Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Mei 24, 2016

mo CUS maen saham ala warteg saham gw (cari UNTUNG sesaat)

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 2:21 am

ikon gejolak

imbal hasil INVESTASI REKSA DANA gw SEJAK 2002, 2003, 2005, n 2007 SUKSES menundukkan BUNGA MAJEMUK DEPOSITO BANK

cari untung sesaat SAAT KETIDAKPASTIAN 2015

15 hari inves @ harga saham ELSA @+75% GAIN

Edy Joenardi c1u$ maen saham BUMI RESOURCES dari 62 jt k 5 T

elnusa, ELSA tuh mampu MEMBERI UNTUNG dalam JANGKA WAKTU PENDEK (CUS)

INDY, saham yang sedang DIGORENG-goreng NEh

UNILEVER, unvr, memberi setidaknya 2 kali DIVIDEN / taon, itu SEBABNYA selalu TERJADI KENAEKAN harga saham pada AWAL TAON sejak 2010 (dibanding AWAL taon sebelumnya)

opt1m1$me TIDAK ADA PADA SAHAM-SAham bakrie et al, bumi apalagi…

April 28, 2016

BAKR13’$ game (11) … 280416

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:54 am

BNBR dapat proyek dari McDermott

MANFAATken MOMENTUM PENUNDAAN KENAEKAN THE FED FUND RATE K 2016 dengan KEBIJAKSANAAN BI RATE DI BAWAH 7%

bird

Bakrie & Brothers Tawarkan 17,45% Saham ke Kreditor
Rabu, 27 April 2016 | 19:46

JAKARTA id – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) akan merestrukturisasi utang senilai Rp 990,69 miliar dengan cara menerbitkan obligasi wajib konversi (OWK). Perusahaan investasi milik keluarga Bakrie tersebut siap menawarkan sebanyak 17,45% saham kepada lima kreditor.

Lima kreditor Bakrie & Brothers tersebut adalah Daley Capital Ltd dengan pokok utang senilai Rp 430,36 miliar, Interventures Capital Ltd senilai Rp 373,75 miliar, Smart Treasure Ltd senilai Rp 90,83 miliar, Harus Capital Ltd senilai US$ 6 juta atau setara Rp 81 miliar, dan PT Maybank Kim Eng Securities senilai Rp 14,73 miliar.

Bakrie & Brothers bersama Daley Capital, Interventures Capital, dan Smart Treasure telah menandatangangi perjanjian utang pada 29-30 Maret. Berdasarkan perjanjian tersebut, ketiga kreditor menyatakan utang lama perseroan telah diselesaikan.

Sementara itu, perseroan melakukan perjanjian penyelesaian dengan Harus Capital dan perjanjian penyelesaian surat sanggup dengan Maybank Kim Eng. Perjanjian diteken pada 31 Maret 2016. “Perseroan akan membayar utang kepada para kreditor melalui penerbitan OWK, dengan nilai sebagaimana telah diuraikan,” ungkap manajeman Bakrie & Brothers dalam pengumuman resmi, Selasa (26/4).

Sesuai rencana, OWK senilai Rp 990,69 miliar akan dikonversi menjadi saham baru sebanyak 19,81 miliar saham dengan harga pelaksanaan Rp 50 per saham. Jangka waktu OWK tersebut lima tahun. Pemegang OWK dapat melakukan konversi atas OWK pada setiap 15 Juni atau 15 Desember setiap tahun. Adapun cara perhitungan formula konversi atas OWK menjadi saham baru, yakni jumlah saham baru sama dengan jumlah utang dibagi harga saham perseroan, yakni Rp 50 per saham.

Setelah rencana transaksi, kepemilikan pemegang saham lama akan mengalami delusi 17,45%. Kepemilikan Credit Suisse AG dalam Bakrie & Brothers akan menjadi 17,84%, dari 21,61%, Mackenzie Cundill Recovery menjadi 7,71% dari 9,34%, Interventures Capital Pte Ltd menjadi 4,24% dari 5,14%, dan masyarakat menjadi 52,76%, dari 63,92%.

Sementara itu, Harus Capital akan memiliki 1,43% saham Bakrie & Brothers, Smart Treasure 1,60%, Daley Capital 7,58%, Interventures Capital 6,58%, dan Maybak Kim Eng 0,26%. Guna memuluskan aksinya, perseroann akan meminta izin kepada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 2 Juni 2016.

Pemilihan OWK

Manajeman Bakrie & Brothers mengaku dengan kondisi keuangan yang tidak sehat, perseroan harus melakukan restrukturisasi terhadap utang yang dimiliki. “Dengan kondisi yang demikian, perseroan tidak mempunyai kemampuan membayar seluruh kewajiban terhadap kreditur, maka harus dilakukan restruktrisasi atas utang-utang dengan cara konversi utang menjadi modal saham,” jelas manajemen.

Per 31 Maret 2016, ekuitas bersih negatif perseroan mencapai Rp 3,8 triliun, modal kerja negatif Rp 9 triliun, dan rasio total utang terhadap total aset 141%. Kinerja yang tidak sehat ini bermula saat perseroan mencatat saldo negatif Rp 27,7 triliun pada 30 Juni 2011. Saldo ini merupakan akumulasi defisit dari dua krisis finansial yang menimpa Indonesia pada 1998 dan 2008.

“Mayoritas defisit ini merupakan akumulasi dari kerugian bersih perusahaan sebesar Rp 16,5 triliun di 2008, Rp 1,7 triliun pada 2009, dan Rp 7,6 triliun pada 2010,” kata manajeman.

Untuk mengeliminasi defisit, perseroan melakukan kuasi-reorganisasi dengan menggunakan laporan keuangan 30 Juni 2010. Di akhir tahun kedua perseroan melaksanakan kuasi reorganisiasi, kinerja keuangan perseroan membaik dengan mencatatkan laba ditahan Rp 497,98 juta.

Namun, pada akhir 2012 terjadi penurunan harga pasar portofolio saham publik, yang dimiliki perseroan dicatat sebagai investasi jangka pendek yang tersedia untuk dijual. Hal ini mengakibatkan terjadi penurunan nilai aset secara signifikan mulai mempengaruhi struktur ekuitas perseroan.

Pada 2013, terjadi penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi Rp 12.189 per dolar AS. Dampaknya, perseroan mengalami kerugian Rp 12,37 triliun. Pada 2015, penurunan nilai tukar rupiah berlanjut menjadi Rp 13.795 per dolar AS. Sehingga, perseroan kembali membukukan kerugian sebesar Rp 1,75 triliun, dan akumulasi kerugian perseroan menjadi Rp 13,82 triliun.

rose KECIL

Jakarta -Saham PT Bumi Resources Tbk (BMRS) akhirnya bergerak setelah sekian lama mati suri. Belakangan ini, saham milik Grup Bakrie ini sesekali bergerak, meski akhirnya kembali stagnan.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip detikFinance, Jumat (1/4/2016), saham tambang Bakrie ini betah bertengger di level Rp 50 alias gocap terhitung sejak 7 Agustus 2015.

Hari ini, saham BRMS bergerak dari level gocap.

Hingga pukul 14.10 waktu JATS, saham BRMS naik 2,00% atau 1 poin ke Rp 51. Saham BRMS sempat menyentuh level tertingginya di Rp 52 dan terendahnya di Rp 50.

Frekuensi saham yang ditransaksikan mencapai 915 kali dengan total volume perdagangan sebanyak 932.965 saham senilai Rp 4,7 miliar.
Tak lama berselang, saham BRMS kembali stagnan di level Rp 50.

Hingga pukul 14.27 waktu JATS, saham BRMS kembali bergerak dan melesat 4,00% atau 1 poin ke Rp 51. Frekuensi saham yang ditransaksikan sebanyak 992 kali, dengan total volume perdagangan sebanyak 1.006.587 saham, senilai Rp 5,1 miliar. Hingga pukul 14.42 waktu JATS, saham BRMS ditransaksikan hingga mencapai Rp 5,3 miliar.

Bergeraknya saham BRMS ini bersamaan dengan isu pengambilalihan PT Newmont Nusa Tenggara oleh pengusaha nasional pemilik PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) Arifin Panigoro.

Emiten berkode saham BRMS tersebut masuk ke Newmont melalui perusahaan patungan yang didirikan bersama PT Daerah Maju Bersaing. Perusahaan patungan yang diberi nama Multi Daerah Bersaing alias MDB ini diketahui memiliki 24% saham Newmont.

(drk/ang)

rose KECIL

Jakarta ID -PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) sepanjang 2015 membukukan penjualan sebesar Rp 2 triliun ditopang komoditas sawit dengan nilai penjualan Rp 1,5 triliun dan karet Rp 500 miliar. Program revitalisasi perkebunan, dan kemampuan produksi kebun inti sawit dan karet menjadi pemicu raihan kinerja tersebut.

Produksi inti dua komoditas itu tetap stabil di tengah pelemahan harga komoditas di pasar global, diskon harga domestik CPO (Crude Palm Oil) akibat kebijakan pungutan CPO Fund US$ 50 per ton untuk mendukung program biodiesel, dan El-Nino yaitu kurangnya curah hujan yang menyebabkan kemarau panjang dan kekeringan.

“Perseroan mengikuti protokol RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) and ISPO(Indonesian Sustainable Palm Oil) yang menjunjung tinggi prinsip ramah lingkungan dan keberlanjutan. Kita mempunyai kebijakan ‘zero-burning’ (tanpa membakar) dalam melakukan kegiatan perkebunan khususnya aktivitas land clearing sehingga tidak ada kebakaran lahan yang berasal dari kebun Bakrie,” kata Direktur Investor Relations UNSP, Andi W. Setianto dalam keterangan tertulisnya, Selasa (29/3).

Menurut Andi, pada tahun 2014 lalu, nilai penjualan UNSP masih tumbuh 27 persen di tengah melemahnya harga komoditas sawit utama yaitu CPO. Tetapi berkat kerja keras, kata Andi, perseroan masih mampu membukukan nilai penjualan sebesar Rp 2 triliun dan laba kotor Rp 514 miliar sepanjang 2015.

“Kami bekerja keras mengatasi kondisi air di kebun akibat kemarau panjang tahun lalu dengan sebaik-baiknya dan berhasil mempertahankan produksi kebun inti sawit dan karet. Optimalisasi produktivitas pabrik, juga dilakukan dengan pembelian sawit dan karet dari petani yang tidak memiliki pabrik sekaligus membantu kesejahteraan mereka,” paparnya.

Melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia (ASD-BSP), perseroan telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luasan lahan kebun yang sama. Saat ini dengan luas pertanaman sawit nasional kurang lebih 10 juta hektar, total produksi hanya sekitar 30 juta ton CPO per tahun. Dengan bibit unggul, maka potensi produktivitas bisa meningkat menjadi 80 juta ton CPO per tahun setelah program replanting.

Yosi Winosa/WBP

BeritaSatu.com

dollar small

JAKARTA, KOMPAS.com – Perusahaan milik Grup Bakrie, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) membukukan kerugian bersih sebesar Rp 1,75 triliun sepanjang tahun 2015.

Pada tahun sebelumnya, BNBR masih mencatatkan keuntungan sebesar Rp 151,75 miliar. Dalam laporan keuangan yang dilaporkan ke Bursa Efek Indonesia, Senin (29/3/2016), kerugian tersebut lantaran pendapatan perseroan yang mengalami penurunan dari 2014.

Tercatat, pendapatan yang dibukukan Bakrie sepanjang tahun 2015 sebesar Rp 4,66 triliun atau turun sebesar 26,8 persen dari periode 2014 sebesar Rp 6,37 triliun.

Selain itu, rugi kurs akibat melemahnya rupiah terhadap dollar ASjuga menyebabkan kinerja perusahaan ini jeblok.

Rugi kurs yang dicatatkan BNBR pada akhir 2015 mencapai Rp 722,17 miliar, atau membengkak 343 persen dari periode tahun sebelumnya Rp 162,76 miliar.

Di sisi lain, total kewajiban atau liabilitas perusahaan milik Keluarga Bakrie ini menurun dari tahun sebelumnya. Aksi jual aset yang dilakukan di waktu sebelumnya sedikit banyak berpengaruh terhadap beban utang yang ditanggung perusahaan ini.

Dalam laporan keuangan tersebut dijelaskan, beban bunga pada akhir 2015 adalah sebesar Rp 543,5 miliar atau turun 9,25 persen.

Bakrie & Brothers hingga saat ini masih mengandalkan komoditas sebagai penopang kinerja perusahaan. Namun, rendahnya harga batu bara dan minyak kelapa sawit membuat kinerja keuangan perusahaan cukup berat.

Editor : Bambang Priyo Jatmiko

dollar small

JAKARTA, KOMPAS.com – Emiten telekomunikasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mengalami kesulitan keuangan dengan memposting nilai kerugian hingga Rp 3,65 triliun di kuartal III 2015.

Akibatnya, perseroan terpaksa menjelma menjadi pemain aplikasi Esia Talk. Perseroan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena ingin fokus bermain di aplikasi.

Kabarnya, perseroan hanya mempertahankan 50 karyawannya dari semula sekitar 500 karyawannya untuk menjalankan Esia Talk. Sayangnya, proses PHK yang berjalan mulus dinodai dengan kasus pembayaran pesangon yang belum tuntas.

Banjir keluhan korban PHK Bakrie Telecom memadati akun Facebook dan Twitter pribadi milik Komisaris Utama Bakrie Telecom, Anindya Bakrie. Di Twitter, keluhan eks karyawan perseroan ini menggunakan tagar #bakrietelecom.

long jump iconJakarta detik -PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mencatatkan rugi sebesar Rp 3,66 triliun hingga kuartal III-2015. Pada periode yang sama tahun lalu, emiten provider Esia ini membukukan kerugian Rp 2,29 triliun.

Beban perusahaan serta rugi dari selisih kurs jadi penyebab utama semakin membengkaknya kerugian perseroan. Tak hanya itu, pendapatan usaha BTEL yang merosot ikut berkontribusi pada pada kerugian perusahaan.

Dikutip dari laporan keuangan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (24/12/2015), beban usaha BTEL mengalami kenaikan menjadi Rp 2,41 triliun, dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,39 triliun.

Pendapatan usaha emiten berkode BTEL ini di kuartal III-2015 mencapai Rp 478,84 miliar. Perolehan pendapatan ini merosot drastis, jika dibandingkan dengan pendapatan usaha tahun lalu, yaitu Rp 1,22 triliun.

Laporan keuangan BTEL semakin berdarah-darah dengan kerugian selisih kurs yang dialami perusahaan yang per September 2015, yang mencapai Rp 1,32 triliun. Naik 468% dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 232,93 miliar.

Mayoritas saham operator seluler ini dipegang oleh 69,6% oleh publik, sementara pengendali saham terbanyak kedua yaitu PT Bakrie and Brother Tbk, dan sisanya dimiliki Raiffeisen Bank International AG 7,2%, dan PT Bakrie Global Ventura 6,9%.

(dnl/dnl)

reaction_1

Jakarta detik -PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) mencatat utang sebesar Rp 8,69 triliun di kuartal III-2015. Utangnya turun 1,9% dibandingkan posisi akhir tahun lalu Rp 8,86 triliun.

Seperti dikutip dari bahan paparan publik perseroan, Jumat (4/12/2015), utang tersebut terdiri dari jangka pendek Rp 6,44 triliun dan jangka panjang Rp 2,25 triliun. Akhir tahun lalu, utang jangka pendek induk usaha Grup Bakrie itu tercatat Rp 6,64 triliun dengan jangka panjang Rp 2,22 triliun.

Jumlah utang dalam mata uang rupiah turun Rp 50 miliar atau setara 8,7%, yaitu dari Rp 575 miliar menjadi hanya Rp 525 miliar.

Sedangkan jumlah utang berbentuk dolar AS turun 16,2% atau setara Rp 108 miliar, yaitu dari US$ 666 juta (Rp 8,6 triliun) menjadi hanya US$ 558 juta (Rp 7,25 triliun).

(ang/hen)

rose KECIL

Jakarta beritasatu – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), perusahaan migas milik keluarga Bakrie, menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 150 juta tahun depan. Nilai tersebut turun 24,6% dibandingkan tahun ini yang mencapai US$ 187 juta.

Chief Commercial Officer Energi Mega Didit A Ratam mengatakan, penurunan capex dipicu oleh harga minyak dunia yang diperkirakan belum bertumbuh. Dengan demikian, perseroan berencana untuk lebih banyak mengembangkan produksi gas, ketimbang minyak.

“Ada sejumlah blok yang tidak membutuhkan capex yang besar lagi, seperti Blok Kangean PSC. Kecuali ada eksplorasi di beberapa sumur. Mungkin kita hanya akan menghabiskan US$ 30-40 juta di Blok Kangean,” kata Didit di Jakarta, baru-baru ini.

Didit menegaskan, selain Blok Kangean, perseroan akan lebih intensif mengembangkan Blok Bentu PSC di Riau. Blok tersebut telah memperoleh persetujuan plan of further development dari SKK Migas untuk pengembangan lapangan gas Seng dan Segat.

Sesuai rencana, pengembangan Blok Bentu tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi blok tersebut lebih dari 50 juta kaki kubik gas per hari. Produksi akan dimulai pada 2017.

“Saat ini, Blok Bentu menyalurkan 56 juta kaki kubik gas per hari. Lalu kami mendapatkan izin mengembangkan 57 juta kaki kubik tambahan,” jelas Didit.

Adapun produksi gas tersebut saat ini dijual kepada PLN Pekan Baru (US$5,5 per mmbtu), Riau Andalan Pulp & Paper (US$ 5,2 per mmbtu) dan Perusda Pelalawan (US$ 4,7 mmbtu).

Sementara itu, Energi Mega juga telah mendapatkan perpanjangan kontrak kerja sama untuk mengelola blok migas Gebang, Sumatera Utara, untuk 20 tahun ke depan pada 16 November 2015.

Dalam perpanjangan kontrak tersebut, Energi Mega, memiliki 100% hak partisipasi di blok Gebang. Sebelumnya, blok Gebang dioperasikan oleh Pertamina Hulu Energi dan EMP melalui Joint Operating Body (JOB).

Energi Mega berencana untuk segera mengembangkan dua lapangan gas di dalam blok tersebut. Lapangan Anggor telah mendapatkan persetujuan plan of development (rencana pengembangan) dari pemerintah. Sedangkan lapangan Secanggang telah di uji positif untuk dapat mengalirkan gas.

“ Lapangan gas ini mempunyai potensi yang cukup baik, dari sisi lokasi, kami dapat menyalurkan gas ke wilayah terdekat Sumatera Utara, seperti Media,” terang Didit.

Didit memperkirakan, produksi minyak tahun ini diperkirakan mencapai 54.ribu barel ekuivalen minyak per hari (boepd). Hanya minyak diperkirakan masih bertengger di bawah US$ 50 per barel sampai akhir tahun. Sementara itu, target produksi tesebut pun diperkirakan sama pada tahun depan.

“Produksi paling banyak akan dari lapangan Kangean sekitar 25 ribu boepd. Sisanya, ada yang dari blok Offshore North West Java (ONWJ) ,” jelas dia.

Energi Mega mencatatkan pendapatan hingga kuartal III-2015 sebesar US$ 465,1 juta, lebih rendah dari raihan periode sama tahun lalu sebesar US$ 603 juta. Energi Mega juga mencatatkan EBITDAsebesar US$ 236 juta hingga September 2015.

 

Farid Nurfaizi/MHD

Investor Daily

bird

JAKARTA. PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) masih berupaya mengurangi utang. Hingga Kuartal III 2015, UNSP memiliki pinjaman bank jangka pendek sekitar Rp 77,58 miliar.

Lalu, utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu setahun Rp 4,3 triliun dan utang jangka panjang Rp 6,1 triliun.

Direktur Hubungan Investor UNSP Andi W. Setianto mengatakan, tahun ini belum ada utang yang jatuh tempo. Tapi, tahun depan, ada utang jatuh tempo dari Credit Suisse senilai Rp 3,3 triliun, Verdant Capital Pte Ltd senilai Rp 934,2 miliar dan Bank Capital Indonesia Rp 1,8 miliar.

Sejauh ini belum ada opsi spesifik pelunasan utang tersebut. Andi mengaku, berupaya menjaga komunikasi dengan para kreditur, sehingga, perseroan berharap bisa memperpanjang utang jatuh tempo.

“Jadi, kalau jatuh tempo saya yakin kami bisa memperpanjang utang tersebut,” kata Andi, Selasa (17/11). Ia tidak merinci utang dan opsi restrukturisasi itu. Yang jelas, UNSP sudah tidak bisa menjual aset untuk dipakai membayar utang.

“Penjualan aset sudah tidak menjadi opsi lagi,” imbuhnya. Ia mengatakan, saat ini tengah mencari mitra kerja untuk menggarap bisnis hilir.

Bisnis hilir UNSP memiliki dua lokasi, yakni Tanjung Morawa dan Kuala Tanjung, Sumatra. Pengembangan Kuala Tanjung ditaksir membutuhkan belanja modal sekitar US$ 50,27 juta.

“Dengan pengembangan hilir juga, kreditur diharapkan percaya dengan bisnis jangka panjang,” ujarnya. UNSP berupaya mengembangkan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luas lahan kebun yang sama.

Ini dilakukan melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia. Saat ini dengan luas pertanaman sawit nasional kurang lebih 10 juta hektare, total produksi sekitar 30 juta ton CPO per tahun.

Menurut Andy, dengan bibit unggul yang dikembangkan, potensi produktivitas bisa naik menjadi 80 juta ton CPO per tahun dan produktivitas 35 ton buah sawit per hektare. Dus, luas lahan kebun tidak perlu bertambah untuk menghasilkan produksi CPO berlipat ganda.

http://investasi.kontan.co.id/news/unsp-merestrukturisasi-utang
Sumber : KONTAN.CO.ID

PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) membukukan rugi bersih pada Quarter 3 2015 sebesar 37,6 miliar. Turun bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2014 yang berhasil mencetak keuntungan sebesar  210,5 miliar. Dengan demikian, rugi bersih per saham setara dengan Rp 0.87 per lembar.

Berikut Laporan keuangan ELTY Quarter 3 2015 :

Account Quarter 3 2015
Last Price          50
Share Out 43,5 B
Market Cap. 2.176,1 B
Balance Sheet
Cash               57,4 B
Total Asset 14.734,9 B
S.T Borrowing 3.917,8 B
L.T Borrowing 1.001,4 B
Total Equity 7.192,8 B
Income Statement
Revenue           1.087,2 B
Gross Profit 595,8 B
Operating Profit 185,6 B
Net. Profit        -37,6 B
EBITDA         228,2 B
Interest Exp. 55,2 B
Ratio
EPS                 -0,87
PER                 -57,47x
BVPS                 165,27
PBV                 0,30x
ROA                 -0,26%
ROE                 -0,52%
EV/EBITDA 30,85
Debt/Equity 0,68
Debt/TotalCap 0,41
Debt/EBITDA 21,56
EBITDA/IntExp. 4,14

Sumber : IPS RESEARCH

Bisnis.com, JAKARTA – Jumlah perusahaan milik Grup Bakrie yang melantai di bursa segera bertambah seiring rencana PT Graha Andrasentra Propertindo untuk go public dengan nilai Rp300 miliar pada Januari 2016.

Graha Andrasentra Propertindo (GAP) adalah anak usaha PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY) dan induk dari PT Jungleland Asia, pengelola theme park Jungleland Bogor.

Direktur ELTY Agus Jayadi Alwie mengatakan GAP lebih banyak mengurus bisnis di segmen recurring incomealias pendapatan berulang, seperti theme park.

Perseroan berniat melepas 10% saham GAP dengan incaran dana sekitar Rp300 miliar. Saat ini, perusahaan properti itu tengah mengurus dokumen yang dibutuhkan sebelum diserahkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). GAP sudah melakukan mini ekspose ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal Oktober.

“Diharapkan 8 Januari sudah listing. Sebagian dananya untuk bayar kewajiban dan lainnya untuk pengembangan bisnis, masing-masing 50%,” papar Agus usai paparan publik, Selasa (13/10/2015).

Meski mengakui kondisi pasar kurang kondusif, dia menyatakan niatan melakukan initial public offering (IPO) akan tetap dilakukan. Alasannya, bisnis GAP berbeda dibandingkan perusahaan properti lainnya sehingga ELTY menilai ada peluang yang bisa diraih.

Beberapa waktu lalu sempat disebutkan bahwa Jungleland Asia-lah yang berniat IPO. Namun, ternyata induk usahanya yang justru memiliki rencana tersebut.

Mengacu pada laporan keuangan ELTY, pada semester I/2015 nilai aset GAP mencapai Rp4,3 triliun dan Jungleland Asia sebesar Rp1,09 triliun.

Termasuk ELTY, setidaknya terdapat sepuluh perusahaan milik Grup Bakrie yang sahamnya sudah diperdagangkan di BEI. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah PT Bakrie and Brothers Tbk. (BNBR), PT Bumi Resource Minerals Tbk. (BRMS), PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL), PT Bumi Minerals Tbk. (BUMI).

Ada pula PT Darma Henwa Tbk. (DEWA), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), PT Intermedia Capital Tbk. (MDIA), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. (UNSP), dan PT Visi Media Asia Tbk. (VIVA).

Liputan6.com, Jakarta – Manajemen PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) telah mendapatkan persetujuan Plan of Further Development dari Satuan Kerja Khusus Migas (SKK Migas) di salah satu blok yang dioperasikannya Bentu PSC di Riau untuk pengembangan lapangan gas Seng dan Segat.

Direktur Utama PT Energi Mega Persada Tbk, Imam Agustino menuturkan, pengembangan itu diharapkan dapat meningkatkan produksi blok sebesar lebih dari 50 juta kaki kubik gas per hari yang akan dimulai pada 2017.”Tambahan produksi gas itu akan dijual ke Pertamina Dumai di kisaran harga US$ 7,5-US$ 8 per mmbtu,” ujar Imam dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (12/10/2015).

Pada semester I 2015, blok Bentu telah memproduksi rata-rata 48 juta kaki kubik gas per harinya. Produksi gas itu dijual kepada PLN Pekanbaru (US$ 5,5/mmbtu), Riau Andalan Pulp and Paper (US$ 5,2/mmbtu) dan Perusda Pelalawan (US$ 4,7 per mmbtu).Hal ini merupakan pencapaian positif oleh Perseroan.

Kemampuan untuk meningkatkan produksi gas dengan harga jual yang menarik merupakan strategi tepat. Dengan adanya tambahan produksi gas itu yang akan dimulai pada 2017, maka blok Bentu PSC diharapkan dapat berproduksi di atas 90 juta kaki kubik gas per hari di masa mendatang.

Pada perdagangan saham Senin pekan ini, saham PT Energi Mega Persada Tbk naik 3,64 persen ke level Rp 57 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 5.344 kali dengan nilai transaksi harian saham Rp 64,8 miliar. (Ahm/Igw)

JAKARTA.   Perusahaan penyiaran televisi ANTV milik Grup Bakrie, PT Intermedia Capital Tbk. (MDIA) membukukan peningkatan pendapatan sebesar 27,1% pada semester I/2015 dibandingkan semester I/2014.

Pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp732,64 miliar, naik dari posisi tahun lalu Rp576,27 miliar.

Meskipun mengalami peningkatan pendapatan, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mengalami penurunan 13,1%.

Semester I/2015, MDIA membukukan laba sebesar Rp139,58 miliar, turun dari tahun lalu Rp160,69 miliar.

Penurunan laba tersebut diikuti oleh peningkatan beban dan denda pajak yang mesti ditanggung perseroan pada tahun ini.

Pada tahun lalu, MDIA hanya menanggung beban sebesar Rp6,47 miliar, sedangkan tahun ini mencapai Rp36,57 miliar.

Selain itu, beban pajak penghasilan naik 73,8%, dari Rp38,78 miliar menjadi Rp67,43 miliar.

Pada 30 Juni 2015, MDIA berhasil membukukan kas dan setara kas sebesar Rp449,59 miliar, naik signifikan dibandingkan akhir tahun lalu sebesar Rp36,57 miliar.

Pada periode ini, perseroan memiliki liabilitas sebesar Rp589,42 miliar, yang sebagian besar merupakan utang pajak sebesar Rp302,66 miliar. Sementara total ekuitas tercatat Rp1,48 triliun.

 

http://market.bisnis.com/read/20150930/192/477406/emiten-grup-bakrie-beban-meningkat-laba-antv-turun-131
Sumber : BISNIS.COM

Jakarta detik -PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mencatat laba bersih US$ 3,6 juta atau Rp 50,4 miliar (kurs Rp 14.000/dolar AS) di semester I-2015. Periode yang sama tahun sebelumnya, salah satu tambang Grup Bakrie itu masih rugi US$ 51,2 juta (Rp 716 miliar).

Pendapatan alias omzet perusahaan turun drastis dari sebelumnya US$ 9 juta menjadi hanya US$ 5,8 juta. PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) memberi kontribusi positif setelah diizinkan ekspor lagi.

Tambang tembaga dan emas di Nusa Tenggara Barat (NTB) itu menyumbang laba US$ 53 juta di paruh pertama 2015 dibandingkan sebelumnya rugi US$ 14 juta.

“Terlepas dari harga komoditi tembaga dan emas yang masih rendah, lokasi tambang di Batu Hijau (NNT) telah berhasil meningkatkan produksinya setelah mendapatkan izin ekspor dari pemerintah di akhir tahun lalu. Oleh karenanya, BRMS dapat membukukan laba bersih US$ 3,6 juta pada semester pertama tahun ini, dari rugi bersih sebesar US$ 51 juta pada periode yang sama tahun lalu,” ujar Direktur Utama BRMS, Suseno Kramadibrata, dalam siaran pers, Senin (14/9/2015).

Menurutnya, likuiditas perusahaan masih dalam kondisi cukup baik dengan rasio pinjaman bersih terhadap ekuitas di level 0,47 kali pada semester pertama tahun ini.

“Aset-aset kami lainnya di Gorontalo (tembaga & emas), Palu (emas) dan Dairi (seng & timah hitam) juga menunjukan kemajuan dalam kegiatan operasinya masing-masing,” ungkapnya.

Akhir tahun lalu, anak usaha BRMS yaitu PT Gorontalo Minerals (GM) melaporkan penambahan jumlah sumber daya mineral dan cadangan bijih kepada Kementerian Energi & Sumber Daya Mineral.

Peningkatan tersebut dikarenakan estimasi ulang yang dilakukan berdasarkan 11 data pemboran baru di Sungai Mak dan 15 data pemboran baru di Cabang Kiri.

Dengan demikian, jumlah sumberdaya GM meningkat dari sebelumnya 292 juta ton bijih di tahun 2012 menjadi 324 juta ton. Termasuk dalam jumlah sumber daya mineral tersebut adalah cadangan bijih sebesar 105 juta ton bijih dari lokasi Sungai Mak.

(ang/dnl)

Jakarta. Perusahaan telekomunikasi milik Grup Bakrie, PT Bakrie Telecom masih memproses penerbitan mandatory convertible bond dengan memperhatikan
ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan ketentuan pasar modal yang berlaku untuk menyelesaikan utang kepada pemegang Wesel Senior senilai US$
380 juta.

Selain dengan mandatory convertible bond , perusahaan juga dapat menerbitkan suatu wesel baru untuk ditukarkan (exchange offer) dengan Wesel Senior.

“Perseroan telah melakukan diskusi untuk rencana exchange offer tersebut dengan Steering Commite Pemegang Wesel Senior. Saat ini proses penerbitan
exchange offer memasuki tahap finalisasi,” ujar manajemen PT Bakrie Telecom dalam Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia, Kamis (20/8).

Asal tahu saja, penerbitan mandatory convertible bond untuk membayar 70% utang kepada pemegang Wesel Senior dan 30% pembayaran secara tunai
didasarkan pada Perjanjian Perdamaian yang telah dihomologasi oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 9 Desember 2014.

Executive Vice President PT Bakrie Telecom Tbk Teguh Anantawikrama enggan memberi komentar terkait penerbitan mandatory convertible bondtersebut. ” Kami belum bisa kasih keterangan sekarang,”ujar Teguh kepada Kontan, Jumat (21/8).

Managing Partner Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adhie Joe mengatakan emiten berkode BTEL itu memang berniart untuk membayar utang pada para pemegang Wesel Senior dalam bentuk saham setelah sebelumnya perusahaan ini melakukan right issue.

“Setelah right issue baru dikasih ke pemegang wesel senior,”tambahnya.

Dalam laporan keuangan per 30 Juni 2015, BTEL memiliki total liabilitas sebesar Rp 12,49 triliun.

Editor: Adi Wikanto

Jakarta – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) membukukan penjualan Rp 1,08 triliun dalam paruh pertama 2015.

Kata Direktur Investor Relations UNSP, Andi W Setianto, UNSP optimis dengan performance perseroan bakal terus membaik pada tahun ini. Optimisme ini didukung sejumlah upaya mengenjot produktivitas melalui serangkaian program revitalisasi, seperti perawatan kebun dan penggunaan bibit unggul.

“Berdasarkan siklus, produksi sawit biasanya mulai meningkat pada semester kedua. Dan mencapai puncaknya pada kuartal akhir. Tahun ini, kami optimis pertumbuh lebih baik di banding 2014, ” kata Andi di Jakarta, Senin (3/8/2015).

Membaiknya kinerja UNSP, kata Andi, memberikan angin segar. Bahwa perseroan berhasil sedikit keluar dari trend penurunan harga komoditas sawit yang berlangsung sejak 2011 hingga kuartal II-2015. Pada 2014, penjualan UNSP bertumbuh 27%.

Sementara harga komoditas sawit utama yaitu CPO (Crude Palm Oil) di kuartal II-2015 terus melemah ke level US$ 590 per ton di FOB Malaysia. Namun, berkat kerja keras, UNSP masih mampu membukukan penjualan Rp 1,08 triliun dan meneduk laba kotor Rp 257 miliar di semester I-2015.

“Kami bekerja keras mengatasi kondisi air di kebun akibat kemarau panjang tahun lalu dengan sebaik-baik nya. Hasilnya kami harapkan bisa terlihat di semester berikutnya. Optimalisasi produktivitas pabrik, juga dilakukan dengan pembelian sawit dan karet dari petani yang tidak memiliki pabrik sekaligus membantu kesejahteraan mereka,” kata Andi.

Selain itu, lanjut Andi, melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia (ASD-BSP), perseroan berhasil berinovasi dengan mengembangkan bibit unggul. Bibit unggul ASD-BSP ini, berpotensi menghasilkan setiap tahun nya hingga 40 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektar dibandingkan dengan umumnya 25-30 ton.

Kata Direktur Utama UNSP, M Iqbal Zainuddin, strategi peningkatan produktivitas berkelanjutan yang sedang dilakukan, bakal berdampak positif dalam jangka menengah dan panjang.

“Kami semakin optimis. Dalam jangka menengah dan panjang nanti, perusahaan ini akan kembali bangkit menemukan momentum yang terbaik. Kami yakin bisa menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki fundamental bisnis yang kuat,” kata Iqbal.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2226619/unsp-bukukan-penjualan-rp-108-triliun
Sumber : INILAH.COM

JAKARTA kontan. PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mendapat persetujuan untuk menerbitkan saham baru. Ini adalah langkah awal restrukturisasi utang berdasarkan putusan perdamaian (homologasi) dengan kreditur dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

BTEL akan merilis saham baru disesuaikan dengan jumlah obligasi wajib konversi. “Konversi utang diharapkan kinerja perusahaan lebih baik,” ujar Jastiro Abi, Direktur Utama BTEL saat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, Senin (22/6).

Tapi OJK belum memberikan izin pada BTEL untuk merilis obligasi. OJK masih menelaah proses penerbitan obligasi dan saham baru.

Obligasi wajib konversi merupakan cara pembayaran utang yang telah disepakati BTEL bersama kreditur dalam proses PKPU. Kemudian, 70% dari total utang dibayar dengan Mandatory Convertible Bond -A (MCB-A) yang bisa dikonversikan saham baru di harga Rp 200 per saham. Dan 30% dibayar bertahap.

BTEL akan mulai membayar utang 18 bulan setelah pengesahan homologasi pada 9 Desember 2014. BTEL memiliki total tagihan utang Rp 11,3 triliun. Selain restrukturisasi, BTEL mulai bertransformasi dari penyelenggara jaringan dan operator jasa telefoni menjadi penyelenggara jasa telefoni secara kemitraan.

Editor: Yudho Winarto

JAKARTA kontan. Emiten milik Grup Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berhasrat membiayai kembali (refinancing) utangnya di tahun ini senilai US$ 134 juta. Anak usaha Grup Bakrie ini memiliki utang dari dua lembaga keuangan dengan bunga yang sangat tinggi.

Didit A Ratam, Direktur ENRG mengatakan, total utang yang akan direfinancing berkisar US$ 134 juta. Untuk melunasinya, perseroan tengah mengincar utang sindikasi dari perbankan asing senilai US$ 200 juta. Proses refinancing itu ditargetkan kelar tahun ini.

Utang yang akan dibiayai kembali adalah fasilitas pinjaman dari Pro Strategic Investors Ltd. senilai US$ 102,02 juta. Pinjaman yang diperoleh anak usaha ENRG, EMP Energy Ltd. (EEL), itu dikenakan bunga tinggi yaitu 20% per tahun.

EEL menggunakan US$ 92,02 juta dari utang itu untuk membayar pinjaman anak usahanya, EMP International (BVI) Ltd., kepada ND Owen Holdings Ltd. Sementara US$ 10 juta sisanya digunakan untuk keperluan operasional umum.

ENRG juga menanggung fasilitas utang jangka pendek senilai US$ 61,95 juta dari PST Finance Ltd. Seperti halnya fasiltias dari Pro Strategic, utang ini pun dikenakan bunga sebesar 20% per tahun.

“Bunga yang tinggi itu cukup memberatkan, sehingga harus segera dibiayai kembali,” ujarnya di Jakarta, Rabu (17/6). ENRG juga akan melunasi utang jangka panjang lainnya. Lalu, dana sisa dari pinjaman baru akan digunakan untuk belanja modal tahun depan.

Dia mengatakan, pinjaman sindikasi yang baru memberikan bunga sekitar 10%, sehingga akan mengurangi beban bunga perseroan. “Dengan kondisi pasar saat ini, cukup sulit mencari pinjaman yang bunganya lebih kecil dari itu,” imbuhnya.

Tahun lalu perseroan sudah melunasi dan membiayai kembali sebagian utangnya. Beban keuangan ENRG turun dari US$ 97 juta di tahun 2013 menjadi US$ 79 juta di tahun 2014.

Debt to Equity Ratio (DER) ENRG per akhir tahun 2014 menyusut menajdi 0,57 kali dari sebelumnya 0,82 kali. Sementara net debt to equity menurun dari 0,5 kali menjadi 0,41 kali.

Narita Indrastiti

Editor: Uji Agung Santosa

Bekasi -PT Bakrie Pipe Industries, anak usaha dari PT Bakrie &‎ Brothers Tbk mendapatkan kontrak untuk memasok pipa pengeboran migas ke Amerika Serikat (AS). Sebanyak 80.000 ton pipa untuk keperluan pengeboran minyak dan gas (migas) bakal diekspor hingga 2016.

Direktur Utama PT Bakrie Pipe Industries Mas Wigrantoro Roes menuturkan, kontrak kerjasama dengan perusahaan AS sudah dilakukan pada September lalu. Disepakati perjanjian pembelian pipa casing untuk pengeboran minyak sebanyak 80.000 ton bermacam-macam ukuran.

“Jadi kan kemarin eksplorasi itu menurun, sekarang mulai naik lagi. Kami kirim casing berbagai ukuran untuk pengeboran di Amerika Serikat‎,” kata Wograntoro Roes ditemui di pabrik Bakrie Pipe Industeis, Medan Satria, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (21/5/2015).

Ia mengatakan, pengiriman akan dilakukan hingga 2016 nanti. Di tahun ini, akan dikirimkan sebanyak 9.000 ton casing pipa yang dibagi menjadi dua tahap.

“Mulai Juni ini kita kirim 4.000 ton, dan 5.000 ton. Jadi tahun ini 9.000 ton akan dikirim dua kali,” katanya.

Mas Roes menyebutkan, AS merupakan pasar pipa terbesar dunia. Meski begitu belum banyak pipa untuk migas hasil produksi Bakrie Pipe Industries yang dikirim ke Negeri Paman Sam tersebut. Ia mengatakan beroperasinya coating plant atau pabrik pelapisan baja yang baru diresmikan hari ini, jumlah ekspor akan lebih banyak lagi.

“Kami juga sedang bicara untuk line pipe. Amerika itu pasar terbesar. Selain ke Amerika kita juga ekspor ke Singapura, tapi dari Singapura mereka juga kirim ke Amerika. Jadi di Singapura itu sebagai trader, di AS sebagai stockist,” tuturnya.

Sayangnya tidak disebutkan nilai kontrak atau harga yang ditetapkan untuk penjualan pipa-pipa tersebut ke AS, karena menurutnya, harga berubah-ubah.

“Jadi biasanya harganya itu pas mau dikirim, 3 bulan sebelum dikirim dia minta notifikasi,” tutupnya.

Pabrik yang terletak di kawasan Medan Satria, Bekasi, Jawa Barat ini mampu memproduksi 800.000 meter persegi lapis baja per tahunnya, dengan menggunakan sistem fusion bonded epoxy (FBE), three layer polyethylene (3PLE) dan three layer polypropylene (3LPP). Mesin tersebut juga mampu melapisi pipa mulai dari ukuran 4 inchi hingga 48 inchi.

(zul/hen)

Bisnis.com, JAKARTA — Setelah meraup laba Rp665,04 miliar pada Januari-Maret 2015, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) harus menelan pil pahit akibat mencetak rugi bersih Rp303,2 miliar pada kuartal pertama tahun ini.

Dikutip dari laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan, Jumat (1/5/2015), disebutkan pendapatan bersih melorot 36,9% menjadi rp1,57 triliun dari sebelumnya Rp2,5 triliun pada kuartal I/2014.

Emiten berkode saham BNBR tersebut tak mampu menekan beban pada kuartal I/2015. Beban perseroan meningkat menjadi Rp1,82 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,7 triliun.

Induk usaha Group Bakrie ini harus menderita rugi sebelum pajak mencapai Rp254,3 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini. Padahal, setahun sebelumnya BNBR mengantongi laba sebelum pajak Rp801,18 miliar.

Hingga 31 Maret 2015, total aset Bakrie & Brothers mencapai Rp10,86 triliun dari akhir tahun lalu Rp11,29 triliun. Liabilitas Rp13,29 triliun dari Rp13,38 triliun dan defisiensi modal Rp2,42 triliun dari Rp2,08 triliun.

 

INILAHCOM,Jakarta – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) membukukan nilai penjualan sebesar Rp511 miliar sepanjang tiga bulan pertama tahun 2015.Direktur Investor Relations UNSP, Andi W. Setianto menuturkan UNSP optimis, kinerja Perseroan akan terus membaik pada tahun ini. Optimisme ini didukung oleh upaya-upaya peningkatan produktivitas yang terus dilakukan Perseroan melalui serangkaian program revitalisasi, seperti perawatan kebun dan penggunaan bibit unggul.”Apalagi, berdasarkan siklus, produksi sawit biasanya mulai meningkat pada kuartal kedua dan mencapai puncaknya di kuartal terakhir setiap tahun. Tahun ini kami optimis tumbuh jika dibanding tahun 2014,” kata dia di Jakarta, Kamis (30/4/2015).Membaiknya kinerja UNSP, lanjut dia terbukti perseroan keluar dari trend penurunan harga komoditas sawit yang berlangsung sejak tahun 2011 hingga kuartal I-2015. Pada tahun lalu, nilai penjualan UNSP masih tumbuh 27%.Jika dilihat, harga komoditas sawit utama yaitu CPO (Crude Palm Oil), di kuartal 1-2015 terus melemah ke level terendah USD 600 per ton FOB Malaysia. Tetapi berkat kerja keras, kata Andi Perseroan masih mampu membukukan nilai penjualan sebesar Rp511 miliar dan laba kotor Rp119 miliar di kuartal I-2015 seperti pada laporan keuangan 31 Maret 2015 yang dirilis Kamis 30 April.”Kami bekerja keras mengatasi kondisi air di kebun akibat kemarau panjang tahun lalu dengan sebaik-baik nya. Hasilnya kami harapkan bisa terlihat di kuartal-kuartal berikutnya. Optimalisasi produktivitas pabrik, juga dilakukan dengan pembelian sawit dan karet dari petani,” kata dia.Ia mengatakan melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia (“ASD-BSP”), Perseroan juga telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luasan lahan kebun yang sama. Bibit unggul ASD-BSP ini berpotensi menghasilkan setiap tahun nya hingga 40 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektar dibandingkan dengan umumnya 25-30 ton.Saat ini dengan luas pertanaman sawit nasional kurang lebih 10 juta hektar, total produksi hanya sekitar 30 juta ton CPO per tahun, dengan bibit unggul maka potensi produktivitas bisa meningkat menjadi 80 juta ton CPO per tahun.

Direktur Utama UNSP, M. Iqbal Zainuddin menambahkan, strategi fokus ke produktivitas yang sustainable akan lebih banyak lagi dirasakan dampak positifnya dalam jangka menengah dan panjang. “Kami optimis dalam jangka menengah dan panjang Perseroan akan kembali bangkit menemukan momentum yang terbaik menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki fundamental bisnis yang kuat,” katanya. [jin] – See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2200644/kuartal-i-2015-unsp-catat-penjualan-rp511-miliar#sthash.NVFUj231.dpuf

JAKARTA. Kemarin, sekitar 30 investor atau pemilik unit (unit owner) kondotel Pullman Bali Legian Nirwana menyambangi kantor PT Samudera Asia Nasional, cucu usaha PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), Selasa (14/4). Mereka menagih hak imbal hasil yang mulai mangkrak sejak awal tahun lalu.

Para investor juga geram ketika mengetahui dari iklan di sebuah harian nasional, seluruh saham Samudera Asia akan dijual kepada investor strategis yang bernama PT Mitra Maju Sukses. “Kami meminta transparansi dan kejelasan akuisisi tersebut. Para investor sama sekali tidak mendapat informasi langsung dari manajemen,” ujar Rudi Suheri, salah satu pemilik unit kondotel Pullman Bali Nirwana, kepada KONTAN.

Kabar yang beredar, nilai divestasi itu Rp 400 miliar. Bakrie menjual lantaran perusahaan itu terlilit utang  besar, sehingga harus menjual aset.

Samudera Asia merupakan pengelola Pullman Bali Legian Nirwana. Total nilai aset ini berkisar Rp 800 miliar-Rp 1 triliun. Sementara Mitra Maju merupakan perusahaan batubara yang memiliki tambang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Di tengah kegundahan tersebut, investor semakin resah saja lantaran nasibnya bakal makin tak pasti. Maklum, baru-baru ini, Direktur Mitra Maju Andrew Hidayat ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mitra Maju dianggap terlibat penyuapan terhadap politisi PDIP Adriansyah. Kini kedua orang tersebut ditahan  KPK.

Di luar urusan hukum yang melibatkan Mitra Maju Sukses, investor juga menuntut hak atas return on investment (RoI) 6% per tahun. Mereka juga menuntut bagi hasil operasi kondotel setiap tahun dan menagih penyerahan Akta Jual Beli (AJB) kondotel.

Henu Kusdaryono, Direktur Operasional Samudera Asia yang ditemui para investor belum bisa menjawab banyak terkait status akuisisi. “Yang jelas, Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) Samudera Asia dan Mitra Maju diteken 5 Maret lalu,” ujar dia.

Praktisi Hukum dari DK & Sitomorang Lawyers Veronica Situmorang mengatakan, Mitra Maju mengetahui Samudera Asia memiliki kewajiban ke pemilik  kondotel. Anehnya, Mitra Maju mencoba melobi investor membayar imbal hasil dengan haircut 40%. “Kenapa ada potongan tersebut? Ini belum jelas dan wajib transparansi,” kata Veronica.

Total tunggakan kewajibannya lebih dari Rp 50 miliar. Dari total unit Kondotel Pullman Bali Legian, 60% milik investor ritel. Kondotel ini mulai ditawarkan ke publik tahun 2006-2007.

Menurut Veronica, nilai RoI investor beragam, mulai dari  Rp 10 juta–Rp 20 juta per bulan. Total jenderal, pemilik sekitar 360 unit kondotel yang menanti bagi hasil investasi tersebut.

Rudi dan sejumlah investor lain mengaku, hingga saat ini masih ingin menyelesaikan persoalan tersebut dengan jalan kekeluargaan. Mereka juga belum berniat menempuh jalur hukum.

Pemilik unit  juga mengaku masih memiliki opsi agar segera mendapat hak mereka. “Ada beberapa opsi yang akan kamu jajaki. Namun kami masih  menunggu hasil pertemuan dengan Samudera Asia dan Mitra Maju nanti,” terang dia.

 

http://investasi.kontan.co.id/news/investor-kondotel-pullman-legian-gundah
Sumber : KONTAN.CO.ID

Bisnis.com, JAKARTA–Induk usaha Group Bakrie, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) akhirnya meraup laba bersih Rp152,87 miliar pada tahun lalu, setelah setahun sebelumnya menderita rugi bersih Rp12,72 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan Kamis (26/3/2015), disebutkan pada periode 2014 induk Group Bakrie tersebut juga membukukan laba bersih per saham dasar Rp1,63 dari tahun sebelumnya yang menderita rugi bersih Rp135,79.

Emiten berkode saham BNBR tersebut membukukan pendapatan sepanjang tahun lalu sebesar Rp6,37 triliun, lebih tinggi 22,3% dari tahun sebelumnya Rp5,21 triliun. Beban BNBR juga berhasil ditekan menjadi Rp6,1 triliun dari tahun sebelumnya Rp15,68 triliun.

Laba sebelum pajak yang berhasil diraup Bakrie & Brothers pada tahun lalu sebesar Rp272,05 miliar dari tahun sebelumnya yang mencatatkan rugi sebelum pajak Rp10,46 triliun.

Laba bersih periode berjalan sebesar Rp149,52 miliar, lebih baik ketimbang tahun sebelumnya yang membukukan rugi bersih Rp12,72 triliun. Total laba komprehensif mencapai Rp152,16 miliar dari tahun sebelumnya rugi komprehensif Rp7,51 triliun.

Hingga 31 Desember 2014, total aset Bakrie & Brothers mencapai Rp11,29 triliun lebih rendah dari tahun sebelumnya Rp11,86 triliun. Liabilitas sebesar Rp13,38 triliun dari Rp13,89 triliun dan defisiensi modal sebesar negatif Rp2,08 triliun dari sebelumnya Rp2,02 triliun.

Jakarta – Aburizal Bakrie mengenang perjuangan ayahnya dalam serangkaian kicauan di Twitter memperingati ulang tahun ke-73 Kelompok Usaha Bakrie pada Selasa (10/2) ini.

Dalam laman @aburizalbakrie, pengusaha yang juga politisi ini mengunggah foto sang ayah, dengan tulisan: “Ayah saya: Achmad Bakrie yang tepat hari ini 73 tahun yang lalu mendirikan Kelompok Usaha Bakrie.”
ARB, akronim yang dia populerkan untuk sebutan namanya pada pesta politik tahun lalu, juga me-retweet kicauan saudaranya, Anindya.

Salah satunya berbunyi: “Setiap rupiah yang dihasilkan Bakrie harus bermanfaat bagi orang banyak – Achmad Bakrie.”

Achmad Bakrie lahir pada tahun 1916 dan merintis usaha bersama kakaknya, Abuyamin, untuk mendirikan Firma Bakrie & Brothers General Merchant and Commision Agent pada 10 Februari 1942 di Teluk Bitung.

Bisnis utama perusahaan ketika itu adalah perdagangan umum dan keagenan hasil bumi seperti kopi, lada, cengkeh, tapioka dan sebagainya.

Kelompok Usaha Bakrie sekarang ini memiliki nama resmi Bakrie & Brothers (BNBR) dengan beragam usaha antara lain media, telekomunikasi, energi, pertambangan, infrastruktur dan pendidikan.

Pada semester pertama 2014, BNBR mengatakan dalam situsnya telah mencatatkan laba yang dapat diatribusikan sebesar Rp 123,12 miliar, meningkat 2.435 persen dibanding perolehan laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk pada semester pertama 2013 lalu yang hanya sebesar Rp 4,86 miliar .

Sedikitnya ada 11 unit usaha dalam group ini yang terdaftar di bursa saham Indonesia.

Penulis: Heru Andriyanto/HA/investor daily

JAKARTA. Saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) ditransaksikan di pasar negosiasi. Pada penutupan perdagangan Kamis (29/1), terjadi transaksi tutup sendiri alias crossing saham sebesar Rp 215,1 miliar.

Transaksi tersebut melibatkan 50,04 juta lot saham di harga Rp 43 per saham. Dari data RTI, transaksi terbesar difasilitasi Sinarmas Sekuritas sebagai broker pembeli dan broker penjual. Ciptadana Securities juga melakukan pembelian 40.000 lot saham.

Namun, hingga saat ini, manajemen BTEL belum menjawab panggilan telepon dari KONTAN terkait transaksi tersebut. Di sisi lain, harga saham BTEL di pasar reguler masih stagnan di level Rp 50 per saham. Di pasar negosiasi, saham BTEL memang ditransaksikan di level bawah. Bahkan pada perdagangan Rabu (28/1) kemarin, saham BTEL sempat ditransaksikan di Rp 12 per saham di pasar negosiasi.

Harga saham BTEL sulit naik lantaran kondisi fundamental BTEL yang tak kunjung membaik. Belum lama ini, BTEL digugat atas tunggakan obligasi senilai US$ 380 juta. Surat utang itu berkupon 11,5% dan jatuh tempo pada Mei 2015.

Namun belakangan, BTEL mencapai perdamaian atau homologasi dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Sebanyak 94,5% kreditur BTEL menyetujui skema pembayaran utang yang diajukan perseroan.

BTEL akan mulai melalukan pembayaran utang 18 bulan setelah pengesahan homologasi. Kemudian, sebanyak 70% dari total utang akan dibayar dengan Mandatory Convertible Bond – A (MCB-A) yang nantinya bisa dikonversikan menjadi saham baru BTEL pada harga Rp 200 per saham.

MCB-A memiliki jangka waktu 10 tahun. Sementara waktu penukarannya bisa dilakukan 3 bulan setelah rapat umum pemegang saham (RUPS). Saham baru ini setara 50% dari saham perusahaan. Sedangkan 30% sisanya akan dilakukan pembayaran secara bertahap.

BTEL memiliki total tagihan utang senilai Rp 11,3 triliun. Utang tersebut dikelompokkan menjadi utang biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi dan universal service obligation (USO) senilai Rp 1,26 triliun, utang usaha Rp 2,4 triliun, utang tower provider Rp 1,3 triliun, dan utang dana hasil wesel senior Rp 5,4 triliun.

Kemudian, BTEL juga memiliki utang afilisasi senilai Rp 73,7 miliar, utang akibat derivatif Rp 185,3 miliar, utang dengan jaminan Rp 625,4 miliar, serta pembiayaan kendaraan Rp 2,6 miliar.

 

Editor: Sanny Cicilia
 Metrotvnews.com, Jakarta: Manajemen PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengungkapkan proyek pembangunan jaringan pipa gas Kalimantan-Jawa (Kalija) tahap I (Kepodang-Tambak Lorok) akan rampung pada Agustus 2015.Kemajuan dari proyek yang dikerjakan oleh PT Kalimantan Jawa Gas (KJG) ini, pembangunan pipanya masih on schedule. Demikian disampaikan Direktur & Corporate Secretary BNBR, R.A. Sri Dharmayanti, menjawab laporannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (28/1/2015).”Dapat kami sampaikan pula, bahwa perkembangan proyek Kalija tersebut selalu dilaporkan kepada pemerintah, dalam hal ini melalui BPH Migas,” ujar dia.Sri Dharmayanti mengakui jika saat ini perseroan tidak mempunyai informasi fakta kejadian penting lainnya yang harus segera diumumkan kepada publik.Sekadar informasi, proyek pipa gas Kalija perseroan mempunyai estimasi nilai proyek sebesar Rp2,5 triliun untuk tahap 1 dengan target penyelesaian pada 2015 untuk tahap 1 dan 2019-2020 untuk tahap 2. Pada proyek ini, hambatan terletak pada kendala sumber gas dari wilayah Kalimantan Timur (Blok Mahakam).”Untuk tahap 1 proyek pipa gas Kalija, perseroan telah menemukan alternatif sumber gas lain yaitu Blok Kepodang di lepas pantai sebelah utara Jawa Tengah,” jelas Sri menjelaskan upaya penanggulangan hambatan dalam proyek ini.
AHLhttp://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/01/28/350876/proyek-pipa-gas-bakrie-brothers-rampung-agustus-2015Sumber : METROTVNEWS.COM
Minggu, 25 Januari 2015 | 07:39 WIB

 

Proyek Kalija Terancam Batal

Oleh : Ranto Rajagukguk | Rabu, 21 Januari 2015 | 18:35 WIB
INILAHCOM, Jakarta – Proyek pembangunan jaringan pipa gas Kalimantan-Jawa (Kalija) dari blok Kepodang di lepas pantai Jepara menuju ke PLTGU Tambak Lorok di Semarang sepanjang 207 km terancam batal. PT Dwisatu Mustika Bumi (DMB) mengandeng PBVJ Group SDN BHD (Malaysia) dan PT Berkah Mirza Insani sebagai konsorsium proyek.Tercatat, PT Kalimantan Jawa Gas (KJG) dan konsorsium keduanya telah menandatangani kontrak atau perjanjian pada 26 Agustus 2014. Bahkan, pihak KJG telah menerbitkan surat perintah mulai kerja (SPMK) pada 27 Agustus 2014. Namun, kontrak senilai US$85,7 yang tendernya dimenangkan DMB sebagai pimpinan konsorsium pekerjaan konstruksi pipa itu, tiba-tiba diputus sepihak PT Kalimantan Jawa Gas (KJG).”Kontrak kami untuk pengerjaan proyek Kalija telah diputus sepihak pada 27 Oktober 2014 dengan alasan wanprestasi (ingkar janji). Padahal, kami telah melakukan pekerjaan seperti, pengurusan izin pekerjaan, survei lapangan, persiapan kapal-kapal, penerbitan cover note asuransi wal car 2001 dan pemesanan kebutuhan material yang diperlukan proyek tersebut,” jelas kChairman DMB S Halim di Jakarta, Rabu (21/01/2015).Padahal, Halim mengungkapkan terjadinya wanprestasi itu bukan semata-mata akibat dari konsorsium melainkan karena adanya dokumen legalitas dari PT Kalimantan Jawa Gas yang tidak diberikan sebagai persyaratan penerbitan bank garansi untuk menjamin pengerjaan proyek tersebut.”Untuk itu pihak penjamin minta legalitas PT. Kalimantan Jawa Gas, tapi tidak diberikan. Ada apa? penyelenggara tender kok, tidak transparan,” ujar dia.Perlu diketahui, PT Bakrie & Brothers Tbk yang ditunjuk sebagai pelaksana proyek pipa transmisi Kalimantan-Jawa tahun 2006 hingga saat ini belum dapat menyelesaikan proyek tersebut. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menggandeng PT Bakrie & Brothers Tbk mengerjakan proyek tersebut dengan mendirikan PT Kalimantan Jawa Gas (KJG). Namun, itu jadi pertanyaan mengenai PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) yang akan masuk sebagai pemegang saham ke dalam PT Kalimantan Jawa Gas.”Karena berdasarkan akte pendirian PT Kalimantan Jawa Gas diketahui sahamnya masih dikuasai oleh PT Bakrie & Brothers Tbk sebesar 20% dan PT Energas Daya Pratama sebesar 80% dengan modal dasar Rp40 miliar. Sedangkan modal yang disetor sebesar Rp10 miliar,” terang dia. [aji]

Bisnis.com, JAKARTA—Pengalihan kepemilikan saham PT Bumi Resources Tbk di PT Bumi Resources Mineral Tbk masih tertunda lantaran belum ada putusan dari Pengadilan Singapura terkait restrukturisasi utang anak usahanya.

Anak usaha itu adalah Bumi Capital Pte Ltd, Bumi Investment Pte Ltd, dan Enercorp Resources Pte Ltd. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (7/1), Direktur dan Corporate Secretary Bumi Resources (BUMI) Dileep Srivastava menuturkan pihaknya masih belum bisa melakukan transaksi pengalihan saham kepada China Investment Corporation (CIC).

Alasannya, Pengadilan Singapura telah menetapkan moratorium yang melarang BUMI memindahkan aset ataupun bertransaksi sendiri-sendiri dengan individu tertentu hingga mendapat persetujuan dari mayoritas kreditur.

“Dengan adanya proses Pengadilan Singapura, perseroan harus memperlakukan semua kreditur secara adil. Perseroan akan menunggu hasil proses di pengadilan sebelum melakukan transfer saham BRMS kepada CIC,” papar Dileep.

BUMI menguasai 87,09% saham BRMS. Adapun saham yang akan dialihkan sebanyak 42%, yang nilainya setara dengan US$275 juta.

Sebelumnya, BUMI telah mengalihkan 19% sahamnya di PT Kaltim Prima Coal (KPC), yang nilainya mencapai US$950 juta, kepada CIC. Perusahaan yang bergerak di pertambangan batu bara itu memiliki kewajiban sebesar US$1,98 miliar kepada CIC.

JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) siap menukar saham perseroan minimal 30% untuk melunasi utang sebesar Rp 4,5-5,2 triliun. Nilai share swap itu setara 60-70% dari total restrukturisasi utang senilai US$ 600 juta atau sekitar Rp 7,4 triliun.

 

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno mengatakan, program debt to equity swap akan dilakukan melalui mekanisme penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non- HMETD) atau non-preemptive rights issue.

 

“Porsi saham dan utang yang akan ditukar masih dalam tahap finalisasi. Namun, melihat nilai utang yang cukup tinggi, kemungkinan jumlah saham yang akan ditukar juga bisa lebih besar dari 30%,” kata Eddy di sela paparan publik di Jakarta, Jumat (12/12).

 

Sementara itu, sisa utang sebesar Rp 2,2-2,9 triliun atau 30-40% dari total utang akan dilunasi dengan pembayaran tunai. Pelunasan ini dilakukan dengan cara memonetisasi sejumlah aset perseroan. Jika berjalan lancar, utang di tingkat holding bisa berkurang menjadi US$ 135 juta, dari posisi per September 2014 sebesar US$ 735 juta. Eddy optimistis, seluruh proses restrukturisasi dan pelunasan bisa diselesaikan pada kuartal I-2015.

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak

JAKARTA kontan. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mematangkan rencana menggelar restukturisasi utang. Eddy Soeparno, Direktur Keuangan BNBR bilang, sedang proses restrukturisasi pinjaman senilai US$ 600 juta.

BNBR menawarkan proposal menyelesaikan utang. Pertama, BNBR membayar tunai sebagian fasilitas itu melalui dana dari kas internal. Kedua, konversi utang menjadi saham kepada para kreditur.

“Kami belum menentukan porsi yang akan dibayar tunai dan dikonversi menjadi saham. Tapi, porsi yang dibayar tunai kami rencanakan lebih sedikit jumlahnya,” kata Eddy, Jumat (12/12).

Jika merujuk laporan keuangan per 30 September 2014, posisi kas dan setara kas BNBR hanya Rp 207,3 miliar. Jumlah ini tak cukup melunasi pinjaman BNBR.

Restrukturisasi ini merupakan strategi BNBR untuk efisiensi. Per 30 September 2014, BNBR menanggung utang jangka pendek Rp 6,5 triliun dan pinjaman jangka panjang Rp 2,56 triliun.

Jika diklasifikasi berdasarkan mata uang, BNBR menanggung utang dalam mata uang dollar Amerika Serikat (AS) US$ 691 juta. Sementara utang BNBR dalam mata uang rupiah tercatat Rp 615 miliar per 30 September 2014.

Tanggungan utang yang besar ini memang menjadi faktor klasik menggerus laporan keuangan emiten Grup Bakrie. Tengok saja, di sembilan bulan tahun ini, BNBR mesti membayar bunga dan menanggung beban keuangan Rp 578,84 miliar.

Jumlah ini lebih tinggi dari beban bunga BNBR di periode sama tahun lalu yang tercatat Rp 300,25 miliar. Tapi, BNBR masih mencatatkan laba bersih Rp 22,56 miliar pada sembilan di 2014. Angka ini lebih baik dibandingkan kuartal III-2013 yang masih rugi Rp 750,28 miliar.

Laba bersih bisa diperoleh lantaran pendapatan BNBR di akhir kuartal III-2014 sebesar Rp 4,74 triliun, naik 61,77%. Namun, defisiensi modal BNBR naik Rp 89,48 miliar dibanding Juni 2014 menjadi Rp 1,94 triliun. Pada pertengahan 2014, modal BNBR minus Rp 1,85 triliun.

Tjiendradjaja & Handoko Tomo, akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan kuartal III-2014 BNBR bilang, defisiensi modal tersebut mengindikasikan ketidakpastian material. Ini menyebabkan keraguan signifikan atas kemampuan perusahaan mempertahankan kelangsungan usaha.

Guna mengurangi angka defisiensi modal itu, BNBR akan memacu pendapatan dari segmen bisnis insfrastruktur. Presiden Direktur BNBR, Bobby Gafur Umar mengatakan, sedang menggarap tiga proyek. Yakni pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Tanjung Jati A yang berkapasitas 2 X 660 megawatt, pembangunan pipa gas Kalimantan-Jawa I (Kalija I) dan proyek tol Cimanggis-Cibitung.

Editor: Avanty Nurdiana

NUSA DUA kontan. Melorotnya harga saham Grup Bakrie kian menuai kekhawatiran dari investor. Kondisi ini pun langsung menarik perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Tidak ada pengawasan khusus untuk saham Grup Bakrie, karena kita akan mengawasi secara menyeluruh baik soal nilai saham yang turun dan penyebabnya,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan, Nurhaida, Sabtu (7/12).

Menurutnya, pengawasan khusus akan dilakukan sepanjang aksi korporasi yang dilakukan manajemen Grup Bakrie diduga ada indikasi terhadap pelanggaran. “Kalau sudah ada indikasi pelanggaran tentu perlu ada pengawasan khusus,” paparnya.

Kemudian soal PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang diduga gagal bayar, kata Nurhaida, pihaknya sudah mengkomunikasikan dengan manajemen BUMIdan tinggal menunggu hasilnya dan klarifikasinya.

Asal tahu saja, tercatat, beberapa saham group Bakrie saat ini berada di level Rp 50 per saham, seperti PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (UNSP), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Darma Henwa (DEWA). Sementara, saham BUMI saat ini di level Rp 78 per saham.

BUMI sejauh ini sebagai katalisator saham-saham Grup Bakrie. Harga saham BUMI di akhir 2013 berada di level Rp 300 per lembar. Sahamnya terus berada di tren melemah sampai pada penutupan perdagangan saat ini Rp 78 per lembar.

Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) melambatkan ekspansinya. Tahun depan, ELTY akan menggarap 5 proyek yang terdiri dari superblok, townships, hotel & resorts, dan theme park. Belum jelas berapa nilai dan dari mana sumber dana untuk penggarapan proyek tersebut.

Analis First Asia Capital David Sutyanto mempertanyakan penggarapan proyek tersebut. “Proyek itu benar berjalan atau janji manis saja,” ucapnya.

Pasalnya, kas dan setara kas ELTY cuma Rp 104,49 miliar. David menyebut, struktur kasnya tak memungkinkan untuk mampu membangun superblok. Maka untuk mendanai proyek, ELTY akan mencari pinjaman. Rasio utang terhadap modal atau Debt to Equity Ratio (DER) emiten properti ini masih di posisi 0,7x. Rendahnya DER ini karena ELTY yang telah melakukan restrukturisasi utang dengan menjual aset.

Lebih lanjut, ia bilang bahwa laporan keuangan ELTY perlu diwaspadai. Ini karena aset lancarnya hanya Rp 3,65 triliun. Sedangkan, kewajiban lancarnya mencapai Rp 4,4 triliun.

David mencermati, kinerja keuangan ELTY tengah mengalami penurunan. Pada kuartal ketiga, pendapatannya merosot 51,31% dari Rp 2,67 triliun menjadi Rp 1,3 triliun. Maka dari itu, ELTY ingin terus melakukan pembangunan supaya bisa meningkatkan penjualan.

KONTAN telah menghubungi manajemen ELTY untuk meminta penjelasan terkait detail penggarapan proyek tersebut. Namun tak ada jawaban. Pada 5 Desember mendatang, ELTY akan mengadakan paparan publik.

Editor: Barratut Taqiyyah

 

TEMPO.CO, Jakarta – Lembaga pemeringkat Standard & Poors (S&P) menurunkan peringkat kredit PT Bumi Resources, lini bisnis utama Grup Bakrie di sektor pertambangan. S&P menurunkan peringkat utang Bumi dari selective defaultmenjadi default atau gagal bayar. (Baca juga: Gelombang Badai Utang Bakrie)

Menurut analis dari Kredit S&P, Vishal Kulkarni, kredit korporasi Bumi dinyatakan default karena perusahaan ini dinilai tidak mampu membayar kewajibannya, setidaknya selama enam bulan ke depan. “Kami menduga Bumi akan mengalami general default (gagal bayar secara keseluruhan),” kata dia seperti dikutip dari Reuters, Rabu, 3 Desember 2014.

Penilaian ini didasarkan S&P atas beberapa catatan, salah satunya saat tiga anak usaha Bumi Resources sudah mendapat persetujuan atas restrukturisasi utang dari Pengadilan di Singapura. Tiga perusahaan itu yakni Bumi Investment Pte Ltd, Enercoal Resources Pte Ltd, dan Bumi Capital Pte Ltd yang berbasis di Singapura. Perusahaan-perusahaan itu juga dikabarkan sudah meminta perlindungan dari kreditur di Amerika, setelah menanggung utang Rp 3,7 triliun. Selain itu, Bumi gagal membayar bunga dari utang senilai US$ 700 juta.

Dalam pemaparan di Jakarta, Rabu, 26 November 2014, Direktur Keuangan Bumi Resources Andrew Christopher Beckham mengatakan jumlah utang perseroan mencapai US$ 3,73 miliar atau sekitar Rp 44,77 triliun. Utang terbesar berasal dari Country Forest Limited Facility sebesar US$ 1,03 miliar. Ini adalah utang dari lembaga keuangan milik China Investment Corporation (CIC). (Baca juga: Utang Bakrie Rp 21,4 triliun dan US$ 5,7 miliar)

Pada awalnya, kata Beckham, utang kepada CIC mencapai US$ 1,9 miliar dengan tingkat bunga 12 persen. Namun pada tahun 2013 dan 2014 perseroan telah membayar ‎masing-masing US$ 600 juta dan US$ 600 juta. “Tahun depan akan dibayar US$ 700 juta,” katanya.

Beckham yakin kinerja perusahaannya akan terus membaik tahun depan. ‎Dia menargetkan kapasitas produksi batu bara tahun depan mencapai 100 metrik ton. Selain menargetkan peningkatan kapasitas produksi, Bumi juga berencana memangkas utang dan bunga. Bahkan dia menyatakan bahwa perusahaan akan berusaha agar kembali mendapatkan laba dan mampu membagikan dividen.

FERY F. | FAIZ NASHRILLAHJAKARTA. Majelis Hakim Pengadilan Niaga (PN) Jakarta Pusat yang diketuai Jamaludin Samosir mengabulkan permohonan restrukturisasi utang atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) yang diajukan krediturnya, yakni PT Netwave Multi Media (NMM).

“Mengabulkan permohonan PKPU sementara selama 30 hari sejak tanggal yang diucapkan putusan,” kata Jamaludin saat membacakan amar putusan, di PN Jakarta Pusat, Senin (10/11) kemarin.

Majelis hakim menilai, permohonan PKPU yang diajukan PT NMM telah memenuhi persyaratan dan menemukan bukti adanya utang BTEL kepada NMM yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih sebesar Rp 4,73 miliar.

Selain itu, Jamaludin juga menunjuk Titik Tedjaningsih,  hakim di PN Jakarta Pusat,  sebagai hakim pengawas. Majelis hakim juga mengangkat William Eduard Daniel dan Imran Nating sebagai pengurus PKPU.

Kuasa hukum BTEL, Aji Wijaya mengaku terkejut atas putusan hakim yang menetapkan PKPU sementara selama 30 hari. Aji Wijaya menilai majelis hakim tidak menjelaskan pertimbangannya karena proses PKPU lazimnya diberikan waktu selama 45 hari.

“Yang telah kami sampaikan adalah ringkasan rencana perdamaian, mungkin majelis berpikir kami sudah siap, sehingga PKPU dipercepat. Tapi itu terlalu singkat,” kata Aji.

BTEL akan melihat lebih dahulu rapat kreditur yang waktunya akan ditentukam hakim pengawas nanti, yakni oleh hakim pengawas Titik Tedjaningsih. Aji bilang, dia akan bekerja keras untuk mencapai perdamaian dan untuk mendapatkan dukungan dari krediturnya, yakni NMM.

Kuasa hukum NMM, Sandra Nangoi mengataka pihaknya akan mengikuti prosedur lamjutan dan akan mempersiapkan proposal lanjutan yang lebih terperinci dalam proses PKPU tersebut.

NMM mengajukan permohonan PKPU terhadap BTEL sejak 23 Oktober 2014 lantaran BTEL tidak dapat memenuhi kewajibannya untuk membayar biaya perangkat infrastruktur telekomunikasi sebesar Rp 54 juta per bulan terhitung sejak masa sewa tahun 2012 jatuh tempo pada Mei 2014.

http://nasional.kontan.co.id/news/kini-bakrie-telecom-berstatus-dalam-pkpu
Sumber : KONTAN.CO.ID

 

JAKARTA kontan. Laba bersih PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) anjlok hingga 72,21% di kuartal III-2014. Merosotnya laba bersih ini lantaran perseroan sulit mendongkrak penghasilan usaha.

Per akhir September 2014, penghasilan usaha bersih ELTY turun tajam dari Rp 2,67 triliun menjadi Rp 1,3 triliun. Perseroan masih tertolong adanya penghasilan dari bunga dan keuangan bersih sebesar Rp 20,29 miliar.

Selain itu, ada laba dari selisih kurs yang sebesar Rp 1,79 miliar juga menahan laju penurunan laba bersih perseroan. Begitu pula mengempisnya bagian atas rugi bersih entitas asosiasi bersih pun berpengaruh.

Pada pos ini, nilai kerugian hanya Rp 2,29 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, nilai kerugian mencapai Rp 48,09 miliar.

Editor: Sanny Cicilia

 

NERACA

Jakarta- Sampai dengan sembilan bulan pertama tahun ini, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) berhasil membukukan penjualan mencapai Rp 2,028 triliun atau tumbuh 41% dibandingkan penjualan priode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,439 triliun. Peningkatan penjualan ini bertolak belakang ditengah harga jual minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dan karet yang justru terus turun sepanjang tahun ini.

Dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (3/11), Direktur PT Bakrie Sumatera Plantations, Andi W. Setianto mengatakan, peningkatan penjualan ini membuktikan bahwa fundamental bisnis perseroan sebenarnya tetap kuat untuk terus memacu kinerja.

Selain penjualan yang melonjak hingga 41%, laba operasi dan laba kotor Bakrie Sumatera juga naik cukup signifikan. Laba kotor meningkat 45% dari Rp 395 miliar di kuartal III-2013 menjadi Rp 575 miliar di kuartal III-2014. Perolehan laba operasi juga meningkat hingga 106% dari Rp 135 miliar menjadi Rp 278 miliar.

Menurut dia, kenaikan ini merupakan hasil dari strategi perseroan melakukan peningkatan produksi sawit dan karet di tengah kondisi harga pasar komoditas sawit dan karet yang masih berada di level yang rendah,”Hasilnya sudah mulai terlihat sejak awal tahun ini. Perlahan tapi pasti, kami berhasil melakukan perbaikan dan memulihkan kekuatan fundamental bisnis kami,” ujar Andi

Pada kuartal III-2014, harga komoditas sawit (CPO) turun ke level terendah US$ 670 per ton CIF Rotterdam dibandingkan harga di kuartal III-2013 yang level terendahnya saat itu tercatat US$ 810 per ton.  Kondisi serupa juga terjadi di komoditas karet. Di kuartal III-2014 harga komoditas karet turun ke level terendah US$ 1,6 per kg dibandingkan harga di kuartal III-2013 yang masih bertahan di level terendahnya US$ 2,6 per kg,“Dalam jangka pendek ini kami berhasil fokus pada optimalisasi produktivitas pabrik melalui peningkatan pembelian sawit dan karet dari petani. Kami akan melanjutkan upaya peningkatan produktivitas aset dan sustainability struktur permodalan yang tercermin di rasio hutang yang sehat, mengacu ke best practice,”kata Andi.

Di sisi lain, melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia (ASD-BSP), perseroan juga telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luasan lahan kebun yang sama. Bibit unggul ASD-BSP ini berpotensi menghasilkan hingga 40 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektare dibandingkan dengan umumnya 25-30 ton TBS per hektare.

Asal tahu saja, PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) dikabarkan terancam gagal bayar bunga obligasi senilai US$ 100 juta atau setara Rp 1,1 triliun. Alhasil dampak, gagal membayar utang obligasi, saham perseroan disuspensi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak akhir pekan lalu hingga saat ini.

Direktur Bakrie Sumatera Plantation, Balakrishnan Chandrasekaran pernah bilang, pihaknya akan bernegosiasi dengan para trustee alias pemegang obligasi. Selain itu, perseroan juga sudah menjelaskan kepada BEI bahwa jika bunga tersebut tidak dibayar, maka bisa menimbulkan event of default atas Secured Equity-linked Redeembale Notes senilai US$ 100 juta tersebut. (bani)

 

 

 

JAKARTA okezone – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) mencatatkan rugi neto yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk dari operasi yang dilanjutkan sebesar Rpp49,97 miliar pada akhir kuartal III-2014.

Kinerja keuangan ini masih membaik dibandingkan periode yang sebelumnya, di mana perseroan mencatat rugi Rp770,5 miliar.

Padahal, emiten perkebunan ini mencatat kenaikan pada penjualan menjadi Rp2,028 triliun. Perolehan tersebut naik bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,439 triliun.

“Nilai penjualan UNSP sembilan bulan pertama tahun 2014 ini mencapai Rp2,028 triliun. Ini membuktikan bahwa fundamental bisnis kami sebenarnya tetap kuat untuk terus memacu kinerja,” kata Direktur UNSP Andi W. Setianto dalam keterangan tertulis, Senin (3/11/2014).

Selain penjualan, laba operasi dan laba kotor UNSP juga naik cukup signifikan. Tercatat hingga September laba operasi naik menjadi RpRp278 miliar dibandingkan dengan sebelumnya sebesar Rp135 miliar. Sementara itu, laba kotor menjadi Rp575 miliar.

Kenaikan pada kinerja perseroan ditengah harga jual minyak kelapa sawit (crude palm oil, CPO) dan karet yang terus melorot tajam sepanjang tahun ini.

Menurut dia, catatan positif ini antara lain merupakan hasil dari strategi jitu Perseroan melakukan peningkatan produksi sawit dan karet ditengah kondisi harga pasar komoditas sawit dan karet yang masih berada di level yang rendah.

Pada kuartal III-2014 harga komoditas sawit (CPO) turun ke level terendah USD670 per ton CIF Rotterdam dibandingkan harga di kuartal III-2013 yang levelterendahnya saat itu tercatat USD810 per ton. Data Perseroan menunjukkan harga CPO pernah mencapai level tertinggi USD1.700 per ton di April 2011.

Kondisi serupa juga terjadi di komoditas karet. Di kuartal III-2014 harga komoditas karet turun ke level terendah USD1,6 per kg dibandingkan harga di kuartal III-2013 yang masih bertahan di level terendahnya USD2,6 per kg. Data Perseroan menunjukkan harga karet pernah mencapai level tertinggi USD6,2 per kg pada Februari 2011.

“Dalam jangka pendek ini kami berhasil fokus pada optimalisasi produktivitas pabrik melalui peningkatan pembelian sawit dan karet dari petani, yang juga sekaligus membantu peningkatan ekonomi mereka. Kami akan melanjutkan upaya peningkatan produktivitas aset dan sustainability struktur permodalan yang tercermin di rasio hutang yang sehat, mengacu ke best practice,” kata Andi.

(rzk)

Bisnis.com, JAKARTA–PT Smartfren Telecom Tbk. dan PT Bakrie Telecom Tbk. akhirnya memutuskan untuk menjalin kerja sama dalam bentuk sewa jaringan.

Setelah dua bulan dibendung wacana aksi merger dan tukar guling saham (share swap) penggunaan spektrum frekuensi 800 MHz, akhirnya dua emiten tersebut memutuskan untuk jalin kerja sama sewa jaringan. Kamis, (30/10/2014),

Keduanya menandatangani kerja sama untuk kolaborasi penyelenggaraan jaringan. Langkah kolaborasi ini adalah komitmen kedua operator code division multiple access (CDMA) itu untuk mendorong peralihan teknologi CDMA  menuju layanan 4G berbasis frequency division duplex long term evolution (FDD LTE).

Sumber Bisnis menyebut Smartfren Telecom (FREN) harus menggelontorkan dana sekira US$20 juta-US$30 juta untuk kolaborasi penyelenggaraan jaringan dengan Bakrie Telecom (BTEL).

“Dananya diambil dari kas internal perseroan,” ucap sumber tersebut, Senin, (3/11/2014).

Dia juga menyebut kerja saja sewa-menyewa jaringan tersebut berdurasi tiga tahun.

Ketika dikonfirmasi, Direktur Keuangan Smartfren Telecom Anthony Susilo mengatakan perjanjian kerja sama di antara BTEL dan FREN merupakan solusi yang menguntungkan kedua pihak. Yang pasti, ada tambahan dana yang dikeluarkan FREN dalam kerja sama ini.

“Efeknya ke kinerja keuangan kami adalah kami mendapatkan tambahan pendapatan dari BTEL atas sewa jaringan. Adapun, BTEL dapat melakukan efisiensi,” tutur Anthony kepada Bisnis, Senin, (3/11).

Rugi EBITDA yang menghantui FREN sejak 2008 diprediksi Anthony dapat berbalik arah ke laba EBITDA pada 2014. Per semester I/2014, EBITDA FREN mencapai Rp48 miliar.

Presiden Direktur BTEL Jastiro Abi mengatakan kerja sama ini merupakan respon dari operator CDMA atasarahan pemerintah untuk mendorong broadband society dan broadband economy di Indonesia. Dengan Perjanjian Kolaborasi tersebut, jaringan BTEL akan digabungkan dengan jaringan milik Smartfren sehingga dapat melayani pelanggan Esia.

“Kerja sama ini membuka peluang bisnis yang jauh lebih besar  bagi BTEL dan Smartfren sebagai operator yang sudah diizinkan untuk menggunakan teknologi netral pada frekuensi 800 MHz. Sehingga, pemegang saham dan seluruh stakeholders mempunyai kesempatan lebih terbuka lagi untuk mengembangkan usahanya,” kataJastiro dalam siaran pers yang diterima Bisnis, Senin, (3/11).

Ke depan, BTEL dan FREN segera menjajaki kemungkinan pengembangan jaringan menuju layanan 4G berbasis LTE FDD guna meningkatkan kualitas dan layanan bagi para pelanggannya.

 

Editor : Ismail Fahmi

Topsaham – Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara perdagangan saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) sejak sesi pertama perdagangan bursa, Rabu (29/10) ini. Demikian dikemukakan I Gede Nyoman Yetna, Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Group I BEI, dan Eko Siswanto, Kepala Divisi Operasional Perdagangan BEI dalam pengumuman di sistem keterbukaan informasi.

BEI melakukan suspensi atas dasar informasi adanya permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang diajukan oleh PT Netwave Multi Media terhadap perusahaan telekomunikasi berbasis CDMA milik grup Bakrie tersebut. Informasi tersebut disampaikan manajemen BTEL pada 28 Oktober 2014.

“Dalam rangka menjaga pasar yang teratur, wajar, dan efisien, bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek BTEL,” ujarnya.

Untuk itu, BEI meminta kepada para pemangku kepentingan atas Bakrie Telecom untuk memperhatikan setiap keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan. (Irawan)
http://www.topsaham.com/new1/index.php?option=com_content&view=article&id=11414:bei-suspensi-perdagangan-btel&catid=3:head-line-news&Itemid=61
Sumber : TOPSAHAM.COM

 

New York detik -PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dituntut investor di Amerika Serikat (AS) gara-gara dianggap gagal bayar obligasi senilai US$ 380 juta (Rp 4,1 triliun). Sudah dua kali operator Esia itu lalai bayar bunga utang.

Akibatnya, anak usaha Grup Bakrie itu terancam gagal bayar jika kembali lalai. Universal Investment Advisory SA, Vaquero Master EM Credit Fund Ltd, dan Trucharm Ltd merupakan tiga penggugat dalam kasus ini.

Sementara yang digugat adalah Bakrie Telecom Pte Ltd, BTEL, PT Bakrie Network, dan PT Bakrie Connectivity di Pengadilan New York.

Emiten berkode BTEl itu adalah induk usaha Bakrie Telecom Pte Ltd, perusahaan Singapura yang menerbitkan obligasi tersebut. Semetara Bakrie Network dan Bakrie Connectivity adalah perusahaan afiliasi BTEL.

Pihak penggugat, yang punya lebih dari 25% kepemilikan obligasi itu menyatakan surat utang tersebut akan jatuh tempo Mei 2015. Grup Bakrie dianggap dua kali gagal bayar bunga pada November 2013 dan Mei 2014.

“Tergugat telah mengakui bahwa ancaman gagal bayar ini akan terus berjalan tapi tidak ada pembayaran bunga yang dilakukan,” kata pihak penggugat dalam dokumen yang diterima Reuters, Kamis (25/9/2014).

“Dengan demikian besar kemungkinan tergugat akan mengalami gagal bayar untuk pembayaran November 2014,” tambahnya.

(ang/dnl)

JAKARTA kontan. Tanpa diketahui banyak pihak, daftar pemegang saham produsen batubara milik Keluarga Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), telah berubah. Hal ini terjadi dalam kurun waktu 5 September hingga 12 September 2014.

Mengacu data Biro Administrasi Efek Ficomindo Buana Registrar pada 16 September 2014, PT Tritunggal Sumber Utama tercatat menguasai 16,35 miliar saham atau 30,86% total saham BUMI. Mengacu harga BUMI kemarin Rp 190 per saham, nilai transaksi ini mencapai Rp 3,11 triliun.

Tritunggal beralamat di Jl Proklamasi No. 91 Menteng, Jakarta Pusat. Tapi, perusahaan ini tak punya situs resmi yang bisa menjadi rujukan.

Kepemilikan Tritunggal bahkan lebih besar dari pemegang saham terbesar BUMI sebelumnya, Long-haul Holdings Ltd. Per 30 Juni 2014, perusahaan milik Grup Bakrie ini menguasai 6,06 miliar saham atau 29,18% saham BUMI.

Tritunggal bukan satu-satunya pemegang saham baru BUMI. Sebelumnya, ada dua perusahaan yang masuk BUMI, yakni PT Damar Reka Energi dan PT Karsa Daya Rekatama. Masing-masing membeli 6,9 miliar saham atau 13,03% saham BUMI per 5 September 2014. Di periode 8 September-12 September 2014, Damar menjual 1 miliar saham BUMI, jadi kepemilikannya turun menjadi 11,14%. Seperti Tritunggal, identitas Damar Reka dan Karsa Daya juga misterius.

Damar berkantor di Menara Standard Chartered lantai 30, Jakarta. Adapun Karsa berkantor di Ruko Niaga Kalimalang Bekasi. Keduanya tak punya situs resmi yang menjadi etalase utama perusahaan kredibel. Kehadiran tiga perusahaan ini menimbulkan tanda tanya. Sebab, transaksi saham itu tak diumumkan detail ke publik, termasuk harga, skema maupun siapa penjualnya.

Manajemen BUMI enggan berkomentar. “Saya tak tahu, nanti saya cek dulu,” kata Dileep Srivastava, Direktur BUMI ke KONTAN, Rabu (24/9).

Kemungkinan tiga perusahaan itu menyerap saham BUMI lewat Penawaran Umum Terbatas IV dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu dari Juli hingga awal September. BUMI merilis saham biasa seri B maksimal 32,2 miliar unit. Harga pelaksanaannya Rp 250 per saham senilai total Rp 8,05 triliun.

Selain itu, pada 15 September 2014, ada crossing 4,46 miliar saham BUMI di pasar negosiasi. Nilainya Rp 265,5 miliar.
Editor: Sandy Baskoro

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara (suspensi) saham PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. (UNSP).

Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Group BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan suspensi tersebut dilakukan merujuk adanya event of default atau gagal bayar atas pembayaran bunga dari secured equity-linked redeemable notes senilai US$100 juta dengan tingkat bunga 8%.

“Belum ada informasi lebih lanjut dari perseroan mengenai hal tersebut. Dalam rangka menjaga pasar yang teratur, wajar, dan efisien, BEI memutuskan untuk suspen saham UNSP,” paparnya dalam keterangan tertulis, Jumat (19/9/2014).

Penghentian sementara itu dilakukan di seluruh pasar terhitung sejak sesi I perdagangan hari ini. Otoritas bursa tersebut juga meminta pemangku kepentingan untuk memperhatikan keterbukaan informasi dari perseroan, terutama pemenuhan kewajiban pembayaran bunga tersebut.

Editor : Nurbaiti

PT Bakrie Brother Tbk (BNBR) membukukan laba bersih pada Quarter 2 2014 sebesar 123,1 miliar. Naik bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2013 sebesar  4,9 miliar. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 1.31 per lembar.

 

Berikut Laporan keuangan BNBR Quarter 2 2014 :

Account Quarter 2 2014
Last Price          50
Share Out 93,7 B
Market Cap. 4.686,1 B
Balance Sheet
Cash               3.257,2 B
Total Asset 11.345,0 B
S.T Borrowing 7.967,7 B
L.T Borrowing 2.695,4 B
Total Equity -1.858,5 B
Income Statement
Revenue           3.700,1 B
Gross Profit 1.482,0 B
Operating Profit 1.118,1 B
Net. Profit        123,1 B
EBITDA         1.178,8 B
Interest Exp. 417,1 B
Ratio
EPS                 1,31
PER                 38,17x
BVPS                 -19,83
PBV                 -2,52x
ROA                 1,09%
ROE                 -6,62%
EV/EBITDA 10,26
Debt/Equity -5,74
Debt/TotalCap 1,21
Debt/EBITDA 9,05
EBITDA/IntExp. 2,83

Sumber : IPS RESEARCH

detik Jakarta -Tiga anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang bergerak di sektor bahan bangunan, onderdil otomotif, dan pabrik besi memberikan kontribusi 91,46% terhadap pendapatan perseroan. Kinerja positif ini membuat laba grup naik sangat fantantis yaitu 2400% menjadi Rp 123 miliar pada semester I-2014.

Presiden Direktur BNBR Bobby Gafur Umar, menegaskan bahwa kontribusi yg terus meningkat terhadap kinerja perseroan dalam beberapa tahun terakhir ini, adalah dari sektor manufaktur yang mereka geluti.

“Industri bahan bangunan yang dijalankan oleh PT Bakrie Building Industries (BBI), industri komponen otomotif yang dijalankan oleh PT Bakrie Autoparts dan industri metal yang dioperasikan PT Bakrie Metal Industries (BMI) kini memang menjadi primadona. Kinerja tiga unit usaha ini semakin baik, dan berkontribusi signifikan terhadap pendapatan perseroan,” kata Bobby dalam keterangan tertulisnya, Minggu (31/8/2014)

Tercatat ketiga anak usaha tersebut pada semester pertama 2014, memberikan kontribusi pendapatan sebesar Rp 2,90 triliun terhadap revenue BNBR. Angka itu mengalami kenaikan 73,2% jika dibandingkan pada semester pertama 2013. Jika semester pertama 2013 kontribusi pendapatan sebesar Rp 1,75 triliun maka pada semester pertama tahun 2014 naik menjadi Rp 3,18 triliun.

Capaian laba Rp 123,12 miliar, meningkat 2.435% dibanding perolehan laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk pada semester I-2013 lalu yang hanya sebesar Rp 4,86 miliar

Bobby menambahkan pihaknya memutuskan untuk mendorong ketiga anak usahanya menjadi perusahaan manufaktur berskala internasional. Caranya melakukan perluasan kapasitas produksi, pengembangan produk baru, menyiapkan rencana kerja sama dengan mitra strategis, serta bersiap melakukan akuisisi perusahaan lain.

“Kami sudah siapkan semua, dimulai tahun ini juga. Ini rencana lima tahun dan jangka panjang ke depan,” ujar Bobby
Bisnis.com, JAKARTA — PT Energi Mega Persada Tbk menjajaki pinjaman baru untuk melunasi utang jangka pendek sebesar US$250 juta.

Pihak perseroan menyatakan sedang mencari pinjaman baru dengan bunga rendah untuk menghemat beban yang harus ditanggung perseroan.

Direktur Utama PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), Imam Agustino menuturkan pinjaman ini diharapkan dapat diperoleh sebelum akhir tahun 2014.

Hal ini diperlukan guna menghindari beban yang semakin tinggi pada saat pergantian tahun.

“Belum tahu apakah di kuartal III atau tidak. Yang pasti sebelum akhir tahun,” ujar Imam, Rabu (27/8/2014).

Tahun lalu perseroan sudah refinancing sebesar US$203 juta dengan bunga turun dari 20% menjadi sekitar 6%, hingga hemat US$28 juta.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan semesterl I-2014, total pinjaman bank perseroan turun menjadi US$692,51 juta pada semester I 2014 dari periode 2013 sebesar US$731,41 juta.

Ekuitas perseroan naik menjadi US$ 915,39 juta pada semester I 2014.

Selama semester I 2014, perseroan mencatatkan produksi naik menjadi 13.032 barel per hari dari periode sebelumnya 12.551 barel per hari.

Produksi gas perseroan naik menjadi 223 juta kubik per hari.

Naiknya produksi itu turut mendongkrak angka penjualan perseroan sebesar 10,35% menjadi US$ 413,37 juta atau sekitar Rp 4,79 triliun (asumsi kurs Rp 11.600 terhadap dolar Amerika Serikat) selama enam bulan pertama 2014 dari periode sama tahun 2013 sebesar US$374,58 juta.

Editor : Saeno

JAKARTA – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) meraih laba bersih semester I tahun ini sebesar Rp 111,3 miliar, turun signifikan 82,4% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 707,7 miliar. Sementara pendapatan perseroan juga turun 51,3% menjadi sebesar Rp 1,1 triliun dari sebelumnya Rp 2,3 triliun.

Manajemen perseroan dalam laporan keuangannya menjelaskan, penjualan real estat dan apartemen turun cukup signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dari sektor bisnis tersebut, anak usaha perseroan, PT Superwish Perkasa menatatkan penjualan sebesar Rp 147,7 miliar, sedangkan pada periode sebelumnya sebesar Rp 1,2 triliun.

“PT Graha Andrasentra Propertindo mencatatkan penjualan sebesar Rp 345 miliar, periode sebelumnya sebesar Rp 77,9 miliar,” jelas manajemen dalam laporan keuangannya, Kamis (28/8).

sementara itu pendapatan dari sektor perkantoran dan pusat belanja turun tipis menjadi sebesar Rp 166,3 miliar dari sebelumnya sebesar Rp 183,9 miliar. Sedangkan dari bisnis perhotelan pendapatan pesroan tercatat sebesar Rp 160,1 miliar turun tipis dibandingkan dengan tahun sebelumnya senilai Rp 202,1 miliar.

Sementara itu utang bank dan lembaga keuangan jangka pendek perseroan pada semester I tahun ini tercatat sebesar Rp 799,9 miliar, turun 1,9% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 815,5 miliar. Sedangkan utang yang akan jatuh tempo tahun ini adalah sebesar Rp 135,6 miliar.

Utang bank janka panjang perseroan tercatat sebesar Rp 467,8 miliar, naik dibandingkan semester I-2013, yaitu sebesar Rp 461,9 miliar. Sedangkan total liabilitas perseroan pada semester I tahun ini adalah sebesar Rp 5,3 triliun.

Sebelumnya, Bakrieland Development melalui anak usahanya, PT Bakrie Swasakti Utama, akan mengakuisisi perusahaan properti PT Mutiara Masyhur Sejahtera, anak usaha PT Minarak Labuan Indonesia. Nilai akuisisi mencapai Rp 3,1 triliun.

Perseroan berencana membeli 750.000 atau setara 99,21% saham Mutiara Masyhur. “Perjanjian jual beli saham telah dilakukan pada 30 Juni 2014,” ungkap Manajemen Bakrieland melalui prospektus resmi, beberapa waktu lalu.

Mutiara Masyhur memiliki lahan potensial untuk dikembangkan seluas 500 hektare (ha) di Sidoarjo, Jawa Timur. Di atas lahan tersebut, Bakrieland berencana mengembangkan residensial horisontal, fasilitas penunjang seperti shopping mall retail modern, dan tempat hiburan.

Selain itu, perseroan juga berencana membangun hotel dan convention hall sebagai fasilitas pelengkap lainnya. (fik)

 

http://www.investor.co.id/marketandcorporatenews/semester-i-laba-bersih-bakrieland-turun-824/93067

Sumber : INVESTOR DAILY

JAKARTA – PT Newmont Nusa Tenggara (NTT) mencabut gugatan arbitrase yang ditujukan kepada pemerintah Indonesia. Seperti diketahui, Newmont menggugat pemerintah Indonesia sebagai protes Newmont atas penerapan Undang-Undang Mineral dan Batu Bara (Minerba) Nomor 4 Tahun 2009.

Walaupun belum ada cabutan gugatan resmi, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan hal ini akan membuka peluang bagi Newmont untuk kembali negosiasi dengan pemerintah.

“Ya intinya pencabutan gugatan arbitrase merupakan syarat dari pemerintah untuk menerima mereka bisa meneruskan perundingan kembali yang sempat terhenti,” ucap Hidayat kepada Okezone, di Jakarta, Kamis (28/8/2014).

Namun, dia belum mengetahui jadwal negosiasi kembali antara pemerintah dan Newmont. Pasalnya, negosiasi tersebut harus menunggu surat resmi. “Itu masalah waktu saja,” kata Hidayat.

Seperti dikutip dari situs resmi Newmont Mining Corporation, NNT menarik gugatan arbitrase kepada pemerintahan Indonesia. PT NTT dan Nusa Tenggara Partnership BV selaku pemegang saham mayoritas meminta untuk penghentian dan penarikan gugatan arbitrase yang diajukan kepada International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID).

Keputusan untuk menghentikan dan menarik arbitrase muncul setelah komitmen dari pejabat pemerintah untuk membuka negosiasi formal dan mengadakan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan PTNNT atas penghentian tuntutan arbitrase. (mrt)

http://economy.okezone.com/read/2014/08/28/19/1030912/gugatan-dicabut-pemerintah-baru-mau-nego-dengan-newmont

Sumber : OKEZONE.COM

detik JAKARTA. Awal pekan ini, otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) memanggil manajemen PT Bakrieland Development Tbk (ELTY). Hal ini terkait pembelian obligasi konversi milik PT Madison Global. Apa hasilnya?

Hoesen, Direktur Penilaian Perusahaan BEI mengatakan, pihaknya masih melakukan penelaahan atas penjelasan yang disampaikan oleh manajemen ELTY. Selama ini, yang menjadi pertanyaan adalah, siapakah Madison Global?.

Ternyata, Madison Global adalah semacam kendaraan investasi atau yang kerap dikenal dengan nama special purpose vehicle (SPV). SPV ini akan digunakan ELTY untuk mengakuisisi lahan. Jadi, ketika jatuh tempo, obligasi akan dikonversi menjadi kepemilkan saham Madison.

Dengan kepemilikan saham Madison, berarti ELTY berhak atas lahan yang sudah dicaplok Madison. Namun, Hoesen mengaku, ia tidak ingat dimana saja lokasi lahan yang dimaksud. Tindakan yang dilakukan ELTY ini dinilai tidak menyalahi aturan.

Hanya saja, BEI tetap akan memantau sampai dengan transaksi terlaksana.

“Yang jelas, nanti kami akan telusuri lahan yang diakuisisi dan kesiapan dana mereka (ELTY),” ujarnya, Jumat (22/8).

Saat ini, BEI masih melakukan penelaahan atas semua jawaban yang diberikan manajemen ELTY. Hoesen juga mengonfirmasi, data-data yang diperoleh KONTAN mengenai Madison benar adanya.

Berdasarkan data yang dikumpulkan KONTAN, Madison Global merupakan perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, seperti pertambangan, jasa, hingga pengembang.

Madison memiliki modal dasar sebesar Rp 1,6 miliar, dengan modal yang ditempatkan Rp 400 juta dan modal disetor Rp 4 juta. Total seluruh saham yang dimiliki perusahaan adalah 1.600 saham dengan jumlah yang ditempatkan sebesar 400 saham, bernominal Rp 1 juta

Pendiri dan pemegang saham itu bernama Hari Aprianto yang menjabat sebagai Direktur, dan Andi Ridwan Akbar selaku Komisaris. Masing-masing memegang 200 lembar saham 50% saham Madison.

Jadi, obligasi konversi ini merupakan buntut dari penandatanganan perjanjian surat utang konversi (SUK) antara anak usaha ELTY, PT Bakrie Nirwana Semesta (BNS) dan perusahaan terafiliasi, PT Bakrie Capital Indonesia (BCI) dengan Madison. Nilainya mencapai Rp 1,65 triliun.

Penandatanganan perjanjian itu dilakukan pada 7 Februari 2013. Jangka waktu surat utang adalah dua tahun, yaitu akan jatuh tempo pada 7 Februari 2015. Dengan surat utang ini, ELTY memiliki peluang untuk mengonversi surat utang itu menjadi 1,64 juta saham Madison.

Bunga dari SUK ini dibanderol 10% per tahun dihitung sejak 7 Februari 2014. Bunga dibayar setiap akhir periode enam bulan terhitung sejak 7 Februari 2014. Dalam perjanjian disebutkan, konversi bisa dilakukan apabila Madison tidak melunasi pembayaran atas total kewajiban dalam jangka waktu 14 hari kerja sejak tanggal jatuh tempo.
Editor: Sanny Cicilia

kontan JAKARTA. Perusahaan minyak dan gas bumi, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) membukukan pendapatan sebesar US$ 413,38 juta pada semester I-2014 ini atau naik 10,36% dibandingkan dengan pendapatan pada semester I-2013 sebesar US$ 374,59 juta. Sementara itu, laba bersih ENRG pada semester I-2014 sebesar US$ 30,45 juta atau anjlok 83,04% jika dibandingkan dengan laba bersih pada semester I-2013 sebesar US$ 179,59 juta.

Direktur Utama ENRG Imam Pria Agustino menyatakan, selama semester I-2014, Energi Mega Persada memproduksi minyak sebanyak 13.032 barel per hari (bph) atau naik 3,8% dari produksi minyak pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 12.551 bph. “Kenaikan produksi minyak ini karena ada penambahan produksi dari Blok Tonga di Sumatera Utara,” katanya, dalam rilis, Jumat (25/7).

Selain itu, Imam mengklaim produksi gas Energi Mega juga meningkat tipis, dari 221 juta kaki kubik per hari pada semester I-2013, menjadi 223 juta kaki kubik per hari pada semester I-2014. Kenaikan produksi gas disumbangkan oleh produksi gas dari Blok Bentu, Riau.

Dia menjelaskan, kenaikan pendapatan perusahaan ditopang dari harga jual gas, pada semester I tahun 2014 harga jual gas perusahaan naik, dari US$ 5,7 per mmbtu pada semester I-2013 menjadi US$ 5,9 per mmbtu. pada semester ini juga beban keuangan ENRG juga sudah turun 30%.

Head of Investor Relations ENRG Herwin Hidayat mengatakan hingga akhir tahun 2014, manajemen Energi Mega belum berencana melakukan aksi korporasi mengakuisisi blok-blok baru. “Strategi kami lebih kepada meningkatkan produksi dari blok-blok migas yang sudah ada,” tegas Herwin kepada KONTAN, Jumat (25/7).

Editor: Hendra Gunawan

 

Darma Henwa (DEWA) memperoleh dana senilai US$11,5 juta dari hasil divestasi sebanyak 93,47% saham anak usahanya, yakni PT DH Energy kepada Lennete Limited. DH Energy merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa ketenagalistrikan. Divestasi ini merupakan restrukturisasi perseroan untuk melepas aset-aset perusahaan yang tidak produktif dan diharapkan dapat menciptakan struktur perusahaan yang lebih efisien dan fokus. Divestasi ditempuh bersamaan dengan rencana pengurangan utang kepada sejumlah bank yang bernilai US$135 miliar atau sekitar US$11,31 juta. Perseroan akan menyicil US$4 juta setiap tahunnya. (Investor Daily)
Sumber : IPS RESEARCH

 

JAKARTA – PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), perusahaan media milik Grup Bakrie, akan menjual 10% saham PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), induk usaha stasiun televisi ANTV. Visi Media menargetkan perolehan dana sebesar US$ 105 juta atau sekitar Rp 1,25 triliun.

Penjualan saham Intermedia akan menempuh mekanisme penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD). “Kami akan roadshow ke beberapa negara di Asia dan Eropa pada Oktober tahun ini,” kata Direktur Visi Media Robertus Bismakara di Jakarta, Kamis (3/7).

Visi Media akan menggunakan dana hasil divestasi tersebut untuk mempercepat pelunasan utang kepada Credit Suisse senilai US$ 220 juta. Perseroan meraih utang tersebut pada 1 November 2013, dengan tingkat suku bunga sebesar Libor plus 7,75% per tahun.

Pada April 2014, Visi Media telah mendivestasi 2,5% saham miliknya melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham Intermedia Capital. Nilai divestasi tersebut mencapai Rp 130,2 miliar. Adapun dana hasil divestasi saham Intermedia tersebut
telah digunakan untuk membayar sebagian utang kepada Credit Suisse.

“Tentu kami tidak mau lepas terlalu banyak saham Intermedia. Saat ini, kepemilikan kami masih di atas 90%,” ujar Robert.

 

http://www.investor.co.id/marketandcorporatenews/grup-bakrie-akan-jual-saham-induk-antv-rp-12-t/88875
Sumber : INVESTOR DAILY

kontan JAKARTA. PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) merombak jajaran direksinya. Anindya Novyan Bakrie didapuk sebagai Presiden Direktur VIVA menggantikan Erick Thohir. Hal ini telah disetujui oleh para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) yang digelar Selasa (3/7).

Selain itu pemegang saham VIVA juga menunjuk Rachmat Gobel, yang sebelumnya menjabat sebagai komisaris independen VIVA, menjadi komisaris utama menggantikan Anindya Novyan Bakrie. Berikut adalah susunan direksi dan komisaris VIVA yang baru:

Direksi:

Presiden Direktur: Anindya Novyan Bakrie

Wakil Presiden Direktur: Robertus Bismarka Kurniawan

Direktur: A. Ardiansyah Bakrie

Direktur: Otis Hahijari

Direktur: M.Sahid Mahudie

Direktur: Neil R. Tobing

Direktur: Dudi Hendrakusuma Syahlani
Komisaris:

Presiden Komisaris: Rachmat Gobel

Wakil Presiden Komisaris: Erick Thohir

Komisaris: Omar Luthfi Anwar

Komisaris: Rosan Perkasa Roeslani

Komisaris Independen: Setyanto Prawira Santosa

Komisaris Independen: RM. Djoko Setiotomo

Editor: Uji Agung Santosa

 

kontan JAKARTA. Setelah mendapat restu dari pemegang saham, PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP) akhirnya mengubah haluan bisnis dari produsen berbasis non-woven menjadi perusahaan batubara. Perseroan pun melakukan perombakan manajamen.

Rennier Abdul Rachman Latief menduduki jabatan sebagai Komisaris Utama SIAP. Chandra Purwanto dan Erry Firmansyah, masing-masing menjadi Komisaris Independen SIAP yang baru. Lalu, Yuli Soedargo menjadi Direktur Independen. Sedangkan Direktur Utama, untuk sementara masih dijabat Onny Soendjaja.

Nama Rennier A.R. Latief dan Yuli Soedargo sangat akrab dengan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Rennier pernah menjadi pemegang saham sekaligus Direktur Utama ENRG. Sedangkan, Yuli pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan perusahaan minyak dan gas (mitas) milik Grup Bakrie tersebut.

Apakah bisnis baru SIAP terafiliasi dengan Grup Bakrie? Rennier menegaskan, sejak 2005, ia sudah tidak lagi menjalin bisnis dengan Keluarga Bakrie.

“Saya masih jadi temannya Pak Ical (Aburizal Bakrie), Nirwan (Bakrie), dan Indra (Bakrie), tapi dalam bisnis, kami sudah tidak ada kaitannya, perusahaan saya tidak ada Bakrie-nya, dan perusahaan Bakrie nya tidak ada saya-nya,” jelasnya.

Maklum saja, setelah lama tidak terdengar, Rennier yang merupakan mantan petinggi PT Lapindo Brantas Inc ini kembali muncul melalui aksi backdoor listing RITS Ventures Limited melalui SIAP.

SIAP menerbitkan  23,4 miliar saham dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 200 per saham. Dengan demikian, aksi korporasi ini bernilai Rp 4,68 triliun. Pemegang saham utama SIAP , PT Graha Sakti Cemerlang (GSC) dan PT Graha Sakti Prima (GSP) tidak akan mengeksekusi saham baru SIAP itu.

Seluruh dana rights issue, setelah dikurangi biaya administrasi digunakan untuk mengakuisisi saham RITS.

Editor: Barratut Taqiyyah

JAKARTA – China Nonferrous Metal Industry’s Foreign Engineering & Construction Co Ltd (NFC) siap mengucurkan dana senilai US$ 340 juta (Rp 4 triliun) untuk mendanai proyek milik PT Dairi Prima Mineral (DPM), anak usaha PT Bumi Resoures Minerals Tbk (BRMS). Hal ini merupakan kesepakatan antara NFC dan Bumi Minerals terkait pembangunan cadangan seng dan timah hitam di Sumatera.

Dalam perjanjian tersebut, NFC berkomitmen menyediakan 85% dana proyek Dairi senilai total US$ 400 juta. Adapun sisa 15% atau sebesar US$ 60 juta akan disiapkan oleh Bumi Minerals.

Komisaris Bumi Minerals Ari Hudaya mengungkapkan, pihaknya tengah mempertimbangkan dua alternatif cara untuk menyiapkan kebutuhan dana proyek Dairi.  “Cara pertama, kami bisa mencari pinjaman untuk project financing. Kedua, kami bisa mencari dana lewat ekuitas Dairi Prima,” kata Ari saat dijumpai usai paparan publik Bumi Minerals, Senin (30/6).

Untuk bisa menjalankan project financing, kata Ari, Bumi Minerals harus menekan jumlah utangnya terlebih dahulu. Karena itu, Bumi Minerals berniat menawarkan sebanyak 29% saham Dairi Prima kepada NFC. Perseroan bakal menggunakan dana hasil penjualan untuk membayar utang sebesar US$ 100 juta.  “Jika sudah bayar utang, Dairi bisa lebih leluasa mencari pinjaman baru untuk proyeknya,” tutur Ari.

Saat ini, sebesar 80% saham blok Dairi Prima dikendalikan oleh Bumi Minerals. Sementara, sisa 20% dimiliki oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Jika NFC menerima tawaran Bumi Minerals, peseroan tetap akan menjadi pemegang mayoritas saham Dairi sebesar 51%.

Cara kedua, lanjut Ari, yakni dengan melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) atau private placement saham Dairi Prima. Dia mengaku, pihaknya tidak segan-segan menawarkan saham Dairi kepada investor asing selain NFC.

“Kami bisa tawarkan ke Taiwan, Bangladesh, Pakistan, India, atau siapapun yang membutuhkan produk seng. Penawaran kami tidak terbatas kepada NFC saja,” ujar Ari.

Meski demikian, Ari belum mau mengungkapkan total target dana yang bisa diperoleh dari pelepasan saham Dairi Prima. Pasalnya, hal itu tergantung valuasi perusahaan yang belum dihitung secara rinci. “Jika nilai proyek Dairi saja US$ 400 juta, valuasi perusahaan bisa jauh lebih tinggi. Mungkin bisa mencapai US$ 800 juta atau bahkan US$ 1 miliar,” ujar dia.

Menurut catatan Investor Daily, Bumi Minerals meneken kontrak kerjasama dengan NFC pada 17 April 2014. Dalam kontrak itu, NFC bersedia membantu Bumi Minerals untuk membangun infrastruktur dan fasilitas pengolah 1 juta ton bijih besi per tahun. Pembangunan fasilitas diharapkan selesai pada akhir 2017.

NFC juga telah menggandeng perusahaan kontraktor asal Rusia, yakni Metals of Eastern Siberia Corporation (MBC) untuk menggarap proyek Dairi. Kontrak antara NFC dan MBC tersebut senilai US$ 1,4 miliar atau setara Rp 15 triliun.

Blok Dairi Prima
Blok Dairi Prima yang terletak di wilayah Sumatera Utara itu memiliki cadangan sebesar 11 juta ton bijih dan sumberdaya sebesar 25 juta ton bijih. Cadangan seng memiliki kadar 11,5%, sementara, cadangan timah berkadar 6,8%.

Hingga kuartal pertama 2014, Bumi Minerals membukukan pendapatan sebesar US$ 4,89 juta atau turun 22,3% dibandingkan US$ 6,3 juta pada periode sama tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan Bumi Minerals hanya ditopang oleh jasa pemasaran batubara yang dilakukan oleh Bumi Resources Japan Company Limited dan Mitsubishi Corporation Rtm Japan Ltd. Sementara, aset-aset tambang Bumi Minerals di Indonesia belum mulai berproduksi.

Adapun rugi bersih tercatat sebesar US$ 13,1 juta atau meningkat 65,8% dibandingkan US$ 7,9 juta pada periode sama 2013.

Terkait belanja modal 2014, Direktur Keuangan Bumi Resources Fuad Helmy mengatakan, perseroan menganggarkan sebesar US$ 60 juta berbagai pengembangan infrastruktur tambang. “Alokasinya sebesar US$ 10 – 20 juta untuk infrastruktur Dairi, kemudian sebanyak US$ 30 – 35 juta untuk Gorontalo, dan US$ 5 – 8 juta untuk Citra Palu,” kata Fuad, pada kesempatan yang sama.

Dia menyatakan, dana belanja modal akan bersumber dari kemitraan strategis serta cash flow.

http://www.investor.co.id/home/nfc-siap-danai-proyek-bumi-minerals-us-340-juta/88533
Sumber : INVESTOR DAILY

 

INILAHCOM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) membukukan rugi bersih sepanjang 2013 sebanyak Rp231,08 miliar.

Presiden Direktur dan CEO Bakrieland Development Tbk, Ambono Janurianto mengatakan pemicu kerugian bersih 2013 karena adanya penurunan investasi dan karena ada divestasi. “Dengan adanya rugi penurunan nilai investasi dan rugi divestasi,” kata Ambono di Jakarta, Jumat (27/6/2014).

“Ini menyebabkan perusahaan pada tahun 2013 membukukan rugi bersih sebesar Rp231,08 miliar atau mengalami perbaikan bila dibandingkan dengan rugi tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,20 triliun,” jelasnya.

Padahal perseroan mencatatkan kinerja operasional sepanjang tahun 2013 dengan memperoleh laba usaha sebesar Rp1,17 triliun atau tumbuh 49,18%. Hal ini bila membandingkan periode yang sama pada tahun 2012 sebesar Rp783,47 miliar.

Kenaikan laba usaha tersebut disebabkan oleh kegiatan operasional usaha di tahun 2013 mengalami perbaikan yang cukup baik, dimana Perusahaan berhasil menurunkan beban usahanya.

“Kegiatan operasional usaha pada tahun 2013 positif dimana perusahaan berhasil menurunkan beban usaha pada tahun 2013 menjadi Rp679,01 miliar dibandingkan periode yang sama pada tahun 2012 sebesar Rp824,36 miliar,” jelas Ambono.

Ambono mengatakan sepanjang tahun 2013 penghasilan usaha sebesar 13,6% menjadi Rp3,32 triliun pada tahun 2013, dibandingkan sebesar Rp2,93 triliun pada tahun 2012.

Kenaikan penghasilan usaha ini mendorong laba kotor Perusahaan tumbuh sebesar 14,9% menjadi Rp1,85 triliun pada tahun 2013 dibandingkan sebesar Rp1,61 triliun pada tahun 2012. [hid]

Hasil Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan

PT. Bakrie Telecom Tbk (BTEL)

RUPS Tahunan

Rapat Umum Pemegang Saham Telah memenuhi korum karena dihadiri oleh pemegang saham yang mewakili 19.852.250.759 saham atau 64,91 % dari seluruh saham dengan hak suara yang sah yang telah dikeluarkan oleh Perseroan, sesuai dengan Anggaran Dasar Perseroan.

Hasil RUPS tahunan:

1. Menyetujui dan menerima baik laporan direksi mengenai jalannya Perseroan serta tata usaha keuangan dan laporan tugas pengawasan dewan komisaris pada Tahun Buku 2013;
2. Menyetujui dan mengesahkan neraca serta perhitungan laba/rugi untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013 dan memberikan pelunasan serta pembebasan tanggung jawab sepenuhnya kepada para anggota Direksi dan para anggota Dewan Komisaris Perseroan atas pengurusan dan pengawasan yang telah dijalankan dalam Tahun Buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013, sejauh tindakan pengurusan dan pengawasan tersebut tercermin dalam neraca dan perhitungan laba/rugi serta laporan akuntan publik mengenai tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013;
3. Menyetujui tidak terdapatnya pembagian keuntungan saham atau dividen kepada Pemegang Saham karena Perseroan mengalami kerugian bersih pada tahun buku 2013;
4. Menyetujui pemberian kewenangan penuh kepada Direksi Perseroan untuk menunjuk dan menetapkan Kantor Akuntan Publik yang akan mengaudit buku Perseroan tahun buku 2014 dan menetapkan honorariumnya.
Sumber : IPS RESEARCH

detik Jakarta -PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) selama ini identik dengan Grup Bakrie, begitu pula dengan perusahaan-perusahaannya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Nama besar Bakrie melekat di perusahaannya meski tak lagi memegang peran besar.

Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, selama ini investor dan masyarakat melihat para emiten di Bakrie Tujuh masih dikendalikan oleh Grup Bakrie. Padahal, kepemilikan Bakrie di emiten-emitennya itu sudah sangat kecil sekali bahkan ada yang sudah hilang sama sekali.

“Jadi begini, sejak awal namanya kan ada embel-embel Bakrie. Sewaktu mereka repo (gadai saham) dan kepemilikan sahamnya berkurang, tidak banyak yang tahu,” katanya kepada detikFinance, Senin (16/6/2014).

Ia menambahkan, masyarakat melihatnya Bakrie Tujuh itu masih punya Bakrie, karena nama perusahaan masih ada embel-embel Bakrie. Citra ini bisa diubah jika perusahaan memutuskan untuk mengubah nama.

“Kalau misalnya nanti namanya berubah, mungkin lain lagi ceritanya. Tapi kalau masih namanya Bakrie, pasti orang akan menyangka ini perusahaan Bakrie walaupun sahamnya sudah tidak dikuasai Bakrie lagi.

Seperti dikutip dari data perdagangan BEI, terlihat bahwa nama Bakrie hanya ada di sebagian kecil eks Bakrie Tujuh. Berikut selengkapnya.

– Bakrie and Brothers
Credit Suisse AG Singapore Branch S/A Bright Ventures Pte Ltd 21,81%
Mellon Bank NA S/A For Mackenzie Cundill Recovery Fund 9,34%
Armansyah Yamin 0,01%
Nugroho I Purbowinoto 0,01%
Publik 69,06%

– PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
Credit Suisse AG Singapore Branch 23,09%
Raiffeisen Bank International AG Singapore Branch/Long Haul Holding Ltd 6,09%
Publik 70,82%

– PT Bakrieland Development Tbk (ELTY)
CGMI Client Safekeeping Account 10,41%
PT Asuransi Jiwa Sinarmas 6,32%
Publik 83,28%

– PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (UNSP)
Credit Suisse AG Singapore Branch/Long Haul Holding Ltd 3,13%
PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG 3,06%
Meivel Holdings Corporation 2,34%
JP Morgan Bank Luxembourg SA1,76%
PT Danatama Makmur 1,75%
Nomura PB Nominees Ltd 1,69%
Reksa Dana Penyertaan Terbatas Syailendra Multi Strategy Fund II 1,42%
Citibank New York S/A Dimensional Emerging Markets Value Fund 1,33%
The Wenas Panwell 1,05%
Bakrie and Brothers 0,02%
Publik 82,45%

– PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)
Mellon Bank NA S/A for Mackenzie Cundill Recovery 7,76%
UBS AG Singapore Non-Treaty Omnibus Account 20,09%
Didit Hidayat Agripinanto 0,01%
Publik 72,16%

– PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL)
Bakrie and Brothers 16,35%
Bakrie Global Ventura 6,87%
Raiffeisen Bank International AG Singapore Branch 7,24%
Publik 69,54%

– PT Darma Henwa (DEWA)
Zurich Asset International Ltd 21,61%
Goldwave Capital Limited 17,68%
Publik 60,71%

investor daily JAKARTA – Perusahaan Pemeringkat global, Fitch Ratings memangkas peringkat utang PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Hal itu menyusul gagal bayar (default) kupon obligasi sejak November 2013. Di sisi lain, perseroan belum menyampaikan Keterbukaan informasi soal perkembangan restrukturisasi surat utang tersebut.

Berdasarkan keterangan tertulis, Jumat (30/5), Fitch menurunkan peringkat utang jangka panjang berdenominasi rupiah dan mata uang asing Bakrie Telecom menjadi RD (restricted default) dari sebelumnya C.

Adapun surat utang perseroan senilai US$ 380 juta yang jatuh tempo pada Mei 2015 tetap pada peringkat C. “Namun, recovery rating diturunkan menjadi RR5 dari RR4,” ungkap Fitch dalam laporannya.

Peringkat RD menunjukkan suatu entitas yang telah gagal pada satu atau lebih dari komitmen keuangan, meskipun masih terus memenuhi kewajiban keuangan lainnya.

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php
kontan JAKARTA. Perusahaan pemeringkat rating kredit Fitch Ratings kembali memangkas peringkat utang PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Kali ini, peringkat utang BTEL melorot dari C ke restricted default (RD).

Dalam siaran persnya, Jumat (30/5), Fitch menyatakan anak usaha Bakrie Grup ini telah gagal membayar kupon obligasi sejak November 2013 lalu. Menurut Fitch, perseroan tak membuat pembayaran kupon berikutnya dan tak memberi pengumuman publik tentang progres dari perombakan dengan kreditur.

BTEL kini tertekan pada utang yang tak mampu dibayar dan menyebabkan kerugian yang signifikan bagi pemegang obligasi sebesar US$ 380 juta.

Asal tahu saja, rating RD diberikan ketika perusahaan yang dinilai telah gagal pada isu spesifik atau klasifikasi obligasinya tetapi terus memenuhi kewajiban pembayaran pada isu lainnya pada waktu yang tepat.
Editor: Edy Can
kontan JAKARTA. Seperti sudah diduga sebelumnya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gagal memenuhi kewajiban untuk melunasi dua fasilitas utang kepada Credit Suisse AG sesuai tanggal jatuh tempo.

BRMS memiliki utang jangka pendek senilai US$ 116,56 juta dan fasilitas jangka panjang US$ 333,03 juta kepada Credit Suisse. Kedua fasilitas itu jatuh tempo pada 19 April 2014 lalu.

Muhammad Sulthon, Sekretaris Perusahaan BRMS dalam jawaban kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), akhir pekan lalu, bilang, pihaknya tengah memproses perpanjangan masa jatuh tempo utang tersebut dengan Credit Suisse.

Terkait hal itu, ada dua klausul yang akan diubah dalam perjanjian utang yang baru. Pertama, BRMS dan Credit Suisse akan mengubah definisi pokok pinjaman. Nantinya, nilai pokok pinjaman akan meliputi pula bunga yang masih harus dibayar.

Kedua, “Tanggal jatuh tempo yang baru,” kata Sulthon. Strategi kedua adalah kembali meminta perpanjangan utang yang bakal jatuh tempo. Jika dicermati, BRMS telah beberapa kali mengakali utang Credit Suisse itu.

Awalnya, perjanjian pinjaman bernilai pokok US$ 100 juta itu ditandatangani kedua belah pihak pada 14 Juni 2012. Masa jatuh tempo pun relatif singkat, yaitu 12 bulan sejak penarikan dana dan dapat diperpanjang maksimal hingga 19 September 2013.

Seperti sudah diperkirakan sebelumnya, BRMS mengambil opsi untuk memperpanjang jatuh tempo hingga 19 September 2013. BRMS ternyata tidak mampu melunasi utang itu sesuai dengan jatuh tempo.

Pada 25 September 2013, Credit Suisse menyetujui untuk memperpanjang jatuh tempo selama tiga bulan sampai dengan 19 Desember 2013. Perpanjangan tidak hanya berhenti hingga di situ.

Kedua belah pihak kembali setuju untuk memperpanjang jangka waktu pinjaman hingga tanggal 19 April 2014. Bersamaan dengan itu, beberapa klausul pinjaman telah diubah terutama terkait nilai pokok dan bunga yang harus dibayar BRMS.

Fasilitas itu dikenakan bunga sebesar London Interbank Offered Rate (LIBOR) ditambah 6% per tahun dan dibayarkan setiap triwulan. Pada 2012 dan 2013, BRMS telah membayar bunga pinjaman masing-masing US$ 26,84 juta dan US$ 3,63 juta.
Editor: Hendra Gunawan
Tribunnews.com, Jakarta — Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, menyatakan masih banyak pengembang di DKI Jakarta yang berhutang membangun fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos dan fasum). Tidak terkecuali Bakrie Land yang membangun kawasan Rasuna Said Kuningan.

Pria yang biasa disapa Ahok ini mengatakan, Bakrie Land harus segera lunasi utang fasos fasum sebelum pemilik perusahaan tersebut, Aburizal Bakrie, menjadi Calon Presiden (Cawapres).

“Sebelum keduluan mereka jadi presiden bayar lah, kalau geng-geng presiden susah nagihnya lagi loh,” ujar Ahok ini di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (9/5).

Ahok mengatakan, Pemprov DKI akan melakukan sejumlah cara agar pengusaha mau membangun fasos dan fasum. Cara itu antara lain dengan tidak memberi izin pembangunan untuk proyek baru yang akan dibangun.

“Kalau mereka masih utang, kita nggak kasih izin baru. Kita kan tahu mereka PT-nya banyak, tapi grup yang sama,” ungkapnya.

Salah satu perusahaan yang mulai membangun fasos dan fasum kepada warga DKI menurut versi Ahok adalah Agung Sedayu Group dan Agung Podomoro. Kendati sudah mencicil sebagian hutangnya, Ahok berharap dua perusahaan properti ini konsisten membangun fasos dan fasum lainnya di Jakarta. Fasos Fasum tersebut yakni rumah susun di Muara Baru dan Daan Mogot, Jakarta Barat.
Jum’at, 09 Mei 2014 | 13:36 WIB TEMPO.CO, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi pada Kamis, 8 Mei 2014, menetapkan Bupati Bogor Rachmat Yasin sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengurusan izin tukar-menukar kawasan hutan seluas 2.754 hektare di Bogor, Jawa Barat. KPK juga menetapkan status tersangka kepada M. Zairin, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor; dan Fransiscus Xaverius Yohan Yap dari PT Bukit Jonggol Asri.

“Telah terjadi peristiwa tindak pidana penyuapan. Dalam operasi tangkap tangan, tim KPK menyita barang bukti uang Rp 1,5 miliar,” kata Ketua KPK Abraham Samad di gedung kantornya, Kamis malam itu.

Berdasarkan penelusuran, situs website dengan alamat http://www.sentulnirwana.com mencantumkan bahwa PT Bukit Jonggol Asri (BJA) didirikan pada tahun 1994. Pada Januari 2010, PT Sentul City Tbk mengambil alih 88 persen saham BJA guna percepatan proyek kota baru mandiri. Tepat pada bulan Juli 2010, Sentul City menggandeng PT Bakrieland Development Tbk dengan kepemilikan saham masing-masing 50 persen.

Pada 23 Juli 2011, BJA mengumumkan dimulainya proyek Sentul Nirwana yang akan memaksimalkan lahan seluas 12 ribu hektare di wilayah Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kemudian, pada April 2013, PT Sentul City Tbk meningkatkan kepemilikan saham di BJA menjadi 65 persen, sedangkan saham Bakrieland berkurang menjadi 35 persen.

Situs itu juga menyebutkan bahwa Sentul Nirwana merupakan kota mandiri dengan pembangunan tahap I seluas 600 hektare. Di tempat ini akan dibangun theme park, hotel dan resort, lapangan golf, pusat perdagangan dan perkantoran, sekolah-sekolah dan universitas bertaraf internasional, serta cluster-cluster perumahan.

Manajemen PT Sentul City Tbk (BKSL) membantah bahwa Johan Yhap merupakan karyawan Bukit Jonggol Asri (BJA). “Sudah kami cek, dan memang bukan karyawan kami,” kata Investor Relation BKSL Michael Tene saat dihubungi, Jumat, 9 Mei 2014.

EFRI RITONGA
JAKARTA, KOMPAS.com – Nama keluarga Bakrie disangkutpautkan terkait kasus korupsi alih fungsi lahan yang melibatkan Bupati Bogor Rachmat Yasin melalui salah satu asetnya PT Bukit Jonggol Asri atau Sentul Nirwana. Namun, pihak Bakrie Group menegaskan bahwa asetnya tersebut sudah bukan miliknya lagi.

PT Bukit Jonggol Asri sejak tahun lalu sudah tidak melibatkan keluarga Bakrie dalam manajemen tersebut.

“Saya sudah konfirmasi ke Pak Ambono Janurianto, Presiden Direktur Bakrieland Tbk confirm sudah kepemilikan Bakrieland di sana sudah dijual tahun lalu,” kata Juru Bicara Keluarga Bakrie, Lalu Mara Satriawangsa seperti dikutip Tribunnews, Jumat (9/5/2014).

Lalu Mara membenarkan PT Bukit Jonggol Asri atau Sentul Nirwana termasuk satu dari sejumlah aset kelompok Bakrie yang dijual kepada pihak ketiga (MNC Group), untuk membayar transaksi dalam sengketa dengan pengusaha Inggris, Nathaniel Roschild, sebagai konsekuensi keluarnya atau ditariknya saham Bakrie di Bumi Plc (perusahaan investasi patungan Bakrie dan Roschield) agar Bakrie tetap bisa mengontrol mayoritas saham di PT Bumi Resources Tbk.

“Dan sudah memberikan keterbukaan informasi juga ke BEJ. Dan confirm juga Bakrieland tidak ada dalam manajemen tersebut,” ujar Lalu Mara.

Untuk diketahui Bupati Rachmat Yasin diduga menerima suap terkait dengan izin alih fungsi lahan seluas 2.754 hektare. Izin tersebut diajukan PT Bukit Jonggol Asri kepada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor.

“Kasusnya rekomendasi tukar menukar hutan di bogor. Yang meminta rekomendasi atas kawasan hutan seluas 2.754 hektare,” kata Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto di KPK, Kamis (8/5/2014) malam.

Meski begitu, Bambang belum tahu berada di mana lokasi hutan yang ingin dikonversi itu. Namun, Bambang menyebut, KPK curiga salah satu hutan diiinginkan adalah hutan lindung.

beritasatu Jakarta- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengeluarkan surat perintah cegah bepergian ke luar negeri terhadap Komisaris Utama PT Bukit Jonggol Asri Cahyadi Kumala Kwee dan Komisaris PT Bukit Jonggol Asri lainnya, yaitu Haryadi Kumala. Cegah tersebut terkait dengan penyelidikan terkait perizinan pemanfaatan lahan tanah pada tahun 2014.

“Perlu diinformasikan, terkait dengan penyelidikan dugaan TPK (Tindak Pidaan Korupsi) terkait perizinan pemanfaatan lahan tanah tahun 2014, KPK telah mengirimkan permintaan pencegahan bepergian ke luar negeri kepada Dirjen Imigrasi atas nama Haryadi Kumala dan Cahyadi Kumala Kwee dari swasta,” kata Juru Bicara KPK Johan Budi SP, Jumat (9/5).

Johan menjelaskan cegah bepergian ke luar negeri itu berlaku sejak kemarin hingga enam bulan ke depan. PT Bukit Jonggol Asri diketahui merupakan perusahaan pengembang. Perusahaan ini, sebanyak 35 sahamnya dimiliki oleh PT Bakrieland Development.

Sebelumnya, PT Bukit Jonggol Asri terlibat dalam kasus dugaan suap berkaitan dengan pemberian rekomendasi tukar-menukar kawasan hutan di Bogor. Kasus itu telah menjadikan BUpati Bogor rachmat Yasin sebagai tersangka. Rachmat disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau b atau pasal 5 atau pasaal 11 Undang-Undang No.31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

Bersama Rachmat, KPK juga menjadikan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor Muhammad Zairin sebagai tersangka. Kepada Zairin, KPK menyangkakan adanya pelanggaran terhadap pasal 12 a atau b atau pasal 5 ayat 2 atau pasal 11 Undang-Undang No.31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

Adapun dari pihak pemberi, KPK menjadikan FX Yohan Yap, Wakil dari PT Bukit Jonggol Asri sebagai tersangka. KPK menyangkakan Yohan dengan pasal 5 ayat 1 a atau b atau pasal 13 Undang-Undang No.31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

KPK menemukan bahwa Rachmat menerima Rp4,5 miliar dari PT Bukit Jonggol Asri. Uang tersebut diberikan kepada Rachmat secara bertahap, yaitu Rp1 miliar, Rp2 miliar dan Rp1,5 miliar. Luas hutan yang bakal digunakan untuk suatu proyek adalah 2754 hektar.

Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka usai tertangkap tangan tengah melakukan transaksi suap pada Rabu (7/5). Para tersangka dibawa ke KPK dan dilakukan pemeriksaan secara intensif.

Penulis: Rizky Amelia/MUT

kontan
BKSL dan ELTY masih nego soal Bukit Jonggol
Oleh Narita Indrastiti – Selasa, 28 Januari 2014 | 18:03 WIB
JAKARTA. Rencana PT Sentul City Tbk (BKSL) mengambil alih sisa saham PT Bukit Jonggol Asri milik PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) belum mencapai titik temu. Hingga kini, keduanya masih melakukan negosiasi tentang harga dan opsi pembayarannya.

BKSL berencana mengambil sisa 35% saham Bukit Jonggol milik ELTY secara bertahap. Namun belum ada kepastian kapan tepatnya negosiasi ini akan berakhir.

“Kami membahas opsi pembayarannya dan valuasi harganya. Sekarang masih negosiasi,” kata Michael Tene, Investor Relation BKSL.

BKSL setidaknya menyiapkan beberapa alternatif yang mungkin diambil untuk memuluskan akuisisi BJA, misalnya saja membayar dengan aset dan uang tunai. BKSL juga menyiapkan opsi untuk mencari pinjaman demi menuntaskan akuisisi tersebut.

Di sisi lain, manajemen ELTY sebenarnya pernah mengungkapkan kalau ELTY meminta pembayaran Bukit Jonggol dengan aset berupa tanah. Namun Michael mengatakan, opsi itu belum final. “Memang menjadi salah satu pilihan tetapi belum final,” ujarnya.

ELTY memerlukan sejumlah lahan yang bisa digunakan untuk jaminan kepada pemegang obligasinya. ELTY harus menyiapkan jaminan berupa tanah yang nilainya setara dengan US$ 120 juta. Jumlah itu diperkirakan setara dengan lahan seluas 600 hektare (ha).

Sebagai catatan, pada April 2013, BKSL telah mengakuisisi 15% saham BJA senilai Rp 300 miliar. Transaksi ini mendongkrak kepemilikan BKSL di BJA menjadi 65%.
Editor: Hendra Gunawan

Minggu, 09 Maret 2014, 17:40 WIB Bisnis.com, JAKARTA—Pengembang properti PT Sentul City Tbk. (BKSL) optimistis dapat mencapai target pendapatan tahun ini sebesar Rp1,3 triliun setelah target tahun lalu Rp900 miliar tercapai.

Michael Tene, Investor Relation Sentul City mengatakan, pihaknya telah memperhitungkan, target perseroan pada tahun lalu tercapai. Hal itu salah satunya karena target pra penjualan (marketing sales) sepanjang tahun lalu sebesar Rp2 triliun telah tercapai, bahkan terlampaui.

“Target marketing sales kami pada tahun lalu terlampaui, dan mencetak sekitar Rp2,1 triliun,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (7/3/2014).

Dia menjelaskan, kontribusi penjualan tersebut paling banyak berasal dari proyek Sentul City yang ditopang unit Sentul Nirwana dan Serpon Natura. Adapun, pihaknya menargetkan penjualan pada tahun ini mampu mencapai Rp2,5 triliun.

“Nantinya, kontribusi terbesar dari nilai penjualan tahun ini kami perkirakan dari Sentul City dan penjualan proyek CBD kami di Sentul,” ungkapnya.

Perseroan berencana mengembangkan CBD baru di kawasan Sentul City, Kabupaten Bogor. Proyek yang akan dikerjakan tersebut bakal terdiri atas apartemen, kondotel, hotel, perkantoran, mal dan pusat hiburan.

“Secara total, belanja modal kami untuk semua proyek mencapai Rp1 triliun pada tahun ini. Jumlah itu naik tahun lalu yang besarnya sekitar Rp800 miliar,” kata Michael.

Dia mengatakan, belanja modal tersebut bakal berasal dari kas internal perseroan dan opsi pinjaman bank. Namun, ketika ditanya terkait dana untuk menuntaskan akuisisi PT Bukit Jonggol Asri dari PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY), ternyata tidak berasal dari belanja modal.

Editor : Rustam Agus
(Vibiznews – Stock Mon, 28 October 2013, 2:00 PM) PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menyatakan telah melakukan penjualan tanah PT Bukit Jonggol Asri kepada PT Sentul City Tbk (BKSL). Transaksi tersebut dilakukan dengan cara tukar tanah antara kedua perseroan. Menurut ELTY, nilai yang berada di lokasi tersebut memiliki nilai Rp 1 triliun.

Luas tanah yang dimiliki ELTY di BJA sebesar 2.400 hektar. Penjualan tanah anak perusahaan ELTY ke Sentul City ini diperkirakan akan terealisasi pada akhir tahun 2013 ini.

BKSL sebelumnya memang berencana menambah kepemilikan sahamnya di PT Bukit Jonggol Asri menjadi 100 persen. Tercatat, sekarang BKSL memiliki 65 persen saham dan akan membeli sisanya yang sebesar 35 persen.

Sementara itu, nilai akuisisi PT Bukit Jonggol Asri ini masih dalam tahap penjajakan. Untuk nilai investasi, saat ini sedang tahap penghitungan. Sebelumnya BKSL menyatakan sedang mengembangkan lokasi pusat kuliner yang terletak di kawasan Sentul City.

Menurut perseroan, lokasi tersebut yaitu pasar Ah Poong II yang dibangun dengan nilai investasi sebesar Rp 35 miliar. Pasar Ah Pooh tersebut saat ini sudah beroperasi dan akan diperluas lokasinya. Di mana, pasar ini ke depan akan memiliki dua ribu tempat duduk dan mendapat penambahan lahan parkir yang akan terintegrasi dengan eco park. Pengembangan pasar Ah Poong II disebutkan menggunakan dana capex tahun anggaran 2013 yang sebesar Rp 350 miliar.

Secara fundamental hingga kuartal III tahun ini, ELTY menyatakan telah mencatat penjualan (marketing sales) sebesar Rp 980 miliar. Pencapaiaan tersebut menurun hingga 10,9 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,1 triliun. Menurut perseroan, kontribusi marketing sales paling besar berasal dari Epicentrum dengan persentase 80 persen. Sementara sisanya berasal dari proyek yang ada di Bogor.

Perseroan sebelumnya menargetkan marketing sales sepanjang tahun 2013 sebesar Rp 1,3 triliun. Meskipun ada aturan Bank Indonesia yang mengetatkan uang muka untuk pembelian rumah kedua, perseroan optimis dapat mencapainya target tersebut

Untuk pergerakan harga saham sampai dengan perdagangan iang ini (28/10), ELTY berada di posisi harga saham terendah Rp.50 dimana setelah suspensi ELTY dibuka 19 Oktober lalu harga saham masih belum mengalami pergerakan. Analis mengemukakan bahwa update teknikal terhadap kinerja saham ditinjau pada major pattern, saham ini menunjukkan tren bergerak sideways dan secara teknikal menunjukkan momentum yang lambat.

Untuk volume saham yang diperdagangkan sampai siang ini hanya terjadi penjualan saham sebesar 19 lot saja. Investor masih belum memiliki kepercayaan penuh dengan saham ini.

(RA/JA/VBN)

November 2, 2015

RUG1 @bum1 … 08072014_021115

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:05 am
MANFAATken MOMENTUM PENUNDAAN KENAEKAN THE FED FUND RATE K 2016 dengan KEBIJAKSANAAN BI RATE DI BAWAH 7%

KEBIJAKAN BI RATE TINGGI telah MENJAJAH PERTUMBUHAN EKONOMI kita

TURUNken BI RATE skarang JUGA

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) semakin terseok. Emiten Grup Bakrie ini mencatatkan kerugian bersih senilai US$ 630,27 juta dalam sembilan bulan pertama tahun ini.

Pada periode yang sama tahun lalu, BUMI masih mencetak laba bersih US$ 12,52 juta.

Pendapatan BUMI juga menyusut dari US$ 49,4 juta pada kuartal III-2014 menjadi US$ 33,49 juta di kuartal III-2015. Beban bunga dan keuangan BUMI mencapai US$ 405,4 juta.

Mengacu laporan keuangan yang dirilis Jumat (30/10), BUMI juga masih menanggung ekuitas negatif alias defisiensi modal sebesar US$ 1,3 miliar. Beban ini jauh lebih berat daripada total defisiensi modal BUMI per akhir tahun lalu sebesar US$ 733 juta.

Total kewajiban BUMI yang tercatat di kuartal III-2015 mencapai US$ 5,7 miliar. BUMI masih harus membayar pinjaman jangka pendek senilai US$ 220,7 juta.

Bahkan BUMI memiliki pinjaman jangka panjang yang harus dibayar dalam jangka waktu setahun ke depan sebesar US$ 3,6 miliar.

Belum lagi ada obligasi konversi yang harus dilunasi dalam jangka pendek senilai US$ 375 juta.

Jakarta infobank–PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengaku tidak akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau pemotongan gaji kepada para karyawannya di tengah anjloknya harga batu bara dunia.

“Kalau dari sisi apakah kita ada rencana PHK, sampai detik ini kami masih komitmen tidak akan merumahkan atau PHK karyawan,” kata Direktur Legal BUMI Yanti Sinaga di Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2015.

Yanti sendiri merasa masih optimis dengan kondisi kedepan dan bisa survive meski kinerja perseroan tengah mengalami penurunan.

Oleh sebab itu BUMI berkomitmen untuk mempertahankan karyawannya dengan membuat struktur perencanaan dari managemen.

“Jika dibandingkan perusahan lain yang sejenis, kami yakin masih bisa survive. Semoga ke depannya masih bisa mempertahankan. Kita berusaha semua karyawan diberikan pengertian,” tuturnya.

Seperti diketahui, sebelumnya Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mengungkapkan bahwa saat ini industri tambang banyak yang merumahkan karyawannya lantaran harga komoditas kurang bersahabat.

Hal tersebut menjadi solusi untuk menekan beban perusahaan yang besar, namun pendapatannya berkurang. (*)

 

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memprediksi masih belum akan ekspansi di tahun depan.

BUMI bakal fokus ke penyelesaian utangnya yang mencapai US$ 3,98 miliar.

Tahun depan, BUMI hanya akan menganggarkan belanja modal US$ 50 juta hingga US$ 100 juta, sama dengan tahun ini.

Dana belanja modal itu akan diperoleh dari kas internal BUMI.

“Belanja modal masih akan digunakan untuk maintanance dan operasional. Belum ada ekspansi,” ujar Direktur Keuangan BUMI, Andrew Beckham di Jakarta, Jumat (2/10).

BUMI harus berhemat lantaran perlu menyediakan arus kas yang lancar. Andrew berharap harga batubara bisa pulih di tahun depan.

Tahun depan, BUMI berencana mengurangi utangnya dari US$ 3,98 miliar menjadi US$ 1,2 miliar.

Mayoritas utang tersebut akan dibayar dengan new senior secured facility, konversi ke saham dan obligasi wajib konversi.

“Kalau berjalan lancar, kami akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Desember,” imbuh Andrew.

Sehingga, perseroan berharap proses restrukturisasi bisa selesai pada Januari mendatang.

BUMI juga masih belum bisa memastikan kepastian penjualan saham anak usahanya PT Bumi Resources Minerals Tbk (BUMI) kepada China Investment Corporation (CIC).

“Kami masih harus menunggu proposal ini disetujui,” ujarnya.

Perseroan juga berencana mengkonversi sebagian utang senior notes yang senilai total US$ 1,61 miliar dari kreditur bilateral.

Restrukturisasi utang BUMI harus segera dilakukan untuk menghindari gagal bayar alias default.

Apalagi, kondisi komoditas batubara terus melorot. Tahun lalu BUMI sudah mengurangi utang sebesar US$ 950 juta.

Sebagai informasi, pada laporan keuangan Semester I-2015, BUMI mencetak rugi bersih mencapai US$ 566,24 juta.

Pada periode yang sama tahun lalu, BUMI masih bisa membukukan laba bersih sebesar US$ 130 juta karena ada laba dari penjualan aset.

Editor: Adi Wikanto.

 

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana merestrukturisasi sebagian besar utangnya. Perusahaan milik Grup Bakrie ini memiliki total utang senilai US$ 3,9 miliar. Perseroan mengajukan revisi proposal untuk merestrukturisasi utangnya tersebut.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, BUMI sudah melakukan rapat dengan para kreditur di Singapura pada Senin (28/9) ini. Dalam pertemuan itu, BUMI meminta persetujuan untuk restrukturisasi utangnya yang akan disetujui pada 22 Oktober mendatang.

Dalam proporsal itu, berkaca dari arus kas BUMI, perseroan akan tetap mempertahankan utang senilai US$ 1,2 miliar atau setara dengan 42,3% dari total utang pokok BUMI. Opsi restrukturisasi itu antara lain dengan mengkonversi utang dari China Investment Corporation (CIC) menjadi saham BUMI.

BUMI memiliki utang dari lima kreditur utama. Pertama, adalah utang dari Axis Bank senilai US$ 141 juta. Sebagian besar utang Axis bakal dibayarkan dengan menjual aset BUMI di Fajar Bumi Sakti (FBS). Lalu sisanya juga akan dibayarkan.

Nah, utang dari CIC dan CDB mencapai US$ 1,76 miliar. Sebesar US$ 407 juta akan dibayarkan dengan menukar utang dengan saham BUMI. Lalu, BUMI memiliki utang obligasi dari anak usahanya di Singapura, nilainya mencapai US$ 1,6 miliar. Utang ini juga akan dikonversi menjadi saham.

Lalu, convertible bond BUMI senilai US$ 410 juta, sebelumnya sudah mendapat perpanjangan penangguhan utang selama lima bulan oleh Pengadilan Singapura.

Dileep bilang, restrukturisasi utang BUMI harus segera dilakukan untuk menghindari gagal bayar alias default. Apalagi, kondisi komoditas batubara terus melorot. Sebelumnya, Dileep mengklaim, tahun lalu BUMI sudah mengurangi utang sebesar US$ 950 juta. Harapannya, jika restrukturisasi ini tuntas, utang BUMI bisa berkurang setengahnya.

Sebagai informasi, pada laporan keuangan Semester I-2015, BUMI mencetak rugi bersih mencapai US$ 566,24 juta. Pada periode yang sama tahun lalu, BUMI masih bisa membukukan laba bersih sebesar US$ 130 juta karena ada laba dari penjualan aset.

Kerugian BUMI di medio pertama tahun ini bermula dari anjloknya pendapatan sebesar 41,26% year on year (yoy) menjadi US$ 21,49 juta. Beban pokok pendapatan BUMI memang menurun. Tetapi, BUMI masih membukukan beban bunga dan keuangan akibat utang sebesar US$ 279,8 juta. Belum lagi, ada pos penurunan nilai aset sebesar US$ 212,32 juta yang membuat bottom line BUMI mengkerut.

Editor: Yudho Winarto.

 

JAKARTA. Laporan keuangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih berdarah-darah.

Kerugian produsen batubara milik Grup Bakrie ini makin besar saja. Pada laporan keuangan Semester I-2015, BUMI mencetak rugi bersih mencapai US$ 566,24 juta.

Pada periode yang sama tahun lalu, BUMI masih bisa membukukan laba bersih sebesar US$ 130 juta karena ada laba dari penjualan aset.

Kerugian BUMI di medio pertama tahun ini bermula dari anjloknya pendapatan sebesar 41,26% year on year (yoy) menjadi US$ 21,49 juta.

Beban pokok pendapatan BUMI memang menurun. Tetapi, BUMI masih membukukan beban bunga dan keuangan akibat utang sebesar US$ 279,8 juta.

Belum lagi, ada pos penurunan nilai aset sebesar US$ 212,32 juta yang membuat bottom line BUMI mengkerut. Lalu, ada beban lain-lain senilai US$ 166,8 juta.

Beban ini berasal dari utang dollar pihak berelasi. Utang tersebut merupakan utang tanpa bunga dan tidak memiliki jangka waktu pembayaran tetap.

Nilainya sebesar US$ 521 juta atau 9,16% dari total liabilitas BUMI.

Sampai laporan keuangan ini diterbitkan, BUMI memang belum berhasil merestrukturisasi utang-utangnya.

Tahun lalu, BUMI sempat menjual beberapa asetnya demi mencicil pembayaran utang. Namun, sampai sekarang total liabilitas BUMI belum juga berkurang.

Per Juni 2015, ada liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam jangka waktu satu tahun senilai US$ 3,5 miliar.

Jika ditotal, liabilitas BUMI malah naik menjadi US$ 5,6 miliar, dari akhir tahun lalu sebesar US$ 5,3 miliar.

Sementara total aset BUMI sebesar US$ 4,3 miliar. Kinerja ini, membuat BUMI membukukan ekuitas negatif atau defisiensi modal sebesar US$ 1,3 miliar.

Defisiensi modal itu membengkak dari sebelumnya US$ 733 juta.

Sebelumnya, BUMI berharap bisa mengurangi utang senilai US$ 2 miliar di tahun ini. Namun, niat itu belum juga direalisasikan.

BUMI masih melakukan negosiasi dengan bond holder atas utang obligasi BUMI yang diterbitkan tiga anak usahanya di Singapura.

Khusus untuk restrukturisasi obligasi, BUMI memperoleh perpanjangan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) alias moratorium dari pengadilan Singapura. Perpanjangan PKPU ini akan berakhir 24 Oktober mendatang.

Sebelumnya, Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, salah satu opsi restrukturisasi yang tengah dikaji BUMI adalah dengan mencari investor strategis untuk membantu BUMI menyelesaikan utang.

BUMI juga membuka peluang untuk kembali melakukan penukaran saham dengan utang dengan kreditur. Sementara penjualan aset masih belum menjadi opsi utama BUMI untuk menuntaskan utangnya.

Saham BUMI masih tak berkutik dari level Rp 50 per saham.

Editor: Adi Wikanto.

JAKARTA. PT Trada Maritime Tbk (TRAM) menjadi emiten dengan penurunan harga saham terdalam secara year-to-date (ytd) hingga Juni 2015. Saham perusahaan perkapalan ini anjlok 76,3% ke posisi harga saham terendah, yakni Rp 50 per saham.

Berikut 10 saham top loser hingga Juni 2015:
1. TRAM
2. PT Buana Listya Tama Tbk (BULL): turun 76,25% ke Rp 95 per saham
3. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS); turun 71,11% ke Rp 91 per saham
4. PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN): turun 66,83% ke Rp 69 per saham
5. PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU): turun 63,91% ke Rp 415 per saham
6. PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD); turun 62,61% ke Rp 265 per saham
7. PT Wintermar Offshore Marine Tbk WINS): turun 60,24% ke Rp 328 per saham
8. PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID): turun 58,55% ke Rp 80 per saham
9. PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP): turun 58,49% ke Rp 193 per saham
10. PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO): turun 54,84% ke Rp 70 per saham.

Editor: Hendra Gunawan

 

TEMPO.CO , Jakarta – Harga batu bara yang kian anjlok menyebabkan sebagian besar perusahaan tambang menghentikan produksi dan terancam gulung tikar. Deputi Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia, Hendra Sinadia, mengatakan hingga bulan ini sudah 80 persen perusahaan tambang batu bara yang menyetop produksi dan tutup sementara. “Margin sudah negatif. Buat apa lagi beroperasi?” kata Hendra kepada Tempo, Selasa, 4 Agustus 2015.

Menurut Hendra, dari 3.000 perusahaan pemegang izin usaha pertambangan, saat ini hanya 500 yang masih beroperasi. Sebagian besar yang tutup adalah perusahaan kecil di daerah pertambangan, seperti Kalimantan.

Meski begitu, dia menjamin produksi batu bara untuk memenuhi kebutuhan nasional masih terjaga karena beberapa perusahaan mempunyai cadangan besar dan teknologi tinggi. “Mereka masih bisa beroperasi secara efisien,” ujarnya.

Pada Juni lalu, harga batu bara dunia rata-rata berada di angka US$ 59,19 per ton, sedangkan harga batu bara acuan (HBA) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral US$ 59,59 per ton. Harga itu anjlok bila dibandingkan dengan Juni 2014, saat batu bara dihargai rata-rata US$ 72,45 per ton. Pada Juli lalu, HBA kembali turun menjadi US$ 59,19 per ton.

Akibatnya, kata Hendra, banyak perusahaan batu bara merugi karena biaya produksi batu bara berada di atas harga jual. Hendra mengatakan gencarnya proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap tidak berhasil menopang harga karena tidak ada peningkatan dari penambang ke operator.

ROBBY IRFANI

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Konglomerasi asal India, Tata Power, memutuskan untuk mengurangi kepemilikan saham di Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha Bumi Resources (BUMI).

Berdasarkan keterbukaan informasi ke Bursa Saham Bombay (BSE), Jumat (4/7/2014), Tata Power menyatakan telah meneken kesepakatan (option agreements) untuk menjual 5 persen saham KPC ke salah satu entitas Grup Bakrie.

Nilai transaksi jual-beli itu ditaksir 250 juta dollar AS. Anil Sardana, Managing Director Tata Power mengatakan, opsi divestasi 5 persen saham KPC ini bagian dari strategi mencari dana tambahan untuk mengurangi utang. “Jika opsi divestasi ini terwujud, pasokan batubara ke pembangkit listrik kami tak akan terpengaruh karena kami masih punya 25 persen saham KPC,” tulis Anil dalam keterangan resmi, Jumat.

Sejak Maret 2007, Tata Power memiliki 30 persen  saham di KPC dan anak usaha BUMI lainnya, PT Arutmin Indonesia (Arutmin). Nilai akuisisi dua anak usaha BUMI itu mencapai 1,1 miliar dollar AS.

Pada Februari lalu, Tata Power menjual 30 persen saham Arutmin senilai 500 juta  dollar AS ke salah satu entitas Grup Bakrie. Transaksi ini semula hendak diselesaikan Mei lalu. Tapi hingga kini, Tata Power dan Grup Bakrie belum memfinalisasi transaksi itu. Tata Power menargetkan penjualan saham Arutmin rampung bersama divestasi saham Mitratama Perkasa (PTMP) tahun ini.

PTMP adalah unit usaha PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA), anak usaha Tata Power. Pada Februari, Tata Power meneken perjanjian jual beli bersyarat untuk menjual 3.600 saham PTMP senilai 120 juta dollar AS. Tata Power menunjuk unit Grup Bakrie, Long Haul Holdings Ltd (LHH), sebagai broker divestasi saham PTMP. LHH akan menunjuk pembeli saham PTMP.

Kiswoyo Adi Joe, analis Investa Saran Mandiri menilai, langkah Tata Power menjual 5 persen  saham KPC ke Grup Bakrie tak berefek langsung ke BUMI. Yang pasti, Grup Bakrie ingin mempertahankan porsi mayoritas di KPC.

Awalnya, Grup Bakrie melalui BUMI, menguasai 65 persen saham KPC. Tapi Kamis (3/7/2014) lalu, BUMI mengalihkan 19 persen  saham KPC ke China Investment Corporation (CIC) lewat skema utang dikonversi ke saham (debt-for-equity swap). Ini adalah bagian dari pembayaran utang BUMI senilai 1,99 miliar dollar AS ke CIC. Selepas pengalihan, kepemilikan BUMI di KPC semestinya turun menjadi 46 persen.

Namun BUMI tetap menjadi pengendali dengan porsi 51 persen . Tambahan 5 persen  saham di KPC berasal dari perjanjian piutang dengan Recapital Asset Management. BUMI punya piutang lain dari reklasifikasi aset keuangan tersedia untuk dijual dari Recapital ke PT Kutai Timur Sejahtera (KTS). BUMI punya hak mengonversi piutang itu menjadi 100 persen kepemilikan saham KTS dengan penerbitan medium term notes. KTS memiliki 5 persen  saham KPC.

Di sisi lain, Standard & Poor Ratings Services, Jumat lalu, menurunkan peringkat kredit korporasi jangka panjang dan peringkat skala regional ASEAN milik BUMI, masing-masing menjadi selective default (SD) dari sebelumnya CC dan axCC.

Peringkat itu menyusut setelah BUMI mengalihkan 19 persen  saham KPC ke CIC. “Kami menilai transaksi ini sebagai pertukaran yang penuh tekanan,” tutur Vishal Kulkarni, analis kredit Standard & Poor’s, kutip Bloomberg. (Sandy Baskoro, Veri Nurhansyah Tragistina)

 


JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tetap berupaya untuk merestrukturisasi obligasi senilai US$ 375 juta yang diterbitkan anak usaha, Enercoal Resources Pte. Ltd. (Enercoal).

Restrukturisasi itu sempat terhambat lantaran BUMI gagal memenuhi persyaratan kuorum dalam Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) yang digelar Jumat (20/6) lalu.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, pihaknya terus melanjutkan pembicaraan dengan pemegang obligasi terutama terkait restrukturisasi obligasi Enercoal.

“Perseroan kembali berencana menggelar RUPO Enercoal pada pertengahan Juli 2014 untuk memperoleh persetujuan terkait refinancing obligasi dari pemegang obligasi Enercoal,” tulis Dileep dalam keterangan resmi, Jumat (4/7).

BUMI memang tengah berpacu dengan waktu untuk segera meraih restu pemegang obligasi. Pasalnya, masa jatuh tempo obligasi senilai US$ 350 juta itu kian dekat, yakni pada 5 Agustus 2014 mendatang.

Dalam proposal pengajuan restrukturisasi yang dirilis pada 6 Juni 2014 lalu, BUMI mengajukan permohonan untuk mengubah harga konversi dan kupon obligasi yang senilai US$ 375 juta.

Deutsche Bank AG  bertindak sebagai Agen Solisitasi tunggal, sementara The Bank of New York Mellon bereran sebagai Tabulation Agent untuk mengadakan persetujuan tersebut.

Satu poin lain yang menarik adalah BUMI pun meminta konversi wajib berdasarkan opsi yang dimiliki penerbit obligasi senilai maksimum US$ 125 juta. Poin ini menarik dicermati terutama jika mengacu pada klausul awal obligasi konversi tersebut.

Awalnya, obligasi tersebut dapat dikonversi menjadi saham biasa BUMI dengan nilai Rp. 3.366,9 per saham. Konversi obligasi bisa dilakukan setiap saat dalam periode 41 hari setelah tanggal penerbitan obligasi sampai dengan 10 hari sebelum tanggal jatuh tempo.

Klausul ini tentu susah untuk diwujudkan lantaran harga saham BUMI sudah jauh di bawah itu.  Pada penutupan perdagangan Jumat (6/6), harga BUMI ditutup turun 2,02% menhadi Rp 194 per saham.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2014,  Enercoal menerbitkan obligasi konversi senilai US$ 375 juta pada 5 Agustus 2009. Obligasi itu akan jatuh tempo pada 5 Agustus 2014 berkupon 9,25% per tahun.

Melihat kondisi keuangan yang morat-marit, BUMI tentu sulit untuk melunasi obligasi tersebut sesuai tanggal jatuh tempo. Bayangkan, BUMI hanya memiliki kas dan setara kas senilai US$ 27,68 juta per 31 Maret 2014.

Minimnya kas internal ini juga yang menjadi penyebab BUMI gagal membayar kupon obligasi valas yang telah jatuh tempo pada 12 Mei 2014. Nilai obligasi  yang diterbitkan anak usaha BUMI, Bumi Capital Pte Ltd, itu sebesar US$ 300 juta.

Namun, menurut manajemen BUMI, perseroan memiliki waktu tenggang hingga 11 Juni 2014. Jika pada tanggal itu BUMI tidak juga memenuhi kewajibannya, maka pemegang obligasi berhak meminta percepatan pembayaran.

Bank of New York selaku administrator sistem akan meminta pemegang obligasi untuk memutuskan secara voting terkait wanprestasi (default). Jika mayoritas suara menyetujui, maka BUMI wajib membayar obligasi berbunga 12% per tahun itu. Adapun, obligasi ini memiliki waktu jatuh tempo 10 November 2016.

Pada Jumat (4/7), harga BUMI ditutup turun 2,73% ke level Rp 178 per saham.

Editor: Barratut Taqiyyah

NERACA

Jakarta – Berbagai macam cara dilakukan manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk melunasi utang, kali ini perseroan melepas sebanyak 19% saham perseroan di Kaltim Prima Coal (KPC) senilai US$ 950 juta atau sekitar Rp11,31 triliun ke China Investment Corporation (CIC). Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (3/7).

Direktur Utama PT Bumi Resources Tbk, Ari Hudaya mengatakan, pengalihan saham ini merupakan langkah awal perseroan memperbaiki struktur keuangan dan komitmen perusahaan mengurangi utang,”Kami menyambut CIC sebagai mitra (equity partner) utama kami dan ke depan bersama-sama mengembangkan aset kami dengan kekuatan yang terus meningkat,”ujarnya.

Menurutnya, secara fundamental BUMI memiliki kekuatan, di mana perseroan mampu meningkatkan kapasitas tahunan batu bara lebih dari 90 juta ton sekaligus melakukan efisiensi operasi dan biaya secara signifikan,”Kami percaya struktur permodalan yang baru disertai pemulihan harga batu bara akan mampu membuat kami memperoleh kembali kekuatan, sehingga menghasilkan keuntungan seperti semula,” tandasnya.

Asal tahu saja, kesepakatan perseroan melepas 19% saham Kaltim Prima Coal kepada perusahaan tambang asal Tingkok tersebut merupakan bagian perjanjian penyelesaian utang pada 9 Oktober tahun lalu. Dengan demikian, utang BUMI kepada CIC berhasil dipangkas sebesar US$ 1,039 miliar atau sekitar Rp12,36 triliun.

 

http://www.neraca.co.id/article/43134/BUMI-Lepas-19-Saham-KPC-Ke-Tiongkok
Sumber : NERACA.CO.ID

Hasil Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa

PT. Bumi Resources Tbk (BUMI)

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan:

Agenda Pertama

1. Menyetujui dan Menerima dengan baik laporan keuangan tahunan perseroan sebagaimana pokok-pokoknya telah disampaikan oleh Direksi Perseroan dan telah ditelaah oleh dewan komisaris perseroan mengenaikeadaan dan jalannya perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013.

2.a.Menyetujui dan mengesahkan laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik Tjiendradjaja & Handoko Tomo dengan pendapat wajar tanpa pengecualian sebagaimana tertera dari laporannya no.2014/T2/03.28.04 tanggal 28 Maret 2014.

b.Memberikan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya kepada direksi dan dewan komisaris atas tindakan pengurusan dan pengawasan yang mereka lakukan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 (Acquit et de charge) sepanjang tindakan-tindakan mereka tersebut tercermin dalam laporan tahunan dan laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 dan tidak bertentengan dengan peraturan perundang-undangan.

Agenda Kedua:

1.Menetapkan bahwa sehubungan dengan rugi yang dialami perseroan maka untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 ini perseroan tidak dapat membagikan dividen kepada seluruh pemegang saham perseroan.

2.memberikan kuasa dan wewenang kepada direksi perseroan untuk melakukan segala tindakan yang di perlukan sehubungan dengan keputusan tersebut.

Agenda Ketiga:

Menyetujui dan memberikan kuasa serta wewenang kepada dewan komisaris perseroan untuk melakukan penunjukkan akuntan publik untuk mengaudit laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2014 dan/atau untuk periode tertentu sepanjang tahun 2014, serta memberikan kuasa dan wewenang kepada direksi perseroan untuk menetapkan jumlah honorarium akuntan publik serta persyaratan lanin penunjukkannya.

Agenda Keempat:

1.Mengangkat dan menetapkan kembali susunan anggota dewan komisaris dan direksi perseroan sebagaimana diuraikan di bawag ini, dengan masa jabatan terhitung sejak ditutupnya rapat ini, adalah sebagai berikut:

Dewan Komisaris

Kusuma A.Martoredjo : Presiden Komisaris dan Komisaris Independen
Suryo B. Sulisto : Komisaris Independen
Iman Taufik : Komisaris Independen
Fuad Hasan Masyhur : Komisaris Independen
Nalinkant A.Rathod : Komisaris
Anton Setianto Soedarsono : Komisaris
Sulaiman Zuhdi Pane : Komisaris

Direksi

Saptari Hoedaja : Presiden Direktur
Andrew C.Beckham : Direktur
Dileep Srivastava : Direktur Independen
Kenneth P.Farrell : Direktur
Eddie J.Subari : Direktur
R.A.Sri Dharmayanti : Direktur

2.Memberikan wewenang dan kuasa penuh dengan hak substitusi kepada direksi perseroan baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan berkaitan dengan keputusan-keputusan sebagaimana diambil dan/atau diputuskan dalam rapat ini, termasuk tetapi tidak terbatas untuk menyatakan pengangkatan anggota dewan komisaris dan direksi perseroan ini dalam akta notaris dan mendaftarkan susunan dewan komisaris dan direksi perseroan sebagaimana disebutkan di atas dalam daftar perseroan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

3.Menyetujui pemberian kewenangan kepada dewan komisaris perseroan untuk menentukan gaji, uang jasa dan tunjangan lainnya (bila ada) serta pembagian tugas dan wewenang setiap anggota direksi.

4.Menyetujui pemberian kewenangan kepada direksi bersama-sama dewan komisaris untuk menentukan uang jasa dan tunjangan lainnya (Bila ada) serta pembagian tugas dan wewenang setiap anggota direksi.

RapatUmum Pemegang Saham Luar Biasa:

1. Menyetujui rencana perseroan untuk melakukan penawaran umum terbatas IV kepada para pemegang saham dalam rangka penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu sesuai dengan peraturan bapepam no.IX.D.1 (“PUT IV”) dengan jumlah sebanyak-banyaknya 32.198.770.000 saham biasa atas nama seri B dengan nilai nominal Rp.100,- setiap saham yang di tawarkan dengan harga Rp.250,- per saham sehingga seluruhnya bernilai sebanyak-banyaknya Rp.8.049.692.500.000,- termasuk perubahan struktur permodalan sehubungan dengan PUT IV.

2.Menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan dengan persetujuan dewan komisaris perseroan untuk mengeluarkan saham-saham baru perseroan dalam rangka pelaksanaan PUT IV.

3.Menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan sehubungan dengan pelaksanaan PUT IV tersebut sesuai ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tanpa ada yang dikecualikan.
Sumber : IPS RESEARCH

DETIK Jakarta -Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang digelar pukul 20.00 WIB malam ini membuahkan hasil persetujuan rencana penerbitan saham baru atau rights issue untuk membayar utang. RUPSLB ini sempat ramai.

Salah satu pemegang saham bernama M. Saladdin menyebutkan, suasana RUPSLB yang dilakukan tertutup selama 45 menit ini berlangsung cukup tegang. Lantaran sebagian pemegang saham mempertanyakan alasan BUMI menerbitkan saham baru seri B untuk menutup utang.

Keberatan pemegang saham tersebut dilakukan dengan aksi walk out (WO) alias ‘angkat kaki’ dari ruang rapat.

“Tadi sempat ramai. Ada yang tanya terbitikan saham baru masa untuk bayar utang saja? Mereka ngotot dan bikin ramai. Akhirnya ada yang WO (walk out/meninggalkan ruang rapat),” tutur Saladin usai menghadiri RUPSLB yang digelar di Hotel Gran Melia, Jakarta, Senin (30/6/2014).

Saladin mengaku pasrah menerima keputusan tersebut, karena memang tidak ada jalan lain bagi BUMI untuk melunasi utang-utangnya.

“Memang buat bayar utang, ya bagaimana lagi. Apalagi memang harga batu bara lagi rendah cuma US$ 70 dari awalnya US$ 85 per ton,” tuturnya.

Sebelumnya disebutkan, dana hasil rights issue ini akan digunakan untuk membayar utang. Perusahaan akan fokus kepada pemangkasan utang tahun ini, terutama pembayaran utang pokok kepada China Investment Corp (CIC) yang nilainya mencapai US $1,3 miliar.
Utang tersebut diperoleh melalui Country Forest Limited (CFL) pada 18 September 2009. Pinjaman yang tersisa sebesar US$ 1,3 miliar, dari jumlah itu, US$ 600 juta di antaranya akan jatuh tempo 18 September tahun ini. Sedangkan US$ 700 juta sisanya harus dilunasi sebelum 18 September 2015.

Utang lainnya yang akan dilunasi perseroan adalah ke Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$ 150 juta. Pinjaman ini diperoleh pada 14 November 2013.

Utang ketiga yang akan dibayar sebesar US$ 225 juta untuk membayar sebagian guaranteed convertible bond due 2014 serta beberapa fasilitas utang BUMI kepada para kreditur lain. Surat utang tadi diterbitkan pada 5 Agustus 2009.

Rabu lalu BUMI hampir saja gagal bayar bunga obligasi senilai US$ 18 juta yang masuk tenggat waktu terakhirnya. Namun manajemen berhasil menyelesaikan pembayaran utang tepat di batas terakhir hari pembayaran.

Direktur BUMI Sri Dharmayanti pada kesempatan itu mengatakan, eksekusi hasil keputusan ini rencananya akan dilaksanakan selambat-lambatnya September 2014.

“Harga yang disetujui RUPSLB ini Rp 250 dikalikan dengan 32,2 miliar lembar, jadi sekitar Rp 8,05 triliun,” papar dia.

Dana yang diperoleh dari hasil penerbitan saham baru ini sedianya akan dipergunakan untuk membayar utang perusahaan. Sayang dirinya tak merinci berapa besar utang yang akan dilunasi.

“Saya tidak hafal detilnya, tapi teknisnya masih sama dengan prospektus. Tidak ada perubahan,” kata dia.
Jakarta -Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang merupakan perusahaan tambang grup Bakrie, resmi digelar pukul 20.00 WIB. RUPSLB ini menyetujui rencana penerbitan saham baru atau rights issue.

Direktur BUMI Sri Dharmayanti mengatakan, sebagian besar pemegang saham yang hadir dalam RUPSLB yang digelar di Hotel Gran Melia ini menyetujui rencana tersebut. “Lebih dari 99% setuju usulan kita untuk menerbitkan saham baru,” ujarnya usai menggelar rapat tersebut, Senin (30/6/2014).

Dalam kesempatan yang sama, Komisaris BUMI Anton Setianto Soedarsono menjelaskan, dengan persetujuan ini, maka perusahaan dapat menjalankan rencana perusahaan untuk menerbitkan saham baru yang ditargetkan dapat menggalang dana segar dari publik hingga sebesar Rp 8,05 triliun.

Dana hasil rights issue ini akan digunakan untuk membayar utang. Perusahaan akan fokus kepada pemangkasan utang tahun ini, terutama pembayaran utang pokok kepada China Investment Corp (CIC) yang nilainya mencapai US $1,3 miliar.

Utang tersebut diperoleh melalui Country Forest Limited (CFL) pada 18 September 2009. Pinjaman yang tersisa sebesar US$ 1,3 miliar, dari jumlah itu, US$ 600 juta di antaranya akan jatuh tempo 18 September tahun ini. Sedangkan US$ 700 juta sisanya harus dilunasi sebelum 18 September 2015.

Utang lainnya yang akan dilunasi perseroan adalah ke Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$ 150 juta. Pinjaman ini diperoleh pada 14 November 2013.

Utang ketiga yang akan dibayar sebesar US$ 225 juta untuk membayar sebagian guaranteed convertible bond due 2014 serta beberapa fasilitas utang BUMI kepada para kreditur lain. Surat utang tadi diterbitkan pada 5 Agustus 2009.

Rabu lalu BUMI hampir saja gagal bayar bunga obligasi senilai US$ 18 juta yang masuk tenggat waktu terakhirnya. Namun manajemen berhasil menyelesaikan pembayaran utang tepat di batas terakhir hari pembayaran.

Terkait rights issue, Sri mengatakan, eksekusi hasil keputusan ini rencananya akan dilaksanakan selambat-lambatnya September 2014.

“Harga yang disetujui RUPSLB ini

Rp 250 dikalikan dengan 32,2 miliar lembar, jadi sekitar Rp 8,05 triliun

,” papar dia.

Dana yang diperoleh dari hasil penerbitan saham baru ini sedianya akan dipergunakan untuk membayar utang perusahaan. Sayang dirinya tak merinci berapa besar utang yang akan dilunasi.

“Saya tidak hafal detilnya, tapi teknisnya masih sama dengan prospektus. Tidak ada perubahan,” kata dia.

 

Bp6LzoUCEAAytSN.jpg large

Oktober 13, 2015

valuasi bum1 SAAT 1N1

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:08 am

VALUASI bumi $4,6 Miliar kah

fldtt bumi 121015 _83

Oktober 12, 2015

setelah lapindo, bakrie life… 020909_121015

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:48 am

TEMPO.CO, Sidoarjo – Warga korban lumpur Lapindo kembali menggelar acara tasyakuran atas pelunasan pembayaran ganti rugi mereka. Setelah pekan kemarin dirayakan di Pasar Baru, Porong, kali ini, Ahad, 11 Oktober 2015, tasyakuran diadakan di atas tanggul lumpur titik 42, Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Juwito, 65 tahun, korban lumpur dari Desa Renokenongo yang juga penggagas acara tasyakuran tersebut, mengatakan pihaknya berterima kasih kepada pemerintah karena sudah menepati janjinya untuk melunasi ganti rugi warga meski molor dari rencana awal.

“Kami, korban lumpur Lapindo, berterima kasih kepada pemerintah, dalam hal ini Pak Joko Widodo. Kalau berterima kasih kepada Lapindo (PT Minarak Lapindo Jaya), kami rasa tidak perlu,” ucap korban lumpur yang sempat tinggal selama hampir dua tahun di tanggul lumpur titik 42 tersebut.

Menurut Juwito, warga korban lumpur Lapindo tidak merasa perlu berterima kasih kepada Lapindo karena sejak awal perusahaan itu tidak punya iktikad baik. “Karena itu, saat menggugat di MK (Mahkamah Konstitusi), kami meminta pemerintah memberikan dana talangan,” ujarnya.

Tasyakuran korban lumpur Lapindo diawali dengan potong tumpeng dan tabur bunga di kolom penampungan. Acara selanjutnya diisi dengan hiburan dangdut dan nanti malam disambung pagelaran wayang kulit. “Acara itu semua terselenggara atas sumbangan warga secara sukarela,” tutur Juwito.

Warga korban lumpur Lapindo harus menunggu hingga sembilan tahun untuk mendapatkan pelunasan ganti rugi. Itu terwujud setelah pemerintah memberikan dana talangan sebesar Rp 767 miliar yang diambilkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2015 kepada PT Minarak Lapindo jaya selaku juru bayar PT Lapindo Brantas.

Sampai saat ini, pembayaran pelunasan ganti rugi milik warga yang berada di peta area terdampak masih menyisakan 145 dari total 3.331 berkas. Dari jumlah itu, 79 di antaranya belum dibayar karena masalah status tanah dan waris. Sedangkan sisanya belum melakukan tanda tangan nominatif.

NUR HADI

 

TEMPO.CO , Sidoarjo:Puluhan warga korban Lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, langsung ‘menyerbu’ kantor Bank BRI setempat begitu menerima pencairan dana ganti rugi. Penantian selama sembilan tahun langsung mereka tebus dengan langkah cepat menarik dana-dana itu dari bank.

Langkah itu seperti yang tampak pada Kamis 3 September 2015. Puluhan warga dengan wajah yang sumringah duduk manis di kursi tunggu Bank Rakyat Indonesia Cabang Sidoarjo. Mereka antre dengan setia menunggu panggilan teller.

Meski loket baru dibuka pukul 13.00, namun mereka tetap sabar menunggu sejak pagi. “Ini saya nunggu sejak jam 10.00. Tapi tidak apa-apa, yang penting ganti rugi sudah cair setelah menunggu sembilan tahun,” kata ibu paruh baya yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Ia mengaku akan mengambil semua uang ganti rugi yang ada di rekeningnya sebesar Rp 274 juta. Namun keinginannya itu tak bisa dilakukan. Ketentuan yang dihadapi adalah bahwa dalam sehari, bank hanya membatasi transaksi tunai Rp 200 juta. “Inginnya sih saya ambil semua mas, tapi ya tidak apa-apa karena yang penting cair,” ujarnya yang datang dalam ‘kawalan’ suami dan dua kerabatnya yang lain.

Hal yang sama dilakukan Kastawi, warga korban Lumpur Lapindo dari Desa Renokenongo, Porong. Ia ke bank didampingi keponakan dan saudaranya. Dia juga akan mengambil semua uang ganti rugi yang masuk di rekeningnya. “Tak banyak mas, cuma sekitar Rp 220 juta,” kata Muslimin, keponakan Kastawi.

Ada juga Lisman, 70 tahun. Tapi, berbeda dengan ibu paruh baya dan Kastawi, jumlah sisa ganti rugi Lisman hanya Rp 15 juta dari total Rp 24 juta. “Ini sisa ganti rugi tanah basah alias sawah,” kata dia.

Ibu paruh baya, Kastawi, dan Lisman termasuk diantara kelompok yang menerima dana talangan dari pemerintah pada Rabu sore, 2 September 2015.  Sebanyak 831 berkas ganti rugi korban lumpur yang berada di dalam peta area terdampak secara serentak ditransfer ke masing-masing rekening warga.

Koordinator Pangaduan Validasi Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, Khusnus Khuluk, mengatakan nilai nominal 831 berkas itu sebesar Rp 233 miliar. “Jadi total berkas yang sudah dikirim BPLS sebanyak 2.508 dari total 3.324. Dengan demikian, berkas yang sudah cair separuh lebih,” tuturnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menargetkan ganti rugi rampung akhir September.
Pemerintah memberikan dana talangan ganti rugi korban lumpur sebesar Rp 767 miliar kepada PT Minarak lapindo Jaya, selaku juru bayar PT Lapindo Brantas. Dana sebesar itu diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2015.

NUR HADI

Nasib nasabah Bakrie Life tidak jelas

Kami adalah nasabah Asuransi Bakrie Life dengan nama Diamond Investa cabang Bandung. Dalam perjanjian disebutkan manfaat investasi akan selalu kami terima setiap bulan dan apabila membutuhkan kami dapat mencairkannya setiap 3 bulan sekali.

Namun masalah timbul tahun lalu, sekitar November, ternyata uang investasi kami tidak dapat dicairkan. Kami hanya mendapat manfaat investasi. Alasannya mereka tidak mempunyai dana. Sejak itu kami hanya diberi perpanjangan polis sepihak. Saat ini, bahkan manfaat investasi saja sudah tidak kami dapat.

Kami sudah melaporkan kasus ini ke Bappepam, namun jawaban yang kami terima tidak memuaskan. Kami sangat bingung hendak mengadu ke mana lagi dan bagaimana nasib kami selanjutnya.

Mohon kiranya pihak terkait dan berwenang dapat membantu kami.

Komunitas nasabah Bakrie Life Bandung
Jl Raya Cibabat 420, Cimahi

September 24, 2015

mo CIUS MAEN SAHAm, pake CARA gw d (2): RAK$A$A v wong c1l1k …TX EJ!!!

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:12 am

Edy Joenardi oleh SWA DIGELENG-GELENG KEPALAin @5T dengan modal cuma 62 jt

MASALAH UTAMA KITA: PERTUMBUHAN EKONOMI bukan RUPIAH

BERTRADING saat GENT1NG, saat KRISIS DUN1A
pasar PANIK 070815 ketidakpastian THE FED FUND RATE

 

 

+160 REBU PERSEN in LABA @WIKA in 8 MONTHS only:) … well, cius, gw BERTERIMAKASIH PADA EDI DJOENARDI (Edy Joenardi/EJ) yang MENGINSPIRASI gw BAHWA INVES ITU MESTI + TRAD1NG juga, dan MEM1LIH SAHAM YANG BAGUS sesuai MASAnya

+160 REBU PERSEN in LABA @WIKA in 8 MONTHS only:) … well, cius, gw BERTERIMAKASIH PADA EDI DJOENARDI (Edy Joenardi/EJ) yang MENGINSPIRASI gw BAHWA INVES ITU MESTI + TRAD1NG juga, dan MEM1LIH SAHAM YANG BAGUS sesuai MASAnya

NEH TEORI INVES+TRADING SAHAM ala EDY JOENARDI yang gw PAHAMI sebagai TEROBOSAN PENTING SEKALE dalam MAEN SAHAM NEH TEORI INVES+TRADING SAHAM ala EDY JOENARDI yang gw PAHAMI sebagai TEROBOSAN PENTING SEKALE dalam MAEN SAHAM
bobo@saham 030315MAEN SAHAM SEMI-RUTIN, yaitu PANTAU SEMUA INFO TERKAIT SAHAM-SAHAM gw, DAN TETAP BISA JALAN-JALAN bareng kawan2, URUS KELUARGA, INVES PRODUK-PRODUK YANG LAEN (termasuk properti)… dan tentu aza BERBAGI LEWAT MEDIA SOSIAL neh
BACAAN gw SOAL NA$1B Rupiah KITA

AHOK, gw GA MAU JADI GUBERNUR DKI, cukup KALO ELO DENGARKAN USUL gw YANG UDA LAMA gw AJUKAN, yaitu JADIKAN JAKARTA KOTA DI BAWAH AIR

tren ihsg jelang OVER-BULLISHNESS, para analis bursa malah berekspektasi BEARISHNESS, well, gw maseh meliat ekspektasi bull jangka pendek seh:)
gw makin sulit memastikan ihsg k 5500 neh, karena 5457 itu RESISTENSI TERKUAT SEPANJANG SEJARAH ihsg

HARGA M1NYAK REBOUND, tren harga energi IKUTAN, biasanyAAAAA:)

teknikal Money Flow Index sudah semakin DEKAT 90an, berarti akselerasi tren ihsg akan menuju 5500, 5600, n 6K pada 2015, well, let’s see:)
tren IHSG jauh di atas TREN 2 EKONOMI MAKRO KITA YANG PALING PENTING
IHSG 6K bo…
TAKUT MENJADI INVESTOR, well, gw uda BUKTIKAN INVESTASI KEUANGAN ITU MENGUNTUNGKAN
… per tgl 14 Januari 2015, harga saham bumi melesat +33% TERHADAP AVG (RERATA HARGA BELI) saham bumi @ warteg saham gw neh :
fldtt @bumi REBOUND+33% 140115
RESOLUSI MAEN SAHAM 2015

ADU EKSPEKTASI : MANDIRI SEKURITAS v WARTEG saham gw @ IHSG akhir 2014
INDIKASI potential gain% @ warteg saham gw + 25% dalam 2 minggu, pasca kenaekan bbm

$81 Miliar digelontorkan pemerintah Tiongkok menstimuli perbankan mereka, well, ekspektasi gw : 7K @ ihsg dalam setidaknya 2 taon lage…:)

per tgl 02 Januari 2015, harga saham bumi @ 85, well, pas dengan AVG / rerata harga beli saham bumi yang gw usahakan … jadi begitu lah, FLDTT terbukti lage ya :

FLDTT BUMI 020115 @85
susp bumi dibuka n anjlok 071014 @166

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia membuka gembok saham PT Bumi Resources TBk (BUMI). Saham milik grup Bakrie ini merosot setelah boleh diperdagangkan kembali pagi ini, Selasa (7/10).

Mengutip Bloomberg, saham BUMI berada di Rp 169 pada pukul 10.16 WIB. Harga tersebut merosot 21 poin atau 11% dari harga terakhir Rp 190 per saham, yang tercatat 24 September lalu.

BEI melepas gembok saham BUMI setelah emiten investasi tambang batubara itu menggelar public expose insidentil kemarin. Dalam kesempatan itu, BUMI mengumumkan, penyerapan rights issue sekitar Rp 3,61 triliun atau hanya 45% dari target awalnya Rp 8 triliun.

Manajemen BUMI juga mengungkapkan niatnya menggali ladang minyak Gallo Oil dan mencari pendanaan US$ 50 juta untuk proyek minyak ini. Tak hanya itu, BUMI juga mengatakan ingin membiayai kembali (refinancing) utangnya sebesar US$ 275 juta.

http://investasi.kontan.co.id/news/gembok-dibuka-saham-bumi-merosot-11
Sumber : KONTAN.CO.ID

JAKARTA. Menjelang rights issue, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melonjak hingga 14,7%. Bahkan, saham perusahaan batubara milik Grup Bakrie ini menjadi salah satu yang menduduki top gainer hari ini.

Saham BUMI ada di posisi ke dua yang mengalami peningkatan harga paling tinggi pada perdagangan Jumat (27/6). Saham BUMI melonjak dari Rp 150 per saham menjadi Rp 172 per saham.

per tgl 30 Juni 2014 sbb:

FLDTT BUMI 300614 @179

 

per tgl 27 Juni 2014 sbb:
FLDTT BUMI 270614 @172+3% pasca gw terapkan F(okus)L(aba)D(dalam)T(ren)T(urun) @ tren harga saham bumi yang AMBLES jelang RIGHTissue
Senin lalu (23/6) BUMI berada di Rp 131 per saham, harga terendahnya selama tahun ini. Jika dihitung sejak awal pekan, saham BUMI melompat 31,3%.

BUMI berencana melepas 32,19 miliar saham seri B. Nilai per saham dibanderol Rp 250 per saham. Dengan demikian, total dana hasil rights issue ini mencapai Rp 8,04 triliun. Angka ini lebih besar dari rencana semula yang sebanyak 25,17 miliar saham di harga yang sama.

Sehingga dana yang kana dihimpun ketika itu sekitar Rp 6,5 triliun. Jika mendapat izin efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Senin (30/6) mendatang.
Editor: Sanny Cicilia

…neh gw share lage TREN BULLISH JANGKA MENENGAH @ harga saham ELSA, serta ekspektasi dari 400 ke 500 lalu ke 600 : quo vadis elsa, gw mo tambah volume @harga saham elsa guna mengejar ekspektasi yang positif @ tren jangka menengah harga saham elsa
TRIPLE DIGIT POTENTIAL GAIN% @harga saham ELSA, uda gw RAUP, malah tambah volume n potential gain% @ 2 online trading yang gw jalani juga:)

TRIPLE DIGIT POTENTIAL GAIN% @harga saham ELSA, uda gw RAUP, malah tambah volume n potential gain% @ 2 online trading yang gw jalani juga:)

BELAJAR INVESTASI DARI ORANG SUPERKAYA AMRIK, juragan investor TULEN:)

BELAJAR INVESTASI DARI ORANG SUPERKAYA AMRIK, juragan investor TULEN:)

sejak sekira 1 taon (Januari 2013)gw BOBO INVES @harga saham elsa, n per tgl 07 Januari 2014 telah +107%:)
… gw amati bahwa per tgl 25 Oktober 2013, harga saham elsa telah memberikan +63%, ekh, kebetulan sekira September 2013 gw uda lebe dulu mulai inves lage @ warteg yang laen (warung tegar saham gw juga) @0T B n per tgl 07 Januari 2013: +30% … coba baca2 posting2nya terkait tren harga saham tersebut ya … bwat belajar lah:)

… inves @elsa maseh berlanjut neh:
nah berikut gw kasi link untuk baca posting gw soal tren harga saham elsa yang naek +111% dalam lebe dari 1 taon @warteg KBSU: cek sendiri +111% nya ya:)

September 4, 2015

mo C1U$ maen saham, pake CARe gw yuk … 040915

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 8:16 am

FLDTT n FLDTN gw BERTAHAN tuh dalam KR1$1$ 20i5

Maret 31, 2015

LABA @ bum1 : H1 2014 (kredibilitas AMBLE$)

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 2:02 am

belajar MEMAHAMI FLDTT lage neh:), + bukti2nya

JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk (BUMI), perusahaan batubara yang dikendalikan oleh Grup Bakrie, akan menuntaskan proses restrukturisasi utang senilai US$ 3,7 miliar atau sekitar Rp 48 triliun pada kuartal II-2015.

“Progres negosiasi restrukturisasi berjalan dengan baik. Kami tengah mengupayakan penyelesaian yang lebih cepat, sehingga dapat dituntaskan pada kuartal berikutnya,” kata Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivastava kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Meski demikian, Dileep belum bersedia mengungkapkan skema restrukturisasi yang akan diajukan. Yang pasti, perseroan mengkaji semua opsi termasuk penjualan aset, debt to equity swap, penurunan kupon, maupun perpanjangan masa jatuh tempo. “Kita tunggu saja penuntasannya,” ucap dia singkat.

Secara rinci, utang yang membelit Bumi Resources terdiri atas guaranteed senior secured notes yang diterbitkan oleh Bumi Capital Pte Ltd senilai US$ 300 juta, Bumi Investment Pte Ltd senilai US$ 700 juta, dan guaranteed convertible bonds oleh Enercoal Resources Pte Ltd sebanyak US$ 375 juta.

Perseroan juga memiliki utang kepada Country Forest Limited Facility 2009 senilai US$ 1,03 miliar, Credit Suisse 2010 dan 2014 Facility US$ 231,8 juta, UBS AG Facility sebanyak US$ 62,5 juta, Axis Bank Limited Facility 2011 senilai US$ 140 juta, Deutsche Bank 2011 Facility senilai US$ 54 juta, dan China Development Bank Facility US$ 600 juta.

Selanjutnya, perseroan memiliki fasilitas RBI Loan dan Castleford Investment Holdings Ltd senilai masing-masing US$ 80,6 juta dan US$ 150 juta. Semua utang ini akan jatuh tempo pada rentang periode 2014 – 2017.

Pada November 2014, pengadilan Singapura mengabulkan permohonan moratorium kewajiban pembayaran sebagian utang Bumi Resources. Hal ini dalam rangka restrukturisasi utang perseroan senilai total US$ 1,37 miliar.

Selama moratorium itu berlangsung, Bumi Resources tidak dapat melakukan sejumlah aksi korporasi yang diperlukan untuk menyelesaikan transaksi pembayaran utang lainnya. Transaksi yang ditunda meliputi pelunasan kepada China Investment Corporation (CIC) senilai US$ 1,03 miliar, rencana refinancing pinjaman US$ 275 juta, serta penjualan saham PT Fajar Bumi Sakti senilai US$ 130 juta. Direktur Bumi Resources Andrew Beckham pernah mengatakan, restrukturisasi dan negosiasi akan dilakukan secara global. Artinya, perseroan berkomitmen menyelesaikan masalah utangnya kepada semua kreditor.

“Kami tidak pilih kasih terhadap kreditor tertentu. Semua utang akan direstrukturisasi,” kata Andrew, baru-baru ini. (ID)

http://id.beritasatu.com/marketandcorporatenews/kuartal-ii-bumi-tuntaskan-restrukturisasi-utang/112103

Sumber : INVESTOR DAILY

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks harga saham emiten asal Indonesia yang diperdagangkan di bursa Amerika Serikat I Shares MSCI Indonesia ETF (EIDO) pada penutupan perdagangan Kamis (26/3/2015) atau Jumat pagi WIB kembali anjlok.

EIDO penutupan Kamis (26/3/2015) melemah 0,78% ke 26,62, dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (25/3/2015) yang anjlok 2,47% ke 26,83.

Anjloknya EIDO sejalan dengan melemahnya gerak bursa AS. Dow Jones Industrial Average yang turun 0,23% ke 17.678,23, indeks S&P500 di bursa AS bergerak melemah 0,24% ke 2.056,15.

Saham penekan indeks berdasarkan %:

BEST -6,67%
MAIN -6,50%
BUMI -5,75%
BKSL -5,04%

 Saham pendorong indeks berdasarkan %:

SCMA +3,91%
SGRO +2,44%
BHIT +2,11%
MYRX +2,03%

 Sumber: Bloomberg, 2015

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks harga saham emiten asal Indonesia yang diperdagangkan di bursa Amerika Serikat I Shares MSCI Indonesia ETF (EIDO) pada perdagangan Senin atau Selasa pagi melemah untuk hari kelima.EIDO penutupan Senin (9/3/2015) turun 0,52% ke 27, dibandingkan penutupan  perdagangan Jumat (6/3/2015) yang melemah 0,44% ke 27,14.Pelemahan EIDO berlawanan dengan bursa AS. Dow Jones malah naik 0,78% ke 17.995,72, indeks S&P500 di bursa AS bergerak menguat 0,39% ke 2.079,43.

Saham penekan indeks berdasarkan %:

BUMI -5,26%
UNTR -5,17%
LPKR -4,31%
WSKT -4,21%

Saham pendorong indeks berdasarkan %:

SILO +4,58%
VIVA +1,85%
LSIP +0,80%
MYRX +0,67%

Sumber: Bloomberg, 2015

 

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan batu bara PT Bumi Resources Tbk. mendapatkan izin ekspor selama 3 tahun bagi unit usaha PT Kaltim Prima Coal dan Arutmin dari pemerintah Indonesia.

Dileep Srivastava, Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, menjelaskan dengan izin tersebut, maka Arutmin dan Kaltim Prima Coal saat ini telah terdaftar di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai eksportir batu bara.

“Paruh pertama ini kami mengekspor batu bara sekitar 60% dari total produksi,” ujarnya, Selasa (7/10/2014).

Dia memperkirakan kebutuhan batu bara di dalam negeri pada tahun depan akan meningkat tajam. Sementara itu, untuk pasar ekspor, Dileep mengharapkan permintaan dari India dan Jepang akan bertambah dalam beberapa tahun ke depan.

Adapun, setelah sempat disuspen, harga saham emiten berkode BUMI itu ditutup melemah 16,32% pada penutupan perdagangan kemarin menuju level Rp159 dibandingkan posisi pada penutupan sebelumnya Rp190.

 

Editor : Martin Sihombing

 

JAKARTA kontan. China Investment Corporation telah resmi mengempit saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Hal ini merupakan bagian dari upaya pembayaran utang perseroan kepada kreditur asal negeri tirai bambu tersebut.

Mengutip data RTI, jumlah saham tercatat BUMI sudah 36,62 miliar saham. Artinya sudah ada tambahan sebanyak 15,85 miliar saham hasil pelaksanaan rights issue. Sebelumnya, jumlah saham tercatat BUMI sebesar 20,77 miliar saham.

Dari 15,85 miliar saham yang terserap, sebanyak 6,9 miliar atau setara dengan US$ 150 juta diambil CIC. Ini merupakan tahap lanjutan pembayaran utang perseroan yang totalnya mencapai US$ 1,3 miliar.

Pada awal Juli 2014, BUMI telah melepas kepemilikan 19% saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) milik BUMI. Nilai transaksi ini setara dengan US$ 950 juta. Berarti, total utang yang sudah terbayar sekitar US$ 1,1 miliar.

Selanjutnya, perseroan tinggal melakukan transfer aset berupa 42% saham  PT Bumi Resource Minerals Tbk (BRMS). Nilai transaksi yang disepakati sebesar US$ 257,4 juta.

Editor: Hendra Gunawan

 

Jakarta – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun hingga 11,58 persen ke 168 pada sesi pertama perdagangan pagi ini karena rencana perseroan untuk mengurangi porsi rights issue dan menjajaki pinjaman baru untuk melunasi utang.

Bumi akan menjajaki pinjaman baru sebesar US$ 275 juta untuk melunasi (refinancing) utang dalam jumlah yang sama. Perseroan sedang berdiskusi secara intensif dengan sejumlah kreditor, yaitu Axis Bank, Credit Suisse, Deutsche Bank, UBS, dan China Development Bank (CDB).

Direktur Utama Bumi Resources Ari Hudaya mengatakan, pihaknya terus berupaya melakukan negosiasi ulang terkait kesepakatan pinjaman. Hal itu dilakukan untuk menghindari gagal bayar (default).

“Kami akan jajaki opsi refinancing melalui pinjaman baru yang memiliki tingkat suku bunga lebih rendah. Kami juga akan tawarkan opsi perpanjangan tenor. Itu semua tergantung dari pembicaraan dengan para kreditor nanti,” kata Ari di sela paparan publik insidentil Bumi Resources di Jakarta, Senin (6/10).

Perusahaan batubara terbesar di Indonesia milik keluarga Bakrie tersebut semula berencana membayar utang secara tunai dari hasil penawaran umum terbatas saham (rights issue).

Perseroan juga berniat mengalokasikan sejumlah dana rights issue untuk mengembangkan konsesi Gallo Oil Ltd dan PT Gorontalo Minerals. Namun, rencana tersebut batal, karena kekurangan permintaan (undersubscription) dari para investor terhadap saham baru perseroan.

Bumi terpaksa memangkas nilai rights issue sampai dua kali. Semula, perseroan menargetkan rights issue sebesar US$ 700 juta. Perseroan kemudian menurunkannya menjadi US$ 425 juta dan kembali dipangkas menjadi US$ 314 juta.

Bumi kini hanya akan menerbitkan 15,8 miliar saham baru atau setara 43,1 persen dari modal disetor. Adapun harga pelaksanaannya tetap sebesar Rp 250 per saham.

Dana hasil rights issue yang diperoleh Bumi hanya cukup untuk beberapa keperluan perseroan. Sebanyak US$ 14 juta dialokasikan untuk modal kerja, sedangkan sebesar US$ 150 juta akan dipakai untuk pelunasan sebagian fasilitas pinjaman kepada China Investment Corporation (CIC). Sisanya US$ 150 juta bakal digunakan untuk melunasi seluruh utang perseroan kepada Castleford Investment Holdings Ltd.

Sebelumnya, pada Juni 2014, Bumi Resources berhasil menghindari status gagal bayar (default) dengan melunasi kupon obligasi. Obligasi sebesar US$ 300 juta tersebut jatuh tempo pada November 2016 dan memiliki kupon sebesar 12 persen. Kupon seharusnya dibayar pada 12 Mei 2014. Namun, perseroan meminta perpanjangan waktu hingga 11 Juni 2014.

Jika pada tanggal itu Bumi Resources belum melakukan pembayaran, pemegang obligasi berhak meminta percepatan. Perseroan juga dapat ditetapkan default. Namun, perusahaan tambang yang dikendalikan keluarga Bakrie itu berhasil melakukan pelunasan dan akhirnya terhindar dari gagal bayar.

Transaksi CIC

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivastava menambahkan, transaksi penyelesaian utang kepada CIC senilai total US$ 1,4 miliar hampir tuntas. Perseroan telah mengalihkan sebanyak 19 persen saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) senilai US$ 950 juta kepada CIC. Perseroan juga telah melepas sebanyak 18,84 persen saham senilai US$ 150 juta melalui rights issue.

“Sisanya tinggal penutupan transaksi pengalihan 42 persen saham PT Bumi Resources minerals Tbk (BRMS) senilai US$ 257 juta. Transaksi ini segera kami rampungkan dalam waktu dekat, agar utang kepada CIC bisa ditutup,” jelas Dileep.

Selanjutnya, Bumi akan fokus pada pembayaran obligasi konversi senilai total US$ 375 juta. Masa jatuh tempo obligasi tersebut telah diperpanjang hingga 2018. Adapun tingkat suku bunga telah diturunkan dari 9,25 persen menjadi 6 persen.

Jika semua rencana transaksi berjalan lancar, jumlah utang Bumi Resources sekitar US$ 4 miliar akan turun menjadi US$ 2 miliar. Dileep optimistis, pemangkasan itu dapat terealisasi pada akhir 2015.

“Penyelesaian masalah utang akan menjadi sentimen positif bagi perseroan, sehingga diharapkan dapat mengangkat harga saham Bumi Resources jauh lebih tinggi dibandingkan saat ini,” ujar Dileep.

Sementara itu, dari segi operasional, Bumi Resources berharap dapat memproduksi batubara sebanyak 90 juta ton tahun ini. Hingga Juni 2014, perseroan telah memproduksi sebanyak 45,3 juta ton batubara atau naik 10 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 41 juta ton.

Adapun pendapatan perseroan selama semester I-2014 tercatat sebesar US$ 1,5 miliar, turun 15 persen dibandingkan periode sama tahun lalu senilai US$ 1,8 miliar. Meski demikian, perseroan berhasil mencetak laba bersih sebesar US$ 130 juta, dibandingkan semester I-2013 yang membukukan rugi bersih US$ 269,7 juta. Laba bersih tersebut berasal dari keuntungan pengalihan saham KPC.

http://www.beritasatu.com/pasar-modal/215525-garagara-utang-saham-bumi-resources-turun-11.html
Sumber : BERITASATU.COM

JAKARTA kontan. Tidak mau kalah dengan manajemen PT Bumi Resoruces Tbk (BUMI) yang marah dan kecewa dengan para investor yang dinilai tidak mendukung rencana perseroan. Investor publik yang hadir dalam public expose (PE) insidentil hari ini pun membalas pernyataan manajemn BUMI.

Salman, salah satu investor publik yang hadir mengatakan, salah satu penyebab para investor publik tidak mengeksekusi haknya adalah karena pihaknya sudah tidak pecaya lagi kepada manajemen BUMI.

“Manajemen (BUMI) harus melakukan aksi korporasi yang membuat kami percaya, kalau kepercayaan publik ada, ya pasti kami akan percaya,” ujarnya, Senin (6/10).

Selain itu, harga penawaran rights issue yang ditentukan manajemen pun ada di atas harga pasar ketika itu. Menurut jadwal rights issue BUMI, eksekusi penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dilakukan Juli 2014.

Pada saat itu, rata-rata harga saham BUMI ada di kisaran Rp 189 per saham. Bahkan, sempat menyentuh level Rp 150 per saham. Sementara, harga pelaksanaan saham baru BUMI dibanderol Rp 250 per saham.

“Kalau saja kami eksekusi hak kami, kami akan rugi,” imbuh Salman.

Steven, investor publik lainnya menambahkan, saham baru yang diterbitkan BUMI dalam rangka penawaran umum terbatas (IV) kemarin adalah saham seri B. Ia khawatir ada perbedaan hak dan perlakuan antara pemegang saham seri A dan seri B.

Seperti diketahui, awalnya BUMI menawarkan sebanyak-banyaknya 32,19 miliar saham baru seri B dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Adapun, harga penawaran dibanderol Rp 250 per saham. Namun, yang terserap ternyata hanya 15,85 miliar saham.

Dari 15,85 miliar saham yang terserap, pemegang saham publik yang mengeksekusi hanya 11,41 juta. Mengutip prospektus rights issue BUMI, kepemilikan saham publik BUMI mencapai 70,82%. Jika semua mengeksekusi, maka seharusnya penyerapan oleh investor publik mencapai 22,8 miliar saham.

Jadi, penyerap saham-saham baru BUMI selain investor publik yang minim itu, adalah Long Haul Holdings Limited melalui PT Karsa Daya Rekatama dan Castleford Investment Holdings Ltd melalui PT Damar Reka Energi. Masing-masing menyerap 6,9 miliar saham yang nilainya setara dengan US$ 150 juta.

Adapun, saham-saham yang diserap digunakan unutk konversi utang BUMI kepada kreditur. Kemudian, sebanyak 2,04 miliar saham diserap oleh pembeli siaga, yakni PT Danatama Makmur. Sekitar 16,34 miliar saham yang tidak terserap dimasukkan kembali ke dalam portepel perusahaan.

Editor: Sanny Cicilia
Liputan6.com, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyatakan pembatalan penerbitan saham baru senilai US$ 275 juta atau sekitar Rp 3,1 triliun karena mengalami kekurangan permintaan.Hal itu disampaikan dalam materi publik perseroan yang disampaikan dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), yang ditulis Minggu (5/10/2014). Dalam penjelasan kepada otoritas bursa, perseroan mengalami kekurangan permintaan dalam rangka penawaran saham terbatas atau rights issue senilai US$ 275 juta.Selain itu, para kreditor tidak bersedia menerima pembayaran pinjaman dalam bentuk saham. Perseroan melihat peluang positif untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut dengan para kreditur guna menentukan langkah selanjutnya.Alhasil perseroan tidak dapat memperoleh dana tunai US$ 275 juta atau sekitar Rp 3,16 triliun dari hasil penerbitan saham baru sekitar 12,65 miliar lewat rights issue. Perseroan memasukkan kembali 12,65 miliar saham ke dalam portepel.Dana hasil rights issue antara lain digunakan untuk melunasi pinjaman antara lain kepada Axis Bank Limited 2011, Credit Suisse 2010-2012, Deutsche Bank 2011, UBS AG 2012, dan CBS 2011.Perseroan juga membatalkan rights issue untuk merealisasikan anggaran proyek Gallo dan Gorontalo Minerals. Masing-masing perolehan dana rights issue itu US$  48 juta untuk proyek Gallo Oil dan US$ 32,58 juta untuk proyek PT Gorontalo Minerals.Berdasarkan prospektus yang diterbitkan 30 Juni 2014, perseroan akan melakukan rights issue dengan melepas 32,19 miliar saham. Total dana yang diincar sekitar Rp 7,7 triliun.Dengan pembatalan rights issue senilai US$ 270 juta, pereroan hanya melepas 15,85 miliar saham dengan dana yang diraup mencapai Rp 3,61 triliun.Dana hasil rights issue antara lain digunakan untuk modal kerja perseroan mencapai US$ 14 juta. Lalu perseroan melunasi sebagian fasilitas pinjaman dari China Investment Corporation melalui Country Forest Limited sebesar US$ 150 juta. Selain itu, perseroan juga melunasi seluruh utang perseroan kepada Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$ 150 juta.Sejumlah pihak yang mengambil bagian dalam rights issue PT Bumi Resources Tbk antara lain publik sejumlah 11,53 juta saham. Lalu perusahaan milik grup Bakrie, Long Haul Holding Ltd melalui mekanisme debt to equity conversion sejumlah 6,9 miliar saham.Castleford Holding Ltd melalui mekanisme debt to equity conversion sejumlah 6,9 miliar saham dengan PT Damar Reka Energi sebagai agen fasilitas castleford. Selain itu, PT Danatama Makmur sebagai pembeli siaga menyerap sekitar 2,04 miliar saham. (Ahm/)

Credit: Agustina Melani

 

JAKARTA kontan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membeberkan alasan pembatalan sebagian rencana Penawaran Umum Terbatas (PUT IV) dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue.

Dalam materi paparan publik yang dirilis Jumat (3/10), BUMI mengatakan, batalnya penerbitan 12,65 miliar saham baru lewat rights issue lantaran kekurangan permintaan (undersubscription). “Para kreditor tidak bersedia menerima pembayaran pinjaman dalam bentuk saham,” tulis manajemen BUMI.

Imbasnya, BUMI tak mampu meraih dana tunai yang seharusnya US$ 275 juta setara Rp 3,16 triliun dari rights issue. BUMI kembali memasukkan 12,65 miliar saham dalam portepel.

BUMI sudah mengalokasikan US$ 275 juta dana rights issue untuk melunasi lima fasilitas pinjaman. Kelima fasilitas itu dari utang Axis Bank Limited (2011), Credit Suisse (2010), Deutsche Bank (2011), UBS Bank AG (2012) dan China Development Bank (2011).

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI sebelumnya mengatakan, akan mencari alternatif lain yang efisien untuk melunasi utang lima kreditur.

BUMI juga membatalkan dua bagian PUT IV lainnya, yaitu US$ 48 juta setara Rp 552 miliar dan US$ 32,58 juta setara Rp 374,67 miliar.

Bagian pertama yang senilai US$ 48 juta semestinya dianggarkan untuk merealisasikan penggarapan Blok 13 dan Blok R2 dari konsesi hidrokarbon yang dimiliki anak usaha BUMI di Yaman, Gallo Oil (Jersey) Ltd.

Sementara bagian rights issue US$ 32,58 juta untuk uji kelayakan konsesi tembaga dan emas yang dimiliki PT Gorontalo Minerals, cucu usaha BUMI. Dua bagian rights issue itu dibatalkan karena kurang diminati investor.

Tiga bagian yang dibatalkan tersebut merupakan sebagian dari total rights issue BUMI 32,19 miliar saham senilai US$ 700 juta. Akibatnya, pelaksanaan PUT IV BUMI hanya 15,85 miliar saham senilai US$ 314 juta setara Rp 3,61 triliun.

Dana hasil rights issue tersebut, US$ 14 juta setara Rp 161 miliar untuk memenuhi modal kerja dan pembayaran bunga BUMI.

Kedua, US$ 150 juta setara Rp 1,73 triliun untuk melunasi sebagian utang kepada China Investment Corporation (CIC). Ketiga, US$ 150 juta atau Rp 1,73 triliun melunasi utang kepada Castleford Investment Holdings Ltd (Castleford). BUMI menjelaskan saham rights issue itu diserap empat pihak.

Perusahaan khusus milik Grup Bakrie, Long Haul Holding Ltd (Long Haul) menyerap 6,9 miliar saham rights issue BUMI. Long Haul menunjuk PT Karsa Daya Rekatama sebagai agen menyerap rights issue BUMI.

Pihak kedua adalah Castleford yang menyerap 6,9 miliar saham rights issue BUMI melalui mekanisme konversi utang menjadi ekuitas. PT Damar Reka Energi bertindak sebagai agen fasilitas yang diserap Castleford.

PT Danatama Makmur turut mengambil 2,04 miliar saham BUMI. Danatama memang telah berjanji akan menjadi pembeli siaga. Sisa saham yang dilepas yakni 11,53 miliar, diserap oleh publik.

Editor: Avanty Nurdiana

 

JAKARTA kontan. Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) menginstruksikan kepada manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk menggelar public expose (PE) insidentil. Hal ini terkait dengan kewajiban perseroan untuk memberikan keterbukaan informasi mengenai hasil penawaran saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Dileep Srivastava, Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, pihaknya akan menggelar PE insidentil pada Senin (6/10) di Kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.

“Agendanya informasi mengenai hasil pelaksanaan penawaran umum terbatas IV PT Bumi Resources Tbk,” ujarnya dalam pernyataan resmi Jumat (3/10).

Beberapa waktu lalu, BEI melakukan pemanggilan kepada manajemen BUMI terkait dengan informasi tersebut. “Kami sudah panggil untuk minta penjelasan mengenai penjatahan rights issue,” kata Hoesen, Direktur Penilaian Perusahaan BEI.

Maklum, perusahaan batubara milik Grup Bakrie ini belum juga mengumumkan informasi mengenai hasil rights issue yang telah mendapatkan persetujuan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 30 Juni 2014 lalu.

Wasit pasar saham ini pun memutuskan untuk menyetop perdagangan  saham BUMI mulai sesi pertama perdagangan Kamis (25/9). Sehari setelah suspen dilakukan, manajemen BUMI merilis informasi, pihaknya membatalkan 12,65 miliar saham yang rencananya ikut dikeluarkan pada aksi rights issue Juli 2014 lalu.

Total nilai penerbitan mencapai Rp 3,16 triliun atau Rp 250 per saham (harga rihgts). Dana ini awalnya akan digunkan perseroan untuk membayar utang kepada sejumlah kreditur. Sekadar mengingatkan, pada aksi rights issue BUMI, jumlah saham yang diterbitkan mencapai 32,19 miliar saham seri B dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Nilai aksi koporasi ini pun jumbo, yakni mencapai Rp 8,04 triliun.

Editor: Fransiska Firlana

 

JAKARTA kontan. Hanya dalam rentang waktu tiga hari, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengubah kebijakan mengenai pelaksanaan Penawaran Umum Terbatas IV (PUT IV) dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue.

Dalam pernyataan resmi ke Bursa Efek Indonesia, Sabtu (27/9), BUMI memutuskan membatalkan rencana menerbitkan 12,65 miliar saham baru lewat rights issue. Padahal, dua hari sebelumnya, BUMI menyatakan hanya akan menunda rights issue senilai Rp 3,16 triliun atau setara US$ 275 miliar itu. Jumlah itu adalah sebagian dari total rights issue BUMI yang mencapai 32,19 miliar saham dengan total nilai US$ 700 juta. Dengan pembatalan itu, BUMI akan kembali memasukkan 12,65 miliar saham itu ke dalam portepelnya.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI menuturkan, pihaknya akan menggelar paparan publik pekan ini untuk menjelaskan situasi terkini emiten batubara itu termasuk pelaksanaan rights issue yang hanya US$ 425 juta.

Meski rights issue tak dilakukan seluruhnya, Dileep bilang, BUMI akan terus berupaya mengurangi utang dengan seefisien mungkin. “Kami akan mencari opsi lain (selain rights issue) untuk memangkas utang di masa mendatang,” kata Dileep kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Berdasarkan prospektus rights issue BUMI, salah satu prioritas penggunaan dana US$ 275 juta awalnya adalah pelunasan fasilitas utang perseroan ke beberapa kreditur secara proporsional.

Beberapa kreditur yang dimaksud adalah Axis Bank Limited dengan jumlah pokok terutang US$ 135 juta. Kemudian Credit Suisse cabang Singapura senilai US$ 117 juta yang jatuh tempo pada 2013. Lalu, Deutsche Bank AG cabang Singapura dan WestLB AG cabang Singapura dengan total pokok terutang US$ 54 juta. Pinjaman ini jatuh tempo November 2014. UBS AG cabang London senilai US$ 65 juta, serta China Development Bank (CDB) sebesar US$ 600 juta.

Selain membayar utang, BUMI akan memakai saham rights issue untuk membayar biaya kontraktor di proyek Gallo Oil (Jersey) Ltd dan PT Gorontalo Minerals. Secara speksifik, dana US$ 48 juta dipakai untuk merealisasikan anggaran program Blok 13 dan blok R2 konsesi hidrokarbon Gallo Oil. Adapun pihak yang akan mendapat saham BUMI atas pembayaran jasa kontraktor proyek Gallo Oil itu berdomisili di #502 Girija Imperial, Plot No. 22, Image Hospital Road, Gafoomager, Madhapur, India.

Setelah pelaksanaan penawaran saham baru dengan HMETD, kontraktor migas ini akan mengempit 2,19 miliar saham atau sebesar 5,45% saham BUMI. Dengan penjelasan ini, Dileep berharap BEI segera membuka kembali perdagangan saham BUMI yang telah dihentikan sementara sejak Kamis (25/9).

Editor: Sandy Baskoro

 

Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memangkas nilai penawaran umum terbatas saham (rights issue) sebesar US$ 275 juta menjadi US$ 425 juta dari semula US$ 700 juta.

Perusahaan batubara terbesar di Indonesia milik keluarga Bakrie itu mengurangi penerbitan saham baru sebanyak 12,65 miliar menjadi 19,54 miliar dari semula 32,19 miliar unit. Adapun harga pelaksanaan sebesar Rp 250 per saham.

Pemangkasan tersebut tidak mengurangi upaya perseroan dalam menekan jumlah utang dan memperkuat keuangan perusahaan. “Kami akan melakukan pemaparan publik pekan depan untuk memperjelas masalah ini,” kata Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Dileep Srivastava kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (25/9).

Perseroan semula mengalokasikan dana US$ 275 juta dari hasil rights issue untuk membayar utang kepada sejumlah kreditor. Namun, perseroan melihat kemungkinan untuk bernegosiasi ulang terkait penyelesaian utang. Bumi akan bernegosiasi dengan Axis Bank Ltd, Credit Suisse, Deutsche Bank, UBS AG, dan CDB.

Pinjaman kepada Credit Suisse seharusnya jatuh tempo tahun lalu. Utang kepada UBS AG jatuh tempo pada Maret 2014, sedangkan pinjaman kepada CDB pada Februari 2016. Adapun utang kepada Deutsche Bank akan jatuh tempo pada November 2014.

Sebelumnya, Bumi Resources berniat menerbitkan 32,19 miliar saham baru senilai total Rp 8,04 triliun (US$ 700 juta). Dari aksi tersebut, dana sebesar US$ 150 juta dialokasikan untuk membayar sebagian obligasi konversi (convertible bond/CB) yang senilai total US$ 375 juta.

Perseroan juga akan menggunakan dana rights issue sebesar US$ 32,58 juta atau setara Rp 374,67 miliar untuk membiayai studi kelayakan (feasibility study) di konsesi pertambangan tembaga dan emas milik anak usaha perseroan, PT Gorontalo Minerals.

Sementara itu, untuk melunasi pinjaman kepada Country Forest Ltd (CFL), anak usaha China Investment Corporation (CIC), serta utang kepada Castleford Investment Holdings Ltd, Bumi mengalokasikan dana masing-masing sebesar US$ 150 juta.

Bumi ingin menyelesaikan utang kepada CIC sebesar US$ 1,3 miliar. Tingkat bunga pinjaman tersebut sebesar 12 persen per tahun. Dari jumlah tersebut, sebanyak US$ 600 juta akan jatuh tempo pada Oktober 2014 dan sebesar US$ 700 juta pada Oktober 2015.

Pada Juni 2014, Bumi Resources berhasil menghindari ancaman gagal bayar dengan melunasi kupon obligasi. Adapun total nilai surat utang global tersebut sebesar US$ 300 juta. Jatuh temponya pada November 2016 dan memiliki kupon sebesar 12 persen.

Kupon seharusnya dibayar pada 12 Mei 2014. Namun, perseroan meminta perpanjangan waktu hingga 11 Juni 2014. Jika pada tanggal itu Bumi Resources belum membayar, pemegang obligasi berhak meminta percepatan. Perseroan juga dapat dinyatakan dalam status default. Namun, Bumi berhasil melakukan pelunasan dan akhirnya terhindar dari ancaman gagal bayar.

http://www.beritasatu.com/pasar-modal/212911-bumi-pangkas-rights-issue-jadi-us-425-juta.html
Sumber : BERITASATU.COM

 

INILAHCOM, Jakarta – PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia telah menyepakati renegosiasi kontrak pertambangan.

Kedua perusahaan tambang Pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) generasi pertama. Dirjen Minerba Kementerian ESDM, R Sukhyar mengatakan proses renegosiasi terus dilakukan dan ditargetkan rampung pada September ini.

Sukhyar menyebut, dua PKP2B generasi pertama yakni KPC dan Arutmin telah menyepakati renegosiasi. Kesepakatan itu kemudian dituang dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) amandemen kontrak pertambangan. “KPC dan Arutmin sudah sepakat renegosiasi. Hari ini tandatangan MoU-nya,” kata Sukhyar di Jakarta, Selasa (23/9/2014).

Sementara itu, Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batubara Kementerian ESDM Bambang Tjahjono Setiabudi menambahkan, luas wilayah KPC dari 90.938 hektar menjadi 84.938 hektar. Sedangkan luas wilayah Arutmin dari 58.898,24 hektar menjadi 55.573,37 hektar. “Luas wilayah KPC berkurang 6.00 hektar dan Arutmin sekitar 3.324,87 hektar,” ujarnya.

Penandatanganan MoU itu menambah jumlah PKP2B yang sudah menandatangani hal serupa sebelumnya yakni sebanyak 51 PKP2B. Dari 73 pemegang PKP2B hanya tersisa 20 PKP2B yang masih dalam tahap finalisasi renegosiasi kontrak pertambangan. [hid]

 

Topsaham- Manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyatakan untuk menunda sisa pengeluaran saham-saham baru atau right issue sebanyak-banyaknya 12.650.000.000 saham senilai Rp3,162 triliun atau US$275 juta.
Direktur Perseroan Dileep Srivistava dalam penjelasannya kepada bursa Kamis (25/9), mengatakan bahwa semula hasil pengeluaran saham ini direncanakan untuk pembayaran utang kepada kreditur-kreditur perseroan seperti diuraikan dalam prospektus.
“Perseroan melihat peluang positif untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut dengan para kreditur guna menentukan langkah selanjutnya,” ujarnya.  http://www.topsaham.com/new1/index.php?option=com_content&view=article&id=11203:bumi-tunda-right-issue&catid=35:finansial&Itemid=55
Sumber : TOPSAHAM.COM
SINGAPURA. Rencana PT Bumi Resources Tbk (BUMI) merampingkan postur utang, menjadi pe-er utama perusahaan investasi tambang ini. Salah satu cara yang akan diusahakan saat ini adalah memangkas beban bunga utang, khususnya dari kreditur Credit Suisse.

Dileep Srivastava, Direktur BUMI mengatakan, perusahaan berencana memangkas beban bunga sebesar US$ 200 juta di akhir tahun 2015. Sampai Juni, utang perusahaan mencapai US$ 7 miliar, termasuk empat kesepakatan utang dari Credit Suisse Group AG bernilai US$ 700 juta.

“Mengurangi beban utang adalah persoalan penting, dan yang paling mahal adalah utang-utang dari Credit Suisse,” kata Dileep Srivastava pada Bloomberg di Singapura, awal bulan ini. Dia yakin, jika bisa mengurangi beban utang dan pasar puas dengan kemajuan BUMI, para kreditur akan lebih lunak melihat situasi perusahaan.

Pengurangan beban utang akan membantu BUMI di tengah harga batubara yang turun. Harga batubara di Asia yang terpangkas 50% sejak puncaknya di tahun 2008 membuat bumi ngos-ngosan memperbaiki postur utang, mencari sumber dana baru, dan menjual aset.

BUMI mencairkan semua utang dari Credit Suisse Juni lalu. Srivastava bilang, salah satu utang senilai US$ 117,5 juta, berbunga 18% di atas London Interbank Offered Rate (Libor). Sedangkan utang lainnya senilai US$ 114,3 juta, berbunga Libor plus 8%.

Dua fasilitas utang lainnya untuk PT BUmi Resources Mineral total US$ 466 juta, dibebankan bunga 6%-7% dari Libor.

Harga obligasi BUMI senilai US$ 700 juta yang jatuh tempor pada Oktober 2017 turun 21,5 sen tahun ini ke 45,57 sen dollar pada 8 September. BUMI juga turun 36% ke Rp 191, berbanding kenaikan IHSG sebesar 23%. Debt-to-capital ratio perusahaan ini mencapai US$ 107,5%.

Srivastava bilang, BUMI tercatat memiliki obligasi berdenominasi dollar senilai US$ 1,375 miliar, serta utang US$ 2,67 miliar. Utang non-obligasi ini termasuk US$ 1,04 miliar pada China Investment Corp (CIC), US$ 600 juta pada China Developtment Bank Corp dan Credit Suisse.

Pada tanggal 22 Agustus lalu, BUMI berhasil merekstrukturisasi salah satu utang obligasinya senilai US$ 375 juta sehingga bunga dipangkas menjadi 6% dan jatuh tempo 2018 mendatang. Juli lalu, Srivastava juga bilang akan menjual aset pertambangan lagi pada CIC sehingga utang akan turun menjadi US$ 632 juta.

 

http://investasi.kontan.co.id/news/bumi-lobi-credit-suisse-mengurangi-bunga-utang
Sumber : KONTAN.CO.ID

 

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengkonfirmasi telah meraih persetujuan mayoritas pemegang obligasi (bondholders) untuk melakukan restrukturisasi surat utang senilai US$ 375 juta.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI menyatakan, Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) yang digelar di Singapura, Jumat (22/8) hari ini, dihadiri sekitar 87% bondholders.

Jumlah ini sudah memenuhi persyaratan kuorum kehadiran dalam RUPO har ini yang dipatok 66,7% dari seluruh jumlah pemegang obligasi. “(Proposal restrukturisasi) hampir disetujui secara bulat, yaitu oleh sekitar 98% dari bondholder yang hadir (dalam RUPO),” kata Dileep kepada KONTAN, Jumat (22/8).

Untuk memuluskan proposal restrukturisasi itu, BUMI disyaratkan meraih kuorum pernyataan setuju minimal 75% dari seluruh bondholders yang hadir RUPO. Dileep bilang, BUMI sedang menyiapkan pengumuman lebih detail mengenai hasil RUPO tadi siang.

Seperti diketahui, melalui permohonan restrukturisasi itu, BUMI ingin memperpanjang jatuh tempo obligasi dari 5 Agustus 2014 menjadi 7 April 2018. BUMI juga meminta perubahan harga konversi obligasi dari Rp 3.366,9 menjadi Rp 250 per saham.

Sementara tingkat bunga obligasi setelah restrukturisasi diminta BUMI turun menjadi 6% per tahun dari sebelumnya yang Rp 9,25% per tahun.

 

Editor: Sanny Cicilia

kontan JAKARTA. Ketidakmampuan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membayar nilai pokok obligasi konversi senilai US$ 375 juta dinilai negatif oleh lembaga pemeringkat tersohor dunia, Standard & Poor’s CreditWire (S&P).

Peringkat (rating) utang jangka panjang emiten batubara Grup Bakrie itu dipangkas S&P dari “CC” menjadi “SD” alias Selective Default. Di saat bersamaan, S&P juga memangkas ASEAN regional scale rating BUMI dari “axCC” menjadi “SD”.
Vishal Kulkarni, Analis S&P mengatakan, berdasarkan kriteria lembaga pemeringkat itu, kegagalan BUMI melunasi pokok obligasi tepat pada jatuh tempo, yaitu 5 Agustus 2014, dianggap sebagai gagal bayar (default).
Terlebih, BUMI juga tidak mampu melunasi pokok obligasi yang senilai US$ 375 juta itu hingga berakhirnya masa tenggang (grace periode) pada 12 Agustus 2014 kemarin. S&P juga menempatkan rating “CCC-” atas senior secured notes BUMI ke dalam CreditWatch dengan implikasi negatif.
S&P menilai kegagalan melunasi obligasi konversi dapat memicu cross-default surat utang BUMI lainnya. “Dengan skenario tersebut, kami akan memangkas rating BUMI dan obligasi yang diterbitkannya menjadi “D” alias “Default”,” tulis Kulkarni dalam keterangan resmi, Rabu (13/8).
Kendati begitu, S&P tetap menunggu proses restrukturisasi obligasi konversi yang sedang diajukan BUMI.
Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI menyatakan, pihaknya telah mencapai kesepakatan secara prinsip dengan perwakilan pemegang obligasi (bondholders) untuk memperpanjang tenor surat utang konversi menjadi 7 April 2018.
BUMI tentunya tetap harus menggelar Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) pada tanggal 22 Agustus untuk mendapatkan restu dari bondholders lainnya. Adapun, ketentuan kuorum kehadiran yang disyaratkan adalah 66,7% dari seluruh jumlah pemegang obligasi.
Sedangkan, syarat kuorum pernyataan setuju adalah sebesar 75%. Kulkarni bilang, S&P berencana mendongkrak (upgrade) lagi rating utang BUMI ketika restrukturisasi obligasi konversi selesai dilaksanakan.
Tapi, syaratnya, utang-utang lain yang dimiliki BUMI tidak berstatus default. “Jika utang-utang BUMI lainnya ada yang berstatus default,” kami akami memangkas rating BUMI menjadi “D” (Default),” terang Kulkarni.
Editor: Barratut Taqiyyah

 

kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengklaim telah memenuhi kewajibannya untuk membayar bunga obligasi konversi sesuai dengan janji yaitu pada Selasa (12/8). “(Bunga obligasi) sudah dibayar secara tunai,” kata Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI kepada KONTAN, Selasa (12/8).

Namun, Dileep menolak membeberkan nilai bunga obligasi yang dibayarkan BUMI. Sekedar gambaran, per 30 Juni 2014, beban bunga yang dibayarkan atas obligasi konversi itu tercatat senilai US$ 17,34 juta. Jumlah itu lebih tinggi dari beban bunga atas obligasi konversi di semester I tahun lalu yang senilai US$ 14,97 juta.

Dalam keterbukaan informasi yang dirilis Senin (11/8) kemarin, BUMI memang mengemukakan rencana untuk membayar bunga obligasi konversi tersebut pada Selasa (12/8) hari ini. Janji ini dikemukakan di saat BUMI sedang dalam proses untuk merestrukturisasi obligasi bernilai pokok US$ 375 juta itu.

Ada tiga perubahan klausul yang diminta BUMI melalui restrukturisasi itu, pertama, jatuh tempo obligasi konversi diperpanjang dari 12 Agustus 2014 hingga 7 April 2018. BUMI juga meminta penurunan bunga obligasi dari 9,25% menjadi 6% per tahun.

Terakhir, BUMI meminta perubahan harga konversi obligasi yang diterbitkan anak usahanya, Enercoal Resources Pte. Ltd. Awalnya, obligasi itu dapat dikonversi menjadi saham biasa BUMI senilai Rp 3.366,9 per saham. Nah, BUMI meminta harga konversi diturunkan jadi hanya Rp 250 per saham saja.

Wajar saja, harga saham BUMI terus terjungkal sejak kisruh antara Grup Bakrie dengan Nathaniel Rothschild di Asia Resources Minerals Plc, mantan induk usaha emiten batubara itu. Pada Selasa (12/8), harga BUMI ditutup naik 2,2% ke level Rp 186 per saham.

BUMI berencana menggelar Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) pada 22 Agustus 2014 untuk meminta persetujuan restrukturisasi tersebut. “Kami optimistis akan mendapatkan restu dalam RUPO pada 22 Agustus nanti,” terang Dileep.

Obligasi konversi tersebut diterbitkan Enercoal pada 5 Agustus 2009 di Singapura. Credit Suisse (Singapura) bertindak sebagai Placement Agent tunggal emisi obligasi itu. BUMI menggunakan dana hasil obligasi untuk mendanai equity swap sebesar US$ 115 juta, premi atas transaksi Capped Call senilai Us$ 51,28 juta, dan sisanya untuk keperluan umum perusahaan.

Obligasi itu sejatinya bisa dikonversi menjadi saham BUMI dalam periode empat puluh satu hari setelah tanggal penerbitan hingga sepuluh hari sebelum tanggal jatuh tempo yang semestinya pada 5 Agustus 2014 lalu.

Namun, BUMI tak memiliki dana yang cukup untuk melunasi obligasi itu tepat waktu. Pasalnya, posisi kas BUMI peer 30 Juni 2014 tercatat “hanya” US$ 48,67 juta. BUMI kemudian mengajukan permohonan restrukturisasi kepada para pemegang obligasi dalam RUPO pada 20 Juni 2014.

Sayangnya, RUPO tersebut gagal mencapai kuorum sehingga tidak bisa mengambil keputusan atas permohonan restrukturisasi. BUMI kemudian mendapatkan tambahan waktu jatuh tempo hingga Selasa (12/8) hari ini.

BUMI baru berencana menggelar RUPO kedua pada tanggal 22 Agustus mendatang. Kendati ada jeda antara waktu jatuh tempo dengan pelaksanaan RUPO, BUMI mengklaim bahwa segala wanprestasi atas pembayaran pokok obligasi akan dikesampingkan hingga diambilnya keputusan mengenai restrukturisasi tersebut.

Editor: Edy Can

kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI)  masih melakukan negosiasi dengan para pemegang obligasi senilai US$ 375 juta yang diterbitkan anak usahanya, Enercoal Resources Pte. Ltd. (Enercoal).

Obligasi tersebut seharusnya jatuh tempo besok, Selasa (5/8) ini. Namun, BUMI mengajukan surat permohonan untuk merestrukturisasi obligasi tersebut. BUMI mendapatkan tambahan tenggat waktu hingga 12 Agustus 2014 mendatang untuk meraih restu dari pemegang obligasi Enercoal.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, poin utama restrukturisasi tetaplah berkaitan dengan waktu jatuh tempo dan penurunan kupon obligasi Enercoal.

BUMI meminta waktu jatuh tempo diperpanjang dari 5 Agustus 2014 menjadi April 2018. Emiten batubara milik Grup Bakrie itu juga ingin menurunkan tingkat bunga obligasi dari klausul awal yang 9,25%.

“Perseroan saat ini dalam tahap pembicaraan, dan diharapkan bunga dapat dikurangi ke bawah 7%,” kata Dileep dalam jawaban kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (4/8).

Permohonan tersebut masih sama dengan proposal yang diajukan BUMI pada 5 Juni 2014. BUMI sebenarnya sudah sempat menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) pada 20 Juni 2014 lalu.

Namun, RUPO tersebut tidak bisa memberikan keputusan lantaran gagal memenuhi persyaratan kuorum. Restrukturisasi menjadi jalan satu-satunya BUMI untuk menghindari ancaman default.

Soalnya, melihat kondisi keuangan yang morat-marit, BUMI tentu sulit untuk melunasi obligasi tersebut sesuai tanggal jatuh tempo. Merujuk pada laporan keuangan per 30 Juni 2014, BUMI memang hanya memiliki kas senilai US$ 46,67 juta. Kondisi tersebut menjadikan BUMI sebagai emiten dengan likuiditas paling seret di Indonesia.

Editor: Sanny Cicilia

INILAHCOM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) per 30 Juni 2014 meraih pendapatan mencapai US$1,5 miliar dari US$1,8 miliar pada periode yang sama 2013.

Untuk beban penjualan turun menjadi US$1,2 miliar dari US$1,4 miliar. Dengan demikian laba bruto menjadi US$314,7 juta dari US$373,9 juta. Demikian mengutip keterangan resmi perseroan, Jumat (1/8/2014).

Untuk beban usaha mencapai US$203,7 juta dari US$232,2 juta. Jadi perseroan mencatat laba usaha menjadi US$110,9 juta dari US$141,6 juta.

Untuk laba sebelum pajak mencapai US$252,2 juta dari rugi sebelum pajak sebesar US$277,6 juta. Perseroan menanggung beban pajak penghasilan sebesar US$222,7 juta dari US$7,9 juta. Hasilnya, laba bersih perseroan menjadi US$130,09 juta dari rugi bersih US$269,7 juta.

Perseroan mencatat penurunan total liabilitas menjadi US$7 miliar dari US$7,3 miliar. Sementara untuk total aset perseroan menjadi US$6,7 miliar dari US$7 miliar.

 

Bumi Resources, the most indebted coal producer in Asia, is trying to sweeten its debt-exchange offer, sending a letter to holders of its $375 million bonds ahead of a repayment deadline next week.

The Jakarta-based coal-mining group, which risks default if it doesn’t pay on Aug. 5, is offering convertible bondholders new terms that include repaying the debt in April 2018, three years sooner than its initial June 5 proposal, which wasn’t successful at a creditors meeting June 20. It’s also considering splitting the 9.25 percent debt into convertible and straight debentures, and paying a coupon on the latter of 8.5 percent, according to the letter, a copy of which was obtained by Bloomberg News. The June 5 proposal was offering a revised 7 percent coupon.

The sweetened offer may help Bumi secure a default waiver as it seeks to manage $4.7 billion of short-term liabilities at the end of 2013. The June 20 bondholders meeting in Singapore to vote on the first note restructuring plan and waiver failed because it didn’t achieve a quorum. Two other companies linked to Indonesia’s Bakrie family have missed payments on $535 million of dollar bonds since March 2013.

Andrew Beckham, Bumi’s Jakarta-based chief financial officer, declined to comment on the new terms when contacted by e-mail and phone on Thursday. Dileep Srivastava, another company director, also declined to comment when contacted by e-mail.

Subject to discussion

Bumi has held talks with some bondholders about the new terms, according to the letter. They include an ad-hoc committee representing investors Nan Fung Investment Advisors and Vervain Income Investment, as well as funds managed by Pine River Capital Management and JPMorgan Chase.

No agreement has been reached, and the latest proposed terms are still subject to discussion and may be adjusted slightly again, people familiar with the matter said, asking not to be identified because the matter is private.

The convertible notes, sold by Bumi unit Enercoal Resources in 2009, gained 0.21 cent to 40 cents on the dollar in Hong Kong on Friday, according to Bloomberg-compiled prices. They returned 14.3 percent in July, ending a six-month slide, and are down 25.6 percent since Dec. 31.

Stock slide

Under the latest proposal, the $375 million of bonds would be split into two tranches, one of which would include amended economic and conversion features and the other of which would be restructured as straight debt, according to the letter. Both tranches would share in the common security package on equal basis with Bumi’s other senior secured creditors, who have already consented to such treatment, the letter said.

Tranche one would include $225 million of April 2018 debt paying a 6 percent coupon and convertible into Bumi shares at Rp 300 (3 cents) each after Aug. 5, 2015. Tranche two would comprise $150 million of April 2018, 8.5 percent straight debt, yielding 9.25 percent.

In the initial June 5 offer to bondholders, Bumi sought to exchange the existing 9.25 percent bonds with new 7 percent convertible notes due July 2021. The stock conversion price for them was to be cut to Rp 750 from Rp 3,366.9.

Bumi’s shares are down 37 percent this year. The stock last traded at Rp 189 July 25, after which markets in Indonesia closed for a week-long holiday. The Jakarta Composite Index is up 19 percent in 2014.

Benchmark coal prices in the Southeast Asian nation have fallen 9.8 percent this year to $72.45 a metric ton on July 31, extending a two-year slump to the lowest since November 2009.

Bumi, 29.2 percent-owned by the Bakrie group, warned in June that it’s “highly likely” to default if bondholders don’t consent to a restructuring. In December, Bakrie Telecom missed a coupon on $380 million of 2015 notes, while Bakrieland Development didn’t make a put option payment on $155 million of 2015 convertible debt in March 2013.

Bumi shareholders on June 30 passed a resolution allowing the company to raise Rp 8.05 trillion by Sept. 1 via the sale of 32.2 billion new shares at Rp 250 apiece, the company said on July 1.

Standard & Poor’s upgraded Bumi to CC from selective default on July 7, after the mining company completed a separate deal with creditors including China Investment Corporation. Bumi is still at risk of being downgraded because S&P deems the convertible bond restructuring as a distressed exchange, the ratings company said.

Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bumi Resources Tbk., perusahaan tambang batubara milik Grup Bakrie, pada semester I/2014 membukukan penurunan pendapatan 15,05% menjadi US$1,58 miliar dari semester I/2013 sebesar US$1,86 miliar.

Penjualan batu bara ekspor ke pihak ketiga merosot 20,78% menjadi US$1,22 miliar pada Januari-Juni 2014.

Emiten berkode BUMI itu pada semester I tahun ini membukukan laba bersih sebesar US$168,02 juta10,55 juta.

Sedangkan, pada periode sama tahun lalu, perseroan mencatatkan rugi selisih kurs sebesar US$25,2 juta.

Laporan keuangan per Juni 2014 yang terbit pada Jumat, (25/7), menyebut kelompok usaha saat ini dalam proses finalisasi strategi reorganisasi modal, termasuk potensi penjualan aset untuk memenuhi kewajibannya.

Editor : Saeno

Maret 16, 2015

maseh kaya lho (10 orang terkaya indon ) … 300510_160315

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 2:39 am

JAKARTA okezone – Sebagai kepala biro The Wall Street Journal di Jakarta selama lebih lebih dari sepuluh tahun, Rick Borsuk secara luas dipandang sebagai koresponden asing penting di Indonesia. Buku yang turut ditulis oleh istrinya, Nancy Chng, mengingatkan kita mengenai capaian itu.

Karya itu berisi kisah tentang Liem Sioe Liong, dikenal pula dengan nama Sudono Salim, yang pada 1938 merantau dari kampung halamannya di Cina bagian selatan ke Jawa tanpa uang sepeser pun. Dalam waktu kurang dari lima dasawarsa, kelompok usaha Salim Group menjadi konglomerasi bisnis terbesar di Asia Tenggara serta menghasilkan pelbagai barang dan jasa. Jaringan bisnisnya mencakup pabrik pembuatan tepung dan mi terbesar dunia, selain perbankan, petrokimia, agrobisnis, real estate, pengapalan, dan lain-lain.

Kedua pengarang menggambarkan Liem sebagai pria yang memiliki naluri bisnis tajam, kehendak untuk menempuh risiko, dan kemampuan meramalkan tren usaha serta memilih rekan. Ia tak henti bekerja keras dan terhubung dengan banyak pemain usaha etnis Cina di Asia Tenggara. Ia pun dikenal sebagai cukong utama Presiden Suharto. Dengan hati-hati, para penulis buku menghindari stereotip. Mereka menekankan jelasnya kecocokan antara Liem dan Suharto, termasuk kepercayaan dan kepedulian yang terbangun selama berpuluh-puluh tahun. Kedua penulis juga menunjukkan bagaimana Salim Group berhasil selamat dari krisis ekonomi dan politik serius pada 1997-1999 dan, setelah Liem meninggal pada 2012, bagaimana generasi kedua kini meneruskan kemakmuran yang diwariskan ayahnya dalam iklim politik yang sama sekali berbeda dari zaman Suharto.

Bab-bab awal buku menelusuri kebangkitan Liem dari dekade akhir 1930-an hingga pertengahan 1960-an. Kisah ini cukup dikenal luas, namun para penulis buku berhasil mendapatkan materi yang lebih orisinal. Kala itu, hubungan pokok Liem terpusat pada Suharto, yang kala itu seorang figur penting tentara pada periode revolusi fisik 1940-an. Liem bersimpati dengan gerakan merebut kemerdekaan, dan ia menjadi pemasok tepercaya urusan kebutuhan harian Suharto dan pasukannya.

Ketika Suharto naik ke tahta kepresidenan, Liem adalah satu dari sedikit pengusaha yang ia kenal dan percaya. Kekompakan keduanya tidak terpatahkan, hal yang membuat mereka menguasai lanskap usaha Indonesia dalam tiga dasawarsa. Liem mendapatkan prioritas usaha dan izin impor serta akses khusus ke lembaga keuangan milik negara. Sebagai ganti, Suharto meminta dua hal: pembangunan basis industri modern, dan percikan laba, yang kemudian disalurkan ke sejumlah yayasan milik Suharto. Dana itu itu kelak dialokasikan untuk menopang basis politis sang presiden.

Kesepakatan itu berjalan baik. Mereka berhasil selamat dari periode protes anti-Cina, kecaman pedas dari para loyalis Suharto, dan bahkan munculnya kepentingan bisnis anak-anak Suharto mulai pertengahan 1980-an.

Ketika Suharto akhirnya dilengserkan dari kursi presiden pada Mei 1998, dibarengi ambruknya perekonomian Indonesia, semua pihak yang dekat dengannya disinyalir akan tumbang. Liem, saat itu baru menginjak usia awal 80 tahunan, menjadi target utama. Rumahnya dilabrak massa dan ia terpaksa terbang ke Singapura. Sebagian besar imperium bisnis Liem roboh. Namun, Salim Group segera bangkit dengan digawangi Liem dan putranya, Anthony. Kini, kelompok itu kembali menjadi konglomerasi bisnis Indonesia yang unggul dan memiliki beragam usaha. Dalam daftar terbaru orang terkaya Indonesia oleh Forbes, keluarga Salim menduduki peringkat ketiga dengan jumlah kekayaan bersih USD5,9 miliar.

Buku ini ditulis dengan sedemikian rupa sehingga siapapun akan terbetot untuk membacanya. Meski demikian, dengan tebal 600 halaman, kedua pengarang sebetulnya bisa saja meringkas beberapa bagian untuk memperkaya analisis. Contohnya, sebagai negara berpenghasilan menengah-bawah, wajar jika Indonesia tidak mencatat prestasi gemilang dalam indikator korupsi atau kelembagaan dan semacamnya. Namun, terdapat tiga hal yang patut disorot: perekonomiannya tumbuh lebih pesat dari negara lain dalam setengah abad belakangan; peralihan kekuasaan yang berlangsung tiba-tiba namun sukses, dari kekuasaan otoriter ke pemerintahan demokratis pada 1998-99, serta berlanjutnya dominasi usaha etnis minoritas Cina yang jumlahnya mencapai 3 persen dari total penduduk. Perbandingan dengan negara lain yang juga berkembang di bawah dominasi kelompok bisnis seperti Korea Selatan (dengan chaebol) dan Jepang (keiretsu) akan membantu.

Perdebatan pun meruap: apakah figur dunia usaha itu pemburu rente atau kapitalis sejati?

Namun, kesemua itu remeh-temeh. Buku itu adalah sejarah bisnis dan politik dalam bentuk terbaiknya: kajian dengan kedalaman luar biasa. (Oleh Hal Hill)

Minggu, 30/05/2010 21:40 WIB
Bos Djarum dan BCA Masih Terkaya se-Indonesia
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Pemilik perusahaan rokok Djarum dan juga BCA, Budi Hartono masih menempati peringkat pertama orang terkaya di Indonesia versi majalah GlobeAsia. Nilai kekayaan Budi Hartono juga meningkat pesat, bersama dengan para milyarder Indonesia lainnya.

Majalah Globe Asia melansir, nilai kekayaan para taipan-taipan tersebut meningkat seiring membaiknya pasar modal dan juga pertumbuhan ekonomi Indonesia setelah sempat terkena dampak krisis.

“Dengan melihat fakta bahwa kekayaan para jutawan tersebut terkunci pada sumber daya alam, maka sekarang ini telah menjadi waktu yang menyenangkan bagi para pebisnis. Dan daftar 150 orang terkaya GlobeAsia membuktikan, kekayaan telah tercipta dengan cepat,” ujar Tanri Abeng, publisher Globe Asia.

Total kekayaan 150 jutawan dalam daftar GlobeAsia mencapai US$ 61,5 miliar pada tahun 2010 ini, atau berarti meningkat 22% dibandingkan tahun 2009. Kenaikan nilai kekayaan itu terutama karena berbagai faktor seperti penguatan nilai tukar rupiah, kenaikan IHSG hingga 60% dan kuatnya harga komoditas.

Berikut daftar 10 orang terkaya Indonesia versi GlobeAsia, seperti dikutip dari siaran persnya, Minggu (30/5/2010).

Budi Hartono US$ 4,8 miliar
Eka Tjipta Wijaya US$ 4 miliar
Anthony Salim US$ 3,6 miliar
Aburizal Bakrie US$ 3 miliar
Martua Sitorus US$ 2,5 miliar
Putra Sampoerna US$ 2,4 miliar
Sukanto Tanato US$ 1,8 miliar
Dato Low Tuck Kwong US$ 1,4 miliar.
Peter Sondakh US$ 1,3 billion
Eddy William Katuari US$ 1,3 billion.

Daftar ini berarti hanya sedikit berbeda dari daftar yang dirilis majalah Forbes akhir 2009 lalu yakni:

R. Budi & Michael Hartono US$ 7 miliar
Martua Sitorus US$ 3 miliar
Susilo Wonowidjojo US$ 2,6 miliar
Aburizal Bakrie US$ 2,5 miliar
Eka Tjipta Widjaja U$S 2,4 miliar
Peter Sondakh US$ 2,1 miliar
Putera Sampoerna US$ 2 miliar
Sukanto Tanoto US$ 1,9 miliar
Anthoni Salim US$ 1,4 miliar
Soegiharto Sosrodjojo US$ 1,2 miliar.

(qom/qom)

The year of super deals

Written by Administrator
Thursday, 27 May 2010 05:57
A roaring stock market and easy access to credit have helped raise the net worth of the country’s super-rich to new highs. This trend will likely continue as the creation of wealth in Indonesia now takes on a new dimension.

A year can make a huge difference in the life of a corporate owner, especially when markets are booming and the economy is growing. Opportunities abound and deal flows pick up as business owners seek ways to expand and unlock value.

Over the past 12 months, a perfect confluence of factors has produced conditions for wealth creation that may be unprecedented. The Indonesian rupiah has strengthened by nearly 10% while the stock market has risen by more than 60% and commodity prices have remained strong.

The Indonesian stock market has been one of the best performers in the region, boosted by strong commodity prices and inflowing foreign funds. The Indonesian Stock Exchange Composite Index (ICI) rose from 1,751 on May 15, 2009, to 2,800 this year. It reached a high of 2,971 at the end of April.

Given that much of Indonesia’s wealth is locked in its natural resources, it has been an exciting time for business owners. As GlobeAsia’s 150 Richest Indonesians list proves, wealth is being created at a rapid pace.

The total net worth of the 150 rose to $61.5 billion this year, a 22% increase over 2009. Wealth was created both from the rising stock market as well as the fast-expanding economy.

“The fundamentals of Indonesia have never looked so good,” notes Rajiv Louis, executive director of investment banking at UBS Indonesia. “There was exuberance for Indonesia in the 1990s but at that time the fundamentals were very different.”

Today’s Indonesia enjoys macro-economic and political stability, strong micro-level corporate growth and healthy balance sheets. Plus, of course, there is a lot of liquidity in the banking sector, which escaped relatively unscathed from the 2008 global financial crisis.

“There is sufficient liquidity around and people are getting good access to money,” says Rajiv. “Interest rates are also no longer prohibitive to prevent people from doing deals.”

As a result, business owners are positioning themselves to take advantage of the conditions. Corporate players such as Aburizal Bakrie and Chairul Tanjung are expanding their businesses at a rapid rate by either borrowing or listing their companies to raise cash as they seek to enlarge their presence in the domestic market.

Bakrie, for example, is looking to raise some $600 million this year by listing Bumi Minerals while Chairul, who owns the Para Group, recently acquired a 40% stake in French retailer Carrefour for between $300 million and $400 million. He funded his acquisition by borrowing from four international heavyweight banks such as Credit Suisse, Citibank, JP Morgan and ING.

Access to funds is key
Chairul is only of the many tycoons who has borrowed heavily to grow his business. In fact, say market analysts and investment banks, the ability to access cheap funds has become a major competitive advantage for Indonesian business owners.

“Access to funding is quite well spread among the top 40 business owners in the country,” says Lin Che Wei, founder of Independent Research Indonesia. “Its an equal playing field but some people are able to borrow more cheaply than others and that makes a big difference.”

He adds that most deals with good rates of return have been snapped up so, looking ahead, an ability to borrow cheaply will determine how profitable an acquisition will be. Business owners who have a good reputation in the market can therefore command much more competitive borrowing rates compared with people who have defaulted on loans in the past.

Apart from just borrowing cheaply, the creation of complex financing structures is also becoming increasingly important. As Indonesia’s capital markets expand, business owners must also become more financially savvy and those who can grasp the complexities will get a head start.

“Capitals markets are now critical to wealth creation and more businesspeople are realizing this,” notes a senior banker. “Today, having a solid business is no longer enough, as you have to know how to unlock the value of your asset.”

He estimates that new listing this year will total $5 billion, raising the market capitalization of the stock market to around $260 billion. “If the index continues to rise, we might see values rising too and wealth growing in tandem.”

Competition for the country’s wealth will only grow keener in the coming years as more business players fight for control over natural resources. Most of the wealth created over the past few years has been in financial services, natural resources and consumer retail. This trend is expected to continue as it plays on Indonesia’s comparative strengths.

“This will be a good year for wealth creation,” says Rajiv from UBS. “But it is too early to tell if it will be stellar.”

Januari 4, 2015

2014 in review

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 1:09 pm

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 17.000 kali di 2014. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 6 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Older Posts »

Tema Shocking Blue Green. Blog di WordPress.com.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 69 pengikut lainnya