Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Desember 22, 2010

jangan LUPAKAN elty (2) : 190811

Filed under: ELTY, jalan tol n properti — bumi2009fans @ 8:24 am

ELTY menyiapkan dana sebesar Rp 1,2 triliun untuk investasi tahap pertama dalam mengembangkan proyek Sentul Nirwana diatas lahan seluas 127 ha. Pembangunan meliputi dua klaster perumahan dan theme park.

Sumber : IPS RESEARCH
PT Bakrie Toll Road (BTR), anak usaha ELTY, diprediksikan akan memperoleh pendapatan Rp 100milar pada 2011, naik 20% YoY. Menjelang lebaran ini diperkirakan arus kendaraan yang melintas di ruas tol Kanci-Pejagan meningkat hingga 2,5kali lipat. BTR akan melepas saham ke public pada akhir 2011 atau 1Q12.

Sumber : IPS RESEARCH
Tahap I, ELTY Kucuri Sentul Nirwana Rp1 T
R Ghita Intan Permatasari – Okezone
Jum’at, 19 Agustus 2011 08:29 wib
okezone

JAKARTA – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) meluncurkan proyek Sentul Nirwana dengan kisaran nilai investasi Rp1 triliun untuk tahap pertama. Proyek yang diklaim perseroan sebagai proyek prestisius ini dilakukan melalui Bukit Jonggo Asri (BJA).

Adapun ELTY merupakan pemegang saham mayoritas di BJA. Di mana saat ini perseroan tengah menyelesaikan proses akusisi saham BJA sebesar 51 persen. Perseroan mengakusisi BJA yang memiliki land bank terbesar di Indonesia dengan lahan seluas 12 ribu hektare. Untuk tahap pertama pengembangan akan dilakukan pada laha seluas 600 hektare.

“Untuk pembangunan Sentul Nirwana ini kita lakukan dulu untuk tahap pertama yaitu pembangunan lahan seluas 600 hektare dari lahan seluar 12 ribu hektare, di mana untuk tahap pertama ini investasinya sekira Rp1 triliun,” ungkap Presiden Direktur ELTY Hiramsyah S Thaib kala ditemui usai acara RUPSLB di Jakarta, Kamis (18/8/2011) malam.

Garap {Theme Park}

Pada pengembangan tahap pertama,ELTY akan membangun wahana permainan (theme park) yang nantinya akan bernama Jungleland dan kluster perumahan The Atmosphere dan The Breeze. Adapun sumber dana untuk tahap pertama Sentul Nirwana ini diperoleh dari dana right issue IV yang dilakukan oleh perseroan beberapa waktu lalu.

Nantinya, Jungleland akan dapat mulai dinikmati masyarakat pada pertengahan 2012,sedangkan kluster perumahan direncanakan untuk diserahterimakan pada akhir 2012.

Ke depannya, pembangunan mega residensial terintegrasi Sentul Nirwana di kawasan Jonggol akan menjadi salah satu kawasan hunian terpadu yang terlengkap dengan dukungan area komersial dan hiburan keluarga serta kemudahan akses dari berbagai lokasi di Jabodetabek,baik melalui tol Jagorawi maupun alternatif Jalan Provinsi.
(wdi)

Feb Sumandar Duduki Kursi Direktur Bakrie Development
R Ghita Intan Permatasari – Okezone
Kamis, 18 Agustus 2011 18:24 wib
okezone
JAKARTA – PT Bakrie Development Tbk (ELTY) menambah direksi baru. Penambahan itu merupakan hasil persertujuan Rapat Pemegang Umum Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan oleh perseroan hari ini.
“Perubahan direksi dilakukan seiring dengan perkembangan perusahaan yang memerlukan manajemen yang lebih kuat dan profesional sehingga dapat terus meningkatkan nilai bagi pemegang saham,” ungkap Presiden Direktur ELTY Hiramsyah S Thaib, kala ditemui dalam acara RUPSLB perseroan, Jakarta, Kamis (18/8/2011).
Adapun direktur baru perseroan yaitu Feb Sumandar, yang menggantikan Direktur Keuangan ELTY yang terdahulu, yaitu Ferdinand Sadeli, yang telah mengundurkan diri beberapa waktu lalu.
Di sisi lain dalam RUPSLB kali ini juga telah disetujui perubahan penggunaan dana hasil Penawaran Umum Terbatas (PUT) / Right Issue IV.
Perubahan penggunaan dana ini dilakukan sehubungan dengan strategi perseroan untuk mempercepat pengembangan kawasan Jonggol sebagai bagian dari rencana kerja sama perseroan dengan PT Bukit Sentul City Tbk (BKSL) yang telah disampaikan dalam prokpestus PUT IV perseroan.
Perseroan juga akan segera menyelesaikan akusisi atas 51 persen PT Bukit Jonggol Asri (BJA) dengan menggunakan dana hasil PUT IV, dimana sebelumnya direncanakan sumber dana akusisi BJA akan menggunakan dana pihak ketiga.
“Kita akan alihkan dana right issue sebesar Rp200 miliar dari sebelumnya untuk working capital Bakrie Toll Road (BTR) untuk proyek BJA ini karena memerlukan biaya yang cukup besar. Nanti kan BTR sendiri akan IPO, jadi dananya dari hasil IPO tersebut. Makanya, dialihkan dana nya untuk BJA,” pungkasnya.

(rhs)
Sst.. ELTY Tambah Direksi Baru

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Kamis, 18 Agustus 2011 | 16:54 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menyetujui perubahan susunan direksi pada Kamis (18/8).

Susunan direksi yang telah menyetujui perubahan dengan penambahan direksi baru yaitu Feb Sumandar sebagai Direktur. Sehingga susunan direksi baru antara lain Presiden Direktur dan CEO Hiramsyah Thaib, posisi direktur dijabat oleh A.Amri Aswono Putro dan Feb Sumandar.

Susunan Komisaris antara lain dijabat oleh Presiden Komisaris Bambang Hendradi, Komisaris Independen dijabat oleh Lukman Purnomosidi dan Kanaka Puradireja, dan Komisaris dipegang oleh Supartono dan Armansyah Yamin.

Sebelumnya Direktur Keuangan ELTY, Ferdinand Sadeli telah mengundurkan diri beberapa waktu lalu. “Perubahan direksi dilakukan seiring dengan perkembangan perusahaan yang memerlukan manajemen yang lebih kuat dan profesional sehingga dapat terus meningkatkan nilai bagi pemegang saham,” ujar Presiden Direktur ELTY, Hiramsyah Thaib, dalam siaran pers, Kamis (18/8).

Selain itu, hasil RUPSLB juga menyetujui perubahan dana hasil penawaran umum terbatas yaitu dari PT Bakrie Toll Road maka akan dialihkan kepada PT Bukit Jonggol Asri sebesar Rp200 miliar.

“Dana untuk PT Bukit Jonggol Asri akan lebih besar,karena PT Bakrie Toll Road akan melakukan penawaran umum terbatas pada akhir tahun, sehingga dananya dialihkan kepada Bukit Jonggol Asri sebesar Rp200 miliar,” tutur Hiramsyah. [hid]

Garap Wahana Hiburan, ELTY Gandeng Investor Asing

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Kamis, 18 Agustus 2011 | 18:59 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) akan menggandeng satu investor asing untuk mempersiapkan wahana hiburan di Sentul Nirwana.

Hal itu disampaikan Direktur Utama PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), Kamis (18/8). “Kita akan kembangkan theme park di Sentul Nirwana, dan ada satu wahana dari luar yang akan kita gandeng,” ujar Hiramsyah.

Lebih lanjut ia mengatakan, proses untuk menggandeng satu wahana ini memang panjang. Perseroan mengharapkan dalam satu tahun untuk menggandeng investor asing dalam wahana hiburan dapat diselesaikan. “Biasanya akan panjang sekali, persetujuan satu hingga dua tahun, sudah menggerucut, dan belum final,” kata Hiramsyah.

Sebelumnya perseroan mengaku telah mempersiapkan setidaknya lima wahana hiburan untuk dibangun di kawasan yang masuk dalam tahap pertama penggarapan Bukit Jonggol Asri (BJA) tersebut. Wahana pertama yang dinamai The Jungle Land diharapkan sudah bisa beroperasi pada pertengahan 2012.

Kelima wahana tersebut diharapkan akan selesai dalam waktu lima tahun hingga tujuh tahun ke depan. [hid]

Menurut surat kabar Investor Daily tanggal 18 Agustus 2011, PT Sentul City Tbk (BKSL) disebut-sebut akan membangun Universal Studio di Sentul, Jawa Barat. Perseroan dikabarkan akan menggandeng Grup Bakrie untuk menggarap proyek ini. Kedepan, Universal Studio akan menjadi ikon terbaru Sentul City. Pada perdagangan Selasa (16/8) BKSL stagnan di level Rp 210.

Author : Rumors
Sssttt… Bakrie Bikin Kota Mandiri di Sentul!
Latief | Rabu, 10 Agustus 2011 | 10:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengembang properti seolah tidak tahan melihat lahan nganggur. Lihatlah PT Bakrieland Development, Tbk (ELTY) yang siap mengembangkan mega residensial seluas 12.000 hektare di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Bakrie melalui unit usaha residensialnya, PT Bukit Jonggol Asri, mengembangkan kota baru bernama Sentul Nirwana. Marc Dessler, Presiden Direktur Bukit Jonggol Asri bilang, pengembangan Sentul Nirwana terinspirasi Sentul City.

Menurut Marc pengembangan kota baru di kawasan Bogor menarik. Alasannya, lahan kosong masih banyak dan berpotensi berkembang menyusul Jakarta. Kedua, akses dari dan menuju Sentul, Bogor, terus berkembang, yaitu lintas provinsi dari arah Cipanas dan akses via Sentul City.

Marc menilai, Sentul Nirwana bisa menjadi pilihan bagi masyarakat, khususnya pekerja Jakarta, yang mencari hunian lengkap serta jauh dari kepenatan ibu kota. Selanjutnya, keberadaan “kota dalam kota” bakal merangsang pengembangan infrastruktur. Sehingga, kata dia, wilayah itu makin maju dan dilirik.

“Kami mengadopsi western standard, mau ciptakan kawasan untuk live-work-and play. Ngapain punya lahan 12.000 hektare tapi tidak dimanfaatkan, makanya akan dilengkapi dengan fasilitas lain,” papar Marc, Selasa (9/8/2011). (Maria Rosita)
JAKARTA – PT Bakrieland Development Tbk melalui unit usaha hotel dan resort meluncurkan suites baru “Nirwana Bali Golf Suites” berlokasi di kawasan Tanah Lot Bali dengan nilai investasi sekitar Rp220 miliar.

“Suites baru ini merupakan bagian dari proyek kami, Nirwana Bali Resort seluas 103 hektare yang dikembangkan sejak tahun 1997,” kata Chief Marketing Officer Hotel Development Bakrieland unit usaha hotel dan resort, Deden E Sudabo di Jakarta, Selasa.

Deden mengatakan, Nirwana Bali Golf Suites dibangun di atas lahan 27.000 meter persegi terdiri dari 146 unit kamar meliputi tipe standar 111 unit, satu ruang tidur 26 unit, 2 kamar tidur dengan harga jual Rp1,2 miliar sampai Rp2,5 miliar atau Rp24 juta per meter persegi.

Ia mengatakan, suites baru ini akan dioperasikan operator bintang lima asal Inggris yang namanya akan dipublikasikan kemudian, mengingat operator ini baru pertama beroperasi di Indonesia.

Deden menjelaskan, unit-unit dalam suites ini nantinya dapat dibeli dengan fasilitas bank. Bakrieland memberikan penawaran jaminan pengembalian sewa sebanyak 40% untuk lima tahun pertama serta hak menginap selama 21 malam.

“Pembeli juga akan diuntungkan dari capital gain minimal kenaikan properti di kawasan ini 6% sehingga dalam lima tahun 30%, sehingga keuntungan yang di dapat mencapai 70% ditambah pengembalian investasi,” ujarnya.

Menurut Deden, angka capital gain bisa lebih besar mengingat pengembangan lokasi wisata di Bali ke arah Utara sehingga dalam lima tahun angkanya bisa lebih tinggi lagi, 70% merupakan angka konserfatif.

Ia optimistis, pemilik unit suites akan mendapat keuntungan lebih besar lagi kalau melihat tamu yang menginap di Pan Pacific Nirwana Bali Resort, salah satu proyek milik Bakrieland di kawasan tersebut memiliki tingkat hunian 65 sampai 75%.

Deden mengatakan, Bakrieland saat ini juga tengah melakukan renovasi Pan Pacific Nirwana Bali Resort yang pekerjannya telah mencapai 65% diharapkan selesai Desember 2011, produk lainnya Nirwana Bali Golf Club, lapangan golf 16 lubang rancangan Greg Norman.

“Bakrieland juga tengah mengembangkan Nirwana Bali Residence berupa tiga vila mewah dan tiga apatemen resort sejak awal 2011,” katanya.

Deden mengatakan, Nirwana Bali Golf Suites memiliki fasilitas kolam renang, wedding chapel, lantai pandang di bagian atap menghadap Samudra Hindia. (gor/ant)

http://www.investor.co.id/property/bakrieland-luncurkan-suites-rp220-miliar-di-tanah-lot/16827

Sumber : INVESTOR DAILY
Laba bersih PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) hingga semester 1 2011 menlonjak 100,2% menjadi Rp126,1 miliar sepanjang semester I-2011, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp63 miliar.

Direktur Utama Bakrieland Hiramsyah S. Tahib dalam publikasi yang disampaikan ke BEI di Jakarta Senin (25/7) mengatakan, peningkatan laba bersih ini didukung oleh penghasilan usaha bersih perseoran yang juga melesat hingga 94,38% menjadi Rp1,044 triliun, ketimbang perolehan semester yang sama tahun sebelumnya hanya Rp537,527 miliar. Selain itu, laba selisih kurs menjadi Rp39,269 miliar, dari Rp5,850 miliar.

Selain kenaikan penghasilan bersih dan untung kurs, perseoran juga berhasil mengubah kerugian pendapatan lain-lain menjadi laba sekitar Rp135,740 juta.

Sayang, perseroan tak mampu menekan beban pokok penghasilan dari Rp299,222 miliar menjadi Rp650,491 miliar. Bahkan, beban usaha pun kian membengkak menjadi Rp230,166 miliar, dari sebelumnya Rp156,963 miliar. Namun, perseroan masih mampu mencetak laba usaha dari Rp81,341 miliar menjadi Rp164,222 miliar.

Hingga semester I-2011, aset perseroan naik tipis dari Rp17,054 triliun menjadi Rp17,445 triliun. Untuk kas dan setara kas akhir tahun tercatat naik menjadi Rp863,509 miliar, dari Rp591,364 miliar.

http://www.topsaham.com/new1/index.php?option=com_content&view=article&id=4803:dipasok-untung-kurs-laba-elty-melonjak-1002-di-semester-1-2011&catid=34:sektorriil&Itemid=56

Sumber : TOPSAHAM.COM
PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) membukukan laba bersih pada Quarter 2 2011 sebesar 126,1 miliar. Hal ini lebih baik bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2010 sebesar 63,0 miliar. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 3.15 per lembar.

Berikut Laporan keuangan ELTY Quarter 2 2011 :

Last Price 171
Share Out. 39.9 B
Market Cap. 6826.3 B

Balance Sheet
Cash 863.5 B
Total Asset 17445.8 B
S.T. Borrowing 679.1 B
L.T. Borrowing 3902.4 B
Total Equity 11084.1 B

Income Statement
Revenue 1044.9 B
Gross Profit 394.4 B
Operating Profit 164.2 B
Net. Profit 126.1 B
EBITDA 164.2 B
Interest Expense 41.1 B

Ratio
EPS 3.15
PER 54.29x
BVPS 277.66
PBV 0.62x
ROA 0.72%
ROE 1.14%
EV/EBITDA 64.21
Debt/Equity 0.41
Debt/TotalCap 0.29
Debt/EBITDA 27.9
EBITDA/IntExps 4

PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mencatat laba bersih naik dua kali lipat lebih atau 155,85% di semester I-2011 menjadi Rp 180,89 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 70,7 miliar.

Seperti dikutip dari laporan kinerja keuangan perseroan, Senin (25/7/2011), lonjakan laba bersih itu didorong naiknya pendapatan emiten berkode ELTY itu ssebanyak 94,4% menjadi Rp 1,044 triliun di periode enam bulan pertama tahun ini dari sebelumnya Rp 537,5 miliar.

Dengan adanya pertumbuhan laba bersih ini, salah satu perusahaan Grup Bakrie itu pun mencatat kenaikan laba bersih per saham dasar, dari Rp 4,08 per lembar di semester satu tahun lalu ke Rp 4,11 per lembar tahun ini.

Perseroan juga mencatat pertumbuhan aset sebanyak menjadi sebanyak Rp 17,445 triliun di semester pertama tahun ini, dibandingkan aset tahun lalu pada periode yang sama sebanyak Rp 17,064 triliun.

Pada perdagangan hari ini, hingga pukul 10.55 waktu JATS, harga saham ELTY naik 5 poin (3,01%) ke level Rp 171 per lembar. Sahamnya ditransaksikan 2.523 kali dengan volume 1.249.930 lot senilai Rp 106,472 miliar.

Sumber: detikcom
Senin, 11/07/2011 14:52 WIB
Grup Bakrie Bangun Menara Perkantoran Baru Rp 250 Miliar
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Grup Bakrie melalui anak usahanya, PT Bakrie Swasakti Utama akan membangun satu tower baru di 2012 dengan nilai investasi Rp 250 miliar. Tower ini diperuntukkan sebagai perkantoran dengan sistem strata tittle.

Properti baru perseroan akan mulai dibangun awal 2012 dan berlokasi di arena Taman Rasuna milik Bakrie. Demikian disampaikan Direktur PT Bakrie Swasakti Utama, Wawan Dwi Guratno di kantor REI Jakarta, Senin (7/11/2011).

“Rencana office baru tahun depan ada, ada di depan Bakrie Tower dalam bentuk strata,” jelasnya.

Wawan menambahkan, pembangunan tower terbaru tersebut sebanyak 32 lantai dengan total luas 25 ribu m2. Harga yang ditawarkan untuk properti baru ini sekitar 22-25 juta per m2.

“Investasinya 250 miliar. Tanah kan milik kita, jadi pembangunan dengan sistem strata. Namanya belum, masih dalam tahap desain,” ucap Wawan.

Calon pembeli office tower tersebut adalah perusahaan grup Bakrie sendiri. Diantaranya mereka yang bergerak di bidang energi, oil & gas, serta telekomunikasi. “Juga ada dari jasa keuangan, tapi di luar grup,” tuturnya.

Tower lain yang sampai kini dalam proses pembangunan adalah, The Convergence Indonesia. Unit tersebut akan selesai pembangunan di Juni 2012.

“Sekarang kami sedang handle itu, 32 lantai dengan luas 30 ribu m2. Ini sudah fully sold dan lease. Yang akan masuk BTEL (Bakrie Telecom), TV One dan ANTV. Harganya sama, harga komersial,” imbuhnya.

Selain pembangunan perkantoran, perseroan juga sedang menyelesaikan apartemen The Wave dan The Grove. Sampai saat ini telah berdiri dua tower The Wave dari rencana sembilan tower yang dibangun. Sedangkan The Grove akan berdiri tiga tower dari lima tower yang direncanakan.

“Pada 2012, akan launching tiga tower baru, satu The Grove dan dua The Wave. Investasinya Rp 500 miliar,” pungkasnya.

(wep/ang)
ELTY Kembali Raih Peringkat BBB+
Headline
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Senin, 13 Juni 2011 | 19:13 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEfindo) memberikan kembali peringkat BBB+ untuk obligasi I/2006 PT Bakrieland Development Tbk (ELTY)

Sukuk Ijarah I/2009 seri A dan sukuk Ijarah I/2009 seri B ELTY pun mendapatkan peringkat BBB+. Adapun outlook terhadap peringkat-peringkat tersebut adalah negatif yang mencerminkan lemahnya rasio proteksi arus kas perusahaan bila rencana divestasi bisnis jalan tol tidak terealisasi tahun ini. Demikian seperti dikutip INILAH.COM dari siaran pers Senin (13/6).

Sebelumnya ELTY berencana akan mendivestasi hingga 75% dari kepemilikannya di PT Bakrie Toll Road yang saat ini mengoperasikan ruas tol Kanci-pejagan. Peringkat mencerminkan kuatnya posisi bisnis perusahaan sebagai salah satu pengembang properti nasional terbesar dan kualitas aset perusahaan yang di atas rata-rata. Tapi, faktor-faktor yang membatasi peringkat adalah ekspansi bisnis ELTY yang agresif, yang sebagian besar dibiayai dengan utang. Selain itu karakteristik industri properti yang sensitif terhadap keadaan makro ekonomi. [cms]

ELTY Realisasikan Capex Rp600 M Hingga Juni 2011

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Kamis, 9 Juni 2011 | 16:40 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) telah merealisasikan belanja modal sebesar Rp500 miliar hingga Rp600 miliar hingga Juni 2011.

“Belanja modal yang sudah direalisasikan sebesar Rp500 miliar hingga Rp600 miliar hingga Juni 2011,” ujar Head of Investor Relations ELTY Nuzirman Nurdin, Kamis (9/6).

Lebih lanjut ia mengatakan, belanja modal perseroan pada 2011 akan lebih besar digunakan untuk properti. Perseroan menganggarkan belanja modal sebesar Rp2 triliun- Rp2,5 triliun hingga 2012. Pendanaan belanja modal akan didapatkan dari pre sales dan equity. “Kita sedang fokus dan memprioritaskan residential dan apartemen,” tambah Nuzirman.

PT Bakrieland Development Tbk juga akan menghemat biaya infrastruktur pembangunan jalan sekitar Rp700 miliar. Menurut Nuzirman, Pemerintah Daerah Jawa Barat akan membangun jalan poros tengah timur 42 km yang berada dekat proyek Bakrieland. “Rencana baru Pemda setempat akan membangun poros tengah timur,” kata Nuzirman.

Selain itu, perseroan menargetkan recurring income sebesar 35% pada 2011. Perseroan juga optimis dengan pertumbuhan pendapatan pada 2011 akan didukung oleh mulai beroperasinya enam proyek besar dalam satu tahun terakhir mulai dari jalan tol kanci-pejagan, Episentrum Walk Offices Suites, Epicentrum Walk-Lifestyle Entertainment, Bakrie Tower, Aston Bogor Hotel dan Resort, Pullman Bali Legian Nirwana. “Dengan beroperasinya enam proyek besar dengan pendapatan berkelanjutan dalam satu tahun terakhir,” tutur Hiramsyah. [cms]
Bakrieland Tidak Bagi Dividen

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Kamis, 9 Juni 2011 | 14:44 WIB
INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) tidak membagikan dividen 2010.

“Tidak bagi dividen 2010. Laba bersih 2010 akan digunakan untuk pertumbuhan perusahaan karena momentum tumbuh lebih baik di industri properti pada 2011,” tutur Head of Investor Relation ELTY Nuzirman Nurdin, Kamis (9/6).

Perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp178,7 miliar dan pendapatan sebesar Rp1,36 triliun pada 2010.

Dalam RUPST ini juga mengangkat susunan komisaris antara lain Presiden Komisaris Bambang Hendradi, Komisaris dijabat oleh Supartono dan Armansyah Yamin, dan Komisaris Independen dijabat oleh Lukman Purnomosidi dan Kanaka. Sedangkan susunan direksi antara lain Hiramsyah Thaib dan Achmad Amri Aswono Putro. [cms]

PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) membukukan laba bersih pada Quarter 1 2011 sebesar 15,3 miliar. Hal ini lebih baik bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2010 sebesar 28,0 miliar. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 0.38 per lembar.

Berikut Laporan keuangan ELTY Quarter 1 2011 :

Last Price 143
Share Out. 39.9 B
Market Cap. 5708.5 B

Balance Sheet
Cash 714.7 B
Total Asset 16892.5 B
S.T. Borrowing 385.7 B
L.T. Borrowing 3857.9 B
Total Equity 10900.9 B

Income Statement
Revenue 424.9 B
Gross Profit 195.8 B
Operating Profit 82.6 B
Net. Profit 15.3 B
EBITDA 82.7 B
Interest Expense 57.7 B

Ratio
EPS 0.38
PER 376.32x
BVPS 273.07
PBV 0.52x
ROA 0.09%
ROE 0.14%
EV/EBITDA 111.72
Debt/Equity 0.39
Debt/TotalCap 0.28
Debt/EBITDA 51.32
EBITDA/IntExps 1.43

Sumber : IPS RESEARCH
Pembangunan Perumahan Indonesia Hadapi Sejumlah Kendala
Selasa, 19 April 2011 | 9:52

JAKARTA- Pembangunan sektor perumahan dan kawasan permukiman di Indonesia hingga saat ini masih menghadapi sejumlah kendala sehingga dalam beberapa tahun ke depan, sulit diharapkan, negeri ini terbebas dari persoalan itu.

Demikian penegasan Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Yoseph Umar Hadi dalam sosialisasi UU No 1/2011 tentang tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, di Jakarta, Senin (18/4).

Menurut dia, setidaknya ada beberapa permasalahan yang dihadapi dalam program pembangunan perumahan dan kawasan permukiman di Indonesia.

“Beberapa permasalahan itu antara lain keterbatasan lahan untuk perumahan, terutama di kota besar, harga tanah yang sangat mahal, Pemda tidak memiliki konsep penyediaan tanah untuk perumahan, konsep tata-ruang yang tidak jelas dan alih fungsi lahan,” katanya.

Untuk itu, dalam UU No 1 Tahun 2011, lanjutnya, terdapat beberapa hal pokok yang menunjukkan adanya perhatian khusus dari pemerintah terhadap penyediaan perumahan bagi masyarakat.

Hal-hal pokok itu yakni negara bertanggung jawab dalam menyediakan rumah, pemerintah harus lebih berperan terutama terhadap pemenuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), peningkatan kapasitas kelembagaan yaitu, peningkatan status Menteri yang membidangi Perumahan dan Kawasan Permukiman dari katagori C menjadi B.

Selain itu, adanya kewajiban negara yang didelegasikan secara merata dari pusat sampai ke daerah, alokasi anggaran perumahan tidak hanya harus ada di APBN, tapi juga APBD, Revisi Tata Ruang, Konsolidasi Tanah dalam bentuk bank tanah, Kasiba dan Lisiba, alokasi anggaran untuk MBR, penyelenggaraan perumahan dan penyelenggaraan kawasan permukiman.

Staf Ahli Menpera Bidang Tata Ruang, Pertanahan dan Permukiman, Yusuf Yuniarto menyatkaan, UU ini sebenarnya juga memperkuat peranan pemerintah daerah karena perumahan merupakan urusan wajib daerah.

“Grand design perumahan ingin menempatkan perumahan dalam suatu kawasan, Pembukaan UUD 1945 menyebutkan cita-cita untuk memajukan kesejahteraan umum dan salah satu indikator kesejahteraan umum adalah perumahan,” katanya.

Kepala Biro Hukum dan Kepegawaian Kemenpera, Agus Sumargiarto menyatakan, sosialisasi UU Nomor 1 Tahun 2011 yang dilaksanakan oleh Kemenpera merupakan adalah salah satu bentuk penyebarluasan kebijakan sektor perumahan dan kawasan permukiman.

“UU Nomor 1 Tahun 2011 juga menjadi pengganti UU Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman,” ujarnya.

Menurut Agus, pemerintah ke depan terus berupaya membantu MBR dalam pemenuhan kebutuhan rumah.

Oleh karena itu, Kementerian Perumahan Rakyat yang bertanggungjawab sebagai sektor yang menangani bidang perumahan dan kawasan permukiman dirasa perlu melakukan sosialisasi UU baru ini. (ant/hrb)

Penjualan Bakrieland Kuartal I-2011 Naik 106%
Jumat, 29 April 2011 | 22:26
investor daily

JAKARTA – PT Bakrieland Development Tbk berhasil menaikkan angka penjualannya 106% pada kuartal I tahun 2011 sebesar Rp424,9 miliar, dibanding periode yang sama tahun 2010, sebesar Rp205,5 miliar.

“Keberhasilan meningkatkan pendapatan terutama didukung unit usaha city property yang menyumbang 75,2%,” kata Presdir dan CEO PT Bakrieland Development, Hiramsyah S Thaib di Jakarta, Jumat.

Sedangkan lainnya, kata Hiramsyah disumbang dari unit Usaha Landed Residential, Hotel & Resort, dan Toll Road memberikan kontribusi pendapatan masing-masing sebesar 7,8%, 10,4%, dan 6,6%.

Pendapatan dari unit usaha City Property sebagian besar dari proyek perkantoran strata dengan kontribusi sebesar 64,7%. Sedangkan proyek apartemen memiliki kontribusi sebesar 14,7%.

Sementara itu, pendapatan terbesar dari Unit Usaha Landed Residential adalah dari Bogor Nirwana Residence yang memberikan kontribusi sebesar 72,2%, diikuti oleh Ijen Nirwana Residence dan Batam Nirwana Residence dengan kontribusi masing-masing sebesar 24,5% dan 3,3%.

“Pendapatan di 2011 kami perkirakan akan berlanjut menguat seiring dengan kondisi ekonomi Indonesia yang semakin solid, proyek baru yang dimiliki Bakrieland dan mulai beroperasinya beberapa proyek di 2010 dan tahun ini yang menjadi sumber pendapatan berkelanjutan tambahan (recurring income),” jelas Hiramsyah.

Melengkapi proyek-proyek yang telah dioperasikan di 2010 seperti Jalan Tol Kanci-Pejagan, Epicentrum Walk (Creative Lifestyle Entertainment Hub) di bulan Maret, Studio XXI Epicentrum Walk di bulan April, Bakrie Tower di bulan Mei, Aston Bogor Hotel & Resort di bulan Desember pada Februari tahun 2011 ini Pullman Bali Legian Nirwana juga telah resmi dioperasikan.

Pada kuartal I 2011, aset yang memiliki pendapatan berkelanjutan memberikan kontribusi sebesar 32,4% dari total pendapatan. Ke depan, angka ini akan cenderung meningkat seiring dengan rencana Bakrieland untuk terus meningkatkan proyek yang memiliki pendapatan berkelanjutan. (gor/ant)
Properti Kota Dongkrak Laba Bakrieland
Laba bersih perseroan naik 35,1 persen menjadi Rp178,7 miliar.
JUM’AT, 25 MARET 2011, 11:36 WIB Antique

VIVAnews – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mengalami kenaikan pendapatan hingga 30 persen untuk tahun buku 2010. Pada 2009, pendapatan bersih tercatat Rp1,1 triliun, sebelum meningkat menjadi Rp1,4 triliun.

“Kenaikan pendapatan disumbang dari unit usaha city property (properti kota), landed residential (hunian tampak), hotel dan resort, serta jalan tol,” kata Presiden Direktur dan Chief Executive Officer (CEO), Bakrieland Development, Hiramsyah S Thaib dalam keterangannya yang diterima VIVAnews.com di Jakarta, Jumat, 25 Maret 2011.

Hiramsyah menuturkan, unit usaha city property memberi kontribusi terhadap pendapatan perseroan sebesar 35,1 persen, unit usaha hunian tampak (29,5 persen), dan hotel & resort (29,2 persen), sedangkan dari bisnis jalan tol mengontribusi sekitar 6,2 persen.

Pendapatan unit usaha city property, menurut dia, sebagian besar dikontribusi dari proyek perkantoran strata yang mengontribusi pendapatan sebesar 28,2 persen, sedangkan proyek apartemen memiliki kontribusi sebesar 38,7 persen.

Sementara itu, pendapatan dari unit usaha landed residential, Bogor Nirwana Residence memberikan kontribusi terbesar yaitu 89,7 persen, diikuti Nirwana Residence, dan Batam Nirwana Residence dengan kontribusi masing-masing sebesar 7,5 dan 2,7 persen.

Selanjutnya, proyek jalan tol, Hiramsyah mengatakan, tol pertama yang selesai dibangun perseroan, yakni Kanci-Pejagan telah menunjukkan tren peningkatan lalulintas yang signifikan.

“Ketika dioperasikan awal 2010, lalulintas baru sekitar 5.000 kendaraan per hari. Angka ini melonjak signifikan di Desember 2010, yaitu lebih dari 14.000 kendaraan per hari yang mencerminkan pertumbuhan hampir tiga kali lipat. Bahkan, pada arus mudik lebaran tahun lalu trafiknya mencapai lebih dari 22.000 kendaraan,” ujar Hiramsyah.

Ke depan, Hiramsyah menuturkan, lalulintas dari jalan tol Kanci-Pejagan akan semakin meningkat seiring pertumbuhan daerah yang dilewatinya serta beroperasinya jalan tol Cikampek-Palimanan yang direncanakan mulai masuk masa konstruksi pada tahun ini.

Dia beranggapan, setelah pengoperasian jalan tol Kanci-Pejagan yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Januari 2010, serta mulai beroperasinya Epicentrum Walk (Creative and Lifestyle Entertaiment Hub) Maret, Epicentrum XXI April, Bakrie Tower Mei, dan peresmian Aston Bogor Hotel & Resort pada Desember, tahun 2010 merupakan tahun serah terima atau “delivery year” bagi Bakrieland.

“Tidak hanya itu, awal 2011 Bakrieland berhasil mengoperasikan penuh Kondotel Pullman Bali Legian Nirwana,” kata Hirmasyah.

Keenam proyek yang dioperasikan itu, menurut Hiramsyah, akan semakin menambah rangkaian proyek-proyek yang memiliki pendapatan berkelanjutan (recurring income) serta meningkatkan pendapatan Bakrieland secara keseluruhan.

Pada 2010, kontribusi aset yang memiliki pendapatan berkelanjutan sebesar 35,7 persen dari total pendapatan. Kontribusi pendapatan tersebut diprediksi akan meningkat seiring rencana Bakrieland untuk terus meningkatkan proyek-proyek tersebut.

Di samping itu, Bakrieland memperkirakan potensi pendapatan terbesar 2011 masih berasal dari unit usaha City Property Rasuna Epicentrum. Sebab, permintaan apartemen terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat, meningkatnya daya beli, perubahan gaya hidup, dan rencana pemasangan tiang pancang proyek apartmen The Wave dan The Grove.

Untuk itu, Bakrieland optimistis potensi pendapatan 2011 akan meningkat seiring kondisi ekonomi yang semakin solid, proyek baru yang dimiliki, serta beroperasinya beberapa proyek yang dibangun 2010 akan menjadi sumber recurring income.

Sepanjang 2011, Bakrieland akan mengutamakan pengembangan usaha berupa konversi lahan (landbank) yang dimiliki menjadi arus kas (cash flow).

Hal ini dimungkinkan setelah beberapa tahun terakhir, Bakrieland melakukan akusisi tanah dalam jumlah besar, berlokasi strategis, dan memiliki potensi pertumbuhan tinggi dengan valuasi yang sangat menarik, seperti di Pusat Kawasan Bisnis Jakarta–Kuningan, Bogor, Jonggol, dan beberapa lokasi strategis lainnya.

Untuk lebih mempercepat konversi landbank menjadi cashflow, Bakrieland berencana mendapatkan investor strategis yang akan bersama-sama mengembangkan lahan yang dimiliki perseroan. Saat ini, Bakrieland memiliki total landbank sekitar 13.000 hektare.

Lebih lanjut, Hiramsyah mengatakan, Bakrieland dewasa ini memiliki ekuitas mencapai Rp8 triliun, salah satu perusahaan properti dengan ekuitas tertinggi di Indonesia dan tetap memiliki neraca yang solid. Hal itu, tercermin dari rasio kewajiban dengan beban bunga (interest bearing liabilities) terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) per 31 Desember 2010 sebesar 40,1 persen.

“Posisi leverage ini akan semakin rendah bila menggunakan rasio net gearing sebagai acuan yaitu sebesar 29,3 persen,” ujar dia.

Secara keseluruhan, kinerja 2010 Bakrieland mengalami kenaikan seperti laba kotor naik 34,4 persen menjadi Rp669,3 miliar, laba usaha naik 44,9 persen menjadi Rp241,7 miliar, laba bersih naik 35,1 persen menjadi Rp178,7 miliar, dan marjin laba usaha naik dari 15,7 persen menjadi 17,7 persen. (art)
• VIVAnews
Juli, Konstruksi Tol Bogor-Sukabumi Dimulai
Pembebasan lahan Bogor–Ciawi–Sukabumi (Bocimi) ditargetkan selesai Juni 2011.
JUM’AT, 25 MARET 2011, 16:05 WIB Antique

VIVAnews – Konstruksi pembangunan jalan tol Bogor–Ciawi–Sukabumi (Bocimi) akan direalisasikan Juli 2011. Sebab, proses pembebasan tanah untuk kepentingan jalan tol Bocimi kembali dilakukan pada tahap ketiga. Bahkan, akan dikejar pelaksanaannya selama bulan ini.

Keputusan tersebut muncul berdasarkan rapat antara Panitia Pengadaan Tanah, Tim Pembebasan Tanah, Kementerian Pekerjaan Umum, PT Trans Jabar Tol, Pemerintah Kabupaten Bogor, dan sejumlah kepala desa.

“Pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol Bocimi ditargetkan selesai Juni, sehingga Juli ini bisa segera dimulai pembangunan konstruksi jalan tol,” ujar Asisten Pemerintahan Kabupaten Bogor, Yasin Zainuddin, Jumat, 25 Maret 2011.

Saat ini, Yasin menambahkan, segala sesuatunya sedang dipersiapkan, antara lain verifikasi berkas tanah milik masyarakat yang siap dibayar dan menyusun jadwal. “Jadi, diperkirakan pembayaran bisa dilakukan di atas 6 April 2011. Sebab, Tim Pembebasan Tanah berharap tiga bulan bisa selesai,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Bogor, Ade Munawaroh, mengatakan, pihaknya menyambut baik rencana pemerintah yang akan merealisasikan pembangunan jalan tol Bocimi tersebut.

Namun, dia menegaskan, sebelum jalan tol itu realisasikan, sebaiknya masalah-masalah seperti pembebasan lahan segera diselesaikan. Antara lain, pembayaran pembebasan tanah jangan sampai tertunda.
Seperti diketahui, jalan tol yang akan menghubungkan Bogor-Sukabumi sepanjang 53,6 kilometer ini diharapkan sudah bisa beroperasi pada 2014. Pembangunan tol ini akan menghabiskan dana sebesar Rp5,4 triliun. Sebanyak Rp725 miliar dianggarkan untuk pembebasan lahan seluas 142,20 hektare.
PT Trans Jabar Tol selaku pemegang hak konsesi akan mengoperasikan jalan tol ini selama 35 tahun terhitung sejak Juli 2007.

Trans Jabar Tol merupakan konsorsium tiga perusahaan yakni PT Bakrie Toll Road, PT Jasa Sarana Jabar, dan PT Bukaka Teknik Utama. Komposisi sahamnya 60 persen Bakrie Toll Road, 25 persen Jasa Sarana Jabar, dan 15 persen Bukaka Teknik. (art)

Laporan: Ayatullah Humaeni | Bogor
• VIVAnews
PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mencetak pertumbuhan laba bersih sepanjang 2010 sekitar 35,12% menjadi Rp178,704 miliar, bila dibandingkan dengan perolehan laba sebelumnya yang hanya Rp132,255 miliar. Peningkatan ini disokong oleh untung kurs sekitar Rp14 miliar.

Demikian publikasi perseroan di Jakarta, Jumat (25/3). Keuntungan kurs perseroan meningkat signifikan dari Rp4,554 miliar, kini tercatat Rp14,618 miliar.

Perseroan juga berhasil mencetak penghasilan usaha bersih dengan kenaikan 29% menjadi Rp1,367 triliun, ketimbang 2009 yang sebesar Rp1,059 triliun. Sayang, beban pokok penjualannya sedikit naik dari Rp560,906 miliar menjadi Rp698,282 miliar. Namun, laba kotor perseroan tidak terganggu, yang terlihat mengalami kenaikan menjadi Rp668,273 miliar, dibanding sebelumnya Rp498,097 miliar.

Di sisi lain, beban usaha perseroan pun melonjak dari Rp331,347 miliar, kini tercatat Rp427,559 miliar. Kenaikan beban usaha ini tidak mengganggu pos laba usaha yang tercatat meningkat dari Rp166,750 miliar menjadi Rp241,713 miliar.

Tetapi, perseroan harus mencatat beban lain-lain sekitar Rp16,068 miliar, bila dibandingkan tahun sebelumnya berhasil mencetak pendapatan lain-lain sekitar Rp36,418 miliar.

Per 31 Desember 2010, jumlah aset perseroan meningkat dari Rp11,592 triliun menjadi Rp17,064 triliun.

http://www.imq21.com/news/read/25217/20110325/085029/Untung-Kurs-Terbangkan-Laba-Bersih-ELTY-Rp178-704-Miliar.html

Sumber : IMQ JAKARTA
PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mencatatkan laba bersih naik 35% menjadi Rp178,74 miliar pada 2010 dibandingkan periode sama sebelumnya Rp132,25 miliar.

Dalam laporan keuangan publikasinya juga disebutkan Perseroan mencatatkan kenaikan pendapatan menjadi Rp1,36 triliun atau naik 29,1% pada 2010 dibandingkan periode sama sebelumnya Rp1,05 triliun. Laba kotor perseroan naik 34,36% menjadi Rp669,27 miliar pada 2010 dibandingkan periode sama sebelumnya Rp498,09 miliar.

Laba usaha naik 44% dari Rp166,75 miliar pada 2009 menjadi Rp241,71 miliar pada 2010. Aset perseroan naik 47% menjadi Rp17,06 triliun pada 2010 dibandingkan periode sama sebelumnya Rp11,59 triliun. Kas perseroan sebesar Rp860,55 miliar pada 2010.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1357232/bakrieland-raup-untung-2010-rp17874-miliar

Sumber : INILAH.COM
PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) membukukan laba bersih pada tahun 2010 sebesar 178,7 miliar. Hal ini lebih baik bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2009 sebesar 132,3 miliar. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 5.62 per lembar.

Berikut Laporan keuangan ELTY Tahun 2010 :

Last Price 137
Share Out. 39.9 B
Market Cap. 5469.0 B

Balance Sheet
Cash 860.6 B
Total Asset 17064.2 B
S.T. Borrowing 582.6 B
L.T. Borrowing 3844.8 B
Total Equity 8021.7 B

Income Statement
Revenue 1367.6 B
Gross Profit 669.3 B
Operating Profit 241.7 B
Net. Profit 178.7 B
EBITDA 364.3 B
Interest Expense 53.7 B

Ratio
EPS 5.62
PER 24.38x
BVPS 200.95
PBV 0.68x
ROA 1.05%
ROE 2.23%
EV/EBITDA 24.8
Debt/Equity 0.55
Debt/TotalCap 0.36
Debt/EBITDA 12.15
EBITDA/IntExps 6.79

Sumber : IPS RESEARCH
Pertumbuhan Kawasan Industri Jakarta Tercepat Di Dunia
Kamis, 17 Maret 2011 , 02:36:00 WIB

RMOL.Konsultan properti Cushman and Wakefield mencatat, Ibukota Jakarta sebagai kota yang meng­alami pertumbuhan industri ter­cepat dibandingkan negara-ne­gara Eropa dan Asia.
Associate Director Cushman and Wakefield Indonesia Wira Agus mengatakan, pertum­bu­han kawasan industri Jakarta sa­at ini mencapai 21,78 persen le­bih pe­sat dibandingkan negara-negara di Eropa dan Asia.
“Kawasan industri Jakarta tumbuh 21,76 persen meng­ung­guli kawasan lainnya seperti Beijing 17,55 persen, Frankfurt 15,83 persen,” kata Wira dalam siaran persnya yang diterima Rakyat Merdeka, baru-baru ini.
Menurut Wira, pesatnya per­tumbuhan itu terjadi karena me­ningkatnya permintaan in­vestor asing, terbatasnya lahan ka­wa­san industri berkualitas yang siap pakai, dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Barrie David dari Cushmand and Wakefield Re­search Group juga memaparkan stabilnya posisi pasar Asia de­ngan tujuh dari lokasi per­tum­buhan ter­cepat di Asia. Dimana Tokyo dan Hong Kong termasuk sebagai kawasan in­dus­tri termahal di dunia. Juga ka­wasan industri Si­ngapura yang melonjak dari peringkat 19 men­jadi peringkat 4 dengan pe­ningkatan harga se­wa sebesar 14,9 persen.
Menurut Data Cushman and Wakefield, 10 lokasi pertum­bu­han kawasan industri tercepat di dunia pada 2011, yakni Jakarta, (Indonesia) dengan pertumbuhan 21,78 persen, Bei­jing (China) tumbuh 17,55 persen, Frankfurt (Jerman) 15,83 per­sen, Singapura 14,97 persen, Shanghai (China) 14,54 persen, Porto (Portugal) 14,29 persen, New Delhi, Gur­ga­on (India) 14,29 persen, Gua­yaquil (Ekuador) 13 persen, Bu­nga­lore-Bommasandra (India) 11,11 persen dan Gothenberg, (Swedia) 10,71 persen.
Selain itu, Riset Cushman and Wakefield Indonesia juga mem­perlihatkan sekitar 18.000 unit apartemen dan kondominium akan selesai dibangun tahun ini. Proyek kondominium di Jakarta terutama di pusat kota, menjadi lokasi yang paling diminati.
Sampai akhir 2010, total pa­sokan kumulatif kondominium di Jakarta diperkirakan mencapai 80.700 unit. Beberapa proyek yang selesai tahun lalu adalah Gandaria Heights, Centro City (Tower A), Tamansari Su­dirman, Pakubuwono View, Central Park (Alaina Tower), Green Central, Seasons City, Masion @ Ke­mang dan Gading Nias (Emerald).
Sementara proyek kondomi­nium yang sudah mulai dipa­sarkan dan akan selesai pemba­ngunannya pada dua tahun men­datang berjumlah 50 pro­yek de­ngan jumlah total 19.000 unit. [RM]
Pemerintah Siapkan Rp 3,85 Triliun untuk Garap Transjawa
Selasa, 8 Maret 2011 | 19:57

JAKARTA – Pemerintah sepakat menganggarkan dana Rp 3,85 triliun melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2011 untuk penyelesaian sembilan ruas jalan Transjawa yang diharapkan selesai 2014.

“Kita sepakat perlu membantu penyediaan dana bagi Badan Pengatur Jalan Tol atau BPJT yang digunakan untuk pembebasan lahan,” kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo kepada pers, di Istana Wapres Jakarta, Selasa.

Hal tersebut dikatakan Menkeu Agus usai dirinya mengikuti rapat pembahasan jalan tol yang dipimpin Wakil Presiden Boediono dan diikuti Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.

Sembilan ruas tol Transjawa yakni, Cikampek-Palimanan (116 Km), Pejagan-Pemalang (57,5 km), Pemalang-Batang (39 km), Batang-Semarang (75 km), Semarang-Solo (75,7 km), Solo-Mantingan-Ngawi (90,1 km), Ngawi-Kertosono (87 km), Kertosono-Mojokerto (40,5), Surabaya-Mojokerto (36,27 km).

Menurutnya, dalam rapat tersebut juga dilaporkan mengenai kesiapan BPJT dan pihak regulator untuk bekerjasama dengan para investor untuk mencapai target 2014 selesai Transjawa.

Agus mengatakan, terkait pembahasan adanya bantuan tersebut tentu akan ada beberapa investor yang masih harus diajak bicara dengan BPJT.

Pembicaraan dengan para investor, kata Agus sangat penting mengingat di semua ruas jalan terdapat kondisi yang berbeda.

“Ada yang sudah dibebaskan lahan 90 persen, ada yang baru bebas lahan 0,5 persen, ada yang baru dua persen,” kata Agus.

Untuk itu, kata menkeu, pemerintah sepakat akan mengajak pembicaraan dengan para investor untuk membicarakan komitmen agar penyelesaian ruas jalan bisa selesai 2014.

Menkeu mengakui, pembebasan lahan adalah kunci kalau mau pembangunan ruas Transjawa tahun 2014.

Juru bicara Wapres Yopie Hidayat mengatakan, pemerintah terus berupaya mempercepat penyelesaian sembilan ruas jalan tol Transjawa secara tuntas sepanjang sekitar 660 kilometer.

“Seperti kita ketahui, hambatan utama adalah pembebasan tanah. Untuk itu, Pemerintah akan mengupayakan semua biaya pembebasan tanah baik melalui BLU maupun melalui APBN,” katanya.

Yopie mengatakan, kewajiban utama pemerintah adalah pembebasan tanah yang membutuhkan dana Rp 3,85 triliun. Pemerintah akan menganggarkan dana ini pada APBNP 2011.

“Selain itu, BPJT sudah berbicara dengan BLU Pusat Investasi Pemerintah (PIP) untuk memberikan talangan, begitu dana dari APBN turun, dana talangan akan dilunasi,” kata Yopie.

Dikatakannya, yang menjadi salah satu prioritas adalah mengatasi sumbatan pembangunan jalan tol ruas Cikampek-Palimanan.

Saat ini pembebasan tanah untuk ruas tersebut, katanya, sudah 90 persen dan ditargetkan selesai pada Agustus 2011. (tk/ant)
Pemerintah Suntik Rp3,85 T Proyek Tol Trans Jawa

Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
Ekonomi – Rabu, 9 Maret 2011 | 08:09 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kementerian Keuangan mengajukan alokasi anggaran Rp3,85 triliun dalam APBN-P 2011, untuk mendukung penyelesaian proyek 9 ruas jalan tol trans Jawa.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, pemerintah sepakat untuk bisa menyelesaikan 9 ruas jalan tol trans Jawa pada 2014. “BPJT (Badan Pengurus Jalan Tol) akan berbicara dengan investor-investor dari 9 ruas trans Jawa. Itu untuk bisa melakukan revisi BPJT apabila investornya belum melakukan konstruksi supaya disesuaikan dsengan apa yang direncanakan untuk selesai tahun 2014,” ungkap Menkeu di kantornya, kemarin.

Saat ini, pemerintah mengklaim hambatan-hambatan dalam penyelesaian ruas tol tersebut telah dapat dituntaskan terutama masalah pembebasaan lahan. Ia menyatakan, untuk menunjang proses penyelesaian proyek tersebut terutama pembebasan lahan, Kemenkeu akan mengajukan alokasi dana bergulir bagi BPJT dalam APBN-P 2011.

“Jadi kuncinya adalah perlu adanya pembebasan lahan. Nah, kebetulan BLU BPJT di tahun 2011 belum menganggarkan data tambahan untuk dana revolving untuk pembebasan lahan. Di tahun 2010 anggrannya ada Rp2,3 triliun tetapi tahun 2011 belum ada. Jadi tadi disepakati untuk kita mengajukan di dalam APBN-P dan untuk revolving fund untuk BPJT bagi trans Jawa sebesar Rp3,85 triliun,” paparnya.

Usai pembebasan lahan, nantinya BPJT akan mengadakan pertemuan kembali dengan para investor untuk mengarahkan agar proyek 9 ruas jalan tol trans Jawa yang merupakan bagian dari 24 ruas tol bisa tuntas pada 2014. [hid]
Bakrieland Siap Lunasi Obligasi Rp235 M

Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
Pasar Modal – Sabtu, 5 Maret 2011 | 13:21 WIB
INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) bakal melunasi obligasi I pokok seri A tahun 2008 beserta bunga, sebesar Rp235,54 miliar.

“Dana tersebut akan kami transfer ke Agen Pembayaran (PT Kustodian Sentral Efek Indonesia/KSEI) selambat-lambatnya tanggal 10 Maret 2011,” ungkap Direktur Utama ELTY Hiramsyah S Thaib dalam keterbukaan informasinya di Jakarta, Sabtu (5/3).

Ia menjelaskan, pembayaran pokok seri A obligasi tersebut jumlahnya mencapai Rp220 miliar. Sementara bunga seri A tersebut adalah Rp6,545 miliar dan seri B sebesar Rp8,995 miliar, sehingga jumlah keduanya Rp15,54 miliar. Obligasi tersebut akan jatuh tempo pada tahun ini. [mre]
Minggu, 20/02/2011 16:59 WIB
Bakrieland Resmikan Hotel Bintang Lima di Bali Senilai Rp 300 miliar
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) melalui Unit Usaha Hotels & Resorts resmi membuka salah satu Hotel yakni Pullman Bali Legian Nirwana yang dikelola oleh Accor International di Pantai Kuta, Bali. ELTY mengklaim hotel dengan nilai investasi yang mencapai Rp 300 miliar tersebut merupakan satu-satunya hotal yang berbintang lima di daerah Kuta.

“Pullman Bali Legian Nirwana akan melengkapi potensi wisata dan bisnis di area Kuta, Bali. Selain itu, pembukaan Pullman Bali Legian Nirwana ini turut menandai resminya pengoperasian manajemen hotel oleh Accor International,” uja Marudi Surachman, Direktur Utama PT Bakrie Hotel & Resort, unit usaha PT Bakrieland Development Tbk melalui siaran persnya di Jakarta, Minggu (20/2/2011).

Marudi menambahkan, Pullman Bali Legian Nirwana merupakan Hotel dan Resort bintang lima satu-satunya di Kuta, Bali yang dioperasikan oleh Accor International. Hotel tersebut resmi dibuka pada 17 Februari 2011. “Hotel dan Resort ini juga merupakan produk resort Pullman pertama di Indonesia dan satu-satunya yang berbintang lima di Kuta, Bali,” tuturnya.

GM Marketing PT Bakrie Hotel & Resort, Deden E. Soedarbo menjelaskan terdapat total lima wing alias tower yang terintegrasi dengan tower lainnya. Hotel tersebut, lanjut Deden mempunyai kapasitas 360 unit kamar. “Terdapat 5 tower dan 360 unit kamar di Pullman Bali Legian Nirwana ini,” ujarnya.

Lebih jauh Deden mengatakan, pemilik unit condotel dapat menikmati jaminan pengembalian sewa hingga 6% (dalam US$) selama 3 tahun pertama. Condotel adalah condominium hotel yang mengadopsi konsep hunian dan apartment pada umumnya. Unit condotel Pullman Bali Legian Nirwana dijual strata title kepada investor, kemudian langsung diserahkan kepada operator untuk dioperasikan sebagai hotel. (dru/dru)
Senin, 24/01/2011 18:40 WIB
24 Proyek Tol Mangkrak, Pemerintah Tak Mau Salahkan Mafia Tanah
Ramdhania El Hida – detikFinance

Jakarta – Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto menyanggah adanya permainan mafia tanah terkait terlantarnya proses pembangunan 24 ruas tol. Menurutnya, pembangunan tol tersebut tetap berjalan walaupun baru diselesaikan satu per satu.

“Tidak usah omong mafia-mafia, yang penting kerjaan bisa jalan,” tegasnya saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (24/1/2011).

Menurut Djoko, pembiayaan proyek ini telah siap dengan penjaminan dilakukan oleh PT Penjamin Infrastruktur Indonesia (PII). Saat ini, terdapat tim khusus yang dipimpin Wakil Presiden guna menangani penyelesaian tol tersebut.

“Kita masih jalan terus, ada tim khusus yang dipimpin Pak Wapres, mudah-mudahan bisa berjalan dengan peraturan-peraturan yang ada dan peraturan yang mungkin kita lakukan. Pokoknya kita dorong teruslah,” ujarnya.

Untuk tahap pertama yang sedang dalam proses penyelesaian, lanjut Djoko, adalah tol Cikampek-Palimanan.

“Kita mulai dulu, nanti yang Cikampek-Palimanan dulu, ini sudah hampir selesai, semoga dalam waktu singkat bisa dikerjaan dulu karena jalan tol ini kan saling berkaitan, kalau di sini dibangun yang di sana tak ada, kan tak bisa juga,” jelasnya.

Djoko mengharapkan dengan selesainya pembangunan tol Cikampek-Palimanan tersebut, akan banyak pihak yang tertarik untuk pembangunan kelanjutan ruas tol lain.

“Sekarang yang paling utama kita coba Cikampek-Palimanan, nanti kalau sudah ada, Cirebon ke timur, nanti juga pasti orang terdorong untuk bangun,” ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) telah merampungkan evaluasi 24 proyek tol yang selama ini mangkrak. Hasilnya proyek 24 ruas tol tersebut masih layak untuk diteruskan.

Dari 24 proyek itu, ada 10 proyek tol yang masih dievaluasi kelayakannya karena terkendala kemampuan pendanaan dari pemegang konsesi.

Tol Semarang-Solo, misalnya, berdasarkan hasil evaluasi terakhir, tol itu dinyatakan layak. Tim evaluasi dari BPJT telah bekerja sejak Juli hingga Desember 2010. Evaluasi dilakukan terhadap kelayakan suatu proyek dan kemampuan keuangan pemegang konsesi proyek tol mangkrak.

Selama tahap evaluasi, BPJT meminta mereka memperkuat kemampuan keuangan. Caranya dengan pengalihan saham atau perubahan susunan pemegang saham. Dengan skema tersebut maka beberapa ruas tol yang semula bermasalah, menjadi layak dilanjutkan.

Untuk proyek tol Semarang-Solo ini, selain bantuan dari pemegang saham mayoritas, pemerintah juga memberikan bantuan berupa dana sebesar Rp 1,9 triliun untuk pembebasan lahan dari total kebutuhan dana Rp 6,2 triliun.

Setelah pengumuman evaluasi ini, BPJT dan para pemegang konsesi 24 tol tol itu bakal meneken amandemen Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) pada Maret 2011.

Amandemen terdiri atas restrukturisasi pemegang saham, jadwal pengusahaan jalan tol termasuk pengadaan tanah, konstruksi dan operasi. Pemegang konsesi juga wajib memenuhi kewajiban berupa jaminan pelaksanaan dan biaya pengadaan tanah.

Setelah itu baru 24 proyek dilanjutkan kembali pelaksanaannya mulai April 2011. Total investasi untuk 24 proyek naik menjadi Rp 111,74 triliun padahal sebelumnya cuma Rp 89 triliun. Penyebabnya adalah kenaikan nilai konstruksi dan pembebasan tanah.

(nia/dnl)
CIMB: Rating Sektor Properti Tetap Overweight
Minggu, 22 November 2009 – 11:22 wib
Candra Setya Santoso – Okezone

JAKARTA – PT CIMB Securities Indonesia mempertahankan rating sektor properti pada overweight. Pasalnya, fundamental ekonomi dinilai sudah mulai pulih.

“Kami mempertahankan rating sektor properti pada overweight, karena fundamental ekonomi yang lebih baik, dengan turunnya spread antara bunga kredit dengan bunga SBI (saat ini spread sekitar 200bp adalah tiga kali lebih tinggi dari normal), dan mengantisipasi akselerasi earning pada 2010-2011,” ungkap Retail Research Analis CIMB Securities Indonesia Mastono Ali, dalam buletin CIMB iTrader yang diterima okezone, di Jakarta, Minggu (22/11/2009).

Monthly pre-sales selama Mei hingga Oktober 2009 +30 persen yoy (year on year), namun masih dibawah historic high Rp350bn/bulan pada semeter I-2008. “Kami merevisi RNAV setelah menaikan earning, saat ini sekitar 12-37 persen discount to RNAV, sama seperti midcycle yang lalu,” katanya.

Sementara itu, PT Ciputra Development (CTRA) adalah top pick perusahaan sekuritas asing ini, karena upside potential pada 2010-2011. “Meskipun kami menyadari sentimen negatif yang mungkin muncul dari penambahan saham di Ciputra Surya (CTRS). Namun kami melihat dari segi strategi jangka panjang CTRA dan memberi rating outperform dengan target harga Rp900 per unit dari Rp1.200 per unit. karena mengubah metode DCF menjadi RNAV. Maintain outperform untuk PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dengan TP Rp430 dan outperform untuk PT Summarecon Tbk (SMRA) dengan TP Rp800 per unit,” pungkasnya. (css)
ELTY Klaim Siap Bayar Obligasi Rp289 M

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Minggu, 16 Januari 2011 | 13:26 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mengaku siap melunasi obligasi I tahun 2008 seri A dan sukuk ijarah I tahun 2009 seri A sebesar Rp288,86 miliar.

Hal itu disampaikan manajemen perseroan dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, akhir pekan lalu. Obligasi I Bakrieland Development tahun 2008 seri A jatuh pada 11 Maret 2011 dan sukuk ijarah I Bakrieland Development tahun 2009 seri A pada 7 Juli 2011.

Perseroan pun telah menyiapkan dana untuk melunasi pokok dan bunga pokok maupun fee, cicilan imbalan dan sukuk kepada pemegang obligasi dan suku ksebesar Rp288,86 miliar. Dana tersebut ditempatkan pada bank dan deposito. [mre]
Bakrieland Akan Pasok Ruang Perkantoran 60 Ribu M2
Oleh Eko Adityo Nugroho | Kamis, 13 Januari 2011 | 14:17

JAKARTA – Anak usaha PT Bakrieland Development Tbk, PT Bakrie Swasakti Utama, akan membangun gedung perkantoran seluas 60 ribu meter persegi. Pengembangan tahap awal ditargetkan mulai kuartal IV-2011.

Managing Director/CEO PT Bakrie Swasakti Utama Agus J Alwi mengatakan, gedung perkantoran baru ini akan dibangun di kawasan terintegrasi Rasuna Epicentrum. “Tower gedung perkantoran berada di seberang Bakrie Tower. Ground breaking akan dilaksanakan kuartal IV-2011 dan desain mulai Juni 2011,” ujarnya kepada Investor Daily di kantornya, belum lama ini.

Dia mengatakan, pihaknya menyiapkan lahan untuk pengembangan kantora baru ini seluas 5.000 meter persegi (m2). Ketinggian gedung tersebut diperkirakan 32 lantai dengan luas masing-masing lantai 1.800 m2. Perseroan berharap bisa menambah pasokan ruang perkantoran baru di Jakarta hingga 60.000 m2.

Agus menjelaskan, Bakrie Swasakti Utama menargetkan pembangunan gedung perkantoran ini rampung dalam dua tahun, sehingga ditargetkan mulai beroperasi akhir 2013. Kendati demikian, pihaknya belum bersedia menyebutkan nilai investasi, termasuk sumber pendanaan pengembangan proyek baru ini.

Bakrie Swasakti Utama belum mengagendakan target pemasaran gedung tersebut, termasuk menetapkan jenis ruang perkantoran tersebut, baik hak milik (strata title) atau disewakan.

Pembiayaan pembangunan gedung perkantoran baru ini, menurut dia, berasal dari anggaran project cost Bakrieland untuk properti sepanjang 2011 mencapai Rp 1,5 triliun. “Mudah-mudahan kami dapat (dari dana itu). Tapi, terkadang anak yang sudah besar diminta untuk cari dana sendiri,” kata dia.

Presiden Direktur dan CEO Bakrieland Development Hiramsyah S Thaib sebelumnya menuturkan, Bakrieland menyediakan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 2-2,5 triliun sepanjang 2011. Dana tersebut digunakan untuk membiayai ekspansi bisnis properti dan infrastruktur.

Pihaknya mengalokasikan sebagian besar penggunaan dana untuk project cost properti, pengembang ini menganggarkan sekitar Rp 1-1,5 triliun untuk mengembangkan proyek-proyek baru. Adapun, pembangunan infrastruktur jalan tol dianggarkan sekitar Rp 1 triliun.

“Nilai terbesar alokasi capex untuk sektor properti berkisar Rp 1-1,5 triliun. Dari nilai itu paling besar untuk pengembangan Rasuna Epicentrum, sekitar 30% atau Rp 400 miliar. Kedua terbesar, Bogor Nirwana Residence, Bukit Jonggol Asri, (resort dan perumahan di) Lido, dan apartemen Sentra Timur Residence,” tutur Hiramsyah.

Selain membangun gedung perkantoran baru di kawasan Rasuna Epicentrum, Agus mengungkapkan, perusahaan menargetkan penyelesaian pembangunan kondotel The Groove dan apartemen The Wave sepanjang 2011. Perusahaan memprediksi dua proyek tersebut rampung sebelum akhir tahun ini.

“Untuk The Groove sudah 18 lantai yang terbangun, sedangkan The Wave sekitar 15 lantai. Tapi kami yakin dua proyek ini selesai sebelum akhir 2011,” tutur dia.

Pada 2011, Bakrieland menargetkan pertumbuhan pendapatan sekitar 30-50% atau menjadi sebesar Rp 1,7-1,9 triliun. Tahun ini, perseroan memproyeksikan pendapatan sebesar Rp 1,3 triliun. “Sumber pendapatan terbesar Bakrieland masih dikontribusi sektor perumahan kelas menengah,” kata Hiramsyah.

Menurut dia, penjualan dan penyewaan unit-unit properti yang dikembangkan tahun ini berpeluang menyumbang hingga 95% pendapatan perseroan. Sedangkan sisanya dikontribusikan sektor infrastruktur. Ekspektasi pertumbuhan kinerja keuangan juga ditopang membaiknya sektor properti hingga tiga tahun ke depan. Apalagi, pertumbuhan properti diperkirakan sekitar 20% per tahun, jika kondisi ekonomi kondusif, gencarnya pembiayaan kredit pemilikan rumah, dan stabilnya suku bunga kredit.

Agus menambahkan, penyempurnaan berbagai fasilitas yang tersedia di kawasana seluas 54 hektare menjadi rencana lainnya. Pembuatan fasilitas berupa air yang bisa langsung diminum di seluruh area kawasan ini merupakan salah satu contoh penyempurnaan fasilitas yang ada.

“Itu dari sisi development. Dari pengembangan kawasan kita memang kurang promosi, karena resesi. Tahun ini saya akan dorong promosi sehingga kawasan ini dikenal dan dari sisi penjualan akan menarik,” ucap dia.

Minggu, 26/12/2010 12:38 WIB
Kehadiran ‘Disneyland’ Tak Jamin Hidupkan Bisnis Properti
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Berdirinya taman hiburan kelas dunia, tidak otomatis menarik masyarakat untuk bertempat tinggal di suatu kawasan kota mandiri. Mewujudkan kawasan yang mandiri, pengembang harus menciptakan kekuatan ekonomi baru sehingga penghuni tidak bergantung kepada ibukota sebagai sebagai pusat bisnis.

Demikian disampaikan Associate Director Research Advisory, Cushman & Wakefield, Arief Rahardjo dalam perbincangan dengan detikFinance di Jakarta, Minggu (26/12/2010).

“Konsep development yang sukses harus ada kekuatan ekonomi, penciptaan industri. Jika ada pertumbuhan, misalkan saja pabrik maka akan ada yang bekerja. Baru kemudian ada permintaan akan rumah sederhana, seperti di Lippo Cikarang,” jelas Arief.

Ia menambahkan, pengembangan dengan mengedepankan sarana dan prasarana yang bersifat komersial, tidak menjamin kota tersebut menjadi mandiri. Kekuatan ekonomi tercipta, barulah menciptakan multiplier effect yang berkelanjutan.

“Kalau sudah populasi terbentuk baru butuh pusat komersial. Itupun dilakukan secara bertahap, pertama ruko kemudian mal dan diimbangi dengan sarana sekolah, taman bermain, water boom dan semacamnya,” tambahnya.

Selain penciptaan kekuatan ekonomi, kunci sukses kota mandiri adalah tersedianya infrastruktur yang memandai. Kota mandiri di sekitar Jakarta, seperti Serpong, Bogor, Jonggol ataupun Lido, yang harus tersedia adalah jalan tol ataupun non tol. Ini menjadi pemicu kota mandiri bisa berkembang di masa mendatang.

“Infrastruktur jalan penting. Kita bisa lihat bagaimana BSD, Bintaro, ataupun Alam Sutera berkembang karena ada tol di dalamnya. Kalau kawasan Cibubur, agak kurang berkembang,” tuturnya.

Sebelumnya dikabarkan, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), pemilik land bank terbesar di Jonggol telah menggandeng asing dalam pembangunan dua taman hiburan kelas dunia. Kesepakatan kerjasama ini telah ditandatangani dan pembangunan dua taman hiburan di Jonggol dan Lido. Rencananya proyek akan dimulai pada semester I-2011.

“Dengan (mitra strategis) asing. Lido konsepnya mendekatkan diri dengan alam. Karena dekat dengan Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak Halimun,” imbuh Direktur Utama Bakrieland Hiramsyah S. Thaib beberapa waktu lalu.

Sementara taman bermain di Jonggol berdiri di area seluas 200 ha, dari total lahan 13 ribu ha. Selain dibangun taman bermain, juga akan berdiri beberapa unit hunian dan sarana pendukung lainnya.

“Siap beroperasi di 2012. Di dua tempat Lido dan Jonggol,” papar Hiramsyah.

Anggota DPP Real Estate Indonesia (REI) Teguh Satria bahkan menyatakan bisnis properti di Jonggol dan Lido akan ramai dengan adanya rencana Bakrieland membangun taman hiburan kelas dunia layaknya Disneyland di kedua area tersebut.

(wep/hen)
Senin, 20/12/2010 17:03 WIB
Bakrieland Bangun Taman Hiburan Sekelas Disneyland di Jonggol dan Lido
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) berencana untuk membangun taman hiburan kelas dunia seperti Disneyland di dua area yaitu Jonggol dan Lido, Jawa Barat.

Direktur Utama Bakrieland Hiramsyah S. Thaib mengatakan kesepakatan kerjasama ini telah ditandatangani dan pembangunan dua taman hiburan ini rencananya akan dilakukan mulai semester I-2011 dengan menggandeng mitra asing.

“Dengan (mitra strategis) asing. Lido konsepnya mendekatkan diri dengan alam. Karena dekat dengan Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak Halimun,” imbuhnya di kantornya, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Senin (20/12/2010).

Sementara taman bermain di Jonggol berdiri di area seluas 200 ha, dari total lahan 13 ribu ha. Selain dibangun taman, juga akan berdiri beberapa unit hunian dan sarana pendukung lainnya.

“Siap beroperasi di 2012. Di dua tempat Lido dan Jonggol,” papar Hiramsyah.

Sepanjang tahun 2011, Bakrieland siap tumbuh 30-50% dari total pendapatan sampai akhir tahun ini Rp 1,3 triliun.

Kontribusi pendapatan masih didominasi oleh perumahan, diantaranya Sentra Timur Jakarta, Bogor Nirwana Residence, dan apartemen Taman Saruna.

“Untuk laba belum. Masih dihitung,” pungkasnya.

(wep/dnl)

Agustus 22, 2010

yang lude$ … 220810

Filed under: jalan tol n properti — bumi2009fans @ 9:00 am

Rabu, 28 Juli 2010 | 07:35 oleh Gloria Haraito BISNIS KONDOMINIUMKuartal II, Penyerapan Kondominium Nyaris Ludes

JAKARTA. Maraknya proyek apartemen baru yang meluncur di kuartal II-2010 menjadi titik awal pulihnya pasar apartemen. Pun begitu, lembaga riset Cushman & Wakefield mengamati, pada periode tersebut terjadi penurunan pre-sale sebesar 1,5% dibandingkan dengan kuartal I-2010.

Arief Rahardjo, Kepala Riset Cushman & Wakefield mengatakan, penurunan ini terjadi karena adanya musim libur sekolah di bulan Juni. Belum lagi, banyak kendala pada proyek rusunami atau apartemen bersubsidi dari pemerintah membuat beberapa pengembang menghentikan proyek tersebut dan mengubah proyek menjadi apartemen sederhana milik. “Biasanya kendala yang dihadapi seputar biaya konstruksi dan pembiayaan” ujar Arief.

Tingkat penjualan kumulatif proyek kondominium di Jakarta dan sekitarnya masih sama dengan kuartal I-2010, yakni sebesar 94,1%. Sementara tingkat penjualan pre-sale mencapai 59,4%, atau turun 1,5% dibanding kuartal sebelumnya.

Di periode ini, kondominium kelas menengah-atas dan atas mencatat tingkat pre-sale sebesar 63,1% dan 63,4%. Di sisi lain tingkat pre-sale kondominium kelas menengah mencapai 57,7%. Tingkat pre-sale apartemen sederhana mengalami peningkatan, dari 75,4% pada kuartal I-2010 menjadi 77,4% pada kuartal II-2010.

“Perubahan kualitas dan fasilitas dai proyek rusunami menjadi proyek apartemen sederhana menaikkan aktivitas penjualan,” lanjut Arief. Maklum, proyek ini cukup terjangkau oleh konsumen berpenghasilan menengah ke bawah.

Pasokan hingga 2014

Di sisi lain, pasokan kondominium di kuartal II-2010 mencapai 35.176 unit. Keseluruhan proyek ini akan masuk ke pasar hingga 2014 nanti. Sementara proyek kondominium yang selesai kuartal dua lalu antara lain Maple Park menara B dan proyek apartemen sederhana Gading Nias menara C dan D. “Ini menjadikan total pasokan kumulatif di Jakarta pada kuartal dua lalu mencapai 76.670 unit.

Arief mengatakan, apartemen kelas menengah di kuartal dua mendominasi pasar dengan porsi 61,3%. Di periode yang sama kondominium yang menargetkan kelas menengah atas pun banyak meluncur. Proyek ini antara lain The H-Tower Mutiara Menteng Mansion, Westmark, Puri Cinere, Green Lake Sunter, Silkwood Residence, Margonda Residence III, dan apartemen sederhana Paragon Village. Beberapa proyek lawas yang kembali diluncurkan pun ikut meramaiman pasar. Proyek ini antara lain Green Central yang sebelumnya bernama Starcity dan Menteng Square yang sebelumnya bersegmen rusunami dengan nama Menara Salemba Batavia.

Proyek kelas atas tak ketinggalan meluncurkan unit baru seperti Verde di Kuningan. Proyek ini merupakan renovasi dan peremajaan bangunan lama yang sebelumnya merupakan apartemen khusus sewa yang dikenal dengan nama Menara Budi. Proyek lain yang menyasar kelas menengah atas ialah Tamansari Semanggi. Proyek ini merupakan kelanjutan proyek lama bertajuk Hollywood Residence yang sebelumnya terhenti.

Perekonomian yang baik pun mengerek harga jual apartemen. Untuk apartemen di kawasan central business district (CBD), tumbuh 3,2% menjadi Rp 16,53 juta per meter persegi (m2). Kawasan CBD yang dimaksud misal, Sudirman, Kuningan, Thamrin, Gatot Subroto, dan Satrio. Lalu, di area primer harga jual tumbuh 1,9% menjadi Rp 15,4 juta per m2. Yang dimaksud area primer antara lain Kebayoran Baru, Senayan, Menteng, Pondok Indah, Permata Hijau, dan Kemang.

“Sistem pembayaran tunai dan balloon payment masih menjadi sistem pembayaran yang paling banyak diminati,” lanjut Arief. Alhasil, ia menyimpulkan, membaiknya ekonomi membuat pengembang yakin meluncurkan produk kondominium baru.

Agustus 20, 2010

jangan lupain elty :) 221210 (updt)

Filed under: ELTY, jalan tol n properti — bumi2009fans @ 4:39 pm

Sulap Proyek Jonggol Asri, Bakrieland Siapkan 2 Triliun
Utang Dari Bank-bank Lokal Segera Dicairkan
Selasa, 21 Desember 2010 , 00:39:00 WIB

RMOL.Bakrieland mengandalkan utang dari PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk sebesar Rp 1 triliun untuk menggarap tol Ciawi Sukabumi. Bisnis properti milik Bakrie Group ini juga siap menyulap Kawasan Jonggol, Bogor.

Setelah melihat proyeksi ekonomi pada 2011 yang lebih baik dari tahun ini, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) me­nyiapkan biaya proyek sebesar Rp 2-2,5 triliun pada 2011. Dana tersebut untuk pengembangan beberapa proyek properti dan pengembangan jalan tol.

Presiden Direktur PT Bakrie­land Development Tbk Hiram­syah S. Thaib mengatakan, pem­biayaan proyek ini selain dari ha­sil right issue, juga dari pener­bitan obligasi pada 2011.

“Kemungkinan kita ke­luarkan obligasi. Besarannya be­lum bisa disebutkan secara pasti, namun akan lebih besar dari nilai obligasi yang pernah dike­luar­kan yang sebesar Rp 500 mi­liar,” tegas Hiramsyah di Jakarta, ke­marin.

Selain itu, pihaknya juga akan mencari pendanaan dari kas inter­nal dan standby by facility per­bankan. Dia mengungkapkan, Bakrieland telah mendapatkan fasili­tas perbankan dari bank lo­kal seperti BNI yang hingga saat ini belum dicairkan. Pinja­man tersebut untuk pendanaan proyek tol Ciawi-Sukabumi.

“Dari total dana tersebut, pem­biayaan ter­besar untuk jalan tol Rp 1 tri­liun. Sisa­nya untuk pro­yek properti, apar­te­men dan pe­rumahan,” terang Hiramsyah.

Dia menyebut, salah satu pro­yek perumahan itu Bukit Jonggol Asri seluas 13 ribu hektare (ha). Pengerjaan proyek Jong­gol te­ngah dikebut. Beberapa proyek properti yang akan dikem­bangkan pada 2011 antara lain pengem­bangan sekitar 200 ha la­han di Jonggol. Di kawasan ini, ak­an di­kem­bang­kan residensial dan faktor pe­nunjang seperti se­kolah.

Perseroan juga fokus untuk mengembangkan taman hiburan di Jonggol dan Lido seperti taman hiburan (theme park). “Bakrieland fokus mengembangkan taman hiburan ke depannya,” ujarnya.

Dari dua tempat tersebut, Lido tampaknya yang paling siap un­tuk segera direalisasikan. Kabar yang berhembus, mitra strategis Bak­rieland di Lido adalah pemilik Dis­­ney­land, Amerika Serikat. [RM]
ELTY: Jonggol Asri tak Bebani Kota Jakarta
Headline
IST
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Senin, 20 Desember 2010 | 20:04 WIB

INILAHCOM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) berencana akan mengembangkan Bukit Jonggol Asri dengan tidak membebankan kota Jakarta.

“Bukit Jonggol Asri harus meringankan Jakarta. Nilai tambah Jonggol harus menjadi kota mandiri dan memiliki karakteristik,” ujar Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk, Hiramsyah Thaib, Senin (20/12).

Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini terjadi pergerakan transportasi yang tidak efisien karena jarak tempuh yang begitu panjang. Pengembang dan mindset pun harus diubah sehingga tidak hanya membangun cluster saja. Diharapkan Bukit Jonggol Asri dapat meringankan Jakarta dan tidak membebani jalan tol Jagorawi. Selain itu, untuk mengembangkan proyek Bukit Jonggol Asri ini didukung oleh industri kreatif. “Kita sedang menggodok untuk mengembangkan industri kreatif yang cenderung service jadi tidak hanya industri manufaktur yang dikembangkan,” kata Hiramsyah.

Perseroan juga mengharapkan Bukit Jonggol dapat memiliki karakteristik tersendiri. Pihaknya akan menggodok detail karakteristik untuk proyek Bukit Jonggol Asri. Pada tahap pertama, perseroan akan mengembangkan 200 hektar lahan di Jonggol. Perseroan akan membangun residential dan faktor penunjang seperti sekolah. “Saat ini Bukit Jonggol masih kita susun master plannya. Perlu waktu enam bulan hingga satu tahun untuk menegtahui detail karakteristik Bukit Jonggol,” tutur Hiramsyah.
[cms]

Senin, 20 Desember 2010 | 13:12 oleh Amailia Putri Hasniawati kontan
AKSI KORPORASI ELTY
Suntikan dana US$ 87 juta dari Limitless kepada ELTY molor

JAKARTA. Proyek Rasuna Epicentrum PT Bakrieland Development (ELTY) terancam molor. Sebab, suntikan dana senilai US$ 87 juta oleh mitra strategis ELTY, yakni Limitless, yang sedianya untuk mendanai proyek tersebut ditunda.

Limitless adalah salah satu mitra strategis ELTY yang berasal dari Dubai. Target awal, Desember ini seluruh dana sudah diberikan.

Presiden Direktur ELTY Hiramsyah S Thaib mengonfirmasi berita ini. “Mereka musti dapat ijin dari Dubai dulu, tidak seperti yang sudah-sudah. Tapi diperkirakan kuartal I 2011 akan selesai,” ujarnya.

Namun, lanjut dia, Limitless tetap akan menjadi mitra ELTY pada proyek Rasuna Epicentrum. Limitless pun tengah mencari mitra strategis baru lagi untuk menggelontorkan sisa dananya.

Catatan saja, Limitless masih punya kewajiban untuk menyuntikkan dana sebesar US$ 120 juta kepada ELTY. Hingga saat ini, Limitless baru menyuntikkan dana sebesar US$ 33 juta.
Bakrieland plans no rights issue in five years
Oleh Arif Gunawan Sulistyono | 20 December 2010

bisnis

JAKARTA: PT Bakrieland Development Tbk plans no rights issue in the next five years after conducting a similar action this year.

President Director of Bakrieland Hiramsyah S. Thaib said the shares issuance with preemptive rights (HMETD) is the most secured funding strategy to avoid the debt risk, which once happened to the industry in 1998.

“This is the reason behind the rights issue. We learned from the 1998 crisis when the excess of debt devastated the property industry. However, this year’s rights issue was the last for the next five years,” he said a property outlook 2011, this afternoon.

The property companies, he added, should ideally prioritize internal cash and equity for project funding. The strategy is applied by Indonesian property companies, which somehow help it avoid the 2008 crisis that hit developed countries related to subprime mortgage loans.

In the next year, he added, the company will issue bonds for IDR1 trillion at maximum. The proceeds from the bond issuance will be used to finance the development of new projects.

On the other hand, the company secured a loan facility from a syndication of domestic banks led by PT Bank Negara Indonesia Tbk to finance the construction of Ciawi-Sukabumi toll road. “We haven’t used the facility at all,” said Hiramsyah.

In the closing of first trading session, the Bakrie Group’s ELTY-coded shares weakened 1.24% to IDR160 per share from IDR162 in the opening. The market capitalization reached IDR6.39 trillion. (T06/NOM)

Grup Bakrie Bangun Kawasan Jonggol 35 Ribu Hektar
Senin, 20 Desember 2010 | 15:09 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Grup Bakrie melalui PT Bakrieland Development Tbk berencana mengembangkan kawasan terpadu seluas 35 ribu hektar di Jonggol, Jawa Barat. “Saat ini yang siap dikembangkan seluas 13 ribu hektar. Gambarannya seluas kota Bandung dan lebih luas dari Bogor,” kata Presiden Direktur Hiramsyah S Thaib di Jakarta, 20 Desember 2010.

Seluruh proyek direncanakan seluas 35 ribu hektar, atau sekitar setengah dari luas Jakarta. Pengembangan akan dilakukan dalam jangka 20 hingga 30 tahun ke depan. Pembangunan pertama akan dilakukan tahun 2011 pada lahan seluas 200 hektar.

Jonggol direncanakan sebagai sebuah kawasan terpadu pendukung Jakarta. “Sasarannya bukan untuk orang yang bekerja di Jakarta, Jonggol harus menjadi kota mandiri,” kata dia. Apalagi dia tak yakin orang yang bekerja di Jakarta akan memilih Jonggol sebagai tempat tinggalnya.

Hiramsyah mengakui ada wacana mengenai pemindahan ibukota ke kawasan Jonggol. Menanggapi wacana ini dia mengaku tak tahu menahu. “Pindah pusat pemerintahan atau pusat bisnis itu kewenangan pemerintah. Kami hanya siapkan tempat untuk meningkatkan daya dukung Jakarta,” ujar Hiramsyah.

Kawasan ini direncanakan sebagai kota yang lengkap berisi perumahan, kantor dan fasilitas pendukung lain. Saat ini perusahaan masih melakukan studi tema dan pembuatan masterplan. Kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) proyek ini masih belum selesai. “Kajian AMDAL dilakukan bersamaan dengan pembuatan masterplan,” kata dia.

Rencananya akan dibangun pula jalan tol untuk akses menuju kawasan itu. “Sehingga tak membebani tol Jagorawi,” kata Hiramsyah. Antara lain jalan tol yang menghubungkan Ciawi dan Sukabumi.

Dalam kompleks tersebut Bakrieland akan membangun sebuah theme park atau taman hiburan ala Disneyland seluas 100 sampai 200 ha. Pembangunan akan dimulai paling cepat awal tahun 2012. Untuk mendanai proyek ini perusahaan menggandeng investor asing sebagai mitra.

Pada tahun 2011 Bakrieland menganggarkan belanja proyek hingga total Rp 2,5 triliun. Sumber pendanaan berasal dari dana tunai perusahaan, pinjaman bank dan obligasi. Tahun depan perusahaan berencana menerbitkan surat utang maksimal Rp 1 triliun.

FAMEGA SYAVIRA

ELTY Targetkan Pendapatan Naik30-50% di 2011
Headline
IST
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Senin, 20 Desember 2010 | 13:38 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menargetkan pendapatan tumbuh 30%-50% pada 2011.

“Revenue tumbuh 30%-50% pada 2011, akan dicapai Rp1,7 triliun hingga Rp1,9 triliun,” ujar Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk, Hiramsyah Thaib, Senin (20/11).

Hiramsyah menuturkan pendapatan terbesar masih didapatkan dari properti. Sebagian besar didapatkan dari segmen kelas menengah. “Pendapatan terbesar kita masih dari perumahan,” kata Hiramsyah.

Selain itu, Perseroan juga akan menerbitkan obligasi pada semester pertama 2011. Diperkirakan penerbitan obligasi senilai Rp1 triliun. Hiramsyah menuturkan obligasi tersebut akan digunakan pembiayaan proyek pada 2011.

Perseroan menganggarkan pembiayaan proyek sebesar Rp2 triliun hingga Rp2,5 triliun pada 2011. Pembiayaan proyek itu didapatkan dari obligasi, dana internal dan fasilitas pinjaman. Perseroan mendapatkan fasilitas pinjaman sebesar Rp1 triliun dari beberapa bank salah satunya BNI yang belum dicairkan.

Selain mengembangkan proyek properti, Perseroan berencana untuk tambah lima ruas jalan tol dalam tiga tahun ke depan. Hiramsyah mengatakan Perseroan berencana tambah jalan tol di Jawa dan luar pulau Jawa. “Mudah-mudahan juga di luar pulau Jawa seperti Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi, tapi itu masih lama,” tambah Hiramsyah.

Sedangkan proyek properti yang akan dikembangkan pada 2011, Perseroan akan mengembangkan sekitar 200 hektar lahan di Jonggol pada tahap pertama. Hiramsyah menuturkan direncanakan perseroan akan mengembangkan residential dan faktor penunjang seperti sekolah pada 2011.

Perseroan juga fokus untuk mengembangkan taman hiburan di Jonggol dan Lido. Hiramsyah mengatakan Perseroan akan mengembangkan taman hiburan sesuai karakteristik daerah tersebut. Selain itu, pihaknya memilih mengembangkan taman hiburan mengingat kebutuhan hiburan menjadi salah satu hal penting bagi masyarakat. [cms]

Kepemilikan properti oleh investor asing di Indonesia sangat baik untuk mendorong pertumbuhan industri perumahan. Intensifnya pembahasan peraturan kepemilikan asing oleh DPR dan Pemerintah, membawa angin segar bagi pertumbuhan pasar properti tahun 2011 yang diprediksi mencapai 20%. Idealnya, kepemilikan properti oleh asing adalah 99 tahun.

Menurut Direktur Utama PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), Hiramsyah Thaib, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang belum berpihak atas kepemilikan properti oleh asing. Padahal dengan langkah tersebut, pasar properti dalam lebih kompetitif.

“Kepemilikan asing tidak mengkhawatirkan. Ini akan lebih kompetitif. Ini positif bagi industri properti. Mereka (asing) juga lebih menarik meski bukan sesuatu yang baru. Kita tinggal satu-satunya negara yang belum menerapkan,” jelas Hiramsyah di Marketing Gallery Rasuna Epicentrum, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Senin (20/12/2010).

Ia menambahkan, dengan telah disahkan UU Perumahan dan Kawasan Pemukiman oleh DPR pekan lalu, menjadi pemicu bagi pengembang properti untuk meningkatkan usahanya. Khususnya untuk kawasan terpadu yang berada di sekitar Jabodetabek.

Dalam UU tersebut, memang belum mengatur secara rinci tentang kepemilikan properti oleh asing. Namun dalam UU tersebut dinyatakan, pemenuhan kebutuhan hunian untuk orang asing hanya dapat menghuni atau menempati rumah dengan cara hak sewa atau hak pakai yang pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Jadi, perlu ada peraturan turunan untuk merinci hal tersebut.

Para pengembang menilai, jangka waktu ideal kepemilikan properti oleh asing adalah 99 tahun. Ini mengacu pada aturan yang telah diterapkan di banyak negara. Memang masih ada perdebatan akan hal ini, namun jika keputusan masa kepemilikan hanya 70-80 tahun, Hiramsyah pun menyambut positif.

“Masa berlaku 99 tahun, itu idealnya bagi kita. Tapi kalau REI (Real Estate Indonesia) bilang 70-80 tahun, itu juga sudah cukup. Dasar pertimbangannya usia hidup orang kan sekitar itu,” tambahnya.

Selama ini, kepemilikan asing atas properti hanya sebatas hak pakai. Itupun dibatasi selama 26 tahun dan dapat diperpanjang. Perpanjangan masa hak pakai inilah yang menjadi penghambat laju pertumbuhan properti oleh asing. “Ini terlalu pendek, dan diperpanjang. Inilah yang menimbulkan ketindakpastian,” tambahnya.

ELTY merupakan perusahaan pengembang properti terintegrasi. Anak usaha grup Bakrie ini memiliki 4 unit usaha, diantaranya City Property, Landed Residential, Hotel and Resort dan infrastruktur terkait properti. Selama ini, tingkat hunian properti milik perseroan yang ada di tengah kota, Taman Rasuna, sebagian besar dihuni oleh orang asing. Sebanyak 2000 unit, atau 50% dari total hunian dihuni orang Korea, dan Taiwan.

Jika peraturan turunan kepemilikan asing rampung di tahun 2011, maka seluruh unit properti perseroan akan semakin berkembang.

Sumber: detikcom
Selasa, 14 Desember 2010 | 12:04 oleh Barratut Taqiyyah kontan
SAHAM ELTY
Outlook ELTY positif seiring pembangunan proyek tol Ciawi-Sukabumi

JAKARTA. Saat ini, PT Bakrie Development (ELTY) tengah berupaya menyelesaikan sejumlah proyek. Salah satunya, pembangunan kontruksi seksi I jalan tol Ciawi-Sukabumi yang bakal dimulai bulan Mei 2011.

Menurut Kepala Riset eTrading Securities Betrand Reynaldi, pembangunan akses jalan tol Ciawi-Sukabumi tersebut merupakan integrated project dari perusahaan property and development Group Bakrie.

“Kalau melihat rencana jangka panjang dari proyek Bakrie Nirwana Residence dan Resort yang berada di sekitar Sukabumi (Lido), maka infrastruktur ini memberikan nilai tambah yang cukup signifikan untuk property, maupun resort tersebut,” urai Betrand. Dia lantas menjelaskan, akses yang mudah bagi para penghuni maupun pengunjung darah properti ELTY sangat diuntungkan dengan adanya proyek ini.

Selain itu, pembangunan jalan tol ini pada akhirnya juga menambah bottom line atau net income perusahaan. “Tidak hanya dari bisnis propertinya, ELTY juga akan mendapat recurring income atau pendapatan perusahaan secara rutin dari pengelolaan jalan tol tersebut,” urainya.

Itu sebabnya, prospek dari proyek tersebut sangatlah menggembirakan bagi perusahaan dan juga investor. Hasil survei yang diberikan oleh Bloomberg untuk saham ELTY ini adalah: empat analis merekomendasikan buy, enam analis merekomendasikan hold, dan dua analis merekomendasikan sell. Adapun enam dari 12 analis mematok target harga di level Rp 195.

Jelang penutupan pukul 11.55, saham ELTY naik 1,28% menjadi Rp 158.

Reliance Securities
Bakrieland Development (ELTY)
Buy
Rp 250

2010-12-13 10:33 AM
Kontribusi bisnis jalan tol terhadap total pendapatan ELTY bakal membesar. ELTY akan memulai pembangunan konstruksi seksi I tol Ciawi-Sukabumi pada tahun depan. Hingga 30 Juni 2010, bisnis jalan tol menyumbang Rp 28,81 miliar atau 5,36% dari total pendapatan.

Minggu, 12 Desember 2010 | 12:27 oleh Sam Cahyadi kontan
PEMBANGUNAN TOL CIAWI-SUKABUMI
Pembangunan seksi I Tol Ciawi-Sukabumi mulai Mei 2011

BOGOR. Pembangunan kontruksi seksi I jalan tol Ciawi-Sukabumi bakal dimulai bulan Mei 2011. “Pasalnya, seluruh pembebasan tanah seksi I Ciawi-Cicurug bakal selesai bulan Maret 2011,” ujar Hiramsyah S. Thaib, Direktur Utama PT Bakrieland Development Tbk kepada KONTAN, Sabtu (11/12) lalu.

Menurut Hiramsyah, pembebasan tanah untuk seksi I berjalan lancar sehingga pembangunan konstruksi tol bisa berjalan sebelum pertengahan 2011. Sampai saat ini pembebasan tanah untuk ruas tol sepanjang 14,5 kilometer (km) sudah lebih dari 30%. Sebelumnya, Hiramsyah mengatakan sampai pertengahan 2010 lalu pembebasan tanah mencapai 10%.

Salah satu cepatnya pembebasan tanah di seksi adalah kepemilikan tanah yang seluruhnya dimiliki masyarakat. Sebelumnya, Direktur Pengembangan Usaha dan Investasi PT Jasa Sarana, Harya Mitra Hidayat mengatakan, untuk seksi I tidak ada tanah milik PT Perkebunan Nusantara maupun Kehutanan yang dilewati. Alhasil, tidak ada kendala dalam pelaksanaan pembebasan tanah.

Sekadar informasi, tanah yang harus dibebaskan untuk seksi I Ciawi-Cicurug mencapai 165 hektare (ha). Alokasi anggaran untuk pembebasan tanah seksi I itu mencapai Rp 400 miliar. “Pembebasan tanah masih dilakukan PT Jasa Sarana, BUMD Provinsi Jawa Barat,” imbuh Hiramsyah.

Jalan tol Ciawi-Sukabumi merupakan proyek PT Trans Jabar Toll Road. PT Bakrie Toll Road menguasai 60% saham PT Trans Jabar Toll Road, PT Jasa Sarana sebesar 25% saham dan Grup Bukaka 15% saham.

Setelah pembebasan tanah selesai pada bulan Maret, lanjut Hiramsyah, persiapan pembangunan konstruksi langsung dilaksanakan. Pembangunan kontruksi yang diperkirakan menelan biaya Rp 1,9 triliun itu diperkirakan bakal selesai selama 18 bulan hingga 24 bulan. “Targetnya, ruas tol Ciawi-Cicurug sudah beroperasi pada 2014,” kata Hiramsyah.

Setelah seksi I selesai, proyek tol Ciawi-Sukabumi akan berlanjut ke seksi II, yakni Cicurug-Cibadak sepanjang 11,9 km, Cibadak-Sukabumi Barat sepanjang 13,7 km, dan Sukabumi Barat-Sukabumi Timur sepanjang 13,4 km.

Bakrieland Buka Aston Bogor Hotel & Resort
“Bogor masih kekurangan hotel bertaraf internasional jadi peluangnya cukup besar.”
Sabtu, 11 Desember 2010, 20:32 WIB

Arfi Bambani Amri, Purborini

VIVAnews – PT Bakrieland Development Tbk melalui unit usaha landed residential Bogor Nirwana Residence membuka Aston Bogor Hotel and Resort.

“Ini bagian dari komitmen kami tahun ini,” kata Presiden Direktur Bakrieland, Hiramsyah S Thaib, di Bogor, 11 Desember 2010.

Aston Bogor Hotel & Resort memiliki 39 unit dan dilengkapi condotel atau condominium hotel sebanyak 84 unit. “Kondotel ini sudah sold out,” kata Direktur Pemasaran Bakrie Nirwana Residence, Jo Eddy Respati.

Bakrie Nirwana akan membangun satu menara lagi untuk pembangunan kondotel yang diperkirakan selesai pada desember 2011. Menara baru itu akan menyediakan 100 unit kamar dengan harga Rp 17 juta per meter persegi.

Jo Eddy mengatakan investasi kondotel pada dua tahun pertama akan memberikan nilai imbal balik sebesar 20 persen dari developer. “Yield yang cukup tinggi dibandingkan bunga deposito bank,” kata dia.

Ia menambahkan, pembeli dapat langsung menjual setelah dua tahun. Meski begitu, jika pembeli ingin mempertahankan kondotelnya, return pada tahun selanjutnya bisa mencapai 15 persen. “Karena setiap tahunnya nilai properti naik hingga 20 persen,” kata Jo Eddy.

Menurut dia, sebanyak 50 persen dari pembeli kondotel berasal dari Jakarta dengan usia masa produktif antara 35-45 tahun.

Aston Hotel and Resort dibangun pada area seluas 3,8 hektar dengan empat tower yang terdiri dari 123 kamar dan condominium. Hotel ini terintegrasi dengan area komersial dan hiburan Nirwana Epicentrum, Bogor Nirwana Residence.

Menurut Vice President Sales Marketing Aston International, Nobert Vas, hotel ini merupakan hotel ke tiga belas di Indonesia dan hotel ke tiga bersama PT Bakrieland Development. “Bogor memiliki market  yang luas, tingkat occupancy hotel di sini selalu tinggi, dan Bogor masih kekurangan hotel bertaraf internasional jadi peluangnya cukup besar,” kata dia.

Ia menargetkan 45 persen dari tingkat hunian berasal dari pelanggan korporasi dan pemerintahan. “Banyak pengusaha dari luar negeri yang datang untuk berbisnis di sini, kami berharap hotel ini juga dapat memberikan nilai tambah pada segi bisnisnya,” kata Nobert.

• VIVAnews

ELTY Akan Bayar Kupon Bunga ke-11
Headline
IST
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Selasa, 7 Desember 2010 | 18:35 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menyiapkan dana pembayaran kupon obligasi I ELTY 2008 sebesar Rp15,54 miliar.

Hal itu disampaikan manajemen ELTY dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (6/12). Ada pun kupon bunga obligasi ke-11 seri A sebesar Rp6,54 miliar dan seri B sebesar Rp8,99 miliar. Dana tersebut akan dibayar selambat-lambatnya pada 10 Desember 2010.

Seperti diketahui, pokok utang tersebut sebesar Rp500 miliar dengan tingkat suku bunga sebesar 11,9% pada seri A dan 12,85% pada seri B. Peringkat obligasi tersebut BBB dengan outlook negatif dari PT Pefindo. [ast]
Bakrieland siapkan investasi Rp2 triliun
Jumat, 26/11/2010 19:43:05 WIB bisnis
Oleh: Natalina Kasih Wasiyati
JAKARTA: PT Bakrieland Development Tbk mengalokasikan dana Rp2 triliun pada 2011 yang akan digunakan untuk membangun sekitar 1.000 unit rumah untuk pengembangan Bogor Nirwana Residence (BNR), termasuk infrastrukur pendukungnya.

Direktur Pemasaran BNR, unit usaha Bakrieland Development Tbk, Jo Eddy Raspati mengatakan kawasan Bogor dinilai bakal menjadi daerah yang potensial untuk mengembangkan bisnis rumah tapak (landed house).

Menurut dia, dalam beberapa tahun mendatang, Bogor akan menjadi kawasan hunian yang banyak dicari masyarakat setelah Tangerang (Serpong) dan Bekasi, mengingat akses infrastruktur yang mendukung dan kondisi alamnya yang masih lestari.

“Kami optimistis, bisnis landed house dalam jangka waktu 5 sampai 6 tahun mendatang masih sangat menjanjikan, untuk itu perusahaan menargetkan membangun 1.000 rumah lagi di kawasan ini. Total investasi termasuk pembangunan infrastruktur mencapai Rp2 triliun,” katanya, hari ini.

Dia menuturkan pengembangan BNR hingga saat ini masih terus berjalan yaitu pembangunan infrastruktur jalan akses masuk kawasan perumahan serta realisasi perumahan yang mencapai 1.200 unit rumah pada tahun ini, di mana 700 unit di antaranya telah terjual.

Lokasi BNR yang berada di kaki Gunung Salak dengan ketinggian 200 meter- 800 meter di atas permukaan laut ini menjadi nilai lebih dari lokasi lahan yang dimiliki Bakrieland untuk pengembangan kawasan tersebut seluas 1.200 hektare.

“Konsep pembangunan kami yaitu tetap menjaga ruang terbuka hijau seluas 60%, sisanya untuk pembangunan perumahan. Sementara itu, luas lahan yang sudah dikembangkan saat ini mencapai 200 hektare,” ujarnya.

Eddy menuturkan saat ini BNR telah membangun klaster utama di lahan 40 hektare yang di dalamnya terdapat 1.200 rumah yang dibagi lagi ke dalam lima klaster, yang dilengkapi dengan kawasan bisnis, tempat rekreasi The Jungle, mal, rumah sakit, Universitas Bakrie, hotel dan Resort Aston yang akan beroperasi 2011. (zuf)

`Perlu terobosan soal properti orang asing’
JAKARTA:

Kalangan pengembang sejak 11 November lalu memiliki nakhoda baru yakni Setyo Maharso sebagai ketua umum DPP Realestat Indonesia (REI) menggantikan F. Teguh Satria.

Berbagai masalah yang telah bertahun-tahun belum terpecahkan segera mengadang Setyo. Sebut saja soal pemilikan properti oleh orang asing, pembiayaan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), pembangunan 1.000 menara rusunami dan penerapan aturan tentang lahan telantar. Berikut petikan perbincangan Bisnis dengan lelaki kelahiran Semarang, 4 November 1958 itu. Apa yang dikerjakan dalam waktu dekat oleh kepengurusan baru REI? Apa tantangan terberat?
Tantangan sekarang lebih berat. Eranya lain. Setelah reformasi, dengan otonomi daerah, tidak tersentralisasi, maka saya mengajak teman-teman di daerah dalam kepengurusan ini, agar mereka bisa langsung tahu permasalahan, bisa action, bisa menyelesaikan masalah.

Selama 3 bulan pertama kami akan konsolidasi yang memba has dua isu besar yakni pembiayaan dan regulasi.

Kami baru bahas bersama Bank BNI, kami mau beralih dari kredit konstruksi ke kredit modal kerja. Kalau ini bisa terlaksana, akan membantu pengembang-pengembang di daerah.

Namun, dengan pembiayaan yang sudah kita siapkan, tanpa regulasi yang baik, itu tidak akan jalan. Dalam hal ini perizinan masih high cost economy.

Kita juga akan melihat PR-PR kemarin yang belum selesai, akan kami selesaikan. Seperti penerapan ketentuan tanah telantar. Kemarin ada kasus di Palu, ada lahan pengembang yang terancam ditetapkan sebagai tanah telantar.

Apa lagi pembenahan terkait de ngan regulasi yang menjadi fo kus penyelesaian?
Kepastian hukum, termasuk regulasi mengenai pemilikan properti oleh orang asing. Kami berharap ketentuan pemilikan properti oleh orang asing bisa segera dikeluarkan tanpa harus mengubah UU Pokok Agraria [UUPA]. Jadi, kita lihat kemungkinan haknya yang diubah men jadi hak pakai.

Hunian untuk MBR masih menjadi perhatian?
Tentu, itu kan salah satu roda ekonomi anggota REI. Kira-kira sekitar 60% sampai 70% anggota REI menggarap segmen itu.

Anggota REI masih ber harap pada pemerintah mengenai pembangunan 1.000 menara rusunami?
Ya. Di DKI Jakarta saja saat ini terdapat 200 menara rusunami.
Masalahnya sekarang, regulasinya bagaimana.
Kalau untuk KPR [kredit pemilikan rumah] atau FLPP [fasilitas li kuiditas pembiayaan perumahan]-nya nanti berjalan dengan bagus maka proyek itu bisa jalan.

Sekarang masih dilakukan sosialisasi tentang FLPP.

FLPP cukup bisa diterapkan?
Program baru tentu masih ada kekurangan. Itu harus kita akui, tidak bisa sempurna. Untuk menambah kesempurnaan itu, REI memberikan masukan, misalnya masalah perpajakannya.

Akan lebih baik dari program subsidi KPR sebelumnya?
Ya, kami melihatnya cukup menarik meskipun masih ada yang berpendapat bahwa bunganya kurang kecil. Tapi biar lah nanti sambil berjalan kita hitung lagi.

Mengenai pemilikan properti oleh orang asing, sebenarnya perkembangan terakhir di Bali [ketika dilaksanakan Kongres The Federation Internationale des Adminstrateurs de Biens Conseils et Agent Immobiliers/Federasi Realestat Internasional pada Mei 2010], bagaimana?
Belum ada [perkembangannya], sekarang [penetapan ketentuan pemilikan properti oleh orang asing] itu di tangan BPN [Badan Pertanahan Nasional].

Terkait soal pemilikan properti oleh orang asing ini, sebenarnya kalau mau mengubah undangundang [UUPA] ya susah. Maka itu harus ada terobosan-terobosan, tetapi bisa memayungi hukum itu [tidak menyimpang dari hukum], misalnya perubahan jenis-jenis hak ke hak pakai. Kita sebagai orang lokal harus mau membeli dengan hak pakai itu.

Pewawancara: IRSAD SATI & M. SYAHRAN W. LUBIS
Mengapa Apartemen di Jakarta Laris Manis
Sempitnya lahan di Jakarta menjadikan apartemen sebagai solusi tempat tinggal.
Selasa, 23 November 2010, 06:02 WIB
Hadi Suprapto, Fina Dwi Yurhami

VIVAnews – Apartemen di Jakarta masih menjadi sektor yang menarik bagi para pengembang properti. Meskipun hunian ini memiliki segmen terbatas, nyatanya penjualan apartemen laku keras. Banyaknya apartemen yang langsung ludes di tahap-tahap awal penjualan.

Contoh saja apartemen Reggata, Pantai Mutiara, Pluit, Jakarta Utara. Sejak dipasarkan pada 2008, dari 3 tower yang telah selesai dibangun, yaitu Dubai, Monte Carlo, dan Miami, penjualannya sudah mencapai 85 persen. Kini Regatta memasuki pembangunan tower keempat yang sedang dalam tahap penyelesaian interior dan akan dibuka pada 28 November ini.

Chandra M Makmoen, General Manager Badan Kerjasama Mutiara Buana, pengembang Apartemen Reggata, menjelaskan, bisnis properti khususnya apartemen pada tahun ini cukup baik. Masyarakat kelas atas, ceruk pasar apartemen, menilai bahwa apartemen bisa menjadi alternatif investasi yang cukup menggiurkan.

Selain itu, bagi para pengusaha yang lebih sering melakukan perjalanan setiap hari, tinggal di apartemen menjadi lebih praktis. Terlebih jika lokasinya strategis dan mudah dijangkau, tentu dapat mempersingkat waktu.

“Alasan lain, biasanya mereka membeli apartemen untuk anak-anak mereka yang baru pulang dari luar negeri.”

Meski demikian, Chandra mengakui masih banyak masyarakat yang belum terbiasa dengan budaya tinggal di apartemen. “Orang-orang yang tidak biasa akan stres, tinggal di lingkungan tertutup, tidak semua orang bisa masuk,” ujarnya.

Namun Chandra tidak merasa khawatir dengan kondisi tersebut, karena apartemen memiliki pasar tersendiri. “Nilai jual apartemen kan hunian ekslusif. Biasanya mereka mencari tempat tinggal yang bisa digunakan untuk aktivitas olahraga, belanja, dan bermain dalam satu tempat, ” katanya.

Prananda Herdiawan, manager komunikasi korporat PT Intiland Development Tbk juga mengatakan hal yang sama. Menurut dia, makin sempitnya lahan di Jakarta, menjadikan apartemen sebagai solusi bagi masyarakat saat ini, khususnya kalangan mengengah ke atas.

“Keterbatasan lahan, membuat tanah di Jakarta semakin mahal, ditambah kesemrawutan kota membuat banyak orang memilih tinggal di apartemen,” katanya.

Tingginya minat pembeli, terlihat dari penjualan One Park Resindencies, Gandaria, Kebayoran Baru yang dikembangkan Intiland. Dari 3 tower dengan jumlah 379 unit apartemen, sejak ditawarkan Februari lalu sudah terjual 85 persen.

“Penjualan bagus, khususnya penthouse,” ujar Prananda.

Menurut dia, apartemen telah menjadi salah satu penyumbang terbesar Intiland pada kuartal 3 tahun ini. Penjualan sektor residensial, yakni rumah dan apartemen, memberikan kontribusi sebesar Rp625 miliar atau 87,6 persen dari total pendapatan perseroan. Jumlah tersebut melonjak sebesar 257 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
• VIVAnews
Evaluasi tol harus sesuai jadwal
OLEH MIA CHITRA DINISARI Bisnis Indonesia
Ia berharap pemerintah segera menyelesaikan hasil evaluasi pemerintah segera menyelesaikan 24 ruas tol pada kuartal I/2011. (

Komitmen pemerintah soal pembebasan lahan dipertanyakan
JAKARTA: Asosiasi Tol Indonesia berharap pemerintah segera menyelesaikan hasil keseluruhan evaluasi 24 ruas tol pada kuartal I/2011, sesuai dengan target yang ditetapkan pemerintah. Ketua ATI Fatchur Rochman mengatakan kepastian penyelesaian evaluasi itu diperlukan agar proses kelanjutan proyek dapat segera dilaksanakan secepatnya.

Apalagi, selama ini pengusaha sudah menunggu kurang lebih selama 6 tahun untuk pembangunan ruas tol tersebut.

Meski demikian, dia menilai saat ini proses evaluasi sudah mulai menunjukkan perkembangan yang cukup positif, di mana pemerintah telah menerima hasil laporan dari seluruh pemilik konsesi tol.

“Ini masih proses awal, karena masih ada evaluasi kelayakan uji proyek dan evaluasi business plan masing-masing proyek. Karenanya kami berharap evaluasi terus fokus, sehingga rampung sesuai rencana,” ujarnya akhir pekan lalu.
Kepala Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) Achmad Gani mengatakan saat ini proses evaluasi masih terus berlangsung, dan diharapkan bisa diselesaikan secepatnya.

Menurut dia, proses evaluasi memang memerlukan waktu yang cukup panjang untuk memastikan kelayakan proyek dan kelancaran pembangunannya, sehingga tidak lagi mandek seperti yang terjadi sebelumnya.

“Kami masih terus mengevaluasi, jika sudah rampung tahapan ini, pasti akan kami umumkan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi V DPR Muhidin M.

Said mempertanyakan evaluasi sejumlah ruas tol mengingat pemerintah belum memberikan komitmen yang jelas dalam melaksanakan pembebasan tanah.

“Seharusnya pemerintah ikut mendukung pembebasan tanah jalan tol mengingat harga tanah
lah ruas tol mengingat pemerins tah belum memberikan komit men yang jelas dalam melaksana kan pembebasan tanah. t “Seharusnya pemerintah ikut mendukung pembebasan tanah jalan tol mengingat harga tanah j saat ini sudah mengalami kenaikan berkali-kali lipat karena tidak adanya kebijakan yang jelas dan tegas,” katanya seperti dikutip Antara, kemarin.

Muhidin mengatakan investor jangan disalahkan kalau tidak
tur termasuk jalan tol,“ ujar dia.

DPR sampai saat ini masih menunggu pemerintah untuk membuat draf undang-undang pembebasan tanah bagi fasilitas umum, tetapi sampai saat ini belum terealisasi, ujarnya. kunjung memulai m e l a k s a n a k a n pembebasan tanah jalan tol apalagi pemerintah belum memberikan kepastian dalam pelaksanaan di lapangan.

Dia mengungkapkan persoalan pembebasan tanah dalam pembangunan jalan tol sudah pernah diagendakan dalam Infrastructure Summit 2008, tetapi tidak ada tindak lanjutnya sampai saat ini.

Pemerintah dinilai lambat dalam mengeluarkan kebijakan pembebasan tanah sehingga harga tanah melonjak seperti saat ini.

“Seharusnya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 7%, pemerintah harus mendahulukan pembangunan infrastruktur termasuk jalan tol,” ujar dia.

DPR sampai saat ini masih menunggu pemerintah untuk membuat draf undang-undang pembebasan tanah bagi fasilitas umum, tetapi sampai saat ini belum terealisasi, ujarnya.
Sehingga, jelasnya, kalau harga tanah sudah naik seperti sekarang ini tidak ada pilihan pemerintah harus memberikan dukungan dana untuk pembebasan tanah.

Menurut dia, harga yang ditanggung pemerintah sebesar 10% sudah tidak memadai lagi, kalau sampai investor disuruh menanggung dapat dipastikan tidak ada yang sanggup melaksanakan.

Ketua Kadin Indonesia bidang Infrastruktur Lukman Purnomosidi mengatakan persoalan jalan tol sudah ruwet, bahkan macet.

Dia menjelaskan ketika National Summit 2008 diselenggarakan, semua permasalahan dan rekomendasi sudah disepakati bersama antara Kadin-Pemerintah.

Setelah itu, pemerintah merevisi Perpres mengenai Public Private Partnership (Perpres No.
13/2010) kemudian ditindaklanjuti Permen PU No. 6./2010 yang sekarang menjadi dasar dalam evaluasi investor Jalan tol.

“Sayang sekali ternyata Permen PU tersebut isinya hanya soal evaluasi, sehingga tidak menjawab persoalan pokok yang telah disepakati seperti masalah penurunan kelayakan proyek akibat terlambat pembebasan lahan, dan masalah kebijakan pembebasan lahan untuk kepentingan umum.“

(ZUFRIZAL) (mia.chitra@bisnis.co.id)
EMAIL

Lahan Tol Telat Dibebaskan, Harga Melonjak
Pembangunan jalan tol tak akan sukses bila selalu terhalang permasalahan pembebasan lahan.
Senin, 22 November 2010, 07:40 WIB
Antique
Jalan tol Cipularang saat baru dibuka (VIVAnews/Muhammad Firman)

VIVAnews – Indonesia mengalakkan pembangunan infrastruktur sejak dua tahun lalu (2008), termasuk pembangunan jalan tol. Namun, hal tersebut selalu terbentur pada masalah pembebasan lahan.

Bahkan, revisi Peraturan Presiden (Perpres) 13/2010) tentang Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur dinilai belum mampu mempercepat konstruksi.

Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk Frans S Sunito mengakui, pembangunan jalan tol tidak akan sukses bila selalu terhalang permasalahan pembebasan lahan. “Jadi, kendala utama pembangunan jalan tol adalah lahan. Karena itu, perlu dukungan pemerintah,” kata dia kepada VIVAnews di Jakarta.

Anggota Komisi V DPR juga mempertanyakan evaluasi sejumlah ruas tol, mengingat pemerintah dinilai belum memberikan komitmen yang jelas dalam melaksanakan pembebasan tanah.

“Seharusnya, pemerintah ikut mendukung pembebasan tanah jalan tol, karena harga tanah saat ini sudah naik berkali-kali lipat,” kata Wakil Ketua Komisi V DPR, Muhidin M Said dalam keterangannya.

Muhidin menuturkan, investor jangan disalahkan bila tidak kunjung melaksanakan pembebasan tanah jalan tol bila pemerintah belum memberikan kepastian dalam pelaksanaannya di lapangan.

Ia mengakui, persoalan pembebasan tanah dalam pembangunan jalan tol sudah pernah diagendakan dalam “Infrastructure Sumitt 2008”, tetapi tidak ada tindak lanjutnya sampai saat ini. Sepertinya, pemerintah lambat dalam mengeluarkan kebijakan pembebasan tanah sehingga harga tanah melonjak seperti saat ini.

“Kalau ingin mencapai pertumbuhan ekonomi di atas tujuh persen, pemerintah harus mendahulukan pembangunan infrastruktur termasuk jalan tol,” ujar dia.

Muhidin menambahkan, DPR sampai saat ini masih menunggu pemerintah membuat draf undang-undang pembebasan tanah bagi fasilitas umum tetapi sampai saat ini belum terealisasi. “Tentunya, kalau harga tanah sudah naik seperti saat ini tidak ada pilihan pemerintah harus memberikan dukungan dana untuk pembebasan tanah,” kata dia.

Menurut dia, harga yang ditanggung pemerintah sebesar 10 persen sudah tidak memadai lagi, kalau sampai investor disuruh menanggung dapat dipastikan tidak ada yang sanggup melaksanakan.

Ketua Kadin Indonesia bidang Infrastruktur, Lukman Purnomosidi juga mengatakan persoalan jalan tol sudah ruwet bahkan macet.

Menurutnya, saat Nasional Summit 2008 diselenggarakan, semua permasalahan dan rekomendasi sudah disepakati bersama antara Kadin-Pemerintah. Pemerintah merevisi Perpres 13/2010, kemudian ditindaklanjuti Permen PU 6/2010 yang sekarang menjadi dasar dalam evaluasi investor Jalan tol.

Sayang sekali, Permen PU tersebut isinya hanya soal evaluasi, sehingga tidak menjawab persoalan pokok yang telah disepakati seperti masalah penurunan kelayakan proyek akibat terlambat pembebasan lahan dan masalah kebijakan pembebasan lahan untuk kepentingan umum.

“Inti masalah, karena proyek-proyek jalan tol lima tahun lalu dilelang dalam kondisi lahan belum dibebaskan dan perangkat aturan juga belum ada. Akibatnya, timbul masalah penundaan, selanjutnya biaya proyek membengkak sehingga kelayakannya menjadi turun,” kata Lukman.

Seharusnya, dia menambah, hal itu cepat ditanggapi pemerintah, untuk berbagi beban, berapa yang ditanggung pemerintah (dalam bentuk dukungan), berapa ditanggung masyarakat (dalam bentuk tarif), dan berapa ditanggung investor (dalam bentuk kenaikan Investasi).

“Kondisi saat ini, posisinya menggantung, semua menunggu evaluasi. Padahal, evaluasinya itu sendiri belum akan menjawab permasalahan tersebut karena evaluasinya hanya akan menyimpulkan (kembali) kelayakan proyek dan siapa investor yang tidak layak (sehingga perlu menggandeng investor baru),” tutur Lukman.

Ia mencontohkan, kebutuhan infrastruktur jalan tol sudah sangat mendesak seperti kehadiran jalan tol Lingkar Luar Jakarta yang sampai saat ini belum tersambung-sambung. Padahal, keberadaan jalan tol itu sudah sangat mendesak bagi kelancaran arus barang dan jasa dari berbagai kawasan industri di pinggir Jakarta yang sering terhambat akibat kemacetan lalu lintas dan akhirnya akan menghambat pertumbuhan ekonomi dalam 3 – 5 tahun mendatang.

Lukman menuturkan, menunggu evaluasi sedang berlangsung, perlu ada langkah paralel untuk mempercepat RUU pengadaan lahan untuk kepentingan umum dan langkah untuk memastikan dukungan pemerintah terhadap investasi jalan tol. “Tanpa adanya langkah ini, kami pesimistis mengenai rencana-rencana proyek PPP (public private partnership) yang akan datang,” ujarnya.
• VIVAnews

Bakrieland Kuasai Lima Proyek Ruas Tol Jawa
Sabtu, 13 November 2010 , 00:23:00 WIB

RMOL.PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) terus melakukan eks­pansi di jalan tol. Salah satu peru­sahaan milik Bakrie Group ter­sebut akan menambah jumlah ruas tolnya men­­jadi 10 ruas tol. Saat ini Bakrie­land baru mem­bangun lima ruas tol. Proyek pembangunan ja­lan tol akan dilakukan anak peru­sahaan Bakrieland yakni, PT Bakrie Toll Road.

“Kita mau ambil lagi lima ruas tol dan semuanya ada di Jawa, na­mun dananya hingga kini belum bisa kita katakan. Kita ber­harap dalam lima tahun ke depan bisa memiliki 10 ruas tol,” ujar Pre­si­den Direktur Bakrie Deve­lop­ment Hiramsyah S Thaib di Ja­karta, kemarin.

Menurutnya, dari total panjang tol di Indonesia 700 kilo meter (km), Bakrieland ber­ha­sil memili­ki 200 km yang ter­diri dari ruas Kanci-Pejagan, Pe­ja­gan-Pema­lang, Ciawi-Suka­bumi, Ba­tang-Semarang dan Pa­su­­ruan-Probo­linggo. “Untuk Suka­bumi, saat ini dalam proses pembebasan la­han sedangkan untuk Pejagan-Pema­lang sudah bisa beroperasi pada awal 2013,” ujarnya.

Di samping menambah ruas tol, perseroan juga tengah me­nyi­ap­kan aksi korporasi baru untuk Bakrie Tol Road. Perseroan akan melego terlebih dahulu ke in­ves­tor stra­tegis sebelum me­langsung­kan Initial Public Offering (IPO).

“Kami akan menawarkan saham Bakrie Tol Road sekitar 20-30 persen kepada mitra strategis,” katanya seraya menambahkan, pi­haknya tengah berbicara dengan mitra strategis asal Asia. [RM]

Kamis, 11 November 2010 | 17:35 oleh Abdul Wahid Fauzie, Amailia Putri Hasniawati
TAMAN BERMAIN DARI BARIELAND
ELTY sedang negosiasi dengan Disneyland

JAKARTA. Rencana PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) untuk membangun theme park alias taman bermain bukanlah isapan jempol semata. Perusahaan properti dan infrastruktur jalan tol ini sedang melakukan negosiasi dengan pihak Disneyland.

“ELTY sedang melakukan negosiasi, dan sebelum akhir tahun akan selesai,” kata sumber KONTAN. Menurut si sumber, penandatanganan kontrak ini akan terjadi pada awal tahun depan. Sehingga, proses pembangunannya akan dilaksanakan pada pertengahan 2011.

Asal tahu saja, pembangunan Disneyland ini akan dilangsungkan pada kawasan Lido, Sukabumi. Nilai investasi untuk proyek ini diperkirakan US$ 1 miliar. Sayangnya, Hiramsyah S Thaib, Presiden Direktur ELTY enggan menanggapi kabar ini. “Rencana pembangunan theme park memang ada, namun dengan siapa kita belum bisa bicara,” tegasnya.
Sebelum IPO, Bakrie Toll Road Bakal Gandeng Investor Asia
Kamis, 11 November 2010 – 17:20 wib

Widi Agustian – Okezone

JAKARTA – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menuturkan tengah melakukan penjajakan dengan sejumlah investor asal Asia untuk masuk ke anak usahanya, PT Bakrie Toll Road (BTR).

“Kemungkinan semester satu sudah akan ada yang masuk, sebelum BTR IPO,” jelas Direktur Utama ELTY Hiramsyah S Thaib dalam acara Investor Summit and Capital Market Expo 2010, di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (11/11/2010).

Dia menjelaskan, bisa saja ELTY nanti melepaskan sebesar 20-30 persen saham BTR kepada mitra strategisnya. Sehingga, saham ELTY di BTR yang sekarang 100 persen bakal berkurang menjadi 70-80 persen.

Selanjutnya, dia mengaku bakal kembali melepas saham BTR ke publik melalui mekanisme IPO. Rencanaya, IPO ini akan dilakukan pada semester II-2011 atau paling lambat semester II-2012. Terkait IPO BTR, dia mengaku perseroan sudah memulai persiapannya. “Dari pelepasan saham saham-saham tersebut lebih dari Rp1 triliun,” ungkap dia.

Sekarang ini, ELTY melalui BTR memiliki lima ruas jalan tol dengan panjang sekira 200-250 km. Selanjutnya, hingga lima tahun ke depan perseroan akan menambah lima ruas tol baru.(adn)(rhs)
Rabu, 10 November 2010 | 12:11 oleh Abdul Wahid Fauzie
AKSI KORPORASI ELTY
ELTY incar US$ 30 juta dari mitra strategis (kontan)

JAKARTA. PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) masih tengah berupaya keras menggaet mitra strategis untuk menggarap proyek miliknya. Perusahaan properti Grup Bakrie ini mengincar dana cukup besar dari mitra tersebut.

“Kami masih memfinalisasi hal tersebut dengan tiga investor untuk menjadi mitra,” kata Presiden Direktur ELTY Hiramsyah S Thaib. Menurut Hiramsyah, dua investor berasal dari Asia, sementara satu lainnya non Asia. “Kami berharap prosesnya akan selesai pada awal 2011,” imbuhnya.

Hiramsyah bilang, ELTY akan menawarkan kepemilikan sahamnya di proyek tol sebesar 20% hingga 30%. Kata Hiramsyah, dari penjualan saham ini, ELTY menargetkan dana sebesar US$ 30 Juta. Selain itu, Hiramsyah juga akan mengajak mitra tersebut untuk masuk ke proyek properti. Namun, “Untuk proyek ini, kami ingin tetap jadi mayoritas,” tegasnya.
Bakrie Toll Road Rencana IPO Akhir 2011
Headline
IST
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Rabu, 10 November 2010 | 12:16 WIB

INILAHCOM, Jakarta – Anak usaha PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), yaitu PT Bakrie Toll Road berencana melepas saham ke publik pada akhir tahun 2011 dan paling lambat pada 2012.

Direktur Utama PT Bakrieland Development Tbk, Hiramsyah Thaib mengatakan rencana pelepasan saham Bakrie Toll Road tersebut akan membuat dilusi sebesar 20%-30%. Selain itu, Perseroan berencana menerbitkan obligasi. Dana dari hasil aksi korporasi ini akan digunakan untuk akuisisi jalan tol. Perseroan berencana mengakuisisi lima ruas jalan tol dalam waktu tiga tahun. “Kita lihat momentum yang bagus untuk aksi korporasi itu dan tergantung situasi pasar,” ujar Hiramsyah, Rabu (10/11).

Terkait Limitless dalam proyek Rasuna Episentrum, Hiramsyah mengatakan Limitless akan tetap melanjutkan proyek Rasuna Episentrum bersama ELTY. “Akhir tahun selesai. Mereka sudah masukkan dana US$33 juta dari dana yang diperlukan sebesar US$122 juta. Mereka sedang cari mitra baru mengingat Dubai World sudah selesai,” kata Hiramsyah.

Hiramsyah mengharapkan akhir Desember sudah beres untuk pelunasan dana oleh Limitless.

Selain itu, Perseroan akan menggandeng 3 investor dalam proyek properti dan jalan tol. Hiramsyah menuturkan 3 investor terdiri dari 2 investor dari Asia dan 1 investor non Asia. “Kita lagi mau cari mitra, ada tiga investor selain Lido dan Jonggol,” kata Hiramsyah. [cms]
Rabu, 10 November 2010 | 12:28 oleh Abdul Wahid Fauzie, Anna Suci Perwitasari
AKSI KORPORASI ELTY
Limitless akan ajak mitra suntikkan dana tambahan ke ELTY

JAKARTA. PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) memastikan, salah satu investor asing yang akan menjadi mitra strategisnya adalah Limitless. Perusahaan asal Dubai ini dikabarkan akan tetap menjadi mitra ELTY pada proyek Rasuna Epicentrum.

“Mereka tetap akan melanjutkan menjadi mitra,” tegas Presiden Direktur ELTY Hiramsyah S Thaib. Menurut Hiramsyah, Limitless akan mencari mitra mitra lagi untuk menyuntikkan sisa dana yang belum dibayarkan.

Sayang, Hiramsyah enggan mengatakan investor yang sedang dijajaki oleh Limitless ini. Yang pasti, Limitless masih punya kewajiban untuk menyuntikkan dana sebesar US$ 120 juta kepada ELTY. Hingga saat ini, Limitless baru menyuntikkan dana sebesar US$ 33 juta. “Mereka harus suntik sisanya,” ucapnya. Hiramsyah bercerita jika pembicaraan dengan Limitless ini akan selesai pada akhir Desember. kontan
10 Proyek jalan tol penuhi ketentuan finansial
Selasa, 09/11/2010 23:23:42 WIB


Oleh: Natalina Kasih Wasiyati
JAKARTA: Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) memastikan 10 ruas jalan tol yang telah dievaluasi dapat melanjutkan pembangunan proyek karena dinilai layak secara finansial.

Pasalnya, enam dari 10 investor jalan tol telah mendapatkan mitra, sedangkan empat lainnya berkomitmen menambah modal perusahaan, sehingga dinilai layak secara finansial untuk melanjutkan pembangunan proyek tersebut.

Keenam ruas yang telah mendapatkan mitra yaitu Pejagan-Pemalang, Cimanggis-Cibitung, Depok-Antasari, Ciawi-Sukabumi, Waru-Tanjung Perak, dan Pasuruan-Probolinggo.

Adapun empat ruas yang telah menyatakan komitmennya kepada BPJT untuk menambah modal perusahaan yakni Bekasi-Kampung Melayu, Pemalang-Batang, Gempol-Pandaan dan Depok-Antarsari.

Sebelumnya, dari hasi evaluasi kepemilikan modal terhadap 24 investor jalan tol, BPJT menyebutkan 14 ruas di antaranya dinilai layak secara finansial untuk melanjutkan proyek, sedangkan delapan ruas harus mencari partner dan dua ruas belum menyerahkan laporan keuangan.

Kepala BPJT Ahmad Ghani Gazali mengatakan hingga kini pihaknya terus melakukan evaluasi terhadap ke 24 ruas jalan tol tersebut yang dinyatakan lulus secara finansial, untuk selanjutnya masuk tahap evaluasi kelayakan proyek.

Dia menuturkan hasil resmi evaluasi kelayakan investor dari segi keuangan perusahaan tersebut diperkirakan selesai dalam kurun waktu 1 bulan ke depan, sehingga pada 22 Desember 2010, BPJT sudah bisa mengumumkan ruas-ruas yang dinyatakan layak baik secara finansial maupun proyeknya.

“Sebanyak enam ruas yang harus mencari partner sudah mengajukan proposalnya, sedangkan empat ruas akan dinilai tidak perlu mencari partner [karena berkomitmen menambah modal]. Untuk Gempol-Pandaan sudah diincar oleh PT Jasa Marga, sedangkan lainnya berkomitmen menambah kepemilikan modal,” katanya kepada Bisnis, sore tadi.

Ghani menuturkan setelah dinyatakan layak secara finansial, pihaknya akan memanggil keseluruhan BUJT (badan usaha jalan tol) tersebut untuk dinilai kelayakan bisnisnya termasuk kemampuan tingkat pengembalian investasi.

“Tahapan-tahapan tersebut diharapkan dapat dilakukan sesuai jadwal, guna mendorong percepatan pembangunan infrastruktur jalan tol ini,” katanya.

Ketua Asosiasi Tol Indonesia (ATI) Faturachman mengatakan meskipun dinyatakan layak secara finansial oleh pemerintah, proyek-proyek tol tersebut secara keseluruhan mengalami penurunan tingkat kelayakan proyek.

Untuk itu, lanjut dia, dibutuhkan dukungan pendanaan dan pengadaan lahan dari pemerintah agar bisnis jalan tol menjadi bergairah. (zuf)

Selasa, 02 November 2010 | 10:22 oleh Ade Jun Firdaus, Kun Wahyu Winasis, KONTAN
PERUBAHAN MANAJEMEN ELTY
Isu konflik membuntuti perubahan direksi ELTY

JAKARTA. Hengkangnya Ferdinand Sadeli dari kursi Direktur Keuangan PT Bakrie Development Tbk (ELTY) melahirkan cerita kurang sedap. Spekulasi yang beredar menyebut, Ferdinand hengkang karena tak sepaham dengan para direksi ELTY.

Sumber KONTAN di grup Bakrie menuturkan, dewan direksi ELTY tengah terbelah konflik. “Posisi Ferdinand terjepit di antara dua kubu di dalam ELTY yang berkonflik,” kata si sumber, kemarin.

Selain konflik tersebut, lanjut si sumber, Ferdinand juga tidak sreg dengan aksi penerbitan saham baru (rights issue) ELTY senilai Rp 3,2 triliun pada Juli lalu. Sebagian dana hasil rights issue, yakni Rp 1,9 triliun, digunakan untuk membiayai akuisisi terhadap PT Bukit Jonggol.

Ferdinand, lanjut sumber KONTAN, menganggap akuisisi Bukit Jonggol belum terlalu mendesak mengingat ELTY masih memiliki cadangan lahan alias landbank. “Karena tidak kuat dengan konflik di dalam, Ferdinand akhirnya memilih mundur dari ELTY,” jelas sumber yang juga bekerja di Grup Bakrie itu.

Tapi, spekulasi bahwa penyebab pengunduran diri Ferdinand adalah konflik di tubuh ELTY dibantah oleh Nuzirman Nurdin. Sekretaris Perusahaan ELTY tersebut menyatakan Ferdinand mundur semata-mata karena ingin melanjutkan pendidikan.

Ferdinand, menurut Nuzirman, juga mendapat tawaran pekerjaan baru dari perusahaan multinasional. “Pak Ferdinand termasuk salah satu decision maker akuisisi Bukit Jonggol. Jadi, isu tersebut sangat tidak masuk akal,” tegasnya.

Ferdinand masuk ke ELTY baru di awal 2010 ini. Ia pernah berkarir sebagai Senior Manager di Ernst & Young pada 2002-2007. Dia menyelesaikan studinya di Universitas Trisakti, Jakarta dan meraih Master of Applied Finance, University of Melbourne, Australia. Sayang, hingga kemarin, KONTAN kesulitan menghubungi Ferdinand.

Analis BNI Securities Maxi Liestyaputra menilai, strategi ELTY mengakuisisi Sentul dan Jonggol merupakan langkah investasi tepat. Selain harganya murah, dua kawasan itu bakal diminati masyarakat Jakarta lantaran sanitasi dan lingkungannya masih nyaman.

Atas dasar itu, Maxi tetap merekomendasikan beli terhadap saham ELTY. Ia menaksir saham ini bisa mendaki hingga level Rp 320 per saham. Pada penutupan perdagangan Senin (1/11), harga ELTY adalah Rp 158 per saham. “Saham ELTY masih layak untuk dibeli,” kata Maxi.

Pemegang saham berubah

Selain mundurnya Ferdinand, dalam sebulan terakhir ini, komposisi pemegang saham ELTY juga berubah cepat. Per 30 September 2010, Ascention Limited tercatat memiliki 3,91 miliar saham atau setara 9,80% dari total saham ELTY. Sebelumnya, saham sebanyak itu dimiliki atas nama PT Danatama Capital.

Menariknya, per 13 Oktober 2010 Ascention telah melepas 1,37 miliar saham. Jadi, saham ELTY yang tersisa di Ascention 2,54 miliar saham (6,37%). Tapi, pada 22 Oktober lalu, seluruh kepemilikan Ascention hilang. Yang muncul justru nama Danatama Makmur dengan kepemilikan empat miliar saham atau 10,2%.

Seorang trader di bursa saham menduga, saham yang menggunakan nama Ascention sejatinya dimiliki oleh Grup Bakrie sendiri. Apalagi Ascention masuk daftar pemegang saham ELTY saat rights issue lalu.

Tapi, lagi-lagi Nuzirman membantah spekulasi tersebut. “Ascention itu perusahaan investasi asal luar negeri. Perusahaan itu tidak ada sangkut pautnya dengan Bakrieland Development,” bantah dia.

Bakrieland & Urbane kembangkan ruang hijau
Jumat, 29/10/2010 03:32:39 WIB
Oleh: Rahmayulis Saleh
JAKARTA: PT Bakrieland Development Tbk (Bakrieland) bersama PT Urbane Indonesia (Urbane) bekerjasama mengembangkan ruang terbuka hijau di Kelurahan Babakan Asih, Kec. Bojongloa Kaler, Bandung, Jabar, dengan nama One Village One Playground (OVOP).

Ruang terbuka hijau tersebut, merupakan wujud dari kepedulian Bakrieland dan Urbane akan ruang terbuka hijau, yang layak untuk masyarakat berada di daerah padat penduduk.

“Ruang terbuka hijau ini dikembangkan untuk dapat membantu masyarakat meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari, yang meliputi pembangunan area bermain bagi anak-anak, sarana belajar, serta sarana kegiatan sosial kesehatan, dan sosial keagamaan,” kata Marudi Surachman, Direktur Product Development PT Bakrieland Development, kemarin.

Pengembangan OVOP ini, katanya, juga menjadi bagian dari komitmen Bakrieland dalam mendukung berbagai kegiatan, yang mendorong terciptanya ruang terbuka hijau yang selaras dengan program CSR Bakrieland.

“Konsep program CSR Bakrieland mengedepankan prinsip Green architecture, green operations, dan green attitude,” ujarnya dalam rilis perusahaannya hari ini. Dia mengatakan seluruh material yang digunakan dalam pembangunan area OVOP, menggunakan material ramah lingkungan. “Hal ini menjadi bukti keseriusan kami untuk selalu mengimplementasikan konsep ramah lingkungan, di setiap pembangunan proyek kami,” tambah Marudi saat peresmian OVOP, kemarin.

One Village One Playground dibangun di ruang terbuka hijau di atas lahan seluas 106 m2, yang difungsikan sebagai fasilitas umum warga Kelurahan Babakan Asih. Wilayah tersebut merupakan kawasan padat penduduk, nyaris tidak memiliki ruang terbuka hijau, dan memiliki topografi yang rawan banjir.

“Daerah ini sebelumnya dikenal memiliki tingkat kejahatan dan jumlah residivis yang tinggi. Namun, kawasan ini juga dikenal memiliki tingkat solidaritas dan keterbukaan yang tinggi di masyarakat,” ujarnya.

Selain mengembangkan ruang terbuka hijau, dan membangun gazebo sebagai ruang multifungsi di area ini, katanya, Urbane juga melakukan perbaikan sistem drainase di sekitar lokasi untuk mengantisipasi banjir. Dia menuturkan proyek OVOP juga akan menjadi pilot project, untuk mengimplementasikan konsep serupa di lingkungan sekitar Unit Usaha Bakrieland, dengan nama Taman Pintar Bakrieland.

Taman pintar tersebut direncanakan akan menjadi fasilitas umum bagi masyarakat, di lingkungan sekitar unit usaha properti. Perusahaan itu, yang diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas kehidupan masyarakat di sekitarnya. (ts)
ELTY bantah terlibat transaksi di bursa
Jumat, 22 Oktober 2010 | 11:13
JAKARTA. Sekretaris Perusahaan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) Nuzirman Nurdin menyatakan, pihaknya tidak mengetahui adanya transaksi 4.052.110.000 saham yang terjadi pada tanggal 20 Oktober 2010, serta akumulasi 4.082.065.500 saham selama seminggu (dari 13 oktober sampai 20 Oktober 2010).

Hingga saat ini, ELTY belum mendapatkan informasi apapun mengenai perubahan kepemilikan saham, terkait transaksi tersebut dari BirO Adminitrasi Efek (BAE), yang mana baru bisa diketahui tiga hari setelah transaksi. kontan
Anak usaha ELTY yang bergerak di bidang pembangunan jalan tol, PT Bakrie Toll Road (BTR) sedang mengkaji penerbitan emisi obligasi berkisar Rp 1 triliun-Rp 1,5 triliun. Obligasi tersebut rencananya akan diterbitkan pada semester I-2011. Dana hasil emisi obligasi akan digunakan untuk membayar utang (refinancing) terutama kepada bank nasional, serta membiayai pembebasan lahan dan pembangunan jalan tol. Saat ini BTR sedang mempercepat pembebasan lahan seksi I dan II di ruas tol Pejagan-Pemalang.

Sumber : IPS Research
Ketersediaan Kondominium Siap Huni Turun 87,62%
Kamis, 21 Oktober 2010 – 19:08 wib

Wilda Asmarini – Okezone

JAKARTA – Tingkat ketersediaan properti hunian subsektor penyewaan kondominium di Jakarta pada kuartal III-2010 ini menurun 87,62 persen dibandingkan kuartal II-2010. Penurunan ini dikarenakan rendahnya ketersediaan kondominium pada kuartal ketiga di mana hanya tersedia 158 unit.

Vice President Coldwell Banker Commercial Dwi Novita Yeni mengatakan, rendahnya tingkat ketersediaan kondominium itu karena masih banyaknya kondominium dalam proses pembangunan yang diperkirakan baru selesai pada 2012.

“Selama kuartal ketiga ini sejumlah developer (pengembang) baru meluncurkan proyek-proyek mereka yang kebanyakan berada di lokasi sekunder yang kemungkinan baru selesai pada 2012,” tutur Novi saat konferensi pers “Greater Jakarta Property Market Overview” di Kawasan Bisnis Granada, Plaza Semanggi, Jakarta, Kamis (21/10/2010).

Meski bertambah 158 unit pada kuartal ketiga ini, dia mengatakan, total ketersediaan kondominium saat ini menjadi 70.738 unit yang terdiri dari 16.498 unit di kawasan pusat bisnis (Central Business District/ CBD) dan 54.240 unit di kawasan sekunder.

Menurunnya tingkat ketersediaan ini ternyata juga berpengaruh kepada tingkat penyerapan kondominium. Novi mengatakan, tingkat penyerapan kondominium pada kuartal III 2010 ini menurun 0,08 persen dibandingkan kuartal sebelumnya (Q on Q) menjadi 76,94 persen. Namun, lanjutnya, tingkat penyerapan untuk kondominium yang telah ada (existing) naik 0,60 persen menjadi 95,48 persen.

Guna meningkatkan penjualan kondominium tersebut, katanya, para developer menawarkan sejumlah diskon harga per unit kondominium. “Kami mencatat rata-rata harga jual kondominium turun 0,96 persen menjadi sekira Rp11,763 juta per m2,” ungkapnya.

Dia merinci, harga jual per unit kondominium di area CBD sekira Rp11,1 juta-RpRp23,5 juta per m2. Sementara di area sekunder harga jual sebesar Rp5,8 juta-Rp15,6 juta per m2. Kendati mengalami penurunan pada kuartal ketiga ini, Novi memperkirakan bakal terjadi peningkatan ketersediaan kondominium pada kuartal berikutnya.

“Dipicu semakin meningkatnya pasar, para developer pun akan menambah pembangunan kondominium. Dengan demikian, ini akan meningkatkan ketersediaan kondominium dan makin memicu kompetisi di antara para pengembang lainnya,” tandasnya.(ade)
Bakrie Gandeng Bukaka & BUMD Bangun Tol Ciawi
Pendapatan perseroan masih bakal ditopang unit bisnis city property dan hotel resort.
KAMIS, 21 OKTOBER 2010, 10:07 WIB Antique

VIVAnews – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menggandeng PT Jasa Sarana, BUMD Jawa Barat, untuk mempercepat pembangunan tol Ciawi-Sukabumi. Perseroan mengalokasikan dana Rp400 miliar.
ELTY menguasai 60 persen saham PT Trans Jabar Toll Road, sedangkan Jasa Sarana memiliki 25 persen saham dan Grup Bukaka 15 persen saham. Trans Jabar merupakan perusahaan pemegang konsesi tol Ciawi-Sukabumi.
Perusahaan properti milik keluarga Bakrie tersebut mempercepat sejumlah proyek jalan tol. Perseroan tengah menggenjot pembebasan lahan seksi I dan II ruas tol Pejagan-Pemalang. Begitu juga dengan ruas tol Semarang-Batang. Saat ini, ELTY, melalui anak usahanya, PT Bakrie Toll Road (BTR), telah mengoperasikan ruas tol Kanci-Pejagan sepanjang 35 kilometer.
Bakrieland memperkirakan akan meraih pendapatan sekitar Rp800-900 miliar pada kuartal III-2010. Pendapatan tersebut tumbuh 22-37 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp656,4 miliar.

“Pendapatan di kuartal III bisa Rp800-900 miliar,” ujar Presiden Direktur Bakrieland Hiramsyah S Thaib dalam keterangannya di Jakarta, Kamis 21 Oktober 2010.

Menurutnya Hiramsyah, pertumbuhan pendapatan perseroan masih bakal ditopang unit bisnis city property dan hotel resort. “Pertumbuhan itu mengonfirmasi tren peningkatan penjualan tahun ini, seiring rendahnya suku bunga,” ujarnya.

Dia mengakui, perolehan pendapatan tersebut sesuai ekspektasi perseroan, sehingga perseroan optimistis pendapatan hingga akhir tahun ini mencapai Rp1,3 triliun. Pendapatan itu naik 22,6 persen dibandingkan 2009 sebesar Rp1,06 triliun. “Kalau laba bersih 2010 kami proyeksikan meningkat 20-30 persen,” kata Hiramsyah.

Kendati demikian, mengenai laba bersih kuartal III-2010, perseroan belum bisa mengungkapkannya. Menurut Sekretaris Perusahaan Bakrieland Nuzirman Nurdin, pihaknya akan menyelesaikan laporan keuangan periode tersebut dalam waktu dekat. “Saat ini, kami baru bisa sampaikan pendapatan perusahaan. Itu juga masih kisaran Rp800-900 miliar,” ujarnya.

Hingga akhir tahun, ELTY bakal merampungkan Hotel Bali Pullman Legian Nirwana dan Kondotel Aston Bogor. Selain itu, perseroan akan menyelesaikan klaster Harmoni di Bogor Nirwana Residence, serta penutupan atap (topping off) Kondominium The Grove di Superblok Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta. (hs)

• VIVAnews

Perusahaan pengembang properti, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) memproyeksikan peningkatan laba bersih hingga akhir tahun sebesar 20-30 persen dibandingkan 2009 lalu.

Sementara itu, perseroan juga menargetkan pendapatan di tahun ini dapat meningkat 22,6 persen menjadi Rp1,3 triliun dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,06 triliun.

“Sedangkan untuk laba bersih 2010 kami proyeksikan meningkat 20-30 persen,” ujar Presiden Direktur ELTY Hiramsyah S Thaib dalam keterangan tertulisnya kepada okezone di Jakarta, Kamis (21/10/2010).

Menurutnya, pertumbuhan pendapatan dan laba bersih tersebut masih ditopang oleh unit bisnis city property serta hotel resort. Adapun untuk kuartal III-2010 perseroan memprediksi pertumbuhan pendapatan menjadi Rp800 miliar-Rp900 miliar atau meningkat 22-37 persen jika dibandingkan realisasi pendapatan periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp656,4 miliar.

“Pertumbuhan itu mengonfirmasi tren peningkatan penjualan tahun ini, seiring rendahnya suku bunga. Pertumbuhan tersebut juga sudah sesuai dengan ekspektasi perseroan,” tambahnya.

Namun, mengenai laba bersih triwulan III-2010, perseroan belum bisa mengungkapkannya. Menurut Sekretaris Perusahaan Bakrieland Nuzirman Nurdin, pihaknya akan menyelesaikan laporan keuangan triwulan III dalam waktu dekat. “Saat ini, kami baru bisa sampaikan pendapatan perusahaan. Itu juga masih kisaran Rp800 miliar-Rp900 miliar,” jelas Nuzirman.

Sekadar informasi, di tahun ini ELTY tengah berupaya merampungkan beberapa proyek seperti Hotel Bali Pullman Legian Nirwana dan Kondotel Aston Bogor yang diperkirakan akan selesai di akhir 2010. Selain itu, ELTY juga akan menyelesaikan Cluster Harmoni di Bogor Nirwana Residence, serta penutupan atap (topping off) Kondominium The Grove di Superblok Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta.

Sumber : OKEZONE.COM
loading
Transaksi perkantoran di Jakarta melejit
OLEH YUSUF WALUYO JATI Bisnis Indonesia

Biaya jasa pemeliharaan gedung meningkat JAKARTA: Realisasi pen jualan ruang perkantoran di pusat bisnis Jakarta pada Januari September 2010 ter nyata melampaui realisasi penjualan sepanjang 2009, atau melejit 40% dari 109.600 m2 pada 2009 men jadi 153.700 m2.

Tingginya volume transaksi sepanjang 9 bulan pertama 2010 tak lepas dari melemahnya dampak negatif krisis finansial global yang memicu membaiknya kondisi makroekonomi nasional.
Keadaan ini diklaim telah mampu memperkuat daya beli konsumen seiring dengan penguatan rupiah terhadap dolar AS sekitar 1,5%.

Berdasarkan data Cushman & Wakefield Indonesia (CWI), peningkatan transaksi sepanjang periode itu tak lepas dari besarnya kontribusi penyerapan ruang perkantoran pada kuartal III/2010 sekitar 57.400 m2.

Volume ini meningkat 10% dibandingkan dengan penyerapan pada kuartal II/2010 sebesar 52.181,82 m2.

Associate Director Stragic Consulting dari CWI Arief Rahardjo menjelaskan permintaan dan transaksi sewa ruang perkantoran sepanjang kuartal III masih positif atau sama dengan kondisi pada kuartal II. Kondisi ini diperkirakan terus bertahan hingga akhir 2010.

“Sebagian besar transaksi didominasi para penyewa existing [yang sudah ada] yang ingin memperluas ruang kantor mereka dan sebagian lagi untuk kebutuhan relokasi,“ jelasnya kepada Bisnis, kemarin.

Selama kuartal III, ujarnya, CWI mencatat beberapa transaksi besar di subsektor ini seperti relokasi kantor Bank Permata di Barclays House, Sudirman, Ja karta Pusat, dengan transaksi sewa seluas 5.800 m2. Selain itu, terdapat perluasan kantor salah satu perusahaan migas sebesar 1.125 m2 di Mid-Plaza, sebesar 1.800 m2 di Menara Bidakara 1 dan 800 m2 di Gedung Nugra Santana.

Kendati tak menyebutkan nilai transaksi secara pasti, CWI memperkirakan harga sewa rata-rata (netto/bersih) di kawasan Sudirman pada kuartal III/2010 sebesar Rp187.371 per m2 per bulan atau setara dengan US$20,99 per m2 per bulan.

Adapun, di kawasan Gatot Subroto berkisar Rp174.038 per m2 per bulan (US$19,50) sedangkan harga sewa ruang perkantoran tertinggi kini dipegang kawasan Satrio yakni sekitar Rp193.250 per m2 per bulan (US$21,65).

Di kawasan Satrio, para pengembang kakap seperti Agung Podomoro Group (APG) dan Ciputra sedang merampungkan sejumlah proyek perkantoran prestisius yang terintegrasi dengan hunian dan pusat perbelanjaan.

Sepanjang kuartal III, jelas Arief, banyak gedung di Jakarta menaikkan biaya pemeliharaan (service charge). Penyesuaian ini terjadi akibat sentimen penaikan tarif dasar listrik (TDL) pada awal Oktober 2010.

“Beberapa gedung yang telah mencapai tingkat hunian di atas 90% juga terpantau menaikkan harga sewa dasar mereka,“ jelasnya. (A. DADAN MUHANDA) (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)

Rabu, 20 Oktober 2010 | 10:34 oleh Barratut Taqiyyah SAHAM ELTY
Kepemilikan saham berubah, ELTY terjun bebas
JAKARTA. Saham PT Bakrieland Development (ELTY) terjun bebas sesaat setelah pembukaan. Pada pukul 09.44, saham ELTY anjlok 9,5% menjadi Rp 172. Ini merupakan penurunan paling besar sejak 24 Mei lalu.

Meluruhnya saham ELTY terkait disinyalir akibat perubahan kepemilikan saham perusahaan properti ini. Asal tahu saja, susunan pemegang saham ELTY baru saja berubah.

Sebelumnya KONTAN memberitakan, per 13 Oktober 2010, jumlah saham ELTY yang berada di tangan Ascention Limited merosot dari 3,91 miliar saham atau 9,80%, menjadi 2,54 miliar saham (6,37%). Ini berarti, Ascention telah menjual 1,37 miliar saham ELTY.

Padahal nama Ascention baru nongol di daftar pemegang saham ELTY pada 28 September 2010. Porsi kepemilikan saham Ascention sebesar 9,80%, sama persis dengan porsi yang sebelumnya berada di tangan Danatama.

Seorang broker asing yang meminta tidak sebutkan namanya, menuturkan, Ascention berniat melepas seluruh saham ELTY yang masih tersisa. Menurut broker tersebut, saham ELTY yang berada di tangan Ascention sebenarnya milik ELTY sendiri. Ia menambahkan, Ascention menargetkan perolehan fulus hingga US$ 75 juta atau setara Rp 675 miliar dari penjualan seluruh saham ELTY.

Rabu, 20 Oktober 2010 | 14:09 oleh Abdul Wahid Fauzie SAHAM ELTY
Kabarnya, tadi malam saham ELTY didiskon 12,1%
JAKARTA. Kasak kusuk tentang penjualan saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) kembali beredar. Saham perusahaan properti dan jalan tol Grup Bakrie ini kembali dijual oleh pemegang sahamnya.

“Harga jual sahamnya dikisaran Rp 167 per saham hingga Rp 175 per saham,” bisik sumber KONTAN. Artinya, harga jual saham ELTY ini terdiskon sekitar 7,9% hingga 12,1% dari harga penutupan pasar Rp 190 per saham, kemarin (19/10).

Menurut si sumber, yang menjadi agen penjual pemagang saham ELTY ini adalah CLSA. Sayang, si sumber enggan mengungkapkan pemegang saham ELTY yang mana yang melakukan aksi ini. “Jumlah saham yang dijual antara 6,6% hingga 10%,” tegasnya.

Sayang, Nuzirman Nurdin, Sekretaris Perusahaan ELTY mengaku tidak mengetahui penjualan saham ini. “Penjualan ini belum sampai kesaya, saya juga tidak tahu, sebabnya pemegang saham ELTY sendiri mencapai 16.000 investor,” ucapnya.

Namun, Nuzirman berjanji akan segera melakukan keterbukaan informasi kepada publik jika ia sudah mendapatkan informasi resmi. “Kami pasti akan membuka informasi ini, ini demi memenuhi aturan pasar modal,” pungkasnya.
PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) optimistis mencapai target pendapatan sebesar Rp1,3 triliun tahun ini, tumbuh 22,64 persen dari tahun lalu Rp1,06 triliun.

Hingga kuartal III-2010, perseroan membukukan pendapatan Rp900 miliar atau 70 persen dari target tersebut. Pendapatan hingga kuartal III-2010 tersebut juga melonjak empat kali lipat dari periode sama tahun lalu.

“Untuk mengejar 30 persen atau sekira Rp400 miliar sisanya pada kuartal empat bukan hal yang sulit. Biasanya dua per tiga pendapatan kami diperoleh pada kuartal terakhir,” ujar Presiden Direktur Bakrieland Development Hiramsyah S Thaib di Jakarta kemarin.

Dia menuturkan, iklim ekonomi saat ini sangat mendukung perseroan untuk mencapai target tersebut. Sumber pendapatan terbesar berasal dari pengoperasian Jalan Tol Kanci-Pejagan. Ruas yang dioperasikan PT Bakrie Toll Road itu mencatat pertumbuhan lalu lintas kendaraan 10 persen setiap bulan sejak beroperasi pada awal 2010.

”Bahkan, selama H-7 sampai H+7 mudik Lebaran kendaraan yang masuk di Tol Kanci – Pejagan mencapai 35 ribu setiap hari,” imbuhnya.

Hiramsyah melanjutkan, sepanjang tahun ini Bakrieland telah dan akan menyerah terimakan (delivery) sejumlah unit properti kepada pembeli sehingga dampaknya sangat besar terhadap penjualan, terutama di kuartal IV/2010.

Sejumlah proyek properti yang telah rampung di antaranya Hotel

Sumber : OKEZONE.COM
Pemegang saham ELTY bakal melepas 6,6% saham melalui penawaran saham terbatas (private placement). Nilai transaksinya diperkirakan mencapai Rp 463,7 miliar. Pemegang saham tersebut terdiri atas institusi yang menawarkan 2,65 miliar lembar saham dengan harga Rp 167-175 per lembar. Saat ini grup Bakrie memiliki 20% saham ELTY, sedangkan Avenue Capital memiliki 12,17% saham.

Sumber : IPS Research
Saham Properti & Astra Cocok Trading

inilah.com/Agung Rajasa
Oleh : Asteria
Pasar Modal – Rabu, 20 Oktober 2010 | 06:43 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Bursa saham Indonesia pada Rabu (20/10) diperkirakan akan melanjutkan penguatan. Emiten dari sektor aneka industri dan properti masih menarik untuk trading.

Mohamad Reza dari Erdhika Elit Sekuritas mengatakan, IHSG hari ini masih berpotensi menguat. Sentimen yang menggerakkan bursa lebih tinggi lagi menembus 3.600 masih ada, meskipun pemicu kenaikannya sudah semakin sedikit. “Namun, peluang indeks untuk terkoreksi dalam, juga tidak terlalu besar,” ujarnya kepada INILAH.COM.

Menurutnya, dengan kondisi bursa yang saat ini sudah mahal, pasar didominasi short term player. Investor lokal, termasuk hedge fund asing jangka pendek, mengambil pola trading, sehingga indeks berada dalam range yang sangat tipis.

Sedangkan fund manager yang cenderung berinvestasi untuk jangka panjang, sudah keluar dari pasar. Hal ini karena pola perdagangan buy and hold, sudah tidak bisa diterapkan lagi. “Padahal, dengan PE (price earning) IHSG yang saat ini relatif tinggi, mereka ingin deep discount,” paparnya.

Adapun sentimen positif berasal dari laporan keuangan kuartal tiga 2010. Dimana sektor perbankan masih melanjutkan performa awal tahun hingga bulan kesembilan ini. Terutama bank yang kuat pengucuran kreditnya, seperti BMRI, BBRI dan BJBR.

Peluang trading juga bisa dilakukan terhadap saham yang sedang tertekan. Ini adalah tipikal saham yang dimainkan investor jangka pendek, dimana rebound pada emiten akan berimbas pada apresiasi bursa. Salah satu saham pilihannya adalah PT Astra International (ASII). “Meski dimainkan investor jangka pendek, fundamental ASII masih bagus,” ujarnya.

Sedangkan saham lain yang menarik berasal dari sektor properti, seperti grup Ciputra. Terutama karena PT Ciputra Property (CTRP) dan PT Ciputra Development (CTRA) belum mengalami kenaikan yang signifikan. “Sedangkan saham PT Bakrieland Development (ELTY) sudah naik cukup banyak,” imbuhnya.

Ia mengakui, ada kekhawatiran di kalangan investor terkait demonstrasi hari ini. Namun, di luar hal tersebut, trader memanfaatkan koreksi indeks kemarin untuk bargain lagi.

Kalau tidak terjadi apa-apa, mereka akan melakukan pembelian lagi. Sehingga IHSG pun akan menembus 3.600, level psikologi yang harus ditembus IHSG, untuk mengkonfirmasi target indeks berikutnya di level resisten 3.750.

Pada perdagangan Selasa (19/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ^JKSE ditutup menguat 25,870 poin (0,73%) ke level 3.592,788. Perdagangan cukup ramai, dimana volume transaksi tercatat 11,027 miliar lembar saham, senilai Rp6,781 triliun dan frekuensi 127.658 kali.

Sebanyak 136 saham naik, 77 saham turun dan 72 saham stagnan.IHSG berhasil menguat, meskipun dana asing banyak yang keluar dari pasar. Terlihat dari nilai transaksi jual bersih (net foreign sell) yang tercatat sebesar Rp1,318 triliun. Dimana aksi jual mendominasi mencapai Rp2,395 triliun dan aksi beli asing hanya Rp1,077 triliun. [nat/mdr]

Pundi-pundi pendapatan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menggemuk. Tuntasnya proyek properti dan jalan tol yang sempat tertunda tahun lalu, menjadi motor pengeruk fulus anak usaha Grup Bakrie ini.

Sekretaris perusahaan ELTY Nuzirman Nurdin mengaku, hingga kuartal III tahun 2010, ELTY telah mampu meraup pendapatan mencapai Rp 800 miliar – Rp 900 miliar. Kisaran angka itu naik hampir empat kali lipat dibandingkan perolehan di periode sama 2009, yaitu Rp 287 miliar.

Proyek-proyek yang mengisi kantong ELTY di antaranya, proyek Hotel Bali Pullman Legian Nirwana, Kondotel Aston Bogor, Kondominium di Komplek Superblok Rasuna Epicentrum, dan lanjutan kluster Harmoni di Bogir Nirwana Resindence, Bogor.

Nuzirman belum mau membeberkan berapa laba bersih yang berhasil dibukukan ELTY hingga akhir September 2010. “Yang pasti, pendapatan masih on track dengan target akhir tahun sekitar Rp 1,3 triliun-Rp 1,5 triliun,” ujar dia ketika dihubungi KONTAN, Senin (18/10).

Selain pendapatan meningkat, pada kuatal III lalu jumlah aset ELTY dipastikan bakal bertambah. Proses akuisisi sejumlah aset, yang dibiayai dengan dana hasil rights issue ELTY bulan Juli lalu, sudah tuntas terlaksana.

Beberapa aset yang telah tuntas diakuisisinya seperti penyertaan modal di Bukit Jonggol Asri sebesar Rp 1 triliun, pembelian saham PT Bukit Sentul Tbk (BKSL) sebesar Rp 150 miliar, dan pembelian saham pembelian saham PT Fusin Plus Indonesia, pemilik Lido Lake Resort di Sukabumi senilai Rp 150 miliar. Rencananya, ELTY akan menyuntik Fusin Plus Rp 200 miliar.

Nuzirman menambahkan, beberapa aset yang pembayarannya kurang dari 50%, belum akan dikonsolidasikan. Contohnya, penambahan modal kerja dan saham PT Superwish Perkasa sebesar Rp 120 miliar, peningkatan modal Bakrie Toll Road Rp 57,4 miliar. Total, dana rights issue yang sudah terpakai mencapai Rp 1,51 triliun.

Saat ini, ELTY masih menyimpan dana hasil rights issue sekitar Rp 1,56 triliun. Selain disimpan di sejumlah bank, sekitar Rp 739 miliar dari sisa dana rights issue di tempatkan ELTY dalam kontrak pengelolaan dana (KPD) terbitan Henan Putihrai.

Sumber : KONTAN.CO.ID
Manajemen ELTY mengindikasikan bahwa pendapatan perseroan hingga 9M10 bisa mencapai Rp 800 miliar – Rp 900 miliar, melonjak 4 kali lipat dibandingkan periode 9M09 sebesar Rp 287 miliar.

Sumber : IPS Research
Bakrie Pede IEDC Bantu Proyek Infrastruktur
Tersedia 18 Miliar Dolar AS Untuk Koridor Pantura
Selasa, 19 Oktober 2010 , 00:37:00 WIB

RMOL.Seabreg masalah klasik masih menghadang proyek infrastruktur. Berbagai program diluncurkan pemerintah, tapi selalu saja kandas. Kini harapan ada di Indonesia Economic Development Coridor (IEDC). Ampuhkah?
Untuk sementara, penilaian po sitif terhadap kesepakatan Pem bangunan Koridor Ekonomi Indonesia (IEDC) datang dari Bakrie Group. Manajemen Bak rie Toll Road sangat pede (perca ya diri-red), IEDC akan mem percepat pembangunan in fra struktur yang diakui banyak orang multi kompleks.
“IEDC berada dalam koridor infrastruktur yang kami bangun. Makanya kami optimis program ini akan menjadi pendorong, teru­tama untuk pembangunan jalan tol dan sentra usaha kecil dan me nengah yang kini tengah kami bangun,” kata Direktur Utama PT Bakrie Toll Road Harya Mitra Hidayat di Jakarta, kemarin.
Seperti diketahui, pada pekan kedua Oktober 2010, Indonesia dan Jepang telah menyepakati kerja sama fase pertama mega­proyek senilai 52,9 miliar dolar AS bagi pengembangan infra struktur dua koridor ekonomi. Yakni Sumatera Timur-Barat Laut Jawa dan Jalur Pantura melalui skema pembiayaan Kerja Sama Pemerintah dan Swasta (PKS).
Saat ini, Bakrie Toll Road (BTR) tengah menggarap proyek tol Ciawi-Sukabumi, Pejagan-Pemalang dan Batang-Semarang. Sedangkan induk perusahaan PT Bakrieland Development Tbk, te ngah mengembangkan kawa san di sekitar jalan tol, baik untuk perumahan maupun sentra indus tri menengah dan kecil.
”Dengan kehadiran IEDC yang diklaim bakal dorong pembangu nan in fra struktur listrik, air mi­num dan akses jalan, maka pen dapatan serta ekonomi masyara kat bisa naik” harao Harya.
Dijelaskan, salah satu upaya kelompok usaha Bakrie mengem bang kan kawasan di sekitar jalan tol untuk meningkatkan taraf hi dup masyarakat. Niatan itu bisa ter wujud dengan IEDC yang akan mempercepat pertumbu han eko nomi di kawasan itu.
“Yang jelas, kami tidak mung kin mem bangun kawasan Pan tura maupun Bogor sendirian, sehing ga keha diran IEDC jelas akan sangat mem bantu kami. Program me reka sangat inline (selaras) deng an program Bak rieland,” jelas Harya.
Apalagi, lanjutnya, sebagian be sar dana IEDC sebesar 18 mi liar dolar AS diperuntukan bagi pengembangan koridor jalan Pan tura, sehingga bakal mem be ri kan dorongan positif bagi pem­ba ngunan jalan tol di kawasan ini.
Dia yakin, pemerintah sangat ber sungguh-sungguh dalam me nge luar kan kebijakan pertanahan untuk menjamin program ini ber jalan lancar, sehingga dipastikan akan membuat pembebasan tanah di jalan tol juga akan lebih cepat dibanding saat ini.
Harya memperkirakan, jika ta raf hidup masyarakat me nga la mi kenaikan, berarti lalu lintas Tol Kanci-Pejagan yang telah bero perasi akan mengala mi ke naik an. “Kami akan tan cap gas untuk melengkapi ber bagai fasi litas di Tol Kanci-Pejagan seperti tem pat istirahat dan SPBU. Apa lagi fa si litas ter sebut menurut renca na akan me libatkan pengu saha-peng usaha lokal setempat,” paparnya.
Namun, ekonom Indef (Insti tute for Development of Econo mics and Finance Indonesia) Ah­mad Erani Yustika mengingat kan pihak Bakrie untuk tidak percaya betul pada IEDC. Ala­sannya, per soalan pembebasan lahan dan perizinan belum di tangani serius oleh pemerintah walaupun di In donesia memiliki potensi besar.
“Semua ini kem bali kepada ko mitmen pemerin tah. Kalau ti dak ada keseriu san, sampai ka pan pun persoalan infrastruktur tidak ber kem bang,” tukas Ahmad.
Dia bilang, selama ini sikap pemerintah hanya reaktif saja da lam menghadapi persoalan pem­be basan lahan dan perizinan.
“Per soalan pembebasan lahan dan perizinan selalu diatasi se perti pemadam kebakaran dan dampaknya tiap tahun persoalan tersebut selalu mengemuka,” pungkas Ahmad. [RM]

Kamis, 14 Oktober 2010 | 17:54 oleh Gloria Haraito BISNIS PROPERTI
Awas, pengembang nakal masih berkeliaran
JAKARTA. Para pengembang nakal masih marak. Di Depok, warga perumahan Griya Pendowo Indah (GPI) baru saja ditinggal pengembang beserta utang. Perumahan yang berlokasi di Kelurahan Grogol Kecamatan Limo RT 06 RW 05 ini dikembangkan oleh PT Megasarana Asrinusa Persada. Di sini terdapat 120 unit rumah dan tujuh unit ruko.

Dari 98 unit rumah yang sudah selesai, sebanyak 78 unit rumah sudah ditempati oleh pembeli. Namun, sebanyak 69 unit rumah bermasalah di mana 50 unit rumah berstatus kepemilikan ganda dan sisanya berstatus tidak jelas. Rumah ini dijual seharga Rp 135 juta sampai Rp 400 juta per unit.

Kedok Megasarana terkuak ketika pertengahan tahun 2008 PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) cabang Harmoni mengeluarkan surat tagihan tunggakan pembayaran cicilan KPR dan membagi-bagikan kepada semua warga GPI. Padahal, salah satu warga, Riswan Lapagu mengatakan, hanya sebagian kecil warga membeli melalui BTN. Sebagian besar membeli dan menyicil ke pengembang.

“Pada surat tagihan itu tercantum tunggakan tiap kavling dan ternyata nama pemilik bukan atas nama kami, ujar Riswan kepada KONTAN, Rabu (13/10). Artinya, ada kepemilikan ganda atas satu rumah yang sama. Padahal, dalam perjanjian pengikatan jual beli terdapat satu pasal yang menegaskan bahwa pengembang menjamin tanah dan bangunan tidak tersangkut sengketa dan belum dijual kepada pihak lain. Setiap kepala keluarga ditaksir merugi Rp 100 juta lebih akibat kasus ini.

Riswan mengakui, waktu pertama kali ingin menyicil dengan fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) BTN, pengembang justru mengarahkan konsumen untuk menyicil langsung ke pengembang. Masalah selanjutnya menimpa konsumen yang membeli tunai. Konsumen ini justru belum memperoleh akta jual beli (AJB) dan sertifikat hak milik (SHM).

“Ada pula konsumen yang terpaksa ngontrak karena rumahnya belum dibangun oleh pengembang,” lanjut Riswan. Belum selesai masalah legalitas jual-beli, pengembang memunculkan nama perusahaan baru yakni PT Bendi Oetama Raya Delapan tanpa penjelasan apapun. Riswan menerangkan, baik Megasarana maupun Bendi tidak terdaftar dalam anggota Real Estate Indonesia (REI).

Akhir September lalu, masalah tambah rumit dengan Bendi mengumumkan pailit di koran nasional. Riswan mengatakan, aktor penting yang dicari warga saat ini adalah bapak-anak Galih Hasyim Soelistyo dan Geryno Soelistyo, bos Megasarana.

Menuntut pengembang

Warga GPI menuntut pertanggung jawaban Galih dan Geryno untuk membuat AJB dan SHM terutama untuk warga yang membeli secara tunai. Warga juga menuntut pengembang bertanggung jawab atas konsekuensi hukum dan biaya yang timbul dari proses perubahan dokumen jual beli atas rumah berstatus kepemilikan ganda. Lalu, warga mendesak pengembang menyelesaikan pembangunan rumah yang terbengkalai dan segera melakukan serah terima kepada pembeli yang menyicil ke pengembang.

Permintaan tersebut sudah tertuang dalam perjanjian tertulis yang diteken Mei silam oleh Galih dan warga. Sebagai saksi, hadir pula penasehat hukum pengembang dan Kapolsek Limo, Cinere. “Namun sampai sekarang belum satu pun isi perjanjian yang terealisir,” kata Riswan. Setiap hari warga menagih sesuai tanggal jatuh tempo yang telah disepakati, namun pengembang selalu mengajukan alasan tidak logis dan terkesan menghindar.

Juni lalu, Galih dan Geryno menghilang. Kantor Megasarana dan Bendi ditemukan kosong. Rumah bapak-anak itu juga ditemukan kosong. Selain dicari oleh warga GPI, tgernyata Galih dan Geryno juga dicari oleh warga apartemen Intan dan Setiabudi sebab nasib mereka tak kalah tragis.

“Kasus pengembang nakal sudah sering terjadi namun mengapa belum ada upaya serius dari pihak pemilik otoritas untuk mencegah terulangknya aksi nakal mafia perumahan?” ujar Riswan. Untuk itu, warga GPI berharap Kementerian Perumahan Rakyat dan BTN ikut campur tangan dalam kasus ini.

Di samping warga GPI, warga Puri Permata Larangan Ciledug juga mengalami hal yang sama. Perumahan ini dikembangkan oleh PT Waluya Karya Sejahtera dengan bos yang disebut-sebut bernama Toto. Di sini terdapat 200 unit rumah dengan harga Rp 180 juta sampai Rp 250 juta per unit. Adinda Saraswati, salah satu warga mengatakan, banyak fasilitas yang belum dibangun seperti yang dijanjikan pengembang. Hal ini dikarenakan pengembang bangkrut.

Waluya sebetulnya menjual rumah via KPR BTN. Namun untuk yang membeli tunai, warga membeli langsung ke pengembang. Serupa dengan nasib warga GPI, konsumen yang membeli tunai ini pun belum mendapatkan AJB dan SHM karena ternyata Waluya belum menyetor duit ke BTN. Warga yang menyetor tunai ini sekitar 5% dari total warga.

“Kami kecewa karena baru 30% jalan yang dibangun,” ujar Adinda. Selain itu, fasilitas umum seperti mushola dan beberapa rumah juga belum dibangun. Namun Waluya mengaku bangkrut lantaran ia juga kena tipu. Sejumlah duit penjualan perumahan Puri Permata digunakan untuk membeli tanah di Bogor. Tak disangka, tanah tersebut masih dikuasai oleh Kopasus. Sementara penjual tanah tersebut raib.

Warga sudah berkali-kali menyantroni rumah Toto. Ketika dihampiri, ternyata banyak subkontraktor yang mendatangi kediaman Toto untuk minta pertanggungjawaban. Mengingat Toto pun tak bisa berbuat banyak, warga mengambil inisiatif untuk menghimpun duit down payment (DP) yang belum disetor ke Waluyo, untuk dihimpun. Dana ini kemudian digunakan untuk membangun fasilitas umum. Sayang hingga kini, Humas BTN, Dody Agoeng belum mau berkomentar.
loading

Kebutuhan apartemen & mal naik dua kali lipat JAKARTA: Sektor properti diprediksi semakin menarik bagi investor baik dalam maupun luar negeri pada masa men- datang, seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 6%. 

Vivin Harsanto, Direktur Capital Markets Jones Lang Lasalle Indonesia, mengatakan gelombang pertama investor terjadi pada 2008 dan saat ini banyak pembangunan proyek baru .“Akan ada gelombang kedua yang akan datang dan kebanyakan merupakan oil money dari Timur Tengah,“ ujarnya, kemarin.

Peminat juga berdatangan dari Singapura, Hong Kong, Jepang, dan Korea. Sementara itu, bebe rapa perusahaan multinasional AS dan Prancis sudah banyak yang meminta data mengenai properti di Indonesia.

Menurut Vivin, bentuk investasinya bermacam-macam mulai dari menanam modal untuk proyek baru, sewa tempat untuk kepentingan industri, hingga sewa ruang perkantoran untuk ekspansi bisnis di Indonesia.

Indonesia sangat menjanjikan karena harga lahannya murah.
Bahkan tarif sewa kantor merupakan termurah di Asia Tenggara dengan harga Rp136.000 per m2 per bulan untuk perkantoran di central business district (CBD) dan Rp104.000 per m2 di luar CBD.

Berdasarkan riset Jones Lang LaSalle, permintaan ruang kantor untuk kawasan non-CBD dari 17.000 m2 pada kwartal kedua 2010 menjadi 25.000 m2 atau naik lebih dari 50%.
Duakali lipat Pada kuartal III/2010 permin taan pada sektor perkantoran, mal ritel, kondominium dan apartemen sewa meningkat, setelah tahun lalu stagnan akibat krisis keuangan global.

Handaka Santoso, Vice President Director Agung Podomoro Land, mengatakan “Sekitar 4 tahun ke depan middle income people akan naik double sehingga kebutuhan properti, khususnya apartemen dan mal meningkat dua kali lipat.” Prospek pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan pada 2011

membuat pengembang optimistis, dan fokus pada pembangunan apartemen superblok dan bisnis mal.Permintaan juga masih tinggi sejalan dengan gaya hidup yang berubah. “Orang Indonesia saat ini menyukai tempat nyaman tetapi terjangkau. Agung Podomoro akan fokus pada konsep back to the city.“

Seiring dengan agresivitas pengembang, berdasarkan analisis Global Property Guide, stok apartemen di Indonesia pada tahun depan berpotensi meroket hingga 280,95% dari stok pada 6 tahun lalu 31.500 unit menjadi 120.000 unit.

Namun, pertumbuhan permintaan diprediksi tak secepat pertambahan pasokan sehingga kenaikan harga apartemen relatif tak mencolok.

Pada 2004, Indonesia baru bisa menyediakan 9.500 unit apartemen baru sehingga total pasokan hanya mencapai 31.500 unit.
Pada 2005 dan 2006, stok tersebut bertambah 15,87% atau sekitar 5.000 unit menjadi 36.500 unit.

Pada kuartal III/2009, total stok apartemen di Jakarta telah mencapai 74.920 unit. Hingga 2011 mendatang, total stok apartemen bisa mencapai 120.000 unit.

Peningkatan jumlah stok apartemen dan kondominium yang masif ini berpotensi menekan harga. (17/K57) (yusuf.waluyo@bisnis.
co.id)

Properti diprediksi makin menarik

Para Juragan Top Properti di Jakarta

Mereka bukan sekadar menguasai tanah, tetapi juga mengembangkan mega proyek di Jakarta.

SELASA, 12 OKTOBER 2010, 08:57 WIB Antique

VIVAnews – Kota Jakarta memang tidak pernah sepi dari sejumlah transaksi bisnis. Jakarta yang merupakan ibu kota negara Indonesia dan terletak di bagian barat laut Pulau Jawa ini juga tak pernah berhenti dari pembangunan. Baik, proyek infrastruktur jalan, jembatan, maupun sejumlah proyek properti.

Nah, siapa saja pengembang yang sampai saat ini terus meramaikan kota yang dahulu pernah dikenal dengan nama Sunda Kelapa (sebelum 1527), Jayakarta (1527-1619), Batavia, atau Jacatra (1619-1942), serta Djakarta (1942-1972) dengan pembangunan dan pengembangan proyek properti?

Menurut Associate Director Jones Lang Lasalle Anton Sitorus, sampai saat ini, tercatat sejumlah pengembang ternama dan besar yang terus menghiasi Kota Jakarta dengan pembangunan sejumlah proyek properti. Bahkan, mereka merupakan penguasa tanah-tanah di Jakarta.

Anton menjelaskan para juragan properti yang tercatat aktif mengembangkan proyeknya sampai saat ini cukup banyak. Mereka adalah Grup Agung Podomoro dengan Senayan City dan Kuningan City, Grup Agung Sedayu dengan Kelapa Gading Square dan Senayan Residence, Grup Bakrie dengan Rasuna Epicentrum, Grup Lippo dengan St Moris dan Kemang Village, serta Summarecon Agung dengan proyek Mal Kelapa Gading dan La Piazza.

Anton pun menyebutkan, grup-grup yang tak kalah besar dan terkenalnya yang saat ini masih aktif mengembangkan sejumlah proyeknya di Jakarta seperti Grup Plaza Mutiara (Tan Kian). Tan Kian saat ini sudah membangun Ritz Calton, Pacific Place, dan JW Marriot.

“Grup Pakuwon juga ikut main di Jakarta, dengan proyek Gandaria City dan Kota Casablanca, Grup Djarum dengan Grand Indonesia dan WTC Mangga Dua, serta Grup Ciputra dengan proyek Ciiputra World,” ujar Anton kepada VIVAnews di Jakarta, Selasa, 12 Oktober 2010. (hs)

Hasil evaluasi 24 proyek tol didesak diumumkan

OLEH MIA CHITRA DINISARI Bisnis Indonesia

Asosiasi Tol Indonesia mende sak pemerintah segera mengumumkan hasil se mentara evaluasi 24 ruas jalan tol.

Konstruksi Ciawi Sukabumi dimulai semester II tahun depan JAKARTA: Asosiasi Tol Indonesia (ATI) mendesak pemerintah segera meng umumkan hasil semen tara evaluasi terhadap 24 ruas jalan tol, untuk mempercepat kelanjutan proyek.

Ketua ATI Fatchur Rochman mengatakan hingga kini, pemerintah belum juga menyampaikan hasil evaluasi tahap pertama yang seharusnya diumumkan pada akhir September 2010, terutama terkait dengan kelayakan kelanjutan proyek tersebut.

Tanpa adanya kepastian uji hasil kelayakan, lanjutnya, para kontraktor atau pemegang konsesi akan sulit mencari partner untuk pembiayaan proyek yang biayanya akan membengkak.

Selain itu, menurut Fatchur, untuk kelanjutan proyek tersebut perlu ada dukungan penuh dari pemerintah bukan hanya bantuan dana melalui badan layanan umum (BLU).

Dukungan lainnya yakni berupa kebijakan baru yang mendukung percepatan proyek itu sendiri.

“Kalau proyek sudah kembali layak atau dinyatakan layak dilanjutkan, maka kami baru akan mencari partner, karena selama belum ada kepastian kelayakan proyek, yah kami akan kesulitan mencari partner dalam pembiayaan,“ ujarnya, kemarin.

Dia juga menilai bantuan dana BLU untuk biaya pembebasan lahan tidak memberikan kepastian dalam kelanjutan proyek, tanpa didukung oleh kebijakan lainnya.

Karena pada dasarnya, dengan hanya adanya bantuan dana tanpa bantuan dari sisi kelayakan maka proyek tersebut tetap tidak bisa dilanjutkan.

Fatchur juga meminta pemerintah untuk tetap melanjutkan ke 24 proyek jalan tol itu, terutama untuk ruas yang semula sudah dinyatakan layak tetapi terhenti kegiatannya, karena adanya kebijakan untuk mengevaluasi secara keseluruhan.

Sementara itu, Kepala Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) Achmad Gani mengatakan kendala utama dalam kelanjutan proyek 24 ruas jalan tol yang sedang dievaluasi saat ini adalah masalah keuangan dari pemegang konsesi.

Alasan itu pula yang membuat pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri No.6/PRT/M/ 2010 tentang Pengusahaan Jalan Tol.

Karena itu, dia mengimbau agar seluruh pemegang konsesi mencari partner untuk pendanaan jika mereka tidak mampu menjalankan proyeknya sendirian karena keterbatasan kemampuan keuangan.

“Kami berharap semua proyek bisa dilanjutkan, karenanya keluar peraturan menteri tersebut, tapi jika bujetnya terbatas dan pemegang konsesi tidak bisa mencari partner yang mampu membantu dalam hal pembiayaan akan sulit.

Karenanya mereka agar mencari partner mulai dari sekarang.“

Pembebasan lahan Sementara itu, pembebasan lahan jalan tol Ciawi-Sukabumi seksi I sepanjang 14,5 km, baru mencapai 7 hektare dari total rencana pembebasan lahan seksi itu 162 hektare.

Dirut PT Trans Jabar Tol Harya Mitra Hidayat optimistis seluruh lahan untuk pembangunan jalan tol seksi I itu akan rampung pada semester I/2011.

Dia menuturkan hampir tidak ada kendala yang berarti dalam pembebasan lahan itu.

“Masyarakat bisa menerima proses ganti rugi dan proses pem bebasan lahan mulai berjalan saat Ramadan 2010,“ katanya di Bandung, kemarin.

Dia mengatakan total kebutuhan biaya untuk pembebasan lahan jalan tol sepanjang 53 km tersebut mencapai Rp400 miliar yang diperoleh dari badan layanan umum (BLU). Penandatanganan perjanjian BLU sudah ditandatangani trans-Jabar Tol dengan Kementerian PU, pada bulan lalu.

Setelah pembebasan lahan, perusahaan menargetkan pembangunan konstruksi berjalan pada semester II/2011 dengan perkiraan biaya Rp1,9 triliun.

Sumber daya pembangunan konstruksi berasal dari ekuitas pemegang saham dan sindikasi perbankan. Harya mengatakan sindikasi perbankan yang akan menyokong pembangunan jalan tol itu a.l. Bank BNI, BRI, Bank BJB, Bank Jatim, dan Bank Riau. “Komitmen sindikasi perbankan ditandatangani pada 2009.“

Trans-Jabar Tol dimiliki oleh Bakrie Infrastructure 75% dan PT Jasa Sarana 25%. (K45) (mia.chitra@bisnis.co.id)

loading

Jumat, 08/10/2010 17:09 WIB

Proyek Tol Ciawi-Sukabumi

Pemda Harus Ikut Terlibat Dalam Pembebasan Lahan

Baban Gandapurnama – detikBandung

Bandung – Dalam proyek jalan Tol Ciawi-Sukabumi, PT Jasa Sarana meminta pemerintah daerah dapat terlibat dalam proses pembebasan lahan. Hal ini dikarenakan pemda setempat yang lebih memahami daerah yang akan dibebaskan.

Seperti yang disampaikan oleh Harya Mitra Hidayat, Direktur Pengembangan Usaha PT Jasa Sarana dalam jumpa pers di kantornya di Jalan Tubagus Ismail.

Menurutnya, pembebasan tanah merupakan kewajiban pemerintah. Sebab pemerintah setempat lah yang lebih mengetahui seluk beluk wiliayahnya. Pihaknya pun membentuk panitia pembebasan tanah dan tim pembebasan tanah yang dibawahi oleh Dinas PU dan Bina Marga.

“Pemda setempat mulai dari pedesaan, kecamatan hingga kabupaten kan lebih tahu. Jadi pembebasan tanahnya bisa lebih mudah,” katanya.

Dalam proyek ini, sambung Harya, pihaknya tidak mengalami kendala berarti. Permasalahan harga tanah yang muncul dianggapnya masih dalam batas kewajaran.

“Walaupun begitu ternyata masyarakat juga sudah menunggu untuk pembebasan tanah ini. Mereka sudah lama menunggu terealiasasinya proyek ini,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk proyek jalan tol Ciawi-Sukabumi ini ditargetkan rampung pada 2016. Pengerjaannya pun dibagi menjadi beberapa tahap. Tahap pertama Ciawi-Cicurug sepanjang 14,5 kilometer, berikutnya Cicurug-Cibadak sepanjang 11,9 kilometer. Kemudian disusul Cibadak-Sukabumi Barat sepanjang 13,7 kilometer dan terakhir Sukabumi Barat-Sukabumi Timur sepanjang 13,4 kilometer.

“Untuk selesai semuanya dipekerkirakan pada akhir 2015 atau awal 2016,” tukasnya.

(afz/afz)

Pembangunan Tol Bogor-Sukabumi Dikebut

Jum’at, 8 Oktober 2010 – 22:38 wib

Gin Gin Tigin Ginulur – Okezone

BANDUNG – Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Jasa Sarana terus mempercepat pembangunan dua proyek tol di wilayah Jabar bagian Barat. Kedua proyek tol tersebut masing-masing lajur Ciawi-Sukabumi sepanjang 54 Km dan Bogor-Ciawi (Bogor Ring road) sepanjang 12 Km.

Saat ini, lajur tersebut sudah memasuki tahap pembebasan tanah. Pada pembangunan dua lajur tol ini, PT Jasa Sarana selaku Project Developer telah menggandeng beberapa investor swasta seperti PT Trans Jawa Tol yang melakukan investasi pada pembangunan Tol Ciawi-Sukabumi sebanyak 75 persen dari total investasi yang tahap pertama ini diprediksi akan menghabiskan dana sebesar Rp1,9 triliun.

Direktur Pengembangan dan Investasi BUMD Jasa Sarana Harya M Hidayat mengatakan, kedua proyek tersebut rencananya ditargetkan selesai pada tahun 2014 sudah dapat dioperasikan.

“Kedua proyek ini sekarang sudah masuk ke dalam tahap pembebasan tanah. Pembebasan tanah sendirizn rencananya sudah rampung pada pertengahan 2011 mendatang. Hingga pada akhir 2011 pembangunan kontruksi sudah dapat dimulai,” tegasnya saat jumpa pers di PT Jasa Sarana Jalan Tubagus Ismail Bandung, Jumat (8/10/2010).

Harya mengatakan, proyek Ciawi-Sukabumi akan dibangun dengan menggunakan dana sebesar 25 persen dari Jasa Sarana, dan 75 persen lainnya dari Trans Jawa Tol yang merupakan grup Bakrie Infrastruktur.

“Pembangunan tol Ciawi-Sukabumi ini merupakan sambungan langsung dengan tol Jagorawi. Progresnya saat ini sudah masuk pada seksi I yakni pembebasan tanah. Dalam pembangunan ini, proses pembangunan akan dibagi menjadi empat seksi,” ujar Harya.

(crl)

Proyek-Proyek Raksasa SBY-Boediono (II)

Jembatan Selat Sunda dan pembangunan rel kereta api bandara masuk dalam daftar.

SELASA, 5 OKTOBER 2010, 10:47 WIB Antique

VIVAnews – Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono – Boediono berjanji merampungkan sejumlah megaproyek sebelum pemerintahan mereka berakhir pada 2014 mendatang.

“Proyek Jembatan Selat Sunda ditargetkan akan mulai dikerjakan pada 2014,” kata Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Hermanto Dardak kepada VIVAnews di Jakarta, Selasa, 5 Oktober 2010.

Menurut Hermanto, proyek raksasa senilai US$15 miliar, atau sekitar Rp150 triliun tersebut, nantinya akan terdiri dari satu jalur ganda kereta api dan di kiri kanannya dibangun lajur kendaraan roda empat. “Saat ini kami sedang menyiapkan studi detailnya,” ujarnya.

Sebab, dia menambahkan, selain untuk jalur transportasi, jembatan tersebut juga akan menjadi sarana sejumlah utilitas seperti sambungan telepon, kabel listrik, pipa gas, dan energi lainnya yang melintasi Selat Sunda dan menjadi penghubung antara Pulau Jawa dengan Sumatera.

“Untuk itu, studi proyek ini dikerjakan bersama antara Kementerian PU, Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan, Bappenas, BUMN, BUMND, dan mitra swasta,” kata Hermanto.

Sedangkan mengenai pendanaan proyek–yang rencananya mulai digarap di masa SBY dan akan berlanjut di masa presiden berikutnya–selain dari pemerintah juga akan dibantu swasta dan pinjaman perbankan.

“Tapi, untuk pengerjaan proyek tetap pemerintah kepalanya,” tuturnya.

Selain proyek Jembatan Selat Sunda, proyek infrastruktur raksasa lain yang juga ditargetkan pemerintahaan SBY – Boediono di antaranya adalah Rel Kereta Api Bandara Soekarno Hatta dan pengembangan Bandara Udara.

Pengerjaan proyek rel kereta api Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten diperkirakan akan memakan waktu hingga lima tahun. Masa itu mencakup waktu tiga tahun untuk pembebasan tanah. Sisanya, dua tahun untuk pengerjaan fisik.

Proyek rel kereta sepanjang 30,3 kilometer ini merupakan proyek infrastruktur yang telah ditawarkan pemerintah melalui mekanisme kerjasama pemerintah-swasta.

Sejumlah Bandara juga akan dipercantik dan dikembangkan pemerintah melalui perusahaan BUMN terkait, seperti Bandara Ngurah Rai Denpasar-Bali.

PT Angkasa Pura I merevisi rencana investasi untuk pengembangan Bandara Ngurah Rai Denpasar dari sebelumnya Rp2 triliun menjadi Rp1,9 triliun.

Pengurangan nilai investasi sebesar Rp100 miliar itu dilakukan setelah adanya analisis dan verifikasi rencana pengembangan bandara oleh Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan. (kd)

Proyek-Proyek “Raksasa” SBY-Boediono

Jika Soekarno memilih membangun Monas dan Gelora Senayan, apa proyek besar SBY?

Selasa, 5 Oktober 2010, 07:48 WIB

Heri Susanto, Agus Dwi Darmawan

(Antara/ R Rekotomo)

VIVAnews – Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono – Boediono berjanji akan merampungkan sejumlah proyek-proyek besar sebelum pemerintahannya berakhir pada 2014.

“Proyek-proyek ini ditarget sampai 2014,” kata Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto seperti ditulis VIVAnews Senin 4 Oktober 2010.

Menurut Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas, Deddy S Priatna, jumlah proyek besar itu cukup banyak. Tak hanya di Jawa, kata Deddy, sederet proyek besar itu mencakup darat, perhubungan laut, udara, penyeberangan dan kereta api.

“Oktober ditetapkan prioritas sampai 2014. Baru kemudian bicara anggaran yang disediakan,” kata Deddy.

Karena ini merupakan proyek-proyek raksasa, maka dana yang dibutuhkan juga sangat besar. Karena itu, Djoko menekankan pendanaan tidak bisa dibiayai pemerintah sendiri. Semua proyek masuk kategori multi years dan umumnya mendapat dukungan dari swasta. “Dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hanya sebagai stimulan.”

Berbeda dengan pemerintah Soekarno yang membangun proyek “mercusuar” yang menjadi ikon Indonesia, seperti Gelora Bung Karno dan Monumen Nasional.

Sedangkan, pemerintah SBY-Boediono lebih memilih membangun proyek-proyek infrastruktur untuk mendorong kegiatan dan pertumbuhan ekonomi. Berikut ini proyek-proyek yang dijanjikan tuntas sebelum 2014.

1. Jalan Tol Trans Jawa

Pemandangan udara tol Kanci-Pejagan di Cirebon Jalan tol Trans Jawa merupakan jalan tol terpanjang di Indonesia. Panjangnya 650 kilometer menghubungkan kota-kota besar di Pulau Jawa. Dana yang dibutuhkan tidak main-main, puluhan triliun rupiah. Bayangkan, untuk membebaskan lahannya saja membutuhkan duit Rp5 triliun. Sebagian ruas sudah selesai seperti Tol Kanci-Pejagan di Cirebon, sebagian sedang dibangun dan dibebaskan lahannya. Jika jalan tol ini selesai, dipastikan bakal mendorong kegiatan dan pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa.

2. Jalan Tol Jabodetabek

jalan tol Bogor Outer Ring Road (BORR) di Kedunghalang, Bogor Jalan tol Jabodetabek ini mencakup jalan tol di lingkungan Jakarta dan sekitarnya. Pemerintah tengah menuntaskan pembangunan jalan tol dalam kota Jakarta, jalan tol lingkar luar Jakarta tahap II, jalan tol lingkar luar Bogor, serta jalan tol akses ke pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

3. Perluasan Pelabuhan

Tumpukan peti kemas ekspor di Tanjung Priok Agenda besar mengembangkan sejumlah pelabuhan, salah satunya pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara menjadi pelabuhan bertaraf internasional. Dengan demikian, Priok bisa menampung kapal berkapasitas besar dari 3.000 teus menjadi 5.000 teus. Untuk itu, Priok akan melakukan reklamasi besar-besaran karena membutuhkan lahan 270 hektare. Total investasi itu diperkirakan mencapai Rp22 triliun.

4. Jalan Lintas Pulau

Jalan lintas Padang – Bukittinggi di kawasan Silaing, Padangpanjang Selain jalan tol, pemerintah SBY menjanjikan akan membangun jalan lintas Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur hingga Papua. Totalnya sepanjang total 19.370 kilometer pada 2014.

5. Pembangkit Listrik 10.000 Megawatt Tahap II

Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Muara Karang, Jakarta Pembangunan pembangkit listrik tahap II juga merupakan salah satu agenda pemerintah SBY setelah membangun Pembangkit Listrik Tahap I. Sebagian dari proyek pembangkit listrik tersebut akan mengandalkan sumber energi batu bara.

6. Mas Rapit Transit (MRT)

Subway, salah satu moda angkutan MRT MRT Jakarta merupakan salah satu agenda besar angkutan transportasi massal. Ini sebenarnya sudah dibahas sejak 1985, namun mulai ada titik terang pada 2005, pada masa kabinet SBY tahap pertama. Meski sudah mulai digarap, namun proyek raksasa ini tidak akan tuntas 2014. Diperkirakan baru bisa terwujud 2016. Dana yang dibutuhkan sebesar Rp16 triliun dengan pinjaman dari Jepang, serta mengandalkan anggaran dari Pemda DKI Jakarta dan pemerintah pusat.

• VIVAnews

Bebaskan Lahan Tol Trans Jawa Butuh Rp5 T
Perkiraan dana itu dipakai untuk membebaskan lahan kurang lebih sepanjang 650 kilometer.
Senin, 4 Oktober 2010, 11:57 WIB

Arinto Tri Wibowo, Agus Dwi Darmawan

VIVAnews – Untuk menyelesaikan pembangunan jalan tol Trans Jawa sebelum 2014, pemerintah harus mengeluarkan dana sekitar Rp5 triliun. Perkiraan dana itu dipakai untuk membebaskan lahan kurang lebih sepanjang 650 kilometer.

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, Djoko Murjanto, mengatakan, untuk keperluan tol Trans Jawa tersebut, pemerintah kini telah membebaskan 36 persen lahan.

“Dana yang telah dipakai Rp1,7 triliun,” kata Djoko usai rapat koordinasi penguatan konektivitas infrastruktur nasional di Kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Senin 4 Oktober 2010.

Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum memperkirakan kekurangan anggaran yang telah dialokasikan untuk tol Trans Jawa. Untuk itu, Kementerian Pekerjaan Umum meminta tambahan anggaran Rp3,2 triliun guna mempercepat pembebasan lahan tol.

“Anggaran itu untuk pembebasan lahan tol Trans Jawa dan akses Tanjung Priok,” ujarnya. Namun, alasan apa yang menyebabkan anggaran lebih besar dari proyeksi awal, Djoko tidak menjelaskan.

Menurut dia, anggaran tersebut dibutuhkan untuk membebaskan lahan tol paling lambat 2011.

• VIVAnews

Kamis, 30/09/2010 14:20 WIB

Investor Mulai Kapok Investasi Tol

Suhendra – detikFinance

Jakarta – Pemilik Bosowa Grup Erwin Aksa mengungkapkan keluhannya terhadap prospek investasi tol di Tanah Air. Selain berisiko tinggi, investasi sektor tol masih dihambat oleh segudang masalah termasuk pembebasan lahan.

“Investasi tol mulai kurang menarik, risikonya tinggi,” kata CEO Bosowa Grup Erwin Aksa ditemui disela-sela acar Jakarta Investment di Balai Kartini Jakarta, Kamis (30/9/2010)

Erwin mengaku investasinya di tol Jakarta Lingkarluar Barat I (JLB) Kebon Jeruk-Penjaringan Jakarta, ternyata tak sesuai dengan ekspektasi. Faktanya, frekuensi lalu lintas tidak tercapai dari target, sehingga berdampak pada lamanya pengembalian modal.

“Masalah lalu lintas yang tak tercapai ini karena konektivitas belum terjadi, investor lainnya belum selesai. Akhirnya investor yang serius terganggu,” katanya.

Menurut Erwin, jika pemerintah ingin serius membangun investasi infrastruktur di Indonesia, maka cara yang paling jitu adalah memberikan jaminan kepada pemodal termasuk dalam kasus jaminan frekuensi lalu lintas tol yang sudah terbangun.

“Kuncinya ada jaminan, lembaga keuangan itu minta minimum garansi,” katanya.

Masalah jaminan ini pula menurut Erwin menjadi penyebab gagalnya proyek monorail di Jakarta. Erwin pun khawatir ini bisa juga terjadi pada proyek MRT, meski ia melihat ada keseriusan di proyek ini.

(hen/qom)

Bakrie Toll Road Terbitkan Obligasi Rp 1,5 Triliun

Rabu, 29 September 2010 | 22:50 WIB

Robert Adhi Ksp/KOMPAS

NUSA DUA, KOMPAS.com – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) semakin gencar menggarap proyek jalan tol. Pada semester I-2011, anak usaha Bakrieland, PT Bakrie Toll Road akan menerbitkan obligasi senilai Rp 1 triliun-Rp 1,5 triliun untuk membiayai proyek jalan tol dan refinancing utang yang akan jatuh tempo.

Rencananya, Bakrieland akan melaksanakan seleksi penjamin emisi penerbitan obligasi tersebut pada akhir 2010. “Dana penerbitan obligasi ini akan digunakan untuk refinancing utang dan modal kerja pembebasan lahan dan pengembangan jalan tol,” kata Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) Hiramsyah S. Thaib usai berbicara di The 25th Pan Pacific Congress di Nusa Dua, Bali, Selasa (28/9).

Menurutnya, Bakrie Toll Road perlu me-refinancing utang, khususnya yang berasal dari perbankan, agar laporan keuangannya lebih sehat. Pasalnya, beban pembayaran bunga utang bank tahun depan dikhawatirkan akan meningkat.

Karena obligasi baru terbit tahun depan, hingga akhir tahun ini, Bakrie Toll harus memanfaatkan pinjaman bank yang telah diterimanya. “Oleh karena itu, kami akan menerbitkan obligasi ketika kami benar-benar butuh dana segar,” ujar dia.

Sejatinya, Bakrie Toll Road baru menerima dana bantuan layanan umum (BLU) senilai Rp 800 miliar yang terlambat cair. Tapi, pengucuran dana yang telat membuat pembebasan lahan dan konstruksi dua proyek tol baru terlambat. Selain itu, penyerapan dana menjadi relatif rendah.

Jajaki mitra baru

Untuk mengembangkan bisnisnya, saat ini, Bakrie Toll Road dan Bakrieland Development juga tengah menjajaki kemungkinan menggaet calon investor dari luar negeri. “Kami masih ngobrol dengan beberapa mitra asing, mudah-mudahan tahun depan bisa terealisasi,” tuturnya.

Hiramsyah mengaku, calon investor yang berminat kepada proyek jalan tol itu berasal dari Asia dan Amerika Serikat. Catatan saja, saat ini, bakrie Toll Road tengah menggarap tiga ruas tol, yaitu Ciawi-Sukabumi, Pejagan-Pemalang, dan Batang-Semarang.

Selain itu, ada tiga investor Timur Tengah yang melirik proyek properti Bakrieland. Antara lain berasal dari Arab Saudi dan Qatar. “Mereka berminat menggarap proyek city property dan landed residential karena sekarang kita pemilik landbank terbesar dengan masuk ke Bukit Jonggol,” jelas Hiramsyah. (Hari Widowati/KONTAN)

Indonesia masih menjadi negara tujuan yang tepat bagi investasi di sektor properti terutama ditengah-tengah krisis ekonomi global.

“Indonesia tidak terpengaruh krisis ekonomi global yang dipicu kasus sub prime mortgages di Amerika Serikat,” kata Presiden Direktur dan Chief Executive Officer (CEO) PT Bakrieland Development Tbk, Hiramsyah S Thaib dalam makalah yang bertajuk “Indonesia, the Right Property Investment Desetination ini this ongoing Global Crisis”seperti keterangannya yang diterima VIVAnews di Jakarta.

Makalah yang dibacakan Hiramsyah pada acara Kongres Pan Pacific ke-25 di Bali tanggal 27 – 30 September 2010 menyebutkan, akibat dari kasus subprime mortgages 2008 membuat harga rumah jatuh, sejumlah orang kehilangan rumah tinggal, serta dampak sistemik terhadap kondisi ekonomi di negara-negara sehingga membuat sejumlah perusahaan keuangan gulung tikar.

“Saat ini, dunia tengah memasuki tahap pemulihan akibat krisis ekonomi, pemerintah Amerika Serikat menerbitkan sejumlah paket stimulus, dana talangan terhadap perusahaan yang bangkrut, termasuk perusahaan keuangan, serta berbagai upaya lainnya,” kata Hiramsyah.

Hiramsyah menuturkan, ketika sektor properti di negara-negara Barat mengalami kesulitan, justru investasi di negara-negara Asia, khususnya sektor properti justru bergairah dan penjualan sangat prospektif.

“Kondisi demiki

Sumber : VIVANEWS.COM

Bakrie Targetkan Tol Ciawi- Sukabumi Beroperasi 2014

Baru Bisa Bebaskan Lahan 5,3 Hektare

Selasa, 28 September 2010 , 00:52:00 WIB

RMOL.PT Bakrie Toll Road (BTR) baru berhasil membebaskan 5,3 hektare tanah bagi pembangunan Tol Ciawi-Sukabumi untuk seksi satu Ciawi-Cigombong. Selama ini, pembebasan lahan jadi kendala utama pembangunan jalan tol, terutama di Jawa.

Pihak manajemen BTR mem perkirakan pembebasan tanah tol Ciawi-Cigombong ini akan tuntas pada pertengahan 2011 atau sekitar Mei-Juni 2011. Direktur Utama PT Bakrie Toll Road Harya Mitra Hidayat menga takan, pembayaran uang ganti rugi (UGR) tahap dua senilai Rp 12,1 miliar dengan total luas ta nah 4,2 hektare. Pada tahap satu telah dibayar UGR Rp 4,9 miliar dengan total luas lahan 1,1 hektar.

Harya menyebutkan, kebutu han lahan untuk seksi pertama se luas 165 hektare mencakup kawa san permukiman, persawahan, tanah kebun, lahan peternakan serta halaman pabrik.

Untuk seksi pertama tidak ada tanah milik PT Perkebunan (PTP) maupun Ke hutanan kena proyek jalan tol, sehingga tidak ada ken dala dalam pembebasannya.

Seperti diketahui pada Jumat (24/9), warga Desa Ciherang Pon doh, Kecamatan Caringin mene­rima pembayaran UGR atas tanah mereka yang kena proyek jalan tol.

Harya menjelaskan, setelah dana BLU mulai cair, pihaknya akan dapat menyelesaikan selu ruh proses pembebasan lahan seksi satu dengan lancar.

Semen tara itu, terkait dengan target, Harya mengatakan, telah menu run kan tim yang sudah ber penga laman dalam melakukan pembe basan lahan untuk jalan tol. Pembangu nan jalan tol Ciawi-Sukabumi Seksi satu (Ciawi-Cigombong) sepan jang 15,3 km akan dimulai pada 2011.

“Lalu lintas Seksi Ci awi-Ci gom bong merupakan yang terpa dat, se hingga kami prio ritaskan pem bangunannya,” ujar nya se raya me nambahkan, pem bangu nan konstruksi diper kirakan me ma kan waktu 18-24 bulan. Se hingga pa ling lam bat, ta hun 2014, tol ter sebut siap diope­rasikan.

Wakil Ketua Umum Kadin bi dang Infrastruktur dan Peruma han Rakyat Lukman Purnomo sidi berharap pemerin tah tidak me ngeluarkan kebijakan yang justru membuat investor angkat tang an, karena akan muncul pre seden yang buruk dalam inves tasi. Di ingatkan, investasi pemb­angu nan infrastruktur mencapai Rp 500 triliun, sedangkan jalan tol Rp 100 triliun kalau sampai macet maka akan ada gangguan eko nomi. Luk man mengatakan, ken dala pem bangu nan infra struk tur kadang just ru terjadi dalam pelak sanaan. Sebagai contoh, sulitnya pencairan dana talangan dari BLU. [RM]

Bisnis Properti Booming 2014, Menpera Minta Jaminan Lahan

Provinsi Sumsel Sukses Kelola Program Perumahan

Jum’at, 24 September 2010 , 00:14:00 WIB

RMOL.Di tengah persaingan bisnis pro perti yang makin ketat, Ke men­terian Perumahan Rakyat (Kemenpera) mendorong peme rin tah daerah agar menjamin ke tersediaan la­han perumahan khususnya kelas menengah ke bawah. Tanpa jami nan tersebut, maka masya rakat akan makin su lit mendapatkan perumahan.

Hal itu dikemukakan Men teri Perumahan Rakyat (Menpera) Su harso Mo noarfa di acara penyera han penghargaan Adiupaya Puri tama di Jakarta, kemarin. Menurut Suharso, para gubernur, bupati, dan walikota mesti memberi per hatian kepada rakyat agar menda patkan fasilitas perumahan.

“Setiap penduduk harus kem bali ke rumah. Karena rumah me rupa kan lambang kesejahteraan dan kemakmuran sebuah bangsa dan daerah. Jadi, tidak mungkin kepala daerah tidak memikirkan itu,” kata politisi PPP ini.

Hanya saja, lanjut Suharso, per soalan yang mendasar saat ini ada lah persoalan lahan. Namun, se lalu ada jalan untuk menye le sai­kan permasalahan tersebut. Dia mencontohkan, di Singapura, se kitar 90 persen la han dikuasai oleh negara, se hingga memu dah kan pemerintah melakukan pengatu ran atas perumahan.

“Langkah yang dilakukan Si ngapura itu bisa dicontoh oleh pemerintah daerah kita. Kepada gubernur, bupati, dan walikota, diharapkan bisa melakukan yang terbaik untuk masyarakat kita. Problem penyediaan tanah yang kita hadapi, saya yakin pasti bisa kita selesaikan,” paparnya.

Pada kesempatan resepsi ulang tahun Menpera itu, penghargaan diberikan kepada Gubernur Sum sel Alex Noerdin, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Wakil Gu ber nur Jatim Saifullah Yusuf, Wali kota Palembang, Walikota Banda Aceh dan Bupati Malang.

Pengamat peru mahan Pana ngian Simanungkalit memper kirakan, tahun ini bisnis peruma han nasional akan kem bali bang kit dan booming hingga 2014. Selain didukung perbaikan pere­konomian, pertumbuhan pa so kan dan permintaan hunian di to pang oleh penurunan suku bunga pem biayaan sektor ini.

“Prospek bisnis perumahan akan tetap bagus hingga 2014,” pungkas Panangian. [RM]

Pendapatan Bakrieland berpeluang melebihi target

JAKARTA

PT Bakrieland Development Tbk, lini bisnis Grup Bakrie di bidang properti melihat peluang naiknya pendapatan perseroan tahun ini melebihi angka proyeksi yang dipatok pada awal tahun sebesar 30%, sejalan dengan perkembangan proyek yang tengah direncanakan.

Presiden Direktur Bakrieland Hiramsyah S. Thaib mengatakan sejumlah proyek properti yang direncanakan perseroan mulai menunjukkan titik terang, terutama proyek pembangunan beberapa ruas jalan tol milik perseroan.

Tiga proyek jalan tol yang akan dikembangkan anak usaha perseroan, PT Bakrie Toll Road telah memperoleh anggaran pembebasan lahan senilai Rp1,23 triliun.

“Sejauh ini target pendapatan belum kita revisi, tetap 30%. Melihat perkembangan beberapa proyek, sebenarnya kami cukup yakin pertumbuhan tahun ini lebih tinggi.

Tetapi sementara realistis dulu,“ ujarnya kepada Bisnis, awal pekan ini.

Menyangkut proyek pembangunan jalan tol, perseroan menarget kan konstruksi dua ruas jalan tol Pejagan-Pemalang (58 km) dan Ciawi-Sukabumi (54 km) paling lambat dilakukan pada semester II/2011.

Rencana pembangunan jalan tol Ciawi-Sukabumi akan diintegrasikan dengan pengembangan properti di kawasan Lido yang akan terhubung langsung dengan akses jalan tol tersebut.

Dana pengadaan lahan ruas Ciawi-Sukabumi mencapai Rp430 miliar telah disetujui pemerintah sebelum Lebaran tahun ini.

Sejauh ini, dia menjelaskan perseroan masih memiliki lahan yang siap dikembangkan seluas 1.300 ha di wilayah Lido Jawa Barat.

“Sampai sekarang kami termasuk pengembang properti dengan land bank terbesar,“ jelasnya.

Adapun Badan Pengatur Jalan tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum memastikan dua proyek jalan tol milik Bakrie lainnya, yakni ruas Pejagan-Pemalang dan Batang-Semarang memperoleh dana pembebasan lahan dari badan layanan umum (BLU) senilai Rp800 miliar.

Dengan dukungan dana tersebut, perseroan menargetkan proses pem bebasan lahan proyek jalan tol dapat dipercepat dan tuntas seluruhnya tahun ini.

Sebagai catatan, pada 2010, Bakrieland menuntaskan sedikitnya enam proyek properti di Jakarta, Bogor dan Bali senilai Rp3,2 triliun guna merespons kebangkitan pasar properti pada tahun ini.

Hingga 13 Agustus 2010, Bakrieland telah menyelesaikan tiga dari 11 menara (tower) Sentra Timur Residence (STR). Hingga akhir 2010, perseroan menargetkan dapat merampungkan tiga menara lagi, dengan kapasitas setiap menara sekitar 1.300 unit.

STR merupakan proyek rusunami dan kawasan bisnis terpadu yang menempati kawasan Kota Baru Perumnas, Jakarta Timur. Adapun, nilai investasi ketiga menara mencapai Rp780 miliar Rp900 miliar, sedangkan lahan yang termanfaatkan masih sekitar 4 hektare dari rencana pengembangan 40 ha.

Selain STR, ujarnya, Bakrieland menuntaskan proyek Epicentrum Walk Office Suite (Epiwalk) di tengah kawasan Rasuna Epicentrum di atas lahan 2.500 m2 senilai Rp250 miliar. (09)

Selasa, 21 September 2010 | 11:49 oleh Barratut Taqiyyah SAHAM ELTY

ELTY tak tahu alasan sahamnya meroket

JAKARTA. Saham PT Bakrieland Development (ELTY) kemarin naik tajam. Saham perusahaan properti ini sore kemarin ditutup di posisi Rp 157. Jika dibandingkan dengan kondisi sebulan lalu, harga saham ELTY meroket tajam.

Asal tahu saja, per tanggal 23 Agustus 2010, salah satu saham milik Grup Bakrie ini hanya sebesar Rp 109. Itu artinya, dalam sebulan, saham ELTY sudah meroket 44%.

Terkait hal itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) mempertanyakan kenaikan saham ELTY. Dalam keterbukaan informasi kepada BEI hari ini, pihak ELTY mengaku tidak memiliki rencana aksi korporasi apa pun dalam waktu dekat yang bisa mempengaruhi harga saham.

“Kami juga tidak mengetahui adanya aktivitas dari pemegang saham tertentu yang dapat mempengaruhi harga saham,” jelas manajemen ELTY.

Sejumlah analis menilai, kenaikan saham ELTY terkait dengan pasar properti yang booming menjelang akhir tahun. Selain itu, fundamental ELTY yang cukup bagus juga turut mendongkrak harga saham perusahaan ini.

Hanya saja, reli saham ELTy hanya bertahan beberapa hari saja. Pada pukul 11.46, saham ELTY turun 1,27% menjadi Rp 155.

Saham Bakrie dan Tambang Banyak Diburu

Indeks di BEI hanya melemah tipis 5,94 poin atau 0,18 persen ke level 3.365,04.

SELASA, 21 SEPTEMBER 2010, 16:50 WIB Antique

VIVAnews – Aksi beli pelaku pasar terhadap saham-saham grup Bakrie dan pertambangan dinilai mampu menahan laju pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada transaksi hari ini, Selasa 21 September 2010.

Pengamat pasar modal, Muhammad Habdi, berpendapat, IHSG hanya turun tipis karena ditopang pergerakan positif saham-saham grup Bakrie dan komoditas tambang. “Saham grup Bakrie sedang menjadi favorit,” ujar Habdi kepada VIVAnews di Jakarta.

Di BEI, saham Bakrie dan pertambangan yang mampu menahan penurunan IHSG di antaranya PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang terangkat Rp700 atau 1,83 persen ke level Rp38.900, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat Rp650 (3,58 persen) menjadi Rp18.800, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik Rp150 atau 7,40 persen di posisi Rp2.175, dan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menguat Rp2 (1,27 persen) ke level Rp159.

Dia menambahkan, pemburuan saham-saham tambang tersebut terdorong peningkatan harga komoditas di pasar global.

Sementara itu, penyebab terkoreksinya IHSG, menurut Habdi terpicu aksi ambil untung (profit taking) investor pada saham unggulan. Saham-saham unggulan itu di antaranya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), dan beberapa saham perbankan.

Meski demikian, pemodal asing masih meramaikan transaksi saham di pasar reguler. Mereka membeli saham senilai Rp1,37 triliun dan hanya melepas sebesar Rp1,26 triliun, sehingga terjadi pembelian bersih (net buying) Rp118,72 miliar.

Pada penutupan transaksi hari ini, IHSG melemah tipis 5,94 poin atau 0,18 persen ke level 3.365,04. Penurunan indeks tidak sebesar akhir transaksi sesi pertama yang terkoreksi 25,22 poin (0,74 persen) ke posisi 3.345,76.

Total nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp6,44 triliun dan volume tercatat 26,66 juta lot dengan frekuensi 160.563 kali. Sebanyak 132 saham menguat, 104 melemah, 67 stagnan, dan 175 saham tidak terjadi transaksi.

Sedangkan indeks bursa Asia saat IHSG ditutup bergerak variatif. Indeks Hang Seng naik 25,25 atau 0,11 persen di posisi 22.002,59 dan Straits Times menguat 14,41 poin (0,47 persen) menjadi 3.095,39. Tetapi, indeks Nikkei 225 melemah 23,98 poin atau 0,25 persen ke level 9.602,11.

Sementara itu, berdasarkan data transaksi di Bloomberg pukul 16.00 WIB, nilai tukar rupiah bercokol di posisi 8.964 per dolar AS dari transaksi sesi pertama yang berada di level 8.965 per dolar AS.

Sedangkan berdasarkan data kurs tengah BI, rupiah sore ini berakhir di posisi 8.968 per dolar AS. Pada perdagangan Senin 20 September 2010, mata uang lokal tersebut berakhir di level 8.979 per dolar AS. (art)

• VIVAnews

20/09/2010 – 04:00

Cermati Saham ASII, BBKP, ELTY & JSMR

(inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta – Pergerakan indeks pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan menguat di kisaran 3,340-3.375. Saham pilihan ASII, BBKP, ELTY dan JSMR.

Indeks masih dalam posisi beli dengan potensi yang masih kuat. Apalagi bursa Asia juga mengalami kebanjiran dana asing. Pekan ini level resisten masih akan berada di kisaran 3.376-3.500. Sebab pekan lalu kenaikan indeks belum terlalu maksimal.

Menurut pengamat pasar modal, Krisna Dwi Setiawan, aksi beli saham oleh pelaku pasar khususnya asing terutama terpicu oleh aturan baru Bank Indonesia (BI) yang menaikkan bunga Giro Wajib Minimum dari lima persen menjadi delapan persen. “Kenaikan itu akan menimbulkan persaingan antarbank yang pada gilirannya mendorong suku bunga bank bergerak naik,” katanya kemarin.

Dengan demikian saham yang menarik adalah saham yang terpengaruh kebijakan suku bunga. Hal ini dapat dilihat untuk sektor perbankan, properti dan otomotif. Walaupun posisinya dapat dalam area beli maupun area jual karena kenaikan suku bunga dapat diartikan sebagai tekan terhadap saham tertentu.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pada pekan lalu ditutup naik 29,84 poin (0,89%) ke level 3.384,65. Volume perdagangan mencapai 9,7 miliar lembar saham dengan nilai Rp5,7 triliun.

Meskipun ada kemungkinan juga investor akan melakukan aksi ambil untung. Dengan demikian indeks akan mengalami tekanan. Hal ini terutama terjadi pada saham yang pekan lalu telah mengalami penguatan cukup tajam.

Saham pilihan seperti Astra International (ASII) dengan koreksi yang terjadi pasca pencetakan new high di Rp.60.000 dapat digunakan sebagai kesempatan akumulasi. Fakor makro ekonomi seperti pertumbuhan GDP & BI rate kondusif yang dapat mendukung kredit & penjualan mobil serta konstribusi dari anak perusahaan lainnya masih berjalan.

Saham Bank Bukopin (BBKP) dengan rencana akuisisi yang kembali hangat setelah BRI menyatakan masih berminat meminang BBKP selain Jamsostek membuat nilai jual bank pemain UKM ini di mata investor semakin menarik.

Dari sektor properti yang didukung suku bunga BI rate yang diekspektasikan masih rendah, berlanjut pada peningkatan daya beli masyarakat dan pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Saham pilihan Bakrieland Development (ELTY) telah mengakuisisi 51% saham Bukit Jonggol senilai Rp1,9 triliun dan saham BKSL sebesar 20% senilai Rp150 miliar. Saham Jasa Marga (JSMR) yang akan melakukan ekspansi di bidang properti di sekitar jalan tol dengan investasi sekitar Rp500 miliar. [hid]

JAKARTA:

loading

Pemprov Jabar dorong realisasi tol Ciawi-Sukabumi

Rabu, 15/09/2010 15:47:27 WIB

Oleh: Yanto Rachmat Iskandar

BANDUNG: Pemerintah Provinsi Jawa Barat meminta pemegang konsesi jalan tol Ciawi-Sukabumi (53 km) segera direalisasikan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di kawasan tersebut.

Kepala Dinas Bina Marga Jabar HM Guntoro menilai realisasi pembangunan jalan tol, yang konsesinya dipegang konsorsium PT Bakrie Toll Road dan PT Jasa Sarana (BUMD Jabar), sangat penting.

“Itu mendesak diselesaikan [jalan tol]. Kalau selesai, maka selesailah persoalan kemacetan di sana,” katanya hari ini.

Dia mengemukakan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan juga sangat mendorong percepatan pembangunan jalan tol Ciawi-Sukabumi. “Pak Gubernur juga terus mendorong supaya proyek itu segera terwujud. Kami pikir itu dorongan yang bagus,” ujarnya.

Dia mengakui dukungan bantuan Pemprov Jabar memang terbilang kecil dalam realisasi pembangunan jalan tol. Sepengetahuannya, Pemprov Jabar tidak mengalokasikan dana untuk pembebasan lahan itu.

“Tidak ada kucuran dana [APBD] dari kami. Yang jelas kami akan mendorong pembangunannya,” katanya.

Nilai investasi ruas tol tersebut diproyeksikan antara Rp5,2 triliun–Rp5,9 triliun. Saat ini, proyek tersebut masih dalam tahap pembebasan lahan untuk pengerjaan proyek tahap I sepanjang 23 km.(gak)

Ketika Jakarta tak lagi menarik

OLEH TH. D. WULANDARI Wartawan Bisnis Indonesia

Pendatang loadingbaru memilih tinggal di luar Ibu Kota Selama libur Lebaran, Jakata seperti memiliki waktu istirahat kurang lebih selama seminggu untuk tidak melakukan berbagai aktivitas bisnis seperti hari biasa.

Tidak ada macet, aktivitas perdagangan relatif sepi dan kegiatan perkantoran terhenti. Banyak rumah penduduk juga ditinggalkan penghuninya. Tentu saja ini terjadi setelah sebagian besar penduduk Jakarta pulang ke kampung halaman alias mudik.

Pada Lebaran tahun ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mencatat sekitar 3 juta penduduk DKI Jakarta mudik Lebaran ke kota di Jawa Tengah, Jawa Timur hingga kota di provinsi lain di Indonesia.

Sebagai Ibu Kota, wajar Jakarta dipenuhi dengan banyak pendatang. Kaum urban itu ten

tu berharap dapat mengais rezeki dan mengadu nasib dari kemeriahan beragam aktivitas di Jakarta.

Entah bekerja sebagai pegawai kantoran, berdagang, menjual jasa, atau mereka yang belum bekerja tetapi menunggu kesempatan dengan tetap tinggal di rumah saudara.

Data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta memperlihatkan pada 2007, jumlah pendatang baru mencapai 109.617 orang atau terbesar sepanjang 3 tahun ini.

Lebaran 2 tahun lalu, jumlah pendatang baru menurun menjadi 88.473 orang, sedangkan pada

tahun lalu hanya mencapai 69.554 orang.

Bila diamati, tren pendatang baru ke Ibu Kota pasca-Lebaran turun sejak 3 tahun terakhir.

Namun, penurunan itu tak selamanya berarti baik. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo memperkirakan beban pertambahan penduduk Jakarta akan tetap berat dipicu oleh pertumbuhan penduduk di daerah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek).

Fauzi menegaskan tren itu tidak bisa diartikan beban pertambahan penduduk berkurang tetapi sebaliknya bisa bertambah.

“Statistik menunjukkan bahwa

angka pertumbuhan penduduk di Bekasi, Tangerang, Bogor, dan Depok jauh lebih tinggi dibandingkan [dengan] di Jakarta,“ katanya ketika melepas mudik gratis yang disponsori salah satu pusat perbelanjaan modern.

Hal itu disebabkan oleh keinginan mencari nafkah ke Ibu Kota masih tinggi sehingga yang ingin bekerja tidak langsung berdomisili di Jakarta melainkan memilih tempat tinggal di Tangerang, Bekasi dan Depok.

“Saya juga tidak bisa melarang orang ke Jakarta, karena Ibu Kota milik kita semua. Namun, bagi yang datang tanpa pekerjaan terpaksa kami pulangkan lagi,“ ujar Fauzi.

Untuk itu, Fauzi telah menyiapkan rencana peningkatan pengawasan terhadap para pendatang yang menjadi penduduk ilegal.

Selain itu, Fauzi mengimbau pemudik tidak mengajak saudara atau tetangga di daerah untuk mengadu nasib Jakarta.

Operasi yustisi Ketika menggelar open house di Rumah Dinas Gubernur, pernyataan itu kembali dilontarkan. “Karena ada persyaratan yang harus dipenuhi untuk bekerja di Jakarta,“ ujar Fauzi.

Salah satu langkah yang sudah disiapkan Pemprov DKI untuk mengatasi lonjakan pendatang baru tahun ini yakni menggelar Operasi Yustisi Kependudukan (OYK).

Menurut Fauzi, Pemprov DKI merencanakan menggelar OYK mulai H+7 Lebaran secara serentak di lima wilayah Ibu Kota.

Tentu saja, tujuan operasi bukan untuk menakuti.

“Melainkan hanya untuk mengingatkan pendatang baru agar segera melengkapi syarat administrasi kependudukan sesuai dengan aturan yang ada,“ ujar Kepala Dinas Dukcapil DKI Jakarta Franky Mangatas Pandjaitan.

Dalam operasi yustisi yang akan efektif digelar di lima wilayah kota mulai H+7 Lebaran, setidaknya 2.300 personel dari tujuh instansi sudah disiapkan turun ke lapangan.

Lalu, apakah kegiatan ini akan serta-merta menghentikan laju urbanisasi ke Ibu Kota? Kita lihat saja nanti. (HENDRA WIBAWA) (wulandari@bisnis.co.id)

Tol Ciawi dapat BLU Rp400 miliar

OLEH ZUFRIZAL Bisnis Indonesia

loading

PT Bakrie Toll Road mengungkapkan proyek jalan tol Ciawi-Sukabumi memperoleh dana BLU un tuk pembebasan lahan Rp400 miliar.

Lalu lintas Kanci-Pejagan capai 37.000 kendaraan

JAKARTA: PT Bakrie Toll Road mengungkap kan proyek jalan tol Cia wi-Sukabumi yang dimilikinya memperoleh dana bantuan layanan umum (BLU) untuk pembebas an lahan senilai Rp400 miliar dari pemerintah.

“Dana BLU Rp400 miliar tersebut telah disetujui pekan lalu, sebelum Lebaran,“ ujar Presdir Bakrie Toll Road Harya Mitra Hidayat kepada Bisnis, kemarin.

Menurut dia, dengan disetujuinya BLU untuk ruas sepanjang 53 kilometer itu, Bakrie Toll Road akan segera mempercepat proses pembebasan lahan, khususnya untuk seksi I.

Pasalnya, seksi I sepanjang 13,2 kilometer diprioritas untuk diselesaikan terlebih dahulu dibandingkan dengan seksi II, III, dan IV, mengingat pembangunannya cukup mendesak karena bisa terhubung dengan jalan raya yang ada.

“Kalau target pembebasan lahannya [seksi I] selesai akhir 2011, tahun berikutnya konstruksi, pada akhir 2013 sudah bisa beroperasi.“

Adapun, pembebasan lahan untuk seksi lainnya akan dilakukan bersamaan dengan seksi I, namun pengoperasiannya ditargetkan pada 2014 untuk seksi II serta 2015 untuk seksi III dan IV.

Berdasarkan catatan Bisnis, Bakrie Toll Road bermitra dengan BUMD Jabar yakni PT Jasa Sarana yang merupakan pemegang konsesi pengusahaan pembangunan jalan tol Ciawi-Sukabumi dengan nama PT Trans Jabar Tol.

Di perusahaan ini, Jasa Sarana memiliki 25% saham, sedangkan Bakrie Toll Road 75%.

Biaya pembebasan lahan proyek jalan tol Ciawi-Sukabumi seluas 570 hektare saat ini melonjak dari Rp350 miliar pada tahap awal menjadi Rp750 miliar.

Sebelumnya, Bakrie Toll Road juga telah memperoleh persetujuan mendapat dana BLU untuk pembebasan lahan dua ruas proyek jalan tol lainnya sebesar Rp800 miliar.

Dana tersebut digunakan untuk pembebasan lahan proyek ja lan tol Pejagan-Pemalang sebesar Rp250 miliar dan Batang-Semarang Rp550 miliar.

Estimasi biaya pembangunan Pejagan-Pemalang sepanjang 57 kilometer sekitar Rp5 triliun dengan luas lahan yang akan dibebaskan 400 hektare. Konsesi proyek ini dipegang oleh PT Pejagan Pemalang Toll Road.

Adapun, untuk ruas Batang-Semarang sepanjang 75 kilometer diperkirakan membutuhkan biaya Rp5 triliun-Rp6 triliun dengan luas lahan yang akan dibebaskan 660 hektare. Konsesi proyek tol ini dipegang oleh PT Marga Setiapuritama.

Menurut Harya, selain CiawiSukabumi, Pejagan-Pemalang, dan Batang, Semarang, Bakrie Toll Road yang merupakan unit usaha PT Bakrieland Development Tbk, juga memiliki konsesi proyek jalan tol Pasuruan-Probolinggo.

Hanya saja, hingga kini dana BLU untuk ruas Pasuruan-Probolinggo masih dalam proses untuk mendapatkan persetujuan dari pemerintah.

Adapun jalan tol Bakrie Toll Road yang sudah beroperasi adalah ruas Kanci-Pejagan sepanjang 35 kilometer.

Naik tiga kali lipat Terkait dengan ruas Kanci-Pejagan, Harya mengemukakan lalu lintas harian di jalan tol itu mencapai puncaknya pada H-1 Lebaran, di mana jumlah kendaraan yang lalu lalang mencapai 37.000 unit.

“Ini di atas ekspektasi kami sebanyak 35.000 kendaraan. Dalam keadaan normal traffic-nya berkisar 11.000 hingga 13.000 kendaraan.“

Dia menuturkan untuk arus balik, lonjakan kendaraan yang akan melintasi jalan tol yang beroperasi sejak awal 2010 tersebut diperkirakan terjadi kemarin.

Bakrie Toll Road, selaku pengelola jalan tol tersebut, lanjutnya, sudah mengantisipasi lonjakan arus balik.

“Jika sebelumnya gardu jalur mudik untuk arah Semarang yang dioperasikan sebanyak enam buah, dan tiga gardu untuk arah ke Jakarta, kini dibalik,“ tan dasnya.

Secara keseluruhan jalan tol Kanci-Pejagan memiliki 12 gardu yang mampu menampung lonjakan kendaraan hingga 55.000 unit.

Selain itu, kata dia, sepanjang Kanci-Pejagan telah disiapkan delapan posko Lebaran, masing-masing empat posko di setiap jalur.

Fasilitas yang ada di posko tersebut a.l. klinik kesehatan, tempat istirahat dan salat bagi masyarakat dan difungsikan sampai arus balik. (zufrizal@bisnis.co.id)

Senin, 06/09/2010 18:49:34 WIB

Bakrieland akan lunasi kupon obligasi Rp15,54 miliar

Oleh: Ratna Ariyanti

JAKARTA: PT Bakrieland Development akan membayar kupon obligasi I Bakrieland Development 2008 sebesar Rp15,54 miliar dengan menggunakan kas internal untuk pembayaran.

Sebelumnya, Direktur Utama Bakrieland Hiramsyah S. Thaib, dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), mengatakan bahwa perseroan akan mentransfer kupon obligasi ini kepada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia, agen pembayaran, selambat-lambatnya besok.

Kupon bunga obligasi tersebut terdiri atas kupon obligasi seri A dengan bunga sebesar 11,90% senilai Rp6,54 miliar dan seri B dengan bunga sebesar 12,85% senilai Rp8,99 miliar.

Total pokok obligasi I Bakrieland Development 2008 mencapai Rp500 miliar, yang terbagi atas obligasi seri A sebesar Rp220 miliar dan sisanya, seri B sebesar Rp280 miliar. Pembayaran kupon kali ini merupakan pembayaran yang ke sepuluh.

Sekretaris Perusahaan Bakrieland Nuzirman Nurdin, melalui pesan pendek kepada Bisnis, hari ini, mengatakan dana pembayaran kupon obligasi ini berasal dari kas internal perseroan.

Saham perseroan yang diperdagangkan di BEI dengan kode ELTY pada penutupan hari ini turun Rp1 atau 0,87% ke level Rp114, sehingga membentuk kapitalisasi pasar sebesar Rp4,6 triliun. (esu)

02/09/2010 – 14:27

Bakrieland Gandeng UBS Ikuti Conference di Singapura

(IST)

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) telah mengikuti Asean & India Conference pada 1-2 September 2010 di Singapura.

Hal ini disampaikan Hiramsyah S. Thaib, Presiden Direktur & CEO Perseroan dalam keterbukaan informasinya ke BEI, Kamis (2/9).

Dijelaskan, Perseroan mengikuti acara ini dengan menggandeng UBS. “Langkah ini dilakukan dalam rangka memberikan informasi mengenai kinerja dan prospek Perseroan,” ujarnya. [cms]

EKONOMI

02/09/2010 – 20:10

Bakrieland Siap Bayar Kupon Obligasi Rp15,54 M

(IST)

INILAH dot COM, Jakarta – Bakrieland Development Tbk (ELTY) siap untuk membayar kupon obligasi I Bakrieland Development Tahun 2008 sebesar Rp15,54 miliar.

Hal ini disampaikan Hiramsyah S. Tahib dalam keterbukaan informasinya ke BEI, Kamis (2/9). Kupon bunga ke-10 obligasi Bakrieland Development Tahun 2008 ini terdiri dari 2 seri. Kupon seri A dengan bunga 11,9% sebesar Rp6,55 miliar dan kupon bunga seri B 12,85% senilai Rp8,99 miliar.

“Dana tersebut akan kami transfer ke agen pembayaran (PT Kustodian Sentral Efek Indonesia) selambat-lambatnya 7 September 2010. [cms]

Bakrie to complete 2 toll roads construction in 2014

Tuesday, 31/08/2010 18:00:33 WIB

by: Tularji

JAKARTA: PT Bakrie Toll Road targets to have completed the construction of two toll roads being part of the trans-Java project, namely Pejagan—Pematang and Batang—Semarang, by 2014.

President Director of PT Bakrie Toll Road Harya Mitra Hidayat stated that now the both projects are still on a land acquisition. “The land acquisition needs longer time,” he answered Bisnis, today.

He explained that the process of land acquisition for Pejagan—Pemalang toll road has reached 70%, while the Batang—Semarang toll road has just been finished by 20%.

According to him, the projects could be completed after having the land acquisition for two years.

“The construction doesn’t take a long time, maximal by 2 years. Yet, the land acquisition must spend longer time.”

The Pejagan—Pemalang toll road spends predictably to IDR5 trillion, while the toll road of Batang—Semarang likely requires IDR6 trillion funds.

The source of the constructions is from syndication of several national banks as Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI) and a number of regional development banks (BPD).

Bakrie Toll Road was recorded as toll road operator of Kanci—Pejagan, operated initially in 2010 and is predicted to reduce the crowdedness of Pantura road to 50% from 70,000 vehicles included on 1-5 group to 350,000 vehicles.

The crowded of Pantura road in peak season is predicted to 70,000 vehicles a day, while the traffic trend through Kanci—Pejagan toll road keeps to increase and now even has touched 17,000 vehicles a day or 20% rise of last year’s target by 14,000 a day. (t01/wiw)

Bahana Securities 2010-08-23 03:49 PM

Bakrieland Development (ELTY)

Hold

Rp 280

Hingga Akhir Tahun, ELTY Menargetkan Pendapatannya Tumbuh 40% Menjadi Rp 1,5 Triliun. ELTY Berharap Bisa Meraih Penjualan Rp 1 Triliun Dari Proyek The Grove Suites.

Jalur Mudik Brebes-Tegal

Pintu Keluar Tol Pejagan Rawan Macet

Jum’at, 27 Agustus 2010 – 06:31 wib

Akrom Hazami – Koran SI

Tol Pejagan masih sepi dua pekan menjelang Lebaran (Foto: Koran SI)

BREBES – Dua pekan menjelang Lebaran, perbaikan jalan di jalur Pantura terus dilakukan. Salah satu ruas adalah jalur mudik Brebes hingga Kota Tegal.

Perbatasan Losari-Cirebon, kondisi permukaan jalan masih bergelombang. Sehingga memaksa pengguna jalan, terutama pengguna sepeda motor, waspada. Ditambah lagi, di dekat Pos Polisi Cisanggarung Brebes, yakni Pasar Cisanggarung, warga setempat yang berbelanja kerap meluber hingga mendekat tepian jalan.

Sementara itu kondisi di pintu keluar tol Pejagan jauh lebih tertib dibandingkan dengan pintu perbatasan di Cisanggarung. Berdasarkan pantauan, tol Pejagan belum dipenuhi kendaraan pemudik. Kendaraan yang lalu lalang masih didominasi oleh kendaraan bernomor polisi daerah setempat.

Pemudik yang melalui tol Pejagan dan berbelok ke arah Brebes, harus melintasi jalan yang menyempit, tepatnya di Jalan Lombok Kemurang Pejagan. Kawasan ini merupakan daerah padat penduduk. Para pengguna jalan wajib lebih berhati-hati lantaran warga setempat kerap menyeberang jalan dengan tiba-tiba.

Kondisi jalan yang menyempit, ditambah dengan adanya median jalan, akan membuat pengguna jalan lebih dalam menginjak rem. Ini terjadi karena biasanya di Jalan Lombok Kemurang kerap terjadi penumpukan kendaraan akibat dari adanya perlintasan kereta api (KA).

“Pemudik yang keluar dari jalan tol Pejagan belok kiri ke arah Brebes, memang akan disulitkan dengan adanya jalur perlintasan KA yang cepat, maka pemudik harus lebih sabar,” kata Kapolda Jateng Irjen Pol Edward Aritonang saat memantau jalur mudik di Brebes, kemarin.

Setelah melalui jalur tersebut, pengguna jalan akan melintasi jalan pantura. Di Jalan Raya Cimohong ini, kondisi permukaan jalan sebagian besar telah mulus meski sedikit bergelombang.

Hingga saat ini masih ditemukan perbaikan jalan tepatnya di depan Pesarean atau pemakaman Bulakamba. Perbaikan jalan sepanjang dilakukan sepanjang 500 meter. Perbaikan jalan juga terjadi di jalan raya Bangsri Bulakamba hingga sepanjang 1,5 kilometer.

Akibatnya, para pengguna jalan dari arah barat harus melalui lajur kendaraan yang seharusnya dipergunakan untuk kendaraan dari arah timur.

Kesabaran pemudik di jalur padat ini juga diuji. Pasalnya aktivitas di Pasar Bawang Klampok terjadi pada pagi hingga siang hari. Namun lepas dari Jalan Bulakamba, pengguna jalan dimanjakan dengan panorama Brebes serta sentra pusat oleh-oleh.

Setelah melepas lelah di pusat oleh-oleh, pemudik akan melanjutkan perjalanannya ke arah timur. Kali ini pemudik harus mengurangi kecepatan, pasalnya di Jalan P Diponegoro akan memasuki kawasan Kota Brebes, seperti kawasan alun-alun yang ramai. Bahkan warga setempat juga kerap menyebrang sembarangan.

Sekira 500 meter dari alun-alun Brebes, pemudik dihadapkan dengan pasar tumpah Brebes. Di jalan inilah, pemudik harus mengurangi kecepatannya, pasalnya kondisi jalan yang menyempit ditambah lagi dengan adanya aktivitas pasar tumpah.

Jelang perbatasan Brebes-Kota Tegal, aktivitas masyarakat lebih tampak, terutama banyaknya becak dan sepeda di sisi pinggir jalan. Setibanya di Kota Tegal, kondisi permukaan jalan masih banyak yang bergelombang. Aktivitas keluar masuk bus dari Terminal Tegal, pemudik harus lebih berhati-hati.

Di sepanjang Jalan dr Cipto Mangkusumo hingga Jalan Kolonel Sugiyono Tegal, kondisi jalan tidak terlalu mulus, bahkan masih ada permukaan jalan yang berlubang. Aktivitas masyarakat di jalan ini terlihat lebih ramai, sehingga jalan raya kerap padat.

Sebagian jalan pantura di Kota Tegal memang masih belum mulus, karena dari Jalan Gadjah Mada hingga Jalan Martoloyo, sampai saat ini sedang dilakukan perbaikan.

“Kesiapan jalan di Tegal hingga Pemalang, akan ditergetkan selesai pada H-10, jadi sudah dipastikan semua jalan yang sekarang diperbaiki akan dapat dilewati,” ungkap Kepala BPT Bina Marga Tegal Puryanto.

(ton)

Kredit perumahan capai Rp24 triliun

OLEH YUSUF WALUYO JATI Bisnis Indonesia

BTN optimistis target penyaluran KPR sepanjang tahun ini bisa mencapai Rp24 triliun.

BLU akan kelola dana Rp2,6 triliun mulai September JAKARTA: PT Bank Tabungan Negara (Persero), BUMN bank penyalur kre dit perumahan rakyat (KPR) terbesar, optimistis target penyaluran KPR sepanjang tahun ini bisa mencapai Rp24 triliun. “…kondisi eko- nomi dan daya beli masyara- kat terus mem- baik diban dingkan de ngan kondisi 2009.”

Jika dihitung berdasarkan pencapaian BTN pada tahun lalu sebesar Rp16 triliun, target penyaluran kredit KPR bersubsidi itu diprediksi melonjak 50%.

Optimisme BTN ini didasarkan atas komitmen Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) yang akan menyelesaikan tunggakan kredit pemilikan rumah sederhana dan kredit pemilikan rumah susun sederhana milik (rusunami) di sejumlah bank penyalur kredit.

Sehubungan dengan itu, Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa telah menerbitkan dua aturan hukum berupa petunjuk teknis dan pelaksana yang masingmasing tertuang dalam Permenpera No. 11/2010 dan No. 13/2010, guna melanjutkan program subsidi bunga masa transisi sebesar Rp416 miliar.

Dengan kedua aturan tersebut, seluruh proses verifikasi calon penerima bantuan fasilitas likuiditas langsung dilakukan bank penyalur dan tidak lagi melalui Kemenpera.

Direktur Utama PT BTN (Persero) Iqbal Latanro mengatakan stimulus masa transisi berbentuk selisih bunga KPR dan bantuan uang muka diyakini dapat menolong masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) meningkatkan daya cicil rumah sederhana sehat (RSh) di sejumlah lokasi strategis perkotaan.

Dengan komitmen melanjutkan skema subsidi tersebut, ujarnya, beberapa tunggakan kredit, seperti ru sunami pada 2008-2009 sudah bisa dibayarkan secara bertahap. “Begitu pula pengerjaan landed house pada tahun ini dijanjikan [pengembang] akan selesai seluruhnya,“ ujarnya, kemarin.

Sampai saat ini, jelasnya, posisi BTN tetap bertahan menjadi bank penyalur KPR terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar 97% dari seluruh nilai kredit rumah bersubsidi.

Dengan mengacu pada kinerja perseroan pada semester I/2010 sebesar Rp12 triliun, terangnya, proyeksi penyaluran kredit BTN hingga akhir 2010 bisa mencapai sekitar Rp24 triliun atau lebih tinggi 20% dibandingkan dengan target yang dipatok pada awal 2010 sebesar Rp20 triliun.

Tetap optimistis Artinya, untuk melam paui target tersebut, jelasnya, penyaluran kredit perumahan BTN pada semester II/ 2010 harus bisa mencapai sedikitnya Rp12 triliun. Sepanjang tahun lalu, realisasi penyaluran KPR-BTN hanya sekitar Rp16 triliun.

“Kami masih optimistis mengejar Rp24 triliun karena pada semester I/ 2010 saja sudah terealisasi 60% dari target awal. Terlebih, kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat terus membaik dibandingkan dengan kondisi 2009,“ katanya.

Sejalan dengan terealisasinya skema subsidi masa transisi dan rencana pemerintah menggulirkan skema baru fasilitas likuiditas (FL), BTN menargetkan dapat melipatgandakan pembiayaan rumah bersubsidi dari 130.000 unit menjadi 260.000 unit hingga akhir 2010. Sepanjang semester I/2010, BTN telah membiayai kredit rumah bersubsidi untuk 57.000 unit.

Deputi Bidang Perumahan Formal Kemenpera Zulfi Syarif Koto memas tikan skema FL untuk subsidi peru mahan rakyat yang baru telah ditun taskan. Adapun, prosedur standar pelaksanaan (SOP) yang telah digo dok di Kemenkeu, Kemenpera, Ke menterian Hukum dan HAM (Ke menkumHAM) dan perbankan juga telah diselesaikan.

Jika ketetapan hukum dari Ke menpera telah diterbitkan, ujar Zul fi, Badan Layanan Umum (BLU) akan menjalankan FL sebagai skema baru pembiayaan kredit RSh.

BLU merupakan badan yang ber tugas mengelola dana FL berdasar kan Keputusan Menteri Keuangan No. 290/KMK.05/2010 mengenai Penetapan Pusat Pembiayaan Perumahan Sebagai Satuan Kerja Instansi Pemerintah untuk Menerapkan Pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum (PK-BLU). Peraturan ini terbit pada 15 Juli 2010.

Jika Menpera dan seluruh pemangku kepentingan telah menandatangani kesepakatan ber sama untuk FL, terang nya, BLU secara resmi akan menge lola dana subsidi perumahan rakyat sebesar Rp2,6 triliun mulai Septem ber. Dana tersebut berasal dari aloka si subsidi perumahan rakyat dalam APBN 2010 senilai Rp3,02 triliun.

Dana yang dikelola BLU itu, ung kapnya, bisa lebih besar menyusul rencana pemerintah melibatkan PT Jamsostek, Asabri, Bapertarum-PNS, maupun Taspen bergabung mengelola dana perumahan seatap dengan BLU.

“MoU [nota kesepahaman] untuk FL ini akan diteken pada 31 Agustus dan akan terlaksana beriringan de ngan skema subsidi pola lama [masa transisi]. Kalau dana yang dihimpun bisa menjadi satu, akumulasi bisa mencapai puluhan triliun setiap tahun. Dana ini bisa digunakan un tuk meningkatkan daya cicil MBR,“ katanya. (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)

26/08/2010 – 09:33

Saham ELTY Dalam Zona Positif

(IST)

INILAH.COM, Jakarta – Saham Bakrieland Development (ELTY) diperkirakan masih akan tetap bertahan di trender down level 113. Hari ini berpotensi menguat dengan titik 109-121.

Hal itu dikutip dari hasil riset Reliance Securities, Kamis (26/8). Sinyal OBV mengindikasikan penguatan.

Saham ELTY pada perdagangan kemarin menguat Rp2 ke Rp118 dengan volume 5.300 lembar saham senilai Rp312,7 juta sebanyak 19 kali transaksi. [hid]

Pemerintah menyiapkan dana Rp6 triliun untuk pembebasan lahan pembangunan jalan tol. Dana tersebut digelontorkan secara bertahap sampai 2013 dan tahun ini dialokasikan Rp2,3 triliun.

Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo mengatakan, dana tersebut disalurkan melalui Badan Layanan Umum-Badan Pengatur Jalan Tol (BLU-BPJT). “Dana tersebut merupakan dana talangan pengadaan tanah yang akan digunakan untuk 22 ruas jalan tol,” kata dia di Jakarta.

Agus menyatakan, dana yang tersebut sebagai modal awal di mana rinciannya untuk 2010 diajukan Rp2,3 triliun,pada 2011 diajukan Rp2,85 triliun, 2012 diajukan Rp650 miliar, dan 2013 diajukan Rp200 miliar.Adapun untuk 2010 diambil dari realokasi dana cadangan dalam APBN sebesar Rp914,3 miliar dan tambahan baru dalam APBN Perubahan sebesar Rp1,4 triliun.

Menkeu mengharapkan, dana BLU-BPJT ini mampu mengoptimalkan pembebasan tanah yang nilai kebutuhan sesungguhnya mencapai Rp12,7 triliun. Rencana pembebasan ruas jalan tol sampai 2014 adalah sepanjang 776 km.

Sementara itu, PT Bakrie Tol Road (BTR) mendapatkan dana dari BLU-BPJT sebesar Rp800 miliar untuk pembebasan lahan Tol Trans Jawa ruas Tol Pejagan-Pemalang dan Batang-Semarang.

Dengan demikian, masalah pembebasan lahan seksi prioritas ditargetkan selesai tahun ini. Direktur Utama PT BTR Harya M Hidayat mengatakan, pihaknya telah mengajuka

Sumber : OKEZONE.COM

26/08/2010 – 06:45

Ada Potensi di Lapis Kedua & Bakrie

Natascha & Asteria

(inilah.com/Agus Priatna)

INILAH.COM, Jakarta – Meski rawan koreksi, pelemahan IHSG Kamis (26/8) akan tertahan. Masih ada peluang penguatan saham yang lagging, seperti lapis kedua dan grup Bakrie.

Analis riset Lautandhana Sekurindo Muhammad Sugiarto mengatakan, IHSG saat ini sudah jenuh beli dan rawan koreksi. Namun, pelemahan diperkirakan tidak akan terjadi pada pekan ini. “Terutama karena masih ada kesempatan switching ke saham lain yang masih lagging,” katanya kepada INILAH.COM.

Koreksi bursa juga tertahan nilai tukar rupiah, yang terus menguat atas dolar AS dan belum memperlihatkan pelemahan daya beli. Ini berarti, meskipun IHSG sudah sangat tinggi, rupiah akan terus menguat selama masih ada pembelian dari investor. “Koreksi bursa yang dalam pun akan tertahan,” ujarnya.

Beberapa saham yang masih lagging berasal dari saham lapis dua dan saham grup Bakrie, seperti PT Bumi Resources (BUMI), PT Bakrieland Development (ELTY) dan PT Energi Mega Persada (ENRG). Emiten–emiten ini masih menyisakan peluang upside yang cukup tinggi setelah terkoreksi ketika IHSG tembus level 3.100.

Namun, pergerakan aktif saham Bakrie beberapa hari terakhir, membuka peluang profit taking di saham ini. ”Alhasil, kalau ada kempatan naik dan mulai terjadi aksi ambil untung, sebaiknya gunakan untuk SoS (sell on strength).“

Dia menambahkan, adanya profit taking akan membuka kesempatan beli di saham-saham big cap, seperti PT Astra International (ASII), PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) dan PT TB Bukit Asam (PTBA). Menurutnya, saham-saham ini sedang dalam periode konsolidasi dan menunggu peluang beli. “Mereka menantikan koreksi dalam yang membuka peluang akumulasi,” pungkasnya.

Pada perdagangan Rabu (25/8), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 23,97 poin (0,77%) ke level 3.138. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia cukup ramai. Volume transaksi mencapai 7,2 miliar lembar saham dengan nilai Rp3,5 triliun.

Sebanyak 135 saham naik, 53 saham masih turun dan 97 saham stagnan. Penguatan bursa didukung aksi beli asing yang mencatatkan nilai transaksi beli bersih (net foregin buy) sebesar Rp79 miliar. Nilai transaksi beli mendominasi mencapai Rp949 miliar dan nilai transaksi jual mencapai Rp869 miliar. [mdr/nic]

Senin, 23/08/2010 20:44:55 WIB

15 Ruas tol disiapkan layani angkutan Lebaran

Oleh: Natalina Kasih W.

JAKARTA: Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum kembali menyiapkan 15 ruas jalan tol di Jawa untuk mengakomodasi arus mudik dan balik Lebaran 2010 yang diperkirakan meningkat 6%-7% dibandingkan dengan tahun lalu.

Kepala BPJT Ahmad Ghani Gazali mengatakan 15 ruas tol yang nantinya akan dilintasi oleh para pemudik di Pulau Jawa tersebut kondisinya sudah membaik dan siap melayani arus mudik dan balik Lebaran tahun ini.

Dia menambahkan dari 15 ruas jalan tol tersebut, 10 di antaranya merupakan milik Jasa Marga, sedangkan sisanya milik Bakrie Tol Road dan Marga Mandala Sakti (MMS).

“Ada 15 ruas tol yang kami siapkan untuk mengakomodasi kebutuhan arus Lebaran 2010, kondisinya saat ini ada beberapa yang masih dilakukan perbaikan, tetapi pada H-7 tidak ada kegiatan fisik di lapangan, sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas,” katanya hari ini.

Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk Frans Setyaki Sunito mengatakan kondisi ruas tol milik perseroannya sudah siap dilalui, meski ada perbaikan dan pelebaran jalan di beberapa titik tol Cikampek, Bandung, Palimanan, dan Kanci, yang ditargetkan pada H-7 selesai.

Menurut dia, sejumlah perbaikan di antaranya gerbang tol (GT) Cikarang yang sedang berjalan dan diperkirakan baru selesai pada Oktober mendatang, selanjutnya untuk perbaikan di tol Palimanan-Kanci juga tengah dikebut penyelesaian proyeknya.

“Kami berupaya mempercepat penyelesaian perbaikan jalan dan diharapkan pada H-7 sudah tidak ada kegiatan di lapangan yang dapat mengganggu arus lalu lintas,” ujarnya.(jha)

23/08/2010 – 14:27

ELTY Paling Menarik di Grup Bakrie

Ahmad Munjin

(IST)

INILAH.COM, Jakarta – Terlambatnya laju saham grup Bakrie, dinilai akibat masih belum jelasnya kondisi fundamental. Saham paling menarik di grup ini adalah PT Bakrieland Development (ELTY).

Pengamat pasar modal, Satrio Utomo mengatakan, di tengah kenaikan indeks saham ke level 3.100-an, seharusnya saham grup Bakrie sudah merangkak naik. Namun, karena sumirnya kondisi fundamental, laju saham grup ini menjadi tertinggal jauh (lagging).

Keadaan ini, lanjut Satrio, dipicu penyerapan dana publik yang dilakukan terus menerus oleh The Seven Brothers. Grup Bakrie, jadi black hole bagi pasar modal. “Grup ini sering menyerap dana publik melalui right issue, IPO (Initial Public Offering) dan utang yang dikonversi menjadi saham,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (22/8).

Karena itu, di tengah kenaikan IHSG ^JKSE yang tajam, pemegang saham di grup ini sulit berharap harga sahamnya bergerak naik. Satrio menyarankan, agar investor lebih berpedoman pada faktor teknikal untuk bermain di saham grup ini karena tidak jelasnya kondisi fundamental itu.

Lebih jauh Satrio mengatakan, secara teknikal, saham grup Bakrie yang paling menarik adalah PT Bakrieland Development (ELTY). Menurutnya, saham sektor properti ini masih berpotensi naik. “Setidaknya sekitar ke level resistance Rp110-115 dari posisi Rp109 saat ini,” paparnya.

Sementara itu, saham PT Bakrie Telecom (BTEL) masih memberikan sinyal rebound tapi terbatas ke level Rp152 dari posisi saat ini Rp149 per saham. “Hanya dua poin lagi potensi kenaikannya,” ungkap Satrio.

Sedangkan PT Energi Mega Persada (ENRG) masih bertenaga hingga resistance Rp97-100 dari posisi Rp94. “PT Darma Henwa (DEWA), kalaupun naik, paling kuat masih di sekitar Rp57-60 dari level saat ini Rp57,” tuturnya.

Di sisi lain, saham PT Bakrie Sumatera Plantation (UNSP) saat ini mulai susah bergerak. Potensi kenaikannya terbatas ke level resistance Rp270-285. “Artinya, potensi kenaikan ada, tapi tidak signifikan,” timpalnya.

Sedangkan saham PT Bumi Resources (BUMI), secara teknikal sudah terbatas pada level resistance Rp1.500-1.530. “Secara umum, selain BUMI, saham-saham di grup Bakrie, masih memberikan return, karena adanya ruang kenaikan meskipun terbatas,” imbuh Satrio.

Namun, Satrio menggarisbawahi, semua alasan teknis ini karena memang fundamental grup Bakrie masih belum terugnkap. Dari sisi ini, hanya ELTY yang menjanjikan kenaikan lumayan. Sebab, ELTY sudah lama mengalami penurunan. “Kalau BNBR sudah turun dua pekan terakhir, ELTY sudah turun dalam sebulan terakhir,” tukasnya.

Karena itu, potensi kenaikan ELTY jauh lebih tinggi daripada saham grup Bakrie yang lainnya. Apalagi, saham PT Bakrie and Brothers (BNBR) masih susah untuk bangkit dari kubur Rp50. “Saham ini masih ‘wafat’. Untuk bisa tembus ke level Rp51 saja, masih susah,” ucap Satrio.

Menurut Satrio, jika orang berhasil mendapatkan harga BNBR di pasar negosiasi Rp40, pemegang saham ini bisa keluar dari BNBR. Tapi kondisi ini sangat menyusahkan, karena mayoritas pemegang saham ini mendapatkan harga di level Rp50.

“Kalau mau keluar dari BNBR masih harus menunggu lama. Sebab, baru bisa keluar di level Rp55 sampai Rp60. Sayangnya untuk bangkit dari Rp50 saja sangat susah,” ungkapnya.

Satrio mengingatkan, target-target tersebut merupakan posisi trading. Sebab, ekspektasi long term-nya masih tidak jelas. Bisa jadi ini hanya technical rebound atau dead cat bounce. “Kalaupun naik, merupakan kesempatan untuk mencapai level harga cut loss yang bagus,” imbuhnya.

Artinya, dia menandaskan, kalau mau cut loss, investor harus melakukan dengan strategi sell on strength. Pelaku pasar, seharusnya jangan mau menjual di harga rendah. “Sell on strength di saham-saham grup Bakrie jauh lebih baik,” pungkas Satrio. [mdr]

20/08/2010 – 13:10

Jangan Lupakan Saham Jalan Tol

Jagad Ananda

(IST)

INILAH.COM, Jakarta – Sejak awal Juli 2010, harga PT Jasa Marga (JSMR) telah mengalami penguatan hingga 30,8%. Tapi, saham operator jalan tol ini tetap masih memikat.

Seperti diberitakan INILAH.COM pekan lalu (13/8), saham terbitan PT Jasa Marga menjanjikan gain yang menawan bagi investor. Ini terbukti. Efek perusahaan pengelola jalan tol itu kini telah bertengger di level Rp 2.775 pada Kamis (19/8) atau naik 4,7% dalam sepekan.

Penguatan tersebut, oleh sejumlah analis, diprediksi akan terus berlangsung. Menurut perhitungan Janson Nasrial dari AmCapital, beberapa waktu lalu, harga JSMR akan menyentuh level Rp 3.225 hingga akhir tahun.

Optimisme serupa tampak pada perhitungan yang dilakukan sejumlah pelaku pasar lainnya. Dari pendapatan sebesar Rp2,1 triliun pada semester I-2010, perseroan mengantungi laba bersih Rp647,6 miliar.

Di akhir tahun, angka pendapatan ini diprediksi akan mencapai Rp4,3 triliun dengan laba bersih Rp1,28 triliun. Sehingga ada kemungkinan earning per share (EPS)-nya di tahun ini mencapai Rp200.

Apalagi faktor puasa dan Lebaran bakal memicu meningkatnya traffic volume jalan tol. Sampai akhir tahun, volume arus lalu lintas jalan tol, bisa tumbuh 4-5%. Selain itu, penjualan otomotif Juni-Agustus, juga tumbuh 40-45% (year on year) sehingga memicu bertambahnya volume lalu lintas jalan tol.

Nah, berdasarkan perhitungan itulah, sejumlah analis meramalkan harga efek JSMR dalam empat bulan ke depan akan mencapai Rp3.400. Dengan kata lain, dibandingkan dengan harga yang terbentuk saat ini, masih ada potensi penguatan 22,5%. Menarik bukan? [mdr]

Saham Bakrie Bantu IHSG Bikin Rekor Baru

Tim Liputan 6 SCTV

Artikel Terkait

Hang Seng Ditutup Turun

Jelang Rapat BOJ, Bursa Jepang Turun

Data Ekonomi AS Negatif, Kospi Ditutup Turun

20/08/2010 17:15

Liputan6.com, Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan saham Jumat (20/8) mencetak hasil positif. IHSG naik 0,40 persen ke level 3.117,720. Sedangkan indeks saham-saham unggulan LQ 45 naik 0,38 persen ke level 592,164.

Analis Vibiz Research unit dari Vibiz Consulting melihat, IHSG hari ini kembali mencetak rekor tertinggi baru seiring naiknya saham-saham Grup Bakrie. IHSG melaju positif melawan arus negatif bursa regional Asia seiring melesatnya saham PT Bumi Resources tbk.

Pada penutupan perdagangan saham hari ini, tercatat volume perdagangan 5,598 miliar lot saham senilai Rp 4,323 triliun dengan total transaksi 116.214 kali.Tercatat sebanyak 108 saham naik, 74 saham turun, dan 90 saham tidak berubah.

Saham-saham yang tercatat naik antara lain saham GGRM naik 7,37 persen ke Rp 40.050, AUTO 1,50 persen ke Rp 16.900, ITMG naik 1,51 persen menjadi Rp 40.100, dan MEGA naik 7,40 persen ke Rp 2.900.

Sementara saham-saham yang turun antara lain TLKM 2,22 persen ke Rp 8.800, BTPN 1,78 persen ke Rp 11.000, dan UNTR 1,31 persen ke Rp 18.700,(www.vibiznews.com/BOG)

Agustus 16, 2010

elty ngebut … 160810

Filed under: ELTY, jalan tol n properti — bumi2009fans @ 7:29 am

Bakrieland Bangun Jalan Bukit Sentul-Jonggol
Senin, 16 Agustus 2010 | 13:11 WIB

ist

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Bakrieland Development Tbk segera membangun akses jalan yang menghubungkan Jonggol – Bukit Sentul, dua kawasan yang baru saja diakuisisi, sepanjang 10 kilometer.

Sebagai tahap awal pengembangan kawasan, kami akan bangun akses jalan yang diharapkan selesai akhir tahun 2010.
— Hiramsyah S Thaib

“Sebagai tahap awal pengembangan kawasan kami akan bangun akses jalan yang diharapkan selesai akhir tahun 2010,” kata Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Bakrieland Development Tbk, Hiramsyah S. Thaib di Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, akses jalan dengan lebar 60 meter akan terhubung dengan jaringan jalan di Bogor termasuk jalan tol Ciawi – Sukabumi yang juga dibangun anak usaha PT Bakrieland Development Tbk, PT Bakrie Toll Road.

Menurut Hiramsyah, melalui akuisisi kedua kawasan tersebut, PT Bakrieland Development Tbk memiliki bank tanah seluas 14.000 hektar atau seperlima Kota Jakarta atau empat kali Kota Bogor.

Hiramsyah menjelaskan, proses akuisisi sendiri dituntaskan pada Juni 2010 pada kawasan Jonggol seluas 10.400 hektare, sementara sisanya berasal dari 20 persen lahan Bukit Sentul. “Dengan bank tanah sebesar ini saya optimistis target pendapatan 2010 sebesar Rp1,2 sampai Rp1,5 triliun pasti dapat tercapai,” paparnya.

Hiramsyah mengatakan, kawasan ini akan terintegrasi dengan proyek Bogor Nirwana Residence yang mulai proses serah terima pada tahun 2010. Dijelaskan, biaya yang dikeluarkan untuk pengembangan kedua kawasan baru sekitar Rp5,5 triliun, Rp5 triliun untuk Bukit Jonggol dan Rp500 miliar untuk Bukit Sentul.

“Ini belum termasuk pembangunan infrastruktur yang diperkirakan membutuhkan Rp300 miliar,” kata Hiramsyah. Dia menargetkan untuk mengembangkan kawasan ini sampai seluruhnya membutuhkan waktu paling tidak 10 tahun, akan tetapi pada tahun 2011 diharapkan proyek ini sudah dapat memberikan kontribusi bagi perusahaan.

Editor: R Adhi KSP | Sumber : ANT
JAKARTA. Harga saham PT Bakrieland Development (ELTY) mengalami kenaikan tertinggi dalam tiga minggu terakhir. Pada pukul 10.00, harga saham ELTY melonjak hampir 1,96% menjadi Rp 105.

Ada beberapa sebab kenaikan saham ELTY pagi ini. Salah satunya, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mengincar realisasi pendapatan di 2010 ini lebih tinggi daripada target.

“Hingga akhir tahun, pendapatan mungkin tumbuh hingga 40%. Mudah-mudahan revenue kami mencapai Rp 1,5 triliun,” ujar Hiramsyah Thaib, Direktur Utama ELTY, akhir pekan lalu. Target pendapatan ELTY untuk 2010 hanya Rp 1, 2 triliun.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Willy Sanjaya menilai, ELTY adalah saham perusahaan properti yang cocok untuk investasi jangka panjang. Prospek ELTY makin mengkilap setelah perusahaan ini mengakuisisi Bukit Jonggol Asri. Dengan luas land bank yang mencapai 15 ribu hektare, lanjut Willy, ELTY bakal semakin leluasa melakukan ekspansi, dan tentunya, mendongkrak nilai pendapatan.

Sumber : KONTAN.CO.ID
Saham Avenue Capital Group di PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) berkurang dari 24,2% menjadi 12,16%, karena perusahaan investasi asal Amerika Serikat itu tidak menyerap penerbitan saham baru (rights issue) Bakrieland. Sementara itu, Grup Bakrie bertahan dengan kepemilikan saham sekitar 19-20%.

Presiden Direktur dan CEO Bakrieland Hiramsyah S Thaib mengungkapkan, Avenue Capital lebih memilih berinvestasi langsung di beberapa proyek Bakrieland. Karena itu, Avenue tidak ikut serta dalam rights issue perseroan senilai Rp 3,2 triliun. Rights issue tersebut rampung pada akhir Juli 2010.

“Avenue lebih memilih untuk mendukung kami di proyek jalan tol. Avenue menyiapkan bridging loan (pinjaman talangan) sebesar US$ 55 juta,” kata Hiramsyah di Jakarta, akhir pekan lalu.

Avenue Capital merupakan perusahaan investasi global yang bermarkas di New York, AS. Hingga 30 Juni 2010, Avenue mengelola dana hingga sebesar US$ 18,2 miliar atau sekitar Rp 163,8 triliun. Avenue Capital memiliki saham Bakrieland melalui Avenue Luxembourg Sarl.

Sumber : INVESTORINDONESIA
JAKARTA. PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mengincar realisasi pendapatan di 2010 ini lebih tinggi daripada target.. “Hingga akhir tahun, pendapatan mungkin tumbuh hingga 40%. Mudah-mudahan revenue kami mencapai Rp 1,5 triliun,” ujar Hiramsyah Thaib, Direktur Utama ELTY, akhir pekan lalu. Target pendapatan ELTY untuk 2010 hanya Rp 1, 2 triliun.

Hiramsyah menjelaskan, pendapatan bisa tumbuh lebih tinggi karena tuntasnya sejumlah proyek yang tertunda tahun lalu. Ia mencontohkan, Epicentrum Walk Office Suites, yang sudah diserahterimakan ke pembeli 5 Agustus 2010 lalu. “Sekitar 80% telah terjual. Nilai penjualan mencapai Rp 240 miliar,” beber Hiramsyah.

ELTY mengharapkan kontribusi pendapatan terbesar di semester kedua berasal dari Grove Suites. ELTY berharap bisa menangguk penjualan hingga Rp 1 triliun dari proyek yang dijadwalkan kelar di bulan Oktober tersebut. Adapun Aston Bogor Hotel and Ressort diharap menyumbang Rp 250 miliar. Kini, proyek ini sudah terjual 80% dan akan diserahkan ke pembeli pada November.

Di sektor proyek hunian, ELTY masih mengandalkan Bogor Nirwana Residence yang memiliki luas 40 hektare. Dari penjualan 1.200 unit kondotel di Bogor Nirwana, ELTY mengincar dana Rp 400 miliar.Sedangkan proyek yang akan dikembangkan ELTY dalam waktu dekat berlokasi di Bogor Nirwana dan Lido Lake Resort.

Sekadar catatan, ELTY membeli Lido sen

Sumber : KONTAN.CO.ID
Senin, 16 Agustus 2010 | 07:33

OUTLOOK KINERJA ELTY

ELTY Bidik Pendapatan Rp 1,5 Triliun

JAKARTA. Mulai terealisasinya beberapa proyek yang sempat tertunda pada tahun lalu, membuat PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) optimis pendapatan sepanjang tahun 2010 ini bisa tumbuh sekitar 40% ketimbang perolehan tahun lalu.

“Tahun ini adalah delivery year buat kami. Mudah-mudahan kami bisa dapatkan revenue Rp 1,5 triliun di akhir tahun nanti,” ujar Hiramsyah Thaib, Direktur Utama ELTY, akhir pekan lalu. Adapun pada akhir tahun 2009 lalu, pendapatan ELTY mencapai Rp 1,06 triliun.

Selain terefleksi oleh perolehan pendapatan pada semester I 2010 yang naik 45% ketimbang periode sebelumnya, Hiramsyah menjelaskan, kantung pundi ELTY juga akan digemukkan oleh pendapatan dari penjualan beberapa proyek properti perumahan dan bangunan kantor.

Seperti pada 5 Agustus 2010 lalu, ELTY baru saja serah terima dengan para pembeli Epicentrum Walk Office Suites. “Sekitar 80% telah terjual. Nilai penjualannya mencapai Rp 240 miliar,” beber Hiramsyah.

Namun, penyokong terbesar terhadap pendapatan ELTY di semester II 2010 ini adalah penjualan proyek Grove Suites. Dari bangunan yang akan finalisasi dengan membangun atap (topping) pada Kotober nanti itu, ELTY berharap bisa meraup dana hingga Rp 1 triliun.

Adapula penjualan kawasan penginapan Aston Bogor Hotel and Ressort senilai Rp 250 miliar. “Serah terima dengan pemilik dilakukan pada November,” ujar Hiramsyah.

Sementara untuk serah terima Cluster Grand Harmony di Bogor Nirwana Residence yang berdiri di lahan seluas 40 hektare, ELTY bakal melakukannya pada September hingga Oktober. Dari penjualan kawasan kondotel yang terdiri dari 1.200 unit ini, ELTY berharap bisa mendapatkan pundi mencapai Rp 400 miliar.

Ade Jun Firdaus kontan
ELTY Anggarkan Rp450-500 Miliar Bangun Infrastruktur BJA
Sabtu, 14 Agustus 2010 – 16:25 wib

Rheza Andhika Pamungkas – Okezone

JAKARTA – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) anggarkan sekitar Rp450-500 miliar untuk pembangunan infrastruktur di Bukit Jonggol Asri (BJA).

“Pembangunannya akan dilakukan secara bertahap. Untuk infrastruktur awal, kami hanya butuh Rp300 miliar,” ujar Direktur Utama ELTY Hiramsyah S. Thaib kepada wartawan di sela acara buka puasa bersama di Rasuna Episentrum, Kuningan, Jakarta, Jumat (13/8/2010).

Ia melanjutkan, sementara sisanya, yakni Rp 150-200 miliar untuk pembangunan jalan yang menghubungkan antara BJA dengan Bukit Sentul. ELTY sendiri menganggarkan sekitar Rp5 triliun untuk akuisisi lahan dan biaya pengembangan BJA.

“Dan untuk pembangunan jalan, rencananya setelah lebaran tahun ini akan dilakukan finalisasi desain. Dan karena pembangunan jalan ini bukan jalan tol maka pengerjaannya relatif cepat. Diperkirakan pembangunan jalan sepanjang 10 km ini akan memakan waktu hingga sembilan bulan namun kami menargetkan enam bulan akan selesai. Sebelum lebaran tahun depan,” tambahnya.

Bila pembangunan awal BJA berjalan sukses, lanjutnya, ELTY berharap bisa meraup penjualan mencapai Rp1,5 triliun dalam tiga tahun ke depan. Selain itu, ELTY juga akan mencairkan pinjaman yang didapatkan dari salah satu pemegang saham perseroan Avenue Capital sebesar USD50 juta.

“Sebenarnya dari proses rights issue kemarin dan mitra strategis sudah cukup untuk pengembangan strategis tiga tahun ke depan. Namun ada kemungkinan dana dari Avenue akan ditarik di 2011,” ungkapnya.

Menurutnya, pencairan ini nantinya akan melengkapi pendanaan perseroan dalam pembangunan unit properti dan jalan tol yang sudah direncanakan perseroan, seperti Rasuna Epicentrum, Sentra Timur Jakarta, Bogor Nirwana Residence, Lido Lake Resort Sukabumi (1.000 ha), akuisisi Bukit Sentul dan Bukit Jonggol Asri (11.000 hektar) dan pembangunan jalan tol Ciawi-Sukabumi.

Sementara itu, proses rights issue perseroan sebesar Rp3,2 triliun di akhir Juli lalu telah selesai. Bakrie Capital menyerap 16,5 persen total saham yang ditawarkan, atau setara dengan Rp512 miliar. Ditambah dengan saham BNBR (Bakrie and Brothers) 2,5 persen, maka saham grup Bakrie pun di ELTY pun tidak terdilusi, dan tetap di kisaran 19 persen.

“Avenue juga menyerap penerbitan saham baru ELTY, dan porsinya dipastikan tetap 12,16 persen. Sedangkan tiga investor lainnya yakni Pictet Hongkong Capital, Swiss Charted, dan Savila Fund juga melakukan hal sama, dengan porsi masing-masing 5 persen,” pungkasnya.(wdi)
Sabtu, 14 Agustus 2010 | 08:37

AKSI KORPORASI

Lahan ELTY berkembang menjadi 15.000 Ha

JAKARTA. PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) akhirnya merealisasikan akuisisi beberapa lahan baru dengan menggunakan dana segar dari gelaran penerbitan saham baru alias right issue.

Presiden Direktur ELTY Hiramsyah Thaib menjelaskan, pada akhir Juli 2010 lalu, ELTY telah merampungkan akuisisi lahan di Bukit Jonggol Asri (BJA) seluas 10.500 hektare. Artinya, kini ELTY menjadi pemegang saham mayoritas BJA sebesar 51%, dan menguasai 20% saham Bukit Sentul.

Dus, saat ini total lahan yang dimiliki ELTY mencapai 15.000 ha. ”Kami bisa dikatakan sebagai pengembang yang memiliki landbank terbesar di Jakarta,” ujar Hiramsyah, Jumat (13/8).

Hiramsyah melanjutkan, ELTY menganggarkan sekitar Rp 450 miliar-Rp 500 miliar untuk pembangunan infrastruktur BJA. Dengan rincian, biaya pembangunan infrastruktur awal sebesar Rp 300 miliar. Sementara sisanya yakni Rp 150 miliar-Rp 200 miliar untuk pembangunan jalan yang menghubungkan antara BJA dengan Bukit Sentul.

ELTY sendiri menganggarkan sekitar Rp 5 triliun untuk akuisisi lahan dan biaya pengembangan BJA. ”Tapi itu bertahap. Untuk infrastruktur awal, kami hanya butuh Rp 300 miliar,” ujar Hiramsyah.

Adapun untuk pembangunan jalan, lanjut Hiramsyah, akan dimulai usai Lebaran nanti. Diperkirakan pembangunan jalan sepanjang 10 km ini akan memakan waktu hingga 9 bulan.

Bila pembangunan awal BJA berjalan sukses, ELTY berharap bisa meraup penjualan mencapai Rp 1,5 triliun dalam tiga tahun ke depan.

Ade Jun Firdaus kontan
Bakrieland Ngebut Selesaikan Proyek Jalan Tol
Sabtu, 14 Agustus 2010 – 12:20 wib

Rheza Andhika Pamungkas – Okezone

JAKARTA – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) sedang mengejar penyelesaian beberapa proyek jalan tol.

Hal tersebut dikatakan Direktur Utama ELTY Hiramsyah S. Thaib kepada wartawan di sela acara buka puasa bersama di Rasuna Episentrum, Kuningan, Jakarta, Jumat (13/8/2010).

Menurutnya, saat ini ELTY sedang mengejar penyelesaian pembangunan yang berkesinambungan dengan proyek lain yang mereka kerjakan yakni proyek pembangunan jalan tol.

“Kami sedang mengejar pembangunan beberapa ruas jalan tol, yakni pada ruas Sukabumi-Cianjur, Sukabumi-Ciranjang dan Ciranjang-Padalarang,” ujarnya.

Ia melanjutkan, dan salah satu ruas yang dikejar pengerjaannya adalah proyek ruas tol Sukabumi-Ciawi sepanjang 54 km, dengan nilai Rp1,4 triliun yang ditargetkan dapat selesai pada 2014.

“Dari ruas tol tersebut, sepanjang 14 km yang menghubungkan ruas tol Ciawi-Lido harapannya dapat selesai di Kuartal III-2012. Target awal penyelesaian dapat dilakukan sebelum lebaran atau lebih awal dari target semula perseroan yang dapat diselesaikan paling lambat di akhir 2012. Namun hal tersebut tergantung realisasi PLU BBJT,” pungkasnya.(wdi)
ELTY Naikan Target Pendapatan Jadi Rp1,5 T
Sabtu, 14 Agustus 2010 – 10:48 wib

Rheza Andhika Pamungkas – Okezone

JAKARTA – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) di semester I-2010 mencatatkan pendapatan Rp570 miliar. Jumlah tersebut sudah 50 persen terpenuhi dari total target awal tahun perseroan sebesar Rp1,3 triliun.

“Malah, kami realistis dan optimis di akhir tahun ini revenue kami dapat mencapai Rp1,5 triliun saja seharusnya sudah tercapai. Mudah-mudahan bisa terpenuhi,” ujar Direktur Utama ELTY Hiramsyah S. Thaib kepada wartawan di sela acara buka puasa bersama di Rasuna Episentrum, Kuningan, Jakarta, Jumat (13/8/2010).

Menurutnya, saat ini perseroan memang sedang konsentrasi untuk melakukan persiapan jelang right issue, namun setelah proses right issue selesai, Jelang kuartal IV-2010 perseroan menargetkan mitra strategis sudah fix dengan mereka untuk ikut serta dalam proyek perseroan di Lido dan bergabung dengan BUMD Bogor PT Jasa Sarana.

“Kita berencana mencari satu lagi mitra strategis, untuk proyek di Bogor, Lido atau Jonggol. Paling tidak dengan mitra asing maka harapannya kita bisa jual properti di pasar luar negeri,” tukasnya.(wdi)
November, ELTY End Offer 2 Proyeknya
Sabtu, 14 Agustus 2010 – 09:44 wib

Rheza Andhika Pamungkas – Okezone

JAKARTA – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) akan segera melakukan serah terima kepada pemilik (end offer) pada November 2010 untuk proyek Aston Bogor and Resort yang memiliki nilai investasi Rp250 miliar.

“Proyek Aston Bogor and Resort sendiri saat ini penjualannya sudah sold out 80 persen,” ujar Direktur Utama ELTY Hiramsyah S. Thaib kepada wartawan di sela acara buka puasa bersama di Rasuna Episentrum, Kuningan, Jakarta, Jumat (13/8/2010).

Sedangkan untuk proyek Cluster Grand Harmoni di Bogor Nirwana Residence dengan luas 40 ha sebanyak 1.200 unit akan diserah terimakan pada sekitar Oktober-November 2010.

Menurutnya, proyek tersebut bernilai Rp400 miliar yang telah mulai dibangun pada 26 Januari 2010.

“Sepanjang 2010 ini hampir setiap bulan kita ada penyelesaian proyek-proyek yang dilaksanakan. Contohnya pada Maret 2010 kita meresmikan Epiwalk, Bakrie Tower pada April 2010, Juni ada proyek Sentral Timur, Agustus kita resmikan Epicentrum Walk Office Suites, di September-Oktober ada beberapa proyek yang kita selesaikan salah satunya Cluster Grand Harmoni,” ungkapnya.

Selain itu, dalam beberapa bulan ke depan perseroan juga akan segeta meresmikan proyek Truman Legian Nirwana di Bali yang bernilai investasi Rp400 m. Saat ini penjualannya sudah sold out 80 persen.

Selain itu, seperti diketahui, ELTY juga akan melakukan right issue di semester II-2010. Dana dari right issue tersebut akan digunakan untuk pengembangan proyek perseroan yang saat ini telah memiliki land bank sekitar 15 ribu hektar di kawasan Lido, Jonggol, dan Bogor Nirwana Residence.

“Luas tanahnya sekitar 15 ribu ha atau kurang dari seperlima luas Jakarta. Saat ini Bukit Jonggol sudah resmi kepemilikannya ke kita dengan 51 persen sahamnya yang kita miliki bernilai Rp1,3 triliun, Bukit Sentul juga sudah dimiliki sahamnya 20 persen. Dan perseroan juga akan bangun jalan tol untuk menghubungkan wilayah tersebut,” tambahnya.

Menurutnya, ekspansi usaha tersebut dilakukan sebagai antisipasi booming di sektor properti yang diyakninya akan terjadi di 2012.

“Dan kami juga masih memiliki cashflow yang belum digunakan sebesar Rp300 miliar diluar biaya yang kami siapkan. Dengan dana tersebut maka dipastikan kebutuhan dana untuk tiga tahun ke depan sudah aman,” pungkasnya.(wdi)
ELTY Optimistis Capai Target
Jumat, 13 Agustus 2010 | 19:45 WIB

Robert Adhi Ksp/KOMPAS

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) optimistis mencapai target perolehan Rp 1,3 triliun hingga akhir tahun ini. “Industri pengembang memang sedang booming tahun ini,” kata Hiramsyah S Thaib, Presdir emiten berkode ELTY saat silaturahim dengan media, di Jakarta, Jumat (13/8/2010).

Industri pengembang memang sedang booming tahun ini.
— Hiramsyah Thaib

Catatan Hiramsyah menunjukkan selama semester I ELTY sudah mampu meraih perolehan 47 persen. “Itu besaran angkanya Rp 570 miliar,” kata Hiramsyah.
Menurutnya, lonjakan perolehan di semester I memang lain dari kelaziman. “Biasanya, semester I cuma dapat sekitar 30 persen,” katanya.
Berangkat dari kenyataan itulah, Hiramsyah yakin pada semester II ELTY dapat memenuhi total target perolehan. “Bahkan bisa Rp 1,5 triliun sudah di tangan,” katanya.
Selain Rasuna Episentrum di kawasan Kuningan, ELTY juga gencar memasarkan Sentra Timur Residence di kawasan Jakarta Timur.
Penulis: Josephus Primus | Editor: I Made Asdhiana
Sabtu, 14 Agustus 2010 | 23:25

AKSI KORPORASI ELTY

Pasca rights issue, kepemilikan Bakrie di ELTY naik

JAKARTA. Penerbitan saham baru (rights issue) yang dilakukan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) nampaknya membawa berkah bagi Grup Bakrie. Pasalnya, setelah rights issue kepemilikan saham Grup Bakrie pada perusahaan properti dan jalan tol ini bertambah.

President Direktur ELTY Hiramsyah S Thaib mengatakan, setelah rights issue kepemilikan Grup Bakrie meningkat dari 19% menjadi sekitar 20%. Walau bertambah, kata Hiramsyah, kepemilikan PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) tidak berubah. “Sekitar 2,5%, sisanya kan ada PT Bakrie Capital,” imbuhnya.

Selain kepemilikan saham Grup Bakrie meningkat. PT Danatama Makmur juga memiliki saham pada perusahaan ini. Namun, “Danatama hanya punya dibawah 5%, semetara 43% dimiliki oleh publik,” imbuh Nuzirman Nurdin, Sekretaris Perusahaan ELTY.

Asal tahu saja, pada tahun ini ELTY menerbitkan saham baru sebanyak 19,9 miliar. Harga penawaran saham baru tersebut adalah Rp 160 per saham. Sehingga, dari hajatan ini ELTY berhasil mendapatkan dana segar Rp 3,2 triliun.

Abdul Wahid Fauzie kontan

Agustus 12, 2010

ELty membeli … 120810

Filed under: ELTY, jalan tol n properti — bumi2009fans @ 9:49 am

INILAH.COM, Jakarta – Harga saham PT Sentul City Tbk (BKSL) akan dikerek bandar menuju level Rp200 dalam waktu dekat.

Hal ini seiring dengan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) yang segera merealisasikan pembayaran akuisisi PT Bukit Jonggol dari Perseroan pada Agustus 2010. Bakrieland dalam waktu dekat resmi menjadi pemegang 51% saham Bukit Jonggol dan 20% saham Sentul City.

Sementara itu, pada penutupan perdagangan bursa saham kemarin (11/8) harga saham BKSL ditutup naik Rp1 ke Rp113. [cms]

Sumber : INILAH.COM

Agustus 9, 2010

rumah, pokoke … 090810

Filed under: jalan tol n properti — bumi2009fans @ 7:59 am

Jumat, 06/08/2010 18:35 WIB
Tipe Menengah Terfavorit, Penjualan Rumah Melonjak 11,67%
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Penjualan properti residensial atau rumah hunian melonjak hingga 11,67% selama triwulan II-2010. Peningkatan penjualan properti residensial itu sejalan dengan tingginya permintaan rumah khususnya tipe menengah hingga 15,8%.

“Permintaan dan penawaran properti residensial relatif stabil dengan rumah tipe menengah yang paling diminati,” demikian hasil survei properti residensial triwulan II-2010 yang dikutip dari situs BI, Jumat (6/8/2010).

Kondisi penawaran rumah maupun permintaan rumah yang relatif stabil ini diperkirakan masih akan berlanjut pada triwulan III-2010, dengan rumah tipe menengah diperkirakan akan mengalami penjualan tertinggi.

Dari sisi harga, properti residensial juga mengalami kenaikan terutama pada rumah tipe kecil. Survei Harga Properti Residensial triwulan II-2010 menunjukkan bahwa indeks harga properti residensial pada triwulan II-2010 meningkat baik secara triwulanan maupun tahunan, yang ditunjukkan oleh indeks harga sebesar 135,11.

Secara triwulanan (qtq), indeks harga naik sebesar 1,04%, lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan indeks harga pada triwulan sebelumnya (0,70%). Kenaikan harga properti residensial menurut sebagian besar responden terutama berasal dari kenaikan harga bahan bangunan dan tingginya upah pekerja.

Berdasarkan wilayah, kenaikan harga paling tinggi terjadi di wilayah Bandung yaitu sebesar 1,78% (qtq) terutama pada rumah tipe kecil (3,46%). Untuk wilayah Jabodebek dan Banten, kenaikan harga properti residensial pada triwulan II-2010 tercatat sebesar 1,19%, lebih tinggi dari kenaikan harga pada triwulan sebelumnya (0,72%).

Untuk pendanaannya, sebagian besar konsumen (75,2%) masih memilih Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) sebagai fasilitas utama dalam melakukan transaksi pembelian properti residensial pada seluruh tipe bangunan terutama tipe kecil (80,7%).

Tingkat bunga KPR yang diberikan perbankan umumnya berkisar antara 10% hingga 12%. Di samping melalui fasilitas KPR, hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 17,7% konsumen memilih menggunakan fasilitas pembayaran secara tunai bertahap, dan sebagian kecil (5,5%) dilakukan dalam bentuk tunai (cash keras).

Untuk pengembang, umumnya masih mengutamakan pendanaan internal. Pengembang juga menginformasikan bahwa dana internal perusahaan masih menjadi sumber utama pembiayaan untuk pembangunan properti residensial pada triwulan II-2010 (56,5%), diikuti oleh dana yang bersumber dari perbankan(27,7%) serta dana/uang muka pembayaran calon pembeli (13,1%).

(qom/qom)

Agustus 8, 2010

elty ga puyenk kale … 090810

Filed under: jalan tol n properti — bumi2009fans @ 11:32 am

Pembebasan Lahan Tol Lamban
Sabtu, 7 Agustus 2010 – 09:16 wib
Astra Bonardo/Koran SI
JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengakui bahwa pembebasan lahan untuk pembangunan tol trans-Jawa sepanjang 816 kilometer berjalan lamban. Sebab, selain sulitnya pembebasan lahan, ada investor yang mengalami kekurangan dana.

Kepala Subpembebasan Lahan Dirjen Bina Marga Kementrian PU Wijaya Seta menyatakan pembebasan lahan untuk pembangunan tol trans-Jawa di Jawa Barat, Cikampek– Palimanan (116 kilometer), saat ini sudah mencapai 82 persen. Lahan yang sudah dibebaskan termasuk milik Perhutani.

“Ruas ini progresnya sudah bagus dan masih terus berjalan,” kata Wijaya Seta, di Jakarta, kemarin.

Sedangkan ruas tol trans-Jawa di wilayah Jawa Tengah, ruas Semarang hingga Bawen– bagian dari tol Semarang Solo sepanjang 75 kilometer–pembebasan lahan sudah mencapai 64,5 persen.

Kemudian ruas tol Solo–Mantingan yang dikerjakan oleh pemerintah pembebasan lahannya baru mencapai 30 persen. Sementara, ruas tol yang terhenti pembebasan lahannya yaitu Pejagan–Pemalang, Pemalang–Batang, dan Batang–Semarang. Pembebasan lahannya untuk beberapa ruas tersebut terhenti karena permasalahan pendanaan.

“Sejak Desember 2009 lalu ruas tol Pejagan–Pemalang dan Batang–Semarang terhenti, hal sama juga pada ruas Pemalang–Batang yang pembebasan lahannya terhenti sejak tahun 2008,” papar dia.

Adapun untuk wilayah Jawa Timur, kata Seta, pembebasan lahan ruas Mojokerto–Kertosono sudah mencapai 62,91 persen. Berikutnya, Surabaya–Mojokerto tercatat mencapai 27,71 persen. “(Kedua ruas tol ini) masih tahap pembangunan konstruksi dan pembebasan lahan terus berjalan,” ungkap dia.

Sebelumnya, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Ahmad Hermanto Dardak mengatakan, pemerintah akan membantu investor dalam mempercepat pembebasan lahan.

Saat ini dana BLU (Badan Layanan Umum) yang disediakan pemerintah bisa dipakai. Pemanfaatan BLU tidak dikhususkan bagi ruas tol trans-Jawa. “Semua ruas tol berhak mendapatkan dana BLU tanah,” kata Hermanto.

Hermanto menambahkan, pemanfaatan BLU didorong oleh pemerintah karena banyak proses pembebasan lahan untuk pembangunan tol berjalan lamban.

Dengan memanfaatkan BLU, pemerintah berharap percepatan pembangunan tol di Indonesia bisa lebih baik.Hingga saat ini, kata dia, pembebasan lahan untuk tol trans- Jawa sudah mencapai 35 persen.

Hermanto juga berharap, UU Pembebasan Lahan untuk Kepentingan Publik segara disahkan. UU tanah ini sangat penting dalam mempercepat pembebasan lahan. Saat ini draf UU sudah masuk di DPR.

“Kalau tahun ini UU tersebut selesai disahkan, kita harapkan dalam kurun waktu dua tahun, 24 ruas tol tersebut lahannya bebas dan bisa segera dikerjakan proyeknya,” tutup Hermanto. (heru febrianto)(Koran SI/Koran SI/ade)

Agustus 5, 2010

elty dan kredit … 050810

Filed under: ELTY, jalan tol n properti — bumi2009fans @ 11:09 am

loading
Kredit mudah, properti menjanjikan
OLEH RATNA ARYANTI & FAHMI ACHMAD Bisnis Indonesia

Article Rank

Prospek emiten properti dinilai masih menjanjikan pada paruh kedua ta hun ini.

Proyek Gandaria City dongkrak penjualan Pakuwon JAKARTA: Prospek emi ten properti dinilai masih menjanjikan pada pa ruh kedua tahun ini se iring dengan membaik nya perekonomian do mestik selain faktor se makin mudahnya kredit perumahan.
Direktur PT Sucorinvest Central Gani Adrian Rusmana menilai prospek emiten sektor properti pada paruh tahun kedua masih menjanjikan meskipun sektor ini masih tertinggal dibandingkan sektor lain di pasar modal.

“Dibandingkan produk lain yang mengalami penyusutan, nilai produk properti justru akan meningkat. Itu sebabnya masyarakat masih memilih produk properti sebagai pilihan investasi,“ ujar Adrian, kemarin.

Perbaikan daya beli masyarakat juga akan mendorong peningkatan pembelian produk properti.
Alhasil, perbaikan kondisi pasar properti juga memberikan dampak positif bagi peningkatan kinerja emiten.

Pendapat Adrian dibenarkan oleh Presiden Direktur Bumi Serpong Harry Budi Hartanto. Menurut dia, sektor properti menunjukkan tren positif beriringan dengan pertum buhan ekonomi yang terus membaik disertai dengan tingkat inflasi yang terkendali.

Adrian mengatakan pada semester pertama saham dari emiten properti di pasar modal masih tertinggal dibandingkan saham dari sektor lain, seperti sektor perbankan.

Rasio harga terhadap laba bersih per saham (price/earning ratio) juga lebih rendah dari saham lainnya yang melantai di bursa. “P/E ratio masih sebesar 11 kali padahal secara historis saham sektor properti bisa mencapai 20 kali.
Saham sektor lain sudah jauh lebih tinggi.“

Adrian mengatakan hal ini disebabkan oleh investor cenderung mengarahkan perhatian pada saham-saham bluechip, sedangkan saham sek tor properti kebanyakan merupa kan saham lapis kedua.

“Jika saham bluechip sudah dirasa mahal, barulah investor menjatuhkan pilihan pada sa ham-saham lapis kedua.“

Para investor yang akan mem beli saham properti disarankan untuk mempertimbangkan se jumlah hal, di antaranya adalah nilai aset dan cadangan lahan yang dimiliki oleh emiten itu.

Selain itu, kapitalisasi pasar merupakan hal lain yang harus diperhatikan. Kapitalisasi pasar yang besar menunjukkan saham tersebut sangat likuid.

“Artinya investor dapat melepas dan membeli saham kapan pun. Ini membuat risiko investasi menjadi lebih kecil,“ ujar Adrian. Penjualan Pakuwon naik Indikator sektor properti masih cukup menjanjikannya terlihat dari kinerja emiten besar di sek tor itu, yakni PT Pakuwon Jati Tbk. Selama semester I/2010, emiten ini berhasil membukukan penjualan senilai Rp593 miliar, naik 59% dibandingkan dengan realisasi semester pertama tahun lalu sebesar Rp372 miliar.

Menurut Direktur Keuangan Pakuwon Jati Minarto Basuki, ke naikan nilai penjualan tersebut dipicu oleh penyelesaian proyek superblok Gandaria City di Ja karta yang nilai penjualannya mencapai Rp338 miliar.

“Semester ini kami berhasil membukukan laba bersih Rp144,7 miliar. Dalam paruh kedua tahun ini, kami menargetkan nilai pen jualan seluruh proyek diharapkan bisa menyentuh Rp1,1 triliun.“

Kondisi yang sama juga dialami PT Bumi Serpong Damai Tbk dan PT Lippo Karawaci Tbk.
Bumi Serpong Damai misalnya, berhasil membukukan laba bersih semester I/2010 sebesar Rp183 miliar, atau tumbuh signifikan hingga 46% dibandingkan dengan semester I/2009 yang Rp125 miliar.

Menurut Presiden Direktur Bumi Serpong Harry Budi Hartanto, solidnya pertumbuhan laba bersih ini selain ditopang oleh pertumbuhan pendapatan usaha juga oleh margin bersih yang mengalami perbaikan.

Margin bersih naik 29% menjadi 30% di bandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang 23%.

Sementara itu, Lippo Karawaci membukukan pendapatan Rp1,5 triliun pada semester I/2010 atau meningkat 8% dibandingkan dengan periode yang sama 2009 sebesar Rp1,4 triliun.

Dari pendapatan tersebut, Lippo Karawaci berhasil membukukan laba bersih Rp221 miliar atau meningkat 6% dibandingkan dengan periode yang sama 2009 sebesar Rp209 miliar.

Juli 31, 2010

elty meraih pertumbuhan … 310710

Filed under: ELTY, jalan tol n properti — bumi2009fans @ 3:10 pm

Jumat, 30/07/2010 19:31:42 WIB
Bakrieland raih pendapatan Rp537,5 miliar
Oleh: Ratna Ariyanti

JAKARTA (Bisnis.com): Perusahaan properti PT Bakrieland Development Tbk pada paruh pertama tahun ini meraih pertumbuhan pendapatan sebesar 45,74% dari Rp368,8 miliar menjadi Rp537,5 miliar.

Hiramsyah S. Thaib, Presiden Direktur & CEO Bakrieland, mengatakan pihaknya optimistis target pendapatan perusahaan hingga akhir tahun sebesar Rp1,3 triliun dapat tercapai.

“Yang jelas, perseroan pada semester kedua jauh lebih tinggi dari semester pertama. Peningkatan penjualan secara kuartalan juga menunjukkan tren yang sangat positif dan berpotensi berlanjut mengingat tingkat suku bunga KPR yang masih berpotensi turun,” ujar Hiramsyah dalam siaran pers pada hari ini.

Laba bersih perseroan tumbuh sebesar 10,72% menjadi Rp63 miliar dari Rp56,9 miliar pada semester I/2009. Laba operasi pada enam bulan pertama 2010 meningkat 27,03% menjadi Rp81,3 miliar dibandingkan dengan laba operasi periode sebelumnya sebesar Rp64,0 miliar.

Dalam laporan itu juga dijelaskan total aset persero mencapai Rp12 triliun atau meningkat 46,34% dari Rp8,2 triliun dari periode sebelumnya.

Pendapatan pada semester pertama ini didukung oleh unit bisnis city property yang memberikan kontribusi sebesar 50,6% terhadap pendapatan Bakrieland.

Adapun, unit bisnis hotel dan resort serta perumahan memberikan kontribusi pendapatan masing-masing sebesar 23,4% dan 20,6%. Unit bisnis jalan tol menyumbang sebesar 5,4%.

Pendapatan dari unit bisnis city property sebagian besar diperoleh dari proyek apartemen dan perkantoran strata dengan kontribusi sebesar 56,6% Proyek jalan tol pertama Bakrieland Kanci-Pejagan yang mulai beroperasi secara komersial pada Januari 2010 telah memberikan kontribusi pendapatan bagi Bakrieland sebesar Rp 28,8 miliar.

Perseroan berharap pendapatan dari jalan tol ini diharapkan akan terus meningkat dengan adanya lebaran dan libur akhir tahun serta semakin tersosialisasinya jalan tol Kanci-Pejagan ini. Harga saham dengan kode ELTY diperdagangkan turun Rp1 atau 0,75% ke level Rp133, sehingga membentuk kapitalisasi pasar sebesar Rp5,3 triliun.(fh)
31/07/2010 – 12:06
Laba Bersih ELTY Naik 10,7% di Semester I-2010

(inilah.com)
INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) berhasil meraup kenaikan laba bersih sebesar 10,7% pada semester I-2010 menjadi Rp62,99 miliar dibanding periode serupa 2009 sebesar Rp56,9 miliar.

Dalam laporan keuangan Perseroan yang disampaikan ke BEI, Sabtu (31/7) dijelaskan kenaikan laba bersih ini dipicu perolehan laba bersih selisih kurs sebesar Rp5,85 miliar pada semester I-2010 setelah mengalami kerugian Rp19,66 miliar pada periode serupa 2009. Laba usaha Perseroan pada semester I-2010 juga mengalami kenaikan menjadi Rp81,34 miliar dibanding periode serupa 2009 sebesar Rp63,99 miliar.

Penjualan bersih Perseroan juga mencatatkan kenaikan pada semester I-2010 menjadi Rp537,53 miliar dibanding periode serupa 2009 yang hanya mencapai Rp368,78 miliar. Pada semester I-2010, Perseroan masih mencatatkan kewajiban sebesar Rp6,43 triliun, sedang ekuitasnya hanya mencapai Rp4,67 triliun. [cms]

Juli 9, 2010

elty @225 … 090710

Filed under: ELTY, jalan tol n properti — bumi2009fans @ 9:16 am

09/07/2010 – 09:03
Spekulasi BI Rate, Gairahkan Saham Properti
Natascha & Asteria

(inilah.com)
INILAH.COM, Jakarta – Munculnya spekulasi bahwa Bank Indonesia (BI) tidak menaikkan suku bunga pada Agustus mendatang, memicu pergerakan pada saham sektor properti. Beberapa saham pun masih direkomendasikan. Apa saja?

Seorang pengamat pasar modal dari sekuritas lokal mengatakan, sektor properti pada perdagangan Kamis (8/7) kemarin mengalami pergerakan yang cukup signifikan, bahkan memimpin penguatan bursa sebesar 2,2%. Hal ini karena adanya sentimen kuat dari spekulasi batalnya BI menaikkan suku bunga acuan BI rate bulan depan. “Kondisi ini masih bisa berlanjut hari ini,” katanya kepada INILAH.COM.

Menurutnya, spekulasi ini muncul karena tingkat inflasi, yang mempengaruhi suku bunga, lebih banyak disebabkan kenaikan harga, yakni untuk mengantisipasi kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Hal ini merupakan efek putaran kedua, yang biasa terjadi ketika pemerintah mengumumkan rencana kenaikan TDL. “Yakni naiknya harga beberapa barang sebagai penyesuaian,” paparnya.

Namun, kondisi ini dinilai belum mampu menaikkan tingkat suku bunga, mengingat faktor penyumbang inflasi lainnya turun. Apalagi rupiah stabil dan cadangan devisa sedang tinggi. Prediksi naiknya tingkat inflasi pada akhir tahun pun, tetap takkan banyak berpengaruh pada bunga kredit KPR. “Alhasil, beberapa saham di sektor properti masih ada yang murah,” pungkasnya.

Senada dengan Yuganur Wijanarko, Senior Research dari HD Capital. Pada riset awal pekan ini. Ia merekomendasikan saham sektor properti yang dinilai belum sepenuhnya mendiskon kemungkinan BI rate akan dipertahankan di level 6.5% Agustus nanti. “Beberapa saham di sektor properti belum price-in atas kemungkinan BI rate tidak jadi naik Agustus ini,” katanya.

Ia mengakui, beberapa kalangan menilai kenaikan inflasi Juni lalu sebesar 0,97% dan year on year sebesar 5%, dapat mendorong BI menaikkan suku bunga lagi Agustus hingga 7%. Namun, ada beberapa alasan untuk menangkis terjadinya hal tersebut.

Salah satunya adalah kenaikan inflasi yang tajam Juli nanti lebih disebabkan oleh faktor siklus perubahan harga makanan. Selain itu, cadangan devisa Juni yang naik dan penurunan impor 6 bulan terakhir sebesar 35%, dapat mengurangi potensi imported inflation . “Hal-hal seperti ini masih dapat menarik minat asing untuk investasi di aset rupiah seperti saham, obligasi dan real estate,” paparnya.

Sedangkan bila dilihat dari gejala inflasi Juni, imbuh Yuga, terlihat bahwa sumber utama inflasi adalah antisipasi harga barang menjelang kenaikan Gas Elpiji, Tol, Tarif Dasar Listrik (TDL) serta tahun ajaran baru sekolah dan bulan puasa. “Faktor-faktor ini tidak berpengaruh signifikan karena cuma gejala sesaat,” ulasnya.

Di tengah kondisi ini, Yuga memilihkan beberapa saham jagoannya. Salah satunya Sentul City (BKSL). Menurutnya, turnaround story pascaakuisisi oleh Bakrie menjadikan emiten ini pilihan yang menarik.”Investor bisa beli saham ini dengan target harga sebulan mendatang di level Rp.140,” ujarnya.

Sedangkan Dharmala Intiland (DILD) dipilih karena adanya peningkatan pendapatan pascapenjualan aset. Untuk emiten ini, target harga 1 bulan ke depan diprediksi dapat mencapai Rp1.200.

Saham terakhir pilihannya adalah Alam Sutra Realty (ASRI), yang memiliki diskon ke NAVS Rp.300 dan NPM 30% akibat effisiensi. “Rekomendasi beli dengan target harga sebulan ke depan dapat mencapai Rp.215,” pungkasnya.

Robin Setiawan, analis pasar modal juga memilih saham ASRI. Dengan fundamental cukup baik, penjualan hingga akhir tahun diprediksi bisa tembus Rp600 miliar. Selain itu, indikator teknis menunjukkan peluang naik dan didukung volume yang cukup besar. “Rekomendasi beli dengan target harga jangka pendek Rp225,” ucapnya.

Sementara, analis dari CLSA merekomendasikan saham Bakrieland Development (ELTY), terkait rencana right issue yang akan dilakukan perseroan bulan ini untuk memperoleh dana Rp3,2 triliun. “Rekomendasi beli ELTY dengan target harga Rp225,” ujarnya.

Menurutnya, dengan rencana ELTY menguasai 51% saham PT Bukit Jonggol Asri, akan menjadikan saham kelompok Bakrie itu salah satu pengembang properti dengan land bank terbesar di Asia. [vin/ast]

Older Posts »

Blog di WordPress.com.