DEWA: Rights issue Rp624 miliar
• PT Darma Henwa (DEWA) melakukan right issue dengan melepas 6.2
miliar saham dengan harga pelaksanaan Rp100/saham (total dana
diperoleh Rp624 miliar).
• Setiap 5 pemegang saham lama berhak mendapat 2 HMETD untuk
menebus 2 saham dengan mengajukan pelaksanaan HMETD.
• Bertindak sebagai pembeli siaga PT Danatama Makmur.
• RUPSLB direncanakan akan diadakan pada 28 Desember 2009 untuk
meminta persetujuan pemegang saham.
• Cum right di pasar regular pada tgl 6 Januari 2010.
• Periode perdagangan right antara 13-19 Januari 2010.
Penggunaan dana sebesar 68% untuk membayar sebagian utang
perseroan, 7.6% untuk pembelian alat berat dan 23% untuk modal
kerja. DEWA: Non Coverage
samuel sek: dewa berRI … 261109
November 26, 2009solidaritas negatif THE BAKRIES (2) : 261109
November 26, 2009Bakrie Group Shares Tumble in Jakarta on Share Sale Concerns
By Berni Moestafa
Nov. 26 (Bloomberg) — PT Bakrie & Brothers and affiliates tumbled in Jakarta trading on speculation the company will sell equity to fund acquisitions, diluting existing share values.
Bakrie & Brothers, an Indonesian investment group run by the family of former welfare minister Aburizal Bakrie, sank 8 percent to 92 rupiah, the sharpest drop since Aug. 19, and the most actively traded stock by volume today. PT Bumi Resources, Indonesia’s biggest coal producer and partly owned by Bakrie, slid 8.7 percent to 2,375 rupiah. The declines helped to drive the Jakarta Composite index 2.8 percent lower.
Bakrie said on Nov. 24 that it plans to raise as much as $250 million selling bonds by January to help fund expansion and refinance debt. PT Energi Mega Persada, another Bakrie affiliate, yesterday said it plans to raise 4.8 trillion rupiah ($509 million) in a rights offer in January. There is also speculation about a rights offer by Bakrie, said Sunny Yoon, president director of PT Citigroup Securities Indonesia.
|
“The market is confused with the massive fundraising by the group; when will it end?” Yoon said in Jakarta today. “Retail investors are concerned about the sizeable dilution, increasing pressure on Bakrie stocks.”
Bakrie spokesman Siddharta Moersjid didn’t return a call to his mobile phone and couldn’t be reached at his office because he was in a meeting, according to his secretary. Corporate Secretary Sri Dharmayanti didn’t answer her office phone, according to the operator.
The MSCI Asia Pacific Index slipped 0.6 percent to 117.5.
Bumi plans to raise $300 million in bonds or loans by the end of this year to fund expansion, Bisnis Indonesia newspaper reported Nov. 24, citing President Director Ari Hudaya.
A unit of Bumi agreed on Nov. 23 to buy another 14 percent stake in Newmont Mining Corp.’s Indonesian venture. Bumi’s unit and its partners earlier paid $391 million for 10 percent of Newmont’s venture.
To contact the reporter on this story: Berni Moestafa in Jakarta at bmoestafa@bloomberg.net
Last Updated: November 26, 2009 04:20 EST
unsp mungkin maseh lirik2 dulu… 261109
November 26, 2009Indonesia Targetkan Tetap Jadi Produsen Utama CPO
Kamis, 26 2009 00:17 WIB 303 Dibaca | 0 Komentar
BOGOR-MI: Pemerintah bertekad mempertahakan statusnya sebagai produsen crude palm oil (CPO) terbesar di dunia dengan cara meningkatkan produksi dan mempertahankan kualitasnya agar ekspor CPO Indonesia dapat semakin menguasai pasar dunia, sehingga berdampak positif bagi pertumbuhan perekonomian nasional.
Deputi Menteri Negara Ristek dan Teknologi, Prof Dr Amin Tamin Subandrio, Rabu, mengatakan, dalam dua tahun terakhir perkembangan industri perkelapasawitan Indonesia sangat mengagumkan. Hal tersebut ditandai dengan peningkatan drastis pertumbuhan produksi CPO.
“Kita berhasil mengungguli produksi CPO Malaysia dua tahun lebih cepat dari target yang dicanangkan. Kita menargetkan dapat melampaui Malaysia pada 2010, namun sejak 2008 produksi CPO kita sudah mampu menggungguli Malaysia,” kata Amin Tamin Subandrio.
Pada tahun 2008, produksi CPO Indonesia mencapai 19,2 juta ton, sedangkan produksi CPO Malaysia pada tahun yang sama yaitu 17,08 juta ton.
Terjadinya fluktuasi harga di pasar global, lanjut Amin, tidak berdampak terhadap produksi CPO Indonesia. Produksi CPO Indonesia justru meningkat, yang ditandai dengan meningkatnya volume ekspor.
“Pada 2008, volume ekspor CPO Indonesia mencapai 12,5 juta ton,” imbuhnya.
Menurut Amin, pertumbuhan produksi dan ekspor CPO akan terus digalakkan pemerintah melalui berbagai kebijakan teknis dan fiskal. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mendongkrak peningkatan produksi CPO.
“Pemerintah menargetkan pada tahun 2020 produksi CPO mencapai 40 juta ton atau dua kali lipat dari produksi CPO saat ini,” katanya.
Pada 2020 mendatang, luas areal perkebunan kelapa sawit akan mencapai 9,127 juta hektar dengan produktivitas sawit mencapai 4,5 ton per hektare. (Ant/OL-7)
RI dewa diANTISIPASI BELI lho … 261109
November 26, 2009Kamis, 26/11/2009 14:48 WIB
Investor Bersiap Borong Rights Issue DEWA
Indro Bagus SU – detikFinance
(foto: dok detikFinance) Jakarta – Kejatuhan tajam saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) hingga menembus 20% pada hari ini diperkirakan merupakan langkah yang dilakukan investor guna mengeksekusi rights issue perseroan di harga Rp 100 per saham.
“Kalau melihat penurunan seperti ini, kelihatannya sebagian investor DEWA melakukan aksi jual untuk mendapatkan dana mengeksekusi rights issue di harga Rp 100,” ujar analis PT Anugerah Securindo Indah, Viviet S Putri saat dihubungi detikFinance, Kamis (26/11/2009).
DEWA memang akan menerbitkan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue pada Januari 2010. Harga rights issue dipatok sebesar Rp 100 per saham, lebih rendah 45,05% dari penutupan kemarin di level Rp 182 per saham.
Rencananya, DEWA akan menerbitkan 6,24 miliar saham baru dengan target dana perolehan sebesar Rp 624 miliar. Dananya akan digunakan untuk pembayaran utang sebesar Rp 427 miliar, membeli peralatan berat Rp 47,5 miliar dan sisanya Rp 149 miliar untuk modal kerja.
Rasio rights issue ditetapkan 5:2 atau 5 pemegang saham lama berhak membeli 2 rights issue DEWA. RUPSLB akan digelar pada 28 Desember 2009. Cum rights issue ditetapkan pada 6 Januari 2010, ex rights issue pada 7 Januari 2010, periode perdagangan pada 13-19 Januari 2010 dan tanggal pembayaran pada 21 Januari 2010.
PT Danatama Makmur ditunjuk menjadi pembeli siaga (rights issue) DEWA.
Pengumuman harga rights issue di level Rp 100 per saham tersebut membuat harga saham DEWA jatuh tajam pada perdagangan hari ini. Hingga berita ini ditulis, harga saham DEWA telah menyentuh level Rp 145 per saham, anjlok Rp 37 (20,32%) dari penutupan kemarin.
Menurut Viviet, melihat harga rights issue yang jauh lebih rendah dari harga pasar, artinya manajemen DEWA menghendaki rights issue dieksekusi oleh pasar, bukan oleh standby buyer. Sebagaimana diketahui, aksi rights issue seringkali dijadikan cara efektif bagi suatu perusahaan untuk melakukan private placement atau backdoor listing.
“Tapi kalau harga rights jauh di bawah pasar, artinya manajemen DEWA ingin agar pasar yang mengeksekusi rights issue ini, bukan standby buyer,” ujarnya.
Lantas, kenapa harga DEWA turun tajam pada perdagangan hari ini? Menurut Viviet, bisa jadi itu merupakan bagian dari strategi investor yang sudah memiliki saham DEWA untuk ikut mengeksekusi rights issue tanpa harus mengekuarkan modal baru.
“Misalkan mereka punya 1.000 saham DEWA, bisa saja mereka menjual 500 sahamnya ke pasar dengan harga pasar. Maka ia mendapatkan modal baru dari penjualan itu,” ujarnya.
Dengan logika sederhana, investor yang ingin mengeksekusi rights issue DEWA tanpa harus mengeluarkan modal baru akan melakukan hal seperti itu. Sebut saja investor A memiliki 2.000 saham DEWA.
Seharusnya, A memiliki hak mengeksekusi 800 rights issue DEWA dengan rasio 5:2. Namun untuk membeli 800 rights issue tersebut, A harus mengeluarkan modal baru.
Oleh sebab itu, A memutuskan menjual 500 sahamnya pada harga pasar dan mendapatkan modal baru. Dan A masih memiliki 1500 saham DEWA. Dengan kepemilikannya sekarang, A bisa mengeksekusi 600 saham DEWA dengan rasio 5:2.
Nah, dana untuk membelinya itu 600 lembar rights issue itu menggunakan dana hasil penjualan 500 saham tersebut. Apalagi, harga rights issue ditetapkan di harga Rp 100. Jadi dana untuk membeli 600 rights issue itu bisa saja lebih kecil ketimbang untung yang diperoleh dari penjualan 500 saham tadi.
“Bisa saja seperti itu. Karena kalau melihat teknikal analisisnya, harga saham DEWA seharusnya masih punya ruang untuk naik, meskipun harga rights issue sebesar Rp 100. Kejatuhan hari ini agak aneh,” ujarnya.
(dro/qom)
wow, btel kena imbas persaingan ketat … 261109
November 26, 200926/11/2009 – 15:59
Laba Bersih Bakrie Telecom Turun 19,73%
(inilah.com/Dokumen)
INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mencatatkan laba bersih Rp97,33 miliar per September 2009 atau turun 19,73% dibanding periode yang sama 2008 Rp121,25 miliar.
Dalam laporan keuangan BTEL yang dilaporkan ke BEI, Kamis (26/11) dijelaskan penurunan laba bersih ini disebabkan penurunan laba usaha sebesar 17,44% menjadi Rp223,02 miliar per September 2009 dari periode yang sama 2008 Rp270,13 miliar.
Namun dari sisi pendapatan usaha bersih Perseroan mengalami kenaikan menjadi Rp2,01 triliun per September 2009 dari sebelumnya Rp1,55 triliun.
Perseroan mencatatkan jumlah aset sebesar Rp11,24 triliun per Septemebr 2009, sedang kewajibannya mencapai Rp6,12 triliun. [cms]
solidaritas NEGATIF the bakries … 261109
November 26, 2009Kamis, 26 November 2009 | 16:14
BURSA SAHAM
Emiten Bakrie Berulah, IHSG Tinggalkan 2.400
JAKARTA. Investor Bursa Efek Indonesia (BEI) harus menikmati libur akhir pekan dengan gelisah. Kamis (26/11), hingga paruh kedua berakhir, indeks bertengger di 2.393,52 atau anjlok 2,76%. Artinya, IHSG harus kembali meninggalkan angka keramat 2.400.
Perinciannya 21 saham naik, 181 saham turun, dan 45 saham tak mengalami perubahan harga. Nilai transaksi harian BEI tercatat Rp 4,78 triliun.
Penyebab rontoknya IHSG pada hari ini dikarenakan aksi korporasi yang mencengangkan dari emiten grup Bakrie, yaitu PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang mematok harga rights issue di bawah harga pasar. Adapun kedua saham itu ditutup turun masing-masing 6,38% menjadi Rp 220 dan 18,13% menjadi Rp 149.
Tentunya sentimen buruk ini berdampak negatif bagi saham Grup Bakrie lainnya, seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang turun 8,65% menjadi Rp 2.375, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) turun 9,26% menjadi Rp 245, dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) turun 8% menjadi Rp 92.
Celakanya aksi jual emiten Grup Bakrie turut menyeret saham-saham papan atas (blue chips) lainnya. Misalnya PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) turun 6,14% menjadi Rp 10.700, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) turun 5,53% menjadi Rp 22.200, PT Astra International Tbk (ASII) turun 2,74% menjadi Rp 32.000, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) turun 2,67% menjadi Rp 10.950, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) turun 3,31% menjadi Rp 8.750, dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) turun 4,67% menjadi Rp 3.575.
Secuil saham-saham yang mampu bertahan; PT Gudang Garam Tbk (GGRM) naik 1,77% menjadi Rp 17.250, dan PT Sorini Agro Asia Corporindo Tbk (SOBI) naik 1,74% menjadi Rp 1.750.
Hendra Soeprajitno
Kamis, 26 November 2009 | 12:17
BURSA SAHAM
Emiten Bakrie Saling Menyeret, IHSG Tersungkur 1,26%
JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus kembali terpuruk akibat aksi jual investor terhadap emiten Grup Bakrie. Kamis (26/11), hingga sesi pertama, indeks bertengger di 2.430,42 atau turun 1,26%. Perinciannya 24 saham naik, 154 saham turun, dan 44 saham tak mengalami perubahan harga. Nilai transaksi harian Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat Rp 1,96 triliun.
Aksi jual muncul terhadap emiten Grup Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA). Sentimen negatif ini muncul setelah mereka mematok harga rights issue di bawah harga pasar. Saham ENRG turun 8,51% menjadi Rp 215. Sementara DEWA turun 18,13% menjadi Rp 149.
Celakanya sentimen negatif itu turut menyeret emiten Grup Bakrie lainnya. Misal PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun 5,77% menjadi Rp 2.450 dan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) turun 7,41% menjadi Rp 250.
Emiten lain yang juga mencatatkan penurunan; PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) turun 1,28% menjadi Rp 32.300, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) turun 2,19% menjadi Rp 11.150, PT United Tractors Tbk (UNTR) turun 1,3% menjadi Rp 15.150, dan PT Semen Gresik (Persero) Tbk (SMGR) turun 2,08% menjadi Rp 7.050.
Sebaliknya emiten yang mampu bertahan; PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik 0,91% menjadi Rp 27.850, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) naik 0,91% menjadi Rp 5.550, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 0,3% menjadi Rp 16.500, dan PT Delta Dunia Petroindo Tbk (DOID) naik 1,34% menjadi Rp 1.510.
Hendra Soeprajitno
tren harga saham bnbr 1 bulan terakhir … 261109
November 26, 2009| PRICES |
|
samuel sek:
BNBR: Tunjuk 6 underwriter
• Bisnis Indonesia mengabarkan PT Bakrie & Brothers (BNBR) akan
menunjuk enam underwriter guna membantu penerbitan obligasi
konversi sebesar US$250 juta minggu depan.
• Ke enam underwriter tersebut adalah Credit Suisse, Deutsche Bank,
JPMorgan, Merrill Lynch, Nomura, dan salah satu lembaga keuangan
asal AS.
• BNBR tidak akan melaksanakan roadshow ke luar negeri terkait
penerbitan obligasi ini.
• Dana hasil obligasi ini diperkirakan digunakan untuk melaksanakan
right terkait right issue anak usahanya ENRG. BNBR: Under Review
trub berekspansi trus … 261109
November 26, 2009Truba Raih Kontrak US$ 700 Juta
26/11/2009 08:54:55 WIB
Oleh Deviana Chuo
JAKARTA, INVESTOR DAILY
PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) mengantungi kontrak senilai US$ 700 juta atau sekitar Rp 6,61 triliun sepanjang 2009. Hingga akhir tahun ini, perseroan menargetkan perolehan kontrak sebesar Rp 7,54 triliun.
Sekretaris Perusahaan Truba Alam Manunggal Gamala Katoppo mengatakan, pihaknya telah mendapat kontrak 17 proyek besar. Salah satunya, pembangunan fasilitas migas berupa pemasangan pipa dan pompa milik Chevron senilai US$ 200 juta. Proyek itu ditargetkan selesai tahun depan. Selain itu, perseroan juga mengerjakan PLTU Indramayu senilai US$ 54 juta yang juga diharapkan rampung pada 2010.
Menurut Gamala, pihaknya belum bisa memperoleh kontrak baru untuk proyek rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement, and construction/EPC) hingga akhir 2009. Kontrak tersebut kemungkinan bisa diperoleh pada semester I-2010. “Biasanya kontrak-kontrak memang dibuat pada awal tahun, kalau semester II memang tidak ada,” kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (25/11).
Dia menambahkan, pihaknya kini masih mengikuti sejumlah tender EPC, termasuk proyek pembangkit listrik dan pembangunan fasilitas migas. Namun, kata Gamala, pihaknya belum bisa menjelaskan secara rinci mengenai proyek tersebut. Dia hanya mengungkapkan bahwa perseroan mengikuti tender proyek PLTU 10 ribu megawatt (MW) tahap I dan II, serta pembangkit listrik swasta (independent power producer/IPP).
Sebelumnya, Truba Alam telah mendapat sejumlah proyek di sektor kelistrikan antara lain PLTU Paiton III berkapasitas 815 MW senilai US$ 60 juta dan PLTU Jati B extension berkapasitas 2×600 MW senilai US$ 18 juta. Kedua proyek itu diperoleh pada Mei 2009.
Sementara itu, Truba masih menjajaki mitra strategis untuk pembangunan PLTU Kuala Tanjung berkapasitas 2×135 MW senilai US$ 300 juta. Gamala menegaskan, ada dua calon investor yang berminat menjadi mitra strategis, salah satunya Ratchabury Electricity Generating Holding PCL dari Thailand.
Ratchaburi berniat mengambil alih 40% saham Truba Alam di proyek PLTU Kuala Tanjung. Dengan akuisisi itu, saham Truba berkurang menjadi 40%, sedangkan sisanya 20% dimiliki perusahaan lokal, PT Ranyza Energi.
Ratchaburi Electric merupakan produsen tenaga listrik independen di Thailand. Total kapasitas listriknya saat ini mencapai 4.347 MW. Pemegang saham mayoritas Ratchaburi adalah otoritas pembangkit listrik Thailand sebesar 45%. Sedangkan Banpu Plc, produsen batubara terbesar di Thailand memiliki 15% saham Ratchaburi.
Menurut Gamala, mitra strategis nantinya diharapkan dapat mencari pinjaman untuk membiayai sekitar 70% dari total investasi PLTU Kuala Tanjung. Sisanya akan dibiayai dari ekuitas kedua perusahaan.
Kenaikan Pendapatan
Mengenai laporan keuangan kuartal III-2009, Gamala mengatakan, perseroan akan menyampaikannya pada akhir November 2009. Dia memperkirakan, pendapatan perseroan kemungkinan meningkat sama seperti pertumbuhan tahunan pada semester I-2009.
“Biasanya peningkatan kinerja dari proyek-proyek EPC selalu sama, tapi juga tetap bergantung pada tambahan-tambahan proyek yang ada,” ujarnya.
Hingga 30 Juni 2009, perseroan membukukan kenaikan pendapatan sebesar 27,6% menjadi Rp 1,56 triliun. Sementara itu, hingga akhir 2009, Truba Alam mengincar kenaikan pendapatan sebesar 16,27% menjadi Rp 3,43 triliun.
Gamala pernah mengatakan, pihaknya optimistis perseroan mampu meraih laba bersih pada akhir 2009. Tahun lalu, Truba membukukan rugi bersih sebesar Rp 180,12 miliar, akibat pembengkakan rugi kurs.
TRANSAKSI MATERIAL, mo diatur, setelah banyak peristiwa : 261109
November 26, 200926/11/2009 – 11:47
Bapepam-LK Terbitkan Aturan Transaksi Material
INILAH.COM, Jakarta – Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menerbitkan dua aturan baru terkait transaksi material dan benturan kepentingan dalam rangka memberikan kemudahan bagi emiten atau perusahaan publik dalam menjalankan kegiatan usahanya.
Ketua Bapepam-LK Ahmad Fuad Rachmany dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (26/11), menyebutkan, kedua peraturan tersebut merupakan perubahan atas peraturan yang telah ada sebelumnya dalam rangka memberikan kemudahan bagi emiten atau perusahaan publik dalam menjalankan kegiatan usahanya dengan tetap memperhatikan kepentingan pemegang saham publik.
Dua aturan baru yang diterbitkan itu adalah Peraturan Nomor IX.E.1 Lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor: Kep-412/BL/2009 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu. Aturan kedua adalah Peraturan Nomor IX.E.2 lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor: Kep-413/BL/2009 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama.
Beberapa pokok perubahan dalam Peraturan Nomor IX.E.1 antara lain menyempurnakan definisi Benturan Kepentingan, dan memperluas cakupan mengenai definisi Transaksi Afiliasi.
Benturan Kepentingan adalah perbedaan antara kepentingan ekonomis Perusahaan dengan kepentingan ekonomis pribadi anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, atau pemegang saham utama yang dapat merugikan Perusahaan dimaksud.
Transaksi Afiliasi adalah transaksi yang dilakukan oleh Perusahaan atau Perusahaan Terkendali dengan Afiliasi dari Perusahaan atau Afiliasi dari anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, atau pemegang saham utama Perusahaan.
Peraturan baru itu juga menambah beberapa jenis Transaksi Afiliasi dan/atau Transaksi yang Mengandung Benturan Kepentingan yang dikecualikan dari kewajiban-kewajiban yang diatur dalam Peraturan itu.
Sementara pokok perubahan Peraturan Nomor IX.E.2 antara lain mengubah ketentuan mengenai penentuan nilai materialitas suatu transaksi sehingga transaksi yang dapat dikategorikan sebagai Transaksi Material adalah transaksi dengan nilai 20 persen atau lebih dari ekuitas Perusahaan.
Juga mengubah ketentuan mengenai kewajiban untuk terlebih dahulu memperoleh persetujuan RUPS atas rencana Transaksi Material sehingga kewajiban untuk memperoleh persetujuan RUPS hanya diperlukan jika Transaksi Material mempunyai nilai lebih besar dari 50 persen dari ekuitas Perusahaan.
Sedangkan untuk Transaksi Material dengan nilai transaksi 20 persen sampai dengan 50 persen dari ekuitas Perusahaan hanya diwajibkan untuk melakukan keterbukaan informasi kepada Bapepam dan LK.
Peraturan baru itu juga menambah ketentuan mengenai harga saham, dalam hal obyek Transaksi Material adalah saham Emiten atau Perusahaan Publik. [cms]
Kamis, 26/11/2009 10:28 WIB
Bapepam-LK terbitkan revisi 2 peraturan pasar modal
oleh : Sylviana Pravita R.K.N.
JAKARTA (bisnis.com): Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menerbitkan revisi dua peraturan, yaitu Peraturan Nomor IX.E.1 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu serta Peraturan Nomor IX.E.2 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama.
Ketua Bapepam-LK Ahmad Fuad Rahmany mengatakan kedua peraturan tersebut merupakan perubahan atas peraturan yang telah ada sebelumnya dalam rangka memberikan kemudahan bagi emiten atau perusahaan publik dalam menjalankan kegiatan usahanya dengan tetap memperhatikan kepentingan pemegang saham publik.
Beberapa pokok perubahan yang diatur dalam kedua peraturan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Peraturan Nomor IX.E.1
a. Menyempurnakan definisi Benturan Kepentingan, sehingga Benturan Kepentingan adalah “Perbedaan antara kepentingan ekonomis Perusahaan dengan kepentingan ekonomis pribadi anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, atau pemegang
saham utama yang dapat merugikan Perusahaan dimaksud”.
b. Memperluas cakupan mengenai definisi Transaksi Afiliasi, sehingga Transaksi Afiliasi adalah “Transaksi yang dilakukan oleh Perusahaan atau Perusahaan Terkendali dengan Afiliasi dari Perusahaan atau Afiliasi dari anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, atau pemegang saham utama Perusahaan”.
c. Menambah beberapa jenis Transaksi Afiliasi dan/atau Transaksi yang Mengandung Benturan Kepentingan yang dikecualikan dari kewajiban-kewajiban yang diatur dalam Peraturan ini.
2. Peraturan Nomor IX.E.2
a. Mengubah ketentuan mengenai penentuan nilai materialitas suatu transaksi sehingga transaksi yang dapat dikategorikan sebagai Transaksi Material adalah transaksi dengan nilai 20% (dua puluh perseratus) atau lebih dari ekuitas perusahaan.
b. Mengubah ketentuan mengenai kewajiban untuk terlebih dahulu memperoleh persetujuan RUPS atas rencana Transaksi Material sehingga kewajiban untuk memperoleh persetujuan RUPS hanya diperlukan jika transaksi material mempunyai nilai lebih besar dari 50% (lima puluh perseratus) dari ekuitas perusahaan.
c. Sedangkan untuk Transaksi Material dengan nilai transaksi 20% (dua puluh perseratus) sampai dengan 50% (lima puluh perseratus) dari ekuitas perusahaan hanya diwajibkan untuk melakukan keterbukaan informasi kepada Bapepam-LK.
d. Menambah ketentuan mengenai harga saham, dalam hal obyek Transaksi Material adalah saham emiten atau perusahaan publik.
bisnis.com
ikut2an, mosok dewa nimbrung seh … 261109
November 26, 2009Kamis, 26 November 2009 | 10:16
BURSA SAHAM
DEWA Gelar Rights Issue, IHSG Tergelincir Lagi
JAKARTA. Satu hari menjelang hari raya kurban, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus terperosok hebat. Kamis (26/11), hingga pukul 10.10 WIB, indeks bertengger di 2.437,32 atau turun 0,98%. Kali ini sentimen negatif masih berasal dari emiten Grup Bakrie, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang menggelar rights issue di bawah harga pasar.
Beberapa saham yang melemah, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Darma Henwa Tbk (ELTY), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), PT Bank Central Asia Tbk (SMCB), dan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).
Sebaliknya saham-saham yang mampu menguat; PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO), dan PT Delta Dunia Petroindo Tbk (DOID).
Hendra Soeprajitno
Kamis, 26 November 2009 | 10:02
AKSI KORPORASI DEWA
Rights Issue Dibanderol Rp 100, Saham DEWA Terperosok Hebat
JAKARTA. Grup Bakrie kembali membuat aksi korporasi yang mengejutkan. Kali ini giliran PT Darma Henwa Tbk (DEWA).
Dalam prospektus, DEWA akan menggelar hajatan penerbitan saham baru (rights issue) sebanyak 6,24 miliar dengan harga Rp 100. Adapun 5 pemegang saham lama berhak untuk mengeksekusi dua saham baru. Kamis (26/11), hingga pukul 09.47 WIB, saham DEWA melorot 13,74% menjadi Rp 157. Artinya, harga rights issue itu pun lebih murah setidaknya 36%.
DEWA akan meraup dana segar setidaknya Rp 624 miliar dari hajatan ini. Sekitar 68,47% dana IPO ini akan mereka gunakan untuk pelunasan sebagian utang perseroan. Sedangkan 7,61% digunakan untuk pembelian alat berat. Sisanya atau 23,93% akan digunakan untuk modal kerja.
DEWA menunjuk Danatama Makmur sebagai pembeli siaga (standy buyer). Yang jelas ini bukan pertama kalinya emiten Grup Bakrie menggelar rights issue di bawah harga pasar. Sebab, hal serupa juga dilakukan oleh PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), anggota The Seven Brothers lainnya.
Hendra Soeprajitno kontan
Kamis, 26 November 2009 | 10:16
BURSA SAHAM
DEWA Gelar Rights Issue, IHSG Tergelincir Lagi
JAKARTA. Satu hari menjelang hari raya kurban, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus terperosok hebat. Kamis (26/11), hingga pukul 10.10 WIB, indeks bertengger di 2.437,32 atau turun 0,98%. Kali ini sentimen negatif masih berasal dari emiten Grup Bakrie, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang menggelar rights issue di bawah harga pasar.
Beberapa saham yang melemah, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Darma Henwa Tbk (ELTY), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), PT Bank Central Asia Tbk (SMCB), dan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).
Sebaliknya saham-saham yang mampu menguat; PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO), dan PT Delta Dunia Petroindo Tbk (DOID).
Hendra Soeprajitno kontan
