Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Juli 21, 2014

BERSUKACITALAH, welcome new era, new President of NKRI #7

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 7:39 am

Jakarta – KPU akan mengumumkan hasil Pilpres 2014 esok hari. Kedua kubu pasangan capres/cawapres diminta untuk berbesar hati menerima apapun keputusan tersebut.

Pengumuman hasil Pilpres ini akan dilakukan KPU pada Selasa (22/7/20174). Para pasangan capres dan cawapres juga menjamin tak ada mobilisasi massa untuk mengurangi gesekan antar pendukung yang dapat menyebabkkan chaos.

Beberapa petinggi lembaga negara pun angkat bicara mengimbau agar tanggal 22 Juli esok akan terlaksana dengan baik dan yang kalah dapat legowo.

Bahkan presiden SBY menekankan pentingnya menjalin silaturahmi demi keutuhan bangsa. Berikut tokoh-tokoh yang menyerukan deklarasi damai esok hari.

1
2 Kapolri dan Panglima

Kapolri Jenderal Sutarman menyiapkan keamanan berlapis di gedung KPU, Jalan Imam Bonjol untuk penguman hasil Pilpres esok. Ia mempersilahkan masyarakat untuk mengikuti serta memonitor seluruh proses KPU, tetapi tidak perlu sampai memprovokasi, lewat media apapun. “Kepada semua pendukung tidak perlu mengerahkan massa ke KPU. Siapapun yang terpilih mari didukung,” kata Sutarman di balai Kartini, Minggu (20/7/2014).

Dalam kesempatan yang sama, Panglima TNI Moeldoko juga berjanji akan memberikan kekuatan penuh kepada kepolisian. “Saya mengimbau masyarakat beraktivitas seperti biasa, tidak perlu takut. Jangan ada pengerahan massa ke KPU,” ujar Moeldoko.

Meski begitu, Sutarman mengatakan daerah yang berpotensi rawan adalah Jakarta. “Sementara itu, untuk di daerah-daerah semoga tidak terjadi. Kalau satu daerah mulai (rusuh), biasanya menular ke daerah lainnya,” ujar Sutarman mengakhiri pembicaraan.

Presiden SBY

Dalam sambutannya di acara buka puasa bersama kedua capres/cawapres, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membahas pentingnya menjaga keutuhan bangsa. Menurutnya di tengah situasi politik yang memanas, rakyat sangat menyenangkan melihat para pemimpin dan calon pemimpin saling bersilaturahmi.

“Silaturahim ini diantara pemimpin dan semua yang sedang mengemban amanah adalah hal yang baik, rakyat menyukai karena kebersamaan ini menciptakan suasana teduh mana kala suhu politik menghangat atau sedang meningkat,” ucap SBY saat buka puasa di Istana Negara, Jalan Veteran, Jakpus,

Ia mencontohkan rakyat Ukraina dan Gaza yang menjadi hancur karena konflik. Lebih dari itu, SBY bahkan membacakan salah satu hadis yang menekankan pentingnya bersilaturahmi. Ia pun mengucap terimakasih pada seluruh elemen masyarajat dan penyelenggara pemilu yang sudah melaksankan rangkaian pemilu 2014 dengan baik.

“Saya ucapkan terima kasih kepada para peserta pileg, pasangan capres cawapres, yang juga telah berpartisipasi. Tentu belum rampung , ini masih babak akhir, sekali lagi tanggal 20 Oktober nanti saya bisa mengakhiri tugas saya sebagai presiden ke-6 dengan harapan ini bisa membaik, kita menyambut pemimpin yang baru,” ucapnya.

“Seperti yang disampaikan penceramah bapak Ahmad Yani Basuki, bahwa suksesi kepemimpinan adalah sebuah keniscayaan, yang harus kita terima dengan lapang dada, suka cita, kita pastikan siapapun yang memimpin di masa depan akan kita bantu, kita suskseskan,” ujar SBY.
Dahlan Iskan

Menteri BUMN yang juga pendukung Jokowi-JK berharap akhir proses pemilu 2014 ini berjalan damai. Tak ada perseteruan dari kedua pasangan capres karena tak menerima keputusan KPU. Banyaknya real count yang menyebutkan pasangan Jokowi-JK sebagai pemenang, ia pun meminta agar pasangan Prabowo-Hatta dapat legowo menerima keputusan KPU.

Dia menyebut permintaan tim Prabowo-Hatta agar KPU menunda rekapitulasi suara tidak beralasan. Karena itu sikap legowo sangat diharapkan dari pasangan capres/cawapres yang kalah.

“Rakyat sangat merindukan pemimpin, negarawan yang sangat legowo, yang mengatakan selamat pada pemenang. Saya mengakui Pak Jokowi lebih unggul kali ini,” sambungnya.
Sultan HB X

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X mengharapkan semua pihak mengendalikan diri dan menerima apapun hasil pemilu presiden (Pilpres) pada 22 Juli. Sultan juga meminta agar tidak ada euforia berlebihan saat merayakan kemenangan nantinya.

“Harapan saya semua tetap aman dan nyaman, semua pihak mengendalikan diri. Jangan ada euforia berlebihanlah”, ujar Sultan di sela-sela menghadiri HUT Kabupaten Bantul ke 183 di Lapangan Trirenggo Bantul, Minggu (20/07/2014).

Menurutnya, meski hasil pilpres sudah mulai bisa terbaca berdasarkan data terkini KPU, para pihak dan masyarakat diharapkan tetap menunggu hingga keputusan resmi diumumkan KPU.

“Hasilnya kan bukan karena Quick Count. Tunggu saja keputusan KPU. Saya hanya berharap, apapun hasil pilpres nantinya, semua pihak harus menerima karena itu adalah keputusan rakyat”, tambahnya.

Dalam kesempatan ini Sultan mengimbau kedua belah kubu tidak melakukan tindakan yang justru membuat resah masyarakat.

“Isu itu kan bukan fakta. Jadi jangan sampai dijadikan fakta yang dapat menimbulkan kepanikan dan keresanan. Yang penting itu tidak ada tindakan yang bisa menimbulkan prasangka dan kesombongan” katanya.
Putra Amien Rais

Putra Amien Rais, Hanafi Rais telah mmengucap selamat pada pasangan Jokowi-JK yang dinilainya sebagai pemenanga Pilpres 2014.

“Sebagai generasi muda Partai Amanat Nasional (PAN), kami mengucapkan selamat kepada Bapak Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang akan memegang tampuk kepemimpinan nasional dalam waktu 5 tahun mendatang,” kata Hanafi melalui keterangan tertulisnya kepada detikcom, Minggu (20/7/2014).

Pada pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Hanafi yang juga putra mantan Ketua Umum PAN Amien Rais itu mengucapkan terima kasih dan hormat yang setinggi-tingginya. Calon presiden dan wakil presiden dengan nomor urut satu itu dinilai telah aktif menjaga proses demokratisasi negara kita melalui pilpres tahun ini.

“Kami berterima kasih pula kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang telah bekerja keras untuk menjaga dan mengawal proses pemilihan umum yang jujur, bersih dan transparan,” kata Hanafi.

Tak hanya mengucap selamat, ia pun menyampaikan sebuah pesan untuk jokwoi-JK yang akan duduk jabatan Presiden dan Wakil Presiden.
(bil/fdn)

Juli 18, 2014

BAKR13′$ game (11) … 180714

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:54 am

Darma Henwa (DEWA) memperoleh dana senilai US$11,5 juta dari hasil divestasi sebanyak 93,47% saham anak usahanya, yakni PT DH Energy kepada Lennete Limited. DH Energy merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa ketenagalistrikan. Divestasi ini merupakan restrukturisasi perseroan untuk melepas aset-aset perusahaan yang tidak produktif dan diharapkan dapat menciptakan struktur perusahaan yang lebih efisien dan fokus. Divestasi ditempuh bersamaan dengan rencana pengurangan utang kepada sejumlah bank yang bernilai US$135 miliar atau sekitar US$11,31 juta. Perseroan akan menyicil US$4 juta setiap tahunnya. (Investor Daily)

 
Sumber : IPS RESEARCH

 

JAKARTA – PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), perusahaan media milik Grup Bakrie, akan menjual 10% saham PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), induk usaha stasiun televisi ANTV. Visi Media menargetkan perolehan dana sebesar US$ 105 juta atau sekitar Rp 1,25 triliun.

Penjualan saham Intermedia akan menempuh mekanisme penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD). “Kami akan roadshow ke beberapa negara di Asia dan Eropa pada Oktober tahun ini,” kata Direktur Visi Media Robertus Bismakara di Jakarta, Kamis (3/7).

Visi Media akan menggunakan dana hasil divestasi tersebut untuk mempercepat pelunasan utang kepada Credit Suisse senilai US$ 220 juta. Perseroan meraih utang tersebut pada 1 November 2013, dengan tingkat suku bunga sebesar Libor plus 7,75% per tahun.

Pada April 2014, Visi Media telah mendivestasi 2,5% saham miliknya melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham Intermedia Capital. Nilai divestasi tersebut mencapai Rp 130,2 miliar. Adapun dana hasil divestasi saham Intermedia tersebut
telah digunakan untuk membayar sebagian utang kepada Credit Suisse.

“Tentu kami tidak mau lepas terlalu banyak saham Intermedia. Saat ini, kepemilikan kami masih di atas 90%,” ujar Robert.

 

http://www.investor.co.id/marketandcorporatenews/grup-bakrie-akan-jual-saham-induk-antv-rp-12-t/88875

Sumber : INVESTOR DAILY

kontan JAKARTA. PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) merombak jajaran direksinya. Anindya Novyan Bakrie didapuk sebagai Presiden Direktur VIVA menggantikan Erick Thohir. Hal ini telah disetujui oleh para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) yang digelar Selasa (3/7).

Selain itu pemegang saham VIVA juga menunjuk Rachmat Gobel, yang sebelumnya menjabat sebagai komisaris independen VIVA, menjadi komisaris utama menggantikan Anindya Novyan Bakrie. Berikut adalah susunan direksi dan komisaris VIVA yang baru:

Direksi:

Presiden Direktur: Anindya Novyan Bakrie

Wakil Presiden Direktur: Robertus Bismarka Kurniawan

Direktur: A. Ardiansyah Bakrie

Direktur: Otis Hahijari

Direktur: M.Sahid Mahudie

Direktur: Neil R. Tobing

Direktur: Dudi Hendrakusuma Syahlani
Komisaris:

Presiden Komisaris: Rachmat Gobel

Wakil Presiden Komisaris: Erick Thohir

Komisaris: Omar Luthfi Anwar

Komisaris: Rosan Perkasa Roeslani

Komisaris Independen: Setyanto Prawira Santosa

Komisaris Independen: RM. Djoko Setiotomo

Editor: Uji Agung Santosa

 

kontan JAKARTA. Setelah mendapat restu dari pemegang saham, PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP) akhirnya mengubah haluan bisnis dari produsen berbasis non-woven menjadi perusahaan batubara. Perseroan pun melakukan perombakan manajamen.

Rennier Abdul Rachman Latief menduduki jabatan sebagai Komisaris Utama SIAP. Chandra Purwanto dan Erry Firmansyah, masing-masing menjadi Komisaris Independen SIAP yang baru. Lalu, Yuli Soedargo menjadi Direktur Independen. Sedangkan Direktur Utama, untuk sementara masih dijabat Onny Soendjaja.

Nama Rennier A.R. Latief dan Yuli Soedargo sangat akrab dengan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Rennier pernah menjadi pemegang saham sekaligus Direktur Utama ENRG. Sedangkan, Yuli pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan perusahaan minyak dan gas (mitas) milik Grup Bakrie tersebut.

Apakah bisnis baru SIAP terafiliasi dengan Grup Bakrie? Rennier menegaskan, sejak 2005, ia sudah tidak lagi menjalin bisnis dengan Keluarga Bakrie.

“Saya masih jadi temannya Pak Ical (Aburizal Bakrie), Nirwan (Bakrie), dan Indra (Bakrie), tapi dalam bisnis, kami sudah tidak ada kaitannya, perusahaan saya tidak ada Bakrie-nya, dan perusahaan Bakrie nya tidak ada saya-nya,” jelasnya.

Maklum saja, setelah lama tidak terdengar, Rennier yang merupakan mantan petinggi PT Lapindo Brantas Inc ini kembali muncul melalui aksi backdoor listing RITS Ventures Limited melalui SIAP.

SIAP menerbitkan  23,4 miliar saham dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 200 per saham. Dengan demikian, aksi korporasi ini bernilai Rp 4,68 triliun. Pemegang saham utama SIAP , PT Graha Sakti Cemerlang (GSC) dan PT Graha Sakti Prima (GSP) tidak akan mengeksekusi saham baru SIAP itu.

Seluruh dana rights issue, setelah dikurangi biaya administrasi digunakan untuk mengakuisisi saham RITS.

Editor: Barratut Taqiyyah

JAKARTA – China Nonferrous Metal Industry’s Foreign Engineering & Construction Co Ltd (NFC) siap mengucurkan dana senilai US$ 340 juta (Rp 4 triliun) untuk mendanai proyek milik PT Dairi Prima Mineral (DPM), anak usaha PT Bumi Resoures Minerals Tbk (BRMS). Hal ini merupakan kesepakatan antara NFC dan Bumi Minerals terkait pembangunan cadangan seng dan timah hitam di Sumatera.

Dalam perjanjian tersebut, NFC berkomitmen menyediakan 85% dana proyek Dairi senilai total US$ 400 juta. Adapun sisa 15% atau sebesar US$ 60 juta akan disiapkan oleh Bumi Minerals.

Komisaris Bumi Minerals Ari Hudaya mengungkapkan, pihaknya tengah mempertimbangkan dua alternatif cara untuk menyiapkan kebutuhan dana proyek Dairi.  “Cara pertama, kami bisa mencari pinjaman untuk project financing. Kedua, kami bisa mencari dana lewat ekuitas Dairi Prima,” kata Ari saat dijumpai usai paparan publik Bumi Minerals, Senin (30/6).

Untuk bisa menjalankan project financing, kata Ari, Bumi Minerals harus menekan jumlah utangnya terlebih dahulu. Karena itu, Bumi Minerals berniat menawarkan sebanyak 29% saham Dairi Prima kepada NFC. Perseroan bakal menggunakan dana hasil penjualan untuk membayar utang sebesar US$ 100 juta.  “Jika sudah bayar utang, Dairi bisa lebih leluasa mencari pinjaman baru untuk proyeknya,” tutur Ari.

Saat ini, sebesar 80% saham blok Dairi Prima dikendalikan oleh Bumi Minerals. Sementara, sisa 20% dimiliki oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Jika NFC menerima tawaran Bumi Minerals, peseroan tetap akan menjadi pemegang mayoritas saham Dairi sebesar 51%.

Cara kedua, lanjut Ari, yakni dengan melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) atau private placement saham Dairi Prima. Dia mengaku, pihaknya tidak segan-segan menawarkan saham Dairi kepada investor asing selain NFC.

“Kami bisa tawarkan ke Taiwan, Bangladesh, Pakistan, India, atau siapapun yang membutuhkan produk seng. Penawaran kami tidak terbatas kepada NFC saja,” ujar Ari.

Meski demikian, Ari belum mau mengungkapkan total target dana yang bisa diperoleh dari pelepasan saham Dairi Prima. Pasalnya, hal itu tergantung valuasi perusahaan yang belum dihitung secara rinci. “Jika nilai proyek Dairi saja US$ 400 juta, valuasi perusahaan bisa jauh lebih tinggi. Mungkin bisa mencapai US$ 800 juta atau bahkan US$ 1 miliar,” ujar dia.

Menurut catatan Investor Daily, Bumi Minerals meneken kontrak kerjasama dengan NFC pada 17 April 2014. Dalam kontrak itu, NFC bersedia membantu Bumi Minerals untuk membangun infrastruktur dan fasilitas pengolah 1 juta ton bijih besi per tahun. Pembangunan fasilitas diharapkan selesai pada akhir 2017.

NFC juga telah menggandeng perusahaan kontraktor asal Rusia, yakni Metals of Eastern Siberia Corporation (MBC) untuk menggarap proyek Dairi. Kontrak antara NFC dan MBC tersebut senilai US$ 1,4 miliar atau setara Rp 15 triliun.

Blok Dairi Prima
Blok Dairi Prima yang terletak di wilayah Sumatera Utara itu memiliki cadangan sebesar 11 juta ton bijih dan sumberdaya sebesar 25 juta ton bijih. Cadangan seng memiliki kadar 11,5%, sementara, cadangan timah berkadar 6,8%.

Hingga kuartal pertama 2014, Bumi Minerals membukukan pendapatan sebesar US$ 4,89 juta atau turun 22,3% dibandingkan US$ 6,3 juta pada periode sama tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan Bumi Minerals hanya ditopang oleh jasa pemasaran batubara yang dilakukan oleh Bumi Resources Japan Company Limited dan Mitsubishi Corporation Rtm Japan Ltd. Sementara, aset-aset tambang Bumi Minerals di Indonesia belum mulai berproduksi.

Adapun rugi bersih tercatat sebesar US$ 13,1 juta atau meningkat 65,8% dibandingkan US$ 7,9 juta pada periode sama 2013.

Terkait belanja modal 2014, Direktur Keuangan Bumi Resources Fuad Helmy mengatakan, perseroan menganggarkan sebesar US$ 60 juta berbagai pengembangan infrastruktur tambang. “Alokasinya sebesar US$ 10 – 20 juta untuk infrastruktur Dairi, kemudian sebanyak US$ 30 – 35 juta untuk Gorontalo, dan US$ 5 – 8 juta untuk Citra Palu,” kata Fuad, pada kesempatan yang sama.

Dia menyatakan, dana belanja modal akan bersumber dari kemitraan strategis serta cash flow.

http://www.investor.co.id/home/nfc-siap-danai-proyek-bumi-minerals-us-340-juta/88533

Sumber : INVESTOR DAILY

 

INILAHCOM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) membukukan rugi bersih sepanjang 2013 sebanyak Rp231,08 miliar.

Presiden Direktur dan CEO Bakrieland Development Tbk, Ambono Janurianto mengatakan pemicu kerugian bersih 2013 karena adanya penurunan investasi dan karena ada divestasi. “Dengan adanya rugi penurunan nilai investasi dan rugi divestasi,” kata Ambono di Jakarta, Jumat (27/6/2014).

“Ini menyebabkan perusahaan pada tahun 2013 membukukan rugi bersih sebesar Rp231,08 miliar atau mengalami perbaikan bila dibandingkan dengan rugi tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,20 triliun,” jelasnya.

Padahal perseroan mencatatkan kinerja operasional sepanjang tahun 2013 dengan memperoleh laba usaha sebesar Rp1,17 triliun atau tumbuh 49,18%. Hal ini bila membandingkan periode yang sama pada tahun 2012 sebesar Rp783,47 miliar.

Kenaikan laba usaha tersebut disebabkan oleh kegiatan operasional usaha di tahun 2013 mengalami perbaikan yang cukup baik, dimana Perusahaan berhasil menurunkan beban usahanya.

“Kegiatan operasional usaha pada tahun 2013 positif dimana perusahaan berhasil menurunkan beban usaha pada tahun 2013 menjadi Rp679,01 miliar dibandingkan periode yang sama pada tahun 2012 sebesar Rp824,36 miliar,” jelas Ambono.

Ambono mengatakan sepanjang tahun 2013 penghasilan usaha sebesar 13,6% menjadi Rp3,32 triliun pada tahun 2013, dibandingkan sebesar Rp2,93 triliun pada tahun 2012.

Kenaikan penghasilan usaha ini mendorong laba kotor Perusahaan tumbuh sebesar 14,9% menjadi Rp1,85 triliun pada tahun 2013 dibandingkan sebesar Rp1,61 triliun pada tahun 2012. [hid]

Hasil Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan

PT. Bakrie Telecom Tbk (BTEL)

RUPS Tahunan

Rapat Umum Pemegang Saham Telah memenuhi korum karena dihadiri oleh pemegang saham yang mewakili 19.852.250.759 saham atau 64,91 % dari seluruh saham dengan hak suara yang sah yang telah dikeluarkan oleh Perseroan, sesuai dengan Anggaran Dasar Perseroan.

Hasil RUPS tahunan:

1. Menyetujui dan menerima baik laporan direksi mengenai jalannya Perseroan serta tata usaha keuangan dan laporan tugas pengawasan dewan komisaris pada Tahun Buku 2013;
2. Menyetujui dan mengesahkan neraca serta perhitungan laba/rugi untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013 dan memberikan pelunasan serta pembebasan tanggung jawab sepenuhnya kepada para anggota Direksi dan para anggota Dewan Komisaris Perseroan atas pengurusan dan pengawasan yang telah dijalankan dalam Tahun Buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013, sejauh tindakan pengurusan dan pengawasan tersebut tercermin dalam neraca dan perhitungan laba/rugi serta laporan akuntan publik mengenai tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013;
3. Menyetujui tidak terdapatnya pembagian keuntungan saham atau dividen kepada Pemegang Saham karena Perseroan mengalami kerugian bersih pada tahun buku 2013;
4. Menyetujui pemberian kewenangan penuh kepada Direksi Perseroan untuk menunjuk dan menetapkan Kantor Akuntan Publik yang akan mengaudit buku Perseroan tahun buku 2014 dan menetapkan honorariumnya.
Sumber : IPS RESEARCH

detik Jakarta -PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) selama ini identik dengan Grup Bakrie, begitu pula dengan perusahaan-perusahaannya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Nama besar Bakrie melekat di perusahaannya meski tak lagi memegang peran besar.

Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, selama ini investor dan masyarakat melihat para emiten di Bakrie Tujuh masih dikendalikan oleh Grup Bakrie. Padahal, kepemilikan Bakrie di emiten-emitennya itu sudah sangat kecil sekali bahkan ada yang sudah hilang sama sekali.

“Jadi begini, sejak awal namanya kan ada embel-embel Bakrie. Sewaktu mereka repo (gadai saham) dan kepemilikan sahamnya berkurang, tidak banyak yang tahu,” katanya kepada detikFinance, Senin (16/6/2014).

Ia menambahkan, masyarakat melihatnya Bakrie Tujuh itu masih punya Bakrie, karena nama perusahaan masih ada embel-embel Bakrie. Citra ini bisa diubah jika perusahaan memutuskan untuk mengubah nama.

“Kalau misalnya nanti namanya berubah, mungkin lain lagi ceritanya. Tapi kalau masih namanya Bakrie, pasti orang akan menyangka ini perusahaan Bakrie walaupun sahamnya sudah tidak dikuasai Bakrie lagi.

Seperti dikutip dari data perdagangan BEI, terlihat bahwa nama Bakrie hanya ada di sebagian kecil eks Bakrie Tujuh. Berikut selengkapnya.

- Bakrie and Brothers
Credit Suisse AG Singapore Branch S/A Bright Ventures Pte Ltd 21,81%
Mellon Bank NA S/A For Mackenzie Cundill Recovery Fund 9,34%
Armansyah Yamin 0,01%
Nugroho I Purbowinoto 0,01%
Publik 69,06%

- PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
Credit Suisse AG Singapore Branch 23,09%
Raiffeisen Bank International AG Singapore Branch/Long Haul Holding Ltd 6,09%
Publik 70,82%

- PT Bakrieland Development Tbk (ELTY)
CGMI Client Safekeeping Account 10,41%
PT Asuransi Jiwa Sinarmas 6,32%
Publik 83,28%

- PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (UNSP)
Credit Suisse AG Singapore Branch/Long Haul Holding Ltd 3,13%
PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG 3,06%
Meivel Holdings Corporation 2,34%
JP Morgan Bank Luxembourg SA1,76%
PT Danatama Makmur 1,75%
Nomura PB Nominees Ltd 1,69%
Reksa Dana Penyertaan Terbatas Syailendra Multi Strategy Fund II 1,42%
Citibank New York S/A Dimensional Emerging Markets Value Fund 1,33%
The Wenas Panwell 1,05%
Bakrie and Brothers 0,02%
Publik 82,45%

- PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)
Mellon Bank NA S/A for Mackenzie Cundill Recovery 7,76%
UBS AG Singapore Non-Treaty Omnibus Account 20,09%
Didit Hidayat Agripinanto 0,01%
Publik 72,16%

- PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL)
Bakrie and Brothers 16,35%
Bakrie Global Ventura 6,87%
Raiffeisen Bank International AG Singapore Branch 7,24%
Publik 69,54%

- PT Darma Henwa (DEWA)
Zurich Asset International Ltd 21,61%
Goldwave Capital Limited 17,68%
Publik 60,71%

investor daily JAKARTA – Perusahaan Pemeringkat global, Fitch Ratings memangkas peringkat utang PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Hal itu menyusul gagal bayar (default) kupon obligasi sejak November 2013. Di sisi lain, perseroan belum menyampaikan Keterbukaan informasi soal perkembangan restrukturisasi surat utang tersebut.

Berdasarkan keterangan tertulis, Jumat (30/5), Fitch menurunkan peringkat utang jangka panjang berdenominasi rupiah dan mata uang asing Bakrie Telecom menjadi RD (restricted default) dari sebelumnya C.

Adapun surat utang perseroan senilai US$ 380 juta yang jatuh tempo pada Mei 2015 tetap pada peringkat C. “Namun, recovery rating diturunkan menjadi RR5 dari RR4,” ungkap Fitch dalam laporannya.

Peringkat RD menunjukkan suatu entitas yang telah gagal pada satu atau lebih dari komitmen keuangan, meskipun masih terus memenuhi kewajiban keuangan lainnya.

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php
kontan JAKARTA. Perusahaan pemeringkat rating kredit Fitch Ratings kembali memangkas peringkat utang PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Kali ini, peringkat utang BTEL melorot dari C ke restricted default (RD).

Dalam siaran persnya, Jumat (30/5), Fitch menyatakan anak usaha Bakrie Grup ini telah gagal membayar kupon obligasi sejak November 2013 lalu. Menurut Fitch, perseroan tak membuat pembayaran kupon berikutnya dan tak memberi pengumuman publik tentang progres dari perombakan dengan kreditur.

BTEL kini tertekan pada utang yang tak mampu dibayar dan menyebabkan kerugian yang signifikan bagi pemegang obligasi sebesar US$ 380 juta.

Asal tahu saja, rating RD diberikan ketika perusahaan yang dinilai telah gagal pada isu spesifik atau klasifikasi obligasinya tetapi terus memenuhi kewajiban pembayaran pada isu lainnya pada waktu yang tepat.
Editor: Edy Can
kontan JAKARTA. Seperti sudah diduga sebelumnya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gagal memenuhi kewajiban untuk melunasi dua fasilitas utang kepada Credit Suisse AG sesuai tanggal jatuh tempo.

BRMS memiliki utang jangka pendek senilai US$ 116,56 juta dan fasilitas jangka panjang US$ 333,03 juta kepada Credit Suisse. Kedua fasilitas itu jatuh tempo pada 19 April 2014 lalu.

Muhammad Sulthon, Sekretaris Perusahaan BRMS dalam jawaban kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), akhir pekan lalu, bilang, pihaknya tengah memproses perpanjangan masa jatuh tempo utang tersebut dengan Credit Suisse.

Terkait hal itu, ada dua klausul yang akan diubah dalam perjanjian utang yang baru. Pertama, BRMS dan Credit Suisse akan mengubah definisi pokok pinjaman. Nantinya, nilai pokok pinjaman akan meliputi pula bunga yang masih harus dibayar.

Kedua, “Tanggal jatuh tempo yang baru,” kata Sulthon. Strategi kedua adalah kembali meminta perpanjangan utang yang bakal jatuh tempo. Jika dicermati, BRMS telah beberapa kali mengakali utang Credit Suisse itu.

Awalnya, perjanjian pinjaman bernilai pokok US$ 100 juta itu ditandatangani kedua belah pihak pada 14 Juni 2012. Masa jatuh tempo pun relatif singkat, yaitu 12 bulan sejak penarikan dana dan dapat diperpanjang maksimal hingga 19 September 2013.

Seperti sudah diperkirakan sebelumnya, BRMS mengambil opsi untuk memperpanjang jatuh tempo hingga 19 September 2013. BRMS ternyata tidak mampu melunasi utang itu sesuai dengan jatuh tempo.

Pada 25 September 2013, Credit Suisse menyetujui untuk memperpanjang jatuh tempo selama tiga bulan sampai dengan 19 Desember 2013. Perpanjangan tidak hanya berhenti hingga di situ.

Kedua belah pihak kembali setuju untuk memperpanjang jangka waktu pinjaman hingga tanggal 19 April 2014. Bersamaan dengan itu, beberapa klausul pinjaman telah diubah terutama terkait nilai pokok dan bunga yang harus dibayar BRMS.

Fasilitas itu dikenakan bunga sebesar London Interbank Offered Rate (LIBOR) ditambah 6% per tahun dan dibayarkan setiap triwulan. Pada 2012 dan 2013, BRMS telah membayar bunga pinjaman masing-masing US$ 26,84 juta dan US$ 3,63 juta.
Editor: Hendra Gunawan
Tribunnews.com, Jakarta — Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, menyatakan masih banyak pengembang di DKI Jakarta yang berhutang membangun fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos dan fasum). Tidak terkecuali Bakrie Land yang membangun kawasan Rasuna Said Kuningan.

Pria yang biasa disapa Ahok ini mengatakan, Bakrie Land harus segera lunasi utang fasos fasum sebelum pemilik perusahaan tersebut, Aburizal Bakrie, menjadi Calon Presiden (Cawapres).

“Sebelum keduluan mereka jadi presiden bayar lah, kalau geng-geng presiden susah nagihnya lagi loh,” ujar Ahok ini di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (9/5).

Ahok mengatakan, Pemprov DKI akan melakukan sejumlah cara agar pengusaha mau membangun fasos dan fasum. Cara itu antara lain dengan tidak memberi izin pembangunan untuk proyek baru yang akan dibangun.

“Kalau mereka masih utang, kita nggak kasih izin baru. Kita kan tahu mereka PT-nya banyak, tapi grup yang sama,” ungkapnya.

Salah satu perusahaan yang mulai membangun fasos dan fasum kepada warga DKI menurut versi Ahok adalah Agung Sedayu Group dan Agung Podomoro. Kendati sudah mencicil sebagian hutangnya, Ahok berharap dua perusahaan properti ini konsisten membangun fasos dan fasum lainnya di Jakarta. Fasos Fasum tersebut yakni rumah susun di Muara Baru dan Daan Mogot, Jakarta Barat.
Jum’at, 09 Mei 2014 | 13:36 WIB TEMPO.CO, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi pada Kamis, 8 Mei 2014, menetapkan Bupati Bogor Rachmat Yasin sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengurusan izin tukar-menukar kawasan hutan seluas 2.754 hektare di Bogor, Jawa Barat. KPK juga menetapkan status tersangka kepada M. Zairin, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor; dan Fransiscus Xaverius Yohan Yap dari PT Bukit Jonggol Asri.

“Telah terjadi peristiwa tindak pidana penyuapan. Dalam operasi tangkap tangan, tim KPK menyita barang bukti uang Rp 1,5 miliar,” kata Ketua KPK Abraham Samad di gedung kantornya, Kamis malam itu.

Berdasarkan penelusuran, situs website dengan alamat http://www.sentulnirwana.com mencantumkan bahwa PT Bukit Jonggol Asri (BJA) didirikan pada tahun 1994. Pada Januari 2010, PT Sentul City Tbk mengambil alih 88 persen saham BJA guna percepatan proyek kota baru mandiri. Tepat pada bulan Juli 2010, Sentul City menggandeng PT Bakrieland Development Tbk dengan kepemilikan saham masing-masing 50 persen.

Pada 23 Juli 2011, BJA mengumumkan dimulainya proyek Sentul Nirwana yang akan memaksimalkan lahan seluas 12 ribu hektare di wilayah Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kemudian, pada April 2013, PT Sentul City Tbk meningkatkan kepemilikan saham di BJA menjadi 65 persen, sedangkan saham Bakrieland berkurang menjadi 35 persen.

Situs itu juga menyebutkan bahwa Sentul Nirwana merupakan kota mandiri dengan pembangunan tahap I seluas 600 hektare. Di tempat ini akan dibangun theme park, hotel dan resort, lapangan golf, pusat perdagangan dan perkantoran, sekolah-sekolah dan universitas bertaraf internasional, serta cluster-cluster perumahan.

Manajemen PT Sentul City Tbk (BKSL) membantah bahwa Johan Yhap merupakan karyawan Bukit Jonggol Asri (BJA). “Sudah kami cek, dan memang bukan karyawan kami,” kata Investor Relation BKSL Michael Tene saat dihubungi, Jumat, 9 Mei 2014.

EFRI RITONGA
JAKARTA, KOMPAS.com – Nama keluarga Bakrie disangkutpautkan terkait kasus korupsi alih fungsi lahan yang melibatkan Bupati Bogor Rachmat Yasin melalui salah satu asetnya PT Bukit Jonggol Asri atau Sentul Nirwana. Namun, pihak Bakrie Group menegaskan bahwa asetnya tersebut sudah bukan miliknya lagi.

PT Bukit Jonggol Asri sejak tahun lalu sudah tidak melibatkan keluarga Bakrie dalam manajemen tersebut.

“Saya sudah konfirmasi ke Pak Ambono Janurianto, Presiden Direktur Bakrieland Tbk confirm sudah kepemilikan Bakrieland di sana sudah dijual tahun lalu,” kata Juru Bicara Keluarga Bakrie, Lalu Mara Satriawangsa seperti dikutip Tribunnews, Jumat (9/5/2014).

Lalu Mara membenarkan PT Bukit Jonggol Asri atau Sentul Nirwana termasuk satu dari sejumlah aset kelompok Bakrie yang dijual kepada pihak ketiga (MNC Group), untuk membayar transaksi dalam sengketa dengan pengusaha Inggris, Nathaniel Roschild, sebagai konsekuensi keluarnya atau ditariknya saham Bakrie di Bumi Plc (perusahaan investasi patungan Bakrie dan Roschield) agar Bakrie tetap bisa mengontrol mayoritas saham di PT Bumi Resources Tbk.

“Dan sudah memberikan keterbukaan informasi juga ke BEJ. Dan confirm juga Bakrieland tidak ada dalam manajemen tersebut,” ujar Lalu Mara.

Untuk diketahui Bupati Rachmat Yasin diduga menerima suap terkait dengan izin alih fungsi lahan seluas 2.754 hektare. Izin tersebut diajukan PT Bukit Jonggol Asri kepada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor.

“Kasusnya rekomendasi tukar menukar hutan di bogor. Yang meminta rekomendasi atas kawasan hutan seluas 2.754 hektare,” kata Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto di KPK, Kamis (8/5/2014) malam.

Meski begitu, Bambang belum tahu berada di mana lokasi hutan yang ingin dikonversi itu. Namun, Bambang menyebut, KPK curiga salah satu hutan diiinginkan adalah hutan lindung.

beritasatu Jakarta- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengeluarkan surat perintah cegah bepergian ke luar negeri terhadap Komisaris Utama PT Bukit Jonggol Asri Cahyadi Kumala Kwee dan Komisaris PT Bukit Jonggol Asri lainnya, yaitu Haryadi Kumala. Cegah tersebut terkait dengan penyelidikan terkait perizinan pemanfaatan lahan tanah pada tahun 2014.

“Perlu diinformasikan, terkait dengan penyelidikan dugaan TPK (Tindak Pidaan Korupsi) terkait perizinan pemanfaatan lahan tanah tahun 2014, KPK telah mengirimkan permintaan pencegahan bepergian ke luar negeri kepada Dirjen Imigrasi atas nama Haryadi Kumala dan Cahyadi Kumala Kwee dari swasta,” kata Juru Bicara KPK Johan Budi SP, Jumat (9/5).

Johan menjelaskan cegah bepergian ke luar negeri itu berlaku sejak kemarin hingga enam bulan ke depan. PT Bukit Jonggol Asri diketahui merupakan perusahaan pengembang. Perusahaan ini, sebanyak 35 sahamnya dimiliki oleh PT Bakrieland Development.

Sebelumnya, PT Bukit Jonggol Asri terlibat dalam kasus dugaan suap berkaitan dengan pemberian rekomendasi tukar-menukar kawasan hutan di Bogor. Kasus itu telah menjadikan BUpati Bogor rachmat Yasin sebagai tersangka. Rachmat disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau b atau pasal 5 atau pasaal 11 Undang-Undang No.31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

Bersama Rachmat, KPK juga menjadikan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor Muhammad Zairin sebagai tersangka. Kepada Zairin, KPK menyangkakan adanya pelanggaran terhadap pasal 12 a atau b atau pasal 5 ayat 2 atau pasal 11 Undang-Undang No.31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

Adapun dari pihak pemberi, KPK menjadikan FX Yohan Yap, Wakil dari PT Bukit Jonggol Asri sebagai tersangka. KPK menyangkakan Yohan dengan pasal 5 ayat 1 a atau b atau pasal 13 Undang-Undang No.31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

KPK menemukan bahwa Rachmat menerima Rp4,5 miliar dari PT Bukit Jonggol Asri. Uang tersebut diberikan kepada Rachmat secara bertahap, yaitu Rp1 miliar, Rp2 miliar dan Rp1,5 miliar. Luas hutan yang bakal digunakan untuk suatu proyek adalah 2754 hektar.

Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka usai tertangkap tangan tengah melakukan transaksi suap pada Rabu (7/5). Para tersangka dibawa ke KPK dan dilakukan pemeriksaan secara intensif.

Penulis: Rizky Amelia/MUT

kontan
BKSL dan ELTY masih nego soal Bukit Jonggol
Oleh Narita Indrastiti – Selasa, 28 Januari 2014 | 18:03 WIB
JAKARTA. Rencana PT Sentul City Tbk (BKSL) mengambil alih sisa saham PT Bukit Jonggol Asri milik PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) belum mencapai titik temu. Hingga kini, keduanya masih melakukan negosiasi tentang harga dan opsi pembayarannya.

BKSL berencana mengambil sisa 35% saham Bukit Jonggol milik ELTY secara bertahap. Namun belum ada kepastian kapan tepatnya negosiasi ini akan berakhir.

“Kami membahas opsi pembayarannya dan valuasi harganya. Sekarang masih negosiasi,” kata Michael Tene, Investor Relation BKSL.

BKSL setidaknya menyiapkan beberapa alternatif yang mungkin diambil untuk memuluskan akuisisi BJA, misalnya saja membayar dengan aset dan uang tunai. BKSL juga menyiapkan opsi untuk mencari pinjaman demi menuntaskan akuisisi tersebut.

Di sisi lain, manajemen ELTY sebenarnya pernah mengungkapkan kalau ELTY meminta pembayaran Bukit Jonggol dengan aset berupa tanah. Namun Michael mengatakan, opsi itu belum final. “Memang menjadi salah satu pilihan tetapi belum final,” ujarnya.

ELTY memerlukan sejumlah lahan yang bisa digunakan untuk jaminan kepada pemegang obligasinya. ELTY harus menyiapkan jaminan berupa tanah yang nilainya setara dengan US$ 120 juta. Jumlah itu diperkirakan setara dengan lahan seluas 600 hektare (ha).

Sebagai catatan, pada April 2013, BKSL telah mengakuisisi 15% saham BJA senilai Rp 300 miliar. Transaksi ini mendongkrak kepemilikan BKSL di BJA menjadi 65%.
Editor: Hendra Gunawan

Minggu, 09 Maret 2014, 17:40 WIB Bisnis.com, JAKARTA—Pengembang properti PT Sentul City Tbk. (BKSL) optimistis dapat mencapai target pendapatan tahun ini sebesar Rp1,3 triliun setelah target tahun lalu Rp900 miliar tercapai.

Michael Tene, Investor Relation Sentul City mengatakan, pihaknya telah memperhitungkan, target perseroan pada tahun lalu tercapai. Hal itu salah satunya karena target pra penjualan (marketing sales) sepanjang tahun lalu sebesar Rp2 triliun telah tercapai, bahkan terlampaui.

“Target marketing sales kami pada tahun lalu terlampaui, dan mencetak sekitar Rp2,1 triliun,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (7/3/2014).

Dia menjelaskan, kontribusi penjualan tersebut paling banyak berasal dari proyek Sentul City yang ditopang unit Sentul Nirwana dan Serpon Natura. Adapun, pihaknya menargetkan penjualan pada tahun ini mampu mencapai Rp2,5 triliun.

“Nantinya, kontribusi terbesar dari nilai penjualan tahun ini kami perkirakan dari Sentul City dan penjualan proyek CBD kami di Sentul,” ungkapnya.

Perseroan berencana mengembangkan CBD baru di kawasan Sentul City, Kabupaten Bogor. Proyek yang akan dikerjakan tersebut bakal terdiri atas apartemen, kondotel, hotel, perkantoran, mal dan pusat hiburan.

“Secara total, belanja modal kami untuk semua proyek mencapai Rp1 triliun pada tahun ini. Jumlah itu naik tahun lalu yang besarnya sekitar Rp800 miliar,” kata Michael.

Dia mengatakan, belanja modal tersebut bakal berasal dari kas internal perseroan dan opsi pinjaman bank. Namun, ketika ditanya terkait dana untuk menuntaskan akuisisi PT Bukit Jonggol Asri dari PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY), ternyata tidak berasal dari belanja modal.

Editor : Rustam Agus
(Vibiznews – Stock Mon, 28 October 2013, 2:00 PM) PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menyatakan telah melakukan penjualan tanah PT Bukit Jonggol Asri kepada PT Sentul City Tbk (BKSL). Transaksi tersebut dilakukan dengan cara tukar tanah antara kedua perseroan. Menurut ELTY, nilai yang berada di lokasi tersebut memiliki nilai Rp 1 triliun.

Luas tanah yang dimiliki ELTY di BJA sebesar 2.400 hektar. Penjualan tanah anak perusahaan ELTY ke Sentul City ini diperkirakan akan terealisasi pada akhir tahun 2013 ini.

BKSL sebelumnya memang berencana menambah kepemilikan sahamnya di PT Bukit Jonggol Asri menjadi 100 persen. Tercatat, sekarang BKSL memiliki 65 persen saham dan akan membeli sisanya yang sebesar 35 persen.

Sementara itu, nilai akuisisi PT Bukit Jonggol Asri ini masih dalam tahap penjajakan. Untuk nilai investasi, saat ini sedang tahap penghitungan. Sebelumnya BKSL menyatakan sedang mengembangkan lokasi pusat kuliner yang terletak di kawasan Sentul City.

Menurut perseroan, lokasi tersebut yaitu pasar Ah Poong II yang dibangun dengan nilai investasi sebesar Rp 35 miliar. Pasar Ah Pooh tersebut saat ini sudah beroperasi dan akan diperluas lokasinya. Di mana, pasar ini ke depan akan memiliki dua ribu tempat duduk dan mendapat penambahan lahan parkir yang akan terintegrasi dengan eco park. Pengembangan pasar Ah Poong II disebutkan menggunakan dana capex tahun anggaran 2013 yang sebesar Rp 350 miliar.

Secara fundamental hingga kuartal III tahun ini, ELTY menyatakan telah mencatat penjualan (marketing sales) sebesar Rp 980 miliar. Pencapaiaan tersebut menurun hingga 10,9 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,1 triliun. Menurut perseroan, kontribusi marketing sales paling besar berasal dari Epicentrum dengan persentase 80 persen. Sementara sisanya berasal dari proyek yang ada di Bogor.

Perseroan sebelumnya menargetkan marketing sales sepanjang tahun 2013 sebesar Rp 1,3 triliun. Meskipun ada aturan Bank Indonesia yang mengetatkan uang muka untuk pembelian rumah kedua, perseroan optimis dapat mencapainya target tersebut

Untuk pergerakan harga saham sampai dengan perdagangan iang ini (28/10), ELTY berada di posisi harga saham terendah Rp.50 dimana setelah suspensi ELTY dibuka 19 Oktober lalu harga saham masih belum mengalami pergerakan. Analis mengemukakan bahwa update teknikal terhadap kinerja saham ditinjau pada major pattern, saham ini menunjukkan tren bergerak sideways dan secara teknikal menunjukkan momentum yang lambat.

Untuk volume saham yang diperdagangkan sampai siang ini hanya terjadi penjualan saham sebesar 19 lot saja. Investor masih belum memiliki kepercayaan penuh dengan saham ini.

(RA/JA/VBN)

Juli 8, 2014

RUG1 @bum1 … 08072014

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 8:05 am

JAKARTA, KOMPAS.com - Konglomerasi asal India, Tata Power, memutuskan untuk mengurangi kepemilikan saham di Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha Bumi Resources (BUMI).

Berdasarkan keterbukaan informasi ke Bursa Saham Bombay (BSE), Jumat (4/7/2014), Tata Power menyatakan telah meneken kesepakatan (option agreements) untuk menjual 5 persen saham KPC ke salah satu entitas Grup Bakrie.

Nilai transaksi jual-beli itu ditaksir 250 juta dollar AS. Anil Sardana, Managing Director Tata Power mengatakan, opsi divestasi 5 persen saham KPC ini bagian dari strategi mencari dana tambahan untuk mengurangi utang. “Jika opsi divestasi ini terwujud, pasokan batubara ke pembangkit listrik kami tak akan terpengaruh karena kami masih punya 25 persen saham KPC,” tulis Anil dalam keterangan resmi, Jumat.

Sejak Maret 2007, Tata Power memiliki 30 persen  saham di KPC dan anak usaha BUMI lainnya, PT Arutmin Indonesia (Arutmin). Nilai akuisisi dua anak usaha BUMI itu mencapai 1,1 miliar dollar AS.

Pada Februari lalu, Tata Power menjual 30 persen saham Arutmin senilai 500 juta  dollar AS ke salah satu entitas Grup Bakrie. Transaksi ini semula hendak diselesaikan Mei lalu. Tapi hingga kini, Tata Power dan Grup Bakrie belum memfinalisasi transaksi itu. Tata Power menargetkan penjualan saham Arutmin rampung bersama divestasi saham Mitratama Perkasa (PTMP) tahun ini.

PTMP adalah unit usaha PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA), anak usaha Tata Power. Pada Februari, Tata Power meneken perjanjian jual beli bersyarat untuk menjual 3.600 saham PTMP senilai 120 juta dollar AS. Tata Power menunjuk unit Grup Bakrie, Long Haul Holdings Ltd (LHH), sebagai broker divestasi saham PTMP. LHH akan menunjuk pembeli saham PTMP.

Kiswoyo Adi Joe, analis Investa Saran Mandiri menilai, langkah Tata Power menjual 5 persen  saham KPC ke Grup Bakrie tak berefek langsung ke BUMI. Yang pasti, Grup Bakrie ingin mempertahankan porsi mayoritas di KPC.

Awalnya, Grup Bakrie melalui BUMI, menguasai 65 persen saham KPC. Tapi Kamis (3/7/2014) lalu, BUMI mengalihkan 19 persen  saham KPC ke China Investment Corporation (CIC) lewat skema utang dikonversi ke saham (debt-for-equity swap). Ini adalah bagian dari pembayaran utang BUMI senilai 1,99 miliar dollar AS ke CIC. Selepas pengalihan, kepemilikan BUMI di KPC semestinya turun menjadi 46 persen.

Namun BUMI tetap menjadi pengendali dengan porsi 51 persen . Tambahan 5 persen  saham di KPC berasal dari perjanjian piutang dengan Recapital Asset Management. BUMI punya piutang lain dari reklasifikasi aset keuangan tersedia untuk dijual dari Recapital ke PT Kutai Timur Sejahtera (KTS). BUMI punya hak mengonversi piutang itu menjadi 100 persen kepemilikan saham KTS dengan penerbitan medium term notes. KTS memiliki 5 persen  saham KPC.

Di sisi lain, Standard & Poor Ratings Services, Jumat lalu, menurunkan peringkat kredit korporasi jangka panjang dan peringkat skala regional ASEAN milik BUMI, masing-masing menjadi selective default (SD) dari sebelumnya CC dan axCC.

Peringkat itu menyusut setelah BUMI mengalihkan 19 persen  saham KPC ke CIC. “Kami menilai transaksi ini sebagai pertukaran yang penuh tekanan,” tutur Vishal Kulkarni, analis kredit Standard & Poor’s, kutip Bloomberg. (Sandy Baskoro, Veri Nurhansyah Tragistina)

 


JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tetap berupaya untuk merestrukturisasi obligasi senilai US$ 375 juta yang diterbitkan anak usaha, Enercoal Resources Pte. Ltd. (Enercoal).

Restrukturisasi itu sempat terhambat lantaran BUMI gagal memenuhi persyaratan kuorum dalam Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) yang digelar Jumat (20/6) lalu.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, pihaknya terus melanjutkan pembicaraan dengan pemegang obligasi terutama terkait restrukturisasi obligasi Enercoal.

“Perseroan kembali berencana menggelar RUPO Enercoal pada pertengahan Juli 2014 untuk memperoleh persetujuan terkait refinancing obligasi dari pemegang obligasi Enercoal,” tulis Dileep dalam keterangan resmi, Jumat (4/7).

BUMI memang tengah berpacu dengan waktu untuk segera meraih restu pemegang obligasi. Pasalnya, masa jatuh tempo obligasi senilai US$ 350 juta itu kian dekat, yakni pada 5 Agustus 2014 mendatang.

Dalam proposal pengajuan restrukturisasi yang dirilis pada 6 Juni 2014 lalu, BUMI mengajukan permohonan untuk mengubah harga konversi dan kupon obligasi yang senilai US$ 375 juta.

Deutsche Bank AG  bertindak sebagai Agen Solisitasi tunggal, sementara The Bank of New York Mellon bereran sebagai Tabulation Agent untuk mengadakan persetujuan tersebut.

Satu poin lain yang menarik adalah BUMI pun meminta konversi wajib berdasarkan opsi yang dimiliki penerbit obligasi senilai maksimum US$ 125 juta. Poin ini menarik dicermati terutama jika mengacu pada klausul awal obligasi konversi tersebut.

Awalnya, obligasi tersebut dapat dikonversi menjadi saham biasa BUMI dengan nilai Rp. 3.366,9 per saham. Konversi obligasi bisa dilakukan setiap saat dalam periode 41 hari setelah tanggal penerbitan obligasi sampai dengan 10 hari sebelum tanggal jatuh tempo.

Klausul ini tentu susah untuk diwujudkan lantaran harga saham BUMI sudah jauh di bawah itu.  Pada penutupan perdagangan Jumat (6/6), harga BUMI ditutup turun 2,02% menhadi Rp 194 per saham.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2014,  Enercoal menerbitkan obligasi konversi senilai US$ 375 juta pada 5 Agustus 2009. Obligasi itu akan jatuh tempo pada 5 Agustus 2014 berkupon 9,25% per tahun.

Melihat kondisi keuangan yang morat-marit, BUMI tentu sulit untuk melunasi obligasi tersebut sesuai tanggal jatuh tempo. Bayangkan, BUMI hanya memiliki kas dan setara kas senilai US$ 27,68 juta per 31 Maret 2014.

Minimnya kas internal ini juga yang menjadi penyebab BUMI gagal membayar kupon obligasi valas yang telah jatuh tempo pada 12 Mei 2014. Nilai obligasi  yang diterbitkan anak usaha BUMI, Bumi Capital Pte Ltd, itu sebesar US$ 300 juta.

Namun, menurut manajemen BUMI, perseroan memiliki waktu tenggang hingga 11 Juni 2014. Jika pada tanggal itu BUMI tidak juga memenuhi kewajibannya, maka pemegang obligasi berhak meminta percepatan pembayaran.

Bank of New York selaku administrator sistem akan meminta pemegang obligasi untuk memutuskan secara voting terkait wanprestasi (default). Jika mayoritas suara menyetujui, maka BUMI wajib membayar obligasi berbunga 12% per tahun itu. Adapun, obligasi ini memiliki waktu jatuh tempo 10 November 2016.

Pada Jumat (4/7), harga BUMI ditutup turun 2,73% ke level Rp 178 per saham.

Editor: Barratut Taqiyyah

NERACA

Jakarta – Berbagai macam cara dilakukan manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk melunasi utang, kali ini perseroan melepas sebanyak 19% saham perseroan di Kaltim Prima Coal (KPC) senilai US$ 950 juta atau sekitar Rp11,31 triliun ke China Investment Corporation (CIC). Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (3/7).

Direktur Utama PT Bumi Resources Tbk, Ari Hudaya mengatakan, pengalihan saham ini merupakan langkah awal perseroan memperbaiki struktur keuangan dan komitmen perusahaan mengurangi utang,”Kami menyambut CIC sebagai mitra (equity partner) utama kami dan ke depan bersama-sama mengembangkan aset kami dengan kekuatan yang terus meningkat,”ujarnya.

Menurutnya, secara fundamental BUMI memiliki kekuatan, di mana perseroan mampu meningkatkan kapasitas tahunan batu bara lebih dari 90 juta ton sekaligus melakukan efisiensi operasi dan biaya secara signifikan,”Kami percaya struktur permodalan yang baru disertai pemulihan harga batu bara akan mampu membuat kami memperoleh kembali kekuatan, sehingga menghasilkan keuntungan seperti semula,” tandasnya.

Asal tahu saja, kesepakatan perseroan melepas 19% saham Kaltim Prima Coal kepada perusahaan tambang asal Tingkok tersebut merupakan bagian perjanjian penyelesaian utang pada 9 Oktober tahun lalu. Dengan demikian, utang BUMI kepada CIC berhasil dipangkas sebesar US$ 1,039 miliar atau sekitar Rp12,36 triliun.

 

http://www.neraca.co.id/article/43134/BUMI-Lepas-19-Saham-KPC-Ke-Tiongkok

Sumber : NERACA.CO.ID

Hasil Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa

PT. Bumi Resources Tbk (BUMI)

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan:

Agenda Pertama

1. Menyetujui dan Menerima dengan baik laporan keuangan tahunan perseroan sebagaimana pokok-pokoknya telah disampaikan oleh Direksi Perseroan dan telah ditelaah oleh dewan komisaris perseroan mengenaikeadaan dan jalannya perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013.

2.a.Menyetujui dan mengesahkan laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik Tjiendradjaja & Handoko Tomo dengan pendapat wajar tanpa pengecualian sebagaimana tertera dari laporannya no.2014/T2/03.28.04 tanggal 28 Maret 2014.

b.Memberikan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya kepada direksi dan dewan komisaris atas tindakan pengurusan dan pengawasan yang mereka lakukan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 (Acquit et de charge) sepanjang tindakan-tindakan mereka tersebut tercermin dalam laporan tahunan dan laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 dan tidak bertentengan dengan peraturan perundang-undangan.

Agenda Kedua:

1.Menetapkan bahwa sehubungan dengan rugi yang dialami perseroan maka untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2013 ini perseroan tidak dapat membagikan dividen kepada seluruh pemegang saham perseroan.

2.memberikan kuasa dan wewenang kepada direksi perseroan untuk melakukan segala tindakan yang di perlukan sehubungan dengan keputusan tersebut.

Agenda Ketiga:

Menyetujui dan memberikan kuasa serta wewenang kepada dewan komisaris perseroan untuk melakukan penunjukkan akuntan publik untuk mengaudit laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 desember 2014 dan/atau untuk periode tertentu sepanjang tahun 2014, serta memberikan kuasa dan wewenang kepada direksi perseroan untuk menetapkan jumlah honorarium akuntan publik serta persyaratan lanin penunjukkannya.

Agenda Keempat:

1.Mengangkat dan menetapkan kembali susunan anggota dewan komisaris dan direksi perseroan sebagaimana diuraikan di bawag ini, dengan masa jabatan terhitung sejak ditutupnya rapat ini, adalah sebagai berikut:

Dewan Komisaris

Kusuma A.Martoredjo : Presiden Komisaris dan Komisaris Independen
Suryo B. Sulisto : Komisaris Independen
Iman Taufik : Komisaris Independen
Fuad Hasan Masyhur : Komisaris Independen
Nalinkant A.Rathod : Komisaris
Anton Setianto Soedarsono : Komisaris
Sulaiman Zuhdi Pane : Komisaris

Direksi

Saptari Hoedaja : Presiden Direktur
Andrew C.Beckham : Direktur
Dileep Srivastava : Direktur Independen
Kenneth P.Farrell : Direktur
Eddie J.Subari : Direktur
R.A.Sri Dharmayanti : Direktur

2.Memberikan wewenang dan kuasa penuh dengan hak substitusi kepada direksi perseroan baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan berkaitan dengan keputusan-keputusan sebagaimana diambil dan/atau diputuskan dalam rapat ini, termasuk tetapi tidak terbatas untuk menyatakan pengangkatan anggota dewan komisaris dan direksi perseroan ini dalam akta notaris dan mendaftarkan susunan dewan komisaris dan direksi perseroan sebagaimana disebutkan di atas dalam daftar perseroan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

3.Menyetujui pemberian kewenangan kepada dewan komisaris perseroan untuk menentukan gaji, uang jasa dan tunjangan lainnya (bila ada) serta pembagian tugas dan wewenang setiap anggota direksi.

4.Menyetujui pemberian kewenangan kepada direksi bersama-sama dewan komisaris untuk menentukan uang jasa dan tunjangan lainnya (Bila ada) serta pembagian tugas dan wewenang setiap anggota direksi.

RapatUmum Pemegang Saham Luar Biasa:

1. Menyetujui rencana perseroan untuk melakukan penawaran umum terbatas IV kepada para pemegang saham dalam rangka penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu sesuai dengan peraturan bapepam no.IX.D.1 (“PUT IV”) dengan jumlah sebanyak-banyaknya 32.198.770.000 saham biasa atas nama seri B dengan nilai nominal Rp.100,- setiap saham yang di tawarkan dengan harga Rp.250,- per saham sehingga seluruhnya bernilai sebanyak-banyaknya Rp.8.049.692.500.000,- termasuk perubahan struktur permodalan sehubungan dengan PUT IV.

2.Menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan dengan persetujuan dewan komisaris perseroan untuk mengeluarkan saham-saham baru perseroan dalam rangka pelaksanaan PUT IV.

3.Menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada direksi perseroan untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan sehubungan dengan pelaksanaan PUT IV tersebut sesuai ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tanpa ada yang dikecualikan.
Sumber : IPS RESEARCH

DETIK Jakarta -Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang digelar pukul 20.00 WIB malam ini membuahkan hasil persetujuan rencana penerbitan saham baru atau rights issue untuk membayar utang. RUPSLB ini sempat ramai.

Salah satu pemegang saham bernama M. Saladdin menyebutkan, suasana RUPSLB yang dilakukan tertutup selama 45 menit ini berlangsung cukup tegang. Lantaran sebagian pemegang saham mempertanyakan alasan BUMI menerbitkan saham baru seri B untuk menutup utang.

Keberatan pemegang saham tersebut dilakukan dengan aksi walk out (WO) alias ‘angkat kaki’ dari ruang rapat.

“Tadi sempat ramai. Ada yang tanya terbitikan saham baru masa untuk bayar utang saja? Mereka ngotot dan bikin ramai. Akhirnya ada yang WO (walk out/meninggalkan ruang rapat),” tutur Saladin usai menghadiri RUPSLB yang digelar di Hotel Gran Melia, Jakarta, Senin (30/6/2014).

Saladin mengaku pasrah menerima keputusan tersebut, karena memang tidak ada jalan lain bagi BUMI untuk melunasi utang-utangnya.

“Memang buat bayar utang, ya bagaimana lagi. Apalagi memang harga batu bara lagi rendah cuma US$ 70 dari awalnya US$ 85 per ton,” tuturnya.

Sebelumnya disebutkan, dana hasil rights issue ini akan digunakan untuk membayar utang. Perusahaan akan fokus kepada pemangkasan utang tahun ini, terutama pembayaran utang pokok kepada China Investment Corp (CIC) yang nilainya mencapai US $1,3 miliar.
Utang tersebut diperoleh melalui Country Forest Limited (CFL) pada 18 September 2009. Pinjaman yang tersisa sebesar US$ 1,3 miliar, dari jumlah itu, US$ 600 juta di antaranya akan jatuh tempo 18 September tahun ini. Sedangkan US$ 700 juta sisanya harus dilunasi sebelum 18 September 2015.

Utang lainnya yang akan dilunasi perseroan adalah ke Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$ 150 juta. Pinjaman ini diperoleh pada 14 November 2013.

Utang ketiga yang akan dibayar sebesar US$ 225 juta untuk membayar sebagian guaranteed convertible bond due 2014 serta beberapa fasilitas utang BUMI kepada para kreditur lain. Surat utang tadi diterbitkan pada 5 Agustus 2009.

Rabu lalu BUMI hampir saja gagal bayar bunga obligasi senilai US$ 18 juta yang masuk tenggat waktu terakhirnya. Namun manajemen berhasil menyelesaikan pembayaran utang tepat di batas terakhir hari pembayaran.

Direktur BUMI Sri Dharmayanti pada kesempatan itu mengatakan, eksekusi hasil keputusan ini rencananya akan dilaksanakan selambat-lambatnya September 2014.

“Harga yang disetujui RUPSLB ini Rp 250 dikalikan dengan 32,2 miliar lembar, jadi sekitar Rp 8,05 triliun,” papar dia.

Dana yang diperoleh dari hasil penerbitan saham baru ini sedianya akan dipergunakan untuk membayar utang perusahaan. Sayang dirinya tak merinci berapa besar utang yang akan dilunasi.

“Saya tidak hafal detilnya, tapi teknisnya masih sama dengan prospektus. Tidak ada perubahan,” kata dia.
Jakarta -Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang merupakan perusahaan tambang grup Bakrie, resmi digelar pukul 20.00 WIB. RUPSLB ini menyetujui rencana penerbitan saham baru atau rights issue.

Direktur BUMI Sri Dharmayanti mengatakan, sebagian besar pemegang saham yang hadir dalam RUPSLB yang digelar di Hotel Gran Melia ini menyetujui rencana tersebut. “Lebih dari 99% setuju usulan kita untuk menerbitkan saham baru,” ujarnya usai menggelar rapat tersebut, Senin (30/6/2014).

Dalam kesempatan yang sama, Komisaris BUMI Anton Setianto Soedarsono menjelaskan, dengan persetujuan ini, maka perusahaan dapat menjalankan rencana perusahaan untuk menerbitkan saham baru yang ditargetkan dapat menggalang dana segar dari publik hingga sebesar Rp 8,05 triliun.

Dana hasil rights issue ini akan digunakan untuk membayar utang. Perusahaan akan fokus kepada pemangkasan utang tahun ini, terutama pembayaran utang pokok kepada China Investment Corp (CIC) yang nilainya mencapai US $1,3 miliar.

Utang tersebut diperoleh melalui Country Forest Limited (CFL) pada 18 September 2009. Pinjaman yang tersisa sebesar US$ 1,3 miliar, dari jumlah itu, US$ 600 juta di antaranya akan jatuh tempo 18 September tahun ini. Sedangkan US$ 700 juta sisanya harus dilunasi sebelum 18 September 2015.

Utang lainnya yang akan dilunasi perseroan adalah ke Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$ 150 juta. Pinjaman ini diperoleh pada 14 November 2013.

Utang ketiga yang akan dibayar sebesar US$ 225 juta untuk membayar sebagian guaranteed convertible bond due 2014 serta beberapa fasilitas utang BUMI kepada para kreditur lain. Surat utang tadi diterbitkan pada 5 Agustus 2009.

Rabu lalu BUMI hampir saja gagal bayar bunga obligasi senilai US$ 18 juta yang masuk tenggat waktu terakhirnya. Namun manajemen berhasil menyelesaikan pembayaran utang tepat di batas terakhir hari pembayaran.

Terkait rights issue, Sri mengatakan, eksekusi hasil keputusan ini rencananya akan dilaksanakan selambat-lambatnya September 2014.

“Harga yang disetujui RUPSLB ini

Rp 250 dikalikan dengan 32,2 miliar lembar, jadi sekitar Rp 8,05 triliun

,” papar dia.

Dana yang diperoleh dari hasil penerbitan saham baru ini sedianya akan dipergunakan untuk membayar utang perusahaan. Sayang dirinya tak merinci berapa besar utang yang akan dilunasi.

“Saya tidak hafal detilnya, tapi teknisnya masih sama dengan prospektus. Tidak ada perubahan,” kata dia.

 

Bp6LzoUCEAAytSN.jpg large

Juni 30, 2014

mo CIUS MAEN SAHAm, pake CARA gw d (2)

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 1:12 am

JAKARTA. Menjelang rights issue, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melonjak hingga 14,7%. Bahkan, saham perusahaan batubara milik Grup Bakrie ini menjadi salah satu yang menduduki top gainer hari ini.

Saham BUMI ada di posisi ke dua yang mengalami peningkatan harga paling tinggi pada perdagangan Jumat (27/6). Saham BUMI melonjak dari Rp 150 per saham menjadi Rp 172 per saham.

per tgl 30 Juni 2014 sbb:

FLDTT BUMI 300614 @179

 

per tgl 27 Juni 2014 sbb:
FLDTT BUMI 270614 @172+3% pasca gw terapkan F(okus)L(aba)D(dalam)T(ren)T(urun) @ tren harga saham bumi yang AMBLES jelang RIGHTissue
Senin lalu (23/6) BUMI berada di Rp 131 per saham, harga terendahnya selama tahun ini. Jika dihitung sejak awal pekan, saham BUMI melompat 31,3%.

BUMI berencana melepas 32,19 miliar saham seri B. Nilai per saham dibanderol Rp 250 per saham. Dengan demikian, total dana hasil rights issue ini mencapai Rp 8,04 triliun. Angka ini lebih besar dari rencana semula yang sebanyak 25,17 miliar saham di harga yang sama.

Sehingga dana yang kana dihimpun ketika itu sekitar Rp 6,5 triliun. Jika mendapat izin efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Senin (30/6) mendatang.
Editor: Sanny Cicilia

…neh gw share lage TREN BULLISH JANGKA MENENGAH @ harga saham ELSA, serta ekspektasi dari 400 ke 500 lalu ke 600 : quo vadis elsa, gw mo tambah volume @harga saham elsa guna mengejar ekspektasi yang positif @ tren jangka menengah harga saham elsa
TRIPLE DIGIT POTENTIAL GAIN% @harga saham ELSA, uda gw RAUP, malah tambah volume n potential gain% @ 2 online trading yang gw jalani juga :)

TRIPLE DIGIT POTENTIAL GAIN% @harga saham ELSA, uda gw RAUP, malah tambah volume n potential gain% @ 2 online trading yang gw jalani juga :)

BELAJAR INVESTASI DARI ORANG SUPERKAYA AMRIK, juragan investor TULEN :)

BELAJAR INVESTASI DARI ORANG SUPERKAYA AMRIK, juragan investor TULEN :)

sejak sekira 1 taon (Januari 2013)gw BOBO INVES @harga saham elsa, n per tgl 07 Januari 2014 telah +107% :)
… gw amati bahwa per tgl 25 Oktober 2013, harga saham elsa telah memberikan +63%, ekh, kebetulan sekira September 2013 gw uda lebe dulu mulai inves lage @ warteg yang laen (warung tegar saham gw juga) @0T B n per tgl 07 Januari 2013: +30% … coba baca2 posting2nya terkait tren harga saham tersebut ya … bwat belajar lah :)

… inves @elsa maseh berlanjut neh:
nah berikut gw kasi link untuk baca posting gw soal tren harga saham elsa yang naek +111% dalam lebe dari 1 taon @warteg KBSU: cek sendiri +111% nya ya :)

Juni 27, 2014

RUGI @bumi … 3006-2509/2013-27062014

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:10 am

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali mengoreksi target perolehan dana dari rights issue alias Penawaran Umum Terbatas IV dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Kali ini, berdasarkan prospektus yang dipublikasikan kemarin (26/6), BUMI akan merilis saham biasa seri B maksimal 32,2 miliar unit.

Jumlah ini lebih banyak dari rencana awal dalam prospektus 6 Mei 2014 sebanyak 26,17 miliar saham. Harga pelaksanaan rights issue tetap sama, yakni Rp 250 per saham.
Perubahan ini mengerek target dana rights issue BUMI menjadi Rp 8,05 triliun. Di prospektus awal, nilai rights issue Rp 6,54 triliun.

Satu hal baru yang menarik adalah poin tentang penyerapan rights issue. BUMI menyatakan, jika ada saham yang tak terserap, sebanyak 13,8 miliar saham baru akan dialokasikan ke beberapa pihak. Salah satunya ke unit Grup Bakrie, Long Haul Holdings Limited, yang akan mengambil 6,9 miliar saham atau setara senilai US$ 150 juta.

Dana dari Long Haul ini akan dipakai untuk melunasi sebagian utang BUMI ke Country Forest Limited (CFL), anak usaha China Investment Corporation (CIC).

Dalam penjelasan resmi ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 Oktober 2013, BUMI menyatakan memiliki utang ke CIC senilai total US$ 1,78 miliar. Utang itu terbagi menjadi tiga bagian, yaitu pokok pinjaman US$ 1,3 miliar, penalti atas keputusan BUMI mempercepat pembayaran utang US$ 425 juta dan bunga pinjaman US$ 62 juta.

Selain memakai dana rights issue, pokok utang BUMI senilai US$ 1,3 miliar akan ditukar dengan saham dua anak usahanya. CIC akan meraih 19% saham Kaltim Prima Coal (KPC) senilai US$ 950 juta. BUMI juga akan menyerahkan 42% saham Bumi Resources Mineral (BRMS) senilai
US$ 257,4 juta ke CIC.

Selain untuk melunasi utang ke CIC, BUMI mengalokasikan 6,9 miliar saham baru untuk membayar utang US$ 150 juta ke Castleford Investment Holdings Ltd. BUMI mengklaim, skema konversi utang menjadi saham itu telah diteken pada 10 Juni 2014.

Kelak, Castleford menguasai 18,84% saham BUMI setelah rights issue. “CIC dan Castleford telah setuju mengkonversi utang menjadi ekuitas,” tulis Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI kepada KONTAN, Kamis (26/6).
Menurut dia, skema ini bertujuan memperbaiki kondisi keuangan BUMI di tengah meredupnya harga batubara. BUMI menunjuk Danatama Makmur sebagai pembeli siaga rights issue. Danatama akan menyerap maksimal 2,04 miliar saham. Jika mengeksekusi haknya, Danatama akan memiliki 5,58% saham BUMI.Dengan skenario baru ini, rights issue BUMI akan memberikan efek dilusi 55,75% terhadap porsi publik.

Kiswoyo Adi Joe, analis Investa Saran Mandiri, menilai, perubahaan ketentuan rights issue ini kian merugikan investor publik yang memiliki saham BUMI. Soalnya, skema baru yang menjadikan Long Haul dan Danatama sebagai pembeli siaga rights issue BUMI, tak memberi nilai positif. “Semuanya terafiliasi Grup Bakrie, ini hanya keluar dari kantong kanan, masuk ke kantong kiri,” katanya. Kiswoyo menyarankan, investor menjauhi saham BUMI.

http://investasi.kontan.co.id/news/bumi-bidik-rp-8-triliun-dari-rights-issue

Sumber : KONTAN.CO.ID
JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali merevisi ketentuan penerbitan saham baru guna mendulang fulus. Dalam prospektus terbaru, perusahaan batubara milik Grup Bakrie ini berencana melepas 32,19 miliar saham seri B. Nilai per saham dibanderol Rp 250 per saham.

Dengan demikian, total dana hasil rights issue ini mencapai Rp 8,04 triliun. Angka ini lebih besar dari rencana semula yang sebanyak 25,17 miliar saham di harga yang sama. Sehingga dana yang kana dihimpun ketika itu sekitar Rp 6,5 triliun.

Kali ini, Long Haul Holdings Limited (LHH), Castleford Investment Holdings Ltd, dan PT Danatama Makmur akan menjadi pembeli siaga BUMI. LHH akan mengeksekusi 6,9 miliar saham baru atau sekitar Rp 1,725 triliun. Angka ini setara dengan US$ 150 juta.

Saham yang diserap LHH ini nantinya akan digunakan untuk pelunasan sebagian utang BUMI kepada Country Forest Limited (CFL). Seperti diketahui, salah satu mekanisme penyelesaian utang BUMI kepada CFL adalah membayarnya dengan saham baru.

Selanjutnya, Castleford juga akan mengeksekusi 6,9 miliar saham BUMI. Ini merupakan bagian dari perjanjian penyelesaian utang (debt settlement agreement) yang disepakti 10 Juni 2014.

Kemudian, sebanyak 2,04 miliar saham akan diambil oleh Danatama. Adapun, rasio rights issue kali ini adalah setiap 20 pemegang saham seri A berhak atas 31 HMETD yang nantinya setiap HMETD bisa digunakan untuk memmbeli satu saham baru seri B.

Sebagai perbandingan, rasio rights issue BUMI sebelumnya adalah 50:63. Selain untuk menyelesaikan utang kepada CFC dan Castleford, dana hasil rights issue ini juga akan digunakan untuk membayar utang kepada CDB, Axis Bank L 2011, Credit Suissse 2010-2 Deutsche Bank 2011, UBS AG 2012-1 sebesar US$ 150 juta atau Rp 1,72 triliun. Kurs yang digunakan adalah Rp 11.500 per saham.

Kemudian, US$ 15,8 juta atau setara dengan Rp 182 miliar untuk memenuhi kebutuhan operasional dan pembayaran bunga. BUMI juga akan menggunakan dana seebsar US$ 48 juta ata Rp 552 miliar untuk Gallo Oil (Jersey) Ltd.

Sebesar US$ 32,58 juta atau Rp 374,67 miliar akan dialokasikan untuk studi kelayakan konsesi tembaga dan emas milik anak usaha perseroan, PT Gorontalo Minerals. BUMI pun akan menggunakan dana hasil penerbitan saham baru ini untuk menyelesaikan sebagian utang obligasi dollar Enercoal Resources Pte. Ltd.

Nilai alokasi dananya sebesar US$ 150 juta. Adapun, total utang yang akan jatuh tempo Agustus 2014 ini mencapai US$ 375 juta. Namun, hasil rights issue hanya dieksekusi oleh pembeli siaga, maka BUMI hanya akan mengantongi dana sekitar Rp 3,96 triliun.

Manajemen BUMI pun sudah mengantisipasi hal ini. Perseroan hanya akan menggunakan dana itu untuk menyelesaikan utang anak usaha China Investment Corporation, CFL dan Caslteford. Masing-masing nilainya setar dengan US$ 150 juta. Sisanya, sekitar US$ 15,8 juta akan dipakai untuk biaya opearsional dan pembayaran bunga.

Kini, pemegang saham BUMI adalah Credit Suisse AG SG Branch S/A CSAGSING-LHH (LHHL-130M)2023334064 sebesar 23,09%. Raiffeisen Bank International AG, Singapore Branch S/A Long Haul Holdings Ltd sebesar 6,09%. Keduanya merupakan representasi dari kepemilikan Grup Bakrie. Adapun, sebesar 70,82% adalah miilk publik.
Editor: Sanny Cicilia

Bumi Warns of Default If Restructuring Consent Not Won

PT Bumi Resources (BUMI) is “highly likely” to miss payment on $375 million of convertible bonds in August if holders don’t agree to a proposal to delay the debt’s maturity, it said in a memorandum to noteholders.

The Indonesian coal miner is seeking consent to amend the terms of the bonds, including extending the debt’s maturity to July 2021 from Aug. 5 and cutting the annual coupon to 7 percent from 9.25 percent, according to a June 5 consent solicitation memorandum obtained by Bloomberg News. It hasn’t paid the coupon that came due on June 5, the document shows.

“The delay in bond maturity will give them some breathing space to repay bondholders,” Amit Jain, a credit analyst in Bangalore at SJS Markets Ltd. said by phone. “The trouble is, they’re already finding it difficult to pay some bond coupons” and there will continue to be “liquidity pressure without any recovery in coal prices,” he said.

The bond restructuring represents another obstacle to the miner that’s trying to ease its financial burden after coal prices extended a two-year slump to the lowest level since 2009. The group is negotiating with lenders including Deutsche Bank AG and China Development Bank Corp. to help ease $4.7 billion of short-term liabilities.

Dileep Srivastava, a Bumi director in Jakarta, declined to comment on the contents of the memorandum when reached by phone today.

Coal Slide

The convertible notes were little changed at 38.653 cents on the dollar as of 6 p.m. in Hong Kong after earlier falling 3.3 cents, according to Bloomberg-compiled prices. They’ve lost 30 percent this year through yesterday, while the stock has slumped 35 percent in Jakarta over the same period.

Bumi, controlled by Indonesia’s Bakrie family, posted losses in the past two years as benchmark coal prices in the Southeast Asian nation slid 8.4 percent this year through last month to the lowest level since 2009. It avoided a default yesterday by paying an overdue 12 percent coupon on its $300 million November 2016 bonds, according to a filing to the Indonesian stock exchange.

The group refinancing plans also entail selling as many as 26.17 billion of new shares to repay $1.3 billion to China Investment Corp., according to statement last month. That comes after the completion of a $501 million breakup in March from a venture with U.K. financier Nathaniel Rothschild.

Conversion Price

Lenders have consented to a plan to reorganize its debt with China Investment Corp., Srivastava said in the exchange filing yesterday. Bumi has a $600 million credit line with China Development Bank, and a combined $542.5 million of facilities with Axis Bank Ltd., Deutsche Bank, Credit Suisse Group AG, WestLB AG and UBS AG, according to the June 5 memorandum.

Among proposed changes to its convertible debt, Bumi is also seeking to change the conversion price of stock to 750 rupiah per share ($0.06) from 3,366.9 rupiah, the document shows. Bumi is also planning to reduce the amount of convertible notes outstanding to $250 million, via an option that requires mandatory conversion into shares from a rights offering, it said.

Holders of the convertible bonds have until June 18 to give their consent to the amendments, according to the company. The resolution will require at least 75 percent of votes cast at a bondholders meeting to be held on June 20 in Singapore, according to the document.

Standard & Poor’s ranks Bumi’s debt at CC, a level that’s deemed highly vulnerable to non-payment and two steps away from outright default. It said in October there was a realistic possibility of a conventional default within 12 months.

As Bumi reorganizes, other parts of the Bakrie group are also facing financial strain. Fitch Ratings Ltd. cut PT Bakrie Telecom to ‘restricted default’ on May 30. The phone operator in December defaulted on a coupon payment on $380 million of 11.5 percent notes due May 2015, Fitch said.

Bareksa.com – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berhasil menghindari ancaman gagal bayar (default) setelah melunasi kupon obligasi sebesar USD 18 Juta.

BUMI telah mencapai kesepakatan dengan China Investment Corporation (CIC) selaku kreditor utama dari utang tersebut. Penyelesaian kupon serta utang sebesar USD1,3 miliar dilakukan dengan beberapa cara.

Salah satunya dengan transfer aset PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 19 persen dari total kepemilikan dan aset PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) sebesar 42 persen dari total kepemilikan (dilansir dari Investor Daily).

BUMI juga merencanakan penerbitan saham baru melalui right issue dengan target dana sebesar Rp6,5 triliun

“Kapitalisasi pasar BUMI per 12 Juni 2014 sebesar Rp4 triliun, artinya target dana right issue melebihi nilai kapitalisasi pasarnya. Tentu ini akan merugikan investor terkait dampak dilusinya. Prosentase kepemilikan investor lama akan berkurang hingga lebih dari setengah nilai saat ini” menurut Lanang Trihadian, Analis PT Syailendra Capital.

Kemudian terkait transfer aset, Lanang juga mempertanyakan hal tersebut. KPC merupakan kontributor utama pendapatan BUMI, dengan kepemilikan saat ini kurang lebih sekitar 50 persen. Jika KPC dialihkan lagi maka BUMI akan menjadi pemegang saham minoritas di KPC, lalu bagaimana dengan pendapatan selanjutnya?

Lanang menyampaikan cadangan batubara yang dimiliki BUMI terbesar di Indonesia. Didukung juga dengan infrastruktur yang mumpuni karena memiliki conveyor belt sendiri serta akses lokasi yang strategis dimana dekat dengan laut dan sungai.

Dari segi kualitas aset, BUMI mengungguli produsen batubara lain di Indonesia, tetapi dari segi kinerja keuangan berada jauh dibawah.

 

Grafik Perbandingan Pinjaman Jangka Pendek dengan Laba Usaha Periode September 2011-2013 (In million USD)

keu BUMI 2014

Sumber : Bareksa.com, diolah

Dari laporan keuangan dari kuartal III-2011, total pinjaman jangka pendek tercatat melonjak akibat utang CIC yang jatuh tempo pada tahun ini.

Laba usaha BUMI pun terus mengalami penurunan dari tahun 2011 hingga tahun 2013 sebagai imbas dari pelemahan harga batu bara dan tingginya beban usaha.  Selain itu, kerugian yang dialami BUMI dalam dua tahun terakhir menyebabkan total ekuitas perseroan tercatat USD -492,65 juta.

Investor masih menunggu siapakah yang akan menjadi standby buyer (pembeli) dari right issue BUMI nantinya, apakah pemegang saham mayoritas sebelumnya atau akan ada investor baru ? (NP)

 

Grafik Perbandingan Laba (Rugi) Bersih dengan Ekuitas Periode September 2011-2013 (In million USD)

keu BUMI 2014B

Sumber : Bareksa.com, diolah

INILAHCOM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengajukan permohonan persetujuan penjamin Obligasi Konversi Berjamin senilai US$375 juta pada 5 Juni 2014.

Obligasi tersebut merupakan milik anak perusahaan Enercoal Resources Pte, Ltd. Obligasi konversi berjamin ini, menurut Direktur BUMI Dileep Srivastava, memiliki kupon 9,25% dan berjatuh tempo Agustus 2014.

Permohonan tersebut melalui Rapat Para Pemegang Obligasi Konversi yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Juni 2014. Demikian mengutip keterbukaan informasi BEI, Jumat (6/6/2014).

RUPS tersebut mengagendakan memperpanjang jatuh tempo Obligasi Konversi. Perseroan akan mengubah harga konversi dan kupon obligasi

Perseroan akan mempertimbangkan konversi wajib berdasarkan opsi yang dimiliki oleh penerbit obligasi hingga nilai maksimum sebesar US$125 juta. Selain itu rencana untuk menempatkan obligasi konversi tersebut pada posisi sederajat (pari passu) dengan utang senior berjamin lain.

Perseroan menunjuk Deutsche Bank AG akan bertindak sebagai agen. Sedangkan The Bank of New York Mellon akan bertindak sebagai Tabulation Agent untuk memberikan persetujuan tersebut.
INILAHCOM, Jakarta – Gali lubang tutup empang. Mungkin plesetan paribahasa ini cocok dengan langkah korpo
rasi PT Bumi Resources, Tbk Rabu (7/5/2014) ini.

Betapa tidak, perusahaan milik keluarga Aburizal Bakrie (Ical) ini tiba-tiba saja mengumumkan akan menerbitkan saham baru melalui mekanisme hak pemesanan efek terlebih dahulu (HMETD) alias right issue sebanyak 26,17 miliar lembar saham. Rencananya, saham baru itu akan dilego pada harga Rp250/lembar. Jika langkah ini sukses, emiten berkode BUMI ini akan mendulang fulus Rp6,54 triliun!

Bakal punya banyak duit, dong? Tidak juga. Pasalnya, sebagian besar duit publik yang bakal diraup itu akan digunakan untuk membayar utang-utang BUMI yang segede gajah bunting berpenyakit beri-beri, dan disengat tawon pula. Itulah sebabnya, plesetan peribahasa yang aslinya berbunyi ‘gali lubang tutup lubang’ tadi, seperti pas untuk menggambarkan corporate action BUMI.

Menurut prospektus yang dirilis, perusahaan tambang batubara itu akan menggunakan dana hasil right issue-nya untuk membayar utang kepada tiga perusahaan. Pertama, utang kepada China Investment Corporation (CIC), sebesar US$150 juta. Jumlah ini setara dengan Rp1,72 triliun.

Asal tahu saja, utang tersebut diperoleh melalui Country Forest Limited (CFL) pada 18 September 2009. Seiring berjalannya waktu, total sisa pinjaman masih tersisa US$1,3 miliar. Dari jumlah itu, US$600 juta di antaranya akan jatuh tempo 18 September tahun ini. Sedangkan US$700 juta sisanya harus dilunasi sebelum 18 September tahun depan.

Berdasarkan tabiatnya, BUMI memang doyan ekspansi. Sayangnya langkah ini dilakukan tidak dengan kas sendiri, melainkan lewat menjala utang. Contohnya, pinjaman dari CIC tersebut digunakan untuk membayar saldo utang yang timbul dari akuisisi tidak langsung atas kepemilikan saham BUMI di PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Fajar Bumi Sakti, dan PT Pendopo Energi Batu bara. Nah sisa pinjaman itu, digunakan juga untuk pembayaran utang-utang sebagian anak usaha. Sisanya baru buat modal kerja dan keperluan operasional umum BUMI.

Kembali ke hasil right issue kali ini, jika BUMI membayar US$150 juta dari US$1,3 miliar utangnya ke CIC, maka masih ada US$1,150 miliar lagi sisanya. Dengan kurs kurs tengah Bank Indonesia (BI) hari ini yang Rp11.527 per dolar AS, sisa utang itu setara dengan Rp13,256 triliun! Sekadar mengingatkan saja, utang ke CIC yang masih US$1,3 miliar itu sudah turun dibandingkan dengan posisi akhir 2013 yang mencapai US$1,78 miliar. Bisa jadi dalam rentang waktu itu, BUMI sudah membayar US$480 juta.

Kedua, utang lainnya yang akan dilunasi adalah kepada Castleford Investment Holdings Ltd sebesar US$150 juta atau setara Rp1,72 triliun. Dulu, pinjaman ini diperoleh pada 14 November 2013, yang, lagi-lagi, digunakan untuk ekspansi anak usaha.

Sedangkan yang ketiga, sebesar US$225 juta atau senilai Rp2,58 triliun untuk membayar sebagian guaranteed convertible bond due 2014 serta beberapa fasilitas utang BUMI kepada para kreditur lain. Surat utang tadi diterbitkan pada 5 Agustus 2009.

Jika ada sisa dana dari hasil rights issue, sekali lagi; jika ada sisa, manajemen akan menggunakannya untuk modal kerja.

Paska right issue kali ini, jika sukses, utang BUMI kepada CIC saja masih sekitar Rp13,256 triliun. Jumlah ini tidak termasuk utang kepada beberapa kreditur lain dan sisa kewajiban obligasi yang diterbitkan sebelumnya.

Taruhlah kita tutup mata dengan berbagai kewajibannya terhadap pemberi utang lainnya tadi, maka dana hasil right issue yang Rp6,54 triliun itu seperti ditelan pasir saja. Gali lobang untuk menutup empang? Ehem…

Tulisan ini berkali-kali menambahkan frase ‘kalau sukses’ memang bukan tanpa dasar. Pasalnya, saham baru itu bakal dilego pada Rp250/lembar. Padahal, harga saham BUMI di pasar kemarin ditutup pada Rp196/lembar. Artinya, ada selisih harga Rp54/lembar. Sebagai perbandingan saja, pada 6 mei 2008, harga saham perusahaan yang pernah menjadi mesin uang Keluarga Bakrie ini pernah menyentuh Rp6.800/lembar.

Kinerja BUMI dalam dua tahun terakhir ini juga bisa dibilang jeblok. Pendapatan perseroan 2013 tercatat US$3.547,32 juta. Dibandingkan tahun sebelumnya yang US$3.775,52 juta, walau tipis jelas ada penurunan. Laba usaha juga menciut dari US$432,28 juta tahun 2012 jadi US$230,05 juta. Lalu, nah ini yang tidak kalah pentingnya, dalam dua tahun berturut emiten ini mengalami rugi telak, masing-masing US$666,21 juta (2012) dan US$609,01 (2013).

Awan mendung tampaknya masih tetap akan membayangi BUMI. Kinerja yang di bawah banderol itu, masih mendapat ancaman dari belum pulihnya harga batubara di pasar internasional. Penyebabnya, konsumsi batubara China masih terus menyusut. Maklum, Negeri Tirai Bambu ini adalah konsumen emas hitam yang paling rakus di dunia.

Tekanan lain juga datang dari dalam negeri. Pemerintah dikabarkan segera menerbitkan beleid pembatasan ekspor batubara. Hal paling menyeramkan dari rencana pemerintah itu adalah pembatasan ekspor batubara.

Kebijakan tersebut ditempuh lewat tiga cara. Pertama, mematok pertumbuhan produksi batubara nasional maksimal 1% per tahun. Kedua, menentukan kuota produksi setiap provinsi dan kalori. Ketiga, memberi wewenang provinsi dan kabupaten/kota untuk menetapkan kuota produksi bagi masing-masing perusahaan.

Tak pelak lagi, ke depan makin banyak hantu menyeramkan bakal mengepung batubara. Pertanyaanya, adakah investor yang mau merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli saham emiten dengan kewajiban utang segede gunung dan prospek yang aduh duh…? [*]

Tambang Grup Bakrie Masih Rugi Rp 6 Triliun
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Senin, 14/04/2014 13:44 WIB

Jakarta -PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih mencatat kinerja yang negatif di akhir 2013. Perusahaan tambang itu masih rugi US$ 609 juta (Rp 6,09 triliun).

Rugi ini sudah berkurang jika dibandingkan rugi di tahun sebelumnya US$ 666 juta (Rp 6,66 triliun). Seperti dikutip dari laporan kinerja keuangan BUMI, Senin (14/4/2014), menutup tahun 2013 pendapatan tambang milik Grup Bakrie tercatat sebesar US$ 3,54 miliar, turun tipis 6,04%, jika dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 3,77 miliar.

Beban perseroan malah naik, terutama gara-gara harga jual batu bara yang masih rendah. Beban BUMI di akhir 2013 dibukukan sebesar US$ 2,81 miliar, bandingkan dengan tahun lalu US$ 2,791.

Naiknya beban ini membuat laba kotor perseroan anjlok 30,25% menjadi US$ 686,20 juta di akhir 2013, lebih kecil dari sebelumnya US$ 983,90 juta.

Perseroan mengalami rugi selisih kurs yang bertambah banyak menjadi US$ 136,90 juta pada 2013, padahal di tahun sebelumnya hanya US$ 47,89 juta. Hal yang menyumbang kerugian perusahaan.

Berkurangnya kerugian perseroan ini berimbas kepada berkuranganya rugi per saham perusahaan, yaitu dari US$ 32,82 per 1.000 lembar saham menjadi hanya US$ 30 per 1.000 lembar saham.

(ang/dnl)
Saham Group Bakrie
Harga BUMI makin mendekati bumi
Oleh Dityasa H Forddanta – Selasa, 08 April 2014 | 19:50 WIB
kontan

JAKARTA. Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menemukan level terendahnya. Hingga penutupan perdagangan hari ini Selasa (8/4), saham BUMI anjlok 4,2% ke Rp 251 per saham.

Sebenarnya, ada beberapa hal yang seharusnya menjadi sentimen positif bagi pergerakan saham BUMI. Mulai dari soal selesainya perseteruan antara BUMI dengan Rothschild hingga lampu hijau pemegang saham atas rencana pengurangan utang senilai US$ 2 miliar tahun ini.

“Tapi, sentimen itu butuh waktu karena ini semua baru ketuk palu, belum ada pelaksanaannya secara nyata,” tandas Kiswoyo Adi Joe, Managing Partner Investa Saran Mandiri kepada KONTAN, (8/4).

Memang, soal pelunasan utang BUMI baru memperoleh persetujuan pemegang saham belum lama ini. Lampu hijau tersebut pun baru menyala setelah BUMI beberapa kali gagal menggelar RUPS. Rencana pembayaran utang ini juga belum bisa dipastikan apakah akan menyehatkan keuangan perusahaan atau justru memberatkan kinerja BUMI di masa mendatang.

Belum lagi, predikat yang telah melekat selama ini akibat semua persoalan yang dialami oleh BUMI. “Aset perusahaan ini bagus, bagus banget malah, tapi sayang GCG -nya aneh-aneh,” tambah Kiswoyo.

Bukan hanya saham BUMI yang mengalami penurunan hingga sore tadi. Saham-saham Grup Bakrie yang lain seperti saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) juga anjlok 3,44% ke level Rp 309 per saham.

Menyoal saham VIVA, Kiswoyo menilai ada keterkaitan pergerakan saham ini dengan IPO anak usahanya, yakni PT Intermedia Capital. Pelaku pasar sudah paham jika sebenarnya aset yang dimiliki oleh pemilik stasiun ini kurang baik, sehingga hal ini menjadi sentimen negatif.

“Daripada nanti enggak ada yang menyerap saham perdana sehingga semakin menambah sentimen, jadi lebih baik jual sekarang, sehingga hari ini kesannya menjadi panic selling. Kebetulan, enggak ada bandar yang mau mengerem penurunan saham ini,” tutur Kiswoyo.

Tambahan saja, beberapa saham Grup Bakrie lain yang mengalami penurunan adalah, saham ENRG yang turun 1,01% ke level Rp 98 per saham dan saham BORN turun 6,5% ke level Rp 115 per saham.

Logis saja jika tren penurunan ini juga ada kaitannya dengan penyelenggaraan pemilu legislatif besok. “Pasar pesimistis Ical bakal terpilih,” pungkas Kiswoyo.

Editor: Djumyati Partawidjaja
Bumi Resources Rugi US$58 Juta Investasi di Afrika, Simak Ulasannya
Ardhanareswari AHP – Jum’at, 04 April 2014, 07:58 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), emiten di bawah Grup Bakrie, mendivestasikan kepemilikan sahamnya pada dua perusahaan pertambangan di Afrika dan mengalami kerugian US$58 juta atau sekitar Rp655 miliar dari divestasi tersebut.

Dalam keterangan resmi yang rilis BRMS pada Kamis (3/4), manajemen perseroan menyebutkan perseroan mendivestasikan kepemilikan sahamnya pada dua aset tambang di Afrika. BRMS melepaskan seluruh kepemilikannya pada tambang bijih besi yang berlokasi di Mauritania, Afrika Utara pada perusahaan lokal bernama Rubis International Ltd.

Adapun, kepemilikan perseroan pada perusahaan tambang emas dan berlian di Liberia, Afrika Barat saat ini hanya tinggal 5%. Namun, dalam rilisnya manajemen BRMS tidak menyebutkan entitas perusahaan yang menaungi aset tambang yang didivestasikan itu.
Mengutip laporan keuangan kuartal III/2013 BRMS, perusahaan itu melakukan investasi pada perusahaan yang memiliki konsesi tambang di wilayah Afrika.

Menurut laporan tersebut, BRMS tercatat mengurangi kepemilikan sahamnya pada Konblo Bumi Inc. dari 94,10% pada Desember 2012 menjadi hanya 5% per 30 September 2013.

Konblo Bumi adalah perusahaan pemilik tambang emas dan berlian di Liberia, Afrika Barat. Perusahaan ini dimiliki oleh BRMS melalui Lemington Investments Pte. Ltd.

Pada penghujung 2012, BRMS juga ter catat berinvestasi di Tamagot Bumi S.A., sebuah perusahaan tambang bijih besi di Mauritania, Afrika Utara. BRMS memiliki saham di Tamagot melalui Sahara Resources Pte. Ltd. sebesar 89,6%.

Namun, pada Juni 2013 Sahara Resources mengalihkan seluruh kepemilikan sahamnya atas Tamagot Bumi kepada Bumi Mauritania S.A., entitas anak BRMS yang dimiliki melalui Bumi Holding S.A.

Pada 30 September 2013, seluruh aset Tamagot Bumi dan Bumi Mauritania S.A. ini digolongkan sebagai aset perusahaan yang hendak dijual oleh perseroan. Nilai total kedua aset tersebut, berdasarkan laporan keuangan 31 Desember 2012 adalah US$52,73 juta.

Tampaknya saham inilah yang pada akhirnya dilepaskan pada Rubis International Ltd. Pasalnya mengutip laporan keuangan perseroan, perusahaan tersebutlah yang bekerjasama dengan BRMS dalam pengelolaan tambang bijih besi di Maritania.

Saat dikonfirmasi ke pihak BRMS, manajemen perseroan enggan memberikan keterangan tentang nilai persis divestasi seluruh aset tambang di Afrika tersebut.

Investor Relation BRMS Herwin Hidayat hanya menyebutkan tidak ada keuntungan yang diperoleh dari divestasi itu. “Tidak ada keuntungan dari divestasi aset Mauritania dan Liberia karena harus dibukukan biaya write off atas investasi kegiatan eksplorasi yang telah dilakukan sebelumnya,” katanya melalui pesan singkat pada Bisnis.
Dalam keterangan pers nya, perseroan menyebutkan nilai kerugian sebesar US$58 juta dan telah dicatatkan da lam laporan keuanganBRMS untuk tahun buku 2013. Perseroan hanya beralasan langkah ini diambil agar dapat fokus mengembangkan aset di Indonesia dengan lebih efisien.

Source : Bisnis Indonesia (4/4/2014)
Editor : Nurbaiti
Bakrie Cari Pinjaman Bank Rp 10 Triliun
Angga Aliya – detikfinance
Selasa, 04/03/2014 07:12 WIB

Jakarta -Grup Bakrie sedang berupaya mencari dana sekitar US$ 1,07 miliar untuk aksi korporasinya tahun ini. Dana tersebut akan dihimpun dari pinjaman bank.

Dana tersebut akan digunakan untuk tiga aksi korporasi, yaitu membeli 29,2% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari Asia Resource Minerals PLC, lalu 30% saham PT Arutmin Indonesia, dan 30% saham PT Mitratama Perkasa.

Juru Bicara Grup Bakrie Chris Fong optimistis dana tersebut akan bisa terkumpul tanpa kesulitan. Pasalnya, kata Fong, Grup Bakrie punya hubungan yang baik dengan banyak bankir.

“Bakrie Group adalah perusahaan berusia 72 tahun dan kami memiliki hubungan jangka panjang dengan para bankir dan tidak pernah gagal dalam urusan transaksi yang kaitannya dengan masalah pendanaan,” katanya kepada detikFinance, Selasa (4/3/2014).

Dana tersebut digunakan untuk pemisahan Grup Bakrie dengan Asia Resource. Transaksi tersebut membutuhkan dana sekitar US$ 501 juta. Perseroan sebelumnya sudah mendapat dana sebesar US$ 228 juta.

Grup Bakrie juga akan membeli 30% saham Arutmin dari Tata Power Co Ltd, perusahaan listrik terbesar di India. Dengan nilai transaksi US$ 500 juta, Grup Bakrie akan menguasai 100% saham Arutmin.

Saat ini Grup Bakrie baru menguasai 70% saham Arutmin melalui BUMI. Transaksi tersebut ditargetkan rampung Mei 2014.

Selain itu, Grup Bakrie juga akan membeli 30% saham Mitratama Perkasa masih dari Tata Power dengan nilai transaksi sebesar US$ 120 juta. Saat ini, Tata Power menguasai saham Mitratama melalui anak usahanya yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA). Transaksi tersebut dijadwalkan rampung April 2014.
(ang/ang)
BUMI: Hak Tata Power jual saham Arutmin
Oleh Veri Nurhansyah Tragistina – Sabtu, 01 Februari 2014 | 16:37 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) enggan banyak berkomentar atas keputusan Tata Power melepas kepemilikan 30% saham PT Arutmin Indonesia (Arutmin) dan PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI menyatakan, keputusan tersebut merupakan kewenangan Tata Power sepenuhnya. “Kami tidak terlibat dan tidak ada hubungannya dengan ini (keputusan Tata Power menjual saham Arutmin dan KPC),” kata dia kepada KONTAN, Sabtu (1/2).
Seperti diberitakan sebelumnya, konglomerasi asal India itu telah mengumumkan penjualan 30% saham KPC dan Arutmin senilai US$ 500 juta.
“Kondisi harga batubara saat ini memberikan tantangan bagi sektor pertambangan batu bara,” kata Anil Sardana, managing director Tata Power seperti yang dikutip KONTAN dari Business-standard, Sabtu (1/2).
Keputusan tersebut mengakhiri kongsi BUMI – Tata Power di Arutmin dan KPC yang terjalin sejak 2007 lalu. Terkait hal itu, Dileep enggan berkomentar soal rencana BUMI dalam mengembangkan dua anak usahanya itu selepas kepergian Tata Power.
Keputusan Tata Power sebenarnya terbilang mengejutkan. Pasalnya, Tata Power membutuhkan pasokan batubara cukyp besar untuk menghidupkan pembangkit listrik sebesar 4.000 megawatt (MW) yang ada di Mundra, Gujarat, India. Walaupun menjual sahamnya di KPC dan Arutmin, Tata Power menjamin pasokan batubara tidak mempengaruhi pasokan ke pembangkitnya.
Editor: Asnil Bambani Amri
Sabtu, 01 Februari 2014, 10:29 WIB
Tata Power Jual 30% Saham Arutmin ke Grup Bakrie
Gloria Natalia Dolorosa

Bisnis.com, JAKARTA – Tata Power Co. Ltd., perusahaan pembangkit listrik asal India, sepakat untuk melego 30% kepemilikan sahamnya di perusahaan tambang batu bara PT Arutmin Indonesia kepada Grup Bakrie senilai US$500 juta.

Tata Power, anak usaha kongolomerasi Tata Group, menyatakan penjualan itu akan meningkatkan arus kas dan mengurangi utang konsolidasi, tanpa mempengaruhi penawaran batu bara ke pabriknya.

Reuters, Jumat, (31/1/2013), menulis Tata Power menandatangani perjanjian melalui unit perusahaan yang dimiliki sepenuhnya. Penjualan tersebut akan dirampungkan dalam 3 bulan mendatang.

Tata Power mengakuisisi 30% saham di PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) pada Juni 2007 senilai US$1,1 miliar.. Bumi Resources mengontrol dua perusahaan penghasil batu bara thermal, yakni PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia.

Pembelian itu bertujuan mendukung proyek pembangkit listrik Tata Power di pantai barat India sebesar 7.000 MW selama 5 tahun ke depan. Proyek-proyek ini membutuhkan sekira 21 juta ton batu bara impor.

Editor : Bambang Supriyanto
Sempat Molor, Akhirnya Perusahaan Tambang Grup Bakrie Gelar RUPSLB
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Jumat, 10/01/2014 16:55 WIB

Jakarta -Perusahaan tambang milik Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akhirnya menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) setelah sebelumnya gagal dilaksanakan karena tidak kuorum. RUPSLB ini sempat molor lebih dari 2 jam dari agenda yang dijadwalkan pukul 14.00 WIB.

Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava mengatakan, dalam RUPSLB kali ini pihaknya akan membahas 3 agenda.

“Agenda pertama yang terpenting karena menyangkut kepentingan pemegang saham, critical bagi company yaitu persetujuan pelunasan utang ke China Investment Corporation (CIC),” ujar Dileep saat ditemui disela-sela RUPSLB di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (10/1/2014).

Dia menjelaskan, pihaknya yakin agenda terkait pelunasan utang ke CIC sebesar US$ 1,787 miliar (Rp 17,8 triliun) bakal disetujui.

“Diharapkan sepertinya akan disetujui kalau kuorum. Agenda 1 bisa approval,” kata dia.

Pelunasan utang ke CIC dilakukan melalui pengalihan saham di PT Kaltim Prima Coal dan Bumi Resources Mineral sebagai bagian dari penyelesaian utang kepada China Investment Coorporation (CIC) dan pembelian saham milik Kutai Timur Sejahtera di Kaltim Prima Coal oleh perseroan atau anak usaha.

Anak usaha Grup Bakrie itu akan menjual saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 19% atau setara US$ 950 juta (Rp 9,5 triliun), menjual saham BRMS sebesar 42% atau setara US$ 257 juta (Rp 2,57 triliun), dan melakukan penerbitan saham baru atau Rights Issue BUMI yang mencapai US$ 150 juta (Rp 1,5 triliun)
Berikutya, persetujuan untuk menjaminkan dan mengalihkan sebagian besar harta kekayaan perseroan.

Terakhir, perubahan struktur modal saham perseroan dan perubahan serta pengesahan seluruh anggaran dasar dan penambahan modal tanpa HMETD diundur.

Sebelumnya, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) batal digelar karena tidak kuorum. Investor pun kecewa karena sudah menunggu sejak tengah hari tadi.

Rapat tersebut tidak bisa dilaksanakan karena hanya 24,83% pemegang saham yang hadir. Sehingga sesuai peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rapat tidak boleh dilaksanakan.
Perusahaan Tambang Bakrie Jual Kaltim Prima Coal Buat Bayar Utang
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Jumat, 10/01/2014 17:55 WIB

Jakarta -Para pemegang saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyetujui pelunasan utang perseroan ke China Investment Coorporation US$ 1,787 miliar.

Pelunasan utang ke CIC dilakukan dengan menjual saham anak usaha perseroan PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 19% atau setara US$ 950 juta dan menjual saham BRMS sebesar 42% atau setara US$ 257 juta.

“Agenda pelunasan utang ke CIC sudah disetujui tadi dalam RUPS,” ujar Head of Investor Relation BUMI Ahmad Reza Wijaya usai RUPSLB BUMI di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (10/1/2014).

Reza mengatakan, dalam agenda pelunasan utang ke CIC tersebut, sedikitnya 97% dari 33,33% jumlah pemegang saham yang hadir menyetujui skema pelunasan utang tersebut.

“Menurut AD/ART kami dan aturan OJK, jumlah 33,33% pemegang saham yang hadir dalam agenda tersebut sudah dinyatakan kuorum,” terang dia.

Selain itu, agenda kedua dan ketiga akan digelar pada RUPS berikutnya yang jadwalnya belum direncanakan.

Reza menyebutkan, setelah ini pihaknya akan melaporkan agenda RUPS berikutnya ke OJK. Biasanya, kata dia, RUPS bakal digelar setelah 3 minggu atau 21 hari dari pelaporan.

“Agenda 2 dan 3 syaratnya untuk bisa kuorum 60% pemegang saham harus hadir. Habis ini lapor nanti ke OJK, yang menentukan mereka kapan RUPS, bisa 3 bulan biasanya 21 hari setelah lapor,” jelasnya.

Dia menyebutkan, agenda kedua akan membahas mengenai persetujuan untuk menjaminkan dan mengalihkan sebagian besar harta kekayaan perseroan.

Terakhir, perubahan struktur modal saham perseroan dan perubahan serta pengesahan seluruh anggaran dasar dan penambahan modal tanpa HMETD diundur.
(drk/dru)
BUMI Fokus Bayar Utang ke CIC US$1,3 M

Oleh: Seno Tri Sulistiyono
pasarmodal – Jumat, 20 Desember 2013 | 18:06 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada tahun depan akan fokus melunasi sejumlah utangnya kepada China Investment Corporation (CIC) sekitar US$1,3 miliar.

Direktur Utama PT Bumi Resources Tbk, Ari S. Hudaya mengatakan, pada 2014 perseroan tidak meningkatkan produksi batubara karena harganya diperkirakan mengalami penurunan.

“Harganya yang turun membuat kita tidak fokus untuk tingkatkan produksi. Kita lebih restrukturisasi utang dengan cara refinancing. Jadi beban bunganya akan berkurang, karena bunga saat ini tinggi,” kata Ari setelah ditundanya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Jumat (20/12/2013).

Lebih lanjut dia mengatakan, permintaan batubara dari negara China dan India juga mengalami penurunan, sehingga perseroan menyiasatinya tidak mendongkrak produksi.

“Coal price turun karena growth pertumbuhan industri seperti negara-negara India stop, ruppe-nya sudah terdepresiasi 40 persen, China akan stop, yang akan tetap Jepang dan Korea,” ujar Ari.

Pada hari ini Jumat (20/12/2013) perseroan gagal menggelar RUPSLB karena tidak mencapai kuorum. Pemegang saham BUMI yang hadir hanya mewakili 24,38% dari total pemegang saham yang sah. Adapun agenda RUPSLB BUMI di antaranya :

1. Persetujuan untuk pengalihan saham-saham milik Perseroan di dalam PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk sebagai bagian dari penyelesaian pelunasan utang perseroan kepada CIC dan pembelian saham-saham milik PT Kutai Timur Sejahtera di KPC oleh perusahaan atau anak perusahaan perseroan yang akan dilaksanakan sesuai dengan peraturan Bapepam-LK No. IX.E.2.

2. Persetujuan untuk menjaminkan atau mengangunkan dan mengalihkan sebagian besar harta kekayaan perseroan.

3. Perubahan struktur modal saham perseroan dan perubahan serta penegasan seluruh anggaran dasar perseroan. [hid]
Bos Tambang Grup Bakrie Dikerubuti Pemegang Saham
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Jumat, 20/12/2013 15:41 WIB

Jakarta -Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) batal digelar karena tidak kuorum. Investor yang kecewa pun langsung mengerubuti Direktur Utama BUMI Ari Hudaya.

Setelah manajemen mengumumkan batalnya rapat, investor pun sempat kecewa dan bertanya-tanya alasan batalnya rapat tersebut. Ari yang memang berada di dalam ruang rapat pun langsung jadi sasaran.

Ari pun dikelilingi sekitar dua puluhan investor yang banyak melempar pertanyaan, seperti mengapa rapat batal, mengapa BUMI masih rugi, langkah-langkah apa yang dilakukan manajemen untuk atasi utang dan lain-lain.

“Tenang-tenang. Ayo kita duduk bareng sambil diskusi,” kata Ari kepada para investor di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (20/12/2013).

Namun para investor memilih untuk tidak duduk supaya bisa cepat dapat penjelasan dari Ari. Ia pun menjawab pertanyaan investor satu-persatu.

Sementara sebagian besar investor yang kecewa karena rapat batal digelar pun memilih tinggalkan ruangan. Seusia peraturan, BUMI harus mengadakan RUPSLB lagi dalam jangka waktu tiga pekan ke depan.

(ang/dnl)
BUMI private placement Rp 5,8 triliun
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Kamis, 05 Desember 2013 | 19:56 WIB
kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akhirnya memutuskan untuk melakukan private placement ketimbang rights issue. Jumlah saham yang akan diterbitkan terbilang fantastis, 65,78% dari total ditempatkan dan disetor penuh perseroan saat ini.
Berdasarkan prospektus yang terbit hari ini, manajemen BUMI menjelaskan, total saham baru yang akan diterbitkan sebanyak-banyaknya mencapai 13,66 miliar. Jumlah ini jauh lebih besar dari yang ditentukan semula, yakni 10%-15%.
Saham baru tersebut memiliki nilai nominal lebih rendah dari saham BUMI saat ini. Nilai nominal saham BUMI sebesar Rp 500 per saham. Namun, pada saham baru ini, harga nominal saham hanya Rp 200 per saham.
Oleh karena itu, saham ini memiliki seri berbeda, yakni saham seri B. Harga saham baru yang akan ditransaksikan Rp 425 per saham. Dengan demikian, total transaksi penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non HMETD) ini mencapai Rp 5,8 triliun.
Saham baru ini tidak hanya ditawarkan kepada China Investment Corporation (CIC). Tapi, juga beberapa kreditur yang berminat setuju mengonversi pinjaman yang diberikan dengan saham BUMI.
Seperti diketahui, penerbitan saham baru ini merupakan salah satu mekanisme penyelesaian saham perseroan menyelesaikan utang kepada CIC. Untuk CIC, BUMI akan memberikan kepemilikan saham setara dengan nilai US$ 150 juta.
Misal, dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia (BI), 1US$ = Rp 12.018. Maka US$ 150 juta setara dengan Rp 1,8 triliun. Berarti, saham yang akan dialihkan ke CIC sebanyak 4,24 miliar. Jumlah ini setara dengan 12,31% dari total saham beredar BUMI setelah non HMETD.
Selain CIC, ada beberapa kreditur yang memiliki sangkutan dengan BUMI. Mereka adalah China Development Bank (CDB), Credit Suisse, Axis Bank Limited, Deutsche Bank, UBS AG, dan Nomura. Selain itu, perseroan juga memiliki utang berupa guaranteed senior notes I dan II.
Setelah non HMETD, porsi kepemilikan saham BUMI para kreditur akan menjadi 39,68%. Sedangkan, Vallar Investments UK Ltd akan menciut dari 29,18% menjadi 17,6%. Begitu juga porsi publik di bawah 5% akan jauh berkurang dari 70,82% menjadi 42,72%.
Editor: Asnil Bambani Amri
BUMI private placement Rp 5,8 triliun Oleh Amailia Putri Hasniawati – Kamis, 05 Desember 2013 | 19:56 WIB kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akhirnya memutuskan untuk melakukan private placement ketimbang rights issue. Jumlah saham yang akan diterbitkan terbilang fantastis, 65,78% dari total ditempatkan dan disetor penuh perseroan saat ini. Berdasarkan prospektus yang terbit hari ini, manajemen BUMI menjelaskan, total saham baru yang akan diterbitkan sebanyak-banyaknya mencapai 13,66 miliar. Jumlah ini jauh lebih besar dari yang ditentukan semula, yakni 10%-15%. Saham baru tersebut memiliki nilai nominal lebih rendah dari saham BUMI saat ini. Nilai nominal saham BUMI sebesar Rp 500 per saham. Namun, pada saham baru ini, harga nominal saham hanya Rp 200 per saham. Oleh karena itu, saham ini memiliki seri berbeda, yakni saham seri B. Harga saham baru yang akan ditransaksikan Rp 425 per saham. Dengan demikian, total transaksi penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non HMETD) ini mencapai Rp 5,8 triliun. Saham baru ini tidak hanya ditawarkan kepada China Investment Corporation (CIC). Tapi, juga beberapa kreditur yang berminat setuju mengonversi pinjaman yang diberikan dengan saham BUMI. Seperti diketahui, penerbitan saham baru ini merupakan salah satu mekanisme penyelesaian saham perseroan menyelesaikan utang kepada CIC. Untuk CIC, BUMI akan memberikan kepemilikan saham setara dengan nilai US$ 150 juta. Misal, dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia (BI), 1US$ = Rp 12.018. Maka US$ 150 juta setara dengan Rp 1,8 triliun. Berarti, saham yang akan dialihkan ke CIC sebanyak 4,24 miliar. Jumlah ini setara dengan 12,31% dari total saham beredar BUMI setelah non HMETD. Selain CIC, ada beberapa kreditur yang memiliki sangkutan dengan BUMI. Mereka adalah China Development Bank (CDB), Credit Suisse, Axis Bank Limited, Deutsche Bank, UBS AG, dan Nomura. Selain itu, perseroan juga memiliki utang berupa guaranteed senior notes I dan II. Setelah non HMETD, porsi kepemilikan saham BUMI para kreditur akan menjadi 39,68%. Sedangkan, Vallar Investments UK Ltd akan menciut dari 29,18% menjadi 17,6%. Begitu juga porsi publik di bawah 5% akan jauh berkurang dari 70,82% menjadi 42,72%. Editor: Asnil Bambani Amri Rupiah Jeblok Bikin Utang Bakrie Makin Menumpuk Maikel Jefriando – detikfinance Jumat, 22/11/2013 13:58 WIB Jakarta -PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) punya utang Rp 6,7 triliun hingga triwulan III-2013. Utang ini naik dari sebelumnya yang hanya Rp 5,7 triliun. Peningkatan utang itu disebabkan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir. “Utang jangka panjang dan pendek naik dari Rp 5,7 triliun ke Rp 6,7 triliun. Karena depresiasi rupiah,” ujar Presiden Direktur BNBR Bobby Gafur dalam paparan publik tahun 2014, di Bakrie Tower, Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Jumat (22/11/2013). Ia mengatakan, pergeseran nilai mata uang yang cukup mendalam ini berpengaruh buruk pada utang perseroan. Apalagi mayoritas utang perseroan dalam posisi dolar AS. Awal tahun 2013, dolar AS berada di kisaran antara Rp 9.500 per dolar AS dan saat ini melambung tinggi hingga berputar di kisaran Rp 11.600 per dolar AS. “Kenaikan utang terjadi akibat pelemahah rupiah dari dolar. Kurs dolar awalnya Rp 9.500-an, sekarang Rp 11.600-an. Maka dari itu rasio utang tercatat kenaikan. Karena banyak simpanan dalam bentuk dolar,” jelasnya. Selain utang, Bobby mengatakan pelemahan rupiah juga berdampak buruk pada penurunan pendapatan dan kerugian. Ini terjadi hampir di seluruh perusahaan. Ia menilai itu tidak bisa dihindarkan oleh perusahaan manapun. “Ini tidak bisa dihindarkan. Ini berdampak kepada seluruh perusahaan yang memiliki utang dalam bentuk dolar,” terangnya. (mkl/ang) BUMI Tekan Beban Utang, Coba Lunasi Kewajiban CIC Oleh: Seno Tri Sulistiyono pasarmodal – Rabu, 20 November 2013 | 20:08 WIB INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berupaya menekan biaya beban utangnya sekitar US$216 juta atau sekitar Rp2,51 triliun pada tahun ini. Penghematan ini bisa dilakukan jika perseroan melunasi kewajiban utangnya kepada China Investment Corporation (CIC) sebesar US$1,78 miliar. “Bila transaksi ke CIC sudah selesai BUMI dapat save interest cost sebesar US$216 juta,” kata Direktur BUMI, Andrew Beckham seusai Public Expose di Jakarta, Rabu (20/11/2013). Sebelumnya perseroan menyampaikan penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam transaksi CIC. BUMI akan menyelesaikan utang pokok senilai US$1,3 miliar dengan menyerahkan beberapa asetnya. Yakni, 19% saham PT Kaltim Prima Coal (KPC), 42%saham PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) dan juga melakukan penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue) senilai US$150 juta. Namun, aksi ini masih menunggu persetujuan pemegang saham dan jika diberikan lampu hijau maka BUMI hanya memiliki utang kepada CIC sebesar US$430 miliar. Dengan sisa utang tersebut, kata Andrew, perseroan berupaya mencari pinjaman baru dari CIC dengan nilai sebesar sisa utang yakni US$430 juta. Diharapkan, utang baru nantinya memiliki tenor tiga tahun dengan bunga suku bunga antar bank London alias London Interbank Offered Rate (LIBOR) +6,7% per tahun. Recapital bayar duit BUMI dengan saham KPC Oleh Amailia Putri Hasniawati – Rabu, 20 November 2013 | 18:31 WIB kontan JAKARTA. Terjawab sudah misteri dana investasi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada Recapital Asset Management (RAM). Keduanya telah sepakat untuk melakukan jual beli saham PT Kaltim Prima Coal (KPC). Andrew Christopher Beckham, Direktur Keuangan BUMI menjelaskan, adanya rights issue KPC akan mendilusi kepemilikan BUMI di perusahaan batubara itu. “Kami akan jual 19% saham KPC ke CIC, saham kami akan menjadi 46%, nanti Recapital akan mentransfer 5% saham KPC ke kami,” ujarnya, Rabu (20/11). Sehingga, lanjut dia, BUMI akan tetap menjadi pemegang mayoritas saham KPC, yakni sebesar 51%. Ia tidak menjelaskan, siapa saja sebenarnya pemilik saham KPC. Ia hanya memastikan nilai 5% saham KPC setara dengan dana investasi yang ada di Recapital. Sekadar mengingatkan, BUMI menginvestasikan dananya sebesar US$ 400 juta dalam bentuk kontrak pengelolaan dana (KPD). Namun, sudah sempat dicairkan dan tersisa sekitar US$$ 252,26 juta. Dana ini tak kunjung cair sebelum akhirnya dibuat kesepakatan mengenai pembayaran saham dengan saham KPC. Inilah Agenda RUPS Bumi Plc Oleh: pasarmodal – Senin, 11 November 2013 | 00:04 WIB INILAH.COM, Jakarta – Bumi Plc akan menggelar rapat pemegang saham pada 4 Desember 2013 mendatang. Beberapa agenda telah siap dan termasuk langkah strategis. Salah satu diantaranya adalah perseroan akan memisahkan keluarga Bakrie dalam daftar pemegang saham. Perseroan menyiapkan US$501 juta untuk 29,2 persen. Demikian mengolah rilis perseroan pada akhir pekan kemarin. Agenda lain dalam rapat tersebut adalah perubahan nama menjadi Asia Resources Mineral Plc. Bumi Plc juga akan mengembalikan dana US$400 juta kepada pemegang saham lainnya. [hid] Perceraian Bakrie-Bumi PLC Molor, Dibahas Lagi 4 Desember Angga Aliya – detikfinance Jumat, 08/11/2013 11:20 WIB London -Perusahaan tambang asal London Bumi PLC membuka kembali pembahasan untuk memisahkan diri dari Grup Bakrie setelah molor beberapa bulan. Rencana ‘perceraian’ ini akan dibahas dalam rapat pemegang saham pada 4 Desember mendatang. Pemegang saham akan diminta voting terkait keputusan tersebut, yaitu menjual 29,2% kepemilikan Bumi PLC di perusahaan tambang batubara terbesar di Indonesia, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang dikuasai Grup Bakrie. Seperti dikutip dari Wall Street Journal, Jumat (8/11/2013), jika pemegang saham sepakat maka Grup Bakrie harus membeli saham-sahamnya itu dengan nilai US$ 501 juta (Rp 5 triliun) guna memutuskan hubungan dengan perusahaan hasil kongsinya dengan pebisnis Nathaniel Rothschild tersebut. Masih dalam rencana perceraian itu, komisaris Bumi PLC Samin Tan, melalui perusahaan miliknya PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) berniat membeli sisa saham minoritas Grup Bakrie di Bumi PLC senilai US$ 223 juta (Rp 2,23 triliun). Jika itu terlaksana, maka Samin akan menguasai lebih dari 50% saham Bumi PLC. Seperti diketahui Grup Bakrie sudah memenangkan pertarungan dengan Nathaniel Rothschild atas Bumi PLC dalam RUPSLB yang digelar di Inggris, London, Februari lalu. Atas kemenangan itu, Bakrie Group harus menyiapkan dana untuk membeli kembali (buyback) seluruh saham BUMI yang dipegang Bumi PLC. Oktober tahun lalu, Grup Bakrie sudah memutuskan untuk putus hubungan dengan Rothschild dan Bumi PLC. Namun kesepakatan perceraiannya sudah banyak berubah sejak RUPSLB yang digelar di Inggris awal tahun ini Perceraian Bakrie-Bumi PLC Molor, Dibahas Lagi 4 Desember Angga Aliya – detikfinance Jumat, 08/11/2013 11:20 WIB Halaman 2 dari 2 Kesepakatan terakhir adalah BORN, yang dikendalikan Samin Tan, membeli 24% saham Bumi PLC dari Grup Bakrie senilai US$ 223 juta. Setelah itu Grup Bakrie akan membeli 29% saham BUMI yang dipegang Bumi PLC senilai US$ 501 juta. Hal ini membuat para analis pesimistis Grup Bakrie bisa menyediakan uang sebanyak itu dalam waktu dekat. Semua berawal pada November 2010 silam, Vallar Plc, perusahaan raksasa milik keluarga Rothschild mengambil alih 75% saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan 25% saham BUMI senilai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 27 triliun. Vallar Plc merupakan perusahaan investasi milik keluarga Rothschild yang merupakan bankir terkaya di dunia. Kala itu, Vallar baru saja menggelar IPO raksasa di Bursa London senilai US$ 1,07 miliar atau Rp 9 triliun pada Juli 2010. BNBR menandatangani perjanjian jual beli dengan Vallar Plc untuk melepaskan 5,2 miliar saham BUMI di Rp 2.500 untuk mendapatkan 90,1 juta saham baru Vallar, di mana BNBR akan menerima 50,5 juta saham baru di Vallar seharga 10 poundsterling per saham. Setelah transaksi itu, BNBR menjadi induk usaha Vallar Plc, sedangkan Vallar Plc akan menjadi pemegang 25% saham BUMI. Vallar Plc pun berganti nama menjadi Bumi Plc. Rothschild Sindir Bumi Atas Pembelian Inter Milan Gloria Natalia Dolorosa – Sabtu, 19 Oktober 2013, 17:10 WIB catatan INVESTASI SUPERJANGKAPANJANG sejak 2000-2013, sebagai indikator imbal hasil REKSA DANA SAHAM kita Bisnis.com, JAKARTA – Nathaniel Rothschild menyatakan investasi di klub sepakbola Inter Milan senilai US$173 juta yang dilakukan mantan direktur Bumi Plc menunjukkan Bumi Plc tidak bertindak dalam memulihkan dana yang hilang. Pada Juni lalu Bumi menyatakan telah menandatangani perjanjian dengan Rosan. Isinya, Rosan akan memulihkan kerugian sebesar US$173 juta. Rosan adalah mantan anggota dewan dan eks-CEO PT Berau Coal Energy Tbk. (BRAU), anak usaha Bumi Plc. Sebuah kelompok yang berisi tiga pengusaha terkemuka Indonesia, yakni Erick Thohir, Rosan Roeslani, dan Handy Soetedjo, pada pekan ini membeli 70% kepemilikan saham di Liga Italia Seri A, F.C. Internazionale Milano S.p.A. “Roeslani hanya memiliki dana dan kebebasan untuk melakukan ini karena dewan Bumi telah gagal untuk mengambil tindakan hukum apapun hingga saat ini menghadapinya,” kata Rothschild seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (19/10/2013). Rothschild memiliki 21% hak suara di Bumi. Dia, keturunan dinasti perbankan Inggris, berhenti dari dewan Bumi pada Oktober 2012 di tengah perselisihan dengan sesama pendiri, yakni keluarga Bakrie. ROeslani mengundurkan diri pada Desember dan turun dari Berau Coal pada Januari. Surat kabar Italia Corriere Della Sera melaporkan pada bulan lalu bahwa penjualan saham Inter Milan telah disepakati sekitar US$300 juta euro atau setara US$411 juta. “Tidak logis membuat hubungan antara investasi Inter Milan dengan situasi di Bumi karena keduanya benar-benar berbeda,” tulis Roslan dalam surat elektroniknya kepada Bloomberg News. Menurutnya, pihaknya memiliki komite investasi independen untuk mengidentifikasi peluang investasi serta risiko. “Masalah Bumi adalah topik lama yang sudah dibahas dengan transparansi penuh dan tentu saja komitmen penuh,” tulis Roslan. Bumi dalam surat elektroniknya, 18 Oktober 2013, menyatakan Roslan pada Juni silam setuju untuk mengembalikan uang dan aset pada 26 Desember. “Nilai riil akan diperoleh kembali untuk Berau melalui penerapan perjanjian ini. Perusahaan telah bekerja secepat mungkin,” tulis Bumi Plc. Edoardo Caldara, juru bicara Inter Milan, mengatakan Inter Milan tidak akan berkomentar atas perjanjian 15 Oktober yang mengumumkan penjualan Inter Milan kepada investor Indonesia. Menurut Bumi Plc, perjanjian antara Bumi dengan Roeslani untuk pengembalian aset menyatakan Roslan tidak membuat pengakuan atas kesalahah atau kewajiban. Pada Mei, Berau Coal menemukan pengeluaran sebesar US$201 juta dalam hasil audit kinerja keuangan perseroan pada 2012. Dana tersebut keluar tanpa tujuan usaha yang jelas. Sebulan kemudian Roslan sepakat untuk mentransfer kas dan setara kas senilai US$173 Juta ke Bumi dalam sengketa yang dibawa ke UK’s Serious Fraud Office itu. Saham BUMI, BRMS dan ELTY Aktif Lagi Oleh: Wahid Ma’ruf pasarmodal – Jumat, 18 Oktober 2013 | 11:09 WIB INILAH.COM, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut penghentian sementara saham BUMI, BRMS dan saham ELTY di seluruh pasar per sesi I hari ini. Untuk saham PT Bakrieland Devepopment Tbk (ELTY), BEI beralasan dengan telah disampaikannya keterbukaan informasi atas penolakan permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) perseroan oleh Pengadilan Niaga berserta langkah yang akan ditempuh perseroan. Demikian mengutip keterangan resmi BEI, Jumat (18/10/2013). Sedangkan untuk saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) setelah BEI menerima penjelasan perseroan soal skema konversi utang menjadi saham dengan CIC. BUMI telah mengirim surat tersebut pada 16 Oktober 2013 lalu. Demikian juga terhadap saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menjadi satu keterangan dengan PT Bumi Resources pada 16 Oktober 2013 lalu. BUMI Utang Ke CIC, Ini Rincian Tahapan Pelunasannya Gita Arwana Cakti – Rabu, 16 Oktober 2013, 16:01 WIB Bisnis.com, JAKARTA – Belum lama ini, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyampaikan rencananya untuk mengembalikan pinjaman senilai US$1,3 miliar kepada China Investment Corporation (CIC) dalam bentuk penukaran (swap) kepemilikan saham di empat anak usaha BUMI. Direktur dan Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivasta menyebutkan empat anak usaha tersebut adalah PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Kaltim Prima Coal (KPC), Indocoal Resources (Cayman) Ltd, dan PT Indocoal Kaltim Resources. Pada hari ini, Rabu (16/10/2013), perseroan melengkapi penjelasan rencana aksi korporasi itu dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Berikur rincian tahapan penyelesaian utang emiten berkode saham BUMI kepada CIC: a. Pengalihan 42% saham milik BUMI di BRMS. Pengalihan itu dilakukan berdasarkan perjanjian jual beli bersyarat dengan harga penjualan saham BRMS ditetapkan pada level Rp268 per saham. Pada tahap penyelesaian (closing date), seluruh saham dialihkan melalui crossing di pasar negosiasi dan pemindahbukuan saham-saham dari sub rekening atas nama Bumi Reources ke sub rekening atas nama CIC atau afiliasi. Seiring proses tersebut, CIC juga akan menerbitkan surat pelunasan dan pembebasan utang senilai US$257 juta. Perseroan berharap transaksi penjualan saham BRMS itu selesai pada akhir November 2013. b. Pengalihan 19% saham BRMS di Kaltim Prima Coal (KPC). KPC berencana menerbitkan saham baru (rights issue) yang ditawarkan kepada seluruh pemegang saham KPC. Adapun 19% saham KPC setelah rights issue akan diambil oleh perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh perseroan (Newco), Bhira Investments Limited (afiliasi Tata Power) dan PT Kutai Timur Sejahtera. Bersamaan dengan rights issue KPC, seluruh saham milik Kalimantan Coal Ltd dan Sangatta Holding Ltd di KPC akan dialihkan kepada Bumi Resources. Ini merupakan transaksi internal. Setelah seluruh proses dilakukan, maka kepemilikan saham Bumi Resources di KPC secara langsung dan tidak langsung tercatat 51%. Setelah rights issue KPC dan transaksi internal tuntas, perseroan akan mengalihkan seluruh saham Newco ke CIC atau afiliasinya dengan nilai transaksi penjualan sekitar US$950 juta. Selain persetujuan RUPS, seluruh aksi korporasi itu juga akan meminta persetujuan lebih dulu dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Koordinasi Penanaman Modal, dan para kreditur perseroan. Perseroan berharap seluruh rangkaian transaksi penyelesaian utang CIC dengan pengalihan secara tak langsung 19% saham di KPC tuntas akhir November 2013. Dileep juga menyebutkan selain transaksi penukaran saham di empat anak usahanya, perseroan juga akan melakukan rights issue dalam rangka penyelesaian urang CIC. Perseroan akan mendaftarkan ke Otoritas Jasa Keuangan pada akhir bulan ini. Dalam aksi korporasi tersebut, CIC atau afiliasinya akan bertindah menjadi pembeli siaga (standby buyer). “Seluruh atau sebagian besar dana hasil rights issue akan digunakan untuk menyelesaikan utang ke CIC senilai US$150 juta. Jika sisa saham tidak diambil pemegang saham, maka standby buyer akan melaksanakan pembelian sisa saham itu dengan cara debt to equity swap,” paparnya. Saham KPC Dihargai US$ 950 Juta, Bumi Minerals US$ 257,4 Juta Oleh Jauhari Mahardhika | Senin, 14 Oktober 2013 | 11:21 JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membanderol 19% saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) senilai US$ 950 juta, sedangkan 42% saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar US$ 257,4 juta. Bumi akan menyerahkan saham anak usahanya tersebut kepada China Investment Corporation (CIC) sebagai bagian dari penyelesaian utang. Bumi juga akan menerbitkan saham baru kepada CIC melalui penawaran umum terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue) senilai US$ 150 juta. Selain itu, Bumi siap menyerahkan 19% saham Indocoal Resources (Cayman) Ltd dan 19% saham PT Indocoal Kaltim Resources kepada perusahaan investasi milik Pemerintah Tiongkok tersebut. Bumi akan menukar saham perseroan, KPC, Bumi Minerals, dan Indocoal untuk menyelesaikan utang pokok kepada CIC sebesar US$ 1,3 miliar. Perjanjian pertukaran utang dengan saham (debt to equity swap) tersebut telah ditandatangani oleh Bumi dan CIC. Meski demikian, Bumi masih memiliki sisa utang sekitar US$ 430 juta. Sebab, total utang perusahaan batubara terbesar di Indonesia milik keluarga Bakrie itu mencapai US$ 1,78 miliar.

Bumi Resources Masih Utang US$1,9 Miliar, Mau Bayar Pakai Apa Lagi?

Sutarno   -   Kamis, 10 Oktober 2013, 14:36 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk. kembali menjadi berita  setelah otoritas bursa BEI mensuspensi saham berkode BUMI tersebut hari ini, Kamis (10/10/2013). Kemarin, Rabu (9/10/2013), BUMI menjadi buah bibir ketika mengumumkan konversi  pinjaman senilai US$1,3 miliar kepada China Investment Corporation (CIC) dalam bentuk penukaran (swap) kepemilikan saham di empat anak usaha BUMI. Empat perusahaan yang di-swap sahamnya adalah PT Bumi Resources Minerals (sebesar 42%), PT Kaltim Prima Coal (19%), Indocoal Resources (Cayman) Ltd (19%), dan PT Indocoal Kaltim Resources (19%). Berdasarkan laporan keuangan BUMI, perusahaan itu masih memiliki utang jangka panjang US$3,2 miliar (lihat tabel). Pembayaran utang CIC itu merupakan pelunasan utang  Country Forest Limited 2009. Country Forest merupakan anak perusahaan CIC. Dengan demikian, masih ada sisa utang jangka panjang sebesar US$1,9 miliar. Mau melego anak perusahaan mana lagi untuk melunasinya? Daftar Utang Jangka Panjang BUMI per 31 Maret 2013

Kreditur Pokok pinjaman
Dalam dolar AS
Fasilitas Country Forest Limited 2009 (CIC)

US$1.300.000.000

Guaranteed Senior Secured Note II

US$700.000.000

Fasilitas China Development Bank

US$600.000.000

Fasilitas Credit Suisse 2010-1

US$246.972.121

Guaranteed Senior Secured Notes

US$300.000.000

Fasilitas Axis Bank Limited 2011

US$170.000.000

Fasilitas Credit Suisse 2010-2

US$150.000.000

Fasilitas Deutsche Bank 2011

US$114.000.000

Fasilitas UBS AG 2012-1

US$75.000.000

Fasilitas Pinjaman Nomura

US$11.696.179

Dalam rupiah   
Fasilitas Bank Mualamat

US$1.408.912

Fasilitas Bank Bukopin

US$752.370

Total

US$3.669.829.582

Dikurangi Bagian jangka pendek

(US$478.472.121)

Utang Jangka Panjang

US$3.191.357.461

Sumber: Laporan Keuangan Kuartal I/2013

Editor : Sutarno

Tambang Grup Bakrie Bayar Utang Rp 13 Triliun Pakai Saham Angga Aliya – detikfinance Rabu, 09/10/2013 17:33 WIB Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan menyelesaikan utangnya kepada China Investment Corporation (CIC) senilai US$ 1,3 miliar (Rp 13 triliun). Utangnya tidak semuanya dibayar lunas tapi ada yang dikonversi menjadi kepemilikan saham. “BUMI percaya bahwa penyelesaian sisa utang akan mengembalikan dan meningkatkan nilai perusahaan dan para pemangku kepentingan,” kata Sekretaris Perusahaan BUMI, Dileep Srivastava dalam siaran pers, Rabu (9/10/2013). Sebagian dari jumlah utang itu akan ditukar dengan 42% kepemilikan saham di anak usaha perseroan, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), 19% kepemilikan saham PT Kaltim Prima Coal (KPC), Indocoal Resources (Cayman) Ltd. dan PT Indocoal Kaltim Resources. Selain itu akan ada penerbitan saham baru BUMI senilai US$ 150 juta (Rp 1,5 triliun). Sedangkan untuk sisa pinjaman dua tahap yang diterima tambang Grup Bakrie itu akan dikonversi menjadi pinjaman berjangka waktu 3 tahun dengan suku bunga kompetitif. Atas rencana ini perseroan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk dapat persetujuan sesuai ketentuan perundangan-undangan yang berlaku sehingga bisa selesai akhir tahun ini. (ang/dnl) Bagaimana BUMI akan melunasi utangnya? Oleh Amailia Putri Hasniawati – Kamis, 03 Oktober 2013 | 16:10 WIB kontan JAKARTA. Melempemnya kinerja membuat fulus PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kian mengempis. Ditambah, perseroan gagal mencairkan dana investasinya di PT Recapital Asset Management (RAM). Lalu bagaimana nasib utang-utang BUMI? Berdasarkan laporan keuangan sepanjang semester I-2013, BUMI masih mencatatkan rugi bersih US$ 248,59 juta. Pendapatannya pun menyusut dari US$ 1,94 miliar menjadi US$ 1,85 miliar. BUMI juga mencatatkan defisit untuk laba yang belum dicadangkan dengan nilai mencapai US$ 1,09 miliar. Di saat yang sama, kas perseroan hanya tersisa US$ 89,16 juta. Sementara itu, BUMI masih harus membayar pinjaman jangka pendek dan jangka panjang yang totalnya mencapai US$ 3,21 miliar. Perinciannya, pinjaman jangka pendek senilai US$ 100 juta, sedangkan pinjaman jangka panjang totalnya mencapai US$ 3,11 miliar. Utang jangka pendek yang dimaksud adalah utang milik anak usaha, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Utang ini seharusnya jatuh tempo pada 19 September 2013. Namun, pihak kreditur, Credit Suisse AG melunak dan memberikan tenggat tiga bulan sejak jatuh tempo kepada BRMS untuk dilunasi. Sedangkan utang jangka panjang BUMI yang terbesar adalah sangkutan kepada Country Forest Limited (CFL) yang merupakan anak usaha China Investment Corporation (CIC). Dari total US$ 1,9 miliar yang ditarik, kini masih tersisa US$ 1,3 miliar. Sebesar US$ 600 juta akan jatuh tempo kuartal tiga tahun depan, dan US$ 700 juta harus dibayar September 2015. Kendati utang ini baru jatuh tempo tahun depan, namun, beban bunga yang tinggi mencekik keuangan perusahaan batubara milik Keluarga Bakrie ini. Bunga dari pinjaman ini sebesar 12% per tahun dan harus dibayar setiap bulan. Sebelumnya, manajemen BUMI gembar gembor akan mempercepat pembayaran utang ini. Namun, hingga saat ini, hal itu tidak juga terlaksana. Selain itu, salah satu utang jangka panjang BUMI, yakni fasilitas Credit Suisse 2010-2 yang ditarik pada 19 Agustus 2010 jatuh tempo tahun ini. Nilai pinjaman mencapai US$ 150 juta dan dibebankan bunga seebsar LIBOR ditambah 11% per tahun. Namun, pada 9 Agsutus 2013 kemarin, BUMI, entitas anak usaha yakni PY Sitrade Coal, Kalimantan Coal Ltd, Sangatta Holdings Limited, dan Forerunner International Pte. Ltd (bertindak sebagai original guarantors) serta Credit Suisse cabang singapura (sebagai facility agent) mendatangani supplemental agreement yang mengubah beberapa ketentuan di dalam pernjanjian kredit ini. Isinya, jatuh tempo pinjaman mundur dan harus dilunasi dengan mengangsurnya selama lima belas bulan sejak Oktober 2013 hingga November 2014. Konsekuensi dari pemunduran waktu jatuh tempo ini adalah kreditur membebankan bunga yang lebih tinggi menjadi LIBOR ditambah 18% per tahun dan efektif sejak 7 Agustus 2013. Dari mana BUMI bisa memperoleh dana untuk membayar semua kewajiban tersebut? Sebenarnya, BUMI memiliki sejumlah piutang yang sekiranya bisa digunakan untuk membayar cicilan pinjaman yang menggunung. Misalnya, piutang milik PT Bukit Mutiara dan Candice Invesments Pte. Ltd. Total nilainya mencapai US$ 398,9 juta. Namun, sejak tahun lalu, BUMI tidak kunjung berhasil menarik piutang dari Bukit Mutiara. Parahnya, dana investasi BUMI di Recapital Asset Management (RAM) pun sudah dipastikan tidak akan cair. Pasalnya, pada 26 Agustus 2013 lalu, perseroan dan Recapital Asset Management (RAM) telah menyepakati bahwa dana investasi BUMI yang ada di RAM akan diselesaikan secara non-tunai. BUMI akan mengambil bagian atas saham-saham RAM sebagai pelunasan secara penuh atas kewajiban RAM kepada BUMI. Nah, kalau sudah begini, langkah apa yang akan dilakukan BUMI untuk melunasi utang-utangnya? Benakat Amankan Kontrak Jangka Panjang Kamis, 3 Oktober 2013 indofinanz PT Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPI) mengganti identitas perseroan menjadi PT Benakat Integra Tbk mengklaim telah mengamankan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$300 juta sampai per tahun hingga tahun 2012. Direktur Keuangan BIPI, Michael Wong, dalam keterangannya usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Rabu (3/10), mengatakan, perseroan mendapatkan kontrak mengelola proses logistik dari PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia. Kontrak jangka panjang diraih anak perusahaan PT Astrindo Mahakarya Indonesia. Benakat Integra juga membidik kontrak jangka panjang di bidang jasa infrastruktur pertambangan di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Likuiditas BUMI Kritis 3-6 Bulan ke Depan. Ada Apa? Editor – Rabu, 25 September 2013, 06:46 WIB Bisnis.com, JAKARTA – Likuiditas PT.Bumi Resources Tbk (BUMI) diperkirakan hanya mampu bertahan dalam periode waktu 3-6 bulan ke depan, sehingga emiten milik Grup Bakrie berpotensi menjual aset atau melakukan restrukturisasi modal sebelum akhir tahun ini. Dalam laporan Moody’s Investor Service bertajuk Liquidity Is Vital for Asian Coal Producers amid Oversupply and High Leverage yang dirilis Selasa (24/9/2013) disebutkan opsi yang sangat mungkin dilakukan BUMI adalah menjual non-core assetsnya seperti Bumi Resources Minerals. Moody’s juga merevisi harga rata-rata pada 2013 untuk batu bara termal Newcastle menjadi US$80-85 per ton dan US$150 per ton untuk batu bara hard coking Queensland. “Kami memperkirakan harga batu bara termal dan coking tidak pulih pada 2014,” tulis Moody’s dalam laporannya yang diterima Bisnis, Selasa (24/9/2013). Hal inilah yang akan membuat kinerja Bumi serta emiten batu bara lainnya akan menjadi lebih sulit. Namun, untuk saat ini, tiga emiten batu bara lainnya yakni PT Berau Coal Energy Tbk, PT Indika Energy Tbk dan PT Adaro Indonesia Tbk dinilai masih memiliki kas yang cukup untuk mendanai kegiatan operasional dan biaya bunga. Ketika dimintai konfirmasi soal laporan Moody’s tersebut, Direktur dan Sekretaris Korporasi Bumi Resources Dileep Srivastava enggan berkomentar karena belum membaca laporan. Dia hanya menyatakan tujuan BUMI adalah mengurangi utang US$1,5 miliar hingga US$2 miliar dari cost debt yang lebih tinggi dengan berbagai langkah strategis. Secara operasional, BUMI telah menghasilkan 40,5 juta ton dan menjual 39,6 juta ton batu bara pada Januari hingga Juni 2013. Angka penjualan ini meningkat 20% dibandingkan dengan penjualan pada semester I tahun lalu Selengkapnya baca: http://epaper.bisnis.com/index.php/ePreview?IdCateg=201309253313# Source : Bisnis Indonesia (25/9/2013) Editor : Yusran Yunus BUMI Targetkan Penjualan Batubara 78 juta ton Oleh: Seno pasarmodal – Jumat, 28 Juni 2013 | 21:54 WIB INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memprediksikan penjualan pada tahun ini sebanyak 78 juta ton, walau harga batubara sedang tertekan. Pada semester pertama tahun ini, perseroan sudah memperoleh kontrak sebesar 38 juta ton. Tekanan terhadap harga batubara, diakibatkan adanya pembatasan impor batubara yang dilakukan oleh negeri tirai bambu, yakni China. “Harga batubara dunia, masih berada di level rendah, di kisaran US$70 per metrik ton,” kata Direktur dan Seketaris Perusahaan PT Bumi Resources Tbk, Dileep Srivastava seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Jumat (28/6/2013). Lebih lanjut dia mengtakan, harga jual batubara pada 2012 mengalami penurunan menjadi US$81,5 per meterik ton dari US$92,3 juta metrik ton. Sehingga, pendapatan perseroan tergerus 5% menjadi US$3,8 miliar dari US$4 miliar. Perseroan juga menderita rugi akumulatif akibat transaksi derivatif senilai US$344,86 juta dari sebelumnya untung US$66,06 juta. BUMI targetkan kontrak penjualan naik tipis Oleh Dityasa H Forddanta – Jumat, 28 Juni 2013 | 20:30 WIB kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memperkirakan, harga batubara global belum bisa pulih tahun ini. Itu sebabnya, BUMI tidak berani menargetkan target tinggi terkait kontrak penjualan batubaranya. Hingga akhir tahun nanti, manajemen memproyeksikan bakal meraih kontrak penjualan batubara seberat 78 juta ton. Angka ini hanya naik tipis, sebesar 4%, dibanding angka tahun lalu seberat 75 juta ton. Dileep Srivastava selaku Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI menilai, selama pembatasan impor batubara yang dilakukan oleh China masih berlaku, maka harga batubara belum bisa naik ke level yang lebih menguntungkan. “Tahun ini mungkin masih ada di level terendah, sekitar US$ 70 per metrik ton,” imbuhnya, Jumat (26/6). Lebih jauh Dileep menjelaskan, pihaknya optimistis mampu merealisasikan proyeksinya tersebut. Bahkan, bisa dibilang itu merupakan target yang sangat mungkin dicapai oleh perusahaan. Pasalnya, BUMI merupakan perusahaan yang memiliki cadangan batubara terbesar di Asia Tenggara. Terlepas masalah utang, kinerja BUMI yang melorot sepanjang 2012 lalu itu disebabkan oleh penurunan harga batubara menjadi US$ 81,5 per metrik ton dari sebelumnya US$ 92,3 juta per metrik ton. Akibatnya, pendapatan BUMI tahun lalu turun 5% menjadi US$ 3,8 miliar dari sebelumnya US$ 4 miliar. Selain itu, anjloknya kinerja BUMI juga dipicu oleh rugi akumulatif akibat transaksi derivatif senilai US$ 344,86 juta dari sebelumnya untung US$ 66,06 juta. “Kami memang mengalami net loss yang cukup besar, tapi sebenarnya kami memiliki fundamental yang kuat,” pungkas Dileep. BUMI jamin utang jangka pendeknya bakal lunas Oleh Dityasa H Forddanta – Jumat, 28 Juni 2013 | 21:47 WIB kontan JAKARTA. Beberapa waktu lalu, Moody’s Investor Service menurunkan peringkat senior secures bond Bumi Resources Tbk (BUMI) dari B2 untuk menjadi B3. Moody’s meragukan kemampuan BUMI untuk membiayai utang kupon obligasinya yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat, yaitu US$ 150 juta per Agustus. Cuma, Direktur & Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava menilai, penurunan rating itu irasional. Pasalnya, tidak ada utang jatuh tempo sebelum dua atau tiga bulan ke depan. Selain itu, BUMI juga memiliki jangka waktu yang cukup untuk mempertimbangkan langkah refinancing atau langsung menyelesaikan utang dengan opsi monetisasi aset. Usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BUMI hari ini, Jumat (28/6), Dileep mengatakan, dengan posisi Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) BUMI saat ini sebenarnya sudah cukup untuk membiayai mulai dari belanja modal hingga masalah utang sekalipun. “Jadi, apa yang harus anda khawatirkan?,” ujarnya. Meski enggan merinci ketersediaan dana untuk membayar tagihan tersebut, namun Dileep memastikan jika pihaknya bakal melunasi tagihan tersebut. Manajemen memiliki opsi mulai dari pendanaan dari kas internal, mengkonversi utang menjadi saham atau debt to equity swap, refinancing, hingga melakukan monetisasi aset. Terkait opsi mana yang bakal diambil, BUMI masih mengkajinya dengan para pengendali BUMI. Tapi, melihat kondisi harga batubara yang sedang seperti ini, manajemen memastikan tidak akan mengambil porsi yang besar dari kas internal untuk membayar utangnya. “Jadi, opsi yang diutamakan adalah ketiga opsi diluar kas internal. Terkait DES, akan kami kaji lebih dalam sehingga eksekusinya bisa saling menguntungkan,” jelas Dileep. Rugi, Bumi Resources Tak Bagi Dividen Jum’at, 28 Juni 2013 20:09 wibRizkie Fauzian – Okezone JAKARTA – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyetujui tidak membagikan dividen dari laba bersih tahun buku 2012. Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava mengatakan, pemegang saham setuju terkait dengan kinerja laporan keuangan 2012 perseroan tidak akan dibagikan menjadi dividen karena masih mengalami kerugian dan adanya penurunan harga jual batu bara dunia di sepanjang tahun lalu. “Perseroan masih mencatatkan rugi sebesar USD666,209 juta dari sebelumnya mendapatkan laba USD216,290 juta di 2011,” kata dia, Kamis (28/6/2013). Seperti diketahui, harga jual batu bara dunia di 2012 memang mengalami penurunan menjadi USD81,5 per metrik ton dari USD92,3 juta metrik ton. Selain itu, pendapatan perusahaan juga turun lima persen menjadi USD3,8 miliar dari USD4 miliar. Perseroan juga menderita rugi akumulatif akibat transaksi derivatif senilai USD344,86 juta dari sebelumnya untung USD66,06 juta. (wdi) BUMI tak khawatir penurunan rating Moody’s Oleh Dityasa H Forddanta – Senin, 17 Juni 2013 | 10:49 WIB kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) rupanya tak mau ambil pusing atas langkah Moody’s Investor Service yang baru saja menurunkan peringkat senior secures bond milik BUMI beberapa waktu lalu. Pada waktu itu, Moody’s menurunkan rating obligasi BUMI tersebut dari B2 untuk menjadi B3. Apesnya lagi, Moody’s masih menelaah ulang rating ini untuk penurunan lebih lanjut. Senior secured bond ini diterbitkan oleh dua anak usaha BUMI, yaitu Bumi Capital Pte Ltd dan Bumi Investment Pte Ltd, senilai US$ 150 juta dan bakal jatuh tempo Agustus mendatang. Kala itu Moody’s beranggapan, rating yang merefleksikan ketidakmampuan BUMI dalam membayar utang dipicu oleh proses pemisahan Bumi Resources Tbk dari Bumi Plc dan pemberhentian penambangan oleh kontraktor di tambang Arutmin di akhir April. Dileep Srivastava, Director and Corporate Secretary BUMI, membantah penilaian Moody’s. Dia menegaskan, hingga saat ini, tidak ada perubahan pada laporan keuangan BUMI dalam enam bulan terakhir. “Jadi, itu pernyataan yang menghakimi dan irasional,” tegasnya kepada KONTAN, akhir pekan lalu. Dileep menambahkan, tidak ada utang jatuh tempo sebelum dua atau tiga bulan ke depan. Selain itu, BUMI juga memiliki jangka waktu yang cukup untuk mempertimbangkan langkah refinancing atau langsung menyelesaikan utang dengan opsi monetisasi aset. “Jadi, tunggu saja pengumuman kami berikutnya,” tukas Dileep. Sayang, Dileep enggan merinci baik porsi pendanaan maupun dana yang sudah tersedia hingga saat ini. Dirinya hanya menjelaskan, selain monetisasi aset, sumber pendanaan atas pembayaran utang BUMI nantinya juga bakal dikombinasikan dari kas internal. Tapi, Dileep mengatakan, kalau kas internal porsinya pasti kecil mengingat harga batubara yang belum membaik. Lebih lanjut dia memastikan, BUMI telah memiliki ketersediaan dana untuk refinancing utang jangka pendeknya. “Jadi, kami tidak mengkhawatirkan rating itu,” pungkasnya. RATING MOODY’S: BUMI Turun dari B2 Jadi B3 Vega Aulia Pradipta – Jumat, 07 Juni 2013, 18:54 WIB BISNIS.COM, JAKARTA—Moody’s Investors Service telah menurunkan rating obligasi senior PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari B2 menjadi B3. Seperti dikutip dari keterangan resmi Moody’s, Jumat (7/6/2013), Moody’s juga sedang mengkaji penurunan rating BUMI yang lebih jauh. Obligasi senior diterbitkan oleh Bumi Capital Pte Ltd dan Bumi Investment Pte Ltd, keduanya dimiliki oleh Bumi Resources. Simon Wong, Moody’s Vice President and Senior Analyst and the Lead Analyst untuk Bumi Resources mengatakan penurunan rating ini mencerminkan concern Moody’s terhadap kemampuan BUMI untuk membiayai kembali utang-utangnya yang akan jatuh tempo. “Concern ini seiring adanya keterlambatan dalam proses pemisahan BUMI dari Bumi Plc, serta adanya penghentian kerja sementara di tambang Arutmin sejak akhir April lalu,” tulis Simon, Jumat (7/6/2013). Seperti diketahui, pada Februari 2013, Bumi Plc telah menandatangani perjanjian untuk mendivestasikan seluruh 29,2% saham miliknya di Bumi Resources kepada Grup Bakrie. Namun transaksi tersebut–yang telah diajukan Grup Bakrie sejak Oktober 2012–masih pending karena menunggu persetujuan para pemegang saham Bumi Plc. “Ketidakpastian struktur pemegang saham Bumi Resources akan membuat refinancing utang BUMI yang jatuh tempo pada kuartal III/2013 jadi tertunda,” tulis Simon. Simon menuturkan kajian Moody’s yang lebih jauh terhadap BUMI akan fokus pada tiga hal. Pertama, melihat kemampuan BUMI melakukan refinancing pinjaman sekitar US$150 juta yang akan jatuh tempo pada Agustus 2013. Kedua, kemampuan BUMI mengurangi jumlah utangnya melalui penjualan aset. Ketiga, kemampuan BUMI untuk memulai lagi operasi di tambang Senakin dan Satui secepat mungkin dan menghindari kemungkinan adanya dampak material terhadap target produksi batu bara tahun ini serta terhadap cash flow perusahaan. “Moody’s akan kembali menurunkan rating perseroan, jika perseroan tidak mampu melakukan refinancing yang jatuh tempo Agustus itu, pada akhir Juni ini,” tulis Simon. Per akhir 2012, Bumi Resources diketahui memiliki utang konsolidasi sebesar US$4,28 miliar. Perseroan perlu melakukan refinance sebesar US$634 juta dari total utang tersebut, yang akan jatuh tempo dalam jangka waktu 12 bulan. Selain itu, pinjaman anak usaha yakni PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar US$406 juta (di mana BUMI memiliki 87,09% saham di sana), akan jatuh tempo pada September mendatang. Adapun per akhir 2012, Bumi Resources tercatat memiliki cash on hand sebesar US$45,1 juta dan US$100 juta restricted cash di bank. Editor : Martin Sihombing FRIDAY, 07 JUNE, 2013 | 02:21 WIB BUMI Regrets Thiess’ Decision to Stop Mining Operations TEMPO.CO, Jakarta – PT Thiess Contractors Indonesia, the subsidiary of Australian mining contractor Leighton Holdings, ceased their activities at two mines owned by PT Arutmin Indonesia, a subsidiary of PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Thiess’ termination was done because they said there are a number of unpaid arrears by Arutmin. Director and Corporate Secretary of Bumi Resources, Dileep Srivastava, dismissed allegations that the arrears are not paid by Arutmin. According to Dileep, Arutmin have continued to paying Thiess’ bills in accordance with the agreed contract. Dileep regrets Thiess’ way of addressing the problem, which he said is not in accordance with the mechanism set out in the contract, “but instead unilaterally suspending their mining activities and ignoring their obligations,” said Dileep in a written statement Thursday, June 6, 2013. “This termination by Thiess will greatly harm the local economy,” he said. He also emphasized that, to date, both Arutmin and KPC have no disputes with any mining contractor. GUSTIDHA BUDIARTIE BUMI: Kami Sudah Bayar Sesuai Kontrak Kamis, 06 Juni 2013 18:00 wibRizkie Fauzian – Okezone JAKARTA – Kabar kembali datang dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI), sebelumnya muncul pernyataan dari perusahaan kontraktor Leighton Holdings, PT Thiess Contractors Indonesia (Thiess) yang menyatakan bahwa dua pertambangan milik BUMI dihentikan lantaran pembayaran yang tidak beres. Kini muncul tanggapan dari BUMI terhadap pernyataan tersebut. “Sebetulnya Thiess yang menghentikan operasi di dua tambang kami yaitu PT Arutmin Indonesia dan perusahaan Indonesia Tata Power Co Ltd, pihak kami selalu membayar sejumlah biaya sesuai dengan persyaratan yang ada dikontrak,” ungkap Director & Corporate Secretary BUMI, Dileep Srivastava dalam siaran persnya, Kamis (6/6/2013). Lebih lanjut, menurut Dileep pihaknya selalu mengikuti kontrak yang sudah dibuat sejak 12 tahun lalu tersebut, namun pihak Thiess dengan secara sepihak menghentikan kontrak tersebut. “Kami sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Thiess, padahal kita telah bekerjasama selama 12 tahun, pihak kami tidak pernah bersengketa dengan kontraktor pertambangan lainnya,” jelasnya. Menurut Dileep, apa yang dilakukan Thiess tersebut telah menyebabkan perekonomian lokal terganggu. Dileep menambahkan, saat ini pihaknya sudah memproses kasus ini ke Mahkamah Agung di Queensland pada 2 April 2013 untuk memperjelas kontrak jasa pertambangan dengan Thiess, karena adanya perubahan UUD mengenai pertambangan (Minerba) yang berlaku mulai 1 Oktober 2012. Seperti diketahui, PT Arutmin Indonesia saat ini memiliki kapasitas produksi batu bara dua juta ton per bulan, dengan dihentikannya dua tambang miliknya, tidak terjadi perubahan pada produksi batu bara. Saat ini produksi batu bara menjadi 74 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya 68 juta ton. (wan) (wdi) Thiess Hentikan Penambangan, Ini Penjelasan Bumi Resources Bumi membantah anak usahanya, Arutmin, tak bayar kewajiban ke Thiess. ddd Kamis, 6 Juni 2013, 18:03 Arinto Tri Wibowo VIVAnews – PT Bumi Resources Tbk mengonfirmasi bahwa PT Thiess Contractors Indonesia telah menghentikan sementara kegiatan penambangan di tambang Senakin dan Satui milik PT Arutmin Indonesia. Namun, manajemen Bumi Resources membantah penghentian sementara penambangan sejak 26 April 2013 itu, karena Arutmin belum membayar kewajiban kepada Thiess. “Arutmin Indonesia menegaskan bahwa perusahaan telah membayar kepada Thiess atas semua haknya berdasarkan persyaratan kontrak,” kata Direktur Bumi Resources, Dileep Srivastava, dalam penjelasan tertulis yang diterima VIVAnews di Jakarta, Kamis 6 Juni 2013. Arutmin Indonesia adalah salah satu anak perusahaan Bumi Resources yang di antaranya memiliki areal penambangan di Senakin dan Satui. Sementara itu, Thiess Contractors Indonesia adalah anak perusahaan kontraktor pertambangan asal Australia, Leighton Holdings. Dileep mengatakan, alih-alih mematuhi mekanisme penyelesaian sengketa, Thiess secara sepihak justru menangguhkan kewajibannya dalam kontrak yang telah dibuat kedua pihak. Arutmin sangat kecewa bahwa Thiess telah memutuskan untuk menempuh tindakan itu, mengingat kedua pihak telah bekerja sama selama 12 tahun hingga saat ini. “Kami juga telah mampu menyelesaikan semua perselisihan sebelumnya, tanpa beralih ke tindakan drastis seperti itu,” tutur Dileep. Ganggu Ekonomi Saat ini, selain dengan Thiess, Arutmin dan PT Kaltim Prima Coal tidak dalam sengketa dengan salah satu kontraktor pertambangan lainnya. Tindakan Thiess tersebut, Dileep menjelaskan, bisa mengganggu perekonomian di dalam negeri. Arutmin Indonesia sendiri telah memulai proses hukum di Mahkamah Agung Queensland pada 2 April 2013. Upaya itu dilakukan untuk memperjelas legalitas kontrak jasa pertambangan dengan Thiess Contractors Indonesia, karena perubahan aturan dalam hukum pertambangan di Indonesia yang mulai berlaku pada 1 Oktober 2012. Referensi untuk kegiatan pertambangan di Indonesia mengacu pada Undang-Undang Minerba Nomor 4 Tahun 2009 dan peraturan pelaksanaannya, termasuk Peraturan Menteri Nomor 28 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Nomor 24 Tahun 2012. Arutmin Indonesia saat ini memproduksi sekitar 2 juta ton batu bara per bulan, setelah Thiess menghentikan sementara kegiatan penambangan di Senakin dan Satui. Namun, Bumi menegaskan bahwa perseroan tidak akan mengubah target penjualan 74 juta ton batu bara pada 2013, dibanding 68 juta ton tahun lalu. (ren) KAMIS, 06 JUNI 2013 | 17:34 WIB BUMI Sesalkan Penghentian Penambangan Thiess TEMPO.CO, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menampik bahwa anak usaha mereka, yaitu PT Arutmin Indonesia, belum membayar tunggakan yang ditagihkan oleh PT Thiess Contractors Indonesia, anak usaha dari kontraktor penambangan asal Australia, Leighton Holdings. Direktur dan Sekretaris Korporat Bumi Resources, Dileep Srivastava, memaparkan bahwa selama ini Arutmin telah berusaha untuk terus membayar tagihan dari Thiess sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Ia sangat menyayangkan Thiess yang tidak menempuh penyelesaian masalah sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam kontrak,”Tapi malah menghentikan aktivitas pertambangan secara sepihak dan mengabaikan kewajiban mereka,” kata Dileep, dalam keterangan tertulisnya, Kamis 6 Juni 2013. Thiess menghentikan aktivitas mereka di dua tambang milik Arutmin, yaitu Senakin dan Satui dengan alasan terdapatnya sejumlah tunggakan yang belum dibayar oleh anak usaha Grup Bakrie tersebut. Menurut Dileep, tindakan Thiess tersebut tidak profesional mengingat kontrak yang sudah terjalin selama 12 tahun lebih dan apabila terdapat masalah selalu bisa diselesaikan sesuai dengan mekanisme kontrak tanpa ada pihak yang dirugikan. “Aksi penghentian oleh Thiess ini akan sangat merugikan ekonomi lokal,” kata dia. Ia juga menegaskan, hingga saat ini baik Arutmin maupun KPC tidak memiliki sengketa dengan kontraktor tambang manapun. Saat ini produksi batu bara Arutmin masih berada di kisaran 2 juta ton per tahun, meski produksi di tambang Senakin dan Satui telah dihentikan oleh Thiess sejak 26 April lalu. BUMI, kata dia, juga belum merevisi target penjualan tahun ini yang mencapai 74 juta ton. Lebih tinggi ketimbang tahun lalu yang sebanyak 68 juta ton. “BUMI akan berupaya mengoptimalkan produksi dari tambang lainnya, seperti milik KPC,” tegasnya. GUSTIDHA BUDIARTIE Nunggak, 2 Tambang Bumi Resources Setop Produksi! Widi Agustian – Okezone Senin, 3 Juni 2013 08:37 wib MELBOURNE – Perusahaan kontraktor tambang asal Australia, Leighton Holdings menghentikan aktivitas di dua pertambangan milik PT Bumi Resources Tbk (BUMI) selama lebih dari sebulan akibat pembayaran yang tidak beres dari pihak BUMI. Seperti dilansir dari Reuters, Senin (3/6/2013), Leighton menyatakan aktivitas tambang Senakin dan Satui di Kalimantan Tenggara telah dihentikan. Dua tambang tersebut adalah milik anak usaha BUMI, PT Arutmin Indonesia dan perusahaan Indonesia Tata Power Co Ltd. “Suspensi ini dilakukan karena adanya tunggakan pembayaran, dan Leighton tidak mungkin kembali bekerja sebelum dibayar,” kata Leighton dalam pernyataannya. Dua tambang yang terkena berhenti operasionalnya tersebut menghasilkan 8,9 juta ton batu bara yang digunakan dalam pembangkit listrik, atau sekitar sepertiga dari produksi Arutmin di 2012. Kedua tambang menyumbang 345 juta dolar Australia. atau sekitar 1,5 persen dari pendapatan Leighton pada tahun 2012. Leighton mengatakan akan melanjutkan pekerjaannya ketika tagihan yang ada telah dibayar. (wdi) Inilah Agenda RUPS Tahunan Bumi Resources Oleh: Wahid Ma’ruf pasarmodal – Jumat, 24 Mei 2013 | 06:38 WIB INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan meminta persetujuan pemegang saham untuk pengesahan neraca dan perhitungan laba/rugi untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2012. Permintaan tersebut akan dilakukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan. Rencananya RUPS Tahunan akan dilakukan pada Jumat (28/6/2013). Namun perseroan belum mengumumkan rencana tempat yang akan digunakan untuk acara tersebut. Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Kamis (23/5/2013). Sementara agenda lain dalam RUPS Tahunan tersebut adalah permintaan persetujuan terhadap pertanggungjawaban direksi selama tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2012. Perseroan juga meminta persetujuan rencana penggunaan laba/rugi perseroan untuk tahun buku 2012. Agenda lainnya seperti rencana penunjukkan Akuntan Publik untuk mengaudit laporan keuangan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2013. Perseroan juga merencanakan perubahan susunan pengurus. Pada tahun 2012, BUMI alami kerugian di US$666 juta akibat transaksi valuta asing dan derivatif. Listing badly Kazakh and Indonesian miners battle shareholders in London Apr 27th 2013 |From the print edition the economist EMPIRE-BUILDERS of old claimed they were spreading Britain’s civilising influence. Similar explanations were offered when the London Stock Exchange (LSE) started welcoming mining firms from emerging economies. Listing in London would spur them to adopt British corporate-governance standards, investors were told. The firms would find it easier to raise the vast amounts of capital needed to develop big mines. And punters would be able to bet on a booming industry without worrying about the weaker protections for investors in the wilder parts of the world. Alas, it didn’t work that way, as the latest upheavals at two London-listed firms show. Mehmet Dalman, brought in as chairman 15 months ago to sort out ENRC, a Kazakh mining firm that listed in London in 2007, quit on April 23rd. Other managers recently left in a furore over the firm’s decision to dismiss an investigator looking at its iron-ore division and an American law firm probing allegations of fraud, which it denies. A battle rages between managers, board members and the firm’s three founding oligarchs. Shares in Bumi, a London-listed firm that owns stakes in Indonesian coal mines, were suspended on April 22nd. This followed the widening of a probe into questionable financial arrangements. One of Bumi’s co-founders, Nat Rothschild, a British financier, accuses his Indonesian partners, the politically powerful Bakrie family, of misusing funds. (Some of Mr Rothschild’s relatives are shareholders of The Economist.) Shares in both firms have plummeted, though ENRC’s rallied after the oligarchs said that they might take the firm private again if the other big investors, Kazakhstan’s government and Kazakhmys, another miner, agree. Minority investors are appalled. Those who bought Bumi at the start have lost a bundle. Those who hold ENRC shares could be left with only one plausible buyer. Whom to blame? Investors should have paused before piling in. And the London Stock Exchange should have paused before making its standards more flexible. Desperate to attract business away from rival exchanges, it waived a rule for ENRC requiring a 25% free float for listed firms. Bumi entered by a back door: an Indonesian miner merged with an LSE-listed “cash shell”. Such shenanigans tarnish London’s reputation. From the print edition: Business Rapor BUMI makin merah terbakar Oleh Dyah Megasari – Selasa, 02 April 2013 | 20:33 WIB kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat kenaikan rugi bersih lebih dari 300% di kuartal ke empat 2012. Eksportir batubara terbesar di Asia tersebut kembali menelan kerugian akibat transaksi derivatif dan pembayaran bunga utang yang lebih tinggi. Rincian kinerja keuangan BUMI, rugi bersih kuartal empat 2012 adalah US$ 34,21 juta, melonjak signifikan dari kerugian periode yang sama tahun sebelumnya yakni US$ 8,3 juta Dengan hasil tersebut, maka rugi bersih akumulatif sepanjang 2012 adalah sebesar US$ 666,21 juta, kinerja yang jauh lebih buruk karena pada tahun sebelumnya sempat untung US$ 216,29 juta. Berdasarkan paparan kinerja keuangan yang dirilis hari ini, kerugian akumulatif akibat transaksi derivatif adalah US$ 344,86 juta, berkebalikan dari untung yang pernah diraup pada 2011 sebesar US$ 66,06 juta. Jumlah pendapatan perusahaan yang berbasis di Jakarta tersebut turun 5% dari US$ 4 miliar menjadi US$ 3,8 miliar. Perlu diketahui, Bumi yang memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$ 1,5 miliar dikendalikan oleh Group Bakrie dan bergabung dengan pemilik dinasti perbankan yakni Rothschild melalui Bumi Plc. Namun saat ini, keduanya berseteru hebat hingga membuat saham BUMI bergerak liar. Harga batubara turun, Bumi Plc tunda ekspansi Oleh Barratut Taqiyyah – Senin, 07 Januari 2013 | 16:39 WIB | Sumber Bloomberg kontan LONDON. Penurunan harga batubara menyebabkan Bumi Plc harus memangkas anggaran belanjanya. Dalam pernyataan yang dirilis hari ini (7/1), Bumi Plc menulis, harga rata-rata batubara pada tahun 2012 adalah US$ 70 per ton. Angka tersebut lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai US$ 81,40 per ton. Terkait hal itu, perusahaan telah menunda sejumlah rencana ekspansi seiring penurunan harga batubara. “Strategi jangka pendek kami sangat jelas. Melakukan pemisahan dengan Bumi Resources (BUMI) dan memaksimalkan nilai dari subsidari operasional, Berau,” jelas CEO Bumi Plc Von Schirnding. BUMI RESOURCES: Kuartal III/2012 bukukan rugi US$33,64 juta Achmad Aris Rabu, 02 Januari 2013 | 15:56 WIB bisnis indonesia JAKARTA: Emiten tambang di bawah kendali Grup Bakrie PT Bumi Resources Minerals Tbk membukukan rugi bersih US$33,64 juta pada kurtal III/2012. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, emiten berkode BRMS itu masih membukukan laba bersih sebesar US$67,48 juta. Berdasarkan laporan keuangan perseroan per 30 September 2012 yang dirilis pada Rabu (2/1), kerugian tersebut dipicu oleh penurunan bagian atas laba bersih dari entitas asosiasi yang membukukan rugi US$6,7 juta. Padahal pada periode yang sama 2011, perseroan mengantongi bagian laba bersih sebesar US$100,77 juta. Akun ini merupakan investasi kelompok usaha perseroan pada PT Newmont Nusa Tenggara (NTT) dengan kepemilikan sebesar 24%. Investasi pada NTT tersebut dicatatkan perseroan melalui anak usahanya yakni PT Multi Daerah Bersaing. Meski merugi, perseroan yang 87,09% sahamnya dimiliki oleh PT Bumi Resources Tbk itu membukukan peningkatan pendapatan sebesar 19,21% menjadi US$17,44 miliar dari kinerja periode yang sama 2011 sebesar US$14,63 miliar.

Perseroan kini memiliki 7 konsesi pertambangan mineral yang mana empat di antaranya berada di Indonesia dan sisanya berlokasi di Afrika. Aset tambangnya yang lain adalah PT Citra palu Minerals, PT Gorontalo Minerals, PT Newmont Nusa Tenggara, Tamagot Bumi SA, Bumi Mauritasnia SA, dan Konblo Bumi Inc.

(ra) Kinerja Keuangan Bumi Resources Hancur-hancuran Widi Agustian – Okezone Rabu, 2 Januari 2013 16:23 wib JAKARTA – Kinerja keuangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) patut disebut hancur-hancuran. Pada akhir September 2012, BUMI mencetak rugi neto yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD632,49 juta. Demikian terungkap dalam laporan keuangan yang ditandatangani oleh Direktur Utama BUMI Ari Hudaya dan diserahkan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (2/1/2013). Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan mencetak laba sebesar USD175,55 juta. Artinya, kinerja keuangannya melorot lebih dari empat kali lipat. Pendapatan perseroan memang turun menjadi USD2,77 miliar dari sebelumnya USD2,86 miliar. Tapi, beban pokok pendapatan juga naik signifikan menjadi USD2,02 miliar dari sebelumnya USD1,76 miliar. Alhasil, laba bruto perseroan turun menjadi USD750,35 juta dari sebelumnya USD1,097 miliar. Selanjutnya, kenaikan total beban usaha menjadi USD437,93 juta dari sebelumnya USD317,08 juta menggerus laba usaha. Laba usaha BUMI pun mengalami penurunan menjadi USD312,42 juta dari sebelumnya USD780,04 juta. Di sisi lain, perseroan juga mencatatkan rugi atas transaksi derivatif sebesar USD422,04 juta dari sebelumnya yang untung USD124,98 juta. Tak hanya itu, perseroan juga mencatatkan rugi kurs sebesar USD24,84 juta dari sebelumnya untung USD44,96 juta. Tekanan juga datang dari rugi atas pelepasan investasi pada entitas asosiasi sebesar USD26,67 juta. Jumlah aset BUMI juga turun menjadi USD7,16 miliar dari sebelumnya USD7,49 miliar. Selain itu, posisi kas dan setara kas perseroan tercatat cuma USD57,07 juta dari sebelumnya USD87,8 juta. Sebelumnya, Grup Bakrie tengah memperjuangkan untuk mengambil alih kembali saham BUMI dari Bumi Plc. Walau demikian, proposal yang diajukannya ke Bumi Plc belum dapat diputuskan. Pemicu keinginan cerai Bakrie dari Bumi Plc lantaran konflik antara Bakrie dengan pemegang saham Bumi Plc, Nat Rothschild. Rothschild menuding adanya penyelewengan keuangan yang dilakukan Bakrie di BUMI. Selain itu manajemen Bumi Resources pun telat dalam untuk menyampaikan laporan keuangan ini. Seharusnya, laporan keuangan ini diserahkan ke pihak bursa efek sebelum tutup tahun. Bursa pun telah menjatuhkan sanksi peringatan tertulis kepada BUMI. (wdi) September 2012, BUMI cetak rugi US$ 655,42 juta Oleh Issa Almawadi, Dyah Megasari – Rabu, 02 Januari 2013 | 16:41 WIB kontan JAKARTA. Sembilan bulan pertama tahun 2012, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) harus mencatat kerugian hingga US$ 655,42 juta. Padahal di periode yang sama tahun sebelumnya, BUMI mencatat laba sebesar US$ 184,07 juta. Dalam keterbukaan informasi kepada bursa pada Rabu (2/1), di periode tersebut, pendapatan BUMI juga turun menjadi US$ 2,77 miliar dari sebelumnya US$ 2,86 miliar. Penurunan pendapatan BUMI terjadi akibat naiknya beban pokok pendapatan yang mencapai US$ 2,02 miliar dari US$ 1,76 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan juga terjadi di sisi laba bruto yang menjadi hanya US$ 750,35 juta. Padahal di periode yang sama tahun sebelumnya, laba bruto BUMI mencapai US$ 1,09 miliar. Begitu juga dengan laba usaha yang menjadi US$ 312,42 juta dari US$ 780,04 juta. Dengan begitu, BUMI mencatatkan rugi per 1.000 saham dasar dan dilusian hingga US$ 31,16 dari sebelumnya laba US$ 8,65. Namun pergerakan harga saham BUMI di hari pertama perdagangan tahun ini ditutup naik 30 poin atau 5,08% ke level Rp 620 per saham. Perlu diketahui, pada semester I-2012 saham salah satu anggota Group Bakrie ini mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 334,11 juta. Aksi jual BUMI mengerek turun IHSG di sesi II Oleh Barratut Taqiyyah – Selasa, 04 September 2012 | 16:14 WIB Komentar Telah dibaca sebanyak 615 kali Komentar Aksi jual BUMI mengerek turun IHSG di sesi II Berita Terkait 3 big cap penyokong indeks pasca gerak liar sesi I IHSG flat setelah berayun antara naik dan turun Analis: Level 4.100 menjadi support penting IHSG Saat yang lain merah, IHSG bisa menanjak Analis: Ruang kenaikan IHSG masih lebar JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya tak kuat menahan tekanan. Pada pukul 16.00, indeks tercatat kehilangan 12,70 poin menjadi 4.105,25. Aksi jual saham-saham big cap menjadi penggerus kinerja indeks sore. Tiga di antaranya yaitu: – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Saham BUMI menurun 90 poin menjadi Rp 650 di sesi II. Tiga sekuritas yang paling gencar menjual saham ini adalah UoB Kay Hian Securities senilai Rp 13,681 miliar, Valbury Asia Securities senilai Rp 8,136 miliar, dan Phillip Securities senilai Rp 7,018 miliar. – PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) Saham BRAU menurun 36 poin menjadi Rp 199 di sesi II. Tiga sekuritas yang paling gencar menjual saham ini adalah CIMB Securities senilai Rp 3,944 miliar, eTrading Securities senilai Rp 731,454 miliar, dan Danpac Sekuritas senilai Rp 424,500 miliar. – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Saham BBRI menurun 50 poin menjadi Rp 7.050 di sesi II. Tiga sekuritas yang paling gencar menjual saham ini adalah Deutsche Securities senilai Rp 76,062 miliar, UBS Securities senilai Rp 50,991 miliar, dan Credit Suisse Securities senilai Rp 14,864 miliar. Investor mulai mengoleksi saham BUMI Oleh Barratut Taqiyyah – Kamis, 30 Agustus 2012 | 11:58 WIB kontan JAKARTA. Setelah terpuruk hingga ke level Rp 630 pagi tadi, investor mulai mengoleksi saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Pada pukul 11.51, saham BUMI tercatat naik 1,49% menjadi Rp 680. Bahkan pada transaksi sebelumnya, saham produsen batubara ini sempat menembus level Rp 730. Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, tiga sekuritas yang paling gencar memburu saham ini antara lain: eTrading Securities senilai Rp 13,957 miliar, Credit Suisse Securities senilai Rp 7,710 miliar, dan Indo Premier Securities senilai Rp 7,381 miliar. Perlu diketahui, saham BUMI mencapai titik tertinggi sejak awal 2012 di level 2.600. Aksi jual yang terjadi beberapa hari terakhir membuat sahamnya berada di bawah nilai rata-rata yakni 1.840. Inilah Pembelaan Manajemen BUMI Oleh: Ahmad Munjin & Agustina Melani pasarmodal – Rabu, 29 Agustus 2012 | 16:36 WIB INILAH.COM, Jakarta – Manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) optimistis penjualan aset akan membantu mengurangi utang perseroan dengan harga yang tepat. Hal itu disampaikan Direktur PT Bumi Resources Tbk Dileep Srivastava, lewat pesan singkat yang diterima INILAH.COM, Rabu (29/8/2012) menanggapi kabar beredar mengenai fundamental keuangan BUMI yang kurang baik. “Dengan sekitar cadangan batu bara 3 miliar ton dan aset likuid non batu bara seperti NNT, Dairi sulit untuk memvisualisasikan skenario soal kebangkrutan keuangan BUMI,” tutur Dileep. Lebih lanjut Dileep menuturkan, pihaknya enggan berkomentar mengenai rumor dan spekulasi mengenai kebangkrutan BUMI. “Bagaimana bisa dikatakan sebagai BUMI bangkrut karena hasil operasional kami selalu kuat setiap kuartal. Pendapatan kami hampir 9% dan penjualan lebih dari 10% dibandingkan tahun lalu,” tegas Dileep. Sebelumnya Analis PT Panin Sekuritas Tbk Fajar Indra memproyeksikan kebangkrutan finansial BUMI. Berdasarkan hitungannya koefisien Z dalam metode Altman untuk industri non-manufaktur. Dia menjelaskan, Altman mendeskripsikan interval skor Z adalah sebagai berikut: jika koefisien Z lebih besar dari 2,6, maka perusahaan berada dalam zona aman; Jika koefisien Z lebih kecil dari 2,6, namun Z lebih besar dari 1,1, perusahaan berada dalam zona abu-abu (antara aman dan tidak aman); Jika koefisien Z lebih kecil dari 1,1, maka perusahaan berada dalam zona tidak aman atau menuju kebangkrutan. Menurut perhitungan Fajar, terlihat bahwa koefisien Z BUMI sangat kecil yakni 0,0982 saja. “Maka dapat disimpulkan bahwa BUMI saat ini berada dalam zona tidak aman atau menuju kebangkrutan finansial,” timpal dia. Selain itu, Laporan keuangan BUMI mencatat bahkan jumlah beban keuangan yang harus dibayar lebih tinggi dari laba usahanya sendiri. BUMI mencatatkan kerugian sebesar US$322 juta pada semester I-2012 setelah mencatatkan keuntungan sebesar US$232 juta pada semester I-2011. “Hal ini tentunya memperlihatkan betapa buruknya solvabilitas BUMI dalam membayar hutang-hutangnya,” tutur Fajar. Sementara itu, dalam riset PT eTrading Securities menyatakan, meski BUMI mengalami kerugian hingga US$322 juta, namun mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 14,12% year on year menjadi US$1,94 miliar. Dengan melihat arus kas pada semester pertama tahun 2012, perseroan mencatatkan pendapatan arus kas operasi positif setelah membayar semua kewajiban termasuk bunga pinjaman. Perseroan juga meningkatkan pendapatan kas aktivitas operasi secara signifikan sebesar 169% dari US$53,31 juta ke level US$143,55 juta. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, BUMI dinilai masih memiliki kinerja yang mampu mendorong perusahaan dapat membukukan keuntungan di periode berikutnya. Saham induk usaha Bumi Resources melorot 4,9% Oleh Edy Can – Rabu, 29 Agustus 2012 | 17:55 WIB kontan JAKARTA. Harga saham Bumi Plc juga terjun menurun di London Stock Exchange. Hingga pukul 11.00 waktu London, harga saham induk usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sudah bertengger di level 335,10 sen poundsterling per saham. Harga saham Bumi Plc ini telah turun 4,9% dibandingkan harga penutupan Selasa (28/8) lalu. Ketika itu, harga saham Bumi Plc berada sebesar 340 sen poundsterling per saham. Sekedar berkilas balik, Bumi Plc yang dulunya bernama Vallar Plc merupakan induk usaha Bumi Resources dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Bumi Plc dibentuk pada 28 Juni 2011 lalu. Perubahan nama ini terkait transaksi antara Vallar dengan Bumi Plc. Dalam transaksi ini, Vallar melalui anak usahanya Vallar Investment UK Limited menguasai 25% saham Bumi Resources dari tangan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Sebaliknya, Vallar menyerahkan 90,07 juta saham baru kepada Grup Bakrie. Bakrie and Brothers mendapatkan 49,38 juta saham baru Vallar itu. Pada 29 Juni 2011 lalu, nilai saham Bumi Plc berada di level 1.174 sen poundsterling per saham. Ini artinya, hingga saat ini, harga saham Bumi Plc telah melorot 71%. Chief Executive Officer Bumi Plc, Nalinkant Amratlal Rathod, mengungkapkan, kinerja keuangan Bumi Plc dipengaruhi kerugian anak usaha karena pembayaran bunga yang cukup tinggi dan kerugian turunan dari Bumi Resources. Pada semester pertama lalu, kinerja Bumi Plc sendiri masih merah. Perusahaan ini menderita kerugian sebesar US$ 117 juta. Harga saham BUMI sendiri ditutup melemah 11,84% menjadi Rp 670 per saham dibandingkan penutupan kemarin (28/8). Begitu juga dengan saham anak usaha Bumi Plc, BRAU yang anjlok 14,29% menjadi Rp 240 per saham saat penutupan pasar. Saham Bumi Resources mendekati terendah sejarah Oleh Dyah Megasari – Rabu, 29 Agustus 2012 | 16:36 WIB kontan JAKARTA. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mendekati titik terendah sepanjang sejarah. Di hitung sejak awal tahun di harga 2.450, setidaknya saham BUMI sudah terperosok sebanyak 72,65%. Hari ini, BUMI ditutup pada titik 670. Dibandingkan dengan penutupan sehari sebelumnya, saham perusahaan batubara yang konon terbesar di tanah air itu sudah mundur 90 poin atau 11,84% dari 760. Hari ini, Panin Sekuritas merilis riset bahwa kondisi keuangan salah satu anak Group Bakrie ini berada di ambang kebangkrutan. Hari ini juga, BUMI menduduki top losers Bursa Efek Indonesia (BEI). Perlu diketahui, saham BUMI mencapai titik tertinggi sejak awal 2012 di level 2.600. Aksi jual yang terjadi beberapa hari terakhir membuat sahamnya berada di bawah nilai rata-rata yakni 1.840. Bumi Falls to 41-Month Low; Director Says Drop ‘Irrational’ By Gan Yen Kuan and Yudith Ho – Aug 28, 2012 5:33 PM GMT+0700 bloomberg PT Bumi Resources (BUMI), Asia’s biggest power-station coal exporter, sank to the lowest level in more than three years after posting a first-half loss and an investment company failed to repay $231 million due yesterday. Shares of Jakarta-based Bumi sank 14.6 percent to 760 rupiah at the 4 p.m. Jakarta time close, the lowest since March 20, 2009. The drop was the biggest on the 820-member MSCI Emerging Markets Index (MXEF), which fell 0.2 percent. Bumi shares have fallen 18 percent the past two days after the company reported Aug. 26 a first-half loss of $322 million, compared with a restated net gain of $232 million a year earlier. PT Recapital Asset Management, an investment fund management group, didn’t repay Bumi $231 million that was due Aug. 27, London-listed Bumi Plc (BUMI), which owns 29.2 percent of Bumi Resources, said in a statement today. “The loss that they had is not what the market expected,” Fadlul Imansyah, who helps manage about $170 million at PT CIMB Principal Asset Management, said by phone from Jakarta today. “The market has very negative sentiments on this group. Once they release something negative, everybody is giving more discount to the share price.” CIMB Group Holdings Bhd., Southeast Asia’s top-ranked investment bank, cut the stock to underperform, equivalent to sell, from neutral. The drop is “irrational but understandable in today’s charged, speculative, wired environment and trading,” Director Dileep Srivastava said in an e-mailed response to questions today. “Our first-half results are operationally sound on sales and growth. I also suspect there may be margin calls and a higher market expectation which is proving unreal in today’s uncertain sector and economic environment.” Coal prices at Australia’s Newcastle port, an Asian benchmark, have fallen 21 percent this year as the Chinese economy slowed and after U.S. and South African producers shifted coal sales to Asia amid a debt crisis in Europe. Bumi has tumbled 65 percent this year, underperforming the 8.3 percent gain in the benchmark Jakarta Composite Index. (JCI) Kisah Saham BUMI, Sempat Tembus Rp 8.750 Kini Tinggal Rp 760 Angga Aliya – detikfinance Rabu, 29/08/2012 13:17 WIB Jakarta – Para pemain lama di pasar modal tidak asing lagi dengan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Perusahaan tambang milik grup Bakrie ini bisa dibilang sebagai penggerak pasar modal pada masa jayanya. Saking populernya saham ini, para pelaku pasar kadang menghubung-hubungkan kejadian di pasar modal dengan saham BUMI. Seperti contohnya, kejadian eror di transaksi Bursa Efek Indonesia (BEI) awal pekan ini, beredar rumor saham BUMI punya peran. Rumor seperti ini tidak terjadi sekali saja, bahkan pada masa krisis, ketika bursa terpaksa ditutup akibat koreksi tajam. Banyak pihak menilai bursa saham sengaja tidak dibuka karena nanti saham BUMI bisa terjun bebas. Pergerakan saham BUMI juga sangat fluktuatif, sejak IPO di tahun 1990 lalu di harga 4.500 per lembar, sahamnya sempat naik turun dalam rentang yang sangat lebar. Seperti dikutip dari data perdagangan bursa, Rabu (29/8/2012), saham BUMI sempat menyentuh posisi intraday tertinggi sepanjang sejarah di level Rp 8.750 per lembar pada 10 Juni 2008 sebelum akhirnya ditutup di Rp 8.150 sore harinya. Sebelum krisis ekonomi global akhir 2008 terjadi, saham BUMI memang menjadi primadona di pasar modal dalam negeri, bersama enam perusahaan Bakrie lainnya atau biasa disebut Bakrie 7. Bakrie 7 selain BUMI antara lain, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Darma Henwa (DEWA), dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Saham-saham ini sempat menguasai pasar modal sebelum krisis ekonomi, namun belakangan ini kinerja keuangan mereka melempem dan berujung pada koreksi di harga saham-sahamnya. Kini, harga saham BUMI pada penutupan perdagangan kemarin ditutup di level Rp 760 per lembar dengan volume perdagangan sebesar 740.939 juta lembar saham. Sejak awal tahun ini, tren melemah sudah menempel terhadap saham BUMI, terutama diakibatkan isu kondisi finansialnya yang tidak terlalu sehat. Penjualan yang dilakukan kepada Vallar Plc (yang kini bernama Bumi Plc) pun tidak bisa memberikan sentimen positif. Pasalnya, kongsi grup Bakrie dan grup Rothschild itu tidak bertahan lama, bahkan kabarnya keduanya saling menjatuhkan untuk mengambil alih Bumi Plc yang tercatat sahamnya di bursa London tersebut. Kini, dengan adanya riset dari Panin Sekuritas, BUMI diprediksi terancam bangkrut gara-gara beban utang yang terlalu tinggi. Salah satu indikasi lain bangkrutnya perusahaan tambang Grup Bakrie itu adalah kerugian Rp 3 triliun di semester I-2012. Emiten berkode BUMI itu mencatat kerugian sebesar US$ 322 juta pada semester I-2012 dibandingkan keuntungan US$ 232 di tahun lalu pada periode yang sama. (ang/dnl) Bumi Resources Indikasikan Kebangkrutan Finansial Widi Agustian – Okezone Rabu, 29 Agustus 2012 10:59 wib okezone JAKARTA – Performa Keuangan semester I-2012 PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sangat buruk dan solvabilitas sangat lemah. BUMI mencatatkan kerugian sebesar USD322 juta pada semester I-2012 setelah mencatatkan keuntungan sebesar USD232 juta pada semester I-2011. Ada beberapa faktor yang disinyalir menyebabkan jatuhnya performa BUMI pada semester I-2012. Faktor pertama adalah tergerusnya marjin laba BUMI diakibatkan melonjaknya biaya produksi per ton sebesar 9,2 persen yang tidak diimbangi oleh naiknya harga jual. Hal ini terjadi hampir di seluruh perusahaan batu bara di Indonesia karena memburuknya harga batu bara dunia. Faktor kedua adalah tingginya beban keuangan yang harus dibayar serta kerugian atas transaksi derivatif. Laporan keuangan BUMI mencatat bahkan jumlah beban keuangan yang harus dibayar lebih tinggi dari laba usahanya sendiri. Hal ini tentunya memperlihatkan betapa buruknya solvabilitas BUMI dalam membayar utang-utangnya. Equity Analyst, Metal & Mining Sectors Panin Sekuritas Fajar Indra menjelaskan, berdasarkan metode Altman score, terlihat bahwa koefisien Z BUMI sangat kecil yakni 0.0982 saja. “Maka dapat disimpulkan bahwa BUMI saat ini berada dalam zona tidak aman atau menuju kebangkrutan finansial,” jelas dia dalam risetnya di Jakarta, Rabu (29/8/2012). Terlebih, BUMI disebut memperpanjang masa investasi dana senilai USD231 juta di PT Recapital Asset Management. Dengan kata lain, BUMI gagal mencairkan investasinya untuk melakukan refinancing. Terlebih dalam dua tahun, BUMI memiliki tanggal jatuh tempo untuk utangnya kepada CIC masing-masing sebesar USD600 juta untuk trance kedua dan USD700 juta untuk trance berikutnnya. Pada pukul 11.02 waktu JATS, harga saham BUMI ini turun Rp10 menjadi Rp760. Harga saham andalan Grup Bakrie ini terus mengalami pelemahan. Jika dihitung dari posisi tertinggi harga saham ini di bulan Agustus 2012, Rp1.140 (8 Agustus), maka harga saham BUMI ini sudah terkoreksi sampai 33,3 persen. (wdi) Pencairan dana investasi BUMI di Recapital mundur Oleh Rika Theo – Selasa, 28 Agustus 2012 | 18:32 WIB kontan JAKARTA. PT Bumi Resources (BUMI) gagal lagi mencairkan dana investasinya di PT Recapital Bumi Plc mengumumkan bahwa PT Recapital Asset Management senilai US$ 231 juta. Pemberitahuan ini disampaikan Bumi Plc di situs perusahaan hari ini (28/8). Sedianya, pencairan investasi BUMI dari Recapital diterima kemarin (27/8), namun ternyata harapan itu meleset. “Diskusi antara Bumi Resources dan Recapital masih berlangsung untuk penjadwalan ulang pencairan itu,” tulis Bumi Plc dalam pernyataannya. Bumi Plc memegang 29,2% saham BUMI. Induk usaha BUMI itu terdaftar di bursa saham London. Semestinya, jika pencairan utang ini terlaksana, Bumi dapat menggunakan dana hasil investasi tersebut untuk mempercepat penyelesaian utang senilai US$ 600 juta kepada China Investment Corp (CIC). Kewajiban itu akan dibayarkan pada Oktober 2012. Utang tersebut adalah bagian dari kewajiban BUMI terhadap CIC senilai US$ 1,9 miliar. Tahun lalu perseroan telah membayar utang tahap pertama senilai US$ 600 juta. Sudah mundur tiga kali Untuk mengingatkan lagi, utang Recapital ini terkait penempatan dana BUMI dalam kontrak pengelolaan dana milik Recapital yang diteken pada tahun 2008. Pengelola BUMI memberi kewenangan kepada Recapital untuk mengelola dana sampai dengan US$ 350 juta. Jangka waktu pengelolaan dana hanya sampai enam bulan. Tapi pada 2 September 2009, BUMI menandantangani kontrak pengelolaan dana kedua dengan tenor enam bulan. Dalam kontrak ini, perseroan memberikan wewenang kepada Recapital untuk mengelola dana hingga mencapai US$ 50 juta. Selanjutnya, pada 28 Februari 2011, perjanjian tersebut diperpanjang sampai 27 Agustus 2012. Jadwal penarikan dana investasi ini mengalami dua kali kemunduran. Semula manajemen BUMI berniat menarik dana dari Recapital pada kuartal I-2012. Tapi rencana itu tidak terealiasasi. Manajemen beralasan penarikan disesuaikan dengan kebutuhan dana, yaitu Juni 2012. Tapi pada Juni 2012 pun tidak ada pencairan dana. BUMI berkilah penarikan belum terlaksana lantaran kondisi pasar tidak menentu. Hal itu bisa menyebabkan pengembalian dana tidak maksimal. Di awal Juli 2012, Bumi Plc, pernah mengumumkan pencairan dana investasi itu akan dilaksanakan pada 27 Agustus 2012. Ini sesuai berakhirnya masa pengelolaan dana. Juli lalu, BEI sempat bertanya kepada manajemen Bumi, apakah perseroan terkena penalti jika menarik dana investasi di Recapital sebelum berakhirnya perjanjian. Pada waktu itu, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Dileep Srivastava menjawab dalam keterbukaan ifnormasi, “Tidak ada penalti yang harus dibayar dalam pencairan dana,” kata Dileep. Dengan rapor keuangan yang merah plus mundurnya pencairan dana investasi ini, tak ayal harga saham Bumi hari ini anjlok 14,61% menjadi Rp 760 per saham. Bumi menuntaskan penjualan Mitratama Oleh Wahyu Satriani – Selasa, 28 Agustus 2012 | 07:09 WIB kontan JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk terus melakukan konsolidasi internal. Kabar terakhir, emiten Grup Bakrie ini telah menjual seluruh sahamnya di PT Mitratama Perkasa. Bumi menjual aset itu kepada PT Sumber Energi Andalan Tbk. Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, Dileep Srivastava menjelaskan, perseroan ini menandatangani akta jual beli atas 30% saham Mitratama Perkasa pada 16 Agustus 2012. Mitratama selama ini menjalankan usaha jasa pertambangan. Setelah kedua pihak meneken akta jual beli saham, “Maka pengalihan kepemilikan atas 30% saham Mitratama Perkasa menjadi efektif dan perseroan telah melepas seluruh kepemilikannya atas Mitratama,” kata Dileep, dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia, Minggu (26/8). Manajemen Bumi beralasan, perseroan melaksanakan transaksi itu dengan maksud agar lebih fokus pada kegiatan usaha pertambangan saja. Sekadar informasi, total nilai investasi Bumi di Mitratama per akhir Maret 2012 senilai US$ 22,85 juta. Sedangkan nilai total aset Mitratama sebelum eliminasi mencapai US$ 354,86 juta. Mengacu ke laporan keuangan Bumi, nilai transaksi penjualan 30% saham Mitratama adalah US$ 1. Padahal, pada 2010 lalu Bumi memperoleh dana senilai US$ 190 juta dari hasil penjualan 69,83% saham Mitratama. Pada Maret 2010, Bumi juga mejual saham 69,83% Mitratama kepada PT Cahaya Pratama Lestari (CPL). Dari aksi itu, kepemilikan Bumi di Mitratama tersisa 30%, sebelum akhirnya dilego ke Sumber Energi Andalan pada 16 Agustus 2012. Sumber KONTAN yang dekat dengan manajemen Bumi menyebutkan, penjualan saham Mitratama bertujuan efisiensi. Valuasi Mitratama adalah US$ 26,7 juta dan dilego seharga US$ 1. Tapi sebagai gantinya, Bumi dapat pembatalan Technical Assistance Contract dimana net present value-nya US$ 45 juta, yang berlaku sampai 2021. “Jadi dalam transaksi ini Bumi bisa menghemat cukup besar,” tutur si sumber. Tekanan jual melanda saham BUMI belakangan ini, puncaknya setelah perseroan merilis laporan keuangan di semester I-2012. Di periode ini, Bumi menderita kerugian US$ 322 juta. Di semester I-2011, Bumi masih mencetak laba US$ 232 juta. Harga BUMI, Senin (27/8), merosot 5,32% menjadi Rp 890 per saham. Jika dihitung sejak awal tahun, maka harga BUMI sudah anjlok 59%. Emiten pertambangan batubara, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan rugi bersih menjadi USD 334,11 juta pada semester pertama 2012 dari untung USD 226,73 juta pada semester pertama 2011. Demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (26/8). Pendapatan perseroan naik menjadi USD 1,94 miliar pada 30 Juni 2012 dari semester pertama 2011 sebesar USD 1,79 miliar. Beban pokok pendapatan perseroan naik menjadi USD 1,39 miliar pada semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 sebesar USD 1,14 miliar. (financeroll/dk) Ekspor Batubara BUMI ke Amerika Serikat Drop Whery Enggo Prayogi – detikfinance Minggu, 26/08/2012 15:12 WIB Jakarta – Perusahaan tambang batubara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tidak lagi mengirim batubara ke Amerika Serikat (AS) sepanjang semester I-2012. Sebagai gantinya, BUMI fokus menjual ‘emas hitam’ ini ke Asia dan Eropa. Berdasarkan laporan keuangan BUMI yang dipublikasikan, Minggu (26/8/2012), tahun lalu AS mampu mengkontribusi penjualan batubara masing-masing US$ 3,419 juta. Namun tahun ini nihil, meski manajemen tidak disebutkan alasan penurunan tersebut. Sebagai gantinya, BUMI fokus menjual hasil tambangnya ke dua wilayah, Asia dan Eropa. Penjualan ke Asia diketahui US$ 1,215 miliar, sedikit menurun dari tahun lalu US$ 1,356 miliar. Sementara penjualan ke Eropa justru naik dari US$ 136,076 juta di 2011 menjadi US$ 419,515 juta. Sedangkan penjualan ke dalam negeri masih minim atau setara US$ 299,209 juta dari total penjualan batubara BUMI di semester I-2012 US$ 1,934 miliar. Sebelumnya diketahui, BUMI sepanjang Januari-Juni menghasilkan total pendapatan US$ 1,946 miliar, atau naik US$ 154 juta dari periode yang sama tahun lalu US$ 1,792 miliar. Namun akibat rugi kurs dan rugi transaksi derivatif, kinerja BUMI meredup dengan mencatat rugi bersih US$ 334,111 juta (US$ 15,87 per lembar) hingga Juni 2012. Padahal periode sebelumnya BUMI menghasilkan laba US$ 226,73 juta (US$ 11,41 per lembar). Bumi Resources merupakan salah satu anak usaha kelompok bisnis Bakrie secara tidak langsung, melalui Vallar Investments UK Limited. Vallar memegang 29,18% saham BUMI, dan sisanya dimiliki publik. (wep/hen) Hold Untuk Saham BUMI Oleh: pasarmodal – Selasa, 14 Agustus 2012 | 13:07 WIB INILAH.COM, Jakarta – Peringkat utang PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dipangkas oleh S&P, dan peringkat saham diturunkan menjadi jual oleh UBS AS. Namun, masih ada rekomendasi hold untuk emiten ini. Yualdo Yudoprawiro dari Samuel Sekuritas menyarankan investor untuk tidak langsung membuang saham BUMI, melainkan menunggu hingga target harga terpenuhi, baru melakukan aksi jual. Saat ini, BUMI diperdagangkan dengan PE 2012 sebesar 10 kali dan EV/EBITDA sebesar 3,3 kali. “Saya masih merekomendasikan hold untuk BUMI,”katanya. Rekomendasi ini diberikan, meskipun Standard & Poor’s Rating Services (S&P) menurunkan peringkat utang BUMI menjadi BB- dari sebelumnya BB dengan prospek negatif. S&P menilai bahwa poisisi kas BUMI akan semakin melemah dalam 12-18 bulan ke depan akibat perlemahan pertumbuhan produksi dengan tingginya beban keuangan. S&P juga kemungkinan akan menurunkan rating BUMI lagi jika perseroan gagal mengurangi utang paling sedikit US$500 juta. BUMI masih mempertahankan target produksi batu bara sebesar 75 juta ton dimana manajemen mengatakan bahwa 90% dari jumlah tersebut telah terkontrak dengan harga US$85/ton. Sedangkan Andreas Bokkenheuser dari UBS AG menurunkan rekomendasi saham BUMI menjadi jual dari sebelumnya beli. Target harga pun dipangkas 70% menjadi Rp800 dari sebelumnya Rp2.650. Menurut Andreas, hal ini tak lepas dari melemahnya permintaan batu bara termal untuk pembangkit tenaga uap di China akibat tekanan krisis global. Alhasil, harga batu bara di Newcastle Australia turun 23% sepanjang tahun ini. “Kami perkirakan permintaan batu bara dari China akan menurun, dan BUMI akan melanjutkan kerugiannya pada kuartal pertama 2012 hingga 2013, dengan penurunan harga batu bara tersebut,” kata Andreas, yang dikutip dari bloomberg.com. [ast] Senin, 13 Agustus 2012 | 05:35 WIB Bumi Rugi, Investor Ragu TEMPO.CO , Jakarta: Bumi Plc, induk usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk, merugi (yang diatribusikan pemilik entitas) sebesar US$ 117 juta sepanjang semester satu tahun ini. Kerugian ini disebabkan kerugian anak usaha, terutama karena pembayaran bunga yang tinggi dan kerugian turunan dari Bumi Resources. Pengamat pasar modal, Steve Susanto, mengatakan kerugian yang masih dialami Bumi Plc akan mempengaruhi minat investor dalam negeri dalam melihat saham anak usahanya yang tercatat di bursa. “Mungkin produksi batu bara mereka bagus, tetapi investor ragu kepada jumlah utang yang terlalu besar,” ujarnya kepada Tempo. Dia menilai, kinerja operasional Bumi Resources dan Berau Coal terbilang bagus. Meski menurun 3,61 persen, harga rata-rata penjualan batu bara Bumi Resources yang mencapai US$ 88 per ton dia nilai masih baik. Sedangkan harga rata-rata penjualan batu bara Berau Coal meningkat 2,68 persen menjadi US$ 76,6 per ton. “Harga Bumi Resources saat ini berarti masih ada di grade 6-7,” kata Steve. Sampai sekarang, saham BUMI belum terlalu dilirik asing. Ini disebabkan ada masalah dalam balance sheet perusahaan. “Kalau sampai tidak dilirik asing, berarti ada sesuatu yang tidak bagus di dalamnya. Bukan karena profit loss, tetapi karena balance sheet,” ujarnya. Chief Executive Officer Bumi Plc, Nalinkant Amratlal Rathod, mengakui kerugian yang dialami perusahaan dipengaruhi oleh kerugian anak usaha. Kehilangan utamanya karena pembayaran bunga yang tinggi dan kerugian turunan dari BUMI. Selain itu, harga batu bara thermal yang jatuh secara signifikan selama beberapa bulan terakhir, bersama dengan harga logam mineral lainnya, turut menyumbang kerugian perusahaan kali ini. “Ini menjadi tantangan ekonomi global. Jelas ini menjadi perhatian kami karena jika berkepanjangan akan sangat mempengaruhi tingkat profitabilitas perusahaan,” katanya. Untuk itu, menurut dia, perusahaan berupaya mengurangi biaya produksi dan meningkatkan efisiensi di pos mana pun. Anak usahanya, Bumi, juga berupaya menurunkan tingkat utang dengan cara mencairkan investasi dan aset-aset non-inti. SUTJI DECILYA | SETIAWAN Keluarga Penulis Lumpur Lapindo Diduga Turut Menghilang Penulis : Aditya Revianur | Rabu, 25 Juli 2012 | 04:52 WIB JAKARTA, KOMPAS.com – Ali Azhar Akbar, penulis buku “Lapindo File: Konspirasi SBY-Bakrie” hingga saat ini masih dinyatakan hilang. Bahkan, diduga keluarga penulis buku kontroversial tersebut juga turut menghilang mengingat Ali Azhar dan keluarga tidak dapat dihubungi oleh kuasa hukumnya, Taufik Budiman. “Sampai saat ini klien (Ali Azhar Akbar) kami belum dapat dihubungi. Keluarga yang bersangkutan juga turut tidak pernah menghubungi (Taufik Budiman, red) lagi. Ada kemungkinan keluarga yang bersangkutan juga turut menghilang. Ini baru sebatas dugaan,” ujar Taufik Budiman ketika dihubungi wartawan, Jakarta, Selasa (24/07/2012). Taufik mengaku kontak terakhir dengan Akbar terjadi pada pertengahan Juni ketika keduanya sedang berkonsentrasi pada sidang uji materiil UU APBNP tahun 2012 di Mahkamah Konstitusi. “Terakhir kami bertemu ya pertengahan Juni. Saat itu kami masih berkonsentrasi pada sidang di MK,” terangnya. Sebelumnya, sejak 19 Juni 2012, Ali Azhar Akbar, penulis buku “Lumpur Lapindo File: Konspirasi SBY-Bakrie” dinyatakan menghilang. Tidak ada yang tahu keberadaan aktivis dan penulis buku Lapindo File tersebut. Ada dugaan Akbar sengaja menghilangkan diri atau justru dihilangkan oleh pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh tulisan Akbar sendiri. Namun, seperti yang telah diberitakan oleh beberapa media, Ali Azhar Akbar sering mendapatkan teror via sms dan telepon setelah bukunya diterbitkan dan upayanya menggugat penggunaan uang rakyat di APBN untuk mengatasi kasus Lapindo didaftarkan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Editor : Farid Assifa Uang Rakyat 1,5 Triliun untuk Lapindo Bakrie Penulis : Aditya Revianur | Rabu, 25 Juli 2012 | 05:21 WIB JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Indonesia mengucurkan dana sebesar Rp 1,5 triliun untuk mengatasi dampak semburan lumpur Lapindo yang telah menenggelamkan beberapa desa di Porong, Sidoarjo. Dana milik rakyat itu digunakan untuk membiayai operasional Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS). “BPLS merupakan badan yang dibentuk pemerintah yang bertugas menangani upaya penanggulangan semburan lumpur, luapan lumpur, serta menangani masalah sosial dan infrastruktur akibat luapan lumpur di Sidoarjo. Untuk melaksanakan tugasnya, BPLS dibiayai APBN, dimana untuk Tahun Anggaran 2012 ditetapkan sebesar Rp1,5 triliun,” ujar Dirjen Anggaran Kemenkeu, Harry Purnomo di gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Selasa (24/07/2012). Herry menuturkan, dana Rp 1,5 triliun tersebut akan digunakan untuk membayar ganti rugi korban semburan lumpur di luar peta area terdampak dengan cara pembelian tanah. Menurutnya, di dalam Pasal 18 UU APBN-P 2012 ditetapkan bahwa alokasi dana pada BPLS dapat digunakan untuk pelunasan pembayaran pembelian tanah dan bangunan di luar peta area terdampak pada tiga desa, yakni Desa Besuki, Desa Kedungcangkring dan Desa Pejarakan. Di bagian lain, saat dihubungi usai persidangan, kuasa hukum pemohon uji materi Pasal 18 UU APBNP Tahun 2012, Taufik Budiman menilai bahwa semburan lumpur Lapindo merupakan peristiwa yang disebabkan oleh kelalaian perusahaan keluarga Bakrie dalam melakukan pengeboran. Dirinya menuturkan bahwa persoalan lumpur Lapindo bukan termasuk dalam persoalan yang disebabkan bencana alam. Menurut analisis Taufik, kerugian yang diakibatkan oleh semburan lumpur Lapindo seharusnya ditanggung secara personal oleh PT Lapindo Brantas yang dimiliki Aburizal Bakrie. “Lapindo atau keluarga Bakrie harus merogoh koceknya sendiri. Jadi, mereka tidak bisa menggunakan uang rakyat. Itu kan tidak adil jika uang rakyat Rp 1 triliun lebih dipakai untuk mensubsidi Lapindo atau Bakrie, sehingga tanggung jawab mereka dalam membayar ganti rugi untuk warga korban Lapindo diringankan,” tegasnya. Editor : Farid Assifa PT Bumi Resources Tbk mencatat kerugian bersih hingga sebesar US$ 107,16 juta, pada kuartal I-2012. Kerugian ini terutama disebabkan oleh anjloknya pos transaksi derivatif dan rugi selisih kurs. Ditambah beban usaha yang semakin melejit akibat kenaikan biaya eksplorasi. Namun, pengelola perusahaan milik pengusaha-politisi Aburizal Bakrie ini masih tetap optimistis kinerja perseroan akan membaik. “Kami optimistis bisa mendapatkan kontrak pembelian jangka panjang dengan harga bagus,” jelas Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi.(kontan/az) JAKARTA. Pergerakan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menarik untuk dicermati. Pada pukul 10.50, saham BUMI terjungkal 4% menjadi Rp 1.160. Ini merupakan penurunan pertama dalam lima hari terakhir. Aksi jual investor terhadap saham perusahaan tambang ini disinyalir berkaitan dengan kinerja perusahaan. Asal tahu saja, Bumi Resources membukukan rugi bersih mencapai US$ 100,36 juta di sepanjang kuartal pertama 2012. Padahal, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, BUMI berhasil mengantongi laba bersih sebesar SU$ 108,2 juta. http://investasi.kontan.co.id/news/bukukan-rugi-bersih-investor-melepas-saham-bumi/2012/07/05 Sumber : KONTAN.CO.ID PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membukukan rugi bersih pada Quarter 1 2012 sebesar 921,3 miliar. Hal ini kurang baik bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2011 yang berhasil mencetak keuntungan sebesar 1,07 triliun. Dengan demikian, rugi bersih per saham setara dengan Rp 45.35 per lembar. Berikut Laporan keuangan BUMI Quarter 1 2012 : Last Price 1,170 Share Out. 20.8 B Market Cap. 24304.9 B Balance Sheet Cash 2723.0 B Total Asset 67847.2 B S.T. Borrowing 1191.3 B L.T. Borrowing 37219.6 B Total Equity 6509.8 B Income Statement Revenue 9252.1 B Gross Profit 2949.7 B Operating Profit 1368.9 B Net. Profit -921.3 B EBITDA 1499.1 B Interest Expense 1319.0 B Ratio EPS -45.35 PER -25.80x BVPS 313.37 PBV 3.73x ROA -1.36% ROE -14.15% EV/EBITDA 40.02 Debt/Equity 5.9 Debt/TotalCap 0.86 Debt/EBITDA 25.62 EBITDA/IntExps 1.14 Sumber : IPS RESEARCH

Juni 26, 2014

PLIS D, mosok SELEB NGACO BANGET seh … :(

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 5:53 pm

ini posting gw soal GIGITAN SUAREZ n BAJU AHMAD DHANI YANG MELAMBANGKAN KEBANGKITAN KEKERASAN FISIK YANG BIADAB

Maret 27, 2014

bakriE OUT of bumi PLC … 230713_27032014

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:45 am

Bakrie Pisah dari Asia Resources, Rothschild Bilang Pemegang Saham dan Ditjen Pajak Rugi, Puji Samin Tan

Maftuh Ihsan   -   Rabu, 26 Maret 2014, 08:26 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Ada-ada saja kelakuan Nathaniel Rothschild. Pengusaha Inggris ini berkicau keras di media sosial twitter terkait perpisahaan grup Bakrie dari Asia Resources Mineral Plc.

Perang kicauan di twitter tak bisa dihindari karena salah satu anggota keluarga Bakrie yaitu Aga Bakrie dengan akun @agabakrie7 membalas Nat Rothschild yang memakai akun @NatRothschild1, pada Selasa (25/3) malam.

Setelah memuji Nirwan Bakrie dan menyinggung lumpur Lapindo, Nat malah menyindir Dirjen Pajak dan kembali menjelekkan saham grup Bakrie. Di akhir kicauannya, dia memuji Samin Tan yang telah memuluskan perpisahan grup Bakrie dari Asia Resources Mineral Plc.

Berikut kicauan keduanya:

@NatRothschild1: @agabakrie7 please explain why 2mt of coal being illegally mined from Arutmin every single month. Losers are shareholders and Indo tax dept (Tolong jelaskan mengapa 2 juta ton batu bara ditambang secara ilegal dari Arutmin setiap bulannya. Para pecundang adalah pemegang saham dan Dirjen Pajak Indonesia).

@agabakrie7: @NatRothschild1 since they are all public company listed in Indonesian exchange, please buy 1 shares and address all question to management (Karena mereka semua perusahaan publik yang terdaftar di PT Bursa Efek Indonesia, silakan membeli selembar saham dan alamatkan semua pertanyaan tersebut kepada manajemen).

@NatRothschild1: @agabakrie7 pls explain where the infrastructure assets of bumi Tbk disappeared to, and who benefitted from their recapitalization??? (Coba jelaskan mengapa aset infrastruktur dari BUMI lenyap, dan siapa yang diuntungkan dari proses rekapitalisasi???)

@NatRothschild1: @agabakrie7 all WORTHLESS public companies. Worth ZERO, NADA,NOTHING (Semuanya adalah perusahaan terbuka yang tak BERHARGA. Bernilai NOL, TAK PENTING, TIDAK ADA).

@agabakrie7: @NatRothschild1 anyways i would like  to say congrats on the separation, all the best for you as we indonesian say selamat malam pak Nat (Anyway, saya ingin mengucapkan selamat atas perpisahan tersebut, yang terbaik untuk Anda, karena kami orang Indonesia mengucapkan selamat malam pak Nat).

@NatRothschild1: @agabakrie7 long live Samin Tan (Panjang umur Samin Tan)

Editor : Nurbaiti

26. March 2014, 10:04:15 SGT
Asia Resource Minerals Resmi Cerai dengan Bakrie
wsj
LONDON—Asia Resource Minerals pada Selasa menyelesaikan perjanjian pecah kongsi senilai $501 juta dengan Bakrie Group. Hal ini mengakhiri drama panjang masalah tata kelola perusahaan yang dialamatkan kepada perusahaan tambang batubara Indonesia tersebut.

Dalam kesepakatan yang awalnya disetujui Desember lalu, Asia Resource Minerals—sebelumnya dikenal sebagai Bumi PLC—akan melepas 29,2% saham di PT Bumi Resources kepada Bakrie Group, kendaraan investasi salah satu taipan Indonesia. Kesepakatan itu sejak Januari lalu telah mengalami beberapa penundaan guna memungkinkan keluarga Bakrie menggalang dana.

Sebagai bagian dari transaksi, Direktur Komisaris Asia Resource Minerals, Samin Tan, telah melipatgandakan 23,8% sahamnya di perusahaan dengan membeli kepemilikan Bakrie Group.

Asia Resource Minerals dibentuk pada 2011 dengan nama Bumi, setelah keluarga Bakrie menggabungkan aset batubara milik mereka ke perusahaan cangkang yang dibentuk oleh Nathaniel Rothschild.

Perusahaan itu menjadi objek perpecahan di antara direksi. Bumi juga dirundung anjloknya harga batubara dan penyelidikan atas penyimpangan laporan keuangan pada aset batubara di Indonesia. Harga saham perusahaan terjun bebas hingga 80% sejak konflik internal mencapai puncak pada 2011.

Direktur utama Asia Resource Minerals, Nick von Schirnding, mengatakan bahwa perusahaan akan berfokus untuk memulihkan kembali aset tersisa, yakni 85% saham di PT Berau Coal Energy, dengan mengambil tindakan efisiensi biaya.

Para pemegang saham minoritas menyambut baik rampungnya kesepakatan. Namun, dua pemegang saham meminta perusahaan untuk menimbang rencana keluar dari Indonesia. Caranya dengan membagikan saham yang terdaftar di bursa Jakarta kepada pemegang saham atau menjual seluruh saham demi mendapatkan dana. Pilihan terakhir sedang dipertimbangkan perusahaan.

Asia Resource Minerals menyatakan berencana mengembalikan $400 juta kepada para pemegang saham sebagai dividen khusus dalam waktu yang belum ditentukan. Hampir sebagian dari angka itu akan mengalir ke kantung Samin Tan, yang akan meninggalkan posisinya sebagai direktur.

—Dengan kontribusi dari Ian Walker di London.
Fund Lokal Incar BUMI dan ENRG
Kamis, 27 Maret 2014 | 1:11
investor daily
Fund lokal dikabarkan agresif membeli saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Kabarnya, pembelian tersebut terkait pemisahan Bumi dengan Asia Resource Minerals (ARMS) sehingga Bakrie dapat kembali leluasa untuk mengontrol saham mereka. Hal ini dianggap momen yang tepat untuk Bakrie Group membeli dan meyakinkan investor lokal. (ely)
Hari ini, Grup Bakrie akan menuntaskan transaksi pembelian kembali (buyback) 29,2% saham
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari Asia Resource Minerals Plc (dahulu Bumi Plc). Grup Bakrie
siap mentransfer dana ke Asia Resource sebesar US$ 451 juta dari total transaksi US$ 501 juta.

Dengan seluruh pembayaran tersebut, Grup Bakrie dan Asia Resource resmi berpisah. Grup
Bakrie bisa kembali menguasai Bumi secara langsung, sedangkan Asia Resource hanya akan
memiliki PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).(investor/hla)

BUMI minta kuorum diturunkan menjadi 40%
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Kamis, 13 Maret 2014 | 18:33 WIB

kontan

JAKARTA. Manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) telah mengajukan permohonan pengurangan jumlah minimum kuorum untuk setiap agenda rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) ke tiga.
Nurhaida, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK mengatakan, pihaknya sudah menerima proposal tersebut. “Kami sudah terima (permohonan BUMI),” ujarnya kepada KONTAN.
Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) nomor IX.J.1 tentang Anggaran Dasar (AD), disebutkan, jika pada RUPS pertama dan ke dua tidak mencapai kuorum kehadiran pemegang saham, maka emiten bisa mengajukan keringanan.
Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengatakan, pihaknya telah mengajukan agenda yang sama seperti RUPSLB sebelumnya. “Ada perubahan minimum kuorum yaitu 40% untuk setiap agenda,” tuturnya.
Sekadar mengingatkan, BUMI kembali mengajukan tiga agenda pada RUPSLB ke tiga yang rencananya akan digelar 3 April 2014 mendatang. Agenda pertama, tersebut adalah persetujuan pengalihan saham-saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) milik BUMI.
Agenda ini erat kaitannya dengan rencana pelunasan utang perusahaan kepada China Investment Corporation (CIC).
Agenda ke dua, menjaminkan dan mengalihkan sebagian besar harta kekayaan perseroan. Terakhir, terkait dengan perubahan struktur modal saham dan perubahan serta penegasan seluruh anggaran dasar BUMI. Masing-masing agenda memerlukan kehadiran 50%, 65%, dan 75% dari total pemegang saham untuk memperoleh kuorum.
Berdasarkan POJK, kuorum untuk agenda persetujuan atas transaksi material adalah 50% pemegang saham harus hadir. Adapun, persetujuan harus diberikan sedikitnya lebih dari 50% dari jumlah pemegang saham yang hadir.
Jika pada RUPSLB pertama tidak terpenuhi, maka pada RUPSLB ke dua, sedikitnya 33,3% dari total kepemilikan saham. Selanjutnya, bagi perusahaan yang ingin mengalihkan kekayaan atau menjadikan jaminan utang kekayaan dengan nilai lebih 50% dari total kekayaan bersih dalam satu transaksi atau lebih, maka RUPSLB harus dihadiri minimal 75% dari total pemegang saham.
Agar lolos, suara setuju harus diperoleh 75% dari total peserta RUPSLB yang hadir. Jika kuorum kehadiran tidak terpenuhi, maka di RUPSLB ke dua mendapat keringanan menjadi 66,67%. Sedangkan persetujuan harus diperoleh dari 75% peserta yang hadir.
Sementara kuorum kehadiran dan suara setuju yang harus dicapai untuk perubahan AD, maka RUPSLB harus dihadiri sedikitnya 2/3 atau 66,67% dari total kepemilikan saham. Jika pada RUPSLB pertama gagal, maka di RUPSLB ke dua perseroan harus mendatangkan sedikitnya 60% dari total pemegang saham.
Adapun, suara setuju harus diberikan oleh lebih dari 50% peserta yang hadir. Nah, jika pada RUPSLB ke dua semua agenda belum memperoleh kuorum kehadiran, maka kuorum di RUPSLB ke tiga akan ditentukan oleh OJK atas permintaan perusahaan.
Editor: Asnil Bambani Amri
Tenggat Waktu Pemisahan BUMI Molor Lagi Jadi 21 Februari
Vega Aulia Pradipta – Selasa, 21 Januari 2014, 19:06 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Pemisahan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dengan Bumi Plc terus molor dari seharusnya 15 Januari menjadi 17 Januari, kemudian mundur ke 20 Januari dan kini tertunda lagi hingga 1 bulan ke depan yakni 21 Februari 2014.

Meski terus molor, Direktur Bumi Resources R.A. Sri Dharmayanti mengatakan perpanjangan waktu ini tinggal masalah administrasi saja.

“Kami masih negosiasikan, administrasi saja itu,” katanya kepada Bisnis ketika ditemui di sela-sela Indonesia Investor Forum 3, Selasa (21/1/2014).

Sebelumnya, Asia Resource Minerals Plc (dahulu Bumi Plc) dalam keterangan resminya pada 20 Januari 2014 menyatakan pihaknya telah menyepakati jadwal baru terkait penyelesaian transaksi pemisahan Bumi Resources dengan Bumi Plc.

“Tenggat waktu penyelesaian transaksi akan diundur selama 4 minggu menjadi 21 Februari 2014,” tulis pengumuman itu.

Sebagai bukti dari komitmennya, Grup Bakrie telah setuju dana US$50 juta yang saat ini berada di escrow account akan ditransfer ke Bumi Plc pada 23 Januari 2014.

Uang itu hanya akan dibayar kembali jika Bumi Plc melakukan pelanggaran material terhadap kewajibannya yang diatur dalam amandemen Perjanjian Jual Beli saham Bumi Resources (Sale and Purchase Agreement/SPA).

Sementara itu, pembiayaan dari RACL untuk transaksi pemisahan ini berlaku hingga 21 Februari 2014.

Di dalam SPA yang diamandemen, ada poin yang menyatakan tenggat waktu penyelesaian transaksi pemisahan memungkinkan untuk diperpanjang satu bulan, jika terjadi pengecualian.

Sayangnya, tidak jelas pengecualian apa yang dimaksud, sehingga tenggat waktu penyelesaian transaksi bisa diundur.
Lagi, Grup Bakrie Gagal Penuhi Janji
Selasa, 21 Januari 2014 | 10:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Setelah dua kali mundur dari jadwal semula, transaksi perceraian antara Grup Bakrie dan Asia Resources Minerals Plc (ARMS) kembali molor. Transaksi ini diperkirakan baru akan kelar bulan depan.

Dalam pernyataan resminya, manajemen ARMS mengumumkan, pihaknya telah menyepakati ketentuan baru terkait penyelesaian transaksi perpisahannya dengan Bakrie. “Batas waktu akan diperpanjang empat minggu, yaitu hingga 21 Februari 2014,” demikian bunyi pernyataan resmi Asia Resources, Senin (20/1/2014) waktu setempat.

Menyusul molornya transaksi, Bakrie sepakat untuk mentransfer dana yang ada di rekening escrow (escrow account) ke rekening ARMS. Hal ini akan dilakukan pada 23 Januari 2014.

Dalam ketentuan anyar ini, kedua belah pihak sepakat bahwa, dana akan dikembalikan jika Asia Resources melanggar perjanjian jual beli saham (share sale and purchase agreement) yang dinilai material.

Sekadar mengingatkan, pada perjanjian sebelumnya, ARMS baru bisa menarik dana escrow ketika transaksi selesai. Jumlahnya sebesar 50 juta dollar AS. Dana ini merupakan dana awal yang harus disetor Bakrie sebagai jaminan.

Jika transaksi batal, maka dana akan dikembalikan. Adapun, bank yang ditunjuk untuk menyimpan dana tersebut adalah Deutsche Bank AG, cabang Singapura.

Selain itu, disepakati pula, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tidak menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) sebelum transaksi pemisahan selesai. Termasuk, seperti RUPS yang digelar BUMI pada 20 Desember 2013 dan 10 Januari 2014.

Penundaan penyelesaian transaksi ini turut mempengaruhi perjanjian antara Samin Tan melalui Ravenwood Acquisition Company Limited (RACL) dan Raiffeisen Bank International AG (RBI).

“RACL dan RBI tengah dalam pembicaraan untuk memperpanjang ketersediaan pinjaman,” jelas manajemen ARMS.

Informasi saja, seharusnya transaksi perceraian ini sudah dilakukan pada 15 Januari 2014. Namun, tanpa menyebut alasannya, Grup Bakrie, kata manajemen ARMS tidak bisa menyelesaikan transaksi tepat waktu.

Akhirnya, transaksi ditunda hingga 17 Januari 2013. Namun, pada saat itu, transaksi belum juga bisa selesai dan kembali mundur hingga 20 Januari 2014. Ternyata, setelah diundur lagi, untuk yang ke tiga kalinya, Grup Bakrie masih juga belum mampu memenuhi janjinya. (Amailia Putri Hasniawati)
December 17, 2013 6:25 pm
Bumi to be erased from LSE as investors back split with Bakries
By James Wilson, Mining Correspondent
Bumi, the name that became synonymous with one of the UK’s most notorious boardroom tussles of recent years, is to be erased from the London Stock Exchange after the coal miner’s investors including Nat Rothschild approved a restructuring deal.
The approval raises the prospect of the newly named Asia Resource Minerals returning at least $400m to shareholders and choosing an independent chairman for a boardroom revamp. Bumi “looks forward to the opportunity to make a fresh start under a new name”, the group said on Tuesday.

Indonesia’s Bakrie family is splitting from the UK-listed miner, three years after bringing its coal mining assets into a cash shell set up by Mr Rothschild as part of a $3bn deal.
Relations between the Bakries and Mr Rothschild turned to acrimony amid a slumping share price and allegations of financial irregularities in Indonesia. Mr Rothschild failed in an attempt this year to unseat Bumi’s board while the miner’s shares were later suspended when it had to delay publishing its results.
The problems at Bumi contributed to concerns in London at the corporate governance standards of some companies that sought UK listings – particularly from the resources sector. The UK’s Financial Conduct Authority is investigating whether Bumi has breached listing and disclosure rules, the company has revealed. Bumi is also trying to recover $173m from a former executive.
Mr Rothschild decided last week to support a plan that will see Samin Tan, Bumi’s chairman, buy the Bakries’ stake in Bumi for $223m. At the same time the Bakries have agreed to pay $501m to buy Bumi’s stake in Bumi Resources, their coal mining company.
In return for supporting the deal Mr Rothschild is set to be able to nominate an independent director for Bumi’s board.
The transaction, approved by shareholders on Tuesday, will leave Mr Tan as Bumi’s largest shareholder with more than 47 per cent. It reduces the average cost of his investment in Bumi, since his first investment early in 2012 was made at a much higher price.

Mr Tan will step down as chairman and said he intended to be “a long-term holder” in the company.
The transaction now needs the Bakries to fund the deal next month. “We welcome this show of support from shareholders and look forward to completing the transaction as per the agreed terms,” said a spokesman for the Bakries.
Nick von Schirnding, chief executive, said: “Assuming a successful outcome, our priorities will then be to return at least $400m to shareholders, refresh the board, which will include the appointment of a new, independent chairman, and continue with our plans for profitable growth through cutting costs and optimising production.”
The renamed Bumi will still be substantially exposed to Indonesia. Its main asset is Berau, another Indonesian coal producer. Bumi said it would start trading as Asia Resource Minerals shortly.

Grup Bakrie Buyback Saham BUMI Rp1.002/Lembar

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Rabu, 18 Desember 2013 | 10:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Bila PT Bumi Resources Tbk (BUMI) keluar dari Bumi Plc maka akan melakukan buyback saham dengan cukup mahal sebesar Rp1.002 per lembar.

Menurut Samuel Sekuritas, berdasarkan perjanjian sebelumnya harga buyback saham BUMI dari ARMS disepakati pada Rp680/saham. Namun seiring dengan perubahan kondisi dan perubahan nilai tukar. “Kini kami melihat bahwa harga buyback 29,2% saham menjadi Rp1,002/saham dengan menggunakan kurs Rp12,125/US$ atau 178% premium dari harga penutupan kemarin,” demikian mengutip hasil riset Samuel Sekuritas, Rabu (18/12/2013). BUMI: HOLD; PBV’14E: 24.4x; EV/EBITDA’14E: 10.3x)

BUMI sudah mendapat persetujuan untuk berpisah dari Bumi Plc. Dalam RUPSLB pada tanggal 17 Desember 2013 menyetujui rencana perpisahan PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Bumi Plc juga akan mengganti nama menjadi Asia Resources Minerals Plc (ARMS).

Untuk itu, Grup Bakrie harus membayar US$501 juta untuk membeli (29,2%) seluruh saham Bumi Resources dari ARMS dan menjual 23,8% saham ARMS kepada Samin Tan senilai US$223 juta. Saham BUMI disarankan hold dengan catatan PBV’14E: 24.4x; EV/EBITDA’14E: 10.3x).
Resmi cerai, ini poin kesepakatan Bakrie-Bumi Plc
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Rabu, 18 Desember 2013 | 07:25 WIB

kontan
badai petir Jakarta 18/12/13

JAKARTA. Sesuai perkiraan, para pemegang saham Bumi Plc merestui semua agenda yang diajukan pada rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), Selasa (17/12) waktu London.

Terlebih, rival Bakrie, Nathaniel Rothschild melunak. Nick Von Shirniding, Chief Executive Bumi Plc mengaku ini adalah akhir dari proses panjang dan berliku. Setelah segala putusan RUPSLB terlaksana, pihaknya akan berkonsentrasi untuk mengembangkan bisnis batubara PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

“Penyelesaian perpisahan (dengan Grup Bakrie) akan dilakukan akhir Januari (2014),” ujarnya pada pernyataan resmi.

Setelah proses perceraian kelar, maka salah satu prioritas Bumi Plc adalah memberikan dividen kepada para pemegang saham. Nilainya mencapai US$ 400 juta.

Dividen tersebut adalah buntut dari penjualan saham BUMI milik Bumi Plc kepada Bakrie. Priorotas lainnya adalah menyusun jajaran direksi baru. Termasuk penunjukkan Chairman baru. Yang tak kalah penting, Bumi Plc akan berganti nama menjadi Asia Resources Minerals Plc.

Beberapa hal penting yang menjadi agenda RUPSLB Bumi Plc antara lain isi dokumen perpisahan Bumi Plc dengan Grup Bakrie dan kesepakatan Bumi dengan Samin Tan.

Grup Bakrie akan membeli saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang ada di Bumi Plc. Total nilainya mencapai

US$ 501 juta dan harus dibayar tunai.

Nah, sebesar US$ 223 juta dana pembayaran berasal dari penjualan saham Bumi ke Samin Tan. Sisanya, yakni US$ 278 juta dari kantong Bakrie sendiri.

Seperti diketahui, Samin Tan akan mengambilalih 23,8% saham Bumi Plc milik Bakrie lewat Ravenwood Acquisiton Company Limited (RACL). Setelah aksi ini, Samin Tan akan menguasai 47,6% saham Bumi Plc.

Menyusul adanya kepemilikan saham dengan hak suara dua pihak terafiliasi lebih dari 30%, maka Bumi membentuk perjanjian hubungan kerja (relationship agreement). Perjanjian ini dibuat antara Bumi dan RACL.

Poin-poin dalam relationship agreement berisi mengenai tanggungjawab pemegang saham utama (principal shareholders), yang antara lain meliputi;

1. Principal shareholder akan mendaulat para perwakilannya untuk menggunakan seluruh hak suaranya. Hal ini untuk memastikan bahwa sedikitnya separuh jajaran direksi diisi oleh jabatan Direktur Independen non-ekesekutif, termasuk posisi puncak perusahaan (chairman).

Misalnya, dalam jajaran direksi terdiri dari sembilan direktur. Maka, sedikitnya lima direktur merupakan direktur independen non-eksekutif. Atau, jika jabatan Chairman sudah diisi oleh seorang direktur independen non-eksekutif, maka empat direktur harus diisi posisi yang sama. Jika jajaran direksi ada 10 orang, maka direktur independen non-eksekutif harus memenuhi enam kursi direktur.

2. Pemegang saham prinsipal tidak akan membiarkan perwakilannya (yang duduk di jajaran manajemen) mempengaruhi para direksi lain untuk mengambil kebijakan yang tidak independen, terutama terkait bisnis para pemegang saham prinsipal.

3. Pemegang saham prinsipal menjamin para perwakilannya akan menggunakan hak sebagai pemegang saham untuk memastikan, perusahaan dikelola sesuai dengan tata kelola perusahaan yang berlaku di Inggris

4. Pemegang saham prinsipal bisa mengalihkan 23,5% atau lebih hak suaranya kepada RACL, Borneo Bumi Energi dan perwakilannya secara bersama-sama untuk mengambil keputusan dalam RUPS. Bisa juga dalam hal menunjuk dua direktur non-eksekutif, asal tidak menyalahi regulasi yang berlaku di negeri Ratu Elizabeth itu.

Terkait dengan relationship agreement itu, RACL sepakat untuk tidak mengalihkan hak atas sahamnya di Bumi, sekalipun kepada pihak terafiliasi.

Perjanjian ini akan berakhir jika Bumi tidak lagi menjadi emiten premium (premium listing) yang sahamnya tercatat di papan utama London Stock Exchange (LSE).

Relationship agreement ini dinilai akan lebih memberikan perlindungan lebih terhadap kepentingan pemegang saham independen. Pasalnya, tidak seperti Bakrie, Samin hanya bisa berwenang memilih direktur non-eksekutif.

Sedangkan Bakrie (ketika menguasai saham Bumi Plc) berhak menunjuk orang yang akan duduk di kursi Chairman, Chief Executive Officer (CEO) atau Chief Financial Officer (CFO). Ketiganya merupakan posisi strategis dalam perusahaan, terutama dalam hal pengambilan keputusan manajerial.
Editor: Barratut Taqiyyah
Grup Bakrie Keluar, Rothschild Kembali Masuk ke Bumi Plc
Oleh Agustina Melani
Posted: 16/12/2013 10:07

Liputan6.com, London : Manajemen Bumi Plc melakukan perjanjian dengan Nathaniel Rothschild untuk mencalonkan diri sebagai Direktur Independen Bumi Plc. Seiring rencana grup Bakrie yang akan keluar dari Bumi Plc, Rothschild telah menunjukkan keinginan untuk kembali masuk ke Bumi Plc.

Samin Tan Beri Bukti Pembiayaan, Bumi Plc Gelar RUPS 16 Desember
Ia pun mendukung langkah grup Bakrie untuk berpisah dari Bumi Plc. Dalam situs Bumi Plc, seperti ditulis Senin (16/12/2013), Rothschild mengatakan, prioritas pertamanya untuk melindungi kepentingan pemegang saham independen Bumi Plc. Pihaknya pun telah berdiskusi dengan Samin Tan dan Nick von Schirnding untuk bersatu sehingga memberikan nilai untuk semua pihak.

“Dengan pemikiran, cara terbaik yang saya dapat saat ini mempengaruhi Perseroan adalah untuk mencalonkan direktur dalam dewan independen agar dapat mewujudkan nilai. Saya telah melakukan diskusi dengan Samin Tan dan Nick Von Schirnding,” kata Rothschild.

Pencalonan direktur independen Rothschild ini menunggu evaluasi dari Komite Nominasi Perusahaan yang sesuai dengan kode tata kelola perusahaan Inggris.

Rencana ini juga memerlukan persetujuan pemegang saham pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang diselenggarakan pada 17 Desember 2013. Dalam RUPS juga akan meminta persetujuan pemisahan grup Bakrie dari Bumi Plc.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Bumi Plc, Nick von Schrinding mengatakan, dirinya sangat senang Nat Rothschild, pemegang saham pendiri telah memilih untuk mendukung pemisahan grup Bakrie.

“Kami berharap dapat bekerja sama dengan nominasi direktur independen. Perjanjian ini akan membantu kami memberikan nilai transaksi untuk kepentingan terbaik dari semua pemegang saham. Kami semua menerima direksi independen sebagai cara terbaik untuk memberikan nilai bagi pemegang saham,” kata Nick.

Adapun Rothschild memiliki 15% saham di Bumi Plc. Sementara itu, Samin Tan pemilik PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk memiliki 23,8%. Grup Bakrie memiliki 23,8% saham Bumi Plc.

Sebelumnya Samin Tan telah memperoleh pinjaman sebesar US$ 223 juta dari bank Austria Raiffesen Bank International AG. Pinjaman ini akan digunakan untuk membeli 23,8% saham Bumi Plc dari grup Bakrie.

Total transaksi grup Bakrie untuk mengambilalih saham PT Bumi Resources Tbk dari Bumi Plc senilai US$ 501 juta. Dana itu harus dibayar tunai. Grup Bakrie merogoh dana sebesar US$ 278 juta dan Samin Tan mengeluarkan kocek sekitar US$ 223 juta untuk mengambilalih saham tersebut. (Ahm)
26. November 2013, 9:44:21 SGT
Samin Tan Amankan Pinjaman untuk Bumi
OlehBen Otto
wsj
JAKARTA—Presiden Komisaris Bumi PLC Samin Tan pada Senin menyepakati pembiayaan dengan Raiffeisen Bank International. Pembiayaan berupa pinjaman $223 juta itu akan mengakhiri ketegangan panjang antara Bumi dan salah satu pemegang saham utamanya, Bakrie Group.

Samin pada Senin mengaku sudah mengantungi jutaan dolar pinjaman dari bank Austria itu, guna memborong saham Bakrie di Bumi—perusahaan yang terdaftar dalam bursa London.

Pinjaman tersebut, yang sempat ditangguhkan hingga revisi final pada akhir pekan lalu, kini “sudah disetujui komite kredit bank,” demikian keterangannya lewat surat elektronik.

Persetujuan pinjaman itu akan memudahkan pemegang saham Bumi menyepakati proses pemisahan korporasi antara Bumi dan Bakrie yang sudah berbulan-bulan lamanya.

“Saya yakin setiap orang ingin transaksi ini disetujui sebelum musim liburan akhir tahun. Saya sudah melaksanakan tanggung jawab saya,” kata Samin.

Berdasarkan permohonan pemisahan yang diajukan ke pemegang saham Bumi bulan ini, Bakrie Group akan menjual 24% saham perusahaan pertambangan itu ke Samin. Sesudah penjualan senilai $223 juta itu, Bakrie akan membeli kembali (buy back) 29% saham Bumi di Bumi Resources. Buy back saham Bumi Resources, pertambangan batu bara terbesar Indonesia, akan senilai $501 juta.

Dengan persetujuaan dari pemegang saham Bumi, Tan dapat menggandakan sahamnya di Bumi tanpa wajib mengajukan permohonan pengambilalihan, sesuai peraturan Inggris. Selain itu, pemegang saham juga akan memungut suara terkait permohonan pengubahan nama Bumi menjadi Asia Resource Minerals PLC.

Transaksi kompleks ini diharapkan berlangsung serempak. Namun, kesepakatan bisa saja gagal, jika Bakrie Group tak berhasil menyediakan dana tunai sebanyak $278 juta—utang ke Bumi sesudah menjual saham ke Tan.

Bakrie Group mesti membuktikan adanya dana itu pada masa berakhirnya kesepakatan, yang dijadwalkan dua pekan sesudah pemungutan suara pemegang saham. Bakrie Group sudah membayar jaminan $50 juta yang disimpan di pihak ketiga atau escrow.

Sebelumnya bulan ini, Bakrie Group menyatakan tidak akan membiarkan jaminan $50 juta itu menguap begitu saja. Mereka memperkirakan penundaan pemungutan suara tak bakal memengaruhi pemisahan dengan Bumi PLC.
Samin Tan ambil alih 23,8% saham Bakrie di Bumi
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Rabu, 20 November 2013 | 17:30 WIB

kontan

Direktur Bumi Plc, Samin Tan mengatakan telah memenangkan persetujuan untuk membeli saham perusahaan tambang milik Group Bakrie.
“Pendanaan untuk mengakuisisi saham Bakrie diperoleh dari pinjaman bank,” jelas Samin Tan, tanpa menyebut nama bank yang dimaksud.
Menurutnya, perjanjian pinjaman tersebut sudah disusun sesuai dengan sejumlah persyaratan komersial dan ditargetkan selesai Rabu 20 November 2013.
Tan setuju membeli saham Bakrie senilai 23,8% di Bumi dengan harga US$ 223 juta.
Saham Bumi diperdagangkan di tengah perseteruan antara Bakrie dan Nathaniel Rotschild, keturunan dari pemilik dinasti perbankan di Inggris.
MONDAY, 22 JULY, 2013 | 08:32 WIB
Rothschild Unhappy with Bumi Plc Deal

TEMPO.CO, Jakarta – Co-founder of London-listed coal company Bumi Plc., Nathaniel Rothschild, still objects to Bumi’s decision to sell 29.2 percent of its stake in Bumi Resources Tbk (BUMI). to the Bakrie Group for US$501 million in cash. Rothschild hopes that regulators would step in and “ensure the interests of independent shareholders are protected,” he said in a written statement received by Tempo on Saturday.

According to Rothschild, who owns a 14.8 percent stake in Bumi, the deal will allow Bakrie to maintain its domination over Bumi Plc. “No independent chairman in their right mind will want to be involved with a company, if this deal is allowed to stand, will continue to be controlled by the Bakrie Concert Party via Samin Tan.”

Bumi Plc said on Thursday that it had entered into a sale-and-purchase agreement to sell the company’s Bumi Resources stake to Long Haul Holdings, a Bakrie subsidiary, for $501 million. The current value of the stake, which Bumi Plc regards as an investment, is $314 million.

After the separation, the company is planning to return some of the cash to shareholders. The company will also overhaul its board of directors, including independent chairman Samin Tan.

With the agreement, Borneo Lumbung Energi Metal (IDX: BORN), a company controlled by Tan, will get the green light to purchase 23.8 percent of Bakrie’s shares in Bumi Plc. The acquisition was made by Ravenwood Plt. Ltd., an affiliate of BORN.

“The acquisition price was $223 million,” Borneo Lumbung Energi Metal President Director, Alexander Ramlie, said some time ago. Alexander said that the acquisition will be made once it is approved by the majority of BORN’s independent shareholders.

RIRIN AGUSTIA
Grup Bakrie Bayar Mahal Saham BUMI
Jumat, 19 Juli 2013 | 08:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Grup Bakrie harus merogoh kocek besar untuk memboyong kembali PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Tak kurang, 501 juta dollar AS untuk kebutuhan tersebut.
Bumi Plc, Kamis (18/7/2013), menyebutkan, Grup Bakrie melalui Long Haul Holdings Ltd telah meneken perjanjian jual beli bersyarat alias conditional sales and purchase agreement (CSPA) saham BUMI dengan anak Bumi Plc, Vallar Investment UK Limited. Isi CSPA itu adalah Vallar sepakat menjual 29,2 persen saham BUMI ke Long Haul dengan nilai 501 juta dollar AS.
Meski sudah meneken CSPA, transaksi penjualan saham BUMI milik Bumi Plc itu belum akan kelar dalam waktu dekat. Penyelesaian transaksi tersebut kemungkinan baru bisa dilakukan kuartal III atau kuartal IV 2013. Sebab, “RUPSLB Bumi Plc baru akan digelar akhir Agustus atau awal September mendatang,” kata Samin Tan, pemilik BORN kepada KONTAN, kemarin.
Hitung punya hitung, harga pembelian itu premium. Menurut Bumi Plc, nilai buku 29,2 persen saham BUMI per 31 Desember 2012 hanya 372 juta dollar AS. Bahkan saat ini nilai pasar 29,2 persen saham BUMI cuma US$ 314 juta.
Lihat saja. Dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia, kemarin, sebesar Rp 10.059 per dollar AS, Grup Bakrie sama saja membayar saham BUMI di harga Rp 831,38 per saham. Harga ini 56,86 persen di atas harga saham BUMI, kemarin, yang sebesar Rp 530 per saham.
Toh, Grup Bakrie menganggap kesepakatan ini fair. “Ini menjadi insentif pada pemegang saham Bumi Plc untuk menyetujui CSPA antara Bakrie dan Bumi Plc,” kata Chris Fong, Juru Bicara Grup Bakrie kepada KONTAN, kemarin.
Lantas dari mana dana untuk aksi pembelian ini? Chris Fong mengklaim ada dua sumber dana penyokong Bakrie untuk memboyong 19,2 persen saham BUMI. Bakrie bakal menutupi dari penjualan 23,8 persen saham Bumi Plc ke Ravenwood Pte Ltd, kendaraan PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN), senilai 223 juta dollar AS. “Sisanya sebesar 278 juta dollar AS dari kas internal,” terang Fong.
Pemegang saham Bumi Plc, Nathaniel Rothschild meradang atas kesepakatan Bumi Plc dengan Grup Bakrie tersebut. Ia menilai, skema itu tetap saja menempatkan Bumi Plc di bawah kendali kolega Grup Bakrie yakni Samin Tan. Dus, ia meminta regulator mengusut masalah ini dan menjamin kepentingan investor minoritas Bumi Plc. (Veri Nurhansyah Tragistina, Yuwono Triatmodjo)
Sumber : KONTAN
Editor : Erlangga Djumena
JUM’AT, 12 JULI 2013 | 19:53 WIB
Samin Tan Resmi Pisah dengan Bakrie

TEMPO.CO, Jakarta – Pengusaha nasional Samin Tan resmi berpisah dengan Grup Bakrie dalam kepemilikan saham bersama di Bumi Plc, perusahaan tambang yang tercatat di Bursa London, Inggris. Samin, melalui perusahaannya PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN), dan Grup Bakrie melalui PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), serta Long Haul Holding Ltd masing-masing memiliki 23,8 persen saham di Bumi Plc, atau total 47,6 persen.

Pada 11 Juli 2013, Borneo Lumbung telah mencapai kesepakatan dengan Bakrie & Brothers dan Long Haul untuk merestrukturisasi kepemilikan saham di Bumi Plc tersebut. Setelah dilakukan pemisahan, kemudian Borneo Lumbung melalui Ravenwood Pte. Ltd akan mengakuisisi 23,8 persen saham Grup Bakrie di Bumi Plc senilai US$ 223 juta (Rp 2,2 triliun).

“Akuisisi ini akan dilakukan jika telah mendapatkan persetujuan oleh mayoritas pemegang saham independen Borneo Lumbung,” ujar Presiden Direktur Borneo Lumbung, Alexander Ramlie, dalam keterangan tertulisnya kepada PT Bursa Efek Indonesia, 11 Juli 2013. Jumlah dana yang dikeluarkan setara dengan 2,60 pound sterling untuk setiap saham Bumi PLC.

Pada 2011, Borneo Lumbung telah membeli dua perusahaan Bakrie, yakni Bumi Borneo Resources Pte Ltd dan Borneo Bumi Energi & Metal Pte Ltd. Keduanya secara tidak langsung memiliki 23,8 persen saham di Bumi Plc. Setelah transaksi akuisisi selesai dilakukan, Borneo akan menjadi pemegang saham terbesar dan pengendali di Bumi Plc, yakni 47,6 persen.

Restrukturisasi kepemilikan saham ini dilakukan Borneo Lumbung dengan mentransfer kepemilikan sahamnya di Bumi Borneo kepada Grup Bakrie. Kemudian Grup Bakrie mentransfer kepemilikannya di Borneo Bumi kepada Borneo Lumbung. Bumi Borneo mentransfer sekitar 3 juta hak suara yang ditangguhkan di Bumi Plc ke Borneo Bumi.

“Namun, restrukturisasi ini baru bisa berlanjut apabila pemegang saham independen Bumi Plc menyetujui penjualan saham PT Bumi Resources Tbk kepada Grup Bakrie sebesar 29,2 persen,” ujar Alexander.

Setelah semua proses itu, Borneo Lumbung dapat menguasai 85 persen saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), yang juga merupakan anak usaha Bumi Plc. Jika transaksi ini berhasil dilakukan, hal itu akan menjawab teka-teki siapa yang akan memiliki saham Grup Bakrie di Bumi Plc setelah rencana tukar guling saham Bumi Resources terlaksana.

Pada 7 Juli lalu, Reuters melaporkan bahwa bekas Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra dikabarkan tertarik membeli 23,8 persen saham Grup Bakrie di Bumi Plc. Harian Inggris, The Sunday Times, melaporkan Thaksin telah menyiapkan sejumlah dana untuk membeli saham tersebut. Namun belum jelas berapa nilai akuisisi yang disepakati oleh Thaksin.

Manajemen Bumi Plc di London, pada 10 Juli, mengatakan proses negosiasi pemisahan Grup Bakrie dari Bumi Plc sedang dalam tahap finalisasi. Bumi Plc akan mendapat uang tunai US$ 500 juta atas transaksi tersebut. “Grup Bakrie akan membeli 29,2 pelan saham kami di Bumi Resources dengan nilai lebih dari US$ 500 juta yang akan dibayar secara tunai,” ujar manajemen Bumi Plc dalam keterangan tertulisnya.

Manajemen Bumi Plc sudah mengetahui diskusi yang berlangsung antara Grup Bakrie dan Grup Borneo. Namun manajemen Bumi Plc tidak ikut campur dalam pembicaraan tersebut. Terkait dengan potensi terjadinya konflik kepentingan, para direktur Bumi Plc yang terafiliasi dengan Borneo Lumbung sudah menyatakan mereka secara sukarela akan mengundurkan diri.

RIRIN AGUSTIA | AMRI MAHBUB
Ingin ‘Cerai’ dengan Grup Bakrie, Borneo Bayar Rp 2,1 Triliun
Angga Aliya – detikfinance
Jumat, 12/07/2013 11:15 WIB

Jakarta – PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN) akan memisahkan diri dari Grup Bakrie dengan membeli sisa kepemilikan saham di perusahaan patungan mereka, Bumi PLC. Grup Bakrie akan keluar selamanya dari Bumi PLC.

Seperti dikutip dari keterbukaan informasi Borneo, Jumat (12/7/2013), perusahaan afiliasi Borneo, Ravenwood Pte. Ltd. akan mengakuisisi sisa kepemilikan 23,8% saham Bakrie di Bumi PLC. Nilai transaksi pembelian saham ini mencapai 223 juta (Rp 2,1 triliun).

Jumlah US$ 223 juta tersebut setara dengan £2,60 untuk setiap lembar saham Bumi PLC. Rencana akuisisi ini akan terlaksana setelah disetujui oleh mayoritas pemegang saham independen BORN.

Seperti diketahui, Bumi PLC awalnya merupakan perusahaan patungan antara Grup Bakrie dengan taipan asal Inggris, Nathaniel Rothschild. Namun seiring berjalan waktu, hubungan keduanya semakin merenggang.

Muncul kabar bahwa Rothschild ingin menguasai aset-aset Bumi PLC yang kebanyakan berada di Indonesia, seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Tbk (BRAU).

Rothschild pun menuduh Grup Bakrie gagal bayar utang. Berita itu membuat harga saham Bumi PLC di Bursa London anjlok sehingga para pemegang saham harus menyetor modal tambahan supaya tidak default.

Rothschild berharap Grup Bakrie tidak punya dana untuk tambahan modal, dan pada saat itu lah investor kawakan dari Inggris itu akan menguasai seluruh saham Bumi PLC. Namun, Grup Bakrie ternyata mengajak Grup Borneo untuk menambah kepemilikan saham.

Pemilik Grup Borneo, Samin Tan, masuk sebagai investor di Bumi PLC pada Januari 2012 lalu. Ia mengucurkan dana sekitar US$ 1 miliar untuk mendapatkan setengah dari 29,9% saham Bumi PLC milik Grup Bakrie.

Setelah itu hubungan antara Bakrie-Rothschild terus memburuk sampai akhirnya mereka bercerai. Drama antara Bakrie-Rothschild selengkapnya di sini dan di sini.

(ang/dnl)
BORN Beli Saham Bumi Plc Milik Bakrie US$223Jt

Oleh:
pasarmodal – Kamis, 11 Juli 2013 | 15:30 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN) telah menandatangani perjanjian dengan Long Haul Holdings dan PT Bakrie&Brothers Tbk (BNBR) melakukan restrukrisasi untuk memisahkan kepemilikan bersama mereka sekitar 47,6% dari Bumi Plc.

Untuk menguasai 47,6% saham Bumi Plc, maka PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk melakukan restrukrisasi dan akuisisi. Melalui perusahaan afiliasi PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk yaitu Ravenwood Pte Ltd menandatangani perjanjian untuk membeli saham grup Bakrie di Bumi Plc sekitar US$223 juta.

Manajemen PT Borneo Lumbung Energi Tbk akan meningkatkan saham di Bumi Plc menjadi 47,6% melalui akuisisi saham Ravenwood. Demikian seperti disampaikan manajemen PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk, dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (11/7/2013).

Transaksi ini dinilai sebagai kesempatan untuk mengurangi rata-rata biaya dalam mengakuisisi Bumi Plc dengan investasi menjadi 6,75 poundsterling per saham. Transaksi ini juga dapat mengkonsolidasikan PT Borneo Bumi Energi Tbk dengan Bumi Plc. Dengan langkah tersebut maka perseroan dapat memiliki sekitar 85% di PT Berau Coal Energy Tbk. Selain itu, manajemen PT Borneo Lumbung Energi Tbk akan melanjutkan untuk mengurangi utang dengan berbagai macam inisiatif.

Pada 24 Juni 2013 lalu, perseroan telah membayar voluntary prepayment sekitar US$50 juta yang berhubungan dengan fasilitas pinjaman perseroan sektiar US$1 miliar. Langkah lain mengurangi utang yang dilakukan perseroan juga dari distribusi dividen oleh Bumi Plc. Perseroan juga masih melanjutkan diskusi untuk menjual saham PT Asmin Koalindo Tuhup sekitar 20% kepada investor. Penjualan sekitar 20% saham PT Asmin Koalindo Tuhup ini diharapkan dapat mengurangi utang perseroan.

Sesuai kondisi pasar, perseroan juga akan mempertimbangkan menerbitkan obligasi untuk merefinancing utang yang ada. Hal itu dilakukan apabila restrukrisasi dan akuisisi telah lengkap.

Saat ini, manajemen PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk dan grup Bakrie masing-masing secara tidak langsung memiliki saham 23,8% dalam Bumi Plc. BORN dan grup Bakrie bergabung memiliki saham Bumi Plc lewat dua special purpose vehicle (SPV). Kedua SPV itu Borneo Bumi Energi Pte Ltd dan Bumi Borneo Resources Pte Ltd. Demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (11/7/2013).

Borneo Bumi Energi Pte Ltd saat ini memegang 54.154.285 saham voting di Bumi Plc dan Bumi Borneo Resources Pte Ltd saat ini memegang 60.442.782 saham voting ditangguhkan di Bumi Plc. Adapun restukrisasi tersebut akan memerlukan antara lain PT Borneo Lumbung Energi Tbk mentransfer kepemilikannya di Bumi Borneo Resources Pte Ltd dengan grup Bakrie.

Grup Bakrie akan mentransfer kepemilikannya di Borneo Bumi Energi and Metal Pte Ltd untuk BORN, dan Bumi Borneo Resources akan mentransfer sekitar 3 juta hak suara yang ditangguhkan di Bumi Plc ke Borneo Bumi Energi and Metal Pte Ltd. Restrukrisasi ini juga akan terjadi dengan syarat pemegang saham independen Bumi Plc menyetujui penjualan saham Bumi di Bumi Plc kepada grup Bakrie. Saat ini Bumi Plc memiliki sekitar 29,2% saham PT Bumi Resources Tbk dan sekitar 85% saham PT Berau Coal Energy Tbk. [mel]
Samin dan Bakrie akhirnya berpisah
Oleh Yuwono Triatmodjo, Agustinus Beo Da Costa, Veri Nurhansyah Tragistina – Kamis, 11 Juli 2013 | 08:00 WIB

kontan

JAKARTA. Skema perpisahan Grup Bakrie dengan Samin Tan di Bumi Plc akhirnya kian benderang. Samin Tan mengatakan akan membeli 23,8% saham Bumi Plc milik Grup Bakrie. Perpisahan ini adalah prasyarat agar proposal Grup Bakrie untuk berpisah dengan Bumi Plc bisa dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bumi Plc.
Selama ini, Grup Bakrie (PT Bakrie & Brothers Tbk dan Long Haul Holding) tergabung bersama PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) memiliki 47,6% saham Bumi Plc lewat dua special purpose vehicle (SPV) sejak akhir 2011. Kedua SPV itu adalah Borneo Bumi Energi & Metal Pte Ltd (BBEM) dan Bumi Borneo Resources Pte. Ltd (BER). Grup Bakrie memiliki 51% saham BER dan 49% saham BBEM. Sebaliknya, BORN mengapit 51% saham BBEM dan 49% saham BER.
Masing-masing pihak lantas menguasai 23,8% saham Bumi Plc, lewat dua SPV itu. Apa yang dilakukan Samin Tan sebagai pemilik BORN, menjadi jalan keluar bagi Grup Bakrie untuk hengkang dari Bumi Plc.
Samin Tan akan membeli 23,8% saham Bumi Plc milik Grup Bakrie. “Saya akan bayar,” terang Samin dalam pesan singkatnya kepada KONTAN, kemarin (10/7). Samin bilang, dengan transaksi itu, dirinya kelak akan menguasai 47,6% saham Bumi Plc.
Di saat yang sama, Bumi Plc di situsnya menyebut transaksi tersebut adalah transaksi pemisahan (separation transaction) antara Borneo dan Grup Bakrie. Tapi, Bumi Plc tak menyebut nilai transaksi itu dan hanya mengatakan kemungkinan Grup Bakrie akan memboyong kembali 29,2% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dalam bentuk tunai, senilai kurang lebih US$ 500 juta.
Jumlah itu terdiri dari US$ 278 juta untuk membayar 18,9% saham BUMI milik Bumi Plc. Sisanya, untuk menebus 10,3% saham BUMI yang semula akan ditukar dengan 23,8% saham Bumi Plc.
Direktur Eksekutif Non Independen Bumi Plc, Amir Sambodo membenarkan kabar ini. “Sudah disampaikan (rencana itu) kepada board Bumi Plc. Pak Samin akan memakai Borneo Group yang merupakan afiliasi BORN,” terang Amir kepada KONTAN.
Nathaniel Rothschild menyebut, transaksi itu melanggar peraturan pengambil alihan perusahaan.
Pemisahan Bumi Plc-Bakrie Masih Sesuai Jalur

Oleh:
pasarmodal – Rabu, 10 Juli 2013 | 17:48 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Manajemen Bumi Plc menyatakan proses pemisahan perusahaan dari Bakrie Group dan PT Bumi Resources Tbk tetap dilanjutkan sesuai rencana yang disepakati pada Oktober 2012.

Demikian disampaikan Bumi Plc dalam keterangan tertulisnya, Rabu (10/7/2013). “Proses pemisahan itu tengah difinalisasi yakni Bakrie Group akan membeli saham Bumi Plc di Bumi Resources senilai US$500 juta tunai,” demikian bunyi keterangan tersebut.

Pernyataan Bumi Plc itu disampaikan menanggapi pemberitaan media terkait pemisahaan Bumi Plc dari Bakrie Group dan Bumi Resources Tbk. Pemberitaan itu antara lain menyebutkan bahwa transaksi ini akan dilakukan dengan cara Bakrie Group mengakuisisi 29,2% saham Bumi Plc di Bumi Resources secara tunai dan Bakrie Gorup akan menjual saham di Bumi Plc kepada perusahaan afiliasi PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (Borneo Group).

Sebelumnya, beredar pula pemberitaan yang menyangkutpautkan mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra. Reuters misalnya menulis bahwa Thaksin berminat membeli 23,8% saham Grup Bakrie di di Bumi Plc. Bahkan, The Sunday Times menyebutkan Thaksin bekerjasama dengan UBS untuk memuluskan rencana transaksi itu.

Dalam keterangan pers tersebut, Bumi Plc menyatakan bahwa pihaknya tahu bahwa Bakrie Group tengah bernegosiasi dengan Borneo Group terkait dengan pembelian saham Bakrie oleh Borneo. Namun, Bumi Plc menegaskan tidak terlibat dalam pembicaraan itu, melainkan hanya diberikan informasi bahwa transaksi ini akan bagian dari rencana Bumi menjual sahamnya di Bumi Resources kepada Bakrie.

Bumi diberitahu bahwa jika Borneo Group akan mengakuisisi saham Bakrie Group di Bumi Plc, maka akusisi itu akan menjadi prasyarat bagi pemegang saham Bumi Plc untuk menyetujui ketentuan penawaran umum sesuai ketentuan yang berlaku.

Sebelumnya, Bumi Plc mengumumkan bahwa penandatanganan Heads of Terms Agreement mengenai rencana pemisahan dari Grup Bakrie dan Bumi Resources telah ditandatangani pada 12 Februari 2013. Dalam syarat-syarat perjanjian itu di antaranya disebutkan bahwa Bumi Plc dapat mendivestasikan seluruh kepemilikan sahamnya di Bumi Resources dan memisahkan Grup Bakrie dari perseroan. [tjs]
Bumi Plc Buka Lowongan Direktur Keuangan
Vega Aulia Pradipta – Rabu, 17 April 2013, 20:06 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA—Bumi Plc, induk usaha PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) yang tercatat di bursa efek London, kini membuka lowongan Direktur Keuangan.

Seperti dikutip dari keterangan resmi Bumi Plc, Rabu (17/4/2013), CEO Bumi Plc Nick von Schirnding mengatakan pencarian Direktur Keuangan yang baru ini sejalan dengan niat perusahaan untuk melakukan restrukturisasi manajemen.

“Pengumuman pencarian direktur keuangan yang baru ini konsisten dengan komitmen kami untuk merestrukturisasi manajemen,” ujarnya, Rabu (17/4/2013).

Direktur Keuangan Bumi Plc saat ini, Scott Merrillees difokuskan pada jabatan lainnya sebagai Direktur Keuangan di Berau. Scott juga tidak akan mencalonkan diri lagi sebagai Direktur Keuangan dalam RUPS Tahunan Bumi Plc pada 26 Juni mendatang.

“Pada saat RUPS Tahunan nanti, Scott akan mengundurkan diri,” ujar Nick.

Scott terpilih menjadi Direktur Keuangan Bumi Plc pada 26 Maret 2012, menggantikan Andrew Beckham. Sebelumnya, Scott pernah menjadi Direktur Keuangan dan Hubungan Investor PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN).

Dia juga pernah menjabat sebagai Head of Natural Resources South East Asia ANZ Bank, Presiden Direktur BNP Paribas Securities Indonesia, Direktur Riset UBS Securities Ltd di Indonesia, dan Direktur Riset Morgan Grenfell di Indonesia.

Editor : Fajar Sidik
Perceraian Bakrie dan Bumi Resources Molor Lagi, Ada Apa?
Vega Aulia Pradipta – Jumat, 28 Juni 2013, 06:38 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA—Pemisahan Grup Bakrie dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari Bumi Plc lagi-lagi kembali molor, meski RUPS Tahunan Bumi Plc telah selesai digelar.

RUPS Tahunan yang digelar Rabu (26/6/2013) waktu London itu merupakan tenggat waktu bagi Grup Bakrie untuk membayar US$278 juta tunai kepada Bumi Plc untuk menebus Bumi Resources, yang sebelumnya sudah diperpanjang dari semula 30 Mei 2013.

CEO Bumi Plc Nick von Schirnding mengatakan pemisahan dengan Grup Bakrie dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) cukup kompleks. Menurutnya, perseroan dihadapkan dengan situasi yang sulit karena proses ini melibatkan sejumlah entitas, termasuk regulator yang relevan.

“Saya yakin kami mendekati akhir dari proses pemisahan ini. Grup Bakrie juga sudah memberitahu mereka sudah memiliki uang tunai yang sebesar US$278 juta, termasuk US$50 juta di akun escrow,” ujar Nick seperti dikutip dari keterangan resmi di website-nya, Kamis (27/6).

Dia mengatakan faktor lain yang membuat pemisahan ini semakin molor adalah ditemukannya pengeluaran hingga US$201 juta di PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) selama 2011—2012 yang ternyata tidak memiliki tujuan bisnis yang jelas.

“Tidak akan ada pemisahan sebelum pengeluaran tersebut dikembalikan,” tegas Nick.

Namun, Nick menambahkan, perseroan telah menandatangani perjanjian penyelesaian dengan mantan Presiden Direktur Berau Rosan Roeslani, yang mengambil tanggung jawab untuk memastikan sebagian besar dari pengeluaran tersebut akan dikembalikan.

Menurutnya, Rosan sudah setuju untuk mengembalikan atau mengganti pengeluaran Berau Energy yang tidak jelas senilai US$201 juta itu dengan kombinasi aset dan dana tunai US$173 juta. “Kami akan meletakkan hal ini dalam voting, bersamaan dengan transaksi pemisahan dengan Bakrie.”

Amir Sambodo, Direktur Independen NonEksekutif Bumi Plc menambahkan pemisahan antara Grup Bakrie dengan Bumi Plc tetap direncanakan untuk dijalan
kan. “Nanti akan diajukan dalam RUPS Luar Biasa yang akan diagendakan kemudian,” ujarnya, Kamis (27/6/2013).
BEI Pertanyakan kepemilikan Saham BUMI di BRMS
Jumat, 8 Maret 2013 | 15:56
investor daily

JAKARTA- Bursa Efek Indonesia mempertanyakan kepemilikan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

“Kalau ada perubahan kepemilikan, sahamnya pindah ke mana. Hal itu ada dua kemungkinan, dan yang tahu hanya kedua perusahaan itu,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen saat ditemui wartawan di Jakarta, Jumat.

Ia mengemukakan, kemungkinan pertama tidak ada perubahan pengendali. Kedua, BUMI mengalihkan saham BRMS ke pihak lain yang artinya mengurangi aset BUMI.

Hoesen menambahkan dugaan yang ada di pasar, BUMI menggadaikan saham (repo) BRMS. Pihak Bursa akan menguji apakah terjadi Repo atau tidak. “Kami menguji apakah benar repo atau tidak, jual putus atau colaterall,” kata dia.

Hoesen mengatakan jika terjadi Repo dan berlangsung antar investor, transaksi itu tidak perlu dilaporkan. Namun jika Repo dilakukan melalui broker maka wajib dilaporkan. “Kalau sudah masuk level investor, Bursa tidak dapat berbuat apa-apa,” kata dia.

Hoesen mengatakan sejauh ini pihak BUMI dan BRMS menyatakan tidak ada perubahan kepemilikan. Namun dari laporan Biro Administrasi Efek Sinartama Gunita per 22 Februari 2013, BUMI hanya memiliki 11,55 miliar lembar saham atau setara dengan 45,19% saham BRMS.

Sementara, dalam laporan keuangan PT Bumi Resources periode kuartal III 2012, kepemilikan saham di BRMS tercatat sebesar 87,09%.

Selain BUMI, pemegang saham dengan kepemilikan di atas lima persen di BRMS adalah perusahaan afiliasi dengan Grup Bakrie, Long Haul Indonesia. (ant/gor)
Bumi Plc sudah terima US$ 50 juta dari Bakrie
Oleh Dyah Megasari – Kamis, 07 Maret 2013 | 20:39 WIB

kontan

JAKARTA. Bumi Plc meyakini proses pembelian kembali (buy back) saham atas saham BUMI akan segera tuntas. Bumi Plc mengaku sudah mendapatkan dana sebesar US$ 50 juta dari Bakrie.

CEO Bumi Plc Nick Von Schirnding yang menjelaskan, uang muka pemisahan grup Bakrie dengan Bumi Plc tersebut telah di-escrow account melalui JP Morgan Amerika Serikat (AS). Pihaknya akan memulai finalisasi kesepakatan pemisahan grup Bakrie dengan Bumi Plc.

“Ada kemajuan nanti dalam waktu beberapa minggu. Kami akan mendapatkan tahap akhir kesepakatan dan melanjutkan negosiasi,” kata Nick usai acara RUPSLB PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), Kamis (7/3).

Menurut dia, transaksi grup Bakrie menukar 23,8% saham Bumi Plc miliknya dengan 10,3% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) milik Bumi Plc dengan transaksi sekitar US$ 278 juta tidak menjadi masalah bagi direksi Bumi Plc.

Hal ini karena menurutnya dalam agenda mengenai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPSB) Bumi Plc pada April mendatang untuk menyetujui pemisahan Bumi Plc dengan grup Bakrie, hampir mayoritas pemegang saham akan menyetujui untuk berpisah dengan grup Bakrie.

Pihaknya juga mengakui akan mengembangkan PT Berau Coal Energy Tbk. Nick mengatakan, PT Berau Coal Energy menjadi salah satu kunci perusahaannya. “Kami fokus kepada anak usaha kami. Banyak pekerjaan yang harus dilakukan, melanjutkan efisiensi operasional dan ekspansi,” tutur Nick. (TribunNews)
KISRUH SAHAM BUMI
BUMI ditinggalkan 10 top eksekutif
Oleh Issa Almawadi – Kamis, 07 Maret 2013 | 16:41 WIB

kontan

JAKARTA. Dua perusahaan pertambangan milik Grup Bakrie kembali ditinggalkan para petingginya. Jika sebelumnya, 3 jajaran direksi meninggalkan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), kali ini 10 orang dari jajaran manajemen yang terdiri dari 7 komisaris dan 3 direksi mengangkat kaki dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Dalam keterangan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (7/3), Direktur sekaligus Corporate Secretary BUMI, Dileep Sirvastava menjelaskan, BUMI telah menerima surat pengunduran diri dari 10 jajaran manajemen.

Satu nama yang disebut adalah Samin Tan yang berposisi sebagai Presiden Komisaris. Samin juga baru saja mengajukan pengunduran diri dari jabatan di BRMS sebagai Presiden Direktur.

Selain Samin, ada beberapa nama yang juga menyatakan mundur dari perusahaan batubara Grup Bakrie dan Vallar Invesment atau yang lebih dikenal dengan nama Bumi Plc. Berikut nama-nama yang dimaksud:

1. Pengunduran diri Alexander Ramlie sebagai Komisaris

2. Pengunduran diri Scott Merrillees sebagai Komisaris

3. Pengunduran diri Edison Mawikere sebagai Komisaris

4. Pengunduran diri Veronica Tampubolon sebagai Komisaris

5. Pengunduran diri Eva Novita Tarigan sebagai Komisaris

6. Pengunduran diri Nenie Afwani sebagai Komisaris

7. Pengunduran diri John S.A Slack sebagai Wakil Presiden Direktur

8. Pengunduran diri Stefan White sebagai Direktur

9. Pengunduran diri Kenneth Raymond Allan sebagai Direktur

Dileep menjelaskan, sebagai proses lebih lanjut dari pengunduran diri anggota dewan komisaris dan direksi, BUMI akan melaksanakan proses sebagaimana yang diatur dalam Anggaran Dasar BUMI dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Rothschild: Harusnya Samin Tan yang Mengundurkan Diri
Rizkie Fauzian – Okezone
Selasa, 5 Maret 2013 10:43 wib

JAKARTA – Nat Rothschild menyatakan, seharusnya sejumlah manajemen Bumi Plc lainnya mengundurkan diri, termasuk chairman Bumi Plc Samin Tan. Pernyataan Rothschild ini terkait pengunduran diri dua direksi Bumi Plc, yakni Philip Yeo dan Sony Harsono.

“Dewan ini memerlukan perubahan dari dominasi Samin Tan dan Bakrie. Samin Tan juga didukung oleh Alex Ramlie, Scott Merreilles, dan Graham Holdaway. Mereka membentuk blok voting di dewan Bumi Plc,” kata Rothschild kepada Okezone melalui pesan tertulisnya, Selasa (5/3/2013).

Selain itu, Rothschild juga mempertanyakan status direktrur independen dari Graham Holdaway. Rothschild pun mendesak Holdaway untuk mundur. “Dengan menyesal, kami juga juga mempertanyakan independensi dari Amir Sambodo itu,” tegas dia.

Sebelumnya, Bumi Plc menyatakan jika Philip Yeo dan Sony Harsono telah mengajukan surat pengunduran diri sebagai direktur.

Pengunduran diri ini dilakukan dua orang tersebut lantaran adanya tekanan dari sejumlah pihak. Pengunduran diri tersebut akan sah pada 15 Maret 2013 mendatang.

“Manajemen mengucapkan terima kasih kepada Philip Yeo dan Sony Harsono atas kontribusinya yang telah diberikan sebagai direktur independen non eksekutif di perseroan,” jelas Bumi Plc.

Dengan demikian, maka susunan manajemen perseroan akan menjadi seperti di bawah ini.

Samin Tan, Chairman.
Nick von Schirnding, Chief Executive Officer & Executive Director.
Scott Merrillees, Chief Financial Officer & Executive Director.
Alexander Ramlie, Non-Executive Director.
Sir Julian Horn-Smith, Deputy Chairman & Senior Independent Director.
Lord Renwick, Independent Non-Executive Director.
Steven Shapiro, Independent Non-Executive Director.
Sir Graham Hearne, CBE, Independent Non-Executive Director.
Amir Sambodo, Independent Non-Executive Director.
Graham Holdaway, Independent Non-Executive Director.
Sir Richard Gozney.
Paul Vickers, General Counsel and Company Secretary.
(wdi)
Nat: Prematur berasumsi BUMI keluar dari Bumi Plc
Oleh Agustinus Beo Da Costa – Sabtu, 02 Maret 2013 | 06:03 WIB

kontan

JAKARTA. Jumlah kepemilikan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) diam-diam menyusut. Berdasarkan laporan Biro Administrasi Efek Sinartama Gunita per 22 Februari 2013, BUMI hanya memiliki 11,55 miliar lembar saham atau setara dengan 45,19% saham BRMS.

Sementara Long Haul Indonesia mengantongi 12,8% atau 3,27 miliar lembar saham BRMS. Dengan begitu, total kepemilikan saham BRMS yang jumlahnya di atas 5% mencapai 57,99%.
Penelusuran data yang dilakukan KONTAN memperlihatkan kepemilikan BUMI pada BRMS terus menyusut sejak Agustus 2012. Per 16 Agustus 2012, kepemilikan BUMI pada BRMS berjumlah 74,04% dan beberapa kali mengalami perubahan.

Misalnya pada laporan registrasi bulan kepemilikan saham BRMS yang dirilis 30 September 2012,
BUMI memiliki 60,9% saham BRMS dan Long Haul memiliki 14,83% saham BRMS. Pihak Bumi Resources sendiri sudah membantah penyusutan saham BUMI di Bumi Resources Mineral ini. Tetapi kepada Kontan, salah satu pemegang saham Bumi Plc, perusahaan induk BUMI Nathaniel Rothschild lewat sambungan telepon internasional Kamis (28/2) kepada Kontan, mengatakan bahwa dirinya sudah mengetahui dirinya sejak lama adanya penjualan saham BUMI di BRMS ini.

Selain berbicara soal penyusutan kepemilikan BUMI di BRMS, Nat Rothschild juga berbicara tentang posisinya pasca kekalahan di RUPS Luar Biasa Bumi Plc pada 21 Februari lalu dan hubungannya dengan pengusaha Indonesia Hasyim Djojohadikusumo.

Kontan: Bagaimana tanggapan Anda soal penjualan dan penyusutan saham Bumi Resources di Bumi Resources Mineral dari 87 % menjadi 54 %?

Nat : Sudah sangat jelas bagi kami. Seorang whistle blower sudah memberikan dokumen. Dokumen itu menyatakan bahwa Bumi Resources sudah menjual kepemilikannya kepada keluarga Bakrie, lewat Long Haul Indonesia. Kami punya bukti yang jelas dari dokumen yang kami terima pada Juni dan Juli tahun lalu sebuah proposal di Bumi Resources untuk menjual kepemilikan Bumi Resources di Bumi Resource Minerals. Kami dan Bumi Plc tahu hal itu.

Sementara itu laporan keuangan Bumi Resources dan Bumi Resources dan Minerals pada Juni 2012 dan September 2012 Bumi Resource mengklaim bahwa Bumi memiliki 87 % saham di Bumi Resources Mineral , itu tidak benar. Kami tahu bahwa antara bulan Mei 2012 sampai September 2012 Bumi Resource telah menjual sahamnya dari 87 % hingga tersisa 54 %.

Kami bertanya mengapa OJK (Otoritas Jasa Keuangan ) tidak melakukan penyelidikan atas hal ini. Mengapa OJK tidak berusaha menyelidiki dan mencari tahu pengurangan kepemilikan saham BUMI di BRMS yang tidak diungkap ke publik? Padahal ini kan merupakan prioritas utama mereka.

Samin Tan sebagai CEO tidak melakukan apa pun. Hanya seseorang yang mengetahui hal itu membocorkannya kepemilikan Bumi Resources di Bumi Resources Mineral yang sudah turun dari 87 % menjadi 54 %.

Kami punya banyak contoh yang menunjukkan bahwa Samin Tan memang membiarkan semua penyimpangan ini terjadi. Samin Tan telah membiarkan keluarga Bakrie mengalihkan dana hasil initial public offering (IPO) Bumi Resources dan Mineral pada tahun 2010 kepada Bank UOB sebesar US $ 110 juta. Dana yang disimpan di Bank UOB itu, kemudian dipinjamkan kembali kepada keluarga Bakrie pada bulan Mei 2012.

Selain itu, pihak Samin Tan juga membiarkan penggunaan dana sebesar US$ 100 juta untuk membayar bunga utang Bumi Resource kepada Credit Swiss m pada September hingga Oktober 2012. Padahal , dana itu awalnya akan digunakan untuk konstruksi proyek pertambangan seng bawah tanah di Sumatra Utara dan Nangroe Aceh Darussalam, Dairi Prima. Akibatnya tidak ada sama sekali proyek konstruksi di Dairi Prima.

Kontan: Kalau Anda sudah tahu sejak lama mengapa tidak memprotesnya sejak awal ?

Nat: Kami tidak dapat membuktikan penjualan itu. Kami mengetahui beberapa data atau file terkait kasus ini, tetapi tidak punya bukti kuat menengahi hal ini sampai seseorang mengumumkannya.

Bumi Resources sendiri sudah membantah adanya pengurangan jumlah saham BUMI di Bumi Resources Mineral. Tetapi pengumuman di keterbukaan informasi BEI sudah menujukan bahwa mereka sudah menjual saham mereka. Pasti ada korupsi disini. Mengapa otoritas keuangan di Indonesia membiarkan hal seperti ini terjadi? Otoritas keuangan Indonesia telah gagal menginvestigasi hal ini. Pasti ada korupsi di sini.

Kontan: Apa yang akan Anda lakukan?
Nat: Kami akan berbicara dengan otoritas di Indonesia.

Kontan: Bagaimana sikap dan posisi Anda terkait kekalahan Anda di RUPS Luar Biasa Pada Tanggal 21 Februari 2013?

Nat: Pertama-tama , saya tegaskan kami tidak kalah. Kami memenangkan dua per tiga dari suara pemegang saham. Karena Take Over Panel tidak mengizinkan tiga pemegang saham yang memiliki kaitan dengan Grup Bakrie untuk mewakili suara mereka. Kami setuju dengan putusan

Kami juga saat ini sedang menyiapkan informasi bagi Take Over Panel terkait dengan pemegang saham lain yang kemungkinan punya kaitan dengan Grup Bakrie. Kami akan mempertimbangkan langkah hukum yang mungkin diambil.

Kami tahu bahwa salah satu investor yang membeli saham Bukit Mutiara menjelang RUPS Luar Biasa, yaitu Avenue (Avenue Luxemburg S.A.R.L ) merupakan pihak yang memiliki keterkaitan dengan Grup Bakrie. Avenue juga merupakan pemegang saham di Bakrieland (ELTY).

Selain itu, Avenue pernah meminjamkan uang kepada Grup Bakrie sebesar US $ 200 juta untuk membeli Berau lewat Bukit Mutiara, dan Bakrie gagal membayar utang ini, jadi Avenue mendapatkan saham di Bumi Plc ketika Bukit Mutiara dan Recapital menjual saham mereka menjelang RUPS Luar Biasa.

Kontan: Apa langkah Anda selanjutnya dengan Berau jika keluarga Bakrie nantinya berhasil memboyong keluar Bumi Resources dari Bumi Plc?

Nat: Saya salah satu pemegang saham di Bumi Plc. Saya masih akan di Bumi Plc. Saya tahu keluarga Bakrie tidak mempunyai uang untuk memboyong Bumi Resource keluar dari Bumi Plc. Dari mana mereka mendapatkan uangnya? Tidak ada bukti bahwa mereka memiliki uang. Bahkan mereka tidak punya uang untuk membayar deposit di escrow account senilai US $ 50 juta . Jadi sangat prematur untuk mengatakan bahwa mereka bisa melanjutkan proposal pemisahan dari Bumi plc. Mengapa Anda percaya pada Bakrie? Tidak ada satu pun bukti yang menunjukkan bahwa mereka jujur. Kami hanya akan melihat dan menunggu .

Kontan: Mengapa Anda sepertinya ngotot untuk berkonflik dengan keluarga Bakrie di Bumi Plc ? Berapa kerugian Anda?

Nat: Sangat sederhana. Saya tidak suka ditipu. Keluarga saya adalah keluarga yang jujur dan pekerja keras. Kami tidak suka dengan penipuan. Mereka telah menyalahgunakan uang . Di awal mereka berjanji untuk tunduk pada aturan corporate governance Inggris. Tetapi mereka telah menyelewengkan jutaan dollar.

Kontan: Kami mendapatkan informasi bahwa semua konflik ini Anda desain sejak awal untuk menguasai aset batubara Indonesia lewat apa yang disebut dengan Archipelago Project?

Nat: Sama sekali tidak benar. Saya hanya menolong pemegang saham minoritas baik di Bumi Resources dan dengan sendirinya di Bumi Plc juga. Selama ini hanya keluarga Bakrie yang diuntungkan.

Kontan: Apa langkah Anda selanjutnya dengan dugaan penyimpangan keuangan tersebut?

Nat: Itu urusan perusahaan (Bumi Plc). Mereka sudah menanganinya. CEO Bumi plc sudah melaporkan ke otoritas Indonesia OJK. Saya sendiri, sudah pernah meminta Bumi Plc untuk menginvestigasi kebenarannya. Tetapi mereka tidak mampu untuk mendapatkan akses ke dalam Bumi Resources.

Mereka ditolak oleh Bumi Resources. Saya akan berbicara dengan pemegang saham lainnya terkait hal ini. Tentu saya akan mengambil tindakan yang ekstra. Tetapi untuk saat ini, saya masih menunggu bagaimana respons Bumi Plc dan otoritas Indonesia OJK tentang penyimpangan keuangan ini. Pasti akan butuh banyak waktu untuk melakukan penyelidikan terhadap Rosan Roeslani dan Grup Bakrie.

Kontan: Bagaimana hubungan Anda dengan Hasyim Djojohadikusumo dalam konteks bisnis? Apakah Anda akan menggunakan Hasyim sebagai tangan Anda di Indonesia dan meredam isu
nasionalisme Indonesia?

Nat: Kami adalah sahabat yang luar biasa. Saat ini kami sama-sama pemegang saham di Bumi Plc. Hasyim adalah seorang pengusaha yang hebat dan sangat sukses. Kalau bicara nasionalisme, keluarga Hasyim sudah kehilangan empat anggota keluarga mereka demi nasionalisme Indonesia. Sedangkan keluarga Bakrie tidak melakukan apa pun untuk Indonesia. Keluarga Hasyim adalah pahlawan besar bagi Indonesia. Mereka telah mencurahkan darah mereka untuk Indonesia

LONDON – Kisruh antara Nathaniel Philip Rothschild dengan keluarga Bakrie usai sudah, setelah dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) para pemegang saham Bumi Plc lebih memilih proposal keluarga Bakrie. Dengan demikian, rencana Bakrie keluar dari Bumi bakal segera terlaksana.

Meski demikian, Samin Tan tetap mengundurkan diri sebagai ketua Perseroan sekaligus ketua independen baru. Namun, Samin Tan akan mengisi posisi Dewan sebagai wakil dari pemegang saham utama Perseroan dan sebagai mitra bisnis komitmen Bumi di Indonesia.

“Perekrutan ketua baru, yang memiliki pengalaman dalam, dan akrab bagi pasar London sedang berlangsung dan akan berlangsung dalam konsultasi dengan pemegang saham terbesar perusahaan independen,” jelas Bumi Plc dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/2/2013).

Sekadar informasi, Samin Tan masuk sebagai investor di Bumi Plc pada Januari lalu. Kala itu, dia mengucurkan dana sekira USD1 miliar (620 juta pondsterling) bagi keluarga Bakrie untuk menghindarkan dari ancaman default. Samin Tan dan keluarga Bakrie, memiliki 29,9 persen dari hak suara di Bumi.

Dia ditunjuk sebagai ketua Ketua Dewan Bumi Plc pada Maret lalu, tetapi Tan bersama dengan sebagian besar direktur saat ini, telah dituduh gagal lantaran dianggap membela kepentingan investor minoritas oleh Rothschild.

Dengan usainya konflik ini, maka dewan Bumi Plc akan kembali pada struktur lamanya, dan akan mempertahankan sebagian besar direktur independen. Selain itu, Dewan akan terus fokus pada perbaikan operasional dan penguatan lebih lanjut dari manajemen di Berau.

Selain itu, para dewan berjanji akan terus mengejar klaim potensial di mana ada prospek yang realistis, menyusul penyelidikan yang dilakukan oleh Macfarlanes LLP. Dewan akan terus memprioritaskan menjaga kepercayaan pemegang saham.

http://economy.okezone.com/read/2013/02/22/278/765704/pengganti-samin-tan-harus-akrab-dengan-pasar-london

Sumber : OKEZONE.COM
JAKARTA – Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bumi Plc telah menolak rencana Philip Rothschild dan lebih memilih proposal keluarga Bakrie. Dengan demikian, usul Bakrie untuk keluar dari Bumi Plc dapat terealisasi.

Seperti diketahui, Bakrie telah memberikan beberapa opsi terkait dengan kisruh yang terjadi antara dia dengan Nat di Bumi Plc. Adapun usulan tersebut, yakni tahap pertama, Bakrie akan melepas kepemilikan di Bumi Plc sebesar 23,8 persen untuk ditukar dengan 10 persen kepemilikan di Bumi Resources.

Pada proposal tahap kedua, Grup Bakrie akan membeli 18,9 persen sisa saham Bumi PLC di unit usaha Indonesia senilai USD278 juta atau setara Rp2,6 triliun (Rp9.600 per USD). Bakrie kemudian dapat mengendalikan 29 persen saham Bumi Resources dan tidak perlu berhubungan dengan Bumi PLC.

Dalam proposal tahap ketiga, Bakrie akan membeli aset tambang lain milik Bumi PLC, yakni 85 persen saham di PT Berau Coal Energy senilai USD950 juta (Rp9,1 triliun).

Untuk memuluskan rencananya, ini Bumi Plc meminta Grup Bakrie menyediakan ‘uang muka’ senilai USD50 juta. Dengan demikian, Bakrie masih membutuhkan dana segar mencapai USD228 juta atau setara Rp2,2 triliun (dengan kurs Rp9.650 per USD). Bakrie pun diberikan waktu lima hari untuk menyetorkan dana segar tersebut ke escrow account.

Padahal, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) punya total utang senilai USD3,79 miliar atau setara Rp 36 triliun sampai 2017. utang-utang itu akan jatuh tempo setiap tahunnya dengan nilai yang berbeda. Pada tahun ini, utang yang harus dilunasi mencapai USD254,5 juta.

Sementara di 2014 dan 2015, nilai utang yang harus dibayarkan cukup tinggi, yaitu masing-masing senilai USD1,23 miliar dan USD1,062 miliar. Sedangkan di 2016 kembali turun dan menjadi hanya USD530 juta. Di 2017 nanti, sebesar USD700 juta. Moodys dan S&P sudah menurunkan outlook utang BUMI itu dari BB- menjadi B+.

Akibatnya, ada beberapa aset Bakrie yang bakal di lego untuk melunasi utangnya melalui anak usahanya PT Bakrie Swastika Utama (BSU), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), akan melepas sebagian kepemilikannya untuk membayar utang.

Sebagian saham PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS), anak usaha Grup Bakrie ini berencana melepas sebagian kepemilikan sahamnya untuk membiayai proyek besarnya. Setidaknya ada tiga proyek besar yang akan dikerjakan salah satu tambang Grup Bakrie tersebut.

Selain itu, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), melalui anak usahanya, PT Bakrie Toll Road (BTR), melepas lima ruas tol ke Grup MNC senilai Rp 2 triliun. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) juga berencana melepas kepemilikan saham di anak usahanya, PT Bakrie Pipe Industries.

Dan yang terakhir, adalah saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) Induk usaha TvOne dan ANTV ini disebut-sebut akan dijual untuk mengurangi utang-utang Grup Bakrie. Namun, kabar tersebut dibantah pemilik Grup Bakrie yaitu Aburizal Bakrie.

Bakrie memang menang dalam perseteruan dengan Rothschild di Bumi Plc, tapi apa langkah selanjutnya untuk kemajuan perusahaan ?

http://economy.okezone.com/read/2013/02/22/278/765712/usai-menang-bakrie-masih-harus-bayar-upeti

Sumber : OKEZONE.COM

Januari 21, 2014

host1l3 tak3ov3r … gain gw @bumN

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 9:50 am

belajar ilmu akuisisi sederhana: HOSTILE TAKEOVER, pertamina @pgas dan pertumbuhan potential gain% warteg gw @bumn: bole simak betapa aduhainya

Desember 23, 2013

periode KEEMASAN ihsg & rupiah, LAG3 …

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 6:30 am

… 2003-2008 saat EDY JOENARDI MERAUP Rp 5 TRILIUN dari bermodalkan cuma Rp 62 Jt aja … saat itu HARGA SAHAM BUMI RESOURCES MELESAT 170 KALI LIPAT dari Rp 50 s/d Rp. 8500 … EJ MENUNGGANG TREN HARGA SAHAM BUMI TERSEBUT dan TIDAK PERNAH ADA LAGE LESATAN HARGA SAHAM SEGEDE ITU LAGE sejak 2008 … well, sila BACA TREN YANG GW BWAT dengan BANTUAN YAHOO FINANCE: DATANG LAH (maranatha) PERIODE KEEMASAN ihsg n rupiah LAGE
evaluasi gw @saham 2013: GATOT sebagai PERAMAL, tapi LABA TETAP GW RAUP @WARTEG SAHAM gw

Desember 21, 2013

TAPERING OFF itu BERARTI 0PT1M1$T1C (211213)

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 10:12 am

tulisan panjang gw soal imbas tapering off bonds buying @IHSG secara sederhana

Older Posts »

The Shocking Blue Green Theme. Buat website atau blog gratis di WordPress,com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.