Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Juni 23, 2015

BAKR13’$ game (11) … 230615

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:54 am

BNBR dapat proyek dari McDermott

 

JAKARTA kontan. PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mendapat persetujuan untuk menerbitkan saham baru. Ini adalah langkah awal restrukturisasi utang berdasarkan putusan perdamaian (homologasi) dengan kreditur dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

BTEL akan merilis saham baru disesuaikan dengan jumlah obligasi wajib konversi. “Konversi utang diharapkan kinerja perusahaan lebih baik,” ujar Jastiro Abi, Direktur Utama BTEL saat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, Senin (22/6).

Tapi OJK belum memberikan izin pada BTEL untuk merilis obligasi. OJK masih menelaah proses penerbitan obligasi dan saham baru.

Obligasi wajib konversi merupakan cara pembayaran utang yang telah disepakati BTEL bersama kreditur dalam proses PKPU. Kemudian, 70% dari total utang dibayar dengan Mandatory Convertible Bond -A (MCB-A) yang bisa dikonversikan saham baru di harga Rp 200 per saham. Dan 30% dibayar bertahap.

BTEL akan mulai membayar utang 18 bulan setelah pengesahan homologasi pada 9 Desember 2014. BTEL memiliki total tagihan utang Rp 11,3 triliun. Selain restrukturisasi, BTEL mulai bertransformasi dari penyelenggara jaringan dan operator jasa telefoni menjadi penyelenggara jasa telefoni secara kemitraan.

Editor: Yudho Winarto

JAKARTA kontan. Emiten milik Grup Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berhasrat membiayai kembali (refinancing) utangnya di tahun ini senilai US$ 134 juta. Anak usaha Grup Bakrie ini memiliki utang dari dua lembaga keuangan dengan bunga yang sangat tinggi.

Didit A Ratam, Direktur ENRG mengatakan, total utang yang akan direfinancing berkisar US$ 134 juta. Untuk melunasinya, perseroan tengah mengincar utang sindikasi dari perbankan asing senilai US$ 200 juta. Proses refinancing itu ditargetkan kelar tahun ini.

Utang yang akan dibiayai kembali adalah fasilitas pinjaman dari Pro Strategic Investors Ltd. senilai US$ 102,02 juta. Pinjaman yang diperoleh anak usaha ENRG, EMP Energy Ltd. (EEL), itu dikenakan bunga tinggi yaitu 20% per tahun.

EEL menggunakan US$ 92,02 juta dari utang itu untuk membayar pinjaman anak usahanya, EMP International (BVI) Ltd., kepada ND Owen Holdings Ltd. Sementara US$ 10 juta sisanya digunakan untuk keperluan operasional umum.

ENRG juga menanggung fasilitas utang jangka pendek senilai US$ 61,95 juta dari PST Finance Ltd. Seperti halnya fasiltias dari Pro Strategic, utang ini pun dikenakan bunga sebesar 20% per tahun.

“Bunga yang tinggi itu cukup memberatkan, sehingga harus segera dibiayai kembali,” ujarnya di Jakarta, Rabu (17/6). ENRG juga akan melunasi utang jangka panjang lainnya. Lalu, dana sisa dari pinjaman baru akan digunakan untuk belanja modal tahun depan.

Dia mengatakan, pinjaman sindikasi yang baru memberikan bunga sekitar 10%, sehingga akan mengurangi beban bunga perseroan. “Dengan kondisi pasar saat ini, cukup sulit mencari pinjaman yang bunganya lebih kecil dari itu,” imbuhnya.

Tahun lalu perseroan sudah melunasi dan membiayai kembali sebagian utangnya. Beban keuangan ENRG turun dari US$ 97 juta di tahun 2013 menjadi US$ 79 juta di tahun 2014.

Debt to Equity Ratio (DER) ENRG per akhir tahun 2014 menyusut menajdi 0,57 kali dari sebelumnya 0,82 kali. Sementara net debt to equity menurun dari 0,5 kali menjadi 0,41 kali.

Narita Indrastiti

Editor: Uji Agung Santosa

Bekasi -PT Bakrie Pipe Industries, anak usaha dari PT Bakrie &‎ Brothers Tbk mendapatkan kontrak untuk memasok pipa pengeboran migas ke Amerika Serikat (AS). Sebanyak 80.000 ton pipa untuk keperluan pengeboran minyak dan gas (migas) bakal diekspor hingga 2016.

Direktur Utama PT Bakrie Pipe Industries Mas Wigrantoro Roes menuturkan, kontrak kerjasama dengan perusahaan AS sudah dilakukan pada September lalu. Disepakati perjanjian pembelian pipa casing untuk pengeboran minyak sebanyak 80.000 ton bermacam-macam ukuran.

“Jadi kan kemarin eksplorasi itu menurun, sekarang mulai naik lagi. Kami kirim casing berbagai ukuran untuk pengeboran di Amerika Serikat‎,” kata Wograntoro Roes ditemui di pabrik Bakrie Pipe Industeis, Medan Satria, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (21/5/2015).

Ia mengatakan, pengiriman akan dilakukan hingga 2016 nanti. Di tahun ini, akan dikirimkan sebanyak 9.000 ton casing pipa yang dibagi menjadi dua tahap.

“Mulai Juni ini kita kirim 4.000 ton, dan 5.000 ton. Jadi tahun ini 9.000 ton akan dikirim dua kali,” katanya.

Mas Roes menyebutkan, AS merupakan pasar pipa terbesar dunia. Meski begitu belum banyak pipa untuk migas hasil produksi Bakrie Pipe Industries yang dikirim ke Negeri Paman Sam tersebut. Ia mengatakan beroperasinya coating plant atau pabrik pelapisan baja yang baru diresmikan hari ini, jumlah ekspor akan lebih banyak lagi.

“Kami juga sedang bicara untuk line pipe. Amerika itu pasar terbesar. Selain ke Amerika kita juga ekspor ke Singapura, tapi dari Singapura mereka juga kirim ke Amerika. Jadi di Singapura itu sebagai trader, di AS sebagai stockist,” tuturnya.

Sayangnya tidak disebutkan nilai kontrak atau harga yang ditetapkan untuk penjualan pipa-pipa tersebut ke AS, karena menurutnya, harga berubah-ubah.

“Jadi biasanya harganya itu pas mau dikirim, 3 bulan sebelum dikirim dia minta notifikasi,” tutupnya.

Pabrik yang terletak di kawasan Medan Satria, Bekasi, Jawa Barat ini mampu memproduksi 800.000 meter persegi lapis baja per tahunnya, dengan menggunakan sistem fusion bonded epoxy (FBE), three layer polyethylene (3PLE) dan three layer polypropylene (3LPP). Mesin tersebut juga mampu melapisi pipa mulai dari ukuran 4 inchi hingga 48 inchi.

(zul/hen)

Bisnis.com, JAKARTA — Setelah meraup laba Rp665,04 miliar pada Januari-Maret 2015, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) harus menelan pil pahit akibat mencetak rugi bersih Rp303,2 miliar pada kuartal pertama tahun ini.

Dikutip dari laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan, Jumat (1/5/2015), disebutkan pendapatan bersih melorot 36,9% menjadi rp1,57 triliun dari sebelumnya Rp2,5 triliun pada kuartal I/2014.

Emiten berkode saham BNBR tersebut tak mampu menekan beban pada kuartal I/2015. Beban perseroan meningkat menjadi Rp1,82 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,7 triliun.

Induk usaha Group Bakrie ini harus menderita rugi sebelum pajak mencapai Rp254,3 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini. Padahal, setahun sebelumnya BNBR mengantongi laba sebelum pajak Rp801,18 miliar.

Hingga 31 Maret 2015, total aset Bakrie & Brothers mencapai Rp10,86 triliun dari akhir tahun lalu Rp11,29 triliun. Liabilitas Rp13,29 triliun dari Rp13,38 triliun dan defisiensi modal Rp2,42 triliun dari Rp2,08 triliun.

 

INILAHCOM,Jakarta – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) membukukan nilai penjualan sebesar Rp511 miliar sepanjang tiga bulan pertama tahun 2015.Direktur Investor Relations UNSP, Andi W. Setianto menuturkan UNSP optimis, kinerja Perseroan akan terus membaik pada tahun ini. Optimisme ini didukung oleh upaya-upaya peningkatan produktivitas yang terus dilakukan Perseroan melalui serangkaian program revitalisasi, seperti perawatan kebun dan penggunaan bibit unggul.”Apalagi, berdasarkan siklus, produksi sawit biasanya mulai meningkat pada kuartal kedua dan mencapai puncaknya di kuartal terakhir setiap tahun. Tahun ini kami optimis tumbuh jika dibanding tahun 2014,” kata dia di Jakarta, Kamis (30/4/2015).Membaiknya kinerja UNSP, lanjut dia terbukti perseroan keluar dari trend penurunan harga komoditas sawit yang berlangsung sejak tahun 2011 hingga kuartal I-2015. Pada tahun lalu, nilai penjualan UNSP masih tumbuh 27%.Jika dilihat, harga komoditas sawit utama yaitu CPO (Crude Palm Oil), di kuartal 1-2015 terus melemah ke level terendah USD 600 per ton FOB Malaysia. Tetapi berkat kerja keras, kata Andi Perseroan masih mampu membukukan nilai penjualan sebesar Rp511 miliar dan laba kotor Rp119 miliar di kuartal I-2015 seperti pada laporan keuangan 31 Maret 2015 yang dirilis Kamis 30 April.”Kami bekerja keras mengatasi kondisi air di kebun akibat kemarau panjang tahun lalu dengan sebaik-baik nya. Hasilnya kami harapkan bisa terlihat di kuartal-kuartal berikutnya. Optimalisasi produktivitas pabrik, juga dilakukan dengan pembelian sawit dan karet dari petani,” kata dia.

Ia mengatakan melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia (“ASD-BSP”), Perseroan juga telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luasan lahan kebun yang sama. Bibit unggul ASD-BSP ini berpotensi menghasilkan setiap tahun nya hingga 40 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektar dibandingkan dengan umumnya 25-30 ton.

Saat ini dengan luas pertanaman sawit nasional kurang lebih 10 juta hektar, total produksi hanya sekitar 30 juta ton CPO per tahun, dengan bibit unggul maka potensi produktivitas bisa meningkat menjadi 80 juta ton CPO per tahun.

Direktur Utama UNSP, M. Iqbal Zainuddin menambahkan, strategi fokus ke produktivitas yang sustainable akan lebih banyak lagi dirasakan dampak positifnya dalam jangka menengah dan panjang. “Kami optimis dalam jangka menengah dan panjang Perseroan akan kembali bangkit menemukan momentum yang terbaik menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki fundamental bisnis yang kuat,” katanya. [jin] – See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2200644/kuartal-i-2015-unsp-catat-penjualan-rp511-miliar#sthash.NVFUj231.dpuf

JAKARTA. Kemarin, sekitar 30 investor atau pemilik unit (unit owner) kondotel Pullman Bali Legian Nirwana menyambangi kantor PT Samudera Asia Nasional, cucu usaha PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), Selasa (14/4). Mereka menagih hak imbal hasil yang mulai mangkrak sejak awal tahun lalu.

Para investor juga geram ketika mengetahui dari iklan di sebuah harian nasional, seluruh saham Samudera Asia akan dijual kepada investor strategis yang bernama PT Mitra Maju Sukses. “Kami meminta transparansi dan kejelasan akuisisi tersebut. Para investor sama sekali tidak mendapat informasi langsung dari manajemen,” ujar Rudi Suheri, salah satu pemilik unit kondotel Pullman Bali Nirwana, kepada KONTAN.

Kabar yang beredar, nilai divestasi itu Rp 400 miliar. Bakrie menjual lantaran perusahaan itu terlilit utang  besar, sehingga harus menjual aset.

Samudera Asia merupakan pengelola Pullman Bali Legian Nirwana. Total nilai aset ini berkisar Rp 800 miliar-Rp 1 triliun. Sementara Mitra Maju merupakan perusahaan batubara yang memiliki tambang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Di tengah kegundahan tersebut, investor semakin resah saja lantaran nasibnya bakal makin tak pasti. Maklum, baru-baru ini, Direktur Mitra Maju Andrew Hidayat ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mitra Maju dianggap terlibat penyuapan terhadap politisi PDIP Adriansyah. Kini kedua orang tersebut ditahan  KPK.

Di luar urusan hukum yang melibatkan Mitra Maju Sukses, investor juga menuntut hak atas return on investment (RoI) 6% per tahun. Mereka juga menuntut bagi hasil operasi kondotel setiap tahun dan menagih penyerahan Akta Jual Beli (AJB) kondotel.

Henu Kusdaryono, Direktur Operasional Samudera Asia yang ditemui para investor belum bisa menjawab banyak terkait status akuisisi. “Yang jelas, Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) Samudera Asia dan Mitra Maju diteken 5 Maret lalu,” ujar dia.

Praktisi Hukum dari DK & Sitomorang Lawyers Veronica Situmorang mengatakan, Mitra Maju mengetahui Samudera Asia memiliki kewajiban ke pemilik  kondotel. Anehnya, Mitra Maju mencoba melobi investor membayar imbal hasil dengan haircut 40%. “Kenapa ada potongan tersebut? Ini belum jelas dan wajib transparansi,” kata Veronica.

Total tunggakan kewajibannya lebih dari Rp 50 miliar. Dari total unit Kondotel Pullman Bali Legian, 60% milik investor ritel. Kondotel ini mulai ditawarkan ke publik tahun 2006-2007.

Menurut Veronica, nilai RoI investor beragam, mulai dari  Rp 10 juta–Rp 20 juta per bulan. Total jenderal, pemilik sekitar 360 unit kondotel yang menanti bagi hasil investasi tersebut.

Rudi dan sejumlah investor lain mengaku, hingga saat ini masih ingin menyelesaikan persoalan tersebut dengan jalan kekeluargaan. Mereka juga belum berniat menempuh jalur hukum.

Pemilik unit  juga mengaku masih memiliki opsi agar segera mendapat hak mereka. “Ada beberapa opsi yang akan kamu jajaki. Namun kami masih  menunggu hasil pertemuan dengan Samudera Asia dan Mitra Maju nanti,” terang dia.

 

http://investasi.kontan.co.id/news/investor-kondotel-pullman-legian-gundah
Sumber : KONTAN.CO.ID

Bisnis.com, JAKARTA–Induk usaha Group Bakrie, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) akhirnya meraup laba bersih Rp152,87 miliar pada tahun lalu, setelah setahun sebelumnya menderita rugi bersih Rp12,72 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan Kamis (26/3/2015), disebutkan pada periode 2014 induk Group Bakrie tersebut juga membukukan laba bersih per saham dasar Rp1,63 dari tahun sebelumnya yang menderita rugi bersih Rp135,79.

Emiten berkode saham BNBR tersebut membukukan pendapatan sepanjang tahun lalu sebesar Rp6,37 triliun, lebih tinggi 22,3% dari tahun sebelumnya Rp5,21 triliun. Beban BNBR juga berhasil ditekan menjadi Rp6,1 triliun dari tahun sebelumnya Rp15,68 triliun.

Laba sebelum pajak yang berhasil diraup Bakrie & Brothers pada tahun lalu sebesar Rp272,05 miliar dari tahun sebelumnya yang mencatatkan rugi sebelum pajak Rp10,46 triliun.

Laba bersih periode berjalan sebesar Rp149,52 miliar, lebih baik ketimbang tahun sebelumnya yang membukukan rugi bersih Rp12,72 triliun. Total laba komprehensif mencapai Rp152,16 miliar dari tahun sebelumnya rugi komprehensif Rp7,51 triliun.

Hingga 31 Desember 2014, total aset Bakrie & Brothers mencapai Rp11,29 triliun lebih rendah dari tahun sebelumnya Rp11,86 triliun. Liabilitas sebesar Rp13,38 triliun dari Rp13,89 triliun dan defisiensi modal sebesar negatif Rp2,08 triliun dari sebelumnya Rp2,02 triliun.

Jakarta – Aburizal Bakrie mengenang perjuangan ayahnya dalam serangkaian kicauan di Twitter memperingati ulang tahun ke-73 Kelompok Usaha Bakrie pada Selasa (10/2) ini.

Dalam laman @aburizalbakrie, pengusaha yang juga politisi ini mengunggah foto sang ayah, dengan tulisan: “Ayah saya: Achmad Bakrie yang tepat hari ini 73 tahun yang lalu mendirikan Kelompok Usaha Bakrie.”
ARB, akronim yang dia populerkan untuk sebutan namanya pada pesta politik tahun lalu, juga me-retweet kicauan saudaranya, Anindya.

Salah satunya berbunyi: “Setiap rupiah yang dihasilkan Bakrie harus bermanfaat bagi orang banyak – Achmad Bakrie.”

Achmad Bakrie lahir pada tahun 1916 dan merintis usaha bersama kakaknya, Abuyamin, untuk mendirikan Firma Bakrie & Brothers General Merchant and Commision Agent pada 10 Februari 1942 di Teluk Bitung.

Bisnis utama perusahaan ketika itu adalah perdagangan umum dan keagenan hasil bumi seperti kopi, lada, cengkeh, tapioka dan sebagainya.

Kelompok Usaha Bakrie sekarang ini memiliki nama resmi Bakrie & Brothers (BNBR) dengan beragam usaha antara lain media, telekomunikasi, energi, pertambangan, infrastruktur dan pendidikan.

Pada semester pertama 2014, BNBR mengatakan dalam situsnya telah mencatatkan laba yang dapat diatribusikan sebesar Rp 123,12 miliar, meningkat 2.435 persen dibanding perolehan laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk pada semester pertama 2013 lalu yang hanya sebesar Rp 4,86 miliar .

Sedikitnya ada 11 unit usaha dalam group ini yang terdaftar di bursa saham Indonesia.

Penulis: Heru Andriyanto/HA/investor daily

JAKARTA. Saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) ditransaksikan di pasar negosiasi. Pada penutupan perdagangan Kamis (29/1), terjadi transaksi tutup sendiri alias crossing saham sebesar Rp 215,1 miliar.

Transaksi tersebut melibatkan 50,04 juta lot saham di harga Rp 43 per saham. Dari data RTI, transaksi terbesar difasilitasi Sinarmas Sekuritas sebagai broker pembeli dan broker penjual. Ciptadana Securities juga melakukan pembelian 40.000 lot saham.

Namun, hingga saat ini, manajemen BTEL belum menjawab panggilan telepon dari KONTAN terkait transaksi tersebut. Di sisi lain, harga saham BTEL di pasar reguler masih stagnan di level Rp 50 per saham. Di pasar negosiasi, saham BTEL memang ditransaksikan di level bawah. Bahkan pada perdagangan Rabu (28/1) kemarin, saham BTEL sempat ditransaksikan di Rp 12 per saham di pasar negosiasi.

Harga saham BTEL sulit naik lantaran kondisi fundamental BTEL yang tak kunjung membaik. Belum lama ini, BTEL digugat atas tunggakan obligasi senilai US$ 380 juta. Surat utang itu berkupon 11,5% dan jatuh tempo pada Mei 2015.

Namun belakangan, BTEL mencapai perdamaian atau homologasi dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Sebanyak 94,5% kreditur BTEL menyetujui skema pembayaran utang yang diajukan perseroan.

BTEL akan mulai melalukan pembayaran utang 18 bulan setelah pengesahan homologasi. Kemudian, sebanyak 70% dari total utang akan dibayar dengan Mandatory Convertible Bond – A (MCB-A) yang nantinya bisa dikonversikan menjadi saham baru BTEL pada harga Rp 200 per saham.

MCB-A memiliki jangka waktu 10 tahun. Sementara waktu penukarannya bisa dilakukan 3 bulan setelah rapat umum pemegang saham (RUPS). Saham baru ini setara 50% dari saham perusahaan. Sedangkan 30% sisanya akan dilakukan pembayaran secara bertahap.

BTEL memiliki total tagihan utang senilai Rp 11,3 triliun. Utang tersebut dikelompokkan menjadi utang biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi dan universal service obligation (USO) senilai Rp 1,26 triliun, utang usaha Rp 2,4 triliun, utang tower provider Rp 1,3 triliun, dan utang dana hasil wesel senior Rp 5,4 triliun.

Kemudian, BTEL juga memiliki utang afilisasi senilai Rp 73,7 miliar, utang akibat derivatif Rp 185,3 miliar, utang dengan jaminan Rp 625,4 miliar, serta pembiayaan kendaraan Rp 2,6 miliar.

 

Editor: Sanny Cicilia
 Metrotvnews.com, Jakarta: Manajemen PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengungkapkan proyek pembangunan jaringan pipa gas Kalimantan-Jawa (Kalija) tahap I (Kepodang-Tambak Lorok) akan rampung pada Agustus 2015.Kemajuan dari proyek yang dikerjakan oleh PT Kalimantan Jawa Gas (KJG) ini, pembangunan pipanya masih on schedule. Demikian disampaikan Direktur & Corporate Secretary BNBR, R.A. Sri Dharmayanti, menjawab laporannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (28/1/2015).”Dapat kami sampaikan pula, bahwa perkembangan proyek Kalija tersebut selalu dilaporkan kepada pemerintah, dalam hal ini melalui BPH Migas,” ujar dia.Sri Dharmayanti mengakui jika saat ini perseroan tidak mempunyai informasi fakta kejadian penting lainnya yang harus segera diumumkan kepada publik.Sekadar informasi, proyek pipa gas Kalija perseroan mempunyai estimasi nilai proyek sebesar Rp2,5 triliun untuk tahap 1 dengan target penyelesaian pada 2015 untuk tahap 1 dan 2019-2020 untuk tahap 2. Pada proyek ini, hambatan terletak pada kendala sumber gas dari wilayah Kalimantan Timur (Blok Mahakam).”Untuk tahap 1 proyek pipa gas Kalija, perseroan telah menemukan alternatif sumber gas lain yaitu Blok Kepodang di lepas pantai sebelah utara Jawa Tengah,” jelas Sri menjelaskan upaya penanggulangan hambatan dalam proyek ini.
AHLhttp://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/01/28/350876/proyek-pipa-gas-bakrie-brothers-rampung-agustus-2015Sumber : METROTVNEWS.COM
Minggu, 25 Januari 2015 | 07:39 WIB

 

Proyek Kalija Terancam Batal

Oleh : Ranto Rajagukguk | Rabu, 21 Januari 2015 | 18:35 WIB
INILAHCOM, Jakarta – Proyek pembangunan jaringan pipa gas Kalimantan-Jawa (Kalija) dari blok Kepodang di lepas pantai Jepara menuju ke PLTGU Tambak Lorok di Semarang sepanjang 207 km terancam batal. PT Dwisatu Mustika Bumi (DMB) mengandeng PBVJ Group SDN BHD (Malaysia) dan PT Berkah Mirza Insani sebagai konsorsium proyek.Tercatat, PT Kalimantan Jawa Gas (KJG) dan konsorsium keduanya telah menandatangani kontrak atau perjanjian pada 26 Agustus 2014. Bahkan, pihak KJG telah menerbitkan surat perintah mulai kerja (SPMK) pada 27 Agustus 2014. Namun, kontrak senilai US$85,7 yang tendernya dimenangkan DMB sebagai pimpinan konsorsium pekerjaan konstruksi pipa itu, tiba-tiba diputus sepihak PT Kalimantan Jawa Gas (KJG).”Kontrak kami untuk pengerjaan proyek Kalija telah diputus sepihak pada 27 Oktober 2014 dengan alasan wanprestasi (ingkar janji). Padahal, kami telah melakukan pekerjaan seperti, pengurusan izin pekerjaan, survei lapangan, persiapan kapal-kapal, penerbitan cover note asuransi wal car 2001 dan pemesanan kebutuhan material yang diperlukan proyek tersebut,” jelas kChairman DMB S Halim di Jakarta, Rabu (21/01/2015).Padahal, Halim mengungkapkan terjadinya wanprestasi itu bukan semata-mata akibat dari konsorsium melainkan karena adanya dokumen legalitas dari PT Kalimantan Jawa Gas yang tidak diberikan sebagai persyaratan penerbitan bank garansi untuk menjamin pengerjaan proyek tersebut.”Untuk itu pihak penjamin minta legalitas PT. Kalimantan Jawa Gas, tapi tidak diberikan. Ada apa? penyelenggara tender kok, tidak transparan,” ujar dia.Perlu diketahui, PT Bakrie & Brothers Tbk yang ditunjuk sebagai pelaksana proyek pipa transmisi Kalimantan-Jawa tahun 2006 hingga saat ini belum dapat menyelesaikan proyek tersebut. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menggandeng PT Bakrie & Brothers Tbk mengerjakan proyek tersebut dengan mendirikan PT Kalimantan Jawa Gas (KJG). Namun, itu jadi pertanyaan mengenai PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) yang akan masuk sebagai pemegang saham ke dalam PT Kalimantan Jawa Gas.”Karena berdasarkan akte pendirian PT Kalimantan Jawa Gas diketahui sahamnya masih dikuasai oleh PT Bakrie & Brothers Tbk sebesar 20% dan PT Energas Daya Pratama sebesar 80% dengan modal dasar Rp40 miliar. Sedangkan modal yang disetor sebesar Rp10 miliar,” terang dia. [aji]

Bisnis.com, JAKARTA—Pengalihan kepemilikan saham PT Bumi Resources Tbk di PT Bumi Resources Mineral Tbk masih tertunda lantaran belum ada putusan dari Pengadilan Singapura terkait restrukturisasi utang anak usahanya.

Anak usaha itu adalah Bumi Capital Pte Ltd, Bumi Investment Pte Ltd, dan Enercorp Resources Pte Ltd. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (7/1), Direktur dan Corporate Secretary Bumi Resources (BUMI) Dileep Srivastava menuturkan pihaknya masih belum bisa melakukan transaksi pengalihan saham kepada China Investment Corporation (CIC).

Alasannya, Pengadilan Singapura telah menetapkan moratorium yang melarang BUMI memindahkan aset ataupun bertransaksi sendiri-sendiri dengan individu tertentu hingga mendapat persetujuan dari mayoritas kreditur.

“Dengan adanya proses Pengadilan Singapura, perseroan harus memperlakukan semua kreditur secara adil. Perseroan akan menunggu hasil proses di pengadilan sebelum melakukan transfer saham BRMS kepada CIC,” papar Dileep.

BUMI menguasai 87,09% saham BRMS. Adapun saham yang akan dialihkan sebanyak 42%, yang nilainya setara dengan US$275 juta.

Sebelumnya, BUMI telah mengalihkan 19% sahamnya di PT Kaltim Prima Coal (KPC), yang nilainya mencapai US$950 juta, kepada CIC. Perusahaan yang bergerak di pertambangan batu bara itu memiliki kewajiban sebesar US$1,98 miliar kepada CIC.

JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) siap menukar saham perseroan minimal 30% untuk melunasi utang sebesar Rp 4,5-5,2 triliun. Nilai share swap itu setara 60-70% dari total restrukturisasi utang senilai US$ 600 juta atau sekitar Rp 7,4 triliun.

 

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno mengatakan, program debt to equity swap akan dilakukan melalui mekanisme penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non- HMETD) atau non-preemptive rights issue.

 

“Porsi saham dan utang yang akan ditukar masih dalam tahap finalisasi. Namun, melihat nilai utang yang cukup tinggi, kemungkinan jumlah saham yang akan ditukar juga bisa lebih besar dari 30%,” kata Eddy di sela paparan publik di Jakarta, Jumat (12/12).

 

Sementara itu, sisa utang sebesar Rp 2,2-2,9 triliun atau 30-40% dari total utang akan dilunasi dengan pembayaran tunai. Pelunasan ini dilakukan dengan cara memonetisasi sejumlah aset perseroan. Jika berjalan lancar, utang di tingkat holding bisa berkurang menjadi US$ 135 juta, dari posisi per September 2014 sebesar US$ 735 juta. Eddy optimistis, seluruh proses restrukturisasi dan pelunasan bisa diselesaikan pada kuartal I-2015.

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak

JAKARTA kontan. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mematangkan rencana menggelar restukturisasi utang. Eddy Soeparno, Direktur Keuangan BNBR bilang, sedang proses restrukturisasi pinjaman senilai US$ 600 juta.

BNBR menawarkan proposal menyelesaikan utang. Pertama, BNBR membayar tunai sebagian fasilitas itu melalui dana dari kas internal. Kedua, konversi utang menjadi saham kepada para kreditur.

“Kami belum menentukan porsi yang akan dibayar tunai dan dikonversi menjadi saham. Tapi, porsi yang dibayar tunai kami rencanakan lebih sedikit jumlahnya,” kata Eddy, Jumat (12/12).

Jika merujuk laporan keuangan per 30 September 2014, posisi kas dan setara kas BNBR hanya Rp 207,3 miliar. Jumlah ini tak cukup melunasi pinjaman BNBR.

Restrukturisasi ini merupakan strategi BNBR untuk efisiensi. Per 30 September 2014, BNBR menanggung utang jangka pendek Rp 6,5 triliun dan pinjaman jangka panjang Rp 2,56 triliun.

Jika diklasifikasi berdasarkan mata uang, BNBR menanggung utang dalam mata uang dollar Amerika Serikat (AS) US$ 691 juta. Sementara utang BNBR dalam mata uang rupiah tercatat Rp 615 miliar per 30 September 2014.

Tanggungan utang yang besar ini memang menjadi faktor klasik menggerus laporan keuangan emiten Grup Bakrie. Tengok saja, di sembilan bulan tahun ini, BNBR mesti membayar bunga dan menanggung beban keuangan Rp 578,84 miliar.

Jumlah ini lebih tinggi dari beban bunga BNBR di periode sama tahun lalu yang tercatat Rp 300,25 miliar. Tapi, BNBR masih mencatatkan laba bersih Rp 22,56 miliar pada sembilan di 2014. Angka ini lebih baik dibandingkan kuartal III-2013 yang masih rugi Rp 750,28 miliar.

Laba bersih bisa diperoleh lantaran pendapatan BNBR di akhir kuartal III-2014 sebesar Rp 4,74 triliun, naik 61,77%. Namun, defisiensi modal BNBR naik Rp 89,48 miliar dibanding Juni 2014 menjadi Rp 1,94 triliun. Pada pertengahan 2014, modal BNBR minus Rp 1,85 triliun.

Tjiendradjaja & Handoko Tomo, akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan kuartal III-2014 BNBR bilang, defisiensi modal tersebut mengindikasikan ketidakpastian material. Ini menyebabkan keraguan signifikan atas kemampuan perusahaan mempertahankan kelangsungan usaha.

Guna mengurangi angka defisiensi modal itu, BNBR akan memacu pendapatan dari segmen bisnis insfrastruktur. Presiden Direktur BNBR, Bobby Gafur Umar mengatakan, sedang menggarap tiga proyek. Yakni pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Tanjung Jati A yang berkapasitas 2 X 660 megawatt, pembangunan pipa gas Kalimantan-Jawa I (Kalija I) dan proyek tol Cimanggis-Cibitung.

Editor: Avanty Nurdiana

NUSA DUA kontan. Melorotnya harga saham Grup Bakrie kian menuai kekhawatiran dari investor. Kondisi ini pun langsung menarik perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Tidak ada pengawasan khusus untuk saham Grup Bakrie, karena kita akan mengawasi secara menyeluruh baik soal nilai saham yang turun dan penyebabnya,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan, Nurhaida, Sabtu (7/12).

Menurutnya, pengawasan khusus akan dilakukan sepanjang aksi korporasi yang dilakukan manajemen Grup Bakrie diduga ada indikasi terhadap pelanggaran. “Kalau sudah ada indikasi pelanggaran tentu perlu ada pengawasan khusus,” paparnya.

Kemudian soal PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang diduga gagal bayar, kata Nurhaida, pihaknya sudah mengkomunikasikan dengan manajemen BUMIdan tinggal menunggu hasilnya dan klarifikasinya.

Asal tahu saja, tercatat, beberapa saham group Bakrie saat ini berada di level Rp 50 per saham, seperti PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (UNSP), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Darma Henwa (DEWA). Sementara, saham BUMI saat ini di level Rp 78 per saham.

BUMI sejauh ini sebagai katalisator saham-saham Grup Bakrie. Harga saham BUMI di akhir 2013 berada di level Rp 300 per lembar. Sahamnya terus berada di tren melemah sampai pada penutupan perdagangan saat ini Rp 78 per lembar.

Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) melambatkan ekspansinya. Tahun depan, ELTY akan menggarap 5 proyek yang terdiri dari superblok, townships, hotel & resorts, dan theme park. Belum jelas berapa nilai dan dari mana sumber dana untuk penggarapan proyek tersebut.

Analis First Asia Capital David Sutyanto mempertanyakan penggarapan proyek tersebut. “Proyek itu benar berjalan atau janji manis saja,” ucapnya.

Pasalnya, kas dan setara kas ELTY cuma Rp 104,49 miliar. David menyebut, struktur kasnya tak memungkinkan untuk mampu membangun superblok. Maka untuk mendanai proyek, ELTY akan mencari pinjaman. Rasio utang terhadap modal atau Debt to Equity Ratio (DER) emiten properti ini masih di posisi 0,7x. Rendahnya DER ini karena ELTY yang telah melakukan restrukturisasi utang dengan menjual aset.

Lebih lanjut, ia bilang bahwa laporan keuangan ELTY perlu diwaspadai. Ini karena aset lancarnya hanya Rp 3,65 triliun. Sedangkan, kewajiban lancarnya mencapai Rp 4,4 triliun.

David mencermati, kinerja keuangan ELTY tengah mengalami penurunan. Pada kuartal ketiga, pendapatannya merosot 51,31% dari Rp 2,67 triliun menjadi Rp 1,3 triliun. Maka dari itu, ELTY ingin terus melakukan pembangunan supaya bisa meningkatkan penjualan.

KONTAN telah menghubungi manajemen ELTY untuk meminta penjelasan terkait detail penggarapan proyek tersebut. Namun tak ada jawaban. Pada 5 Desember mendatang, ELTY akan mengadakan paparan publik.

Editor: Barratut Taqiyyah

 

TEMPO.CO, Jakarta – Lembaga pemeringkat Standard & Poors (S&P) menurunkan peringkat kredit PT Bumi Resources, lini bisnis utama Grup Bakrie di sektor pertambangan. S&P menurunkan peringkat utang Bumi dari selective defaultmenjadi default atau gagal bayar. (Baca juga: Gelombang Badai Utang Bakrie)

Menurut analis dari Kredit S&P, Vishal Kulkarni, kredit korporasi Bumi dinyatakan default karena perusahaan ini dinilai tidak mampu membayar kewajibannya, setidaknya selama enam bulan ke depan. “Kami menduga Bumi akan mengalami general default (gagal bayar secara keseluruhan),” kata dia seperti dikutip dari Reuters, Rabu, 3 Desember 2014.

Penilaian ini didasarkan S&P atas beberapa catatan, salah satunya saat tiga anak usaha Bumi Resources sudah mendapat persetujuan atas restrukturisasi utang dari Pengadilan di Singapura. Tiga perusahaan itu yakni Bumi Investment Pte Ltd, Enercoal Resources Pte Ltd, dan Bumi Capital Pte Ltd yang berbasis di Singapura. Perusahaan-perusahaan itu juga dikabarkan sudah meminta perlindungan dari kreditur di Amerika, setelah menanggung utang Rp 3,7 triliun. Selain itu, Bumi gagal membayar bunga dari utang senilai US$ 700 juta.

Dalam pemaparan di Jakarta, Rabu, 26 November 2014, Direktur Keuangan Bumi Resources Andrew Christopher Beckham mengatakan jumlah utang perseroan mencapai US$ 3,73 miliar atau sekitar Rp 44,77 triliun. Utang terbesar berasal dari Country Forest Limited Facility sebesar US$ 1,03 miliar. Ini adalah utang dari lembaga keuangan milik China Investment Corporation (CIC). (Baca juga: Utang Bakrie Rp 21,4 triliun dan US$ 5,7 miliar)

Pada awalnya, kata Beckham, utang kepada CIC mencapai US$ 1,9 miliar dengan tingkat bunga 12 persen. Namun pada tahun 2013 dan 2014 perseroan telah membayar ‎masing-masing US$ 600 juta dan US$ 600 juta. “Tahun depan akan dibayar US$ 700 juta,” katanya.

Beckham yakin kinerja perusahaannya akan terus membaik tahun depan. ‎Dia menargetkan kapasitas produksi batu bara tahun depan mencapai 100 metrik ton. Selain menargetkan peningkatan kapasitas produksi, Bumi juga berencana memangkas utang dan bunga. Bahkan dia menyatakan bahwa perusahaan akan berusaha agar kembali mendapatkan laba dan mampu membagikan dividen.

FERY F. | FAIZ NASHRILLAHJAKARTA. Majelis Hakim Pengadilan Niaga (PN) Jakarta Pusat yang diketuai Jamaludin Samosir mengabulkan permohonan restrukturisasi utang atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) yang diajukan krediturnya, yakni PT Netwave Multi Media (NMM).

“Mengabulkan permohonan PKPU sementara selama 30 hari sejak tanggal yang diucapkan putusan,” kata Jamaludin saat membacakan amar putusan, di PN Jakarta Pusat, Senin (10/11) kemarin.

Majelis hakim menilai, permohonan PKPU yang diajukan PT NMM telah memenuhi persyaratan dan menemukan bukti adanya utang BTEL kepada NMM yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih sebesar Rp 4,73 miliar.

Selain itu, Jamaludin juga menunjuk Titik Tedjaningsih,  hakim di PN Jakarta Pusat,  sebagai hakim pengawas. Majelis hakim juga mengangkat William Eduard Daniel dan Imran Nating sebagai pengurus PKPU.

Kuasa hukum BTEL, Aji Wijaya mengaku terkejut atas putusan hakim yang menetapkan PKPU sementara selama 30 hari. Aji Wijaya menilai majelis hakim tidak menjelaskan pertimbangannya karena proses PKPU lazimnya diberikan waktu selama 45 hari.

“Yang telah kami sampaikan adalah ringkasan rencana perdamaian, mungkin majelis berpikir kami sudah siap, sehingga PKPU dipercepat. Tapi itu terlalu singkat,” kata Aji.

BTEL akan melihat lebih dahulu rapat kreditur yang waktunya akan ditentukam hakim pengawas nanti, yakni oleh hakim pengawas Titik Tedjaningsih. Aji bilang, dia akan bekerja keras untuk mencapai perdamaian dan untuk mendapatkan dukungan dari krediturnya, yakni NMM.

Kuasa hukum NMM, Sandra Nangoi mengataka pihaknya akan mengikuti prosedur lamjutan dan akan mempersiapkan proposal lanjutan yang lebih terperinci dalam proses PKPU tersebut.

NMM mengajukan permohonan PKPU terhadap BTEL sejak 23 Oktober 2014 lantaran BTEL tidak dapat memenuhi kewajibannya untuk membayar biaya perangkat infrastruktur telekomunikasi sebesar Rp 54 juta per bulan terhitung sejak masa sewa tahun 2012 jatuh tempo pada Mei 2014.

http://nasional.kontan.co.id/news/kini-bakrie-telecom-berstatus-dalam-pkpu
Sumber : KONTAN.CO.ID

 

JAKARTA kontan. Laba bersih PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) anjlok hingga 72,21% di kuartal III-2014. Merosotnya laba bersih ini lantaran perseroan sulit mendongkrak penghasilan usaha.

Per akhir September 2014, penghasilan usaha bersih ELTY turun tajam dari Rp 2,67 triliun menjadi Rp 1,3 triliun. Perseroan masih tertolong adanya penghasilan dari bunga dan keuangan bersih sebesar Rp 20,29 miliar.

Selain itu, ada laba dari selisih kurs yang sebesar Rp 1,79 miliar juga menahan laju penurunan laba bersih perseroan. Begitu pula mengempisnya bagian atas rugi bersih entitas asosiasi bersih pun berpengaruh.

Pada pos ini, nilai kerugian hanya Rp 2,29 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, nilai kerugian mencapai Rp 48,09 miliar.

Editor: Sanny Cicilia

 

NERACA

Jakarta- Sampai dengan sembilan bulan pertama tahun ini, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) berhasil membukukan penjualan mencapai Rp 2,028 triliun atau tumbuh 41% dibandingkan penjualan priode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,439 triliun. Peningkatan penjualan ini bertolak belakang ditengah harga jual minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dan karet yang justru terus turun sepanjang tahun ini.

Dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (3/11), Direktur PT Bakrie Sumatera Plantations, Andi W. Setianto mengatakan, peningkatan penjualan ini membuktikan bahwa fundamental bisnis perseroan sebenarnya tetap kuat untuk terus memacu kinerja.

Selain penjualan yang melonjak hingga 41%, laba operasi dan laba kotor Bakrie Sumatera juga naik cukup signifikan. Laba kotor meningkat 45% dari Rp 395 miliar di kuartal III-2013 menjadi Rp 575 miliar di kuartal III-2014. Perolehan laba operasi juga meningkat hingga 106% dari Rp 135 miliar menjadi Rp 278 miliar.

Menurut dia, kenaikan ini merupakan hasil dari strategi perseroan melakukan peningkatan produksi sawit dan karet di tengah kondisi harga pasar komoditas sawit dan karet yang masih berada di level yang rendah,”Hasilnya sudah mulai terlihat sejak awal tahun ini. Perlahan tapi pasti, kami berhasil melakukan perbaikan dan memulihkan kekuatan fundamental bisnis kami,” ujar Andi

Pada kuartal III-2014, harga komoditas sawit (CPO) turun ke level terendah US$ 670 per ton CIF Rotterdam dibandingkan harga di kuartal III-2013 yang level terendahnya saat itu tercatat US$ 810 per ton.  Kondisi serupa juga terjadi di komoditas karet. Di kuartal III-2014 harga komoditas karet turun ke level terendah US$ 1,6 per kg dibandingkan harga di kuartal III-2013 yang masih bertahan di level terendahnya US$ 2,6 per kg,“Dalam jangka pendek ini kami berhasil fokus pada optimalisasi produktivitas pabrik melalui peningkatan pembelian sawit dan karet dari petani. Kami akan melanjutkan upaya peningkatan produktivitas aset dan sustainability struktur permodalan yang tercermin di rasio hutang yang sehat, mengacu ke best practice,”kata Andi.

Di sisi lain, melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia (ASD-BSP), perseroan juga telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luasan lahan kebun yang sama. Bibit unggul ASD-BSP ini berpotensi menghasilkan hingga 40 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektare dibandingkan dengan umumnya 25-30 ton TBS per hektare.

Asal tahu saja, PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) dikabarkan terancam gagal bayar bunga obligasi senilai US$ 100 juta atau setara Rp 1,1 triliun. Alhasil dampak, gagal membayar utang obligasi, saham perseroan disuspensi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak akhir pekan lalu hingga saat ini.

Direktur Bakrie Sumatera Plantation, Balakrishnan Chandrasekaran pernah bilang, pihaknya akan bernegosiasi dengan para trustee alias pemegang obligasi. Selain itu, perseroan juga sudah menjelaskan kepada BEI bahwa jika bunga tersebut tidak dibayar, maka bisa menimbulkan event of default atas Secured Equity-linked Redeembale Notes senilai US$ 100 juta tersebut. (bani)

 

 

 

JAKARTA okezone – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) mencatatkan rugi neto yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk dari operasi yang dilanjutkan sebesar Rpp49,97 miliar pada akhir kuartal III-2014.

Kinerja keuangan ini masih membaik dibandingkan periode yang sebelumnya, di mana perseroan mencatat rugi Rp770,5 miliar.

Padahal, emiten perkebunan ini mencatat kenaikan pada penjualan menjadi Rp2,028 triliun. Perolehan tersebut naik bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,439 triliun.

“Nilai penjualan UNSP sembilan bulan pertama tahun 2014 ini mencapai Rp2,028 triliun. Ini membuktikan bahwa fundamental bisnis kami sebenarnya tetap kuat untuk terus memacu kinerja,” kata Direktur UNSP Andi W. Setianto dalam keterangan tertulis, Senin (3/11/2014).

Selain penjualan, laba operasi dan laba kotor UNSP juga naik cukup signifikan. Tercatat hingga September laba operasi naik menjadi RpRp278 miliar dibandingkan dengan sebelumnya sebesar Rp135 miliar. Sementara itu, laba kotor menjadi Rp575 miliar.

Kenaikan pada kinerja perseroan ditengah harga jual minyak kelapa sawit (crude palm oil, CPO) dan karet yang terus melorot tajam sepanjang tahun ini.

Menurut dia, catatan positif ini antara lain merupakan hasil dari strategi jitu Perseroan melakukan peningkatan produksi sawit dan karet ditengah kondisi harga pasar komoditas sawit dan karet yang masih berada di level yang rendah.

Pada kuartal III-2014 harga komoditas sawit (CPO) turun ke level terendah USD670 per ton CIF Rotterdam dibandingkan harga di kuartal III-2013 yang levelterendahnya saat itu tercatat USD810 per ton. Data Perseroan menunjukkan harga CPO pernah mencapai level tertinggi USD1.700 per ton di April 2011.

Kondisi serupa juga terjadi di komoditas karet. Di kuartal III-2014 harga komoditas karet turun ke level terendah USD1,6 per kg dibandingkan harga di kuartal III-2013 yang masih bertahan di level terendahnya USD2,6 per kg. Data Perseroan menunjukkan harga karet pernah mencapai level tertinggi USD6,2 per kg pada Februari 2011.

“Dalam jangka pendek ini kami berhasil fokus pada optimalisasi produktivitas pabrik melalui peningkatan pembelian sawit dan karet dari petani, yang juga sekaligus membantu peningkatan ekonomi mereka. Kami akan melanjutkan upaya peningkatan produktivitas aset dan sustainability struktur permodalan yang tercermin di rasio hutang yang sehat, mengacu ke best practice,” kata Andi.

(rzk)

Bisnis.com, JAKARTA–PT Smartfren Telecom Tbk. dan PT Bakrie Telecom Tbk. akhirnya memutuskan untuk menjalin kerja sama dalam bentuk sewa jaringan.

Setelah dua bulan dibendung wacana aksi merger dan tukar guling saham (share swap) penggunaan spektrum frekuensi 800 MHz, akhirnya dua emiten tersebut memutuskan untuk jalin kerja sama sewa jaringan. Kamis, (30/10/2014),

Keduanya menandatangani kerja sama untuk kolaborasi penyelenggaraan jaringan. Langkah kolaborasi ini adalah komitmen kedua operator code division multiple access (CDMA) itu untuk mendorong peralihan teknologi CDMA  menuju layanan 4G berbasis frequency division duplex long term evolution (FDD LTE).

Sumber Bisnis menyebut Smartfren Telecom (FREN) harus menggelontorkan dana sekira US$20 juta-US$30 juta untuk kolaborasi penyelenggaraan jaringan dengan Bakrie Telecom (BTEL).

“Dananya diambil dari kas internal perseroan,” ucap sumber tersebut, Senin, (3/11/2014).

Dia juga menyebut kerja saja sewa-menyewa jaringan tersebut berdurasi tiga tahun.

Ketika dikonfirmasi, Direktur Keuangan Smartfren Telecom Anthony Susilo mengatakan perjanjian kerja sama di antara BTEL dan FREN merupakan solusi yang menguntungkan kedua pihak. Yang pasti, ada tambahan dana yang dikeluarkan FREN dalam kerja sama ini.

“Efeknya ke kinerja keuangan kami adalah kami mendapatkan tambahan pendapatan dari BTEL atas sewa jaringan. Adapun, BTEL dapat melakukan efisiensi,” tutur Anthony kepada Bisnis, Senin, (3/11).

Rugi EBITDA yang menghantui FREN sejak 2008 diprediksi Anthony dapat berbalik arah ke laba EBITDA pada 2014. Per semester I/2014, EBITDA FREN mencapai Rp48 miliar.

Presiden Direktur BTEL Jastiro Abi mengatakan kerja sama ini merupakan respon dari operator CDMA atasarahan pemerintah untuk mendorong broadband society dan broadband economy di Indonesia. Dengan Perjanjian Kolaborasi tersebut, jaringan BTEL akan digabungkan dengan jaringan milik Smartfren sehingga dapat melayani pelanggan Esia.

“Kerja sama ini membuka peluang bisnis yang jauh lebih besar  bagi BTEL dan Smartfren sebagai operator yang sudah diizinkan untuk menggunakan teknologi netral pada frekuensi 800 MHz. Sehingga, pemegang saham dan seluruh stakeholders mempunyai kesempatan lebih terbuka lagi untuk mengembangkan usahanya,” kataJastiro dalam siaran pers yang diterima Bisnis, Senin, (3/11).

Ke depan, BTEL dan FREN segera menjajaki kemungkinan pengembangan jaringan menuju layanan 4G berbasis LTE FDD guna meningkatkan kualitas dan layanan bagi para pelanggannya.

 

Editor : Ismail Fahmi

Topsaham – Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara perdagangan saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) sejak sesi pertama perdagangan bursa, Rabu (29/10) ini. Demikian dikemukakan I Gede Nyoman Yetna, Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Group I BEI, dan Eko Siswanto, Kepala Divisi Operasional Perdagangan BEI dalam pengumuman di sistem keterbukaan informasi.

BEI melakukan suspensi atas dasar informasi adanya permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang diajukan oleh PT Netwave Multi Media terhadap perusahaan telekomunikasi berbasis CDMA milik grup Bakrie tersebut. Informasi tersebut disampaikan manajemen BTEL pada 28 Oktober 2014.

“Dalam rangka menjaga pasar yang teratur, wajar, dan efisien, bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek BTEL,” ujarnya.

Untuk itu, BEI meminta kepada para pemangku kepentingan atas Bakrie Telecom untuk memperhatikan setiap keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan. (Irawan)
http://www.topsaham.com/new1/index.php?option=com_content&view=article&id=11414:bei-suspensi-perdagangan-btel&catid=3:head-line-news&Itemid=61
Sumber : TOPSAHAM.COM

 

New York detik -PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dituntut investor di Amerika Serikat (AS) gara-gara dianggap gagal bayar obligasi senilai US$ 380 juta (Rp 4,1 triliun). Sudah dua kali operator Esia itu lalai bayar bunga utang.

Akibatnya, anak usaha Grup Bakrie itu terancam gagal bayar jika kembali lalai. Universal Investment Advisory SA, Vaquero Master EM Credit Fund Ltd, dan Trucharm Ltd merupakan tiga penggugat dalam kasus ini.

Sementara yang digugat adalah Bakrie Telecom Pte Ltd, BTEL, PT Bakrie Network, dan PT Bakrie Connectivity di Pengadilan New York.

Emiten berkode BTEl itu adalah induk usaha Bakrie Telecom Pte Ltd, perusahaan Singapura yang menerbitkan obligasi tersebut. Semetara Bakrie Network dan Bakrie Connectivity adalah perusahaan afiliasi BTEL.

Pihak penggugat, yang punya lebih dari 25% kepemilikan obligasi itu menyatakan surat utang tersebut akan jatuh tempo Mei 2015. Grup Bakrie dianggap dua kali gagal bayar bunga pada November 2013 dan Mei 2014.

“Tergugat telah mengakui bahwa ancaman gagal bayar ini akan terus berjalan tapi tidak ada pembayaran bunga yang dilakukan,” kata pihak penggugat dalam dokumen yang diterima Reuters, Kamis (25/9/2014).

“Dengan demikian besar kemungkinan tergugat akan mengalami gagal bayar untuk pembayaran November 2014,” tambahnya.

(ang/dnl)

JAKARTA kontan. Tanpa diketahui banyak pihak, daftar pemegang saham produsen batubara milik Keluarga Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), telah berubah. Hal ini terjadi dalam kurun waktu 5 September hingga 12 September 2014.

Mengacu data Biro Administrasi Efek Ficomindo Buana Registrar pada 16 September 2014, PT Tritunggal Sumber Utama tercatat menguasai 16,35 miliar saham atau 30,86% total saham BUMI. Mengacu harga BUMI kemarin Rp 190 per saham, nilai transaksi ini mencapai Rp 3,11 triliun.

Tritunggal beralamat di Jl Proklamasi No. 91 Menteng, Jakarta Pusat. Tapi, perusahaan ini tak punya situs resmi yang bisa menjadi rujukan.

Kepemilikan Tritunggal bahkan lebih besar dari pemegang saham terbesar BUMI sebelumnya, Long-haul Holdings Ltd. Per 30 Juni 2014, perusahaan milik Grup Bakrie ini menguasai 6,06 miliar saham atau 29,18% saham BUMI.

Tritunggal bukan satu-satunya pemegang saham baru BUMI. Sebelumnya, ada dua perusahaan yang masuk BUMI, yakni PT Damar Reka Energi dan PT Karsa Daya Rekatama. Masing-masing membeli 6,9 miliar saham atau 13,03% saham BUMI per 5 September 2014. Di periode 8 September-12 September 2014, Damar menjual 1 miliar saham BUMI, jadi kepemilikannya turun menjadi 11,14%. Seperti Tritunggal, identitas Damar Reka dan Karsa Daya juga misterius.

Damar berkantor di Menara Standard Chartered lantai 30, Jakarta. Adapun Karsa berkantor di Ruko Niaga Kalimalang Bekasi. Keduanya tak punya situs resmi yang menjadi etalase utama perusahaan kredibel. Kehadiran tiga perusahaan ini menimbulkan tanda tanya. Sebab, transaksi saham itu tak diumumkan detail ke publik, termasuk harga, skema maupun siapa penjualnya.

Manajemen BUMI enggan berkomentar. “Saya tak tahu, nanti saya cek dulu,” kata Dileep Srivastava, Direktur BUMI ke KONTAN, Rabu (24/9).

Kemungkinan tiga perusahaan itu menyerap saham BUMI lewat Penawaran Umum Terbatas IV dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu dari Juli hingga awal September. BUMI merilis saham biasa seri B maksimal 32,2 miliar unit. Harga pelaksanaannya Rp 250 per saham senilai total Rp 8,05 triliun.

Selain itu, pada 15 September 2014, ada crossing 4,46 miliar saham BUMI di pasar negosiasi. Nilainya Rp 265,5 miliar.
Editor: Sandy Baskoro

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara (suspensi) saham PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. (UNSP).

Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Group BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan suspensi tersebut dilakukan merujuk adanya event of default atau gagal bayar atas pembayaran bunga dari secured equity-linked redeemable notes senilai US$100 juta dengan tingkat bunga 8%.

“Belum ada informasi lebih lanjut dari perseroan mengenai hal tersebut. Dalam rangka menjaga pasar yang teratur, wajar, dan efisien, BEI memutuskan untuk suspen saham UNSP,” paparnya dalam keterangan tertulis, Jumat (19/9/2014).

Penghentian sementara itu dilakukan di seluruh pasar terhitung sejak sesi I perdagangan hari ini. Otoritas bursa tersebut juga meminta pemangku kepentingan untuk memperhatikan keterbukaan informasi dari perseroan, terutama pemenuhan kewajiban pembayaran bunga tersebut.

Editor : Nurbaiti

PT Bakrie Brother Tbk (BNBR) membukukan laba bersih pada Quarter 2 2014 sebesar 123,1 miliar. Naik bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2013 sebesar  4,9 miliar. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 1.31 per lembar.

 

Berikut Laporan keuangan BNBR Quarter 2 2014 :

Account Quarter 2 2014
Last Price          50
Share Out 93,7 B
Market Cap. 4.686,1 B
Balance Sheet
Cash               3.257,2 B
Total Asset 11.345,0 B
S.T Borrowing 7.967,7 B
L.T Borrowing 2.695,4 B
Total Equity -1.858,5 B
Income Statement
Revenue           3.700,1 B
Gross Profit 1.482,0 B
Operating Profit 1.118,1 B
Net. Profit        123,1 B
EBITDA         1.178,8 B
Interest Exp. 417,1 B
Ratio
EPS                 1,31
PER                 38,17x
BVPS                 -19,83
PBV                 -2,52x
ROA                 1,09%
ROE                 -6,62%
EV/EBITDA 10,26
Debt/Equity -5,74
Debt/TotalCap 1,21
Debt/EBITDA 9,05
EBITDA/IntExp. 2,83

Sumber : IPS RESEARCH

detik Jakarta -Tiga anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang bergerak di sektor bahan bangunan, onderdil otomotif, dan pabrik besi memberikan kontribusi 91,46% terhadap pendapatan perseroan. Kinerja positif ini membuat laba grup naik sangat fantantis yaitu 2400% menjadi Rp 123 miliar pada semester I-2014.

Presiden Direktur BNBR Bobby Gafur Umar, menegaskan bahwa kontribusi yg terus meningkat terhadap kinerja perseroan dalam beberapa tahun terakhir ini, adalah dari sektor manufaktur yang mereka geluti.

“Industri bahan bangunan yang dijalankan oleh PT Bakrie Building Industries (BBI), industri komponen otomotif yang dijalankan oleh PT Bakrie Autoparts dan industri metal yang dioperasikan PT Bakrie Metal Industries (BMI) kini memang menjadi primadona. Kinerja tiga unit usaha ini semakin baik, dan berkontribusi signifikan terhadap pendapatan perseroan,” kata Bobby dalam keterangan tertulisnya, Minggu (31/8/2014)

Tercatat ketiga anak usaha tersebut pada semester pertama 2014, memberikan kontribusi pendapatan sebesar Rp 2,90 triliun terhadap revenue BNBR. Angka itu mengalami kenaikan 73,2% jika dibandingkan pada semester pertama 2013. Jika semester pertama 2013 kontribusi pendapatan sebesar Rp 1,75 triliun maka pada semester pertama tahun 2014 naik menjadi Rp 3,18 triliun.

Capaian laba Rp 123,12 miliar, meningkat 2.435% dibanding perolehan laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk pada semester I-2013 lalu yang hanya sebesar Rp 4,86 miliar

Bobby menambahkan pihaknya memutuskan untuk mendorong ketiga anak usahanya menjadi perusahaan manufaktur berskala internasional. Caranya melakukan perluasan kapasitas produksi, pengembangan produk baru, menyiapkan rencana kerja sama dengan mitra strategis, serta bersiap melakukan akuisisi perusahaan lain.

“Kami sudah siapkan semua, dimulai tahun ini juga. Ini rencana lima tahun dan jangka panjang ke depan,” ujar Bobby
Bisnis.com, JAKARTA — PT Energi Mega Persada Tbk menjajaki pinjaman baru untuk melunasi utang jangka pendek sebesar US$250 juta.

Pihak perseroan menyatakan sedang mencari pinjaman baru dengan bunga rendah untuk menghemat beban yang harus ditanggung perseroan.

Direktur Utama PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), Imam Agustino menuturkan pinjaman ini diharapkan dapat diperoleh sebelum akhir tahun 2014.

Hal ini diperlukan guna menghindari beban yang semakin tinggi pada saat pergantian tahun.

“Belum tahu apakah di kuartal III atau tidak. Yang pasti sebelum akhir tahun,” ujar Imam, Rabu (27/8/2014).

Tahun lalu perseroan sudah refinancing sebesar US$203 juta dengan bunga turun dari 20% menjadi sekitar 6%, hingga hemat US$28 juta.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan semesterl I-2014, total pinjaman bank perseroan turun menjadi US$692,51 juta pada semester I 2014 dari periode 2013 sebesar US$731,41 juta.

Ekuitas perseroan naik menjadi US$ 915,39 juta pada semester I 2014.

Selama semester I 2014, perseroan mencatatkan produksi naik menjadi 13.032 barel per hari dari periode sebelumnya 12.551 barel per hari.

Produksi gas perseroan naik menjadi 223 juta kubik per hari.

Naiknya produksi itu turut mendongkrak angka penjualan perseroan sebesar 10,35% menjadi US$ 413,37 juta atau sekitar Rp 4,79 triliun (asumsi kurs Rp 11.600 terhadap dolar Amerika Serikat) selama enam bulan pertama 2014 dari periode sama tahun 2013 sebesar US$374,58 juta.

Editor : Saeno

JAKARTA – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) meraih laba bersih semester I tahun ini sebesar Rp 111,3 miliar, turun signifikan 82,4% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 707,7 miliar. Sementara pendapatan perseroan juga turun 51,3% menjadi sebesar Rp 1,1 triliun dari sebelumnya Rp 2,3 triliun.

Manajemen perseroan dalam laporan keuangannya menjelaskan, penjualan real estat dan apartemen turun cukup signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dari sektor bisnis tersebut, anak usaha perseroan, PT Superwish Perkasa menatatkan penjualan sebesar Rp 147,7 miliar, sedangkan pada periode sebelumnya sebesar Rp 1,2 triliun.

“PT Graha Andrasentra Propertindo mencatatkan penjualan sebesar Rp 345 miliar, periode sebelumnya sebesar Rp 77,9 miliar,” jelas manajemen dalam laporan keuangannya, Kamis (28/8).

sementara itu pendapatan dari sektor perkantoran dan pusat belanja turun tipis menjadi sebesar Rp 166,3 miliar dari sebelumnya sebesar Rp 183,9 miliar. Sedangkan dari bisnis perhotelan pendapatan pesroan tercatat sebesar Rp 160,1 miliar turun tipis dibandingkan dengan tahun sebelumnya senilai Rp 202,1 miliar.

Sementara itu utang bank dan lembaga keuangan jangka pendek perseroan pada semester I tahun ini tercatat sebesar Rp 799,9 miliar, turun 1,9% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 815,5 miliar. Sedangkan utang yang akan jatuh tempo tahun ini adalah sebesar Rp 135,6 miliar.

Utang bank janka panjang perseroan tercatat sebesar Rp 467,8 miliar, naik dibandingkan semester I-2013, yaitu sebesar Rp 461,9 miliar. Sedangkan total liabilitas perseroan pada semester I tahun ini adalah sebesar Rp 5,3 triliun.

Sebelumnya, Bakrieland Development melalui anak usahanya, PT Bakrie Swasakti Utama, akan mengakuisisi perusahaan properti PT Mutiara Masyhur Sejahtera, anak usaha PT Minarak Labuan Indonesia. Nilai akuisisi mencapai Rp 3,1 triliun.

Perseroan berencana membeli 750.000 atau setara 99,21% saham Mutiara Masyhur. “Perjanjian jual beli saham telah dilakukan pada 30 Juni 2014,” ungkap Manajemen Bakrieland melalui prospektus resmi, beberapa waktu lalu.

Mutiara Masyhur memiliki lahan potensial untuk dikembangkan seluas 500 hektare (ha) di Sidoarjo, Jawa Timur. Di atas lahan tersebut, Bakrieland berencana mengembangkan residensial horisontal, fasilitas penunjang seperti shopping mall retail modern, dan tempat hiburan.

Selain itu, perseroan juga berencana membangun hotel dan convention hall sebagai fasilitas pelengkap lainnya. (fik)

 

http://www.investor.co.id/marketandcorporatenews/semester-i-laba-bersih-bakrieland-turun-824/93067

Sumber : INVESTOR DAILY

JAKARTA – PT Newmont Nusa Tenggara (NTT) mencabut gugatan arbitrase yang ditujukan kepada pemerintah Indonesia. Seperti diketahui, Newmont menggugat pemerintah Indonesia sebagai protes Newmont atas penerapan Undang-Undang Mineral dan Batu Bara (Minerba) Nomor 4 Tahun 2009.

Walaupun belum ada cabutan gugatan resmi, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan hal ini akan membuka peluang bagi Newmont untuk kembali negosiasi dengan pemerintah.

“Ya intinya pencabutan gugatan arbitrase merupakan syarat dari pemerintah untuk menerima mereka bisa meneruskan perundingan kembali yang sempat terhenti,” ucap Hidayat kepada Okezone, di Jakarta, Kamis (28/8/2014).

Namun, dia belum mengetahui jadwal negosiasi kembali antara pemerintah dan Newmont. Pasalnya, negosiasi tersebut harus menunggu surat resmi. “Itu masalah waktu saja,” kata Hidayat.

Seperti dikutip dari situs resmi Newmont Mining Corporation, NNT menarik gugatan arbitrase kepada pemerintahan Indonesia. PT NTT dan Nusa Tenggara Partnership BV selaku pemegang saham mayoritas meminta untuk penghentian dan penarikan gugatan arbitrase yang diajukan kepada International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID).

Keputusan untuk menghentikan dan menarik arbitrase muncul setelah komitmen dari pejabat pemerintah untuk membuka negosiasi formal dan mengadakan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan PTNNT atas penghentian tuntutan arbitrase. (mrt)

http://economy.okezone.com/read/2014/08/28/19/1030912/gugatan-dicabut-pemerintah-baru-mau-nego-dengan-newmont

Sumber : OKEZONE.COM

detik JAKARTA. Awal pekan ini, otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) memanggil manajemen PT Bakrieland Development Tbk (ELTY). Hal ini terkait pembelian obligasi konversi milik PT Madison Global. Apa hasilnya?

Hoesen, Direktur Penilaian Perusahaan BEI mengatakan, pihaknya masih melakukan penelaahan atas penjelasan yang disampaikan oleh manajemen ELTY. Selama ini, yang menjadi pertanyaan adalah, siapakah Madison Global?.

Ternyata, Madison Global adalah semacam kendaraan investasi atau yang kerap dikenal dengan nama special purpose vehicle (SPV). SPV ini akan digunakan ELTY untuk mengakuisisi lahan. Jadi, ketika jatuh tempo, obligasi akan dikonversi menjadi kepemilkan saham Madison.

Dengan kepemilikan saham Madison, berarti ELTY berhak atas lahan yang sudah dicaplok Madison. Namun, Hoesen mengaku, ia tidak ingat dimana saja lokasi lahan yang dimaksud. Tindakan yang dilakukan ELTY ini dinilai tidak menyalahi aturan.

Hanya saja, BEI tetap akan memantau sampai dengan transaksi terlaksana.

“Yang jelas, nanti kami akan telusuri lahan yang diakuisisi dan kesiapan dana mereka (ELTY),” ujarnya, Jumat (22/8).

Saat ini, BEI masih melakukan penelaahan atas semua jawaban yang diberikan manajemen ELTY. Hoesen juga mengonfirmasi, data-data yang diperoleh KONTAN mengenai Madison benar adanya.

Berdasarkan data yang dikumpulkan KONTAN, Madison Global merupakan perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, seperti pertambangan, jasa, hingga pengembang.

Madison memiliki modal dasar sebesar Rp 1,6 miliar, dengan modal yang ditempatkan Rp 400 juta dan modal disetor Rp 4 juta. Total seluruh saham yang dimiliki perusahaan adalah 1.600 saham dengan jumlah yang ditempatkan sebesar 400 saham, bernominal Rp 1 juta

Pendiri dan pemegang saham itu bernama Hari Aprianto yang menjabat sebagai Direktur, dan Andi Ridwan Akbar selaku Komisaris. Masing-masing memegang 200 lembar saham 50% saham Madison.

Jadi, obligasi konversi ini merupakan buntut dari penandatanganan perjanjian surat utang konversi (SUK) antara anak usaha ELTY, PT Bakrie Nirwana Semesta (BNS) dan perusahaan terafiliasi, PT Bakrie Capital Indonesia (BCI) dengan Madison. Nilainya mencapai Rp 1,65 triliun.

Penandatanganan perjanjian itu dilakukan pada 7 Februari 2013. Jangka waktu surat utang adalah dua tahun, yaitu akan jatuh tempo pada 7 Februari 2015. Dengan surat utang ini, ELTY memiliki peluang untuk mengonversi surat utang itu menjadi 1,64 juta saham Madison.

Bunga dari SUK ini dibanderol 10% per tahun dihitung sejak 7 Februari 2014. Bunga dibayar setiap akhir periode enam bulan terhitung sejak 7 Februari 2014. Dalam perjanjian disebutkan, konversi bisa dilakukan apabila Madison tidak melunasi pembayaran atas total kewajiban dalam jangka waktu 14 hari kerja sejak tanggal jatuh tempo.
Editor: Sanny Cicilia

kontan JAKARTA. Perusahaan minyak dan gas bumi, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) membukukan pendapatan sebesar US$ 413,38 juta pada semester I-2014 ini atau naik 10,36% dibandingkan dengan pendapatan pada semester I-2013 sebesar US$ 374,59 juta. Sementara itu, laba bersih ENRG pada semester I-2014 sebesar US$ 30,45 juta atau anjlok 83,04% jika dibandingkan dengan laba bersih pada semester I-2013 sebesar US$ 179,59 juta.

Direktur Utama ENRG Imam Pria Agustino menyatakan, selama semester I-2014, Energi Mega Persada memproduksi minyak sebanyak 13.032 barel per hari (bph) atau naik 3,8% dari produksi minyak pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 12.551 bph. “Kenaikan produksi minyak ini karena ada penambahan produksi dari Blok Tonga di Sumatera Utara,” katanya, dalam rilis, Jumat (25/7).

Selain itu, Imam mengklaim produksi gas Energi Mega juga meningkat tipis, dari 221 juta kaki kubik per hari pada semester I-2013, menjadi 223 juta kaki kubik per hari pada semester I-2014. Kenaikan produksi gas disumbangkan oleh produksi gas dari Blok Bentu, Riau.

Dia menjelaskan, kenaikan pendapatan perusahaan ditopang dari harga jual gas, pada semester I tahun 2014 harga jual gas perusahaan naik, dari US$ 5,7 per mmbtu pada semester I-2013 menjadi US$ 5,9 per mmbtu. pada semester ini juga beban keuangan ENRG juga sudah turun 30%.

Head of Investor Relations ENRG Herwin Hidayat mengatakan hingga akhir tahun 2014, manajemen Energi Mega belum berencana melakukan aksi korporasi mengakuisisi blok-blok baru. “Strategi kami lebih kepada meningkatkan produksi dari blok-blok migas yang sudah ada,” tegas Herwin kepada KONTAN, Jumat (25/7).

Editor: Hendra Gunawan

 

Darma Henwa (DEWA) memperoleh dana senilai US$11,5 juta dari hasil divestasi sebanyak 93,47% saham anak usahanya, yakni PT DH Energy kepada Lennete Limited. DH Energy merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa ketenagalistrikan. Divestasi ini merupakan restrukturisasi perseroan untuk melepas aset-aset perusahaan yang tidak produktif dan diharapkan dapat menciptakan struktur perusahaan yang lebih efisien dan fokus. Divestasi ditempuh bersamaan dengan rencana pengurangan utang kepada sejumlah bank yang bernilai US$135 miliar atau sekitar US$11,31 juta. Perseroan akan menyicil US$4 juta setiap tahunnya. (Investor Daily)
Sumber : IPS RESEARCH

 

JAKARTA – PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), perusahaan media milik Grup Bakrie, akan menjual 10% saham PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), induk usaha stasiun televisi ANTV. Visi Media menargetkan perolehan dana sebesar US$ 105 juta atau sekitar Rp 1,25 triliun.

Penjualan saham Intermedia akan menempuh mekanisme penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD). “Kami akan roadshow ke beberapa negara di Asia dan Eropa pada Oktober tahun ini,” kata Direktur Visi Media Robertus Bismakara di Jakarta, Kamis (3/7).

Visi Media akan menggunakan dana hasil divestasi tersebut untuk mempercepat pelunasan utang kepada Credit Suisse senilai US$ 220 juta. Perseroan meraih utang tersebut pada 1 November 2013, dengan tingkat suku bunga sebesar Libor plus 7,75% per tahun.

Pada April 2014, Visi Media telah mendivestasi 2,5% saham miliknya melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham Intermedia Capital. Nilai divestasi tersebut mencapai Rp 130,2 miliar. Adapun dana hasil divestasi saham Intermedia tersebut
telah digunakan untuk membayar sebagian utang kepada Credit Suisse.

“Tentu kami tidak mau lepas terlalu banyak saham Intermedia. Saat ini, kepemilikan kami masih di atas 90%,” ujar Robert.

 

http://www.investor.co.id/marketandcorporatenews/grup-bakrie-akan-jual-saham-induk-antv-rp-12-t/88875
Sumber : INVESTOR DAILY

kontan JAKARTA. PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) merombak jajaran direksinya. Anindya Novyan Bakrie didapuk sebagai Presiden Direktur VIVA menggantikan Erick Thohir. Hal ini telah disetujui oleh para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) yang digelar Selasa (3/7).

Selain itu pemegang saham VIVA juga menunjuk Rachmat Gobel, yang sebelumnya menjabat sebagai komisaris independen VIVA, menjadi komisaris utama menggantikan Anindya Novyan Bakrie. Berikut adalah susunan direksi dan komisaris VIVA yang baru:

Direksi:

Presiden Direktur: Anindya Novyan Bakrie

Wakil Presiden Direktur: Robertus Bismarka Kurniawan

Direktur: A. Ardiansyah Bakrie

Direktur: Otis Hahijari

Direktur: M.Sahid Mahudie

Direktur: Neil R. Tobing

Direktur: Dudi Hendrakusuma Syahlani
Komisaris:

Presiden Komisaris: Rachmat Gobel

Wakil Presiden Komisaris: Erick Thohir

Komisaris: Omar Luthfi Anwar

Komisaris: Rosan Perkasa Roeslani

Komisaris Independen: Setyanto Prawira Santosa

Komisaris Independen: RM. Djoko Setiotomo

Editor: Uji Agung Santosa

 

kontan JAKARTA. Setelah mendapat restu dari pemegang saham, PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP) akhirnya mengubah haluan bisnis dari produsen berbasis non-woven menjadi perusahaan batubara. Perseroan pun melakukan perombakan manajamen.

Rennier Abdul Rachman Latief menduduki jabatan sebagai Komisaris Utama SIAP. Chandra Purwanto dan Erry Firmansyah, masing-masing menjadi Komisaris Independen SIAP yang baru. Lalu, Yuli Soedargo menjadi Direktur Independen. Sedangkan Direktur Utama, untuk sementara masih dijabat Onny Soendjaja.

Nama Rennier A.R. Latief dan Yuli Soedargo sangat akrab dengan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Rennier pernah menjadi pemegang saham sekaligus Direktur Utama ENRG. Sedangkan, Yuli pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan perusahaan minyak dan gas (mitas) milik Grup Bakrie tersebut.

Apakah bisnis baru SIAP terafiliasi dengan Grup Bakrie? Rennier menegaskan, sejak 2005, ia sudah tidak lagi menjalin bisnis dengan Keluarga Bakrie.

“Saya masih jadi temannya Pak Ical (Aburizal Bakrie), Nirwan (Bakrie), dan Indra (Bakrie), tapi dalam bisnis, kami sudah tidak ada kaitannya, perusahaan saya tidak ada Bakrie-nya, dan perusahaan Bakrie nya tidak ada saya-nya,” jelasnya.

Maklum saja, setelah lama tidak terdengar, Rennier yang merupakan mantan petinggi PT Lapindo Brantas Inc ini kembali muncul melalui aksi backdoor listing RITS Ventures Limited melalui SIAP.

SIAP menerbitkan  23,4 miliar saham dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 200 per saham. Dengan demikian, aksi korporasi ini bernilai Rp 4,68 triliun. Pemegang saham utama SIAP , PT Graha Sakti Cemerlang (GSC) dan PT Graha Sakti Prima (GSP) tidak akan mengeksekusi saham baru SIAP itu.

Seluruh dana rights issue, setelah dikurangi biaya administrasi digunakan untuk mengakuisisi saham RITS.

Editor: Barratut Taqiyyah

JAKARTA – China Nonferrous Metal Industry’s Foreign Engineering & Construction Co Ltd (NFC) siap mengucurkan dana senilai US$ 340 juta (Rp 4 triliun) untuk mendanai proyek milik PT Dairi Prima Mineral (DPM), anak usaha PT Bumi Resoures Minerals Tbk (BRMS). Hal ini merupakan kesepakatan antara NFC dan Bumi Minerals terkait pembangunan cadangan seng dan timah hitam di Sumatera.

Dalam perjanjian tersebut, NFC berkomitmen menyediakan 85% dana proyek Dairi senilai total US$ 400 juta. Adapun sisa 15% atau sebesar US$ 60 juta akan disiapkan oleh Bumi Minerals.

Komisaris Bumi Minerals Ari Hudaya mengungkapkan, pihaknya tengah mempertimbangkan dua alternatif cara untuk menyiapkan kebutuhan dana proyek Dairi.  “Cara pertama, kami bisa mencari pinjaman untuk project financing. Kedua, kami bisa mencari dana lewat ekuitas Dairi Prima,” kata Ari saat dijumpai usai paparan publik Bumi Minerals, Senin (30/6).

Untuk bisa menjalankan project financing, kata Ari, Bumi Minerals harus menekan jumlah utangnya terlebih dahulu. Karena itu, Bumi Minerals berniat menawarkan sebanyak 29% saham Dairi Prima kepada NFC. Perseroan bakal menggunakan dana hasil penjualan untuk membayar utang sebesar US$ 100 juta.  “Jika sudah bayar utang, Dairi bisa lebih leluasa mencari pinjaman baru untuk proyeknya,” tutur Ari.

Saat ini, sebesar 80% saham blok Dairi Prima dikendalikan oleh Bumi Minerals. Sementara, sisa 20% dimiliki oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Jika NFC menerima tawaran Bumi Minerals, peseroan tetap akan menjadi pemegang mayoritas saham Dairi sebesar 51%.

Cara kedua, lanjut Ari, yakni dengan melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) atau private placement saham Dairi Prima. Dia mengaku, pihaknya tidak segan-segan menawarkan saham Dairi kepada investor asing selain NFC.

“Kami bisa tawarkan ke Taiwan, Bangladesh, Pakistan, India, atau siapapun yang membutuhkan produk seng. Penawaran kami tidak terbatas kepada NFC saja,” ujar Ari.

Meski demikian, Ari belum mau mengungkapkan total target dana yang bisa diperoleh dari pelepasan saham Dairi Prima. Pasalnya, hal itu tergantung valuasi perusahaan yang belum dihitung secara rinci. “Jika nilai proyek Dairi saja US$ 400 juta, valuasi perusahaan bisa jauh lebih tinggi. Mungkin bisa mencapai US$ 800 juta atau bahkan US$ 1 miliar,” ujar dia.

Menurut catatan Investor Daily, Bumi Minerals meneken kontrak kerjasama dengan NFC pada 17 April 2014. Dalam kontrak itu, NFC bersedia membantu Bumi Minerals untuk membangun infrastruktur dan fasilitas pengolah 1 juta ton bijih besi per tahun. Pembangunan fasilitas diharapkan selesai pada akhir 2017.

NFC juga telah menggandeng perusahaan kontraktor asal Rusia, yakni Metals of Eastern Siberia Corporation (MBC) untuk menggarap proyek Dairi. Kontrak antara NFC dan MBC tersebut senilai US$ 1,4 miliar atau setara Rp 15 triliun.

Blok Dairi Prima
Blok Dairi Prima yang terletak di wilayah Sumatera Utara itu memiliki cadangan sebesar 11 juta ton bijih dan sumberdaya sebesar 25 juta ton bijih. Cadangan seng memiliki kadar 11,5%, sementara, cadangan timah berkadar 6,8%.

Hingga kuartal pertama 2014, Bumi Minerals membukukan pendapatan sebesar US$ 4,89 juta atau turun 22,3% dibandingkan US$ 6,3 juta pada periode sama tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan Bumi Minerals hanya ditopang oleh jasa pemasaran batubara yang dilakukan oleh Bumi Resources Japan Company Limited dan Mitsubishi Corporation Rtm Japan Ltd. Sementara, aset-aset tambang Bumi Minerals di Indonesia belum mulai berproduksi.

Adapun rugi bersih tercatat sebesar US$ 13,1 juta atau meningkat 65,8% dibandingkan US$ 7,9 juta pada periode sama 2013.

Terkait belanja modal 2014, Direktur Keuangan Bumi Resources Fuad Helmy mengatakan, perseroan menganggarkan sebesar US$ 60 juta berbagai pengembangan infrastruktur tambang. “Alokasinya sebesar US$ 10 – 20 juta untuk infrastruktur Dairi, kemudian sebanyak US$ 30 – 35 juta untuk Gorontalo, dan US$ 5 – 8 juta untuk Citra Palu,” kata Fuad, pada kesempatan yang sama.

Dia menyatakan, dana belanja modal akan bersumber dari kemitraan strategis serta cash flow.

http://www.investor.co.id/home/nfc-siap-danai-proyek-bumi-minerals-us-340-juta/88533
Sumber : INVESTOR DAILY

 

INILAHCOM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) membukukan rugi bersih sepanjang 2013 sebanyak Rp231,08 miliar.

Presiden Direktur dan CEO Bakrieland Development Tbk, Ambono Janurianto mengatakan pemicu kerugian bersih 2013 karena adanya penurunan investasi dan karena ada divestasi. “Dengan adanya rugi penurunan nilai investasi dan rugi divestasi,” kata Ambono di Jakarta, Jumat (27/6/2014).

“Ini menyebabkan perusahaan pada tahun 2013 membukukan rugi bersih sebesar Rp231,08 miliar atau mengalami perbaikan bila dibandingkan dengan rugi tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,20 triliun,” jelasnya.

Padahal perseroan mencatatkan kinerja operasional sepanjang tahun 2013 dengan memperoleh laba usaha sebesar Rp1,17 triliun atau tumbuh 49,18%. Hal ini bila membandingkan periode yang sama pada tahun 2012 sebesar Rp783,47 miliar.

Kenaikan laba usaha tersebut disebabkan oleh kegiatan operasional usaha di tahun 2013 mengalami perbaikan yang cukup baik, dimana Perusahaan berhasil menurunkan beban usahanya.

“Kegiatan operasional usaha pada tahun 2013 positif dimana perusahaan berhasil menurunkan beban usaha pada tahun 2013 menjadi Rp679,01 miliar dibandingkan periode yang sama pada tahun 2012 sebesar Rp824,36 miliar,” jelas Ambono.

Ambono mengatakan sepanjang tahun 2013 penghasilan usaha sebesar 13,6% menjadi Rp3,32 triliun pada tahun 2013, dibandingkan sebesar Rp2,93 triliun pada tahun 2012.

Kenaikan penghasilan usaha ini mendorong laba kotor Perusahaan tumbuh sebesar 14,9% menjadi Rp1,85 triliun pada tahun 2013 dibandingkan sebesar Rp1,61 triliun pada tahun 2012. [hid]

Hasil Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan

PT. Bakrie Telecom Tbk (BTEL)

RUPS Tahunan

Rapat Umum Pemegang Saham Telah memenuhi korum karena dihadiri oleh pemegang saham yang mewakili 19.852.250.759 saham atau 64,91 % dari seluruh saham dengan hak suara yang sah yang telah dikeluarkan oleh Perseroan, sesuai dengan Anggaran Dasar Perseroan.

Hasil RUPS tahunan:

1. Menyetujui dan menerima baik laporan direksi mengenai jalannya Perseroan serta tata usaha keuangan dan laporan tugas pengawasan dewan komisaris pada Tahun Buku 2013;
2. Menyetujui dan mengesahkan neraca serta perhitungan laba/rugi untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013 dan memberikan pelunasan serta pembebasan tanggung jawab sepenuhnya kepada para anggota Direksi dan para anggota Dewan Komisaris Perseroan atas pengurusan dan pengawasan yang telah dijalankan dalam Tahun Buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013, sejauh tindakan pengurusan dan pengawasan tersebut tercermin dalam neraca dan perhitungan laba/rugi serta laporan akuntan publik mengenai tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013;
3. Menyetujui tidak terdapatnya pembagian keuntungan saham atau dividen kepada Pemegang Saham karena Perseroan mengalami kerugian bersih pada tahun buku 2013;
4. Menyetujui pemberian kewenangan penuh kepada Direksi Perseroan untuk menunjuk dan menetapkan Kantor Akuntan Publik yang akan mengaudit buku Perseroan tahun buku 2014 dan menetapkan honorariumnya.
Sumber : IPS RESEARCH

detik Jakarta -PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) selama ini identik dengan Grup Bakrie, begitu pula dengan perusahaan-perusahaannya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Nama besar Bakrie melekat di perusahaannya meski tak lagi memegang peran besar.

Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, selama ini investor dan masyarakat melihat para emiten di Bakrie Tujuh masih dikendalikan oleh Grup Bakrie. Padahal, kepemilikan Bakrie di emiten-emitennya itu sudah sangat kecil sekali bahkan ada yang sudah hilang sama sekali.

“Jadi begini, sejak awal namanya kan ada embel-embel Bakrie. Sewaktu mereka repo (gadai saham) dan kepemilikan sahamnya berkurang, tidak banyak yang tahu,” katanya kepada detikFinance, Senin (16/6/2014).

Ia menambahkan, masyarakat melihatnya Bakrie Tujuh itu masih punya Bakrie, karena nama perusahaan masih ada embel-embel Bakrie. Citra ini bisa diubah jika perusahaan memutuskan untuk mengubah nama.

“Kalau misalnya nanti namanya berubah, mungkin lain lagi ceritanya. Tapi kalau masih namanya Bakrie, pasti orang akan menyangka ini perusahaan Bakrie walaupun sahamnya sudah tidak dikuasai Bakrie lagi.

Seperti dikutip dari data perdagangan BEI, terlihat bahwa nama Bakrie hanya ada di sebagian kecil eks Bakrie Tujuh. Berikut selengkapnya.

– Bakrie and Brothers
Credit Suisse AG Singapore Branch S/A Bright Ventures Pte Ltd 21,81%
Mellon Bank NA S/A For Mackenzie Cundill Recovery Fund 9,34%
Armansyah Yamin 0,01%
Nugroho I Purbowinoto 0,01%
Publik 69,06%

– PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
Credit Suisse AG Singapore Branch 23,09%
Raiffeisen Bank International AG Singapore Branch/Long Haul Holding Ltd 6,09%
Publik 70,82%

– PT Bakrieland Development Tbk (ELTY)
CGMI Client Safekeeping Account 10,41%
PT Asuransi Jiwa Sinarmas 6,32%
Publik 83,28%

– PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (UNSP)
Credit Suisse AG Singapore Branch/Long Haul Holding Ltd 3,13%
PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG 3,06%
Meivel Holdings Corporation 2,34%
JP Morgan Bank Luxembourg SA1,76%
PT Danatama Makmur 1,75%
Nomura PB Nominees Ltd 1,69%
Reksa Dana Penyertaan Terbatas Syailendra Multi Strategy Fund II 1,42%
Citibank New York S/A Dimensional Emerging Markets Value Fund 1,33%
The Wenas Panwell 1,05%
Bakrie and Brothers 0,02%
Publik 82,45%

– PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)
Mellon Bank NA S/A for Mackenzie Cundill Recovery 7,76%
UBS AG Singapore Non-Treaty Omnibus Account 20,09%
Didit Hidayat Agripinanto 0,01%
Publik 72,16%

– PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL)
Bakrie and Brothers 16,35%
Bakrie Global Ventura 6,87%
Raiffeisen Bank International AG Singapore Branch 7,24%
Publik 69,54%

– PT Darma Henwa (DEWA)
Zurich Asset International Ltd 21,61%
Goldwave Capital Limited 17,68%
Publik 60,71%

investor daily JAKARTA – Perusahaan Pemeringkat global, Fitch Ratings memangkas peringkat utang PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Hal itu menyusul gagal bayar (default) kupon obligasi sejak November 2013. Di sisi lain, perseroan belum menyampaikan Keterbukaan informasi soal perkembangan restrukturisasi surat utang tersebut.

Berdasarkan keterangan tertulis, Jumat (30/5), Fitch menurunkan peringkat utang jangka panjang berdenominasi rupiah dan mata uang asing Bakrie Telecom menjadi RD (restricted default) dari sebelumnya C.

Adapun surat utang perseroan senilai US$ 380 juta yang jatuh tempo pada Mei 2015 tetap pada peringkat C. “Namun, recovery rating diturunkan menjadi RR5 dari RR4,” ungkap Fitch dalam laporannya.

Peringkat RD menunjukkan suatu entitas yang telah gagal pada satu atau lebih dari komitmen keuangan, meskipun masih terus memenuhi kewajiban keuangan lainnya.

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php
kontan JAKARTA. Perusahaan pemeringkat rating kredit Fitch Ratings kembali memangkas peringkat utang PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Kali ini, peringkat utang BTEL melorot dari C ke restricted default (RD).

Dalam siaran persnya, Jumat (30/5), Fitch menyatakan anak usaha Bakrie Grup ini telah gagal membayar kupon obligasi sejak November 2013 lalu. Menurut Fitch, perseroan tak membuat pembayaran kupon berikutnya dan tak memberi pengumuman publik tentang progres dari perombakan dengan kreditur.

BTEL kini tertekan pada utang yang tak mampu dibayar dan menyebabkan kerugian yang signifikan bagi pemegang obligasi sebesar US$ 380 juta.

Asal tahu saja, rating RD diberikan ketika perusahaan yang dinilai telah gagal pada isu spesifik atau klasifikasi obligasinya tetapi terus memenuhi kewajiban pembayaran pada isu lainnya pada waktu yang tepat.
Editor: Edy Can
kontan JAKARTA. Seperti sudah diduga sebelumnya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gagal memenuhi kewajiban untuk melunasi dua fasilitas utang kepada Credit Suisse AG sesuai tanggal jatuh tempo.

BRMS memiliki utang jangka pendek senilai US$ 116,56 juta dan fasilitas jangka panjang US$ 333,03 juta kepada Credit Suisse. Kedua fasilitas itu jatuh tempo pada 19 April 2014 lalu.

Muhammad Sulthon, Sekretaris Perusahaan BRMS dalam jawaban kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), akhir pekan lalu, bilang, pihaknya tengah memproses perpanjangan masa jatuh tempo utang tersebut dengan Credit Suisse.

Terkait hal itu, ada dua klausul yang akan diubah dalam perjanjian utang yang baru. Pertama, BRMS dan Credit Suisse akan mengubah definisi pokok pinjaman. Nantinya, nilai pokok pinjaman akan meliputi pula bunga yang masih harus dibayar.

Kedua, “Tanggal jatuh tempo yang baru,” kata Sulthon. Strategi kedua adalah kembali meminta perpanjangan utang yang bakal jatuh tempo. Jika dicermati, BRMS telah beberapa kali mengakali utang Credit Suisse itu.

Awalnya, perjanjian pinjaman bernilai pokok US$ 100 juta itu ditandatangani kedua belah pihak pada 14 Juni 2012. Masa jatuh tempo pun relatif singkat, yaitu 12 bulan sejak penarikan dana dan dapat diperpanjang maksimal hingga 19 September 2013.

Seperti sudah diperkirakan sebelumnya, BRMS mengambil opsi untuk memperpanjang jatuh tempo hingga 19 September 2013. BRMS ternyata tidak mampu melunasi utang itu sesuai dengan jatuh tempo.

Pada 25 September 2013, Credit Suisse menyetujui untuk memperpanjang jatuh tempo selama tiga bulan sampai dengan 19 Desember 2013. Perpanjangan tidak hanya berhenti hingga di situ.

Kedua belah pihak kembali setuju untuk memperpanjang jangka waktu pinjaman hingga tanggal 19 April 2014. Bersamaan dengan itu, beberapa klausul pinjaman telah diubah terutama terkait nilai pokok dan bunga yang harus dibayar BRMS.

Fasilitas itu dikenakan bunga sebesar London Interbank Offered Rate (LIBOR) ditambah 6% per tahun dan dibayarkan setiap triwulan. Pada 2012 dan 2013, BRMS telah membayar bunga pinjaman masing-masing US$ 26,84 juta dan US$ 3,63 juta.
Editor: Hendra Gunawan
Tribunnews.com, Jakarta — Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, menyatakan masih banyak pengembang di DKI Jakarta yang berhutang membangun fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos dan fasum). Tidak terkecuali Bakrie Land yang membangun kawasan Rasuna Said Kuningan.

Pria yang biasa disapa Ahok ini mengatakan, Bakrie Land harus segera lunasi utang fasos fasum sebelum pemilik perusahaan tersebut, Aburizal Bakrie, menjadi Calon Presiden (Cawapres).

“Sebelum keduluan mereka jadi presiden bayar lah, kalau geng-geng presiden susah nagihnya lagi loh,” ujar Ahok ini di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (9/5).

Ahok mengatakan, Pemprov DKI akan melakukan sejumlah cara agar pengusaha mau membangun fasos dan fasum. Cara itu antara lain dengan tidak memberi izin pembangunan untuk proyek baru yang akan dibangun.

“Kalau mereka masih utang, kita nggak kasih izin baru. Kita kan tahu mereka PT-nya banyak, tapi grup yang sama,” ungkapnya.

Salah satu perusahaan yang mulai membangun fasos dan fasum kepada warga DKI menurut versi Ahok adalah Agung Sedayu Group dan Agung Podomoro. Kendati sudah mencicil sebagian hutangnya, Ahok berharap dua perusahaan properti ini konsisten membangun fasos dan fasum lainnya di Jakarta. Fasos Fasum tersebut yakni rumah susun di Muara Baru dan Daan Mogot, Jakarta Barat.
Jum’at, 09 Mei 2014 | 13:36 WIB TEMPO.CO, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi pada Kamis, 8 Mei 2014, menetapkan Bupati Bogor Rachmat Yasin sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengurusan izin tukar-menukar kawasan hutan seluas 2.754 hektare di Bogor, Jawa Barat. KPK juga menetapkan status tersangka kepada M. Zairin, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor; dan Fransiscus Xaverius Yohan Yap dari PT Bukit Jonggol Asri.

“Telah terjadi peristiwa tindak pidana penyuapan. Dalam operasi tangkap tangan, tim KPK menyita barang bukti uang Rp 1,5 miliar,” kata Ketua KPK Abraham Samad di gedung kantornya, Kamis malam itu.

Berdasarkan penelusuran, situs website dengan alamat http://www.sentulnirwana.com mencantumkan bahwa PT Bukit Jonggol Asri (BJA) didirikan pada tahun 1994. Pada Januari 2010, PT Sentul City Tbk mengambil alih 88 persen saham BJA guna percepatan proyek kota baru mandiri. Tepat pada bulan Juli 2010, Sentul City menggandeng PT Bakrieland Development Tbk dengan kepemilikan saham masing-masing 50 persen.

Pada 23 Juli 2011, BJA mengumumkan dimulainya proyek Sentul Nirwana yang akan memaksimalkan lahan seluas 12 ribu hektare di wilayah Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kemudian, pada April 2013, PT Sentul City Tbk meningkatkan kepemilikan saham di BJA menjadi 65 persen, sedangkan saham Bakrieland berkurang menjadi 35 persen.

Situs itu juga menyebutkan bahwa Sentul Nirwana merupakan kota mandiri dengan pembangunan tahap I seluas 600 hektare. Di tempat ini akan dibangun theme park, hotel dan resort, lapangan golf, pusat perdagangan dan perkantoran, sekolah-sekolah dan universitas bertaraf internasional, serta cluster-cluster perumahan.

Manajemen PT Sentul City Tbk (BKSL) membantah bahwa Johan Yhap merupakan karyawan Bukit Jonggol Asri (BJA). “Sudah kami cek, dan memang bukan karyawan kami,” kata Investor Relation BKSL Michael Tene saat dihubungi, Jumat, 9 Mei 2014.

EFRI RITONGA
JAKARTA, KOMPAS.com – Nama keluarga Bakrie disangkutpautkan terkait kasus korupsi alih fungsi lahan yang melibatkan Bupati Bogor Rachmat Yasin melalui salah satu asetnya PT Bukit Jonggol Asri atau Sentul Nirwana. Namun, pihak Bakrie Group menegaskan bahwa asetnya tersebut sudah bukan miliknya lagi.

PT Bukit Jonggol Asri sejak tahun lalu sudah tidak melibatkan keluarga Bakrie dalam manajemen tersebut.

“Saya sudah konfirmasi ke Pak Ambono Janurianto, Presiden Direktur Bakrieland Tbk confirm sudah kepemilikan Bakrieland di sana sudah dijual tahun lalu,” kata Juru Bicara Keluarga Bakrie, Lalu Mara Satriawangsa seperti dikutip Tribunnews, Jumat (9/5/2014).

Lalu Mara membenarkan PT Bukit Jonggol Asri atau Sentul Nirwana termasuk satu dari sejumlah aset kelompok Bakrie yang dijual kepada pihak ketiga (MNC Group), untuk membayar transaksi dalam sengketa dengan pengusaha Inggris, Nathaniel Roschild, sebagai konsekuensi keluarnya atau ditariknya saham Bakrie di Bumi Plc (perusahaan investasi patungan Bakrie dan Roschield) agar Bakrie tetap bisa mengontrol mayoritas saham di PT Bumi Resources Tbk.

“Dan sudah memberikan keterbukaan informasi juga ke BEJ. Dan confirm juga Bakrieland tidak ada dalam manajemen tersebut,” ujar Lalu Mara.

Untuk diketahui Bupati Rachmat Yasin diduga menerima suap terkait dengan izin alih fungsi lahan seluas 2.754 hektare. Izin tersebut diajukan PT Bukit Jonggol Asri kepada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor.

“Kasusnya rekomendasi tukar menukar hutan di bogor. Yang meminta rekomendasi atas kawasan hutan seluas 2.754 hektare,” kata Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto di KPK, Kamis (8/5/2014) malam.

Meski begitu, Bambang belum tahu berada di mana lokasi hutan yang ingin dikonversi itu. Namun, Bambang menyebut, KPK curiga salah satu hutan diiinginkan adalah hutan lindung.

beritasatu Jakarta- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengeluarkan surat perintah cegah bepergian ke luar negeri terhadap Komisaris Utama PT Bukit Jonggol Asri Cahyadi Kumala Kwee dan Komisaris PT Bukit Jonggol Asri lainnya, yaitu Haryadi Kumala. Cegah tersebut terkait dengan penyelidikan terkait perizinan pemanfaatan lahan tanah pada tahun 2014.

“Perlu diinformasikan, terkait dengan penyelidikan dugaan TPK (Tindak Pidaan Korupsi) terkait perizinan pemanfaatan lahan tanah tahun 2014, KPK telah mengirimkan permintaan pencegahan bepergian ke luar negeri kepada Dirjen Imigrasi atas nama Haryadi Kumala dan Cahyadi Kumala Kwee dari swasta,” kata Juru Bicara KPK Johan Budi SP, Jumat (9/5).

Johan menjelaskan cegah bepergian ke luar negeri itu berlaku sejak kemarin hingga enam bulan ke depan. PT Bukit Jonggol Asri diketahui merupakan perusahaan pengembang. Perusahaan ini, sebanyak 35 sahamnya dimiliki oleh PT Bakrieland Development.

Sebelumnya, PT Bukit Jonggol Asri terlibat dalam kasus dugaan suap berkaitan dengan pemberian rekomendasi tukar-menukar kawasan hutan di Bogor. Kasus itu telah menjadikan BUpati Bogor rachmat Yasin sebagai tersangka. Rachmat disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau b atau pasal 5 atau pasaal 11 Undang-Undang No.31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

Bersama Rachmat, KPK juga menjadikan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor Muhammad Zairin sebagai tersangka. Kepada Zairin, KPK menyangkakan adanya pelanggaran terhadap pasal 12 a atau b atau pasal 5 ayat 2 atau pasal 11 Undang-Undang No.31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

Adapun dari pihak pemberi, KPK menjadikan FX Yohan Yap, Wakil dari PT Bukit Jonggol Asri sebagai tersangka. KPK menyangkakan Yohan dengan pasal 5 ayat 1 a atau b atau pasal 13 Undang-Undang No.31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

KPK menemukan bahwa Rachmat menerima Rp4,5 miliar dari PT Bukit Jonggol Asri. Uang tersebut diberikan kepada Rachmat secara bertahap, yaitu Rp1 miliar, Rp2 miliar dan Rp1,5 miliar. Luas hutan yang bakal digunakan untuk suatu proyek adalah 2754 hektar.

Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka usai tertangkap tangan tengah melakukan transaksi suap pada Rabu (7/5). Para tersangka dibawa ke KPK dan dilakukan pemeriksaan secara intensif.

Penulis: Rizky Amelia/MUT

kontan
BKSL dan ELTY masih nego soal Bukit Jonggol
Oleh Narita Indrastiti – Selasa, 28 Januari 2014 | 18:03 WIB
JAKARTA. Rencana PT Sentul City Tbk (BKSL) mengambil alih sisa saham PT Bukit Jonggol Asri milik PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) belum mencapai titik temu. Hingga kini, keduanya masih melakukan negosiasi tentang harga dan opsi pembayarannya.

BKSL berencana mengambil sisa 35% saham Bukit Jonggol milik ELTY secara bertahap. Namun belum ada kepastian kapan tepatnya negosiasi ini akan berakhir.

“Kami membahas opsi pembayarannya dan valuasi harganya. Sekarang masih negosiasi,” kata Michael Tene, Investor Relation BKSL.

BKSL setidaknya menyiapkan beberapa alternatif yang mungkin diambil untuk memuluskan akuisisi BJA, misalnya saja membayar dengan aset dan uang tunai. BKSL juga menyiapkan opsi untuk mencari pinjaman demi menuntaskan akuisisi tersebut.

Di sisi lain, manajemen ELTY sebenarnya pernah mengungkapkan kalau ELTY meminta pembayaran Bukit Jonggol dengan aset berupa tanah. Namun Michael mengatakan, opsi itu belum final. “Memang menjadi salah satu pilihan tetapi belum final,” ujarnya.

ELTY memerlukan sejumlah lahan yang bisa digunakan untuk jaminan kepada pemegang obligasinya. ELTY harus menyiapkan jaminan berupa tanah yang nilainya setara dengan US$ 120 juta. Jumlah itu diperkirakan setara dengan lahan seluas 600 hektare (ha).

Sebagai catatan, pada April 2013, BKSL telah mengakuisisi 15% saham BJA senilai Rp 300 miliar. Transaksi ini mendongkrak kepemilikan BKSL di BJA menjadi 65%.
Editor: Hendra Gunawan

Minggu, 09 Maret 2014, 17:40 WIB Bisnis.com, JAKARTA—Pengembang properti PT Sentul City Tbk. (BKSL) optimistis dapat mencapai target pendapatan tahun ini sebesar Rp1,3 triliun setelah target tahun lalu Rp900 miliar tercapai.

Michael Tene, Investor Relation Sentul City mengatakan, pihaknya telah memperhitungkan, target perseroan pada tahun lalu tercapai. Hal itu salah satunya karena target pra penjualan (marketing sales) sepanjang tahun lalu sebesar Rp2 triliun telah tercapai, bahkan terlampaui.

“Target marketing sales kami pada tahun lalu terlampaui, dan mencetak sekitar Rp2,1 triliun,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (7/3/2014).

Dia menjelaskan, kontribusi penjualan tersebut paling banyak berasal dari proyek Sentul City yang ditopang unit Sentul Nirwana dan Serpon Natura. Adapun, pihaknya menargetkan penjualan pada tahun ini mampu mencapai Rp2,5 triliun.

“Nantinya, kontribusi terbesar dari nilai penjualan tahun ini kami perkirakan dari Sentul City dan penjualan proyek CBD kami di Sentul,” ungkapnya.

Perseroan berencana mengembangkan CBD baru di kawasan Sentul City, Kabupaten Bogor. Proyek yang akan dikerjakan tersebut bakal terdiri atas apartemen, kondotel, hotel, perkantoran, mal dan pusat hiburan.

“Secara total, belanja modal kami untuk semua proyek mencapai Rp1 triliun pada tahun ini. Jumlah itu naik tahun lalu yang besarnya sekitar Rp800 miliar,” kata Michael.

Dia mengatakan, belanja modal tersebut bakal berasal dari kas internal perseroan dan opsi pinjaman bank. Namun, ketika ditanya terkait dana untuk menuntaskan akuisisi PT Bukit Jonggol Asri dari PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY), ternyata tidak berasal dari belanja modal.

Editor : Rustam Agus
(Vibiznews – Stock Mon, 28 October 2013, 2:00 PM) PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menyatakan telah melakukan penjualan tanah PT Bukit Jonggol Asri kepada PT Sentul City Tbk (BKSL). Transaksi tersebut dilakukan dengan cara tukar tanah antara kedua perseroan. Menurut ELTY, nilai yang berada di lokasi tersebut memiliki nilai Rp 1 triliun.

Luas tanah yang dimiliki ELTY di BJA sebesar 2.400 hektar. Penjualan tanah anak perusahaan ELTY ke Sentul City ini diperkirakan akan terealisasi pada akhir tahun 2013 ini.

BKSL sebelumnya memang berencana menambah kepemilikan sahamnya di PT Bukit Jonggol Asri menjadi 100 persen. Tercatat, sekarang BKSL memiliki 65 persen saham dan akan membeli sisanya yang sebesar 35 persen.

Sementara itu, nilai akuisisi PT Bukit Jonggol Asri ini masih dalam tahap penjajakan. Untuk nilai investasi, saat ini sedang tahap penghitungan. Sebelumnya BKSL menyatakan sedang mengembangkan lokasi pusat kuliner yang terletak di kawasan Sentul City.

Menurut perseroan, lokasi tersebut yaitu pasar Ah Poong II yang dibangun dengan nilai investasi sebesar Rp 35 miliar. Pasar Ah Pooh tersebut saat ini sudah beroperasi dan akan diperluas lokasinya. Di mana, pasar ini ke depan akan memiliki dua ribu tempat duduk dan mendapat penambahan lahan parkir yang akan terintegrasi dengan eco park. Pengembangan pasar Ah Poong II disebutkan menggunakan dana capex tahun anggaran 2013 yang sebesar Rp 350 miliar.

Secara fundamental hingga kuartal III tahun ini, ELTY menyatakan telah mencatat penjualan (marketing sales) sebesar Rp 980 miliar. Pencapaiaan tersebut menurun hingga 10,9 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,1 triliun. Menurut perseroan, kontribusi marketing sales paling besar berasal dari Epicentrum dengan persentase 80 persen. Sementara sisanya berasal dari proyek yang ada di Bogor.

Perseroan sebelumnya menargetkan marketing sales sepanjang tahun 2013 sebesar Rp 1,3 triliun. Meskipun ada aturan Bank Indonesia yang mengetatkan uang muka untuk pembelian rumah kedua, perseroan optimis dapat mencapainya target tersebut

Untuk pergerakan harga saham sampai dengan perdagangan iang ini (28/10), ELTY berada di posisi harga saham terendah Rp.50 dimana setelah suspensi ELTY dibuka 19 Oktober lalu harga saham masih belum mengalami pergerakan. Analis mengemukakan bahwa update teknikal terhadap kinerja saham ditinjau pada major pattern, saham ini menunjukkan tren bergerak sideways dan secara teknikal menunjukkan momentum yang lambat.

Untuk volume saham yang diperdagangkan sampai siang ini hanya terjadi penjualan saham sebesar 19 lot saja. Investor masih belum memiliki kepercayaan penuh dengan saham ini.

(RA/JA/VBN)

April 9, 2015

mo CIUS MAEN SAHAm, pake CARA gw d (2): RAK$A$A v wong c1l1k …TX EJ!!!

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:12 am

+160 REBU PERSEN in LABA @WIKA in 8 MONTHS only :) … well, cius, gw BERTERIMAKASIH PADA EDI DJOENARDI (Edy Joenardi/EJ) yang MENGINSPIRASI gw BAHWA INVES ITU MESTI + TRAD1NG juga, dan MEM1LIH SAHAM YANG BAGUS sesuai MASAnya

+160 REBU PERSEN in LABA @WIKA in 8 MONTHS only :) … well, cius, gw BERTERIMAKASIH PADA EDI DJOENARDI (Edy Joenardi/EJ) yang MENGINSPIRASI gw BAHWA INVES ITU MESTI + TRAD1NG juga, dan MEM1LIH SAHAM YANG BAGUS sesuai MASAnya

NEH TEORI INVES+TRADING SAHAM ala EDY JOENARDI yang gw PAHAMI sebagai TEROBOSAN PENTING SEKALE dalam MAEN SAHAM NEH TEORI INVES+TRADING SAHAM ala EDY JOENARDI yang gw PAHAMI sebagai TEROBOSAN PENTING SEKALE dalam MAEN SAHAM
bobo@saham 030315MAEN SAHAM SEMI-RUTIN, yaitu PANTAU SEMUA INFO TERKAIT SAHAM-SAHAM gw, DAN TETAP BISA JALAN-JALAN bareng kawan2, URUS KELUARGA, INVES PRODUK-PRODUK YANG LAEN (termasuk properti)… dan tentu aza BERBAGI LEWAT MEDIA SOSIAL neh
BACAAN gw SOAL NA$1B Rupiah KITA

AHOK, gw GA MAU JADI GUBERNUR DKI, cukup KALO ELO DENGARKAN USUL gw YANG UDA LAMA gw AJUKAN, yaitu JADIKAN JAKARTA KOTA DI BAWAH AIR

tren ihsg jelang OVER-BULLISHNESS, para analis bursa malah berekspektasi BEARISHNESS, well, gw maseh meliat ekspektasi bull jangka pendek seh :)
gw makin sulit memastikan ihsg k 5500 neh, karena 5457 itu RESISTENSI TERKUAT SEPANJANG SEJARAH ihsg

HARGA M1NYAK REBOUND, tren harga energi IKUTAN, biasanyAAAAA :)

teknikal Money Flow Index sudah semakin DEKAT 90an, berarti akselerasi tren ihsg akan menuju 5500, 5600, n 6K pada 2015, well, let’s see :)
tren IHSG jauh di atas TREN 2 EKONOMI MAKRO KITA YANG PALING PENTING
IHSG 6K bo…
TAKUT MENJADI INVESTOR, well, gw uda BUKTIKAN INVESTASI KEUANGAN ITU MENGUNTUNGKAN
… per tgl 14 Januari 2015, harga saham bumi melesat +33% TERHADAP AVG (RERATA HARGA BELI) saham bumi @ warteg saham gw neh :
fldtt @bumi REBOUND+33% 140115
RESOLUSI MAEN SAHAM 2015

ADU EKSPEKTASI : MANDIRI SEKURITAS v WARTEG saham gw @ IHSG akhir 2014
INDIKASI potential gain% @ warteg saham gw + 25% dalam 2 minggu, pasca kenaekan bbm

$81 Miliar digelontorkan pemerintah Tiongkok menstimuli perbankan mereka, well, ekspektasi gw : 7K @ ihsg dalam setidaknya 2 taon lage… :)

per tgl 02 Januari 2015, harga saham bumi @ 85, well, pas dengan AVG / rerata harga beli saham bumi yang gw usahakan … jadi begitu lah, FLDTT terbukti lage ya :

FLDTT BUMI 020115 @85
susp bumi dibuka n anjlok 071014 @166

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia membuka gembok saham PT Bumi Resources TBk (BUMI). Saham milik grup Bakrie ini merosot setelah boleh diperdagangkan kembali pagi ini, Selasa (7/10).

Mengutip Bloomberg, saham BUMI berada di Rp 169 pada pukul 10.16 WIB. Harga tersebut merosot 21 poin atau 11% dari harga terakhir Rp 190 per saham, yang tercatat 24 September lalu.

BEI melepas gembok saham BUMI setelah emiten investasi tambang batubara itu menggelar public expose insidentil kemarin. Dalam kesempatan itu, BUMI mengumumkan, penyerapan rights issue sekitar Rp 3,61 triliun atau hanya 45% dari target awalnya Rp 8 triliun.

Manajemen BUMI juga mengungkapkan niatnya menggali ladang minyak Gallo Oil dan mencari pendanaan US$ 50 juta untuk proyek minyak ini. Tak hanya itu, BUMI juga mengatakan ingin membiayai kembali (refinancing) utangnya sebesar US$ 275 juta.

http://investasi.kontan.co.id/news/gembok-dibuka-saham-bumi-merosot-11
Sumber : KONTAN.CO.ID

JAKARTA. Menjelang rights issue, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melonjak hingga 14,7%. Bahkan, saham perusahaan batubara milik Grup Bakrie ini menjadi salah satu yang menduduki top gainer hari ini.

Saham BUMI ada di posisi ke dua yang mengalami peningkatan harga paling tinggi pada perdagangan Jumat (27/6). Saham BUMI melonjak dari Rp 150 per saham menjadi Rp 172 per saham.

per tgl 30 Juni 2014 sbb:

FLDTT BUMI 300614 @179

 

per tgl 27 Juni 2014 sbb:
FLDTT BUMI 270614 @172+3% pasca gw terapkan F(okus)L(aba)D(dalam)T(ren)T(urun) @ tren harga saham bumi yang AMBLES jelang RIGHTissue
Senin lalu (23/6) BUMI berada di Rp 131 per saham, harga terendahnya selama tahun ini. Jika dihitung sejak awal pekan, saham BUMI melompat 31,3%.

BUMI berencana melepas 32,19 miliar saham seri B. Nilai per saham dibanderol Rp 250 per saham. Dengan demikian, total dana hasil rights issue ini mencapai Rp 8,04 triliun. Angka ini lebih besar dari rencana semula yang sebanyak 25,17 miliar saham di harga yang sama.

Sehingga dana yang kana dihimpun ketika itu sekitar Rp 6,5 triliun. Jika mendapat izin efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Senin (30/6) mendatang.
Editor: Sanny Cicilia

…neh gw share lage TREN BULLISH JANGKA MENENGAH @ harga saham ELSA, serta ekspektasi dari 400 ke 500 lalu ke 600 : quo vadis elsa, gw mo tambah volume @harga saham elsa guna mengejar ekspektasi yang positif @ tren jangka menengah harga saham elsa
TRIPLE DIGIT POTENTIAL GAIN% @harga saham ELSA, uda gw RAUP, malah tambah volume n potential gain% @ 2 online trading yang gw jalani juga :)

TRIPLE DIGIT POTENTIAL GAIN% @harga saham ELSA, uda gw RAUP, malah tambah volume n potential gain% @ 2 online trading yang gw jalani juga :)

BELAJAR INVESTASI DARI ORANG SUPERKAYA AMRIK, juragan investor TULEN :)

BELAJAR INVESTASI DARI ORANG SUPERKAYA AMRIK, juragan investor TULEN :)

sejak sekira 1 taon (Januari 2013)gw BOBO INVES @harga saham elsa, n per tgl 07 Januari 2014 telah +107% :)
… gw amati bahwa per tgl 25 Oktober 2013, harga saham elsa telah memberikan +63%, ekh, kebetulan sekira September 2013 gw uda lebe dulu mulai inves lage @ warteg yang laen (warung tegar saham gw juga) @0T B n per tgl 07 Januari 2013: +30% … coba baca2 posting2nya terkait tren harga saham tersebut ya … bwat belajar lah :)

… inves @elsa maseh berlanjut neh:
nah berikut gw kasi link untuk baca posting gw soal tren harga saham elsa yang naek +111% dalam lebe dari 1 taon @warteg KBSU: cek sendiri +111% nya ya :)

Maret 31, 2015

LABA @ bum1 : H1 2014 (kredibilitas AMBLE$)

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 2:02 am

belajar MEMAHAMI FLDTT lage neh :), + bukti2nya

JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk (BUMI), perusahaan batubara yang dikendalikan oleh Grup Bakrie, akan menuntaskan proses restrukturisasi utang senilai US$ 3,7 miliar atau sekitar Rp 48 triliun pada kuartal II-2015.

“Progres negosiasi restrukturisasi berjalan dengan baik. Kami tengah mengupayakan penyelesaian yang lebih cepat, sehingga dapat dituntaskan pada kuartal berikutnya,” kata Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivastava kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Meski demikian, Dileep belum bersedia mengungkapkan skema restrukturisasi yang akan diajukan. Yang pasti, perseroan mengkaji semua opsi termasuk penjualan aset, debt to equity swap, penurunan kupon, maupun perpanjangan masa jatuh tempo. “Kita tunggu saja penuntasannya,” ucap dia singkat.

Secara rinci, utang yang membelit Bumi Resources terdiri atas guaranteed senior secured notes yang diterbitkan oleh Bumi Capital Pte Ltd senilai US$ 300 juta, Bumi Investment Pte Ltd senilai US$ 700 juta, dan guaranteed convertible bonds oleh Enercoal Resources Pte Ltd sebanyak US$ 375 juta.

Perseroan juga memiliki utang kepada Country Forest Limited Facility 2009 senilai US$ 1,03 miliar, Credit Suisse 2010 dan 2014 Facility US$ 231,8 juta, UBS AG Facility sebanyak US$ 62,5 juta, Axis Bank Limited Facility 2011 senilai US$ 140 juta, Deutsche Bank 2011 Facility senilai US$ 54 juta, dan China Development Bank Facility US$ 600 juta.

Selanjutnya, perseroan memiliki fasilitas RBI Loan dan Castleford Investment Holdings Ltd senilai masing-masing US$ 80,6 juta dan US$ 150 juta. Semua utang ini akan jatuh tempo pada rentang periode 2014 – 2017.

Pada November 2014, pengadilan Singapura mengabulkan permohonan moratorium kewajiban pembayaran sebagian utang Bumi Resources. Hal ini dalam rangka restrukturisasi utang perseroan senilai total US$ 1,37 miliar.

Selama moratorium itu berlangsung, Bumi Resources tidak dapat melakukan sejumlah aksi korporasi yang diperlukan untuk menyelesaikan transaksi pembayaran utang lainnya. Transaksi yang ditunda meliputi pelunasan kepada China Investment Corporation (CIC) senilai US$ 1,03 miliar, rencana refinancing pinjaman US$ 275 juta, serta penjualan saham PT Fajar Bumi Sakti senilai US$ 130 juta. Direktur Bumi Resources Andrew Beckham pernah mengatakan, restrukturisasi dan negosiasi akan dilakukan secara global. Artinya, perseroan berkomitmen menyelesaikan masalah utangnya kepada semua kreditor.

“Kami tidak pilih kasih terhadap kreditor tertentu. Semua utang akan direstrukturisasi,” kata Andrew, baru-baru ini. (ID)

http://id.beritasatu.com/marketandcorporatenews/kuartal-ii-bumi-tuntaskan-restrukturisasi-utang/112103

Sumber : INVESTOR DAILY

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks harga saham emiten asal Indonesia yang diperdagangkan di bursa Amerika Serikat I Shares MSCI Indonesia ETF (EIDO) pada penutupan perdagangan Kamis (26/3/2015) atau Jumat pagi WIB kembali anjlok.

EIDO penutupan Kamis (26/3/2015) melemah 0,78% ke 26,62, dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (25/3/2015) yang anjlok 2,47% ke 26,83.

Anjloknya EIDO sejalan dengan melemahnya gerak bursa AS. Dow Jones Industrial Average yang turun 0,23% ke 17.678,23, indeks S&P500 di bursa AS bergerak melemah 0,24% ke 2.056,15.

Saham penekan indeks berdasarkan %:

BEST -6,67%
MAIN -6,50%
BUMI -5,75%
BKSL -5,04%

 Saham pendorong indeks berdasarkan %:

SCMA +3,91%
SGRO +2,44%
BHIT +2,11%
MYRX +2,03%

 Sumber: Bloomberg, 2015

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks harga saham emiten asal Indonesia yang diperdagangkan di bursa Amerika Serikat I Shares MSCI Indonesia ETF (EIDO) pada perdagangan Senin atau Selasa pagi melemah untuk hari kelima.EIDO penutupan Senin (9/3/2015) turun 0,52% ke 27, dibandingkan penutupan  perdagangan Jumat (6/3/2015) yang melemah 0,44% ke 27,14.Pelemahan EIDO berlawanan dengan bursa AS. Dow Jones malah naik 0,78% ke 17.995,72, indeks S&P500 di bursa AS bergerak menguat 0,39% ke 2.079,43.

Saham penekan indeks berdasarkan %:

BUMI -5,26%
UNTR -5,17%
LPKR -4,31%
WSKT -4,21%

Saham pendorong indeks berdasarkan %:

SILO +4,58%
VIVA +1,85%
LSIP +0,80%
MYRX +0,67%

Sumber: Bloomberg, 2015

 

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan batu bara PT Bumi Resources Tbk. mendapatkan izin ekspor selama 3 tahun bagi unit usaha PT Kaltim Prima Coal dan Arutmin dari pemerintah Indonesia.

Dileep Srivastava, Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, menjelaskan dengan izin tersebut, maka Arutmin dan Kaltim Prima Coal saat ini telah terdaftar di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai eksportir batu bara.

“Paruh pertama ini kami mengekspor batu bara sekitar 60% dari total produksi,” ujarnya, Selasa (7/10/2014).

Dia memperkirakan kebutuhan batu bara di dalam negeri pada tahun depan akan meningkat tajam. Sementara itu, untuk pasar ekspor, Dileep mengharapkan permintaan dari India dan Jepang akan bertambah dalam beberapa tahun ke depan.

Adapun, setelah sempat disuspen, harga saham emiten berkode BUMI itu ditutup melemah 16,32% pada penutupan perdagangan kemarin menuju level Rp159 dibandingkan posisi pada penutupan sebelumnya Rp190.

 

Editor : Martin Sihombing

 

JAKARTA kontan. China Investment Corporation telah resmi mengempit saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Hal ini merupakan bagian dari upaya pembayaran utang perseroan kepada kreditur asal negeri tirai bambu tersebut.

Mengutip data RTI, jumlah saham tercatat BUMI sudah 36,62 miliar saham. Artinya sudah ada tambahan sebanyak 15,85 miliar saham hasil pelaksanaan rights issue. Sebelumnya, jumlah saham tercatat BUMI sebesar 20,77 miliar saham.

Dari 15,85 miliar saham yang terserap, sebanyak 6,9 miliar atau setara dengan US$ 150 juta diambil CIC. Ini merupakan tahap lanjutan pembayaran utang perseroan yang totalnya mencapai US$ 1,3 miliar.

Pada awal Juli 2014, BUMI telah melepas kepemilikan 19% saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) milik BUMI. Nilai transaksi ini setara dengan US$ 950 juta. Berarti, total utang yang sudah terbayar sekitar US$ 1,1 miliar.

Selanjutnya, perseroan tinggal melakukan transfer aset berupa 42% saham  PT Bumi Resource Minerals Tbk (BRMS). Nilai transaksi yang disepakati sebesar US$ 257,4 juta.

Editor: Hendra Gunawan

 

Jakarta – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun hingga 11,58 persen ke 168 pada sesi pertama perdagangan pagi ini karena rencana perseroan untuk mengurangi porsi rights issue dan menjajaki pinjaman baru untuk melunasi utang.

Bumi akan menjajaki pinjaman baru sebesar US$ 275 juta untuk melunasi (refinancing) utang dalam jumlah yang sama. Perseroan sedang berdiskusi secara intensif dengan sejumlah kreditor, yaitu Axis Bank, Credit Suisse, Deutsche Bank, UBS, dan China Development Bank (CDB).

Direktur Utama Bumi Resources Ari Hudaya mengatakan, pihaknya terus berupaya melakukan negosiasi ulang terkait kesepakatan pinjaman. Hal itu dilakukan untuk menghindari gagal bayar (default).

“Kami akan jajaki opsi refinancing melalui pinjaman baru yang memiliki tingkat suku bunga lebih rendah. Kami juga akan tawarkan opsi perpanjangan tenor. Itu semua tergantung dari pembicaraan dengan para kreditor nanti,” kata Ari di sela paparan publik insidentil Bumi Resources di Jakarta, Senin (6/10).

Perusahaan batubara terbesar di Indonesia milik keluarga Bakrie tersebut semula berencana membayar utang secara tunai dari hasil penawaran umum terbatas saham (rights issue).

Perseroan juga berniat mengalokasikan sejumlah dana rights issue untuk mengembangkan konsesi Gallo Oil Ltd dan PT Gorontalo Minerals. Namun, rencana tersebut batal, karena kekurangan permintaan (undersubscription) dari para investor terhadap saham baru perseroan.

Bumi terpaksa memangkas nilai rights issue sampai dua kali. Semula, perseroan menargetkan rights issue sebesar US$ 700 juta. Perseroan kemudian menurunkannya menjadi US$ 425 juta dan kembali dipangkas menjadi US$ 314 juta.

Bumi kini hanya akan menerbitkan 15,8 miliar saham baru atau setara 43,1 persen dari modal disetor. Adapun harga pelaksanaannya tetap sebesar Rp 250 per saham.

Dana hasil rights issue yang diperoleh Bumi hanya cukup untuk beberapa keperluan perseroan. Sebanyak US$ 14 juta dialokasikan untuk modal kerja, sedangkan sebesar US$ 150 juta akan dipakai untuk pelunasan sebagian fasilitas pinjaman kepada China Investment Corporation (CIC). Sisanya US$ 150 juta bakal digunakan untuk melunasi seluruh utang perseroan kepada Castleford Investment Holdings Ltd.

Sebelumnya, pada Juni 2014, Bumi Resources berhasil menghindari status gagal bayar (default) dengan melunasi kupon obligasi. Obligasi sebesar US$ 300 juta tersebut jatuh tempo pada November 2016 dan memiliki kupon sebesar 12 persen. Kupon seharusnya dibayar pada 12 Mei 2014. Namun, perseroan meminta perpanjangan waktu hingga 11 Juni 2014.

Jika pada tanggal itu Bumi Resources belum melakukan pembayaran, pemegang obligasi berhak meminta percepatan. Perseroan juga dapat ditetapkan default. Namun, perusahaan tambang yang dikendalikan keluarga Bakrie itu berhasil melakukan pelunasan dan akhirnya terhindar dari gagal bayar.

Transaksi CIC

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivastava menambahkan, transaksi penyelesaian utang kepada CIC senilai total US$ 1,4 miliar hampir tuntas. Perseroan telah mengalihkan sebanyak 19 persen saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) senilai US$ 950 juta kepada CIC. Perseroan juga telah melepas sebanyak 18,84 persen saham senilai US$ 150 juta melalui rights issue.

“Sisanya tinggal penutupan transaksi pengalihan 42 persen saham PT Bumi Resources minerals Tbk (BRMS) senilai US$ 257 juta. Transaksi ini segera kami rampungkan dalam waktu dekat, agar utang kepada CIC bisa ditutup,” jelas Dileep.

Selanjutnya, Bumi akan fokus pada pembayaran obligasi konversi senilai total US$ 375 juta. Masa jatuh tempo obligasi tersebut telah diperpanjang hingga 2018. Adapun tingkat suku bunga telah diturunkan dari 9,25 persen menjadi 6 persen.

Jika semua rencana transaksi berjalan lancar, jumlah utang Bumi Resources sekitar US$ 4 miliar akan turun menjadi US$ 2 miliar. Dileep optimistis, pemangkasan itu dapat terealisasi pada akhir 2015.

“Penyelesaian masalah utang akan menjadi sentimen positif bagi perseroan, sehingga diharapkan dapat mengangkat harga saham Bumi Resources jauh lebih tinggi dibandingkan saat ini,” ujar Dileep.

Sementara itu, dari segi operasional, Bumi Resources berharap dapat memproduksi batubara sebanyak 90 juta ton tahun ini. Hingga Juni 2014, perseroan telah memproduksi sebanyak 45,3 juta ton batubara atau naik 10 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 41 juta ton.

Adapun pendapatan perseroan selama semester I-2014 tercatat sebesar US$ 1,5 miliar, turun 15 persen dibandingkan periode sama tahun lalu senilai US$ 1,8 miliar. Meski demikian, perseroan berhasil mencetak laba bersih sebesar US$ 130 juta, dibandingkan semester I-2013 yang membukukan rugi bersih US$ 269,7 juta. Laba bersih tersebut berasal dari keuntungan pengalihan saham KPC.

http://www.beritasatu.com/pasar-modal/215525-garagara-utang-saham-bumi-resources-turun-11.html
Sumber : BERITASATU.COM

JAKARTA kontan. Tidak mau kalah dengan manajemen PT Bumi Resoruces Tbk (BUMI) yang marah dan kecewa dengan para investor yang dinilai tidak mendukung rencana perseroan. Investor publik yang hadir dalam public expose (PE) insidentil hari ini pun membalas pernyataan manajemn BUMI.

Salman, salah satu investor publik yang hadir mengatakan, salah satu penyebab para investor publik tidak mengeksekusi haknya adalah karena pihaknya sudah tidak pecaya lagi kepada manajemen BUMI.

“Manajemen (BUMI) harus melakukan aksi korporasi yang membuat kami percaya, kalau kepercayaan publik ada, ya pasti kami akan percaya,” ujarnya, Senin (6/10).

Selain itu, harga penawaran rights issue yang ditentukan manajemen pun ada di atas harga pasar ketika itu. Menurut jadwal rights issue BUMI, eksekusi penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dilakukan Juli 2014.

Pada saat itu, rata-rata harga saham BUMI ada di kisaran Rp 189 per saham. Bahkan, sempat menyentuh level Rp 150 per saham. Sementara, harga pelaksanaan saham baru BUMI dibanderol Rp 250 per saham.

“Kalau saja kami eksekusi hak kami, kami akan rugi,” imbuh Salman.

Steven, investor publik lainnya menambahkan, saham baru yang diterbitkan BUMI dalam rangka penawaran umum terbatas (IV) kemarin adalah saham seri B. Ia khawatir ada perbedaan hak dan perlakuan antara pemegang saham seri A dan seri B.

Seperti diketahui, awalnya BUMI menawarkan sebanyak-banyaknya 32,19 miliar saham baru seri B dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Adapun, harga penawaran dibanderol Rp 250 per saham. Namun, yang terserap ternyata hanya 15,85 miliar saham.

Dari 15,85 miliar saham yang terserap, pemegang saham publik yang mengeksekusi hanya 11,41 juta. Mengutip prospektus rights issue BUMI, kepemilikan saham publik BUMI mencapai 70,82%. Jika semua mengeksekusi, maka seharusnya penyerapan oleh investor publik mencapai 22,8 miliar saham.

Jadi, penyerap saham-saham baru BUMI selain investor publik yang minim itu, adalah Long Haul Holdings Limited melalui PT Karsa Daya Rekatama dan Castleford Investment Holdings Ltd melalui PT Damar Reka Energi. Masing-masing menyerap 6,9 miliar saham yang nilainya setara dengan US$ 150 juta.

Adapun, saham-saham yang diserap digunakan unutk konversi utang BUMI kepada kreditur. Kemudian, sebanyak 2,04 miliar saham diserap oleh pembeli siaga, yakni PT Danatama Makmur. Sekitar 16,34 miliar saham yang tidak terserap dimasukkan kembali ke dalam portepel perusahaan.

Editor: Sanny Cicilia
Liputan6.com, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyatakan pembatalan penerbitan saham baru senilai US$ 275 juta atau sekitar Rp 3,1 triliun karena mengalami kekurangan permintaan.Hal itu disampaikan dalam materi publik perseroan yang disampaikan dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), yang ditulis Minggu (5/10/2014). Dalam penjelasan kepada otoritas bursa, perseroan mengalami kekurangan permintaan dalam rangka penawaran saham terbatas atau rights issue senilai US$ 275 juta.Selain itu, para kreditor tidak bersedia menerima pembayaran pinjaman dalam bentuk saham. Perseroan melihat peluang positif untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut dengan para kreditur guna menentukan langkah selanjutnya.Alhasil perseroan tidak dapat memperoleh dana tunai US$ 275 juta atau sekitar Rp 3,16 triliun dari hasil penerbitan saham baru sekitar 12,65 miliar lewat rights issue. Perseroan memasukkan kembali 12,65 miliar saham ke dalam portepel.Dana hasil rights issue antara lain digunakan untuk melunasi pinjaman antara lain kepada Axis Bank Limited 2011, Credit Suisse 2010-2012, Deutsche Bank 2011, UBS AG 2012, dan CBS 2011.Perseroan juga membatalkan rights issue untuk merealisasikan anggaran proyek Gallo dan Gorontalo Minerals. Masing-masing perolehan dana rights issue itu US$  48 juta untuk proyek Gallo Oil dan US$ 32,58 juta untuk proyek PT Gorontalo Minerals.Berdasarkan prospektus yang diterbitkan 30 Juni 2014, perseroan akan melakukan rights issue dengan melepas 32,19 miliar saham. Total dana yang diincar sekitar Rp 7,7 triliun.Dengan pembatalan rights issue senilai US$ 270 juta, pereroan hanya melepas 15,85 miliar saham dengan dana yang diraup mencapai Rp 3,61 triliun.Dana hasil rights issue antara lain digunakan untuk modal kerja perseroan mencapai US$ 14 juta. Lalu perseroan melunasi sebagian fasilitas pinjaman dari China Investment Corporation melalui Country Forest Limited sebesar US$ 150 juta. Selain itu, perseroan juga melunasi seluruh utang perseroan kepada Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$ 150 juta.Sejumlah pihak yang mengambil bagian dalam rights issue PT Bumi Resources Tbk antara lain publik sejumlah 11,53 juta saham. Lalu perusahaan milik grup Bakrie, Long Haul Holding Ltd melalui mekanisme debt to equity conversion sejumlah 6,9 miliar saham.Castleford Holding Ltd melalui mekanisme debt to equity conversion sejumlah 6,9 miliar saham dengan PT Damar Reka Energi sebagai agen fasilitas castleford. Selain itu, PT Danatama Makmur sebagai pembeli siaga menyerap sekitar 2,04 miliar saham. (Ahm/)

Credit: Agustina Melani

 

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membeberkan alasan pembatalan sebagian rencana Penawaran Umum Terbatas (PUT IV) dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue.

Dalam materi paparan publik yang dirilis Jumat (3/10), BUMI mengatakan, batalnya penerbitan 12,65 miliar saham baru lewat rights issue lantaran kekurangan permintaan (undersubscription). “Para kreditor tidak bersedia menerima pembayaran pinjaman dalam bentuk saham,” tulis manajemen BUMI.

Imbasnya, BUMI tak mampu meraih dana tunai yang seharusnya US$ 275 juta setara Rp 3,16 triliun dari rights issue. BUMI kembali memasukkan 12,65 miliar saham dalam portepel.

BUMI sudah mengalokasikan US$ 275 juta dana rights issue untuk melunasi lima fasilitas pinjaman. Kelima fasilitas itu dari utang Axis Bank Limited (2011), Credit Suisse (2010), Deutsche Bank (2011), UBS Bank AG (2012) dan China Development Bank (2011).

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI sebelumnya mengatakan, akan mencari alternatif lain yang efisien untuk melunasi utang lima kreditur.

BUMI juga membatalkan dua bagian PUT IV lainnya, yaitu US$ 48 juta setara Rp 552 miliar dan US$ 32,58 juta setara Rp 374,67 miliar.

Bagian pertama yang senilai US$ 48 juta semestinya dianggarkan untuk merealisasikan penggarapan Blok 13 dan Blok R2 dari konsesi hidrokarbon yang dimiliki anak usaha BUMI di Yaman, Gallo Oil (Jersey) Ltd.

Sementara bagian rights issue US$ 32,58 juta untuk uji kelayakan konsesi tembaga dan emas yang dimiliki PT Gorontalo Minerals, cucu usaha BUMI. Dua bagian rights issue itu dibatalkan karena kurang diminati investor.

Tiga bagian yang dibatalkan tersebut merupakan sebagian dari total rights issue BUMI 32,19 miliar saham senilai US$ 700 juta. Akibatnya, pelaksanaan PUT IV BUMI hanya 15,85 miliar saham senilai US$ 314 juta setara Rp 3,61 triliun.

Dana hasil rights issue tersebut, US$ 14 juta setara Rp 161 miliar untuk memenuhi modal kerja dan pembayaran bunga BUMI.

Kedua, US$ 150 juta setara Rp 1,73 triliun untuk melunasi sebagian utang kepada China Investment Corporation (CIC). Ketiga, US$ 150 juta atau Rp 1,73 triliun melunasi utang kepada Castleford Investment Holdings Ltd (Castleford). BUMI menjelaskan saham rights issue itu diserap empat pihak.

Perusahaan khusus milik Grup Bakrie, Long Haul Holding Ltd (Long Haul) menyerap 6,9 miliar saham rights issue BUMI. Long Haul menunjuk PT Karsa Daya Rekatama sebagai agen menyerap rights issue BUMI.

Pihak kedua adalah Castleford yang menyerap 6,9 miliar saham rights issue BUMI melalui mekanisme konversi utang menjadi ekuitas. PT Damar Reka Energi bertindak sebagai agen fasilitas yang diserap Castleford.

PT Danatama Makmur turut mengambil 2,04 miliar saham BUMI. Danatama memang telah berjanji akan menjadi pembeli siaga. Sisa saham yang dilepas yakni 11,53 miliar, diserap oleh publik.

Editor: Avanty Nurdiana

 

JAKARTA kontan. Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) menginstruksikan kepada manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk menggelar public expose (PE) insidentil. Hal ini terkait dengan kewajiban perseroan untuk memberikan keterbukaan informasi mengenai hasil penawaran saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Dileep Srivastava, Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, pihaknya akan menggelar PE insidentil pada Senin (6/10) di Kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.

“Agendanya informasi mengenai hasil pelaksanaan penawaran umum terbatas IV PT Bumi Resources Tbk,” ujarnya dalam pernyataan resmi Jumat (3/10).

Beberapa waktu lalu, BEI melakukan pemanggilan kepada manajemen BUMI terkait dengan informasi tersebut. “Kami sudah panggil untuk minta penjelasan mengenai penjatahan rights issue,” kata Hoesen, Direktur Penilaian Perusahaan BEI.

Maklum, perusahaan batubara milik Grup Bakrie ini belum juga mengumumkan informasi mengenai hasil rights issue yang telah mendapatkan persetujuan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 30 Juni 2014 lalu.

Wasit pasar saham ini pun memutuskan untuk menyetop perdagangan  saham BUMI mulai sesi pertama perdagangan Kamis (25/9). Sehari setelah suspen dilakukan, manajemen BUMI merilis informasi, pihaknya membatalkan 12,65 miliar saham yang rencananya ikut dikeluarkan pada aksi rights issue Juli 2014 lalu.

Total nilai penerbitan mencapai Rp 3,16 triliun atau Rp 250 per saham (harga rihgts). Dana ini awalnya akan digunkan perseroan untuk membayar utang kepada sejumlah kreditur. Sekadar mengingatkan, pada aksi rights issue BUMI, jumlah saham yang diterbitkan mencapai 32,19 miliar saham seri B dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Nilai aksi koporasi ini pun jumbo, yakni mencapai Rp 8,04 triliun.

Editor: Fransiska Firlana

 

JAKARTA kontan. Hanya dalam rentang waktu tiga hari, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengubah kebijakan mengenai pelaksanaan Penawaran Umum Terbatas IV (PUT IV) dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue.

Dalam pernyataan resmi ke Bursa Efek Indonesia, Sabtu (27/9), BUMI memutuskan membatalkan rencana menerbitkan 12,65 miliar saham baru lewat rights issue. Padahal, dua hari sebelumnya, BUMI menyatakan hanya akan menunda rights issue senilai Rp 3,16 triliun atau setara US$ 275 miliar itu. Jumlah itu adalah sebagian dari total rights issue BUMI yang mencapai 32,19 miliar saham dengan total nilai US$ 700 juta. Dengan pembatalan itu, BUMI akan kembali memasukkan 12,65 miliar saham itu ke dalam portepelnya.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI menuturkan, pihaknya akan menggelar paparan publik pekan ini untuk menjelaskan situasi terkini emiten batubara itu termasuk pelaksanaan rights issue yang hanya US$ 425 juta.

Meski rights issue tak dilakukan seluruhnya, Dileep bilang, BUMI akan terus berupaya mengurangi utang dengan seefisien mungkin. “Kami akan mencari opsi lain (selain rights issue) untuk memangkas utang di masa mendatang,” kata Dileep kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Berdasarkan prospektus rights issue BUMI, salah satu prioritas penggunaan dana US$ 275 juta awalnya adalah pelunasan fasilitas utang perseroan ke beberapa kreditur secara proporsional.

Beberapa kreditur yang dimaksud adalah Axis Bank Limited dengan jumlah pokok terutang US$ 135 juta. Kemudian Credit Suisse cabang Singapura senilai US$ 117 juta yang jatuh tempo pada 2013. Lalu, Deutsche Bank AG cabang Singapura dan WestLB AG cabang Singapura dengan total pokok terutang US$ 54 juta. Pinjaman ini jatuh tempo November 2014. UBS AG cabang London senilai US$ 65 juta, serta China Development Bank (CDB) sebesar US$ 600 juta.

Selain membayar utang, BUMI akan memakai saham rights issue untuk membayar biaya kontraktor di proyek Gallo Oil (Jersey) Ltd dan PT Gorontalo Minerals. Secara speksifik, dana US$ 48 juta dipakai untuk merealisasikan anggaran program Blok 13 dan blok R2 konsesi hidrokarbon Gallo Oil. Adapun pihak yang akan mendapat saham BUMI atas pembayaran jasa kontraktor proyek Gallo Oil itu berdomisili di #502 Girija Imperial, Plot No. 22, Image Hospital Road, Gafoomager, Madhapur, India.

Setelah pelaksanaan penawaran saham baru dengan HMETD, kontraktor migas ini akan mengempit 2,19 miliar saham atau sebesar 5,45% saham BUMI. Dengan penjelasan ini, Dileep berharap BEI segera membuka kembali perdagangan saham BUMI yang telah dihentikan sementara sejak Kamis (25/9).

Editor: Sandy Baskoro

 

Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memangkas nilai penawaran umum terbatas saham (rights issue) sebesar US$ 275 juta menjadi US$ 425 juta dari semula US$ 700 juta.

Perusahaan batubara terbesar di Indonesia milik keluarga Bakrie itu mengurangi penerbitan saham baru sebanyak 12,65 miliar menjadi 19,54 miliar dari semula 32,19 miliar unit. Adapun harga pelaksanaan sebesar Rp 250 per saham.

Pemangkasan tersebut tidak mengurangi upaya perseroan dalam menekan jumlah utang dan memperkuat keuangan perusahaan. “Kami akan melakukan pemaparan publik pekan depan untuk memperjelas masalah ini,” kata Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Dileep Srivastava kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (25/9).

Perseroan semula mengalokasikan dana US$ 275 juta dari hasil rights issue untuk membayar utang kepada sejumlah kreditor. Namun, perseroan melihat kemungkinan untuk bernegosiasi ulang terkait penyelesaian utang. Bumi akan bernegosiasi dengan Axis Bank Ltd, Credit Suisse, Deutsche Bank, UBS AG, dan CDB.

Pinjaman kepada Credit Suisse seharusnya jatuh tempo tahun lalu. Utang kepada UBS AG jatuh tempo pada Maret 2014, sedangkan pinjaman kepada CDB pada Februari 2016. Adapun utang kepada Deutsche Bank akan jatuh tempo pada November 2014.

Sebelumnya, Bumi Resources berniat menerbitkan 32,19 miliar saham baru senilai total Rp 8,04 triliun (US$ 700 juta). Dari aksi tersebut, dana sebesar US$ 150 juta dialokasikan untuk membayar sebagian obligasi konversi (convertible bond/CB) yang senilai total US$ 375 juta.

Perseroan juga akan menggunakan dana rights issue sebesar US$ 32,58 juta atau setara Rp 374,67 miliar untuk membiayai studi kelayakan (feasibility study) di konsesi pertambangan tembaga dan emas milik anak usaha perseroan, PT Gorontalo Minerals.

Sementara itu, untuk melunasi pinjaman kepada Country Forest Ltd (CFL), anak usaha China Investment Corporation (CIC), serta utang kepada Castleford Investment Holdings Ltd, Bumi mengalokasikan dana masing-masing sebesar US$ 150 juta.

Bumi ingin menyelesaikan utang kepada CIC sebesar US$ 1,3 miliar. Tingkat bunga pinjaman tersebut sebesar 12 persen per tahun. Dari jumlah tersebut, sebanyak US$ 600 juta akan jatuh tempo pada Oktober 2014 dan sebesar US$ 700 juta pada Oktober 2015.

Pada Juni 2014, Bumi Resources berhasil menghindari ancaman gagal bayar dengan melunasi kupon obligasi. Adapun total nilai surat utang global tersebut sebesar US$ 300 juta. Jatuh temponya pada November 2016 dan memiliki kupon sebesar 12 persen.

Kupon seharusnya dibayar pada 12 Mei 2014. Namun, perseroan meminta perpanjangan waktu hingga 11 Juni 2014. Jika pada tanggal itu Bumi Resources belum membayar, pemegang obligasi berhak meminta percepatan. Perseroan juga dapat dinyatakan dalam status default. Namun, Bumi berhasil melakukan pelunasan dan akhirnya terhindar dari ancaman gagal bayar.

http://www.beritasatu.com/pasar-modal/212911-bumi-pangkas-rights-issue-jadi-us-425-juta.html
Sumber : BERITASATU.COM

 

INILAHCOM, Jakarta – PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia telah menyepakati renegosiasi kontrak pertambangan.

Kedua perusahaan tambang Pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) generasi pertama. Dirjen Minerba Kementerian ESDM, R Sukhyar mengatakan proses renegosiasi terus dilakukan dan ditargetkan rampung pada September ini.

Sukhyar menyebut, dua PKP2B generasi pertama yakni KPC dan Arutmin telah menyepakati renegosiasi. Kesepakatan itu kemudian dituang dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) amandemen kontrak pertambangan. “KPC dan Arutmin sudah sepakat renegosiasi. Hari ini tandatangan MoU-nya,” kata Sukhyar di Jakarta, Selasa (23/9/2014).

Sementara itu, Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batubara Kementerian ESDM Bambang Tjahjono Setiabudi menambahkan, luas wilayah KPC dari 90.938 hektar menjadi 84.938 hektar. Sedangkan luas wilayah Arutmin dari 58.898,24 hektar menjadi 55.573,37 hektar. “Luas wilayah KPC berkurang 6.00 hektar dan Arutmin sekitar 3.324,87 hektar,” ujarnya.

Penandatanganan MoU itu menambah jumlah PKP2B yang sudah menandatangani hal serupa sebelumnya yakni sebanyak 51 PKP2B. Dari 73 pemegang PKP2B hanya tersisa 20 PKP2B yang masih dalam tahap finalisasi renegosiasi kontrak pertambangan. [hid]

 

Topsaham- Manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyatakan untuk menunda sisa pengeluaran saham-saham baru atau right issue sebanyak-banyaknya 12.650.000.000 saham senilai Rp3,162 triliun atau US$275 juta.
Direktur Perseroan Dileep Srivistava dalam penjelasannya kepada bursa Kamis (25/9), mengatakan bahwa semula hasil pengeluaran saham ini direncanakan untuk pembayaran utang kepada kreditur-kreditur perseroan seperti diuraikan dalam prospektus.
“Perseroan melihat peluang positif untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut dengan para kreditur guna menentukan langkah selanjutnya,” ujarnya.  http://www.topsaham.com/new1/index.php?option=com_content&view=article&id=11203:bumi-tunda-right-issue&catid=35:finansial&Itemid=55
Sumber : TOPSAHAM.COM
SINGAPURA. Rencana PT Bumi Resources Tbk (BUMI) merampingkan postur utang, menjadi pe-er utama perusahaan investasi tambang ini. Salah satu cara yang akan diusahakan saat ini adalah memangkas beban bunga utang, khususnya dari kreditur Credit Suisse.

Dileep Srivastava, Direktur BUMI mengatakan, perusahaan berencana memangkas beban bunga sebesar US$ 200 juta di akhir tahun 2015. Sampai Juni, utang perusahaan mencapai US$ 7 miliar, termasuk empat kesepakatan utang dari Credit Suisse Group AG bernilai US$ 700 juta.

“Mengurangi beban utang adalah persoalan penting, dan yang paling mahal adalah utang-utang dari Credit Suisse,” kata Dileep Srivastava pada Bloomberg di Singapura, awal bulan ini. Dia yakin, jika bisa mengurangi beban utang dan pasar puas dengan kemajuan BUMI, para kreditur akan lebih lunak melihat situasi perusahaan.

Pengurangan beban utang akan membantu BUMI di tengah harga batubara yang turun. Harga batubara di Asia yang terpangkas 50% sejak puncaknya di tahun 2008 membuat bumi ngos-ngosan memperbaiki postur utang, mencari sumber dana baru, dan menjual aset.

BUMI mencairkan semua utang dari Credit Suisse Juni lalu. Srivastava bilang, salah satu utang senilai US$ 117,5 juta, berbunga 18% di atas London Interbank Offered Rate (Libor). Sedangkan utang lainnya senilai US$ 114,3 juta, berbunga Libor plus 8%.

Dua fasilitas utang lainnya untuk PT BUmi Resources Mineral total US$ 466 juta, dibebankan bunga 6%-7% dari Libor.

Harga obligasi BUMI senilai US$ 700 juta yang jatuh tempor pada Oktober 2017 turun 21,5 sen tahun ini ke 45,57 sen dollar pada 8 September. BUMI juga turun 36% ke Rp 191, berbanding kenaikan IHSG sebesar 23%. Debt-to-capital ratio perusahaan ini mencapai US$ 107,5%.

Srivastava bilang, BUMI tercatat memiliki obligasi berdenominasi dollar senilai US$ 1,375 miliar, serta utang US$ 2,67 miliar. Utang non-obligasi ini termasuk US$ 1,04 miliar pada China Investment Corp (CIC), US$ 600 juta pada China Developtment Bank Corp dan Credit Suisse.

Pada tanggal 22 Agustus lalu, BUMI berhasil merekstrukturisasi salah satu utang obligasinya senilai US$ 375 juta sehingga bunga dipangkas menjadi 6% dan jatuh tempo 2018 mendatang. Juli lalu, Srivastava juga bilang akan menjual aset pertambangan lagi pada CIC sehingga utang akan turun menjadi US$ 632 juta.

 

http://investasi.kontan.co.id/news/bumi-lobi-credit-suisse-mengurangi-bunga-utang
Sumber : KONTAN.CO.ID

 

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengkonfirmasi telah meraih persetujuan mayoritas pemegang obligasi (bondholders) untuk melakukan restrukturisasi surat utang senilai US$ 375 juta.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI menyatakan, Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) yang digelar di Singapura, Jumat (22/8) hari ini, dihadiri sekitar 87% bondholders.

Jumlah ini sudah memenuhi persyaratan kuorum kehadiran dalam RUPO har ini yang dipatok 66,7% dari seluruh jumlah pemegang obligasi. “(Proposal restrukturisasi) hampir disetujui secara bulat, yaitu oleh sekitar 98% dari bondholder yang hadir (dalam RUPO),” kata Dileep kepada KONTAN, Jumat (22/8).

Untuk memuluskan proposal restrukturisasi itu, BUMI disyaratkan meraih kuorum pernyataan setuju minimal 75% dari seluruh bondholders yang hadir RUPO. Dileep bilang, BUMI sedang menyiapkan pengumuman lebih detail mengenai hasil RUPO tadi siang.

Seperti diketahui, melalui permohonan restrukturisasi itu, BUMI ingin memperpanjang jatuh tempo obligasi dari 5 Agustus 2014 menjadi 7 April 2018. BUMI juga meminta perubahan harga konversi obligasi dari Rp 3.366,9 menjadi Rp 250 per saham.

Sementara tingkat bunga obligasi setelah restrukturisasi diminta BUMI turun menjadi 6% per tahun dari sebelumnya yang Rp 9,25% per tahun.

 

Editor: Sanny Cicilia

kontan JAKARTA. Ketidakmampuan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membayar nilai pokok obligasi konversi senilai US$ 375 juta dinilai negatif oleh lembaga pemeringkat tersohor dunia, Standard & Poor’s CreditWire (S&P).

Peringkat (rating) utang jangka panjang emiten batubara Grup Bakrie itu dipangkas S&P dari “CC” menjadi “SD” alias Selective Default. Di saat bersamaan, S&P juga memangkas ASEAN regional scale rating BUMI dari “axCC” menjadi “SD”.
Vishal Kulkarni, Analis S&P mengatakan, berdasarkan kriteria lembaga pemeringkat itu, kegagalan BUMI melunasi pokok obligasi tepat pada jatuh tempo, yaitu 5 Agustus 2014, dianggap sebagai gagal bayar (default).
Terlebih, BUMI juga tidak mampu melunasi pokok obligasi yang senilai US$ 375 juta itu hingga berakhirnya masa tenggang (grace periode) pada 12 Agustus 2014 kemarin. S&P juga menempatkan rating “CCC-” atas senior secured notes BUMI ke dalam CreditWatch dengan implikasi negatif.
S&P menilai kegagalan melunasi obligasi konversi dapat memicu cross-default surat utang BUMI lainnya. “Dengan skenario tersebut, kami akan memangkas rating BUMI dan obligasi yang diterbitkannya menjadi “D” alias “Default”,” tulis Kulkarni dalam keterangan resmi, Rabu (13/8).
Kendati begitu, S&P tetap menunggu proses restrukturisasi obligasi konversi yang sedang diajukan BUMI.
Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI menyatakan, pihaknya telah mencapai kesepakatan secara prinsip dengan perwakilan pemegang obligasi (bondholders) untuk memperpanjang tenor surat utang konversi menjadi 7 April 2018.
BUMI tentunya tetap harus menggelar Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) pada tanggal 22 Agustus untuk mendapatkan restu dari bondholders lainnya. Adapun, ketentuan kuorum kehadiran yang disyaratkan adalah 66,7% dari seluruh jumlah pemegang obligasi.
Sedangkan, syarat kuorum pernyataan setuju adalah sebesar 75%. Kulkarni bilang, S&P berencana mendongkrak (upgrade) lagi rating utang BUMI ketika restrukturisasi obligasi konversi selesai dilaksanakan.
Tapi, syaratnya, utang-utang lain yang dimiliki BUMI tidak berstatus default. “Jika utang-utang BUMI lainnya ada yang berstatus default,” kami akami memangkas rating BUMI menjadi “D” (Default),” terang Kulkarni.
Editor: Barratut Taqiyyah

 

kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengklaim telah memenuhi kewajibannya untuk membayar bunga obligasi konversi sesuai dengan janji yaitu pada Selasa (12/8). “(Bunga obligasi) sudah dibayar secara tunai,” kata Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI kepada KONTAN, Selasa (12/8).

Namun, Dileep menolak membeberkan nilai bunga obligasi yang dibayarkan BUMI. Sekedar gambaran, per 30 Juni 2014, beban bunga yang dibayarkan atas obligasi konversi itu tercatat senilai US$ 17,34 juta. Jumlah itu lebih tinggi dari beban bunga atas obligasi konversi di semester I tahun lalu yang senilai US$ 14,97 juta.

Dalam keterbukaan informasi yang dirilis Senin (11/8) kemarin, BUMI memang mengemukakan rencana untuk membayar bunga obligasi konversi tersebut pada Selasa (12/8) hari ini. Janji ini dikemukakan di saat BUMI sedang dalam proses untuk merestrukturisasi obligasi bernilai pokok US$ 375 juta itu.

Ada tiga perubahan klausul yang diminta BUMI melalui restrukturisasi itu, pertama, jatuh tempo obligasi konversi diperpanjang dari 12 Agustus 2014 hingga 7 April 2018. BUMI juga meminta penurunan bunga obligasi dari 9,25% menjadi 6% per tahun.

Terakhir, BUMI meminta perubahan harga konversi obligasi yang diterbitkan anak usahanya, Enercoal Resources Pte. Ltd. Awalnya, obligasi itu dapat dikonversi menjadi saham biasa BUMI senilai Rp 3.366,9 per saham. Nah, BUMI meminta harga konversi diturunkan jadi hanya Rp 250 per saham saja.

Wajar saja, harga saham BUMI terus terjungkal sejak kisruh antara Grup Bakrie dengan Nathaniel Rothschild di Asia Resources Minerals Plc, mantan induk usaha emiten batubara itu. Pada Selasa (12/8), harga BUMI ditutup naik 2,2% ke level Rp 186 per saham.

BUMI berencana menggelar Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) pada 22 Agustus 2014 untuk meminta persetujuan restrukturisasi tersebut. “Kami optimistis akan mendapatkan restu dalam RUPO pada 22 Agustus nanti,” terang Dileep.

Obligasi konversi tersebut diterbitkan Enercoal pada 5 Agustus 2009 di Singapura. Credit Suisse (Singapura) bertindak sebagai Placement Agent tunggal emisi obligasi itu. BUMI menggunakan dana hasil obligasi untuk mendanai equity swap sebesar US$ 115 juta, premi atas transaksi Capped Call senilai Us$ 51,28 juta, dan sisanya untuk keperluan umum perusahaan.

Obligasi itu sejatinya bisa dikonversi menjadi saham BUMI dalam periode empat puluh satu hari setelah tanggal penerbitan hingga sepuluh hari sebelum tanggal jatuh tempo yang semestinya pada 5 Agustus 2014 lalu.

Namun, BUMI tak memiliki dana yang cukup untuk melunasi obligasi itu tepat waktu. Pasalnya, posisi kas BUMI peer 30 Juni 2014 tercatat “hanya” US$ 48,67 juta. BUMI kemudian mengajukan permohonan restrukturisasi kepada para pemegang obligasi dalam RUPO pada 20 Juni 2014.

Sayangnya, RUPO tersebut gagal mencapai kuorum sehingga tidak bisa mengambil keputusan atas permohonan restrukturisasi. BUMI kemudian mendapatkan tambahan waktu jatuh tempo hingga Selasa (12/8) hari ini.

BUMI baru berencana menggelar RUPO kedua pada tanggal 22 Agustus mendatang. Kendati ada jeda antara waktu jatuh tempo dengan pelaksanaan RUPO, BUMI mengklaim bahwa segala wanprestasi atas pembayaran pokok obligasi akan dikesampingkan hingga diambilnya keputusan mengenai restrukturisasi tersebut.

Editor: Edy Can

kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI)  masih melakukan negosiasi dengan para pemegang obligasi senilai US$ 375 juta yang diterbitkan anak usahanya, Enercoal Resources Pte. Ltd. (Enercoal).

Obligasi tersebut seharusnya jatuh tempo besok, Selasa (5/8) ini. Namun, BUMI mengajukan surat permohonan untuk merestrukturisasi obligasi tersebut. BUMI mendapatkan tambahan tenggat waktu hingga 12 Agustus 2014 mendatang untuk meraih restu dari pemegang obligasi Enercoal.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, poin utama restrukturisasi tetaplah berkaitan dengan waktu jatuh tempo dan penurunan kupon obligasi Enercoal.

BUMI meminta waktu jatuh tempo diperpanjang dari 5 Agustus 2014 menjadi April 2018. Emiten batubara milik Grup Bakrie itu juga ingin menurunkan tingkat bunga obligasi dari klausul awal yang 9,25%.

“Perseroan saat ini dalam tahap pembicaraan, dan diharapkan bunga dapat dikurangi ke bawah 7%,” kata Dileep dalam jawaban kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (4/8).

Permohonan tersebut masih sama dengan proposal yang diajukan BUMI pada 5 Juni 2014. BUMI sebenarnya sudah sempat menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) pada 20 Juni 2014 lalu.

Namun, RUPO tersebut tidak bisa memberikan keputusan lantaran gagal memenuhi persyaratan kuorum. Restrukturisasi menjadi jalan satu-satunya BUMI untuk menghindari ancaman default.

Soalnya, melihat kondisi keuangan yang morat-marit, BUMI tentu sulit untuk melunasi obligasi tersebut sesuai tanggal jatuh tempo. Merujuk pada laporan keuangan per 30 Juni 2014, BUMI memang hanya memiliki kas senilai US$ 46,67 juta. Kondisi tersebut menjadikan BUMI sebagai emiten dengan likuiditas paling seret di Indonesia.

Editor: Sanny Cicilia

INILAHCOM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) per 30 Juni 2014 meraih pendapatan mencapai US$1,5 miliar dari US$1,8 miliar pada periode yang sama 2013.

Untuk beban penjualan turun menjadi US$1,2 miliar dari US$1,4 miliar. Dengan demikian laba bruto menjadi US$314,7 juta dari US$373,9 juta. Demikian mengutip keterangan resmi perseroan, Jumat (1/8/2014).

Untuk beban usaha mencapai US$203,7 juta dari US$232,2 juta. Jadi perseroan mencatat laba usaha menjadi US$110,9 juta dari US$141,6 juta.

Untuk laba sebelum pajak mencapai US$252,2 juta dari rugi sebelum pajak sebesar US$277,6 juta. Perseroan menanggung beban pajak penghasilan sebesar US$222,7 juta dari US$7,9 juta. Hasilnya, laba bersih perseroan menjadi US$130,09 juta dari rugi bersih US$269,7 juta.

Perseroan mencatat penurunan total liabilitas menjadi US$7 miliar dari US$7,3 miliar. Sementara untuk total aset perseroan menjadi US$6,7 miliar dari US$7 miliar.

 

Bumi Resources, the most indebted coal producer in Asia, is trying to sweeten its debt-exchange offer, sending a letter to holders of its $375 million bonds ahead of a repayment deadline next week.

The Jakarta-based coal-mining group, which risks default if it doesn’t pay on Aug. 5, is offering convertible bondholders new terms that include repaying the debt in April 2018, three years sooner than its initial June 5 proposal, which wasn’t successful at a creditors meeting June 20. It’s also considering splitting the 9.25 percent debt into convertible and straight debentures, and paying a coupon on the latter of 8.5 percent, according to the letter, a copy of which was obtained by Bloomberg News. The June 5 proposal was offering a revised 7 percent coupon.

The sweetened offer may help Bumi secure a default waiver as it seeks to manage $4.7 billion of short-term liabilities at the end of 2013. The June 20 bondholders meeting in Singapore to vote on the first note restructuring plan and waiver failed because it didn’t achieve a quorum. Two other companies linked to Indonesia’s Bakrie family have missed payments on $535 million of dollar bonds since March 2013.

Andrew Beckham, Bumi’s Jakarta-based chief financial officer, declined to comment on the new terms when contacted by e-mail and phone on Thursday. Dileep Srivastava, another company director, also declined to comment when contacted by e-mail.

Subject to discussion

Bumi has held talks with some bondholders about the new terms, according to the letter. They include an ad-hoc committee representing investors Nan Fung Investment Advisors and Vervain Income Investment, as well as funds managed by Pine River Capital Management and JPMorgan Chase.

No agreement has been reached, and the latest proposed terms are still subject to discussion and may be adjusted slightly again, people familiar with the matter said, asking not to be identified because the matter is private.

The convertible notes, sold by Bumi unit Enercoal Resources in 2009, gained 0.21 cent to 40 cents on the dollar in Hong Kong on Friday, according to Bloomberg-compiled prices. They returned 14.3 percent in July, ending a six-month slide, and are down 25.6 percent since Dec. 31.

Stock slide

Under the latest proposal, the $375 million of bonds would be split into two tranches, one of which would include amended economic and conversion features and the other of which would be restructured as straight debt, according to the letter. Both tranches would share in the common security package on equal basis with Bumi’s other senior secured creditors, who have already consented to such treatment, the letter said.

Tranche one would include $225 million of April 2018 debt paying a 6 percent coupon and convertible into Bumi shares at Rp 300 (3 cents) each after Aug. 5, 2015. Tranche two would comprise $150 million of April 2018, 8.5 percent straight debt, yielding 9.25 percent.

In the initial June 5 offer to bondholders, Bumi sought to exchange the existing 9.25 percent bonds with new 7 percent convertible notes due July 2021. The stock conversion price for them was to be cut to Rp 750 from Rp 3,366.9.

Bumi’s shares are down 37 percent this year. The stock last traded at Rp 189 July 25, after which markets in Indonesia closed for a week-long holiday. The Jakarta Composite Index is up 19 percent in 2014.

Benchmark coal prices in the Southeast Asian nation have fallen 9.8 percent this year to $72.45 a metric ton on July 31, extending a two-year slump to the lowest since November 2009.

Bumi, 29.2 percent-owned by the Bakrie group, warned in June that it’s “highly likely” to default if bondholders don’t consent to a restructuring. In December, Bakrie Telecom missed a coupon on $380 million of 2015 notes, while Bakrieland Development didn’t make a put option payment on $155 million of 2015 convertible debt in March 2013.

Bumi shareholders on June 30 passed a resolution allowing the company to raise Rp 8.05 trillion by Sept. 1 via the sale of 32.2 billion new shares at Rp 250 apiece, the company said on July 1.

Standard & Poor’s upgraded Bumi to CC from selective default on July 7, after the mining company completed a separate deal with creditors including China Investment Corporation. Bumi is still at risk of being downgraded because S&P deems the convertible bond restructuring as a distressed exchange, the ratings company said.

Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bumi Resources Tbk., perusahaan tambang batubara milik Grup Bakrie, pada semester I/2014 membukukan penurunan pendapatan 15,05% menjadi US$1,58 miliar dari semester I/2013 sebesar US$1,86 miliar.

Penjualan batu bara ekspor ke pihak ketiga merosot 20,78% menjadi US$1,22 miliar pada Januari-Juni 2014.

Emiten berkode BUMI itu pada semester I tahun ini membukukan laba bersih sebesar US$168,02 juta10,55 juta.

Sedangkan, pada periode sama tahun lalu, perseroan mencatatkan rugi selisih kurs sebesar US$25,2 juta.

Laporan keuangan per Juni 2014 yang terbit pada Jumat, (25/7), menyebut kelompok usaha saat ini dalam proses finalisasi strategi reorganisasi modal, termasuk potensi penjualan aset untuk memenuhi kewajibannya.

Editor : Saeno

Maret 16, 2015

maseh kaya lho (10 orang terkaya indon ) … 300510_160315

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 2:39 am

JAKARTA okezone – Sebagai kepala biro The Wall Street Journal di Jakarta selama lebih lebih dari sepuluh tahun, Rick Borsuk secara luas dipandang sebagai koresponden asing penting di Indonesia. Buku yang turut ditulis oleh istrinya, Nancy Chng, mengingatkan kita mengenai capaian itu.

Karya itu berisi kisah tentang Liem Sioe Liong, dikenal pula dengan nama Sudono Salim, yang pada 1938 merantau dari kampung halamannya di Cina bagian selatan ke Jawa tanpa uang sepeser pun. Dalam waktu kurang dari lima dasawarsa, kelompok usaha Salim Group menjadi konglomerasi bisnis terbesar di Asia Tenggara serta menghasilkan pelbagai barang dan jasa. Jaringan bisnisnya mencakup pabrik pembuatan tepung dan mi terbesar dunia, selain perbankan, petrokimia, agrobisnis, real estate, pengapalan, dan lain-lain.

Kedua pengarang menggambarkan Liem sebagai pria yang memiliki naluri bisnis tajam, kehendak untuk menempuh risiko, dan kemampuan meramalkan tren usaha serta memilih rekan. Ia tak henti bekerja keras dan terhubung dengan banyak pemain usaha etnis Cina di Asia Tenggara. Ia pun dikenal sebagai cukong utama Presiden Suharto. Dengan hati-hati, para penulis buku menghindari stereotip. Mereka menekankan jelasnya kecocokan antara Liem dan Suharto, termasuk kepercayaan dan kepedulian yang terbangun selama berpuluh-puluh tahun. Kedua penulis juga menunjukkan bagaimana Salim Group berhasil selamat dari krisis ekonomi dan politik serius pada 1997-1999 dan, setelah Liem meninggal pada 2012, bagaimana generasi kedua kini meneruskan kemakmuran yang diwariskan ayahnya dalam iklim politik yang sama sekali berbeda dari zaman Suharto.

Bab-bab awal buku menelusuri kebangkitan Liem dari dekade akhir 1930-an hingga pertengahan 1960-an. Kisah ini cukup dikenal luas, namun para penulis buku berhasil mendapatkan materi yang lebih orisinal. Kala itu, hubungan pokok Liem terpusat pada Suharto, yang kala itu seorang figur penting tentara pada periode revolusi fisik 1940-an. Liem bersimpati dengan gerakan merebut kemerdekaan, dan ia menjadi pemasok tepercaya urusan kebutuhan harian Suharto dan pasukannya.

Ketika Suharto naik ke tahta kepresidenan, Liem adalah satu dari sedikit pengusaha yang ia kenal dan percaya. Kekompakan keduanya tidak terpatahkan, hal yang membuat mereka menguasai lanskap usaha Indonesia dalam tiga dasawarsa. Liem mendapatkan prioritas usaha dan izin impor serta akses khusus ke lembaga keuangan milik negara. Sebagai ganti, Suharto meminta dua hal: pembangunan basis industri modern, dan percikan laba, yang kemudian disalurkan ke sejumlah yayasan milik Suharto. Dana itu itu kelak dialokasikan untuk menopang basis politis sang presiden.

Kesepakatan itu berjalan baik. Mereka berhasil selamat dari periode protes anti-Cina, kecaman pedas dari para loyalis Suharto, dan bahkan munculnya kepentingan bisnis anak-anak Suharto mulai pertengahan 1980-an.

Ketika Suharto akhirnya dilengserkan dari kursi presiden pada Mei 1998, dibarengi ambruknya perekonomian Indonesia, semua pihak yang dekat dengannya disinyalir akan tumbang. Liem, saat itu baru menginjak usia awal 80 tahunan, menjadi target utama. Rumahnya dilabrak massa dan ia terpaksa terbang ke Singapura. Sebagian besar imperium bisnis Liem roboh. Namun, Salim Group segera bangkit dengan digawangi Liem dan putranya, Anthony. Kini, kelompok itu kembali menjadi konglomerasi bisnis Indonesia yang unggul dan memiliki beragam usaha. Dalam daftar terbaru orang terkaya Indonesia oleh Forbes, keluarga Salim menduduki peringkat ketiga dengan jumlah kekayaan bersih USD5,9 miliar.

Buku ini ditulis dengan sedemikian rupa sehingga siapapun akan terbetot untuk membacanya. Meski demikian, dengan tebal 600 halaman, kedua pengarang sebetulnya bisa saja meringkas beberapa bagian untuk memperkaya analisis. Contohnya, sebagai negara berpenghasilan menengah-bawah, wajar jika Indonesia tidak mencatat prestasi gemilang dalam indikator korupsi atau kelembagaan dan semacamnya. Namun, terdapat tiga hal yang patut disorot: perekonomiannya tumbuh lebih pesat dari negara lain dalam setengah abad belakangan; peralihan kekuasaan yang berlangsung tiba-tiba namun sukses, dari kekuasaan otoriter ke pemerintahan demokratis pada 1998-99, serta berlanjutnya dominasi usaha etnis minoritas Cina yang jumlahnya mencapai 3 persen dari total penduduk. Perbandingan dengan negara lain yang juga berkembang di bawah dominasi kelompok bisnis seperti Korea Selatan (dengan chaebol) dan Jepang (keiretsu) akan membantu.

Perdebatan pun meruap: apakah figur dunia usaha itu pemburu rente atau kapitalis sejati?

Namun, kesemua itu remeh-temeh. Buku itu adalah sejarah bisnis dan politik dalam bentuk terbaiknya: kajian dengan kedalaman luar biasa. (Oleh Hal Hill)

Minggu, 30/05/2010 21:40 WIB
Bos Djarum dan BCA Masih Terkaya se-Indonesia
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Pemilik perusahaan rokok Djarum dan juga BCA, Budi Hartono masih menempati peringkat pertama orang terkaya di Indonesia versi majalah GlobeAsia. Nilai kekayaan Budi Hartono juga meningkat pesat, bersama dengan para milyarder Indonesia lainnya.

Majalah Globe Asia melansir, nilai kekayaan para taipan-taipan tersebut meningkat seiring membaiknya pasar modal dan juga pertumbuhan ekonomi Indonesia setelah sempat terkena dampak krisis.

“Dengan melihat fakta bahwa kekayaan para jutawan tersebut terkunci pada sumber daya alam, maka sekarang ini telah menjadi waktu yang menyenangkan bagi para pebisnis. Dan daftar 150 orang terkaya GlobeAsia membuktikan, kekayaan telah tercipta dengan cepat,” ujar Tanri Abeng, publisher Globe Asia.

Total kekayaan 150 jutawan dalam daftar GlobeAsia mencapai US$ 61,5 miliar pada tahun 2010 ini, atau berarti meningkat 22% dibandingkan tahun 2009. Kenaikan nilai kekayaan itu terutama karena berbagai faktor seperti penguatan nilai tukar rupiah, kenaikan IHSG hingga 60% dan kuatnya harga komoditas.

Berikut daftar 10 orang terkaya Indonesia versi GlobeAsia, seperti dikutip dari siaran persnya, Minggu (30/5/2010).

Budi Hartono US$ 4,8 miliar
Eka Tjipta Wijaya US$ 4 miliar
Anthony Salim US$ 3,6 miliar
Aburizal Bakrie US$ 3 miliar
Martua Sitorus US$ 2,5 miliar
Putra Sampoerna US$ 2,4 miliar
Sukanto Tanato US$ 1,8 miliar
Dato Low Tuck Kwong US$ 1,4 miliar.
Peter Sondakh US$ 1,3 billion
Eddy William Katuari US$ 1,3 billion.

Daftar ini berarti hanya sedikit berbeda dari daftar yang dirilis majalah Forbes akhir 2009 lalu yakni:

R. Budi & Michael Hartono US$ 7 miliar
Martua Sitorus US$ 3 miliar
Susilo Wonowidjojo US$ 2,6 miliar
Aburizal Bakrie US$ 2,5 miliar
Eka Tjipta Widjaja U$S 2,4 miliar
Peter Sondakh US$ 2,1 miliar
Putera Sampoerna US$ 2 miliar
Sukanto Tanoto US$ 1,9 miliar
Anthoni Salim US$ 1,4 miliar
Soegiharto Sosrodjojo US$ 1,2 miliar.

(qom/qom)

The year of super deals

Written by Administrator
Thursday, 27 May 2010 05:57
A roaring stock market and easy access to credit have helped raise the net worth of the country’s super-rich to new highs. This trend will likely continue as the creation of wealth in Indonesia now takes on a new dimension.

A year can make a huge difference in the life of a corporate owner, especially when markets are booming and the economy is growing. Opportunities abound and deal flows pick up as business owners seek ways to expand and unlock value.

Over the past 12 months, a perfect confluence of factors has produced conditions for wealth creation that may be unprecedented. The Indonesian rupiah has strengthened by nearly 10% while the stock market has risen by more than 60% and commodity prices have remained strong.

The Indonesian stock market has been one of the best performers in the region, boosted by strong commodity prices and inflowing foreign funds. The Indonesian Stock Exchange Composite Index (ICI) rose from 1,751 on May 15, 2009, to 2,800 this year. It reached a high of 2,971 at the end of April.

Given that much of Indonesia’s wealth is locked in its natural resources, it has been an exciting time for business owners. As GlobeAsia’s 150 Richest Indonesians list proves, wealth is being created at a rapid pace.

The total net worth of the 150 rose to $61.5 billion this year, a 22% increase over 2009. Wealth was created both from the rising stock market as well as the fast-expanding economy.

“The fundamentals of Indonesia have never looked so good,” notes Rajiv Louis, executive director of investment banking at UBS Indonesia. “There was exuberance for Indonesia in the 1990s but at that time the fundamentals were very different.”

Today’s Indonesia enjoys macro-economic and political stability, strong micro-level corporate growth and healthy balance sheets. Plus, of course, there is a lot of liquidity in the banking sector, which escaped relatively unscathed from the 2008 global financial crisis.

“There is sufficient liquidity around and people are getting good access to money,” says Rajiv. “Interest rates are also no longer prohibitive to prevent people from doing deals.”

As a result, business owners are positioning themselves to take advantage of the conditions. Corporate players such as Aburizal Bakrie and Chairul Tanjung are expanding their businesses at a rapid rate by either borrowing or listing their companies to raise cash as they seek to enlarge their presence in the domestic market.

Bakrie, for example, is looking to raise some $600 million this year by listing Bumi Minerals while Chairul, who owns the Para Group, recently acquired a 40% stake in French retailer Carrefour for between $300 million and $400 million. He funded his acquisition by borrowing from four international heavyweight banks such as Credit Suisse, Citibank, JP Morgan and ING.

Access to funds is key
Chairul is only of the many tycoons who has borrowed heavily to grow his business. In fact, say market analysts and investment banks, the ability to access cheap funds has become a major competitive advantage for Indonesian business owners.

“Access to funding is quite well spread among the top 40 business owners in the country,” says Lin Che Wei, founder of Independent Research Indonesia. “Its an equal playing field but some people are able to borrow more cheaply than others and that makes a big difference.”

He adds that most deals with good rates of return have been snapped up so, looking ahead, an ability to borrow cheaply will determine how profitable an acquisition will be. Business owners who have a good reputation in the market can therefore command much more competitive borrowing rates compared with people who have defaulted on loans in the past.

Apart from just borrowing cheaply, the creation of complex financing structures is also becoming increasingly important. As Indonesia’s capital markets expand, business owners must also become more financially savvy and those who can grasp the complexities will get a head start.

“Capitals markets are now critical to wealth creation and more businesspeople are realizing this,” notes a senior banker. “Today, having a solid business is no longer enough, as you have to know how to unlock the value of your asset.”

He estimates that new listing this year will total $5 billion, raising the market capitalization of the stock market to around $260 billion. “If the index continues to rise, we might see values rising too and wealth growing in tandem.”

Competition for the country’s wealth will only grow keener in the coming years as more business players fight for control over natural resources. Most of the wealth created over the past few years has been in financial services, natural resources and consumer retail. This trend is expected to continue as it plays on Indonesia’s comparative strengths.

“This will be a good year for wealth creation,” says Rajiv from UBS. “But it is too early to tell if it will be stellar.”

Januari 4, 2015

2014 in review

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 1:09 pm

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 17.000 kali di 2014. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 6 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Desember 8, 2014

TIMBUNAN DO$A bumi … 081214

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:47 am

belajar MEMAHAMI FLDTT lage neh :), + bukti2nya

TEMPO.CO, Jakarta – Senior analis dari LBP Enterprise, Lucky Bayu Purnomo, mengatakan nama Aburizal Bakrie masih mempengaruhi harga saham perusahaan yang ia miliki. “Nama besar Bakrie berpengaruh 20 persen,” katanya saat dihubungi, Kamis, 4 Desember 2014. (Baca: Awas, Saham Bumi Bisa Masuk Kelompok Gocap)

Faktor lainnya adalah pengaruh kinerja perusahaan. Lucky mengatakan, selama tiga tahun terakhir, saham Bakrie Group sudah tak bergerak dari harga Rp 50 per lembar. (Baca: Gagal Bayar, Saham Bumi Dihindari Investor)

Padahal, kata dia, yang diminati oleh pelaku pasar adalah margin dan dividen yang menarik. Bakrie Group tak mampu menawarkan keduanya. “Jadi tak ada yang bisa diharapkan,” ujarnya.

Saham gocap merupakan istilah yang biasa digunakan di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk saham yang nilainya Rp 50 per lembar. Saham ini biasanya sudah tidak likuid dan jarang sekali bergerak.

Sejumlah perusahaan yang bernaung di bawah bendera Bakrie Group sudah masuk dalam kategori saham gocap ini, di antaranya Bakrie Sumatra Plantation (UNSP), Darma Henwa (DEWA), Bakrieland Development (ELTY), dan Bakrie Brothers (BNBR). Bukan tak mungkin, menurut Lucky, saham perusahaan pertambangan Bakrie, yaitu PT Bumi Resources Tbk, juga masuk dalam kategori saham gocap.

Saat ini Bumi Resources sedang dililit utang dalam jumlah jumbo. Hingga September 2014, jumlah utangnya mencapai US$ 3,73 miliar atau sekitar Rp 44,77 triliun. Utang terbesar berasal dari Country Forest Limited Facility sebesar US$ 1,03 miliar, yang merupakan lembaga keuangan milik China Investment Corporation (CIC).

Direktur Keuangan BUMI Andrew Christopher Beckham mengatakan, pada awalnya, utang kepada CIC mencapai US$ 1,9 miliar dengan tingkat bunga tetap 12 persen. Namun, pada tahun 2013 dan 2014, perseroan telah membayar ‎masing-masing US$ 600 juta. “Tahun depan akan dibayar US$ 700 juta,” kata Andrew saat konferensi pers di Jakarta, Rabu, 26 November 2014.

TRI ARTINING PUTRI

Bisnis.com, JAKARTASetelah menurunkan peringkat obligasi PT Bumi Resources Tbk. senilai US$700 juta yang jatuh tempo pada 2017 menjadi D, Standard & Poors Rating Services kembali melakukan hal yang sama terhadap obligasi Bumi senilai US$300 juta.

Standard & Poors Rating Services (S&P) menurunkan peringkat obligasi dengan jatuh tempo pada 2016 yang dikeluarkan anak usaha BUMI, Bumi Capital Pte. Ltd., itu dari CCC- menjadi D. Sementara itu, peringkat obligasi senilai US$700 juta tidak berubah.

Dalam laporannya yang dirilis Selasa, (2/12/2014), S&P juga menurunkan peringkat Bumi Resources (BUMI) untuk skala Asean dari SD menjadi D.

Kami menurunkan peringkat Bumi Resources menjadi D karena kami tidak yakin perusahaan tersebut akan membayar kewajiban utangnya setidaknya dalam enam bulan, tulis analis kredit S&P Vishal Kulkarni dalam laporan tersebut.

Lepasnya kewajiban BUMI membayar utang selama enam bulan dikarenakan emiten Grup Bakrie tersebut mendapatkan moratorium untuk merestrukturisasi utangnya yang diajukan tiga anak usahanya di Singapura.

Dengan adanya moratorium tersebut, maka kami yakin BUMI tidak akan membayar bunga obligasi senilai US$300 dolar yang masa tenggangnya akan berakhir 10 Desember 2014, katanya.

Kulkarni melanjutkan, pihaknya akan meninjau kembali peringkat tersebut setelah proses restrukturisasi selesai sekaligus mempertimbangkan prospek usaha perseroan.

Editor : Saeno

 

NERACA

Jakarta– Berbagai macam cara di lakukan manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk memulihkan kepercayaan investor sebagai pemegang saham untuk meningkatkan likuiditas, kali ini perseroan fokus mengurangi beban utang dengan cara menjual 50% saham PT Fajar Bumi Sakti (FBS), perusahaan tambang batu bara di Kalimantan Timur.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, disebutkan, sesuai rencana, dana hasil penjualan akan digunakan untuk melunasi utang sebesar US$ 130 juta. Manajemen Bumi Resources mengungkapkan, saham Fajar Bumi akan dialihkan kepada Jainson Holding Hong Kong Limited. Pengalihan saham akan dilakukan melalui Bumi Resources Investment dan Leap Forward Resources Limited.

Dijelaskan, perseroan telah meneken perjanjian jual beli bersyarat (conditional sale and purchase agreement/CSPA). Perjanjian tersebut memiliki long stop date selama enam bulan untuk menyelesaikan proses transaksi. Fajar Bumi tercatat memiliki konsesi seluas 8.250 hektare (ha) ha dengan total cadangan batu bara sebesar 335 juta ton. Perseroan mengelola dua area tambang, yakni Loa Lulung dan Tabang.

Aksi penjualan aset tersebut merupakan bagian dari komitmen perseroan untuk merestrukturisasi utang. Aksi ini juga dilakukan guna mengurangi beban bunga dan memperkuat struktur keuangan perseroan. Saat ini, perusahaan yang dikendalikan keluarga Bakrie itu tengah berkutat membayar utang senilai total US$ 2 miliar. Perseroan pun melakukan sejumlah aksi korporasi guna mendapatkan dana

 

http://www.neraca.co.id/bursa-saham/47829/Lunasi-Utang-BUMI-Jual-Saham-Fajar-Bumi
Sumber : NERACA.CO.ID

JAKARTA kontan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memasang mata dengan seksama terhadap kesulitan yang dialami Grup Bakrie dalam menyelesaikan utang obligasinya. Bahkan, ancaman default kerap menyerang.

“Secara keseluruhan, kami melakukan pengawasan, kalau OJK butuh klarifikasi lebih lanjut, kami akan panggil,” ujar Nurhaida, Kepala bidang Pengawasan Pasar Modal OJK, Jumat (21/11).

Saat ini, lanjut dia, yang terpenting manajemen Grup Bakrie harus melakukan keterbukaan infromasi mengenai kesulitan keuangan yang melanda. Pihaknya selalu mengawasi lebih detil mengenai profil utang Grup Bakrie, sehingga pada saat jatuh tempo atau mendekati default, perseroan sudah menyiapkan langkah penanganan.

Belum lama ini, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melakukan penundaan pembayaran bunga obligasi yang seharusnya dilakukan Oktober 2014.  surat utang yang dimaksud adalah Guaranteed Senior Secured Notes II. Obligasi ini memberikan bunga 10,75% per tahun yang dibayar setiap enam bulan, yaitu pada bulan April dan Oktober.

Nilai pokok obligasi yang diterbitkan pada 30 September 2010 ini sebesar US$ 700 juta. Berarti, bunga yang harusnya dibayar senilai US$ 73,5 juta. Sebelumnya, BUMI terlilit utang bunga obligasi yang diterbitkan Enercoal Resources Pte.Ltd senilai US$ 375 juta. Awalnya, bunga obligasi konvesi ini dibanderol 9,25% per tahun. Adapun, harga konversi ditetapkan Rp 3.366,90 per saham.

Masa berlaku obligasi ini habis pada 5 Agustus 2014. Namun, akhirnya BUMI mendapat restu dari kreditur untuk melakukan restrukturisasi. Bunga obligasi diturunkan menjadi 6% per tahun dan harga konversi turun menjadi hanya Rp 250 per saham. Masa jatuh tempo pun diperpanjang menjadi 7 April 2018.

Sebelum itu, BUMI sempat terancam gagal bayar lantaran tidak bisa membayar bunga obligasi yang harusnya dibayar 12 Mei 2014. Namun, BUMI diberi tenggang waktu hingga 11 Juni 2014 untuk menyelesaikannya. Bunga obligasi ini datang dari surat utang terbitan Bumi Capital Pte. Ltd.

Total nilai pokok obligasi itu mencapai US$ 300 juta dan memiliki bunga 12% per tahun. Selain BUMI, perusahaan Grup Bakrie lain, yakni PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) juag kerap dilanda kesulitaan membayar utang.

Belum lama ini, emiten halo-halo tersebut mendapat gugatan atas permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)  PT Netwave Multi Media. Selain itu, BTEL ttelah menunggak pembayaran cicilan bunga sejak 7 November 2013.

BTEL telah mangkir terhadap kewajiban pembayaran bunga dua kali. Pada 7 November 2013 dan 7 Mei 2014. Posisi pemegang obligasi terbagi dalam dua kubu. Kubu pertama ada steering committee terdiri dari empat kelompok pemegang obligasi.

Steering committee yang dibentuk pada Oktober 2013 merupakan pemegang obligasi yang sepakat adanya reprofiling utang. Kubu ke dua ada pihak pemegang obligasi yang  yang menamakan diri Ad Hoc Committee.

Mereka menempuh jalur hukum karena yakin BTEL akan tetap mangkir membayar. Mereka memasukkan gugatan ke pengadilan New York pada 22 September lalu.

Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menyiapkan untuk melepas aset guna mendapat dana segar. Kali ini, aset yang akan dijual adalah PT Fajar Bumi Sakti (FBS).

Dileep Srivastava, Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, pihaknya telah meneken perjanjian jual beli saham bersyarat (CSPA) dengan Jainson Holding Hong Kong Limited atas 50% saham FBS.

CSPA dilakukan melalui kendaraan investasi BUMI, yakni Bumi Resources Investment dan Leap Forward Resources Limited. CSPA ini memiliiki batas akhir pemenuhan syarat transaksi selama enam bulan. Hal ini termasuk hasil uji tuntas (due diligence) dan pemenuhan kriteria dari aspek legal.

“Hasil penjualan transaksi ini diharapkan diharapkan bisa mengurangi utang perusahaan sebesar US$ 130 juta,” ujar Dileep dalam pernyataan resminya.

Editor: Sanny Cicilia

 

Jakarta detik -PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih mencari cara untuk melunasi utang-utangnya. Berbagai cara sudah dilakukan, mulai dari refinancing sampai menerbitkan saham baru.

Sebenarnya berapa jumlah utang salah satu perusahaan Grup Bakrie itu? Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava menyampaikan rinciannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah dikabarkan kembali telat membayar bunga salah satu utangnya.

Dalam laporannya yang dikutip detikFinance, Kamis (16/10/2014), total utang yang tercatat mencapai US$ 3,161 miliar atau jika dikalikan kurs dolar AS sebesar Rp 12.000 maka utangnya sebesar Rp 37,932 triliun.

Mengenai status pelunasan semua utang ini, perusahaan mengaku sudah mengirimkan proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien. Perseroan juga sedang dalam pembicaraan dengan para kreditur.

Berikut ini rincian utangnya:
– Country Forest Limited 2009
Fasilitas Commitment B senilai US$ 337 jatuh tempo 18 September 2014
Fasilitas Commitment C senilai US$ 700 jatuh tempo 18 September 2015

Utang ini sedang dalam proses restrukturisasi. Dengan telah dialihkannya 19% saham KPC atau setara US$ 950 juta jumlah kewajiban perseroan berkurang menjadi US$ 1,037 juta.

Sedangkan sisa utang selanjutnya akan berkurang setelah pengalihan saham BRMS sebesar 42% atau setara US$ 257 juta dan pengalihan saham senilai US$ 150 juta melalui proses rights issue BUMI selesai dilakukan

 

– Guaranted Senior Secured Notes II senilai US$ 700 juta
Jatuh tempo utang ini 6 Oktober 2017. Perseroan akan melunasi pembayaran semi annual coupon dalam masa tenggang (cure period) selama 30 hari.

– Guaranted Senior Secured Notes senilai US$ 300 juta
Jatuh tempo utang ini 10 November 2016.

– Fasilitas Axis Bank Limited 2011 senilai US$ 140 juta
Tanggal akhir jatuh tempo pembayaran pokok pada 4 Agustus 2016. Proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien saat ini sedang dalam pembicaraan dengan kreditur.

– Fasilitas Credit Suisse 2010-2 senilai US$ 117,5 juta
Utang ini jatuh tempo November 2014. Proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien saat ini sedang dalam pembicaraan dengan kreditur.

– Fasilitas Deutsche Bank 2011 senilai US$ 54 juta
Jatuh tempo utang ini November 2014. Proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien saat ini sedang dalam pembicaraan dengan kreditur.

– Fasilitas China Development Bank senilai US$ 600 juta
Utang ini jatuh tempo 6 Februari 2016. Proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien saat ini sedang dalam pembicaraan dengan kreditur.

– Fasilitas UBS AG 201-1 senilai US$ 62,5 juta
Jatuh tempo utang ini 1 April 2015. Proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien saat ini sedang dalam pembicaraan dengan kreditur.

– Fasilitas Castleford Investment Holdings Ltd 2013 senilai US$ 150 juta
Jatuh tempo utangnya 14 November 2014. Sudah dilunasi melalui mekanisme Rights Issue

Juli 21, 2014

BERSUKACITALAH, welcome new era, new President of NKRI #7

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 7:39 am

Jakarta – KPU akan mengumumkan hasil Pilpres 2014 esok hari. Kedua kubu pasangan capres/cawapres diminta untuk berbesar hati menerima apapun keputusan tersebut.

Pengumuman hasil Pilpres ini akan dilakukan KPU pada Selasa (22/7/20174). Para pasangan capres dan cawapres juga menjamin tak ada mobilisasi massa untuk mengurangi gesekan antar pendukung yang dapat menyebabkkan chaos.

Beberapa petinggi lembaga negara pun angkat bicara mengimbau agar tanggal 22 Juli esok akan terlaksana dengan baik dan yang kalah dapat legowo.

Bahkan presiden SBY menekankan pentingnya menjalin silaturahmi demi keutuhan bangsa. Berikut tokoh-tokoh yang menyerukan deklarasi damai esok hari.

1
2 Kapolri dan Panglima

Kapolri Jenderal Sutarman menyiapkan keamanan berlapis di gedung KPU, Jalan Imam Bonjol untuk penguman hasil Pilpres esok. Ia mempersilahkan masyarakat untuk mengikuti serta memonitor seluruh proses KPU, tetapi tidak perlu sampai memprovokasi, lewat media apapun. “Kepada semua pendukung tidak perlu mengerahkan massa ke KPU. Siapapun yang terpilih mari didukung,” kata Sutarman di balai Kartini, Minggu (20/7/2014).

Dalam kesempatan yang sama, Panglima TNI Moeldoko juga berjanji akan memberikan kekuatan penuh kepada kepolisian. “Saya mengimbau masyarakat beraktivitas seperti biasa, tidak perlu takut. Jangan ada pengerahan massa ke KPU,” ujar Moeldoko.

Meski begitu, Sutarman mengatakan daerah yang berpotensi rawan adalah Jakarta. “Sementara itu, untuk di daerah-daerah semoga tidak terjadi. Kalau satu daerah mulai (rusuh), biasanya menular ke daerah lainnya,” ujar Sutarman mengakhiri pembicaraan.

Presiden SBY

Dalam sambutannya di acara buka puasa bersama kedua capres/cawapres, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membahas pentingnya menjaga keutuhan bangsa. Menurutnya di tengah situasi politik yang memanas, rakyat sangat menyenangkan melihat para pemimpin dan calon pemimpin saling bersilaturahmi.

“Silaturahim ini diantara pemimpin dan semua yang sedang mengemban amanah adalah hal yang baik, rakyat menyukai karena kebersamaan ini menciptakan suasana teduh mana kala suhu politik menghangat atau sedang meningkat,” ucap SBY saat buka puasa di Istana Negara, Jalan Veteran, Jakpus,

Ia mencontohkan rakyat Ukraina dan Gaza yang menjadi hancur karena konflik. Lebih dari itu, SBY bahkan membacakan salah satu hadis yang menekankan pentingnya bersilaturahmi. Ia pun mengucap terimakasih pada seluruh elemen masyarajat dan penyelenggara pemilu yang sudah melaksankan rangkaian pemilu 2014 dengan baik.

“Saya ucapkan terima kasih kepada para peserta pileg, pasangan capres cawapres, yang juga telah berpartisipasi. Tentu belum rampung , ini masih babak akhir, sekali lagi tanggal 20 Oktober nanti saya bisa mengakhiri tugas saya sebagai presiden ke-6 dengan harapan ini bisa membaik, kita menyambut pemimpin yang baru,” ucapnya.

“Seperti yang disampaikan penceramah bapak Ahmad Yani Basuki, bahwa suksesi kepemimpinan adalah sebuah keniscayaan, yang harus kita terima dengan lapang dada, suka cita, kita pastikan siapapun yang memimpin di masa depan akan kita bantu, kita suskseskan,” ujar SBY.
Dahlan Iskan

Menteri BUMN yang juga pendukung Jokowi-JK berharap akhir proses pemilu 2014 ini berjalan damai. Tak ada perseteruan dari kedua pasangan capres karena tak menerima keputusan KPU. Banyaknya real count yang menyebutkan pasangan Jokowi-JK sebagai pemenang, ia pun meminta agar pasangan Prabowo-Hatta dapat legowo menerima keputusan KPU.

Dia menyebut permintaan tim Prabowo-Hatta agar KPU menunda rekapitulasi suara tidak beralasan. Karena itu sikap legowo sangat diharapkan dari pasangan capres/cawapres yang kalah.

“Rakyat sangat merindukan pemimpin, negarawan yang sangat legowo, yang mengatakan selamat pada pemenang. Saya mengakui Pak Jokowi lebih unggul kali ini,” sambungnya.
Sultan HB X

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X mengharapkan semua pihak mengendalikan diri dan menerima apapun hasil pemilu presiden (Pilpres) pada 22 Juli. Sultan juga meminta agar tidak ada euforia berlebihan saat merayakan kemenangan nantinya.

“Harapan saya semua tetap aman dan nyaman, semua pihak mengendalikan diri. Jangan ada euforia berlebihanlah”, ujar Sultan di sela-sela menghadiri HUT Kabupaten Bantul ke 183 di Lapangan Trirenggo Bantul, Minggu (20/07/2014).

Menurutnya, meski hasil pilpres sudah mulai bisa terbaca berdasarkan data terkini KPU, para pihak dan masyarakat diharapkan tetap menunggu hingga keputusan resmi diumumkan KPU.

“Hasilnya kan bukan karena Quick Count. Tunggu saja keputusan KPU. Saya hanya berharap, apapun hasil pilpres nantinya, semua pihak harus menerima karena itu adalah keputusan rakyat”, tambahnya.

Dalam kesempatan ini Sultan mengimbau kedua belah kubu tidak melakukan tindakan yang justru membuat resah masyarakat.

“Isu itu kan bukan fakta. Jadi jangan sampai dijadikan fakta yang dapat menimbulkan kepanikan dan keresanan. Yang penting itu tidak ada tindakan yang bisa menimbulkan prasangka dan kesombongan” katanya.
Putra Amien Rais

Putra Amien Rais, Hanafi Rais telah mmengucap selamat pada pasangan Jokowi-JK yang dinilainya sebagai pemenanga Pilpres 2014.

“Sebagai generasi muda Partai Amanat Nasional (PAN), kami mengucapkan selamat kepada Bapak Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang akan memegang tampuk kepemimpinan nasional dalam waktu 5 tahun mendatang,” kata Hanafi melalui keterangan tertulisnya kepada detikcom, Minggu (20/7/2014).

Pada pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Hanafi yang juga putra mantan Ketua Umum PAN Amien Rais itu mengucapkan terima kasih dan hormat yang setinggi-tingginya. Calon presiden dan wakil presiden dengan nomor urut satu itu dinilai telah aktif menjaga proses demokratisasi negara kita melalui pilpres tahun ini.

“Kami berterima kasih pula kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang telah bekerja keras untuk menjaga dan mengawal proses pemilihan umum yang jujur, bersih dan transparan,” kata Hanafi.

Tak hanya mengucap selamat, ia pun menyampaikan sebuah pesan untuk jokwoi-JK yang akan duduk jabatan Presiden dan Wakil Presiden.
(bil/fdn)

Juli 8, 2014

RUG1 @bum1 … 08072014

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 8:05 am

JAKARTA, KOMPAS.com – Konglomerasi asal India, Tata Power, memutuskan untuk mengurangi kepemilikan saham di Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha Bumi Resources (BUMI).

Berdasarkan keterbukaan informasi ke Bursa Saham Bombay (BSE), Jumat (4/7/2014), Tata Power menyatakan telah meneken kesepakatan (option agreements) untuk menjual 5 persen saham KPC ke salah satu entitas Grup Bakrie.

Nilai transaksi jual-beli itu ditaksir 250 juta dollar AS. Anil Sardana, Managing Director Tata Power mengatakan, opsi divestasi 5 persen saham KPC ini bagian dari strategi mencari dana tambahan untuk mengurangi utang. “Jika opsi divestasi ini terwujud, pasokan batubara ke pembangkit listrik kami tak akan terpengaruh karena kami masih punya 25 persen saham KPC,” tulis Anil dalam keterangan resmi, Jumat.

Sejak Maret 2007, Tata Power memiliki 30 persen  saham di KPC dan anak usaha BUMI lainnya, PT Arutmin Indonesia (Arutmin). Nilai akuisisi dua anak usaha BUMI itu mencapai 1,1 miliar dollar AS.

Pada Februari lalu, Tata Power menjual 30 persen saham Arutmin senilai 500 juta  dollar AS ke salah satu entitas Grup Bakrie. Transaksi ini semula hendak diselesaikan Mei lalu. Tapi hingga kini, Tata Power dan Grup Bakrie belum memfinalisasi transaksi itu. Tata Power menargetkan penjualan saham Arutmin rampung bersama divestasi saham Mitratama Perkasa (PTMP) tahun ini.

PTMP adalah unit usaha PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA), anak usaha Tata Power. Pada Februari, Tata Power meneken perjanjian jual beli bersyarat untuk menjual 3.600 saham PTMP senilai 120 juta dollar AS. Tata Power menunjuk unit Grup Bakrie, Long Haul Holdings Ltd (LHH), sebagai broker divestasi saham PTMP. LHH akan menunjuk pembeli saham PTMP.

Kiswoyo Adi Joe, analis Investa Saran Mandiri menilai, langkah Tata Power menjual 5 persen  saham KPC ke Grup Bakrie tak berefek langsung ke BUMI. Yang pasti, Grup Bakrie ingin mempertahankan porsi mayoritas di KPC.

Awalnya, Grup Bakrie melalui BUMI, menguasai 65 persen saham KPC. Tapi Kamis (3/7/2014) lalu, BUMI mengalihkan 19 persen  saham KPC ke China Investment Corporation (CIC) lewat skema utang dikonversi ke saham (debt-for-equity swap). Ini adalah bagian dari pembayaran utang BUMI senilai 1,99 miliar dollar AS ke CIC. Selepas pengalihan, kepemilikan BUMI di KPC semestinya turun menjadi 46 persen.

Namun BUMI tetap menjadi pengendali dengan porsi 51 persen . Tambahan 5 persen  saham di KPC berasal dari perjanjian piutang dengan Recapital Asset Management. BUMI punya piutang lain dari reklasifikasi aset keuangan tersedia untuk dijual dari Recapital ke PT Kutai Timur Sejahtera (KTS). BUMI punya hak mengonversi piutang itu menjadi 100 persen kepemilikan saham KTS dengan penerbitan medium term notes. KTS memiliki 5 persen  saham KPC.

Di sisi lain, Standard & Poor Ratings Services, Jumat lalu, menurunkan peringkat kredit korporasi jangka panjang dan peringkat skala regional ASEAN milik BUMI, masing-masing menjadi selective default (SD) dari sebelumnya CC dan axCC.

Peringkat itu menyusut setelah BUMI mengalihkan 19 persen  saham KPC ke CIC. “Kami menilai transaksi ini sebagai pertukaran yang penuh tekanan,” tutur Vishal Kulkarni, analis kredit Standard & Poor’s, kutip Bloomberg. (Sandy Baskoro, Veri Nurhansyah Tragistina)

 


JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tetap berupaya untuk merestrukturisasi obligasi senilai US$ 375 juta yang diterbitkan anak usaha, Enercoal Resources Pte. Ltd. (Enercoal).

Restrukturisasi itu sempat terhambat lantaran BUMI gagal memenuhi persyaratan kuorum dalam Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) yang digelar Jumat (20/6) lalu.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, pihaknya terus melanjutkan pembicaraan dengan pemegang obligasi terutama terkait restrukturisasi obligasi Enercoal.

“Perseroan kembali berencana menggelar RUPO Enercoal pada pertengahan Juli 2014 untuk memperoleh persetujuan terkait refinancing obligasi dari pemegang obligasi Enercoal,” tulis Dileep dalam keterangan resmi, Jumat (4/7).

BUMI memang tengah berpacu dengan waktu untuk segera meraih restu pemegang obligasi. Pasalnya, masa jatuh tempo obligasi senilai US$ 350 juta itu kian dekat, yakni pada 5 Agustus 2014 mendatang.

Dalam proposal pengajuan restrukturisasi yang dirilis pada 6 Juni 2014 lalu, BUMI mengajukan permohonan untuk mengubah harga konversi dan kupon obligasi yang senilai US$ 375 juta.

Deutsche Bank AG  bertindak sebagai Agen Solisitasi tunggal, sementara The Bank of New York Mellon bereran sebagai Tabulation Agent untuk mengadakan persetujuan tersebut.

Satu poin lain yang menarik adalah BUMI pun meminta konversi wajib berdasarkan opsi yang dimiliki penerbit obligasi senilai maksimum US$ 125 juta. Poin ini menarik dicermati terutama jika mengacu pada klausul awal obligasi konversi tersebut.

Awalnya, obligasi tersebut dapat dikonversi menjadi saham biasa BUMI dengan nilai Rp. 3.366,9 per saham. Konversi obligasi bisa dilakukan setiap saat dalam periode 41 hari setelah tanggal penerbitan obligasi sampai dengan 10 hari sebelum tanggal jatuh tempo.

Klausul ini tentu susah untuk diwujudkan lantaran harga saham BUMI sudah jauh di bawah itu.  Pada penutupan perdagangan Jumat (6/6), harga BUMI ditutup turun 2,02% menhadi Rp 194 per saham.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2014,  Enercoal menerbitkan obligasi konversi senilai US$ 375 juta pada 5 Agustus 2009. Obligasi itu akan jatuh tempo pada 5 Agustus 2014 berkupon 9,25% per tahun.

Melihat kondisi keuangan yang morat-marit, BUMI tentu sulit untuk melunasi obligasi tersebut sesuai tanggal jatuh tempo. Bayangkan, BUMI hanya memiliki kas dan setara kas senilai US$ 27,68 juta per 31 Maret 2014.

Minimnya kas internal ini juga yang menjadi penyebab BUMI gagal membayar kupon obligasi valas yang telah jatuh tempo pada 12 Mei 2014. Nilai obligasi  yang diterbitkan anak usaha BUMI, Bumi Capital Pte Ltd, itu sebesar US$ 300 juta.

Namun, menurut manajemen BUMI, perseroan memiliki waktu tenggang hingga 11 Juni 2014. Jika pada tanggal itu BUMI tidak juga memenuhi kewajibannya, maka pemegang obligasi berhak meminta percepatan pembayaran.

Bank of New York selaku administrator sistem akan meminta pemegang obligasi untuk memutuskan secara voting terkait wanprestasi (default). Jika mayoritas suara menyetujui, maka BUMI wajib membayar obligasi berbunga 12% per tahun itu. Adapun, obligasi ini memiliki waktu jatuh tempo 10 November 2016.

Pada Jumat (4/7), harga BUMI ditutup turun 2,73% ke level Rp 178 per saham.

Editor: Barratut Taqiyyah

NERACA

Jakarta – Berbagai macam cara dilakukan manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk melunasi utang, kali ini perseroan melepas sebanyak 19% saham perseroan di Kaltim Prima Coal (KPC) senilai US$ 950 juta atau sekitar Rp11,31 triliun ke China Investment Corporation (CIC). Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (3/7).

Direktur Utama PT Bumi Resources Tbk, Ari Hudaya mengatakan, pengalihan saham ini merupakan langkah awal perseroan memperbaiki struktur keuangan dan komitmen perusahaan mengurangi utang,”Kami menyambut CIC sebagai mitra (equity partner) utama kami dan ke depan bersama-sama mengembangkan aset kami dengan kekuatan yang terus meningkat,”ujarnya.

Menurutnya, secara fundamental BUMI memiliki kekuatan, di mana perseroan mampu meningkatkan kapasitas tahunan batu bara lebih dari 90 juta ton sekaligus melakukan efisiensi operasi dan biaya secara signifikan,”Kami percaya struktur permodalan yang baru disertai pemulihan harga batu bara akan mampu membuat kami memperoleh kembali kekuatan, sehingga menghasilkan keuntungan seperti semula,” tandasnya.

Asal tahu saja, kesepakatan perseroan melepas 19% saham Kaltim Prima Coal kepada perusahaan tambang asal Tingkok tersebut merupakan bagian perjanjian penyelesaian utang pada 9 Oktober tahun lalu. Dengan demikian, utang BUMI kepada CIC berhasil dipangkas sebesar US$ 1,039 miliar atau sekitar Rp12,36 triliun.

 

http://www.neraca.co.id/article/43134/BUMI-Lepas-19-Saham-KPC-Ke-Tiongkok
Sumber : NERACA.CO.ID

Hasil Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa

PT. Bumi Resources Tbk (BUMI)

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan:

Agenda Pertama

1. Menyetujui dan Menerima dengan baik laporan keuangan tahunan perseroan sebagaimana pokok-pokoknya telah disampaikan oleh Direksi Perseroan dan telah ditelaah oleh dewan komisaris perseroan mengenaikeadaan dan jalannya perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013.

2.a.Menyetujui dan mengesahkan laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik Tjiendradjaja & Handoko Tomo dengan pendapat wajar tanpa pengecualian sebagaimana tertera dari laporannya no.2014/T2/03.28.04 tanggal 28 Maret 2014.

b.Memberikan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya kepada direksi dan dewan komisaris atas tindakan pengurusan dan pengawasan yang mereka lakukan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 (Acquit et de charge) sepanjang tindakan-tindakan mereka tersebut tercermin dalam laporan tahunan dan laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 dan tidak bertentengan dengan peraturan perundang-undangan.

Agenda Kedua:

1.Menetapkan bahwa sehubungan dengan rugi yang dialami perseroan maka untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 ini perseroan tidak dapat membagikan dividen kepada seluruh pemegang saham perseroan.

2.memberikan kuasa dan wewenang kepada direksi perseroan untuk melakukan segala tindakan yang di perlukan sehubungan dengan keputusan tersebut.

Agenda Ketiga:

Menyetujui dan memberikan kuasa serta wewenang kepada dewan komisaris perseroan untuk melakukan penunjukkan akuntan publik untuk mengaudit laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2014 dan/atau untuk periode tertentu sepanjang tahun 2014, serta memberikan kuasa dan wewenang kepada direksi perseroan untuk menetapkan jumlah honorarium akuntan publik serta persyaratan lanin penunjukkannya.

Agenda Keempat:

1.Mengangkat dan menetapkan kembali susunan anggota dewan komisaris dan direksi perseroan sebagaimana diuraikan di bawag ini, dengan masa jabatan terhitung sejak ditutupnya rapat ini, adalah sebagai berikut:

Dewan Komisaris

Kusuma A.Martoredjo : Presiden Komisaris dan Komisaris Independen
Suryo B. Sulisto : Komisaris Independen
Iman Taufik : Komisaris Independen
Fuad Hasan Masyhur : Komisaris Independen
Nalinkant A.Rathod : Komisaris
Anton Setianto Soedarsono : Komisaris
Sulaiman Zuhdi Pane : Komisaris

Direksi

Saptari Hoedaja : Presiden Direktur
Andrew C.Beckham : Direktur
Dileep Srivastava : Direktur Independen
Kenneth P.Farrell : Direktur
Eddie J.Subari : Direktur
R.A.Sri Dharmayanti : Direktur

2.Memberikan wewenang dan kuasa penuh dengan hak substitusi kepada direksi perseroan baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan berkaitan dengan keputusan-keputusan sebagaimana diambil dan/atau diputuskan dalam rapat ini, termasuk tetapi tidak terbatas untuk menyatakan pengangkatan anggota dewan komisaris dan direksi perseroan ini dalam akta notaris dan mendaftarkan susunan dewan komisaris dan direksi perseroan sebagaimana disebutkan di atas dalam daftar perseroan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

3.Menyetujui pemberian kewenangan kepada dewan komisaris perseroan untuk menentukan gaji, uang jasa dan tunjangan lainnya (bila ada) serta pembagian tugas dan wewenang setiap anggota direksi.

4.Menyetujui pemberian kewenangan kepada direksi bersama-sama dewan komisaris untuk menentukan uang jasa dan tunjangan lainnya (Bila ada) serta pembagian tugas dan wewenang setiap anggota direksi.

RapatUmum Pemegang Saham Luar Biasa:

1. Menyetujui rencana perseroan untuk melakukan penawaran umum terbatas IV kepada para pemegang saham dalam rangka penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu sesuai dengan peraturan bapepam no.IX.D.1 (“PUT IV”) dengan jumlah sebanyak-banyaknya 32.198.770.000 saham biasa atas nama seri B dengan nilai nominal Rp.100,- setiap saham yang di tawarkan dengan harga Rp.250,- per saham sehingga seluruhnya bernilai sebanyak-banyaknya Rp.8.049.692.500.000,- termasuk perubahan struktur permodalan sehubungan dengan PUT IV.

2.Menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan dengan persetujuan dewan komisaris perseroan untuk mengeluarkan saham-saham baru perseroan dalam rangka pelaksanaan PUT IV.

3.Menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan sehubungan dengan pelaksanaan PUT IV tersebut sesuai ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tanpa ada yang dikecualikan.
Sumber : IPS RESEARCH

DETIK Jakarta -Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang digelar pukul 20.00 WIB malam ini membuahkan hasil persetujuan rencana penerbitan saham baru atau rights issue untuk membayar utang. RUPSLB ini sempat ramai.

Salah satu pemegang saham bernama M. Saladdin menyebutkan, suasana RUPSLB yang dilakukan tertutup selama 45 menit ini berlangsung cukup tegang. Lantaran sebagian pemegang saham mempertanyakan alasan BUMI menerbitkan saham baru seri B untuk menutup utang.

Keberatan pemegang saham tersebut dilakukan dengan aksi walk out (WO) alias ‘angkat kaki’ dari ruang rapat.

“Tadi sempat ramai. Ada yang tanya terbitikan saham baru masa untuk bayar utang saja? Mereka ngotot dan bikin ramai. Akhirnya ada yang WO (walk out/meninggalkan ruang rapat),” tutur Saladin usai menghadiri RUPSLB yang digelar di Hotel Gran Melia, Jakarta, Senin (30/6/2014).

Saladin mengaku pasrah menerima keputusan tersebut, karena memang tidak ada jalan lain bagi BUMI untuk melunasi utang-utangnya.

“Memang buat bayar utang, ya bagaimana lagi. Apalagi memang harga batu bara lagi rendah cuma US$ 70 dari awalnya US$ 85 per ton,” tuturnya.

Sebelumnya disebutkan, dana hasil rights issue ini akan digunakan untuk membayar utang. Perusahaan akan fokus kepada pemangkasan utang tahun ini, terutama pembayaran utang pokok kepada China Investment Corp (CIC) yang nilainya mencapai US $1,3 miliar.
Utang tersebut diperoleh melalui Country Forest Limited (CFL) pada 18 September 2009. Pinjaman yang tersisa sebesar US$ 1,3 miliar, dari jumlah itu, US$ 600 juta di antaranya akan jatuh tempo 18 September tahun ini. Sedangkan US$ 700 juta sisanya harus dilunasi sebelum 18 September 2015.

Utang lainnya yang akan dilunasi perseroan adalah ke Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$ 150 juta. Pinjaman ini diperoleh pada 14 November 2013.

Utang ketiga yang akan dibayar sebesar US$ 225 juta untuk membayar sebagian guaranteed convertible bond due 2014 serta beberapa fasilitas utang BUMI kepada para kreditur lain. Surat utang tadi diterbitkan pada 5 Agustus 2009.

Rabu lalu BUMI hampir saja gagal bayar bunga obligasi senilai US$ 18 juta yang masuk tenggat waktu terakhirnya. Namun manajemen berhasil menyelesaikan pembayaran utang tepat di batas terakhir hari pembayaran.

Direktur BUMI Sri Dharmayanti pada kesempatan itu mengatakan, eksekusi hasil keputusan ini rencananya akan dilaksanakan selambat-lambatnya September 2014.

“Harga yang disetujui RUPSLB ini Rp 250 dikalikan dengan 32,2 miliar lembar, jadi sekitar Rp 8,05 triliun,” papar dia.

Dana yang diperoleh dari hasil penerbitan saham baru ini sedianya akan dipergunakan untuk membayar utang perusahaan. Sayang dirinya tak merinci berapa besar utang yang akan dilunasi.

“Saya tidak hafal detilnya, tapi teknisnya masih sama dengan prospektus. Tidak ada perubahan,” kata dia.
Jakarta -Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang merupakan perusahaan tambang grup Bakrie, resmi digelar pukul 20.00 WIB. RUPSLB ini menyetujui rencana penerbitan saham baru atau rights issue.

Direktur BUMI Sri Dharmayanti mengatakan, sebagian besar pemegang saham yang hadir dalam RUPSLB yang digelar di Hotel Gran Melia ini menyetujui rencana tersebut. “Lebih dari 99% setuju usulan kita untuk menerbitkan saham baru,” ujarnya usai menggelar rapat tersebut, Senin (30/6/2014).

Dalam kesempatan yang sama, Komisaris BUMI Anton Setianto Soedarsono menjelaskan, dengan persetujuan ini, maka perusahaan dapat menjalankan rencana perusahaan untuk menerbitkan saham baru yang ditargetkan dapat menggalang dana segar dari publik hingga sebesar Rp 8,05 triliun.

Dana hasil rights issue ini akan digunakan untuk membayar utang. Perusahaan akan fokus kepada pemangkasan utang tahun ini, terutama pembayaran utang pokok kepada China Investment Corp (CIC) yang nilainya mencapai US $1,3 miliar.

Utang tersebut diperoleh melalui Country Forest Limited (CFL) pada 18 September 2009. Pinjaman yang tersisa sebesar US$ 1,3 miliar, dari jumlah itu, US$ 600 juta di antaranya akan jatuh tempo 18 September tahun ini. Sedangkan US$ 700 juta sisanya harus dilunasi sebelum 18 September 2015.

Utang lainnya yang akan dilunasi perseroan adalah ke Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$ 150 juta. Pinjaman ini diperoleh pada 14 November 2013.

Utang ketiga yang akan dibayar sebesar US$ 225 juta untuk membayar sebagian guaranteed convertible bond due 2014 serta beberapa fasilitas utang BUMI kepada para kreditur lain. Surat utang tadi diterbitkan pada 5 Agustus 2009.

Rabu lalu BUMI hampir saja gagal bayar bunga obligasi senilai US$ 18 juta yang masuk tenggat waktu terakhirnya. Namun manajemen berhasil menyelesaikan pembayaran utang tepat di batas terakhir hari pembayaran.

Terkait rights issue, Sri mengatakan, eksekusi hasil keputusan ini rencananya akan dilaksanakan selambat-lambatnya September 2014.

“Harga yang disetujui RUPSLB ini

Rp 250 dikalikan dengan 32,2 miliar lembar, jadi sekitar Rp 8,05 triliun

,” papar dia.

Dana yang diperoleh dari hasil penerbitan saham baru ini sedianya akan dipergunakan untuk membayar utang perusahaan. Sayang dirinya tak merinci berapa besar utang yang akan dilunasi.

“Saya tidak hafal detilnya, tapi teknisnya masih sama dengan prospektus. Tidak ada perubahan,” kata dia.

 

Bp6LzoUCEAAytSN.jpg large

Juni 27, 2014

RUGI @bumi … 3006-2509/2013-27062014

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:10 am

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali mengoreksi target perolehan dana dari rights issue alias Penawaran Umum Terbatas IV dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Kali ini, berdasarkan prospektus yang dipublikasikan kemarin (26/6), BUMI akan merilis saham biasa seri B maksimal 32,2 miliar unit.

Jumlah ini lebih banyak dari rencana awal dalam prospektus 6 Mei 2014 sebanyak 26,17 miliar saham. Harga pelaksanaan rights issue tetap sama, yakni Rp 250 per saham.
Perubahan ini mengerek target dana rights issue BUMI menjadi Rp 8,05 triliun. Di prospektus awal, nilai rights issue Rp 6,54 triliun.

Satu hal baru yang menarik adalah poin tentang penyerapan rights issue. BUMI menyatakan, jika ada saham yang tak terserap, sebanyak 13,8 miliar saham baru akan dialokasikan ke beberapa pihak. Salah satunya ke unit Grup Bakrie, Long Haul Holdings Limited, yang akan mengambil 6,9 miliar saham atau setara senilai US$ 150 juta.

Dana dari Long Haul ini akan dipakai untuk melunasi sebagian utang BUMI ke Country Forest Limited (CFL), anak usaha China Investment Corporation (CIC).

Dalam penjelasan resmi ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 Oktober 2013, BUMI menyatakan memiliki utang ke CIC senilai total US$ 1,78 miliar. Utang itu terbagi menjadi tiga bagian, yaitu pokok pinjaman US$ 1,3 miliar, penalti atas keputusan BUMI mempercepat pembayaran utang US$ 425 juta dan bunga pinjaman US$ 62 juta.

Selain memakai dana rights issue, pokok utang BUMI senilai US$ 1,3 miliar akan ditukar dengan saham dua anak usahanya. CIC akan meraih 19% saham Kaltim Prima Coal (KPC) senilai US$ 950 juta. BUMI juga akan menyerahkan 42% saham Bumi Resources Mineral (BRMS) senilai
US$ 257,4 juta ke CIC.

Selain untuk melunasi utang ke CIC, BUMI mengalokasikan 6,9 miliar saham baru untuk membayar utang US$ 150 juta ke Castleford Investment Holdings Ltd. BUMI mengklaim, skema konversi utang menjadi saham itu telah diteken pada 10 Juni 2014.

Kelak, Castleford menguasai 18,84% saham BUMI setelah rights issue. “CIC dan Castleford telah setuju mengkonversi utang menjadi ekuitas,” tulis Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI kepada KONTAN, Kamis (26/6).
Menurut dia, skema ini bertujuan memperbaiki kondisi keuangan BUMI di tengah meredupnya harga batubara. BUMI menunjuk Danatama Makmur sebagai pembeli siaga rights issue. Danatama akan menyerap maksimal 2,04 miliar saham. Jika mengeksekusi haknya, Danatama akan memiliki 5,58% saham BUMI.Dengan skenario baru ini, rights issue BUMI akan memberikan efek dilusi 55,75% terhadap porsi publik.

Kiswoyo Adi Joe, analis Investa Saran Mandiri, menilai, perubahaan ketentuan rights issue ini kian merugikan investor publik yang memiliki saham BUMI. Soalnya, skema baru yang menjadikan Long Haul dan Danatama sebagai pembeli siaga rights issue BUMI, tak memberi nilai positif. “Semuanya terafiliasi Grup Bakrie, ini hanya keluar dari kantong kanan, masuk ke kantong kiri,” katanya. Kiswoyo menyarankan, investor menjauhi saham BUMI.

http://investasi.kontan.co.id/news/bumi-bidik-rp-8-triliun-dari-rights-issue

Sumber : KONTAN.CO.ID
JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali merevisi ketentuan penerbitan saham baru guna mendulang fulus. Dalam prospektus terbaru, perusahaan batubara milik Grup Bakrie ini berencana melepas 32,19 miliar saham seri B. Nilai per saham dibanderol Rp 250 per saham.

Dengan demikian, total dana hasil rights issue ini mencapai Rp 8,04 triliun. Angka ini lebih besar dari rencana semula yang sebanyak 25,17 miliar saham di harga yang sama. Sehingga dana yang kana dihimpun ketika itu sekitar Rp 6,5 triliun.

Kali ini, Long Haul Holdings Limited (LHH), Castleford Investment Holdings Ltd, dan PT Danatama Makmur akan menjadi pembeli siaga BUMI. LHH akan mengeksekusi 6,9 miliar saham baru atau sekitar Rp 1,725 triliun. Angka ini setara dengan US$ 150 juta.

Saham yang diserap LHH ini nantinya akan digunakan untuk pelunasan sebagian utang BUMI kepada Country Forest Limited (CFL). Seperti diketahui, salah satu mekanisme penyelesaian utang BUMI kepada CFL adalah membayarnya dengan saham baru.

Selanjutnya, Castleford juga akan mengeksekusi 6,9 miliar saham BUMI. Ini merupakan bagian dari perjanjian penyelesaian utang (debt settlement agreement) yang disepakti 10 Juni 2014.

Kemudian, sebanyak 2,04 miliar saham akan diambil oleh Danatama. Adapun, rasio rights issue kali ini adalah setiap 20 pemegang saham seri A berhak atas 31 HMETD yang nantinya setiap HMETD bisa digunakan untuk memmbeli satu saham baru seri B.

Sebagai perbandingan, rasio rights issue BUMI sebelumnya adalah 50:63. Selain untuk menyelesaikan utang kepada CFC dan Castleford, dana hasil rights issue ini juga akan digunakan untuk membayar utang kepada CDB, Axis Bank L 2011, Credit Suissse 2010-2 Deutsche Bank 2011, UBS AG 2012-1 sebesar US$ 150 juta atau Rp 1,72 triliun. Kurs yang digunakan adalah Rp 11.500 per saham.

Kemudian, US$ 15,8 juta atau setara dengan Rp 182 miliar untuk memenuhi kebutuhan operasional dan pembayaran bunga. BUMI juga akan menggunakan dana seebsar US$ 48 juta ata Rp 552 miliar untuk Gallo Oil (Jersey) Ltd.

Sebesar US$ 32,58 juta atau Rp 374,67 miliar akan dialokasikan untuk studi kelayakan konsesi tembaga dan emas milik anak usaha perseroan, PT Gorontalo Minerals. BUMI pun akan menggunakan dana hasil penerbitan saham baru ini untuk menyelesaikan sebagian utang obligasi dollar Enercoal Resources Pte. Ltd.

Nilai alokasi dananya sebesar US$ 150 juta. Adapun, total utang yang akan jatuh tempo Agustus 2014 ini mencapai US$ 375 juta. Namun, hasil rights issue hanya dieksekusi oleh pembeli siaga, maka BUMI hanya akan mengantongi dana sekitar Rp 3,96 triliun.

Manajemen BUMI pun sudah mengantisipasi hal ini. Perseroan hanya akan menggunakan dana itu untuk menyelesaikan utang anak usaha China Investment Corporation, CFL dan Caslteford. Masing-masing nilainya setar dengan US$ 150 juta. Sisanya, sekitar US$ 15,8 juta akan dipakai untuk biaya opearsional dan pembayaran bunga.

Kini, pemegang saham BUMI adalah Credit Suisse AG SG Branch S/A CSAGSING-LHH (LHHL-130M)2023334064 sebesar 23,09%. Raiffeisen Bank International AG, Singapore Branch S/A Long Haul Holdings Ltd sebesar 6,09%. Keduanya merupakan representasi dari kepemilikan Grup Bakrie. Adapun, sebesar 70,82% adalah miilk publik.
Editor: Sanny Cicilia

Bumi Warns of Default If Restructuring Consent Not Won

PT Bumi Resources (BUMI) is “highly likely” to miss payment on $375 million of convertible bonds in August if holders don’t agree to a proposal to delay the debt’s maturity, it said in a memorandum to noteholders.

The Indonesian coal miner is seeking consent to amend the terms of the bonds, including extending the debt’s maturity to July 2021 from Aug. 5 and cutting the annual coupon to 7 percent from 9.25 percent, according to a June 5 consent solicitation memorandum obtained by Bloomberg News. It hasn’t paid the coupon that came due on June 5, the document shows.

“The delay in bond maturity will give them some breathing space to repay bondholders,” Amit Jain, a credit analyst in Bangalore at SJS Markets Ltd. said by phone. “The trouble is, they’re already finding it difficult to pay some bond coupons” and there will continue to be “liquidity pressure without any recovery in coal prices,” he said.

The bond restructuring represents another obstacle to the miner that’s trying to ease its financial burden after coal prices extended a two-year slump to the lowest level since 2009. The group is negotiating with lenders including Deutsche Bank AG and China Development Bank Corp. to help ease $4.7 billion of short-term liabilities.

Dileep Srivastava, a Bumi director in Jakarta, declined to comment on the contents of the memorandum when reached by phone today.

Coal Slide

The convertible notes were little changed at 38.653 cents on the dollar as of 6 p.m. in Hong Kong after earlier falling 3.3 cents, according to Bloomberg-compiled prices. They’ve lost 30 percent this year through yesterday, while the stock has slumped 35 percent in Jakarta over the same period.

Bumi, controlled by Indonesia’s Bakrie family, posted losses in the past two years as benchmark coal prices in the Southeast Asian nation slid 8.4 percent this year through last month to the lowest level since 2009. It avoided a default yesterday by paying an overdue 12 percent coupon on its $300 million November 2016 bonds, according to a filing to the Indonesian stock exchange.

The group refinancing plans also entail selling as many as 26.17 billion of new shares to repay $1.3 billion to China Investment Corp., according to statement last month. That comes after the completion of a $501 million breakup in March from a venture with U.K. financier Nathaniel Rothschild.

Conversion Price

Lenders have consented to a plan to reorganize its debt with China Investment Corp., Srivastava said in the exchange filing yesterday. Bumi has a $600 million credit line with China Development Bank, and a combined $542.5 million of facilities with Axis Bank Ltd., Deutsche Bank, Credit Suisse Group AG, WestLB AG and UBS AG, according to the June 5 memorandum.

Among proposed changes to its convertible debt, Bumi is also seeking to change the conversion price of stock to 750 rupiah per share ($0.06) from 3,366.9 rupiah, the document shows. Bumi is also planning to reduce the amount of convertible notes outstanding to $250 million, via an option that requires mandatory conversion into shares from a rights offering, it said.

Holders of the convertible bonds have until June 18 to give their consent to the amendments, according to the company. The resolution will require at least 75 percent of votes cast at a bondholders meeting to be held on June 20 in Singapore, according to the document.

Standard & Poor’s ranks Bumi’s debt at CC, a level that’s deemed highly vulnerable to non-payment and two steps away from outright default. It said in October there was a realistic possibility of a conventional default within 12 months.

As Bumi reorganizes, other parts of the Bakrie group are also facing financial strain. Fitch Ratings Ltd. cut PT Bakrie Telecom to ‘restricted default’ on May 30. The phone operator in December defaulted on a coupon payment on $380 million of 11.5 percent notes due May 2015, Fitch said.

Bareksa.com – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berhasil menghindari ancaman gagal bayar (default) setelah melunasi kupon obligasi sebesar USD 18 Juta.

BUMI telah mencapai kesepakatan dengan China Investment Corporation (CIC) selaku kreditor utama dari utang tersebut. Penyelesaian kupon serta utang sebesar USD1,3 miliar dilakukan dengan beberapa cara.

Salah satunya dengan transfer aset PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 19 persen dari total kepemilikan dan aset PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) sebesar 42 persen dari total kepemilikan (dilansir dari Investor Daily).

BUMI juga merencanakan penerbitan saham baru melalui right issue dengan target dana sebesar Rp6,5 triliun

“Kapitalisasi pasar BUMI per 12 Juni 2014 sebesar Rp4 triliun, artinya target dana right issue melebihi nilai kapitalisasi pasarnya. Tentu ini akan merugikan investor terkait dampak dilusinya. Prosentase kepemilikan investor lama akan berkurang hingga lebih dari setengah nilai saat ini” menurut Lanang Trihadian, Analis PT Syailendra Capital.

Kemudian terkait transfer aset, Lanang juga mempertanyakan hal tersebut. KPC merupakan kontributor utama pendapatan BUMI, dengan kepemilikan saat ini kurang lebih sekitar 50 persen. Jika KPC dialihkan lagi maka BUMI akan menjadi pemegang saham minoritas di KPC, lalu bagaimana dengan pendapatan selanjutnya?

Lanang menyampaikan cadangan batubara yang dimiliki BUMI terbesar di Indonesia. Didukung juga dengan infrastruktur yang mumpuni karena memiliki conveyor belt sendiri serta akses lokasi yang strategis dimana dekat dengan laut dan sungai.

Dari segi kualitas aset, BUMI mengungguli produsen batubara lain di Indonesia, tetapi dari segi kinerja keuangan berada jauh dibawah.

 

Grafik Perbandingan Pinjaman Jangka Pendek dengan Laba Usaha Periode September 2011-2013 (In million USD)

keu BUMI 2014

Sumber : Bareksa.com, diolah

Dari laporan keuangan dari kuartal III-2011, total pinjaman jangka pendek tercatat melonjak akibat utang CIC yang jatuh tempo pada tahun ini.

Laba usaha BUMI pun terus mengalami penurunan dari tahun 2011 hingga tahun 2013 sebagai imbas dari pelemahan harga batu bara dan tingginya beban usaha.  Selain itu, kerugian yang dialami BUMI dalam dua tahun terakhir menyebabkan total ekuitas perseroan tercatat USD -492,65 juta.

Investor masih menunggu siapakah yang akan menjadi standby buyer (pembeli) dari right issue BUMI nantinya, apakah pemegang saham mayoritas sebelumnya atau akan ada investor baru ? (NP)

 

Grafik Perbandingan Laba (Rugi) Bersih dengan Ekuitas Periode September 2011-2013 (In million USD)

keu BUMI 2014B

Sumber : Bareksa.com, diolah

INILAHCOM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengajukan permohonan persetujuan penjamin Obligasi Konversi Berjamin senilai US$375 juta pada 5 Juni 2014.

Obligasi tersebut merupakan milik anak perusahaan Enercoal Resources Pte, Ltd. Obligasi konversi berjamin ini, menurut Direktur BUMI Dileep Srivastava, memiliki kupon 9,25% dan berjatuh tempo Agustus 2014.

Permohonan tersebut melalui Rapat Para Pemegang Obligasi Konversi yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Juni 2014. Demikian mengutip keterbukaan informasi BEI, Jumat (6/6/2014).

RUPS tersebut mengagendakan memperpanjang jatuh tempo Obligasi Konversi. Perseroan akan mengubah harga konversi dan kupon obligasi

Perseroan akan mempertimbangkan konversi wajib berdasarkan opsi yang dimiliki oleh penerbit obligasi hingga nilai maksimum sebesar US$125 juta. Selain itu rencana untuk menempatkan obligasi konversi tersebut pada posisi sederajat (pari passu) dengan utang senior berjamin lain.

Perseroan menunjuk Deutsche Bank AG akan bertindak sebagai agen. Sedangkan The Bank of New York Mellon akan bertindak sebagai Tabulation Agent untuk memberikan persetujuan tersebut.
INILAHCOM, Jakarta – Gali lubang tutup empang. Mungkin plesetan paribahasa ini cocok dengan langkah korpo
rasi PT Bumi Resources, Tbk Rabu (7/5/2014) ini.

Betapa tidak, perusahaan milik keluarga Aburizal Bakrie (Ical) ini tiba-tiba saja mengumumkan akan menerbitkan saham baru melalui mekanisme hak pemesanan efek terlebih dahulu (HMETD) alias right issue sebanyak 26,17 miliar lembar saham. Rencananya, saham baru itu akan dilego pada harga Rp250/lembar. Jika langkah ini sukses, emiten berkode BUMI ini akan mendulang fulus Rp6,54 triliun!

Bakal punya banyak duit, dong? Tidak juga. Pasalnya, sebagian besar duit publik yang bakal diraup itu akan digunakan untuk membayar utang-utang BUMI yang segede gajah bunting berpenyakit beri-beri, dan disengat tawon pula. Itulah sebabnya, plesetan peribahasa yang aslinya berbunyi ‘gali lubang tutup lubang’ tadi, seperti pas untuk menggambarkan corporate action BUMI.

Menurut prospektus yang dirilis, perusahaan tambang batubara itu akan menggunakan dana hasil right issue-nya untuk membayar utang kepada tiga perusahaan. Pertama, utang kepada China Investment Corporation (CIC), sebesar US$150 juta. Jumlah ini setara dengan Rp1,72 triliun.

Asal tahu saja, utang tersebut diperoleh melalui Country Forest Limited (CFL) pada 18 September 2009. Seiring berjalannya waktu, total sisa pinjaman masih tersisa US$1,3 miliar. Dari jumlah itu, US$600 juta di antaranya akan jatuh tempo 18 September tahun ini. Sedangkan US$700 juta sisanya harus dilunasi sebelum 18 September tahun depan.

Berdasarkan tabiatnya, BUMI memang doyan ekspansi. Sayangnya langkah ini dilakukan tidak dengan kas sendiri, melainkan lewat menjala utang. Contohnya, pinjaman dari CIC tersebut digunakan untuk membayar saldo utang yang timbul dari akuisisi tidak langsung atas kepemilikan saham BUMI di PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Fajar Bumi Sakti, dan PT Pendopo Energi Batu bara. Nah sisa pinjaman itu, digunakan juga untuk pembayaran utang-utang sebagian anak usaha. Sisanya baru buat modal kerja dan keperluan operasional umum BUMI.

Kembali ke hasil right issue kali ini, jika BUMI membayar US$150 juta dari US$1,3 miliar utangnya ke CIC, maka masih ada US$1,150 miliar lagi sisanya. Dengan kurs kurs tengah Bank Indonesia (BI) hari ini yang Rp11.527 per dolar AS, sisa utang itu setara dengan Rp13,256 triliun! Sekadar mengingatkan saja, utang ke CIC yang masih US$1,3 miliar itu sudah turun dibandingkan dengan posisi akhir 2013 yang mencapai US$1,78 miliar. Bisa jadi dalam rentang waktu itu, BUMI sudah membayar US$480 juta.

Kedua, utang lainnya yang akan dilunasi adalah kepada Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$150 juta atau setara Rp1,72 triliun. Dulu, pinjaman ini diperoleh pada 14 November 2013, yang, lagi-lagi, digunakan untuk ekspansi anak usaha.

Sedangkan yang ketiga, sebesar US$225 juta atau senilai Rp2,58 triliun untuk membayar sebagian guaranteed convertible bond due 2014 serta beberapa fasilitas utang BUMI kepada para kreditur lain. Surat utang tadi diterbitkan pada 5 Agustus 2009.

Jika ada sisa dana dari hasil rights issue, sekali lagi; jika ada sisa, manajemen akan menggunakannya untuk modal kerja.

Paska right issue kali ini, jika sukses, utang BUMI kepada CIC saja masih sekitar Rp13,256 triliun. Jumlah ini tidak termasuk utang kepada beberapa kreditur lain dan sisa kewajiban obligasi yang diterbitkan sebelumnya.

Taruhlah kita tutup mata dengan berbagai kewajibannya terhadap pemberi utang lainnya tadi, maka dana hasil right issue yang Rp6,54 triliun itu seperti ditelan pasir saja. Gali lobang untuk menutup empang? Ehem…

Tulisan ini berkali-kali menambahkan frase ‘kalau sukses’ memang bukan tanpa dasar. Pasalnya, saham baru itu bakal dilego pada Rp250/lembar. Padahal, harga saham BUMI di pasar kemarin ditutup pada Rp196/lembar. Artinya, ada selisih harga Rp54/lembar. Sebagai perbandingan saja, pada 6 mei 2008, harga saham perusahaan yang pernah menjadi mesin uang Keluarga Bakrie ini pernah menyentuh Rp6.800/lembar.

Kinerja BUMI dalam dua tahun terakhir ini juga bisa dibilang jeblok. Pendapatan perseroan 2013 tercatat US$3.547,32 juta. Dibandingkan tahun sebelumnya yang US$3.775,52 juta, walau tipis jelas ada penurunan. Laba usaha juga menciut dari US$432,28 juta tahun 2012 jadi US$230,05 juta. Lalu, nah ini yang tidak kalah pentingnya, dalam dua tahun berturut emiten ini mengalami rugi telak, masing-masing US$666,21 juta (2012) dan US$609,01 (2013).

Awan mendung tampaknya masih tetap akan membayangi BUMI. Kinerja yang di bawah banderol itu, masih mendapat ancaman dari belum pulihnya harga batubara di pasar internasional. Penyebabnya, konsumsi batubara China masih terus menyusut. Maklum, Negeri Tirai Bambu ini adalah konsumen emas hitam yang paling rakus di dunia.

Tekanan lain juga datang dari dalam negeri. Pemerintah dikabarkan segera menerbitkan beleid pembatasan ekspor batubara. Hal paling menyeramkan dari rencana pemerintah itu adalah pembatasan ekspor batubara.

Kebijakan tersebut ditempuh lewat tiga cara. Pertama, mematok pertumbuhan produksi batubara nasional maksimal 1% per tahun. Kedua, menentukan kuota produksi setiap provinsi dan kalori. Ketiga, memberi wewenang provinsi dan kabupaten/kota untuk menetapkan kuota produksi bagi masing-masing perusahaan.

Tak pelak lagi, ke depan makin banyak hantu menyeramkan bakal mengepung batubara. Pertanyaanya, adakah investor yang mau merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli saham emiten dengan kewajiban utang segede gunung dan prospek yang aduh duh…? [*]

Tambang Grup Bakrie Masih Rugi Rp 6 Triliun
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Senin, 14/04/2014 13:44 WIB


Jakarta -PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih mencatat kinerja yang negatif di akhir 2013. Perusahaan tambang itu masih rugi US$ 609 juta (Rp 6,09 triliun).

Rugi ini sudah berkurang jika dibandingkan rugi di tahun sebelumnya US$ 666 juta (Rp 6,66 triliun). Seperti dikutip dari laporan kinerja keuangan BUMI, Senin (14/4/2014), menutup tahun 2013 pendapatan tambang milik Grup Bakrie tercatat sebesar US$ 3,54 miliar, turun tipis 6,04%, jika dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 3,77 miliar.

Beban perseroan malah naik, terutama gara-gara harga jual batu bara yang masih rendah. Beban BUMI di akhir 2013 dibukukan sebesar US$ 2,81 miliar, bandingkan dengan tahun lalu US$ 2,791.

Naiknya beban ini membuat laba kotor perseroan anjlok 30,25% menjadi US$ 686,20 juta di akhir 2013, lebih kecil dari sebelumnya US$ 983,90 juta.

Perseroan mengalami rugi selisih kurs yang bertambah banyak menjadi US$ 136,90 juta pada 2013, padahal di tahun sebelumnya hanya US$ 47,89 juta. Hal yang menyumbang kerugian perusahaan.

Berkurangnya kerugian perseroan ini berimbas kepada berkuranganya rugi per saham perusahaan, yaitu dari US$ 32,82 per 1.000 lembar saham menjadi hanya US$ 30 per 1.000 lembar saham.

(ang/dnl)
Saham Group Bakrie
Harga BUMI makin mendekati bumi
Oleh Dityasa H Forddanta – Selasa, 08 April 2014 | 19:50 WIB
kontan

JAKARTA. Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menemukan level terendahnya. Hingga penutupan perdagangan hari ini Selasa (8/4), saham BUMI anjlok 4,2% ke Rp 251 per saham.

Sebenarnya, ada beberapa hal yang seharusnya menjadi sentimen positif bagi pergerakan saham BUMI. Mulai dari soal selesainya perseteruan antara BUMI dengan Rothschild hingga lampu hijau pemegang saham atas rencana pengurangan utang senilai US$ 2 miliar tahun ini.

“Tapi, sentimen itu butuh waktu karena ini semua baru ketuk palu, belum ada pelaksanaannya secara nyata,” tandas Kiswoyo Adi Joe, Managing Partner Investa Saran Mandiri kepada KONTAN, (8/4).

Memang, soal pelunasan utang BUMI baru memperoleh persetujuan pemegang saham belum lama ini. Lampu hijau tersebut pun baru menyala setelah BUMI beberapa kali gagal menggelar RUPS. Rencana pembayaran utang ini juga belum bisa dipastikan apakah akan menyehatkan keuangan perusahaan atau justru memberatkan kinerja BUMI di masa mendatang.

Belum lagi, predikat yang telah melekat selama ini akibat semua persoalan yang dialami oleh BUMI. “Aset perusahaan ini bagus, bagus banget malah, tapi sayang GCG -nya aneh-aneh,” tambah Kiswoyo.

Bukan hanya saham BUMI yang mengalami penurunan hingga sore tadi. Saham-saham Grup Bakrie yang lain seperti saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) juga anjlok 3,44% ke level Rp 309 per saham.

Menyoal saham VIVA, Kiswoyo menilai ada keterkaitan pergerakan saham ini dengan IPO anak usahanya, yakni PT Intermedia Capital. Pelaku pasar sudah paham jika sebenarnya aset yang dimiliki oleh pemilik stasiun ini kurang baik, sehingga hal ini menjadi sentimen negatif.

“Daripada nanti enggak ada yang menyerap saham perdana sehingga semakin menambah sentimen, jadi lebih baik jual sekarang, sehingga hari ini kesannya menjadi panic selling. Kebetulan, enggak ada bandar yang mau mengerem penurunan saham ini,” tutur Kiswoyo.

Tambahan saja, beberapa saham Grup Bakrie lain yang mengalami penurunan adalah, saham ENRG yang turun 1,01% ke level Rp 98 per saham dan saham BORN turun 6,5% ke level Rp 115 per saham.

Logis saja jika tren penurunan ini juga ada kaitannya dengan penyelenggaraan pemilu legislatif besok. “Pasar pesimistis Ical bakal terpilih,” pungkas Kiswoyo.

Editor: Djumyati Partawidjaja
Bumi Resources Rugi US$58 Juta Investasi di Afrika, Simak Ulasannya
Ardhanareswari AHP – Jum’at, 04 April 2014, 07:58 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), emiten di bawah Grup Bakrie, mendivestasikan kepemilikan sahamnya pada dua perusahaan pertambangan di Afrika dan mengalami kerugian US$58 juta atau sekitar Rp655 miliar dari divestasi tersebut.

Dalam keterangan resmi yang rilis BRMS pada Kamis (3/4), manajemen perseroan menyebutkan perseroan mendivestasikan kepemilikan sahamnya pada dua aset tambang di Afrika. BRMS melepaskan seluruh kepemilikannya pada tambang bijih besi yang berlokasi di Mauritania, Afrika Utara pada perusahaan lokal bernama Rubis International Ltd.

Adapun, kepemilikan perseroan pada perusahaan tambang emas dan berlian di Liberia, Afrika Barat saat ini hanya tinggal 5%. Namun, dalam rilisnya manajemen BRMS tidak menyebutkan entitas perusahaan yang menaungi aset tambang yang didivestasikan itu.
Mengutip laporan keuangan kuartal III/2013 BRMS, perusahaan itu melakukan investasi pada perusahaan yang memiliki konsesi tambang di wilayah Afrika.

Menurut laporan tersebut, BRMS tercatat mengurangi kepemilikan sahamnya pada Konblo Bumi Inc. dari 94,10% pada Desember 2012 menjadi hanya 5% per 30 September 2013.

Konblo Bumi adalah perusahaan pemilik tambang emas dan berlian di Liberia, Afrika Barat. Perusahaan ini dimiliki oleh BRMS melalui Lemington Investments Pte. Ltd.

Pada penghujung 2012, BRMS juga ter catat berinvestasi di Tamagot Bumi S.A., sebuah perusahaan tambang bijih besi di Mauritania, Afrika Utara. BRMS memiliki saham di Tamagot melalui Sahara Resources Pte. Ltd. sebesar 89,6%.

Namun, pada Juni 2013 Sahara Resources mengalihkan seluruh kepemilikan sahamnya atas Tamagot Bumi kepada Bumi Mauritania S.A., entitas anak BRMS yang dimiliki melalui Bumi Holding S.A.

Pada 30 September 2013, seluruh aset Tamagot Bumi dan Bumi Mauritania S.A. ini digolongkan sebagai aset perusahaan yang hendak dijual oleh perseroan. Nilai total kedua aset tersebut, berdasarkan laporan keuangan 31 Desember 2012 adalah US$52,73 juta.

Tampaknya saham inilah yang pada akhirnya dilepaskan pada Rubis International Ltd. Pasalnya mengutip laporan keuangan perseroan, perusahaan tersebutlah yang bekerjasama dengan BRMS dalam pengelolaan tambang bijih besi di Maritania.

Saat dikonfirmasi ke pihak BRMS, manajemen perseroan enggan memberikan keterangan tentang nilai persis divestasi seluruh aset tambang di Afrika tersebut.

Investor Relation BRMS Herwin Hidayat hanya menyebutkan tidak ada keuntungan yang diperoleh dari divestasi itu. “Tidak ada keuntungan dari divestasi aset Mauritania dan Liberia karena harus dibukukan biaya write off atas investasi kegiatan eksplorasi yang telah dilakukan sebelumnya,” katanya melalui pesan singkat pada Bisnis.
Dalam keterangan pers nya, perseroan menyebutkan nilai kerugian sebesar US$58 juta dan telah dicatatkan da lam laporan keuanganBRMS untuk tahun buku 2013. Perseroan hanya beralasan langkah ini diambil agar dapat fokus mengembangkan aset di Indonesia dengan lebih efisien.

Source : Bisnis Indonesia (4/4/2014)
Editor : Nurbaiti
Bakrie Cari Pinjaman Bank Rp 10 Triliun
Angga Aliya – detikfinance
Selasa, 04/03/2014 07:12 WIB

Jakarta -Grup Bakrie sedang berupaya mencari dana sekitar US$ 1,07 miliar untuk aksi korporasinya tahun ini. Dana tersebut akan dihimpun dari pinjaman bank.

Dana tersebut akan digunakan untuk tiga aksi korporasi, yaitu membeli 29,2% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari Asia Resource Minerals PLC, lalu 30% saham PT Arutmin Indonesia, dan 30% saham PT Mitratama Perkasa.

Juru Bicara Grup Bakrie Chris Fong optimistis dana tersebut akan bisa terkumpul tanpa kesulitan. Pasalnya, kata Fong, Grup Bakrie punya hubungan yang baik dengan banyak bankir.

“Bakrie Group adalah perusahaan berusia 72 tahun dan kami memiliki hubungan jangka panjang dengan para bankir dan tidak pernah gagal dalam urusan transaksi yang kaitannya dengan masalah pendanaan,” katanya kepada detikFinance, Selasa (4/3/2014).

Dana tersebut digunakan untuk pemisahan Grup Bakrie dengan Asia Resource. Transaksi tersebut membutuhkan dana sekitar US$ 501 juta. Perseroan sebelumnya sudah mendapat dana sebesar US$ 228 juta.

Grup Bakrie juga akan membeli 30% saham Arutmin dari Tata Power Co Ltd, perusahaan listrik terbesar di India. Dengan nilai transaksi US$ 500 juta, Grup Bakrie akan menguasai 100% saham Arutmin.

Saat ini Grup Bakrie baru menguasai 70% saham Arutmin melalui BUMI. Transaksi tersebut ditargetkan rampung Mei 2014.

Selain itu, Grup Bakrie juga akan membeli 30% saham Mitratama Perkasa masih dari Tata Power dengan nilai transaksi sebesar US$ 120 juta. Saat ini, Tata Power menguasai saham Mitratama melalui anak usahanya yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA). Transaksi tersebut dijadwalkan rampung April 2014.
(ang/ang)
BUMI: Hak Tata Power jual saham Arutmin
Oleh Veri Nurhansyah Tragistina – Sabtu, 01 Februari 2014 | 16:37 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) enggan banyak berkomentar atas keputusan Tata Power melepas kepemilikan 30% saham PT Arutmin Indonesia (Arutmin) dan PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI menyatakan, keputusan tersebut merupakan kewenangan Tata Power sepenuhnya. “Kami tidak terlibat dan tidak ada hubungannya dengan ini (keputusan Tata Power menjual saham Arutmin dan KPC),” kata dia kepada KONTAN, Sabtu (1/2).
Seperti diberitakan sebelumnya, konglomerasi asal India itu telah mengumumkan penjualan 30% saham KPC dan Arutmin senilai US$ 500 juta.
“Kondisi harga batubara saat ini memberikan tantangan bagi sektor pertambangan batu bara,” kata Anil Sardana, managing director Tata Power seperti yang dikutip KONTAN dari Business-standard, Sabtu (1/2).
Keputusan tersebut mengakhiri kongsi BUMI – Tata Power di Arutmin dan KPC yang terjalin sejak 2007 lalu. Terkait hal itu, Dileep enggan berkomentar soal rencana BUMI dalam mengembangkan dua anak usahanya itu selepas kepergian Tata Power.
Keputusan Tata Power sebenarnya terbilang mengejutkan. Pasalnya, Tata Power membutuhkan pasokan batubara cukyp besar untuk menghidupkan pembangkit listrik sebesar 4.000 megawatt (MW) yang ada di Mundra, Gujarat, India. Walaupun menjual sahamnya di KPC dan Arutmin, Tata Power menjamin pasokan batubara tidak mempengaruhi pasokan ke pembangkitnya.
Editor: Asnil Bambani Amri
Sabtu, 01 Februari 2014, 10:29 WIB
Tata Power Jual 30% Saham Arutmin ke Grup Bakrie
Gloria Natalia Dolorosa

Bisnis.com, JAKARTA – Tata Power Co. Ltd., perusahaan pembangkit listrik asal India, sepakat untuk melego 30% kepemilikan sahamnya di perusahaan tambang batu bara PT Arutmin Indonesia kepada Grup Bakrie senilai US$500 juta.

Tata Power, anak usaha kongolomerasi Tata Group, menyatakan penjualan itu akan meningkatkan arus kas dan mengurangi utang konsolidasi, tanpa mempengaruhi penawaran batu bara ke pabriknya.

Reuters, Jumat, (31/1/2013), menulis Tata Power menandatangani perjanjian melalui unit perusahaan yang dimiliki sepenuhnya. Penjualan tersebut akan dirampungkan dalam 3 bulan mendatang.

Tata Power mengakuisisi 30% saham di PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) pada Juni 2007 senilai US$1,1 miliar.. Bumi Resources mengontrol dua perusahaan penghasil batu bara thermal, yakni PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia.

Pembelian itu bertujuan mendukung proyek pembangkit listrik Tata Power di pantai barat India sebesar 7.000 MW selama 5 tahun ke depan. Proyek-proyek ini membutuhkan sekira 21 juta ton batu bara impor.

Editor : Bambang Supriyanto
Sempat Molor, Akhirnya Perusahaan Tambang Grup Bakrie Gelar RUPSLB
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Jumat, 10/01/2014 16:55 WIB

Jakarta -Perusahaan tambang milik Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akhirnya menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) setelah sebelumnya gagal dilaksanakan karena tidak kuorum. RUPSLB ini sempat molor lebih dari 2 jam dari agenda yang dijadwalkan pukul 14.00 WIB.

Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava mengatakan, dalam RUPSLB kali ini pihaknya akan membahas 3 agenda.

“Agenda pertama yang terpenting karena menyangkut kepentingan pemegang saham, critical bagi company yaitu persetujuan pelunasan utang ke China Investment Corporation (CIC),” ujar Dileep saat ditemui disela-sela RUPSLB di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (10/1/2014).

Dia menjelaskan, pihaknya yakin agenda terkait pelunasan utang ke CIC sebesar US$ 1,787 miliar (Rp 17,8 triliun) bakal disetujui.

“Diharapkan sepertinya akan disetujui kalau kuorum. Agenda 1 bisa approval,” kata dia.

Pelunasan utang ke CIC dilakukan melalui pengalihan saham di PT Kaltim Prima Coal dan Bumi Resources Mineral sebagai bagian dari penyelesaian utang kepada China Investment Coorporation (CIC) dan pembelian saham milik Kutai Timur Sejahtera di Kaltim Prima Coal oleh perseroan atau anak usaha.

Anak usaha Grup Bakrie itu akan menjual saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 19% atau setara US$ 950 juta (Rp 9,5 triliun), menjual saham BRMS sebesar 42% atau setara US$ 257 juta (Rp 2,57 triliun), dan melakukan penerbitan saham baru atau Rights Issue BUMI yang mencapai US$ 150 juta (Rp 1,5 triliun)
Berikutya, persetujuan untuk menjaminkan dan mengalihkan sebagian besar harta kekayaan perseroan.

Terakhir, perubahan struktur modal saham perseroan dan perubahan serta pengesahan seluruh anggaran dasar dan penambahan modal tanpa HMETD diundur.

Sebelumnya, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) batal digelar karena tidak kuorum. Investor pun kecewa karena sudah menunggu sejak tengah hari tadi.

Rapat tersebut tidak bisa dilaksanakan karena hanya 24,83% pemegang saham yang hadir. Sehingga sesuai peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rapat tidak boleh dilaksanakan.
Perusahaan Tambang Bakrie Jual Kaltim Prima Coal Buat Bayar Utang
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Jumat, 10/01/2014 17:55 WIB

Jakarta -Para pemegang saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyetujui pelunasan utang perseroan ke China Investment Coorporation US$ 1,787 miliar.

Pelunasan utang ke CIC dilakukan dengan menjual saham anak usaha perseroan PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 19% atau setara US$ 950 juta dan menjual saham BRMS sebesar 42% atau setara US$ 257 juta.

“Agenda pelunasan utang ke CIC sudah disetujui tadi dalam RUPS,” ujar Head of Investor Relation BUMI Ahmad Reza Wijaya usai RUPSLB BUMI di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (10/1/2014).

Reza mengatakan, dalam agenda pelunasan utang ke CIC tersebut, sedikitnya 97% dari 33,33% jumlah pemegang saham yang hadir menyetujui skema pelunasan utang tersebut.

“Menurut AD/ART kami dan aturan OJK, jumlah 33,33% pemegang saham yang hadir dalam agenda tersebut sudah dinyatakan kuorum,” terang dia.

Selain itu, agenda kedua dan ketiga akan digelar pada RUPS berikutnya yang jadwalnya belum direncanakan.

Reza menyebutkan, setelah ini pihaknya akan melaporkan agenda RUPS berikutnya ke OJK. Biasanya, kata dia, RUPS bakal digelar setelah 3 minggu atau 21 hari dari pelaporan.

“Agenda 2 dan 3 syaratnya untuk bisa kuorum 60% pemegang saham harus hadir. Habis ini lapor nanti ke OJK, yang menentukan mereka kapan RUPS, bisa 3 bulan biasanya 21 hari setelah lapor,” jelasnya.

Dia menyebutkan, agenda kedua akan membahas mengenai persetujuan untuk menjaminkan dan mengalihkan sebagian besar harta kekayaan perseroan.

Terakhir, perubahan struktur modal saham perseroan dan perubahan serta pengesahan seluruh anggaran dasar dan penambahan modal tanpa HMETD diundur.
(drk/dru)
BUMI Fokus Bayar Utang ke CIC US$1,3 M

Oleh: Seno Tri Sulistiyono
pasarmodal – Jumat, 20 Desember 2013 | 18:06 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada tahun depan akan fokus melunasi sejumlah utangnya kepada China Investment Corporation (CIC) sekitar US$1,3 miliar.

Direktur Utama PT Bumi Resources Tbk, Ari S. Hudaya mengatakan, pada 2014 perseroan tidak meningkatkan produksi batubara karena harganya diperkirakan mengalami penurunan.

“Harganya yang turun membuat kita tidak fokus untuk tingkatkan produksi. Kita lebih restrukturisasi utang dengan cara refinancing. Jadi beban bunganya akan berkurang, karena bunga saat ini tinggi,” kata Ari setelah ditundanya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Jumat (20/12/2013).

Lebih lanjut dia mengatakan, permintaan batubara dari negara China dan India juga mengalami penurunan, sehingga perseroan menyiasatinya tidak mendongkrak produksi.

“Coal price turun karena growth pertumbuhan industri seperti negara-negara India stop, ruppe-nya sudah terdepresiasi 40 persen, China akan stop, yang akan tetap Jepang dan Korea,” ujar Ari.

Pada hari ini Jumat (20/12/2013) perseroan gagal menggelar RUPSLB karena tidak mencapai kuorum. Pemegang saham BUMI yang hadir hanya mewakili 24,38% dari total pemegang saham yang sah. Adapun agenda RUPSLB BUMI di antaranya :

1. Persetujuan untuk pengalihan saham-saham milik Perseroan di dalam PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk sebagai bagian dari penyelesaian pelunasan utang perseroan kepada CIC dan pembelian saham-saham milik PT Kutai Timur Sejahtera di KPC oleh perusahaan atau anak perusahaan perseroan yang akan dilaksanakan sesuai dengan peraturan Bapepam-LK No. IX.E.2.

2. Persetujuan untuk menjaminkan atau mengangunkan dan mengalihkan sebagian besar harta kekayaan perseroan.

3. Perubahan struktur modal saham perseroan dan perubahan serta penegasan seluruh anggaran dasar perseroan. [hid]
Bos Tambang Grup Bakrie Dikerubuti Pemegang Saham
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Jumat, 20/12/2013 15:41 WIB

Jakarta -Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) batal digelar karena tidak kuorum. Investor yang kecewa pun langsung mengerubuti Direktur Utama BUMI Ari Hudaya.

Setelah manajemen mengumumkan batalnya rapat, investor pun sempat kecewa dan bertanya-tanya alasan batalnya rapat tersebut. Ari yang memang berada di dalam ruang rapat pun langsung jadi sasaran.

Ari pun dikelilingi sekitar dua puluhan investor yang banyak melempar pertanyaan, seperti mengapa rapat batal, mengapa BUMI masih rugi, langkah-langkah apa yang dilakukan manajemen untuk atasi utang dan lain-lain.

“Tenang-tenang. Ayo kita duduk bareng sambil diskusi,” kata Ari kepada para investor di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (20/12/2013).

Namun para investor memilih untuk tidak duduk supaya bisa cepat dapat penjelasan dari Ari. Ia pun menjawab pertanyaan investor satu-persatu.

Sementara sebagian besar investor yang kecewa karena rapat batal digelar pun memilih tinggalkan ruangan. Seusia peraturan, BUMI harus mengadakan RUPSLB lagi dalam jangka waktu tiga pekan ke depan.

(ang/dnl)
BUMI private placement Rp 5,8 triliun
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Kamis, 05 Desember 2013 | 19:56 WIB
kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akhirnya memutuskan untuk melakukan private placement ketimbang rights issue. Jumlah saham yang akan diterbitkan terbilang fantastis, 65,78% dari total ditempatkan dan disetor penuh perseroan saat ini.
Berdasarkan prospektus yang terbit hari ini, manajemen BUMI menjelaskan, total saham baru yang akan diterbitkan sebanyak-banyaknya mencapai 13,66 miliar. Jumlah ini jauh lebih besar dari yang ditentukan semula, yakni 10%-15%.
Saham baru tersebut memiliki nilai nominal lebih rendah dari saham BUMI saat ini. Nilai nominal saham BUMI sebesar Rp 500 per saham. Namun, pada saham baru ini, harga nominal saham hanya Rp 200 per saham.
Oleh karena itu, saham ini memiliki seri berbeda, yakni saham seri B. Harga saham baru yang akan ditransaksikan Rp 425 per saham. Dengan demikian, total transaksi penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non HMETD) ini mencapai Rp 5,8 triliun.
Saham baru ini tidak hanya ditawarkan kepada China Investment Corporation (CIC). Tapi, juga beberapa kreditur yang berminat setuju mengonversi pinjaman yang diberikan dengan saham BUMI.
Seperti diketahui, penerbitan saham baru ini merupakan salah satu mekanisme penyelesaian saham perseroan menyelesaikan utang kepada CIC. Untuk CIC, BUMI akan memberikan kepemilikan saham setara dengan nilai US$ 150 juta.
Misal, dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia (BI), 1US$ = Rp 12.018. Maka US$ 150 juta setara dengan Rp 1,8 triliun. Berarti, saham yang akan dialihkan ke CIC sebanyak 4,24 miliar. Jumlah ini setara dengan 12,31% dari total saham beredar BUMI setelah non HMETD.
Selain CIC, ada beberapa kreditur yang memiliki sangkutan dengan BUMI. Mereka adalah China Development Bank (CDB), Credit Suisse, Axis Bank Limited, Deutsche Bank, UBS AG, dan Nomura. Selain itu, perseroan juga memiliki utang berupa guaranteed senior notes I dan II.
Setelah non HMETD, porsi kepemilikan saham BUMI para kreditur akan menjadi 39,68%. Sedangkan, Vallar Investments UK Ltd akan menciut dari 29,18% menjadi 17,6%. Begitu juga porsi publik di bawah 5% akan jauh berkurang dari 70,82% menjadi 42,72%.
Editor: Asnil Bambani Amri
BUMI private placement Rp 5,8 triliun Oleh Amailia Putri Hasniawati – Kamis, 05 Desember 2013 | 19:56 WIB kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akhirnya memutuskan untuk melakukan private placement ketimbang rights issue. Jumlah saham yang akan diterbitkan terbilang fantastis, 65,78% dari total ditempatkan dan disetor penuh perseroan saat ini. Berdasarkan prospektus yang terbit hari ini, manajemen BUMI menjelaskan, total saham baru yang akan diterbitkan sebanyak-banyaknya mencapai 13,66 miliar. Jumlah ini jauh lebih besar dari yang ditentukan semula, yakni 10%-15%. Saham baru tersebut memiliki nilai nominal lebih rendah dari saham BUMI saat ini. Nilai nominal saham BUMI sebesar Rp 500 per saham. Namun, pada saham baru ini, harga nominal saham hanya Rp 200 per saham. Oleh karena itu, saham ini memiliki seri berbeda, yakni saham seri B. Harga saham baru yang akan ditransaksikan Rp 425 per saham. Dengan demikian, total transaksi penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non HMETD) ini mencapai Rp 5,8 triliun. Saham baru ini tidak hanya ditawarkan kepada China Investment Corporation (CIC). Tapi, juga beberapa kreditur yang berminat setuju mengonversi pinjaman yang diberikan dengan saham BUMI. Seperti diketahui, penerbitan saham baru ini merupakan salah satu mekanisme penyelesaian saham perseroan menyelesaikan utang kepada CIC. Untuk CIC, BUMI akan memberikan kepemilikan saham setara dengan nilai US$ 150 juta. Misal, dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia (BI), 1US$ = Rp 12.018. Maka US$ 150 juta setara dengan Rp 1,8 triliun. Berarti, saham yang akan dialihkan ke CIC sebanyak 4,24 miliar. Jumlah ini setara dengan 12,31% dari total saham beredar BUMI setelah non HMETD. Selain CIC, ada beberapa kreditur yang memiliki sangkutan dengan BUMI. Mereka adalah China Development Bank (CDB), Credit Suisse, Axis Bank Limited, Deutsche Bank, UBS AG, dan Nomura. Selain itu, perseroan juga memiliki utang berupa guaranteed senior notes I dan II. Setelah non HMETD, porsi kepemilikan saham BUMI para kreditur akan menjadi 39,68%. Sedangkan, Vallar Investments UK Ltd akan menciut dari 29,18% menjadi 17,6%. Begitu juga porsi publik di bawah 5% akan jauh berkurang dari 70,82% menjadi 42,72%. Editor: Asnil Bambani Amri Rupiah Jeblok Bikin Utang Bakrie Makin Menumpuk Maikel Jefriando – detikfinance Jumat, 22/11/2013 13:58 WIB Jakarta -PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) punya utang Rp 6,7 triliun hingga triwulan III-2013. Utang ini naik dari sebelumnya yang hanya Rp 5,7 triliun. Peningkatan utang itu disebabkan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir. “Utang jangka panjang dan pendek naik dari Rp 5,7 triliun ke Rp 6,7 triliun. Karena depresiasi rupiah,” ujar Presiden Direktur BNBR Bobby Gafur dalam paparan publik tahun 2014, di Bakrie Tower, Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Jumat (22/11/2013). Ia mengatakan, pergeseran nilai mata uang yang cukup mendalam ini berpengaruh buruk pada utang perseroan. Apalagi mayoritas utang perseroan dalam posisi dolar AS. Awal tahun 2013, dolar AS berada di kisaran antara Rp 9.500 per dolar AS dan saat ini melambung tinggi hingga berputar di kisaran Rp 11.600 per dolar AS. “Kenaikan utang terjadi akibat pelemahah rupiah dari dolar. Kurs dolar awalnya Rp 9.500-an, sekarang Rp 11.600-an. Maka dari itu rasio utang tercatat kenaikan. Karena banyak simpanan dalam bentuk dolar,” jelasnya. Selain utang, Bobby mengatakan pelemahan rupiah juga berdampak buruk pada penurunan pendapatan dan kerugian. Ini terjadi hampir di seluruh perusahaan. Ia menilai itu tidak bisa dihindarkan oleh perusahaan manapun. “Ini tidak bisa dihindarkan. Ini berdampak kepada seluruh perusahaan yang memiliki utang dalam bentuk dolar,” terangnya. (mkl/ang) BUMI Tekan Beban Utang, Coba Lunasi Kewajiban CIC Oleh: Seno Tri Sulistiyono pasarmodal – Rabu, 20 November 2013 | 20:08 WIB INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berupaya menekan biaya beban utangnya sekitar US$216 juta atau sekitar Rp2,51 triliun pada tahun ini. Penghematan ini bisa dilakukan jika perseroan melunasi kewajiban utangnya kepada China Investment Corporation (CIC) sebesar US$1,78 miliar. “Bila transaksi ke CIC sudah selesai BUMI dapat save interest cost sebesar US$216 juta,” kata Direktur BUMI, Andrew Beckham seusai Public Expose di Jakarta, Rabu (20/11/2013). Sebelumnya perseroan menyampaikan penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam transaksi CIC. BUMI akan menyelesaikan utang pokok senilai US$1,3 miliar dengan menyerahkan beberapa asetnya. Yakni, 19% saham PT Kaltim Prima Coal (KPC), 42%saham PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) dan juga melakukan penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue) senilai US$150 juta. Namun, aksi ini masih menunggu persetujuan pemegang saham dan jika diberikan lampu hijau maka BUMI hanya memiliki utang kepada CIC sebesar US$430 miliar. Dengan sisa utang tersebut, kata Andrew, perseroan berupaya mencari pinjaman baru dari CIC dengan nilai sebesar sisa utang yakni US$430 juta. Diharapkan, utang baru nantinya memiliki tenor tiga tahun dengan bunga suku bunga antar bank London alias London Interbank Offered Rate (LIBOR) +6,7% per tahun. Recapital bayar duit BUMI dengan saham KPC Oleh Amailia Putri Hasniawati – Rabu, 20 November 2013 | 18:31 WIB kontan JAKARTA. Terjawab sudah misteri dana investasi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada Recapital Asset Management (RAM). Keduanya telah sepakat untuk melakukan jual beli saham PT Kaltim Prima Coal (KPC). Andrew Christopher Beckham, Direktur Keuangan BUMI menjelaskan, adanya rights issue KPC akan mendilusi kepemilikan BUMI di perusahaan batubara itu. “Kami akan jual 19% saham KPC ke CIC, saham kami akan menjadi 46%, nanti Recapital akan mentransfer 5% saham KPC ke kami,” ujarnya, Rabu (20/11). Sehingga, lanjut dia, BUMI akan tetap menjadi pemegang mayoritas saham KPC, yakni sebesar 51%. Ia tidak menjelaskan, siapa saja sebenarnya pemilik saham KPC. Ia hanya memastikan nilai 5% saham KPC setara dengan dana investasi yang ada di Recapital. Sekadar mengingatkan, BUMI menginvestasikan dananya sebesar US$ 400 juta dalam bentuk kontrak pengelolaan dana (KPD). Namun, sudah sempat dicairkan dan tersisa sekitar US$$ 252,26 juta. Dana ini tak kunjung cair sebelum akhirnya dibuat kesepakatan mengenai pembayaran saham dengan saham KPC. Inilah Agenda RUPS Bumi Plc Oleh: pasarmodal – Senin, 11 November 2013 | 00:04 WIB INILAH.COM, Jakarta – Bumi Plc akan menggelar rapat pemegang saham pada 4 Desember 2013 mendatang. Beberapa agenda telah siap dan termasuk langkah strategis. Salah satu diantaranya adalah perseroan akan memisahkan keluarga Bakrie dalam daftar pemegang saham. Perseroan menyiapkan US$501 juta untuk 29,2 persen. Demikian mengolah rilis perseroan pada akhir pekan kemarin. Agenda lain dalam rapat tersebut adalah perubahan nama menjadi Asia Resources Mineral Plc. Bumi Plc juga akan mengembalikan dana US$400 juta kepada pemegang saham lainnya. [hid] Perceraian Bakrie-Bumi PLC Molor, Dibahas Lagi 4 Desember Angga Aliya – detikfinance Jumat, 08/11/2013 11:20 WIB London -Perusahaan tambang asal London Bumi PLC membuka kembali pembahasan untuk memisahkan diri dari Grup Bakrie setelah molor beberapa bulan. Rencana ‘perceraian’ ini akan dibahas dalam rapat pemegang saham pada 4 Desember mendatang. Pemegang saham akan diminta voting terkait keputusan tersebut, yaitu menjual 29,2% kepemilikan Bumi PLC di perusahaan tambang batubara terbesar di Indonesia, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang dikuasai Grup Bakrie. Seperti dikutip dari Wall Street Journal, Jumat (8/11/2013), jika pemegang saham sepakat maka Grup Bakrie harus membeli saham-sahamnya itu dengan nilai US$ 501 juta (Rp 5 triliun) guna memutuskan hubungan dengan perusahaan hasil kongsinya dengan pebisnis Nathaniel Rothschild tersebut. Masih dalam rencana perceraian itu, komisaris Bumi PLC Samin Tan, melalui perusahaan miliknya PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) berniat membeli sisa saham minoritas Grup Bakrie di Bumi PLC senilai US$ 223 juta (Rp 2,23 triliun). Jika itu terlaksana, maka Samin akan menguasai lebih dari 50% saham Bumi PLC. Seperti diketahui Grup Bakrie sudah memenangkan pertarungan dengan Nathaniel Rothschild atas Bumi PLC dalam RUPSLB yang digelar di Inggris, London, Februari lalu. Atas kemenangan itu, Bakrie Group harus menyiapkan dana untuk membeli kembali (buyback) seluruh saham BUMI yang dipegang Bumi PLC. Oktober tahun lalu, Grup Bakrie sudah memutuskan untuk putus hubungan dengan Rothschild dan Bumi PLC. Namun kesepakatan perceraiannya sudah banyak berubah sejak RUPSLB yang digelar di Inggris awal tahun ini Perceraian Bakrie-Bumi PLC Molor, Dibahas Lagi 4 Desember Angga Aliya – detikfinance Jumat, 08/11/2013 11:20 WIB Halaman 2 dari 2 Kesepakatan terakhir adalah BORN, yang dikendalikan Samin Tan, membeli 24% saham Bumi PLC dari Grup Bakrie senilai US$ 223 juta. Setelah itu Grup Bakrie akan membeli 29% saham BUMI yang dipegang Bumi PLC senilai US$ 501 juta. Hal ini membuat para analis pesimistis Grup Bakrie bisa menyediakan uang sebanyak itu dalam waktu dekat. Semua berawal pada November 2010 silam, Vallar Plc, perusahaan raksasa milik keluarga Rothschild mengambil alih 75% saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan 25% saham BUMI senilai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 27 triliun. Vallar Plc merupakan perusahaan investasi milik keluarga Rothschild yang merupakan bankir terkaya di dunia. Kala itu, Vallar baru saja menggelar IPO raksasa di Bursa London senilai US$ 1,07 miliar atau Rp 9 triliun pada Juli 2010. BNBR menandatangani perjanjian jual beli dengan Vallar Plc untuk melepaskan 5,2 miliar saham BUMI di Rp 2.500 untuk mendapatkan 90,1 juta saham baru Vallar, di mana BNBR akan menerima 50,5 juta saham baru di Vallar seharga 10 poundsterling per saham. Setelah transaksi itu, BNBR menjadi induk usaha Vallar Plc, sedangkan Vallar Plc akan menjadi pemegang 25% saham BUMI. Vallar Plc pun berganti nama menjadi Bumi Plc. Rothschild Sindir Bumi Atas Pembelian Inter Milan Gloria Natalia Dolorosa – Sabtu, 19 Oktober 2013, 17:10 WIB catatan INVESTASI SUPERJANGKAPANJANG sejak 2000-2013, sebagai indikator imbal hasil REKSA DANA SAHAM kita Bisnis.com, JAKARTA – Nathaniel Rothschild menyatakan investasi di klub sepakbola Inter Milan senilai US$173 juta yang dilakukan mantan direktur Bumi Plc menunjukkan Bumi Plc tidak bertindak dalam memulihkan dana yang hilang. Pada Juni lalu Bumi menyatakan telah menandatangani perjanjian dengan Rosan. Isinya, Rosan akan memulihkan kerugian sebesar US$173 juta. Rosan adalah mantan anggota dewan dan eks-CEO PT Berau Coal Energy Tbk. (BRAU), anak usaha Bumi Plc. Sebuah kelompok yang berisi tiga pengusaha terkemuka Indonesia, yakni Erick Thohir, Rosan Roeslani, dan Handy Soetedjo, pada pekan ini membeli 70% kepemilikan saham di Liga Italia Seri A, F.C. Internazionale Milano S.p.A. “Roeslani hanya memiliki dana dan kebebasan untuk melakukan ini karena dewan Bumi telah gagal untuk mengambil tindakan hukum apapun hingga saat ini menghadapinya,” kata Rothschild seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (19/10/2013). Rothschild memiliki 21% hak suara di Bumi. Dia, keturunan dinasti perbankan Inggris, berhenti dari dewan Bumi pada Oktober 2012 di tengah perselisihan dengan sesama pendiri, yakni keluarga Bakrie. ROeslani mengundurkan diri pada Desember dan turun dari Berau Coal pada Januari. Surat kabar Italia Corriere Della Sera melaporkan pada bulan lalu bahwa penjualan saham Inter Milan telah disepakati sekitar US$300 juta euro atau setara US$411 juta. “Tidak logis membuat hubungan antara investasi Inter Milan dengan situasi di Bumi karena keduanya benar-benar berbeda,” tulis Roslan dalam surat elektroniknya kepada Bloomberg News. Menurutnya, pihaknya memiliki komite investasi independen untuk mengidentifikasi peluang investasi serta risiko. “Masalah Bumi adalah topik lama yang sudah dibahas dengan transparansi penuh dan tentu saja komitmen penuh,” tulis Roslan. Bumi dalam surat elektroniknya, 18 Oktober 2013, menyatakan Roslan pada Juni silam setuju untuk mengembalikan uang dan aset pada 26 Desember. “Nilai riil akan diperoleh kembali untuk Berau melalui penerapan perjanjian ini. Perusahaan telah bekerja secepat mungkin,” tulis Bumi Plc. Edoardo Caldara, juru bicara Inter Milan, mengatakan Inter Milan tidak akan berkomentar atas perjanjian 15 Oktober yang mengumumkan penjualan Inter Milan kepada investor Indonesia. Menurut Bumi Plc, perjanjian antara Bumi dengan Roeslani untuk pengembalian aset menyatakan Roslan tidak membuat pengakuan atas kesalahah atau kewajiban. Pada Mei, Berau Coal menemukan pengeluaran sebesar US$201 juta dalam hasil audit kinerja keuangan perseroan pada 2012. Dana tersebut keluar tanpa tujuan usaha yang jelas. Sebulan kemudian Roslan sepakat untuk mentransfer kas dan setara kas senilai US$173 Juta ke Bumi dalam sengketa yang dibawa ke UK’s Serious Fraud Office itu. Saham BUMI, BRMS dan ELTY Aktif Lagi Oleh: Wahid Ma’ruf pasarmodal – Jumat, 18 Oktober 2013 | 11:09 WIB INILAH.COM, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut penghentian sementara saham BUMI, BRMS dan saham ELTY di seluruh pasar per sesi I hari ini. Untuk saham PT Bakrieland Devepopment Tbk (ELTY), BEI beralasan dengan telah disampaikannya keterbukaan informasi atas penolakan permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) perseroan oleh Pengadilan Niaga berserta langkah yang akan ditempuh perseroan. Demikian mengutip keterangan resmi BEI, Jumat (18/10/2013). Sedangkan untuk saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) setelah BEI menerima penjelasan perseroan soal skema konversi utang menjadi saham dengan CIC. BUMI telah mengirim surat tersebut pada 16 Oktober 2013 lalu. Demikian juga terhadap saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menjadi satu keterangan dengan PT Bumi Resources pada 16 Oktober 2013 lalu. BUMI Utang Ke CIC, Ini Rincian Tahapan Pelunasannya Gita Arwana Cakti – Rabu, 16 Oktober 2013, 16:01 WIB Bisnis.com, JAKARTA – Belum lama ini, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyampaikan rencananya untuk mengembalikan pinjaman senilai US$1,3 miliar kepada China Investment Corporation (CIC) dalam bentuk penukaran (swap) kepemilikan saham di empat anak usaha BUMI. Direktur dan Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivasta menyebutkan empat anak usaha tersebut adalah PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Kaltim Prima Coal (KPC), Indocoal Resources (Cayman) Ltd, dan PT Indocoal Kaltim Resources. Pada hari ini, Rabu (16/10/2013), perseroan melengkapi penjelasan rencana aksi korporasi itu dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Berikur rincian tahapan penyelesaian utang emiten berkode saham BUMI kepada CIC: a. Pengalihan 42% saham milik BUMI di BRMS. Pengalihan itu dilakukan berdasarkan perjanjian jual beli bersyarat dengan harga penjualan saham BRMS ditetapkan pada level Rp268 per saham. Pada tahap penyelesaian (closing date), seluruh saham dialihkan melalui crossing di pasar negosiasi dan pemindahbukuan saham-saham dari sub rekening atas nama Bumi Reources ke sub rekening atas nama CIC atau afiliasi. Seiring proses tersebut, CIC juga akan menerbitkan surat pelunasan dan pembebasan utang senilai US$257 juta. Perseroan berharap transaksi penjualan saham BRMS itu selesai pada akhir November 2013. b. Pengalihan 19% saham BRMS di Kaltim Prima Coal (KPC). KPC berencana menerbitkan saham baru (rights issue) yang ditawarkan kepada seluruh pemegang saham KPC. Adapun 19% saham KPC setelah rights issue akan diambil oleh perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh perseroan (Newco), Bhira Investments Limited (afiliasi Tata Power) dan PT Kutai Timur Sejahtera. Bersamaan dengan rights issue KPC, seluruh saham milik Kalimantan Coal Ltd dan Sangatta Holding Ltd di KPC akan dialihkan kepada Bumi Resources. Ini merupakan transaksi internal. Setelah seluruh proses dilakukan, maka kepemilikan saham Bumi Resources di KPC secara langsung dan tidak langsung tercatat 51%. Setelah rights issue KPC dan transaksi internal tuntas, perseroan akan mengalihkan seluruh saham Newco ke CIC atau afiliasinya dengan nilai transaksi penjualan sekitar US$950 juta. Selain persetujuan RUPS, seluruh aksi korporasi itu juga akan meminta persetujuan lebih dulu dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Koordinasi Penanaman Modal, dan para kreditur perseroan. Perseroan berharap seluruh rangkaian transaksi penyelesaian utang CIC dengan pengalihan secara tak langsung 19% saham di KPC tuntas akhir November 2013. Dileep juga menyebutkan selain transaksi penukaran saham di empat anak usahanya, perseroan juga akan melakukan rights issue dalam rangka penyelesaian urang CIC. Perseroan akan mendaftarkan ke Otoritas Jasa Keuangan pada akhir bulan ini. Dalam aksi korporasi tersebut, CIC atau afiliasinya akan bertindah menjadi pembeli siaga (standby buyer). “Seluruh atau sebagian besar dana hasil rights issue akan digunakan untuk menyelesaikan utang ke CIC senilai US$150 juta. Jika sisa saham tidak diambil pemegang saham, maka standby buyer akan melaksanakan pembelian sisa saham itu dengan cara debt to equity swap,” paparnya. Saham KPC Dihargai US$ 950 Juta, Bumi Minerals US$ 257,4 Juta Oleh Jauhari Mahardhika | Senin, 14 Oktober 2013 | 11:21 JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membanderol 19% saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) senilai US$ 950 juta, sedangkan 42% saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar US$ 257,4 juta. Bumi akan menyerahkan saham anak usahanya tersebut kepada China Investment Corporation (CIC) sebagai bagian dari penyelesaian utang. Bumi juga akan menerbitkan saham baru kepada CIC melalui penawaran umum terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue) senilai US$ 150 juta. Selain itu, Bumi siap menyerahkan 19% saham Indocoal Resources (Cayman) Ltd dan 19% saham PT Indocoal Kaltim Resources kepada perusahaan investasi milik Pemerintah Tiongkok tersebut. Bumi akan menukar saham perseroan, KPC, Bumi Minerals, dan Indocoal untuk menyelesaikan utang pokok kepada CIC sebesar US$ 1,3 miliar. Perjanjian pertukaran utang dengan saham (debt to equity swap) tersebut telah ditandatangani oleh Bumi dan CIC. Meski demikian, Bumi masih memiliki sisa utang sekitar US$ 430 juta. Sebab, total utang perusahaan batubara terbesar di Indonesia milik keluarga Bakrie itu mencapai US$ 1,78 miliar.

Bumi Resources Masih Utang US$1,9 Miliar, Mau Bayar Pakai Apa Lagi?

Sutarno   –   Kamis, 10 Oktober 2013, 14:36 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk. kembali menjadi berita  setelah otoritas bursa BEI mensuspensi saham berkode BUMI tersebut hari ini, Kamis (10/10/2013). Kemarin, Rabu (9/10/2013), BUMI menjadi buah bibir ketika mengumumkan konversi  pinjaman senilai US$1,3 miliar kepada China Investment Corporation (CIC) dalam bentuk penukaran (swap) kepemilikan saham di empat anak usaha BUMI. Empat perusahaan yang di-swap sahamnya adalah PT Bumi Resources Minerals (sebesar 42%), PT Kaltim Prima Coal (19%), Indocoal Resources (Cayman) Ltd (19%), dan PT Indocoal Kaltim Resources (19%). Berdasarkan laporan keuangan BUMI, perusahaan itu masih memiliki utang jangka panjang US$3,2 miliar (lihat tabel). Pembayaran utang CIC itu merupakan pelunasan utang  Country Forest Limited 2009. Country Forest merupakan anak perusahaan CIC. Dengan demikian, masih ada sisa utang jangka panjang sebesar US$1,9 miliar. Mau melego anak perusahaan mana lagi untuk melunasinya? Daftar Utang Jangka Panjang BUMI per 31 Maret 2013

Kreditur Pokok pinjaman
Dalam dolar AS
Fasilitas Country Forest Limited 2009 (CIC)

US$1.300.000.000

Guaranteed Senior Secured Note II

US$700.000.000

Fasilitas China Development Bank

US$600.000.000

Fasilitas Credit Suisse 2010-1

US$246.972.121

Guaranteed Senior Secured Notes

US$300.000.000

Fasilitas Axis Bank Limited 2011

US$170.000.000

Fasilitas Credit Suisse 2010-2

US$150.000.000

Fasilitas Deutsche Bank 2011

US$114.000.000

Fasilitas UBS AG 2012-1

US$75.000.000

Fasilitas Pinjaman Nomura

US$11.696.179

Dalam rupiah   
Fasilitas Bank Mualamat

US$1.408.912

Fasilitas Bank Bukopin

US$752.370

Total

US$3.669.829.582

Dikurangi Bagian jangka pendek

(US$478.472.121)

Utang Jangka Panjang

US$3.191.357.461

Sumber: Laporan Keuangan Kuartal I/2013

Editor : Sutarno

Tambang Grup Bakrie Bayar Utang Rp 13 Triliun Pakai Saham Angga Aliya – detikfinance Rabu, 09/10/2013 17:33 WIB Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan menyelesaikan utangnya kepada China Investment Corporation (CIC) senilai US$ 1,3 miliar (Rp 13 triliun). Utangnya tidak semuanya dibayar lunas tapi ada yang dikonversi menjadi kepemilikan saham. “BUMI percaya bahwa penyelesaian sisa utang akan mengembalikan dan meningkatkan nilai perusahaan dan para pemangku kepentingan,” kata Sekretaris Perusahaan BUMI, Dileep Srivastava dalam siaran pers, Rabu (9/10/2013). Sebagian dari jumlah utang itu akan ditukar dengan 42% kepemilikan saham di anak usaha perseroan, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), 19% kepemilikan saham PT Kaltim Prima Coal (KPC), Indocoal Resources (Cayman) Ltd. dan PT Indocoal Kaltim Resources. Selain itu akan ada penerbitan saham baru BUMI senilai US$ 150 juta (Rp 1,5 triliun). Sedangkan untuk sisa pinjaman dua tahap yang diterima tambang Grup Bakrie itu akan dikonversi menjadi pinjaman berjangka waktu 3 tahun dengan suku bunga kompetitif. Atas rencana ini perseroan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk dapat persetujuan sesuai ketentuan perundangan-undangan yang berlaku sehingga bisa selesai akhir tahun ini. (ang/dnl) Bagaimana BUMI akan melunasi utangnya? Oleh Amailia Putri Hasniawati – Kamis, 03 Oktober 2013 | 16:10 WIB kontan JAKARTA. Melempemnya kinerja membuat fulus PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kian mengempis. Ditambah, perseroan gagal mencairkan dana investasinya di PT Recapital Asset Management (RAM). Lalu bagaimana nasib utang-utang BUMI? Berdasarkan laporan keuangan sepanjang semester I-2013, BUMI masih mencatatkan rugi bersih US$ 248,59 juta. Pendapatannya pun menyusut dari US$ 1,94 miliar menjadi US$ 1,85 miliar. BUMI juga mencatatkan defisit untuk laba yang belum dicadangkan dengan nilai mencapai US$ 1,09 miliar. Di saat yang sama, kas perseroan hanya tersisa US$ 89,16 juta. Sementara itu, BUMI masih harus membayar pinjaman jangka pendek dan jangka panjang yang totalnya mencapai US$ 3,21 miliar. Perinciannya, pinjaman jangka pendek senilai US$ 100 juta, sedangkan pinjaman jangka panjang totalnya mencapai US$ 3,11 miliar. Utang jangka pendek yang dimaksud adalah utang milik anak usaha, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Utang ini seharusnya jatuh tempo pada 19 September 2013. Namun, pihak kreditur, Credit Suisse AG melunak dan memberikan tenggat tiga bulan sejak jatuh tempo kepada BRMS untuk dilunasi. Sedangkan utang jangka panjang BUMI yang terbesar adalah sangkutan kepada Country Forest Limited (CFL) yang merupakan anak usaha China Investment Corporation (CIC). Dari total US$ 1,9 miliar yang ditarik, kini masih tersisa US$ 1,3 miliar. Sebesar US$ 600 juta akan jatuh tempo kuartal tiga tahun depan, dan US$ 700 juta harus dibayar September 2015. Kendati utang ini baru jatuh tempo tahun depan, namun, beban bunga yang tinggi mencekik keuangan perusahaan batubara milik Keluarga Bakrie ini. Bunga dari pinjaman ini sebesar 12% per tahun dan harus dibayar setiap bulan. Sebelumnya, manajemen BUMI gembar gembor akan mempercepat pembayaran utang ini. Namun, hingga saat ini, hal itu tidak juga terlaksana. Selain itu, salah satu utang jangka panjang BUMI, yakni fasilitas Credit Suisse 2010-2 yang ditarik pada 19 Agustus 2010 jatuh tempo tahun ini. Nilai pinjaman mencapai US$ 150 juta dan dibebankan bunga seebsar LIBOR ditambah 11% per tahun. Namun, pada 9 Agsutus 2013 kemarin, BUMI, entitas anak usaha yakni PY Sitrade Coal, Kalimantan Coal Ltd, Sangatta Holdings Limited, dan Forerunner International Pte. Ltd (bertindak sebagai original guarantors) serta Credit Suisse cabang singapura (sebagai facility agent) mendatangani supplemental agreement yang mengubah beberapa ketentuan di dalam pernjanjian kredit ini. Isinya, jatuh tempo pinjaman mundur dan harus dilunasi dengan mengangsurnya selama lima belas bulan sejak Oktober 2013 hingga November 2014. Konsekuensi dari pemunduran waktu jatuh tempo ini adalah kreditur membebankan bunga yang lebih tinggi menjadi LIBOR ditambah 18% per tahun dan efektif sejak 7 Agustus 2013. Dari mana BUMI bisa memperoleh dana untuk membayar semua kewajiban tersebut? Sebenarnya, BUMI memiliki sejumlah piutang yang sekiranya bisa digunakan untuk membayar cicilan pinjaman yang menggunung. Misalnya, piutang milik PT Bukit Mutiara dan Candice Invesments Pte. Ltd. Total nilainya mencapai US$ 398,9 juta. Namun, sejak tahun lalu, BUMI tidak kunjung berhasil menarik piutang dari Bukit Mutiara. Parahnya, dana investasi BUMI di Recapital Asset Management (RAM) pun sudah dipastikan tidak akan cair. Pasalnya, pada 26 Agustus 2013 lalu, perseroan dan Recapital Asset Management (RAM) telah menyepakati bahwa dana investasi BUMI yang ada di RAM akan diselesaikan secara non-tunai. BUMI akan mengambil bagian atas saham-saham RAM sebagai pelunasan secara penuh atas kewajiban RAM kepada BUMI. Nah, kalau sudah begini, langkah apa yang akan dilakukan BUMI untuk melunasi utang-utangnya? Benakat Amankan Kontrak Jangka Panjang Kamis, 3 Oktober 2013 indofinanz PT Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPI) mengganti identitas perseroan menjadi PT Benakat Integra Tbk mengklaim telah mengamankan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$300 juta sampai per tahun hingga tahun 2012. Direktur Keuangan BIPI, Michael Wong, dalam keterangannya usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Rabu (3/10), mengatakan, perseroan mendapatkan kontrak mengelola proses logistik dari PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia. Kontrak jangka panjang diraih anak perusahaan PT Astrindo Mahakarya Indonesia. Benakat Integra juga membidik kontrak jangka panjang di bidang jasa infrastruktur pertambangan di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Likuiditas BUMI Kritis 3-6 Bulan ke Depan. Ada Apa? Editor – Rabu, 25 September 2013, 06:46 WIB Bisnis.com, JAKARTA – Likuiditas PT.Bumi Resources Tbk (BUMI) diperkirakan hanya mampu bertahan dalam periode waktu 3-6 bulan ke depan, sehingga emiten milik Grup Bakrie berpotensi menjual aset atau melakukan restrukturisasi modal sebelum akhir tahun ini. Dalam laporan Moody’s Investor Service bertajuk Liquidity Is Vital for Asian Coal Producers amid Oversupply and High Leverage yang dirilis Selasa (24/9/2013) disebutkan opsi yang sangat mungkin dilakukan BUMI adalah menjual non-core assetsnya seperti Bumi Resources Minerals. Moody’s juga merevisi harga rata-rata pada 2013 untuk batu bara termal Newcastle menjadi US$80-85 per ton dan US$150 per ton untuk batu bara hard coking Queensland. “Kami memperkirakan harga batu bara termal dan coking tidak pulih pada 2014,” tulis Moody’s dalam laporannya yang diterima Bisnis, Selasa (24/9/2013). Hal inilah yang akan membuat kinerja Bumi serta emiten batu bara lainnya akan menjadi lebih sulit. Namun, untuk saat ini, tiga emiten batu bara lainnya yakni PT Berau Coal Energy Tbk, PT Indika Energy Tbk dan PT Adaro Indonesia Tbk dinilai masih memiliki kas yang cukup untuk mendanai kegiatan operasional dan biaya bunga. Ketika dimintai konfirmasi soal laporan Moody’s tersebut, Direktur dan Sekretaris Korporasi Bumi Resources Dileep Srivastava enggan berkomentar karena belum membaca laporan. Dia hanya menyatakan tujuan BUMI adalah mengurangi utang US$1,5 miliar hingga US$2 miliar dari cost debt yang lebih tinggi dengan berbagai langkah strategis. Secara operasional, BUMI telah menghasilkan 40,5 juta ton dan menjual 39,6 juta ton batu bara pada Januari hingga Juni 2013. Angka penjualan ini meningkat 20% dibandingkan dengan penjualan pada semester I tahun lalu Selengkapnya baca: http://epaper.bisnis.com/index.php/ePreview?IdCateg=201309253313# Source : Bisnis Indonesia (25/9/2013) Editor : Yusran Yunus BUMI Targetkan Penjualan Batubara 78 juta ton Oleh: Seno pasarmodal – Jumat, 28 Juni 2013 | 21:54 WIB INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memprediksikan penjualan pada tahun ini sebanyak 78 juta ton, walau harga batubara sedang tertekan. Pada semester pertama tahun ini, perseroan sudah memperoleh kontrak sebesar 38 juta ton. Tekanan terhadap harga batubara, diakibatkan adanya pembatasan impor batubara yang dilakukan oleh negeri tirai bambu, yakni China. “Harga batubara dunia, masih berada di level rendah, di kisaran US$70 per metrik ton,” kata Direktur dan Seketaris Perusahaan PT Bumi Resources Tbk, Dileep Srivastava seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Jumat (28/6/2013). Lebih lanjut dia mengtakan, harga jual batubara pada 2012 mengalami penurunan menjadi US$81,5 per meterik ton dari US$92,3 juta metrik ton. Sehingga, pendapatan perseroan tergerus 5% menjadi US$3,8 miliar dari US$4 miliar. Perseroan juga menderita rugi akumulatif akibat transaksi derivatif senilai US$344,86 juta dari sebelumnya untung US$66,06 juta. BUMI targetkan kontrak penjualan naik tipis Oleh Dityasa H Forddanta – Jumat, 28 Juni 2013 | 20:30 WIB kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memperkirakan, harga batubara global belum bisa pulih tahun ini. Itu sebabnya, BUMI tidak berani menargetkan target tinggi terkait kontrak penjualan batubaranya. Hingga akhir tahun nanti, manajemen memproyeksikan bakal meraih kontrak penjualan batubara seberat 78 juta ton. Angka ini hanya naik tipis, sebesar 4%, dibanding angka tahun lalu seberat 75 juta ton. Dileep Srivastava selaku Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI menilai, selama pembatasan impor batubara yang dilakukan oleh China masih berlaku, maka harga batubara belum bisa naik ke level yang lebih menguntungkan. “Tahun ini mungkin masih ada di level terendah, sekitar US$ 70 per metrik ton,” imbuhnya, Jumat (26/6). Lebih jauh Dileep menjelaskan, pihaknya optimistis mampu merealisasikan proyeksinya tersebut. Bahkan, bisa dibilang itu merupakan target yang sangat mungkin dicapai oleh perusahaan. Pasalnya, BUMI merupakan perusahaan yang memiliki cadangan batubara terbesar di Asia Tenggara. Terlepas masalah utang, kinerja BUMI yang melorot sepanjang 2012 lalu itu disebabkan oleh penurunan harga batubara menjadi US$ 81,5 per metrik ton dari sebelumnya US$ 92,3 juta per metrik ton. Akibatnya, pendapatan BUMI tahun lalu turun 5% menjadi US$ 3,8 miliar dari sebelumnya US$ 4 miliar. Selain itu, anjloknya kinerja BUMI juga dipicu oleh rugi akumulatif akibat transaksi derivatif senilai US$ 344,86 juta dari sebelumnya untung US$ 66,06 juta. “Kami memang mengalami net loss yang cukup besar, tapi sebenarnya kami memiliki fundamental yang kuat,” pungkas Dileep. BUMI jamin utang jangka pendeknya bakal lunas Oleh Dityasa H Forddanta – Jumat, 28 Juni 2013 | 21:47 WIB kontan JAKARTA. Beberapa waktu lalu, Moody’s Investor Service menurunkan peringkat senior secures bond Bumi Resources Tbk (BUMI) dari B2 untuk menjadi B3. Moody’s meragukan kemampuan BUMI untuk membiayai utang kupon obligasinya yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat, yaitu US$ 150 juta per Agustus. Cuma, Direktur & Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava menilai, penurunan rating itu irasional. Pasalnya, tidak ada utang jatuh tempo sebelum dua atau tiga bulan ke depan. Selain itu, BUMI juga memiliki jangka waktu yang cukup untuk mempertimbangkan langkah refinancing atau langsung menyelesaikan utang dengan opsi monetisasi aset. Usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BUMI hari ini, Jumat (28/6), Dileep mengatakan, dengan posisi Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) BUMI saat ini sebenarnya sudah cukup untuk membiayai mulai dari belanja modal hingga masalah utang sekalipun. “Jadi, apa yang harus anda khawatirkan?,” ujarnya. Meski enggan merinci ketersediaan dana untuk membayar tagihan tersebut, namun Dileep memastikan jika pihaknya bakal melunasi tagihan tersebut. Manajemen memiliki opsi mulai dari pendanaan dari kas internal, mengkonversi utang menjadi saham atau debt to equity swap, refinancing, hingga melakukan monetisasi aset. Terkait opsi mana yang bakal diambil, BUMI masih mengkajinya dengan para pengendali BUMI. Tapi, melihat kondisi harga batubara yang sedang seperti ini, manajemen memastikan tidak akan mengambil porsi yang besar dari kas internal untuk membayar utangnya. “Jadi, opsi yang diutamakan adalah ketiga opsi diluar kas internal. Terkait DES, akan kami kaji lebih dalam sehingga eksekusinya bisa saling menguntungkan,” jelas Dileep. Rugi, Bumi Resources Tak Bagi Dividen Jum’at, 28 Juni 2013 20:09 wibRizkie Fauzian – Okezone JAKARTA – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyetujui tidak membagikan dividen dari laba bersih tahun buku 2012. Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava mengatakan, pemegang saham setuju terkait dengan kinerja laporan keuangan 2012 perseroan tidak akan dibagikan menjadi dividen karena masih mengalami kerugian dan adanya penurunan harga jual batu bara dunia di sepanjang tahun lalu. “Perseroan masih mencatatkan rugi sebesar USD666,209 juta dari sebelumnya mendapatkan laba USD216,290 juta di 2011,” kata dia, Kamis (28/6/2013). Seperti diketahui, harga jual batu bara dunia di 2012 memang mengalami penurunan menjadi USD81,5 per metrik ton dari USD92,3 juta metrik ton. Selain itu, pendapatan perusahaan juga turun lima persen menjadi USD3,8 miliar dari USD4 miliar. Perseroan juga menderita rugi akumulatif akibat transaksi derivatif senilai USD344,86 juta dari sebelumnya untung USD66,06 juta. (wdi) BUMI tak khawatir penurunan rating Moody’s Oleh Dityasa H Forddanta – Senin, 17 Juni 2013 | 10:49 WIB kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) rupanya tak mau ambil pusing atas langkah Moody’s Investor Service yang baru saja menurunkan peringkat senior secures bond milik BUMI beberapa waktu lalu. Pada waktu itu, Moody’s menurunkan rating obligasi BUMI tersebut dari B2 untuk menjadi B3. Apesnya lagi, Moody’s masih menelaah ulang rating ini untuk penurunan lebih lanjut. Senior secured bond ini diterbitkan oleh dua anak usaha BUMI, yaitu Bumi Capital Pte Ltd dan Bumi Investment Pte Ltd, senilai US$ 150 juta dan bakal jatuh tempo Agustus mendatang. Kala itu Moody’s beranggapan, rating yang merefleksikan ketidakmampuan BUMI dalam membayar utang dipicu oleh proses pemisahan Bumi Resources Tbk dari Bumi Plc dan pemberhentian penambangan oleh kontraktor di tambang Arutmin di akhir April. Dileep Srivastava, Director and Corporate Secretary BUMI, membantah penilaian Moody’s. Dia menegaskan, hingga saat ini, tidak ada perubahan pada laporan keuangan BUMI dalam enam bulan terakhir. “Jadi, itu pernyataan yang menghakimi dan irasional,” tegasnya kepada KONTAN, akhir pekan lalu. Dileep menambahkan, tidak ada utang jatuh tempo sebelum dua atau tiga bulan ke depan. Selain itu, BUMI juga memiliki jangka waktu yang cukup untuk mempertimbangkan langkah refinancing atau langsung menyelesaikan utang dengan opsi monetisasi aset. “Jadi, tunggu saja pengumuman kami berikutnya,” tukas Dileep. Sayang, Dileep enggan merinci baik porsi pendanaan maupun dana yang sudah tersedia hingga saat ini. Dirinya hanya menjelaskan, selain monetisasi aset, sumber pendanaan atas pembayaran utang BUMI nantinya juga bakal dikombinasikan dari kas internal. Tapi, Dileep mengatakan, kalau kas internal porsinya pasti kecil mengingat harga batubara yang belum membaik. Lebih lanjut dia memastikan, BUMI telah memiliki ketersediaan dana untuk refinancing utang jangka pendeknya. “Jadi, kami tidak mengkhawatirkan rating itu,” pungkasnya. RATING MOODY’S: BUMI Turun dari B2 Jadi B3 Vega Aulia Pradipta – Jumat, 07 Juni 2013, 18:54 WIB BISNIS.COM, JAKARTA—Moody’s Investors Service telah menurunkan rating obligasi senior PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari B2 menjadi B3. Seperti dikutip dari keterangan resmi Moody’s, Jumat (7/6/2013), Moody’s juga sedang mengkaji penurunan rating BUMI yang lebih jauh. Obligasi senior diterbitkan oleh Bumi Capital Pte Ltd dan Bumi Investment Pte Ltd, keduanya dimiliki oleh Bumi Resources. Simon Wong, Moody’s Vice President and Senior Analyst and the Lead Analyst untuk Bumi Resources mengatakan penurunan rating ini mencerminkan concern Moody’s terhadap kemampuan BUMI untuk membiayai kembali utang-utangnya yang akan jatuh tempo. “Concern ini seiring adanya keterlambatan dalam proses pemisahan BUMI dari Bumi Plc, serta adanya penghentian kerja sementara di tambang Arutmin sejak akhir April lalu,” tulis Simon, Jumat (7/6/2013). Seperti diketahui, pada Februari 2013, Bumi Plc telah menandatangani perjanjian untuk mendivestasikan seluruh 29,2% saham miliknya di Bumi Resources kepada Grup Bakrie. Namun transaksi tersebut–yang telah diajukan Grup Bakrie sejak Oktober 2012–masih pending karena menunggu persetujuan para pemegang saham Bumi Plc. “Ketidakpastian struktur pemegang saham Bumi Resources akan membuat refinancing utang BUMI yang jatuh tempo pada kuartal III/2013 jadi tertunda,” tulis Simon. Simon menuturkan kajian Moody’s yang lebih jauh terhadap BUMI akan fokus pada tiga hal. Pertama, melihat kemampuan BUMI melakukan refinancing pinjaman sekitar US$150 juta yang akan jatuh tempo pada Agustus 2013. Kedua, kemampuan BUMI mengurangi jumlah utangnya melalui penjualan aset. Ketiga, kemampuan BUMI untuk memulai lagi operasi di tambang Senakin dan Satui secepat mungkin dan menghindari kemungkinan adanya dampak material terhadap target produksi batu bara tahun ini serta terhadap cash flow perusahaan. “Moody’s akan kembali menurunkan rating perseroan, jika perseroan tidak mampu melakukan refinancing yang jatuh tempo Agustus itu, pada akhir Juni ini,” tulis Simon. Per akhir 2012, Bumi Resources diketahui memiliki utang konsolidasi sebesar US$4,28 miliar. Perseroan perlu melakukan refinance sebesar US$634 juta dari total utang tersebut, yang akan jatuh tempo dalam jangka waktu 12 bulan. Selain itu, pinjaman anak usaha yakni PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar US$406 juta (di mana BUMI memiliki 87,09% saham di sana), akan jatuh tempo pada September mendatang. Adapun per akhir 2012, Bumi Resources tercatat memiliki cash on hand sebesar US$45,1 juta dan US$100 juta restricted cash di bank. Editor : Martin Sihombing FRIDAY, 07 JUNE, 2013 | 02:21 WIB BUMI Regrets Thiess’ Decision to Stop Mining Operations TEMPO.CO, Jakarta – PT Thiess Contractors Indonesia, the subsidiary of Australian mining contractor Leighton Holdings, ceased their activities at two mines owned by PT Arutmin Indonesia, a subsidiary of PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Thiess’ termination was done because they said there are a number of unpaid arrears by Arutmin. Director and Corporate Secretary of Bumi Resources, Dileep Srivastava, dismissed allegations that the arrears are not paid by Arutmin. According to Dileep, Arutmin have continued to paying Thiess’ bills in accordance with the agreed contract. Dileep regrets Thiess’ way of addressing the problem, which he said is not in accordance with the mechanism set out in the contract, “but instead unilaterally suspending their mining activities and ignoring their obligations,” said Dileep in a written statement Thursday, June 6, 2013. “This termination by Thiess will greatly harm the local economy,” he said. He also emphasized that, to date, both Arutmin and KPC have no disputes with any mining contractor. GUSTIDHA BUDIARTIE BUMI: Kami Sudah Bayar Sesuai Kontrak Kamis, 06 Juni 2013 18:00 wibRizkie Fauzian – Okezone JAKARTA – Kabar kembali datang dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI), sebelumnya muncul pernyataan dari perusahaan kontraktor Leighton Holdings, PT Thiess Contractors Indonesia (Thiess) yang menyatakan bahwa dua pertambangan milik BUMI dihentikan lantaran pembayaran yang tidak beres. Kini muncul tanggapan dari BUMI terhadap pernyataan tersebut. “Sebetulnya Thiess yang menghentikan operasi di dua tambang kami yaitu PT Arutmin Indonesia dan perusahaan Indonesia Tata Power Co Ltd, pihak kami selalu membayar sejumlah biaya sesuai dengan persyaratan yang ada dikontrak,” ungkap Director & Corporate Secretary BUMI, Dileep Srivastava dalam siaran persnya, Kamis (6/6/2013). Lebih lanjut, menurut Dileep pihaknya selalu mengikuti kontrak yang sudah dibuat sejak 12 tahun lalu tersebut, namun pihak Thiess dengan secara sepihak menghentikan kontrak tersebut. “Kami sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Thiess, padahal kita telah bekerjasama selama 12 tahun, pihak kami tidak pernah bersengketa dengan kontraktor pertambangan lainnya,” jelasnya. Menurut Dileep, apa yang dilakukan Thiess tersebut telah menyebabkan perekonomian lokal terganggu. Dileep menambahkan, saat ini pihaknya sudah memproses kasus ini ke Mahkamah Agung di Queensland pada 2 April 2013 untuk memperjelas kontrak jasa pertambangan dengan Thiess, karena adanya perubahan UUD mengenai pertambangan (Minerba) yang berlaku mulai 1 Oktober 2012. Seperti diketahui, PT Arutmin Indonesia saat ini memiliki kapasitas produksi batu bara dua juta ton per bulan, dengan dihentikannya dua tambang miliknya, tidak terjadi perubahan pada produksi batu bara. Saat ini produksi batu bara menjadi 74 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya 68 juta ton. (wan) (wdi) Thiess Hentikan Penambangan, Ini Penjelasan Bumi Resources Bumi membantah anak usahanya, Arutmin, tak bayar kewajiban ke Thiess. ddd Kamis, 6 Juni 2013, 18:03 Arinto Tri Wibowo VIVAnews – PT Bumi Resources Tbk mengonfirmasi bahwa PT Thiess Contractors Indonesia telah menghentikan sementara kegiatan penambangan di tambang Senakin dan Satui milik PT Arutmin Indonesia. Namun, manajemen Bumi Resources membantah penghentian sementara penambangan sejak 26 April 2013 itu, karena Arutmin belum membayar kewajiban kepada Thiess. “Arutmin Indonesia menegaskan bahwa perusahaan telah membayar kepada Thiess atas semua haknya berdasarkan persyaratan kontrak,” kata Direktur Bumi Resources, Dileep Srivastava, dalam penjelasan tertulis yang diterima VIVAnews di Jakarta, Kamis 6 Juni 2013. Arutmin Indonesia adalah salah satu anak perusahaan Bumi Resources yang di antaranya memiliki areal penambangan di Senakin dan Satui. Sementara itu, Thiess Contractors Indonesia adalah anak perusahaan kontraktor pertambangan asal Australia, Leighton Holdings. Dileep mengatakan, alih-alih mematuhi mekanisme penyelesaian sengketa, Thiess secara sepihak justru menangguhkan kewajibannya dalam kontrak yang telah dibuat kedua pihak. Arutmin sangat kecewa bahwa Thiess telah memutuskan untuk menempuh tindakan itu, mengingat kedua pihak telah bekerja sama selama 12 tahun hingga saat ini. “Kami juga telah mampu menyelesaikan semua perselisihan sebelumnya, tanpa beralih ke tindakan drastis seperti itu,” tutur Dileep. Ganggu Ekonomi Saat ini, selain dengan Thiess, Arutmin dan PT Kaltim Prima Coal tidak dalam sengketa dengan salah satu kontraktor pertambangan lainnya. Tindakan Thiess tersebut, Dileep menjelaskan, bisa mengganggu perekonomian di dalam negeri. Arutmin Indonesia sendiri telah memulai proses hukum di Mahkamah Agung Queensland pada 2 April 2013. Upaya itu dilakukan untuk memperjelas legalitas kontrak jasa pertambangan dengan Thiess Contractors Indonesia, karena perubahan aturan dalam hukum pertambangan di Indonesia yang mulai berlaku pada 1 Oktober 2012. Referensi untuk kegiatan pertambangan di Indonesia mengacu pada Undang-Undang Minerba Nomor 4 Tahun 2009 dan peraturan pelaksanaannya, termasuk Peraturan Menteri Nomor 28 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Nomor 24 Tahun 2012. Arutmin Indonesia saat ini memproduksi sekitar 2 juta ton batu bara per bulan, setelah Thiess menghentikan sementara kegiatan penambangan di Senakin dan Satui. Namun, Bumi menegaskan bahwa perseroan tidak akan mengubah target penjualan 74 juta ton batu bara pada 2013, dibanding 68 juta ton tahun lalu. (ren) KAMIS, 06 JUNI 2013 | 17:34 WIB BUMI Sesalkan Penghentian Penambangan Thiess TEMPO.CO, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menampik bahwa anak usaha mereka, yaitu PT Arutmin Indonesia, belum membayar tunggakan yang ditagihkan oleh PT Thiess Contractors Indonesia, anak usaha dari kontraktor penambangan asal Australia, Leighton Holdings. Direktur dan Sekretaris Korporat Bumi Resources, Dileep Srivastava, memaparkan bahwa selama ini Arutmin telah berusaha untuk terus membayar tagihan dari Thiess sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Ia sangat menyayangkan Thiess yang tidak menempuh penyelesaian masalah sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam kontrak,”Tapi malah menghentikan aktivitas pertambangan secara sepihak dan mengabaikan kewajiban mereka,” kata Dileep, dalam keterangan tertulisnya, Kamis 6 Juni 2013. Thiess menghentikan aktivitas mereka di dua tambang milik Arutmin, yaitu Senakin dan Satui dengan alasan terdapatnya sejumlah tunggakan yang belum dibayar oleh anak usaha Grup Bakrie tersebut. Menurut Dileep, tindakan Thiess tersebut tidak profesional mengingat kontrak yang sudah terjalin selama 12 tahun lebih dan apabila terdapat masalah selalu bisa diselesaikan sesuai dengan mekanisme kontrak tanpa ada pihak yang dirugikan. “Aksi penghentian oleh Thiess ini akan sangat merugikan ekonomi lokal,” kata dia. Ia juga menegaskan, hingga saat ini baik Arutmin maupun KPC tidak memiliki sengketa dengan kontraktor tambang manapun. Saat ini produksi batu bara Arutmin masih berada di kisaran 2 juta ton per tahun, meski produksi di tambang Senakin dan Satui telah dihentikan oleh Thiess sejak 26 April lalu. BUMI, kata dia, juga belum merevisi target penjualan tahun ini yang mencapai 74 juta ton. Lebih tinggi ketimbang tahun lalu yang sebanyak 68 juta ton. “BUMI akan berupaya mengoptimalkan produksi dari tambang lainnya, seperti milik KPC,” tegasnya. GUSTIDHA BUDIARTIE

Nunggak, 2 Tambang Bumi Resources Setop Produksi! Widi Agustian – Okezone Senin, 3 Juni 2013 08:37 wib MELBOURNE –

Perusahaan kontraktor tambang asal Australia, Leighton Holdings menghentikan aktivitas di dua pertambangan milik PT Bumi Resources Tbk (BUMI) selama lebih dari sebulan akibat pembayaran yang tidak beres dari pihak BUMI. Seperti dilansir dari Reuters, Senin (3/6/2013), Leighton menyatakan aktivitas tambang Senakin dan Satui di Kalimantan Tenggara telah dihentikan. Dua tambang tersebut adalah milik anak usaha BUMI, PT Arutmin Indonesia dan perusahaan Indonesia Tata Power Co Ltd. “Suspensi ini dilakukan karena adanya tunggakan pembayaran, dan Leighton tidak mungkin kembali bekerja sebelum dibayar,” kata Leighton dalam pernyataannya. Dua tambang yang terkena berhenti operasionalnya tersebut menghasilkan 8,9 juta ton batu bara yang digunakan dalam pembangkit listrik, atau sekitar sepertiga dari produksi Arutmin di 2012. Kedua tambang menyumbang 345 juta dolar Australia. atau sekitar 1,5 persen dari pendapatan Leighton pada tahun 2012. Leighton mengatakan akan melanjutkan pekerjaannya ketika tagihan yang ada telah dibayar. (wdi) Inilah Agenda RUPS Tahunan Bumi Resources Oleh: Wahid Ma’ruf pasarmodal – Jumat, 24 Mei 2013 | 06:38 WIB INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan meminta persetujuan pemegang saham untuk pengesahan neraca dan perhitungan laba/rugi untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2012. Permintaan tersebut akan dilakukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan. Rencananya RUPS Tahunan akan dilakukan pada Jumat (28/6/2013). Namun perseroan belum mengumumkan rencana tempat yang akan digunakan untuk acara tersebut. Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Kamis (23/5/2013). Sementara agenda lain dalam RUPS Tahunan tersebut adalah permintaan persetujuan terhadap pertanggungjawaban direksi selama tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2012. Perseroan juga meminta persetujuan rencana penggunaan laba/rugi perseroan untuk tahun buku 2012. Agenda lainnya seperti rencana penunjukkan Akuntan Publik untuk mengaudit laporan keuangan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2013. Perseroan juga merencanakan perubahan susunan pengurus. Pada tahun 2012, BUMI alami kerugian di US$666 juta akibat transaksi valuta asing dan derivatif. Listing badly Kazakh and Indonesian miners battle shareholders in London Apr 27th 2013 |From the print edition the economist EMPIRE-BUILDERS of old claimed they were spreading Britain’s civilising influence. Similar explanations were offered when the London Stock Exchange (LSE) started welcoming mining firms from emerging economies. Listing in London would spur them to adopt British corporate-governance standards, investors were told. The firms would find it easier to raise the vast amounts of capital needed to develop big mines. And punters would be able to bet on a booming industry without worrying about the weaker protections for investors in the wilder parts of the world. Alas, it didn’t work that way, as the latest upheavals at two London-listed firms show. Mehmet Dalman, brought in as chairman 15 months ago to sort out ENRC, a Kazakh mining firm that listed in London in 2007, quit on April 23rd. Other managers recently left in a furore over the firm’s decision to dismiss an investigator looking at its iron-ore division and an American law firm probing allegations of fraud, which it denies. A battle rages between managers, board members and the firm’s three founding oligarchs. Shares in Bumi, a London-listed firm that owns stakes in Indonesian coal mines, were suspended on April 22nd. This followed the widening of a probe into questionable financial arrangements. One of Bumi’s co-founders, Nat Rothschild, a British financier, accuses his Indonesian partners, the politically powerful Bakrie family, of misusing funds. (Some of Mr Rothschild’s relatives are shareholders of The Economist.) Shares in both firms have plummeted, though ENRC’s rallied after the oligarchs said that they might take the firm private again if the other big investors, Kazakhstan’s government and Kazakhmys, another miner, agree. Minority investors are appalled. Those who bought Bumi at the start have lost a bundle. Those who hold ENRC shares could be left with only one plausible buyer. Whom to blame? Investors should have paused before piling in. And the London Stock Exchange should have paused before making its standards more flexible. Desperate to attract business away from rival exchanges, it waived a rule for ENRC requiring a 25% free float for listed firms. Bumi entered by a back door: an Indonesian miner merged with an LSE-listed “cash shell”. Such shenanigans tarnish London’s reputation. From the print edition:

Business Rapor BUMI makin merah terbakar Oleh Dyah Megasari – Selasa, 02 April 2013 | 20:33 WIB kontan JAKARTA.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat kenaikan rugi bersih lebih dari 300% di kuartal ke empat 2012. Eksportir batubara terbesar di Asia tersebut kembali menelan kerugian akibat transaksi derivatif dan pembayaran bunga utang yang lebih tinggi. Rincian kinerja keuangan BUMI, rugi bersih kuartal empat 2012 adalah US$ 34,21 juta, melonjak signifikan dari kerugian periode yang sama tahun sebelumnya yakni US$ 8,3 juta Dengan hasil tersebut, maka rugi bersih akumulatif sepanjang 2012 adalah sebesar US$ 666,21 juta, kinerja yang jauh lebih buruk karena pada tahun sebelumnya sempat untung US$ 216,29 juta. Berdasarkan paparan kinerja keuangan yang dirilis hari ini, kerugian akumulatif akibat transaksi derivatif adalah US$ 344,86 juta, berkebalikan dari untung yang pernah diraup pada 2011 sebesar US$ 66,06 juta. Jumlah pendapatan perusahaan yang berbasis di Jakarta tersebut turun 5% dari US$ 4 miliar menjadi US$ 3,8 miliar. Perlu diketahui, Bumi yang memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$ 1,5 miliar dikendalikan oleh Group Bakrie dan bergabung dengan pemilik dinasti perbankan yakni Rothschild melalui Bumi Plc. Namun saat ini, keduanya berseteru hebat hingga membuat saham BUMI bergerak liar. Harga batubara turun, Bumi Plc tunda ekspansi Oleh Barratut Taqiyyah – Senin, 07 Januari 2013 | 16:39 WIB | Sumber Bloomberg kontan LONDON. Penurunan harga batubara menyebabkan Bumi Plc harus memangkas anggaran belanjanya. Dalam pernyataan yang dirilis hari ini (7/1), Bumi Plc menulis, harga rata-rata batubara pada tahun 2012 adalah US$ 70 per ton. Angka tersebut lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai US$ 81,40 per ton. Terkait hal itu, perusahaan telah menunda sejumlah rencana ekspansi seiring penurunan harga batubara. “Strategi jangka pendek kami sangat jelas. Melakukan pemisahan dengan Bumi Resources (BUMI) dan memaksimalkan nilai dari subsidari operasional, Berau,” jelas CEO Bumi Plc Von Schirnding. BUMI RESOURCES: Kuartal III/2012 bukukan rugi US$33,64 juta Achmad Aris Rabu, 02 Januari 2013 | 15:56 WIB bisnis indonesia JAKARTA: Emiten tambang di bawah kendali Grup Bakrie PT Bumi Resources Minerals Tbk membukukan rugi bersih US$33,64 juta pada kurtal III/2012. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, emiten berkode BRMS itu masih membukukan laba bersih sebesar US$67,48 juta. Berdasarkan laporan keuangan perseroan per 30 September 2012 yang dirilis pada Rabu (2/1), kerugian tersebut dipicu oleh penurunan bagian atas laba bersih dari entitas asosiasi yang membukukan rugi US$6,7 juta. Padahal pada periode yang sama 2011, perseroan mengantongi bagian laba bersih sebesar US$100,77 juta. Akun ini merupakan investasi kelompok usaha perseroan pada PT Newmont Nusa Tenggara (NTT) dengan kepemilikan sebesar 24%. Investasi pada NTT tersebut dicatatkan perseroan melalui anak usahanya yakni PT Multi Daerah Bersaing. Meski merugi, perseroan yang 87,09% sahamnya dimiliki oleh PT Bumi Resources Tbk itu membukukan peningkatan pendapatan sebesar 19,21% menjadi US$17,44 miliar dari kinerja periode yang sama 2011 sebesar US$14,63 miliar.

Perseroan kini memiliki 7 konsesi pertambangan mineral yang mana empat di antaranya berada di Indonesia dan sisanya berlokasi di Afrika. Aset tambangnya yang lain adalah PT Citra palu Minerals, PT Gorontalo Minerals, PT Newmont Nusa Tenggara, Tamagot Bumi SA, Bumi Mauritasnia SA, dan Konblo Bumi Inc.

(ra) Kinerja Keuangan Bumi Resources Hancur-hancuran Widi Agustian – Okezone Rabu, 2 Januari 2013 16:23 wib JAKARTA – Kinerja keuangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) patut disebut hancur-hancuran. Pada akhir September 2012, BUMI mencetak rugi neto yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD632,49 juta. Demikian terungkap dalam laporan keuangan yang ditandatangani oleh Direktur Utama BUMI Ari Hudaya dan diserahkan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (2/1/2013). Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan mencetak laba sebesar USD175,55 juta. Artinya, kinerja keuangannya melorot lebih dari empat kali lipat. Pendapatan perseroan memang turun menjadi USD2,77 miliar dari sebelumnya USD2,86 miliar. Tapi, beban pokok pendapatan juga naik signifikan menjadi USD2,02 miliar dari sebelumnya USD1,76 miliar. Alhasil, laba bruto perseroan turun menjadi USD750,35 juta dari sebelumnya USD1,097 miliar. Selanjutnya, kenaikan total beban usaha menjadi USD437,93 juta dari sebelumnya USD317,08 juta menggerus laba usaha. Laba usaha BUMI pun mengalami penurunan menjadi USD312,42 juta dari sebelumnya USD780,04 juta. Di sisi lain, perseroan juga mencatatkan rugi atas transaksi derivatif sebesar USD422,04 juta dari sebelumnya yang untung USD124,98 juta. Tak hanya itu, perseroan juga mencatatkan rugi kurs sebesar USD24,84 juta dari sebelumnya untung USD44,96 juta. Tekanan juga datang dari rugi atas pelepasan investasi pada entitas asosiasi sebesar USD26,67 juta. Jumlah aset BUMI juga turun menjadi USD7,16 miliar dari sebelumnya USD7,49 miliar. Selain itu, posisi kas dan setara kas perseroan tercatat cuma USD57,07 juta dari sebelumnya USD87,8 juta. Sebelumnya, Grup Bakrie tengah memperjuangkan untuk mengambil alih kembali saham BUMI dari Bumi Plc. Walau demikian, proposal yang diajukannya ke Bumi Plc belum dapat diputuskan. Pemicu keinginan cerai Bakrie dari Bumi Plc lantaran konflik antara Bakrie dengan pemegang saham Bumi Plc, Nat Rothschild. Rothschild menuding adanya penyelewengan keuangan yang dilakukan Bakrie di BUMI. Selain itu manajemen Bumi Resources pun telat dalam untuk menyampaikan laporan keuangan ini. Seharusnya, laporan keuangan ini diserahkan ke pihak bursa efek sebelum tutup tahun. Bursa pun telah menjatuhkan sanksi peringatan tertulis kepada BUMI. (wdi) September 2012, BUMI cetak rugi US$ 655,42 juta Oleh Issa Almawadi, Dyah Megasari – Rabu, 02 Januari 2013 | 16:41 WIB kontan JAKARTA. Sembilan bulan pertama tahun 2012, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) harus mencatat kerugian hingga US$ 655,42 juta. Padahal di periode yang sama tahun sebelumnya, BUMI mencatat laba sebesar US$ 184,07 juta. Dalam keterbukaan informasi kepada bursa pada Rabu (2/1), di periode tersebut, pendapatan BUMI juga turun menjadi US$ 2,77 miliar dari sebelumnya US$ 2,86 miliar. Penurunan pendapatan BUMI terjadi akibat naiknya beban pokok pendapatan yang mencapai US$ 2,02 miliar dari US$ 1,76 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan juga terjadi di sisi laba bruto yang menjadi hanya US$ 750,35 juta. Padahal di periode yang sama tahun sebelumnya, laba bruto BUMI mencapai US$ 1,09 miliar. Begitu juga dengan laba usaha yang menjadi US$ 312,42 juta dari US$ 780,04 juta. Dengan begitu, BUMI mencatatkan rugi per 1.000 saham dasar dan dilusian hingga US$ 31,16 dari sebelumnya laba US$ 8,65. Namun pergerakan harga saham BUMI di hari pertama perdagangan tahun ini ditutup naik 30 poin atau 5,08% ke level Rp 620 per saham. Perlu diketahui, pada semester I-2012 saham salah satu anggota Group Bakrie ini mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 334,11 juta. Aksi jual BUMI mengerek turun IHSG di sesi II Oleh Barratut Taqiyyah – Selasa, 04 September 2012 | 16:14 WIB Komentar Telah dibaca sebanyak 615 kali Komentar Aksi jual BUMI mengerek turun IHSG di sesi II Berita Terkait 3 big cap penyokong indeks pasca gerak liar sesi I IHSG flat setelah berayun antara naik dan turun Analis: Level 4.100 menjadi support penting IHSG Saat yang lain merah, IHSG bisa menanjak Analis: Ruang kenaikan IHSG masih lebar JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya tak kuat menahan tekanan. Pada pukul 16.00, indeks tercatat kehilangan 12,70 poin menjadi 4.105,25. Aksi jual saham-saham big cap menjadi penggerus kinerja indeks sore. Tiga di antaranya yaitu: – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Saham BUMI menurun 90 poin menjadi Rp 650 di sesi II. Tiga sekuritas yang paling gencar menjual saham ini adalah UoB Kay Hian Securities senilai Rp 13,681 miliar, Valbury Asia Securities senilai Rp 8,136 miliar, dan Phillip Securities senilai Rp 7,018 miliar. – PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) Saham BRAU menurun 36 poin menjadi Rp 199 di sesi II. Tiga sekuritas yang paling gencar menjual saham ini adalah CIMB Securities senilai Rp 3,944 miliar, eTrading Securities senilai Rp 731,454 miliar, dan Danpac Sekuritas senilai Rp 424,500 miliar. – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Saham BBRI menurun 50 poin menjadi Rp 7.050 di sesi II. Tiga sekuritas yang paling gencar menjual saham ini adalah Deutsche Securities senilai Rp 76,062 miliar, UBS Securities senilai Rp 50,991 miliar, dan Credit Suisse Securities senilai Rp 14,864 miliar. Investor mulai mengoleksi saham BUMI Oleh Barratut Taqiyyah – Kamis, 30 Agustus 2012 | 11:58 WIB kontan JAKARTA. Setelah terpuruk hingga ke level Rp 630 pagi tadi, investor mulai mengoleksi saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Pada pukul 11.51, saham BUMI tercatat naik 1,49% menjadi Rp 680. Bahkan pada transaksi sebelumnya, saham produsen batubara ini sempat menembus level Rp 730. Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, tiga sekuritas yang paling gencar memburu saham ini antara lain: eTrading Securities senilai Rp 13,957 miliar, Credit Suisse Securities senilai Rp 7,710 miliar, dan Indo Premier Securities senilai Rp 7,381 miliar. Perlu diketahui, saham BUMI mencapai titik tertinggi sejak awal 2012 di level 2.600. Aksi jual yang terjadi beberapa hari terakhir membuat sahamnya berada di bawah nilai rata-rata yakni 1.840. Inilah Pembelaan Manajemen BUMI Oleh: Ahmad Munjin & Agustina Melani pasarmodal – Rabu, 29 Agustus 2012 | 16:36 WIB INILAH.COM, Jakarta – Manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) optimistis penjualan aset akan membantu mengurangi utang perseroan dengan harga yang tepat. Hal itu disampaikan Direktur PT Bumi Resources Tbk Dileep Srivastava, lewat pesan singkat yang diterima INILAH.COM, Rabu (29/8/2012) menanggapi kabar beredar mengenai fundamental keuangan BUMI yang kurang baik. “Dengan sekitar cadangan batu bara 3 miliar ton dan aset likuid non batu bara seperti NNT, Dairi sulit untuk memvisualisasikan skenario soal kebangkrutan keuangan BUMI,” tutur Dileep. Lebih lanjut Dileep menuturkan, pihaknya enggan berkomentar mengenai rumor dan spekulasi mengenai kebangkrutan BUMI. “Bagaimana bisa dikatakan sebagai BUMI bangkrut karena hasil operasional kami selalu kuat setiap kuartal. Pendapatan kami hampir 9% dan penjualan lebih dari 10% dibandingkan tahun lalu,” tegas Dileep. Sebelumnya Analis PT Panin Sekuritas Tbk Fajar Indra memproyeksikan kebangkrutan finansial BUMI. Berdasarkan hitungannya koefisien Z dalam metode Altman untuk industri non-manufaktur. Dia menjelaskan, Altman mendeskripsikan interval skor Z adalah sebagai berikut: jika koefisien Z lebih besar dari 2,6, maka perusahaan berada dalam zona aman; Jika koefisien Z lebih kecil dari 2,6, namun Z lebih besar dari 1,1, perusahaan berada dalam zona abu-abu (antara aman dan tidak aman); Jika koefisien Z lebih kecil dari 1,1, maka perusahaan berada dalam zona tidak aman atau menuju kebangkrutan. Menurut perhitungan Fajar, terlihat bahwa koefisien Z BUMI sangat kecil yakni 0,0982 saja. “Maka dapat disimpulkan bahwa BUMI saat ini berada dalam zona tidak aman atau menuju kebangkrutan finansial,” timpal dia. Selain itu, Laporan keuangan BUMI mencatat bahkan jumlah beban keuangan yang harus dibayar lebih tinggi dari laba usahanya sendiri. BUMI mencatatkan kerugian sebesar US$322 juta pada semester I-2012 setelah mencatatkan keuntungan sebesar US$232 juta pada semester I-2011. “Hal ini tentunya memperlihatkan betapa buruknya solvabilitas BUMI dalam membayar hutang-hutangnya,” tutur Fajar. Sementara itu, dalam riset PT eTrading Securities menyatakan, meski BUMI mengalami kerugian hingga US$322 juta, namun mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 14,12% year on year menjadi US$1,94 miliar. Dengan melihat arus kas pada semester pertama tahun 2012, perseroan mencatatkan pendapatan arus kas operasi positif setelah membayar semua kewajiban termasuk bunga pinjaman. Perseroan juga meningkatkan pendapatan kas aktivitas operasi secara signifikan sebesar 169% dari US$53,31 juta ke level US$143,55 juta. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, BUMI dinilai masih memiliki kinerja yang mampu mendorong perusahaan dapat membukukan keuntungan di periode berikutnya. Saham induk usaha Bumi Resources melorot 4,9% Oleh Edy Can – Rabu, 29 Agustus 2012 | 17:55 WIB kontan JAKARTA. Harga saham Bumi Plc juga terjun menurun di London Stock Exchange. Hingga pukul 11.00 waktu London, harga saham induk usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sudah bertengger di level 335,10 sen poundsterling per saham. Harga saham Bumi Plc ini telah turun 4,9% dibandingkan harga penutupan Selasa (28/8) lalu. Ketika itu, harga saham Bumi Plc berada sebesar 340 sen poundsterling per saham. Sekedar berkilas balik, Bumi Plc yang dulunya bernama Vallar Plc merupakan induk usaha Bumi Resources dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Bumi Plc dibentuk pada 28 Juni 2011 lalu. Perubahan nama ini terkait transaksi antara Vallar dengan Bumi Plc. Dalam transaksi ini, Vallar melalui anak usahanya Vallar Investment UK Limited menguasai 25% saham Bumi Resources dari tangan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Sebaliknya, Vallar menyerahkan 90,07 juta saham baru kepada Grup Bakrie. Bakrie and Brothers mendapatkan 49,38 juta saham baru Vallar itu. Pada 29 Juni 2011 lalu, nilai saham Bumi Plc berada di level 1.174 sen poundsterling per saham. Ini artinya, hingga saat ini, harga saham Bumi Plc telah melorot 71%. Chief Executive Officer Bumi Plc, Nalinkant Amratlal Rathod, mengungkapkan, kinerja keuangan Bumi Plc dipengaruhi kerugian anak usaha karena pembayaran bunga yang cukup tinggi dan kerugian turunan dari Bumi Resources. Pada semester pertama lalu, kinerja Bumi Plc sendiri masih merah. Perusahaan ini menderita kerugian sebesar US$ 117 juta. Harga saham BUMI sendiri ditutup melemah 11,84% menjadi Rp 670 per saham dibandingkan penutupan kemarin (28/8). Begitu juga dengan saham anak usaha Bumi Plc, BRAU yang anjlok 14,29% menjadi Rp 240 per saham saat penutupan pasar. Saham Bumi Resources mendekati terendah sejarah Oleh Dyah Megasari – Rabu, 29 Agustus 2012 | 16:36 WIB kontan JAKARTA. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mendekati titik terendah sepanjang sejarah. Di hitung sejak awal tahun di harga 2.450, setidaknya saham BUMI sudah terperosok sebanyak 72,65%. Hari ini, BUMI ditutup pada titik 670. Dibandingkan dengan penutupan sehari sebelumnya, saham perusahaan batubara yang konon terbesar di tanah air itu sudah mundur 90 poin atau 11,84% dari 760. Hari ini, Panin Sekuritas merilis riset bahwa kondisi keuangan salah satu anak Group Bakrie ini berada di ambang kebangkrutan. Hari ini juga, BUMI menduduki top losers Bursa Efek Indonesia (BEI). Perlu diketahui, saham BUMI mencapai titik tertinggi sejak awal 2012 di level 2.600. Aksi jual yang terjadi beberapa hari terakhir membuat sahamnya berada di bawah nilai rata-rata yakni 1.840. Bumi Falls to 41-Month Low; Director Says Drop ‘Irrational’ By Gan Yen Kuan and Yudith Ho – Aug 28, 2012 5:33 PM GMT+0700 bloomberg PT Bumi Resources (BUMI), Asia’s biggest power-station coal exporter, sank to the lowest level in more than three years after posting a first-half loss and an investment company failed to repay $231 million due yesterday. Shares of Jakarta-based Bumi sank 14.6 percent to 760 rupiah at the 4 p.m. Jakarta time close, the lowest since March 20, 2009. The drop was the biggest on the 820-member MSCI Emerging Markets Index (MXEF), which fell 0.2 percent. Bumi shares have fallen 18 percent the past two days after the company reported Aug. 26 a first-half loss of $322 million, compared with a restated net gain of $232 million a year earlier. PT Recapital Asset Management, an investment fund management group, didn’t repay Bumi $231 million that was due Aug. 27, London-listed Bumi Plc (BUMI), which owns 29.2 percent of Bumi Resources, said in a statement today. “The loss that they had is not what the market expected,” Fadlul Imansyah, who helps manage about $170 million at PT CIMB Principal Asset Management, said by phone from Jakarta today. “The market has very negative sentiments on this group. Once they release something negative, everybody is giving more discount to the share price.” CIMB Group Holdings Bhd., Southeast Asia’s top-ranked investment bank, cut the stock to underperform, equivalent to sell, from neutral. The drop is “irrational but understandable in today’s charged, speculative, wired environment and trading,” Director Dileep Srivastava said in an e-mailed response to questions today. “Our first-half results are operationally sound on sales and growth. I also suspect there may be margin calls and a higher market expectation which is proving unreal in today’s uncertain sector and economic environment.” Coal prices at Australia’s Newcastle port, an Asian benchmark, have fallen 21 percent this year as the Chinese economy slowed and after U.S. and South African producers shifted coal sales to Asia amid a debt crisis in Europe. Bumi has tumbled 65 percent this year, underperforming the 8.3 percent gain in the benchmark Jakarta Composite Index. (JCI) Kisah Saham BUMI, Sempat Tembus Rp 8.750 Kini Tinggal Rp 760 Angga Aliya – detikfinance Rabu, 29/08/2012 13:17 WIB Jakarta – Para pemain lama di pasar modal tidak asing lagi dengan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Perusahaan tambang milik grup Bakrie ini bisa dibilang sebagai penggerak pasar modal pada masa jayanya. Saking populernya saham ini, para pelaku pasar kadang menghubung-hubungkan kejadian di pasar modal dengan saham BUMI. Seperti contohnya, kejadian eror di transaksi Bursa Efek Indonesia (BEI) awal pekan ini, beredar rumor saham BUMI punya peran. Rumor seperti ini tidak terjadi sekali saja, bahkan pada masa krisis, ketika bursa terpaksa ditutup akibat koreksi tajam. Banyak pihak menilai bursa saham sengaja tidak dibuka karena nanti saham BUMI bisa terjun bebas. Pergerakan saham BUMI juga sangat fluktuatif, sejak IPO di tahun 1990 lalu di harga 4.500 per lembar, sahamnya sempat naik turun dalam rentang yang sangat lebar. Seperti dikutip dari data perdagangan bursa, Rabu (29/8/2012), saham BUMI sempat menyentuh posisi intraday tertinggi sepanjang sejarah di level Rp 8.750 per lembar pada 10 Juni 2008 sebelum akhirnya ditutup di Rp 8.150 sore harinya. Sebelum krisis ekonomi global akhir 2008 terjadi, saham BUMI memang menjadi primadona di pasar modal dalam negeri, bersama enam perusahaan Bakrie lainnya atau biasa disebut Bakrie 7. Bakrie 7 selain BUMI antara lain, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Darma Henwa (DEWA), dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Saham-saham ini sempat menguasai pasar modal sebelum krisis ekonomi, namun belakangan ini kinerja keuangan mereka melempem dan berujung pada koreksi di harga saham-sahamnya. Kini, harga saham BUMI pada penutupan perdagangan kemarin ditutup di level Rp 760 per lembar dengan volume perdagangan sebesar 740.939 juta lembar saham. Sejak awal tahun ini, tren melemah sudah menempel terhadap saham BUMI, terutama diakibatkan isu kondisi finansialnya yang tidak terlalu sehat. Penjualan yang dilakukan kepada Vallar Plc (yang kini bernama Bumi Plc) pun tidak bisa memberikan sentimen positif. Pasalnya, kongsi grup Bakrie dan grup Rothschild itu tidak bertahan lama, bahkan kabarnya keduanya saling menjatuhkan untuk mengambil alih Bumi Plc yang tercatat sahamnya di bursa London tersebut. Kini, dengan adanya riset dari Panin Sekuritas, BUMI diprediksi terancam bangkrut gara-gara beban utang yang terlalu tinggi. Salah satu indikasi lain bangkrutnya perusahaan tambang Grup Bakrie itu adalah kerugian Rp 3 triliun di semester I-2012. Emiten berkode BUMI itu mencatat kerugian sebesar US$ 322 juta pada semester I-2012 dibandingkan keuntungan US$ 232 di tahun lalu pada periode yang sama. (ang/dnl) Bumi Resources Indikasikan Kebangkrutan Finansial Widi Agustian – Okezone Rabu, 29 Agustus 2012 10:59 wib okezone JAKARTA – Performa Keuangan semester I-2012 PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sangat buruk dan solvabilitas sangat lemah. BUMI mencatatkan kerugian sebesar USD322 juta pada semester I-2012 setelah mencatatkan keuntungan sebesar USD232 juta pada semester I-2011. Ada beberapa faktor yang disinyalir menyebabkan jatuhnya performa BUMI pada semester I-2012. Faktor pertama adalah tergerusnya marjin laba BUMI diakibatkan melonjaknya biaya produksi per ton sebesar 9,2 persen yang tidak diimbangi oleh naiknya harga jual. Hal ini terjadi hampir di seluruh perusahaan batu bara di Indonesia karena memburuknya harga batu bara dunia. Faktor kedua adalah tingginya beban keuangan yang harus dibayar serta kerugian atas transaksi derivatif. Laporan keuangan BUMI mencatat bahkan jumlah beban keuangan yang harus dibayar lebih tinggi dari laba usahanya sendiri. Hal ini tentunya memperlihatkan betapa buruknya solvabilitas BUMI dalam membayar utang-utangnya. Equity Analyst, Metal & Mining Sectors Panin Sekuritas Fajar Indra menjelaskan, berdasarkan metode Altman score, terlihat bahwa koefisien Z BUMI sangat kecil yakni 0.0982 saja. “Maka dapat disimpulkan bahwa BUMI saat ini berada dalam zona tidak aman atau menuju kebangkrutan finansial,” jelas dia dalam risetnya di Jakarta, Rabu (29/8/2012). Terlebih, BUMI disebut memperpanjang masa investasi dana senilai USD231 juta di PT Recapital Asset Management. Dengan kata lain, BUMI gagal mencairkan investasinya untuk melakukan refinancing. Terlebih dalam dua tahun, BUMI memiliki tanggal jatuh tempo untuk utangnya kepada CIC masing-masing sebesar USD600 juta untuk trance kedua dan USD700 juta untuk trance berikutnnya. Pada pukul 11.02 waktu JATS, harga saham BUMI ini turun Rp10 menjadi Rp760. Harga saham andalan Grup Bakrie ini terus mengalami pelemahan. Jika dihitung dari posisi tertinggi harga saham ini di bulan Agustus 2012, Rp1.140 (8 Agustus), maka harga saham BUMI ini sudah terkoreksi sampai 33,3 persen. (wdi) Pencairan dana investasi BUMI di Recapital mundur Oleh Rika Theo – Selasa, 28 Agustus 2012 | 18:32 WIB kontan JAKARTA. PT Bumi Resources (BUMI) gagal lagi mencairkan dana investasinya di PT Recapital Bumi Plc mengumumkan bahwa PT Recapital Asset Management senilai US$ 231 juta. Pemberitahuan ini disampaikan Bumi Plc di situs perusahaan hari ini (28/8). Sedianya, pencairan investasi BUMI dari Recapital diterima kemarin (27/8), namun ternyata harapan itu meleset. “Diskusi antara Bumi Resources dan Recapital masih berlangsung untuk penjadwalan ulang pencairan itu,” tulis Bumi Plc dalam pernyataannya. Bumi Plc memegang 29,2% saham BUMI. Induk usaha BUMI itu terdaftar di bursa saham London. Semestinya, jika pencairan utang ini terlaksana, Bumi dapat menggunakan dana hasil investasi tersebut untuk mempercepat penyelesaian utang senilai US$ 600 juta kepada China Investment Corp (CIC). Kewajiban itu akan dibayarkan pada Oktober 2012. Utang tersebut adalah bagian dari kewajiban BUMI terhadap CIC senilai US$ 1,9 miliar. Tahun lalu perseroan telah membayar utang tahap pertama senilai US$ 600 juta. Sudah mundur tiga kali Untuk mengingatkan lagi, utang Recapital ini terkait penempatan dana BUMI dalam kontrak pengelolaan dana milik Recapital yang diteken pada tahun 2008. Pengelola BUMI memberi kewenangan kepada Recapital untuk mengelola dana sampai dengan US$ 350 juta. Jangka waktu pengelolaan dana hanya sampai enam bulan. Tapi pada 2 September 2009, BUMI menandantangani kontrak pengelolaan dana kedua dengan tenor enam bulan. Dalam kontrak ini, perseroan memberikan wewenang kepada Recapital untuk mengelola dana hingga mencapai US$ 50 juta. Selanjutnya, pada 28 Februari 2011, perjanjian tersebut diperpanjang sampai 27 Agustus 2012. Jadwal penarikan dana investasi ini mengalami dua kali kemunduran. Semula manajemen BUMI berniat menarik dana dari Recapital pada kuartal I-2012. Tapi rencana itu tidak terealiasasi. Manajemen beralasan penarikan disesuaikan dengan kebutuhan dana, yaitu Juni 2012. Tapi pada Juni 2012 pun tidak ada pencairan dana. BUMI berkilah penarikan belum terlaksana lantaran kondisi pasar tidak menentu. Hal itu bisa menyebabkan pengembalian dana tidak maksimal. Di awal Juli 2012, Bumi Plc, pernah mengumumkan pencairan dana investasi itu akan dilaksanakan pada 27 Agustus 2012. Ini sesuai berakhirnya masa pengelolaan dana. Juli lalu, BEI sempat bertanya kepada manajemen Bumi, apakah perseroan terkena penalti jika menarik dana investasi di Recapital sebelum berakhirnya perjanjian. Pada waktu itu, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Dileep Srivastava menjawab dalam keterbukaan ifnormasi, “Tidak ada penalti yang harus dibayar dalam pencairan dana,” kata Dileep. Dengan rapor keuangan yang merah plus mundurnya pencairan dana investasi ini, tak ayal harga saham Bumi hari ini anjlok 14,61% menjadi Rp 760 per saham. Bumi menuntaskan penjualan Mitratama Oleh Wahyu Satriani – Selasa, 28 Agustus 2012 | 07:09 WIB kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk terus melakukan konsolidasi internal. Kabar terakhir, emiten Grup Bakrie ini telah menjual seluruh sahamnya di PT Mitratama Perkasa. Bumi menjual aset itu kepada PT Sumber Energi Andalan Tbk. Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, Dileep Srivastava menjelaskan, perseroan ini menandatangani akta jual beli atas 30% saham Mitratama Perkasa pada 16 Agustus 2012. Mitratama selama ini menjalankan usaha jasa pertambangan. Setelah kedua pihak meneken akta jual beli saham, “Maka pengalihan kepemilikan atas 30% saham Mitratama Perkasa menjadi efektif dan perseroan telah melepas seluruh kepemilikannya atas Mitratama,” kata Dileep, dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia, Minggu (26/8). Manajemen Bumi beralasan, perseroan melaksanakan transaksi itu dengan maksud agar lebih fokus pada kegiatan usaha pertambangan saja. Sekadar informasi, total nilai investasi Bumi di Mitratama per akhir Maret 2012 senilai US$ 22,85 juta. Sedangkan nilai total aset Mitratama sebelum eliminasi mencapai US$ 354,86 juta. Mengacu ke laporan keuangan Bumi, nilai transaksi penjualan 30% saham Mitratama adalah US$ 1. Padahal, pada 2010 lalu Bumi memperoleh dana senilai US$ 190 juta dari hasil penjualan 69,83% saham Mitratama. Pada Maret 2010, Bumi juga mejual saham 69,83% Mitratama kepada PT Cahaya Pratama Lestari (CPL). Dari aksi itu, kepemilikan Bumi di Mitratama tersisa 30%, sebelum akhirnya dilego ke Sumber Energi Andalan pada 16 Agustus 2012. Sumber KONTAN yang dekat dengan manajemen Bumi menyebutkan, penjualan saham Mitratama bertujuan efisiensi. Valuasi Mitratama adalah US$ 26,7 juta dan dilego seharga US$ 1. Tapi sebagai gantinya, Bumi dapat pembatalan Technical Assistance Contract dimana net present value-nya US$ 45 juta, yang berlaku sampai 2021. “Jadi dalam transaksi ini Bumi bisa menghemat cukup besar,” tutur si sumber. Tekanan jual melanda saham BUMI belakangan ini, puncaknya setelah perseroan merilis laporan keuangan di semester I-2012. Di periode ini, Bumi menderita kerugian US$ 322 juta. Di semester I-2011, Bumi masih mencetak laba US$ 232 juta. Harga BUMI, Senin (27/8), merosot 5,32% menjadi Rp 890 per saham. Jika dihitung sejak awal tahun, maka harga BUMI sudah anjlok 59%. Emiten pertambangan batubara, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan rugi bersih menjadi USD 334,11 juta pada semester pertama 2012 dari untung USD 226,73 juta pada semester pertama 2011. Demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (26/8). Pendapatan perseroan naik menjadi USD 1,94 miliar pada 30 Juni 2012 dari semester pertama 2011 sebesar USD 1,79 miliar. Beban pokok pendapatan perseroan naik menjadi USD 1,39 miliar pada semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 sebesar USD 1,14 miliar. (financeroll/dk) Ekspor Batubara BUMI ke Amerika Serikat Drop Whery Enggo Prayogi – detikfinance Minggu, 26/08/2012 15:12 WIB Jakarta – Perusahaan tambang batubara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tidak lagi mengirim batubara ke Amerika Serikat (AS) sepanjang semester I-2012. Sebagai gantinya, BUMI fokus menjual ’emas hitam’ ini ke Asia dan Eropa. Berdasarkan laporan keuangan BUMI yang dipublikasikan, Minggu (26/8/2012), tahun lalu AS mampu mengkontribusi penjualan batubara masing-masing US$ 3,419 juta. Namun tahun ini nihil, meski manajemen tidak disebutkan alasan penurunan tersebut. Sebagai gantinya, BUMI fokus menjual hasil tambangnya ke dua wilayah, Asia dan Eropa. Penjualan ke Asia diketahui US$ 1,215 miliar, sedikit menurun dari tahun lalu US$ 1,356 miliar. Sementara penjualan ke Eropa justru naik dari US$ 136,076 juta di 2011 menjadi US$ 419,515 juta. Sedangkan penjualan ke dalam negeri masih minim atau setara US$ 299,209 juta dari total penjualan batubara BUMI di semester I-2012 US$ 1,934 miliar. Sebelumnya diketahui, BUMI sepanjang Januari-Juni menghasilkan total pendapatan US$ 1,946 miliar, atau naik US$ 154 juta dari periode yang sama tahun lalu US$ 1,792 miliar. Namun akibat rugi kurs dan rugi transaksi derivatif, kinerja BUMI meredup dengan mencatat rugi bersih US$ 334,111 juta (US$ 15,87 per lembar) hingga Juni 2012. Padahal periode sebelumnya BUMI menghasilkan laba US$ 226,73 juta (US$ 11,41 per lembar). Bumi Resources merupakan salah satu anak usaha kelompok bisnis Bakrie secara tidak langsung, melalui Vallar Investments UK Limited. Vallar memegang 29,18% saham BUMI, dan sisanya dimiliki publik. (wep/hen) Hold Untuk Saham BUMI Oleh: pasarmodal – Selasa, 14 Agustus 2012 | 13:07 WIB INILAH.COM, Jakarta – Peringkat utang PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dipangkas oleh S&P, dan peringkat saham diturunkan menjadi jual oleh UBS AS. Namun, masih ada rekomendasi hold untuk emiten ini. Yualdo Yudoprawiro dari Samuel Sekuritas menyarankan investor untuk tidak langsung membuang saham BUMI, melainkan menunggu hingga target harga terpenuhi, baru melakukan aksi jual. Saat ini, BUMI diperdagangkan dengan PE 2012 sebesar 10 kali dan EV/EBITDA sebesar 3,3 kali. “Saya masih merekomendasikan hold untuk BUMI,”katanya. Rekomendasi ini diberikan, meskipun Standard & Poor’s Rating Services (S&P) menurunkan peringkat utang BUMI menjadi BB- dari sebelumnya BB dengan prospek negatif. S&P menilai bahwa poisisi kas BUMI akan semakin melemah dalam 12-18 bulan ke depan akibat perlemahan pertumbuhan produksi dengan tingginya beban keuangan. S&P juga kemungkinan akan menurunkan rating BUMI lagi jika perseroan gagal mengurangi utang paling sedikit US$500 juta. BUMI masih mempertahankan target produksi batu bara sebesar 75 juta ton dimana manajemen mengatakan bahwa 90% dari jumlah tersebut telah terkontrak dengan harga US$85/ton. Sedangkan Andreas Bokkenheuser dari UBS AG menurunkan rekomendasi saham BUMI menjadi jual dari sebelumnya beli. Target harga pun dipangkas 70% menjadi Rp800 dari sebelumnya Rp2.650. Menurut Andreas, hal ini tak lepas dari melemahnya permintaan batu bara termal untuk pembangkit tenaga uap di China akibat tekanan krisis global. Alhasil, harga batu bara di Newcastle Australia turun 23% sepanjang tahun ini. “Kami perkirakan permintaan batu bara dari China akan menurun, dan BUMI akan melanjutkan kerugiannya pada kuartal pertama 2012 hingga 2013, dengan penurunan harga batu bara tersebut,” kata Andreas, yang dikutip dari bloomberg.com. [ast] Senin, 13 Agustus 2012 | 05:35 WIB Bumi Rugi, Investor Ragu TEMPO.CO , Jakarta: Bumi Plc, induk usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk, merugi (yang diatribusikan pemilik entitas) sebesar US$ 117 juta sepanjang semester satu tahun ini. Kerugian ini disebabkan kerugian anak usaha, terutama karena pembayaran bunga yang tinggi dan kerugian turunan dari Bumi Resources. Pengamat pasar modal, Steve Susanto, mengatakan kerugian yang masih dialami Bumi Plc akan mempengaruhi minat investor dalam negeri dalam melihat saham anak usahanya yang tercatat di bursa. “Mungkin produksi batu bara mereka bagus, tetapi investor ragu kepada jumlah utang yang terlalu besar,” ujarnya kepada Tempo. Dia menilai, kinerja operasional Bumi Resources dan Berau Coal terbilang bagus. Meski menurun 3,61 persen, harga rata-rata penjualan batu bara Bumi Resources yang mencapai US$ 88 per ton dia nilai masih baik. Sedangkan harga rata-rata penjualan batu bara Berau Coal meningkat 2,68 persen menjadi US$ 76,6 per ton. “Harga Bumi Resources saat ini berarti masih ada di grade 6-7,” kata Steve. Sampai sekarang, saham BUMI belum terlalu dilirik asing. Ini disebabkan ada masalah dalam balance sheet perusahaan. “Kalau sampai tidak dilirik asing, berarti ada sesuatu yang tidak bagus di dalamnya. Bukan karena profit loss, tetapi karena balance sheet,” ujarnya. Chief Executive Officer Bumi Plc, Nalinkant Amratlal Rathod, mengakui kerugian yang dialami perusahaan dipengaruhi oleh kerugian anak usaha. Kehilangan utamanya karena pembayaran bunga yang tinggi dan kerugian turunan dari BUMI. Selain itu, harga batu bara thermal yang jatuh secara signifikan selama beberapa bulan terakhir, bersama dengan harga logam mineral lainnya, turut menyumbang kerugian perusahaan kali ini. “Ini menjadi tantangan ekonomi global. Jelas ini menjadi perhatian kami karena jika berkepanjangan akan sangat mempengaruhi tingkat profitabilitas perusahaan,” katanya. Untuk itu, menurut dia, perusahaan berupaya mengurangi biaya produksi dan meningkatkan efisiensi di pos mana pun. Anak usahanya, Bumi, juga berupaya menurunkan tingkat utang dengan cara mencairkan investasi dan aset-aset non-inti. SUTJI DECILYA | SETIAWAN Keluarga Penulis Lumpur Lapindo Diduga Turut Menghilang Penulis : Aditya Revianur | Rabu, 25 Juli 2012 | 04:52 WIB JAKARTA, KOMPAS.com – Ali Azhar Akbar, penulis buku “Lapindo File: Konspirasi SBY-Bakrie” hingga saat ini masih dinyatakan hilang. Bahkan, diduga keluarga penulis buku kontroversial tersebut juga turut menghilang mengingat Ali Azhar dan keluarga tidak dapat dihubungi oleh kuasa hukumnya, Taufik Budiman. “Sampai saat ini klien (Ali Azhar Akbar) kami belum dapat dihubungi. Keluarga yang bersangkutan juga turut tidak pernah menghubungi (Taufik Budiman, red) lagi. Ada kemungkinan keluarga yang bersangkutan juga turut menghilang. Ini baru sebatas dugaan,” ujar Taufik Budiman ketika dihubungi wartawan, Jakarta, Selasa (24/07/2012). Taufik mengaku kontak terakhir dengan Akbar terjadi pada pertengahan Juni ketika keduanya sedang berkonsentrasi pada sidang uji materiil UU APBNP tahun 2012 di Mahkamah Konstitusi. “Terakhir kami bertemu ya pertengahan Juni. Saat itu kami masih berkonsentrasi pada sidang di MK,” terangnya. Sebelumnya, sejak 19 Juni 2012, Ali Azhar Akbar, penulis buku “Lumpur Lapindo File: Konspirasi SBY-Bakrie” dinyatakan menghilang. Tidak ada yang tahu keberadaan aktivis dan penulis buku Lapindo File tersebut. Ada dugaan Akbar sengaja menghilangkan diri atau justru dihilangkan oleh pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh tulisan Akbar sendiri. Namun, seperti yang telah diberitakan oleh beberapa media, Ali Azhar Akbar sering mendapatkan teror via sms dan telepon setelah bukunya diterbitkan dan upayanya menggugat penggunaan uang rakyat di APBN untuk mengatasi kasus Lapindo didaftarkan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Editor : Farid Assifa Uang Rakyat 1,5 Triliun untuk Lapindo Bakrie Penulis : Aditya Revianur | Rabu, 25 Juli 2012 | 05:21 WIB JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Indonesia mengucurkan dana sebesar Rp 1,5 triliun untuk mengatasi dampak semburan lumpur Lapindo yang telah menenggelamkan beberapa desa di Porong, Sidoarjo. Dana milik rakyat itu digunakan untuk membiayai operasional Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS). “BPLS merupakan badan yang dibentuk pemerintah yang bertugas menangani upaya penanggulangan semburan lumpur, luapan lumpur, serta menangani masalah sosial dan infrastruktur akibat luapan lumpur di Sidoarjo. Untuk melaksanakan tugasnya, BPLS dibiayai APBN, dimana untuk Tahun Anggaran 2012 ditetapkan sebesar Rp1,5 triliun,” ujar Dirjen Anggaran Kemenkeu, Harry Purnomo di gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Selasa (24/07/2012). Herry menuturkan, dana Rp 1,5 triliun tersebut akan digunakan untuk membayar ganti rugi korban semburan lumpur di luar peta area terdampak dengan cara pembelian tanah. Menurutnya, di dalam Pasal 18 UU APBN-P 2012 ditetapkan bahwa alokasi dana pada BPLS dapat digunakan untuk pelunasan pembayaran pembelian tanah dan bangunan di luar peta area terdampak pada tiga desa, yakni Desa Besuki, Desa Kedungcangkring dan Desa Pejarakan. Di bagian lain, saat dihubungi usai persidangan, kuasa hukum pemohon uji materi Pasal 18 UU APBNP Tahun 2012, Taufik Budiman menilai bahwa semburan lumpur Lapindo merupakan peristiwa yang disebabkan oleh kelalaian perusahaan keluarga Bakrie dalam melakukan pengeboran. Dirinya menuturkan bahwa persoalan lumpur Lapindo bukan termasuk dalam persoalan yang disebabkan bencana alam. Menurut analisis Taufik, kerugian yang diakibatkan oleh semburan lumpur Lapindo seharusnya ditanggung secara personal oleh PT Lapindo Brantas yang dimiliki Aburizal Bakrie. “Lapindo atau keluarga Bakrie harus merogoh koceknya sendiri. Jadi, mereka tidak bisa menggunakan uang rakyat. Itu kan tidak adil jika uang rakyat Rp 1 triliun lebih dipakai untuk mensubsidi Lapindo atau Bakrie, sehingga tanggung jawab mereka dalam membayar ganti rugi untuk warga korban Lapindo diringankan,” tegasnya. Editor : Farid Assifa PT Bumi Resources Tbk mencatat kerugian bersih hingga sebesar US$ 107,16 juta, pada kuartal I-2012. Kerugian ini terutama disebabkan oleh anjloknya pos transaksi derivatif dan rugi selisih kurs. Ditambah beban usaha yang semakin melejit akibat kenaikan biaya eksplorasi. Namun, pengelola perusahaan milik pengusaha-politisi Aburizal Bakrie ini masih tetap optimistis kinerja perseroan akan membaik. “Kami optimistis bisa mendapatkan kontrak pembelian jangka panjang dengan harga bagus,” jelas Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi.(kontan/az) JAKARTA. Pergerakan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menarik untuk dicermati. Pada pukul 10.50, saham BUMI terjungkal 4% menjadi Rp 1.160. Ini merupakan penurunan pertama dalam lima hari terakhir. Aksi jual investor terhadap saham perusahaan tambang ini disinyalir berkaitan dengan kinerja perusahaan. Asal tahu saja, Bumi Resources membukukan rugi bersih mencapai US$ 100,36 juta di sepanjang kuartal pertama 2012. Padahal, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, BUMI berhasil mengantongi laba bersih sebesar SU$ 108,2 juta. http://investasi.kontan.co.id/news/bukukan-rugi-bersih-investor-melepas-saham-bumi/2012/07/05 Sumber : KONTAN.CO.ID PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membukukan rugi bersih pada Quarter 1 2012 sebesar 921,3 miliar. Hal ini kurang baik bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2011 yang berhasil mencetak keuntungan sebesar 1,07 triliun. Dengan demikian, rugi bersih per saham setara dengan Rp 45.35 per lembar. Berikut Laporan keuangan BUMI Quarter 1 2012 : Last Price 1,170 Share Out. 20.8 B Market Cap. 24304.9 B Balance Sheet Cash 2723.0 B Total Asset 67847.2 B S.T. Borrowing 1191.3 B L.T. Borrowing 37219.6 B Total Equity 6509.8 B Income Statement Revenue 9252.1 B Gross Profit 2949.7 B Operating Profit 1368.9 B Net. Profit -921.3 B EBITDA 1499.1 B Interest Expense 1319.0 B Ratio EPS -45.35 PER -25.80x BVPS 313.37 PBV 3.73x ROA -1.36% ROE -14.15% EV/EBITDA 40.02 Debt/Equity 5.9 Debt/TotalCap 0.86 Debt/EBITDA 25.62 EBITDA/IntExps 1.14 Sumber : IPS RESEARCH

Juni 26, 2014

PLIS D, mosok SELEB NGACO BANGET seh … :(

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 5:53 pm

ini posting gw soal GIGITAN SUAREZ n BAJU AHMAD DHANI YANG MELAMBANGKAN KEBANGKITAN KEKERASAN FISIK YANG BIADAB

Older Posts »

The Shocking Blue Green Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 63 pengikut lainnya.