEI.

Ph Kepala Penilaian Perusahaan 1 BEI Adi Pratomo Aryanto menuturkan, suspensi kali ini dilakukan akibat perusahaan terkait belum melakukan pembayaran biaya pencatatan tahunan (ALF).

Sesuai aturan, pembayaran kekurangan ALF paling lambat dilakukan pada 30 November 2015. Dan sanksi denda, wajib disetor ke rekening bursa paling lambat 15 hari sejak sanksi denda tersebut diputuskan bursa.

“Apabila perusahaan tercatat yang bersangkutan tidak membayar denda dalam jangka waktu tersebut di atas, maka bursa dapat melakukan penghentian sementara perdagangan saham perusahaan tercatat,” kata dia, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (16/12/2015).

Karena itu, Bursa memutuskan untuk melanjutkan sementara perdagangan efek di pasar reguler dan pasar tunai untuk tiga saham tersebut.

http://economy.okezone.com/read/2015/12/16/278/1268569/suspensi-tgka-trub-gmcw-diperpanjang
Sumber : OKEZONE.COM

smoke chimney SMALL

Bisnis.com, JAKARTA—Otoritas bursa memberikan peringatan tertulis III dan denda masing-masing Rp150 juta kepada tujuh emiten yang belum juga menyampaikan laporan keuangan yang berakhir per 31 Maret 2014.

Hal itu tertuang dalam pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dirilis, Jumat (4/7/2014).

Empat dari tujuh emiten itu adalah PT Berlian Laju Tanker Tbk. (BLTA), PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk. (BORN), PT Buana Listya Tama Tbk. (BULL), dan PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk. (TRUB).

Keempatnya juga belum menyerahkan laporan keuangan per 31 Desember 2013. PT Tri Banyan Tirta Tbk. (ALTO) sudah menyerahkan laporan keuangan 2013 tapi belum membayar denda.

Selanjutnya, PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk. (HITS) dan PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY) hingga 29 Juni 2014 belum juga menyampaikan laporan keuangan interim kuartal I/2014 yang tidak ditelaah secara terbatas atau yang tidak diaudit oleh akuntan publik.

Sementara itu, PT Graha Layar Prima Tbk. (BLTZ) belum menyampaikan laporan keuangan interim kuartal I/2014 yang diaudit oleh akuntan publik. Akibatnya, perseroan dikenakan peringatan tertulis I.

Bursa mencatat status penyampaian laporan keuangan interim kuartal I/2014, dari total 552 perusahaan tercatat yang ada, sebanyak 478 telah menyampaikan laporan keuangan.

Ada 59 yang tidak wajib menyampaikan laporan keuangan, ada 8 yang belum menyampaikan laporan keuangan, dan ada 7 yang belum wajib menyampaikan laporan keuangan.

 

Editor : Taufik Wisastra

buttrock

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) menjatuhkan sanksi penghentian sementara (suspensi) perdagangan saham dua emitan, yakni PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) dan PT Buana Listya Tama Tbk (BULL).

Selain itu, Bursa juga memperpanjang suspensi efek tiga perusahaan tercatat, yakni PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA), PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) dan PT Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO).

Dalam keterangan tertulisnya, Senin (30/6/2014), PH Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Group I BEI Adi Pratomo Aryanto menjelaskan, lima emiten tersebut belum menyerahkan laporan keuangan audit per 31 Desember 2013, dan atau belum melakukan pebayaran denda atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan.

1. BLTA belum menyampaikan laporan keuanmgan 2013 dan belum melakukan pembayaran denda. Saham ini telah disuspensi sejak 25 januari 2012.

2. BORN belum menyampaikan laporan keuanmgan 2013.

3. BULL belum menyampaikan laporan keuanmgan 2013 dan belum melakukan pembayaran denda. Saham ini telah disuspensi sejak 25 januari 2012.

4. TRUB belum menyampaikan laporan keuanmgan 2013 dan belum melakukan pembayaran denda. Saham ini telah disuspensi sejak 25 januari 2012. Saham ini disuspensi di pasar reguler dan tunai sejak 1 Juli 2013.

5. ALTO belum melakukan pembayaran denda. Suspensi di seluruh pasar sejak 2 Mei 2014.

http://economy.okezone.com/read/2014/06/30/278/1005897/belum-setor-laporan-keuangan-2013-5-saham-ini-disuspensi-bei
Sumber : OKEZONE.COM

doraemon

RUGI TRUBA ALAM PER DESEMBER 2012 NAIK JADI Rp814,66 MILIAR

TRUB – IQPlus, (28/08) – PT Truba Alam Manunggal Tbk (TRUB) alami kenaikan rugi yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk per Juni 2013 menjadi Rp814,66 miliar dibandingkan dengan rugi periode sama tahun sebelumnya yang Rp454,75 miliar.nnLaporan keuangan perseroan Rabu ini menyebutkan pendapatan perseroan turun menjadi Rp1,26 triliun dari pendapatan tahun sebelumnya yang Rp1,97 triliun dan beban pendapatan menjadi Rp1,13 triliun dari beban pendapatan tahun sebelumnya Rp1,78 triliun.nnLaba kotor turun menjadi Rp134,22 miliar dari laba kotor tahun sebelumnya yang Rp180,29 miliar. Sedangkan rugi sebelum pajak meningkat menjadi Rp773,95 miliar dari rugi sebelum pajak periode sama tahun sebelumnya yang Rp410,98 miliar.nnJumlah liabilitas per Desember 2012 mencapai Rp2,29 triliun turun dari jumlah liabilitas per Desember 2011 yang Rp2,63 triliun. Total aset per Desember 2012 mencapai Rp2,78 triliun turun dari total aset per Desember 2011 yang Rp3,97 triliun. (end)

 

Wednesday 28/Aug/2013 at 15:28
RUGI TRUBA ALAM PER DESEMBER 2012 NAIK JADI Rp814,66 MILIAR.

IQPlus, (28/08) – PT Truba Alam Manunggal Tbk (TRUB) alami kenaikan rugi yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk per Juni 2013 menjadi Rp814,66 miliar dibandingkan dengan rugi periode sama tahun sebelumnya yang Rp454,75 miliar.

Laporan keuangan perseroan Rabu ini menyebutkan pendapatan perseroan turun menjadi Rp1,26 triliun dari pendapatan tahun sebelumnya yang Rp1,97 triliun dan beban pendapatan menjadi Rp1,13 triliun dari beban pendapatan tahun sebelumnya Rp1,78 triliun.

Laba kotor turun menjadi Rp134,22 miliar dari laba kotor tahun sebelumnya yang Rp180,29 miliar. Sedangkan rugi sebelum pajak meningkat menjadi Rp773,95 miliar dari rugi sebelum pajak periode sama tahun sebelumnya yang Rp410,98 miliar.

Jumlah liabilitas per Desember 2012 mencapai Rp2,29 triliun turun dari jumlah liabilitas per Desember 2011 yang Rp2,63 triliun. Total aset per Desember 2012 mencapai Rp2,78 triliun turun dari total aset per Desember 2011 yang Rp3,97 triliun. (end)

Mei 20, 2016

BABAK baru B-life … 11042014_200516

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 1:30 am

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) mengajukan proposal baru penyelesaian kewajiban terhadap nasabah.

Timoer  Soetanto, Direktur Utama Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life), menyatakan proposal baru telah dilayangkan ke Otoritas Jasa Keuangan pada bulan lalu. Proposal ini juga sudah disampaikan kepada perwakilan nasabah. “Semua sudah kami sampaikan proposalnya, ada yang setuju ada yang belum,” kata Timoer di Jakarta, Jumat (20/5/2016).

Dia menyatakan pemegang saham Bakrie Life berkomitmen untuk menyelesaikan permasalahan kewajiban perusahaan. Dia mengatakan dalam proposal baru ini, keluarga Bakrie sebagai pemegang saham menawarkan saham milik grup di empat perusahaan kepada nasabah.

Dia mengatakan saham yang ditawarkan sebagai pengganti uang tunai merupakan saham di perusahaan terbuka, dengan model konversi ini maka pemegang polis dapat melihat kinerja perusahaan lebih transparan.

Selain itu, dengan opsi konversi saham ini pemegang polis akan memperoleh kenaikan investasi jika harga saham perusahaan membaik seiring membaiknya ekonomi. “Konversi juga dilakukan bertahap, ada empat perusahaan yang disiapkan. Pertama dari BNBR (PT Bakrie & Brothers Tbk.) dulu,” katanya.

Dia mengatakan untuk nasabah yang belum setuju, pihaknya belum memiliki opsi penggantian uang tunai. Pasalnya perusahaan belum memiliki uang tunai untuk melakukan penyelesaian. “Mudah-mudahan tahun ini rampung seluruhnya ,” kata dia.

Ahmad Nasrullah, Direktur Pengawasan Asuransi OJK, mengatakan proposal ini telah diterima oleh otoritas. Namun sebelum menyatakan apakah dapat menyetujui atau tidak model penyelesaian ini, otoritas harus melakukan klarifikasi tentang model yang ditawarkan. “Kami juga ingin segera selesai, tapi nasabah tidak boleh dirugikan,” kata dia.

Berdasarkan catatan pemegang saham Bakrie Life adalah PT Bakrie Capital Indonesia dengan kepemilikan sebesar 94,23%, sementara sisanya dimiliki oleh Koperasi Karyawan Mitra Sejahtera per 31 Desember 2012.

Tidak dicabutnya izin perseroan oleh otoritas dikarenakan sebagai pengikat penyelesaian pembayaran kewajiban. Nilai kewajiban Bakrie Life kepada nasabah mencapai Rp400 miliar ketika kasus terjadi pada 2008. Dalam kesempatan terpisah Timoer mengklaim pihaknya telah membayar sejumlah kewajiban kepada nasabah sehingga kewajiban Bakrie Life tersisa Rp270 miliar hingga April 2015 lalu.

 

BAKRIE LIFE: Pilih Opsi Diakuisisi Selesaikan Masalah
Yodie Hardiyan – Jum’at, 11 April 2014, 08:26 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Manajemen PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) mempertimbangkan keberadaan investor baru guna mengambil-alih kepemilikan perusahaan asuransi jiwa itu, kendati penyelesaian kewajiban dengan nasabah masih berlarut hingga sekarang.

Direktur Bakrie Life Timoer Sutanto mengatakan kemungkinan perusahaan itu melakukan divestasi kepemilikan cukup memungkinkan, karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejauh ini tidak memberi sanksi kepada perusahaan.

“Kalau kita nggak selesai , ada investor baru yang masuk dan menyelesaikan kan bisa saja,” ujarnya, seperti dilaporkan Harian Bisnis Indonesia, Jumat (11/4/2014).

Timoer menyatakan pihaknya tidak menawarkan Bakrie Life kepada investor, tetapi perusahaan tersebut dianggap cukup diminati oleh investor lain.

Kendati demikian, Timoer enggan memaparkan identitas investor yang berminat tersebut. “Ambilalih atau kerja sama kita nggak tahu, itu urusan pemegang saham,” katanya.

Pemegang saham mayoritas Bakrie Life yakni PT Bakrie Capital Indonesia dengan kepemilikan sebesar 94,23%, sementara sisanya dimiliki oleh Koperasi Karyawan Mitra Sejahtera per 31 Desember 2012.
Satu Eksekutif Vice President Bakrie Capital Indonesia tercatat atas nama Aga Bakrie. Nama Aga Bakrie juga tercatat sebagai Capital Advisor di Alta Verde Group, perusahaan yang bergerak di bidang real estat dan properti.

Menurutnya, tidak dicabutnya izin itu karena ada perkembangan penyelesaian pembayaran kewajiban. Nilai kewajiban Bakrie Life kepada nasabah mencapai Rp400 miliar ketika kasus ini meledak pada 2008.

Timoer mengklaim pihaknya telah membayar sejumlah kewajiban kepada nasabah sehingga kewajiban Bakrie Life tersisa Rp270 miliar pada saat ini.

Pihaknya berencana menyelesaikan pembayaran kewajiban kepada nasabah tersebut pada Juni tahun ini. Penyelesaian itu merupakan komitmen dari pemegang saham.

Source : Bisnis Indonesia (11/4/2014)
Editor : Nurbaiti

Digugat ke MK, OJK Akan Konsultasi ke Pemerintah
Selasa, 4 Maret 2014 00:43 WITA

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA – Keabsahan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) digugat oleh sejumlah masyarakat yang mengatasnamakan Tim Pembela Kedaulatan Ekonomi Bangsa. Mereka mendaftarkan gugatan uji materi atau judicial review UU OJK itu di Mahkamah Konstitusi (MK) akhir Februari lalu.
Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad mengaku, telah mendengar mengenai judicial review tersebut. Meski begitu, OJK menanggapi uji materi UU tersebut akan dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada.
“Saya mendengar, tapi ada prosedurnya. Kita tunggu saja prosedur yang ada,” ujar Muliaman di Gedung DPR, Jakarta, Senin (3/3).
Menanggapi gugatan atas UU Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu, Muliaman bilang akan berkonsultasi dulu dengan pemerintah. “Tentunya kami akan mengikuti ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Konsultasi dengan pemerintah diperlukan karena keberadaan OJK sebagai lembaga lahir melalui kesepakatan berbagai instansi dalam memperbaiki perlindungan terhadap industri keuangan. Keberadaan OJK diperkuat dengan UU nomor 21 tahun 2011.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi XI DPR RI, Olly Dondo Kambey, menuturkan bahwa pembentukan OJK sudah menganut prinsip-prinsip yang baik. Sehingga, kerangka transparansi sudah dibuat matang untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam sistem keuangan.
“Ini kami buat dalam jangka waktu lama untuk membangun indonesia. Pungutan itu ada karena untuk melindungi industri jika kolaps,” kata Olly.
Sebagai catatan, Tim Pembela Kedaulatan Ekonomi Bangsa (TPKEB) mengajukan gugatan ke MK atas keberadaan OJK yang dianggapnya tidak sesuai dengan amanat konstitusi. TPKEB juga meragukan independensi OJK karena rentan dipengaruhi semangat liberalisasi dalam tata kelola industri jasa keuangan. *
Editor: Lodie_Tombeg
Sumber: Kontan
OJK: PT Asuransi Jiwa Bakrie tak Punya Aset Lagi
Yodie Hardiyan – Senin, 03 Maret 2014, 18:56 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan OJK mempersilakan nasabah untuk mengajukan gugatan pailit terhadap PT Asuransi Jiwa Bakrie melalui regulator sebelum dibawa ke Pengadilan Niaga Jakarta.

Firdaus Djaelani, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank OJK, mengatakan PT Asuransi Jiwa Bakrie atau dikenal dengan Bakrie Life belum menyelesaikan sejumlah kewajibannya terhadap nasabah sampai sekarang.

“Mereka tidak punya aset lagi,” kata Firdaus di Gedung DPR, Senin (3/3/2014).

Karena persoalan pembayaran kewajiban yang berlarut-larut sekitar 6 tahun itu, sejumlah nasabah asal Jawa Barat dan Jakarta berencana mengajukan gugatan pailit terhadap Bakrie Life dalam waktu dekat ini.

Berdasarkan UU No.37/2004 tentang UU Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator.

Regulasi itu mengatur secara khusus permohonan pailit terhadap perusahaan asuransi.

Dalam pasal 2 ayat 5 disebutkan permohonan pailit terhadap perusahaan asuransi hanya bisa diajukan oleh Menteri Keuangan.

Terkait hal itu, wewenang pengaturan dan pengawasan industri asuransi telah beralih dari Menteri Keuangan (melalui Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan) kepada Otoritas Jasa Keuangan sejak 31 Desember 2012.

Editor : Ismail Fahmi
Lagi-lagi Bakrie Life ingkar janji
Oleh Yuliani Maimuntarsih – Selasa, 10 Desember 2013 | 05:06 WIB
kontan

JAKARTA. Nasabah kembali kecewa dengan janji manajemen Bakrie Life. Untuk kesekian kalinya, jadwal pembayaran kewajiban molor lagi.
Martinus, salah seorang nasabah Bakrie Life kesal, lantaran haknya hingga kini tak kunjung diterima. “Saya sudah sering diingkari janji sejak 2008,” kata dia ke KONTAN, belum lama ini. Martinus adalah nasabah Bakrie Life yang berinvestasi di produk Diamond Investa. Dana miliknya yang belum dibayar Bakrie Life sebesar Rp 1,6 miliar.
Sejatinya, Martinus menerima pembayaran pada bulan Juli tahun ini. Namun sampai November, manajemen Bakrie Life tidak memenuhi kewajibannya kepada nasabah. Hingga awal Desember tahun ini, pembayaran yang sedianya mengucur kembali meleset.
Padahal, Bakrie Life sudah meminta diskon 30% dari total kewajiban. Semula Bakrie harus membayar uang nasabah senilai Rp 260 miliar. Setelah nasabah menyetujui diskon 30%, manajemen Bakrie Life hanya membayar kewajiban sekitar Rp 182 miliar (Harian KONTAN, 29 Juni 2013).
“Seharusnya kami demonstrasi saat Ical (Aburizal Bakrie) kampanye, biar ramai dan dia segera menyelesaikan permasalahan ini,” tegas Martinus.
Selain diskon, disepakati pula Surat Keputusan Bersama (SKB) antara nasabah dan manajemen Bakrie. Menurut SKB tersebut, Bakrie Life harus membayar kewajiban bulan juli sebesar 50%, kemudian pada November membayar 10% serta 10% lagi dipenuhi pada Desember tahun ini.
Salah seorang nasabah Bakrie Life yang enggan disebutkan namanya mengatakan, baru-baru ini nasabah mengadakan pertemuan dengan manajemen Bakrie Life. “Mereka menyampaikan jika pemegang saham ingin membayar setiap bulan sebesar Rp 10 miliar,” papar dia.
Akan tetapi para nasabah menolak usulan tersebut. Sebab, nasabah menilai pernyataan Bakrie Life tidak sesuai dengan SKB tersebut. “Nasabah minta dipertemukan dengan Pak Nirwan Bakrie dalam waktu dekat ini. Kami juga meminta agar hak kami dan wibawa OJK dihormati,” ungkap nasabah itu. Nasabah tak bisa menjamin tidak terjadi unjukrasa lagi apabila tuntutan tersebut tak dihiraukan.
Dumoly Freddy Pardede, Deputi Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Industri Keuangan Non Bank, menegaskan OJK masih memantau proses pembayaran klaim Bakrie Life kepada nasabah. “OJK hanya sebatas monitor,” kata dia.
Manajemen Bakrie Life tak bisa konfirmasi terkait masalah ini. Direktur Utama Bakrie Life, Timoer Sutanto, tak menjawab panggilan telepon dan pesan singkat KONTAN.
Editor: Sandy Baskoro
Bakrie Life Janji ke OJK Akan Lunasi Utang Nasabah Bulan Ini
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Kamis, 12/09/2013 09:19 WIB

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali didatangi pihak PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life). Lagi-lagi pihak Bakrie Life mengumbar janji untuk lunasi utang-utangnya kepada nasabah Diamond Investa yang gagal bayar sejak 2008 lalu.

Direktur Eksekutif Pengawasan Lembaga Keuangan Non-Bank OJK Firdaus Djaelani mengatakan, pihak Bakrie Life berjanji akan melunasi sisa dana nasabahnya di bulan September ini.

“Mereka bilang ke kita mau melunasi katanya September ini, ya kita tunggu,” ujar Firdaus saat bincang-bincangnya bersama wartawan, di Kantor OJK, Rabu malam (11/9/2013).

Dia menjelaskan, sebagai otoritas pihaknya hanya bisa melakukan mediasi antara perusahaan dan nasabahnya. Sepenuhnya, hak itu diserahkan kepada masing-masing pihak.

“Dia janji September akan melakukan pembayaran. OJK nungguin, kita lihat saja nanti beneran nggak dilunasi, OJK akan melakukan tindakan kalau ternyata tidak dipenuhi,” katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, jika pihak Bakrie Life belum juga bisa melunasi sisa utang-utangnya kepada nasabah Diamond Investa, maka hal lain yang bisa dilakukan adalah membayar dengan melakukan take over terhadap aset-asetnya.

“Kalau nggak bayar bisa saja take over asset atau bisa juga diganti bisnis, mereka nasabah dikasih bisnis baru. Kita lakukan pendekatan, mereka (nasabah) bilang jangan dicabut izinnya, karena ya nanti nasabah yang akan rugi,” ujar dia.

Perlu diketahui, Bakrie Life mengalami gagal bayar pada tahun 2008 sebesar Rp 360 miliar kepada nasabah Diamond Investa. Seiring dengan perjalanannya utang Bakrie Life ke nasabah tinggal Rp 270 miliar. Namun karena kesulitan likuiditas Bakrie Life belum juga bisa melunasi.

(drk/ang)

April 6, 2016

TRUB: uda SUBMIT neh… 271011_060416

Filed under: Saham Trub — bumi2009fans @ 12:02 am

JAKARTA neraca/okezone – Hingga Desember 2015, pendapatan PT Truba Alam Manunggal Tbk (TRUB) turun tajam menjadi Rp92,89 miliar dibandingkan pendapatan pada periode sama tahun sebelumnya yang Rp1,32 triliun.

Disebutkan, laba bruto tercatat Rp23,16 miliar turun dari laba bruto tahun sebelumnya Rp243,48 miliar namun perseroan mencetak rugi sebelum pajak Rp604,50 miliar usai hanya menderita rugi sebelum pajak Rp20,86 miliar di tahun sebelumnya. Hal itu salah satunya karena melonjaknya beban lain-lain bersih menjadi Rp594,50 miliar dari beban lain-lain bersih tahun sebelumnya Rp20,86 miliar.

Rugi bersih diderita Rp592,81 miliar naik tajam dari rugi bersih tahun sebelumnya yang Rp58,40 miliar. Jumlah aset per Desember 2015 mencapai Rp714,77 miliar turun tajam dari jumlah aset per Desember 2014 yang Rp2,50 triliun. Asal tahu saja, performance kinerja keuangan TRUB kurang positif. Pasalnya, selain masih membukukan rugi, perseroan juga kurang disiplin.

Belum lama ini, pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan sanksi tambahan berupa suspensi dan perpanjangan penghentian sementara perdagangan saham, lantaran belum melaksanakan kewajiban terkait laporan keuangan per September 2014. Ketiga emiten yang belum melaksanakan kewajiban tersebut adalah PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN), PT Leo Investments Tbk (ITTG), dan PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk.

Divisi Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna pernah bilang, pihaknya telah pula menjatuhkan sanksi berupa peringatan tertulis III dan denda Rp150 juta kepada tiga emiten tersebut. Namun, mereka belum juga melakukan pembayaran denda. Bahkan, ada yang belum menyampaikan laporan keuangan.

“Tanggal 29 Januari 2015 batas akhir penyampaian laporan keuangan dan pembayaran denda,” ungkapnya.

Dirinya merinci, BORN dan TRUB belum membayar denda. Sedangkan, ITTG belum menyampaikan laporan keuangan kuartal III-2014 dan belum membayar denda. Tercatat kinerja keuangan PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk tercatat masih belum cukup baik sepanjang semester I tahun 2015. Hal ini terlihat dari adanya kerugian yang dibukukan oleh perseroan.

Disebutkan, rugi bersih yang dibukukan sepanjang semester I tahun 2015 sebesar Rp44,17 miliar. Jumlah ini menurun 72,9 persen dibanding kerugian yang dibukukan pada periode sama tahun lalu. Kerugian yang dialami perseroan pada semester I tahun lalu terutama disebabkan oleh meningkatnya beban bunga dan keuangan yang harus dikeluarkan perseroan meski pendapatan tercatat mengalami peningkatan.

Adapun pendapatan yang dibukukan perseroan di semester I tahun lalu tercatat meningkat 4,31 persen menjadi Rp627,81 miliar. Beban pendapatan turun 13,94 persen menjadi Rp540,62 miliar. Kemudian laba kotor yang dibukukan semester I tahun ini yakni sebesar Rp87,19 miliar, sementara di periode sama tahun lalu mencatat rugi kotor Rp26,28 miliar.

(mrt)

Truba raih proyek PLTU Rp261 miliar

Oleh Irvin Avriano A.

Kamis, 27 Oktober 2011 | 12:53 WIB

JAKARTA: Kontraktor PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk memenangkan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) senilai Rp176,97 miliar dan US$9,43 juta atau setara Rp83,69 miliar

Dalam suratnya kepada Bursa Efek Indonesia hari ini, manajemen emiten berkode saham TRUB tersebut mengatakan proyek pembangunan PLTU yang dimenangkan berada di Jambi.

“Truba telah memenangkan proyek pembangunan PLTU Tebo [berkapasitas] 2×7 mW di Kabupaten Tebo, Jambi, dari PLN,” ujar Sekretaris Perusahaan Truba Kristono Wardhana dalam suratnya tersebut.

Harga saham perusahaan masih stagnan di Rp50 siang ini dan membentuk kapitalisasi pasarnya Rp789,97 miliar.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan perusahaan yang dipimpin Arifin Wiguna itu memiliki PT Alam Manunggal sebagai pemegang saham mayoritas, 10,22%. (Bsi)

TRUB menargetkan kontrak sebesar US$ 100-150 juta tahun ini dimana hingga semester I-2011 perseroan telah memperoleh kontrak senilai US$ 16 juta dan Rp 25 miliar. Tahun ini perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp 2,57 triliun dimana sepanjang kuartal I-2011 pendapatan tercatat Rp 601,97 miliar, naik 2,8% dibandingkan tahun lalu.

Sumber : IPS RESEARCH
Truba Raih Kontrak US$16 Juta Lebih di Sem1-2011

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Senin, 15 Agustus 2011 | 12:02 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) mendapatkan kontrak senilai US$16 juta plus Rp25 miliar hingga semester pertama 2011.

Sekretaris Perusahaan PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk Gamala Katoppo mengatakan, nilai kontrak US$16 juta plus Rp25 miliar itu didapatkan dari empat proyek. Proyek itu antara lain pembangunan smelter PT International Nickel Tbk (INCO), PT Krakatau Daya Listrik, PT Daewoo dan PT Krakatu Steel Tbk (KRAS). Keempat proyek tersebut termasuk proyek jasa konstruksi. “Untuk pembangunan smelter Inco sudah mulai dikerjakan tahun ini, dan diharapkan selesai pada akhir tahun depan,” tambah Gamala, Senin (15/8).

Lebih lanjut Gamala mengatakan, perseroan akan fokus pada proyek jasa konstruksi dan memiliki high margin dan operating margin. Saat ini proyek jasa konstruksi memberikan kontribusi 94% kepada pendapatan perseroan dan sisanya dari proyek IPP.

Perseroan mengharapkan mendapatkan kontrak senilai US$100 juta-US$150 juta pada 2011. Sedangkan pendapatan ditargetkan sebesar Rp2,57 triliun pada 2011 dan laba bersih masih tergantung nilai tukar rupiah. Gamala belum dapat memastikan laba bersih akan positif pada 2011. “Laba bersih tergantung nilai tukar, dan kita akan menggenjot operating margin,” tutur Gamala.

Seperti diketahui, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp601,97 miliar dan laba bersih sebesar Rp1,76 miliar pada triwulan pertama 2011. [cms]

TRUB meraih laba bersih Rp177 miliar pada kuartal I/2011 ditopang oleh pendapatan lain-lain bersih yang melonjak menjadi Rp17,53 miliar dari Rp5,04 miliar di semester I/2010. Namun dari sisi operasional TRUB masih rugi usaha sebesar Rp469,08 juta, menyusut 90,11% dibandingkan dengan rugi usaha pada semester I9/2010 sebesar Rp4,74 miliar. Pendapatan TRUB menurun 2,84% menjadi Rp601,98 miliar, dan tahun ini pendapatan diperkirakan flat mengingat perolehan kontrak hampir sama dengan tahun lalu.

Sumber : IPS RESEARCH
BEI Suspensi TRUB dan Lanjutkan Suspensi 4 Emiten

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Senin, 1 Agustus 2011 | 11:17 WIB

INILAHCOM, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menghentikan
sementara perdagangan efek saham PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) di pasar reguler dan pasar tunai pada 1 Agustus 2011.

Hal itu disampaikan Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Riil BEI
I Gede Nyoman Yetna dan Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Jasa
BEI Umi Kulsum dalam keterbukaan informasi BEI, Senin (1/8). Sebelumnya BEI memantau lima emiten yang belum menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit per 31 Maret 2011 dan memenuhi denda sebesar Rp150 juta. Adapun lima emiten itu antara lain PT Katarina Utama Tbk, PT Royal Oak Development Asia Tbk, PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk, PT ATPK Resources Tbk, dan PT Indo Setu Bara Resources Tbk.

PT Truba Alam Manunggal Engineering baru membayar denda sebesar Rp150 juta tetapi belum menyampaikan laporan keuangan triwulan I 2011. Sedangkan PT Katarina Utama Tbk (RINA) belum menyampaikan laporan
keuangan triwulan I 2011 dan membayar denda Rp150 juta, PT Royal Oak
Development Asia Tbk (RODA), PT ATPK Resources Tbk (ATPK), dan PT Indo
Setu Bara Resources Tbk (CDPW) telah menyampaikan laporan keuangan
triwulan I 2011 tetapi belum membayar denda Rp150 juta.

Untuk saham RINA, RODA, CDPW, dan ATPK, bursa masih memperpanjang
suspensi efek perseroan sejak 1 Agustus 2011 pada sesi I perdagangan
efek. Sebelumnya saham Truba telah dibuka pada 29 Juli 2011.

Sebelumnya BEI telah memberikan peringatan tertulis III dan tambahan denda sebesar Rp150 juta atas keterlambatan penyampaikan laporan keuangan yang dimaksud. Hal ini merujuk pada ketentuan II.6.3. Selain itu, bursa mengacu pada ketentuan II.6.4 Peraturan Pencatatan Nomor I-H tentang sanksi bursa melakukan suspensi apabila mulai hari kalender ke-91 sejak lampaunya batas waktu penyampaian laporan keuangan. [cms]
PT Bursa Efek Indonesia melakukan penghentian sementara perdagangan efek di pasar reguler dan pasar tunai pada perdagangan Senin (1/8) sesi I untuk PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB).

Hal ini disampaikan Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Rill, I Gede Nyoman Yetna dalam keterbukaan informasi BEI, Senin (1/8).

Suspensi ini diberlakukan akibat perseroan belum87 menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit per 31 Maret 2011 hingga 29 Juli 2011. Untuk itu, perseroan juga akan didenda sekitar Rp150 juta. Penentapan denda ini merujuk pada Ketentuan II.6.3 peraturan BEI.

Selain itu, BEI juga memperpanjang suspensi atas PT Kataria Utama Tbk (RINA), PT Royal Oak Development Asia Tbk (RODA), PT Indo Setu Bara Resources Tbk (CPDW) dan PT ATPK Resources Tbk (ATPK).

http://www.imq21.com/news/read/39551/20110801/100505/BEI-Kembali-Suspensi-Saham-Truba.html

Sumber : IMQ JAKARTA
PT Truba Alam Manunggal Tbk (TRUB) akhirnya merilis laporan keuangan tahun buku 2010. Sayang, kinerja perusahaan pembangkit listrik ini kurang mengesankan dan mengalami penurunan di beberapa pos.

Misalnya, aset TRUB turun 3,03% menjadi Rp 6,4 triliun pada akhir tahun 2010. Padahal, tahun sebelumnya aset perusahaan ini masih Rp 6,6 triliun. Penurunan juga terjadi pada pendapatan TRUB yang di tahun lalu mencapai Rp 2,57 triliun. Sementara pendapatan perusahaan ini pada 2009 sebesar Rp 2,73 triliun, alias turun 5,86%.

Sejatinya, TRUB bisa menekan beban usaha sehingga laba usaha mereka mencatat kenaikan dari Rp 69,39 miliar di akhir 2009 menjadi Rp 125 miliar di akhir 2010.

Sayang, TRUB harus membukukan beban lain-lain sebesar Rp 142,51 miliar. Padahal, pada tahun 2009, pos ini mencatatkan penghasilan Rp 229,65 miliar. Berdasarkan penjelasan dalam laporan keuangan TRUB, beban tersebut terbentuk oleh selisih kurs.

Alhasil, TRUB menderita rugi Rp 55,16 miliar pada tahun lalu. Sementara di akhir 2009 perusahaan ini masih mencatat keuntungan Rp 216,43 miliar.

http://investasi.kontan.co.id/v2/read/1311034200/73158/Beban-naik-TRUB-merugi-Rp-55-miliar-di-2010

Sumber : KONTAN.CO.ID
TRUB Raih Proyek dari PT Krakatau Daya Listrik

Oleh: Wahid Ma’ruf
Pasar Modal – Jumat, 15 Juli 2011 | 16:12 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) meraih proyek dari PT Krakatau Daya Listrik senilai Rp8,088 miliar.

Demikian dikutip dari keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI, Jumat (15/7). Proyek itu dirah salah satu anak perseroan yaitu PT Trujba Jara Engineering. Untuk jenis pekerjaannya adalah pengadaan jasa turnkey overhoul boiler Unit 3.
IIG Alihkan 0,1% Saham TRUB ke Credit Suisse

Oleh: Wahid Ma’ruf
Pasar Modal – Rabu, 6 Juli 2011 | 11:38 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Salah satu pemegang saham PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB), Indo Infrastructure Group Pte Ltd mengalihkan kepemilikan saham perseroan ke 0,1% ke Credit Suidde Securities.

Demikian dikutip dari keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI, Rabu (6/7). Dengan pengalihan itu kepemilikan Indo Infrastructure Group Pte Ltd (IIG) di perseroan masih sebesar 6,92%.

Pengalihan itu dilakukan pada 27 Juni 2011, IIG mengalihkan 15.822.732 saham setara dengan 0,1%. Sebelumnya, IIG memiliki 1,1 miliar lembar saham atau setara dengan 7,02%.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menuturkan melakukan suspensi (penghentian perdagangan sementara) terhadap PT Mitra International Resources TBK (MIRA) dan PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) lantaran ada permasalahan pada laporan keuangan daripada emiten itu sendiri.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito menjelaskan dilakukannya suspensi ini dikarenakan masih ada kekurangan-kekurangan dalam laporan keuangannya. “Untuk MIRA, suspensinya karena adanya disclaimer saja. Mereka sudah dua kali laporan keuangannya ada disclaimer, dan sudah dua kali kita suspend juga,” ungkap Eddy di Jakarta, Selasa (5/7/2011).

Lebih lanjut Eddy menjelaskan adanya disclaimer terhadap laporan keuangan tersebut dikarenakan lebih banyak disesbabkan oleh anak usaha daripada MIRA tersebut yaitu PT Apexindo. Saham MIRA ini disuspensi bursa pada 30 Juni lalu.

“Kita akan lihat seberapa cepat MIRA lakukan re-audite atau menyampaikan resume ke kita yaitu menyerahkan laporan akuntan yang bukan disclaimer yang lebih baik dari disclaimer,” paparnya.

Di sisi lain, untuk TRUB pihak BEI melakukan suspensi dikarenakan perseroan belum menyerahkan laporan keuangannya. “Kalau TRUB laporan keuangannya, karena mereka belum submit laporan keuangan,” pungkasnya.

Eddy menuturkan bahwa BEI belum akan melakukan sanksi lain terhadap kedua emiten tersebut. “Itu (suspensi) sudah sanksi dan sementara masih disuspensi,”pungkas Eddy.

http://economy.okezone.com/read/2011/07/05/278/476264/suspensi-saham-mira-trub-belum-akan-dicabut

Sumber : OKEZONE.COM

Januari 30, 2015

trub bayar utank, (not a great deal) … supposed 2 b: 170610_300115

Filed under: Saham Trub — bumi2009fans @ 12:40 am

 

JAkARTA. Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan sanksi tambahan bagi tiga emiten yang tetap membandel. Sanksi itu berupa suspensi dan perpanjangan penghentian sementara perdagangan saham.

Divisi Penilaian Perusahaan BEI menyisir, ada tiga emiten yang belum melaksanakan kewajiban terkait laporan keuangan per September 2014. Ketiga emiten itu adalah PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN), PT Leo Investments Tbk (ITTG), dan PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB).

BEI telah menjatuhkan sanksi berupa peringatan tertulis III dan denda Rp 150 juta kepada tiga emiten tersebut. Namun, mereka belum juga melakukan pembayaran denda. Bahkan, ada yang belum menyampaikan laporan keuangan.

“Tanggal 29 Januari 2015 batas akhir penyampaian laporan keuangan dan pembayaran denda,” ujar I Gede Nyoman Yetna, Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Group I BEI dalam keterangan resmi, Jumat (30/1).

Ia merinci, BORN dan TRUB belum membayar denda. Sedangkan, ITTG belum menyampaikan laporan keuangan kuartal III-2014 dan belum membayar denda.

Sejalan dengan hal itu, maka BEI membekukan perdagangan saham BORN di pasar reguler dan pasar tunai sejak sesi I perdagangan hari ini. Sedangkan, ITTG dan TRUB mengalami perpanjangan masa suspensi.

BEI telah menghentikan perdagangan saham Leo Investment di seluruh pasar sejak 1 Mei 2013. Sedangkan, suspensi saham TRUB di pasar reguler dan pasar tunai telah dilakukan sejak 1 Juli 2013.

 

http://investasi.kontan.co.id/news/bei-jatuhkan-sanksi-tambahan-3-emiten-ini

 

 
Sumber : KONTAN.CO.ID

JAKARTA. Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) menjatuhkan sanksi kepada sejumlah emiten, mulai dari peringatan hingga denda. Hal ini dilakukan menyusul para emiten tersebut terlambat menyampaikan laporan keuangan untuk tahun buku September 2014.

Berdasarkan laporan Divisi Penilaian Perusahaan BEI, ada delapan emiten yang mendapat sanksi terkait mangkir dalam menyampaikan laporan keuangan kuartal III-2014. Delapan perusahaan tercatat itu adalah PT Davomas Abadi Tbk (DAVO), PT Leo Investments Tbk (ITTG), PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB).

Lalu, ada dua emiten milik Grup Bakrie, yakni PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Selain itu, ada PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN), PT Buana Listya Tama Tbk (BULL), dan PT Cipaganti Citra Graha Tbk (CPGT).

I Gede Nyoman Yetna, Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Group I BEI menjelaskan, DAVO dan ITTG mendapatkan sanksi berupa peringatan tertulis III dan denda masing-masing sebesar Rp 150 juta.

Hingga akhir Desember 2014, mereka mangkir mengumpulkan laporan keuangan kuartal III-2014 yang tidak ditelaah secara terbatas dan tidak diaudit akuntan publik. Kemudian, TRUB yang mendapat sanksi yang sama kendati sudah menyampaikan laporan keuangan yang dimaksud per Desember 2014.

“(TRUB) belum memenuhi kewajiban pembayaran denda,” ujar I Gede.

Berdasarkan aturan BEI, emiten harus menyerahkan laporan keuangan interim unaudited paling lambat sebulan setelah tanggal laporan keuangan interim dimaksud. Jadi, kalau laporan keuangan interim yang berakhir per 30 September maka pada 31 Oktober adalah batas akhir penyerahannya.

Otoritas BEI akan memberikan peringatan tertulis I jika manajemen telat menyampaikan laporan keuangan sampai 30 hari kalender terhitung sejak lampaunya batas waktu penyampaian.

Apabila mulai hari kalender ke-31 hingga ke-60 sejak lampaunya batas waktu penyampaian emiten belum juga menyerahkan laporan keuangan, BEI akan memberikan peringatan tertulis II dan denda sebesar Rp 50 juta.

Selanjunya, jika pada hari kalender ke-61 hingga ke-90 perseroan masih bandel, bursa akan memberikan peringatan tertulis III dan tambahan denda sebesar Rp 150 juta. Khusus bagi emiten yang juga mencatatkan sahamnya di bursa negara lain, maka batas waktu penyampaian laporan keuangan unaudited adalah 45 hari setelah laporan keuangan dimaksud.

Sedangkan untuk laporan keuangan interim yang sudah diaudit akuntan publik, batas waktunya tiga bulan setelah tanggal laporan keuangan. Nah, BUMI dan BRMS mendapat pecut berupa peringatan tertulis I dari BEI. Itu lantaran belum menyampaikan laporan keuangan September 2014 yang diaudit.

Batas waktu penyerahan laporan keuangan BUMI dan BRMS seharusnya 2 Januari 2015. Kemudian, BEI juga memberi sanksi kepada tiga emiten yang mengubah rencana yang semula berniat menyampaikan laporan keuangan diaudit menjadi lapran tidak diaudit dan tidak ditelaah secara terbatas.

Ketiga emiten itu adalah BORN, BULL, dan CPGT. Sanksi yang dikenakan berupa peringatan tertulis I, peringatan tertulis II dan denda Rp 50 juta. Lalu, peringatan tertulis III dan denda Rp 150 juta. Namun, dari tiga emiten ini, hanya BULL yang belum menyerahkan laporan keuangan hingga akhir Desember 2014.

http://investasi.kontan.co.id/news/bei-jatuhkan-sanksi-pada-8-emiten-ini

Sumber : KONTAN.CO.ID

NERACA

Jakarta – Perusahaan jasa konstruksi, PT Truba Alam Manunggal Tbk (TRUB) mengalami kenaikan rugi bersih menjadi Rp160,80 miliar hingga periode Juni 2014 dibandingkan rugi bersih periode sama tahun sebelumnya yang Rp52,91 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (8/12).

Selain itu, pendapatan perseroan juga turun jadi Rp601,88 miliar dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya yang sebesar Rp786,94 miliar, dan beban turun jadi Rp628,17 miliar dari beban tahun sebelumnya yang sebesar Rp711,56 miliar. Kemudian rugi kotor yang diderita perseroan mencapai Rp26,28 miliar dari laba kotor tahun sebelumnya Rp75,38 miliar.

Rugi sebelum pajak meningkat menjadi Rp143,58 miliar dari rugi sebelum pajak tahun sebelumnya Rp32,45 miliar. Jumlah aset per Juni 2014 mencapai Rp2,63 triliun, turun dari jumlah aset per Desember 2013 yang sebesar Rp2,71 triliun.

Sebelumnya, perseroan juga mengalami penurunan pendapatan menjadi Rp270,24 miliar hingga Maret 2014, dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya Rp323,14 miliar. Perseroan membukukan beban pendapatan naik jadi Rp289,85 miliar dibandingkan beban pendapatan tahun sebelumnya yang sebesar Rp283,85 miliar, dan rugi kotor yang diderita perseroan Rp19,61 miliar dari laba kotor tahun sebelumnya yang sebesar Rp39,28 miliar.

 

 

http://www.neraca.co.id/bursa-saham/48388/Truba-Alam-Bukukan-Rugi-Rp-16980-Miliar
Sumber : NERACA.CO.ID

JAKARTA kontan. Kinerja keuangan PT Turba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) terus memburuk. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Juni 2014 yang baru dirilis Kamis (4/12), rugi bersih emiten kontraktor energi naik 203,93% menjadi Rp 160,8 miliar, dari periode sama tahun lalu yang tercatat Rp 52,91 miliar.

Kian bengkaknya rugi bersih tersebut tidak terlepas dari penurunan pendapatan TRUB. Di semester I tahun ini, TRUB hanya mamph meraup pendapatan Rp 601,89 miliar, turun dibandingkan periode sama tahun lalu yang Rp 786,94 miliar.

Penurunan pendapatan tergerus oleh beban usaha TRUB yang naik dari Rp 44,8 miliar menjadi Rp 61,31 miliar. Kerugian kian buruk lantaran TRUB juga menanggung beban keuangan senilai Rp 59,78 miliar.

Dengan kondisi tersebut, TRUB kian kekurangan amunisi untuk melunasi tiga fasilitas pinjaman senilai total Rp 1,07 triliun yang akan jatuh tempo di tahun depan.

Terlebih, kas dan setara kas TRUB justru turun menjasi Rp 73,3 miliar di semester pertama tahun ini, dibandingkan periode sama tahun lalu yang Rp 148,2 miliar.

Seperti diketahui, TRUB mesti membayar utang tersebut kepada tiga kreditur berbeda, yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) senilai Rp 144,09 miliar dan PT Bank International Indonesia (BII) sebesar Rp 67,35 miliar. Jatuh tempo fasiltias dari BNI dan BII masing-masing pada 11 Juni 2014 dan 1 Juni 2015.

TRUB juga mesti melunasi utang senilai Rp 858,97 miliar dari Zephyr International Company Ltd (Zephyr) yang jatuh tempo pada 31 Desember 2015.

Editor: Sanny Cicilia

 

Truba Jaya akan lunasi obligasi Rp200 miliar
Kamis, 17/06/2010 20:40:41 WIBOleh: Ratna Ariyanti
JAKARTA (Bisnis.com): PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk akan melunasi utang obligasi anak perusahaan PT Truba Jaya Engineering (TJE) senilai Rp200 miliar yang akan jatuh tempo pada 8 Juli dari dana internal.

Perseroan dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan dana hasil utang obligasi tersebut sebelumnya digunakan untuk penambahan modal dan modal kerja.

Perseroan masih memiliki utang jangka panjang sebesar Rp1,84 triliun per 30 September 2009 yang akan jatuh tempo pada 31 Desember 2015 dengan tingkat bunga tahun pertama sebesar 6% per tahun, tahun kedua 6% per tahun, tahun ketiga 8% per tahun, tahun keempat 8% per tahun, tahun kelima dan seterusnya sebesar 10% per tahun.

Sebesar 20% dari dana hasil utang jangka panjang digunakan untuk modal kerja dan sisanya untuk belanja modal perseroan.

Bursa juga menanyakan alasan mengapa perseroan belum menyerahkan laporan keuangan tahun 2009 dan laporan keuangan triwulan I tahun ini.

Perseroan menyebutkan keterlambatan penyampaian laporan keuangan tahun buku 2009 karena menunggu audit beberapa anak perusahaan termasuk yang berdomisili di luar negeri.

Truba Alam melalui anak perusahaan PT Manunggal Power memiliki Tame Investment yang berlokasi di Singapura.

Perusahaan lain yang juga berlokasi di Negeri Singa adalah Truba Jurong Engineering Pte Ltd yang dimiliki perseroan melalui TJE.

Saham yang diperdagangkan dengan kode TRUB hari ini tidak mengalami pergerakan.

Pada perdagangan kemarin, saham Truba Alam ditutup naik Rp2 atau 2,17% ke level Rp94. Kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp1,48 triliun dengan jumlah saham beredar sebanyak 9,05 triliun lembar saham. Adapun P/E mencapai 6,83 kali. (wiw)

Mei 6, 2014

Bakrie’s GAM3 (10) … 06052014

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 12:24 am

Gambaran Kinerja Keuangan Grup Bakrie di Lantai Bursa

Angga Aliya – detikfinance
Selasa, 06/05/2014 17:15 WIB
Jakarta -Induk usaha Grup Bakrie, PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), meraup laba Rp 665 milar dalam tiga bulan pertama 2014, melonjak 15.267%. Kinerja positif itu berkat sokongan anak-anak usahanya yang tidak terdaftar di pasar modal.Kinerja ini disumbang dari anak-anak usahanya yang rata-rata sudah tumbuh positif di awal tahun ini. Anak-anak usaha non listed yang membukukan kinerja positif berasal dari berbagai industri.

Mereka di antaranya adalah PT Bakrie Building Industries (BBI) yang memproduksi aneka bahan bangunan untuk kebutuhan usaha properti dan konstruksi, PT Bakrie Autoparts (dahulu bernama PT Bakrie Tosanjaya) yang memproduksi komponen otomotif.

Selain itu ada PT Bakrie Metal Industries (BMI) yang meliputi PT Bakrie Pipe Industries (BPI) yang memproduksi pipa berbahan baku besi dan baja. Selain pipa baja, BMI juga menangani bisnis konstruksi baja dan fabrikasi di bawah unit PT Bakrie Construction (BCons). Di bidang infrastruktur, ada PT Bakrie Oil & Gas Infrastucture dan PT Bakrie Toll Indonesia.

Lalu bagaimana dengan kinerja anak usaha Grup Bakrie yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI)? Simak infografis di bawah ini seperti dirangkum detikFinance, Selasa (6/5/2014).

(ang/hen)

JAKARTA. Meski tengah berkutat dengan defisiensi modal, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tetap ‘berani’ menjanjikan bunga utang tinggi bagi krediturnya. Berdasarkan laporan keuangan kuartal I 2014, utang BNBR berdenominasi rupiah saat ini memberikan bunga antara 7,5%-20,5%. Pada periode yang sama tahun 2013, angkanya ada di rentang 12,5% hingga 20%.

Sementara untuk pinjaman berdenominasi dollar AS, BNBR menjanjikan bunga antara 3%-20%. Tahun lalu, batasnya ada di kisaran 7%-17%.

Dari data tersebut terlihat, perusahaan investasi Grup Bakrie ini memberikan bunga utang dengan rentang yang kian lebar. Batas bawah dari rentang bunga utang memang bisa diturunkan. Namun disaat yang sama, batas atas bunga utang justru semakin tinggi.

Masih dari laporan keuangan BNBR kuartal I 2014, pinjaman jangka pendek BNBR di di tiga bulan pertama tahun ini kini tercatat Rp 4,33 triliun. Angka itu tumbuh 21,97% year on year (yoy) dari sebelumnya Rp 3,55 triliun.

Sekedar mengigatkan, BNBR hingga 31 Maret 2014 membukukan defisiensi modal senilai Rp 1,41 triliun. Akhir tahun lalu, angkanya berada di posisi Rp 2,02 triliun.

Akibat pencatatan defisiensi modal itu, Mazars sebagai auditor independen mempertanyakan prospek kelangsungan usaha BNBR. Mazars menyebut BNBR memiliki indikasi ketidak pastian material. “(Hal itu) dapat menyebabkan keraguan yang signifikan atas kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan usahanya,” tulis Mazars, dalam laporan keuangan BNBR tahun buku 2013.
Editor: Yuwono Tri
JAKARTA. PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk masih mencatatkan rapor merah pada tahun lalu. Bahkan, dapat dikatakan, kinerja UNSP semakin memburuk. Hal ini dapat dilihat dari kerugian yang dialami emiten dengan kode saham UNSP tersebut.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi 2013, UNSP membukukan kerugian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp 2,7 triliun. Jumlah kerugian tersebut membengkak hingga 159,3% dari kerugian tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 1,065 triliun.

Salah satu faktor yang menyebabkan memburuknya kinerja UNSP adalah naiknya kerugian selisih kurs yang mencapai Rp 1,101 triliun. Padahal, tahun 2012, kerugian kurs yang dialami UNSP hanya sebesar Rp 201,297 miliar.

Ada pula rugi penurunan nilai goodwill dan pesangon pemutusan hubungan kerja di 2013 yang mencapai Rp 51,090 miliar dan Rp 22,166 miliar. Sementara di tahun 2012, UNSP tidak membukukan kerugian pada kedua pos ini. UNSP juga membukukan lonjakan kerugian lain-lain menjadi Rp 1,233 triliun di 2013 dari sebelumnya Rp 53,625 miliar.

http://investasi.kontan.co.id/news/kerugian-unsp-capai-rp-27-triliun-di-2013

Sumber : KONTAN.CO.ID
Wednesday, Apr 30, 2014
Bakrie & Brothers Kembali Bangkit
by Investor Daily
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) kembali bangkit setelah berhasil meraih lonjakan laba bersih sebesar 15.394% menjadi Rp665 miliar, pada kuartal I-2014, dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 4,3 milair.

Pendapatan melonjak hingga 291% menjadi Rp2,5 triliun dari Rp 860,9 miliar. Adapun laba bersih persaham meningkat dari Rp 0,05 menjadi Rp7,1. Saat ini harga saham BNBR diperdagangkan pada level Rp50 persaham. Direktur Utama Bakrie & Brothers Bobby Gafur Umar mengatakan, lonjakan kinerja keuangan tersebut ditopang bidang usaha berbasis manufaktur dan pengembangan infrastruktur.

“Kedua usaha tersebut menyumbang hingga 82% terhadap total pendapatan dan sebanyak 72% terhadap laba bersih perseroan higga kuartal I-2014,” ujarnya, dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (29/4). Pendapatan dari bisnis manufaktur dan infrastruktur berasal dari kontribusi anak usaha perseroan yaitu PT Bakrie Metal Industries (BMI) dengan pendapatan Rp1,3 triliun, atau tumbuh 277 %, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba bersihnya juga meningkat hingga 1.836% menjadi Rp181,5 miliar.

Lonjakan kinerja tersebut juga disumbangkan anak usaha perseroan lainnya, PT Bakrie Autoparts, berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp 207,6 miliar atau naik 4%, dibandingkan periode sama 2013 sebesar Rp 199,1 miliar. Bakrie Autoparts mencetak laba bersih sebesar Rp 2,7 miliar. Sedangkan PT Bakrie Building Industries (BBI) mencetak pendapatan sebesar Rp 147,5 miliar dan laba bersih sebesar Rp 10,7 miliar. Bahkan, laba tersebut sudah mencerminkan 85% dari target sepanjang tahun 2014.

Kuatnya ekspektasi pertumbuhan bisnis manufaktur dan infrastruktur, menurut dia, mendorong perseroan untuk memfokuskan pengembangan kedua bisnis tersebut dengan harapkan kontribusinya meningkat dalam beberapa tahun ke depan. pihaknya juga akan memfokuskan pengembangan kedua bisnis tersebut ke pasar domestik dan regional, seiring belum pulihnya harga komoditas global. “Fundamental bisnis perseroan, terbukti kuat di sektor tersebut,” ungkap Bobby.

Bobby menambahkan, bisnis manufaktur yang masih menjanjikan adalah industri otomotif, seiring gencarnya pabrikasi otomotif global menambah infestasi di Indonesia. sedangkan pada bidang infrastruktur, perseroan melalui anak usahanya PT Bakrie Oil 7 Gas Infrastructure, telah membangun jaringan pipa tahap pertama di jalur sumur gas Kepodang ke Tambak Lorok, Jawa Tengah.

Perseroan melalui anak usahanya, PT Bakrie Toll Indonesia, juga memperkuat bisnis jalan tol dengan memulai tahapan pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol ruas Cimanggis-Cibitung. Bakrie & Brothers melalui anak usahanya PT Bakrie Power juga mengembangkan pembangkit listrik. Proyek yang sedang digarap adalah PLTU Tanjung Jati A.
Transaksi tinggi, tapi saham Grup Bakrie bergeming
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Rabu, 23 April 2014 | 20:31 WIB

JAKARTA. Hari ini, tiga saham Grup Bakrie masuk ke dalam 10 saham dengan volume transaksi terbesar. Namun, harga sahamnya bergeming, bahkan ada yang turun.
Ketiga saham itu adalah PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI). BNBR menduduki posisi pertama dengan total volume transaksi sebanyak 1,18 miliar saham. Jumlah ini mewakili 22,8% dari total volume transaksi saham hari ini.
Lalu, BTEL ada di posisi ke lima dengan 134 juta saham atau 2,6% dari total volume transaksi. Adapun, saham BUMI ditransaksikan dengan volume sebanyak 99 juta saham. Namun, ketiga saham itu tidak berubah.
Bahkan, BUMI justru anjlok 2,84% dari Rp 211 ke harga Rp 205 per saham. Sedangkan saham BNBR dan BTEL tidak bergerak dari batas terendah harga perdagangan saham, yakni Rp 50 per saham.
Editor: Asnil Bambani Amri
Kinerja Triwulan I/2014, BTEL Raih Laba Bersih Rp210,7 Miliar
Gloria Natalia Dolorosa – Rabu, 23 April 2014, 20:47 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Dulang keuntungan dari selisih kurs, PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL) raih laba bersih sebesar Rp210,7 miliar pada triwulan I/2014.

Adapun, pada triwulan I/2013 emiten jasa telekomunikasi code division multiple access (CDMA) itu mendulang rugi bersih Rp97,5 miliar. Menilik laporan keuangan sepanjang Januari-Maret 2014, laba bersih dikantongi BTEL karena perseroan memperoleh laba selisih kurs sebesar Rp440,12 miliar. Pada periode sama tahun sebelumnya, perseroan mendapat rugi selisih kurs Rp23 miliar.

Selain karena dulang keuntungan dari selisih kurs, perseroan meraih laba bersih lantaran mampu menekan beban usaha sebesar 14,26% menjadi Rp456,26 miliar dari beban usaha triwulan I/2013 sebesar Rp532,12 miliar.

Kondisi perolehan bottom line tidak seiring dengan perolehan pendapatan. Sepanjang Januari hingga Maret 2014, BTEL meraih pendapatan usaha sebesar Rp471,13 miliar, merosot 31,12% dari pendapatan usaha Januari-Maret 2013 senilai Rp683,94 miliar. Kinerja perseroan yang merosot terlihat dari rugi usaha yang didapat sebesar Rp65,76 miliar, sedangkan pada triwulan I/2013 perseroan memperoleh laba usaha Rp50,38 miliar. Jumlah pelanggan ESIA per Maret 2014 sebanyak 12,258 juta.

“Peningkatan performa kinerja BTEL tidak terlepas dari efisiensi operasional dan optimalisasi jaringan yang efektif di daerah potensial yang telah kami lakukan dalam program revitalisasi sejak 2012,” kata Bachder Bachtarudin, Director & Chief Financial Officer Bakrie Telecom, dalam siaran pers yang diterima Bisnis, Rabu, (23/4).

Perseroan berencana meningkatkan layanan melalui program-program inovatif. Sebelumnya, BTEL menjalin kerja sama dengan media sosial global, PATH, untuk pengguna ESIA.

Editor : Martin Sihombing
Anak Bumi Resources Teken Kontrak dengan Perusahaan China
Ardhanareswari AHP – Minggu, 20 April 2014, 19:25 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—PT Dairi Prima Mineral, anak perusahaan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), telah meneken kontrak membangun cadangan seng dan timah hitam dengan China Nonferrous Metal Industry’s Foreign Engineering & Construction Co. Ltd. (NFC).

Dalam keterangan resmi dari perseroan yang diterima Bisnis, Minggu (20/4/2014), manajemen BRMS mengatakan kontrak dalam bentuk engineering, procurement, & construction (EPC) tersebut adalah kelanjutan dari kerja sama kedua belah pihak yang diinisiasi Oktober 2013.

Nantinya pertambangan tersebut akan dioperasikan oleh Dairi dari Sumatra Utara. “NFC akan membantu untuk mendapatkan 85% dari pendanaan yang diperlukan untuk membangun lokasi tambang seng dan timah tersebut,” kata manajemen.

Namun, perseroan belum memaparkan besar dana yang diperlukan dalam proyek tersebut. Menurut manajemen jumlah dana yang dibutuhkan akan disampaikan ke publik dalam waktu dekat ini.

NFC berencana membangun infrastruktur dan fasilitas untuk mengolah hingga 1 juta ton bijih per tahun. Rencananya pembangunan fasilitas itu selesai dalam 42 bulan yaitu sekitar penghujung 2017.

Direktur Utama BRMS Suseno Kramadibrata berharap hal ini bisa menjadi nilai tambah. “Kami berahdap untuk dapat memproduksi cadangan seng dan timah hitam yang dioperasikan oleh Dairi pada akhir 2017 sehingga dapat menambah nilai bagi para pemegang saham,” katanya.

Sebagai catatan, saat ini perusahaan di bawah naungan Grup Bakrie itu memiliki 80% saham Dairi. Sementara itu 20% saham lainnya dimiliki oleh PT Aneka Tambang (Perseroan) Tbk. (ANTM).

Editor : Hery Lazuardi
Auditor Meragukan Kelanggengan Usaha BNBR
Oleh Yuwono Triatmodjo – Sabtu, 12 April 2014 | 00:03 WIB

kontan

JAKARTA. Lantaran membukukan defisiensi modal senilai Rp 2,02 triliun hingga 31 Desember 2013, kelangsungan hidup PT Bakrie & Brother Tbk (BNBR) ke depan kini dipertanyakan. Defisiensi modal terjadi lantaran total kewajiban BNBR yang senilai Rp 13,89 triliun, sudah melebihi total aset yang sebesar Rp 11,87 triliun.

Mazars, auditor independen yang memriksa laporan keuangan BNBR tahun 2013, menyatakan perusahaan investasi grup Bakrie itu memiliki indikasi ketidakpastian material. “(hal itu) dapat menyebabkan keraguan yang signifikan atas kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan usahanya,” tulis Mazars, dalam laporan keuangan BNBR tahun 2013 yang dirilis Jumat (11/4).

Dalam laporan keuangannya, BNBR menyatakan defisiensi modal terjadi karena rugi penurunan nilai investasi jangka pendek dan perubahan nilai wajar derivatif. Rinciannya, BNBR mencetak rugi penurunan nilai investasi jangka pendek senilai Rp 5,39 triliun di tahun 2013. Padahal pada tahun sebelumnya, pos tersebut bahkan tidak ada.
Sedangkan perubahan nilai wajar derivatif BNBR tahun lalu tercatat minus Rp 2,77 triliun. Pada tahun 2012, angka perubahan nilai wajar derivatif hanya tercatat minus Rp 6,79 miliar.

Sehubungan dengan rangkaian persoalan diatas, BNBR berniat melakukan sejumlah upaya pembenahan. Pertama, BNBR akan merestrukturisasi utang dan mengkonversinya menjadi saham. Kedua, meningkatkan modal melalui penerbitan saham dan penjualan aset.

Ketiga, manajemen BNBR akan mengurangi investasi dalam bentuk saham. Sedangkan upaya keempat adalah fokus mengembangkan kegiatan usaha manufaktur. Dan terakhir, BNBR akan mengembangkan proyek infrastruktur utama untuk mendapatkan sumber pendanaan yang berkelanjutan.
Editor: Yuwono Tri
Indonesia’s Bakrie Vows Protectionism for Natural Resources
By Berni Moestafa and Neil Chatterjee Mar 6, 2014 6:34 PM GMT+0700
Indonesia should keep more resources such as natural gas at home to bolster its domestic industries, according to Aburizal Bakrie, who rates himself the favorite to win a presidential election to be held in July.

Bakrie, chairman of the nation’s second-biggest political party Golkar and whose family coal business has faced financial probes, said Indonesia’s leaders must focus on building infrastructure and deepening the industrial sector.

Indonesia needs “the courage to face and negotiate with parties overseas and the courage to explain to the public about the problems we face,” Bakrie said in an interview with Bloomberg TV Indonesia as he met voters in central Java. “We say thank you for buying our gas. But going forward, I will use this gas first and will only export the rest.”

Bakrie, who dropped out of the Forbes list of the 40 richest Indonesians in 2012, is tapping into a protectionist mood as Southeast Asia’s biggest economy seeks to cut dependence on imports. That may earn him votes in the presidential poll, with another candidate, Prabowo Subianto, calling for a “face off” with foreign investors to “hammer out fair prices and fair terms.”

Golkar is the only one of the country’s three major parties to declare a candidate so far for July. Bakrie led ex-general Subianto, who represents the smaller Gerindra party, and lagged behind Jakarta Governor Joko Widodo, who hasn’t announced plans to run, in a January poll by the Indonesian Survey Circle.

LNG, Coal

“If we are combining both the electability factor and eligibility, then ARB is number one,” Bakrie said in the Feb. 9 interview, referring to his initials. The 67-year-old grandfather said he is fit to contest the election. “I’m used to walking six kilometers (3.7 miles), that’s circling a soccer field 15 times.”

Indonesia, a former Organization of Petroleum Exporting Countries member, was the world’s largest exporter of liquefied natural gas until 2006. Declining output and increasing domestic demand lowered it to the fifth-biggest shipper of the cooled gas by 2012. The country is the largest exporter of thermal coal for power stations, nickel ore and refined tin.

Indonesia’s LNG output is sold mostly under long-term contracts to overseas buyers, mainly Japan and South Korea. Because of the decline in gas production, domestic buyers in the world’s fourth most-populous nation can struggle for supplies.

Red and White

The government of President Susilo Bambang Yudhoyono has made a series of moves to limit exports of resources in a drive to turn the nation from an exporter of raw materials into a producer of higher-value manufactured goods. Indonesia banned exports of raw mineral ores on Jan. 12, and lawmakers on Feb. 11 passed a trade bill that enables the government to restrict exports and imports to protect local industries.

Indonesia will cap coal output this year at about 5 percent less than the level for 2013, to stem declining prices and to control production because the fuel is not a renewable resource, Edi Prasodjo, a director for coal at the energy ministry, said on Feb. 7.

Bakrie’s comments signal a government he led would probably continue Yudhoyono’s policies. He said Indonesia should resist any pressure from foreign trading partners to interfere in policy making.

“The mood pendulum is not exactly moving toward free markets,” said Wellian Wiranto, a Singapore-based economist at Oversea-Chinese Banking Corp. “Whoever comes to power will have to offer enough nationalist shades of red and white,” he said, referring to the colors of Indonesia’s flag.

Infrastructure

Yudhoyono’s government has reduced state debt, winning the country an investment-grade sovereign credit rating in his second term, while struggling to build the roads, ports and airports needed to attract more investors. The rupiah fell 21 percent last year to be Asia’s worst-performing currency on investor concerns with a trade deficit and persistent inflation.

Yudhoyono is barred by law from seeking a third term.

Economic growth this year may slow to the least since 2009, to between 5.5 percent and 5.8 percent, as the government reins in the current-account deficit, Finance Minister Chatib Basri said Feb. 23. That compares 5.8 percent growth in 2013.

The Southeast Asian nation must spend money to develop infrastructure, including oil refineries, and take a more “aggressive” fiscal stance, said Bakrie, the nation’s coordinating minister for economic affairs from 2004 to 2005. Bakrie said he would focus on rural development and making the country’s fuel and food subsidies more targeted.

Debt

As a minister Bakrie favored free-market policies and was opposed to continuing energy subsidies, fighting to achieve two rises in fuel prices, said Keith Loveard, head of risk analysis at Jakarta-based Concord Consulting.

“The major concern is that he would run the country for its business groups, not for the average Indonesian,” Loveard said in an e-mail today. “A Bakrie presidency would be in some ways similar to his businesses, particularly in the willingness to take on debt that then turns out to be a major weight on performance.”

Stoking nationalist sentiment may benefit Bakrie’s businesses, said Dodi Ambardi, a political analyst at Gadjah Mada University. Protectionism would benefit industries such as steel producers while hurting others such as commodity exporters, he said.

‘Bad Image’

The Bakrie family, a palm oil-to-property empire founded in Sumatra in 1942, rose from collapse in the 1998 Asian financial crisis with the purchase of coal mines from BHP Billiton Ltd, Rio Tinto Plc and BP Plc. That created PT Bumi Resources (BUMI), Indonesia’s largest coal producer.

In 2010, the Bakrie Group and U.K. financier Nathaniel Rothschild struck a $3 billion deal to set up a London-listed coal company, only to see the venture unravel three years later amid boardroom infighting, debt concerns and financial probes in the U.K. and Indonesia. Bumi Resources shares have fallen 96 percent from their 2008 record to 319 rupiah ($0.03) today.

“I am not worried about the bad image that people have of me,” said Bakrie, pointing to his popularity in east Java being highest in the town of Sidoarjo, where in 2006 a gas field run at the time by family company PT Energi Mega Persada spewed mud that covered homes and schools, leading the government to pay compensation.
BSD Akuisisi Epiwalk dari Bakrieland
Oleh Jauhari Mahardhika | Selasa, 11 Februari 2014 | 7:40
investor daily
JAKARTA – PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), unit usaha Grup Sinar Mas, mengakuisisi Epicentrum Walk (Epiwalk) dari PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), perusahaan properti milik Grup Bakrie. Nilai akuisisi mal ritel tersebut sebesar Rp 297 miliar.

Epiwalk berlokasi di kompleks Rasuna Epicentrum, kawasan superblok seluas 53,5 hektare (ha) di Kuningan, Jakar ta Selatan. Sebelumnya, Bumi Serpong Damai atau BSD juga mengakuisisi lahan seluas tiga hektare di Rasuna Epicentrum dari Bakrieland. Nilai akuisisi mencapai Rp 868,9 miliar. BSD akan membangun gedung bertingkat kelas premium di lahan tersebut.

Sementara itu, Epiwalk telah beroperasi sejak 2010. Luas bangunan mal tersebut sebesar 14.850 per meter persegi. Dari luas tersebut, ruang yang bisa disewa sekitar 10.722 per meter persegi. Adapun tingkat okupansi mencapai 85%. “Akuisisi ini sejalan dengan strategi BSD untuk meningkatkan porsi pendapatan berkelanjutan (recurring income) menjadi 20:80 dalam lima tahun ke depan,” jelas manajemen BSD dalam keterangan resmi, Senin (10/2).

Sementara itu, berdasarkan catatan Investor Daily, BSD menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp 3 triliun atau sama dengan tahun lalu.
Owen Holdings, dari Bakrie ke Capitalinc
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Kamis, 06 Februari 2014 | 10:00 WIB

kontan

JAKARTA. Ada yang menarik dari aksi korporasi PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN). Perusahaan minyak dan gas (migas) ini berniat melakukan rights issue. Potensi dana yang bakal diraup mencapai Rp 2,78 triliun.
Berdasarkan prospektus ringkas perusahaan, 93,48% atau Rp 2,52 triliun hasil rights issue akan digunakan untuk mengakuisisi 100% saham Owen Hodlings. Masih segar dalam ingatan, nama Owen muncul pada prospektus rights issue PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
Namun, aksi pasar modal itu urung dilakukan. Alasannya, pasar tidak kondusif. Namun, seperti yang pernah ditulis KONTAN sebelumnya, salah satu pemilik Owen, yaitu Densel Venture Ltd (DVL), dikendarai oleh PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Namun, manajemen BNBR ketika itu pun mengelak.
Nah, MTFN ini pun kerap dikaitkan dengan keluarga Bakrie. Pasalnya, ketika perusahaan mengubah haluan bisnis dari perusahaan pembiayaan ke perusahaan minyak dan gas (migas), Seng Hoo Ong didapuk menjadi presiden direktur.
Seng adalah menantu keluarga Bakrie. Ia adalah suami dari Adinda Bakrie, putri Indra Bakrie. Namun, kini posisi puncak manajemen ini diisi oleh Srinivasa Bhat Vinayaka Bandagadde. Tambahan informasi, Capitalinc merupakan bagian dari Grup Recapital.
Namun, manajemen MTFN menjelaskan, transaksi ini bukan transaksi terafiliasi. Lebih lanjut, dari prospektus MTFN diketahui telah terjadi perubahan kepemilikan atas Owen. Jika sebelumnya pemegang saham Owen adalah DVL dan ND Owen Holdings Limited, kini posisi ND diganti oleh OG Resources Limited (OGR).
DVL menguasai 69,39%, sedangkan OGR sebesar 30,61%. Asal tahu saja, penilaian atas 100% saham Owen adalah US$ 228,81 juta. Namun, MTFN akan mengeluarkan US$ 225 juta untuk mengakuisisinya.
Disebutkan pula, DVL melakukan pelunasan utang kepada Owen sebesar US$ 80,24 juta atau sekitar Rp 962,27 miliar (1 US$= Rp 12.000). Dana ini akan digunakan untuk melunasi utang Owen yang akan jatuh tempo akhir 2014 dan 2015.
Manajemen MTFN mengatakan, akuisisi Owen bisa meningkatkan investasi dan pendapatan perseroan di sektor migas. Selain itu, “meningkatkan keuangan perseroan, memberi nilai tambah kepada pemegang saham”.
Owen merupakan pemilik 49% saham EMP International Ltd (EIBL). EIBL memiliki 100% saham EMP ONWJ Ltd (EON) yang merupakan pemilik 36,72% working interest di Blok Offshore North-West Java (ONWJ) PSC. Adapun penandatanganan perjanjian jual beli bersyarat (CSPA) dengan pemilik Owen telah dilakukan pada 30 Januari 2014.
Editor: Asnil Bambani Amri
Bakrie Pangripta Loka Tambah 5 Tower di Sentra Timur
Oktaviano DB Hana – Rabu, 29 Januari 2014, 19:38 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bakrie Pangripta Loka, anak usaha dari PT Bakrieland Development Tbk., berencana memulai pengembangan lanjutan hunian vertikal pada proyek Superblok Sentra Timur dengan membangun lima tower apartemen pada pertengahan 2014.

Direktur Utama PT Bakrie Pangripta Loka Dicky Setiawan mengungkapkan pengembangan lanjutan tersebut akan menyediakan sekitar 2.000 unit apartemen. Menurutnya, hunian tersebut akan terdiri dari tiga tipe, yakni dari tipe studio atau satu kamar hingga dua kamar.

“Kita rencana pertengahan atau akhir tahun launching 5 tower, sekitar 2.000 unit,” ungkapnya di sela-sela media gathering, Rabu (29/1/2014).

Untuk pembangunan lima tower tersebut, dia menyatakan pihaknya telah menyiapkan invesatsi sekitar Rp300 miliar. Sementara itu, dia mengatakan unit apartemen tersebut akan dipasarkan pada kisaran harga Rp300 juta-Rp400 juta.

Dicky menambahkan pengembangan tersebut merupakan bagian dari rencana pembangunan 14 tower apartemen di kawasan Superblok Sentra Timur yang digagas bersama Perum Perumnas di atas lahan seluas 40 hektare.

“Sejak 2008, kami telah mengembangkan lima tower apartemen dengan total unit mencapai 2.150,” imbuhnya.

Adapun, proyek Superblok Sentra Timur rencananya dikembangkan menjadi sebuah kawasan pusat bisnis (central business district) hingga 7 tahun ke depan.

Dalam kawasan tersebut telah dikembangkan Sentra Timur Commercial, perumahan Mutiara Platinum dan Mutiara Sanggaha, serta hotel, convention centre dan tower perkantoran yang masih dalam perencanaan.
Fitch: Rating BTEL paling rendah
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Rabu, 29 Januari 2014 | 15:51 WIB

kontan

JAKARTA. PT Fitch Ratings Indonesia memberikan outlook positif bagi tiga perusahaan perkebunan. Ketiga perusahaan tersebut merupakan afiliasi dari Grup Sinarmas.
Eddy Handali, Direktur Rating Fitch Ratings Indonesia bilang, dari total 78 perusahaan yang diberi peringkat, hanya tiga yang memiliki outlook positif.
“Ketiganya adalah perusahaan perkebunan yang terkait SMART (PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk),” ujarnya, Rabu (29/1).
Alasannya, lanjut Eddy, pihaknya melihat ada sentimen positif dari pasar terhadap kemampuan perusahaan jika ingin menerbitkan obligasi. Selain itu, dukungan dari induk usaha yang mumpuni semakin mengokohkan posisi Sinar Mas.
Adapun, peringkat terendah untuk obligasi dari total perusahaan yang diberi peringkat oleh Fitch adalah PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Pada November 2013 lalu, Fitch menurunkan peringkat obligasi BTEL dari CC ke C
Hal ini lantaran perusahaan dinilai tidak mampu membayar kupon obligasi senilai US$ 21,8 juta. Adapun, total utang obligasi itu mencapai US$ 380 juta.
Editor: Asnil Bambani Amri
Bakrieland Setuju Tanah 600 Hektar Jadi Jaminan Utang ke Bank of New York
Herdaru Purnomo – detikfinance
Minggu, 08/12/2013 14:25 WIB

Jakarta -Para pemegang obligasi (Bondholders) PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) melalui Bank of New York Mellon, London, UK (selaku Trustee) mencabut permohonan kasasi perihal Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Hal ini merupakan kasus lanjutan dari Bakrieland telah memenangkan gugatan PKPU di Pengadilan Niaga Jakarta oleh Bank of New York. Bakrieland memiliki total utang obligasi senilai US$ 155 juta (Rp 1,5 triliun) kepada Bank of New York Mellon cabang London, Inggris.

Utang tersebut akan jatuh tempo pada 2015 mendatang. Namun, pihak bondolders meminta kepada Bakrieland untuk mempercepat pembayaran utang tersebut di tahun 2013. Oleh sebab itu, PKPU berlanjut di tingkat kasasi yang pada akhirnya permohonan kasasi dicabut Bank of New York Mellon.

PKPU tersebut diinisiasi oleh Bondholders setelah dianggap upaya restrukturisasi atas obligasi terkait tidak mencapai kesepakatan di antara Bakrieland dan Bondholders.

Dalam keterangan persnya, Minggu (8/12/2013), Chief Corporate Affairs Officer ELTY, Yudy Rizard Hakim menjelaskan Bakrieland telah menyampaikan negosiasi untuk restrukturisasi tidak akan dilakukan kecuali setelah Permohonan Kasasi tersebut dicabut.

“Sebagai langkah awal dengan niat baik, Bondholders setuju untuk mencabut Permohonan Kasasi sehingga dapat duduk bersama kembali guna melakukan negosiasi dengan Bakrieland,” kata Yudi.

Para Pihak memahami bahwa pencabutan atas Permohonan Kasasi tersebut adalah guna memfasilitasi penyelesaian yang baik bagi kedua belah pihak dan tidak diartikan sebagai pengakuan Bondholders atas Putusan Pengadilan Niaga tersebut
“Dalam proses negosiasi, Bakrieland secara prinsip menyetujui untuk menjaminkan asetnya berupa tanah dengan luas sekitar 600 hektar di kawasan Sentul dan atau Bogor yang dinilai cukup menjadi jaminan kepada Bondholders dalam proses restrukturisasi,” kata Yudi lagi.

Serta akan melakukan upaya maksimal untuk menjaga nilai dari aset tersebut hingga finalisasi penyelesaian restrukturisasi obligasi secara komprehensif dalam jangka waktu 2 bulan kedepan dengan catatan jangka waktu tersebut dapat diperpanjang bila diperlukan dan disepakati oleh kedua belah pihak.

Untuk sementara waktu, Bakrieland dan Bondholders akan mengupayakan untuk menyepakati kondisi standstill pada tanggal 19 Desember 2013,termasuk sepakat untuk tidak mengeluarkan pernyataan publik apapun atau disclosure tentang Obligasi terkait dengan pihak manapun kecuali
bila diharuskan oleh Peraturan dan Undang–Undang yang berlaku di Indonesia dan atau telah disepakati bersama sebelumnya oleh kedua belah pihak.

“Telah disepakati bersama pula bahwa kedua belah pihak dapat mencari opsi lain, dalam hal restrukturisasi tidak tercapai,” kata Yudi.
Terlilit Utang, BNBR Gencar Jual Anak Usaha
Editor – Senin, 25 November 2013, 08:02 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Untuk dapat mengurangi jumlah utangnya yang mencapai US$490 juta (atau setara Rp5,39 triliun) dan Rp978 miliar per akhir kuartal III/2013, PT Bakrie & Brothers Tbk diperkirakan akan kembali menjual anak usahanya, selain PT.Bakrie Pipe Industries BPI) yang kini tengah dilego.

Reza Nugraha, analis MNC Securities, memprediksi anak usaha yang akan dilepas kemudian adalah yang tidak tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Adapun, Direktur Utama dan CEO Bakrie & Brothers (BNBR) Bobby Gafur Umar mengatakan perseroan mulai berusaha mengurangi utang sekitar Rp6,7 triliun sejak pertengahan tahun ini.

“Kami berencana menjual aset. Sebanyak 60%-70% utang jangka pendek akan kami perpanjang. Pada tahun depan, kami akan pangkas total utang kami 50% dari jumlah saat ini,” katanya.

BNBR akan menempuh beberapa cara untuk menekan jumlah utangnya yang membengkak. Perseroan bakal menjual kepemilikan sahamnya di BPI, anak usaha yang memproduksi pipa baja untuk sektor minyak dan gas.

Hingga akhir September 2013, pinjaman jangka pendek BNBR ke Credit Suisse AG cabang Singapura sebesar Rp2,25 triliun. Ini nilai pinjaman paling besar dari total pinjaman jangka pendek Rp4,1 triliun. Dana hasil divestasi BPI diprediksi tidak cukup untuk melunasi utang ke Credit Suisse.

BNBR butuh pendapatan besar agar dapat melunasi pinjaman. Untuk itu, perseroan akan menggenjot investasi di sektor manufaktur untuk jangka pendek dan sektor infrastruktur untuk jangka panjang.

Perseroan memiliki proyek raksasa di bawah PT Bakrie Indo Infrastructure, yakni pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Tanjung Jati 2×660 MW di Cirebon, Jawa Barat. Proyek sekitar US$2 miliar itu akan beroperasi 4 tahun mendatang.

November 20, 2013

BAKRIE’s G4M3 (9) … 201113

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 12:38 am

BUMI sibuk kumpulkan saham BRMS
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Rabu, 20 November 2013 | 19:02 WIB
kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tengah berupaya mengumpulkan saham PT Bumi Resource Minerals Tbk (BRMS). Maklum, BUMI telah menggadaikan saham (repo) BRMS ke sejumlah pihak.

“Saya tidak bisa komentar lebih jauh, yang jelas kami sedang berusaha menyelesaikan (pembelian kembali) saham BRMS,” ujar Andrew Christopher Beckham, Direktur Keuangan BUMI, Rabu (20/11).

Seperti diketahui, dalam rangka penyelesaian utang dengan China Investment Corporation (CIC), salah satu upaya yang dilakukan BUMI adalah menjual 42% atau 10,73 miliar saham BRMS.

Harga jual saham BRMS Rp 268 per saham. Dengan demikian, total nilai penjualan mencapai US$ 257 juta. Namun, berdasarkan data Biro Administrasi Efek (BAE) PT Sinartama Gunita, kepemilikan saham BUMI pada BRMS hanya 26,9%.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengklaim, sisa saham BRMS akan segera diperoleh. Pengalihan 42% saham BRMS tersebut dilakukan berdasarkan suatu perjanjian jual beli bersyarat.

Pada saat penyelesaian (closing date), seluruh saham BRMS akan dialihkan melalui transaksi tutup sendiri (crossing) di pasar negosiasi.

Sejalan dengan hal tersebut, maka akan ada pemindahbukuan atas saham-saham BRMS yang ditransaksikan tersebut dari sub rekening BUMI di kustodian dengan sub rekening atas nama CIC atau afiliasi CIC yang dibuka oleh manajamen BUMI.

Bulan Oktober 2013, telah terjadi crossing saham BRMS sebanyak 2,16 miliar. Total nilai mencapai Rp 579,87 miliar. Dileep enggan menjelaskan, apakah aksi ini cerminan dari upaya perseroan mengumpulkan saham BRMS.
Bakrieland Garap Township Sidoarjo Rp 7 Triliun
Oleh Imam Mudzakir | Selasa, 19 November 2013 | 13:21
investor daily
JAKARTA – PT Bakrieland Development Tbk menggarap proyek hunian (township) di kawasan Sidoarjo, Jawa Timur senilai lebih dari Rp 7 triliun pada akhir 2013. Tahap awal, pengembang properti itu menyiapkan anggaran sebesar Rp 300 miliar.

Direktur PT Bakrieland Development, Agus J Alwi mengatakan, pengembangan kawasan properti di Sidoarjo akan dijadikan pusat bisnis (central business district/CBD) baru di kawasan Jawa Timur. Proyek tersebut bakal mirip dengan kawasan Bintaro dan BSD di Jabodetabek. Sebagai sebuah CBD, proyek tersebut bakal diisi dengan hotel, perkantoran, hunian, tempat komersial, rekreasi, dan shopping center. Total lahan yang dihabiskan untuk proyek itu seluas 500 hektare.

“Akhir tahun ini kami mulai membangun infrastrukturnya, pada tahap awal kami akan sediakan dana sebesar Rp 300 miliar,” kata dia, di Jakarta, beberapa hari lalu.

Menurut dia, pembangunan township ini akan dikerjakan bertahap dan dibagi menjadi dua lokasi. Lokasi pertama akan dibangun di dekat pantai dengan lahan 280 hektare. Sedangkan lokasi kedua dibangun di dekat jalan tol di atas lahan 220 hektare.
Bakrie Telecom Gagal Bayar Bunga Utang Rp 218 Miliar
Angga Aliya – detikfinance
Jumat, 08/11/2013 13:16 WIB

Jakarta -PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) gagal bayar kupon obligasi (bunga surat utang) senilai Rp 218 miliar. Kupon tersebut merupakan bagian dari obligasi perseroan senilai Rp 3,8 triliun yang jatuh tempo Mei 2015.

Seharusnya operator Esia itu membayar kewajibannya pada 7 November 2013 kemarin. Akibatnya, peringkat obligasi perseroan pun turun.

Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menurunkan peringkat obligasi anak usaha Grup Bakrie itu dari C menjadi CC, seperti dikutip dalam siaran pers, Jumat (8/11/2013). Turunnya peringkat ini juga terjadi pada peringkat utang Bakrie Telecom untuk jangka panjang dalam bentuk rupiah dan dolar.

Meski demikian, Fitch percaya Bakrie Telecom akan mampu melakukan restrukturisasi utangnya dengan mencari sumber pendanaan yang likuid pada masa tenggat setelah jatuh tempo (grace period).

Hingga penutupan perdagangan sesi I, harga saham Bakrie Telecom stagnan di Rp 50 per lembar. Sahamnya sudah hampir tidak bergerak dalam satu tahun terakhir.

(ang/dnl)
Bakrieland akan Bangun Kota Mandiri di Sidoarjo
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Jumat, 25/10/2013 20:20 WIB

catatan INVESTASI SUPERJANGKAPANJANG @ihsg sejak 2000-2013 sebagai INDIKATOR INVESTASI REKSA DANA SAHAM
Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) akan mengembangkan lahan tahap awal seluas 30-40 hektar di wilayah Sidoarjo, Jawa Timur untuk dijadikan Kota Mandiri dengan total lahan 500 hektar.

Direktur Utama ELTY Ambono Janurianto mengatakan dari total lahan yang ada, perseroan akan mengembangkannya menjadi Kota Mandiri yang rencananya akan dilakukan tahun depan.

“Tanah di Sidoarjo ada 500 hektar, gede nggak tanggung-tanggung, duitnya banyak tuh. 500 hektar bisa buat 10 tahun. Untuk tahap awal, kita kembangkan 30-40 hektar dulu, kita siapkan Rp 250 miliar kalau nilai proyeknya Rp 500 miliar,” kata Ambono saat ditemui di Kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Jumat (25/10/2013).

Ia merinci, dari total keseluruhan lahan yang ada pengembangannya akan terbagi 2 bagian. Yang pertama, seluas 280 hektar akan dikembangkan menjadi area wisata air. “Ini nanti kawasannya dekat pantai, ini nanti masih lama,” katanya.

Sementara yang seluas 220 hektar akan digarap menjadi housing theme park dan kawasan komersial termasuk di dalamnya lahan 30-40 hektar yang akan dibangun di tahun depan.

“Nah yang 220 hektar sudah mulai garap housing theme park dan komersial tapi tahap awal 30-40 hektar dulu. Housing segmen menengah atas,” ujar dia.

Ambono mengaku pihaknya akan mengandeng investor lokal untuk sama-sama menggarap rencana bisnisnya ini. “Nanti kita akan cari investor lokal. Itu akan jadi kawasan komersial, area perumahan semacam township,” kata dia.

Dia menambahkan, perseroan telah menyiapkan dana pengembangan proyek tersebut dari internal kas perseroan. “Ini ya dari dalam dananya,” kata Ambono.
(drk/hen)
BRMS punya niat menjual Dairi Prima?
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Rabu, 23 Oktober 2013 | 17:06 WIB

JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menandatangani perjanjian strategis (strategic cooperation agreement) dengan korporasi asal China. Perusahaan itu adalah, China Non-Ferrous Metal Industry’s Foreign Engineering And Construction Co. Ltd (NFC).
Muhammad Sulthon, Sekretaris Perusahaan BRMS dalam keterbukaan informasi mengatakan, kejasama dilakukan untuk pengembangan tambang timah dan seng milik PT Dairi Prima Mineral (PTDPM).
“NFC akan membantu perseroan dalam penyediaan dana sebesar 85% dari biaya yang diperlukan untuk pengembangan proyek Dairi,” ujarnya, Rabu (23/10). Keduanya baru akan melakukan studi kelayakan terkait proyek ini.
Selain membantu pendanaan, keduanya juga sepakat bekerja sama untuk keperluan engineering, procurement, dan construction (EPC) untuk proyek Dairi. Selain itu, kerja sama juga dilakukan dalam hal penjualan timah dan seng yang akan diproduksi PTDPM. Tak hanya itu, NFC juga mendapat kesempatan untuk membeli saham PTDPM.
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) telah mengakuisisi kontrak konsesi eksplorasi dan produksi
atau Exploration and Production Concession Contract (EPCC) minyak dan gas Blok Buzi di Mozambik,
Afrika, senilai US$ 175 juta atau setara Rp 1,98 triliun.

Sebagaimana diungkapkan dalam keterbukaan informasi Perseroan pada Jumat (18/10), Perseroan
nantinya akan memiliki 75% kepemilikan participating interest sedangkan Pemerintah Mozambik lewat
perusahaan Empressa Nacional de Hidrocarbonetos (ENH) memiliki 25% sisanya.

Wilayah cadangan gas terbukti dan terukur 283 miliar kaki kubik ini ditargetkan memulai produksi
komersil jangka menengahnya pada 2017.(beritasatu/hla)
Laba Perusahaan Energi Bakrie Melonjak 14.480% Jadi Rp 1,7 Triliun
Angga Aliya – detikfinance
Kamis, 17/10/2013 19:42 WIB

Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencatat laba bersih US$ 176 juta (Rp 17,6 triliun) di semester pertama 2013. Laba ini melonjak 14.480% dibandingkan posisi pada periode yang sama tahun lalu US$ 1,2 juta (Rp 12 miliar).

“Kenaikan laba bersih perseroan disebabkan penghasilan yang diterima dari penjualan kepemilikan 10% participating interest perseroan di Blok Masela PSC di Laut Arafura,” kata Direktur Utama Energi Mega Imam P Agustino dalam keterangan tertulis, Kamis (17/10/2013).

Selain laba yang melonjak, anak usaha Grup Bakrie itu juga mencatat pertumbuhan penjualan 55% menjadi sebesar US$ 212 juta (Rp 2,12 triliun). Penjualan naik berkat peningkatan produksi minyak dan gas dari sumur-sumur perseroan.

Sumur-sumur itu antara lain blok Kangean PSC (Jawa Timur), ONWJ PSC (Jawa Barat), Bentu PSC (Riau, Sumatera).

“Fokus perseroan saat ini adalah meningkatkan kinerja dari aset-aset yang telah berproduksi dan mengembangkan temuan cadangan pada aset-aset lainnya,” tambahnya.

Ia mengatakan, blok-blok milik perseroan itu akan terus berperan dalam meningkatkan produksi dalam dua tahun ke depan.

(ang/dnl)
Kinerja BUMI Masih Belum Bisa Maksimal

Oleh: Seno Tri Sulistiyono
pasarmodal – Kamis, 10 Oktober 2013 | 18:05 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kinerja PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) ke depan masih negatif, dengan harga komoditas di tahun 2014 yang belum pulih.

Dalam risetnya, PT Henan Putihrai masih memberikan outlook negatif terhadap BUMI dengan mempertimbangkan kemungkinan rugi pada laporan keuangan 2013 dan 2014 masih akan terus berlanjut. Walaupun penyelesaian utang adalah langkah yang baik dan berpotensi menaikkan EPS perusahaan pada 2014 atas dasar penurunan porsi beban bunga.

Henan juga mempertimbangkan kemungkinan harga komoditas 2014 yang masih belum pulih. Demikian mengutip hasil risetnya, Kamis (10/10/2013).

Disamping itu, Henan juga mengkhawatirkan isu corporate governance yang akan timbul setelah transaksi swap. Untuk pengurangan utang (deleveraging process) dan efisiensi biaya merupakan hal positif yang masih harus dilakukan Perusahaan di masa mendatang.

Sejak sesi I perdagangan efek Kamis (10/10/2013) hari ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara (suspend) perdagangan saham BUMI dan BRMS. Alasannya kedua saham tersebut telah menandatangani perjanjian untuk menyelesaikan sisa utangnya dengan CIC.

BUMI melakukan penyelesaikan porsi pokok pinjaman sebesar US$1,3 miliar yang akan jatuh tempo pada akhir tahun 2014 dan 2015 kepada China Investment Corporation (CIC). Caranya dalam bentuk penukaran (swap) kepemilikan saham di empat anak usaha BUMI sebesar 42% saham perusahaan di BRMS, dan masing-masing sebesar 19% kepemilikan BUMI di Kaltim Prima Coal KPC, Indocoal Resources Ltd dan Indocoal Kaltim Resources.

BUMI juga akan menerbitkan saham baru senilai US$150 juta atau setara dengan 17% saham baru pada harga sekarang Rp485 per saham. Kemudian sisa pinjamannya akan dikonversikan menjadi pinjaman berjangka waktu 3 tahun pada suku bunga pasar.

Posisi net debt BUMI 1H13 sebesar US$4,5 miliar dengan perkiraan beban bunga pinjaman sebesar US$420 juta per tahun. Walaupun dengan pelunasan hutang pokok sebesar sebesar US$1,3 miliar, porsi hutang BUMI masih tetap besar. [hid]
Saham BUMI dan BRMS Tidak Aktif Sementara

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Kamis, 10 Oktober 2013 | 10:32 WIB

INILAH.COM, Jakarta – BEI menghentikan perdagangan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sejak sesi I perdagangan Kamis (10/10/2013).

Langkah BEI tersebut mengacu pada surat BUMI pada 9 Oktober tentang perjanjian untuk menyelesaikan sisa utangnya dengan CIC. Demikian mengutip keterangan resmi BEI, Kamis (10/10/2013).

BEI masih memerlukan informasi lebih lanjut tentang hal tersebut. Langkah ini juga untuk menjaga penyelenggaraan perdagangan efek yang teratur, wajar dan efisien.

Bursa mengharapkan penjelasan dari perseroan dengan keterbukaan informasi tersebut. Saham BUMI saat ini berada di level 485 dan saham BRMS berada di level 275.
Inilah Kesepakatan Pelunasan Utang BUMI

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Kamis, 10 Oktober 2013 | 00:08 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan menyelesaikan utang dengan China Investment Corporation (CIC) dari nilai pokok sebesar US$1,3 miliar.

Kedua pihak telah sepakat untuk mekamisme penyelesaian utang dengan menukar (swap) dengan kepemilikan saham BUMI sebesar 42% di PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

Untuk 19% kepemilikan saham BUMI pada masing-masing dari PT Kaltim Prima Coal (KPC), Indocoal Resources (Cayman) Ltd dan PT Indocoal Kaltim Resources dan dengan pengeluaran saham baru senilai US$150 juta di dalam BUMI. Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Rabu (9/10/2013).

Sementara dengan pinjaman dua tahap (two tranches) yang diterima BUMI dengan jumlah pokok gabungan sebesar US$1,3 miliar (yang akan jatuh tempo pada akhir tahun 2014 dan 2015) akan diselesaikan dan sisanya akan dikonversikan menjadi pinjaman untuk jangka waktu 3 tahun dengan suku bunga yang kompetitif di pasaran.

Dengan penyelesaian ini dapat membuka nilai dan mempercepat pertumbuhan aset sumber daya BUMI. Tujuannya untuk, memenuhi sasaran pengurangan utang (deleveraging objectives), memperkuat struktur permodalan dan keuangan, adanya peluang dan memungkinkan pendanaan yang menguntungkan di masa depan.

VIVA Butuh USD150 Juta untuk Tutup Utangnya
Rabu, 02 Oktober 2013 12:07 wibRezkiana Nisaputra – Okezone Presiden

JAKARTA – PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) telah mendapatkan izin dari pemegang sahamnya untuk menjaminkan sebagian besar atau seluruh aset anak usahanya yakni TV One, ANTV dan Vivanews, guna memperoleh pembiayaan.

Presiden Direktur VIVA Erick Thohir mengatakan, hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kondisi perekonomian dunia yang saat ini tidak menentu.

“Perekonomian dunia yang penuh ketidakpastian dan adanya kecenderungan naiknya suku bunga pinjaman internasional,” ujar Erick usai RUPS di studio ANTV, Jakarta, Rabu (2/10/2013).

Menurutnya, VIVA akan mencari pembiayaan di atas USD100 juta dengan bunga yang paling rendah yang diperkirakan hanya 9 persen.

“Kita cari untuk pembiayaan di atas USD100 juta dengan kisaran USD100 juta-USD150 juta. Paling rendah kita dapat bunganya. Kita usahakan bunganya di bawah 9 persen. Dengan persetujuan ini para direksi diberikan mandat untuk bisa mendapatkan pinjaman baru dengan cost of funding yang lebih kompetitif,” tukasnya.

Dia menegaskan, bahwa pihaknya akan melakukan pinjaman pada tiga bank besar di Indonesia. Namun demikian, dirinya belum bisa berkomentar banyak siapa saja bank-bank yang akan ditujunya.

“Dana segar ini nantinya akan digunakan untuk refinancing utang VIVA kepada Deutche Bank yang sebesar USD80 juta, dan sisanya untuk pembangunan convergence media center dalam rangka meningkatkan output inhouse production dan peluncuran platform pay TV Vivasky,” ucapnya.

Adapun hutang yang akan di refinancing tersebut akan jatuh tempo pada Februari 2014.

“Tentu kita berupaya mendapatkan utang yang temponya panjang, bukan short terms dan tentu kita juga berusaha dengan term-term yang lebih baik,” tutup Erick. (wdi)
Kinerja BRMS Semester I Terpuruk
Kamis, 3 Oktober 2013

indofinanz
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) pada semester pertama 2013 harus menanggung kerugian bersih mencapai US$22.57 juta. Kinerja emiten Group Bakrie itu jelas memburuk dibandingkan periode yang sama tahun 2012 dengan meriah keuntungan bersih US$1.91 juta.

Manajemen BRMS dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia menjelaskan, kerugian disebabkan turunnya pendapatan perseroan dari US#11.96 juta menjadi US$10.31 juta.

Melemahnya penjualan ditambah dengan naiknya beban bunga dan keuangan menjadi US$31.01 juta membuat kinerja semakin terpukul. Bukan itu saja, BRMS juga harus puas menanggung kerugian selisih kurs senilai US$171.23 ribu dari laba forex US$2.53 juta.
Laba Bakrie Sumatera Naik Jadi Rp225,05 M

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Jumat, 27 September 2013 | 17:23 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) meraih kenaikan laba 98,4% menjadi Rp225,05 miliar pada semester I tahun ini dari periode yang sama tahun 2012 Rp3,5 miliar.

Laba tersebut didukung penurunan beban poko penjualan menjadi Rp667,83 miliar dari Rp1,006 triliun pada semester I 2012. Namun penurunan juga terjadi pada penjualan neto menjadi Rp929,53 miliar dari periode tahun lalu Rp1,5 triliun.

Perseroan juga mengalami penurunan laba bruto menjadi Rp261,7 miliar dari Rp515,9 miliar. Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Jumat (27/9/2013).

Namun penguatan terjadi pada laba sebelum pajak menjadi Rp256,6 miliar dari Rp40,2 miliar. Perseroan mencatat penurunan pajak penghasilan menjadi Rp47,8 miliar dari Rp55,4 miliar. Dengan demikian laba bersih mencapai Rp225,05 miliar dari sebelumnya Rp3.5 miliar.

Perseroan mengalami kenaikan tipis untuk aset menjadi Rp19,3 triliun dari Rp18,9 triliun per 31 Desember 2012. Kenaikan juga terjadi pada total liabilitas perseroan menjadi Rp11,6 triliun dari Rp11,06 triliun per 31 Desember 2012.
ELTY Bukukan Laba Rp707,75 Miliar

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Jumat, 27 September 2013 | 09:54 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mencatatkan laba ke pemilik entitas induk mencapai Rp707,75 miliar pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya rugi Rp34,58 miliar.

Penghasilan usaha bersih perseroan naik menjadi Rp2,33 triliun pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp926,36 miliar.

Beban pokok penghasilan perseroan naik menjadi Rp865,38 miliar pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp452,78 miliar. Laba kotor perseroan naik menjadi Rp1,46 triliun pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp473,57 miliar. Demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (27/9/2013).

Perseroan memperoleh laba penjualan dari aset tetap sekitar Rp18,32 miliar pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya rugi Rp22 miliar. Total liabilitas perseroan naik menjadi Rp7,31 triliun pada 30 Juni 2013 dari periode 31 Desember 2012 senilai Rp6,07 triliun. Ekuitas perseroan turun menjadi Rp8,02 triliun pada 30 Juni 2013 dari posisi 31 Desember 2012 senilai Rp9,16 triliun. Kas dan setara kas perseroan naik menjadi Rp433,29 miliar pada 30 Juni 2013 dari posisi 31 Desember 2012 senilai Rp268,36 miliar.

Pada perdagangan saham hari ini, saham ELTY bergerak naik 2% ke level Rp51 per saham.

September 24, 2013

bakrie’s GAME (8) (24 September 2013)

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — Tag:, — bumi2009fans @ 1:19 am

Para kreditur PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mengatakan bahwa mereka
akan melanjutkan prodesur hukum untuk mendapatkan hasil terbaik dari kasus ini,
berkenaan dengan keputusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat yang telah menolak
permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terhadap
perusahaan tersebut hari ini. (sindo/dk)
 

Akhirnya nilai akuisisi MNC Land (KPIG) terhadap PT Bali Nirwana Resort, entitas Bakrieland Development (ELTY) diketahui Rp 1,71 triliun, target pendapatan pun diproyeksikan naik minimal 10%. Corporate Secretary MNC Land menyatakan, akuisisi sudah memasuki tahap final, dan sedang menunggu persetujuan dari pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang akan digelar hari ini (19 September). Dana yang digunakan untuk akuisisi sebagian besar berasal dari hasil penawaran umum terbatas (rights issue) pada April 2013. (Bisnis Indonesia)

Sumber : IPS RESEARCH
Selain Bank of New York, Ini Dia Pemberi Utang Bakrieland
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Selasa, 17/09/2013 18:49 WIB

Jakarta – Pihak Bank of New York Mellon selaku penggugat Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) atas obligasi yang dikeluarkan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menampik jika permohonan PKPU yang dilayangkan tidak sesuai prosedural resmi. Artinya, tidak mencantumkan nama-nama kreditur pemegang obligasi.

Kuasa Hukum The Bank of New York Mellon Hafzan Taher menyebutkan, adalah fakta yang tak terbantahkan lagi bahwa di samping Bank of New York, Bakrieland juga memiliki kreditur-kreditur lain.

“Kreditur-kreditur itu antara lain PT Bank International Indonesia Tbk, PT Bank Tabungan Negara Tbk, PT Bank Sinarmas Tbk, PT AB Sinar Mas Multifinance, dan Starlights Ltd,” kata Hafzan dalam berkas PKPU seperti yang dikutip detikFinance, Selasa (17/9/2013).

Berdasarkan uraian tersebut, maka terbukti secara sah dan meyakinkan bahwa syarat Bank of New York dimana Bakrieland mempunyai lebih dari 1 kreditur telah terpenuhi.

Seluruh syarat-syarat untuk mengajukan permohonan PKPU telah dibuktikan secara sederhana. Oleh karenanya, sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Kepailitan, Pengadilan Niaga wajib menjatuhkan PKPU dalam kurun waktu 20 hari sejak permohonan PKPU ini didaftarkan.

“Oleh karena iu kami mohon kepada Majelis Hakim Yang Terhormat untuk mengabulkan permohonan PKPU ini,” ujar dia.

Kuasa hukum Bakrieland yang diwakili Aji Wijaya telah meminta kepada pihak penggugat untuk membuktikan kebenarannya soal kreditur. Hal ini merupakan jurus perseroan. Jika mereka benar-benar pemegang obligasi maka akan ada kejelasan status penggugat.

“Kita minta mereka buktikan di sidang kalau mereka bilang mereka kreditur, selama ini tidak pernah bilang di persidangan kalau mereka kreditur. Harusnya dibuktikan, ini kan harus jelas,” kata Aji.
(drk/dru)
Bakrieland Ingin Tunda Pembayaran Utang, Krediturnya Ogah
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Senin, 16/09/2013 17:44 WIB

Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) sudah meminta perpanjangan 60 hari untuk bayar utang obligasi anak usahanya, BLD Investment Pte Ltd, senilai US$ 155 juta (Rp 1,5 triliun). Namun, Bank of New York Mellon selaku kreditur menolak rencana ini.

“Mereka minta sekarang, saya minta 60 hari pembayaran sebagian utang tapi mereka nggak mau,” kata Direktur Utama ELTY Ambono Janurianto dalam media briefing terkait proses hukum PKPU di Hotel Aston Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Senin (16/9/2013).

Anak usaha Grup Bakrie itu sekarang masih menunggu keputusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat soal gugatan Permohonan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang dilayangkan Bank of New York Mellon melalui cabangnya di London, Inggris.

Bakrieland berharap, keputusan yang akan keluar pada 23 September 2013 mendatang akan berpihak padanya. “Keputusan 23 September Senin depan. Kita sih berharap permohonan kita dikabulkan untuk minta diperpanjang pembayaran utangnya,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini para kreditur tetap ngotot untuk meminta pembayaran utang obligasi dipercepat. Utang obligasi ini senilai US$ 155 juta yang akan jatuh tempo pada 2015. Nah, pihak kreditur ingin pembayaran utang Bakrieland ini dipercepat.

Bakrieland masih terus memperjuangkan hak kelonggaran pembayaran utang meskipun negosiasi dengan para kreditur saat ini sudah tidak terjalin lagi.

“Sekarang sih sudah nggak pernah ada pembicaraan lagi dengan mereka. Tapi kita masih berharap keputusannya bisa berpihak kepada kami, mereka memang punya hak untuk PKPU, kami juga punya hak untuk ini,” katanya.

Perusahaan properti Grup Bakrie ini juga sudah berencana menawarkan aset berupa tanah di kawasan Sentul Nirwana, Bogor, seluas 600 hektar untuk pembayaran utang obligasinya itu. Pasalnya, Bakrieland mengaku tak sanggup melunasi utangnya sekaligus.

(ang/dnl)
Terlilit Utang, Perusahaan Properti Bakrie Jual Banyak Aset
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Senin, 16/09/2013 19:02 WIB

Jakarta – Manajemen PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) saat ini tengah fokus untuk bisa melunasi utang-utangnya. Beberapa aset perseroan telah dijual untuk menutupi utang tersebut.

“Kita memang betul-betul akan melakukan divestasi untuk mengurangi utang-utang. Kita menjual beberapa aset,” kata Direktur Utama Bakrieland Ambono Janurianto dalam media briefing dengan manajemen ELTY terkait proses hukum PKPU di Hotel Aston Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Senin (16/9/2013).

Ambono menyebutkan, beberapa aset yang telah dijual menurut pengakuan Ambono yaitu Bakrie Toll Road dan lahan di Sentul Nirwana, Bogor.

“Kita sudah jual aset untuk bayar utang seperti jalan tol dan partisipasi kita di Sentul Nirwana dan memang awalnya hasil penjualan itulah yang akan dialokasikan tapi ada beberapa hal sehingga tidak bisa, sehingga kita lakukan modifikasi dari kesepakatan kita,” kata dia.

Dia merinci, pihaknya telah menjual ruas tol seharga Rp 2,1 triliun. Penjualan tol tersebut sebagian besar uangnya digunakan untuk membayar utang di jalan tol itu sendiri dan utang sindikasi senilai Rp 1,3 triliun.

“Utang bukan hanya di level operation tapi di induknya. Ada juga utang kepada kontraktor dan supplier, dipakai juga untuk utang-utang yang kecil-kecil dan sisanya untuk settlement,” kata dia.

Dia menambahkan, tidak menutup kemungkinan pihaknya juga akan menjual aset-aset lain untuk membayar utang.

“Misalkan kepemilikan di Sentul Nirwana yang sebagian besar profitnya untuk itu untuk bayar utang. Aset-aset kita juga seperti lahan-lahan masih cukup prospektif, landbank ada lebih dari 2.000 hektar, itu nilainya bagus,” ujarnya.

Bakrieland saat ini tengah terlilit pelunasan utang US$ 155 juta (Rp 1,5 triliun). Utang berupa obligasi dari anak usahanya yaitu BLD Investment Pte Ltd ini tengah dituntut untuk dibayar oleh krediturnya. Bakrieland meminta perpanjangan 60 hari untuk pembayaran utang-tersebut. Namun, Bank of New York Mellon selaku kreditur menolak rencana ini.

Mau tahu aset-aset apa saja yang sudah dijual Bakrieland? Ini daftarnya.

(drk/dnl)
Kepemilikan BUMI di BRMS tersisa 26,90%
Oleh Yuwono Triatmodjo – Sabtu, 14 September 2013 | 07:00 WIB

kontan

JAKARTA. Kepemilikan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) atas saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) kembali berubah. Data terakhir, per 10 September 2013 yang direkam biro administrasi efek PT Sinartama Gunita menyebutkan, BUMI hanya memiliki 26,90% saham BRMS. Sementara pemegang saham lain adalah PT Arthatama Duta Lestari (6,14%), PT DMS Investama (8,19%), sisanya masyarakat dengan kepemilikan di bawah 5% (58,77%).

Dalam laporan Sinartama 26 Agustus lalu, BUMI masih menguasai 37,52% saham BRMS. Sementara, kepemilikan PT Arthatama Duta Lestari dan PT DMS Investama relatif sama. Kondisi ini amat timpang jika merujuk pada laporan keuangan BRMS di kuartal I-2013. Saat itu, BUMI tercatat memiliki saham 87,09% saham BRMS.

Manajemen BUMI dalam laporan keuangan akhir tahun 2012 lalu pernah menyebutkan, peralihan saham BRMS yang terjadi hanya sementara. Kala itu, manajemen BUMI menjelaskan, peralihan yang terjadi akibat perjanjian peminjaman saham antara BUMI, PT Long Haul Indonesia dan beberapa pihak lain yang dilakukan tahun 2012.
Energi Mega Persada Habiskan Biaya Eksplorasi US$2,52 Juta
Herdiyan – Kamis, 12 September 2013, 04:35 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—PT Energi Mega Persaga Tbk (ENRG) telah menghabiskan biaya eksplorasi senilai US$2,52 juta hingga Agustus 2013.

Dalam keterbukaan informasi kepada otoritas bursa, perseroan melakukan tajak sumur seng-2 pada 17 Agustus 2013 dengan mengebor lubang ukuran 8,5 inchi dari permukaan tanah ke kedalaman 587 ft di Blok Bentu PSC, Riau.

Setelah itu, pihaknya melakukan pelebaran lubang menjadi 17,5 inchi, kemudian memasang dan menyemen casing ukuran 13,6 inchi.

Selanjutnya, mengebor tulang ukuran 12,5 inchi hingga kedalaman 830 ft serta memasang dan menyemen casing ukuran 9 5/8 inchi.

“Mengebor lubang ukuran 8,5 inchi dari kedalaman 830 ft hingga kedalaman 1.949 ft dan melakukan electric logging job,” ujar manajemen dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Rabu (11/9/2013).

Editor : Sutarno
Beberapa waktu lalu, BLD Investment Pte Ltd menerbitkan Equity Linked Bonds senilai
155 juta dolar AS dengan suku bunga 8,625 persen per tahun. Obligasi yang akan
jatuh tempo pada 23 Maret 2015 ini dijamin induk usaha BLD Investment Pte Ltd, yaitu
PT Bakrie Development Tbk (ELTY). Namanya juga penjamin (guarantor), artinya ELTY
wajib bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi atas obligasi ini, tak terkecuali urusan pailit.

Mengacu pada keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (9/9/2013),
Bank of New York cabang London selaku trustee bagi pemegang obligasi yang diterbitkan
BLD Investment Pte Ltd mengajukan gugatan pailit kepada ELTY. Pengajuan pailit
disampaikan melalui Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tanggal
2 September lalu.(tribunnews/az)
Ada Pengajuan PKPU, BEI Suspensi Efek ELTY

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Selasa, 10 September 2013 | 09:41 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Manajemen PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek (suspensi) PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) di seluruh pasar mulai sesi pertama perdagangan saham Selasa (10/9/2013).

Hal itu disampaikan Ph. Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Jasa Eddy Nurcahyo dan Ph.Kepala Divisi Perdagangan Saham Rina Hadriyani dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa pekan ini. Suspensi itu dilakukan terkait pengumuman perusahaan mengenai adanya permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) terhadap Perseroan.

Oleh karena itu, untuk menghindari perdagangan yang tidak wajar atas saham Perseroan, BEI memutuskan untuk melakukan suspensi terhadap efek ELTY. Bursa sedang meminta penjelasan lebih lanjut kepada Perseroan. Selain itu, BEI meminta kepada pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh PT Bakrieland Development Tbk.

Sebelumnya, ada permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang yang diajukan oleh The Bank of New York Mellon cabang London terhadap perseroan. Pemohon adalah trustee bagi para pemegang obligasi berdasarkan perjanjian trust pada 23 Maret 2010. Adapun penundaan PKPU yang diajukan itu untuk penerbitan equity linked bond senilai US$155 juta dengan suku bunga 8,625% yang akan jatuh tempo pada 23 Maret 2015.
JAKARTA—PT Bakrieland Development Realty Tbk (ELTY), perusahaan properti milik grup Bakrie menyatakan akan menunda pembayaran bunga obligasi setelah para pemegang obligasi mengajukan exercise put option (percepatan pembayaran).

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (9/9/2013), diketahui The Bank of New York Mellon cabang London, selaku bank trustee (perwakilan pembayaran), mengajukan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)  pada Bakrieland melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 2 September 2013.

Adapun bank tersebut ditetapkan menjadi trustee bagi para pemegang obligasi berdasarkan perjanjian trust pada 23 Maret 2010, yang juga memutuskan Bakrieland bertindak menjadi penjamin atas pembayaran obligasi. Sementara BLD Investment Pte Ltd, yang merupakan entitas Bakrieland, bertindak selaku penerbit obligasi.

Seperti diketahui, perjanjian trust tersebut sebagai dasar penerbitan equity-linked bonds atau obligasi berbasis ekuiti senilai US$155 juta dengan suku bunga sebesar 8,625% yang akan jatuh tempo pada 23 Maret 2015.

Menurut perseroan, permohonan PKPU tersebut diajukan sehubungan dengan kewajiban jatuh tempo yang dipercepat. Hal itu karena pemegang obligasi menginginkan agar pembayaran dilakukan lebih awal, yaitu pada 23 Maret 2013.

Sementara itu, pemegang obligasi memiliki hak konversi untuk menukarkan obligasi yang dimilikinya dengan saham perseroan. Konversi dapat dilakukan pemegang obligasi pada atau setelah hari ke-41 setelah tanggal penutupan hingga 7 hari sebelum jatuh tempo obligasi.

Namun, perseroan memiliki hak melunasi jumlah obligasi yang akan dikonversi dengan uang tunai, apabila perseroan tidak memiliki jumlah saham yang cukup untuk dikonversi atau tidak dapat menerbitkan saham yang diperlukan untuk melaksanakan hak konversi.

Lebih lanjut, ini bukan pertama kalinya perseroan menunda pembayaran obligasi. Sebelumnya Bakerieland juga menunda pembayaran obligasi I seri B 2008 yang jatuh tempo 11 Maret 2013.

Saat itu pihak perseroan menuturkan, keterlambatan itu disebabkan program divestasi yang sedang diupayakan perseroan belum dapat diselesaikan sesuai perkiraan semula.

http://bisnis.com/lagi-bakrieland-tunda-pembayaran-obligasi

Sumber : BISNIS.COM
Kisruh obligasi ELTY sampai di pengadilan
Oleh Avanty Nurdiana – Selasa, 10 September 2013 | 06:54 WIB

kontan

JAKARTA. Gara-gara soal utang, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) harus berurusan dengan pengadilan. Emiten Grup Bakrie ini mendapatkan gugatan permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Permohonan tersebut datang dari The Bank Of New York Mellon cabang London.
PKPU tersebut, menurut Kurniawati Budiman, Sekretaris Perusahaan ELTY, telah diajukan melalui Pengadilan Jakarta Pusat, 2 September 2013. PKPU tersebut terkait utang obligasi ELTY senilai US$ 155 juta yang terbit pada 23 Maret 2010. “Pemegang obligasi menginginkan obligasi yang dipegang mendapatkan pembayaran lebih awal (exercise put option),” ujarnya di keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (9/9).
Sejatinya, obligasi bertajuk equity linked bonds senilai US$ 155 juta dan memberi bunga 8,62% per tahun itu, baru akan jatuh tempo pada 23 Maret 2015. Tapi, ELTY mempunyai pilihan untuk mempercepat pelunasan obligasi (put option) sebelum jatuh tempo.
Penerbit obligasi tersebut adalah anak usaha ELTY, BLD Investment Pte. Ltd. ELTY bertindak sebagai penjamin atas obligasi tersebut.
Sebelumnya, manajemen mengaku telah membentuk co-ordinating committee untuk membahas rencana restrukturisasi obligasi tersebut. Dalam proses restrukturisasi tersebut manajemen ELTY, menawarkan perpanjangan utang tiga tahun, dihitung dari saat kreditur mengajukan put option. Jika disetujui, jatuh tempo utang ini menjadi Maret 2016.
Besaran kupon equity linked bond juga dinaikkan sedikit di atas 8,62% per tahun. Bakrieland juga akan menawarkan perubahan bentuk obligasi, dari yang semula tak memiliki jaminan (unsecured loan), menjadi secured loan (atas jaminan).
Ambono Janurianto, Presiden Direktur Bakrieland sebelumnya sangat optimistis, tawaran tersebut bisa membuahkan hasil yang cukup manis.
Namun, ternyata belum juga membuahkan hasil. “Upaya pembahasan restrukturisasi belum berhasil mendapatkan kesepakatan hingga akhir bulan Agustus 2013,” ujar Kurniawati. Namun, dia menegaskan, perusahaan ini sedang membahas intensif dengan co-ordinating committee dalam menyelesaikan permohonan PKPU ini.
Ambono juga pernah mengatakan, jika negosiasi tersebut tidak menemui kata sepakat maka ELTY akan memulai dari awal dan mencicil kewajibannya tersebut. Kreditur yang mengajukan put option mencapai 97,4% dari total obligasi setara US$ 151 juta.
Energi Mega Jual Gas ke Tuah Sekata US$4,7 per MMBtu
Vega Aulia Pradipta – Kamis, 22 Agustus 2013, 15:05 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melalui anak usaha, EMP Bentu Limited telah menandatangani perjanjian jual beli gas dengan Perusahaan Daerah Tuah Sekata terkait penjualan gas dari Blok Bentu seharga US$4,7 per MMBtu.

EMP Bentu Limited adalah anak usaha yang dimiliki 100% oleh Energi Mega Persada, yang sekaligus bertindak sebagai operator di blok yang berada di Riau tersebut.

Perjanjian tersebut berlaku selama 8 tahun sampai dengan Mei 2021. Dalam perjanjian tersebut juga diatur mengenai kenaikan harga jual gas sebesar 3% setiap dua tahun.

Volume produksi gas yang dijual adalah sebesar 3 juta kaki kubik gas per hari (MMscfd), sedangkan total kontraknya adalah hingga sebesar 8,1 miliar kaki kubik gas.

Direktur Utama Energi Mega Persada Imam Agustino mengatakan SKK Migas sudah menyetujui penjualan gas dari Blok Bentu kepada Perusda Tuah Sekata, yang merupakan BUMD di Kabupaten Pelalawan, Riau.

“Ini menunjukan komitmen yang kuat dari SKK Migas dan EMP Bentu Limited terhadap pengembangan komunitas setempat di Kabupaten Pelalawan,” ujar Imam seperti dikutip dari keterangan resmi, Kamis (22/8/2013).

Sepanjang tahun lalu, Blok Bentu memproduksikan gas sebesar 16 MMscfd. Pada semester I/2013, produksi gas meningkat menjadi 28 MMscfd dan diharapkan terus meningkat menjelang akhir tahun ini.

Editor : Ismail Fahmi
Revitalisasi sukses, BTEL cetak laba Rp 101 miliar
Oleh Asnil Bambani Amri – Rabu, 31 Juli 2013 | 16:47 WIB | Sumber Tribunnews

kontan

JAKARTA. Angin segar bagi PT Bakrie Telecom, Tbk (BTEL). Kinerja perusahaan grup Bakrie ini mulai membaik setelah perseroan membukukan laba usaha hingga Rp 101 miliar di semester 1 2013. Kinerja ini cukup signifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012 yang merugi sebanyak Rp. 287 miliar.
Sementara itu, beban usaha menunjukkan penurunan sebanyak 28% dari Rp 1,4 triliun menjadi Rp 1 triliun di semester 1 tahun 2013. Hal tersebut berimbas positif terhadap peningkatan EBITDA, dari Rp 442 miliar di periode yang sama tahun 2012 menjadi Rp 531 miliar atau naik 20% .
Akan tetapi, karena rugi selisih kurs, beban keuangan dan depresiasi menyebabkan rugi bersih perseroan menjadi Rp 293 miliar. Rugi ini jauh lebih kecil dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 750 miliar.
Menurut Direktur Keuangan BTEL, Bachder Bachtarudin dalam keterangan tertulis yang diterima Rabu (31/7), kinerja BTEL membaik sejalan dengan revitalisasi yang dilakukan BTEL.
“Upaya revitalisasi bisnis dan efisiensi yang kami lakukan berjalan sesuai harapan, kami dapat mempertahankan level pendapatan dan bersamaan dengan menurunnya beban usaha perseroan, sehingga tercapai peningkatan EBITDA yang lebih tinggi pada semester ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,” ujarnya
Dari awal tahun hingga semester 1 tahun 2013, perseroan melakukan berbagai terobosan dalam hal layanan maupun produk, antara lain dengan meluncurkan kampanye dengan muatan lokal : MBOIS untuk daerah Surabaya dan Malang, kampanye Bulan Data Esia untuk mendongkrak jumlah pelanggan data serta peluncuran produk bagi pelanggan voice, pesan singkat maupun data, yakni antara lain MOVI C11, Maxtouch 5.3, Airflash Alcatel One Touch. (Hendra Gunawan/Tribunnews)
Parah, Laba Bakrie & Brothers Nyaris Turun 100%
Rabu, 31 Juli 2013 11:02 wib
Rizkie Fauzian – Okezone

JAKARTA – PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) mencatatkan penurunan laba bersih semester pertama 2013 sebesar 96,0 persen menjadi Rp8,36 miliar dari periode sebelumnya di 2012 yang sebesar Rp214,35 miliar.

Penurunan laba bersih tersebut seiring menurunnya pendapatan selama semester pertama 2013 sebesar Rp1,95 triliun, turun dari perolehan semester pertama 2012 yang mencapai Rp11,39 triliun.

“Memang turun jika dibandingkan dengan perolehan pendapatan semester pertama 2012. Ini disebabkan dekonsolidasi atas anak usaha kami, yakni Bakrie Petroleum International Pte Ltd dan entitas anak,” ujar Direktur Utama Bakrie and Brothers Bobby Gafur, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (31/7/2013).

Adapun perolehan laba perseroan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk menjadi Rp4,86 miliar pada semester pertama 2013 dibandingkan perolehan sebelumnya di 2012 yang sebesar Rp61,23 miliar.

Selain itu, perseroan juga menurunkan porsi utang pada semester pertama 2013. Beban bunga dan keuangan perseroan turun hingga 78 persen atau Rp603 miliar dari Rp775,79 miliar pada semester pertama 2012 menjadi Rp172,78 miliar pada akhir semester pertama 2013.

“Kami berhasil menekan beban-beban secara signifikan, selain kinerja unit-unit usaha manufaktur yang makin cemerlang dan menjadi kontributor utama bagi pendapatan perseroan,” jelasnya.

Sementara itu, anak usaha BNBR, PT Bakrie Building Industries (PT BBI), selama semester pertama 2013 membukukan pendapatan (revenue) sebesar Rp380,73 miliar, meningkat 23 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp308,82 miliar.

Laba bersih sebesar Rp45,82 miliar, naik sebesar 73 persen jika dibandingkan perolehan laba bersih periode yang sama pada 2012 yang mencapai Rp26,48 miliar. “Perolehan laba bersih PT BBI ini bahkan sudah melampaui bujet,” katanya. (wdi)
Lagi, MNC Ambil Alih Aset Bakrie
Senin, 29 Juli 2013 | 20:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Grup Bakrie terus melepas aset-asetnya kepada perusahaan milik Hary Tanoesoedibjo. Kali ini, PT MNC Land Tbk mengambil alih 19,90 persen saham PT Bali Nirwana Resort dari Sugilite Company Tbk dan PT Bakrie Nirwana Semesta.

Dalam keterbukaan informasi, Senin (29/7/2013) disebutkan bahwa penandatanganan akta jual beli saham telah dilaksanakan pada pekan lalu, tepatnya hari Kamis (25/7/2013). Namun demikian, manajemen MNC Land tidak menyebutkan nilai akuisisi itu.

Terkait dengan pembelian aset milik Grup Bakrie, sebelumnya MNC Land menyatakan bakal mengambil alih utang PT Bakrieland Development Tbk seiring dengan penjualan aset Bakrieland berupa Lido Resort dan lima ruas jalan tol ke Grup MNC.

Chief Corporate Affairs PT Bakrieland Development Yudy Rizard Hakim sebelumnya menjelaskan, penjualan Lido Resort di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, merupakan satu kesatuan dengan penjualan saham PT Bakrie Toll Road, anak usaha Bakrieland yang memiliki konsesi atas lima ruas jalan tol.

”Kalau melihat penjualan Lido Resort, harus sepaket dengan jalan tol. Tidak berdiri sendiri. Tujuan penjualan itu adalah untuk mengurangi beban utang perusahaan,” katanya beberapa waktu lalu.
Utang BRMS Tersisa US$336 Juta

Oleh: SenoTri Sulistiyono
pasarmodal – Jumat, 28 Juni 2013 | 15:10 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) menyatakan pada Juni 2013, telah membayar sebagian utangnya sebesar US$100 juta dari total keseluruhan utang sebesar US$436,41 juta.

Setelah membayar sebagian utannya, maka perseroan masih memiliki utang sebesar US$336 juta. Namun, sisa utang tersebut belum dibayarkan perseroan kepada kreditur.

“Memang belum ada transaksi apapun, karena kami mendapat extension hingga September nanti,” kata Investor Relatin BRMS, Herwin Hidayat seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Jumat (28/6/2013).

Komut PT Bumi Resources Mineral Tbk, Ari Hudaya mengatakan, utang sebesar US$336 juta diperoleh dari Credit Suisse. Perseroan juga dikabarkan, meminta pihak kreditur untuk mempanjang waktu pembayaran utang atau perseroan melakukan langkah refinancing. [hid]
Nilai Penjualan 10% Blok Masela Capai US$313 Juta
Vega Aulia Pradipta – Jumat, 28 Juni 2013, 19:36 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA—PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melalui anak usaha PT EMP Energi Indonesia telah menyelesaikan penjualan 10% kepemilikannya (participating interest/PI) di Blok Masela yang nilainya mencapai US$313 juta.

Perseroan mendivestasikan aset tersebut kepada INPEX Masela Ltd dan Shell Upstream Overseas Services (I) Limited. Berdasarkan catatan Bisnis, angka tersebut sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yang sebesar US$290 juta atau sekitar Rp2,8 triliun.

Herwin Hidayat, Chief Investor Relations Energi Mega Persada menyatakan harga penjualan aset tersebut merefleksikan nilai pasar dari proyek LNG di Lapangan Abadi, yang berada di blok migas tersebut.

“Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, kami akan menggunakan dana hasil penjualan aset itu untuk melunasi fasilitas pinjaman sebesar US$200 juta dari Credit Suisse, sehingga akan menurunkan beban keuangan perusahaan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (28/6/2013).

Selain itu, dana hasil penjualan aset itu juga akan digunakan untuk membiayai kebutuhan modal kerja dan belanja modal untuk meningkatkan produksi dari aset-aset yang sudah ada.

Direktur Utama Energi Mega Persada Imam P. Agustino sebelumnya mengatakan memang Blok Masela jika dilihat dari sisi cadangan dan kualitas, itu sangat baik. Namun, karena masih eksplorasi, perseroan juga harus mengeluarkan dana untuk keperluan itu.

“Tapi ini proyek long term, masih eksplorasi. Kebijakan perseroan saat ini fokus pada developing asset dan aset-aset yang sudah berproduksi saja,” jelas Imam.

Adapun, pasca divestasi aset ini, perseroan masih memiliki 215 juta barrel ekuivalen cadangan 2P (dari sebelumnya sebesar lebih dari 500 juta barrel ekuivalen cadangan 2P). Angka itu masih merepresentasikan rata-rata umur produksi migas yang menarik, yaitu lebih dari 15 tahun.

Energi Mega Persada memproduksikan 48.500 barel ekuivalen minyak per harinya sepanjang kuartal pertama tahun ini. Produksi terakhir tertanggal 26 Juni 2013 adalah sebesar 56.340 barel ekuivalen minyak per hari. Saat ini perseroan mengoperasikan total 11 blok minyak, gas, dan gas metana batu bara di wilayah Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.

Editor : Sepudin Zuhri
SELASA, 25 JUNI 2013 | 18:34 WIB
Lepas Blok Masela, Bakrie Untung Dua Kali Lipat

TEMPO.CO, Jakarta – Salah satu unit usaha Grup Bakrie yang bergerak di sektor minyak dan gas, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) bakal memfinalisasi divestasi saham di Blok Masela sebesar 10 persen dalam waktu dekat. Nilai divestasi diperkirakan melonjak hingga lebih dari dua kali lipat ketimbang harga pembelian pada akhir 2010 lalu.

“Nilai divestasi Masela bisa lebih dari US$ 200 juta,” ujar Direktur Keuangan Energi Mega Didit A Ratam yang dijumpai usai Rapat Umum Pemegang Saham perseroan di Hotel Dharmawangsa, Selasa, 25 Juni 2013.

Menurut Didik, valuasi pasti nilai divestasi blok yang memiliki kandungan gas hingga sebesar 13 triliun kaki kubik (TCF) ini baru bisa ditentukan pada saat penekenan divestasi yang kemungkinan berlangsung di akhir bulan ini atau awal bulan depan.

Ia menegaskan, langkah divestasi ini merupakan salah satu strategi perusahaan untuk fokus pada ladang-ladang migas yang sudah masuk tahap pengembangan atau produksi saja. Tidak seperti Blok Masela, yang masih dalam tahap eksplorasi.

Selain itu, dana dari hasil divestasi juga akan digunakan perseroan untuk melunasi utang mereka kepada Credit Suisse yang senilai US$ 228,36 juta yang jatuh tempo pada tahun ini.

Direktur Utama Energi Mega Persada Imam P Agustino menambahkan, dari sisi cadangan jelas investasi di blok gas dengan kapasitas produksi LNG 2,5 juta tahun ini memang cukup menjanjikan dan sayang jika dilepas.

Namun, investasi di blok tersebut nilainya juga tidak kecil apalagi masih dalam tahap eksplorasi alias belum menghasilkan apapun. “Kalau investasi ini kita alihkan pada blok produksi, dalam jangka panjang tambahan volume produksi ini nilainya akan sepadan dan bisa lebih besar,” jelasnya.

Perseroan akan mendivestasikan hak partisipasinya kepada dua pemegang hak partisipasi lainnya yang sudah ada di blok tersebut yaitu Inpex Masela dan Shell Upstream Over Services dengan bagian masing-masing sebanyak 5 persen.

Dengan divestasi ini, maka komposisi pemegang hak partisipasi di blok tersebut menjadi 65 persen untuk Inpex Masela Ltd yang sekaligus merupakan operator dan 35 persen untuk Shell Upstream Over Services.

Energi Mega Persada membeli hak partisipasi Blok Masela sebesar 10 persen dari Inpex Masela senilai US$ 100 juta. Apabila saham partisipasi tersebut dijual dengan harga terakhir sesuai dengan data CLSA Asia Pacific Market, yaitu harga pembelian saham partisipasi Shell kepada Inpex yang senilai US$ 870 juta pada 2011 lalu untuk 30 persen. Diperkirakan, nilai saham divestasi yang dilepas oleh Energi Mega Persada bisa mencapai hingga US$ 290 juta.

GUSTIDHA BUDIARTIE
Bakrie Pipe Industries akan akuisisi tiga pabrik
Oleh Dityasa H Forddanta – Rabu, 12 Juni 2013 | 17:20 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bakrie Pipe Industrie (BPI) bakal gencar berekspansi tahun ini. Anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) ini berencana untuk mengakuisisi pabrik berdiameter spesial.

Dibilang pipa berdiameter spesial lantaran pipa ini tidak bisa digantikan dengan pipa jenis PVC. Adapun penggunaan pipa berdiameter 0,5-8 inchi ini nantinya digunakan untuk kebutuhan bangunan-bangunan pencakar langit dan industri energi.

Kendati masih merahasiakan detilnya, tapi Mas Wigrantoro, Chief Executive Officer (CEO) BPI, mengaku, saat ini pihaknya sedang mengincar tiga pabrik pipa baja. “Kami cari yang nilai akuisisinya US$ 10 juta-US$ 20 juta dan berlokasi di pulau Jawa,” imbuhnya, Rabu (12/6).

Dengan akuisi tersebut, manajemen berharap memproduksi pipa baja seberat 143.000 ton hingga akhir tahun nanti. Pada kuartal I 2013, BPI telah memproduksi hingga 93.000 ton. Target produksi itu sebenarnya sudah direvisi dari sebelumnya 113.000 ton.

“Kuartal pertama saja sudah segitu, makanya kami lakukan revisi target,” pungkas Wigrantoro.
JUM’AT, 07 JUNI 2013 | 19:19 WIB
Alasan Anak Usaha Bakrie Belum Laporkan Kinerja

TEMPO.CO, Jakarta – Otoritas Bursa Efek Indonesia pada Rabu, 5 Juni 2013, lalu melaporkan ada 20 emiten yang belum melaporkan laporan keuangan tahunan kepada otoritas hingga batas waktunya akhir Mei lalu.

Dua di antara emiten tersebut yakni anak usaha Grup Bakrie, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP).

Sekretaris Perusahaan Bakrieland Kurniawati Budiman, dalam keterangan tertulisnya kepada BEI mengatakan, perseroan saat ini belum dapat mengeluarkan laporan keuangan tahunan 2012 maupun triwulan pertama 2013. Sebab, perseroan masih menunggu laporan keuangan dari Bakrie Toll Road yang sudah didivestasi pada tahun lalu.

Kurniawati menjelaskan, secara pencatatan, laporan buku Bakrie Toll Road hingga Oktober 2012 dikonsolidasikan ke laporan keuangan perseroan. “Namun dengan fakta bahwa secara de facto Bakrie Toll Road telah diambil alih kepemilikannya dan kepengurusan, hingga saat ini belum ada laporan keuangan tahunan maupun per 31 Oktober 2012,” ujarnya.

Dia berjanji akan segera melaporkan laporan keuangan kepada BEI setelah mendapatkan laporan dari Bakrie Toll Road. Meski begitu, Kurniawati tidak menyebutkan kapan pastinya perseroan akan mempublikasikan laporan tersebut.

Sebelumnya BEI memaparkan dari 20 perusahaan yang belum memberikan laporan keuangan, hanya satu emiten yang memberikan informasi kepada Bursa soal keterlambatan penyerahan laporan keuangan mereka, yaitu PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk.

Sedangkan sisanya tidak memberikan informasi apa pun, termasuk di antaranya perusahaan milik Bakrie, seperti Bakrie Sumatra Plantations dan Bakrieland.

Adapun sisa perusahaan yang belum memberi laporan keuangan 2012 antara lain PT Polychem Indonesia, PT Atlas Resources, PT Asia Natural Resources, PT Eksploitasi Energi Indonesia, PT Davomas Abadi.

RIRIN AGUSTIA
Bumi Plc endus keanehan di BRAU
Oleh Agustinus Beo Da Costa – Sabtu, 01 Juni 2013 | 06:10 WIB

Tkontan

JAKARTA. Bumi Plc, pemilik 84,7% PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan 29,2% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), Jumat (31/5), merilis laporan keuangan tahun 2012. Dalam rilis yang dikeluarkan Bumi Plc, entitas asal Inggris itu mengaku membukukan rugi bersih hingga US$ 2,32 miliar, jauh lebih besar dari kerugian tahun 2011 senilai US$ 337 juta.
Isi laporan keuangan itu kian seru, saat Bumi Plc menyimpulkan adanya penyimpangan keuangan atau financial irregilarities dengan jumlah signifikan pada laporan keuangan dan neraca BRAU. Hal ini terungkap dalam rilis kinerja oleh manajemen Bumi Plc kemarin dalam situs resminya.
Dalam rilis dijelaskan, seiring selesainya proses review pada Mei 2013, tim audit BRAU menyimpulkan ada dua pembayaran (payment) senilai US$ 152 juta di tahun 2012 dan US$ 49 juta di tahun 2011 yang tidak bisa dibuktikan secara jelas tujuan bisnisnya. Karena itu, dewan direksi Bumi Plc lantas menyatakan dua pengeluaran senilai US$ 152 juta di tahun 2012 sebagai pengeluaran lain-lain atau exceptional cost pada laporan keuangannya.
Pengeluaran sebesar US$ 152 juta itu oleh manajemen BRAU sebelumnya dilaporkan sebagai pengeluaran untuk hauling road (jalan tambang) dan konstruksi yang sedang berlangsung senilai US$ 79 juta. Selain itu, BRAU juga mencantumkan transaksi pembayaran tanah sebesar US$ 42 juta serta US$ 5 juta dicatatkan sebagai goodwill. Pengeluaran lainnya senilai US$ 24 juta juga dilaporkan sebagai biaya konsultasi tambahan yang kemudian direklasifikasikan sebagai biaya lain-lain.
Sedangkan, pengeluaran misterius pada tahun 2011 senilai US$ 49 juta, oleh manajemen BRAU, sebanyak US$ 45 juta dilaporkan sebagai reklasifikasi atas harga pokok penjualan (sale cost). Sedangkan, sekitar US$ 4 juta dicatatkan sebagai aset yang sedang dibangun. Sebenarnya masih ada US$ 20 juta sebagai pendapatan pajak tambahan yang kemudian dihapusbukukan (write off).
Padahal pada pertengahan April 2013 lalu, tim audit BRAU hanya mengungkap adanya pengeluaran tahun 2012 senilai US$ 56 juta bagi hauling road dan overburden removal yang tidak memiliki bukti transaksi kuat. Selain itu, masih ada pembayaran kompensasi tanah senilai US$ 38 juta yang tidak bisa divalidasi. Review tersebut juga mengidentifikasi adanya beban-beban yang tidak dimasukkan dalam neraca kas.
Sebagai tindak lanjut, Bumi Plc beserta manajemen baru BRAU di bawah komando Eko Santoso Budianto, akan melaporkan temuan ini kepada Litigation Comitte dan mengambil setiap langkah yang perlu terhadap mereka yang diduga bersalah dalam penyimpangan itu. “Bumi Plc dan Berau akan melakukan semua langkah dan cara yang perlu untuk mendapatkan kembali dan memulihkan semua pengeluaran yang tidak jelas dengan melibatkan badan-badan regulator yang terkait,” terang manajemen Bumi Plc dalam rilsinya.
Sekedar mengingatkan, Eko menduduki Presiden Direktur BRAU, setelah Rosan Perkasa Roeslani menyatakan mundur dari orang nomor satu di BRAU. Pengangkatan Eko disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BRAU, 7 Maret 2013.
Saat dikonfirmasi kemarin, juru bicara BRAU, Bintoro Prabowo mengatakan, kerugian yang muncul dalam laporan keuangan merupakan hasil proses reklasifikasi atas biaya-biaya yang tidak memiliki bukti-bukti memadai. BRAU telah mengklasifikasikan kembali biaya pengeluaran lain dan membebankan pada tahun berjalan.
Menanggapi kisruh ini, Nathaniel Rothschild (Nat Rothschld), yang juga menjadi pemegang saham Bumi Plc mengatakan, pengumuman tersebut merupakan bukti adanya ketidakjujuran yang terjadi akibat inkompetensi dan rasa puas diri. Dalam pernyataan tertulisnya kepada KONTAN, Nat Rothschild mengaku, sudah sejak bulan Desember 2012, ia mengingatkan Direksi Bumi Plc akan adanya penyalahgunaan jabatan yang mengerikan.
Bakrie jual 10% saham Blok Masela
Oleh Azis Husaini – Selasa, 28 Mei 2013 | 12:16 WIB

kontan

JAKARTA. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) hari ini (28/5) melaporkan telah menandatangani perjanjian untuk menjual 10% saham di Blok Masela PSC, proyek Lapangan Abadi, Maluku kepada Inpex Masela Ltd dan Shell Upstream Overseas Limited.

Seperti diketahui sebelumnya, hak kepemilikian Lapangan Abadi sebanyak 60% saham dikuasai Inpex Masela, perusahaan asal Jepang, yang juga bertindak sebagai operator. Selebihnya, sebanyak 30% dipegang oleh perusahaan asal Belanda, Shell Upstream Overseas SEvices Ltd, dan 10% saham dimiliki oleh EMP Energi Indonesia.

Cadangan gas di Lapangan Abadi diproyekasikan mencapai 6,05 triliun kaki kubik (TCF) dengan produksi kondensat mencapai 8.400 barel per hari (bph). Adapun kebutuhan investasi untuk untuk pengembangan blok Masela diperkirakan mencapai sekitar US$ 9-10 miliar.

Menurut keterangan tertulis di situs resmi ENRG, dana hasil penjualan tersebut bakal digunakan untuk mengurangi fasilitas pinjaman luar biasa dan akan digunakan untuk membiayai modal kerja dan belanja modal untuk meningkatkan produksi.
GRUP BAKRIE: Sumatera Plantations Rugi Bersih Rp1,068 triliun
Vega Aulia Pradipta – Jumat, 24 Mei 2013, 19:47 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA-PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) mencatat rugi bersih tahun berjalan selama 2012 sebesar Rp1,068 triliun, anjlok dari 2011 yang masih mencatat laba bersih sebesar Rp746 miliar.

Keterangan resmi perseroan hari ini (24/5/2013) mengungkapkan dari sisi penjualan, penjualan netto mencapai Rp2,485 triliun, turun 31,84% dari 2011 sebesar Rp3,646 triliun.

Seiring dengan penurunan penjualan netto, beban pokok penjualan juga turun 21,54% dari Rp2,214 triliun menjadi Rp1,737 triliun. Perseroan berhasil menekan biaya operasional dari Rp535 miliar, turun 27,47% menjadi Rp388 miliar.

“Meski rugi bersih, tapi secara operasional perseroan masih mencatat keuntungan [operating profit] sebesar Rp361 miliar,” ujar Direktur Utama Bakrie Sumatera Plantations, Bambang Aria Wisena.

Dia menjelaskan rugi bersih tahun lalu lebih disebabkan oleh beban-beban yang sifatnya non-cash. Turunnya kinerja perseroan tahun lalu terutama disebabkan oleh turunnya harga komoditas sawit dan karet serta adanya gangguan logistik di sejumlah pelabuhan pada kuartal IV/2012.

“Tahun lalu bukan tahun yang ringan bagi industri perkebunan sawit dan karet, tidak terkecuali bagi perseroan,” ujarnya.

Meski demikian, perseroan optimistis harga komoditas akan membaik di masa mendatang. Menurutnya, industri perkebunan kelapa sawit dan karet akan tetap tumbuh seiring dengan meningkatnya permintaan global.
Saham Grup Bakrie kompak menguat
Oleh Yuwono Triatmodjo – Selasa, 21 Mei 2013 | 17:54 WIB

kontan

Hari ini (21/5) beberapa saham Grup Bakrie ditutup positif. Lonjakan paling besar dipimpin saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang berakhir di posisi Rp 760 per saham, alias naik 8,57% dari hari sebelumnya. Berikutnya disusul saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang menguat 4,35% menjadi Rp 360 per saham.
Selain itu, ada juga saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) yang berakhir di Rp 53 per saham, atau menanjak 3,92%. Posisi selanjutnya diisi saham PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) yang menguat 3,49% ke level Rp 89 per saham. Dan terakhir saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang naik 2,19% ke posisi Rp 140 per saham.
Khusus BUMI, volume perdagangan emiten gacoan Grup Bakrie itu hari ini diperdagangkan dengan volume 157,15 juta saham. Angka tersebut mencapai dua kali lipat dari rata-rata perdagangan dalam tiga bulan terakhir yang sebesar 96,10 juta saham. Hari ini, RHB OSK Securities Indonesia tercatat sebagai broker yang melakukan pembelian bersih saham BUMI terbesar, dengan nilai Rp 13,14 miliar.
Perusahaan Energi Bakrie Raup Laba Rp 142 Miliar, Naik 30%
Angga Aliya – detikfinance
Senin, 13/05/2013 11:01 WIB

Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencatat laba bersih US$ 15 juta (Rp 142,5 miliar) di akhir 2012, laba ini naik 30% dari periode yang sama tahun lalu US$ 11 juta (Rp 104 miliar).

Perseroan juga membukukan penjualan bersih dan EBITDA masing-masing sebesar US$ 654 juta dan US$ 342 juta. Menurut Direktur Utama ENRG Imam Agustino, peningkatan omzet dan laba itu didorong oleh kenaikan harga jual gas, dan peningkatan rata-rata produksi harian.

Ia menambahkan, kepemilikan perseroan di blok ONWJ PSC sebesar 18,73% telah memberikan tambahan produksi sebesar 12.400 barel ekuivalen per hari pada tahun 2012.

“Salah satu blok kami yaitu Kangean PSC juga memberikan kontribusi sebesar 10.400 barel ekuivalen per hari melalui lapangan gas Terang dalam tahun yang sama,” kata Imam dalam siaran pers, Senin (13/5/2013).

Dari Juli sampai Desember 2012 (semester 2 tahun 2012), blok Kangean PSC telah memproduksikan gas rata-rata sebesar 270 juta kaki kubik gas per hari (100% kepemilikan).

Blok tersebut dapat berproduksi sampai dengan maksimum kapasitas 300 juta kaki kubik gas per hari (100% kepemilikan). Kangean PSC dimiliki 50% oleh ENRG, 25% oleh Japex Co., Ltd. (Japan), dan 25% oleh Mitsubishi Corporation (Japan).

(ang/dnl)

Mei 6, 2013

Bakries’ GAME (7) (0605/2013)

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 12:00 am

MINGGU, 05 MEI 2013 | 14:12 WIB
Bakrie Telecom Merugi Rp 97,47 Miliar

TEMPO.CO, Jakarta – Bakrie Telecom Tbk (BTE) mencatatkan rugi bersih pada kuartal pertama 2013 sebesar Rp 97,47 miliar. Angka itu turun dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 355,62 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama perseroan yang belum diaudit, penurunan rugi BTEL didapat dari ditekannya beban usaha menjadi Rp 532,117 miliar dari Rp 696,96 miliar pada tahun sebelumnya. Beban bersih lain-lain juga turun dari Rp 266,365 miliar menjadi Rp 170,91 miliar.

Walau masih merugi, perusahaan yang dipegang oleh Anindya Bakrie ini mencatat kenaikan pendapatan tipis selama Januari-Maret 2013 sebesar Rp 582,49 miliar dari Rp 525,59 miliar pada tahun sebelumnya. Sumbangan terbesar datang dari pendapatan jasa telekomunikasi sebesar Rp 615,98 miliar. Sedangkan sumbangan kedua didapat dari sektor pendapatan jasa interkoneksi Rp 67,96 miliar, sebelum dipotong beban dan potongan harga.

RIRIN AGUSTIA
Laba Perusahaan Media Bakrie Naik 180 Persen
Penulis : Didik Purwanto | Jumat, 3 Mei 2013 | 16:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Laba bersih PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) di kuartal I-2013 naik 180 persen dari Rp 200 juta menjadi Rp 3,6 miliar, yang salah satunya disumbang oleh efisiensi biaya pembuatan program dan penyiaran.

Presiden Direktur VIVA Erick Thohir mengatakan sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, pendapatan perseroan tercatat naik 27,5 persen dari Rp 244,8 miliar menjadi Rp 312,2 miliar.

“Kenaikan kinerja yang positif ini menunjukkan bahwa VIVA sudah berada pada arah yang benar,” kata Erick dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (3/5/2013).

Dalam hal pendapatan sebelum bunga, pajak dan amortisasi (Ebitda), perusahaan ini juga mengalami kenaikan 61,4 persen dari Rp 54,6 miliar menjadiRp 88,1 miliar. Sementara itu, lonjakan marjin Ebitda dipicu oleh stabilnya biaya program dan penyiaran (broadcast) yang hanya meningkat Rp 500 juta menjadi Rp 87,3 miliar, dengan demikian rasio beban pos tersebut menurun dari 35,5 persen menjadi 28 persen.

“Stabilnya biaya program dan broadcast merupakan hasil dari upaya mengkontrol struktur biaya dan sinergi antar entitas anak perusahaan yang semakin solid namun tetap menghasilkan pendapatan yang optimal,” tambahnya.

Ke depannya, Erick menambahkan, VIVA akan terus menerapkan strategi melalui penayangan konten-konten yang berkualitas sehingga dapat menghibur para pemirsa di seluruh tanah air. Pada perdagangan saham VIVA hari ini turun 30 poin (5,36 persen) ke Rp 530 per saham.

Editor :Bambang Priyo Jatmiko

Rapor BRMS kuartal I jeblok
Oleh Dea Chadiza Syafina – Rabu, 01 Mei 2013 | 11:45 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mencatatkan kerugian pada kuartal I 2013. Rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas (induk) atau rugi bersih BRMS adalah sebesar US$ 7,94 juta. Berbeda dari periode sebelumnya yang untung US$ 62.871.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), kinerja negatif BRMS adalah akibat berkurangnya pendapatan dan beban usaha. Pendapatan BRMS mengalami penurunan 10,15% menjadi US$ 6,32 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$ 7,03 juta.

Padahal, beban usaha turun 26,23% menjadi US$ 2,46 juta dari US$ 3,33 juta. Dengan begitu, laba usaha BRMS hanya naik tipis 5,2% menjadi US$ 3,88 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya US$ 3,69 juta.

Dalam laporan keuangan tahun buku kuartal I, BRMS mendapatkan pendapatan bunga signifikan 226,73% menjadi US$ 3,82 juta dari US$ 1,17 juta. Lalu, entitas dengan kode saham BRMS ini justru memperoleh rugi kurs sebesar US$ 1,21 juta dari sebelumnya memperoleh laba kurs US$ 3 juta.

Kinerja anak usaha grup Bakrie ini secara signifikan ditekan oleh beban lain-lain yang melonjak menjadi US$ 19,69 juta dari US$ 9,03 juta.

Hitungan tersebut membuat BRMS rugi konsolidasi sebesar US$ 16,10 juta dari sebelumnya rugi US$ 4,08 juta. Kerugian bersih yang dicatatkan perseroan juga turut mempengaruhi rugi per 1.000 saham dasar US$ 0,31 dari rugi US$ 0,0025.

Sementara itu, ekuitas perseroan juga berkurang 1,12% menjadi US$ 1,44 miliar dari US$ 1,45 miliar di akhir 2012. Aset perusahaan tambang ini meningkat tipis 0,04% menjadi US$ 1,98 miliar di kuartal pertama 2013 dari US$ 1,98 miliar di akhir tahun lalu, namun hal tersebut lebih diakibatkan oleh bertambahnya kewajiban sebesar 3,25% menjadi US$ 546,86 juta dari US$ 529,64 juta.

Energi Mega Tambah Kepemilikan di Blok Tonga
Kepemilikan participating interest menjadi 94,28 persen.
ddd
Jum’at, 19 April 2013, 19:12 Arinto Tri Wibowo

VIVAnews – PT Energi Mega Persada Tbk menambah kepemilikan participating interest secara tidak langsung sebesar 41 persen di blok Tonga PSC.

Dalam keterangan tertulisnya, Jumat 19 April 2013, manajemen Energi Mega mengatakan, penambahan itu dilakukan melalui pembelian saham milik PT Capitalinc Investment Tbk dan PT Capital Petroline senilai US$41,7 juta.

“Untuk itu, Energi Mega telah efektif menambah kepemilikan participating interest-nya di Blok Tonga PSC dari sebelumnya 53,43 persen menjadi 94,28 persen,” kata Direktur Utama Energi Mega Persada, Imam Agustino.

Imam menjelaskan, banyak prospek yang dapat dikembangkan dari blok Tonga PSC itu. “Kami berharap dapat memproduksi cadangan dan sumber daya minyaknya dalam waktu dekat,” ujarnya.

Tonga PSC adalah blok minyak yang telah berproduksi dan terletak di Sumatera Utara. Blok tersebut memiliki cadangan minyak terbukti dan terukur (2P) sebanyak 3,54 juta barel dan sumber daya prospektif 61 juta barel.

VIVA Raup Laba Rp 72,9 Miliar
Tribunnews.com – Senin, 8 April 2013 12:30 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) membukukan laba bersih sebesar Rp 72,92 miliar sepanjang 2012. Angka tersebut diketahui naik 177 persen dibandingkan dengan laba bersih 2011 sebesar Rp 26,26 miliar.

Dalam laporan keuangan perseroan, kenaikan laba bersih dipicu kenaikan pendapatan menjadi Rp 1,24 triliun dari sebelumnya pada 2011 sebesar Rp 992,63 miliar.

Sementara, total aset perseroan sepanjang 2012 menyentuh angka Rp 2,99 triliun naik 23 persen dibandingkan total aset 2011 sebesar Rp 2,42 triliun.

Penulis: arif wicaksono | Editor: sanusi
Ada 52 emiten yang belum serahkan lapkeu 2012
Oleh Dea Chadiza Syafina – Senin, 08 April 2013 | 12:32 WIB

kontan

JAKARTA. Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) menginformasikan, terdapat 52 emiten yang hingga 1 April 2013 belum juga menyampaikan laporan keuangan audit yang berakhir 31 Desember 2012. Dari daftar nama ke 52 emiten tersebut, tujuh di antaranya berasal dari emiten grup Bakrie.

Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Riil BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan, dari mereka yang belum menyerahkan laporan keuangannya, baru ada tiga emiten yang menyampaikan informasi penyebab keterlambatan penyampaian laporan keuangan. Sedangkan 49 emiten belum menyampaikan informasi apapun.

Terkait hal tersebut, BEI akan menerapkan sejumlah sanksi kepada emiten tersebut. Sanksi akan mengacu pada ketentuan II.6.1. Peraturan BEI I-H. Berdasarkan peraturan I-H, sanksi peringatan tertulis I tidak menyertakan detil denda yang harus dibayarkan emiten jika terlambat menyampaikan laporan keunagan. Denda hanya diberikan untuk sanksi peringatan tertulis II dan III dengan besaran masing-masing Rp 50 juta dan Rp 150 juta.

“Kami telah memberikan peringatan tertulis I kepada perusahaan tercatat yang tidak memenuhi kewajiban penyampaian laporan keuangan auditan 2012 secara tepat waktu,” kata Nyoman Yetna seperti dikutip dalam keterbukaan informasi BEI, Senin (8/4).

Selain itu, Yetna juga mengungkapkan, untuk tujuh emiten yang belum wajib menyampaikan laporan keuangan, satu emiten mengikuti aturan Bapepam-LK no X.K.7. tentang Jangka Waktu Penyampaian Laporan Keuangan Berkala Dan Laporan Tahunan Bagi Emiten dan Perusahaan Publik Yang Efeknya Tercatat Di BEI dan Bursa Efek Negara lain. Di mana dalam aturan tersebut tercantum poin bahwa batas waktu penyampaian laporan keuangan berkala kepada regulator dan otoritas mengikuti ketentuan di negara lain tersebut. Emiten tersebut adalah PT Indosat (Persero) Tbk (ISAT).

Adapun untuk enam emiten lainnya, alasan belum diwajibkannya menyampaikan laporan keuangan 2012 oleh BEI adalah karena adanya perbedaan tahun buku dimana pada PT Sumi Indo Kabel Tbk (IKBI), PT Renuka Coalindo Tbk (SQMI), PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) dan PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA), tahun buku berakhir pada Maret.

Untuk dua emiten lainnya, PT Sorini Agro Asia Corporindo Tbk (SOBI), tahun buku berakhir pada Mei dan PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) berakhir pada September.

Aburizal Bakrie: Semua Dijual di Harga yang Tepat

Angga Aliya – detikfinance
Rabu, 03/04/2013 11:36 WIB

Jakarta – Pemilik Kelompok Usaha Bakrie sekaligus kandidat calon presiden Republik Indonesia 2014, Aburizal Bakrie, memberi sinyal perusahaan-perusahaannya siap dijual. Penjualan akan dilakukan jika ada harga yang sesuai.

Hal ini terungkap dalam artikel Financial Times yang mewawancarai Aburizal Bakrie soal pencapresan dan situasi bisnisnya. Financial Times membeberkan, Grup Bakrie sedang berencana membeli kembali saham perusahaan tambangnya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari Bumi Plc, namun masih kekurangan uang.

Sehingga, beberapa analis menilai, Grup Bakrie harus menjual salah satu perusahan medianya demi mendapatkan uang, seperti tertulis dalam artikel Financial Times tersebut.

“Semuanya dijual di harga yang tepat,” katanya seperti dikutip detikFinance dari Financial Times, Rabu (3/4/2013).

Seperti diketahui, beredar kabar Grup Bakrie berniat menjual kepemilikan sahamnya di PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), anak usahanya yang bergerak di bidang media massa. Beberapa yang kabarnya melakukan penawaran adalah pengusaha lokal Chairul Tanjung (CT) dan Pemilik Grup MNC Hary Tanoesoedibjo.

Rumor yang beredar, kesepakatan jual beli sudah terjadi dengan CT di harga Rp 1.200 per lembar, jauh lebih tinggi dari harga di pasar yang hanya Rp 650 pada perdagangan kemarin.

Beberapa pelaku pasar menilai rumor itu sengaja disebarkan demi menggenjot harga saham VIVA, karena belum ada kesepakatan atas perjanjian jual beli saham itu.

Untuk melihat aset-aset Bakrie yang sudah dan akan dijual, klik di sini.

(ang/dnl)

Kontribusi Laba Newmont ke Bumi Minerals Turun
Perseroan mencatat pendapatan sebesar US$22,21 juta pada 2012.
ddd
Selasa, 2 April 2013, 17:13 Arinto Tri Wibowo

VIVAnews – Seperti telah diantisipasi sebelumnya, kontribusi laba bersih dari PT Newmont Nusa Tenggara terhadap PT Bumi Resources Minerals Tbk mengalami penurunan. Kondisi tersebut karena penurunan produksi yang bersifat sementara di lokasi tambang Batu Hijau, akibat pengembangan fase 6 yang tengah berlangsung.

Produksi emas NNT turun dari 308 ribu oz pada 2011 menjadi 68 ribu oz selama 2012.

“Setelah pengembangan fase 6 dapat diselesaikan, NNT diharapkan dapat meningkatkan produksinya secara signifikan pada 2013,” kata Vice President Investor Relations, Bumi Resources Minerals, Herwin W. Hidayat, dalam keterangan tertulis, Selasa 2 April 2013.

Herwin menjelaskan, terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi pada 2012, Bumi Resources Minerals masih dapat mempertahankan rasio pinjaman bersih terhadap modal yang cukup baik, yaitu di bawah 0,3 kali.

Selain itu, dia menambahkan, perusahaan mampu mencapai beberapa kemajuan dalam kinerja operasinya. Pada Juli 2012, perseroan mendapatkan izin eksploitasi melalui penambangan bawah tanah untuk konsesi tambang seng dan timah hitamnya di Sumatera Utara (Dairi Prima Mineral) dari pemerintah.

Selanjutnya, pada Agustus 2012, pimpinan operasi Newmont Asia Pasifik, dalam acara konferensi tambang di Australia, menyampaikan kepada publik bahwa lokasi tambang Elang di NNT memiliki prospek jumlah deposit yang lebih besar dari tambang emas Boddington, yang saat ini memiliki cadangan emas 19,5 juta oz dan tembaga 2,2 miliar lb.

“Pada September 2012, Bumi Resources Minerals juga melaporkan estimasi sumber daya berdasarkan standar JORC sebesar 292 juta ton bijih dari konsesi tambang dan emas di Gorontalo Minerals, Sulawesi,” tuturnya.

Selama 2012, perseroan mencatat pendapatan sebesar US$22,21 juta, atau meningkat dibanding tahun sebelumnya US$20,83 juta. (eh)

Melejit 20,3%, saham VIVA menjadi mover IHSG
Oleh Barratut Taqiyyah – Senin, 01 April 2013 | 09:39 WIB

kontan

JAKARTA. Saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) menjadi masuk salah satu saham mover pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini (1/4). Data RTI menunjukkan, pada pukul 09.32, saham anak usaha Grup Bakrie ini melejit 14,81% menjadi Rp 620. Bahkan, pada transaksi sebelumnya, saham VIVA sempat bertengger di level Rp 650 atau melambung 20,3%.

Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, sejumlah sekuritas yang paling banyak memborong saham ini di antaranya: Indo Premier Securities senilai Rp 10,220 miliar, Waterfront Securities Indonesia senilai Rp 3,642 miliar, dan Phillip Securities senilai Rp 2,161 miliar.

Aksi beli terhadap saham VIVA masih berkaitan dengan rumor akuisisi yang berkembang di market. Dikabarkan, banyak pihak yang berminat untuk mengakuisisi saham VIVA. Salah satunya adalah Chairul Tanjung.

Kepada Reuters, pengusaha yang sedang naik daun itu mengaku memang hendak membeli VIVA dengan dana cash. CT berkata bahwa CT Corp hendak mengakuisisi saham pengendali VIVA seorang diri, tanpa partner manapun.

BNBR kurangi 40% utang, laba bersih masih turun
Oleh Dea Chadiza Syafina – Minggu, 31 Maret 2013 | 21:24 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengklaim dapat terus menekan beban utang di tahun 2013. Direktur Utama & CEO BNBR Bobby Gafur Umar mengatakan bahwa BNBR sudah berhasil mengurangi utang Rp 4,27 triliun di tahun 2012.

Menurut Bobby, posisi akhir utang PT Bakrie & Brothers Tbk sepanjang 2012 sebesar Rp 6,44 triliun. Nilai utang tersebut sudah berkurang dibandingkan 2011 yang mencapai Rp 10,71 triliun. Artinya, utang BNBR berkurang 39,87% dalam setahun.

Bersamaan dengan itu, kata Bobby, beban bunga juga otomatis menyusut. Dari Rp 2 triliun pada 2011, menjadi sebesar Rp 1,19 triliun pada 2012.

“Penurunan beban utang dan bunga pinjaman ini meringankan beban keuangan perseroan sepanjang tahun 2012,” kata Bobby melalui pernyataan tertulis yang diterima KONTAN pada Minggu (31/3).

Laba dan pendapatan merosot

Walaupun begitu, kinerja BNBR sepanjang 2012 tak secepat itu membaik. Bobby mengatakan, BNBR meraup pendapatan Rp 15,48 triliun di 2012. Berdasarkan data keuangan BNBR di Reuters, pendapatannya tahun 2011 mencapai Rp 16,14 triliun. Artinya, pendapatan BNBR tahun lalu merosot 4,09%.

Sedangkan laba bersih BNBR di 2012 mencapai Rp 354,87 miliar, turun 21,47% dari laba bersih Rp 451,89 miliar di 2011.

Namun dalam rilisnya, Bobby tetap mengatakan bahwa unit-unit usaha BNBR dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kinerja yang semakin baik sehingga mendukung pendapatan BNBR. Tahun 2012, unit-unit usaha perseroan menyumbang 66% dari total pendapatan BNBR dengan nilai mencapai Rp 10,11 triliun.

Hary Tanoe pastikan ELTY sudah terima pembayaran
Oleh Issa Almawadi – Rabu, 13 Maret 2013 | 10:30 WIB

kontan

JAKARTA. Hary Tanoesoedibjo menyatakan proses penjualan PT Bakrie Toll Road (BTR) oleh PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) kepada Grup MNC sudah kelar di akhir tahun lalu. ELTY juga sudah menerima pembayaran dari MNC.

Itulah pernyataan Hary Tanoesoedibjo selaku CEO Grup MNC melalui pesan singkat kepada KONTAN, Selasa (12/3). “Sudah selesai,” tulis Hary.

Ia menambahkan, divestasi BTR rampung pada Desember 2012 dan pihak ELTY sudah menerima dananya. Dengan begitu, transaksi tersebut sudah sesuai dengan target yang ditetapkan ELTY pada tahun lalu.

Pada awal Desember 2012, Presiden Direktur ELTY Ambono Janurianto membenarkan bahwa Hary Tanoe akan mengambilalih BTR. Namun saat itu, Ambono bilang, transaksi belum selesai meski keduanya sudah sepakat.

“Masih ada syarat-syarat yang harus dipenuhi seperti concern dari kreditur sindikasi BRI. Idealnya transaksi bisa selesai tahun 2012 agar utang dari jalan tol tidak terbawa ke tahun depan,” terang Ambono pada saat itu.

Masih pada tahun lalu, Ambono menjelaskan, nilai penjualan BTR melebihi Rp 2 triliun. Ambono yakin pelepasan BTR akan menguntungkan bagi ELTY, karena beban menjadi lebih ringan.

Namun beberapa hari lalu, manajemen ELTY terpaksa menunggak sebagian pokok dan bunga obligasi senilai Rp 280 miliar, yang jatuh tempo pada 11 Maret 2013. Anehnya, manajemen ELTY beralasan, penunggakan pembayaran surat utang yang diterbitkan pada 2008 tersebut karena proses divestasi aset tol belum tuntas.

Tapi tepat di hari jatuh tempo obligasi. Chief Corporate Affairs ELTY Yudy Rizard Hakim mengatakan ELTY telah membayar pokok dan bunga obligasi senilai Rp 280 miliar plus bunga obligasi terakhir sebesar Rp 8,995 miliar.

“Pembayaran dilakukan tepat pada saat jatuh tempo melalui rekening PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI),” papar Yudy.

Bakrieland Bayar Utang Obligasi Rp288,9 Miliar

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Senin, 11 Maret 2013 | 20:23 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) membayar pokok serta Bunga Obligasi I PT Bakrieland Development Tbk Tahun 2008 Seri B terakhir senilai Rp288,9 miliar.

Demikian mengutip keterangan resmi perseroan, Senin (11/3/2013). Untuk pembayaran pokok Obligasi I PT Bakrieland Development Tbk Tahun 2008 Seri B sebesar Rp280 miliar. Sedangkan Bunga Obligasi I PT Bakrieland Development Tbk Tahun 2008 Seri B sebesar Rp8,9 miliar.

Pembayaran melalui rekening PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Pembayaran tepat dilakukan pada hari ini saat jatuh tempo obligasi, Senin (11/3/2013).
BEI akhirnya suspensi obligasi I ELTY
Oleh Rika Theo – Senin, 11 Maret 2013 | 09:39 WIB

kontan

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara obligasi milik PT Bakrieland Development Tbk (ELTY). Ini lantaran ELTY tak sanggup melunasi bunga dan pokok Obligasi I Bakrieland Development yang harusnya dibayar pada hari ini (11/3).

Namun, BEI tetap mempertahankan pencatatan obligasi berkode ELTY01B dengan nilai nominal Rp 280 miliar itu. “Perpanjangan obligasi dilakukan sampai ada penjelasan lebih lebih lanjut dari emiten,” tulis rilis BEI yang diteken oleh Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Surat Utang BEI Saptono Adi Junarso dan P.H Kepala Divisi Perdagangan Surat Utang & Derivatif BEI Andi Priatnakusumah.

Sedangkan suspensi bursa atas obligasi I ELTY seri B itu dilakukan pada sistem Fixed Income Trading System (FITS) mulai hari ini.

Dalam keterbukaan informasi Jumat lalu, ELTY telah meminta penundaan pembayaran obligasi itu. ELTY beralasan, program divestasi jalan tol yang sedang diupayakan ternyata meleset dari perkiraan.

Samin Tan hengkang dari BRMS
Oleh Yuwono Triatmodjo – Kamis, 07 Maret 2013 | 12:59 WIB

kontan

JAKARTA. Presiden Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), Samin Tan, beserta dua Direktur BRMS lainnya, secara mengejutkan mengajukan pengunduran diri dari perusahaan milik PT Bumi Resources Tbk tersebut (BUMI). Hal ini terungkap dalam rilis yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) yang ditandatangani oleh Muhammad Sulthon, Sekretaris Perusahaan BRMS, Kamis (7/3).

Selain BRMS terdapat dua nama menjabat BRMS lainnya yang ikut mundur. Mereka adalah Kenneth Raymond Allan dan Hardianto. Surat pengunduran ketiga petinggi BRMS itu disampaikan kepada Dewan Komisaris BRMS pada tanggal 28 Februari 2013.

M. Sulthon mengatakan, atas surat pengunduran diri ketiga petinggi BRMS, pihaknya akan melaksanakan proses sebagaimana yang diatur dalam Anggaran Dasar Perseroan dan peraturan perundang-undangan.
Jual banyak aset, ada apa dengan Grup Bakrie?
Oleh Barratut Taqiyyah – Selasa, 19 Februari 2013 | 09:34 WIB

kontan

JAKARTA. Perusahaan keluarga Bakrie saat ini dikabarkan sedang menjual beberapa aset unggulnya. Apakah ini mengindikasikan bisnis keluarga Bakrie terpuruk?

Pakar pengelolaan perusahaan keluarga AB Susanto menyayangkan apa yang telah dilakukan keluarga Bakrie selama ini. Padahal bisnis keluarga Bakrie ini sudah menggurita di semua lini bisnis.

“Ada mismatch manajemen di perusahaan keluarga Bakrie, khususnya dalam hal pengelolaan keuangan. Ini yang seharusnya tidak perlu terjadi,” kata Susanto kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa (19/2).

Menurut Susanto, pengelolaan keuangan yang dinilai tidak tepat ini disebabkan karena perusahaan memakai utang jangka panjang untuk membiayai usaha yang memiliki jangka pendek. Begitu pula sebaliknya.

Susanto menganggap, hal tersebut lumrah dijalankan oleh perusahaan-perusahaan keluarga Bakrie, khususnya di zaman Orde Baru. Di zaman itu, model-model bisnis seperti ini berkembang pesat. Namun bila diterapkan di zaman demokrasi seperti saat ini, kondisi tersebut sudah kurang tepat.

“Mereka juga terlalu berspekulasi tinggi. Ini yang berbahaya,” tambahnya.

Solusinya, keluarga Bakrie harus segera merevitalisasi keuangannya agar bisnis secara sehat.

Seperti diberitakan, Grup Bakrie telah menetapkan niat hengkang dari Bumi Plc. Namun, ada masalah lagi yang melanda, sebab Grup Bakrie harus menyediakan dana US$ 278 juta untuk membeli kembali saham (buyback) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) milik Bumi Plc.

Pembayaran buyback harus sudah selesai sebelum Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bumi Plc pada 21 Februari. Karena alasan tersebut, Grup Bakrie gencar mencari dana.

PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) melalui PT Bakrie Swastika Utama dikabarkan menjual lahan di Rasuna Epicentrum. Total nilainya Rp 2,5 triliun. Selain itu, ELTY juga telah menjual Bakrie Toll Road (BTR) dan Lido senilai Rp 3 triliun. Kemudian PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) telah menjual lahan sawit seluas 16.000 hektar. UNSP juga ingin menjual perusahaan olekimia Grup Domba Mas 470 juta dollar AS. Bakrie juga dikabarkan ingin menjual 51 persen saham di PT Visi Media Asia Tbk (VIVA). (Didik Purwanto/Kompas.com)

Laba Perusahaan Migas Bakrie Melonjak Drastis
Penulis : Didik Purwanto | Jumat, 15 Februari 2013 | 17:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Perusahaan minyak bumi dan gas (migas) milik keluarga Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), mencatatkan kenaikan laba bersih hingga kuartal III-2012 sebesar 105 persen dari 6,9 juta dollar AS menjadi 14,15 juta dollar AS. Kenaikan laba ini memang ditopang oleh kenaikan harga jual migas.

“Harga jual migas secara internasional memang naik. Apalagi, kami juga mencatatkan kenaikan rata-rata produksi harian,” kata Direktur Utama Energi Mega Persada Imam Agustino dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (15/2/2013).

Dari sisi penjualan, perseroan mengalami kenaikan 187,07 persen dari 151,39 juta dollar AS menjadi 434,59 juta dollar AS. Namun, beban pokok penjualan perseroan mengalami kenaikan signifikan, yaitu dari 92,8 juta dollar AS menjadi 289,4 juta dollar AS. Dengan demikian, laba bruto perseroan hanya naik dari 58,5 juta dollar AS menjadi 145,1 juta dollar AS.

Sementara laba usaha perseroan masih naik drastis dari 46,9 juta dollar AS menjadi 126,1 juta dollar AS. Padahal, di semester I-2012, laba perseroan mengalami penurunan tipis menjadi 1,25 juta dollar AS dari 1,523 juta dollar AS. Hal itu disebabkan penjualan migas perseroan hanya 242 juta dollar AS.
Editor :
Ana Shofiana Syatiri

Masa Sulit Bisnis Grup Bakrie
Rani Hardjanti – Okezone
Sabtu, 9 Februari 2013 14:53 wib

JAKARTA – Rencana Grup Bakrie yang akan melepas kepemilikannya di sektor media, menjadi topik pembicaraan yang hangat di lantai bursa akhir pekan ini. Apa sebab Bakrie melepas salah satu sektor andalannya? Benarkah Grup Bakrie akan melepas roda bisnisnya?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat ini Bakrie tengah bersitegang dengan pemegang saham asal London, Nat Rothschild, atas kepemilikannya pada PT Bumi Resources Tbk melalui Bumi Plc. Untuk bisa memperebutkan kembali perusahaan batu bara terbesar di Asia tersebut, Bakrie membutuhkan dana yang sangat besar.

Seperti dikutip Reuters, Sabtu (9/2/2013), salah satu cara yang ditempuh Bakrie dalam mendapatkan uang adalah melepas sebagian kepemilikan mayoritasnya (51 persen) di PT Visi Media Asia Tbk (VIVA).

Emiten ini menaungi sejumlah media, yakni TVOne, ANTV dan portal berita Vivanews.com. Asumsinya, dengan aksi korporasi ini, perseroan ditaksir akan mendapatkan dana segar sekira USD1,2 miliar – USD2 miliar.

Dengan adanya dana tunai, maka Bakrie akan menukarkan kepemilikan saham Bumi Plc sekira 23,8 persen di Bumi Resources.

“Ini merupakan keputusan yang sulit bagi perusahaan Bakrie. Tetapi grup Bakrie diisi oleh pebisnis yang rasional. Situasi seperti ini bisa menjadi jalan untuk mendapatkan uang dengan meningkatkan pinjaman,” ujar salah satu sumber yang mengetahui rencana penjualan VIVA, demikian diberitakan Reuters.

Seperti diketahui, Bakrie menjalin kerja sama untuk membuat Bumi Plc dengan pebisnis kenamaan asal Inggris, Nat Rothschild, pada 2010. Namun, jalinan bisnis tersebut retak.

Perseteruan terjadi lantaran Nat meminta Macfarlanes, sebuah firma hukum di London, untuk melakukan audit investigasi terhadap Bumi Resources terkait dana pengembangan dan dana operasional. Selain itu, investigasi juga dilakukan pada salah satu aset investasi di PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

Dalam laporan keuangan Bumi Plc 2011, salah satu aset yang dimiliki Berau tercatat mengalami penurunan nilai hingga mencapai angka nol, kecuali untuk satu investasi yang memiliki nilai sebesar USD39 juta dalam laporan keuangan konsolidasi.

Keluarga Bakrie pun tidak terima, dan menyatakan akan keluar dari Bumi Plc. Bakrie menawarkan akan membeli saham BUMI dan BRAU dari Bumi Plc, dan tidak lagi memiliki hubungan dengan Bumi Plc.

(rhs)
Saham ELTY Kini Layak Untuk Trading

Oleh: Jagad Ananda
pasarmodal – Jumat, 25 Januari 2013 | 05:01 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Properti, memang merupakan sektor yang saham-sahamnya menguat secara nengagumkan di tahun lalu. Tapi, tidak demikain ELTY. Kendati bergerak di bisnis yang sama, saham terbitan Bakrieland Development ini belakangan cenderung terus melemah.

Setelah mencapai puncaknya di Rp147 pada Januari tahun lalu, harga saham ini bermain tak jauh dfari kisaran Rp50–60 per lembar. Kendati demikian, akhir-akhir ini, ada sejumlah analis yang getol merekomendasikan ELTY.

“Untuk trading efek itu cukup menarik,” katanya. Saat ini, paling tidak, ada empat analis dari sekuritas berbeda yang menyarankan hal serupa itu. Pertimbangannya, beban utang perseroan akan menurun seiring tuntasnya penjualan dua aset besar kepada MNC Group.

“Ini merupakan sentimen positif yang akan mendorong harga ELTY ke level Rp63,” kata satu kepala riset sebuah sekuritas asing. Dibanding harga yang terbentuk saat ini (Rp57 pada 23/1/2013), kenaikannya memang cuma Rp6. Tapi itu setara dengan 10,5%.

Seperti diketahui, ELTY kini tengah menuntaskan penjualan PT Bakrie Tol Road) yang memiliki hak kelola atas lima ruas jalan tol yakni Ciawi-Sukabumi, Kanci-Pejagan, Pejagan-Pemalang, Batang-Semarang dan Pasuruan- Probolinggo. Lima konsesi itu dijual kepada MNCD dengan harga Rp2 triliun. Sementara, kepada pembeli yang sama, ELBY melego Lido Resort di Sukabumi dengan harga Rp1 triliun.

Nah, kalau benar uang Rp3 triliun itu akan dipakai untuk membayar utang, maka Debt Equity Ratio (DER) ELTY akan turun dari 0,71 menjadi 0,42 kali. [mdr]
Bayar obligasi, ELTY akan gunakan hasil jual tol
Oleh Issa Almawadi – Jumat, 25 Januari 2013 | 09:29 WIB

kontan

GALI LUBANG tutup lubang, itu keahliannya

JAKARTA. PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) telah menyiapkan dana sebesar Rp 160 miliar guna melunasi pokok dan bunga obligasi I tahun 2008 seri B. Obligasi yang merupakan bagian dari emisi senilai Rp 500 miliar itu akan jatuh tempo pada 11 Maret 2013.

Dalam keterangan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (23/1), Direktur ELTY Feb Sumandar menjelaskan, dana tersebut akan berasal dari hasil divestasi unit jalan tol. “Penyelesaiannya diharapkan bisa pada Februari mendatang,” kata Feb.

Sampai saat ini ELTY masih menantikan penyelesaian transaksi penjualan jalan tol dan Lido kepada Grup MNC. Kedua pihak sudah sepakat pada November silam, namun masih ada beberapa hal yang mengganjal seperti pengalihan corporate guarantee jalan tol itu dari ELTY ke MNC.

Informasi saja, obligasi senilai Rp 500 miliar diterbitkan ELTY pada 2008 lalu dengan dua seri yakni A dan B. Obligasi seri A ELTY senilai Rp 220 miliar berjangka waktu 3 tahun dengan bunga 11,9% per tahun. Sementara, obligasi seri B senilai Rp 280 miliar dengan jangka waktu 5 tahun mematok bunga 12,5% per tahun.

ENRG Mulai Kembangkan Blok Masela

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Kamis, 24 Januari 2013 | 04:12 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menerangkan Inpex Masela Ltd telah memberikan kontrak untuk Front and Engineering and Design untuk mengembangkan lapangan gas abadi.

Demikian mengutip keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI, Rabu (23/1/2013). Inpex Masela Ltd yang mengoperasikan dan memiliki 60% di Blok Masela PSC merupakan perusahaan terafiliasi dengan ENRG.

FLNG Feed meliputi desain fasilitas produksi terapung untuk memproses gas dicairkan, disimpan dan didistribusikan. Kontrak tersebut diberikan kepada JGC Corporation dari Jepang. Selain itu juga kepada Saipem SpA, salah satu perusahaan jasa petroleum terkemuka di Italia.

Selain Inpex Masela Ltd, blok tersebut dimiliki Shell Upstream Overseas Services Litmited 30% dan 10% dimiliki PT EMP Energi Indonesia, atau anak usaha ENRG. Blok Masela PSC memiliki cadangan hidrokarbon mencapai 2,5 juta ton LNG untuk 30 tahun lebih. Blok ini juga berpotensi menghasilkan 8.000 barel kondensat per hari.

Ingin ubah Bali Nirwana, Bakrieland cari investor
Oleh Rika Theo – Selasa, 22 Januari 2013 | 19:24 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) punya rencana baru untuk propertinya di pulau Dewata. ELTY hendak mengundang investor baru untuk mengubah konsep Pullman Bali Legian Nirwana dan Pan Pacific Nirwana Bali Resort.

“Kami sedang meninjau ulang model bisnisnya,” kata Ambono Januarianto, Presiden Direktur Bakrieland Development kepada KONTAN hari ini (22/1).

Ia menjelaskan, ketika dibangun, kompleks Bali Nirwana Resort di Tabanan menyasar pasar menengah ke atas. Namun kini, berbagai kawasan di Bali seperti Kuta, Pecatu, dan Nusa Dua, beranjak naik menjadi kelas menengah atas juga. “Kita akan kehilangan pasar karena crowd lari ke sana. Pilihannya adalah kita berubah ke atas atau ke bawah? Menurut kami yang paling bagus adalah naik ke atas,” tuturnya.

Oleh karena itu, ELTY memutuskan akan menjadikan Bali Pullman Bali dan Pan Pacific Nirwana Bali Resort sebagai resort eksklusif.

Sebelumnya, muncul kabar bahwa ELTY akan menjual kedua properti ini. Bahkan sempat muncul kabar kalau Grup Djarum pun mengincarnya. Namun, dengan tegas Ambono membantah kabar tersebut.

“Bali Pullman enggak dijual. Bali Pacific kemungkinan dijual juga kecil sekali. Kami sekarang mau mengajak investor untuk membangun kawasan eksklusif,” ungkapnya.

Sayangnya, ia belum mau mengungkap siapa saja calon investor yang bakal dirangkulnya. “Saat ini pun kami juga sedang sounding,” imbuhnya
Energi Mega Menincar Pendapatan US$ 900 Juta
Oleh Diemas Kresna Duta, Issa Almawadi – Kamis, 03 Januari 2013 | 08:00 WIB

kontan

JAKARTA. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berupaya menggenjot pendapatannya. Itulah sebabnya, tahun ini, Energi Mega menargetkan pendapatan terkonsolidasi perseroan di tahun ini bisa tembus US$ 900 juta atau sekitar Rp 8,64 triliun. Jumlah ini naik dibandingkan dengan proyeksi pendapatan tahun lalu yang diperkirakan bisa mencapai US$ 600 juta .

Investor Relation Energi Mega, Herwin Hidayat, mengatakan, ENRG berani menaikkan target pendapatan hingga 50% ketimbang tahun lalu. Alasannya, target produksi minyak dan gas naik menjadi 50.000 barel oil equivalen per day (boepd).

Tahun lalu, menurut Herwin, produksi migas perusahaan Grup Bakrie tersebut masih sebesar 35.000 boepd. Dia menyatakan, dalam dua tahun terakhir ini, produksi migas Energi Mega menunjukkan tren yang positif. “Terjadi peningkatan lebih dari 100% dari produksi migas tahun 2011 yang cuma sebesar 17.000 boepd menjadi sebesar 35.000 boepd di tahun lalu,” ungkap dia kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Peningkatan produksi migas tersebut, menurut Herwin, berasal dari peningkatan produksi sembilan blok migas yang mulai berproduksi. Blok migas itu adalah Blok Selat Malaka PSC, TAC Gelam di Jambi, Bentu PSC di Riau, Korinci Baru PSC Sumatera, Gebang JOB PSC di Sumatera Utara, dan Tonga PSC di Riau.

Di Kalimantan, Energi Mega juga menguasai Semberah TAC Kalimantan Timur. Selain itu, ENRG juga memiliki Off shore North West Java (ONJW). Untuk Blok ONJW, Energi Mega berbagi kepemilikan dengan Pertamina Hulu Energi ONWJ. Di sekitar Madura, Energi Mega juga menjadi kontraktor untuk Blok Kangean PSC, Jawa Timur.

Tidak hanya itu, Energi Mega juga masih mempunyai tiga blok yang belum berproduksi. Yakni, dua coal bed methane (CBM), yaitu blok Sangatta 2 CBM di Kalimantan Timur dan Tabulako CBM PSC di Kalimantan Selatan, serta Blok Masela di Laut Arafuru, Maluku.

Sebelumnya, Presiden Direktur ENRG Imam P. Agustino, mengatakan, dari sembilan blok yang telah berproduksi tersebut, sebagian besar target produksi yang akan dicapai pada tahun ini datang dari Blok Kangean PSC. Kontribusi Kangean PSC diperkirakan mencapai 40%.

Blok Kangean PSC memiliki jumlah cadangan terbukti dan terukur sebanyak 9,6 juta barrel minyak dan 1,3 triliun kaki kubik gas. Seperti diketahui, Blok Kangean PSC saat ini dioperasikan oleh Kangean Energy Indonesia Limited. Kepemilikan di Blok Kangean, sebesar 50% milik Energi Mega, 25% oleh grup Mitsubishi (Jepang), dan 25% milik grup Japex (Jepang).

Imam juga mengungkapkan, Energi Mega akan mencari blok migas untuk menyokong pertumbuhan kinerja. “Kami terus terapkan strategy plan melalui akuisisi blok baru dengan kriteria kami yang cukup ketat,” tuturnya.

Untuk itu, Energi Mega menyiapkan dana sebesar US$ 233 juta sebagai anggaran belanja modal (capital expenditure) di tahun ini. Dana tersebut akan digunakan perusahaan untuk pengembangan 12 blok migas. “Sumber pendanaan seluruhnya berasal dari kas internal perseroan,” kata Imam.

Yang jelas, belanja modal Energi Mega di tahun ini lebih besar dibanding tahun lalu. Pada 2012 itu, Energi Mega hanya menyiapkan belanja modal US$ 118 juta.

Imam menyatakan, belanja modal yang disediakan tahun ini di luar dana untuk melakukan akuisisi blok migas. Sebagai informasi, akuisisi blok migas merupakan salah satu strategi dari Energi Mega di tahun 2013. Hanya saja, Imam menolak memberi penjelasan detil mengenai rencana akuisisi maupun jumlah dana yang disiapkan.

Biayai proyek eksplorasi, BRMS akan jual saham

Dana Aditiasari – Sindonews
Kamis, 20 Desember 2012 − 13:44 WIB

Sindonews.com – Guna membiayai tiga proyek eksplorasinya, PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) berencana melepas sebagian dari saham mereka agar bisa melanjutkan proyek tersebut.

Sekretaris Korporat BRMS, Herwin Hidayat menerangkan, salah satu opsi yang akan ditempuh perseroan untuk membiayai tiga proyek eksplorasi mereka yang diproyeksi membutuhkan dana sangat besar, perseroan akan bermitra dengan partner strategis.

“Opsinya adalah kami bakal bermitra dengan beberapa partner strategis untuk tambang-tambang yang sahamnya kami masih mayoritas,” ujarnya di Hotel 4 Season, Kamis (20/12/2012).

Setidaknya, kata dia, ada tiga usaha pertambangan dimana BRMS menjadi pemegang saham mayoritas dan kemungkinan akan dilepas untuk membiayai proyek itu sendiri. Tiga perusahaan itu yakni PT Dairi Prima, PT Gorontalo Mineral dan PT Citra Palu.

“Untuk Dairi Prima dan Gorontalo, BRMS memiliki saham sekitar 80 persen di masing-masing usaha. Sementara di Citra Palu, BRMS memiliki saham sebanyak 96,97 persen,” sambung dia.

Kendati belum mau megungkapkan berapa besaran porsi saham yang akan dilepas, dijelaskan Herwin, saham-saham inilah yang sedianya akan dilepas perseroan. “Yang pasti kami usahakan untuk tetap jadi mayoritas,” tandasnya.

(gpr)

Akhirnya, RUPS Energi Mega Penuhi Kuorum
Rizkie Fauzian – Okezone
Kamis, 20 Desember 2012 16:38 wib

JAKARTA – Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dinyatakan korum. Dalam rapat tersebut para pemegang saham menyetujui pembatalan syarat dan ketentuan pelaksanaan penerbitan sahaam baru (NON-HMETD).

Presiden Direktur ENRG Imam P Agustino menjelaskan bahwa pembatalan syarat dan ketentuan tersebut karena sebelumnya harga nominal saham Rp186 per saham, namun dengan adanya peraturan Bapepam minimal 25 hari kerja, maka diputuskan harganya Rp100 per saham.

“Rata-rata harga penutupan saham perseroan selama 25 hari bursa sebelum pengumuman non-HMETD adalah Rp90 per saham. Namun, mengingat harga nominal saham perseroan Rp100, maka harga pelaksanaan sekurang-kurangnya Rp100 itu saja sih,” katanya, dalam konferensi pers di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (20/12/2012).

Selain itu, dalam RUPS-LB tersebut juga mengagendakaan peningkatan modal dasar perseroan. Penambahan modal sebesar Rp100 per saham dengan melepas 4,05 miliar atau 10 persen saham, perseroan akan memperoleh dana Rp405,8 miliar.

“Paling lambat akan direalisasikan dua tahun sejak persetujuan pemegang saham, standarnya dua tahun terhitung Juni,” jelasnya.

Sebelumnya, target dana perseroan tersebut lebih rendah dari rencana semula sebesar Rp754 miliar atau pada harga Rp186 per saham. Penurunan target itu disebabkan oleh kondisi pasar dan penurunan harga saham perseroan. (wdi)
Perusahaan Migas Bakrie Terbitkan Surat Utang USD600 Jt
Rizkie Fauzian – Okezone
Kamis, 20 Desember 2012 16:47 wib

JAKARTA – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berencana melakukan re-financing dengan menerbitkan global bond. Adapun besaran global bond tersebut USD600 juta.

Menurut Direktur Keuangan ENRG Didit A Ratam saat ini pihaknya telah melakukan roadshow ke Singapura, Hong Kong, London, dan LA. Hal tersebut karena sudah banyaknya peminat.

“Kami akan menerbitkan bond global namun tidak akan lebih dari USD600 juta, untuk investornya kita belum ada, karena kan kita baru minta persetujuan pemegang saham, baru nanti kita melihat potensial investor,” katanya, di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (20/12/2012).

Sementara itu total sales revenue anak usaha Grup Bakrie untuk 2012 adalah USD660 juta dan untuk 2013 sebesar USD900 juta, jumlah tersebut setelah menkonsolidasikan 36,7 persen saham di Blok ONWJ dan sesuai peraturan akuntansi PSAK dan yang akan dipublikasikan di laporan keuangan perusahaan nanti. (wdi)
Pasrah, BRMS ikut tersangkut investigasi BUMI
Oleh Issa Almawadi – Kamis, 20 Desember 2012 | 12:17 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) ternyata ikut menjadi obyek yang diperiksa tim audit independen PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Pasalnya, BRMS merupakan anak usaha BUMI dengan kepemilikan 87,09%.

“Dari pengadilan negeri Jakarta Selatan, pemeriksaan terhadap BUMI juga terkena kepada kami,” kata Sekretaris Perusahaan BRMS, Muhammad Sulthon di Jakarta, Kamis (20/12).

Namun Sulthon tidak bisa menjelaskan, subyek dari pemeriksaan yang dilakukan tim independen yang diajukan BUMI. Menurut Sulthon, hal tersebut sepenuhnya diserahkan kepada yang berwenang.

“Jika kami diperiksa, ya silahkan diperiksa. Soal subyeknya apa, itu urusan tim independen tersebut,” tegas Sulthon.

Asal tahu saja, 15 Oktober 2012, Komite Audit telah mengajukan permohonan melalui Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk meminta penetapan guna melakukan pemeriksaan terhadap perseroan.

Upaya itu dilakukan sesuai ketentuan dalam Pasal 138 Undang-Undang Perseroan Terbatas, agar ditunjuk tim pemeriksa independen untuk melakukan pemeriksaan terhadap BUMI. Penunjukan tim audit independen itu seiring berbagai pemberitaan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik terkait BUMI.

Terakhir, Sulthon menyatakan, selain pemeriksaan itu, tidak ada lagi pemeriksaan yang dilakukan pihak lain kepada BRMS.

Saham Bakrie-Konsumer Berpotensi ‘Rebound’
Selasa, 18 Desember 2012 | 11:27
investor daily

JAKARTA-Beberapa saham grup Bakrie serta sektor konsumer berpotensi mengalami “technical rebound” pada perdagangan Selasa (18/12).

Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Yualdo Yudoprawiro, mengatakan “rebound” saham-saham kelompok Bakrie ini didorong oleh kondisi telah mengalami pelemahan pada perdagangan sesi sebelumnya.

“Hal ini juga seiring dengan IHSG yang dibuka pada teritori positif yang dipacu sentimen positif dari bursa global dan regional,” katanya.

Untuk “resistance” indeks pada perdagangan kali ini, lanjutnya, akan berada pada level 4.325.

Pada pembukaan perdagangan sesi I, Rabu, IHSG menguat 4,26 poin (0,10 persen) menjadi 4.320,08, sedangkan indeks saham unggulan LQ45 menguat 0,96 poin (0,13 persen) ke level 738,51.

Untuk kondisi bursa global, setelah melemah dalam tiga hari berturut-turut bursa AS, Senin (17/12), berhasil ditutup menguat sekitar 1 persen, seiring kembali munculnya optimisme kompromi solusi “fiscal cliff” pasca pernyataan Ketua Kongres John Boehner, yang akan menerima kenaikan pajak bagi masyarakat berpenghasilan di atas 1 juta dolar AS per tahun dan menaikkan pagu utang AS selama satu tahun.

Optimisme ini mampu mengompensasi sentimen negatif dari rilis data indeks manufaktur New York yang semakin melemah ke level negatif 8,1 pada Desember 2012.

Sementara bursa Asia pada perdagangan Selasa ini dibuka menguat seiring sentimen positif dari optimisme kompromi “fiscal cliff” (jurang fiskal) serta ekspektasi bank sentral Jepang akan meluncurkan paket stimulus baru pasca kemenangan partai LDP dalam pemilu yang menempatkan kembali Shinzo Abe sebagai perdana menteri Jepang untuk masa jabatan kedua.(ant/hrb)

VIVA bakal menjual obligasi Rp 800 miliar
Oleh Narita Indrastiti, Agung Jatmiko – Rabu, 12 Desember 2012 | 06:40 WIB

kontan

JAKARTA. Emiten sektor media, PT Visi Media Asia Tbk mencari pendanaan yang lebih murah di tahun depan untuk membayar utang. Emiten berkode saham VIVA ini akan menerbitkan obligasi Rp 800 miliar bertenor tiga tahun pada kuartal kedua 2013.
Presiden Direktur VIVA Erick Thohir mengatakan, tingkat bunga yang masih rendah membuat pihaknya memastikan pembayaran utang dari hasil penerbitan obligasi. VIVA berutang US$ 80 juta dari Deutsche Bank AG pada 10 Agustus 2012. Utang ini berbunga 9% per tahun.
Saat ini, VIVA sudah mencari dua penjamin emisi lokal dan satu penjamin emisi dari luar negeri. Erick yakin, pertumbuhan kinerja keuangan yang tinggi dan posisi utang yang rendah akan membuat rating obligasi VIVA menarik. “Kami yakin obligasi menjadi pendanaan paling menguntungkan dan akan diterbitkan dengan denominasi rupiah,” kata Erick, Senin (10/12).
Dari laporan keuangan hingga kuartal III 2012, nilai utang bank dan lembaga keuangan jangka panjang VIVA tercatat Rp 743,42 miliar.
Tahun depan, VIVA yakin masih akan bisa bertumbuh pesat seiring dengan pertumbuhan industri media. Erick bilang, pertumbuhan rata-rata media mencapai 12%, dengan pertumbuhan televisi 16%, internet 36%, serta surat kabar dan radio 5%-9%. Erick yakin pertumbuhan VIVA bisa melampaui pertumbuhan industri media. Dia menargetkan, pendapatan VIVA bisa tumbuh 30% dari target tahun ini sebesar Rp 1,2 triliun.
Apalagi, tingkat kebutuhan iklan masih sangat tinggi. Makanya, tahun depan, VIVA akan menggelontorkan dana US$ 150 juta untuk produk baru televisi berbayar.
Pengamat pasar obligasi Agus Salim mengatakan, investor harus mencermati peruntukan dana obligasi ini. Selain itu, calon investor harus membaca terlebih dahulu laporan lembaga pemeringkat soal rating VIVA. Agus mengatakan, banyaknya potensi penerbitan obligasi di semester pertama tahun depan belum tentu menjadi saingan penerbitan obligasi VIVA.
Agus menambahkan, VIVA punya peluang besar untuk menarik minat investor. “Industri media masih sangat menjanjikan. Hanya saja, calon investor tetap harus berpedoman pada laporan lembaga pemeringkat mengenai kualitas kredit dan memperhitungkan apakah return sepadan dengan risiko yang bakal dihadapi,” kata Agus.

Older Posts »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.