Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Februari 20, 2019

musim DINGIN @bumi, BATUBARA DIMINTA … 281212_131217

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 1:50 am

Bisnis.com, JAKARTA — Upaya meningkatkan ekspor batu bara di tengah stagnasi permintaan global ibarat memakan buah simalakama. Jika ekspor dinaikkan, harga berpotensi jatuh; sedangkan bila ekspor ditahan, negara tidak memperoleh tambahan devisa.

Ekspor batu bara menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Selasa (19/2/2019). Berikut laporannya.

Di tengah situasi ini, pemerintah harus mencari cara untuk memacu serapan batu bara di pasar domestik.

Selama ini, Indonesia merupakan salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia selain Australia. (Lihat grafis)

batubara DATA

Berdasarkan data Ditjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, produksi batu bara pada 2018 mencapai 548,58 juta ton, lebih tinggi 20 juta ton dari catatan awal Januari 2019 sebanyak 528 juta ton.

Dari jumlah itu, pasokan untuk kebutuhan dalam negeri (domestic market obligation/DMO) hanya 115 juta ton. Artinya, ekspor batu bara Indonesia mencapai 433,58 juta ton, dengan asumsi seluruh batu bara berhasil dijual.

Pada 2018, pemerintah menambah kuota produksi 100 juta ton yang seluruhnya untuk pasar ekspor. Hal itu bertujuan memperbaiki defisit neraca perdagangan.

Hendra Sinadia, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia, mengatakan tingginya ekspor tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan harga. “Kebijakan pelonggaran ekspor batu bara berperan menekan harga,” ujarnya, Senin (18/2).

Kenaikan ekspor ini terjadi di tengah turunnya permintaan batu bara dari negara importir, a.l. dari India yang terkoreksi 11% secara tahunan menjadi 17,25 juta ton pada Januari tahun ini.

Deddy Yusuf Siregar, Analis Asia Trade Point Futures, mengatakan bahwa penurunan impor batu bara di India telah menjadi sentimen negatif bagi harga komoditas andalan Indonesia tersebut.

Kementerian ESDM menetapkan harga batu bara acuan (HBA) Februari 2019 senilai US$91,8 per ton, turun 0,66% dari HBA Januari 2019 yang ditetapkan sebesar US$92,41 per ton. Sejak September 2018, HBA terus terkikis dan belum pernah mencetak kenaikan secara bulanan.

Hendra menambahkan, sejauh ini para produsen dan kontraktor pertambangan masih pikir-pikir untuk mempertahankan tingkat produksinya. Pasalnya, permintaan batu bara diprediksi cenderung stagnan pada tahun ini.

PT Bumi Resources Tbk., salah satu produsen batu bara terbesar di Tanah Air, membidik target penjualan batu bara pada tahun ini sebesar 96 juta ton, meningkat 11,63% secara tahunan.

“Pada 2020, BUMI menargetkan penjualan 100 juta ton,” ungkap Presiden Direktur Bumi Resources Saptari Hoedjaja.

TARGET PRODUKSI

Di tengah kondisi ini, Kementerian ESDM menargetkan produksi batu bara pada tahun ini sebanyak 490 juta ton.

Bahkan, realisasinya berpeluang kembali menembus 500 juta ton dengan didominasi oleh porsi ekspor. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan potensi tingginya produksi tersebut selalu membayangi setiap tahun.

Pemerintah memberikan ruang bagi para produsen batu bara untuk meningkatkan produksinya hingga 10% dari jumlah yang telah disetujui dengan syarat telah memenuhi persentase minimal kewajiban pasokan DMO.

“Dengan mempertimbangkan beberapa faktor produksi, mungkin saja produksi tembus 500 juta ton lagi tahun ini.”

Pada tahun ini, Kementerian ESDM menyatakan DMO batu bara mencapai 128 juta ton, lebih tinggi dari realisasi DMO tahun lalu 115 juta ton atau setara 26% dari target produksi 490 juta ton.

Kebutuhan untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) masih mendominasi dengan 95,73 atau 74,77% dari total DMO.

“Pertumbuhan konsumsi PLTU pasti naik karena ada proyek 35.000 megawatt ,” tutur Gatot.

Terkait dengan kenaikan produksi ini, Hendra mengharapkan pemerintah perlu mempertimbangkan pengendalian produksi dengan tetap memperhatikan dampak terhadap penerimaan negara serta perekonomian daerah setempat.

“Yang jelas harus hati-hati dalam menghitungnya.”

 

buttrock

 

pengekspor tambang Indonesia MULAI NAEK HARGANYA, saat INDEKS BURSA SAHAM SHANGHAI juga MENGGELIAT naek

… sila KLIK LINK DI ATAS, KE POSTING ANALISIS TEKNIKAL gw soal perbandingan tren IHSG dan BURSA SHANGHAI 🙂

$101/ metrik ton BATUBARA, tertinggi lage @ 2016

harga batubara diekspektasikan @ BUMI, tren harganya juga ya

spiral

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dua hari perdagangan terakhir, harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik turun tajam. Senin (11/12), harga saham BUMI anjlok 14,17% dari Rp 254 per saham di akhir pekan lalu ke Rp 218 per saham, sehari sebelum dimulainya tanggal efektif konversi utang.

Hari ini, harga saham BUMI melonjak 11,01% ke Rp 242 per saham. Analis menilai, tekanan ini justru akibat dari aksi korporasi BUMI itu sendiri.

Okky Jonathan, analis Erdhika Elit Sekuritas mengatakan, sejatinya pasar kurang antusias merespon aksi korporasi BUMI. Pasalnya, jika perusahaan melunasi utang dengan menggunakan saham, hal ini menunjukan bahwa perusahaan tidak memiliki likuiditas yang cukup. “Karena ini juga saham BUMI belakangan kembali turun,” ujar Okky, Selasa (12/12).

Dia masih neutral dengan saham BUMI. Target harganya di Rp 280 per saham. “Neutral, cenderung tidak beli bagi yang belum punya,” pungkas Okky.

Sebagaimana diketahui, hampir 100% kreditur turut ambil bagian dalam konversi utang kedalam sejumlah instrumen restrukturisasi tersebut.

Total utang BUMI yang masuk dalam agenda restrukturisasi mencapai US$ 4,2 miliar. Dengan nilai US$ 16 juta yang tidak dikonversi, maka hanya sekitar 0,3% kreditur yang tidak ikut konversi tersebut. Dileep bilang, duit senilai US$ 16 juta itu akan masuk ke dalam laporan laba rugi perusahaan.

Emoticons0051

JAKARTA kontan. Saham PT Bumi Resurces Tbk (BUMI) terkerek seiring melonjaknya harga batubara. Saham BUMI pada perdagangan Selasa (15/8) melompat 5% ke level Rp 294 per saham.

Kenaikan itu seiring harga batubara global yang kembali mencetak rekor tertinggi sejak Februari 2013. Senin (14/8), harga batubara kontrak pengiriman September 2017 di ICE Futures sempat terkerek 0,48% ke level US$ 93,55 per metrik ton. Dalam sepekan, harganya sudah melambung 2,12%.

Sentimen positif bagi batubara datang dari China. Harga komoditas ini menguat lantaran hasil produksi batubara China Juli lalu susut 7,9% menjadi 9,5 juta ton per hari. Ini jadi penurunan tertinggi dalam 19 bulan terakhir.

Lantas, apakah sentimen tersebut bakal mampu membuat harga saham BUMI terbang tinggi?

Dileep Srivastava, Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, secara fundamental, BUMI sangat kuat. Kinerja operasionalnya juga diatas rata-rata.

Fundamental bakal kian kuat seiring dengan berkurangnya utang BUMI menjadi US$ 1,6 miliar dari sebelumnya US$ 4,2 miliar. Laba semesetr I 2017 juga mencapai US$ 162,3 juta. “Semester kedua sepertinya akan lebih baik lagi,” ujar Dileep.

Memang, untuk beberapa waktu ke depan, tren kenaikan harga batubara masih cukup logis. Sebab, China juga memberlakukan inspeksi keselamatan pertambangan serta pemeriksaan dampak lingkungan pertambangan terhadap alam sekitar. Sejumlah tambang lama yang tidak efisien dan melanggar regulasi pun ditutup.

Menurut National Energy Administration (NEA), hingga Juli 2017, China telah menutup lima tambang batubara. Hingga akhir tahun, bakal ada menutup tujuh tambang lagi di Provinsi Heilongjiang. Hal ini berpotensi mengurangi suplai batubara.

valentineEVERYsmall

JAKARTA kontan. Outlook kinerja PT Bumi Resource Tbk (BUMI) masih diprediksi mulus tahun ini. Hanya saja kinerjanya sangat sensitif pergerakan harga batubara.

Menurut Analis NH Korindo Bima Setiaji dalam pandangannya secara operasional tahun ini belum ada masalah yang signifikan dapat mengganggu kinerja. Sehingga pembayaran utang dan bunga utang BUMI diprediksi tidak akan mengalami kendala.

“Adanya restrukturisasi utang maka interest cost dia juga semakin berkurang, sehingga arus kas lebih positif,” kata Bima kepada KONTAN, Senin (13/2).

Menurut catatan Bima, sepertinya laba bersih 2016 BUMI terindikasi sebesar US$ 101,6 juta. dimana penjualan batu bara naik 10,6%. Serta harga jual rata-rata yang diperkirakan naik 30%. Sehingga kinerja 2016 BUMI dianggap masih cukup baik.

Melihat ekspektasi harga batubara masih berada dikisaran US$ 70 per metric ton, dianggap juga masih terbilang cukup aman bagi kinerja BUMI. Dan seharusnya ada lonjakan sebelum beban depresiasi dan amortisasi (EBITDA) di tahun ini.

Secara fundamental, Bima belum bisa merekomendasikan saham BUMI. Tapi melihat pergerakan teknikal Bima merekomendasikan buy di target harga Rp 500 per saham.

Asal tahu saja, BUMI memiliki 2,2 miliar metric ton cadangan batu bara dan 12,4 miliar metric ton sumber daya di luar cadangan. Tambang KPC dan Arutmin memiliki perjanjian kontrak batubara yang akan berakhir di tahun 2021 dan 2019. Jangkauan pasar BUMI paling besar 40% domestik, 31% India, 12% Jepang, sisanya Filipina, China, Thailand.

doraemon

Bumi Resources (BUMI). PT Bumi Resources Tbk. (http://www.bumiresources.com/) mengestimasi dapat meraih laba bersih US$101,6 juta pada 2016, dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatatkan rugi bersih sebesar US$2 miliar. (Bisnis Indonesia)

kontan:

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memperkirakan pendapatan bersih sepanjang tahun lalu mencapai US$ 101,6 juta. Jumlah tersebut naik 151% dibandingkan pendapatan selama 2015 yang sebesar US$ 40,5 juta dengan kerugian bersih US$ 2 miliar.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI, mengemukakan, pada tahun 2016, volume penjualan batubara gabungan meningkat 10,6% year-on-year (yoy) menjadi 87,7 juta ton dibandingkan volume penjualan pada 2015 yang sebesar 79,3 juta ton.

Penjualan tersebut terdiri dari penjualan dari tambang Arutmin yang tumbuh 15,3% (yoy) menjadi 28,6 juta ton dan penjualan dari tambang Kaltim Prima Coal (KPC) yang naik 8,4% (yoy) menjadi 59,1 juta ton.

Sepanjang tahun lalu, BUMI meningkatkan volume batubara yang ditambang sebesar 6,5% (yoy) menjadi 86,5 juta ton. Khusus pada kuartal IV-2016, volume batubara yang ditambang meningkat 12,3% menjadi 23,8 juta ton.

Realisasi harga rata-rata batubara selama 2016 mencapai US$ 42,1 per ton. Harga itu menyusut 6% dibandingkan realisasi sepanjang 2015 yang sebesar US$ 44,8 per ton. Penurunan harga dipicu kondisi pasar dan eksekusi beberapa kontrak yang telah dibuat sebelumnya. Tetapi, harga jual rata-rata batubara mulai mengalami tren meningkat pada kuartal IV-2016.

“Pada tahun ini, kami memperkirakan harga patokan batubara berkisar US$ 80 per ton,” ujar Dileep, Kamis (9/2). BUMI bakal meningkatkan produksi batubara antara 5% hingga 7% dengan perkiraan kenaikan harga jual rata-rata sebesar 30%. Ia menyebut, BUMI juga tengah memfinalisasi beberapa kontrak tambahan dengan pihak Jepang.

Seperti diketahui, pada tengah tahun ini, BUMI bakal mengurangi utangnya yang sebesar US$ 4,2 miliar menjadi US$ 1,6 miliar melalui konversi saham dengan jalan rights issue sebesar US$ 2 miliar dan obligasi wajib konversi senilai US$ 639 juta. Harga konversi itu disepakati sebesar Rp 926,16 per saham.

Harga saham BUMI kemarin Rp 434 per saham.

doraemon

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Belakangan saham-saham yang terafiliasi dengan grup Bakrie mulai bergerak aktif. Salah satu yang bahkan menjadi penggerak indeks bursa adalah saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Dalam empat bulan, harga saham emiten produsen batubara tersebut naik sembilan kali lipat dari Rp 50 per lembar menjadi di atas Rp 470 per lembar pada penutupan perdagangan kemarin Kamis (26/1/2017).

Sejumlah analis pasar memperkirakan akan terjadi tren kenaikan harga saham BUMI. Ada beberapa sentimen positif yang masih menjadi daya dorong kenaikan harga saham BUMI ke depan.

Pertama, dengan adanya kesepakatan restrukturisasi dengan kreditur, maka tahun ini ada harapan saving 250 juta dollar AS dari interest payment. Sehingga, nantinya dana itu dapat masuk ke bottom line alias laba bersih BUMI.

Kedua, tahun ini produksi BUMI diperkirakan mencapai 100 juta metrik ton (MT), naik dari produksi 2016 sebanyak 80 juta MT. Kenaikan produksi diyakini akan memberikan tambahan penerimaan BUMI. Ketiga, harga acuan rata-rata batubara tahun ini diprediksikan lebih baik ketimbang 2016.

“Nah, dari ketiga alasan itu, diperkirakan akan ada perbaikan kinerja di tahun 2017 ini,” kata Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang kepada Kompas.com, Jakarta, Jumat (27/1/2017).

Mengenai restrukturisasi utang, sebagaimana diketahui, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah mengesahkan hasil perdamaian di kasus restrukturisasi utang BUMI dengan para krediturnya. Atas pengesahan ini pun, BUMI diharuskan tunduk dan menjalani perjanjian perdamaian yang telah disepakati.

Dikutip dari Kontan, Senin (28/11/2016) salah satu pengurus PKPU William E. Daniel dalam sidang mengatakan, klausul yang telah disepakati itu antara lain, utang BUMI akan dikonversi menjadi saham dan surat utang baru.

Penerbitan saham baru (right issue) dijadwalkan paling lambat pada 30 Juni 2017. Adapun harga saham sebagai debt to equity convertion itu pun disepakati sebesar Rp 926,16 per lembar, turun dari penawaran awal Rp 1.149.

Sejak pengesahan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat itu, saham BUMI terus naik. Bahkan kenaikannya juga diikuti oleh emiten lain yang masih terafiliasi dengan grup Bakrie antara lain PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).

Adapun harga batubara pada tahun ini diproyeksikan meningkat. Kenaikan harga komoditas ini sebenarnya sudah terjadi sejak paruh kedua tahun lalu.

Kenaikan signifikan terjadi pada kuartal terakhir, di mana harga batubara acuan pada Oktober 2016 sekitar 69,07 dollar AS per ton dan pada November 2016 melonjak menjadi 84,89 dollar AS per ton.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan harga batubara acuan pada Januari 2017 di level 86,23 dollar AS per ton. Bila dibandingkan Januari 2016 yang sebesar 53,2 dollar AS per ton, maka harganya sudah naik 62 persen.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio beberapa waktu lalu mengatakan, saham-saham grup Bakrie mengalami kenaikan signifikan didorong dua hal, utamanya restrukturisasi utang dan membaiknya harga komoditas seperti batubara dan CPO.

Saham BUMI yang semakin likuid hingga tercatat masuk dalam indeks LQ45 juga dinilai atraktif bagi investor.

whispering

JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berhasil mencetak kenaikan penjualan batubara sebesar 10,7% menjadi 64,6 juta ton hingga September 2016, bandingkan dengan realisasi periode sama tahun lalu 58,4 juta ton.

Pertumbuhan penjualan terbesar berasal dari tambang perseroan, yaitu PT Kaltim Prima Coal (KPC) sekitar 11,6% dari 39,8 juta ton menjadi 44,5 juta ton batubara. Sedangkan penjualan batubara dari tambang PT Arutmin Indonesia dengan pertumbuhan sekitar 8,6% dari 18,6 juta ton menjadi 20,2 juta ton.

Director & Corporate Secretary Bumi Dileep Srivastava Manajemen mengatakan Bumi Resoures disebutkan bahwa volume batubara yang berhasil ditambang perseroan juga mengalami peningkatan sekitar 4,5% menjadi 62,7 juta ton, bandingkan dengan Januari-September 2015 sebanyak 60 juta ton.

Sedangkan nisbah penguasan tanah (overburden) turun sekitar 2,5% menjadi 7,1 hingga September 2016, bandingkan dengan 7,3 pada periode sama tahun lalu. “Penurunan nisbah pengupasan disebabkan oleh pengurangan untuk KPC. Hal ini juga mencerminkan efisiensi biaya,” tuturnya melalui penjelasan resmi di Jakarta, Rabu (2/11).

 

 

 

Parluhutan/PAR

BeritaSatu.com

ets-small

Musim Dingin Membuat Permintaan Batubara Naik
Oleh Muhammad Yazid – Rabu, 12 Desember 2012 | 09:00 WIB

kontan

Lihat saja produksi batubara selama November lalu yang mencapai 46 juta ton. Produksi ini naik 39,4% dibandingkan dengan produksi pada September yang hanya sebanyak 33 juta ton. Edi Prasodjo, Direktur Pengusahaan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan, dengan tambahan produksi pada bulan lalu, maka jumlah produksi batubara selama periode Januari-November 2012 mencapai 356 juta ton.
“Melihat besaran realisasi tersebut, dan perbandingan dari rencana produksi 2012, yakni sebanyak 332 juta ton hingga 386 juta ton, bisa dikatakan tidak ada hambatan yang cukup berarti pada produksi batubara di tahun ini,” kata dia ke KONTAN, Selasa (11/12).

Menurut Edi, dari total produksi Januari-November, sebanyak 260 juta ton diekspor. Selain itu, sebanyak 88 juta ton dijual di dalam negeri, dan sisanya sebanyak 8 juta adalah total stok perusahaan batubara.

Kalau diperinci lagi, pasokan batubara domestik, sebanyak 51 juta ton untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), baik milik PT PLN maupun swasta. Sedangkan sisanya diserap industri pupuk, petrokimia, maupun trader batubara.

Edi berharap, musim dingin di belahan bumi utara akan meningkatkan ekspor batubara. Karena itu, harga batubara pun mulai merangkak naik. “Kenaikan harga saat ini memang pengaruh musim dingin, tapi belum terlalu signifikan kenaikan harganya,” ujarnya.

Berdasarkan harga batubara acuan (HBA) yang diterbitkan Ditjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, pada Desember 2012 ini, HBA yang ditetapkan mencapai

US$ 81,75 per ton

, atau naik tipis dibanding harga acuan selama November, sebesar US$ 81,44 per ton.

Selain itu, sambung dia, peningkatan produksi batubara dalam negeri selama sebulan lalu juga didorong dari tambahan data yang baru masuk dari perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP). “Ada kekurangan data-data produksi yang belum masuk di bulan-bulan sebelumnya yang kami masukkan pada November ini,” kata Edi.

Naik US$ 100 per ton

Supriatna Sahala, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) mengatakan, selama bumi utara dilanda musim dingin, permintaan batubara masih akan terus meningkat.

Menurut dia, APBI optimistis, target atas produksi yang dipatok sebesar 382 juta ton bisa tercapai hingga akhir Desember nanti.
Ia menambahkan, sekarang ini harga batubara berkalori tinggi mencapai US$ 95 per ton, atau jauh meningkat dibandingkan dengan tiga atau empat bulan lalu yang hanya US$ 86 per ton.

Menurutnya, harga tersebut berpotensi untuk terus meningkat hingga pertengahan tahun depan. “Peningkatan harga batubara tentunya akan mendorong pertumbuhan produksi batubara nasional di akhir tahun ini,” kata dia.

Meski begitu, Supriatna menjelaskan, sejatinya stok pasokan batubara di pasar internasional masih melimpah. Nah, yang terjadi saat ini hanyalah peningkatan permintaannya saja.

Dengan demikian, ia memproyeksikan, peningkatan harga nantinya tidak dapat mencapai harga jual batubara seperti 2011 silam yang mencapai US$ 120 per ton. Supriatna memprediksi, peningkatan harga hanya akan mencapai US$ 100 per ton.

Muhammad Yazid

ets-small

Iklan

Januari 16, 2019

Les Maen Saham Mandiri oleh JO (bumi bri JO laba, + 5 saham bagus laen)

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 10:29 am

JO bli saham BUMI lage neh, pasca +40% something dalam 2 bulan terakhir (11 Jan 2019)

5 saham JO laen yang juga BAGUS neh (slaen BUMI)

per tgl 16 Januari 2019, tren harga saham BUMI mase mroket:

bumi_162_160119mid

Emoticons0051

JO sudah mempublikasikan buku karangan JO: Berbagi Hasrat @ Dasar Trading Saham oleh JO. Ditawarkan model belajar aktif dari buku tersebut kepada siapa pun yang berminat menjadi Trader Saham Mandiri. Tidak bergantung pada robot, melainkan pada manusia, yaitu diri sendiri serta komunitas, yang cara pandang @ pasar sahamnya berbeda daripada komunitas maen saham laennya.

Biaya les Trading Saham: Buku + Diskusi Isi Buku (2 jam diskusi 10 pertanyaan oleh pembeli buku) : Rp 100.000,- (sila SMS ke no. hp. JO : 08159399137).

Desember 18, 2018

fortune @BUMI … 201213_140514_181218

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:03 am

JAKARTA okezone – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melalui anak usahanya PT Kaltim Prima Coal (KPC) berhasil meraih penghargaan sebagai perusahaan penyumbang devisa ekspor terbaik tahun 2018. Penghargaan ini merupakan yang kedua kalinya setelah pada tahun 2017 lalu meraih penghargaan yang sama.

Penghargaan diserahkan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo kepada Chief Finance Officer (CFO) KPC Ashok Mitra, pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia, di Jakarta Convention Centre (JCC), Jakarta, Selasa 27 November 2018.

Baca Juga: Cadangan Devisa Meningkat, Sri Mulyani Terus Antisipasi Dinamika Global

Pertemuan Tahunan Bank Indonesia pada tahun 2018 ini, dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo. Jokowi hadir bersama sejumlah menteri Kabinet Kerja antara lain Mensesneg Pratikno, Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, Menteri BUMN Rini Sumarno, Gubernur BI Perry Warjiyo dan sejumlah pejabat lainya.

Penghargaan tersebut diberikan atas kinerja KPC yang telah memastikan semua devisa hasil ekspor batubara, diterima di bank devisa dalam negeri dan dilaporkan sesuai dengan peraturan Bank Indonesia.

Baca Juga: BI: Cadangan Devisa Naik Jadi USD115,2 Miliar

“Kami menghargai penghargaan dari Bank Indonesia kepada Bumi melalui KPC dan Arutmin. Ini suatu kebanggaan besar bahwa Perusahaan diakui sebagai penghasil devisa ekspor terbesar dan pembayar PNBP tertinggi di Indonesia. Komitmen kami adalah terus patuh pada semua peraturan danhukum yang ada dengan praktik tata kelola yang baik,” Presiden Direktur Bumi Resources Tbk. sekaligus Presiden Direktur KPC, Saptari Hoedaja.

(fbn)

buttrock

 

Bisnis.com, JAKARTA–PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) mencatatkan kinerja positif sepanjang kuartal I/2014. Laba bersihnya mencapai US$349,34 juta.

Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya BUMI masih menanggung rugi hingga US$62,91 juta. Namun, dalam laporan keuangan perseroan yang diterbitkan, Rabu (14/5/2014) pendapatan BUMI justru merosot sekitar 11% dari US$942,53 juta menjadi US$839,39 juta tahun ini.

Peningkatan laba bersih itu diperoleh perseroan dari penjualan 19% kepemilikan BUMI atas PT Kaltim Prima Coal pada Country Forest Limited (CFL) senilai US$746,94 juta.

Berdasakan catatan dalam laporan tersebut selisih antara nilai buku dan hasil penjualan diakui sebagai laba atas pelepasan investasi pada entitas anak.

Selanjutnya, penjualan tersebut mengurangi kepemlikan BUMI dari 65% menjadi 51%. Sebagai informasi CFL adalah bagian dari China Investment Corporation (CIC). Divestasi kepemilikan di KPC tersebut adalah salah satu langka untuk melunasi utang perseroan pada CIC sekitar US$1,3 miliar.

Editor : Ismail Fahmi

Kenapa Lo Kheng Hong Masih Pegang Saham Tambang Grup Bakrie?

Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance

Jumat, 20/12/2013 16:54 WIB

Jakarta -Kinerja perusahaan tambang milik Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus mencatatkan kerugian. Saham-sahamnya pun terus rontok.

Namun, apa yang membuat investor pasar modal Lo Kheng Hong yang dikenal sebagai ‘Warren Buffet’-nya Indonesia, tetap mau berinvestasi di perusahaan milik Grup Bakrie tersebut?

“Perusahaan ini masih berproduksi. Masih 80 juta ton produksinya. Cadangan batubaranya juga banyak, terbesar,” kata pria asli Betawi ini saat ditemui usai batalnya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BUMI, di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (20/12/2013).

Menurut pria yang sudah 24 tahun ‘bermain’ di pasar modal ini investasi di pasar saham memang untuk jangka panjang sehingga tidak hanya melihat kondisi saham saat ini saja.

“Dulu harga saham BUMI Rp 8.750 per saham, sekarang kira-kira sudah Rp 300-310 per saham. Ya memang lagi begitu,” ujar dia.

Perlu diketahui, hari ini manajemen BUMI batal menggelar RUPSLB karena tidak kuorum. Sebagian besar pemegang saham merasa kecewa atas pembatalan ini. Bahkan, ada beberapa pemegang saham yang mengamuk karena merasa ‘dipermainkan’.

Hingga kuartal III-2013, perseroan mencatatkan kerugian sebesar US$ 377,5 juta. Angka ini turun 40% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 632,5 juta.

Kerugian tersebut disebabkan oleh masih rendahnya harga batu bara dunia yang bertengger di bawah US$ 70 per ton sehingga belum mampu menutup kerugian di tahun sebelumnya.

Namun, perseroan mencatat kenaikan volume penjualan batu bara sebesar 22,9% dari 47,7 metrik ton pada kuartal III-2013 menjadi 58,6 metrik ton pada kuartal III-2013.

(drk/ang)

Perusahaan Tambang Bakrie Kebingungan Cari Utang untuk Bayar Utang

Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance

Jumat, 20/12/2013 16:29 WIB

Jakarta -PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengaku harus memeras otak untuk mengurangi utang-utangnya. Saat ini opsi untuk mencari utang baru sudah terbatas.

Hal itu dikemukakan oleh Direktur Utama BUMI Ari Hudaya setelah perseroan gagal menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) karena tidak kuorum.

Ari menjelaskan hal tersebut ke para pemegang saham yang mengelilingi dirinya setelah rapat dinyatakan batal. Para investor itu banyak melempar pertanyaan, seperti mengapa rapat batal, mengapa BUMI masih rugi, langkah-langkah apa yang dilakukan manajemen untuk atasi utang dan lain-lain.

“Beban utang kita tinggi. Ini challenge buat saya, bagaimana caranya mengurangi utang,” katanya memberi penjelasan kepada investor di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (20/12/2013).

“Ke mana saya harus cari utang? Sekarang dolar naik terus. (Pinjam) ke bank, ke dana syariah susah. Bank sudah tidak mungkin,” ujarnya.

Menurutnya, yang paling mudah adalah menerbitkan saham baru atau melepas lebih banyak lagi saham ke pasar modal. “Kalau saya mau mudah, saya mau maunya issue equities,” katanya.

Beberapa investor juga bertanya-tanya mengapa perusahaan tambang Grup Bakrie itu masih rugi, padahal produksinya masih tinggi

Menurut Ari, harga jual batubara di dunia masih loyo. Apalagi harganya diperkirakan masih akan turun di tahun 2014 mendatang. Belum lagi dolar yang menguat jadi membuat beban operasional perusahaan membengkak.

Seperti diketahui, BUMI akan melunasi utang-utangnya kepada China Investment Corporation (CIC) US$ 1,787 miliar atau sekitar Rp 17,8 triliun pada akhir Desember ini. Namun BUMI kekurangan uang US$ 430 juta atau sekitar Rp 4,3 triliun.

Rencananya, perusahaan tambang Bakrie Group ini akan membayar utang-utangnya lewat penjualan saham anak perusahaannya. BUMI akan menjual saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 19% atau setara US$ 950 juta (Rp 9,5 triliun), menjual saham BRMS sebesar 42% atau setara US$ 257 juta (Rp 2,57 triliun), dan melakukan penerbitan saham baru atau Rights Issue BUMI yang mencapai US$ 150 juta (Rp 1,5 triliun).

 

Untuk memuluskan rencana penjualan itu, BUMI menggelar RUPSLB hari ini. Sayangnya, RUPSLB ini harus batal digelar karena tidak kuorum.

Pesta sudah usai bagi Asia Tenggara

Oleh Karim Raslan – Selasa, 27 Agustus 2013 | 12:59 WIB

kontan

PADA 19 Agustus 2013, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 5,6%. Ini merupakan penurunan terbesar sejak Oktober 2011 saat investor asing menjual sahamnya sebesar US$ 169 juta. Penurunan semakin besar pada Selasa (20/8), yakni sebesar 3,2%, atau tergelincir selama empat hari sebesar 11%.

Rupiah juga turun, diperdagangkan di Rp 10.490 per dollar AS, angka terendah sejak rupiah jatuh pada Mei 2009. Selasa (20/8), rupiah malah mencapai sekitar Rp 10.685 per dollar AS. Nilai tukar rupiah turun sebesar 8,2% tahun ini.

Namun bukan hanya Indonesia yang sedang terguncang. Seluruh ASEAN 5 memiliki hari yang buruk di pasar saham. Bursa di Thailand, Singapura, dan Malaysia juga mengalami kerugian. Di Manila, bursa saham diliburkan karena badai hujan dan musibah banjir.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Nah, coba ingat apa yang saya tulis mengenai reaksi ekonomi stimulus Quantitative Easing (QE) dari US Federal Reserve . Kini, sentimen negatif investor mengenai hal tersebut terus berlanjut.

Masih belum jelas bagaimana Federal Reserve begitu cepat menarik hot money yang membanjiri pasar-pasar negara berkembang–termasuk Asia Tenggara– sebagai akibat dari QE. Namun, prospek ini sangat membuat investor ketakutan.

Di sisi lain, penarikan hot money tidak baik, sebab–sebagaimana peringatan dari Moody’s Analytics– hal itu memperlambat pembelian utang jangka panjang dan akan mendongkrak pendapatan (yield) obligasi pemerintah, termasuk Eropa. Dengan kata lain, AS mendapatkan uangnya dan negara lain menyisakan utangnya.

Selain itu, penarikan QE juga berarti penguatan dollar AS. Ini adalah kabar buruk bagi negara dengan kondisi transaksi yang rentan, termasuk Indonesia dan India. India termasuk mengalami dampak lebih berat. Meski Bank Sentral India berusaha mempertahankan mata uangnya dan menghentikan capital outflow, pada 19 Agustus, mata uang Rupee runtuh di INR 63,13 per dollar AS. Ini menjadi kejatuhan Rupee yang terbesar sejak September 2011. Pada saat yang sama, pendapatan obligasi India telah naik ke level tertingginya dalam lima tahun terakhir.

Ada hal penting yang menjadi poin utama yang ingin saya sampaikan, yaitu bahwa masalah dalam ekonomi jarang terjadi secara langsung. Tetapi, itu terjadi karena pertemuan berbagai faktor-faktor yang menyebabkan ekonomi jatuh.

Penarikan QE adalah pemicu utama terjadinya turbulensi yang sedang berlangsung di perekonomian kita. Tapi, kita juga menuai buah pahit dari penolakan kita untuk mengubah model ekonomi yang digunakan.

Krisis Keuangan Asia di 1997, seharusnya, menjadi alarm bagi perekonomian kita, baik untuk mengurai kesulitan, tapi juga perlu reformasi struktural seperti memotong pengeluaran yang tidak perlu, mengurangi ketergantungan pada ekspor, dan bergerak sesuai dengan value chain.

Meski begitu, Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memilih tetap terlelap, dibuai oleh lonjakan harga komoditas sejak 2000-an dan kemudian oleh hot money yang berulang-ulang hingga QE yang menghampiri kita.

Sayangnya, uang yang mengalir keluar dan booming komoditas tampaknya lebih karena ekonomi China. Meski disebut-sebut sebagai negara super power berikutnya, kini, China menghadapi potensi krisis keuangan karena tidak terkendalinya shadow banking dan beratnya beban utang pemerintah daerah.

Batubara yang telah menggerakkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak dekade terakhir, sekarang menjadi semakin kurang diminati, karena revolusi shale gas AS telah mengubah skenario energi global mereka. Gas alam yang lebih bersih dan lebih murah menjadi pembunuh pasar batubara.

Bukanlah kebetulan jika penambang batubara besar seperti PT Arutmin Indonesia milik Bumi Resources harus menghadapi kenyataan bahwa tambang mereka di Senakin dan Satui, Kalimantan, ditutup karena sengketa pembayaran.

Hal ini tidak terpikirkan pada masa-masa gemilang sebelumnya, apalagi saat produsen batubara berjuang. Mungkinkah perpaduan dari kekurangan likuiditas secara tiba-tiba, penurunan harga komoditas, dan melemahnya China menjadi badai besar berikutnya yang menyerang Asia Tenggara? Seperti yang saya katakan di awal: pesta sudah usai.

BUMI Gaet Utang US$ 150 Juta

Oleh Yuwono Triatmodjo – Senin, 12 Agustus 2013 | 22:59 WIB

kontan

JAKARTA. Riset harian yang dipublikasikan PT Ciptadana Securities Senin (12/8) menyebutkan, PT Bumi Resources dikabarkan memperoleh dana segar berupa pinjaman baru senilai US$ 150 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun. Dana tersebut disebutkan akan digunakan untuk melunasi utang yang akan jatuh tempo bulan Agustus ini.

Dalam laporannya, Ciptadana menyebutkan BUMI telah menandatangani kesepakatan dengan 10 hingga 12 kreditur. Pinjaman tersebut difasilitasi oleh Credit Suisse.

Sayang, mahar pinjaman ini mahal. Ciptadana menyebut bunga pinjaman ini mencapai 18% per tahun, lebih tinggi dari bunga pinjaman sebelumnya yang segede 11%.

Ini Daftar Perusahaan Terbesar di Indonesia Versi Fortune

  • Senin, 15 Juli 2013 | 16:30 WIB

 

JAKARTA, KOMPAS.com — Fortune Indonesia kembali merilis 100 perusahaan terbesar di Indonesia pada tahun 2012 yang terangkum dalam Fortune 100.

Peringkat Fortune 100 antara lain berdasarkan pendapatan perusahaan di sepanjang tahun 2012. Obyek Fortune 100 adalah perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI hingga 18 April 2013 dan memiliki data kinerja keuangan lengkap.

Astra International (ASII) masih tetap menjadi perusahaan terbesar di Indonesia dengan pendapatan tahun 2012 mencapai Rp 188,053 triliun. Sementara PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) berada di posisi kedua dengan pendapatan Rp 77,143 triliun

Posisi ketiga adalah HM Sampoerna (HMSP) yang meraup Rp 66,143 triliun, meloncat dari posisi 6 dengan menggeser United Tractor (UNTR) yang harus puas tertendang di posisi 6 dengan pendapatan Rp 55,953 triliun.

Adapun posisi keempat ialah Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang meraih Rp 58 triliun. Posisi tersebut bertukar tempat dengan Bank Mandiri (BMRI) yang harus puas di posisi lima dengan pendapatan Rp 56,917 triliun.

Di tahun keempat Fortune 100 ini, kinerja emiten di sektor properti dan real estat serta sektor perdagangan dan jasa cukup bersinar.

Vice President Head of Equity Research Danareksa Sekuritas, Chandra Pasaribu, mengatakan, salah satu cemerlangnya kedua sektor tersebut adalah suku bunga yang rendah selama 2012.

Sepanjang tahun lalu, Bank Indonesia memang menahan BI Rate di posisi terendah sepanjang sejarah, yakni 5,75 persen. Ini membuat bunga kredit murah dan memicu rumah tangga untuk terus lebih banyak membelanjakan uangnya, sedangkan untuk pelaku usaha ini merupakan kesempatan melakukan ekspansi dengan bunga murah.

“Yang paling dekat dengan rumah tangga tentunya sektor retail, otomotif, dan perumahan. Sektor ini terdongkrak sehubungan dengan suku bunga rendah,” ujarnya.

Hal tersebut membuat Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) berhasil menyodok dari peringkat 27 ke peringkat 19. Begitu pula dengan Erajaya Swasembada  (ERAA) yang berhasil melompat tinggi dari posisi 68 ke 39. Erajaya juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan tertinggi di antara 100 perusahaan terbesar di Indonesia dengan pertumbuhan sebesar 87 persen.

Namun, tahun lalu memang kurang bersahabat bagi sektor pertambangan dan pertanian karena turunnya harga komoditas. Di sektor pertanian dari empat emiten yang masuk dalam daftar Fortune 100, hanya dua perusahaan yang tumbuh, yakni Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) (no 37) dan Astra Agro Lestari Tbk  (AALI) (no 45).

Pada tahun 2013 ini, perusahaan harus menghadapi tantangan di dalam negeri karena perekonomian Tanah Air diprediksi melemah. “Jika ingin tetap berkibar, perusahaan-perusahaan harus mampu meramu strategi yang mumpuni,” demikian Fortune Indonesia.

Berikut daftar 25 perusahaan terbesar (daftar lengkap silakan simak di Majalah Fortune edisi Khusus pada bulan Juli ini)

2012        Perusahaan                                         Pendapatan

1         ASTRA INTERNATIONAL                            Rp 188,053 triliun

2         TELEKOMUNIKASI INDONESIA (PERSERO)   Rp  77,143 triliun

3         HM. SAMPOERNA                                      Rp  66,626 triliun

4         BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO)        Rp  58 triliun

5         BANK MANDIRI (PERSERO)                         Rp  56,917 triliun

6         UNITED TRACTORS                                   Rp  55,953 triliun

7         INDOFOOD SUKSES MAKMUR                    Rp  50,059 triliun

8         GUDANG GARAM                                      Rp  49,028 triliun

9         BUMI RESOURCES                                      Rp  35,416 triliun

10       BANK CENTRAL ASIA                                 Rp  35,188 triliun

11       ADARO ENERGY                                        Rp  34,918 triliun

12       GARUDA INDONESIA  (PERSERO)                Rp  32,573 triliun

13       BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO)        Rp  31,150 triliun

14       SMART                                                      Rp  27,526 triliun

15       UNILEVER INDONESIA                                Rp  27,303 triliun

16       PERUSAHAAN GAS NEGARA (PERSERO)       Rp  24,168 triliun

17       BANK DANAMON INDONESIA                     Rp  23,971 triliun

18       INDAH KIAT PULP & PAPER                         Rp  23,621 triliun

19       SUMBER ALFARIA TRIJAYA                          Rp  23,366 triliun

20       INDO TAMBANGRAYA MEGAH                    Rp  22,878 triliun

21       INDOSAT                                                   Rp  22,420 triliun

22       AKR CORPORINDO                                     Rp  21,673 triliun

23       INDOFOOD CBP SUKSES MAKMUR              Rp  21,574 triliun

24       BARITO PACIFIC                                         Rp  21,528 triliun

25       CHANDRA ASRI PETROCHEMICAL               Rp  21,436 triliun

Editor : Erlangga Djumena

Desember 13, 2018

bukan right issues, bukan isyu, bukan spekulasi, ini bumi :P

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:22 am

SURAT SRI Mulyani 2017, pra 2018

analisis teknikal sederhana : BUMI

 

ets-small

MENJADI MISKIN kok diajak

MENJADI SERAKAH, kok mengada-ada

Beli n Jual Saham BUMI ala warteg saham gw

Jakarta beritasatu – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menegaskan perseroan tidak memiliki rencana untuk menggabungkan nominal (reverse stock split) saham. Karena itu, perseroan menepis isu yang beredar di pasar mengenai hal tersebut.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, Dileep Srivastava, menyatakan, belakangan ini pihaknya mendapati terdapat rumor dan informasi yang bersifat spekulasi terkait perseroan. Adapun emiten ini, menurut dia, dirumorkan berniat melakukan reverse stock split saham.

“Namun secara resmi, kami tegaskan, perseroan tidak pernah membahas maupun berniat untuk melakukan aksi reverse stock split,” ujar Dileep dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu (12/12).

Adapun dengan rumor terkait reverse stock split, dia menegaskan, Bumi Resources justru merasa sangat dirugikan. Berdasarkan hal itu, perseroan memutuskan memberikan pernyatan resmi, sehingga dapat mengkonfirmasi spekulasi dan rumor yang beredar.

Sementara itu, menilik data penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 12 Desember lalu, harga sahm Bumi Resources berada dalam posisi Rp 128 per saham. Meninjau data RTI Infokom, terlihat bahwa harga saham Bumi Resources minus 52,59 persen secara year to date. Namun jika menelaah pergerakan harga saham selama tiga tahun ke belakang, saham emiten ini justru sudah menguat 156 persen.

Sebelumnya, Dileep pernah menyatakan, pada 2017 perseroan melakukan restrukturisasi atas utang sebesar US$ 4,3 miliar, dengan tiga skema. Adapun perseroan mengkonversi utang menjadi saham dengan harga Rp 926,16 per saham, menerbitan obligasi wajib konversi (OWK) senilai US$ 600 juta dengan ketetapan harga pelaksanaan Rp 926,16 per saham, dan membagi utang senilai US$ 1,7 miliar ke dalam tiga tranche yang dibayarkan secara bertahap.

Khusus OWK, dia mengaku, ada konversi sebesar US$ 10 juta, dan kemungkinan belum akan ada lagi sampai akhir tahun. “Tahun 2020 kami menduga akan lebih banyak konversi OWK ke saham, meski demikian semua tergantung lagi dengan harga saham Bumi Resources ke depan,” papar Dileep.

Sementara itu, terkait utang tranche A-C, Bumi Resources optimistis dapat melunasinya pada 2023. Sedangkan, sebelumnya perseroan susah melunasi sebagian porsi tranche A beserta bunga pinjaman senilai US$ 167,5 juta, sehingga kini total utang tranche emiten ini telah turun ke posisi US$ 1,6 miliar.

“Sampai kuartal I-2020, kami akan menyelesaiakan pembayaran tranche A dengan total US$ 600 juta, dan trance B US$ 600 juta rampung pada kuartal I-2022. Sehingga, pada 2022 posisi debt to equity ratio (DER) perusahaan akan turun ke 0,31 kali,” papar Dileep.

Sejalan dengan perhitungan DER tersebut, dia menyatakan, pihaknya akan memiliki kondisi permodalan yang lebih kuat berkat pengurangan utang. Selanjutnya pun, menurut Dileep, Bumi Resources berkomitmen melanjutkan pembayaran utang hingga 2023. “Soalnya pada 2022, sisa utang kami akan masih sekitar US$ 407 juta, dan perseroan akan selesaikan itu pada 2023,” tegas dia.

Sebagai bagian rencana pembayaran utang tranche A, Bumi Resources berniat kembali melakukan pembayaran pada 9 Januari 2019. Namun untuk kisaran nilai yang sudah termasuk bunga, belum dalat disampaikan manajamen perseroan.

Namun demikian, Dileep memastikan, Bumi Resources akan berupaya fokus meningkatkan kapasitas produksi batubara, sehingga pendapatan yang diraih mampu mendukung target penyelesaia utang. “Sebab kami ingin membayar utang tranche dengan cepat, sehingga setelah itu perseroan bisa fokus kembali untuk ekspansi dan dapat kembali memberikan dividenkepada pemegang saham,” ujar dia

Adapun untuk akhir tahun 2018, Bumi Resources memprediksi, total produksi batubara akan mencapai 80-83 juta metrik ton (Mt). Kemudian, pada 2019 produksi batubara tersebut akan digenjot ke kisaran 90-93 juta Mt. “Sampai pada 2020, kami berharap mampu membukukan produksi batubara sebanyak 100 juta Mt,” ungkap dia.

Lebih lanjut, Dileep menyatakan, aabila kapasitas produksi perseroan dapat mencapai 100 juta Mt, emiten ini berencana membukukan kontribusi produksi batubara kalori tinggi kisaran 40 persen hingga 45 persen. “Nah, kalau soal kinerja tahun 2019, kami yakin dapat membukukan pendapatan US$ 5 miliar,” papar dia.

 

Sumber: BeritaSatu.com

 

KONTAN.CO.ID – Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), hari ini (27/9) ditutup melemah nyaris 8% ke level Rp 174 per saham.

“Kami melihat, ini karena panic selling dari para pemegang saham BUMI,” ujar Riska Afriani, analis OSO Sekuritas, Rabu (27/9).

Sejak isu restrukturisasi utang, harga saham BUMI memang melesat, bahkan dalam waktu yang singkat. Kurang dari setahun, harga saham BUMI sempat menyentuh level tertinggi, Rp 505 per saham awal tahun ini. Padahal, sebelumnya saham BUMI betah menghuni zona saham gocap.

Sayangnya, kenaikan singkat itu juga diikuti dengan penurunan kembali yang tak kalah singkatnya. Setelah rights issue yang merupakan bagian dari retrukturisasi utang BUMI berakhir, harga saham BUMI terus menurun. Tanda-tanda perbaikan harga juga belum terlihat.

“Sehingga, banyak investor yang cut loss,” imbuh Riska.

Meski demikian, Riska menilai level harga BUMI saat ini tidak mencerminkan kondisi fundamentalnya. Menurutnya, jika mengacu pada kinerja BUMI saat ini, terutama dari sisi cadangan batubara dan posisi laba yang membaik, harga wajar saham BUMI sejatinya ada di kisaran level Rp 500 per saham.

Oleh sebab itu, lanjut Riska, untuk investor jangka panjang sejatinya hal ini menarik. Sebab, investor bisa mulai mencicil untuk mengoleksi saham BUMI mumpung sedang sangat murah.

Tapi, menjadi agak riskan bagi investor jangka pendek. Sebab, Riska melihat masih ada potensi penurunan atas harga saham BUMI.

Menurut Riska, support berikutnya harga saham BUMI ada di level Rp 150 per saham. “Jika support ini kembali ditembus, maka saham BUMI bisa menuju Rp 120,” pungkasnya.

ets-small

JAKARTA, KOMPAS.com – Periode perdagangan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue PT Bumi Resources Tbk (BUMI) telah berakhir pada 20 Juli 2017.

Hasilnya, investor ritel tampak kurang berminat dalam melakukan subscribe atas haknya. Sumber KONTAN dari dua broker mengkonfirmasi hal tersebut.

“Kalau kami perhatikan, selama lima hari ini investor ritel jarang yang melakukan subscribed,” ujar sumber tersebut, Kamis (20/7/2017).

Seperti diketahui, perdagangan HMETD BUMI berlangsung selama lima hari, mulai dari tanggal 14 Juli 2017 dan berakhir pada tanggal 20 Juli 2017. (Baca: Rencana “Rights Issue” Rp 26 Triliun BUMI Berlanjut, Ini Rinciannya)

Ia menambahkan, bukan hanya investor ritel, investor institusi pun jarang yang mengeksekusi haknya.

Sumber KONTAN dari broker lain mengatakan, investor ritel lebih baik terdilusi daripada merugi karena ikut serta rights issue BUMI.

Pasalnya, rights issue BUMI menggunakan harga pelaksanaan yang jauh berada di atas harga pasar.

Harga pelaksanaan rights issue BUMI berada pada level Rp 926 per saham. Sementara, harga saham BUMI di pasar saat ini berada pada level Rp 344 per saham.

“Kalau masih yakin saham BUMI bisa naik, lebih baik beli di pasar, murah cuma Rp 344 per saham,” jelasnya.

Dileep Srivastava, Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan BUMI mengaku, pihaknya belum bisa mengkonfirmasi pihak mana saja yang mengeksekusi haknya.

Menurut dia. datanya baru bisa diketahui pada Jumat (21/7/2017). “Yang pasti, semua issue tersebut fully underwritten,” ujar Dileep.

Artinya, sisa saham yang tidak di-subscribed, semuanya akan diserap oleh kreditur yang berhak melalui pembeli siaga pada level harga Rp 926,16 per saham.

Sebagai informasi, aksi korporasi BUMI ini sejatinya merupakan bagian dari kesepakatan perseroan dengan para krediturnya.

Seluruh penggunaan dana akan langsung digunakan untuk melunasi kewajiban utang yang mencapai Rp 35 triliun. (Dityasa H Forddanta)

whispering

 

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk bakal segera mengeksekusi rencana rights issue. Peminat atau investor yang masih memgang saham BUMI juga terbilang masih banyak.

Sekadar mengingatkan, ini detail jadwal rights issue BUMI.

– Cum HMETD di Pasar Reguler dan Negosiasi: 7 Juli 2017

– Ex HMETD di pasar reguler dan negosiasi: 10 Juli 2017

– Cum HMETD di pasar Tunai: 12 Juli 2017

– Ex HMETD di pasar tunai: 13 Juli 2017

– Recording date: 12 Juli 2017

-Periode distribusi HMETD: 13 Juli 2017

– Pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) 14 Juli 2017

– Periode perdagangan HMETD 14-20 Juli 2017

– Periode pelaksanaan HMETD: 14-20 Juli 2017

– Periode penyerahan efek: 18-24 Juli 2017

– Tanggal terakhir pembayaran pemesanan saham tambahan: 24 Juli 2017

– Tanggal penjatahan efek tambahan: 25 Juli 2017

– Tanggal pengembalian uang pemesanan pembelian saham tambahan yang tidak memperoleh penjatahan: 27 Juli 2017

 

Utang segar Rp 35,07 triliun

Sesuai rencana, perusahaan milik Grup Bakrie ini akan menerbitkan 28,7 miliar saham seri A dengan nilai nominal Rp 100 per saham.

Setiap pemilik 100 saham akan memperoleh 78 HMETD Seri A. Setiap satu HMETD Seri A berhak membeli satu saham baru Seri B, dengan harga pelaksanaan Rp 926,16 per saham. Sehingga nilainya mencapai US$ 2,01 miliar atau setara dengan Rp 26,62 triliun.

Bersamaan dengan itu, BUMI juga akan menerbitkan obligasi wajib konversi (OWK). Sebelumnya, jumlah OWK yang diterbitkan sebesar 9,1 miliar unit di harga Rp 926,16. Namun, karena OWK ini akan diterbitkan tanpa warkat alias scripless, maka sesuai saran PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), BUMI mengubah harga OWK menjadi Rp 1 per saham.

Namun, perubahan harga ini tidak berdampak pada banyaknya jumlah saham atau harga yang dikonversi menjadi saham nantinya. Jumlah unit OWK yang diterbitkan naik menjadi 8,45 triliun unit. Sehingga, jumlah penerbitan OWK akan sama dengan total utang yang harus dibayar sebesar Rp 8,45 triliun atau US$ 639 juta.

Dengan begitu, nilai total aksi korporasi perusahaan batubara ini tak berubah, yakni Rp 35,07 triliun.

Menyesuaikan dengan perubahan ini, rasio HMETD seri B pun diubah. Sebelumya, setiap 100 saham akan memperoleh 25 HMETD Seri B. Namun, kini tiap 100 saham akan memperoleh 23,08 HMETD Seri B yang bisa ditukarkan menjadi OWK dengan harga Rp 1.

Nah, nantinya, OWK ini wajib dikonversikan menjadi saham biasa Seri B dengan harga konversi yang telah ditentukan. Di tahun pertama dan tahun kedua, harga konversi diberikan 30% lebih premium dari harga referensi yang sebesar Rp 926,16.

Sehingga, dalam tahun pertama dan kedua itu, harga konversinya Rp 1.204,01 untuk setiap saham baru yang diterbitkan. Namun, pada tahun ketiga hingga tahun ke tujuh, harga konversi untuk saham baru yang diterbitkan adalah sebesar Rp 926,16 atau harga rata-rata saham BUMI selama enam bulan terakhir, dipilih mana yang lebih rendah..

ets-small

Bisnis.com, JAKARTA – Berita tentang tenggat waktu PT Bumi Resources Tbk. untuk mengeksekusi rencana penerbitan saham baru serta PT Adaro Energy Tbk. yang membuka peluang akuisisi lahan tambang batubara menjadi topik beberapa media nasional hari ini, Rabu (14/6/2017).

Berikut rincian topik utama di sejumlah media nasional:

Waktu BUMI Tinggal 17 Hari. Tenggat waktu yang dimiliki PT Bumi Resources Tbk. untuk bisa mengeksekusi rencana penerbitan saham baru melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) tersisa 17 hari lagi. (Bisnis Indonesia)

4 Anak BUMN IPO Semester II. Sejumlah anak usaha BUMN disiapkan untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO) saham di Bursa Efek Indonesia pada semester II/2017 setelah sepanjang 6 bulan pertama 2017 tidak ada satupun entitas anak BUMN yang masuk ke pasar. (Bisnis Indonesia)

BOGA Perluas Cakupan Pasar. PT Bintang Oto Global Tbk. mengungkapkan akan memperluas cakupan operasi dan lini usaha guna menggenjot pertumbuhan pendapatan pada tahun ini yang dipatok 15%-20%. (Bisnis Indonesia)

Japfa Kembali Terbitkan Surat Utang Global US$100 Juta. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) kembali menerbitkan surat utang global senilai US$100 juta. Surat utang tersebut akan dikonsolidasikan dengan surat utang sebelumnya yang sebesar US$150 juta, yang terbit pada Maret 2017 dan jatuh tempo pada 2022. (Investor Daily)

Adaro Tawarkan Tambang ke PLN. PT Adaro Energy Tbk. membuka peluang ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mengakuisisi lahan tambang batubara mulut tambang miliknya di Kalimantan Timur. (Kontan)

whispering

JAKARTA kontan. Overhang atas pergerakan harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berlanjut. Hal ini menyusul belum diperolehnya izin efektif rights issue perusahaan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sebelumnya, izin efektif aksi korporasi tersebut ditargetkan bisa diperoleh pekan lalu. Namun, surat sakti yang bisa membuat rights issue melenggang tak kunjung turun.

BACA JUGA :
BUMI belum dapat izin efektif dari OJK
Ini kata OJK soal izin rights issue BUMI
“Masih proses, kami harap, pekan ini (izin efektif) bisa diperoleh,” ujar Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI kepada KONTAN, Jumat (2/6).

Ia enggan merinci alasan belum diperolehnya izin efektif. Namun, teknis rights issue BUMI sangat kompleks.

Bahkan, sebelumnya BUMI sempat berkonsultasi dengan pihak KSEI terkait penerbitan Obligasi Wajib Konversi (OWK) yang menjadi bagian dari rights issue tersebut.

Berdasarkan konsultasi itu, BUMI memutuskan untuk mengubah harga OWK menjadi Rp 1 per saham. Sebelumnya, jumlah OWK yang diterbitkan sebesar 9,1 miliar unit di harga Rp 926,16. Alasannya, karena OWK ini akan diterbitkan tanpa warkat alias scripless.

Jumlah unit OWK yang diterbitkan pun naik menjadi 8,45 triliun unit. Sehingga, jumlah penerbitan OWK akan sama dengan total utang yang harus dibayar sebesar Rp 8,45 triliun atau US$ 639 juta.

Rasio HMETD seri B pun diubah. Sebelumnya, setiap 100 saham akan memperoleh 25 HMETD Seri B. Namun, kini tiap 100 saham akan memperoleh 23,08 HMETD Seri B yang bisa ditukarkan menjadi OWK dengan harga Rp 1.

“Jadi, belum diterbitkannya izin efektif murni karena masalah prosedural dan formalitas belaka,” jelas Dileep.

Ia menambahkan, pemegang saham tidak perlu khawatir. Mereka bisa berpegang pada bulatnya suara aksi korporasi BUMI, terutama suara dari para kreditur.

Sebelumnya, Nurhaida, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK mengatakan, izin efektif ini belum diberikan lantaran dokumen rights issue BUMI belum lengkap. “Masih ada dokumen yang masih perlu dilengkapi oleh BUMI,” ujarnya kepada KONTAN.

Ia belum menjelaskan lebih lanjut mengenai dokumen yang dimaksud. Manajemen BUMI sendiri masih yakin, perusahaan bisa memperoleh izin efektif dari OJK pada pekan depan.

“Struktur rights issue BUMI memang agak kompleks, sehingga membutuhkan waktu lebih untuk memproses transaksi penawaran rights issue ini,” ujar Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI.

spiral

JP: Indonesia’s largest thermal coal miner, PT Bumi Resources, is likely to see its rights issue plan delayed as the Financial Services Authority (OJK) has yet to issue approval, as previously expected.

“As Bumi’s rights issue structure is rather complex and novel, it needs more time possibly to process this rights offering transaction,” Bumi corporate secretary Dileep Srivastava told The Jakarta Post on Friday. “[It’s] just procedural issues and in process, may take a week or more.”

Under its debt-restructuring plan, Bumi will convert its US$1.9 billion debt into equity at Rp 926 (7 US cents) per share.

Meanwhile, another $639 million debt will be covered with convertible bonds, technically known as mandatory convertible bonds (MCB) in scripless form. With an annual coupon rate of 6 percent and a maturity period of seven years, the MCBs will be available at Rp 1.

The equities and bonds will be issued with preemptive rights to purchase securities (HMETD) for existing shareholders. The trading for the rights is scheduled for June 12 to 16.

At present, private investment company Long Haul Holdings Ltd, owned by local politician Aburizal Bakrie, holds a majority stake of 30.11 percent in Bumi.

“Post-restructuring, assuming there is no subscription by any existing shareholders, we take that Long Haul Holding’s shares can come down to around 17 until 18 percent,” Dileep previously said. (ags)

ets-small

Liputan6.com, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan menggelar penawaran umum terbatas V atau rights issue dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) pada tahun ini.

Dalam penjelasan perseroan di keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti ditulis Jumat (12/5/2017), pemegang saham yang memiliki 100 saham (1 lot) akan memperoleh 78 HMETD seri A atau saham baru.

Jumlah saham dalam pelaksanaan rights issue itu sekitar 28,75 miliar saham. Harga pelaksanaan rights issue tersebut sekitar Rp 926,16 per saham. Jadi total dana hasil pelaksanaan rights issue sekitar Rp 26,62 triliun.

“Setiap investor memiliki 100 saham yang punya hak prempetive pembelian untuk 78 saham baru lewat rights issue,” ujar Dileep dalam pesan singkatnya.

Dalam pelaksanaan rights issue ini, perseroan juga menggelar obligasi wajib konversi (mandatory convertible bonds). Sebelumnya setiap pemilik 100 saham akan memperoleh 25 HMETD seri B. Setiap 1 HMETD seri B ini berhak membeli 1 unit OWK dengan harga pelaksanaan RP 926,16.

Namun, perseroan akhirnya memutuskan menerbitkan OWK dalam bentuk tanpa warkat (scripless). Perseroan juga telah melakukan diskusi lebih lanjut dengan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terkait mekanisme distribusi scripless dari OWK Perseroan.

KSEI meminta perseroan mengubah nilai denominasi yang awalnya sebesar Rp 926,16 menjadi denominasi Rp 1 per unit. Ini agar sesuai dengan sistem KSEI yang tersedia sekarang.

Oleh karena itu, setiap pemilik 100 saham akan memperoleh 23.089 HMETD seri B. Setiap 1 HMETD seri B berhak untuk membeli 1 unit OWK dengan harga pelaksanaan Rp 1 yang diterbitkan dengan denominasi Rp 1 per unit. Total nilainya Rp 8,45 triliun. OWK itu diterbitkan dalam bentuk tanpa warkat (scripless).

“Setiap 100 saham yang memiliki hak prempetive memiliki rights issue untuk membeli 23.089 unit MCB (mandatory convertible bond) seharga Rp 1 per unit MCB,” ujar dia.

MCB ini memiliki konvertibilitas terbatas selama 7 tahun berdasarkan kesepakatan dalam pengadilan yang menyetuji rencana komposisi utang. Pencatatan obligasi wajib konversi pada 26 Mei 2017.

Dalam penjelasannya ke BEI, OWK wajib dikonversikan menjadi saham biasa seri B dengan harga konversi sebesar Rp 1.204 untuk setiap saham baru yang diterbitkan pada tahun pertama dan kedua.

Kemudian pada tahun ketiga, harga konversi untuk setiap saham baru yang diterbitkan dengan perhitungan Rp 926,16, harga rata-rata saham perseroan selama enam bulan terakhir sebelum hari pertama tahun ketiga, mana yang lebih rendah. Demikian hingga tahun kelima.

Analis PT First Asia Capital David Sutyanto menuturkan, aksi korporasi PT Bumi Resources Tbk selama sesuai peraturan maka tidak menjadi masalah. “Dengan mereka berdiskusi dengan KSEI jadi mereka juga berusaha penuhi aturan,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Terkait harga rights issue, David menilai, pelaku pasar akan cenderung memilih beli saham PT Bumi Resources di pasar reguler. David menuturkan, rights issue PT Bumi Resources Tbk juga akan menarik pelaku pasar. “Ini juga laku. Krediturnya pada pindah utang ke saham. Kalau pelaku pasar atau publik lebih memilih di pasar reguler,” kata dia.

Ia pun merekomendasikan trading buy untuk saham PT Bumi Resources Tbk di kisaran Rp 300-Rp 400 per saham. Pada sesi pertama perdagangan saham PT Bumi Resources Tbk naik 5,49 persen ke level harga Rp 346 per saham. Total frekuensi 6.648 kali dengan nilai Rp 128 miliar.

Bisnis.com, JAKARTA – Setiap investor yang memiliki satu lot saham PT Bumi Resources Tbk. bisa membeli 78 saham baru dalam rights issue yang diterbitkan perseroan sebagai Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).

Direktur & Corporate Secretary PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) Dileep Srivastava mengungkapkan perhitungan hak memesan kembali atau rights preemptive untuk rights issue adalah 78 saham baru per 100 saham yang ada (per satu 1 lot).

Saham BUMI yang beredar saat ini sebanyak 36,627 miliar saham dan akan menjadi 28,75 miliar saham usai rights issue di harga penawaran umum terbatas sebesar Rp926,16 per saham.

“Setiap 100 saham yang ada memiliki hak preemptive untuk membeli 78 saham baru yang diterbitkan melalui rights issue,” katanya dalam pesan singkat pada Rabu malam (10/5/2017).

Dia menambahkan berkaitan dengan penerbitan obligasi wajib konversi (mandatory convertible bonds/MCB), patokan harga sebesar Rp1 per unit MCB. Adapun, unit MCB yang ditawarkan sebanyak 8,45 triliun unit MCB.

“Setiap 100 saham yang ada memiliki hak memesan efek terlebih dahulu untuk membeli 23.089 unit MCB seharga Rp1 per unit MCB,” ujarnya.

Dileep menambahkan MCB memiliki konvertibilitas terbatas selama tenor 7 tahun berdasarkan formula yang disepakati di pengadilan yang menyetujui rencana komposisi utang.

Dia menilai MCB harus dipandang sebagai hak yang diberikan oleh perusahaan untuk menghadirkan pemegang saham utuk mencegah dilusi saham mereka pada masa mendatang. Adapun, tanggal pencatatan hak obligasi wajib konversi saat ini adalah 26 Mei 2017.

ets-small

JAKARTA, KOMPAS.com – Mayoritas pemegang saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) kemarin, Selasa (7/2/2017), telah merestui perseroan untuk menerbitkan saham baru (rights issue) serta menerbitkan obligasi konversi (mandatory convertible bonds/MCB), untuk penyelesaian utang.

“Agenda RUPSLB yang mengusulkan penerbitan saham baru sudah disetujui oleh pemegang saham (sebanyak 99,96 persen). Ini merupakan tindak lanjut dari proses PKPU,” kata Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resource, Dileep Srivastava, ditemui wartawan seusai rapat.

Jika dikonversi ke rupiah, saham baru yang akan diterbitkan ditambah dengan MCB mencapai angka Rp 34,5 triliun (kurs 13.300). Jumlah saham baru yang akan diterbitkan mencapai 37,8 miliar lembar saham.

Dileep menjelaskan, RUPSLB telah mencapai kuorum dengan dihadiri sebanyak 58-59 persen, di mana syarat minimal rapat adalah dihadiri 50 persen ditambah satu persen pemegang saham.

Rapat menyetujui penyelesaian utang dengan dua skema. Pertama, yaitu rights issue sebesar 1,99 miliar dollar AS. Kedua, penerbitan MCB sebesar 639 juta dollar AS, yang merupakan bentuk lain dari ekuitas.

“MCB dapat ditukar menjadi saham dalam jangka waktu 7 tahun. Harga penukaran MCB Rp 926 per saham,” kata Dileep.

Penerbitan saham baru dan MCB rencananya akan dilakukan pada paruh kedua tahun ini, sekitar bulan Juli 2017.

Saat ini, perusahaan milik Grup Bakrie itu tengah menyelesaikan proses audit laporan keuangan tahun 2016.

“Setelah laporan keuangan selesai pada Maret 2017, kami akan menyiapkan prospektus rights issue. Kemudian kami akan mengikuti tahap-tahapan untuk menerbitkan saham baru,” imbuh Dileep.

Selain menyetujui penerbitan saham baru dan MCB, rapat kemarin juga menyetujui beberapa hal, di antaranya, belum adanya pembagian dividen kepada semua pemegang saham karena BUMI masih membukukan rugi bersih 2,1 miliar dollar AS.

Rapat juga menyetujui belum adanya perubahan direksi dan perseroan, serta tidak menggaji jajaran direksi periode 2012-2015.

 ets-small

JAKARTA – Lantaran terjadi peningkatan harga kumulatif yang cukup tinggi pada saham PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS), PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pun memutuskan untuk melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan saham BRMS.

Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI Irvan Susandy mengatakan, informasi terakhir yang dipublikasikan emiten adalah pada 11 Januari 2017. Dalam keterangannya, Bui Resources melaporkan aktivitas eksplorasi bulanannya.

“Sehubungan dengan terjadinya UMA atas Saham BRMS perlu kami sampaikan bahwa Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini,” imbuhnya seperti dilansir dari keterangan tertulis di BEI.

Selain itu, BEI juga meminta mencermati kinerja perusahaan tercatat dan keterbukaan informasinya, mengkaji kembali rencana corporate action perusahaan tercatat apabila rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan RUPS, dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi.

Meski demikian, pengumuman UMA ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di pasar modal.

(mrt)

Britama.com – Bumi Resources Tbk (BUMI) akan melakukan penambahan modal dengan menerbitkan HMETD dan menerbitkan saham baru sebanyak 37.882.406.301 lembar.

Saham baru akan diterbitkan dalam proses penawaran umum terbatas perseroan dan pelaksanaan obligasi wajib konversi oleh para pemegang sahamnya. Jumlah dana yang dihasilkan dari aksi korporasi ini diperkirakan Rp35,1 triliun.

RUPSLB akan dilakukan pada 7 Februari 2017. Pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD miliknya dan tidak mengambil porsi atas saham baru akan mengalami dilusi kurang lebih 50,8%.

ets-small

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten batu bara milik Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), akan menggelar rights issue senilai Rp26,9 triliun dengan efek dilusi saham publik mencapai 80%.

Untuk memenuhi keputusan pengadilan melakukan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU), manajemen BUMI akan menerbitkan saham baru melalui mekanisme rights issue. Penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) itu maksimum digelar Juni 2017.

Direktur Keuangan Bumi Resources Andrew Christopher Becham menuturkan harga eksekusi rights issue Rp926,16 per lembar, sesuai konversi utang. Perseroan akan menerbitkan 29,1 miliar lembar saham baru dalam rights issue tersebut.

Konversi total utang dan klaim vendor sebesar US$1,99 miliar menjadi saham. Nilai ekuitas aset bersih yang dihitung perseroan mencapai US$4,6 miliar, harga konversi ditetapkan Rp926,16 per lembar, dengan kurs Rp13.235 per dolar AS.

“Publik bisa menyerap saham baru, tapi bila tidak, mereka akan terdilusi sekitar 80%,” katanya dalam paparan publik, Kamis (8/12/2016).

Saat ini, jumlah saham BUMI mencapai 36,6 miliar lembar. Setelah penerbitan saham baru, jumlah ekuitas bumi mencapai 65,7 miliar lembar.

Manajemen BUMI akan mengantongi dana dari rights issue senilai Rp26,9 triliun. Jika dihitung dari kapitalisasi pasar saham BUMI per Selasa (6/12/2016), mencapai Rp11,1 triliun, market capitalizationsaham BUMI secara teoretis mencapai Rp38 triliun.

“Nilai teoretis saham BUMI saat itu Rp580 per lembar. Jika publik ingin menyerap rights issue, dananya akan digunakan untuk membayar utang. Jika tidak, lender akan menyerap sisa saham seluruhnya sebagai konversi,” kata dia.

Kreditur nantinya berpotensi menjadi pemegang saham terbesar BUMI. Kreditur juga akan menempatkan jajaran manajemen, yakni tiga direksi dan tiga komisaris baru.

whispering

BUMI : Dengan Tegas Kami Tolak Spekulasi Media
Rabu, 26 Mei 2010 – 17:17 wib
Candra Setya Santoso – Okezone

JAKARTA – Rencana PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk menerbitkan penawaran umum terbatas tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (tanpa HMETD/nonpreemptive rights) ternyata tidak hanya isapan jempol semata.

Aksi korporasi tersebut, yang kabarnya bernilai Rp4-Rp5 triliun, akan dianggarkan untuk membayar utang sebanyak USD1 miliar tahun ini. Tercatat, total utang perseroan saat ini mencapai USD3,4 miliar.

“Ada kemungkinan kita mengeluarkan maksimal 10 persen, seperti dalam ketentuan Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan),” kata Direktur Utama Bumi Ari Saptari Hudaya usai RUPST ENRG, di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (26/5/2010).

Total utang perseroan saat ini mencapai USD3,4 miliar. Tahun ini, rencananya emiten berkode BUMI itu akan melunasi utangnya sebanyak USD1 miliar dengan dana dari penawaran umum terbatas tanpa HMETD tadi. Namun sayang, dirinya enggan menyebutkan besaran dana yang bisa didapat dari aksi korporasi melepas 10 persen saham tersebut. “Belum tahu,” katanya singkat.

Sebelumnya, perseroan berniat kembali menerbitkan saham non-preemptive dan mengajukannya dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 24 Juni mendatang.

“Kami menyerahkan agenda kemarin ke regulator. Pada dasarnya, ini adalah langkah pertama dalam serangkaian debtcutting bergerak yang berlangsung selama 12 bulan ke depan, seperti yang telah kita sebelumnya umumkan ke pasar dan masyarakat luas,” kata Senior Vice President dan Investor Relations Dileep Srivastava.

Sesuai ketentuan, saham non-preemptive memungkinkan perusahaan untuk menerbitkan saham baru maksimal 10 persen dari total saham perusahaan dengan harga rata-rata perdagangan 25 hari sebelumnya dari harga penutupan sebelum tanggal pengumuman.

“Kami dengan tegas menolak spekulasi media yang semakin liar terhadap adanya penerbitan right issue yang akan dilakukan perusahaan ke depan. Kami tidak pernah memiliki rencana tersebut juga tidak ada suatu maksud untuk melakukannya,” tambah Dileep.(adn)(rhs)

25/05/2010 – 09:51
Ajukan ‘Non Preemptive Issue’, ‘Buy’ BUMI

(inilah.com)
INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengundur pelaksanaan RUSPLB menjadi 24 Juni 2010 dari rencana sebelumnya 22 Juni 2010, dengan salah satu agendanya untuk meminta persetujuan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau non preemptive issue.

Manajemen juga membantah rumor yang beredar di pasar yang menyebutkan BUMI akan melakukan rights issue. Sementara itu, BUMI melalui PT Multi Daerah Bersaing (MDB) menawar 7% saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara (NTT) senilai US$400 juta, lebih rendah dari yang diajukan NTT US$444 juta. Eksekusi terhadap divestasi 7% saham NTT diperkirakan dijadwalkan pada minggu depan.

Berdasarkan catatan Samuel Securities, mengikuti peraturan Bapepam maka jumlah maksimal saham yang dapat diterbitkan melalui non preemptive issue sebanyak 1,94 miliar lembar atau 10% dari jumlah saham beredar. Harga pelaksanaan non preemptive issue minimal Rp2,328 per saham (premium

30,7% dari penutupan kemarin), berdasarkan harga rata-rata tertimbang saham BUMI di pasar reguler selama 25 hari. “Kami merekomendasikan buy untuk saham BUMI,” ujar Samuel. [cms]

handle is hein.journals/hlr42 and id is 242

Better than bailouts?
Preemptive rights issues for banks
By John Schroy, on April 9th, 2009

In March 2009, HSBC PLC strengthened its finances by making a preemptive rights offering of new equity. The bank quickly raised $18.5 billion dollars.

Unlike Citibank, Bank of America, and other giant US banks, HSBC did not have to sell its soul to the government to stay in business.

HSBC had the good fortune to be headquartered in the UK and to have much of its investor base in Europe and other countries where preemptive rights are the law and the customary way to raise capital.

The hidden beauty of preemptive rights
Some countries, including the United Kingdom, insist that companies give shareholders the preemptive right to subscribe to a new issue of the same class of stock that they own, in proportion to their holdings. If shareholders do not wish to subscribe, they may sell their rights to others on the stock exchange.

Often, to encourage shareholders to exercise their subscription rights, the issuer will offer the new shares at a discount from current market value. In the case of HSBC the discount was 40% — which virtually forced the issue to be taken up.

HSBC at Canary Wharf, London
Preemptive rights are advantageous to stockholders that don’t want to see their equity diluted by a board that might be too inclined to issue stock to take over other companies, or to hand out stock options that provide extra remuneration to management.

Companies with conservative ownership, looking to the long-term, find preemptive rights useful because a rights issue at a substantial discount from market, effectively frees the company from expensive and intrusive investment bankers.

Who hates preemptive rights and why
The mortal enemies of preemptive rights issues are investment bankers and fund managers.

The reasons are obvious:

Once a company has a wide distribution of its stock traded on an exchange, it can raise additional capital simply by declaring an issue of preemptive rights at a substantial discount.

Investors are virtually forced to either take up their rights, or sell them on the exchange to someone else who will take up the rights.

Sometimes the services of an underwriter might be necessary to serve as a standby subscriber, but often, when a company has enough investors and when its stock is actively traded, the company can handle the issue entirely on its own — saving substantial underwriting fees.

Mutual fund managers also often hate preemptive rights, especially when the rights issue is at a big discount. Such discounted issues force fund managers to use cash to exercise the rights at a time when they may not have cash available.

Also, if fund managers are required to sell rights on the exchange, the arbitrage between the theoretical value of the rights and the quoted price may represent a loss for the fund.

US corporations that like to use share issues to acquire other companies without having to explain too much to their own shareholders, find preemptive rights burdensome and an annoyance to their plans for financial engineering.

The dominant role of investment bankers, free-wheeling corporate management, and fund managers in the US capital market, and the silence of ordinary investors and the SEC, has led to rights issues being relatively rare, although such issues are common elsewhere.

Preemptive rights helped HSBC
Hong Kong Shanghai Banking Corporation (HSBC) by Q4 2008, faced similar financial constraints as major US banks in the current deep recession. Prices of its stock were crashing, while the need to raise additional funds was increasing rapidly.

A typical underwriting in the US involves trying to set the price of the offering at the market.

However, with delay in getting documents through the SEC and in building a book of syndicators, as the market engages in wild gyrations, underwriting risks and costs increase.

Furthermore, if investment banks are themselves in trouble, they will be too busy trying to survive to help an issuer trying to raise capital in a falling market.

In contrast, preemptive rights have advantages for those issuers that are free to use the technique.

First, by setting the offering price far below the market, the delicate task of matching offering and market price is avoided;
Second, a heavily discounted rights offering reduces or eliminates the need for investment banks as intermediaries. With capable lawyers and a reliable shareholder base, management can handle the deal by themselves. It doesn’t matter if the investment banking community is busy trying to put out their own fires.
Preemptive rights and Citicorp
Citicorp and the other big US banks should have been aware, well before September 2008, that they had a problem with leverage and that an effective cure would have been to arrange a massive injection of capital.

However, if one is trained to think only in terms a US-type, non-preemptive rights issues at the market, with the standard apparatus of underwriters and book-building, the success of such an issue might indeed seem questionable in mid-year 2008. Especially when the big investment banks were scrambling themselves, trying to resolve their own troubles.

But I suspect that a dramatic preemptive rights issue, say at a discount of 40 or 50% from market, might very well have done the trick — saving those banks that were able to think outside of the cultural box of the US market from the tender mercies of the US Treasury Department.

We’ll never know, of course. Monday morning quarterbacking is not useful.

But looking forward, some traded US corporations that have problems with leverage might benefit from studying the potential benefits of preemptive rights offerings.

What do you think?
Corporate Securities: Common Stock
A corporation is owned by its shareholders, who elect its board of directors to oversee the company. The board in turn appoints senior managers to run the company. A corporation generally issues two types of stock: common and preferred.

If the topic of equity securities is new to you, or you would like a quick review our Stock Basics tutorial is a useful read.

Common Stock
The most common equity security owned by investors is common stock. Common stock shareholders have certain rights that are specified in the corporation’s charter and bylaws. Below is a summary of the rights and privileges enjoyed by the common stockholder:
Stock Certificate: A shareholder has the right to receive one or more certificates as proof of ownership of a stock. Each certificate will state the name of the corporation, the owner’s name and the number of owned shares, plus the names of the transfer agent and the registrar. It is also signed by an authorized corporate officer.
The transfer agent for the company keeps a list of all registered stockholders and cancels old stock certificates while issuing new ones when shares are transferred. The registrar verifies that the company has not issued more shares than authorized by its charter.
Limited Liability: Since a corporation is a separate person according to the law, an individual shareholder generally cannot be held responsible for the company’s debts: if the business fails, shareholders only lose their original investment. If the business thrives, however, the shareholders expect to share in the company’s profits in the form of dividends and in the increased value of company stock, as reflected in the stock price. This limitation of loss to the original amount invested is referred to as limited liability.

Right to Earnings: The shareholder’s most fundamental right (and incentive to purchase the stock!) is the ability to share in the earnings of the company – both through the dividends that might be paid as well as the increase in the value of the stock itself.

Right of Transfer: A shareholder may freely transfer shares by selling them, giving them away or bequeathing them to heirs. An exception to this rule is the shareholder who is an employee of the company and acquires stock directly as part of a compensation package.

Voting Rights: Only common stockholders have voting rights. The number of votes that each shareholder gets is determined by the number of shares he or she owns. A shareholder who owns 1,000 shares will get 1,000 votes. These votes may be cast at the shareholder annual meeting, mailed in by proxy or cast online. Votes are cast on decisions to add members to the board of directors, acquire or merge with other companies, offer stock options to employee benefit packages, and so on.
There are two types of voting rights: cumulative and statutory.

Statutory voting is the standard “one share one vote” counting that governs voting procedures in most corporations. Shareholders may cast one vote per share either for or against a board of director nominee, but may not give more than one vote per nominee.

Cumulative Voting: Unlike statutory voting, where any shareholder with over 50% of the shares has the potential to control the voting outcome, cumulative voting improves minority shareholders’ chances of naming nominees to the board of directors. In general, shareholders are able to weight their votes towards one or more candidates.

Right to Dividends: Remember, common stock does not necessarily pay a specific annual dividend. The board of directors will decide what dividends, if any, are paid to common stockholders. However, if the board does declare a dividend for, say, $.50 per share, a shareholder with 1,000 shares will receive $500 by right. Dividends are usually paid on a quarterly basis and are taxable in the year in which they are received.

Formula 2.2
Here’s a simple formula to keep in mind for calculating yields on common stocks:Current yield  =  Annual dividend/share
Market price/shareFor example, let’s calculate the current yield of a stock that is currently paying a quarterly dividend of $.40 and trading at $44 a share:3.6% yield  =  $.40 x 4
$44

Right of inspection: Stockholders have the right to inspect company books and records, including the minutes of shareholder meetings and the list of stockholders.

Preemptive right: Preemptive right refers to the right of shareholders to maintain a proportional ownership by purchasing newly issued shares of common stock from the company before they are offered to the public. Otherwise, a new issue would dilute the value of their investment.

Stock splits: A company may wish to decrease the price of its stock and make it more marketable. The par value and the market price of the stock are adjusted according to a particular ratio, for example: 2-for-1, 3-for-2, 4-for-3. So, even though the stockholder’s number of shares increases, the absolute value of an investor’s shareholding does not change. This is also referred to as a “forward stock split”.

A company may also perform a reverse stock split. Here, the shareholder will received a decreased number of shares at a higher per-share value. For instance, if a company’s stock is trading at $2 per share, investors may avoid buying shares because they believe the price is too low. To make the price of shares more appealing, the company could issue a reverse stock split at a 1-for-10 ratio. A shareholder with 1,000 shares now owns 100 shares at $20 a piece.

Stock buybacks: A corporation that wants to increase the price of its shares will sometimes buy back shares on the open market. The repurchased stocks, called treasury stock, are put aside as non-voting shares that do not pay a dividend. Since the outstanding stock remaining is reduced in number, the price of the stock goes up.

Stock dividends: Instead of paying dividends to shareholders in cash, a company may elect to pay dividends with additional shares of stock. For example, a stockholder with 1,000 shares of a company that decides to pay a 3% stock dividend will receive an extra 30 shares. (1,000 x .03 = 30) Unlike cash dividends, which are taxable in the year in which they are received, stock dividends are taxable only when they are sold.

Desember 31, 2017

Rencana LES maen saham JO

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:13 am

kaum blogger saham, diberitahukan bahwa JO akan mengadakan les maen saham serius berlaba mulai Januari 2018.

sila tunggu kabar selanjutnya, hati-hati jika ada yang beriklan seakan-akan dari JO.

salam sejahtera selalu, JO

 

TANYA n JAWAB @ rencana LES MAEN SAHAM SEDERHANA JO

1. T: apa ada ilmu maen saham? J: Ada. Pada dasarnya ilmu maen saham itu sangat sulit disistematisasikan. Bahkan 2 orang Penerima Nobel Ekonomi (Nobel Laureates) gagal mengelola modal investor, yang pada saat itu (sekira $ 3.5 Miliar) ambruk, lalu terpaksa dibantu oleh Alan Greenspan, Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (dikenal sebagai The Fed) dengan cara “bailout”. Cara “bailout” ini mirip Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Namun Long-Term Capital Management, perusahaan yang dikelola 2 orang penerima Nobel tsb, ditutup.

Sepanjang pengalaman n pengetahuan gw studi di Australia, n Amerika Serikat, tidak ada studi khusus maen saham. Studi tentang keuangan n saham secara khusus memang ada, tapi itu tidak melulu membahas TRADING SYSTEM dalam maen saham.

2. T: les maen saham sederhana itu apa? J: Secara sederhana: les itu bersifat kontak langsung dan pribadi tentang maen saham di bursa saham Indonesia. Dikelola oleh seorang pengajar (trader n investor berbagai macam investasi resmi, termasuk SAHAM), seorang administrator, n seorang ahli Teknologi Informasi. Pengajar les akan memberikan pendampingan n bantuan secara teknis sederhana pada calon trader atawa calon investor, yang ingin bergabung dalam les ini.

3. T: apa tujuan les maen saham sederhana ini? J: Tujuan utama les ini, supaya investor / trader saham yang bergabung dalam les ini menjadi investor / trader yang mandiri dan berLABA. Laba yang diekspektasikan oleh sistem les maen saham sederhana ini, yaitu Di ATAS TINGKAT SUKU BUNGA DEPOSITO BANK tertinggi di pasar perbankan. Sistem les maen saham sederhana ini diusahakan n disesuaikan dengan kemampuan investor / trader yang bergabung dalam les ini.

4. T: Cara Les Maen Saham Sederhana JO itu seperti apa? J: Caranya bervariasi sesuai kemampuan investor / trader saham yang bergabung. Setidaknya ada 3 faktor utama seorang investor / trader saham wajib mempelajarinya n memahaminya, serta menguasainya melalui PRAKTEK MAEN SAHAM BENERAN secara langsung. Pendampingan praktek maen saham beneran secara langsung ini oleh pengajar les, dibantu administrator n ahli TI. Cara les ini tidak menggunakan sistem ROBOT. Cara les ini bersifat pribadi, yaitu pengajar mendampingi investor / trader saham dalam periode waktu tertentu sampai dengan tingkat laba tertentu tercapai, sesuai dengan kontrak.

5. T: Apa beda les maen saham sederhana JO ini dengan sistem2 stock trading yang laen? J: Yang utama, tidak menggunakan robot. Yang juga penting: tidak massal. Sistem trading bursa saham Indonesia yang sudah lengkap dalam sistem operasi broker sekuritas, yang mana pun, itu yang dipakai oleh pengajar les.

6. T: Apa kemiripan les ini dengan sistem stock trading laen? J: Sistem trading saham yang digunakan tetap mengacu pada sistem trading saham Bursa Efek Indonesia. Analisis teknikal n fundamental persahaman itu ada pada semua sistem trading broker sekuritas. Temu online investor / trader saham harian itu bisa ditemukan pada sebagian kecil broker. Les ini memungkinkan temu online tersebut.

7. T: Apa kelebihan les ini dibandingkan sistem trading laen? J: Secara sederhana, pengajar ini sudah berpengalaman panjang dalam hal pengelolaan keuangan pribadi, pengelolaan berbagai macam investasi, studi administrasi bisnis, bekerja dalam berbagai perusahaan, berbisnis kecil, pengelolaan trading saham harian pribadi, n tetap berkarya di Indonesia (walo kehidupan sosial politik negara selalu berfluktuasi n penuh tantangan; tapi secara ekonomi kehidupan bangsa tetap tumbuh). Pengajar menerapkan sistem pengelolaan risiko yang sederhana guna mengantisipasi kemungkinan terburuk. Berdasarkan pengalaman pengajar, kondisi terburuk ini bukan HAMBATAN untuk mencapai LABA YANG LEBE GEDE. Bahkan laba terbesar itu diraup dalam kondisi fluktuasi, penuh ketidakpastian, n “wei-ji” (krisis, yang dalam bahasa mandarin bermakna: opportunity n challenges), itu pengalaman pengajar selama ini.

Desember 4, 2017

LABA (RUG1) @bum1 … 08072014_041217

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:05 am

 

MANFAATken MOMENTUM PENUNDAAN KENAEKAN THE FED FUND RATE K 2016 dengan KEBIJAKSANAAN BI RATE DI BAWAH 7%

KEBIJAKAN BI RATE TINGGI telah MENJAJAH PERTUMBUHAN EKONOMI kita

TURUNken BI RATE skarang JUGA

MENJADI SERAKAH, kok mengada-ada

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pendapatan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengalami penurunan. Beruntung, kinerja dari entitas bisnis perusahaan mencatatkan kinerja yang moncer sehingga BUMI masih mampu mencatat laba bersih yang positif.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan akhir pekan lalu, Jumat (4/1), BUMI hingga kuartal III-2017 mencatat penurunan pendapatan 4% menjadi US$ 17,37 juta dari sebelumnya US$ 18,07 juta.

Namun, beban pokoknya mencapai US$ 30,19 juta. Bukan hanya lebih besar dari pendapatan, tapi beban pokok ini juga mengalami kenaikan 44% dari sebelumnya US$ 20,89 juta.

Alhasil, BUMI mencatat rugi usaha sebesar US$ 12,83 juta. Angka ini melesat 354% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, US$ 2,82 juta.

Laba BUMI terkerek setelah perusahaan mencatatkan penghasilan lain-lain terutama bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama. Pada pos keuangan tersebut, BUMI mencatat penghasilan US$ 204,37 juta, melesat 600% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, US$ 29,06 juta.

Berkat torehan tersebut, BUMI membukukan laba bersih US$ 263,83 juta. Angka ini lompat 261% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, US$ 73,04 juta.

buttrock

JAKARTA ID- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencetak laba bersih sebesar US$ 162,3 juta pada semester I-2017, melonjak signifikan dibandingkan periode sama tahun lalu yang membukukan rugi bersih US$ 20,8 juta. Pendapatan perseroan turut meningkat hingga US$ 2,3 juta menjadi US$ 15,6 juta atau naik 2% dibandingkan tahun sebelumnya US$ 12,8 juta.

 

“Kenaikan signifikan tersebut disebabkan peningkatan harga komoditas batubara hingga 37,6% sejak akhir tahun lalu. Perseroan mulai mengurangi jumlah utang hingga US$ 2,6 miliar sampai saat ini,” ungkap manajemen Bumi Resouces dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (3/8).

 

Perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan tersebut kembali mengalami perbaikan bisnisnya sehingga terjadi penambahan pada beban usaha menjadi US$ 17,7 juta atau naik 22% dibandingkan sebelumnya US$ 14,5 juta.

 

Adapun volume penjualan komoditas batubara cukup stabil pada 41,5 juta ton pada 2017 dibandingkan dengan tahun lalu. “Meski demikian, kenaikan harga batubara menjadi penyebab utama kenaikan laba bersih perusahaan,” jelas manajemen.

 

Harga batubara tahun ini naik menjadi US$ 54,8 per ton atau naik 37,6% dari harga tahun lalu US$ 39,8 per ton. Pada kuartal II-2017 harga tersebut naik menjadi US$ 55,8 per ton sehingga dibandingkan tahun lalu total kenaikan menjadi 40,3%.

 

Tahun ini, perseroan memperkirakan adanya indikasi tren kenaikan harga batubara yang masih berlanjut, sehingga dampak positif berimbas pada kinerja perseoan hingga akhir 2017 mendatang.

 

Sejak tahun lalu perseroan menambah produksi dan masih akan menambah volume pengapalan batubara pada semester II-2017.Pihak perseroan memroyeksikan kenaikan coal mined hingga 5% dan setidaknya terjadi 30% peningkatan harga batubara dibandingkan sepanjang 2016.

 

Sebelumnya, perseroan melakukan restrukturisasi utang dengan menukarkan empat plafon utang yang ada dengan efek baru. Bumi mengedarkan nota pertukaran (Exchange Offer Memorandum/EOM) kepada kreditur separatis.

 

Adapun tanggal jatuh tempo nota pertukaran dengan total nilai US$ 3,8 miliar tersebut diperpanjang hingga 4 Agustus 2017.Menurut keterangan resminya, mana-jemen mengharapkan aksi korporasi tersebut akan berdampak pada kinerja perusahaan pada kuartal III-2017. Rilis OWK Rp 8,46 Triliun

 

Sebelumnya, Bumi Resources menyatakan segera merilis obligasi wajib konversi (mandatory convertible bond/MCB) sebesar Rp 8,46 triliun. Saat ini perseroan telah merampungkan masa penawaran awal (bookbuilding), dan menetapkan tingkat bunga untuk surat utang tersebut sebesar 6%.

 

Emisi obligasi tahun 2017 tersesbut memiliki kode BUMI01CB dan sudah dinformasikan kepada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Adapun, untuk surat utang yang dapat dikonfir-masi menjadi saham itu Bumi Resources menetapkan masa tenor tujuh tahun.

 

“Tanggal distribusi elektronik (OWK tahun 2017) akan jatuh pada 26 Juli 2017. Sementara itu, pembayaran bunga per-tama dilakukan pada 1 Agustus 2017,” ungkap Manajemen Bumi Resources dalam keterangan resmi di Jakarta, baru-baru ini. (c01)

ets-small

INILAHCOM, Jakarta – Tren kenaikan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sudah terpatahkan. Akan tetapi, sentimen lonjakan laba bersih diharapkan mampu dongkrak harga saham ‘sejuta umat’ ini.

Secara teknikal, Reza Priyambada, analis senior Binaartha Sekuritas menjelaskan, tren kenaikan yang dibentuk saham BUMI terpatahkan dengan adanya penurunan volume beli dan pergerakan beberapa indikator teknikal yang berbalik turun.

Di tengah tren pergerakan sahamnya, emiten mencatatkan kenaikan laba bersih pada kuartal I-2017. Laba bersih emiten sejuta umat ini naik US$65,571 juta atau Rp873,47 miliar jika mengacu kurs Rp13.321 per dolar AS. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan mencapai 291,73%.

Melansir dari keterbukaan informasi yang diterbitkan perseroan di situs Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (18/7/2017), laba bersih perseroan pada kuartal I-2017 tercatat sebesar US$88,04 juta dari sebelumnya US$22,47 juta. Dengan demikian, laba bersih per saham mengalami kenaikan menjadi US$2,44 dari sebelumnya US$0,62.

Selain itu, perseroan juga mencatatkan kenaikan penjualan dan pendapatan usaha menjadi US$10,3 juta dari sebelumnya US$6,47 juta. BUMI juga mencatatkan adanya penurunan rugi selisih kurs menjadi US$36.000 dari sebelumnya US$1,44 juta.

Adapun aset perseroan, tercatat mengalami peningkatan menjadi US$3,11 miliar dari sebelumnya US$3,1 miliar. Aset tersebut terdiri dari aset lancar sebesar US$536,46 juta dan aset tidak lancar sebesar US$2,57 miliar.

Di sisi lain, utang perseroan tercatat mengalami penurunan. Adapun total utang perseroan tercatat sebesar USD5,81 miliar dari sebelumnya US$5,88 miliar, dengan komposisi utang jangka pendek sebesar US$694,53 juta dan utang jangka panjang sebesar US$5,11 miliar.

Adanya berita positif dari lonjakan laba bersih tersebut, menurut Reza, diharapkan dapat menahan potensi penurunan tersebut agar pergerakan BUMI masih dapat bertahan di atas batas middle bollinger band-nya.

Jika volume beli dapat terangkat, dia memberikan rekomendasi trading buy untuk transaksi harian. Dia menyarankan masuk saham BUMI di level entry point Rp342-346. “Sementara itu, support saham ini berada di Rp338-342 dan resisten Rp350-354,” imbuhnya. [jin]

ets-small

Bisnis.com, JAKARTA – Laba PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) diproyeksikan melonjak setidaknya lima kali lipat tahun ini, ditopang oleh harga bahan bakar yang lebih tinggi serta restrukturisasi utang yang membantu memangkas biaya bunga.

Seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (11/7/2017), Direktur & Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava memproyeksi laba bersih perusahaan dapat melonjak menjadi setidaknya US$350 juta tahun ini, dari hanya US$67,7 juta pada tahun 2016.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bloomberg, nilai tersebut akan menjadi laba tertinggi sejak 2008. “Harga batu bara pada tahun 2017 terlihat rata-rata sekitar 30% lebih besar dari tahun 2016,” ujar Srivastava.

BUMI disebutkan sedang dalam proses menyelesaikan restrukturisasi utang yang mencakup rights issue senilai US$2 miliar.

Menurut Srivastava, utang perusahaan akan menyusut menjadi US$1,6 miliar dari sekitar US$4,2 miliar, sehingga membuka jalan untuk penghematan sebesar US$250 juta dalam biaya bunga tahunan saja.

Produksi batu bara BUMI pada paruh pertama tahun ini mencapai total sekitar 43% dari target tahun ini sebesar 89 juta metrik ton. Perusahaan berharap untuk meningkatkan aktivitas pertambangan di paruh kedua dengan kondisi cuaca yang kering.

Harga batu bara pun diprediksi dapat mencapai kisaran US$70 dan US$85 per ton selama dua tahun ke depan.

“BUMI akan bebas dari utang dalam sekitar 3–4 tahun begitu restrukturisasi itu berhasil diselesaikan dan apabila harga batu bara terus bergerak lebih tinggi,” lanjutnya.

“Begitu restrukturisasi utang selesai, tidak akan ada lagi yang tertinggal dalam neraca keuangan yang bisa menjadi kejutan. Kami telah mengambil beberapa langkah termasuk mencalonkan direktur independen ke dewan direksi dan komisaris perusahaan, serta menunjuk konsultan untuk mengatasi masalah tata kelola perusahaan,” ungkapnya.

Pekan lalu, BUMI mencalonkan Wayne Yao dan Haiyong Yu dari China Investment Corp., berikut Xuefeng Ruan dari China Development Bank kepada dewan direksi. Pada saat yang sama, emiten batu bara tersebut menunjuk Jinping Ma dan Benjamin Bao ke dewan komisaris perusahaan.

Perusahaan yang dimiliki Grup Bakrie itu juga menunjuk KPMG LLP sebagai auditor independen untuk memantau pengelolaan kas dan restrukturisasi utang.

“Perubahan-perubahan itu adalah langkah ke arah yang tepat untuk memperbaiki kekhawatiran investor terhadap tata kelola perusahaan BUMI,” kata Sharlita Malik, seorang analis di PT Samuel Sekuritas Indonesia.

Namun, tambah Malik, masyarakat tidak bisa mengubah persepsi perusahaan berdasarkan apa yang perusahaan lakukan dalam satu atau dua bulan terakhir. Dibutuhkan track record selama enam bulan hingga setahun sebelum investor mengubah persepsi mereka.

Sumber : Bloomberg

ets-small

JAKARTA kontan. Kinerja PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terangkat oleh prospek batubara yang lebih baik sepanjang Kuartal I-2017. Pada periode itu, BUMI mencetak kenaikan pendapatan 59% year on year (yoy) menjadi US$ 10,3 juta.

Beban usaha yang tinggi sejatinya membuat perseroan mencetak rugi usaha sebesar US$ 4,5 juta dari sebelumnya untung US$ 841.845. Namun, margin laba bersih BUMI tertolong oleh adanya laba entitas asosiasi yang naik 214% menjadi US$ 27,6 juta dan penyusutan beban bunga dan keuangan sebesar 73% menjadi US$ 44,53 juta.

Karena itu, laba bersih BUMI pun melonjak 291,81% menjadi US$ 88,04 juta. Pada periode yang sama tahun lalu, laba bersih BUMI hanya sebesar US$ 22,46 juta. Laba per 1.000 saham perseroan sebesar US$ 2,44 per saham naik dari sebelumnya US$ 0,62 per saham.

“Volume penjualan di Kuartal I 2017 sama seperti periode yang sama tahun lalu karena curah hujan yang tinggi. Namun, hal itu dikompensasi dengan kenaikan harga rata-rata sebesar 35,7% menjadi US$ 54,2 per ton,” ujar Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI kepada KONTAN, Sabtu (29/4).

Perseroan masih yakin, hingga akhir tahun ini BUMI masih akan dapat mencapai target volume penjualan sebesar 90 juta ton dengan harga rata-rata yang naik sekitar 30% dibandingkan tahun lalu.

Di sisi lain, BUMI masih mencatatkan defisiensi modal sebesar US$ 2,7 miliar. Hal ini karena liabilitas perseroan masih tinggi, yakni sebesar US$ 5,8 miliar. Sementara itu, total aset BUMI mencapai US$ 3,11 miliar. Di sisi lain, total kas BUMI hanya tercatat sebesar US$ 8,6 juta.

Dalam waktu dekat, BUMI akan menggelar rights issue dengan melepas 28,75 miliar saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Nilainya mencapai US$ 2,01 miliar atau setara dengan Rp 26,62 triliun.

Bersamaan dengan itu, BUMI juga akan menerbitkan Obligasi Wajib Konversi (OWK) sebanyak 9,1 miliar unit dengan jumlah pokok US$ 639 juta atau setara Rp 8,45 triliun. Sehingga, total aksi korporasi Grup Bakrie itu mencapai Rp 35,07 triliun.

Nantinya, setiap 100 saham akan memperoleh 78 HMETD seri A. Setiap satu HMETD Seri A memberikan hak pada pemegangnya untuk membeli satu saham baru seri B dengan harga pelaksanaan Rp 926,16. Lalu, setiap 100 saham akan memperoleh 25 HMETD Seri B yang bisa ditukar dengan OWK di harga yang sama.

BUMI juga sudah menentukan pembeli siaga yang akan menyerap HMETD apabila tidak diserap oleh pemegang saham. Bertindak sebagai pembeli siaga adalah PT Samuel International sebesar US$ 1,9 miliar atau Rp 26,36 triliun. Samuel akan memberikan komitmen penuh dalam rights issue ini di harga yang sama.

Pembeli siaga lainnya adalah PT Danatama Capital Group dengan komitmen penuh sebesar US$ 19,9 juta. Sementara itu, yang bertindak sebagai pembeli siaga sehubungan dengan sisa OWK adalah kreditor konversi OWK dengan jumlah US$ 639 juta.

Pada perdagangan Jumat (28/4), harga saham BUMI turun 1,32% menjadi Rp 448 per saham.

ets-small

Bisnis.com, JAKARTA – Sepanjang kuartal I/2017, kinerja PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) naik pesat dengan membukukan lonjakan laba yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar 291,68% menjadi US$88,05 juta dari US$22,48 juta pada kuartal I/2016.

Dalam laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia, Jumat (28/4/2017) menunjukkan pendapatan sepanjang kuartal I/2017 hanya naik 59,19% menjadi US$10,3 juta dari US$6,47 juta pada kuartal I/2017. Sementara, beban usaha juga melonjak 162,88% dari US$5,63 juta pada kuartal I/2016 menjadi US$14,8 juta.

Pada akhirnya, tingginya laju penaikan beban usaha ketimbang penaikan pendapatan mendorong perseroan mencatatkan rugi usaha sebesar US$4,5 juta pada kuartal I/2017, sedangkan pada kuartal I/2016, perseroan masih mencatatkan laba usaha sebesar US$841.845.

Kendati demikian, pada kuartal I/2017, perseroan mencatatkan kenaikan bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar 214,71% menjadi US$27,6 juta dari US$8,77 juta pada kuartal I/2016. Selain itu, penghasilan bunga dan pendapatan lain-lain juga meningkat masing-masing 98,57% dan 161,89%.

Beban bunga dan keuangan juga terpangkas 73,49% menjadi US$44,53 juta pada kuartal I/2017 dari US$168,02 pada kuartal I/2016. Selain itu, rugi selisih kurs juga menciut menjadi US$36.465 pada kuartal I/2017 dari US$1,44 juta pada kuartal I/2016. Laba tahun berjalan akhirnya naik sebesar 113,59% dari US$40,38 juta pada kuartal I/2016 menjadi US$88,25 pada kuartal I/2017.

ets-small

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) sukses membalikkan keadaan dengan meraup laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar US$67,69 juta pada 2016, dari rugi sebesar US$1,92 miliar pada 2015.

Dalam laporan keuangan 2016 yang telah diaudit dan dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (21/3/2017), menunjukkan sepanjang tahun lalu perseroan membukukan pendapatan sebesar US$23,37 juta. Perolehan pendapatan tersebut turun 42,31% dari pencapaian pada 2015 yang mencatatkan sebesar US$40,51 juta.

Sementara itu, beban usaha terpangkas sebesar 42,34% dari US$49,88 juta pada 2015 menjadi US$28,76 juta. Akhirnya, rugi usaha juga ikut tergerus 42,58% menjadi US$5,38 juta pada 2016 dari US$9,37 pada 2015.

Hanya saja, pada pos beban lain-lain untuk penurunan nilai aset serta rugi atas penghapusan piutang telah nihil pada 2016. Padahal, pada 2015, penurunan nilai aset sebesar US$885,55 juta, sedangkan rugi atas penghapusan piutang sebesar US$522,55 juta.

Selain itu, perseroan juga sukses memangkas beban bunga dan keuangan sebesar 43,77% dari US$453,22 juta pada 2015 menjadi US$254,82 juta pada 2016. Perseroan juga mencatatkan bagian ats laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar US$84,25 juta pada 2016, atau meningkat 93,01% dari US$43,65 juta pada 2015 Perseroan juga sukses mencatatkan penghasilan lain-lain sebesar US$213,21.

Kendati demikian, perseroan masih mencatatkan rugi sebelum pajak penghasilan sebesar US$9,38 juta pada 2016 atau terpangkas 99,54% dari US$2,04 miliar pada 2015. Hanya saja, pada 2016, BUMI memperoleh manfaat pajak penghasilan sebesar US$129,64 juta yang akhirnya mampu mencetak laba tahun berjalan sebesar US$120,55 juta

Sementara itu, Sharlita Malik, analis dari Samuel Sekuritas Indonesia mengungkapkan laba bersih BUMI pada 2016 positif tetapi dibawah estimasi yang diperkirakan olehnya. Secara keseluruhan, lanjutnya, BUMI mencatatkan kinerja yang positif didukung efisiensi dalam bahan bakar, biaya operasional yang lebih rendah yaitu turun 28% y-o-y menjadi US$27 per ton, dan manfaat beban pajak yang naik signifikan.

Dia menilai harga jual rata-rata batu bara pada 2016 turun, tetapi volume penjualan tercatat naik. BUMI mencatatkan penurunan harga jual rata-rata batubara sebesar 6% y-o-y menjadi US$42,1 per ton. Namun, volume penjualan batubara gabungan BUMI tercatat naik kurang lebih 10,6% y-o-y menjadi 87,7 juta ton. Menurutnya, secara umum penjualan Arutmin meningkat sebesar 15,3% menjadi 28,6 juta ton dan KPC meningkat sebesar 8,4% y-o-y menjadi 59,1 juta ton.

Adapun, lanjutnya, untuk pendorong kinerja BUMI pada tahun ini, perseroan berencana meningkatkan penjualan sebesar 5% – 7% y-o-y, mengurangi beban utang dan bunga secara signifikan serta mengembalikan kondisi keuangan yang sehat. Sharlita juga mengungkapkan dukungan dari harga batubara yang lebih tinggi 30% y-o-y serta efisiensi yang meningkat menjadi pendorong kinerja untuk BUMI kedepannya. Oleh karena itu, dia menyarankan BUY.

“BUMI berpeluang membukukan kinerja positif untuk fullyear 2017. Dengan asumsi meningkatnya harga jual rata-rata dan volume penjualan yang lebih tinggi. Kami tetap merekomendasi Buy saat ini. Valuasi terhadap BUMI masih mungkin berubah, tergantung dari kestabilan harga batubara dan perbaikan neraca keuangan BUMI,” katanya dalam risetnya, Selasa (21/3/2017).

ets-small

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sepakat untuk melakukan right issue dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Selain itu, perseroan juga memutuskan untuk tidak memberikan dividen.

Melansir keterbukaan yang diterbitkan perseroan di Jakarta, Kamis (9/2/2017), manajemen Bumi mengatakan bahwa sehubungan dengan rugi yang dialami perseroan pada tahun buku yang berakhir 31 Desember 2015, maka perseroan tidak dapat membagikan dividen kepada seluruh pemegang saham perseroan.

Sekadar informasi, PT BUMI Resources Tbk (BUMI) berencana melakukan restrukturisasi utangnya dengan melakukan right issue. Rencana tersebut akan mengurangi utang BUMI dari USD4,2 miliar atau setara dengan RP55,9 triliun menjadi USD1,6 miliar atau setara dengan Rp21,3 triliun (mengacu kepada kurs Rp13.320).

Selain itu, perseroan RUPS juga menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan dengan persetujuan dewan komisaris perseroan, untuk mengeluarkan saham-saham baru perseroan dalam rangka pelaksanaan PUT V dan obligasi wajib konversi.

RUPIS juga menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan sehubungan dengan pelaksanaan PUT V dan obligasi wajib konversi.

http://economy.okezone.com/read/2017/02/09/278/1613455/masih-rugi-bumi-resources-tidak-sebar-dividen
Sumber : OKEZONE.COM

 ets-small

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) semakin terseok. Emiten Grup Bakrie ini mencatatkan kerugian bersih senilai US$ 630,27 juta dalam sembilan bulan pertama tahun ini.

Pada periode yang sama tahun lalu, BUMI masih mencetak laba bersih US$ 12,52 juta.

Pendapatan BUMI juga menyusut dari US$ 49,4 juta pada kuartal III-2014 menjadi US$ 33,49 juta di kuartal III-2015. Beban bunga dan keuangan BUMI mencapai US$ 405,4 juta.

Mengacu laporan keuangan yang dirilis Jumat (30/10), BUMI juga masih menanggung ekuitas negatif alias defisiensi modal sebesar US$ 1,3 miliar. Beban ini jauh lebih berat daripada total defisiensi modal BUMI per akhir tahun lalu sebesar US$ 733 juta.

Total kewajiban BUMI yang tercatat di kuartal III-2015 mencapai US$ 5,7 miliar. BUMI masih harus membayar pinjaman jangka pendek senilai US$ 220,7 juta.

Bahkan BUMI memiliki pinjaman jangka panjang yang harus dibayar dalam jangka waktu setahun ke depan sebesar US$ 3,6 miliar.

Belum lagi ada obligasi konversi yang harus dilunasi dalam jangka pendek senilai US$ 375 juta.

Jakarta infobank–PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengaku tidak akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau pemotongan gaji kepada para karyawannya di tengah anjloknya harga batu bara dunia.

“Kalau dari sisi apakah kita ada rencana PHK, sampai detik ini kami masih komitmen tidak akan merumahkan atau PHK karyawan,” kata Direktur Legal BUMI Yanti Sinaga di Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2015.

Yanti sendiri merasa masih optimis dengan kondisi kedepan dan bisa survive meski kinerja perseroan tengah mengalami penurunan.

Oleh sebab itu BUMI berkomitmen untuk mempertahankan karyawannya dengan membuat struktur perencanaan dari managemen.

“Jika dibandingkan perusahan lain yang sejenis, kami yakin masih bisa survive. Semoga ke depannya masih bisa mempertahankan. Kita berusaha semua karyawan diberikan pengertian,” tuturnya.

Seperti diketahui, sebelumnya Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mengungkapkan bahwa saat ini industri tambang banyak yang merumahkan karyawannya lantaran harga komoditas kurang bersahabat.

Hal tersebut menjadi solusi untuk menekan beban perusahaan yang besar, namun pendapatannya berkurang. (*)

 

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memprediksi masih belum akan ekspansi di tahun depan.

BUMI bakal fokus ke penyelesaian utangnya yang mencapai US$ 3,98 miliar.

Tahun depan, BUMI hanya akan menganggarkan belanja modal US$ 50 juta hingga US$ 100 juta, sama dengan tahun ini.

Dana belanja modal itu akan diperoleh dari kas internal BUMI.

“Belanja modal masih akan digunakan untuk maintanance dan operasional. Belum ada ekspansi,” ujar Direktur Keuangan BUMI, Andrew Beckham di Jakarta, Jumat (2/10).

BUMI harus berhemat lantaran perlu menyediakan arus kas yang lancar. Andrew berharap harga batubara bisa pulih di tahun depan.

Tahun depan, BUMI berencana mengurangi utangnya dari US$ 3,98 miliar menjadi US$ 1,2 miliar.

Mayoritas utang tersebut akan dibayar dengan new senior secured facility, konversi ke saham dan obligasi wajib konversi.

“Kalau berjalan lancar, kami akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Desember,” imbuh Andrew.

Sehingga, perseroan berharap proses restrukturisasi bisa selesai pada Januari mendatang.

BUMI juga masih belum bisa memastikan kepastian penjualan saham anak usahanya PT Bumi Resources Minerals Tbk (BUMI) kepada China Investment Corporation (CIC).

“Kami masih harus menunggu proposal ini disetujui,” ujarnya.

Perseroan juga berencana mengkonversi sebagian utang senior notes yang senilai total US$ 1,61 miliar dari kreditur bilateral.

Restrukturisasi utang BUMI harus segera dilakukan untuk menghindari gagal bayar alias default.

Apalagi, kondisi komoditas batubara terus melorot. Tahun lalu BUMI sudah mengurangi utang sebesar US$ 950 juta.

Sebagai informasi, pada laporan keuangan Semester I-2015, BUMI mencetak rugi bersih mencapai US$ 566,24 juta.

Pada periode yang sama tahun lalu, BUMI masih bisa membukukan laba bersih sebesar US$ 130 juta karena ada laba dari penjualan aset.

Editor: Adi Wikanto.

 

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana merestrukturisasi sebagian besar utangnya. Perusahaan milik Grup Bakrie ini memiliki total utang senilai US$ 3,9 miliar. Perseroan mengajukan revisi proposal untuk merestrukturisasi utangnya tersebut.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, BUMI sudah melakukan rapat dengan para kreditur di Singapura pada Senin (28/9) ini. Dalam pertemuan itu, BUMI meminta persetujuan untuk restrukturisasi utangnya yang akan disetujui pada 22 Oktober mendatang.

Dalam proporsal itu, berkaca dari arus kas BUMI, perseroan akan tetap mempertahankan utang senilai US$ 1,2 miliar atau setara dengan 42,3% dari total utang pokok BUMI. Opsi restrukturisasi itu antara lain dengan mengkonversi utang dari China Investment Corporation (CIC) menjadi saham BUMI.

BUMI memiliki utang dari lima kreditur utama. Pertama, adalah utang dari Axis Bank senilai US$ 141 juta. Sebagian besar utang Axis bakal dibayarkan dengan menjual aset BUMI di Fajar Bumi Sakti (FBS). Lalu sisanya juga akan dibayarkan.

Nah, utang dari CIC dan CDB mencapai US$ 1,76 miliar. Sebesar US$ 407 juta akan dibayarkan dengan menukar utang dengan saham BUMI. Lalu, BUMI memiliki utang obligasi dari anak usahanya di Singapura, nilainya mencapai US$ 1,6 miliar. Utang ini juga akan dikonversi menjadi saham.

Lalu, convertible bond BUMI senilai US$ 410 juta, sebelumnya sudah mendapat perpanjangan penangguhan utang selama lima bulan oleh Pengadilan Singapura.

Dileep bilang, restrukturisasi utang BUMI harus segera dilakukan untuk menghindari gagal bayar alias default. Apalagi, kondisi komoditas batubara terus melorot. Sebelumnya, Dileep mengklaim, tahun lalu BUMI sudah mengurangi utang sebesar US$ 950 juta. Harapannya, jika restrukturisasi ini tuntas, utang BUMI bisa berkurang setengahnya.

Sebagai informasi, pada laporan keuangan Semester I-2015, BUMI mencetak rugi bersih mencapai US$ 566,24 juta. Pada periode yang sama tahun lalu, BUMI masih bisa membukukan laba bersih sebesar US$ 130 juta karena ada laba dari penjualan aset.

Kerugian BUMI di medio pertama tahun ini bermula dari anjloknya pendapatan sebesar 41,26% year on year (yoy) menjadi US$ 21,49 juta. Beban pokok pendapatan BUMI memang menurun. Tetapi, BUMI masih membukukan beban bunga dan keuangan akibat utang sebesar US$ 279,8 juta. Belum lagi, ada pos penurunan nilai aset sebesar US$ 212,32 juta yang membuat bottom line BUMI mengkerut.

Editor: Yudho Winarto.

 

JAKARTA. Laporan keuangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih berdarah-darah.

Kerugian produsen batubara milik Grup Bakrie ini makin besar saja. Pada laporan keuangan Semester I-2015, BUMI mencetak rugi bersih mencapai US$ 566,24 juta.

Pada periode yang sama tahun lalu, BUMI masih bisa membukukan laba bersih sebesar US$ 130 juta karena ada laba dari penjualan aset.

Kerugian BUMI di medio pertama tahun ini bermula dari anjloknya pendapatan sebesar 41,26% year on year (yoy) menjadi US$ 21,49 juta.

Beban pokok pendapatan BUMI memang menurun. Tetapi, BUMI masih membukukan beban bunga dan keuangan akibat utang sebesar US$ 279,8 juta.

Belum lagi, ada pos penurunan nilai aset sebesar US$ 212,32 juta yang membuat bottom line BUMI mengkerut. Lalu, ada beban lain-lain senilai US$ 166,8 juta.

Beban ini berasal dari utang dollar pihak berelasi. Utang tersebut merupakan utang tanpa bunga dan tidak memiliki jangka waktu pembayaran tetap.

Nilainya sebesar US$ 521 juta atau 9,16% dari total liabilitas BUMI.

Sampai laporan keuangan ini diterbitkan, BUMI memang belum berhasil merestrukturisasi utang-utangnya.

Tahun lalu, BUMI sempat menjual beberapa asetnya demi mencicil pembayaran utang. Namun, sampai sekarang total liabilitas BUMI belum juga berkurang.

Per Juni 2015, ada liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam jangka waktu satu tahun senilai US$ 3,5 miliar.

Jika ditotal, liabilitas BUMI malah naik menjadi US$ 5,6 miliar, dari akhir tahun lalu sebesar US$ 5,3 miliar.

Sementara total aset BUMI sebesar US$ 4,3 miliar. Kinerja ini, membuat BUMI membukukan ekuitas negatif atau defisiensi modal sebesar US$ 1,3 miliar.

Defisiensi modal itu membengkak dari sebelumnya US$ 733 juta.

Sebelumnya, BUMI berharap bisa mengurangi utang senilai US$ 2 miliar di tahun ini. Namun, niat itu belum juga direalisasikan.

BUMI masih melakukan negosiasi dengan bond holder atas utang obligasi BUMI yang diterbitkan tiga anak usahanya di Singapura.

Khusus untuk restrukturisasi obligasi, BUMI memperoleh perpanjangan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) alias moratorium dari pengadilan Singapura. Perpanjangan PKPU ini akan berakhir 24 Oktober mendatang.

Sebelumnya, Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, salah satu opsi restrukturisasi yang tengah dikaji BUMI adalah dengan mencari investor strategis untuk membantu BUMI menyelesaikan utang.

BUMI juga membuka peluang untuk kembali melakukan penukaran saham dengan utang dengan kreditur. Sementara penjualan aset masih belum menjadi opsi utama BUMI untuk menuntaskan utangnya.

Saham BUMI masih tak berkutik dari level Rp 50 per saham.

Editor: Adi Wikanto.

JAKARTA. PT Trada Maritime Tbk (TRAM) menjadi emiten dengan penurunan harga saham terdalam secara year-to-date (ytd) hingga Juni 2015. Saham perusahaan perkapalan ini anjlok 76,3% ke posisi harga saham terendah, yakni Rp 50 per saham.

Berikut 10 saham top loser hingga Juni 2015:
1. TRAM
2. PT Buana Listya Tama Tbk (BULL): turun 76,25% ke Rp 95 per saham
3. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS); turun 71,11% ke Rp 91 per saham
4. PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN): turun 66,83% ke Rp 69 per saham
5. PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU): turun 63,91% ke Rp 415 per saham
6. PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD); turun 62,61% ke Rp 265 per saham
7. PT Wintermar Offshore Marine Tbk WINS): turun 60,24% ke Rp 328 per saham
8. PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID): turun 58,55% ke Rp 80 per saham
9. PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP): turun 58,49% ke Rp 193 per saham
10. PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO): turun 54,84% ke Rp 70 per saham.

Editor: Hendra Gunawan

 

TEMPO.CO , Jakarta – Harga batu bara yang kian anjlok menyebabkan sebagian besar perusahaan tambang menghentikan produksi dan terancam gulung tikar. Deputi Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia, Hendra Sinadia, mengatakan hingga bulan ini sudah 80 persen perusahaan tambang batu bara yang menyetop produksi dan tutup sementara. “Margin sudah negatif. Buat apa lagi beroperasi?” kata Hendra kepada Tempo, Selasa, 4 Agustus 2015.

Menurut Hendra, dari 3.000 perusahaan pemegang izin usaha pertambangan, saat ini hanya 500 yang masih beroperasi. Sebagian besar yang tutup adalah perusahaan kecil di daerah pertambangan, seperti Kalimantan.

Meski begitu, dia menjamin produksi batu bara untuk memenuhi kebutuhan nasional masih terjaga karena beberapa perusahaan mempunyai cadangan besar dan teknologi tinggi. “Mereka masih bisa beroperasi secara efisien,” ujarnya.

Pada Juni lalu, harga batu bara dunia rata-rata berada di angka US$ 59,19 per ton, sedangkan harga batu bara acuan (HBA) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral US$ 59,59 per ton. Harga itu anjlok bila dibandingkan dengan Juni 2014, saat batu bara dihargai rata-rata US$ 72,45 per ton. Pada Juli lalu, HBA kembali turun menjadi US$ 59,19 per ton.

Akibatnya, kata Hendra, banyak perusahaan batu bara merugi karena biaya produksi batu bara berada di atas harga jual. Hendra mengatakan gencarnya proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap tidak berhasil menopang harga karena tidak ada peningkatan dari penambang ke operator.

ROBBY IRFANI

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Konglomerasi asal India, Tata Power, memutuskan untuk mengurangi kepemilikan saham di Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha Bumi Resources (BUMI).

Berdasarkan keterbukaan informasi ke Bursa Saham Bombay (BSE), Jumat (4/7/2014), Tata Power menyatakan telah meneken kesepakatan (option agreements) untuk menjual 5 persen saham KPC ke salah satu entitas Grup Bakrie.

Nilai transaksi jual-beli itu ditaksir 250 juta dollar AS. Anil Sardana, Managing Director Tata Power mengatakan, opsi divestasi 5 persen saham KPC ini bagian dari strategi mencari dana tambahan untuk mengurangi utang. “Jika opsi divestasi ini terwujud, pasokan batubara ke pembangkit listrik kami tak akan terpengaruh karena kami masih punya 25 persen saham KPC,” tulis Anil dalam keterangan resmi, Jumat.

Sejak Maret 2007, Tata Power memiliki 30 persen  saham di KPC dan anak usaha BUMI lainnya, PT Arutmin Indonesia (Arutmin). Nilai akuisisi dua anak usaha BUMI itu mencapai 1,1 miliar dollar AS.

Pada Februari lalu, Tata Power menjual 30 persen saham Arutmin senilai 500 juta  dollar AS ke salah satu entitas Grup Bakrie. Transaksi ini semula hendak diselesaikan Mei lalu. Tapi hingga kini, Tata Power dan Grup Bakrie belum memfinalisasi transaksi itu. Tata Power menargetkan penjualan saham Arutmin rampung bersama divestasi saham Mitratama Perkasa (PTMP) tahun ini.

PTMP adalah unit usaha PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA), anak usaha Tata Power. Pada Februari, Tata Power meneken perjanjian jual beli bersyarat untuk menjual 3.600 saham PTMP senilai 120 juta dollar AS. Tata Power menunjuk unit Grup Bakrie, Long Haul Holdings Ltd (LHH), sebagai broker divestasi saham PTMP. LHH akan menunjuk pembeli saham PTMP.

Kiswoyo Adi Joe, analis Investa Saran Mandiri menilai, langkah Tata Power menjual 5 persen  saham KPC ke Grup Bakrie tak berefek langsung ke BUMI. Yang pasti, Grup Bakrie ingin mempertahankan porsi mayoritas di KPC.

Awalnya, Grup Bakrie melalui BUMI, menguasai 65 persen saham KPC. Tapi Kamis (3/7/2014) lalu, BUMI mengalihkan 19 persen  saham KPC ke China Investment Corporation (CIC) lewat skema utang dikonversi ke saham (debt-for-equity swap). Ini adalah bagian dari pembayaran utang BUMI senilai 1,99 miliar dollar AS ke CIC. Selepas pengalihan, kepemilikan BUMI di KPC semestinya turun menjadi 46 persen.

Namun BUMI tetap menjadi pengendali dengan porsi 51 persen . Tambahan 5 persen  saham di KPC berasal dari perjanjian piutang dengan Recapital Asset Management. BUMI punya piutang lain dari reklasifikasi aset keuangan tersedia untuk dijual dari Recapital ke PT Kutai Timur Sejahtera (KTS). BUMI punya hak mengonversi piutang itu menjadi 100 persen kepemilikan saham KTS dengan penerbitan medium term notes. KTS memiliki 5 persen  saham KPC.

Di sisi lain, Standard & Poor Ratings Services, Jumat lalu, menurunkan peringkat kredit korporasi jangka panjang dan peringkat skala regional ASEAN milik BUMI, masing-masing menjadi selective default (SD) dari sebelumnya CC dan axCC.

Peringkat itu menyusut setelah BUMI mengalihkan 19 persen  saham KPC ke CIC. “Kami menilai transaksi ini sebagai pertukaran yang penuh tekanan,” tutur Vishal Kulkarni, analis kredit Standard & Poor’s, kutip Bloomberg. (Sandy Baskoro, Veri Nurhansyah Tragistina)

 


JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tetap berupaya untuk merestrukturisasi obligasi senilai US$ 375 juta yang diterbitkan anak usaha, Enercoal Resources Pte. Ltd. (Enercoal).

Restrukturisasi itu sempat terhambat lantaran BUMI gagal memenuhi persyaratan kuorum dalam Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) yang digelar Jumat (20/6) lalu.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, pihaknya terus melanjutkan pembicaraan dengan pemegang obligasi terutama terkait restrukturisasi obligasi Enercoal.

“Perseroan kembali berencana menggelar RUPO Enercoal pada pertengahan Juli 2014 untuk memperoleh persetujuan terkait refinancing obligasi dari pemegang obligasi Enercoal,” tulis Dileep dalam keterangan resmi, Jumat (4/7).

BUMI memang tengah berpacu dengan waktu untuk segera meraih restu pemegang obligasi. Pasalnya, masa jatuh tempo obligasi senilai US$ 350 juta itu kian dekat, yakni pada 5 Agustus 2014 mendatang.

Dalam proposal pengajuan restrukturisasi yang dirilis pada 6 Juni 2014 lalu, BUMI mengajukan permohonan untuk mengubah harga konversi dan kupon obligasi yang senilai US$ 375 juta.

Deutsche Bank AG  bertindak sebagai Agen Solisitasi tunggal, sementara The Bank of New York Mellon bereran sebagai Tabulation Agent untuk mengadakan persetujuan tersebut.

Satu poin lain yang menarik adalah BUMI pun meminta konversi wajib berdasarkan opsi yang dimiliki penerbit obligasi senilai maksimum US$ 125 juta. Poin ini menarik dicermati terutama jika mengacu pada klausul awal obligasi konversi tersebut.

Awalnya, obligasi tersebut dapat dikonversi menjadi saham biasa BUMI dengan nilai Rp. 3.366,9 per saham. Konversi obligasi bisa dilakukan setiap saat dalam periode 41 hari setelah tanggal penerbitan obligasi sampai dengan 10 hari sebelum tanggal jatuh tempo.

Klausul ini tentu susah untuk diwujudkan lantaran harga saham BUMI sudah jauh di bawah itu.  Pada penutupan perdagangan Jumat (6/6), harga BUMI ditutup turun 2,02% menhadi Rp 194 per saham.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2014,  Enercoal menerbitkan obligasi konversi senilai US$ 375 juta pada 5 Agustus 2009. Obligasi itu akan jatuh tempo pada 5 Agustus 2014 berkupon 9,25% per tahun.

Melihat kondisi keuangan yang morat-marit, BUMI tentu sulit untuk melunasi obligasi tersebut sesuai tanggal jatuh tempo. Bayangkan, BUMI hanya memiliki kas dan setara kas senilai US$ 27,68 juta per 31 Maret 2014.

Minimnya kas internal ini juga yang menjadi penyebab BUMI gagal membayar kupon obligasi valas yang telah jatuh tempo pada 12 Mei 2014. Nilai obligasi  yang diterbitkan anak usaha BUMI, Bumi Capital Pte Ltd, itu sebesar US$ 300 juta.

Namun, menurut manajemen BUMI, perseroan memiliki waktu tenggang hingga 11 Juni 2014. Jika pada tanggal itu BUMI tidak juga memenuhi kewajibannya, maka pemegang obligasi berhak meminta percepatan pembayaran.

Bank of New York selaku administrator sistem akan meminta pemegang obligasi untuk memutuskan secara voting terkait wanprestasi (default). Jika mayoritas suara menyetujui, maka BUMI wajib membayar obligasi berbunga 12% per tahun itu. Adapun, obligasi ini memiliki waktu jatuh tempo 10 November 2016.

Pada Jumat (4/7), harga BUMI ditutup turun 2,73% ke level Rp 178 per saham.

Editor: Barratut Taqiyyah

NERACA

Jakarta – Berbagai macam cara dilakukan manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk melunasi utang, kali ini perseroan melepas sebanyak 19% saham perseroan di Kaltim Prima Coal (KPC) senilai US$ 950 juta atau sekitar Rp11,31 triliun ke China Investment Corporation (CIC). Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (3/7).

Direktur Utama PT Bumi Resources Tbk, Ari Hudaya mengatakan, pengalihan saham ini merupakan langkah awal perseroan memperbaiki struktur keuangan dan komitmen perusahaan mengurangi utang,”Kami menyambut CIC sebagai mitra (equity partner) utama kami dan ke depan bersama-sama mengembangkan aset kami dengan kekuatan yang terus meningkat,”ujarnya.

Menurutnya, secara fundamental BUMI memiliki kekuatan, di mana perseroan mampu meningkatkan kapasitas tahunan batu bara lebih dari 90 juta ton sekaligus melakukan efisiensi operasi dan biaya secara signifikan,”Kami percaya struktur permodalan yang baru disertai pemulihan harga batu bara akan mampu membuat kami memperoleh kembali kekuatan, sehingga menghasilkan keuntungan seperti semula,” tandasnya.

Asal tahu saja, kesepakatan perseroan melepas 19% saham Kaltim Prima Coal kepada perusahaan tambang asal Tingkok tersebut merupakan bagian perjanjian penyelesaian utang pada 9 Oktober tahun lalu. Dengan demikian, utang BUMI kepada CIC berhasil dipangkas sebesar US$ 1,039 miliar atau sekitar Rp12,36 triliun.

 

http://www.neraca.co.id/article/43134/BUMI-Lepas-19-Saham-KPC-Ke-Tiongkok
Sumber : NERACA.CO.ID

Hasil Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa

PT. Bumi Resources Tbk (BUMI)

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan:

Agenda Pertama

1. Menyetujui dan Menerima dengan baik laporan keuangan tahunan perseroan sebagaimana pokok-pokoknya telah disampaikan oleh Direksi Perseroan dan telah ditelaah oleh dewan komisaris perseroan mengenaikeadaan dan jalannya perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013.

2.a.Menyetujui dan mengesahkan laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik Tjiendradjaja & Handoko Tomo dengan pendapat wajar tanpa pengecualian sebagaimana tertera dari laporannya no.2014/T2/03.28.04 tanggal 28 Maret 2014.

b.Memberikan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya kepada direksi dan dewan komisaris atas tindakan pengurusan dan pengawasan yang mereka lakukan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 (Acquit et de charge) sepanjang tindakan-tindakan mereka tersebut tercermin dalam laporan tahunan dan laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 dan tidak bertentengan dengan peraturan perundang-undangan.

Agenda Kedua:

1.Menetapkan bahwa sehubungan dengan rugi yang dialami perseroan maka untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 ini perseroan tidak dapat membagikan dividen kepada seluruh pemegang saham perseroan.

2.memberikan kuasa dan wewenang kepada direksi perseroan untuk melakukan segala tindakan yang di perlukan sehubungan dengan keputusan tersebut.

Agenda Ketiga:

Menyetujui dan memberikan kuasa serta wewenang kepada dewan komisaris perseroan untuk melakukan penunjukkan akuntan publik untuk mengaudit laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2014 dan/atau untuk periode tertentu sepanjang tahun 2014, serta memberikan kuasa dan wewenang kepada direksi perseroan untuk menetapkan jumlah honorarium akuntan publik serta persyaratan lanin penunjukkannya.

Agenda Keempat:

1.Mengangkat dan menetapkan kembali susunan anggota dewan komisaris dan direksi perseroan sebagaimana diuraikan di bawag ini, dengan masa jabatan terhitung sejak ditutupnya rapat ini, adalah sebagai berikut:

Dewan Komisaris

Kusuma A.Martoredjo : Presiden Komisaris dan Komisaris Independen
Suryo B. Sulisto : Komisaris Independen
Iman Taufik : Komisaris Independen
Fuad Hasan Masyhur : Komisaris Independen
Nalinkant A.Rathod : Komisaris
Anton Setianto Soedarsono : Komisaris
Sulaiman Zuhdi Pane : Komisaris

Direksi

Saptari Hoedaja : Presiden Direktur
Andrew C.Beckham : Direktur
Dileep Srivastava : Direktur Independen
Kenneth P.Farrell : Direktur
Eddie J.Subari : Direktur
R.A.Sri Dharmayanti : Direktur

2.Memberikan wewenang dan kuasa penuh dengan hak substitusi kepada direksi perseroan baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan berkaitan dengan keputusan-keputusan sebagaimana diambil dan/atau diputuskan dalam rapat ini, termasuk tetapi tidak terbatas untuk menyatakan pengangkatan anggota dewan komisaris dan direksi perseroan ini dalam akta notaris dan mendaftarkan susunan dewan komisaris dan direksi perseroan sebagaimana disebutkan di atas dalam daftar perseroan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

3.Menyetujui pemberian kewenangan kepada dewan komisaris perseroan untuk menentukan gaji, uang jasa dan tunjangan lainnya (bila ada) serta pembagian tugas dan wewenang setiap anggota direksi.

4.Menyetujui pemberian kewenangan kepada direksi bersama-sama dewan komisaris untuk menentukan uang jasa dan tunjangan lainnya (Bila ada) serta pembagian tugas dan wewenang setiap anggota direksi.

RapatUmum Pemegang Saham Luar Biasa:

1. Menyetujui rencana perseroan untuk melakukan penawaran umum terbatas IV kepada para pemegang saham dalam rangka penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu sesuai dengan peraturan bapepam no.IX.D.1 (“PUT IV”) dengan jumlah sebanyak-banyaknya 32.198.770.000 saham biasa atas nama seri B dengan nilai nominal Rp.100,- setiap saham yang di tawarkan dengan harga Rp.250,- per saham sehingga seluruhnya bernilai sebanyak-banyaknya Rp.8.049.692.500.000,- termasuk perubahan struktur permodalan sehubungan dengan PUT IV.

2.Menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan dengan persetujuan dewan komisaris perseroan untuk mengeluarkan saham-saham baru perseroan dalam rangka pelaksanaan PUT IV.

3.Menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan sehubungan dengan pelaksanaan PUT IV tersebut sesuai ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tanpa ada yang dikecualikan.
Sumber : IPS RESEARCH

DETIK Jakarta -Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang digelar pukul 20.00 WIB malam ini membuahkan hasil persetujuan rencana penerbitan saham baru atau rights issue untuk membayar utang. RUPSLB ini sempat ramai.

Salah satu pemegang saham bernama M. Saladdin menyebutkan, suasana RUPSLB yang dilakukan tertutup selama 45 menit ini berlangsung cukup tegang. Lantaran sebagian pemegang saham mempertanyakan alasan BUMI menerbitkan saham baru seri B untuk menutup utang.

Keberatan pemegang saham tersebut dilakukan dengan aksi walk out (WO) alias ‘angkat kaki’ dari ruang rapat.

“Tadi sempat ramai. Ada yang tanya terbitikan saham baru masa untuk bayar utang saja? Mereka ngotot dan bikin ramai. Akhirnya ada yang WO (walk out/meninggalkan ruang rapat),” tutur Saladin usai menghadiri RUPSLB yang digelar di Hotel Gran Melia, Jakarta, Senin (30/6/2014).

Saladin mengaku pasrah menerima keputusan tersebut, karena memang tidak ada jalan lain bagi BUMI untuk melunasi utang-utangnya.

“Memang buat bayar utang, ya bagaimana lagi. Apalagi memang harga batu bara lagi rendah cuma US$ 70 dari awalnya US$ 85 per ton,” tuturnya.

Sebelumnya disebutkan, dana hasil rights issue ini akan digunakan untuk membayar utang. Perusahaan akan fokus kepada pemangkasan utang tahun ini, terutama pembayaran utang pokok kepada China Investment Corp (CIC) yang nilainya mencapai US $1,3 miliar.
Utang tersebut diperoleh melalui Country Forest Limited (CFL) pada 18 September 2009. Pinjaman yang tersisa sebesar US$ 1,3 miliar, dari jumlah itu, US$ 600 juta di antaranya akan jatuh tempo 18 September tahun ini. Sedangkan US$ 700 juta sisanya harus dilunasi sebelum 18 September 2015.

Utang lainnya yang akan dilunasi perseroan adalah ke Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$ 150 juta. Pinjaman ini diperoleh pada 14 November 2013.

Utang ketiga yang akan dibayar sebesar US$ 225 juta untuk membayar sebagian guaranteed convertible bond due 2014 serta beberapa fasilitas utang BUMI kepada para kreditur lain. Surat utang tadi diterbitkan pada 5 Agustus 2009.

Rabu lalu BUMI hampir saja gagal bayar bunga obligasi senilai US$ 18 juta yang masuk tenggat waktu terakhirnya. Namun manajemen berhasil menyelesaikan pembayaran utang tepat di batas terakhir hari pembayaran.

Direktur BUMI Sri Dharmayanti pada kesempatan itu mengatakan, eksekusi hasil keputusan ini rencananya akan dilaksanakan selambat-lambatnya September 2014.

“Harga yang disetujui RUPSLB ini Rp 250 dikalikan dengan 32,2 miliar lembar, jadi sekitar Rp 8,05 triliun,” papar dia.

Dana yang diperoleh dari hasil penerbitan saham baru ini sedianya akan dipergunakan untuk membayar utang perusahaan. Sayang dirinya tak merinci berapa besar utang yang akan dilunasi.

“Saya tidak hafal detilnya, tapi teknisnya masih sama dengan prospektus. Tidak ada perubahan,” kata dia.
Jakarta -Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang merupakan perusahaan tambang grup Bakrie, resmi digelar pukul 20.00 WIB. RUPSLB ini menyetujui rencana penerbitan saham baru atau rights issue.

Direktur BUMI Sri Dharmayanti mengatakan, sebagian besar pemegang saham yang hadir dalam RUPSLB yang digelar di Hotel Gran Melia ini menyetujui rencana tersebut. “Lebih dari 99% setuju usulan kita untuk menerbitkan saham baru,” ujarnya usai menggelar rapat tersebut, Senin (30/6/2014).

Dalam kesempatan yang sama, Komisaris BUMI Anton Setianto Soedarsono menjelaskan, dengan persetujuan ini, maka perusahaan dapat menjalankan rencana perusahaan untuk menerbitkan saham baru yang ditargetkan dapat menggalang dana segar dari publik hingga sebesar Rp 8,05 triliun.

Dana hasil rights issue ini akan digunakan untuk membayar utang. Perusahaan akan fokus kepada pemangkasan utang tahun ini, terutama pembayaran utang pokok kepada China Investment Corp (CIC) yang nilainya mencapai US $1,3 miliar.

Utang tersebut diperoleh melalui Country Forest Limited (CFL) pada 18 September 2009. Pinjaman yang tersisa sebesar US$ 1,3 miliar, dari jumlah itu, US$ 600 juta di antaranya akan jatuh tempo 18 September tahun ini. Sedangkan US$ 700 juta sisanya harus dilunasi sebelum 18 September 2015.

Utang lainnya yang akan dilunasi perseroan adalah ke Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$ 150 juta. Pinjaman ini diperoleh pada 14 November 2013.

Utang ketiga yang akan dibayar sebesar US$ 225 juta untuk membayar sebagian guaranteed convertible bond due 2014 serta beberapa fasilitas utang BUMI kepada para kreditur lain. Surat utang tadi diterbitkan pada 5 Agustus 2009.

Rabu lalu BUMI hampir saja gagal bayar bunga obligasi senilai US$ 18 juta yang masuk tenggat waktu terakhirnya. Namun manajemen berhasil menyelesaikan pembayaran utang tepat di batas terakhir hari pembayaran.

Terkait rights issue, Sri mengatakan, eksekusi hasil keputusan ini rencananya akan dilaksanakan selambat-lambatnya September 2014.

“Harga yang disetujui RUPSLB ini

Rp 250 dikalikan dengan 32,2 miliar lembar, jadi sekitar Rp 8,05 triliun

,” papar dia.

Dana yang diperoleh dari hasil penerbitan saham baru ini sedianya akan dipergunakan untuk membayar utang perusahaan. Sayang dirinya tak merinci berapa besar utang yang akan dilunasi.

“Saya tidak hafal detilnya, tapi teknisnya masih sama dengan prospektus. Tidak ada perubahan,” kata dia.

 

Bp6LzoUCEAAytSN.jpg large

Agustus 30, 2017

mo CIUS MAEN SAHAm, pake CARA gw d (2): RAK$A$A v wong c1l1k …TX EJ!!!

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:12 am

Edy Joenardi oleh SWA DIGELENG-GELENG KEPALAin @5T dengan modal cuma 62 jt

MENJADI MISKIN kok diajak

MENJADI SERAKAH, kok mengada-ada

BUDAYA SESAT: uang DISALAHARTIKAN

 

per tgl 01 Februari 2017, gw itung2 apa imbal hasil (gain%) dari BERBURU SAHAM BUMI sejak 17 Januari 2017… gw sebenernya dah punya sedikit saham bumi sejak kapan-kapan (bahkan pada saat berharga gocap)… namun karna tren harga saham bumi bergerak kuat kembali sejak sekira November 2016, maka gw berusaha mulai mengejar lage, apalage harganya relatif terjangkau (gw ga tau Lo Kheng Hong dah mulai duluan beli @ Rp 50) … nah gw malah mulai beli sejak sekira Rp 420 (17 Januari 2017), ekh persentase laba gw + 4K% bo :

fldtn-bumi-jan-2017

ets-small

JAKARTA kontan. Sepanjang perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini (24/1), harga saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) boleh dibilang terus menerus mengalami kenaikan. Sejak dibuka pada harga Rp 450 per saham, tak sekali pun harga BUMI turun ke bawah harga pembukaan.

Ketika perdagangan ditutup, harga BUMI sudah bertengger di Rp 480 per saham.

Sampai perdagangan usai, kebanyakan pemilik saham BUMI masih menjajagi peruntungan dengan menawarkan sahamnya pada harga Rp 490 per saham. Sebaliknya, sebagian besar peminat BUMI cuma berani memasang harga permintaan di Rp 474-Rp 478 per saham.

Sebagian besar transaksi saham BUMI terjadi di harga Rp 470 per saham dan Rp 480 per saham, baik dilihat dari frekuensi transaksi maupun volume. Hari ini investor asing mencatatkan net sell saham BUMI hingga 18,83 miliar saham.

Dengan kinerja hari ini, berarti selama seminggu terakhir harga BUMI naik sebesar 14%. Jika dihitung sejak awal tahun, harga saham tambang batubara ini sudah melompat setinggi 76,47%. Adapun dibandingkan dengan kondisi setahun lalu, sampai hari ini harga BUMI sudah terbang hingga 860%.

Setinggi apa saham BUMI akan terbang? Hanya market yang tahu.

whispering

MASALAH UTAMA KITA: PERTUMBUHAN EKONOMI bukan RUPIAH

BERTRADING saat GENT1NG, saat KRISIS DUN1A
pasar PANIK 070815 ketidakpastian THE FED FUND RATE

 

 

+160 REBU PERSEN in LABA @WIKA in 8 MONTHS only 🙂 … well, cius, gw BERTERIMAKASIH PADA EDI DJOENARDI (Edy Joenardi/EJ) yang MENGINSPIRASI gw BAHWA INVES ITU MESTI + TRAD1NG juga, dan MEM1LIH SAHAM YANG BAGUS sesuai MASAnya

+160 REBU PERSEN in LABA @WIKA in 8 MONTHS only 🙂 … well, cius, gw BERTERIMAKASIH PADA EDI DJOENARDI (Edy Joenardi/EJ) yang MENGINSPIRASI gw BAHWA INVES ITU MESTI + TRAD1NG juga, dan MEM1LIH SAHAM YANG BAGUS sesuai MASAnya

NEH TEORI INVES+TRADING SAHAM ala EDY JOENARDI yang gw PAHAMI sebagai TEROBOSAN PENTING SEKALE dalam MAEN SAHAM NEH TEORI INVES+TRADING SAHAM ala EDY JOENARDI yang gw PAHAMI sebagai TEROBOSAN PENTING SEKALE dalam MAEN SAHAM
bobo@saham 030315MAEN SAHAM SEMI-RUTIN, yaitu PANTAU SEMUA INFO TERKAIT SAHAM-SAHAM gw, DAN TETAP BISA JALAN-JALAN bareng kawan2, URUS KELUARGA, INVES PRODUK-PRODUK YANG LAEN (termasuk properti)… dan tentu aza BERBAGI LEWAT MEDIA SOSIAL neh
BACAAN gw SOAL NA$1B Rupiah KITA

AHOK, gw GA MAU JADI GUBERNUR DKI, cukup KALO ELO DENGARKAN USUL gw YANG UDA LAMA gw AJUKAN, yaitu JADIKAN JAKARTA KOTA DI BAWAH AIR

tren ihsg jelang OVER-BULLISHNESS, para analis bursa malah berekspektasi BEARISHNESS, well, gw maseh meliat ekspektasi bull jangka pendek seh 🙂
gw makin sulit memastikan ihsg k 5500 neh, karena 5457 itu RESISTENSI TERKUAT SEPANJANG SEJARAH ihsg

HARGA M1NYAK REBOUND, tren harga energi IKUTAN, biasanyAAAAA 🙂

teknikal Money Flow Index sudah semakin DEKAT 90an, berarti akselerasi tren ihsg akan menuju 5500, 5600, n 6K pada 2015, well, let’s see 🙂
tren IHSG jauh di atas TREN 2 EKONOMI MAKRO KITA YANG PALING PENTING
IHSG 6K bo…
TAKUT MENJADI INVESTOR, well, gw uda BUKTIKAN INVESTASI KEUANGAN ITU MENGUNTUNGKAN
… per tgl 14 Januari 2015, harga saham bumi melesat +33% TERHADAP AVG (RERATA HARGA BELI) saham bumi @ warteg saham gw neh :
fldtt @bumi REBOUND+33% 140115
RESOLUSI MAEN SAHAM 2015

ADU EKSPEKTASI : MANDIRI SEKURITAS v WARTEG saham gw @ IHSG akhir 2014
INDIKASI potential gain% @ warteg saham gw + 25% dalam 2 minggu, pasca kenaekan bbm

$81 Miliar digelontorkan pemerintah Tiongkok menstimuli perbankan mereka, well, ekspektasi gw : 7K @ ihsg dalam setidaknya 2 taon lage… 🙂

per tgl 02 Januari 2015, harga saham bumi @ 85, well, pas dengan AVG / rerata harga beli saham bumi yang gw usahakan … jadi begitu lah, FLDTT terbukti lage ya :

FLDTT BUMI 020115 @85
susp bumi dibuka n anjlok 071014 @166

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia membuka gembok saham PT Bumi Resources TBk (BUMI). Saham milik grup Bakrie ini merosot setelah boleh diperdagangkan kembali pagi ini, Selasa (7/10).

Mengutip Bloomberg, saham BUMI berada di Rp 169 pada pukul 10.16 WIB. Harga tersebut merosot 21 poin atau 11% dari harga terakhir Rp 190 per saham, yang tercatat 24 September lalu.

BEI melepas gembok saham BUMI setelah emiten investasi tambang batubara itu menggelar public expose insidentil kemarin. Dalam kesempatan itu, BUMI mengumumkan, penyerapan rights issue sekitar Rp 3,61 triliun atau hanya 45% dari target awalnya Rp 8 triliun.

Manajemen BUMI juga mengungkapkan niatnya menggali ladang minyak Gallo Oil dan mencari pendanaan US$ 50 juta untuk proyek minyak ini. Tak hanya itu, BUMI juga mengatakan ingin membiayai kembali (refinancing) utangnya sebesar US$ 275 juta.

http://investasi.kontan.co.id/news/gembok-dibuka-saham-bumi-merosot-11
Sumber : KONTAN.CO.ID

JAKARTA. Menjelang rights issue, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melonjak hingga 14,7%. Bahkan, saham perusahaan batubara milik Grup Bakrie ini menjadi salah satu yang menduduki top gainer hari ini.

Saham BUMI ada di posisi ke dua yang mengalami peningkatan harga paling tinggi pada perdagangan Jumat (27/6). Saham BUMI melonjak dari Rp 150 per saham menjadi Rp 172 per saham.

per tgl 30 Juni 2014 sbb:

FLDTT BUMI 300614 @179

 

per tgl 27 Juni 2014 sbb:
FLDTT BUMI 270614 @172+3% pasca gw terapkan F(okus)L(aba)D(dalam)T(ren)T(urun) @ tren harga saham bumi yang AMBLES jelang RIGHTissue
Senin lalu (23/6) BUMI berada di Rp 131 per saham, harga terendahnya selama tahun ini. Jika dihitung sejak awal pekan, saham BUMI melompat 31,3%.

BUMI berencana melepas 32,19 miliar saham seri B. Nilai per saham dibanderol Rp 250 per saham. Dengan demikian, total dana hasil rights issue ini mencapai Rp 8,04 triliun. Angka ini lebih besar dari rencana semula yang sebanyak 25,17 miliar saham di harga yang sama.

Sehingga dana yang kana dihimpun ketika itu sekitar Rp 6,5 triliun. Jika mendapat izin efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Senin (30/6) mendatang.
Editor: Sanny Cicilia

…neh gw share lage TREN BULLISH JANGKA MENENGAH @ harga saham ELSA, serta ekspektasi dari 400 ke 500 lalu ke 600 : quo vadis elsa, gw mo tambah volume @harga saham elsa guna mengejar ekspektasi yang positif @ tren jangka menengah harga saham elsa
TRIPLE DIGIT POTENTIAL GAIN% @harga saham ELSA, uda gw RAUP, malah tambah volume n potential gain% @ 2 online trading yang gw jalani juga 🙂

TRIPLE DIGIT POTENTIAL GAIN% @harga saham ELSA, uda gw RAUP, malah tambah volume n potential gain% @ 2 online trading yang gw jalani juga 🙂

BELAJAR INVESTASI DARI ORANG SUPERKAYA AMRIK, juragan investor TULEN 🙂

BELAJAR INVESTASI DARI ORANG SUPERKAYA AMRIK, juragan investor TULEN 🙂

sejak sekira 1 taon (Januari 2013)gw BOBO INVES @harga saham elsa, n per tgl 07 Januari 2014 telah +107% 🙂
… gw amati bahwa per tgl 25 Oktober 2013, harga saham elsa telah memberikan +63%, ekh, kebetulan sekira September 2013 gw uda lebe dulu mulai inves lage @ warteg yang laen (warung tegar saham gw juga) @0T B n per tgl 07 Januari 2013: +30% … coba baca2 posting2nya terkait tren harga saham tersebut ya … bwat belajar lah 🙂

… inves @elsa maseh berlanjut neh:
nah berikut gw kasi link untuk baca posting gw soal tren harga saham elsa yang naek +111% dalam lebe dari 1 taon @warteg KBSU: cek sendiri +111% nya ya 🙂

Agustus 29, 2017

mo CUS maen saham ala warteg saham gw (cari UNTUNG sesaat)

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 2:21 am

inves + trading cara maen saham @ warteg (EXCEL FILE)

ikon gejolak

rose KECIL

Berapa sih BOTTOMnya IHSG secara teknikal, per November 2016…

saat IHSG rontok dari 5470 k 5231, aye SUKSES mengendalikan LABA saham2 gw, termasuk BUMI lah 🙂

INI ALASAN UTAMA Sri Mulyani KEMBALI menjadi MENKEU

Setengah TAON (Des 2015-Juli 2016) yang SUKSES @ warteg saham gw

2016: evaluasi imbal hasil @ warteg saham gw, DOUBLE DIGIT PERCENTAGES HIKE (JAN-JUN 2016), bo, 🙂

dollar small

imbal hasil INVESTASI REKSA DANA gw SEJAK 2002, 2003, 2005, n 2007 SUKSES menundukkan BUNGA MAJEMUK DEPOSITO BANK

long jump iconTREN HARGA SAHAM PROPERTI yang bisa + double digit percentages 2016 ini

cari untung sesaat SAAT KETIDAKPASTIAN 2015

15 hari inves @ harga saham ELSA @+75% GAIN

Edy Joenardi c1u$ maen saham BUMI RESOURCES dari 62 jt k 5 T

elnusa, ELSA tuh mampu MEMBERI UNTUNG dalam JANGKA WAKTU PENDEK (CUS)

INDY, saham yang sedang DIGORENG-goreng NEh

UNILEVER, unvr, memberi setidaknya 2 kali DIVIDEN / taon, itu SEBABNYA selalu TERJADI KENAEKAN harga saham pada AWAL TAON sejak 2010 (dibanding AWAL taon sebelumnya)

opt1m1$me TIDAK ADA PADA SAHAM-SAham bakrie et al, bumi apalagi…

pasca krisis 2008, tren harga saham kita ADA YANG + 1000% LEBE

MENJADI SERAKAH, kok mengada-ada

per tgl 04 April 2017, analisis teknikal sederhana ala warteg gw menunjukkan bahwa ekspektasi harga saham bumi balek k 500 lage, mungkin akan terjadi pada 2017 ini:

bumi 410_040417_tren

 

dalam menghadapi KETIDAKPASTIAN investasi saham, yang pasti gw tenang aza 🙂

bentuk ketenangan gw berimbas @ strategi maen saham gw

nah, salah satunya dalam MENGHADAPI VOLATILITAS KETIDAKPASTIAN HARGA SAHAM GORENGAN, sbb:

gw pernah maen saham GORENGAN kok, BERLABA bo 🙂

 

+14K% @ tren kenaekan LABA maen saham UNVR ala warteg saham gw (2010-2017)

Jakarta detik – Saham-saham Grup Bakrie mulai ‘bangkit dari kubur’. Namun dari sembilan perusahan Grup Bakrie yang tercatat di pasar modal, dua di antaranya masih menjadi saham tidur di level Rp 50 alias gocap.

Kedua emiten tersebut yakni PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Padahal, tujuh saham Bakrie lainnya sudah lama meninggalkan zona ‘gocap’ dan menjadi saham ‘zombie’ yang bergerak liar.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang menunjukan penguatan paling tinggi, pada ada 10 Juni 2016 saham BUMI mulai merangkak naik dan ditutup di level Rp 67 per saham. Sejak saat itu saham BUMI terus melejit hingga posisi Rp 505 pada 27 Januari 2017.

Lonjakan saham BUMI ini disusul penguatan saham-saham Grup Bakrie lainnya. Saham apa saja yang ikut naik tinggi?

Baca juga: Pergerakan Saham ‘Zombie’ Grup Bakrie yang Tak Lagi Gocap

Menurut Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada, saham BNBR dan BTEL tak ikut terkerek naik lantara keduanya tak terpengaruh atas sentimen positif dari rencana BUMI yang ingin melakukan restrukturisasi utang.

Pada RUPS BUMI beberapa hari yang lalu, sebanyak 99,96% pemegang saham sepakat atas rencana tersebut. Harga pelaksanaan rights issue dipatok pada level Rp 926, sehingga maksimal dana yang akan diraih lewat HMETD sebesat Rp 35,1 triliun.

Lewat rights issue tersebut, maka jumlah utang yang akan dikonversi melalui penerbitan saham baru atau rights issue sebesar US$ 2,01 miliar. Sementara untuk konversi melalui OWK senilai US$ 639 juta.

“Sentimen yang ini lebih menyasar ke emiten Bakrie yang komoditas dulu. Kebetulan harga komoditas banyak pihak memperkirakan akan naik,” terangnya saat dihubungi detikFinance, Kamis (9/2/2017).

Menurutnya untuk BTEL yang bergerak di sektor telekomunikasi tak terpengaruh juga lantaran tidak ada sentimen positif dari sektor tersebut.

“Sedangkan BNBR hanya sebagai holding, pasar tidak melihat holding-nya,” tambahnya.

Sementara menurut Analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee, saham BNBR berpotensi untuk ikut bergerak. Namun masih menunggu waktu. Sebab, para pelaku pasar yang masuk ke saham BUMI akan melakukan profit taking dan masuk ke saham Bakrie lainnya dengan harapan akan ikut terkerek naik.

“BTEL punya masih punya masalah dan karena sentimennya tidak begitu bagus. Kalau BNBR menunggu waktu untuk bergerak, karena dia holding,” tuturnya. (ang/ang)

ets-small

JAKARTA kontan. Menyambut Tahun Ayam Api, investor yang mendekap saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memperoleh angpao besar. Maklum, dalam tujuh bulan terakhir, harga saham BUMI naik hingga lebih dari 10 kali lipat.

Setelah terus-terusan reli, harga saham BUMI akhirnya menembus posisi Rp 500 per saham. Pada perdagangan hari ini, Jumat (27/1), harga saham BUMI ditutup di posisi Rp 505 per saham. Dengan begitu, saham BUMI kini memasuki kelompok harga saham Rp 500-Rp 2.000 per saham dengan fraksi harga Rp 5 per saham.

Bukan cuma harga yang naik tinggi. Transaksi saham BUMI juga meningkat drastis. Saban hari, nilai transaksi perdagangan saham BUMI mencapai ratusan miliar rupiah. Dihitung selama sebulan terakhir, nilai transaksi perdagangan saham BUMI mencapai Rp 8,1 triliun. Tidak salah jika pelaku pasar menyebut saham BUMI kembali menyandang julukan saham sejuta umat.

Padahal, sejak Juli 2015 hingga Juni 2016, harga saham BUMI tiarap di harga Rp 50 per saham. Malah, di pasar negosiasi, saham bumi diperdagangkan dengan harga di bawah 50 perak. Perdagangan saham BUMI juga sepi sejak harganya terdampar di Rp 50 per saham. Dalam sehari, nilai trasaksi perdagangan saham BUMI hanya ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah.

Jauh-jauh hari sebelum anjlok di titik terendah, BUMI memang menjadi saham sejuta umat lantaran peminat bejibun. Transaksi perdagangan saham BUMI tak pernah sepi. Sebelum merosot, harga saham BUMI pada lima tahun lalu masih di kisaran Rp 2.500 per saham.

Tentu, saham BUMI tidak anjlok begitu saja menjadi gocap tanpa alasan. Isu paling utama pada saat itu adalah beban utang yang begitu besar hingga membikin perusahaan kesulitan untuk membayar. Ditambah lagi, harga batubara dunia terus menurun  hingga mencapai titik terendah di kisaran US$ 41 per metrik ton pada Januari 2016.

Nah, arah angin mulai berbalik arah saat tren harga batubara kembali menguat. Pada saat hampir bersamaan, BUMI berhasil menyelesaikan proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Pada November tahun lalu, para kreditur BUMI telah menyepakati proposal perdamaian berupa konversi utang menjadi saham.

Melalui tukar guling itu, utang komersial BUMI senilai US$ 4,2 miliar akan berkurang menjadi US$ 1,6 miliar. Beban bunga utang BUMI juga akan berkurang lebih dari US$ 250 juta setiap tahun. Yang menarik, konversi utang menjadi saham BUMI akan dilakukan di harga Rp 926,16 per saham.

Dua katalis positif inilah yang mendorong harga saham BUMI naik kencang dan transaksi perdagangan tak pernah sepi dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun, secara fundamental, kinerja keuangan BUMI belum benar-benar membaik.

BUMI baru mulai membukukan keuntungan pada September 2016 lalu. Namun, ekuitas BUMI masih tercatat negatif. Jika dihitung, nilai buku per saham alias book value per share BUMI sebesar minus US$ 0,078.  Tanpa adanya restrukturisasi utang dan kenaikan harga batubara, barangkali harga saham BUMI masih anteng di Rp 50 per saham. Transaksi perdagangan juga tak seramai sekarang.

Bisa jadi, tak banyak orang menyangka harga saham BUMI bisa kembali naik hingga mencapai Rp 500 per saham. Hanya sedikit investor yang berani membeli saham BUMI saat harganya masih Rp 50 per saham.

Mereka yang mengakumulasi saham BUMI di harga Rp 50 per saham tentu mendapat angpao dalam jumlah besar dari BUMI. Salah satunya adalah Lo Kheng Hong. Investor kawakan yang populer dijuluki Warren Buffet Indonesia ini mengaku mengoleksi saham BUMI di harga Rp 50 per saham dalam jumlah banyak.

Tentu, menjadi pertanyaan mengapa pria yang akrab disapa LKH ini mau mengakumulasi saham BUMI saat beban utang begitu besar dan ekuitasnya negatif. Maklum, Lo dikenal sebagai value investor yang selalu membeli saham berdasarkan fundamental emiten.

Lo mengatakan, pemilihan suatu saham tidak hanya berdasarkan pada rasio harga saham terhadap laba bersih per saham (PER) maupun rasio harga saham terhadap nilai buku per saham (PBV).

Dalam pertimbangannya, investor yang bulan depan genap berusia 58 tahun ini  juga melihat berdasarkan nilai wajar perusahaan tersebut. Menurut Lo, BUMImemiliki cadangan batubara yang terbukti sebanyak 3 miliar ton. “Berapa nilainya?” tanya Lo.

Kalau dihitung berdasarkan harga batubara saat ini di kisaran US$ 80 per metrik ton, nilai cadangan batubara BUMI bisa sebesar US$ 240 miliar. Nah, jika kita menghitung secara konservatif dengan asumsi harga rata-rata batubara periode 2015-2016 di kisaran US$ 40 per metrik ton, nilai cadangan batubara BUMImasih sebesar US$ 120 miliar.

Menurut Lo, harga pasar saham BUMI Rp 50 per saham jelas salah harga. Sebab, dengan jumlah saham beredar sebanyak 36,6 miliar, nilai perusahaan BUMI hanya sebesar Rp 1,83 triliun. Dengan asumsi kurs rupiah sebesar  Rp 13.300 per dollar, nilai perusahaan BUMI saat harga sahamnya Rp 50 per saham adalah US$ 137 juta. “Padahal, cadangan batubara BUMI 3 miliar ton. Murah, kan?” kata Lo.

Lalu, berapa sebetulnya nilai perusahaan BUMI? Lo memberikan rumus harga wajar BUMI, yakni harga batubara dikurangi ongkos produksi lalu dikurangi lagi royalti ke pemerintah. Hasilnya perhitungan tersebut dikalikan dengan cadangan batubara yang BUMI miliki lalu dikurangi utang perusahaan. “Ini perhitungan fundamental,” ujar Lo.

Berdasarkan keterangan manajemen BUMI, Lo bilang, nilai wajar BUMI adalah US$ 4,6 miliar. Karena itulah, harga saham BUMI Rp 50 per saham merupakan kesalahan pasar dalam menghargai nilai perusahaan BUMI. Makanya, “Sebagai seorang value investor, saya harus membelinya,” ujar Lo.

Sayang Lo enggan menyebutkan jumlah pasti kepemilikan saham BUMI.  Dia hanya mengatakan, kemungkinan ia memiliki saham BUMI terbesar kedua setelah Bakrie. Yang jelas, Lo dan juga investor saham BUMI lainnya memperoleh angpao besar di Tahun Baru Imlek kali ini.

 

 

Oktober 27, 2016

TIMBUNAN DO$A bumi … 081214_271016

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:47 am

belajar MEMAHAMI FLDTT lage neh :), + bukti2nya

gifi

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengajukan permohonan untuk penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Permohonan tersebut dilakukan secara suka rela kepada Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Rabu 26 Oktober 2016.

Perseroan mengumumkan bahwa, permohonan PKPU tersebut telah disetujui oleh Majelis Hakim pada tanggal 27 Oktober 2016. Adapun total obligasi yang harus dibayarkan oleh perseroan sebesar USD451,05 miliar.

“Berdasarkan perundang-undangan yang berlaku, PKPU sementara Aji Wijaya & Co akan berakhir 21 hari setelah putusan PKPU sementara,” kata Direktur Bumi Resources Dileep Srivastava, dilansir dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Kamis (27/10/2016).

Pengajuan PKPU tersebut diupayakan perseroan guna menjaga agar usaha tersebut bisa tetap beroperasi seperti biasa. Perseroan pun juga telah menjalin negosiasi kepada kreditur yang terkait.

“Skema dan rencana perdamaian yang diajukan oleh Aji Wijaya & Co yang diajukan kepada para kreditor sedang disusun oleh perseroan bersama dengan pengurus yang ditunjuk dan akan dinegosiasikan dengan pad kreditur,” tandasnya.

http://economy.okezone.com/read/2016/10/27/278/1525915/bumi-resources-ajukan-penundaan-bayar-utang
Sumber : OKEZONE.COM

 ets-small

Bisnis.com, JAKARTA – Majelis hakim memberikan batas akhir perpanjangan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) terkait utang Rp54,47 triliun pada hari ini, Sabtu (22/10/2016).

Berkaitan dengan berakhirnya perpanjangan PKPU, Direktur & Corporate Secretary BUMI Dileep Srivastava belum membalas pesan singkat yang dilayangkan Bisnis.com dan belum menjawab panggilan telepon. “Kami menunggu hasil proses PKPU yang masih berlanjut,” kata Dileep saat berbincang dengan Bisnis.com, Rabu (5/10/2016).

Perusahaan yang dimiliki oleh mantan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie itu segera menyerahkan dan membahas revisi proposal perdamaian pada pertengahan Oktober ini. Revisi proposal dilakukan setelah perseroan mengantongi perpanjangan masa restrukturisasi utang.

Debitur telah meminta waktu tiga pekan sejak rapat kreditur terakhir untuk melakukan finalisasi revisi proposal perdamaian. Terakhir kali rapat kreditur dilakukan pada 20 September silam.

Pembahasan dan pemungutan suara bagi proposal perdamaian dapat dilakukan pada medio Oktober. Majelis hakim telah menentukan batas akhir perpanjangan PKPU hingga 22 Oktober 2016.

Sejumlah debitur meminta adanya perubahan skema pembayaran sehubungan dengan membaiknya harga komoditas batu bara‎. Akan tetapi, perubahan tersebut tidak perlu diatur secara spesifik karena debitur sudah memuat skema cash waterflow.

Dalam skema tersebut, nominal pembayaran utang akan mengikuti pendapatan debitur. Jika pendapatan perusahaan meningkat, nominal pembayaran utang juga akan bertambah‎.

Hingga Maret 2016, nyaris seluruh utang BUMI bakal jatuh tempo tahun ini. Pinjaman jangka pendek yang harus dibayarkan tahun ini mencapai US$4,19 miliar setara dengan Rp54,47 triliun.

Liabilitas tersebut terdiri dari pinjaman jangka pendek sebesar US$220,78 juta. Pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo tahun ini mencapai US$3,6 miliar dan obligasi konversi US$374,7 juta.

Secara keseluruhan, total liabilitas BUMI mencapai US$6,48 miliar, naik tipis 2,8% dari akhir tahun lalu US$6,29 miliar. Sisa utang jangka panjang milik BUMI hanya mencapai US$297.281. Lantas, apakah BUMI mampu terbebas dari lilitan utang?

 lol

JAKARTA. Kerugian PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di semester I-2016 menyusut 97,9% year on year (yoy). Total rugi bersih yang dibukukan pada periode tersebut US$ 11,8 juta. Di periode yang sama tahun lalu, BUMI mencetak rugi jumbo, US$ 566,24 juta.

Nilai kerugian BUMI turun lantaran emiten ini mencetak penghasilan lain-lain sebesar US$ 207,6 juta. Menilik laporan keuangan BUMI yang dirilis Rabu (5/10), penghasilan lain-lain ini berasal dari restrukturisasi dalam bentuk penjualan 24% saham Newmont Nusa Tenggara (NNT).

Hingga berita ini diturunkan, Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI, belum merespon pesan singkat dan panggilan telepon dari KONTAN, terutama terkait divestasi Newmont yang sudah dibukukan di laporan keuangan BUMI sejak periode kuartal I-2016.

Sekadar info, perjanjian jual beli saham Newmont baru diteken pada 30 Juni 2016. Kala itu, entitas anak BUMI, PT Multi Daerah Bersaing (MDB) yang memiliki saham di NNT, meneken perjanjian jual beli saham bersyarat dengan PT Amman Mineral International sebagai pembeli.

MDB akan menjual 1,6 juta saham untuk pertimbangan dengan nilai US$ 425 juta. BUMI memiliki saham MDB melalui anaknya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Pada 2009, MDB membeli 24% saham NNT di harga US$ 884,6 juta.

Di sisi lain, pendapatan BUMI masih turun. Hingga tengah tahun, pendapatan BUMI merosot 40,9% menjadi US$ 12,7 juta. BUMI juga masih mencatatkan beban bunga dan keuangan US$ 241,6 juta.

Dalam jangka waktu satu tahun mendatang, BUMI memiliki kewajiban yang akan jatuh tempo, yang terdiri dari pinjaman jangka panjang sebesar US$ 3,6 miliar. Lalu ada obligasi konversi yang kini masuk dalam kewajiban jangka pendek senilai US$ 374,7 juta.

BUMI sedang menjalani restrukturisasi utang dan penundaan kewajiban pembayaran utang. Sebagian besar utang akan ditukar dengan saham. Total liabilitas BUMI tercatat US$ 6,5 miliar, jauh lebih tinggi dari nilai asetnya. Sehingga ekuitas BUMI negatif.

Total defisiensi modal BUMI per Juni 2016 mencapai US$ 2,9 miliar.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri mengatakan, meski rugi menyusut, bukan berarti BUMI keluar dari masalah. Kinerja BUMI masih terhambat harga komoditas yang belum membaik. “Sebaiknya investor tetap cermat hingga proses restrukturisasi utang tuntas,” ujar Hans.

http://investasi.kontan.co.id/news/newmont-gagal-menutup-rugi-bumi
Sumber : KONTAN.CO.ID

 buttrock

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan perdagangan saham terhadap 14 emiten yang belum menyampaikan Laporan Keuangan Interim per 31 Maret 2016 dan/atau belum melakukan pembayaran denda atas keterlambatan penyampaian Laporan Keuangan kuartal pertama 2016.
Emiten tersebut antara lain PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN, PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Bumi Resources Tbk (BUMI). PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).
PT Global Teleshop Tbk (GLOB), PT Inovisi Infracom Tbk (INVS), PT Capitaline Investment Tbk (MTFN), PT Skybee Tbk (SKYB), PT Permata Prima Sakti Tbk (TKGA), PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO), PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP) dan PT Siwani Makmur Tbk (SIMA). BEI menghentikan sementara perdagangan efek di pasar reguler dan pasar tunai sejak sesi I perdagangan 1 Agustus 2016.
Bursa telah memberikan Peringatan Tertulis III dan tambahan denda sebesar Rp150 juta kepada Perusahaan Tercatat yang terlambat menyampaikan Laporan Keuangan dan pembayaran denda atas keterlambatan penyampaian Laporan Keuangan per 31 Maret 2016.
BEI berwenang melakukan suspensi, apabila mulai hari kalender ke-91 sejak lampaunya batas waktu penyampaian Laporan Keuangan, Perusahaan Tercatat tidak memenuhi kewajiban penyampaian Laporan Keuangan dan atau Perusahaan Tercatat telah menyampaikan Laporan Keuangan namun tidak memenuhi kewajiban untuk membayar denda seperti dalam ketentuan II.6.2. dan II.6.3. Peraturan Pencatatan Nomor I-H: Tentang Sanksi.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2313816/bei-hentikan-perdagangan-saham-14-emiten
Sumber : INILAH.COM

 Emoticons0051

Pengumuman yang kami terima dari Bursa Efek Indonesia mengenai suspen saham BUMI dikarenakan emiten belum menyampaikan Laporan Keuangan Auditan per 31 Desember 2015 dan Bursa telah memberikan Peringatan Tertulis III dan Denda sebesar Rp 150.000.000,- (seratus lima puluh juta Rupiah) kepada Perusahaan Tercatat yang terlambat menyampaikan Laporan Keuangan Auditan per 31 Desember 2015 dan belum melakukan pembayaran denda atas keterlambatan penyampaian Laporan Keuangan dimaksud.

Mengacu pada ketentuan II.6.4 Peraturan Nomor I-H tentang Sansi, Bursa melakukan suspensi apabila mulai hari kalender ke -91 sejak lampaunya batas waktu penyampaian Laporan Keuangan, Perusahaan Tercatat tidak memenuhi kewajiban penyampaian Laporan Keuangan dan atau Perusahaan Tercatat telah menyampaikan Laporan Keuangan namun tidak memenuhi kewajiban untuk membayar denda sebagaimana dimaksud dalam ketentuan II.6.2 dan II.6.3 Peraturan Pencatatan Nomor I-H tentang Sanksi.

 buttrock

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membekukan 18 emiten pada perdagangan Kamis (30/6/2016), karena belum menyampaikan laporan keuangan atau belum membayar denda atas keterlambatan.

P.H. Kepala Penilaian Perusahaan I BEI Adi Pratomo Aryanto mengatakan, otoritas bursa telah memberikan peringatan tertulis III dan denda sebesar Rp 150 juta kepada perusahaan tercatat yang terlambat menyampaikan keuangan auditan per 31 Desember 2015.

Kemudian, surat peringatan juga dilayangkan kepadaemiten yang belum melakukan pembayaran denda atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan dimaksud.

“Mengacu pada ketentuan tentang sanksi, Bursa melakukan suspensi apabila mulai hari kalender ke 91 sejak lampaunya batas waktu penyampaian laporan keuangan, perusahaan tercatat tidak memenuhi kewajiban penyampaian laporan keuangan atau sudah memenuhi namun tidak membayar denda,” tutur Adi, Jakarta, Kamis (30/6/2016).

Adapun emiten yang terkena sanksi akibat belum menyampaian laporan keuangan auditan 2015, yaitu PT Benakat Integra Tbk (BIPI), PT ‎Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).

Sementara emiten yang belum melaporkan keuangan dan belum membayar denda, di antaranya, PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN), PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), PT Buana Listya Tama Tbk (BULL), PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN).

Kemudian, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Global Teleshop Tbk (GLOB), PT Skybee Tbk (SKYB), PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO), PT Inovisi Infracom Tbk (INVS), PT Permata Prima Sakti Tbk (TKGA), PT Garda Tujuh Buana Tbk (GRBO), PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP), dan PT Siwani Makmur Tbk (SIMA).

Sedangkan emiten yang belum membayar denda yakni, ‎PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dan PT Eterindo Wahanatama Tbk (ETWA).

“Bursa melakukan penghentian sementara perdagangan efek di pasar reguler dan pasar tunai sejak sesi i perdagangan hari ini untuk 8 emiten dan memperpanjang suspensi perdagangan efek untuk 10 emiten,” tutur Adi.‎

whispering

TEMPO.CO, Jakarta – Senior analis dari LBP Enterprise, Lucky Bayu Purnomo, mengatakan nama Aburizal Bakrie masih mempengaruhi harga saham perusahaan yang ia miliki. “Nama besar Bakrie berpengaruh 20 persen,” katanya saat dihubungi, Kamis, 4 Desember 2014. (Baca: Awas, Saham Bumi Bisa Masuk Kelompok Gocap)

Faktor lainnya adalah pengaruh kinerja perusahaan. Lucky mengatakan, selama tiga tahun terakhir, saham Bakrie Group sudah tak bergerak dari harga Rp 50 per lembar. (Baca: Gagal Bayar, Saham Bumi Dihindari Investor)

Padahal, kata dia, yang diminati oleh pelaku pasar adalah margin dan dividen yang menarik. Bakrie Group tak mampu menawarkan keduanya. “Jadi tak ada yang bisa diharapkan,” ujarnya.

Saham gocap merupakan istilah yang biasa digunakan di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk saham yang nilainya Rp 50 per lembar. Saham ini biasanya sudah tidak likuid dan jarang sekali bergerak.

Sejumlah perusahaan yang bernaung di bawah bendera Bakrie Group sudah masuk dalam kategori saham gocap ini, di antaranya Bakrie Sumatra Plantation (UNSP), Darma Henwa (DEWA), Bakrieland Development (ELTY), dan Bakrie Brothers (BNBR). Bukan tak mungkin, menurut Lucky, saham perusahaan pertambangan Bakrie, yaitu PT Bumi Resources Tbk, juga masuk dalam kategori saham gocap.

Saat ini Bumi Resources sedang dililit utang dalam jumlah jumbo. Hingga September 2014, jumlah utangnya mencapai US$ 3,73 miliar atau sekitar Rp 44,77 triliun. Utang terbesar berasal dari Country Forest Limited Facility sebesar US$ 1,03 miliar, yang merupakan lembaga keuangan milik China Investment Corporation (CIC).

Direktur Keuangan BUMI Andrew Christopher Beckham mengatakan, pada awalnya, utang kepada CIC mencapai US$ 1,9 miliar dengan tingkat bunga tetap 12 persen. Namun, pada tahun 2013 dan 2014, perseroan telah membayar ‎masing-masing US$ 600 juta. “Tahun depan akan dibayar US$ 700 juta,” kata Andrew saat konferensi pers di Jakarta, Rabu, 26 November 2014.

TRI ARTINING PUTRI

Bisnis.com, JAKARTASetelah menurunkan peringkat obligasi PT Bumi Resources Tbk. senilai US$700 juta yang jatuh tempo pada 2017 menjadi D, Standard & Poors Rating Services kembali melakukan hal yang sama terhadap obligasi Bumi senilai US$300 juta.

Standard & Poors Rating Services (S&P) menurunkan peringkat obligasi dengan jatuh tempo pada 2016 yang dikeluarkan anak usaha BUMI, Bumi Capital Pte. Ltd., itu dari CCC- menjadi D. Sementara itu, peringkat obligasi senilai US$700 juta tidak berubah.

Dalam laporannya yang dirilis Selasa, (2/12/2014), S&P juga menurunkan peringkat Bumi Resources (BUMI) untuk skala Asean dari SD menjadi D.

Kami menurunkan peringkat Bumi Resources menjadi D karena kami tidak yakin perusahaan tersebut akan membayar kewajiban utangnya setidaknya dalam enam bulan, tulis analis kredit S&P Vishal Kulkarni dalam laporan tersebut.

Lepasnya kewajiban BUMI membayar utang selama enam bulan dikarenakan emiten Grup Bakrie tersebut mendapatkan moratorium untuk merestrukturisasi utangnya yang diajukan tiga anak usahanya di Singapura.

Dengan adanya moratorium tersebut, maka kami yakin BUMI tidak akan membayar bunga obligasi senilai US$300 dolar yang masa tenggangnya akan berakhir 10 Desember 2014, katanya.

Kulkarni melanjutkan, pihaknya akan meninjau kembali peringkat tersebut setelah proses restrukturisasi selesai sekaligus mempertimbangkan prospek usaha perseroan.

Editor : Saeno

 

NERACA

Jakarta– Berbagai macam cara di lakukan manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk memulihkan kepercayaan investor sebagai pemegang saham untuk meningkatkan likuiditas, kali ini perseroan fokus mengurangi beban utang dengan cara menjual 50% saham PT Fajar Bumi Sakti (FBS), perusahaan tambang batu bara di Kalimantan Timur.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, disebutkan, sesuai rencana, dana hasil penjualan akan digunakan untuk melunasi utang sebesar US$ 130 juta. Manajemen Bumi Resources mengungkapkan, saham Fajar Bumi akan dialihkan kepada Jainson Holding Hong Kong Limited. Pengalihan saham akan dilakukan melalui Bumi Resources Investment dan Leap Forward Resources Limited.

Dijelaskan, perseroan telah meneken perjanjian jual beli bersyarat (conditional sale and purchase agreement/CSPA). Perjanjian tersebut memiliki long stop date selama enam bulan untuk menyelesaikan proses transaksi. Fajar Bumi tercatat memiliki konsesi seluas 8.250 hektare (ha) ha dengan total cadangan batu bara sebesar 335 juta ton. Perseroan mengelola dua area tambang, yakni Loa Lulung dan Tabang.

Aksi penjualan aset tersebut merupakan bagian dari komitmen perseroan untuk merestrukturisasi utang. Aksi ini juga dilakukan guna mengurangi beban bunga dan memperkuat struktur keuangan perseroan. Saat ini, perusahaan yang dikendalikan keluarga Bakrie itu tengah berkutat membayar utang senilai total US$ 2 miliar. Perseroan pun melakukan sejumlah aksi korporasi guna mendapatkan dana

 

http://www.neraca.co.id/bursa-saham/47829/Lunasi-Utang-BUMI-Jual-Saham-Fajar-Bumi
Sumber : NERACA.CO.ID

JAKARTA kontan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memasang mata dengan seksama terhadap kesulitan yang dialami Grup Bakrie dalam menyelesaikan utang obligasinya. Bahkan, ancaman default kerap menyerang.

“Secara keseluruhan, kami melakukan pengawasan, kalau OJK butuh klarifikasi lebih lanjut, kami akan panggil,” ujar Nurhaida, Kepala bidang Pengawasan Pasar Modal OJK, Jumat (21/11).

Saat ini, lanjut dia, yang terpenting manajemen Grup Bakrie harus melakukan keterbukaan infromasi mengenai kesulitan keuangan yang melanda. Pihaknya selalu mengawasi lebih detil mengenai profil utang Grup Bakrie, sehingga pada saat jatuh tempo atau mendekati default, perseroan sudah menyiapkan langkah penanganan.

Belum lama ini, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melakukan penundaan pembayaran bunga obligasi yang seharusnya dilakukan Oktober 2014.  surat utang yang dimaksud adalah Guaranteed Senior Secured Notes II. Obligasi ini memberikan bunga 10,75% per tahun yang dibayar setiap enam bulan, yaitu pada bulan April dan Oktober.

Nilai pokok obligasi yang diterbitkan pada 30 September 2010 ini sebesar US$ 700 juta. Berarti, bunga yang harusnya dibayar senilai US$ 73,5 juta. Sebelumnya, BUMI terlilit utang bunga obligasi yang diterbitkan Enercoal Resources Pte.Ltd senilai US$ 375 juta. Awalnya, bunga obligasi konvesi ini dibanderol 9,25% per tahun. Adapun, harga konversi ditetapkan Rp 3.366,90 per saham.

Masa berlaku obligasi ini habis pada 5 Agustus 2014. Namun, akhirnya BUMI mendapat restu dari kreditur untuk melakukan restrukturisasi. Bunga obligasi diturunkan menjadi 6% per tahun dan harga konversi turun menjadi hanya Rp 250 per saham. Masa jatuh tempo pun diperpanjang menjadi 7 April 2018.

Sebelum itu, BUMI sempat terancam gagal bayar lantaran tidak bisa membayar bunga obligasi yang harusnya dibayar 12 Mei 2014. Namun, BUMI diberi tenggang waktu hingga 11 Juni 2014 untuk menyelesaikannya. Bunga obligasi ini datang dari surat utang terbitan Bumi Capital Pte. Ltd.

Total nilai pokok obligasi itu mencapai US$ 300 juta dan memiliki bunga 12% per tahun. Selain BUMI, perusahaan Grup Bakrie lain, yakni PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) juag kerap dilanda kesulitaan membayar utang.

Belum lama ini, emiten halo-halo tersebut mendapat gugatan atas permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)  PT Netwave Multi Media. Selain itu, BTEL ttelah menunggak pembayaran cicilan bunga sejak 7 November 2013.

BTEL telah mangkir terhadap kewajiban pembayaran bunga dua kali. Pada 7 November 2013 dan 7 Mei 2014. Posisi pemegang obligasi terbagi dalam dua kubu. Kubu pertama ada steering committee terdiri dari empat kelompok pemegang obligasi.

Steering committee yang dibentuk pada Oktober 2013 merupakan pemegang obligasi yang sepakat adanya reprofiling utang. Kubu ke dua ada pihak pemegang obligasi yang  yang menamakan diri Ad Hoc Committee.

Mereka menempuh jalur hukum karena yakin BTEL akan tetap mangkir membayar. Mereka memasukkan gugatan ke pengadilan New York pada 22 September lalu.

Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menyiapkan untuk melepas aset guna mendapat dana segar. Kali ini, aset yang akan dijual adalah PT Fajar Bumi Sakti (FBS).

Dileep Srivastava, Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, pihaknya telah meneken perjanjian jual beli saham bersyarat (CSPA) dengan Jainson Holding Hong Kong Limited atas 50% saham FBS.

CSPA dilakukan melalui kendaraan investasi BUMI, yakni Bumi Resources Investment dan Leap Forward Resources Limited. CSPA ini memiliiki batas akhir pemenuhan syarat transaksi selama enam bulan. Hal ini termasuk hasil uji tuntas (due diligence) dan pemenuhan kriteria dari aspek legal.

“Hasil penjualan transaksi ini diharapkan diharapkan bisa mengurangi utang perusahaan sebesar US$ 130 juta,” ujar Dileep dalam pernyataan resminya.

Editor: Sanny Cicilia

 

Jakarta detik -PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih mencari cara untuk melunasi utang-utangnya. Berbagai cara sudah dilakukan, mulai dari refinancing sampai menerbitkan saham baru.

Sebenarnya berapa jumlah utang salah satu perusahaan Grup Bakrie itu? Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava menyampaikan rinciannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah dikabarkan kembali telat membayar bunga salah satu utangnya.

Dalam laporannya yang dikutip detikFinance, Kamis (16/10/2014), total utang yang tercatat mencapai US$ 3,161 miliar atau jika dikalikan kurs dolar AS sebesar Rp 12.000 maka utangnya sebesar Rp 37,932 triliun.

Mengenai status pelunasan semua utang ini, perusahaan mengaku sudah mengirimkan proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien. Perseroan juga sedang dalam pembicaraan dengan para kreditur.

Berikut ini rincian utangnya:
– Country Forest Limited 2009
Fasilitas Commitment B senilai US$ 337 jatuh tempo 18 September 2014
Fasilitas Commitment C senilai US$ 700 jatuh tempo 18 September 2015

Utang ini sedang dalam proses restrukturisasi. Dengan telah dialihkannya 19% saham KPC atau setara US$ 950 juta jumlah kewajiban perseroan berkurang menjadi US$ 1,037 juta.

Sedangkan sisa utang selanjutnya akan berkurang setelah pengalihan saham BRMS sebesar 42% atau setara US$ 257 juta dan pengalihan saham senilai US$ 150 juta melalui proses rights issue BUMI selesai dilakukan

 

– Guaranted Senior Secured Notes II senilai US$ 700 juta
Jatuh tempo utang ini 6 Oktober 2017. Perseroan akan melunasi pembayaran semi annual coupon dalam masa tenggang (cure period) selama 30 hari.

– Guaranted Senior Secured Notes senilai US$ 300 juta
Jatuh tempo utang ini 10 November 2016.

– Fasilitas Axis Bank Limited 2011 senilai US$ 140 juta
Tanggal akhir jatuh tempo pembayaran pokok pada 4 Agustus 2016. Proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien saat ini sedang dalam pembicaraan dengan kreditur.

– Fasilitas Credit Suisse 2010-2 senilai US$ 117,5 juta
Utang ini jatuh tempo November 2014. Proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien saat ini sedang dalam pembicaraan dengan kreditur.

– Fasilitas Deutsche Bank 2011 senilai US$ 54 juta
Jatuh tempo utang ini November 2014. Proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien saat ini sedang dalam pembicaraan dengan kreditur.

– Fasilitas China Development Bank senilai US$ 600 juta
Utang ini jatuh tempo 6 Februari 2016. Proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien saat ini sedang dalam pembicaraan dengan kreditur.

– Fasilitas UBS AG 201-1 senilai US$ 62,5 juta
Jatuh tempo utang ini 1 April 2015. Proposal terkait pembayaran pokok dan bunga serta tingkat suku bunga yang lebih efisien saat ini sedang dalam pembicaraan dengan kreditur.

– Fasilitas Castleford Investment Holdings Ltd 2013 senilai US$ 150 juta
Jatuh tempo utangnya 14 November 2014. Sudah dilunasi melalui mekanisme Rights Issue

Agustus 16, 2016

maseh kaya lho (10 orang terkaya indon ) … 300510_160816

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 2:39 am

butterfly

Berikut ini daftar sepuluh orang terkaya Indonesia per 14 Agustus 2016.
1.    Keluarga Hartono  US$ 15,4  miliar
2.    Susilo Wonowidjojo US$   5,5 miliar
3.    Anthoni Salim  US$ 5.4  miliar
4.    Eka Tjipta Widjaja  US$   5,3  miliar
5.    Chairul Tanjung  US$ 4,8    miliar
6.    Sri Prakash Lohia US$ 4,7 miliar
7.    Bachtiar Karim US$  3,3  miliar
8.    Bonjamin Setiawan US$ 3 miliar
9.    Mochtar Riady US$  2,2 miliar
10.   Tahir  US$ 2     miliar

Sumber: Forbes, diolah. tempo.com

lol

JAKARTA okezone – Sebagai kepala biro The Wall Street Journal di Jakarta selama lebih lebih dari sepuluh tahun, Rick Borsuk secara luas dipandang sebagai koresponden asing penting di Indonesia. Buku yang turut ditulis oleh istrinya, Nancy Chng, mengingatkan kita mengenai capaian itu.

Karya itu berisi kisah tentang Liem Sioe Liong, dikenal pula dengan nama Sudono Salim, yang pada 1938 merantau dari kampung halamannya di Cina bagian selatan ke Jawa tanpa uang sepeser pun. Dalam waktu kurang dari lima dasawarsa, kelompok usaha Salim Group menjadi konglomerasi bisnis terbesar di Asia Tenggara serta menghasilkan pelbagai barang dan jasa. Jaringan bisnisnya mencakup pabrik pembuatan tepung dan mi terbesar dunia, selain perbankan, petrokimia, agrobisnis, real estate, pengapalan, dan lain-lain.

Kedua pengarang menggambarkan Liem sebagai pria yang memiliki naluri bisnis tajam, kehendak untuk menempuh risiko, dan kemampuan meramalkan tren usaha serta memilih rekan. Ia tak henti bekerja keras dan terhubung dengan banyak pemain usaha etnis Cina di Asia Tenggara. Ia pun dikenal sebagai cukong utama Presiden Suharto. Dengan hati-hati, para penulis buku menghindari stereotip. Mereka menekankan jelasnya kecocokan antara Liem dan Suharto, termasuk kepercayaan dan kepedulian yang terbangun selama berpuluh-puluh tahun. Kedua penulis juga menunjukkan bagaimana Salim Group berhasil selamat dari krisis ekonomi dan politik serius pada 1997-1999 dan, setelah Liem meninggal pada 2012, bagaimana generasi kedua kini meneruskan kemakmuran yang diwariskan ayahnya dalam iklim politik yang sama sekali berbeda dari zaman Suharto.

Bab-bab awal buku menelusuri kebangkitan Liem dari dekade akhir 1930-an hingga pertengahan 1960-an. Kisah ini cukup dikenal luas, namun para penulis buku berhasil mendapatkan materi yang lebih orisinal. Kala itu, hubungan pokok Liem terpusat pada Suharto, yang kala itu seorang figur penting tentara pada periode revolusi fisik 1940-an. Liem bersimpati dengan gerakan merebut kemerdekaan, dan ia menjadi pemasok tepercaya urusan kebutuhan harian Suharto dan pasukannya.

Ketika Suharto naik ke tahta kepresidenan, Liem adalah satu dari sedikit pengusaha yang ia kenal dan percaya. Kekompakan keduanya tidak terpatahkan, hal yang membuat mereka menguasai lanskap usaha Indonesia dalam tiga dasawarsa. Liem mendapatkan prioritas usaha dan izin impor serta akses khusus ke lembaga keuangan milik negara. Sebagai ganti, Suharto meminta dua hal: pembangunan basis industri modern, dan percikan laba, yang kemudian disalurkan ke sejumlah yayasan milik Suharto. Dana itu itu kelak dialokasikan untuk menopang basis politis sang presiden.

Kesepakatan itu berjalan baik. Mereka berhasil selamat dari periode protes anti-Cina, kecaman pedas dari para loyalis Suharto, dan bahkan munculnya kepentingan bisnis anak-anak Suharto mulai pertengahan 1980-an.

Ketika Suharto akhirnya dilengserkan dari kursi presiden pada Mei 1998, dibarengi ambruknya perekonomian Indonesia, semua pihak yang dekat dengannya disinyalir akan tumbang. Liem, saat itu baru menginjak usia awal 80 tahunan, menjadi target utama. Rumahnya dilabrak massa dan ia terpaksa terbang ke Singapura. Sebagian besar imperium bisnis Liem roboh. Namun, Salim Group segera bangkit dengan digawangi Liem dan putranya, Anthony. Kini, kelompok itu kembali menjadi konglomerasi bisnis Indonesia yang unggul dan memiliki beragam usaha. Dalam daftar terbaru orang terkaya Indonesia oleh Forbes, keluarga Salim menduduki peringkat ketiga dengan jumlah kekayaan bersih USD5,9 miliar.

Buku ini ditulis dengan sedemikian rupa sehingga siapapun akan terbetot untuk membacanya. Meski demikian, dengan tebal 600 halaman, kedua pengarang sebetulnya bisa saja meringkas beberapa bagian untuk memperkaya analisis. Contohnya, sebagai negara berpenghasilan menengah-bawah, wajar jika Indonesia tidak mencatat prestasi gemilang dalam indikator korupsi atau kelembagaan dan semacamnya. Namun, terdapat tiga hal yang patut disorot: perekonomiannya tumbuh lebih pesat dari negara lain dalam setengah abad belakangan; peralihan kekuasaan yang berlangsung tiba-tiba namun sukses, dari kekuasaan otoriter ke pemerintahan demokratis pada 1998-99, serta berlanjutnya dominasi usaha etnis minoritas Cina yang jumlahnya mencapai 3 persen dari total penduduk. Perbandingan dengan negara lain yang juga berkembang di bawah dominasi kelompok bisnis seperti Korea Selatan (dengan chaebol) dan Jepang (keiretsu) akan membantu.

Perdebatan pun meruap: apakah figur dunia usaha itu pemburu rente atau kapitalis sejati?

Namun, kesemua itu remeh-temeh. Buku itu adalah sejarah bisnis dan politik dalam bentuk terbaiknya: kajian dengan kedalaman luar biasa. (Oleh Hal Hill)

buttrock

Minggu, 30/05/2010 21:40 WIB
Bos Djarum dan BCA Masih Terkaya se-Indonesia
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Pemilik perusahaan rokok Djarum dan juga BCA, Budi Hartono masih menempati peringkat pertama orang terkaya di Indonesia versi majalah GlobeAsia. Nilai kekayaan Budi Hartono juga meningkat pesat, bersama dengan para milyarder Indonesia lainnya.

Majalah Globe Asia melansir, nilai kekayaan para taipan-taipan tersebut meningkat seiring membaiknya pasar modal dan juga pertumbuhan ekonomi Indonesia setelah sempat terkena dampak krisis.

“Dengan melihat fakta bahwa kekayaan para jutawan tersebut terkunci pada sumber daya alam, maka sekarang ini telah menjadi waktu yang menyenangkan bagi para pebisnis. Dan daftar 150 orang terkaya GlobeAsia membuktikan, kekayaan telah tercipta dengan cepat,” ujar Tanri Abeng, publisher Globe Asia.

Total kekayaan 150 jutawan dalam daftar GlobeAsia mencapai US$ 61,5 miliar pada tahun 2010 ini, atau berarti meningkat 22% dibandingkan tahun 2009. Kenaikan nilai kekayaan itu terutama karena berbagai faktor seperti penguatan nilai tukar rupiah, kenaikan IHSG hingga 60% dan kuatnya harga komoditas.

Berikut daftar 10 orang terkaya Indonesia versi GlobeAsia, seperti dikutip dari siaran persnya, Minggu (30/5/2010).

Budi Hartono US$ 4,8 miliar
Eka Tjipta Wijaya US$ 4 miliar
Anthony Salim US$ 3,6 miliar
Aburizal Bakrie US$ 3 miliar
Martua Sitorus US$ 2,5 miliar
Putra Sampoerna US$ 2,4 miliar
Sukanto Tanato US$ 1,8 miliar
Dato Low Tuck Kwong US$ 1,4 miliar.
Peter Sondakh US$ 1,3 billion
Eddy William Katuari US$ 1,3 billion.

Daftar ini berarti hanya sedikit berbeda dari daftar yang dirilis majalah Forbes akhir 2009 lalu yakni:

R. Budi & Michael Hartono US$ 7 miliar
Martua Sitorus US$ 3 miliar
Susilo Wonowidjojo US$ 2,6 miliar
Aburizal Bakrie US$ 2,5 miliar
Eka Tjipta Widjaja U$S 2,4 miliar
Peter Sondakh US$ 2,1 miliar
Putera Sampoerna US$ 2 miliar
Sukanto Tanoto US$ 1,9 miliar
Anthoni Salim US$ 1,4 miliar
Soegiharto Sosrodjojo US$ 1,2 miliar.

(qom/qom)

bird smallest

The year of super deals

Written by Administrator
Thursday, 27 May 2010 05:57
A roaring stock market and easy access to credit have helped raise the net worth of the country’s super-rich to new highs. This trend will likely continue as the creation of wealth in Indonesia now takes on a new dimension.

A year can make a huge difference in the life of a corporate owner, especially when markets are booming and the economy is growing. Opportunities abound and deal flows pick up as business owners seek ways to expand and unlock value.

Over the past 12 months, a perfect confluence of factors has produced conditions for wealth creation that may be unprecedented. The Indonesian rupiah has strengthened by nearly 10% while the stock market has risen by more than 60% and commodity prices have remained strong.

The Indonesian stock market has been one of the best performers in the region, boosted by strong commodity prices and inflowing foreign funds. The Indonesian Stock Exchange Composite Index (ICI) rose from 1,751 on May 15, 2009, to 2,800 this year. It reached a high of 2,971 at the end of April.

Given that much of Indonesia’s wealth is locked in its natural resources, it has been an exciting time for business owners. As GlobeAsia’s 150 Richest Indonesians list proves, wealth is being created at a rapid pace.

The total net worth of the 150 rose to $61.5 billion this year, a 22% increase over 2009. Wealth was created both from the rising stock market as well as the fast-expanding economy.

“The fundamentals of Indonesia have never looked so good,” notes Rajiv Louis, executive director of investment banking at UBS Indonesia. “There was exuberance for Indonesia in the 1990s but at that time the fundamentals were very different.”

Today’s Indonesia enjoys macro-economic and political stability, strong micro-level corporate growth and healthy balance sheets. Plus, of course, there is a lot of liquidity in the banking sector, which escaped relatively unscathed from the 2008 global financial crisis.

“There is sufficient liquidity around and people are getting good access to money,” says Rajiv. “Interest rates are also no longer prohibitive to prevent people from doing deals.”

As a result, business owners are positioning themselves to take advantage of the conditions. Corporate players such as Aburizal Bakrie and Chairul Tanjung are expanding their businesses at a rapid rate by either borrowing or listing their companies to raise cash as they seek to enlarge their presence in the domestic market.

Bakrie, for example, is looking to raise some $600 million this year by listing Bumi Minerals while Chairul, who owns the Para Group, recently acquired a 40% stake in French retailer Carrefour for between $300 million and $400 million. He funded his acquisition by borrowing from four international heavyweight banks such as Credit Suisse, Citibank, JP Morgan and ING.

Access to funds is key
Chairul is only of the many tycoons who has borrowed heavily to grow his business. In fact, say market analysts and investment banks, the ability to access cheap funds has become a major competitive advantage for Indonesian business owners.

“Access to funding is quite well spread among the top 40 business owners in the country,” says Lin Che Wei, founder of Independent Research Indonesia. “Its an equal playing field but some people are able to borrow more cheaply than others and that makes a big difference.”

He adds that most deals with good rates of return have been snapped up so, looking ahead, an ability to borrow cheaply will determine how profitable an acquisition will be. Business owners who have a good reputation in the market can therefore command much more competitive borrowing rates compared with people who have defaulted on loans in the past.

Apart from just borrowing cheaply, the creation of complex financing structures is also becoming increasingly important. As Indonesia’s capital markets expand, business owners must also become more financially savvy and those who can grasp the complexities will get a head start.

“Capitals markets are now critical to wealth creation and more businesspeople are realizing this,” notes a senior banker. “Today, having a solid business is no longer enough, as you have to know how to unlock the value of your asset.”

He estimates that new listing this year will total $5 billion, raising the market capitalization of the stock market to around $260 billion. “If the index continues to rise, we might see values rising too and wealth growing in tandem.”

Competition for the country’s wealth will only grow keener in the coming years as more business players fight for control over natural resources. Most of the wealth created over the past few years has been in financial services, natural resources and consumer retail. This trend is expected to continue as it plays on Indonesia’s comparative strengths.

“This will be a good year for wealth creation,” says Rajiv from UBS. “But it is too early to tell if it will be stellar.”

Older Posts »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.